Renungan Harian: 19 Oktober 2020

Renungan Harian
Senin, 19 Oktober  2020

Bacaan I : Ef. 2: 1-10
Injil    : Luk. 12: 13-21

Perpecahan

Suatu ketika saya mengunjungi seorang bapak sepuh. Bapak ini sebelumnya selalu rajin ikut misa pagi, tetapi akhir-akhir ini sudah lemah dan hanya berbaring. Dalam pembicaraan dengan beliau, beliau berkata: “ Pastor, kalau saya boleh ke rumah cucu saya, saya pasti sembuh.” Baru selesai bapak itu bicara, istrinya langsung menjawab: “Gak usah ke sana buat apa? Mereka aja gak pernah mau ke sini.” Saya agak terkejut dengan jawaban ibu itu.
 
Suatu saat saya mengunjungi bapak itu lagi dan bapak itu bercerita: “ Romo, saya merasa gagal mendidik anak-anak saya. Anak-anak saya sejak kecil dimanjakan oleh mamanya. Waktu itu saya pikir baik-baik saja. Tentu kami sebagai orang tua ingin anak-anak bahagia. Ekonomi kami juga baik, sehingga apapun yang anak-anak minta selalu kami penuhi.
 
Sekarang, kami menyesal, karena anak-anak saya walaupun sudah pada berumah tangga masih mengandalkan kami. Mereka sudah kami beri usaha sendiri-sendiri tetapi ya itu pastor, mereka tidak bisa mengelola dengan baik, ya….. karena mereka biasa dimanjakan. Akibat dari itu mereka jadi tidak akur pastor. Mereka berebut harta. Mamanya selalu membela anak-anaknya sementara menantu saya yang sudah janda seperti di anak tirikan. Menantu saya itu bisa mengelola usaha dengan baik sehingga berkembang dan itu yang menjadi sumber iri hati adik-adik iparnya.
 
Pastor, yang paling menyedihkan hidup perkawinan anak-anak saya hampir semua tidak beres. Mereka ke gereja ya ke gereja tetapi perkawinan mereka gak keruan. Saya sudah tidak bisa ngomong lagi, karena kalau ngomong selalu ribut dengan istri. Saya memilih diam.
 
Pastor, sedari muda saya kerja keras, ingin hidup mapan, punya harta untuk mencukupi dan membahagiakan keluarga. Tetapi ternyata bagi saya harta justru membuat saya semakin kesepian dan menderita. Harta jadi sumber pertikaian keluarga. Sekarang pun saya terus dihantui perpecahan anak-anak kami kalau kami sudah tidak ada.” Bapak itu menutup kisahnya.
 
Harta adalah sarana bukan tujuan dalam hidup kita. Sering kali kita terjebak menjadikan harta sebagai tujuan, maka tidak jarang berujung pada penderitaan dan kesepian. Dengan harta berharap kebahagiaan sering kali yang terjadi harta menjadi sumber petaka.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “ Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah sadar mana yang tujuan dan mana yang sarana?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 Oktober 2020

Renungan Harian
Minggu, 18 Oktober 2020

Minggu Biasa XXIX
Bacaan I  : Yes. 45: 1. 4-6
Bacaan II : 1Tes. 1: 1-5b
Injil     : Mat. 22: 15-21

Penduduk

Setiap kali saya mendapatkan perutusan baru untuk bertugas di sebuah paroki, maka hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mendapatkan informasi tentang paroki di mana saya akan menjalani perutusan. Hal itu amat penting agar saya dapat memulai perutusan di tempat baru dengan baik.
 
Sesampainya di tempat baru, saya mulai memperkenalkan diri, dan mencoba mengenal umat. Butuh waktu lama untuk bisa mengenal umat dan kebiasaan-kebiasaan umat di tempat baru. Disadari atau tidak terkadang saya masih terpola dengan kebiasaan-kebiasaan di tempat yang lama. Sehingga tidak jarang mengalami benturan dalam diri; dan tanpa sadar memaksakan kebiasaan lama saya di tempat yang baru.
 
Selama ini pengalaman berpindah dari satu tempat perutusan ke tempat perutusan lain pola seperti di atas selalu terjadi. Setelah beberapa saat biasanya sudah mulai terbiasa dengan tempat yang baru dengan seluruh kebiasaan dan tata caranya.
 
Ternyata ada satu yang hilang dan hampir tidak pernah saya pikirkan dan saya lakukan adalah bahwa ketika saya mendapat perutusan di suatu tempat baru, saya bukan hanya diutus untuk menjalankan reksa pastoral di tempat yang baru. Satu hal penting yang lain, yang termuat dalam perutusan itu adalah aku diutus untuk menjadi penduduk di tempat yang baru.
 
Perutusan menjadi penduduk berarti perutusan untuk menjadi bagian dari masyarakat di tempat di mana saya diutus. Perutusan itulah yang hilang dalam diri saya ketika saya diutus di tempat yang baru. Sebagai imam seolah-olah aku punya dunia sendiri dan bukan menjadi bagian dari masyarakat setempat.
 
Saya menjadi warga dari sebuah RT, RW dan desa tertentu tetapi saya tidak terlibat sebagai warga di situ. Tidak pernah saya ikut pertemuan bapak-bapak di lingkungan, tidak pernah ikut kerja bakti bersama bapak-bapak di lingkungan, juga tidak pernah terlibat dalam menjaga keamanan kampung bersama dengan bapak-bapak yang lain. Maka tidak mengherankan bahwa saya tidak pernah menjadi bagian dari masyarakat di mana saya tinggal.
 
Betul bahwa saya dikenal oleh beberapa warga di sekitar gereja, tetapi tidak dikenal sebagai bagian dari mereka. Benar bahwa Gereja terlibat dalam beberapa kegiatan besar, tetapi hadir sebagai tamu atau lebih pada kegiatan karitatif. Akan tetapi tidak seperti warga lain yang hadir dan terlibat sebagai warga.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius telah menampar saya dan menyadarkan saya, bahwa perutusan di suatu tempat adalah perutusan untuk menjadi warga masyarakat biasa seperti warga yang lain. Sebagai pastor selalu mengajak dan mengingatkan umat agar terlibat sebagai warga sementara saya tidak terlibat sepenuhnya sebagai warga.
“Berikanlah kepada Kaisar apa wajib kamu berikan Kepada Kaisar”.
 
Perutusan menjadi warga biasa juga berarti menghadirkan Gereja dalam masyarakat. Sehingga Gereja juga menjadi bagian dari masyarakat.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 17 Oktober 2020

Renungan Harian
Sabtu, 17 Oktober 2020

PW. St. Ignatius dari Antiokhia
Bacaan I : Ef. 1: 15-23
Injil    : Luk. 12: 8-12

Berbeda

Di kompleks perumahan itu, seminggu sekali diadakan latihan bela diri untuk anak-anak kecil. Mereka umumnya masih usia Taman Kanak dan Sekolah Dasar. Tujuan utama bukan untuk keahlian bela diri tetapi lebih untuk memberi kegiatan positif untuk anak-anak di kompleks itu. Kompleks perumahan itu banyak dihuni oleh keluarga-keluarga muda, sehingga tidak mengherankan kalau di kompleks itu banyak anak-anak.
 
Dengan kegiatan latihan bela diri itu anak-anak diajar untuk bersosialisasi, mengenal teman dan disiplin. Setiap kali sebelum  dan sesudah latihan anak-anak selalu diajak berdoa. Pelatih akan mengajak anak-anak itu untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing. Sebenernya hanya satu anak kecil yang keyakinannya berbeda. Setiap kali diajak berdoa, anak itu akan bikin tanda salib dan berdoa. Entah apa yang didoakan.
 
Suatu saat bapak bertanya: “Mas, waktu tadi diajak berdoa, mas doa apa?”
“Mas doa Bapa Kami aja, kan waktunya pendek,” jawab anak itu dengan polosnya.
“Lho emang kalau lebih lama mas mau doa apa?” tanya bapaknya lebih lanjut
“Ya doa Bapa Kami dan Salam Maria dong,” jawabnya.
“Mas gak malu gitu doa pakai tanda salib di depan teman-teman?” Tanya bapaknya lagi.
“Ya gaklah Pak, berdoa pada Tuhan Yesus kok malu,”jawab anak itu dengan polosnya.
 
Sikap anak kecil yang berani berdoa di depan teman-temannya hanyalah peristiwa sederhana dan hal yang amat biasa. Akan tetapi pendidikan yang ditanamkan sejak kecil itu akan berdampak besar pada gilirannya. Anak tidak akan malu akan identitasnya sebagai orang katolik dan pada saatnya akan mampu memberi kesaksian tentang imannya.
 
Sebagaiman Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah aku berani memberi kesaksian tentang Dia yang kuimani?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 16 Oktober 2020

Renungan Harian
Jumat, 16 Oktober 2020

Bacaan I : Ef. 1: 11-14 
Injil    : Luk. 12: 1-7

Pelantungan

Suatu hari aku berkunjung ke rumah seorang ibu sepuh, yang memintaku untuk memanggilnya Uti. (eyang putri). Kendati sudah amat sepuh, namun Uti masih kelihatan segar dan cantik. Wajahnya selalu memancarkan senyum, seolah-olah mengungkapkan kebahagiaan hidupnya. Uti, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, ditemani pasangan suami istri asisten rumah tangganya.
 
“Selamat sore Uti,” sapaku ketika aku berjumpa.

“Wah romo wis rawuh” jawab Uti sambil mencium pipiku.
“Pinarak lenggah mo,” Uti mempersilahkan aku duduk.
“Sudah lama aku menunggu, romo kersa rawuh” kata Uti. (saya sudah lama menunggu, romo mau berkunjung).

“Uti, rahasianya apa kok sudah sepuh tetapi masih kelihatan sehat dan segar?” tanyaku.

“Wah apa romo, gak ada rahasianya, yang penting banyak bersyukur. Dalam keadaan apapun kita harus bersyukur.”

“Wah gak mudah Uti,” jawabku.

“Betul romo tidak mudah, Uti juga belajar bertahun-tahun untuk itu,” jawabnya.

“Maksud Uti?” tanyaku
 
“Romo, kersa didongengi Uti? Dongenge dawa banget.” (Romo mau mendengarkan dongeng Uti? Dongeng yang amat panjang).

“Mau, mau Uti,” jawabku.
 
“Romo, perjalanan hidup Uti sesungguhnya amat pahit.
Tahun 65, Uti menikah dengan laki-laki pilihan orang tua, pada jaman itu biasa anak gadis dijodohkan. Waktu itu Uti umur 18 tahun, dan untuk ukuran jaman itu sudah cukup umur, karena banyak teman-teman Uti yang menikah umur 14 dan 15 tahun. Sampai Uti menikah, Uti tidak kenal dengan calon suami, Uti hanya melihat fotonya saja. Laki-laki yang gagah dan baik, kelihatan dari fotonya. Uti tidak tahu pendidikannya apa, pekerjaanya apa, semua serba tidak tahu; yang saya tahu hanya nama dan wajahnya melalui foto.
 
Seminggu setelah menikah ada ontran-ontran yang katanya ada gerakan PKI. Uti tidak tahu apa-apa tetapi takut karena suasana waktu itu mencekam. Uti ingat persis waktu itu, ketika Uti sedang menyiapkan makan malam, pintu rumah digedor, sekejap kemudian, suami Uti dibondo (diikat) dan dibawa pergi. Mereka itu siapa, suami dibawa kemana Uti tidak tahu, Uti menangis dan takut. Sejak saat itu suami Uti tidak pernah kembali.
 
Romo, tidak selang seminggu dari peristiwa itu, Uti ditangkap, dibawa dengan truk. Uti takut luar biasa, Uti menangis sudah tidak bisa keluar suara lagi, karena begitu takut. Uti diangkut dengan truk. Bersama Uti ada banyak perempuan-perempuan yang diangkut. Uti tidak tahu dibawa kemana. Uti dimasukkan ke tahanan, pindah-pindah dari rumah tahanan yang satu ke rumah tahanan yang lain. Anehnya selama dalam tahanan Uti tidak pernah diperiksa atau ditanya apapun. Akhirnya Uti dibawa ke tempat penampungan yang kemudian Uti tahu namanya Pelantungan.
 
Romo, Uti saat-saat itu rasanya ingin mati. Kami mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Tempat penampungan menjadi tempat yang mengerikan bagi Uti. Hari-hari Uti diisi dengan menangis dan meratap, tetapi tidak pernah ada yang mendengar dan menolong. Di tempat itu Uti sudah tidak tahu hari lagi, sehingga Uti juga tidak tahu sudah berapa lama tinggal di tempat itu.
 
Suatu kali ada seorang romo yang datang memberikan ibadat. Saya ingat persis Sabda Tuhan yang romo sampaikan: “Janganlah kalian takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi………..Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.”
 
Sabda itu bergema terus dalam hati Uti. Pelan-pelan Uti mulai belajar tidak takut dengan situasi, belajar untuk menerima keadaan dan selalu mohon belas kasih serta ampunan dari Tuhan. Lama kelamaan Uti tidak pernah nangis dan meratap lagi, kalaupun Uti menangis dan meratap karena mohon belas kasih Tuhan.
 
Uti belajar untuk melihat hari dengan penuh syukur. Sering Uti tidak tahu apa yang disyukuri, tetapi dengan belajar mensyukuri hari, Uti menemukan banyak hal yang pantas disyukuri. Uti semakin hari semakin mudah bersyukur dan itu membuat hidup Uti menjadi tenang, damai dan bahagia.
Itu Romo, dongeng Uti tentang belajar dan berjuang untuk bersyukur.” Uti mengakhiri kisahnya yang mencekam diriku.
 
Kesadaran akan Dia yang berkuasa atas hidup dan neraka, mendorong untuk selalu mohon belas kasih. Dan akhirnya memberi pengalaman syukur dalam kepahitan dan penderitaan hidup. Pada gilirannya syukur itu menghantar pada ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 15 Oktober 2020

Renungan Harian
Kamis, 15 Oktober 2020

PW. St. Theresia dari Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja
Bacaan I : Ef. 1: 1-10
Injil    : Luk. 11: 47-54

Demonstrasi

Beberapa hari ini, dan mungkin beberapa hari ke depan, di berbagai daerah marak adanya demonstrasi menentang UU Omnibus Law. Berbagai macam organisasi terlibat dalam demonstrasi besar ini. Para demonstran tampak satu suara menolak UU Omnibus.
 
Sudah barang tentu demonstrasi seperti itu sesuatu yang wajar dan sah di negara yang menganut sistem demokrasi. Hak menyampaikan pendapat, hak untuk mengkritisi kebijakan pemerintah adalah hal yang baik dan layak.
 
Namun sejauh saya membaca berita dan melihat berita dalam banyak peristiwa demonstrasi, selalu ada hal-hal yang memprihatinkan. Selain adanya tindakan-tindakan anarkis, hal yang memprihatinkan bagi saya adalah adanya sekian banyak orang yang tidak tahu untuk apa demonstrasi itu diadakan dan adanya banyak pelajar serta anak-anak di bawah umur yang ikut demonstrasi. Bahkan di antara mereka yang ikut demonstrasi dan tidak tahu untuk apa demonstrasi itu adalah orang-orang yang terpaksa ikut.
 
Ketika demonstrasi ini memakan korban, yang menjadi korban adalah mereka yang ada di jalanan ini. Mereka yang harus menanggung banyak hal, kepanasan, haus, lapar dan kelelahan. Mereka yang di jalanan ini banyak menanggung penderitaan, sementara mereka tidak tahu untuk melakukan demonstrasi ini.
 
Siapa yang tahu untuk apa demonstrasi ini dilakukan? Seringkali sulit untuk diketahui dan dijelaskan. Satu hal pasti mereka yang tahu untuk apa demonstrasi ini diadakan adalah mereka yang punya pengetahuan, mereka yang cerdik pandai, mereka yang punya pengaruh dan kekuatan.
 
Betapa menyedihkan dan amat memprihatinkan mana kala kepandaian, kharisma dan kekuatan digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok dengan cara memanipulasi ketidak tahuan, atau memanfaatkan “kebodohan” orang lain.
 
Kiranya orang-orang seperti ini yang dikritik Yesus dalam sabdanya hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat, sebab kalian telah mengambil kunci pengetahuan. Kalian sendiri tidak masuk ke dalamnya, tetapi orang yang berusaha untuk masuk kalian haling-halangi.
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah dalam skala kecil aku menggunakan pengetahuanku untuk mencari keuntungan pribadi dengan cara memanipulasi ketidaktahuan orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Oktober 2020

Renungan Harian
Rabu, 14 Oktober 2020

Bacaan I : Gal. 5: 18-25
Injil    : Luk. 11: 42-26

T u g a s

Akibat pandemi virus corona-19, sekolah-sekolah menjalankan proses belajar mengajar dengan daring. Sudah barang tentu hal itu membuat sebuah perubahan besar bagi para pendidik dan peserta didik. Di luar masalah perangkat untuk daring baik bagi pendidik dan peserta didik, masalah terbesar adalah proses belajar mengajar itu sendiri. Tantangan besar bagi para pendidik adalah bagaimana dengan secara kreatif bisa menyampaikan bahan-bahan pengajaran dan pendidikan dengan menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik.
 
Sesuatu perubahan yang besar dalam proses belajar mengajar ini tidak serta merta membuat para pendidik berani mengubah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi yang ada. Tidak jarang para pendidik yang menyerah pada situasi, bertindak yang penting sudah menjalankan tugas.
 
Ada seorang guru Sekolah Menengah Pertama yang mengajar dengan cara selalu memberikan tugas meringkas. Tiga mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut diajarkan dengan cara yang sama. Guru tersebut memotret bahan dari buku cetak kemudian mengirimkan kepada para murid agar diringkas kemudian hasil ringkasan difoto dan dikirim ke sekolah.
 
Guru tersebut memotret tugas tanpa memeriksa apakah hasil fotonya jelas atau tidak, bisa dibaca peserta didik atau tidak. Sering kali foto yang dikirim ke peserta didik tidak terbaca karena blur atau pada bagian lipatan buku tulisan tidak terbaca. Sayangnya setelah mengirim tugas guru tersebut tidak menemani para peserta didik, sehingga saat para peserta didik mengalami kesulitan membaca tidak ada respon, pun kalau ada amat lama. Ketika para peserta didik ribut minta penjelasan ke sekolah, peserta didik tidak dibantu tetapi ditegur karena berisik.
 
Sementara itu hasil ringkasan peserta didik tidak pernah mendapatkan tanggapan, Kesan yang muncul adalah guru tersebut berprinsip pokoknya sudah mengajar tanpa memperhatikan proses belajar mengajar.
 
Akibat yang muncul adalah setiap kali pelajaran guru yang bersangkutan,  peserta didik merasa terbebani, karena sudah tahu tugasnya adalah meringkas. Bisa dimengerti rasa yang dialami peserta didik tersebut; apalagi guru yang bersangkutan mengampu lebih dari 2 mata pelajaran.
 
Pengalaman di atas menunjukkan betapa dalam kehidupanku sering kali aku mencari sesuatu yang mudah bagi diriku sendiri tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh sikapku. Bahkan sering kali aku dengan memberikan beban pada orang lain demi kenyamanan diriku sendiri.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan st. Lukas: “…..Sebab kalian meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang tetapi kalian sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”
 
Adakah aku bagian dari mereka yang dengan damai meletakkan beban pada orang lain demi kenyamanan dan kebahagiaanku sendiri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 13 Oktober 2020

Renungan Harian
Selasa, 13 Oktober 2020

Bacaan I : Gal. 4: 31b-5: 6
Injil    : Luk. 11: 37-41

Orang Jalanan

Hari itu,  setelah misa terakhir di siang itu lalulintas di depan gereja begitu padat. Entah ada apa tidak seorang pun yang tahu kenapa lalulintas begitu padat. Saya berpesan kepada para petugas parkir, termasuk para bapak-bapak penarik becak yang biasa membantu parkir, agar lebih memprioritaskan lalulintas depan gereja dari pada kendaraan yang ke luar gereja. Pertimbangan saya, setelah ini tidak ada misa lagi sehingga tidak harus tergesa.
 
Tiba-tiba di pintu gerbang saya melihat seorang bapak yang hendak ke luar gereja marah-marah pada petugas parkir. Bapak itu marah karena tidak segera bisa ke luar. Saya agak terkejut karena bapak itu berkali-kali membunyikan klakson. Saya berjalan mendekati untuk menjelaskan dan menenangkan. Belum sempat saya bicara bapak itu sudah amat emosi dan marah kepada petugas parkir. “Eh, kamu bisa kerja gak? Stop dulu yang di jalan biar kami ke luar,” kata bapak itu dengan marah.
“Sebentar pak, sabar biar lancar,” jawab petugas parkir itu.
“Stop dulu, saya penting harus segera pergi. Dasar goblok, gak punya otak,” bapak itu semakin marah.
 
 Saya segera mendekat karena khawatir kalau bapak penarik becak yang membantu parkir itu terpancing emosi bisa runyam. Ternyata petugas parkir itu tidak terpancing tetapi menjawab: “Bapak orang terhormat dan habis ibadat kok omongannya kasar. Apa bedanya bapak yang habis ibadat dengan kami orang jalanan.” Jawaban bapak penarik becak yang membantu parkir itu mengejutkan saya.
 
Saya kembali ke pastoran dengan gundah memikir kata-kata petugas parkir tadi. Rasanya saya seperti tertampar dengan keras, “Apa bedanya orang yang selesai menjalankan ibadat dengan orang jalanan kalau tidak bisa mengontrol emosi dan kata-kata”.
 
Dalam perayaan ekaristi orang merayakan perjamuan kasih, mendengarkan pewartaan tentang kasih, diajak untuk merenungkan tentang perbuatan kasih dan diutus untuk mewartakan kasih. Tetapi mengapa baru saja selesai dan bahkan belum ke luar halaman gereja seolah-oleh tidak ada bekasnya apa yang dialami dalam perayaan ekaristi.
 
Tanpa perbuatan kasih adakah iman dalam diri seseorang? Seperti kata St. Paulus dalam suratnya kepada umat Galatia: “Yang berarti hanyalah iman yang bekerja oleh kasih.”
 
Adakah aku orang beriman? Jawabnya, adakah kasih dalam diriku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 12 Oktober 2020

Renungan Harian
Senin, 12 Oktober 2020

Bacaan I : Gal. 4: 22-24. 26-27. 31-5: 1
Injil    : Luk. 11: 29-32

T a n d a

Sore itu saya kedatangan tamu anak muda yang ditemani istrinya. Setelah berkabar sebentar, bertanya kepada pasangan itu: “Apa yang dapat saya bantu?”
“Pastor, saya ingin dibaptis.” Jawab orang muda itu.
Jawaban itu mengejutkan saya. “Betul pastor, saya serius ingin dibaptis atas keinginan saya sendiri,” anak muda itu meyakinkan saya.
 
Keterkejutan saya ini didasari perjumpaan dengan anak muda ini 2 atau 3 tahun yang lalu ketika mereka hendak menikah. Pada saat penyelidikan kanonik, orang muda ini dengan jelas dan yakin menyebut diri tidak beragama. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak percaya pada Tuhan tetapi percaya pada ilmu pengetahuan. Baginya semua ajaran agama itu tidak berguna.
“Saya sudah mempelajari banyak agama, saya sudah membaca kitab suci dari awal sampai akhir tetapi bagi saya semua omong kosong,” kata dia waktu itu. “Kalau saya akan menjadi katolik kalau saya bertemu dengan Tuhan seperti Paulus atau apalah pokoknya Tuhan memberikan tanda jelas bahwa Dia itu ada,” tambahnya.
 
Bertolak dari pengalaman itu saya bertanya: “Apakah Tuhan Yesus sudah menampakkan diri padamu, sehingga kamu ingin dibaptis?”

“Tidak pastor,” jawabnya.
“Lalu kenapa kamu ingin dibaptis?” tanya saya lebih lanjut.
“Pastor, saya ingin dibaptis karena saya mengalami cinta Tuhan lewat istri saya. Istri saya mencintai saya dengan tulus, dia menerima saya apa adanya. Tidak pernah dia menuntut saya untuk berdoa atau meminta saya mengantar ke gereja.
 
Tiap malam saya melihat istri saya berdoa. Setiap kali saya tanya mengapa dia berdoa, jawabnya selalu sama yaitu supaya dia bisa mencintai saya dengan lebih baik. Saya mengatakan: “Yang, kamu gak usah berdoa mohon-mohon pun saya sudah mengalami cintamu.” Dia mengatakan: “Iya supaya cintaku selalu berkobar-kobar.”
 
Pastor, dia selalu ke gereja sendiri. Mau hujan, panas apapun dia tidak pernah melewatkan satu kali pun untuk tidak ke gereja. Dia pergi sendiri, dan selalu dengan gembira. Saya bertanya: “untuk apa tiap kali ke gereja?” dia menjawab: “Aku mohon agar kamu bahagia karena cintaku.”
 
Pastor,  saya merasakan cinta yang luar biasa dari istri saya. Dan entah bagaimana saya merasa bertemu dengan Tuhan lewat cinta istri saya.
Ketika saya bicara dengan dia mau dibaptis, istri saya terkejut dan mengatakan: “ Sayang, kamu seperti sekarang ini tidak usah dibaptis, saya akan selalu mencintaimu.”
Pastor, saat itu untuk pertama kalinya saya menangis penuh syukur dan perasaan bahagia dan saya yakin ini perbuatan Tuhan. Jadi saya mantap untuk dibaptis.” Dia mengakhiri kisahnya.
 
Dalam banyak hal aku sering meminta tanda-tanda spektakuler dari Tuhan lewat doa-doa dan permohonan saya. Tanpa sadar sebenarnya aku meragukan akan kehadiran dan keterlibatannya dalam hidupku. Padahal, Tuhan telah memberikan kasihNya yang luar biasa bagiku sebagai tanda tetapi hatiku tertutup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas menegor ketertutupan hatiku dan keraguanku akan KehadiranNya: Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus.”
 
Akankah aku selalu meminta tanda?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 11 Oktober 2020

Renungan Harian
Minggu, 11 Oktober 2020

Hari Minggu Biasa XXVIII
Bacaan I  : Yes. 25: 6-10a
Bacaan II : Flp. 4: 12-14.19-20
Injil     : Mat. 22: 1-14

N i a t

Beberapa waktu yang lalu saya diminta memberi rekoleksi guru-guru sebuah sekolah katolik. Rekoleksi direncanakan dimulai jam 08.00 WIB sampai jam 13.00, ditutup dengan makan siang. Pada hari yang ditentukan, jam 07.30 saya sudah siap di tempat rekoleksi dan saya terkejut karena tempat itu masih kosong belum ada satu orang peserta pun. Jam 08.00 saat akan dimulai baru separo peserta yang hadir, maka atas permintaan kepala sekolah kami semua menunggu 10 menit. Setelah kami menunggu 10 menit kami mulai dan itupun yang ditunggu belum muncul.
 
Saat rekoleksi dimulai, ada seorang guru yang minta ijin, untuk ikut rekoleksi sampai jam 10 karena ada kegiatan lain. Maka saya bertanya pada peserta: “Bapak, ibu, maaf apakah ada di antara bapak, ibu yang tidak bisa ikut sampai selesai karena ada kepentingan lain?” Ada 2 orang guru yang meminta ijin untuk tidak ikut sampai selesai. Saya menanggapi permintaan mereka: “Bapak, ibu yang tidak bisa ikut sampai selesai, saya persilahkan meninggalkan tempat sekarang saja. Rekoleksi itu sebuah proses dari awal hingga akhir nanti, kalau bapak ibu meninggalkan acara di tengah-tengah akan mengganggu.” Maka akhirnya 3 orang guru meninggal tempat.
 
Kami memulai rekoleksi dengan guru-guru yang masih ada. Dalam proses rekoleksi, saya menemukan ada satu orang guru yang selalu mengganggu peserta lain dengan kejailan-kejailan yang tidak perlu. Beberapa kali saya mengingatkan guru tersebut, tetapi tetap saja tidak berubah. Karena sungguh-sungguh mengganggu maka saya meminta guru itu untuk tidak ikut dan saya persilahkan pulang.
 
Guru itu tersinggung dengan permintaan saya dan dengan agak marah berkata: “ Pastor, kami tidak butuh dengan rekoleksi ini. Sudah berkali-kali, bahkan setiap tahun kami ada retret dan rekoleksi, tetapi gak ada hasilnya apa-apa. Ada kursus, ada apapun gak berguna untuk kami. Lebih baik kami diajak rekreasi lebih menyenangkan dan lebih berguna. Atau uangnya dibagikan saja ke kami lebih bermanfaat”
 
“Bapak, ibu yang terkasih, apakah semua merasa seperti beliau atau hanya beliau sendiri yang merasa? Rekoleksi, retret ataupun kursus-kursus itu hanya menawarkan bahan-bahan untuk mengolah diri dan mengembangkan diri. Semua bergantung pada diri masing-masing; apakah aku membuka diri dan siap sedia untuk mengolah dan mengembangkan diri. Artinya kalau saya sudah sejak awal bersikap menutup diri, dengan mengatakan: “ah semua sama saja dan tidak ada artinya,” maka yang terjadi ya tidak ada artinya. Saya ikut kegiatan itu sekedar memenuhi aturan dan tidak bersungguh-sungguh. Retret, rekoleksi maupun kursus-kursus hasilnya tergantung pada diriku sendiri,” jawab saya.
 
Dalam peziarahan hidupku Allah memberikan banyak tawaran-tawaran rahmat agar dari waktu ke waktu aku semakin dekat denganNya. Apakah rahmat-rahmat itu berdaya guna bagi peziarahan hidupku atau tidak tergantung sikapku terhadap rahmat itu.
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “Hai saudara, bagaimana saudara masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?”
 
Bagaimana dengan diriku bersikap terhadap tawaran-tawaran rahmat? Andai dalam pezirahan hidupku aku selalu membangun sikap hati yang berkobar dan jiwa yang rela berkorban, kiranya rahmat melimpah selalu aku nikmati.
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 10 Oktober 2020

Renungan Harian
Sabtu, 10 Oktober 2020

Bacaan I : Gal. 3: 22-29
Injil    : Luk. 11: 27-28

Kehendak Allah

Setiap pagi, ibu sepuh yang saya panggil eyang itu selalu hadir dalam misa harian. Beliau diantar oleh sopir dan seorang asisten rumah tangga. Setelah misa, beliau masih berdoa lama di Gereja. Beliau berdoa Rosario, dan tampaknya doa-doa devosi lainnya.
 
Eyang, itu sekarang memang tinggal sendirian ditemani asisten rumah tangganya, suaminya sudah amat lama meninggal. Suaminya meninggal ketika putra dan putrinya masih kecil. Keempat putra-putrinya tinggal di luar kota. Satu orang putranya menjadi imam, satu putrinya menjadi suster, putra satu lagi menjadi dosen dan sudah berkeluarga dan satu putri lagi seorang dokter dan juga sudah berkeluarga. Eyang itu banyak menghabiskan waktunya untuk berdoa.
 
Ketika saya berkunjung ke rumahnya  saya bertanya: “Eyang, rumah besar tetapi isinya hanya eyang  sendiri. Eyang tidak kesepian?”
“Wah, kalau sepi yang pasti sepi to romo. Tetapi eyang tidak kesepian, kan ada Tuhan Yesus dan bunda Maria yang menemani eyang,” jawabnya sambil tersenyum.

“putra-putri jarang pulang ya eyang?” tanyaku.

“Wah, ya mereka kan pada sibuk, yang jadi romo dan suster sudah menjadi milik Tuhan jadi ya pasti sibuk dengan pelayanannya; yang berkeluarga sudah menjadi milik keluarganya jadi ya pasti sibuk dengan keluarganya”

“Lha eyang milik siapa?” tanyaku bercanda

“He………he eyang sekarang milik Tuhan,” jawabnya sambil terkekeh.
 
“Eyang itu hebat, sendirian bisa membesarkan putra-putri dan semua jadi orang hebat.” Kata saya.

“Romo, yang hebat itu bukan eyang, tetapi Tuhan yang hebat. Eyang ini kan hanya menjalankan kehendakNya. Tuhan menghendaki ke Utara, eyang ke Utara; sebaliknya Tuhan menghendaki ke Selatan, eyang ke Selatan.
Romo, kalau eyang mengandalkan diri sendiri tidak akan menjadi apa-apa. Eyang tidak  bisa apa-apa.” Jawab eyang.
 
“Bagaimana eyang bisa tahu itu kehendak Allah?” tanya saya penasaran.

“Romo, eyang gak bisa jelasin. Eyang selalu berdoa, berdoa dan berserah, dan rasanya seperti dituntun” jawab beliau.
 
Pembicaraan yang sederhana tetapi luar bisa. Pengalaman eyang yang sederhana tetapi mengungkapkan iman yang luar biasa. Selalu mencari kehendak Tuhan dalam hidup dan selalu berjuang untuk mengikutinya. Buahnya disadari bukan karena diri sendiri tetapi karena keagungan Tuhan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”
Bagi saya eyang itu adalah bagian dari orang yang disebut Tuhan sebagai orang yang berbahagia.
 
Bagaimana dengan aku, adakah aku bagian dari orang yang disebut bahagia?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.