Renungan Harian: 11 Agustus 2020

Renungan Harian
Selasa, 11 Agustus 2020

PW. St. Clara
Bacaan I: Yeh. 2: 8-3: 4
Injil   : Mat. 18: 1-5.10.12-14

N g e l m u

Serat Wulang Reh, adalah sebuah karya Sastra berupa tembang (lagu) macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Serat berarti tulisan, wulang berarti ajaran dan reh berarti jalan, cara, aturan, tuntutan untuk mencapai; maka Serat Wulang Reh berarti tulisan yang berisi ajaran untuk mencapai sesuatu.
 
Salah satu pupuh yang sering ditembangkan adalah tembang Pocung (salah jenis lagu macapat) Ngelmu itu kelakone kanthi laku.
 
Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Teges kas nyantosani
 Setyo budya pangekese durangkara
 
llmu bisa dipahami dan dikuasai dengan cara diamalkan
cara untuk mencapainya harus dengan berusaha keras
dengan berusaha keras maka akan memperkokoh karakter pribadi
dengan kokohnya karakter pribadi maka akan menjauhkan dari sifat angkara
 
Ajaran leluhur yang luar biasa. Ngelmu memang secara harafiah dapat diartikan dengan Ilmu. Akan tetapi makna ngelmu sesungguh bukan sekedar ilmu pengetahuan semata tetapi lebih ajaran atau kebijasanaan tentang hidup. Maka secara keseluruhan tembang itu mengajarkan bagaimana seseorang dapat meraih kebijaksanaan hidup.
 
Kebijaksanaan hidup akan didapat lewat perjuangan dalam pengalaman hidup. Ilmu itu harus dijalankan, diamalkan dalam hidup sehari-hari tidak cukup hanya lewat pengajaran.
Dengan kata lain, ilmu itu harus dihidupi dan mengejawantah (mewujud) dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mencapai ilmu itu maka akan mempunyai kepribadian yang kuat, yang jauh dari sifat angkara. Sifat angkara, adalah sifat-sifat jahat manusia yang adigang (mengandalkan kekuatan) adigung (mengandalkan kekuasaan) dan adiguna (mengandalkan kepandaian).
 
Kiranya ajaran yang tertuang dalam Serat Wulang Reh berguna bagiku dalam menanggapi Sabda Tuhan. Sabda Tuhan bukan sekedar untuk didengar, dipelajari dan dimengerti akan tetapi lebih dari itu Sabda Tuhan harus dihidupi. Bagaimana Sabda Tuhan itu aku perjuangkan untuk selalu meresap dalam diri sehingga pada gilirannya mengejawantah (mewujud) dalam sikap hidupku sehari-hari.
 
Senada dengan  Serat Wulang Reh, Yeheskiel menggambarkan amat bagus bagaiman Sabda Tuhan itu harus menjadi bagian dalam hidupku: “Hai anak manusia,makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini dan isilah perutmu dengannya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Agustus 2020

Renungan Harian
Senin, 10 Agustus 2020

Pesta St. Laurensius, Diakon dan Martir
Bacaan I: 2Kor. 9: 6-9
Injil   : Yoh. 12: 24-26

P i l i h a n

Salah satu  kisah pewayangan menceritakan raja Negeri Astina yang bernama Prabu Duryudono mendapatkan wahyu dalam mimpinya bahwa kerajaannya akan memenangkan perang besar bharatayuda dengan syarat Semar Bodroyono tinggal di negeri Astina. Oleh karena itu  Prabu Duryudono mengutus patih Sengkuni dan Begawan Durno untuk membujuk Semar agar mau tinggal di negeri Astina.
 
Maka pergilah kedua utusan penting itu ke padepokan Karang Tumaritis untuk menemui Semar. Sesampainya di Karang Tumaritis kedua utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya untuk memboyong Ki Lurah Semar ke negeri Astina. Akan tetapi Ki Lurah Semar keberatan untuk meninggalkan negeri Amarta tempat  dia mengabdi. Meski begitu Begawan Durno tetap berusaha membujuknya.
 
BD (Begawan Durno): Kakang Semar, kamu pasti tahu bahwa negeri Astina adalah negeri yang kaya raya. Prabu Duryodono adalah raja besar dengan banyak negeri jajahan. Maka kalau kamu mau tinggal di negeri Astina, hidupmu akan lebih terjamin.
 
S (Semar): Weeeeh den, jangan dikira kalau hidup saya tidak terjamin.
 
BD: Bagaimana mungkin kamu mengatakan hidup terjamin, nyatanya dari dulu sampai sekarang hidupmu tidak berubah, tetap miskin dan pangkat derajatmu juga tidak berubah tetap jadi pelayan.
 
S: Den, hidup saya jangan dinilai dari apa yang kelihatan, tapi apa yang saya rasakan itu lebih penting. Apa yang kelihatan saya tetap miskin dari dulu sampai sekarang dan pangkat derajat saya tetap pelayan, tetapi saya bahagia.
 
BD: Oalah kalau dirimu miskin saja bahagia bagaimana kalau kamu jadi kaya dan pangkat derajatmu jadi lebih tinggi, kamu pasti akan lebih kaya. Selama kamu ikut Pandawa, nasibmu tidak akan pernah berubah. Mereka saja tidak punya apa-apa mana mungkin bisa membuat dirimu menjadi kaya, dan menjamin hidupmu. Berbeda dengan Astina kakang.
 
S: Weeeeeh den, saya itu pelayan, pelayan para Pandawa, maka hidup mati saya, sudah saya serahkan kepada para junjungan saya itu. Kemanapun dan dalam keadaan apapun saya ikut beliau-beliau itu. Ketika mereka di hutan, menderita sengsara banyak kesulitan, saya ikut ada bersama beliu-beliau; dan sekarang ketika mereka sudah damai dan mapan saya juga ikut.
 
Den, menjadi pelayan para Pandawa adalah pilihan hidup saya. Maka kebahagiaan saya bukan karena saya mendapatkan kekayaan atau pangkat derajat, bukan den. Kebahagiaan saya itu karena saya diperbolehkan ikut dan dekat dengan para junjungan saya.
 
Den karena pilihan saya itu maka saya berjuang untuk selalu diperkenankan ikut dan dekat dengan para junjungan. Saya tidak silau dengan emas picis raja brana (harta kekayaan) dan pangkat derajat. Itu semua sudah saya jauhkan dari diri saya.
 
Maka den, saya tidak pernah akan meninggalkan para Pandawa, meski nyawa yang menjadi taruhannya.
 
Belajar dari kisah pewayangan di atas, kiranya membantu untuk memahami sabda Tuhan sejauh diwartakan Yohanes: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada”
 
Hal mendasar yang dikatakan Semar yang memilih hidup sebagai pelayan adalah meletakkan kebahagiaan bukan pada jaminan dan kenyamanan hidup tetapi meletakkan kebahagiaan pada perkenanan untuk selalu mengikuti dan berada dekat dengan junjungannya.
 
Aku yang telah memilih untuk menjadi pelayanNya, dimana aku meletakkan kebahagiaanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Agustus 2020

Renungan Harian
Minggu, 09 Agustus 2020

Minggu Biasa XIX
Bacaan I : 1Raj. 19: 9a.11-13a
Bacaan II: Rom. 9: 1-5
Injil    : Mat. 14: 22-33

S u r f i n g

Dalam sebuah kesempatan berlibur ke Bali, saya main ke sebuah pantai di mana banyak orang bermain surfing. Saya senang melihat orang-orang yang bermain surfing, mereka meliuk-liuk meniti ombak seperti seorang penari.
 
Orang-orang yang bermain surfing selalu mencari ombak, semakin banyak ombak yang datang, semakin gembira mereka bermain. Ombak bukan hanya teman tetapi kebutuhan mereka. Tanpa ombak mereka tidak mungkin bermain surfing. Mereka bisa menari justru karena adanya ombak.
 
Di tempat itu secara kebetulan saya berkenalan dengan seorang instruktur surfing, sehingga saya bisa ngobrol dan bertanya-tanya. Dalam obrolan beliau mengatakan syarat utama orang bisa bermain surfing dengan cepat adalah mencintai laut dan ombak. Karena dengannya orang tidak takut tetapi bisa menikmati laut dan gelombangnya. Syarat berikut adalah tekun berlatih.
 
Beliau bercerita bahwa latihan awal adalah belajar keseimbangan dengan telungkup di atas papan surfing, kemudian belajar mendayung, belajar sifat gelombang dan kemudian belajar berdiri. Semua diceritakan dengan detail dan menarik. “Nah, pada saatnya orang akan menari di atas ombak. Saat itu rasanya kami dapat mengendalikan ombak, ombak sesuatu yang menyenangkan. Ketika ombak datang kami akan menjemputnya dengan bahagia karena dengannya kami akan menari. Tapi kami tetap waspada karena kalau tidak hati-hati ombak yang kami nantikan itu akan menghempaskan kami.” Katanya mengakhiri pembicaraan kami.
 
Peziarahan hidup sering kali diumpamakan dengan mengarungi lautan. Laut dengan seluruh pesona dan bahayanya itulah medan peziarahan hidup. Kadang tenang, damai menyejukan; kadang ombak-ombak yang tidak terlalu besar berdebur indah tetapi tidak jarang gelombang besar yang menakutkan.
 
Belajar dari kisah instruktur surfing,  syarat pertama dan utama  adalah mencintai lautan. Maka syarat pertama dan utama bagiku adalah mencintai medan peziarahan. Hal berikut adalah berlatih dengan tekun. Pezirahan hidup adalah berlatih dan berlatih. Berlatih untuk berjuang menikmati hidup. Gelombang badai kehidupan adalah medan berlatih hidup yang luar biasa. Pada saat aku  terhempas dan bisa bangkit, maka aku tahu bagaimana berjuang agar aku tetap berdiri tegak ketika badai itu datang, atau yang lebih penting adalah ketika aku terhempas aku tahu bagaimana aku harus berdiri.
 
Meski demikian, kekuatan badai yang menerpa kehidupanku tidak selalu sama. Tidak jarang badai yang begitu dahsyat mengombang-ambingkan peziarahan hidupku dan aku tidak tahu bagaimana aku mengahadapinya. Satu hal yang kuperlukan saat itu aku berteriak: “Tuhan, tolong aku.” Aku berteriak karena yakin Tuhan akan mengulurkan tanganNya dan memegang tanganku sehingga aku selamat. Sebagaimana pengalaman Petrus yang takut dan mulai tenggelam.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 8 Agustus 2020

Renungan Harian
Sabtu, 08 Agustus 2020

PW. St. Dominikus
Bacaan I: Hab. I: 12-2: 4
Injil   : Mat. 17: 14-2

Tukang Bakso

Mas Brewok, begitu sapaan akrab pria setengah baya itu. Saya tidak tahu persis siapa namanya,  yang saya tahu dan saya biasa memanggilnya Mas Brewok. Saya kenal dengan Mas Brewok, karena saya sering mampir membeli dagangannya. Dia berdagang bakso; karena warung kaki limanya di bawah pohon waru, maka pelanggannya menyebut bakso “sor waru”.
 
Setahu saya, dia dagang di situ belum terlalu lama, mungkin sekitar 3 tahun, karena saya masih mengalami membeli baksonya saat dia masih berkeliling dengan gerobaknya. Baksonya enak dan pedagangnya amat ramah, sehingga warung baksonya amat laris.
 
Hari itu, ketika saya mampir ke warungnya, ternyata warungnya tutup. Saya melihat mas Brewok sedang menggergaji papan tripleks. Saya menyapa dia: “Mas, warungnya mau diperluas ya, wah hebat.” Dia menjawab: “Nggak mas, ini membantu teman yang mau dagang di sebelah.” “Kapan mulai dagang lagi?” tanyaku. “Besok sudah dagang, ini libur sehari saja”
Jawabnya.
 
Dua hari kemudian saya sengaja mau beli bakso ke tempat mas Brewok. Saya terkejut karena warung sebelah mas Brewok, ternyata juga berjualan bakso. Saya terkejut karena mas Brewok membiarkan orang lain berjualan dengan dagangan yang sama, dan bahkan dia libur tidak dagang karena membantu mempersiapkan warung pesaingnya.
 
Karena begitu penasaran maka sambil makan bakso saya bertanya ke mas Brewok: “Mas, gimana sih, kok sampeyan membiarkan orang dagang bakso di sebelah warung sampeyan? Udah gitu dirimu libur untuk membantu dia bikin warung?’
“Mas, aku yakin kok, kalau rejeki itu tidak akan tertukar. Yang Kuasa sudah mengatur rejeki masing-masing.” Jawabnya.
 “Sampeyan tidak takut kalau langganan sampeyan pindah ke sebelah?” tanyaku lagi. “Nggaklah mas, ngapain takut, kan sudah ada yang ngatur, jadi percaya dan pasrah aja.” Jawabnya.
 
Luar biasa mas Brewok ini, kataku dalam hati. Saya tidak tahu apa yang ada dalam batin dan budinya, tetapi apa yang dikatakan merupakan ungkapan iman yang luar biasa. Kepercayaan pada Yang Kuasa begitu mendalam dan dihidupi. Iman yang luar biasa, yang dihidupi dengan cara sederhana dan diungkapkan dengan cara sederhana pula. Seperti diungkapkan oleh Nabi Habakuk: “Orang benar akan hidup berkat imannya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 7 Agustus 2020

Renungan Harian
Jumat, 07 Agustus 2020

Bacaan I: Nah. 1: 15; 2: 2; 3: 1-3. 6-7
Injil : Mat. 16: 24-28

Tirakat

Dalam perjalanan peregrinasi* bersama fr. Puspo (Rm. Puspo bin Atmo, SJ), saat kami sampai di sebuah desa di daerah Wonosari, kami merasa lapar. Waktu itu sudah lewat tengah hari. Kami mengetuk sebuah rumah, seorang bapak keluar dan menyapa kami. Kami mengutarakan bahwa kami minta makan. Bapak itu mempersilakan kami masuk rumahnya dan ditanya dari mana, dan mau kemana.
 
Kami bercerita dari mana kami dan mau kemana tentu agak bohong, karena memang kami dilarang untuk mengatakan siapa diri kami. Saat mendengar bahwa kami sedang berziarah dengan jalan kaki tanpa bekal, bapak itu senang menyambut kami.
 
Sambil menemani kami makan, bapak itu mengatakan bahwa dirinya senang karena masih ada anak muda yang mau tirakat.  Beliau mengatakan:
“Nak, tirakat itu penting untuk hidup kita. Dengan tirakat, kita itu mesu diri (melatih diri). Kita melatih diri untuk menguasai diri, menguasai hawa nafsu.
 
“Manungsa kuwi gendhong lali lan kebak kanepson, dadi gampang kelangan enggok lan lali marang sangkan paraning dumadi”. (Manusia itu mudah lupa dan penuh dengan hawa nafsu, sehingga mudah kehilangan arah dan lupa dengan asal dan tujuan manusia diciptakan.)
 
Tirakat menjadikan kita bisa menguasai diri dan hawa nafsu. Dengan demikian kita bisa fokus dengan tujuan hidup kita, tidak mudah tergoda oleh banyak keinginan yang didorong oleh nafsu, dan tidak menjadi silau dengan kenikmatan dan kedudukan. Musuh paling besar dan paling berat bagi kita adalah diri kita sendiri dan hawa nafsu kita. Maka kita harus bisa mengalahkan diri sendiri dan hawa nafsu kita agar hidup kita tidak terombang ambing.
 
Nak, tirakat itu berat, karena melawan dan menyangkal segala keinginan badan wadag (tubuh), maka hal yang penting adalah ikhlas. Ujungnya kita akan mengalami kebahagiaan batin.” Nasehat bapak yang luar biasa. Bahkan kemudian bapak meminta kami untuk mengunjungi beberapa tempat untuk “ngalap berkah” (memohon berkat).
 
Nasehat bapak itu memudahkan saya untuk memahami Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” Menyangkal diri agar aku fokus untuk mengikuti Tuhan, di jalan Tuhan. Tidak mudah untuk tergoda yang menyebabkan aku tersesat.
 
Iwan Roes RD.
 
*Peregrinasi: adalah salah satu bentuk pendidikan di novisiat belajar bergantung pada penyelenggaraan ilahi dengan cara berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 400 km selama 10 hari tanpa bekal apapun.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Agustus 2020

Renungan Harian
Kamis, 06 Agustus 2020

Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya
Bacaan I: Dan. 7: 9-10.13-14
Injil   : Mat. 17: 1-9

Syukuran

Beberapa waktu yang lalu saya diundang pesta perayaan syukur sebuah keluarga. Perayaan syukur ini diadakan sebagai ungkapan syukur dan pujian pada Allah karena keluarga merasakan berkat berlimpah dari Tuhan. Bapak kepala rumah tangga sembuh dari penyakit yang sudah lama diderita, syukur atas rejeki yang melimpah meskipun bapak sakit tetapi perusahaan tetap jalan dan memberikan keuntungan yang luar biasa, dan syukur karena si bungsu telah menyelesaikan kuliahnya.
 
Perayaan syukur ini dibuat  luar biasa. Banyak tamu yang datang, hidangan yang luar biasa dan hiburan yang keren. Menurut saya pesta ini melebihi pesta perkawinan
 
Pada saat sambutan, tuan rumah menyampaikan alasan mengapa perayaan syukur ini dibuat. Bapak itu memberi kesaksian betapa Tuhan itu begitu luar biasa dan cintaNya kepada keluarganya sungguh luar biasa. Bahkan menurut bapak itu tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan lagi selain syukur dan puji Tuhan.
 
Dua hari kemudian bapak itu datang ke pastoran menemui saya. Begitu bertemu, saya langsung memuji pesta syukur yang luar biasa dan kesaksian bapak yang luar biasa tentang kebaikan dan cinta Allah. Namun apa yang saya katakan tidak mendapatkan tanggapan. Bapak itu wajahnya kelihatan sedih dan kusut. Beliau mengatakan:
“ Romo, saya amat sedih dan marah.”
Saya kaget dan menyesal karena ketika bertemu langsung nyerocos memuji pestanya.
 
“Romo, saya marah dan kecewa dengan Tuhan.  Kenapa Tuhan memperlakukan saya seperti ini. Baru saya bersyukur, kenapa saya sekarang seperti dibanting oleh Tuhan. Romo, semua tender saya kalah. Gak ada satupun romo yang berhasil. Padahal saya mengikuti prosedur yang ada dan selama ini kami selalu melakukan dengan amat baik.
 
Saya kalah dengan pemain-pemain baru yang belum pengalaman di bidang ini tetapi kuat bermain  lewat pintu belakang. Kenapa kami yang bermain baik, lurus, ikut prosedur malah kalah. Kenapa Tuhan membiarkan yang menang justru mereka yang tidak ikut aturan. Saya merasa Tuhan tidak adil romo.” Saya hanya diam mendengarkan bapak itu mengeluarkan kemarahannya.

Setelah tenang saya bertanya: “Waduh, kalau begitu bapak tidak ada proyek sama sekali ya tahun ini?”

“Proyek masih banyak romo, cuma yang bikin saya marah karena tender-tender yang saya ikuti terakhir-terakhir ini kalah semua.” Jawab bapak itu.

Saya bingung, mau bicara apa. Dalam hati saya bertanya: “Kemana pengalaman syukur dan kesaksiannya dua hari lalu?”
 
Pengalaman seperti bapak tadi, sering dialami banyak orang. Ketika sedang bergembira maka bersyukur dengan luar biasa, seolah-olah hanya dirinya yang paling beruntung mendapat kasih Allah. Tetapi saat bersedih begitu terpukul seolah-olah dirinya orang yang paling menderita karena ditinggalkan Allah.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius, bukankah tiga orang murid perkenankan melihat kemuliaan Yesus untuk meneguhkan mereka? Agar ketika datang penderitaan datang mereka tidak tergoncang imannya?
 
Pengalaman bahagia dan syukur seharusnya menjadi sumber kekuatan disaat sedang menderita. Menumbuhkan keyakinan bahwa penderitaan itu tidak hanya berakhir dengan penderitaan, karena Tuhan pasti memberikan jalan. Menjadi penegasan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita.
 
Maka pertanyaannya adalah kemana pengalaman syukurku di saat aku mengalami penderitaan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Agustus 2020

Renungan Harian
Rabu, 05 Agustus 2020

Bacaan I: Yer. 31: 1-7
Injil   : Mat. 15: 21-28

G r e s e k

Beberapa tahun yang lalu, saya berkunjung ke rumah umat yang berprofesi sebagai pemulung. Suami istri bekerja sebagai pemulung. Mereka mempunya dua orang putra dan putri. Anak pertama perempuan sudah kelas 3 SMU dan yang ke dua laki-laki masih SD kelas 5 (waktu itu).
 
Suami istri itu setiap pagi dengan gerobaknya berkeliling mengumpulkan barang bekas, baik dari kertas, plastik atau pun logam. Sore hari sampai di rumah, mereka akan memilah-milah barang yang sudah mereka dapat dan kemudian dijual ke pengumpul. Mereka melakukan pekerjaannya itu tiap hari, tidak mengenal libur juga tidak terhalang oleh cuaca. Kecuali Hari Minggu, mereka berangkat memulung setelah pulang dari Gereja.
 
Dalam obrolan, mereka mengatakan bahwa mereka selalu bersyukur.  “Romo, kami sungguh-sungguh bersyukur, Tuhan selalu mencukupi kebutuhan hidup kami. Apa yang kami dapat tidak pernah lebih, cukup untuk hidup kami hari ini. Kami percaya betul doa berilah kami rejeki pada hari ini.
 
Ada saatnya anak kami mengatakan besok harus membayar uang sekolah. Awal-awal dulu kami sering gak bisa tidur memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk bayar sekolah tetapi dalam perjalanan waktu kami tahu Tuhan selalu mencukupkan. Jadi sekarang-sekarang ini kalau ada kebutuhan apa-apa untuk besok, kami pasrah dan yakin Tuhan akan mencukupkan. Ada saja cara Tuhan mencukupi kebutuhan kami.
 
Romo, kami bahagia, kendati kami hidup seperti ini. Kami ini hidup dari “gresek-gresek” (mengais) sisa-sisa rejeki orang. Betul romo kami ini “gresek” sampah di jalanan, di tempat sampah di mana aja. Kendati kami “gresek” sisa-sisa rejeki orang kami tidak pernah malu. Anak-anak sayapun tidak pernah malu. Mereka kalau libur pasti ikut membantu.
 
Saya selalu mengatakan pada anak-anak saya: “Hidup kita itu hanya “gresek” sisa rejeki orang tetapi halal. Jangan pernah malu. Kita “gresek” sisa rejeki orang itu berarti kita “gresek berkah Dalem” (mengais berkat Tuhan). Itu lho seperti ibu dalam kitab suci yang minta remah-remah untuk anjing. Kita itu seperti itu “gresek” sisa-sisa berkat.” Maaf Romo,  bukan saya sok pinter tetapi saya mau mengajari anak-anak saya untuk tidak malu dan selalu bersyukur.” Pungkas cerita bapak itu.
 
Wow, saya pulang dengan tercengang akan sharing bapak itu. Betapa aku harus lebih banyak bersyukur dan lebih bahagia ? bukankah hidupku lebih dari berkecukupan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Agustus 2020

Renungan Harian
Selasa, 04 Agustus 2020

PW. St. Yohanes Maria Vianney
Bacaan I: Yer. 30: 1-2.12-15.18-22
Injil   : Mat. 15: 1-2.10-14

Penuntun

Entah kapan persisnya saya mendengar kisah ini. Pak Moedjanto, beliau adalah mantan guru sejarah di Seminari dan kemudian menjadi dosen sejarah, bercerita. Dalam sebuah acara hajatan ada seseorang yang bertanya kepada tamu sebelahnya tentang pekerjaannya. Tamu itu menjawab bahwa pekerjaannya adalah dosen. Mendengar jawaban itu, tamu yang bertanya, bertanya lagi soal berapa buku yang sudah ditulisnya.
 
Dari cerita itu saya berpikir kalau orang bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya seorang imam, apa yang akan ditanyakan pada imam itu. Sudah pasti tidak akan ditanya berapa buku yang telah dihasilkan, mungkin orang akan bertanya apakah imam itu sering membaca kitab suci sehingga sudah khatam beberapa kali; mungkin ditanya berapa banyak dirinya berdoa; mungkin ditanya apakah masih terus belajar atau tidak;  atau mungkin ditanya bagaimana dirinya mempersiapkan khotbah yang menarik.
 
Andai benar itu yang ditanyakan, jawaban apa yang akan kuberikan? Apakah saya membaca Kitab Suci?  Saya membaca, tapi belum pernah khatam. Apakah saya berdoa? saya berdoa tapi sedikit, meditasi sering bolong, dan sering banyak melantur kalau tidak mengantuk. Apakah saya menjalankan doa brevir? Saya berdoa walau kadang bolong. Apakah saya terus belajar? Saya belajar sendiri itupun kalau ingat. Apakah aku mempersiapkan khotbah? Saya mempersiapkan khotbah, tetapi seberapa mendalam, he……..he.
 
Sebagaimana seorang dosen yang bertugas menuntun mahasiswa agar memiliki dan menguasai dasar ilmu dan dasar keahlian maka buku yang ditulis menjadi ukuran seberapa serius dan seberapa mendalam beliau mempersiapkan diri untuk menuntun mahasiwa; demikian pula pertanyaan-pertanyaan untuk para imam juga menjadi ukuran seberapa serius dan mendalam saya sebagai imam mengolah dan mempersiapkan diri agar dapat menuntun umat.
 
Manakala jawabanku masih seperti di atas, menunjukkan betapa dangkal dan “sambalewanya” (kurang serius, sering abai) dalam mengolah dan mempersiapkan diri. Dengan demikian bagaimana mungkin saya bisa menuntun umat? Dengan demikian nyatalah kritik Yesus sebagaimana disampaikan Matius: “Mereka itu orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.”
 
Jangan-jangan aku bukan seperti orang buta menuntun orang buta akan tetapi orang buta menuntun orang yang bisa melihat.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 3 Agustus 2020

Renungan Harian
Senin, 03 Agustus 2020

Bacaan I: Yer. 28: 1-17
Injil   : Mat. 14: 22-36

Nina Bobo

Dalam sebuah pembicaraan dengan almarhum Mgr. Alexander Djajasiswaja, beliau mempunyai keprihatinan mendalam berkaitan dengan cara kami memberi retret atau rekoleksi. Beliau prihatin karena dalam retret atau rekoleksi, kami para frater sering kali jatuh pada sebuah dinamika kelompok yang cenderung ke bermain dan hura-hura.
 
Menurut beliau retret atau rekoleksi yang seperti itu tidak banyak memberi manfaat karena hanya seneng-seneng aja dan setelah selesai apa yang tersisa hanyalah pengalaman kelucuan-kelucuan dan seneng-seneng. Dan hal itu jauh dari harapan dan tujuan dari retret dan rekoleksi.
 
Retret dan rekoleksi seharusnya menyadarkan dan menggugah peserta agar dapat lebih maju dalam hidupnya. Orang perlu di goncang dan ditatapkan dengan kenyataan siapa dirinya sesungguhnya. Dengan demikian peserta dapat mengoreksi diri. 
 
Metode menurut beliau boleh apa saja, bahkan dengan bermainpun tidak menjadi soal akan tetapi perlu jelas bahwa metode itu harus menghantar pada tujuan retret atau rekoleksi itu sendiri.
 
Retret dan rekoleksi yang jatuh pada senang-senang saja banyak diminati orang karena itu memberi penghiburan sesaat. Hal semacam itu menina bobokan orang sehingga orang lupa dengan kenyataan diri yang sesungguhnya.
 
Sebagaimana kritik Yeremia kepada nabi-nabi palsu yang memberi harapan palsu kepada umat Israe di pembuangan. Nubuat-nubuat palsu itu menina bobokan umat Israel sehingga tidak sadar akan kesalahan mereka dan tidak bertobat.
 
Dalam banyak pengalaman umat lebih senang mendengarkan khotbah-khotbah yang lucu, khotbah-khotbah yang menghibur dengan menyanyi dan semacamnya. Isi khotbah seringkali menjadi nomor sekian. Tidak jarang umat mengatakan: “Saya sudah capai bekerja jadi ke gereja untuk mendapatkan hiburan bukan untuk merenungkan lagi.”
 
Bagaimana dengan aku ? 
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Agustus 2020

Renungan Harian
Minggu, 02 Agustus 2020

Minggu Biasa XVIII
Bacaan I  : Yes. 55: 1-3
Bacaan II : Rom. 8: 35.37-39
Injil     : Mat. 14: 13-21

N g o b r o l

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kunjungan seorang teman. Teman saya ini dulu kami kenal sebagai seorang frater yang saleh. Hidup doanya baik, refleksi-refleksinya mendalam, studinya luar biasa, dan selalu ramah dengan siapa saja. Sekarang dia  sudah berkeluarga dan mempunyai 3 orang putra putri.
 
Saat kami ngobrol-ngobrol sambil minum kopi, tanpa maksud serius, hanya sekedar bercanda saya bertanya: “Bro, apa sih yang tersisa dari formatio (pendidikan) kita yang ada dalam hidupmu berkeluarga?.”
Dengan spontan dan cepat dia menjawab: “Refleksi.”
“Ha ? kamu masih selalu bikin refleksi ? hebat amat.” Kataku.
“Ya bukan refleksi yang seperti kamu bayangin kali Wan, saya hanya ngobrol-ngobrol aja dengan istri.” Jawabnya.
“Ya, tapi itu tidak terjadi sejak awal, kalau gak salah ingat baru setelah anakku ketiga lahir.” Tambahnya.
“Emang kenapa Bro?” tanyaku.
 
“Entah kapan aku lupa, istriku itu ngomong: “ Mas, waktu kita itu habis untuk kerja, urusan rumah, anak-anak dan Gereja. “
Aku lempeng aja jawab: “Ya, itukan pilihan kita, panggilan dan perutusan kita djeng.” Eeee istriku marah: “Susah ya ngomong sama bekas frater. Nasib, nasib.” Aku kaget dan tercenung. 
 
Esok hari, setelah anak-anak tidur, aku bilang ke istriku:
“Djeng, ngeteh yuk.” Istriku kaget, tetapi dia bikin teh. Sambil minum teh, aku ngobrol dengan istri. Aku tanya hari ini anak-anak ngomong apa ke mamanya, terus aku cerita tadi anak-anak ngomong gini. Aku tanya perasaannya hari ini gimana, juga apa yang diharapkan dariku.
 
Sejak saat itu, setiap malam sebelum tidur, entah sambil ngeteh, atau mijitin istri atau sambil tiduran, kami selalu ngobrol. Lama-lama obrolan kami menjadi lebih mendalam, bukan soal-soal yang rutin, tetapi lebih ke pengalaman perasaan. Dan yang menarik, kami selalu mempunyai niat bersama untuk esok hari. Hidup kami jadi lebih indah Wan, he……he.
 
Itu yang saya sebut refleksi Wan. Sebenarnya bagi kami, kami lebih ingin punya waktu untuk menyendiri barang sebentar seperti examen lah biar gak tersesat dalam perutusan ha………..ha. Sori,  bekas aja sok-sok an.” 
 
Mendengarkan sharing teman saya, saya diingatkan betapa penting mengambil waktu untuk masuk dalam kesunyian. Dalam kesunyian aku bertemu dengan diriku sendiri lepas dari segala hiruk pikuk dan puja puji. Dalam kesunyian aku dihadapkan pada diriku sendiri yang sesungguhnya, siapa diriku, dari mana asalku, mau kemana langkahku, jalan mana yang kupilih dan seterusnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, menegaskan pentingnya untuk masuk ke dalam kesunyian . Sebagaimana Yesus yang selalu mencari waktu untuk masuk ke dalam kesunyian.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.