HARI 5, 27 NOV 2020

MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA (FRATELLI TUTTI)

Tujuan

Untuk terlibat dalam karya perutusan Gereja mondial bagi seluruh dunia, menjadi sahabat bagi semua orang.

Mohon

Agar rela menjadi sahabat bagi semua orang

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik,
  • Baru saja Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik baru yang bernama Fratelli Tutti; menjadi sahabat bagi semua orang.
  • Paus sadar bahwa masalah dunia ini tidak dapat dipecahkan sendiri, tetapi harus dipecahkan bersama oleh semua manusia, semua bangsa. Maka persaudaraan antar semua bangsa adalah mutlak bagi kemajuan dan kedamaian dunia.
  • Pengalaman covid-19 dengan jelas menunjukkan bahwa perlu kita bersatu tanpa membeda bedakan suku, ras, agama, kedudukan, dan negara untuk menumpas virus ini.
  • Bagaimana semangat itu dapat kita lakukan dan kembangkan dalam CLC dan juga dalam kehidupan kita?

Bahan renungan

1. Melihat apa yang dilakukan Paus Fransiskus dalam membangun persaudaraan

  1. Menerima pengungsi di Vatikan; Mengunjungi orang-orang yang tersingkir, sakit, di penjara, dll.
  2. Membangun kerjasama dengan semua pimpinan agama: kristiani, Islam, Hindhu, Budha, dll.
  3. Menerima berbagai pimpinan Negara dan menekankan pentingnya kerjasama;
  4. Paus Fransiskus bertemu dan mengadakan doa perdamaian di Taman Vatikan bersama Shimon Peres (Israel) dan Abu Mazen (Palestina). Paus mengatakan: “Kehadiran Anda adalah tanda persaudaraan yang besar, yang Anda penuhi sebagai anak-anak Abraham, dan ekspresi konkret kepercayaan pada Tuhan, Tuhan dari semua sejarah, yang hari ini memandang kita sebagai saudara dan saudari satu sama lain dan ingin memimpin kita di jalan-Nya ”.
  5. Di Kuba, Paus Fransiskus dan Patriark Kirill menandatangani deklarasi bersama yang, dalam kata-kata pembukaannya, menekankan: “Dengan sukacita, kita bertemu satu sama lain sebagai saudara seiman yang bertemu untuk ‘berbicara dengan lantang”.
  6. Paus berlutut dan mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan yang dipanggil ke Vatikan untuk retret spiritual dan damai. “Kepada kalian bertiga, yang menandatangani Perjanjian Perdamaian,” kata Paus dengan kata-kata tulus, “Saya berbicara kepadamu sebagai saudara, tinggallah dalam damai. Saya berkata dari hati. Marilah kita maju bersama.”
  7. Penandatanganan Dokumen tentang Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi pada tahun 2019 menandai satu lagi contoh dedikasi Paus Fransiskus untuk mempromosikan cinta persaudaraan.

2. Ensiklik Fratelli-Tutti

  • Diumumkan pada tanggal 3 Oktober 2020 di Asisi oleh Paus Fransiskus.
  • Isi utama:
    • Mengajak untuk membangun persaudaraan universal dengan semua orang.
    • Kita semua adalah saudara. Ini diinspirasikan oleh Santo Fansiskus Asisi yang menghidupi semua makluk sebagai saudaranya. Dia bersaudara dengan siapapun termasuk waktu itu dengan kelompok Muslim di Mesir.
    • Pengalaman Covid 19 semakin meyakinkan bahwa kita hanya dapat hidup damai dan maju kalau mau bersaudara dengan siapapun dan bekerjasama dengan siapapun. Tidak dapat hidup di dunia tanpa berkaitan dengan yang lain.
  • Beberapa nilai dan tekanan diungkapkan seperti:
    • Siapa saudaraku?
    • Kita diajak merenungkan Kisah Orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dirampok (Lk 10: 25-37). Disini jelas siapa saudara kira menurut Yesus.
    • Saudara tanpa membedakan suku, agama, budaya, karakter, dll.
    • Ada banyak kendala untuk membangun persudaraan itu
    • Namun ada harapan bahwa itu dapat kita usahakan
    • Lalu diungkapkan beberapa cara untuk semakin membangun persaudaraan.
  • Apa yang mengesan bagiku dari insiklik itu? Bagaimana itu dapat memperbaharui hidup, sikap, perutusan kita kedepan?

3. Beberapa hambatan yang menghalangi kita untuk bersahabat

  • Merasa paling hebat, paling baik, paling suci, paling sempurna
  • Minder dengan orang lain, maka menyendiri
  • Hanya mencari aman dengan kelompok dan gangnya sendiri
  • Hambatan psikologis, tidak tenang, tidak aman dengan yang lain

4. Apa yang aku dapat dilakukan untuk membangun persaudaraan universal

  • Sebagai pribadi
  • Di CLC
  • Di lingkup tetangga dan gereja
  • Di tempat kerja?

Doa pribadi di depan Yesus

Dengan tenang kita bicara dengan Tuhan Yesus tentang  apa yang mengesankan dari ensiklik ini dan apa yang dapat kita kembangkan dalam lingkup kita.

Bahan WAG

Silahkan secara singkat menuliskan apa yang terkesan dalam permenungan hari ini.

MARI MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG TANPA MEMBEDA-BEDAKAN!


Panduan Hari Kelima ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

HARI 4: KAMIS, 26 NOV 2020

KITA DIUTUS MEMBAWA KEGEMBIRAAN DI TENGAH DUNIA SAAT INI

Tujuan

Untuk semakin rela menjalankan perutusan Tuhan dalam hidup kita.

Mohon

Agar gembira menjadi utusan Tuhan di dunia ini.

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang dikasihi Tuhan, kita yang dicintai Tuhan begitu besar, kita juga diutus Tuhan. Cinta Tuhan selalu mengandung unsur perutusan. Siapapun yang merasa dicintai Tuhan akan merasa juga diutus menyebarkan cinta Tuhan itu kepada semua orang.
  • Misalnya:
    • Seorang anak SD yang merasakan cinta Tuhan dalam retret, dengan semangat ingin belajar lebih rajin, ingin membantu orang tuanya, ingin berdamai dengan temannya;
    • Seorang mahasiswa yang tersentuh dalam retret akan cinta Tuhan, dengan gembira rela membantu teman-temannya maju dan aktif di berbagai kegiatan;
    • Seorang bapak yang merasakan dicitai Tuhan, dengan penuh semangat mau berkorban bagi kebahagiaan keluarganya dan tetangganya;
  • Kita sebagai seorang CLC, yang merasakan dicintai Tuhan,  kita juga diutus ikut terlibat dengan karya perutusan Tuhan lewat perutusan Gereja.
  • Perutusan Tuhan adalah “agar kita menjadi pewarta gembira bagi manusia jaman ini
  • Perutusan CLC juga bersesuaian dengan perutusan gereja yang terlibat menyelamatkan manusia terutama mereka yang tersingkir dan terpinggirkan.
  • Kita ingin meneliti dan mendeteksi perutusan CLC dan apa yang dapat kita lakukan dalam ikut perutusan itu.

Bahan renungan

  1. General principal Part 1. Kharisma kita; nomor 8 (singkatan bebas)

Bacalah teks ini pelan-pelan!

  • Sebagai anggota umat Allah, kita telah menerima dari Tuhan perutusan untuk menjadi saksi keselamatan di depan umat manusia, lewat tingkahlaku, kata-kata, dan tindakan, yaitu terlibat dengan misi Tuhan “membawa kabar baik pada yang miskin, pembebasan pada tawanan, penglihatan pada yang buta,  dan pewartaan kerajaan Allah sudah datang” (Lk 4: 18-19)
  • Hidup kita sebagai CLC adalah apostolis, perutusan. Bidang perutusan CLC tidak ada batasnya mencakup bidang gereja dan masyarakat dunia.
  • Untuk membawa keselamatan  pada semua manusia dengan  membuka hati mereka pada pertobatan  dan berusaha mengubah struktur masyarakat yang menindas.

       Pertanyaan refleksi

  • Perutusan apa yang utama dari General Principle itu?
  • Apakah anda setuju dengan perutusan itu?
  • Apakah perutusan itu juga cocok dengan situasi Indonesia dan situasi tempat kita sekarang hidup?
  • Apa aku tertarik untuk melakukannya?
  • Bicaralah secara pribadi dengan Tuhan yang mengutus Anda!

2. Perutusan pribadi CLC

  • Barangkali anda sebagai CLC sendirian, tidak punya kelompok ataupun teman. Maka anda dapat melakukan perutusan pribadi sebagai anggota CLC.
  • Perutusan pribadi apa yang sampai hari ini telah anda lakukan? Apakah anda puas, gembira dengan perutusan itu?
  • Apa ada perutusan pribadi yang ingin lebih anda lakukan kedepan yang sesuai dengan semangat perutusan dunia ini?
  • Semangat apa yang akan anda bawa dalam melakukan perutusan pribadi ini?
  • Apakah anda rela berbagi tentang perutusan pribadi ini dengan teman dan sahabat CLC lain?

3. Perutusan kelompok CLC

  • Sebagai kelompok perutusan apa yang penah anda lakukan? Apa anda gembira dengan perutuan itu?
  • Apakah anda sebagai kelompok CLC ingin lebih melakukan perutusan bersama ke depan?
  • Bila ya, kiranya perutusan apa yang dapat dilakukan bersama?
  • Bagaimana anda akan melakukannya?
  • Langkah apa yang akan anda buat agar gagasan perutusan bersama ini terwujud?

Doa pribadi pada Yesus

  • Dengan tenang, hening di depan Yesus. Anda ungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikiran anda pada Yesus.
  • Ungkapkan apakah anda ingin menjalankan perutusan yang diberikan Tuhan? Perutusan pribadi, kelompok atau apa?

Sharing di WAG

Dengan tenang secara singkat tulislah apa yang anda alami hari ini, yang anda rasakan  dalam hal perutusan CLC.


Panduan Hari Keempat ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

HARI 3: RABU, 25 NOV 2020

DIPANGGIL MENJADI SAHABAT YESUS

Tujuan

Untuk semakin menyadari cinta Tuhan yang luar biasa, yaitu mengangkat kita menjadi sahabat-Nya.  

Mohon

Untuk rela dan gembira dijadikan sahabat Yesus

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik, Cinta Tuhan Yesus kepada kita semakin besar; Ia bukan hanya mencintai kita dengan memberikan pengalaman yang baik dan memberikan rahmat-Nya yang besar kepada kita; Ia bukan hanya menemani dan meringankan beban hidup kita di saat kita gelap.
  • CintaNya semakin besar pada kita, yaitu Ia mengangkat kita menjadi sahabatNya. Sahabat adalah orang yang dipercaya untuk meneruskan karyaNya. Bahwa lewat diri kita, yang juga tidak sempurna ini, karya keselamatan Tuhan dapat sampai kepada umat manusia.
  • Inilah misteri Tuhan membutuhkan manusia!
  • Kita dijadikan sahabatNya untuk ikut menyebarkan kasihNya kepada semua orang.
  • Apakah aku mau? Apakah aku tidak gembira dan bangga bahwa dipercaya menjadi sahabatNya?
  • Dan ingat sekali Tuhan mengangkat kita menjadi sahabatNya, Ia tidak pernah menarik dan membatalkan persahabatan itu!

Bahan Renungan

1. Yoh 15: 9-17: Kamu adalah sahabatKu

  • Bacalah teks ini pelan-pelan, resapkan isinya, rasakan apa yang tergerak dalam hati anda mendengarkan sabda Yesus kepada Anda.
  • Terutama ulangi kata Yesus kepada anda:
    •  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan yang Kuperitahkan kepadamu.
    • Aku tidak menyebut kamu hamba….. tetapi Aku menyebut kamu sahabat..
    • Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu…”
  • Rasakan apa yang muncul dalam hati anda mendengarkan sapaan Yesus diatas! Apa yang tergerak dalam hati anda? Apakah anda senang, bangga?
  • Atau anda gelisah, tidak senang? Mengapa?
  • Dengan tenang, bicaralah secara pribadi pada Yesus yang menjadikan anda sahabatNya! Ungkapkah semua apa yang anda alami dan rasakan?

2. Melihat apa yang telah kita buat sebagai sahabat Yesus

  • Lihatlah perjalanan hidup anda entah sebagai pribadi ataupun kelompok, apa yang telah anda lakukan sebagai ungkapan rela menjadi sahabat Yesus di dunia ini.
  • Apa yang belum aku lakukan sebagai sahabatnya?
  • Apakah aku sahabat yang sungguh dapat dipercaya?
  • Apa aku sahabat yang sering berkomunikasi dengan Tuhan? Sejauh mana komunikasi dengan Tuhan aku pupuk dalam hidupku sehari-hari?
  • Apa aku senang menjadi sahabat bagi orang lain pula?
  • Apa yang ingin aku lakukan untuk semakin menjadi sahabat sejati Tuhan?

Doa pribadi di depan Yesus

  • Secara pribadi dengan tenang silahkan anda ungkapkan apa yang anda alami selama merenungkan sabda Tuhan itu pada Tuhan sendiri.
  • Mohonlah untuk menjadi sahabatNya yang setia.

Bahan sharing WAG

Secara singkat silahkan menuliskan apa yang anda alami hari ini, apa yang mengesankan, apa yang menyentuh dalam renungan anda.

Panduan Hari Ketiga ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

HARI 2: SELASA, 24 NOV 2020

MENEMUKAN TUHAN DALAM PENGALAMAN GELAP DAN BERAT

Tujuan

Untuk menemukan Tuhan dalam pengalaman gelap dan berat, sehingga lebih happy dalam hidup ini

Mohon

Boleh menyadari dan mensyukuri kasih Tuhan dalam pengalaman gelap kita

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik,
  • Sebagai seorang CLC kadang kita juga punya pengalaman gelap, pengalaman berat, dan pengalaman yang menyakitkan.
  • Dalam situasi seperti itu, kadang kita bertanya, “Apakah Tuhan pergi dari padaku? Apakah Tuhan tidak mencintai aku lagi?”
  • Ternyata tidak! Bahkan kadang dalam pengalaman gelap dan berat itu, kehadiran Tuhan lebih jelas dan peran Tuhan lebih kentara bagi hidup kita. Bahkan dalam pengalaman yang menyakitkan itu, sering kita semakin tahu apa yang diinginkan Tuhan pada kita, kita semakin mengerti betapa cintaNya luar biasa.
  • Seorang mahasiswa saya berontak pada Tuhan waktu ayahnya meninggal karena ayahnya adalah satu-satunya yang bekerja dan membeayai kuliahnya. Ia frustrasi, stress, dan sungguh gelap.  ”Lalu mau apa saya?” Tetapi setelah beberapa bulan, ia menemukan maksud Tuhan, yaitu agar dia belajar mandiri, dan juga sadar ternyata Tuhan tetap mencintainya dengan berbagai cara yang lain. Ia menjadi gembira dan semangat lagi!
  • Kita lihat pengalaman beberapa orang di Kitab Suci yang justru menemukan Tuhan dalam situasi yang berat, gelap, berdosa, dan kacau:  
    • Saulus, yang mengejar murid Yesus dan ingin membunuh mereka. Ia tetap dicintai Tuhan dan bahkan dipercaya menjadi muridNya yang hebat.
    • Perempuan yang berjinah itu, di depan Tuhan Yesus, tidak dihukum, tetap dihidupkan dan menjadi baru.
    • Banyak orang sakit dan berbeban berat datang pada Yesus dan disentuh serta disembuhkanNya.
  • Apa aku juga sering datang pada Tuhan di saat berbeban berat?
  • Kita ingin mendalami, menyadari, dan menemukan kasih Tuhan dalam pengalaman kita yang berat tahun ini.

Bahan Renungan

1. Melihat pengalaman yang sangat berat tahun ini

  • Kenang kembali pengalaman-pengalaman yang sangat berat, gelap, dan menyakitkan dalam setahun ini! Pengalaman apa itu?
  • Apa yang anda rasakan dan alami dengan pengalaman itu?
  • Bagaimana akhirnya anda dapat keluar dari situasi berat dan gelap itu?
  • Siapa saya yang ikut andil dalam mengangkat anda?
  • Apa peran Tuhan dalam pengalaman itu? Apa dampaknya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?
  • Syukurilah pengalaman itu.

2. Melihat orang yang menjengkelkan tahun ini

  • Lihat orang-orang yang setahun ini anda rasakan menjengkelkan, membuat anda tidak enak, membuat anda sakit hati.
  • Apa yang dilakukan mereka itu pada anda? Bagaimana perasaan anda?
  • Mengapa anda jengkel pada mereka?
  • Apakah anda sudah berdamai dengan orang itu?
  • Apa maknanya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?  
  • Apa maksud Tuhan dengan pengalaman itu?
  • Syukurilah pengalaman itu.

3. Pengalaman gagal dan hancur

  • Barangkali anda punya pengalaman gagal, hancur, atau bakan traumatis. Pengalaman apa itu? Apa sebabnya anda gagal dan hancur?
  • Bagaimana anda bangun kembali?
  • Apa dalam pengalaman seperti itu anda datang pada Tuhan atau lari dari padaNya? Mengapa? Apa peran Tuhan dalam hal itu?
  • Syukurlah itu.

Menghadap Tuhan secara pribadi

  • Dengan semua pengalaman itu, pandanglah Tuhan yang memandang anda.
  • Ungkapkan semua perasaan dan pengalaman serta isi hati anda pada Dia?
  • Apa yang tergerak dalam hati anda?

Menuliskan pengalaman di WAG

  • Tuliskan dengan singkat apa yang anda temukan dalam permenungan hari ini.
  • Buah apa yang anda dapatkan untuk hidup anda kedepan?


Panduan Hari Kedua ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Romo Joannes Subagya, SJ

Romo Joannes Subagya, SJ

Requiescat In Pace

Romo Joannes Subagya, SJ

Batu fondasi kami, telah berpulang.

Terima kasih Romo, untuk warisan komunitas CLC di Indonesia, yang boleh kami terima, nikmati, hidupi, dan lestarikan.

Doa kami menemanimu menuju peristirahatan abadi, pengalaman mendalam bersamamu, menjadi penghiburan abadi bagi kami.

Selamat jalan. Rindu kami. Sampai kita jumpa lagi.

CLC di Indonesia


Misa Requiem Romo Joannes Subagya, SJ Sabtu, 14 November 2020 pkl 11.00 WIB dapat diakses di tautan YouTube ini: Misa Requiem.

Informasi lengkap riwayat hidup beliau dapat diakses di laman jesuits.id: Romo Joannes Subagya, SJ.

Peranan Bunda Maria Dalam Spiritualitas Ignasian

Peranan Bunda Maria dalam Spiritualitas Ignasian

Bunda Maria berperan penting dalam perjalanan Spiritualitas Ignasian, Serikat Jesus, dan CLC (yang pada awalnya bernama Kongregasi Maria). Santo Ignasius sendiri sangat menghayati peranan Bunda dan devosinya kepada Bunda Maria, sangat dalam.

CLC Jakarta telah menyelenggarakan acara tersebut pada Hari Minggu 25 Oktober 2020 secara online dengan didampingi oleh Romo A Sudiarja, SJ. Pembahasan dan catatan dari Romo bisa dibaca di bawah ini.

MARIA : DALAM SPIRITUALITAS IGNASIAN

1 Devosi Santa Perawan Maria dalam Gereja

Devosi Maria mempunyai tempat yang penting, sudah sejak lama dalam Gereja. Hal itu bisa kita lihat dalam peringatan-peringatan yang dirayakan. Devosi Maria memberi nuansa feminin dan keibuan, memberi kesegaran dalam iman, yang khas dalam kehidupan keagamaan.

Pesta-pesta untuk menghormati St. Maria dirayakan dengan meriah dalam liturgi Gereja katolik. Maria mempunyai banyak sebutan, sebagaimana tampak dalam doa Litani St. Maria, karena peran-perannya yang dikenang. Ada juga doa-doa khusus untuk Maria, selain “Salam Maria” (Ave Maria), yang sudah kita hafalkan, juga ada doa “Ratu Surga” (Regina Coeli), “Di bawah perlindunganmu” (Sub tuum Presidium), “Salam ya Ratu” (Salve Regina), “Magnificat”, juga dalam doa “Malaekat Tuhan” (Angelus Domini) yang didoakan setiap jam 7 pagi dan sore, serta jam 12 siang. Doa-doa ini didaraskan dalam doa-doa ofisi (formal) di biara-biara, tetapi juga oleh umat yang mempunyai devosi besar dengan Maria.

Perayaan Maria memberi suasana kegembiraan dan kehangatan dalam kehidupan iman, memberi dorongan dan semangat, memberi penghiburan bagi yang lesu dan mengalami pukulan, atau sedang jatuh. Dari antara doa-doa Maria, kita mengenal juga Litani St. Perawan Maria [lihat teks khusus: Litaniae Laurentanae].

Litani St. Perawan Maria sudah dimulai sejak abad ke 12 dan berkembang pesat pada abad 13 dan 14, dengan munculnya berbagai sebutan dan gelar-gelar Maria, terkumpul menjadi teks (tertulis). Teks “Litani St. Perawan Maria” formal dalam bahasa Latin diresmikan oleh Paus Sixtus V pada tahun 1587; dikenal sebagai Litani Loreto (Litaniae Lauretanae) konon karena diketahui asal-usulnya dari peziarahan St. Maria di Loreto (Italia). Litani tersebut mungkin sudah didaraskan sejak pertengahan abad 16. Bentuk teks cetakan paling awal, ditemukan di Dillingen (Jerman) pada tahun 1558, kemungkinan dicetak dan disebarkan oleh Petrus Canisius [Mesin cetak ditemukan pertama kali oleh Johanes Guttenberg, 1439]; sementara yang ditemukan di Itali paling kuno dari tahun 1576.

Sebutan dan gelar-gelar itu tersusun sbb (lihat box Litani) : (i) duabelas sebutan sebagai Ibu (Mater), (ii) enam sebutan sebagai Perawan (virgo), (iii) tigabelas gelar yang diambil dari Perjanjian Lama, (iv) empat sebutan sebagai penolong; (v) tigabelas sebutan Maria sebagai Ratu, Pada bulan Juni 2020, Sri Paus Fransiskus menambah tiga sebutan : Bunda Belaskasih (Mater Misericordiae), Bunda Pengharapan (Mater Spei) dan Penghibur Para Pengungsi (Solacium migrantium).

Di era Reformasi, Gereja-gereja Protestan mengeritik seolah-olah Gereja Katolik mengilahikan Maria dan menomor-duakan Yesus; Harus diakui, penghormatan kepada Bunda Maria memang bisa begitu meriah (khususnya di tempat-tempat peziarahan yang terkenal: Lourdes, Fatima, Loreto, Guadalupe, Medjugorje, Garabandal dsb. Di Indonesia ada beberapa tempat ziarah Maria) yang di bulan Mei banyak dikunjungi. Penghormatan pada bunda Maria yang begitu meriah ini, di masa lalu menimbulkan kontroversi. Ada pertanyaan atau bahkan gugatan /kecurigaan khususnya dari pihak orang Kristen yang lain, bahwa Gereja katolik menomor satukan Maria. Harus diakui, praktek perayaan kadang berbeda dari teologi Marian/ Mariologi yang diajarkan, sebab devosi rakyat kadang bisa berlebihan; meski pun demikian teologi resmi (Katolik) tak pernah menempatkan Maria sebagai Tuhan atau menggantikan peran Yesus.

Adalah St. John Eudes (1601-1680) orang kudus, yang dirayakan (setiap) 19 Agustus, yang mendirikan Kongregasi Yesus dan Maria pada tahun 1641. Santo ini saya anggap penting, karena memberikan pengetahuan dasar mengenai hubungan Maria dan Yesus, kesatuan ibu dan anak, yang begitu erat, yang menangkal penghormatan Maria yang terpisah dari peran Yesus. Devosi yang dikembangkan John Eudes, mengembangkan kesadaran umat mengenai hubungan erat antara Maria dan Yesus. Kita tahu sekarang, bahwa setiap perayaan Maria, senantiasa terkait erat dengan perayaan Yesus, Puteranya. Perayaan Maria tak pernah berdiri sendiri atau lepas dari peran atau pun karya Yesus. Devosi Maria memperlihatkan keterlibatan Maria pada perjalanan hidup Yesus secara penuh. Bunda Maria satu-satunya manusia, yang mengikuti kehidupan Yesus dari kelahiran hingga wafat-Nya, tak terkecuali juga penderitaan-Nya. Kesetiaan dan keterlibatannya yang penuh pada penebusan Yesus puteranya, membuat Bunda Maria dulu sering disebut sebagai co-redemptris; tetapi teologi ini dianggap mengaburkan ajaran mengenai Maria dan oleh Paus Fransiskus ditolak (dalam homili misa 12 Des 2019, ketika merayakan St. Maria dari Guadalupe).

Berikut skema tanggal-tanggal perayaan Maria dalam kalender liturgi Gereja:

TanggalHari Raya/Pesta PerayaanKeterangan
1 JanuariMaria Bunda Allah (Mater Dei) – terkait dengan kelahiran Yesus (Natal); Maria mendapat gelar Mater Dei (dogma Maria-1)ditetapkan oleh Pius XI pada 1931 dlm pera-yaan 15 abad Konsili Efesus (431);
11 FebruariSt.P. Maria dari Lourdes (fakul-tatif)Peringatan penampakan (pertama) ibu Maria di Lourdes – 11 Feb. 1858;
25 MaretMaria Annunciata (diberi kabar oleh malaikat Gabriel) mengandung dari Roh Kudus (Maria tetap perawan – dogma Maria -2)Ketika Bernadette menanyakan nama-nya (pada tanggal 25 Maret) St. Perawan Maria menjawab “Aku yang dikandung tanpa noda” (–lihat pesta 8 Desember).
13 MeiSt,P. Maria dari Fatima (fakul-tatif)Penampakan bunda Maria di Fatima (Portu-gal) 13 Mei 1917 kepada, Lucia, Yasinta dan Francesco, tiga orang anak gembala.
31 MeiMaria mengunjungi Elisabeth (yang sedang mengandung 6 bulan); Lk. 1,39-45ditetapkan oleh Urbanus VI pada 1389, mengakhiri skisma (perpecahan) Gereja; semula dirayakan 2 Juli; dipindah ke tanggal 31 Mei, mengakhiri bulan Maria dan meng-antisipasi kelahiran Yohanes, 24 Juni
15 AgustusMaria Assumpta; diangkat ke surga dengan mulia: – Paska Tuhan Kita Yesus Kristus (dogma Maria -3)ditetapkan oleh Pius XII, pada 1 November 1950
22 AgustusSt. Perawan Maria Ratu – cf. Kristus Raja (Minggu akhir kalender liturgi, sebelum Adven)ditetapkan oleh Pius XII, pada 11 Oktober 1954 dlm ensiklik “Ad Coeli Reginam”
8 SeptemberKelahiran Bunda Mariadlm tradisi pada abad 5, ada basilik St. Maria (di Yerusalem) di tempat konon Maria dila-hirkan. Sekarang basilik itu diberi nama St. Anna (ibu dari Maria) – nama ibu dari Maryam disebut dalam Alquran
15 SeptemberMaria di bawah Salib (Stabat Mater Dolorosa), Yesus me-nyerahkan ibunya kepada St. Yohanes (Yoh.19,26-27) cf. mengikuti Pesta Salib Suci yang dirayakan 14 SeptemberPada 28 Oktober 312 Kemenangan Kaisar Konstantin di jembatan Milvia, krn meng-gunakan panji-panji Salib (IHS); Pada 326 penemuan salib Yesus di Yerusalem oleh St. Helena; pada 614 (potongan) salib tsb. dibawa ke Persia oleh raja Persia; pd 629 direbut kembali dan dibawa ke Konstantino-pel oleh kaisar Heraclius
7 OktoberSt. Maria Ratu Rosario –Syukur atas kemenangan armada Austria di bawah Charles VI, pada 1716 mengalahkan pasukan Turki di Lepanto (dekat Beograd) berkat doa rosario; St. Pius V menetapkan pesta Maria Ratu Kemenangan. Gregorius XIII menggantikan nama perayaan itu menjadi ‘Maria Ratu Rosario’
8 DesemberMaria Immacolata Concepta (St. Perawan Maria dikandung tanpa dosa asal; (Dogma Maria- 4)Ditetapkan pada 8 desember 1854, oleh Pius IX, mengikuti apa yg ditulis dlm. Kej. 3, 15 “aku akan mengadakan permusuhan… antara keturunanmu dan keturunannya…” dan Lk.1,28, “Salam Maria penuh rahmat…”
…. JuniHati Tersuci St.P. MariaSabtu sesudah Jum’at ‘Hari Raya Hati Yesus YMK’ (Minggu Pesta Tubuh dan Darah Yesus); Sabtu sesudah Jum’at pertama (devosi Hati Yesus yang Mahakudus) selalu diikuti devosi Hati Maria tak bernoda, dan Sabtu imam

2 Devosi Ignasius pada Santa Perawan Maria

Devosi Maria merupakan hal yang sudah lazim di Spanyol, ketika Ignasius lahir 1491 di puri Loyola. Maria dilukiskan sangat dekat dengan puteranya dalam patung dan gambar-gambar suci, dan dengan pandangan menyapa; Peran Maria berperan sebagai ibu, pelindung, dan penolong begitu dirasakan. Ketika Ignasius lahir (anak ketigabelas) ibunya meninggal, ia kemudian diasuh oleh seorang inang, yang kebetulan bernama Maria juga. Berbagai peristiwa dalam devosi Marian dapat kita temukan dalam kisah biografinya yang ditulis oleh P. Luis Gonçalves de Camara.

Ketika ia dirawat di puri Loyola, oleh kakak iparnya, Magdalena (suami Martin, anak tertua) ia diberi buku Flos Sanctorum. Di kamar itu dipasang gambar Bunda Maria yang merupakan hadiah dari ratu Isabella untuk Magdalena waktu perkawinan; Gambar itu melukiskan bunda Maria, membopong puteranya. Waktu itu pikiran dan hasrat sia-sia di masa lalu pelan-pelan luntur, digantikan dengan pikiran dan Hasrat suci, khususnya setelah mendapatkan penampakan dari bunda Maria, yang membopong Yesus puteranya. Hatinya terhibur dan menyala; dengan penuh kebencian melihat hidup masa lalunya. Buku yang diberikan oleh kakak iparnya menunculkan keinginan-keinginan suci untuk meneladan St. Fransiskus, atau St. Dominikus, dan keinginan berziarah ke Yerusalem tanpa bekal. Itulah awal transformasi dirinya.

Sesudah sembuh ia berniat pergi ke Yerusalem, tetapi sebelum itu ia bermaksud mengambil piutang yang masih ada dari seorang bangsawan di Najera, dimana ia dulu bekerja. Diantar kakaknya, ia mampir ke tempat ziarah Ibu Maria di Arantzazu, dekat Onat, Guipozcoa tempat kakak-kakak ipar yang lain, Semalam ia berdoa di tempat itu dan paginya meninggalkan mereka. Sesudah mengambil uang, piutang itu, ia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang ia merasa berhutang budi. Tak lupa ia menyisihkan sebagian untuk perbaikan lukisan St. Perawan Maria, – mungkin yang dimaksudkan gambar yang diberikan ratu Isabella kepada kakak iparnya; gambar yang sangat memberi inspirasi baginya. Kemudian dia pergi sendirian ke Montserrat di Catalonia.

Dalam perjalanan ini perlu disebutkan peristiwa, ketika bertemu dengan seorang Moor (Sarasin), yang meragukan keperawanan bunda Maria: “While he journeyed on, a Saracen mounted on a horse came up with him. In the course of the conversation mention was made of the Blessed Virgin. The stranger remarked that though he admitted that the Mother of Christ had conceived without detriment to her virginal purity, yet he could not believe that after the conception of her divine Son she was still a virgin. He was so obstinate in holding this opinion, that no amount of reasoning on the part of Ignatius could force him to abandon it…”. Karena cinta dan hormatnya yang sangat besar pada Bunda Maria, ia menimbang-nimbang untuk mengejar orang itu dan membunuhnya.

Sesampai di Monserrat, dia mengakukan dosa-dosanya kepada rahib Benediktin, mengganti pakaiannya dengan pakaian peziarah dan melepas pedangnya dan kemudian semalam suntuk berjaga di hadapan Madonna Nera, tidak duduk atau berbaring, tetapi hanya berdiri atau berlutut.

Berikut ini kutipan dari autobiografi yang ditulis oleh Gonçalves de Camara: “… When he arrived at Montserrat, he passed a long time in prayer, and with the consent of his confessor he made in writing a general confession of his sins. Three whole days were employed in this undertaking. He begged and obtained leave of his confessor to give up his horse, and to hang up his sword and his dagger in the church, near the altar of the Blessed Virgin. This confessor was the first to whom he unfolded his interior, and disclosed his resolution of devoting himself to a spiritual life.” (Gonçalves de Camara, Autobiography). Malam menjelang tanggal 25 Maret 1522 itu, ia menetapkan keputusannya. Ia memberikan pakaian kebangsawanannya pada seorang pengemis, dan mengenakan pakaian peziarah, yang sudah dibelinya lebih dahulu. Itulah peristiwa yang mengubah hidupnya; mungkin bisa dikatakan pada saat inilah ia sampai pada titik balik yang menentukan (point of no return). Sesudah peristiwa ini, ia merasa mantap dalam perjalanan hidupnya.

Satu peristiwa lain, tentu saja selain penampakan (vision) bunda Maria di berbagai kesempatan, termasuk di Manresa, Barcelona atau Paris dsb. adalah peristiwa di La Storta. Waktu itu ia sudah berkeputusan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk misa pertamanya, dengan permohonan khusus kepada Bunda Maria, agar ditempatkan di dekat puteranya. Sesudah setahun dan dalam perjalanan menjelang Roma, di sebuah tempat yang Namanya La Storta, doanya dikabulkan. Ia masuk ke sebuah gereja dan sewaktu berdoa jiwanya merasa begitu digerakkan dan ia mendapat penglihatan bahwa Allah Bapa menempatkan dirinya dengan Yesus Kristus Puteranya. Segala detilnya ia ceriterakan kepada Laynez, yang bersamanya datang ke Roma. Laynez kemudian menceriterakan hal itu kepada Gonçalves de Camara yang menuliskan biografinya.

Sesudah Serikat berdiri, devosi dan peran Maria masih tetap dipertahankan oleh Serikat. Salah satunya, tercermin dalam lukisan “Maria della Strada” yang dipasang di kamar/kantor Serikat Yesus awal di via degli Astalli, yang terletak di samping gereja del Gesu. Di gereja itu sendiri, ada satu partisi berupa kapel itu Maria della Strada, yang dulu sering didatangi para yesuit yang berdoa khusuk sebelum mereka berangkat menjalankan misinya, dalam semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Maria dimohon dalam berbagai kesempatan misi, ke Inggris/Irlandia, yang dikuasai Henry VIII yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, Petrus Canisius yang berkarya di Jerman berhadapan dengan Gerakan Protestantisme dsb. Akhirnya, juga dalam rangka Gerakan kaum awam yang mengikuti Latihan Rohani, murid-murid Ignasius, semula menamai mereka “Persaudaraan Bunda Maria” (Sodality of Our Lady)

Jikalau bulan Oktober dijadikan bulan Rosario, karena berkat doa-doa rosario Eropa dapat menahan armada yang mau masuk kesana dalam perang masa lalu (Charles VI pada 1716), – maka sekarang ini kiranya makna doa rosario harus diartikan ulang, sebab bukan kemenangan perang atau politik duniawi, melainkan kesediaan Bunda Maria untuk membantu keselamatan siapa pun yang memohon dan datang kepadanya, khususnya lewat doa rosario. Doa rosario baik didoakan setiap hari, untuk mohon pedamaian dunia.

Sementara itu devosi Maria pada bulan Mei, menurut Frederick Holweck (1856-1927) sejarawan Amerika, dirintis oleh pater Latomia dari Collegium Romanum, untuk melawan kekafiran dan imoralitas mahasiswa ; Dia berkaul pada akhir abad 17 untuk untuk membaktikan bulan Mei sebagai bulan Maria. Dari Roma devosi ini berkembang ke kolese lain dan gereja-gereja katolik lainnya. Di Roma pada 1813 sudah ada 20 gereja yang membaktikan bulan Mei kepada Maria. Devosi Maria semakin semarak ketika Paus Pius XII pada tahun 1945 menyatakan tanggal 31 Mei sebagai perayaan Bunda Maria Ratu, tetapi dipindahkan kemudian pada tanggal 22 Agustus.

Selain itu Gereja juga mendasarkan perayaan bulan Mei sebagai bulan Maria, berkenaan dengan penampaan bunda Maria di Fatima, pada tanggal 13 Mei 1917. Pada tahun 1965 keluar ensiklik dari Paus Paulus VI Mense Maio, yang meresmikan bulan Mei sebagai bulan yang baik untuk menyatukan doa-doa bagi perdamaian dunia. Memang tidak ada aturan upacara khusus dalam penghormatan Maria, tetapi doa-doa atau pun ekaristi bisa dilakukan secara khusus, ziarah ke tempat-tempat peziarahan Maria dsb.

3 Christian Life Community berawal dari Konggregasi Maria

CLC (Christian Life Community) merupakan kelompok awam yang mengikuti hidup bersama sebagai komunitas berdasarkan spititualitas Ignasian. Konon kelompok awam ini dimulai tahun 1563 oleh seorang yesuit muda, John Leunis, Dia mengumpulkan anak-anak muda mahasiwa yang belajar di Collegium Romanum, membantu mereka dalam mengintegrasikan hidup, studi, kerja dan keluarga, relasi-relasi dan pergaulan mereka, dengan nilai-nilai Kristiani.

Yang menarik ialah bahwa Gerakan ini menggunakan nama ‘Persaudaraan (dalam) Bunda Maria’ (Sodality of Our Lady); sesuatu yang sejalan dengan devosi St. Ignasius kepada Bunda Maria. Kelompok ini dibentuk untuk memajukan kerohanian kaum awam. Sejak itu, timbullah berbagai perkumpulan sejenis yang pada umumnya dirintis oleh Yesuit dimana-mana. Dalam kisah Petrus Faber misalnya, kita mengenal adanya perkumpulan semacam ini di Parma, dengan nama Compagnia del Nome Santissimo di Gesu yang menurut Pater Orlandini, Boero, dan Cornelly disebut sebagai hasil karya Petrus Faber (To the Other Towns). Tokoh kelompok ini disebutkan namanya Rinaldo. Yang menarik ialah bahwa pada masa itu, sebagai seorang awam, dia sudah bisa dan diperkenankan berkotbah, oleh vikep Parma, Nicollo Bozzalli. Hal ini tercatat dalam sejarah Petrus Faber. Dia berkotbah pada tanggal 1 Januari 1541 di Gedung Disciplina San Paolo, suatu peluang yang tak pernah diberikan kepada awam pada waktu itu. Walaupun Petrus Faber tidak pernah menyusun struktur organisasi ini, namun ia dapat menyaksikan hasil karya kerasulannya. Gerakan ‘Persaudaraan Bunda Maria’ diresmikan nantinya oleh Paus Gregorius XIII pada 1584. sebagai gerakan awam yang menggunakan Latihan Rohani St. Ignasius, sebagai tuntunan, didorong untuk hidup mengikuti Injil, membantu orang miskin dan mengintegrasikan hidup aktif dan kontemplasi, seperti diajarkan St. Ignasius, yang mempunyai dimensi kerasulan.

Ketika Serikat Yesus dibubarkan pada pertengahan tahun 1700an, kelompok-kelompok ini surut, dan baru muncul kembali sesudah Konsili Vatikan II. Dalam biografi beato Rupert Mayer, kita pun mendapat informasi mengenai kerasulannya di München untuk mendampingi umat, melayani sakramen tobat/ pengakuan dosa, memimpin organisasi yang disebut ‘Kongregasi Maria’. Dia diangkat oleh pater jenderal sebagai ketua ‘Kongregasi Maria’ untuk kaum pria di München 28 November 1921 (mungkin pada waktu itu keanggotaannya masih terbatas untuk kaum pria?). Nama ‘Christian Life Community’ (CLC), yang digunakan sekarang ini sebetulnya baru dimulai pada tahun 1967. Prinsip-prinsip yang dianut diresmikan pada tahun 1971 dan direvisi 1990.

4 Maria dan Latihan Rohani

Semangat dan kerohanian Bunda Maria merupakan inspirasi yang kuat juga untuk Latihan Rohani. Kalau kita perhatikan kehidupan Bunda Maria, kita dapat meneladan beberapa hal ini :

1). Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel – dalam peristiwa ini, kita melihat sikap Bunda Maria yang ‘mendengarkan’ Sabda Allah (lewat malaekat), dan penuh perhatian, membuka hatinya untuk menerima/merenungkan/mendalami sabda itu, “bertanya dalam hatinya apa arti salam itu?” bdk. Lk. 1,29; bdk. Lk 2, 19 dan 2, 51 “Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya) —— bdk. LR.95-98: ‘Panggilan Raja’, ajakan untuk mengikuti Yesus/ Rencana ilahi; melakukan discernment (pertimbangan mendalam).

2). Lebih lanjut bunda Maria tidak berhenti hanya mendengarkan dan merenungkan, melainkan juga menjalankan dalam hidupnya, apa yang ia terima. dan menyatakan kesediaannya menjadi ibu Tuhan, “terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lk. 1,38); kita belajar dari sini, bahwa keterbukaan/kesediaan untuk menerima Sabda Allah, berlanjut dengan kesetiaan/menjalankan (Bdk. Mt.12, 48-49 ibuku dan saudara-saudaraku mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga…)

3). Maria sebagai bunda Yesus – mengikuti-Nya sepanjang hidupnya, dari kelahiran (Betlehem: penuh syukur dan kegembiraan) sampai kematian (di bawah salib, Mater dolorosa, La Pietà, yang berduka) ————- bdk. peristiwa La Storta, ajakan untuk memanggul salib mengikuti Yesus (Mat.16,24; Mrk.8,34; Lk.9,23); tetapi juga ikut kebangkitan-Nya (penampakan Yesus; pengangkatan ke surga).

(A. Sudiarja, SJ)

Aku Iso Opo?

CLC Yogyakarta telah mengadakan Sarasehan Online. Temanya Membantu Sesama di Masa Pandemi.

Acaranya santai. Guyub bareng. Ngobrol bareng dengan semua anggota CLC Lokal Yogyakarta. Kita akan berbagi tentang ‘apa yang bisa dilakukan untuk membantu sesama‘. Saling berbagi cerita, saling mendapatkan inspirasi.

Pandemi di tahun 2020 ini memang memberikan dampak luar biasa bagi hampir semua orang di dunia ini. Banyak keluarga yang kehilangan orang kesayangan karena coronavirus. Banyak orang kehilangan pendapatan atau pekerjaan. Ada sekian banyak pribadi yang kehilangan harapan.

Namun manusia pada dasarnya memiliki bela rasa. Keinginan untuk membantu sesamanya. Saling membantu. Langsung muncul pikiran ‘aku iso opo?‘ (apa yang bisa kulakukan) untuk meringankan keluarga, teman, tetangga yang membutuhkan. Meskipun kita tahu, di masa pandemi ini, semua orang juga ribet dan repot dengan dirinya masing-masing.

Men and women for and with others” adalah ungkapan yang digunakan oleh Jesuit; yang awalnya disampaikan oleh Fr. Pedro Arrupe. Hal yang paling penting dari ungkapan itu adalah langkah nyata, tak peduli besar atau kecil bantuan kita masing-masing ke sesama kita. Aku iso opo?

Salam hangat,

CLC Yogyakarta

Latihan Rohani: Roh Baik Mempengaruhi Kita yang Jahat

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Roh Baik Mempengaruhi Kita yang Jahat.

Latihan Rohani: Roh Baik Pengaruhi Kita yang Baik

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani. Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Roh Baik Pengaruhi Kita yang Baik.

Sarasehan Online: Corona dan Cura Personalis

Corona dan Cura Personalis

Sarasehan Online sudah diselenggarakan pada hari Senin 29 Juni 2020 melalui Google Meet. Terima kasih untuk kehadiran Romo, ibu, bapak, mbak, mas sahabat-sahabat CLC. Terima kasih sudah saling menyapa, bertukar kata, berbagi pengalaman terkait topik kali ini yaitu Corona dan Cura Personalis. Kami juga senang dengan sambutan hangat dan keikutsertaan dari sahabat-sahabat CLC dari kota-kota lainnya.


“Memperhatikan diri sendiri dengan seksama” adalah inti dari Cura Personalis. Pribadi yang mau memberi perhatian pada diri sendiri dengan baik dan tepat akan mampu memperhatikan orang lain dengan baik pula.

Memperhatikan sendiri sendiri bukan hanya yang bersifat kesehatan fisik saja. Namun termasuk kesehatan mental seseorang; untuk pribadinya sendiri dan relasi dengan pribadi-pribadi di sekitarnya.

Cura Personalis menjadi poin penting dalam hidup Santo Ignatius. Awalnya bangsawan yang gagah perkasa. Kemudian menjadi pertapa miskin yang raganya tak terurus hingga sakit parah dan nyaris meninggal saat melakukan perjalanan ke Manresa. Hingga akhirnya Santo Ignatius memahami bahwa kondisi fisik dan mental yang sehat akan mendukung misinya untuk menjadi manusia yang migunani dan AMDG.

Saat ini virus corona membuat kita – mau tak mau – lebih memperhatikan kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Terutama memperhatikan kesehatan fisik (supaya tidak tertular virus Covid-19) dan kesehatan mental (yang terdampak dari perubahan hidup sehari-hari secara ekstrim).


Usai acara Sarasehan Online, kami memiliki tradisi untuk meringkas butir-butir refleksi yang kami saling bagikan dalam acara tersebut. Dengan begitu sahabat-sahabat CLC yang tidak bisa mengikutinya secara online tetap bisa tetap belajar tentang hidup yang dilandasi ajaran Ignatian. Berikut ini adalah beberapa poin refleksi.

Memperhatikan Diri Sendiri
Pandemi membuat kita lebih perhatian pada diri sendiri. Timbul sikap kehati-hatian supaya terhindar dari virus corona; bukan karena ketakutan dan kepanikan. Melakukan saran protokol kesehatan seperti memakai masker, membawa hand sanitizer, mencuci tangan, dan mandi secara rutin. Ada yang memberi saran untuk berjalan kaki setiap pagi supaya meningkatkan kesehatan tubuh. Ada sahabat CLC yang tadinya jarang masak hingga berubah menjadi rajin masak di rumah; menjadi hobi baru yang mengasyikkan. Pandemi mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam memperhatikan diri sendiri.

Memperhatikan Keluarga
Pandemi ternyata memberikan perubahan yaitu kondisi di mana lebih banyak anggota keluarga berkumpul di rumah untuk waktu yang lebih banyak. Anak-anak yang belajar di rumah dan mereka yang bekerja dari rumah (Work From Home). Kesempatan ini membuat anggota keluarga menjadi lebih perhatian pada anggota keluarga yang lain. Termasuk memasak untuk keluarga, mengingatkan anggota keluarga yang rentan kesehatannya, dan membuatkan makanan/minuman sehat. Hasilnya adalah relasi keluarga yang lebih hangat dari waktu sebelum pandemi.

Kelelahan Rohani
Mengalami kelelahan secara fisik karena dampak pandemi adalah hal lumrah. Namun ada juga kelelahan rohani yang dirasakan saat membantu sesama. Oleh sebab itu, stamina harus dijaga supaya tetap bisa optimal dalam membantu sesama.

Mensyukuri Kebaikan Tuhan
Covid-19 membuat segala aspek kehidupan berubah. Apakah ada yang ingin disampaikan oleh Tuhan? Apakah ini cara Tuhan untuk memurnikan kita? Namun satu hal yang jelas terlihat adalah Tuhan tetap mencintai kita umat-Nya dengan segala kebaikan-kebaikan yang Tuhan tetap berikan. Kita masih bisa berucap syukur karena kita masih dilindungi dari resiko tertular Covid-19. Bersyukur karena masih bisa bekerja dan mendapatkan pendapatan. Masih memiliki teman-teman yang saling mendukung. Masih bisa bersyukur bahwa banyak orang yang tergerak untuk membantu satu sama lain di tengah kesusahan ekonomi. Pandemi ini memberi kita cara pandang yang baru dalam menyikapi kehidupan.

Cura Personalis adalah ajaran yang penting dan relevan dari Santo Ignatius guna menghadapi pandemi ini. Kami berdoa supaya kita semua bisa melewati masa yang penuh perubahan dan tantangan ini dengan baik.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Sampai bertemu lagi di Sarasehan Online berikutnya.
Berkah Dalem Gusti

Sarasehan Online Juni 2020