ELEKSI

Salah satu warisan rohani berharga yang diberikan St. Ignatius kepada kita adalah diskresi dan eleksi. Keterangan kedua tersedia di dalam Latihan Rohani. Berikut ini disampaikan uraian singkat mengenai diskresi dan eleksi, termasuk di belajar dari St. Ignatius sendiri. Disajikan juga secara singkat keterangan menurut Santa Catarina dari Siena dan St. Bernardus. Tepatnya dalam tulisan ini dipaparkan: 1) Pemahaman tentang diskresi, 2) patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani, 3) Belajar dari St. Ignatius, 4) Pentingnya pembedaan roh dalam hidup rohani, dan 5) eleksi dan dua waktu eleksi menurut St. Ignatius Loyola.

Pemahaman diskresi

 Diskresi atau pembedaan roh adalah bentuk latihan rohani did alamnya orang merasakan (sentir) bermacam-macam gerak batin (las mociones) untuk mengenali (conocer) mengenal kehendak Allah untuk dirinya dan selanjutnya mengorientasikan kemerdekaannya sesuai dengan kehendak Allah yang dimaksud (eligir). Dipahami sebagai olah rohani karena tindakan diskresi ini merupakan tindakan manusia beriman sejauh menyangkut relasinya dengan Tuhan, terutama mengenai kehendaknya. Karena itu kondisi pertama dari tindakan diskresi adalah keterbukaan manusia kepada Allah dan kenyataan bahwa Allah menyatakan dirinya dan dalam peristiwa-peristiwa manusiawi. Sebagai pengalaman rohani di sini diskresi merupakan pengalaman di dalamnya Allah dengan kehendaknya, dalam arti tertentu, bertemu dengan keterbukaan radikal manusia.  

Kehendak Allah dapat memainkan peranan, baik sebagai kriteria maupun tujuan; artinya diskresi merupakan proses untuk mengenal kehendak Tuhan.

Dalam pelaksanaannya tindakan diskresi rohani berupa tindakan batin seperti memeriksa, mengenal, melihat, memisahkan, membedakan, memahami, menangkap, mempersepsi, memperjelas, dll. Semua itu terjadi dalam wilayah gerakan-gerkaan batin sebagai obyeknya. Gerakan-gerakan batin sendiri dapat berupa dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, pemikiranpemikiran, intuisi-intuisi, usulan-usulan, dll.  

Jelas bahwa secara metodis diskresi mengandaikan jarak “aku” sebagai subyek dan diri sendiri. Jarak atau distansi yang diambil membantu proses diskresi dalam arti, seseorang membuat interpretasi dan pemaknaan dari kejernihan jarak tersebut dan tidak terlalu melekat dengan hal atau peristiwanya. Jarak membantu untuk membuat analisis kritis dunia batin, misalnya, dengan pertanyaanpertanyaan dasar: “Bagaimana terjadi? Apa sebabnya? Dimana orientasinya? Dengan itu seseorang dapat mengidentifikasi asal usul gerakan-gerakan karena biasanya gerakan-gerakan batin tersebut berawal sekedar dari fenomen.

Mengenai asal usul dari macam-macam gerak batin St. Ignatius menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga pemikiran: pertama dari diri sendiri dan dua yang lain dari luar [LR 32]. Tentang asal-usul ini kita diajak oleh St. Ignatius terutama untuk mengerti keaslian dan kesejatian pemikiran sendiri. Karena kita tidak bisa menyangkal adanya kemungkinan pengaruh dari bagian tidak sadar menyangkut asal usul pemikiran. Perhatian terhadap sisi ini cukup relevan setelah psikologi masuk ke dalam studi tentang alam ketidaksadaran. Di sini saya setuju, misalnya dengan sumbangan dari buku Las Afecciones Desordenadas, influjo del subconsciente en la vida espiritual, (Afeksi tidak teratur, pengaruh bawah sadar di dalam hidup rohani) yang ditulis Luis M García Domínguez S. J., (1992). Secara umum kita menyambut bantuan psikologi karena membawa kita untuk membedakan mana yang psikologis dan mana yang spiritual serta menempatkan kita masuk ke hal-hal yang tidak kita sadari tetapi berpengaruh di dalam sikap dan pilihan-pilihan hidup kita.  

Patokan Pembedaan Roh Minggu Pertama Latihan Rohani St. Ignatius Loyola

Relasi doktrinal antara Patokan Pembedaan Roh Minggu dan Autobiografi St. Ignatius

Kedua teks, patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani dan Autobiografí memiliki sumber yang sama, yaitu, pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola, meskipun penulisnya berbeda karena penulis Autobiografi adalah Luis Gonçalves da Cámara. Menyangkut diskresi kedua teks itu memiliki hubungan erat menyangkut pokok mengenai diskresi. Malahan kita dapat mengatakan bahwa dalam Autobiografi dan dalam patokan pembedaan roh terdapat sejumlah hal yang sama. Pembedaannya terletak pada bahwa bahasa Autobiografí yang lebih naratif, sementara bahasa dalam patokan pembedaan roh lebih instrumental. Namun demikian keduanya merupakan cara untuk menerangi pengalaman rohani dan sarana untuk memandu pilihan.

Secara positif, di sini kita bisa mendapatkan pandangan tentang hal-hal dasar mengenai diskresi dari kedua teks itu sama. Boleh jadi, inilah alasan García Hirschfeld dalam penjelasan tema tentang mengenai patokan pembedaan roh   dengan menunjuk nomor-nomor Latihan Rohani [313], [314], [316] dan [317] dan Autobiografi.  2.1.1. Cara menerangi pengalaman 

Kendati dalam patokan pembedaan roh ada bahasa teksnis, patokan ini tidak pertama-tama menawarkan pembelajaran teknis, tetapi menerangi pengalaman. Patokan-patokan ini memainkan peran untuk mengorientasikan seorang pribadi dalam situasi tertentu melaluinya meraih atau sampai pada pengalaman iman yang lebih baik. Situasi tertentu ini merupakan saat rohani atau setidaknya kita menempatkannya sebagai saat rohani. Dan yang paling pokok dari pengalaman iman dan saat rohani ini adalah indeferensi atau lepas bebas atau kemerdekaan batin; artinya dalam arti sikap penuh kesungguhan mempersembahkan diri bagi “dalam pelayanan murni kepada Allah Tuhan kita”.  Singkatnya, dalam proses rohani itu kita menempatkan dengan baik patokan-patokan pembedaan roh yang merangkum pengalaman rohani. Karena itu siap menjalani diskresi, bagi Ignatius, berarti membangun sebuah rencana dan mengusahakan pencapaiannya. Diskresi sebagai rancangan merupakan latihan rohani untuk menyiapkan menyambut kehendak Allah. Diskresi sebagai sebuah situasi rohani membawa orang ke tercapainya sesuatu yang diusahakan dan dimohon, yaitu sikap lepas bebas Ignatian atau kemerdekaan batin.

Diskresi sebagai pengalaman 

Autobiografí adalah deskripsi tentang semua pengalaman diskresi dan menunjuk langkah Allah (Allah bertindak) dalam hidup Ignatius. Autobiografí menghadirkan Ignatius kepada kita sebagai manusia yang bertanya mengenai dirinya sendiri. Di sana ada penegasan tentang pentingnya sikap reflektif, pencarian dan melihat sisi kedalaman hidup atau yang batiniah. Seperti kita ketahui lewat Autobiografí kita bertemu dalam pengalaman Ignatius dinamika proses rohani dari yang luar ke yang dalam. Dihadirkan sebuah evolusi rohani dalam horizon pelayanan yang makin diperjelas, hingga horison itu memilah hidup Ignatius secara definitif (Autobiografí 4,5, 11). Di sini kita belajar bahwa melayani sebagai kriteria dari konsolasi. Kita belajar juga bahwa diskresi bukan saja soal teknis kerohanian tetapi pengalaman rohani dalam arti di dalam diri orang itu dengan seluruh kekayaan historis yang lalu dan dengan seluruh keinginan dan mimpi salehnya, mencari dan menemukan kehendak Allah. 

Pemeriksaan kesadaran sebagai diskresi dan pengalaman rohani 

Menurut Latihan Rohani Ignatius pemeriksaan kesadaran merupakan latihan rohani [bdk. LR 1]. Dalam uraian ini pemeriksaan kesadaran merupakan usaha awal untuk melakukan diskresi. Yang sebenarnya terjadi dalam periksaan kesadaran adalah mengenal diri sendiri sejauh sebagai pribadi rohani yang curigasehat terhadap gerakan-gerakan batinnya. Di sini Ignatius membedakan tiga level pribadi: 1) pribadi yang “kasar” dan tidak kompleks, 2) pribadi yang sudah akrab dengan prinsip Asas dan Dasar) pribadi yang sudah maju secara rohani.  Pemeriksaan kesadaran membantu kita untuk tidak hanya menunjuk dimana kita berada, tetapi juga untuk berdiskresi dalam tingkat mengenal apa yang terjadi dan apa yang hendak dipilih. Pemeriksaan kesadaran demikian ini memiliki tujuannya adalah sikal lepas bebas yang terus berlangsung ttap yang merupakan proses rohani yang lebih konkret dalam hidup normal. Untuk itu penting menyediakan dan membiasakan pemeriksaan kesadaran sebagai latihan rohani yang terus dijalankan yang pada gilirannya mempertajam rasa perasaan rohani.

Patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani [313-327]3

Dalam Latihan Rohani St. Ignatius menyajikan dua patokan pembedaan roh. Yang pertama, untuk Minggu Pertama dan diberi judul: “Aturan untuk merasakan dan mengenal macam-macam gerakan batin yang terjadi di dalam jiwa: “yang baik untuk diterima, dan yang buruk untuk dihindarkan dan tepat untuk Minggu Pertama”. Dengan memperhatikan sumber dari patokan-patokan ini, yang adalah pengalaman pribadi, pengalaman antar pribadi dan tradisi, kita dapat mengatakan bahwa patokan pembedaan roh ini adalah mediasi linguistik untuk mengkomunikasikan pembelajaran dan sesuatu yang esensial dari suatu pengalaman kepada orang lain. Karena itu patokan pembedaan berbicara tentang obyektivitas pengalaman dan aspek universalitasnya, dalam hal ini, pesan spiritual. Patokan berada melampaui dimensi spacial (ruang) dan budaya serta memainkan peran untuk menerangi hati pribadi dan mengarahkannya.  

Yang dibuat, terutama dengan diskresi menurut judul patokan tersebut adalah merasakan dan mengenal gerak-gerak batin. Secara konkret yang terjadi adalah memberi nama, memformulasikan, mengungkapkan gerak-gerak batin tersebut: perjalanannya, sebab, tujuan dan kecenderungannya. Melalui karya ini dapat diidentifikasi pelbagai macam gerakan batin termasuk jumlah dan kualitasnya. Di sini, seperti dikatakan oleh García Hirshcfeld, gerakan, pemikiran, kecenderungan, ilustrasi, agitasi… lebih daripada formulasi logis dengan isi dan pesan filosofis atau ideologis. St. Ignatius memahaminya sebagai gerakan batin, dengan daya kerja afektif emosional yang meninggalkan jejak tertentu dalam kesadaran. 

Penting memperhatikan istilah yang menunjuk subyek yang melakukan diskresi. Kita menemukan setidaknya tiga istilah: manusia, persona (seorang pribadi) dan jiwa. Manusia adalah istilah teologis yang menunjuk kenyataan tercipta. Pribadi atau persona menunjuk visi antropologis seseorang dengan ciri otonomi dan kemerdekaannya. Di sini dibedakan antara laki dan perempuan. Jiwa mengungkapkan kenyataan menjadi manusia di sana berkomunikasi dan berelasi dengan dunia lain. 

Dengan mengandaikan adanya kebutuhan pastoral, kita bisa mengatakan bahwa pertama [314, 315] bermaksud memperjelas situasi rohani dan pribadi. Artinya roh-roh bekerja menurut situasi orang. Mengenai dua nomor itu Marko Rupnik S.J mengungkapkan dengan baik isinya: 1) Tindakan roh buruk dan Roh Tuhan dalam diri seseorang.  2) Tindakan Roh yang diorientasikan kepada Allah dan roh musuh yang menghalang-halangi orang mengarah kepada Allah [315].

Dalam Latihan Rohani Ignatius menuliskan dua patokan berdiskresi. Patokan pertama dikhususkan untuk Minggu Pertama Latihan Rohani dan patokan kedua adalah lebih tepat untuk minggu-mingu berikutnya. Tetapi dalam praktek latihan rohani tentang bagaimana dan kapan digunakan, tergantung pada situasi nyata rohani retretan. Dari perspektif doktrinal patokan pertama menghadirkan hal yang dasar di seputar konsolasi dan desolasi.  

Kita boleh yakin bahwa dasar dari patokan-patokan ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman Ignatius sebagaimana tampak di dalam Autobiografi. Kita bisa menyebut nomor-nomor ini, 8-9: Loyola, 20-22: Manresa, 25-26: Manresa, 54-55: Barcelona, 99-101: Roma. 

Situasi rohani dari seorang pribadi 

Kita dapat mengatakan bahwa patokan-patokan tersebut menerangi kita dalam mencermati situasi rohani seseorang. Di sini secara sederhana dibedakan antara dua situasi seorang pribadi.  a. Orang yang berjalan dari dosa besar ke dosa besar lainnya [314], b. Orang yang secara intensif membersihkan diri dari dosas-dosa dan orang yang terus naik dan semakin naik dalam pelayanan kepada Allah [315]. 

 Dalam dua nomor ini [314 – 315] dikenal bagaimana roh buruk dan roh baik membawa kepentingannya masing-masing. 

Penghiburan

Penghiburan dilukiskan sebagai keadaan jiwa yang dikobarkan dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhan [316.] Lalu dalam dua nomor ini [323-324] ditunjukkan sikap yang mesti diambil oleh seseorang bila sedang berada dalam konsolasi, yaitu berpikirkan bagaimana suatu saat bila berada di dalam desolasi. Ini semacam posisi dan sikap antisipatif dalam hidup rohani.

Desolasi 

Dengan desolasi dimaksud kegelapan jiwa [317] dan dalam desolasi tersebut ditemukan jiwa yang malas, takut, ceroboh dan terpisah dari Allah dan Tuhan. Dalam nomor-nomor lain ditunjukkan sikap dan posisi yang mesti diambil di saat berada dalam desolasi.  Pada saat desolasi tidak mengubah keputusan, sebaliknya memperkuat ketetapan dan rancangan yang sudah dibuat sebelum desolasi [318] dan lebih menekankan doa, meditasi dan menjalankan penitensi  [319]  Ditunjukkan juga pembelajaran rohani dari desolasi; miisalnya, 1) Allah membiarkan manusia di dalam pencobaan berkenaan dengan potensi alaminya untuk tumbuh dalam cinta dan dalam rahmat intensif dari Allah [320]; 2) mesti sabar, membuat yang berlawanan dengan godaan-godaan yang datang [321].

Tiga sebab utama desolasi [322]

Pertama, karena kendor, malas, atau sambalewa dalam latihan-latihan rohani. Kedua, untuk mencobai seberapa besasr kekuatan kita dan berapa jauh yang dapat kita capai dalam pengabdian dan pujian-Nya, tanpa upah besar berujud hiburan ataupun rahmat yang melimpah.  Ketiga, untuk memberi kita pengetahuan serta pengertian yang benar, supaya kita merasa dalam-dalam bahwa bukanlah tergantung dari kita: timbul serta langsungnya rasa devosi yang berkobar, rasa cinta yang meluap, airmata atau macam hiburan rohani yang lain, tetapi semuanya itu adalah anugerah dan rahmat Tuhan kita belaka.

Tiga analogi musuh bekerja 

Disebutkan tiga penggambaran musuh dalam bekerja. Yang pertama, bersikap seperti wanita, lemah bila lawan dan kuat bila dibiarkan [325]. Yang kedua, bekerja seperti buaya darat: ingin tetap dirahasiakan dan tak dilakukan kepada siapapun pula [326]. Juga bersikap seperti komandan tentara dalam usahanya untuk menumbuhkan serta merebut apa yang diinginkannya [327].

Belajar dari St. Ignatius: tanggap terhadap rahmat

 Dengan mencermati narasi pengalaman rohaninya, kita menemukan saat St. Ignatius memiliki pengalaman lebih terbuka terhadap yang nyata dari dirinya sendiri dan terhadap rahmat Allah. St. Ignatius menemukan dunia batin yang membawanya sadar akan kompleksitas. Dalam situasi ini, misalnya diungkapkan di dalam pertanyaan pesimistis untuk yang baru: “Bagaimana engkau dapatmenderita dalam hidup selama 70 tahun demikian itu?” (Autobiografi. 20). Saat ini membawa St. Ignatius lebih memperjelas terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dari sini dengan identifikasi sebab-sebab dan asal usul gerakan-gerkan perasaan dan pemikian keluar sebuah patokan dalam arti tujuan umum dan yang mendasar dari diskresi. 

Dalam perjalanan rohaninya St. Ignatius sampai pada kesederhanaan hidup rohani; artinya, arti memiliki kecenderungan untuk sesuara atau sejalan dengan rahmat Allah (a sintonía a la gracia de Dios). Allah dialami sebagai Allah yang sederhana. St. Ignasius sampai pada keadaan tanggapan dan peka terhadap rahmat Allah. Pada akhirnya kita menemukan di sini dalam pengalaman St. Ignatius kemerdekaan manusiawi yang cocok dengan kehendak Allah. 

Dari sisi luar yang tampak dalam St. Ignatius adalah karya-karya sebagaimana dilaksanakan oleh orang-orang kudus: melaksanakan hal yang baik, melaksanakan yang besar. Mengingat yang ideal dan mimpi-mimpi yang lalu, sebetulnya yang terjadi pada tahap ini adalah perubahan obyek, tetapi subyek belum berubah. Dalam konteks dan kerangka pematangan rohaninya St. Ignatius masihperlu menempuh sejumlah langkah lagi. Namun tetap saya dapatlah kita menganggap remeh langkah atau tahap pengalaman ini. Kendati belum ada perubahan subyek setidaknya ada sebuah gerak perkembangan maju pelan-pelan (evolusi rohani). Interpretasi saya mengenai tahap ini adalah lebih baik dikatakan bahwa Ignatius berada di dalam proses menjadi baru dengan saat rohani yang penting yaitu menjadi tanggap dan peka terhadap rahmat Tuhan. Dalam proses ini obyek yang adalah secara nyata baik mempengaruhi dan membentuk dirinya sebagai subyek. Hanya dengan interpretasi demikian dapatlah kita memahami dengan baik lima pengalaman mistik besar Ignatius di Manresa (Autobiografi 2830). Kehilangan nilai dan rasa dari sisi evolusi yang berjalinan antara subyek dan obyek ini akan mempersulit kita dalam memahami aspek manusia dari pengalaman mistik Ignatius atau tibalah kita pada suatu pemahaman mengenai pengalaman di Manresa sebagai murni pengalaman atau rahmat tercerurah. 

Benar bahwa satu dari warisan rohani St. Ignatius adalah diskresi rohani. Dalam Latihan Rohani dihadirkan diskresi sebagai bagian integral dari Latihan Rohani. Dalam Autobiografi (peristiwa rohani) terutama untuk tiga bab pertama kita menemukan saat-saat di sana St. Ignatius belajar diskresi rohani. Di sana kita dapat melihat St. Ignatius dari perspektif kepribadiannya dan tipe pokoknya dalam konteks belajar berdiskresi. Dalam hal ini kendati semua itu terjadi pada abad XVI di dunia Spanyol, tetapi memiliki nilai melampaui waktu dan budaya. 

Kita dapat membayangkan bahwa St. Ignatius adalah manusia ambisius dengan standard nilai hormat dan kehormatan dunia kepahlawanan. Buku    kepahlawanan membantu mengartikulasikan serta menegukan apa yang hidup di dalamnya dan menawarkan cara untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Proses merefleksikan dan melihat diri lewat dua kodeks atau standard (dari dunia kepahlawanan: kekayaan, hormat, kemuliaan dan dari Yesus: kemiskinan, kerendahan hati, kemuliaan Allah8) membawa Ignatius ke suatu momen perubahan secara pelan dari pribadi manusia yang tertutup menjadi terbuka kepada Allah. 

Evolusi batin dan sikap yang terjadi di hadapan buku-buku suci adalah pertumbuhan progresif dari identifikasi terhadap figur baru. Syukurlah Ignatius tidak memiliki retorika teologis, sehingga kita dapat belajar darinya. Dari pengalaman Ignatius yang demikian itu kita bisa belajar langkah-langkah, katakan saja, dari buta menjadi terbuka, langkah-langkah untuk sampai pada pengalaman membuka mata (dapat membedakan pelbagai gerak batin) untuk mengikuti kehendak Allah. 

Langkah-langkah itu adalah: 1) melihat sebagai penonton; 2) memasukan diri ke dalam sejarah dan peristiwa; 3) implikasi afektif’; 4) konsekwensi afektif dan 5) usulan logis (atau aplikasi kausal). Adalah mungkin dalam resolusi baru Ignatius menemukan krisis besar, yaitu hingga usia 26 tahun dia berada di bawah setan. Ignatius mengalami krisis hidup dan eksistensial mengenai hidup bagi dirinya sendiri dengan corak pengalaman yang setidaknya Ignatius sendiri menemukan sesuatu yang bernilai, yaitu keterbukaan kepada Allah dan kemampuan dasar untuk membedakan antara yang satu dari setan dan yang lain dari Allah (Autobiograf).

Sumber : https://jesuits.id/diskresi-dan-eleksi/

Renungan Harian: 19 November 2020

Renungan Harian
Kamis, 19 November 2020

Bacaan I : Why. 5: 1-10
Injil : Luk. 19: 41-44

G r a n t e s

Hari itu jam 02.00 dini hari, saya pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah, untuk memberi sakramen perminyakan. Di halaman Rumah Sakit paman dari pasien itu telah menunggu, kemudian mengantar saya ke IGD tempat pasien mendapat perawatan.
 
Pasien itu adalah anak muda kelas 3 SMU. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas, motor yang dikendarainya bertabrakan dengan motor pengguna jalan lain. Sesampai di tempat anak itu dirawat, saya melihat luka yang cukup parah. Saya segera mengajak keluarga untuk berdoa. Selama berdoa, ibu dari anak itu tidak berhenti menangis dan meratap.
 
Setelah selesai berdoa, kami menunggu di ruang tunggu karena anak itu sedang mendapatkan perawatan. Saya duduk di sebelah ibu itu untuk menenangkan. Sambil terus berurai air mata dan terisak, ibu itu bercerita. “Pastor, ini semua salah saya, seandainya saya tidak membelikan motor pasti tidak ada kejadian seperti ini. Pastor, dia sudah sejak masuk SMU ribut minta dibelikan motor, karena dia ingin seperti teman-temannya. Saya tidak pernah menuruti permintaannya karena saya khawatir kalau dia celaka.
 
Sebulan yang lalu dia minta dengan marah-marah; saya menjelaskan banyak hal kenapa tidak menuruti permintaannya, tetapi dia tidak mau dengar. Saya amat khawatir pastor, karena saya dengar teman-temannya seneng balap-balapan. Dia marah dan tidak mau sekolah, pokoknya kalau tidak dibelikan motor dia tidak mau sekolah. Saya tetap tidak menuruti. Tetapi saya kemudian dipanggil ke sekolah karena anak saya sudah 1 minggu tidak sekolah.
 
Saya bingung pastor, saya berharap anak saya berhasil, punya masa depan yang baik, saya sebagai orang tua hanya bisa membekali dengan ilmu untuk masa depan dia. Tetapi gara-gara motor, anak saya lalu menjadi tidak jelas. Akhirnya saya mengalah dan membelikan motor. Apa yang saya khawatirkan terjadi, sekarang saya harus melihat anak saya seperti itu. Pastor, manah kula grantes. (Pastor, hati saya menangis sedih),” Ibu mengakhiri ceritanya.
 
“Ngger, saumpama kowe ngerti yen ibu orang nuruti kuwi merga ibu tresna lan ngeman kowe, kedadian iki mesthi ora ana.” Ibu itu berguman lirih.
(Nak, seandainya kamu mengerti kalau ibu tidak mau membelikan motor itu, karena ibu mencintai dan sayang denganmu, kejadian ini pasti tidak ada.)
 
Hubungan anak dengan ibunya itu seperti aku dengan Tuhan. Aku sering mencari keinginanku sendiri dan tidak peduli dengan Tuhan. Aku sering protes dengan Tuhan tanpa mengerti betapa Tuhan mencintai aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas, Yesus bersedih akan kedegilan hati umat yang dicintaiNya: “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
 
Sadarkah aku, akan cinta Tuhan yg sedemikian besar, lewat setiap peristiwa hidup yang kualami?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 November 2020

Renungan Harian
Rabu,18 November 2020

Bacaan I : Why. 4: 1-11
Injil    : Luk. 19: 11-28

Bengkel

Bengkel mobil itu selalu penuh dengan mobil-mobil yang mengantri untuk diperbaiki, meski bengkel itu tidak ada papan namanya. Bengkel ini lebih banyak diisi dengan mobil-mobil yang mengalami kerusakan yang umumnya cukup parah. Maka tidak heran yang mengantri di bengkel itu bukan mobil-mobil mewah dan bagus tetapi mobil-mobil niaga, seperti angkot, truk dan bus-bus.
 
Mbah bengkel, begitu saya biasa memanggilnya. Setiap hari mbah bengkel, yang sudah sepuh itu, selalu berlumuran dengan oli dan kotoran dari kerjaannya memperbaiki mobil. Beliau selalu dibantu oleh dua orang karyawan. Mbah bengkel amat dikenal sebagai montir yang ahli memperbaiki semua jenis kendaraan. Jadi tidak heran kalau banyak kendaraan yang selalu mengantri untuk mendapatkan sentuhan tangannya.
 
Mbah Bengkel pernah berkisah, bahwa dirinya bukanlah anak sekolahan, apalagi lulusan sekolah teknik. Zaman dulu, begitu beliau berkisah, karena keadaan, beliau tidak mungkin untuk sekolah. Ia bekerja menjadi kernet truk di sebuah perusahaan angkutan. Di tempat kerjanya truk-truk yang tua selalu dihindari oleh kernet-kernet yang ada, karena truk-truk itu banyak “rewelnya”. Dan entah bagaimana truk yang paling jelek dan banyak rewel selalu diserahkan ke mbah Bengkel untuk menjadi kernetnya.
 
Alih-alih marah dan sedih, mbah Bengkel senang mendapatkan truk tua yang sering rewel. Beliau berpandangan kalau mendapatkan truk-truk yang sering rewel maka dirinya akan banyak belajar tentang mesin-mesin kendaraan. Dan itu yang terjadi, semakin hari mbah Bengkel semakin mahir memperbaiki kendaraan hingga kemudian mendapat julukan dukun mesin, karena kendaraan-kendaraan yang “bobrok” mesinnya, ditangani mbah Bengkel akan menjadi baik kembali.
 
Mbah Bengkel menuturkan banyak teman sesama kernet zaman dahulu menyesal mengapa tidak bersikap seperti beliau dengan gembira menjadi kernet truk-truk yang banyak rewel sehingga bisa menjadi “dukun” mesin.
 
Sikap yang ditunjukkan mbah Bengkel, melihat beban sebagai kesempatan untuk belajar menjadikan beliau mendapatkan anugerah besar sebagai “dukun” mesin. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas sikap hamba-hamba yang menerima mina, dan memandang sebagai kepercayaan dari Tuannya maka mereka mengembangkan dan menghasilkan buah. Mereka memandang Tuannya sebagai sosok yang mempercayai dan memberi kesempatan, bukan sebagai sosok yang mengancam dan menakutkan. “Aku berkata kepadamu, setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”
 
Bagaimana aku memandang beban dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 17 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 17 November 2020

PW. St. Elisabeth dari Hungaria, Biarawati
Bacaan I : Why. 3: 1-6. 14-22
Injil    : Luk. 19: 1-10

Naik Kelas

Setelah misa Sabtu sore, ada pasangan suami istri yang masih muda meminta waktu untuk berbicara. Saya meminta mereka untuk sebentar menunggu di ruang tamu, karena saya masih ingin menyapa umat yang lain. Setelah halaman gereja mulai kosong, saya segera ke ruang tamu untuk bertemu dengan pasangan suami istri yang sudah menunggu.
 
Setelah saya menyapa mereka, istri berkata: “Pastor, kami mau minta berkat untuk cincin ini; cincin ini untuk mengganti cincin perkawinan kami.” “Oh, baik. Cincin yang lama kenapa? Hilang atau sudah tidak muat lagi?” tanya saya. Mendengar pertanyaan saya, mereka tiba-tiba terdiam dan saling berpandangan. “Emmm, cincin yang lama masih ada sih, pastor; cuma….  Gimana ya pastor, ceritanya agak panjang. Pastor punya waktu mendengarkan kami bercerita?” suami menjawab.
 
“Pastor, sebenarnya kami minta berkat cincin ini untuk memperbaharui perkawinan kami. Selama hampir setahun ini  kami sudah pisah ranjang. Kami masih tinggal satu rumah, tetapi hampir tidak pernah bertegur sapa. Kami bicara seperlunya saja; bahkan kami cenderung pulang selarut mungkin supaya tinggal tidur tidak harus ketemu apalagi bicara.
 
Awal persoalan rumah tangga kami adalah perselingkuhan istri. Saya mendapati istri selingkuh dengan teman kantornya. Mulanya dia tidak mengakui, sehingga hal itu menimbulkan pertengkaran hampir tiap hari. Saya menjadi tidak percaya dengan istri dan saya jadi sering marah-marah.  Sampai kemudian dia mengakui dan minta maaf. Tetapi saya sulit memaafkan dan saya balas dendam. Jadi kemudian yang terjadi dalam rumah tangga kami tidak karuan. Istri selingkuh dan saya juga selingkuh untuk balas dendam.
 
Akhirnya kami lelah dengan situasi ini. Kira-kira sebulan yang lalu pastor, istri saya ngajak ngobrol. Kami berdua ngobrol di rumah. Istri tanya ke saya, rumah tangga ini mau diapakan, kalau begini terus apakah tidak lebih baik kita pisah saja. Istri saya mengatakan bahwa sebenarnya sejak ketahuan dan mengaku itu sudah tidak berhubungan lagi dengan teman kantornya itu. Dia sungguh-sungguh sudah bertobat. Saya sendiri sebenarnya selingkuh juga tidak sampai satu bulan, karena hanya ingin balas dendam.
 
Istri saya mengatakan bahwa dia amat mencintai saya, dan berharap bisa memulai lagi dari awal hidup perkawinan ini. Saya juga sadar kalau saya juga amat mencintai istri saya dan hanya karena sakit hati sehingga saya berbuat seperti itu.
 
Selama sebulan pastor, kami tiap malam ngobrol bareng membuka diri dan jujur satu sama lain. Akhirnya kami menyadari bahwa selama ini kami terlalu sibuk mengejar ambisi kami masing-masing sehingga lupa untuk saling memperhatikan dan menyayangi sehingga terjadi perselingkuhan itu. Istri saya salah karena selingkuh dan saya juga salah karena kurang memberikan cinta sehingga menyebabkan istri selingkuh. Kami selama ini hidup rumah tangga tetapi cinta kami kurang mendalam dan rasanya seolah-olah saja.
 
Akhirnya kami sepakat memulai dari awal lagi rumah tangga kami. Persoalan rumah tangga ini kami anggap sebagai sekolah hidup, dan kami sekarang sudah naik kelas. Cinta kami lebih mendalam dan berjuang untuk semakin mendalam bukan biasa-biasa. Itulah pastor kenapa kami minta berkat cincin perkawinan lagi.” Suami menutup kisahnya.
 
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali aku terjebak dengan sesuatu yang rutin dan biasa-biasa, jelek sih tidak, tetapi baik juga tidak. Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan agar tidak suam-suam kuku: “Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas. Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan dikau dari mulutKu.”
 
Bagaimana dengan aku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 November 2020

Renungan Harian
Senin, 16 November 2020

Bacaan I : Why. 1: 1-4; 2: 1-5a
Injil    : Luk. 18: 35-43

Mengadili

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa umat yang lagi berkumpul di halaman gereja. Topik obrolan kami adalah adanya beberapa ustad yang mengaku bekas
imam. Sebetulnya pembicaraan bermula dari adanya berita seorang pendeta yang mengomentari berita tentang pendapat Sri Paus berkaitan dengan LGBT.
 
Pembicaraan menjadi seru karena kami masing-masing memberikan pendapat yang cenderung emosional. Pembicaraan cenderung emosional karena merasa bahwa gereja sudah dilecehkan oleh orang-orang itu. Ada kejengkelan dan kemarahan karena merasa orang-orang itu dibiarkan begitu saja memberitakan kebohongan. Pertanyaan yang dimunculkan adalah kenapa tidak ada upaya hukum melawan orang-orang itu.
 
Kami berpendapat bahwa orang-orang itu seharusnya mendapatkan hukuman yang berat agar menjadi efek jera. Kami membandingkan dengan orang-orang yang menghina agama tertentu dan dihukum berat. Dengan adanya hukuman yang memberi efek jera di kemudian hari tidak ada orang yang dengan mudah menyampaikan pendapat yang menghina Gereja.
 
Kami membubarkan diri dengan memegang pendapat dan harapan agar orang-orang itu dihukum berat. Kami berpikir andai punya kuasa untuk menjatuhkan hukuman pasti orang-orang itu sudah kami hukum seberat-beratnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan bahwa apa yang telah kami pikirkan adalah salah. Pemikiran dan pendapat emosional yang mengadili orang-orang yang kami anggap melecehkan Gereja tidak sepantasnya terjadi. Memang kami tidak berbuat sesuatu akan tetapi niat kami telah salah karena kehilangan kasih.
 
Sebagaimana umat di Efesus ditegur oleh Allah karena mereka membela Gereja di Efesus tetapi melupakan kasih. “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh. Bertobatlah dan lakukanlah apa yang kau lakukan semula.”
 
Betapa dalam kehidupanku sehari, ketika aku merasa benar, aku merasa berhak menghukum dia yang bersalah seturut kemauanku dan melupakan kasih.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 15 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 15 November 2020

Minggu Biasa XXXIII
 
Bacaan I  : Ams. 31: 10-13. 19-20. 30-31
Bacaan II : 1Tes. 5: 1-6
Injil     : Mat. 25: 14-30

Berkembang

Di sebuah paroki, ada anak berkebutuhan khusus yang sering datang untuk bermain di halaman gereja. Awalnya anak ini kami anggap sebagai pengganggu, karena sering kali membuat takut anak-anak misdinar yang baru kumpul atau anak-anak OMK yang sedang kumpul-kumpul. Beberapa kali anak ini ditegur dan bahkan agak dimarahi karena dianggap mengganggu. Beberapa ibu menegur dengan keras bahwa gereja bukan tempat main.
 
Namun, entah mengapa anak ini tetap saja selalu datang untuk bermain. Lama kelamaan, kami mulai mengenal anak ini, bahwa dia berkebutuhan khusus. Dia ikut duduk-duduk ngumpul dengan beberapa orang yang ada di gereja. Nampaknya dia nyaman ada di lingkungan gereja, meski dia bukan katolik.
 
Hal yang menarik adalah karyawan kebun kami mulai mengajak untuk ikut bantu-bantu dan anak ini merasa nyaman dan bisa bicara dengan karyawan kebun kami. Dan ternyata dia bisa ikut membantu karyawan kebun menyapu halaman, menyiram tanaman. Anak ini meski berkebutuhan khusus tetapi rajin dan punya rasa tanggung jawab.
 
Akhirnya anak ini kami beri tugas untuk membantu karyawan kebun dan kami beri uang saku. Saat dia diterima dan diberi kepercayaan ternyata luar biasa. Pagi-pagi dia sudah menyapu halaman gereja dengan bersih. Sering kali jam 05.30 halaman gereja sudah bersih dan dia sudah menyiram tanaman. Bagi saya anak ini luar biasa, dari yang kami anggap pengganggu sekarang banyak membantu.
 
Satu hal yang dia butuhkan adalah diterima dan dipercaya, selebihnya dengan segala keterbatasannya, dia memberikan hal yang luar biasa.
 
Pengalaman perjumpaan dengan anak ini membantu saya untuk memahami sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius. Allah telah mempercayakan “harta” yang besar kepadaku. Allah mengenal diriku dan Ia mempercayakan “hartaNya” seturut kemampuanku. Allah percaya dengan kemampuanku, aku dapat mengembangkan “harta” itu menjadi berlipat-lipat. Apa yang kubutuhkan adalah setia memikul tanggung jawab itu, sehingga dapat melipat gandakan “harta” itu. “Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”
 
Persoalannya adakah aku menyadari bahwa Allah mengenal aku dan mempercayakan “hartaNya” seturut kemampuanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Romo Joannes Subagya, SJ

Romo Joannes Subagya, SJ

Requiescat In Pace

Romo Joannes Subagya, SJ

Batu fondasi kami, telah berpulang.

Terima kasih Romo, untuk warisan komunitas CLC di Indonesia, yang boleh kami terima, nikmati, hidupi, dan lestarikan.

Doa kami menemanimu menuju peristirahatan abadi, pengalaman mendalam bersamamu, menjadi penghiburan abadi bagi kami.

Selamat jalan. Rindu kami. Sampai kita jumpa lagi.

CLC di Indonesia


Misa Requiem Romo Joannes Subagya, SJ Sabtu, 14 November 2020 pkl 11.00 WIB dapat diakses di tautan YouTube ini: Misa Requiem.

Informasi lengkap riwayat hidup beliau dapat diakses di laman jesuits.id: Romo Joannes Subagya, SJ.

Renungan Harian: 14 November 2020

Renungan Harian
Sabtu, 14 November 2020

Bacaan I : 3Yoh. 1: 5-8
Injil    : Luk. 18: 1-8

Pintu Tertutup

Suatu sore, saya ngobrol dengan beberapa pengurus pengembangan sosial ekonomi (PSE) paroki. Kami membahas bantuan-bantuan karitatif dan beasiswa untuk beberapa anak di paroki. Dalam ngobrol-ngobrol itu, kami membicarakan sebuah keluarga.
 
Saya memulai pembicaraan.
“Saya prihatin dengan keluarga itu, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu keluarga tersebut. Sejauh saya tahu, keluarga itu adalah keluarga pekerja keras, apapun dijalankan tanpa gengsi, tetapi kok ya, sulit berubah. Beberapa kali kelihatan mulai berkembang, agak mapan, tetapi kemudian jatuh lagi.
 
Keluarga itu adalah keluarga yang amat rajin berdoa, rajin ikut ekaristi dan kegiatan paroki, tetapi kok sepertinya Tuhan belum berkenan atas doa-doa mereka. Dimana ya salahnya,” kata saya membuka pembicaraan.
 
“Pastor, ketika situasi ekonomi sulit, bagi mereka seolah-olah semua pintu itu tertutup. Berjuang dan berjuang tetapi selalu menabrak dinding seperti tidak ada jalan keluar. Kadang harus ada orang lain yang membantu untuk menunjukkan dimana ada pintu yang terbuka. Saya pernah dalam situasi seperti itu, jadi saya mengerti,” kata seorang bapak.
 
Seorang ibu yang setiap pertemuan atau ngobrol-ngobrol selalu menjadi pendengar dan mengiyakan, tiba-tiba berbicara. “Pastor, saya juga kasihan dengan keluarga itu. Mereka selalu berdoa dengan tekun, novena, rosario dalam keluarga, saya tahu dan melihat sendiri. Memang benar kata pastor, kok sepertinya Tuhan belum berkenan dengan doa-doa mereka. Maaf pastor, sekali lagi mohon maaf, bukan maksud saya menggurui. Saya berpikir jangan-jangan, maaf ya pastor, bukan Tuhan yang belum mendengarkan doa mereka, tetapi kita yang tidak mendengarkan suara Tuhan,” ibu itu menguraikan pendapatnya.

“Maksudnya bagaimana ibu?” tanya saya memperjelas.
 
“Pastor, menurut pemikiran saya  jangan-jangan Tuhan menyuruh kita menjadi utusanNya untuk menjawab doa-doa mereka. Maaf ya pastor sekali lagi bukan menggurui,” ibu itu menjelaskan. Kami semua tersentak mendengar apa yang ibu itu katakan, terlebih saya sendiri seperti disambar geledek. Gila, kataku dalam hati, mengapa aku gak bisa mengerti seperti ibu tadi. Wah ini Roh Kudus yang hadir dalam diri ibu tadi.
 
Betapa aku sering hanya melihat sesuatu dengan pikiranku yang terbatas. Melihat persoalan dan kemudian mempertanyakan dan tanpa sadar “mengadili”. Punya keprihatinan tetapi tidak mau masuk lebih dalam. Aku lupa bahwa Tuhan membutuhkan orang-orang untuk menjadi utusan menjawab dan mengabulkan doa-doa umatNya. Aku selalu berdoa dan berdoa tetapi tidak mendengarkan dan tidak peka dengan perintahNya.
 
Kiranya itulah keluhan Tuhan sebagaimana diwartakan oleh St. Lukas: “Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan iman di bumi ini?
 
Bagaimana aku menghidupi dan menghayati imanku? Adakah Tuhan menemukan iman dalam diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 13 November 2020

Renungah Harian
Jumat, 13 November 2020

Bacaan I : 2Yoh. 1: 4-9
Injil    : Luk. 17: 26-37

S e k t e

Sore itu, saya kedatangan tamu sebuah keluarga; pasangan suami istri dan dua anaknya. Bapak itu memperkenalkan keluarganya, beliau mengatakan bahwa mereka memiliki tiga orang anak. Anak pertama laki-laki yang sekarang ikut dan si bungsu perempuan yang juga ikut dalam perjumpaan itu; sedang anak nomor dua perempuan, yang sekarang tidak bisa ikut.
 
Setelah berbincang sejenak, bapak mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
“Pastor, kami sekeluarga sedang berduka. Anak perempuan kami yang kedua, sekarang ini pergi dari rumah, dan membenci kami semua, orang tua dan kakak-adiknya. Kami sudah beberapa kali mencoba membujuk agar mau pulang tetapi tetap tidak mau pulang dan akhir-akhir ini sudah tidak mau ditemui lagi.
 
Pastor, awalnya dia itu ikut kumpul dengan teman-temannya untuk pendalaman alkitab. Saya senang, dia yang awalnya tidak pernah pegang alkitab sekarang jadi rajin membaca alkitab, dan setiap pagi dia selalu memberikan rhema kepada kami semua. Kami semua bangga dengan perkembangannya.
 
Tetapi dalam perjalanannya dia mulai aneh, dia mulai bicara bahwa baptisan kami semua itu tidak sah, dan kami semua harus bertobat, doa-doa kami semua salah dan macam-macam. Puncaknya saat makan malam dia ngomong bahwa dirinya sudah dibaptis lagi, dan meminta kami semua untuk bertobat dan dibaptis lagi karena kami semua ini sesat. Kalau tidak bertobat kami semua tidak akan selamat. Dia tidak mau lagi mendengarkan kami, satu hal yang selalu diulang-ulang bahwa dia harus mempertobatkan semua keluarga agar selamat.
 
Pastor, saya menegur dia dengan keras, dan mengatakan bahwa dia tersesat. Dia marah dan mengatakan kalau dia tidak mau tinggal lagi di rumah ini, karena rumah ini isinya orang-orang yang sesat dan tidak mau mendengarkan warta pertobatan.  Karena saya emosi yang bilang ke dia: “Kalau kamu merasa kami orang sesat dan kamu mau pergi ya silahkan.” Dan dia pergi sampai sekarang.
 
Saya kemudian tahu bahwa selama ini, dia ikut sebuah sekte yang ekstrem. Kami amat sedih dan kehilangan dia. Ibunya jadi sakit-sakitan karena memikirkan dia. Kami harus bagaimana pastor?” Bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
Saya sangat sedih mendengarkan cerita bapak itu, dan bisa merasakan betapa keluarga ini berduka. Saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya bisa mengajak keluarga itu untuk selalu berdoa agar anak tercinta segera kembali ke keluarga, meminta mereka untuk tetap menyapa putrinya, jangan memaksakan sesuatu, tunjukkan bahwa keluarga amat mencintai dan merindukannya. Kalau dia pulang terima dia baik, jangan mengungkit sesuatu.
 
Pada masa sekarang ada banyak ajaran-ajaran maupun pengaruh-pengaruh yang mudah membius dan kemudian menyesatkan. Banyak orang yang dengan mudah menafsirkan kitab suci maupun ajaran-ajaran agama demi mendapatkan keuntungan pribadi.
 
Benarlah pesan St. Yohanes dalam suratnya yang kedua:”Banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia…… Waspadalah, jangan sampai kalian kehilangan apa yang telah kami kerjakan. Tetapi berusahalah agar kalian mendapat ganjaranmu sepenuhnya.”
 
Adakah aku mampu memberikan teladan keteguhan iman dan kewaspadaan agar tidak tersesat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 12 November 2020

Renungan Harian
Rabu, 12 November 2020

PW. St. Yosafat, Uskup dan Martir
Bacaan I : Flm. 1: 7-20
Injil    : Luk. 17: 20-25

Mbesengut

Suatu ketika saat saya sedang main kartu dengan adik-adik, (waktu itu masih SD) tiba-tiba ibu menyuruh saya untuk membeli benang. Saya jengkel dengan perintah ibu itu, karena hari itu panas terik dan sedang asik bermain kartu dengan adik. Meskipun jengkel saya tetap pergi untuk membeli benang. Sesampai di rumah saya menyerahkan benang yang ibu minta dengan muka cemberut karena jengkel.
 
Melihat sikap saya seperti itu, bapak menegur saya: “Mas, yen didhawuhi lan gelem nandangi, ora pareng besengat-besengut. Yen nidakake kabecikan kuwi kudu sing ikhlas kanthi ati sing bungah. Coba pirsani ibu kae, saben ndina masak, ngumbahi kanggo awake dhewe kabeh, ning ibu ora mbesengut, amarga ibu tresna karo kabeh. Dieling-eling, yen nindakake kabecikan kuwi kudi kanthi ati sing bungah ben berkahe melimpah, yen besengat-besengut mengko berkahe kesangkut neng endi-endi.” (Mas, kalau diperintah dan mau menjalankan tidak boleh cemberut. Menjalankan hal yang baik itu harus ikhlas dan hati yang gembira. Lihat, ibu itu, setiap hari masak dan mencuci pakaian untuk kita semua, dan ibu tidak cemberut karena ibu mencintai kita. Ingat kalau melakukan hal yang baik harus dengan gembira agar berkat melimpah, kalau dengan cemberut berkatnya hilang).
 
Sejauh saya ingat, nasehat bapak tidak berbunyi bagiku, karena aku tetap jengkel. Namun sekarang saat aku mengingat masa itu betapa luar biasa nasehat bapak itu. Menjalankan hal baik harus didasari dengan kerelaan dan kegembiraan yang bersumber pada cinta.
 
Seperti kata St. Paulus dalam suratnya kepada Filemon: “Supaya yang baik itu kaulakukan, bukan karena terpaksa, melainkan dengan suka rela.”
 
Berapa sering aku melakukan hal-hal yang baik karena terpaksa dan tidak bersumber pada cinta tetapi pada ketakutan atau ketidak enakan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.