Renungan Harian: 12 September 2020

Renungan Harian
Sabtu, 12 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 10: 14-22a
Injil    : Luk. 6: 43-49

Lalat Buah

Suatu ketika saya berkunjung ke sebuah keluarga, salah satu umat di paroki di mana saya bertugas. Keluarga itu kami kenal sebagai keluarga yang baik dan dapat menjadi teladan bagi keluarga yang lain.
 
Keluarga dengan dua putra dan putri itu kami kenal sebagai keluarga yang aktif terlibat dalam kegiatan Gereja. Bapak terlibat dalam kepengurusan dewan pastoral paroki, ibu aktif dalam kegiatan Wanita Katolik dan koor paroki, putra-putri mereka terlibat dalam kegiatan orang muda katolik dan misdinar. Hal yang paling menarik bagi saya adalah keluarga itu selalu ke gereja bersama dan selalu duduk dalam satu deret bangku. Mengesankan melihat kelurga itu. Apalagi saat salam damai mereka selalu saling memeluk dan mencium.
 
Ketika saya sampi di rumah mereka, keluarga itu menyambut saya dengan ramah. Saya di terima di ruang keluarga bersama dengan seluruh keluarga. Setelah bersalam-salam dan duduk, ibu menawari saya minum.
“Romo mau minum apa? Teh atau kopi?” ibu itu bertanya.
“kopi tanpa gula ibu, terima kasih” jawab saya. “Papa, kopi juga ya ma, seperti biasa” kata suaminya.
 
Tak lama berselang, ibu itu membawa 2 cangkir minuman, sedang anak perempuannya membantu membawa makan kecil. “Mari romo, silahkan dicicipi, adanya hanya ini, maaf ya mo.” Kata ibu itu mempersilakan saya. “Silakan romo” kata bapak itu mengajak saya minum sembari mengangkat cangkirnya. Tiba-tiba bapak itu ngomong dengan nada marah: “Mama gimana sih, kenapa kopi papa pahit? Kamu budek ya, kan saya minta seperti biasa? Masak gitu aja gak ngerti, dasar goblok.”
 
Saya amat terkejut, hampir kopi di tangan saya terlepas. Ibu itu mukanya merah, lari ke dalam diikuti anak-anaknya meninggalkan kami berdua. Saya seperti orang yang shock, diam terpaku. “Mari romo, silahkan dicicipi.” Kata bapak itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
 
Dalam perjalanan pulang, saya masih merinding mengingat peristiwa yang baru saja saya alami. Dalam hati saya bertanya: “Kok bisa ya, orang yang kelihatan begitu baik dan sayang pada keluarga, tiba-tiba dengan spontan mengatakan hal yang demikian kepada istrinya di depan tamu.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Lukas mengatakan: “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan tidak ada pula pohon tidak baik yang menghasilkan buah baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya.”
 
Bapak itu bagi saya adalah pohon yang baik, karena apa yang saya lihat buahnya baik. Bahkan buahnya dapat dibanggakan. Lalu kenapa peristiwa itu terjadi?
 
Kiranya apa yang terjadi, seperti pengalaman saya beberapa kali membeli buah. Buah yang bagus, menarik, tampak mulus dan baunya harum yang menandakan buah yang masak; akan tetapi ketika dibuka dalamnya busuk banyak ulat.
 
Buah yang demikian menjadi korban lalat buah. Sering ada lubang amat kecil yang hampir tidak terlihat pada buah itu, tetapi lewat lobang yang amat kecil itu lalat buah bertelur dan merusak buah itu.
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah aku sudah terkena lalat buah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 11 September 2020

Renungan Harian
Jumat, 11 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 9: 16-19.22b-27
Injil    : Luk. 6: 39-42

Prodiakon

Bapak sepuh yang satu ini selalu menarik perhatian saya,  sejak saya bertugas di paroki tersebut. Beliau setiap hari selalu mengikuti misa harian di pagi hari, terlebih misa hari Minggu beliau bisa mengikuti misa lebih dari sekali.
 
Kami mengenal beliau sebagai prodiakon paroki. Meski banyak prodiakon di paroki akan tetapi yang mempunyai sebutan bapak prodiakon hanya beliau. Sehingga bila ada orang menyebut bapak prodiakon sudah dapat dipastikan yang dimaksudkan adalah beliau.
 
Hidup beliau sungguh-sungguh diabdikan untuk pelayanan di gereja. Hampir setiap hari setelah misa pagi beliau mengirim komuni untuk orang-orang sakit atau yang sudah sepuh. Sore hari beliau menemani lingkungan-lingkungan yang mengadakan pertemuan; atau menemani kelompok yang mengadakan kegiatan devosional. Kalau ada umat yang meninggal beliau akan mengurus semua dengan baik.
 
Bagi saya beliau adalah sosok pelayan yang luar biasa, bahkan beliau melebihi pastor paroki.
 
Pernah suatu kali ketika kumpul-kumpul dengan bapak-bapak ada seorang bapak yang bertanya: “Pak, hidup bapak itu sungguh-sungguh untuk pelayanan, apa yang bapak peroleh dari pelayanan itu?” Belum sempat bapak itu menjawab ada bapak lain sudah menjawab: “Ya, hidup kekal lah. Kan pelayanan itu mengumpulkan harta surgawi.” Bapak lain menyeletuk: “ya kalau ada surga kalau nggak ada gimana?” Ger semua tertawa.
 
“Sebentar, jangan ditanggapi dulu, biar bapak prodiakon yang menjawab.” Sela ku menengahi.

Bapak prodiakon itu diam tampak berpikir untuk menyusun kata. Beliau lalu menjawab:
“Waduh saya bingung, apa ya yang saya dapat? Apa yang saya terima dengan pelayanan ini ya berkat sehingga saya bisa melayani. Maksud saya bahwa saya boleh melayani ini sudah berkat bagi saya.” Kami semua sontak terdiam, mendengar jawaban beliau. Seolah-olah kami diajak untuk memahami rahmat itu. “Wow luar biasa” kataku dalam hati.
 
Mendengarkan jawaban bapak prodiakon itu menjadikan saya seperti tertampar. Apa yang diperoleh seorang pelayan bukan materi atau janji akan kerajaan Surga, tetapi rahmat menjadi pelayan itu sendiri. Aku lalu menyadari keterpilihanku menjadi seorang pelayan adalah rahmat besar. Jadi ketika aku menjalankan kegiatan pelayanan adalah wujud syukurku atas keterpilihanku menjadi pelayan.
 
Kiranya itulah yang dialami St. Paulus sebagai Rasul, sebagaimana dituliskan dalam surat kepada umat di Korintus: “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita injil.”
 
Bagaimana dengan aku? Betapa memalukan ketika dalam pelayanan aku memikirkan apa yang aku dapat lewat pelayanan ini; sementara menjadi pelayanan adalah rahmat besar bagiku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 10 September 2020

Renungan Harian
Kamis, 10 September 2020

Bacaan I: 1Kor. 8: 1b-7. 11-13
Injil   : Luk. 6: 27-38

Pendatang

Bapak, yang mempunyai kebun luas di belakang rumahnya itu adalah pendatang di desa itu. Orang-orang di desa itu mengatakan bahwa bapak itu pensiunan pegawai tinggi yang memilih tinggal di desa itu. Dengar-dengar bapak itu sewaktu masih bekerja, pernah tugas di desa itu.
 
Kebun di belakang rumahnya yang luas itu nampak hijau dan asri. Kebun itu ditanami singkong, ubi, sayuran dan beberapa pohon buah seperti jeruk, mangga dan pepaya. Akan tetapi yang menarik perhatian adalah pekerja kebun itu adalah orang-orang asli desa itu.  Menurut pandangan banyak orang, orang-orang asli desa itu tidak mungkin untuk menjadi pekerja kebun seperti itu.
 
Suatu saat, memenuhi rasa penasaran saya akan kehebatan bapak pendatang itu, saya berkunjung ke rumahnya untuk mendapatkan jawab atas pertanyaan bagaimana beliau bisa mempekerjakan orang-orang asli desa itu.
 
Ketika saya bertanya bapak itu mulai berkisah: “Bapak Pastor, ketika saya mulai tinggal di desa ini cita-cita saya adalah menikmati masa pensiun saya dengan berkebun. Ketika saya menceritakan mimpi saya ini ke teman-teman sesama pendatang, mereka mengusulkan agar saya membuat pagar untuk kebun yang mau saya tanami. Saya keberatan untuk membuat pagar, karena saya berkeinginan membuat pagar hidup, yaitu pohon-pohon buah.
 
Semua menertawakan saya. Menurut mereka hal itu tidak mungkin, karena dengan cara itu kami tidak pernah akan menikmati hasil kebun. Semua akan habis dicuri oleh orang-orang desa ini. Mereka menjelaskan banyak hal berdasarkan pengalaman mereka yang sudah lama tinggal di sini.
 
Saya berketetapan untuk menjalankan niat saya. Saya mendatangkan orang-orang dari kampung saya, untuk memulai membersihkan kebun dan mulai bertanam. Dan betul, ketika singkong dan ubi mulai bisa dipanen, banyak yang hilang, mungkin hampir separo hilang. Kami diam dan tetap menanam. Teman-teman menertawakan saya, Bapak Pastor.
 
Suatu waktu ketika ada yang mengambil singkong, ditangkap oleh pekerja kebun saya. Ada lima orang yang ditangkap.  Mereka saya tanya apakah mereka yang selama ini mengambil singkong dan ubi di kebun saya. Mereka mengakui dan menyebut ada banyak yang lain juga. Hasil jarahan itu mereka bagi-bagi untuk kawan-kawannya. Bapak Pastor, mereka “mencuri” singkong dan ubi untuk dimakan bukan untuk dijual.
 
Saya bicara dengan mereka, mereka boleh ambil dari kebun ini tetapi mereka harus bantu-bantu pekerja kebun, dan mereka mau. Sejak saat itu ada 10 orang yang bantu-bantu. Memang mereka belum terbiasa bekerja di kebun tetapi lama-kelamaan mereka bisa.
 
Di awal mereka bekerja, mereka kerja sedikit tetapi mengambil banyak. Pekerja-pekerja saya mengeluh, tetapi saya menenangkan mereka, karena orang-orang itu adalah orang-orang yang lapar.
 
Kira-kira setelah satu tahun orang-orang asli desa itu mulai bisa berkebun dengan benar dan mengambil hasil secukupnya. Orang –orang asli desa itu, orang-orang yang kuat dengan tenaga besar.  Sehingga semua kebun dapat digarap dan menghasilkan luar biasa.
 
Sejak saat orang-orang desa itu bekerja, kebun kami aman dan kami dekat dengan orang-orang asli. Bahkan saya sudah dianggap sebagai saudara dan sesepuh oleh mereka.” Demikian bapak itu mengakhiri kisahnya.
 
Kasih bapak pendatang itu membangun jembatan antara dirinya sebagai pendatang dengan orang-orang asli desa itu. Kasih menjadikan bapak itu bersaudara dengan orang-orang asli. Andai bapak pendatang itu membangun pagar, maka ceritanya pasti amat berbeda, karena beliau tidak akan pernah diterima oleh orang-orang asli desa itu. Pagar membuat pemisah, siapa beliau dan siapa orang-orang asli.
 
Sebagaimana dikatakan St. Paulus kepada umat di Korintus: “Saudara-saudara, Pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun.”
Bagaimana dengan diriku? Aku membangun pagar atau membangun jembatan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 9 September 2020

Renungan Harian
Rabu, 09 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 7: 25-31
Injil    : Luk. 6: 20-26

Mbah Po

Mbah Po, demikian kami memanggil adik Kakek saya. Siapa nama lengkap beliau, sampai sekarang saya tidak pernah tahu, karena sejak kecil saya memanggil dengan sebutan itu. Saya selalu senang kalau main ke tempat beliau, karena di sana saya boleh main di sawah, naik kerbau dan ikut memandikan kerbau di sungai. Rasanya menikmati kebebasan yang luar biasa.
 
Sore itu Mbah wedok (nenek) sedang masak di dapur, beliau menanak nasi dan memasak sayur serta menggoreng ikan hasil tangkapan pak Juyan (paman). Mbah lanang (kakek) membereskan alat pertanian, sedang pak Juyan mengisi “teplok”, “senthir” (lampu minyak) dan lampu petromax dengan minyak tanah.
 
Sehabis Mahgrib, ruang tengah rumah  mbah Po sudah terang oleh nyala lampu petromax sedang tempat-tempat lain terang karena “teplok” dan “senthir”. Di meja makan yang sederhana mbah Wedok menata makanan yang akan kami makan malam itu.
 
Ketika kami sedang duduk-duduk di ruang tengah, tiba-tiba ada tetangga datang.
“Wo, sih gadhah uwos? Ajeng nyuwun riyin” kata tamu itu. (Budhe, masih punya beras? Mau minta dulu).
“lha ngopo nduk kok bengi-bengi nggolek beras?” tanya mbah wedok. (Ada apa nak kok malam-malam cari beras?).
“Nika, onten tamu besan king kitha, gek ndilalah angsale masak pun dha ditedhi”. (ada tamu besan dari kota, dan kebetulan masakan kami sudah kami makan).
“Walah, yen beras wis entek nduk, nek gabah okeh” (waduh, kalau beras sudah habis, tetapi kalau gabah masih banyak).
“dhuh, pripun nggih” (waduh bagaimana ya).
“Wis, kae sega leh ku bar adang gowonen, aku ya bar kelan jangan lombok digawa sisan. Mesaake tamu seka adoh” (udah nasi di meja itu dibawa dan sayur yang aku masak tadi dibawa sekalian. Kasihan tamu dari jauh).
“Nuwun nggih Wo” (terima kasih budhe). Tetangga itu pergi dengan membawa nasi dan masakan yang sudah disiapkan untuk makan malam.
 
Setelah tamu itu pergi, mbah lanang ke kebon membawa teplok mencabut singkong dan mbah wedok menyiapkan api untuk merebus singkong.
 
Malam itu kami hanya makan singkong rebus karena nasi, sayur dan ikan goreng semua dibawa tetangga.
 
Sikap dan tindakan Mbah Po, bagi saya adalah sikap dan tindakan yang luar biasa. Kemurahan dan ketulusan hati, yang semakin langka pada masa sekarang. Kerelaan untuk menyerahkan “kemewahan” yang akan dinikmatinya untuk orang lain. Mbah Po bagi saya mewakili banyak orang miskin yang kaya. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan  tetapi selalu ada hati untuk orang lain.
 
Kiranya orang-orang seperti itu yang dipuji oleh Yesus sebagaimana diwartakan St. Lukas: “Berbahagialah orang yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah dorongan untuk selalu menyediakan hati untuk orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 8 September 2020

Renungan Harian
Selasa, 08 September 2020

Pesta Kelahiran SP. Maria
Bacaan I : Mi 5: 1-4a
Injil    : Mat. 1 1-16.18-23

Mengolah Luka

Di era media sosial ini, banyak orang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk meletupkan kekesalan hati. Mereka mengunggah kesedihan, kekecewaan dan kemarahan di media sosial; baik menggunakan bahasa yang baik dan santun maupun dengan dengan bahasa yang tidak sepantasnya. Sehingga letupan kegaduhan hati mereka dapat “dinikmati” oleh khalayak.
 
Tidak jarang persoalan kekisruhan rumah tangga yang seharusnya masuk dalam ranah amat privat diumbar ke media sosial. Bahkan sering kali unggahan itu saling berbalas, sehingga pertengkaran rumah tangga menjadi konsumsi publik.
 
Dalam arti dan batas tertentu meluapkan kegaduhan hati punya nilai positif karena seseorang yang dapat meluapkan kegaduhan hatinya bisa merasakan kelegaan. Akan tetapi ketika persoalan-persoalan yang seharusnya dijaga privasinya kemudian di umbar sebagai konsumsi publik, kiranya ada sesuatu yang tidak sepantasnya dan selayaknya.
 
Fenomena di atas, bisa jadi menunjukkan rendahnya kemampuan seseorang untuk mengolah luka pada diri sendiri dan atau adanya keenggan untuk mengolah. Sudah barang tentu mengolah luka bukan perkara mudah dan menyenangkan.
 
Seseorang yang terluka cenderung untuk menolak kenyataan dirinya terluka dan berjuang untuk melupakan. Oleh karenanya melampiaskan kegaduhan hati dipilih sebagai sarana untuk menutupi kenyataan diri yang terluka dan melupakan luka itu sendiri. Sementara mengolah luka dibutuhkan kemauan dan keberanian untuk memeluk luka.
 
Seseorang yang mau dan berani memeluk luka berarti dia mau dan berani untuk menatap dan mengakui diri sebagai orang yang sedang terluka dan berjuang untuk mengurai. Dengan penerimaan diri dan kemampuan mengurai mengapa dan bagaimana luka itu terjadi, seseorang akan menemukan rahmat dibalik luka tersebut. Sehingga pada gilirannya apa yang keluar dari dirinya bukan pelampiasan kegaduhan hati, tetapi sebuah kedamaian dan kasih yang memancar.
 
St. Yusuf, suami SP. Maria menjadi teladan luar biasa bagaimana mengolah luka sehingga menghasilkan kedamaian dan kasih yang memancar. Sebagaimana Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius mengkisahkan: “ Karena Yusuf, suaminya seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah kemauan dan keberanian untuk memeluk luka dalam diriku? Atau aku cenderung melampiaskan kegaduhan hatiku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Latihan Rohani : Godaan Kuat bila Kita Lemah

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Godaan Kuat bila Kita Lemah.

Renungan Harian: 7 September 2020

Renungan Harian
Senin, 07 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 5 : 1-8
Injil    : Luk. 6: 6-11

T e r u s i k

Ibu Paroki itu sudah terkenal sebagai aktifis yang luar biasa di paroki, di tempat di mana saya pernah bertugas. Sebutan ibu paroki dialamatkan kepada beliau karena semua kegiatan paroki pasti melibatkan beliau atau minimal beliau pasti hadir.
 
Beliau sudah begitu lama menjadi koodinator salah satu bidang di paroki. Sudah sejak pendahulu saya, beliau sudah berkarya dan menjadi koodinator bidang. Banyak orang mengatakan bahwa perannya tidak tergantikan. Bahkan pendahulu saya mengatakan jangan mengusik ibu itu, karena akan menimbulkan masalah besar di paroki ini.
 
Ketika saya pertama kali datang di paroki itu untuk bertugas ibu itu memperkenalkan diri bahwa beliau sudah menjabat sebagai koordinator bidang sejak lama. Beliau mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada yang menggantikan, walaupun menurutnya beliau sudah cape. Dan pernyataan beliau kalau sudah cape berkali-kali diulang disampaikan.
 
Dengan pertimbangan beliau sudah cape dan sudah amat lama, tetapi juga pesan dari pendahulu saya, maka saya tidak menggantikan beliau tetapi menempatkan orang-orang muda untuk membantu beliau.
 
Setiap kali bertemu dangan saya, ibu itu selalu mengeluh tentang anak-anak muda yang membantunya. Beliau selalu mengatakan anak-anak muda itu tidak becus, dan menurut beliau tidak bisa dipertahankan dan membuat beliau lebih lelah. Beliau mengatakan lebih baik kerja sendirian tidak usah dibantu.
 
Anak-anak muda yang membantunya juga mengeluh karena selalu dikritik, disalah-salahkan bahkan sering kali dicari-cari kesalahannya. Mereka ingin mengundurkan diri. Sejauh pengamatan kami, saya dan anggota dewan paroki yang lain, anak-anak muda ini amat kreatif dan dedikasinya luar biasa. Bidang yang dibawahi oleh ibu itu jadi lebih hidup dan berkembang.
 
Apa yang terjadi, nampaknya ibu itu terusik dengan kehadiran orang-orang muda ini. Sudah bertahun-tahun beliau bekerja sendirian dan dianggap sukses. Sehingga beliau selalu melakukan dengan cara yang sama. Beliau sudah nyaman dengan posisi itu dan merasa menemukan penghargaan diri dalam posisi itu.
 
Pernyataan-pernyataan beliau yang mengatakan bahwa beliau sudah cape dan ingin diganti dengan yang muda, bukanlah pernyataan yang sesungguhnya. Pernyataan itu adalah ungkapan harapan akan pujian atas kinerja dan dedikasinya.
 
Maka ketika ada orang lain yang mau terlibat beliau merasa terusik, sehingga apa yang terjadi selalu mengkritik, menyalahkan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain, dengan tujuan agar dirinya tidak tergantikan.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan sejauh diwartakan Lukas, orang-orang Farisi selalu mencari-cari kesalahan Yesus karena mereka terusik dengan kehadiran Yesus. Harga diri, dan kemapanannya terusik, sehingga mereka ingin menyingkirkan Yesus. “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia.”
 
Bagaimana dengan aku bila aku terusik? Terusik kenyamanan dan kemapananku, terusik harga diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 6 September 2020

Renungan Harian
Minggu, 06 September 2020

Minggu Biasa XXIII
Bacaan I  : Yeh. 33: 7-9
Bacaan II : Rom. 13:  8-10
Injil     : Mat. 18: 15-20

Komunitas

Dalam beberapa hari ini sebuah group media sosial dari sebuah paguyuban alumni sebuah institusi pendidikan sedang ramai (gayeng). Biasanya group media sosial ini tidak seramai ini. Kadang-kadang ramai kalau ada yang ulang tahun atau ada berita mohon doa, selebihnya hanya berisi renungan atau satu dua orang yang bicara.
 
Keramaian group media sosial ini dikarenakan adanya pemilihan pengurus paguyuban. Banyak anggota paguyuban mengemukakan pendapat, baik pendapat mengenai tatacara pemilihan maupun pendapat yang berupa usulan calon pengurus. Banyak yang terlibat dalam pembicaraan dan diskusi berkaitan dengan pemilihan calon pengurus. Pendapat-pendapat yang muncul semua menarik dan bagus. Bahkan seorang anggota paguyuban menyebut pendapat-pendapat itu buah kecintaan pada paguyuban.
 
Bapak Kardinal Suharyo dalam beberapa kesempatan menyampaikan bedanya gerombolan dan komunitas. Gerombolan adalah sekumpulan orang baik saling kenal maupun tidak yang tidak ada ikatan satu dengan yang lain dan mempunyai tujuan masing-masing. Sedangkan komunitas adalah sekumpulan orang yang mempunyai ikatan satu sama lain dan mempunyai tujuan yang sama. Komunitas adalah kumpulan orang-orang yang sehati.
 
Bertolak dari pendapat Bapak Kardinal di atas, melihat keramaian group media sosial sebuah paguyuban itu menarik untuk bertanya: “Apakah keramaian pendapat ini adalah keramaian gerombolan atau keramaian komunitas?”tentu jawabannya adalah adakah hati yang mendasari pendapat-pendapat yang muncul atau hanya sekedar membuang ide.
 
Andai yang dikatakan oleh salah satu anggota paguyuban bahwa pendapat-pendapat itu buah cinta pada paguyuban betapa luar bisa paguyuban ini. Karena pendapat satu orang yang baik yang didasari dengan cinta dan kejujuran, dan kemudian itu diamini oleh anggota paguyuban yang lain kiranya bisa dipercaya sebagai yang datang dari Roh Kudus. Dan dengan demikian bila itu sebagai harapan dan permohonan tentu dikabulkan oleh
Tuhan.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius: “Jika dua orang diantaramu di dunia ini sepakat meminta apapun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapaku yang di surga.” Sepakat mengandaikan adanya sikap saling percaya, jujur dan cinta yang berkobar didalamnya.
 
Pertanyaan mendasar, bila aku menjadi anggota komunitas, adakah aku memberikan diriku dengan  hati?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 5 September 2020

Renungan Harian
Sabtu, 05 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 4: 6b-15
Injil    : Luk. 6: 1-5

Makan Jam

Komunitas kami ada aturan-aturan berkaitan dengan acara komunitas. Aturan-aturan itu antara lain: perayaan ekaristi setiap pagi dari hari Senin sampai Jumat jam 06.00 WIB, sedang hari Sabtu dan Minggu diatur oleh masing-masih anggota komunitas; Makan siang diadakan jam 12.30 WIB. Aturan-aturan itu buah dari kesepakatan seluruh anggota komunitas.
 
Pada hari itu, kami seluruh anggota komunitas kerja bakti membersihkan rumah dan menguras kolam. Hari itu kami bekerja keras, dan cukup melelahkan. Sekitar jam 11.30 seluruh pekerjaan kami sudah selesai, kami bebersih. Sekitar jam 12.00 salah seorang teman kami mengajak makan: “ Makan yuk, aku sudah lapar.” Ajakan itu disambut baik oleh sebagian besar dari kami. Akan tetapi pimpinan komunitas menegur: “Jam berapa sekarang? Kan belum waktunya makan.” Teman kami yang mengajak makan menjawab: “saya gak makan jam, saya lapar mau makan nasi.” Kami semua tertawa dan menuju meja makan, kecuali pimpinan komunitas.
 
Pada saat pertemuan komunitas, pimpinan komunitas menegur kami tentang pentingnya disiplin, ketaatan pada kesepakatan dengan mengutip macam-macam dasar hukum. Kami berdebat berkaitan tentang pentingnya kesepakatan dan untuk apa kesepakatan itu dibuat. Ada aturan waktu makan siang, dimaksudkan agar kami bisa makan bersama sebagai komunitas. Akan tetapi aturan itu seharusnya selalu dilihat dasar kenapa aturan itu dibuat dan tujuannya untuk apa.
 
Seperti kejadian makan jam 12, memang betul melanggar aturan makan siang. Tetapi pada saat itu semua anggota komunitas sudah berkumpul, lelah dan lapar mengapa makan siang maju 30 menit dipersoalkan. Sebagaimana biasa perdebatan dalam komunitas tidak pernah mencapai titik temu karena semua punya pemikiran yang hebat-hebat.
 
Orang-orang seperti pimpinan komunitas kami amat dibutuhkan untuk menjaga tegaknya aturan atau sebuah tradisi. Namun demikian ketika upaya menegakkan aturan atau tradisi itu kehilangan roh aturan atau tradisi itu sendiri maka akan mengkerdilkan dirinya sendiri atau anggota kelompok dimana aturan atau tradisi itu berlaku. Pada gilirannya akan membentuk robot-robot penjaga aturan atau tradisi dan robot-robot pelaksana aturan atau tradisi itu sendiri.
 
Kiranya hal itu yang menjadi kritik Yesus kepada orang-orang farisi. Mereka adalah orang-orang yang berwenang untuk menjaga tegaknya hukum-hukum taurat dan tradisi-tradisi umat. Namun mereka kehilangan roh dari hukum taurat dan tradisi umat. Roh dari hukum taurat dan tradisi itu adalah mencintai Tuhan dan sesama. Artinya dengan semua hukum dan tradisi menghantar umat Israel semakin mencintai Tuhan dan sesamanya.
 
Bagaimana dengan aku? Bila aku melontarkan kritik atau menghakimi orang lain sudahkah aku memahami roh dari aturan-aturan yang ada?
Atau jangan-jangan aku mengkritik dan menghakimi orang lain sekedar agar aku dianggap hebat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 4 September 2020

Renungan Harian
Jumat, O4 September 2020

Bacaan I : 1 Kor. 4: 1-5
Injil    : Luk. 5: 33-39

Ramalan

Hari itu, saya menerima tamu pasangan suami – istri yang masih muda. Mereka baru 4 tahun
menjalani hidup perkawinan. Ketika saya  melihat pasangan itu, saya merasa pasangan ini pasangan yang baik dan saling mencintai. Sejak bertemu pertama dan mulai dengan ngobrol basa – basi pasangan ini selalu menunjukkan kemesraan.
 
Setelah basa-basi saya mulai bertanya kepada mereka: “Bagaimana, apa yang dapat saya bantu?” “Maaf pastor, mengganggu waktu pastor, kami hanya ingin ngobrol-ngobrol.” Kata suami. Istrinya menimpali: “kami ingin curhat pastor.” “Saya tidak terganggu kok. Ok saya senang bisa bertemu dan saya siap mendengarkan.” Kata saya. Mereka tertawa.
 
“Pastor, sesungguhnya kami merasa lelah dengan hidup kami. Kami seperti hidup dalam kepura-puraan dan memenuhi tuntutan harus ini, harus itu.” Kata suami membuka pembicaraan. Saya agak terkejut dan berpikir ada masalah apa dengan pasangan ini. “Sok, (silakan) ceritakan apa yang membuat kalian lelah.” Kata saya.
 
“Ceritanya panjang pastor. Sebenarnya awal persoalan terjadi waktu kami memutuskan untuk menikah. Ketika kami memutuskan menikah dan bicara dengan orang tua kami, mereka lalu mengajak saya pergi ke orang “pinter” untuk tanya apakah kami cocok atau tidak. Menurut perhitungan orang pinter itu kami sebenarnya tidak cocok, kalau dipaksakan nanti kami akan selalu ribut, nanti kami akan selalu sendiri-sendiri dan kami akan menderita. Kalau urusan rejeki kami akan berkelimpahan.
 
Setelah mendengar dari orang pinter, orang tua kami bicara, apakah tidak sebaiknya dibatalkan keputusan kami untuk menikah. Kami mengatakan kami tetap mau menikah dan akan membuktikan bahwa ramalan orang pinter itu salah.
 
Pastor, hidup perkawinan kami tidak ada masalah, tetapi kami banyak harus berpura-pura. Saya bekerja dan istri juga bekerja. Pada waktu kami hanya punya satu mobil, saya antar jemput istri. Sekarang kami mampu membeli dua mobil seharusnya istri bisa pergi ke kantor sendiri, itu lebih efektif, tetapi karena kami harus membuktikan bahwa kami selalu bersama maka kami memutuskan tetap antar jemput. Saat kami ada acara, kalau salah satu dari kami gak bisa pergi yang gak usah pergi semua, padahal sebenarnya kami gak ada masalah kalau salah satu dari kami yang pergi; tetapi keputusan itu demi pembuktian itu.
 
Banyak hal yang kami lakukan untuk membuktikan bahwa ramalan itu salah. Satu sisi kami tahu bahwa itu kepura-puraan tetapi sisi lain kami tidak mau keluarga besar kami mengatakan: “betulkan ramalan itu”. Itu semua membuat kami lelah. Kami berdua sebenarnya ingin kami hidup normal gak usah berpura-pura, karena sebenarnya hidup perkawinan kami tidak ada masalah.
 
Menurut pastor, kami harus bagaimana? Dan ramalan itu datangnya dari Tuhan bukan sih pastor?” mereka mengakhiri curhatnya.
 
Betapa banyak dari antara kita yang mengalami kelelahan hidup karena mau membuktikan sesuatu melalu hidup yang dijalani. Betapa banyak dari antara kita yang mengalami kelelahan hidup karena hidup terpenjara oleh sebuah ramalan atau “kutukan”
 
Kiranya hidup bukan untuk membuktikan atau untuk melawan sesuatu. Cara hidup atau bentuk yang aku pilih adalah sebuah pilihan yang dengan sadar dan bebas aku pilih. Dasar dari pilihan cara hidupku adalah kesadaran dalam diriku bahwa dengan cara ini menghantar aku pada tujuan hidupku.
 
Hidup harus berbuah itu harus.  Buah itu merupakan hasil dari pergulatanku memilih sarana-sarana terbaik agar aku selalu ada di jalan menuju tujuan hidupku. Oleh karenanya aku menjalani peziarahan hidupku dengan bahagia karena semua berdasarkan pilihan bebasku. Bukan karena tuntutan dari orang lain atau dari apapun, bukan pula karena ketakutanku akan penghakiman dari orang lain atau dari sesuatu.
 
Sebagaimana disampaikan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus: “Dialah yang akan menerangi juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan. Dialah pula yang akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Pada saat itulah tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.