Renungan Harian: 29 Maret 2021

Renungan Harian
Senin, 29 Maret 2021

Bacaan I: Yes. 42: 1-7
Injil: Yoh. 12: 1-11

Mengerti

Pada waktu menjalani Tahun Orientasi Kerasulan di Timor-Timur (Timor Leste) saya mendapat tugas sebagai pamong SMA Kolese St. Yoseph Dili. Hal pertama yang saya lakukan adalah membantu para siswa untuk belajar disiplin, baik soal waktu, soal  berpakaian maupun hormat terhadap diri sendiri, guru dan sesama siswa.
 
Dalam usaha menegakkan disiplin salah satu adalah memberi sanksi bagi mereka yang melanggar aturan. Sanksi yang diberikan tergantung pada siswa yang bersangkutan. Bagi siswa-siswi yang kami anggap kurang dalam mata pelajaran tertentu diberi sanksi mengerjakan tugas mata pelajaran sedang mereka yang dianggap cukup maka mereka diberi sanksi mengepel lantai, membersihkan toilet atau cabut rumput.
 
Ada beberapa siswa-siswi yang sering terlambat datang ke sekolah dan juga terlambat dalam pengumpulan tugas-tugas. Dan yang sering membuat jengkel kami adalah bahwa siswa-siswi yang sering terlambat datang adalah juga yang sering terlambat mengumpulkan tugas. Sudah sering diberi nasehat dan sanksi akan tetapi tidak menunjukkan perubahan.
 
Romo Markus Wanandi, Kepala Sekolah memanggil saya dan mengajak saya berdiskusi. Beliau meminta saya agar mengunjungi siswa-siswi yang bermasalah itu. Datang, lihat dan kenali mereka, jangan hanya sekedar memberi sanksi dan cap kepada mereka. Supaya dengan begitu saya bisa tahu dan mengerti kenapa mereka terlambat dan mengapa mereka terlambat mengumpulkan tugas.
 
Setelah saya mengunjungi mereka, saya mengerti betapa mereka sudah berjuang untuk tertib dan disiplin tetapi memang keadaan membuat mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka kebanyakan datang dari kampung dan di kota ikut orang atau saudara sehingga mereka setiap hari sebelum sekolah dan pulang sekolah harus kerja di rumah itu. Itulah yang menyebabkan mereka sering terlambat datang ke sekolah dan  terlambat mengumpulkan tugas.
 
Ketika saya melaporkan ke romo Markus, beliau berpesan: “Peraturan harus ditegakkan namun jangan sampai peraturan membunuh orang. Peraturan harus menghidupkan dan menumbuh kembangkan orang. Tugas you harus membantu mereka, agar mereka tetap menaati aturan sekolah dan aturan di rumah tidak dilanggar juga.”
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab nabi Yesaya: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku menegakkan aturan dan hukum?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 Maret 2021

Renungan Harian
Minggu 28 Maret 2021
Hari Minggu Palma

Bacaan I: Yes. 50: 4-7
Bacaan II: Flp. 2: 6-11
Injil: Mrk. 14: 1-15: 47

Nguwongke

Saya berbicara dengan seorang anggota dewan paroki berkaitan dengan kebutuhan sewa truk untuk mengangkut peralatan kebutuhan camping. Anggota dewan tersebut adalah seorang karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang mebel dan jual beli hasil bumi. Anggota dewan itu menyarankan saya untuk menemui bosnya untuk pinjam kendaraan. Saya agak ragu, karena saya orang baru dan belum kenal dengan bosnya. Tetapi anggota dewan itu meyakinkan saya bahwa bosnya orang yang baik.
 
Saya menuruti saran anggota dewan itu, saya datang ke rumah bapak pemilik perusahaan. Ketika sampai di rumah itu, seorang karyawan menyambut saya dan mengatakan bahwa bapak ada di gudang belakang. Karyawan itu bertanya apakah saya mau menunggu di ruang tamu atau menemui di gudang. Saya mengatakan bahwa saya mau menemui di gudang.
 
Sesampai di gudang saya melihat karyawan sedang istirahat minum kopi dan makan makanan kecil, beberapa sambil merokok. Saya melihat mereka sedang bersenda gurau. Saya agak terkejut karena di antara karyawan itu ada bapak pemilik perusahaan ikut duduk minum kopi dan bersenda gurau. Kalau saya tidak diantar oleh karyawan saya tidak tahu mana bapak pemilik perusahaan.
 
Pemandangan yang menarik yang mengkonfirmasi cerita anggota dewan yang mengatakan bahwa bos-nya adalah orang yang baik. Anggota dewan yang adalah karyawan bapak itu bercerita, bahwa meskipun beliau pemilik perusahaan dan orang yang kaya tetapi beliau amat dekat dengan karyawan, dan menganggap para karyawan sebagai rekan kerja bukan bawahannya.
 
Bapak itu amat menghormati setiap karyawannya, beliau amat peduli dengan karyawannya. Beliau selalu mendengarkan keluh kesah karyawannya. Setiap istirahat pagi dan makan siang beliau selalu bergabung. Kalau ada karyawan atau keluarganya yang sakit beliau selalu menengok dan menanggung biaya pengobatan.
 
Bapak ini amat dihormati dan dicintai karyawannya karena sikapnya yang amat rendah hati, tidak menganggap dirinya lebih dari karyawannya meski beliau seorang pemilik perusahaan.
“Beliau itu nguwongke karyawannya romo, siapapun itu,” anggota dewan itu menutup ceritanya.
 
Sosok yang sudah langka di zaman sekarang ini. Banyak orang berebut jabatan dan kekuasaan demi mendapatkan penghargaan. Tidak jarang dengan jalan yang kurang baik dan menindas agar mendapatkan penghormatan. Padahal kehormatan diperoleh karena sikap rendah hati dan penuh kasih.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, Yesus memberikan teladan luar biasa dalam hal perendahan dan pengosongan diri. “Walaupun dalam rupa Allah, Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bagian dari mereka yang berebut kehormatan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 Maret 2021

Renungan Harian
Sabtu, 27 Maret 2021

Bacaan I: Yeh. 37: 21-28
Injil: Yoh. 11: 45-56

H a d i r

Sebagaimana diketahui lewat berita berbagai media, kehebohan virus covid 19 berawal dari kota Wuhan, China. Banyak berita yang menggambarkan kota Wuhan menjadi seperti kota mati akibat adanya penyebaran virus covid 19 dan adanya banyak korban.
 
Dalam berita-berita itu juga disebutkan adanya sejumlah warga negara Indonesia yang berada di Wuhan, baik para pelajar maupun para pekerja. Mereka seakan “terjebak” di kota yang pada saat itu digambarkan sebagai kota yang mengerikan. Hal itu tentu saja menimbulkan kecemasan dan keresahan bagi sanak saudara dari mereka yang “terjebak” di Wuhan.
 
Tidak berapa lama, pemerintah Indonesia dengan berbagai cara berusaha memulangkan warga negara Indonesia yang ada di Wuhan. Akhirnya mereka berhasil dievakuasi dan dibawa pulang ke tanah air. Meskipun mereka harus menjalani karantina terlebih dahulu, akan tetapi pemulangan mereka menjadi berita baik dan membahagiakan bagi warga negara yang “terjebak” di Wuhan dan anggota keluarganya. Bahkan pemulangan ini juga menjadi berita gembira bagi bangsa Indonesia.
 
Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa negara hadir bagi warganya. Negara peduli dan melindungi warganya. Kehadiran negara bagi warganya selalu menjadi tanda bahwa negara sungguh melindungi dan mengusahakan kesejahteraan warganya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam nubuat nabi Yeheszkiel menunjukkan bahwa Allah hadir dan selalu ada bagi umatNya. Umat Israel yang seringkali mengingkari perjanjiannya dengan Allah, yang sering meninggalkan dan “memunggungi” Allah sehingga membuat mereka tercerai berai dan menderita namun tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Allah selalu hadir dan ada bagi umatNya, karena Allah mengasihi umatNya. Allah tidak rela umatNya menderita dan hilang. “Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa,  ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu menyandarkan diriku pada kasih Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 Maret 2021

Renungan Harian
Jum’at 26 Maret 2021

Bacaan I: Yer. 20: 10-13
Injil: Yoh. 10: 31-42

Pertolongan Tuhan

Pada suatu pagi, saya kedatangan tamu seorang bapak yang wajahnya nampak kusut. Beliau bercerita bahwa sekarang sedang menghadapi masalah yang amat berat dalam hidupnya. Beliau sekarang baru berhadapan dengan kepolisian karena dituduh menggelapkan uang di kantornya. Bapak itu bercerita bahwa dirinya tidak tahu menahu soal uang yang dimaksud dan merasa tidak bersentuhan dengan uang yang dimaksud. Oleh karenanya beliau amat bingung dan shock karena dituduh menggelapkan uang itu.
 
Mendengarkan cerita bapak itu, saya sendiri bingung, karena tidak tahu persis masalahnya; saya hanya mendengar sepihak dari bapak itu, sedang cerita yang utuh saya tidak tahu. Saya mengatakan kepada bapak itu:
“Bapak, ada pepatah dalam bahasa jawa “becik ketitik, ala ketoro” yang artinya, kebenaran akan tampak dan kejahatan juga akan kelihatan. Betul, bisa terjadi bahwa bapak dikorbankan; kebenaran akan dibelokkan. Tetapi percayalah, Tuhan tidak akan meninggalkan putranya. Maka apa yang bisa dilakukan adalah menyampaikan kebenaran dan berdoa mohon pertolongan Tuhan.”
 
“Siap romo, saya sekarang menjadi lebih tenang dan saya akan ajak keluarga untuk bersama berdoa novena, mohon agar Tuhan memberikan pertolongan.”
 
Satu bulan kemudian bapak itu datang lagi untuk menyampaikan kabar gembira. “Romo, syukur pada Allah, doa-doa kami didengarkan Tuhan. Saya dinyatakan tidak terlibat dalam perkara ini, dan pelaku sudah mengakui menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Romo, saya merasakan sungguh-sungguh bahwa semua ini bisa terjadi hanya karena karya Tuhan. Saya berhadapan dengan orang “kuat” di kantor. Dia sudah membuat skenario yang hebat, agar semua mengarah pada saya. Syukur pada Allah kesaksian teman dibagian saya menyatakan bahwa bagian kami tidak pernah bersentuhan dengan uang itu.
 
Romo, ketika saya tahu siapa yang saya hadapi dan yang menuduh saya, sebenarnya saya sudah sadar bahwa saya akan jadi korban. Dia terlalu kuat bagi saya. Saya berbicara dengan keluarga bahwa saya tidak mungkin bisa lolos dari perkara ini, harapan satu-satunya hanya Tuhan. Dan syukur kepada Allah, Tuhan menyelamatkan saya,” bapak itu bercerita dengan penuh kebahagiaan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam kitab nabi Yeremia: “Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh, dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.”
 
Bagaimana dengan aku? Beranikah aku mengandalkan Tuhan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Maret 2021

Renungan Harian
Kamis, 25 Maret 2021
Hari Raya Kabar Suka Cita

Bacaan I: Yes. 7: 10-14; 8:10
Bacaan II: Ibr. 10: 4-10
Injil: Luk. 1: 26-38

Tidak Sanggup

Suatu ketika, saya mengucapkan selamat kepada seorang teman yang mendapatkan promosi jabatan melalui sambungan telpon. Beliau menjawab:
“Romo, apa yang saya terima ini bagi saya adalah perutusan. Jadi saya selalu bersikap meneladan bunda Maria, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMU.”

“Wah hebat, keren semoga selalu dapat menjalankan perutusan dengan baik,” jawab saya.
 
Saya mengagumi teman itu yang bisa melihat promosi jabatan sebagai perutusan. Pasti tidak mudah untuk sampai pada penghayatan seperti itu. Jawaban spontan bagi saya menunjukkan bahwa dia hidup dalam penghayatan tersebut.
 
Belum sampai dua tahun saya mendengar beliau mendapat promosi jabatan lagi. Saya menelpon beliau:
“Bro, selamat ya untuk perutusan yang baru.”

“Waduh romo, ini berat, kalau boleh saya tidak usah mendapatkan promosi. Promosi ini membuat saya harus jauh dari keluarga, karena saya ditempatkan di luar pulau,” jawabnya.

“Memang keluarga tidak boleh dibawa?” tanya saya.

“Sulit mo, kasihan anak-anak harus pindah sekolah dan istri harus mengurus mutasi, agak rumit,” jawabnya.
 
“Romo, untuk kali ini saya tidak bisa meniru bunda Maria untuk mengatakan “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu. Penugasan ini amat berat bagi saya. Sebenarnya saya sudah menolak jabatan ini, karena saya lebih memilih untuk bersama keluarga. Tetapi pimpinan tetap menugaskan saya,” dia menjelaskan.
 
Memang, mengatakan seperti bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataanMu” menjadi mudah dan indah mana kala kehendak Tuhan sama atau sesuai dengan apa yang kuinginkan. Aku bisa mengatakan hal-hal indah dan suci manakala hal-hal yang kuhendaki terjadi.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, jawaban bunda Maria atas “kabar gembira” didasari iman yang luar biasa akan cinta Tuhan. Kesediaan untuk menanggung segala hal dan penyerahan diri yang luar biasa mendasari jawaban itu. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bisa mengatakan sebagaimana jawaban bunda Maria manakala kehendak Tuhan jauh dari apa yang kuharapkan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Maret 2021

Renungan Harian
Rabu, 24 Maret 2021

Bacaan I: Dan. 3: 14-20. 24-25. 28
Injil: Yoh. 8: 31-42

L a j a n g

Dalam sebuah pertemuan, pada saat coffee break, ada satu peserta seorang perempuan muda yang mendekati saya dan bertanya:
“Romo, kalau saya memilih hidup melajang, menurut romo salah atau tidak?”
“Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup melajang, asal pilihan itu sebuah keputusan bebas dan membahagiakan dirimu. Artinya pilihan itu bukan didasari karena  dendam atau trauma, atau sebuah pelarian,” jawab saya.
 
“Awalnya mungkin iya romo, tetapi terakhir-terakhir saya rasakan ini keputusan bebas saya,” jawabnya.

“Selalu harus dicek benar dan dengan tenang. Apakah keputusan itu sungguh bukan karena trauma dan dendam. Salah satu indikasinya kalau itu keputusan yang baik adalah membuat dirimu menjadi lebih tenang, hidup jadi lebih bersemangat dan hidup jadi lebih berarti bagi Tuhan dan orang lain,” jawab saya.
 
“Romo, dulu saya sudah mau menikah kurang 1 minggu kami batalkan. Kami sudah sepakat menikah beda Gereja di Gereja Katolik, bahkan keluarga pihak calon suami sudah setuju. Tetapi 1 minggu sebelum perkawinan, saya dipanggil keluarga calon suami, mereka minta perkawinan diberkati di gereja mereka, dan saya harus dibaptis lagi, karena baptisan saya tidak sah menurut mereka.
 
Saya menolak dengan tegas romo, tetapi mereka mengancam kalau tidak mau di gereja mereka, perkawinan batal, dan dengan itu saya akan mempermalukan diri saya sendiri, keluarga besar saya dan keluarga besar mereka. Saya diminta berkorban untuk menyelamatkan semua.
 
Romo, saya tetap menolak, dan lebih baik membatalkan perkawinan, meski menanggung malu tetapi iman saya tetap terjaga. Dan benar romo perkawinan batal, semua yang sudah kami rencanakan batal. Syukur pada Allah, keluarga besar saya mendukung keputusan saya.
 
Romo, itu awal keputusan saya untuk memilih tidak menikah. Namun saat ini saya sudah tidak merasa trauma dengan masa lalu itu, sekarang saya merasa jauh lebih bahagia, hidup saya lebih bersemangat dan yang menurut saya penting, saya lebih banyak waktu untuk pelayanan,” dia mengakhiri penjelasannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku dapat memilih memelihara imanku ketika aku dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkannya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 Maret 2021

Renungan Harian
Selasa, 23 Maret 2021

Bacaan I: Bil. 21: 4-9
Injil: Yoh. 8: 21-30

Dibuang

Ketika saya mengunjungi sebuah kampung di pedalaman, saya diterima oleh ketua stasi dan kepala kampung. Dalam salah satu pembicaraan, bapak kepala kampung itu bercerita bagaimana kampung ini mengalami banyak kemajuan terlebih soal pendidikan orang muda dan anak-anak berkat kehadiran seorang bapak guru. Beliau bercerita bahwa bapak guru itu sungguh-sungguh menjadi bapak dan guru tidak hanya bagi anak-anak dan orang muda tetapi juga bagi semua orang kampung. Kepala kampung mengusulkan agar saya mengunjungi bapak guru itu.
 
Setelah selesai memimpin ekaristi, saya menemui bapak guru itu dan menyampaikan bahwa saya akan main ke rumahnya. Beliau kelihatan senang dan segera mengajak saya ke rumahnya. Rumah sederhana, hampir sama dengan rumah-rumah di kampung itu, tetapi kelihatan lebih bersih dan tertata.
 
“Bapak, saya mengucapkan banyak terima kasih, karena bapak telah memberikan hidup bapak untuk membangun kampung ini. Saya telah mendengar cerita banyak tentang bapak,” saya memulai pembicaraan.
“Aduh pater, saya jadi malu. Pater, sesungguhnya saya di kampung ini merasa sebagai orang buangan. Saya dulu mengajar di kota, saya banyak menemani anak-anak ekstra kurikuler membuat kerajinan tangan dan koor, tetapi entah mengapa apa yang saya lakukan dianggap salah dan saya dipindahkan di kampung ini.
 
Saya tiba di kampung ini, dan saya sungguh-sungguh seperti orang buangan. Sekolah ini tidak ada guru, mereka pergi ada urusan di kota dan tidak segera kembali. Anak-anak banyak yang tidak pergi belajar, karena mereka mencari ikan dan ubi untuk makan. Di sini ada warung tetapi harga barang-barang yang dijual di warung mahal. Saya sudah hampir putus asa, dan saya ingin kembali saja. Tidak menjadi guru tidak apa apa, saya sudah tidak betah tinggal di kampung ini.
 
Untunglah waktu itu ada pater Belanda yang berkunjung, dan ketika saya sampaikan bahwa saya mau pulang beliau menasehati saya dengan cerita. Pater Belanda itu cerita tentang St. Petrus yang mau pergi dari Roma dan ketemu Tuhan Yesus di jalan. Ketika Petrus tanya Tuhan mau kemana? Tuhan menjawab mau disalibkan dua kali di Roma.
 
Pater cerita itu membuat saya menangis, ”aduh Tuhan, Kau mau disalib lagi kah? Karena aku mau pulang kah? Tidak Tuhan, biar sudah saya disalib di sini, tetapi Kau jangan disalib lagi,” itu yang saya katakan pada Tuhan. Sejak saat itu saya seperti bangkit dapat kekuatan baru. Saya mengajar anak-anak di sungai tempat mereka cari ikan, mengajar di kebun tempat mereka cari ubi. Saya ajak anak-anak menanam ubi, menanam pisang, dan apa saja yang dapat dimakan.
 
Saya ajak bapak-bapak dan mama-mama juga bertanam. Saya ajak mereka menata rumah dan beternak yang baik.
 
Pater, semua itu bukan karena saya, tetapi karena Tuhan yang beri saya kekuatan dan petunjuk. Satu hal pater, saya tidak ingin Tuhan disalib dua kali,” bapak itu mengakhiri kisahnya yang luar biasa.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia.” Penghayatan iman pada salib Kristus yang luar biasa meski dengan pehaman sederhana dari bapak guru itu mampu mengubah hidup saudara-saudaranya.
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apakah aku meninggikan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 22 Maret 2021

Renungan Harian
Senin, 22 Maret 2021

Bacaan I: Tamb. Dan. 13: 1-9. 15-17. 19-30. 33-62.
Injil: Yoh. 8: 1-11

Ghosting

Setelah perayaan ekaristi, saya mendengar ibu-ibu yang sedang ngerumpi membicarakan tentang ghosting, berkaitan dengan Kaesang (putra Presiden). Ibu-ibu seru ikut mengadili Kaesang sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab, pengecut dan lain-lain. Mereka menyayangkan public figure semacam dia melakukan hal yang hina  memutuskan pacarnya dengan cara yang demikian. Belum lagi ditambah bahwa Kaesang meninggalkan pacarnya demi perempuan lain.
 
“Ibu-ibu memang tahu persoalan yang sesungguhnya, kok seru menghakimi Kaesang,” tanya saya iseng.
“Romo, di medsos sudah banyak penjelasan dari ibu pacarnya itu,” jawab salah satu ibu.
“Iya, tapi itu dari satu pihak kan? Dari pihak prianya ngomong apa?” tanya saya.
“Gak tahu, romo. Tapi kami ini ibu-ibu yang punya anak perempuan, bisa merasakan sakit dan marahnya ibu itu kalau anak perempuan kami diperlakukan seperti itu,” jawab salah satu ibu itu dengan sedikit geram. “Ibu-ibu, berita di medsos jangan langsung dipercaya, sebaiknya harus jelas dahulu kebenarannya seperti apa. Ini tidak jelas beritanya, dan hanya sepihak, ibu-ibu langsung menghakimi. Hati-hati lho, jangan sembarangan menghakimi orang tanpa ada kejelasan. Wah ini masa prapaskah malah ngerumpi menghakimi orang,” jawab saya sambil tertawa.
 
Apa yang dilakukan oleh ibu-ibu yang ngerumpi menghakimi orang berdasarkan berita yang belum jelas dan atau hanya sepihak banyak terjadi diantara kita. Godaan terbesar dalam menghakimi orang lain adalah tanpa sadar ingin terlihat baik dan suci. Dengan menghakimi atau membicarakan orang lain, seolah-olah aku bukan bagian dari orang-orang yang berbuat jahat itu, padahal amat mungkin bahwa tindakanku dalam hal berbeda lebih jahat dari pada yang diperbuat orang yang aku hakimi atau bicarakan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan sejauh diwartakan dalam kitab Daniel, umat Israel menghukum Susana karena kesaksian palsu dari tua-tua. “Himpunan rakyat percaya akan kesaksian mereka, karena mereka adalah orang tua-tua di antara rakyat; lagi pula mereka adalah hakim. Atas dasar kesaksian itu, dijatuhkannya hukuman mati kepada Susana.”

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Maret 2021

Renungan Harian
Minggu, 21 Maret 2021
Minggu Prapaskah V

Bacaan I: Yer. 31: 31-34
Bacaan II: Ibr. 5: 7-9
Injil: Yoh. 12: 20-33

Asisten Rumah Tangga

Ketika saya sedang liburan, saya pergi main ke pasar tradisional. Saya sering menyempatkan diri untuk menikmati dawet yang enak, khas di pasar itu. Ketika saya sedang menikmati dawet, saya melihat seorang ibu sedang memarahi pembantunya. Ibu itu nampak kesal karena pembantunya  tidak berada di dekatnya.
 
“Kamu dari mana? Seharusnya kamu selalu di dekat saya. Kamu itu diajak ke sini untuk membantu saya membawa barang belanjaan bukan malah lihat-lihat ke sana kemari,” ibu itu menegur pembantunya.
“Maaf, Nyah, saya pikir,” pembantu itu mencoba menjelaskan.
“Kamu ndak usah mikir, tugasmu bukan mikir. Tugasmu sekarang ada di dekat saya untuk membawa barang-barang belanjaan. Udah jangan mikir-mikir pokoknya ikutin saya dan ikutin perintah saya, gitu aja kok ndak bisa,” ibu itu masih ngomel.
 
“Betul ndak bu, pembantu itu jangan banyak mikir, pokoknya ikutin aja saya,” ibu itu seolah meminta peneguhan dari pedagang sayuran.
“Saya kok ndak suka, kalau dia sok-sok mikir. Kalau mau mikir dan mau bertindak sendiri ya jangan jadi pembantu. Pembantu sekarang ini sulit diatur, maunya sok mikir banyak alasan. Iya kan bu, kalau dibanding pembantu zaman dulu, jauh beda. Pembantu zaman dulu itu nurut, gak banyak alasan, setia mengikuti ndak mikir dirinya mau apa, pokoknya mengikuti ndoronya,” ibu itu ngomel sambil memilih sayuran.
 
Saya berpikir dalam hati, kasihan pembantu itu. Berat menjadi pembantu, gajinya kecil, jam kerja tidak menentu dan harus nurut, tunduk dan taat; bahkan harus mengikuti tuan atau nyonyanya. Saya sempat berpikir sedikit nakal bahwa pembantu yang baik adalah pembantu yang bisa mengosongkan dan melawan diri sendiri. Wow luar biasa. Mereka, para pembantu itu “terpaksa” nurut dan taat karena tidak punya pilihan lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada.”
Betapa sulit menghayati sikap sebagai pelayan, manakala aku belum bisa mengosongkan diri dan mengalahkan diriku sendiri.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mau menjadi pelayan Tuhan karena cinta?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.