Renungan Harian: 30 April 2021

Renungan Harian Jumat, 30 April 2021

Bacaan I: Kis. 13: 26-33
Injil: Yoh. 14: 1-6

Menenangkan

Dulu, saya pernah diajak untuk terjun payung tandem. Saya tahu bahwa instruktur terjun itu sudah amat berpengalaman dan selama ini aman. Saat esok hari mau terjun, malam hari saya amat gelisah, yang membuat saya hampir tidak dapat memejamkan mata barang sekejap. Beberapa kali harus ke kamar mandi meskipun tidak ada yang dibuang.
 
Pagi hari ketika saya menuju landasan perasaan semakin tidak menentu. Hal buruk selalu menghantui, bagaimana seandainya payung tidak mengembang, bagaimana nanti saya memposisikan kaki pada saat mendarat, banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Semua pikiran itu membuat semakin gelisah.
 
Sampai di tempat berkumpul, saya diajak instruktur untuk memeriksa payung dan memastikan bahwa payung sudah terlipat dengan baik. Setelah itu memastikan helm dan pakaian yang saya kenakan, sudah baik.
 
Saat naik ke pesawat perasaan semakin tidak menentu, seandainya bisa dibatalkan saya ingin membatalkan. Instruktur nampaknya tahu dan mengerti kegelisahan saya. “Tenang, pokoknya ikuti instruksi saya, ikut dan pasrah semua akan baik-baik dan kita akan menari di angkasa,” kata instruktur itu dengan tersenyum. “Rasa takut dan khawatir itu baik agar kita menjadi lebih hati-hati dan teliti,” imbuhnya.
 
Ada perasaan sedikit tenang, mendengar kata-kata instruktur, apalagi beberapa kali instruktur menepuk pundak dan mengajak bercanda. Keyakinan akan kemampuan instruktur dan adanya kepasrahan kepada kemampuannya membuat saya menjadi lebih tenang, sehingga bisa menikmati terjun dengan damai dan selamat.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.”
Kalau dengan manusia saja aku bisa mempercayakan hidupku dan membuat aku tenang, apalagi dengan Allah.
 
Bagaimana dengan aku? Beranikah aku mempercayakan hidupku kepada Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 29 April 2021

Renungan Harian
Kamis, 29 April 2021
PW. St. Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Kis. 13: 13-25
Injil: Yoh. 13: 16-20

Tidak Tahu Diri

Dulu, sewaktu saya masih frater, saya bertemu dengan seorang ibu yang aktif dalam berbagai karya sosial. Salah satu karya sosialnya adalah mendampingi para perempuan pekerja seks komersial (PSK). Ibu dan teman-temannya memberikan berbagai pelatihan keterampilan kepada para PSK dengan harapan bisa sebagai bekal hidup, dan harapan yang lebih besar, para PSK itu bisa keluar dari situasinya saat ini.
 
Ibu itu bercerita bahwa banyak perempuan yang “terpaksa” dan “terjebak” menjadi PSK karena masalah ekonomi. Mereka tidak punya kemampuan untuk menyambung hidup sehingga menjadi PSK. Oleh karena itu dengan usaha memberi ketrampilan bisa menjadi bekal para PSK untuk keluar dari situasinya.
 
Ada satu PSK yang amat rajin mengikuti kegiatan itu dan menurut ibu itu amat berbakat dalam menjahit dan membordir. Sehingga ia menjadi lebih cepat maju dibanding dengan teman-temannya. Ibu itu mempunyai usaha menjahit, maka sering ibu meminta jasanya untuk menjahit dan membordir. Karena pekerjaannya halus dan rajin, ibu itu menawarkan agar dia keluar dari lokalisasi itu. Perempuan itu mengatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh ingin bertobat, dan ingin memulai hidup baru.
 
Melihat kesungguhan niatnya, ibu itu menawarkan untuk ikut bekerja dengan ibu itu dan tinggal di rumahnya. Perempuan itu menerima tawaran dengan senang hati. Dan kemudian perempuan itu bekerja dengan ibu itu dan tinggal di rumahnya.
 
Perempuan itu bekerja dengan baik, dan bersikap amat baik di rumah  ibu itu. Sehingga dengan cepat dapat berbaur dengan pegawai lain dan tetangga-tetangga di tempat ibu itu tinggal. Bagi ibu itu, perempuan itu sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya.
 
Setelah 6 bulan perempuan itu tinggal di rumah itu, petaka menimpa keluarga ibu itu. Tanpa diketahui dan disadari oleh ibu itu, perempuan itu menjalin hubungan asmara dengan suaminya. Dan entah bagaimana suaminya pergi dari rumah dengan perempuan itu. Ibu itu amat terpukul dan amat sedih. Orang yang ditolong dan bahkan diangkat menjadi saudara tetapi malah menghancurkan keluarganya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Bukankah bila aku mengingkari Tuhan berarti aku mengangkat tumitku terhadap Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 April 2021

Renungan Harian
Rabu, 28 April 2021

Bacaan I: Kis. 12: 24-13:5a
Injil: Yoh. 12: 44-50

Representasi

Ketika awal-awal menjalani tahun orientasi kerasulan, saya diberi tahu romo rektor, kalau suster-suster dan beberapa umat yang kenal mengatakan bahwa frater seringkali kalau pergi pakai t-shirt, menurut mereka itu tidak pantas. Dan hal yang kedua yang menurut mereka tidak pantas, beberapa kali frater terlihat duduk di pinggir pantai.
 
Mendengar teguran itu saya tidak senang, karena menurut saya tidak ada yang salah dan tidak ada yang saya langgar dengan cara saya berpakaian. Saya lebih senang memakai t-shirt karena di Dili udaranya amat panas, sehingga lebih nyaman menggunakan t-shirt. Hal kedua apa salahnya saya menikmati keindahan pantai di sore hari. Pantai di Dili amat bagus, apalagi sore hari.
 
Romo rektor, mengingatkan saya bagaimanapun juga bahwa saya adalah frater, maka penampilan dan tingkah laku saya harus menampilkan citra seorang religious yang baik dan terhormat. Apalagi bagi umat di Timor Timur (Timor Leste) kaum religius dianggap manusia setengah dewa. Bagi umat di Timor-Timur para religious harus menampilkan sosok Kristus.
Sejak saat itu kalau keluar rumah, saya harus pakai kemeja yang rapi dan menghindari hal-hal yang dianggap umat tidak pantas.
 
Pengalaman awal-awal masa tahun orientasi itu menjadi bekal bagi saya  dan selalu terngiang hingga kini. Setelah menjadi imam, tuntutan umat akan perilaku sebagai imam semakin tinggi. Ada banyak hal yang bagi saya hal biasa tetapi bagi umat dianggap tidak pantas dan menjadi sandungan. Oleh karenanya hal ini sering menjadi tegangan dalam diri saya. Sering saya mengatakan dalam hati: “Imam kan juga manusia.” Atau sering saya membuat rasionalisasi: “Itu kan pendapat orang-orang tua yang punya pandangan kuno.”
 
Apapun alasan saya, satu hal yang harus saya sadari, bahwa saya sebagai imam, yang berarti sebagai utusan harus merepresentasikan Dia yang mengutus aku. Bahkan sering kali imam disebut sebagai “alter Kristus” (menampakkan Kristus). Belajar untuk selalu sadar dan menyadari perilaku agar lewat hidupku semakin hari semakin merepresentasikan Dia yang telah memanggil dan mengutus aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Barang siapa percaya kepadaKu, ia percaya kepada Dia yang telah mengutus Aku; dan barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah dalam panggilan dan perutusanku masing-masing, aku telah merepresentasikan Dia yang memanggil dan mengutus aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 April 2021

Renungan Harian
Selasa, 27 April 2021

Bacaan I: Kis. 11: 19-26
Injil: Yoh. 10: 22-30

Seandainya

Suatu sore saya berkunjung ke rumah salah satu umat di paroki tempat saya bertugas. Keluarga itu mempunyai toko grosir barang-barang kelontong yang cukup besar. Selain menjual di tokonya, Mereka juga mempunyai beberapa karyawan yang menjual barang-barang itu ke toko-toko atau warung-warung di pasar.
 
Ketika kami ngobrol, bapak itu bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga sampai di tempat ini.
“Romo, saya itu selalu bersyukur dengan peristiwa pahit yang dialami oleh keluarga saya. Bukan maksud saya mensyukuri kegagalannya, tetapi saya bersyukur karena dengan peristiwa itu membuat saya dan adik-adik jadi hidup lebih baik.
 
Romo, saya tiga bersaudara, saya sulung dan mempunyai 2 adik, satu laki-laki dan satu perempuan. Bapak adalah pengusaha sukses untuk ukuran kampung kami. Bapak punya toko yang jual pupuk dan bibit, punya penggilingan padi dan punya sawah yang cukup luas. Bapak juga mempunyai 3 buah truk yang mengangkut hasil bumi dari kampung untuk dijual ke kota. Dengan semua itu kami hidup lebih cukup, bahkan untuk ukuran kampung kami, keluarga kami bisa disebut sebagai keluarga yang berada.
 
Di saat teman-teman pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, kami sudah naik sepeda atau diantar dengan sepeda motor. Saya diberi bekal uang yang lebih dari cukup, sehingga sering saya mengajak teman-teman untuk jajan. Saya selalu berbagi dengan teman-teman. Kami mempunyai halaman yang luas, sehingga saya dan teman-teman sering bermain bola atau main apa saja di halaman rumah. Dan yang paling menyenangkan adalah ibu selalu menyediakan makanan untuk saya dan teman-teman.
 
Saat saya kelas tiga SMP, bapak bangkrut karena ditipu oleh teman dekatnya yang sejak semula sudah dianggap adik oleh bapak. Semua habis romo, syukur pada Allah masih menyisakan sepetak sawah yang kemudian digarap oleh bapak untuk menyambung hidup kami. Situasi membuat kami sungguh-sungguh menderita. Kami semula selalu berlebih sekarang serba kekurangan, bahkan untuk makan pun kami sering kesulitan.
 
Peristiwa itu membuat saya setelah lulus SMP merantau bersama dengan adik  saya yang baru kelas 1 SMP. Kami berdua berpikir dengan kami merantau kami mengurangi beban orang tua di rumah. Kami berdua kerja apa saja untuk makan. Kami jadi kuli di pasar, jadi pembantu di warung, pernah jadi kernet angkot apa saja romo kami kerjakan. Sampai kami kemudian diterima kerja di sebuah toko kelontong. Saya dan adik bekerja sebagai tukang angkut barang dan mengantar barang ke konsumen.
 
Dengan kerja seperti itu saya mulai kenal dengan sales-sales yang datang ke toko kelontong tempat kami bekerja. Dari perkenalan itu, beberapa sales sambil bergurau ngomong, kalau kami punya toko, akan dipasok barang-barang dan bisa bayar dengan tempo 2 minggu. Saya tertawa aja karena bagaimana saya bisa punya toko.
 
Romo, Tuhan itu selalu punya cara untuk memberikan anugerah. Tidak ada angin, tidak ada hujan, bos saya bilang ke saya, kalau dia punya toko di pasar yang tidak pernah dipakai. Saya ditawari mau pakai dan jualan di sana tidak? Barang-barang boleh ambil dari sini lebih dahulu nanti baru bayar.
 
Romo, sejak saat itu hidup kami, saya dan adik mulai berubah. Toko kami menjadi maju, kami punya banyak langganan sehingga kami bisa bantu adik yang perempuan sekolah hingga lulus kuliah, dan bisa bantu-bantu untuk bapak dan ibu di kampung.
 
Kemudian, saya memutuskan untuk buka toko di tempat ini, dan adik tetap di toko kami yang awal. Romo, sampai sekarang saya selalu berpikir seandainya bapak dahulu tidak bangkrut mungkin saya tidak bisa jadi orang seperti ini. Mungkin saya hanya jadi anak yang mengandalkan harta orang tua. Saya selalu bersyukur bahwa dibalik kehancuran dan penderitaan yang luar biasa ternyata itu cara Tuhan mendidik dan menuntun saya menjadi orang,”  bapak itu mengakhiri kisahnya.
 
Tuhan sungguh luar biasa seperti yang bapak itu katakan. Tuhan punya cara yang sering kali tidak masuk akal untuk menuntun dan membibing umatNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul, peristiwa penganiayaan pengikut Kristus setelah Stefanus dibunuh, menjadikan kabar gembira tentang Yesus Kristus menjadi tersebar kemana-mana keluar dari Yerusalem. Seandainya tidak ada penganiayaan mungkin hanya terbatas di sekitar Yerusalem saja. “Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku menemukan rahmat dibalik peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan – CLC-DI-YOGYAKARTA

Acara Bersama
CLC Yogyakarta & Realino SPM

Kami mengundang para sahabat CLC untuk mendengarkan pengalaman dan kisah yang akan disampaikan langsung oleh Fr. Diakon Pieter Dolle, S.J. dalam “Berjalan Bersama yang Tersingkirkan”.

Harapan kami, ada sahabat-sahabat CLC yang ikut tergerak untuk mendukung dan/atau menjadi sukarelawan. Di sisi lain, Realino SPM bisa menjadi sarana bagi orang-orang yang sungguh ingin terlibat dalam karya nyata bagi mereka yang tersingkirkan.

Kami mengadakan acara pada:
Senin, 26 April 2021
Pukul 18.00 s/d 19.00 WIB
Link Zoom akan kami bagikan beberapa jam sebelum acara.

AMDG
Berkah Dalem

CLC Yogyakarta & Realino SPM

Link Zoom untuk acara
CLC Yogyakarta & Realino SPM

Berjalan Bersama yang Tersingkirkan
26 April 2021
18:00 (6 sore) WIB

Meeting ID: 635 898 5886
Passcode: clc

Link Zoom
https://zoom.us/j/6358985886?pwd=OHpDMEZOWE1ZeXl5bFMwcEJpNTI3QT09

AMDG
Berkah Dalem

—————————

PELAKSANAAN ACARA

  • Selamat datang dalam zoom

Doa Pembukaan dan Pengantar (Mas Heri)

MC memperkenalkan narasumber dan memberikan waktu untuk presentasi (Mb Lia)

Presentasi materi oleh Narasumber (Fr. Diakon Pieter Dolle, SJ)

Tanya jawab/tanggapan/sharing peserta atas presentasi materi ..

BAHAN/MATERI PRESENTASI

TERIMA KASIH … AD MAIOREM DEI GLORIAM

Renungan Harian: 26 April 2021

Renungan Harian
Senin, 26 April 2021

Bacaan I: Kis. 11: 1-18
Injil: Yoh. 10: 1-10

Aku  Bukan Pemilik

Pada suatu kesempatan, seorang Uskup menegur seorang Imam yang tidak mengikuti  pertemuan para imam. Beberapa waktu sebelumnya bapak Uskup sudah menegaskan penting pertemuan para imam, karena pertemuan ini adalah bagian bina lanjut (on going formation) bagi para imam. Saat ditegur bapak Uskup, imam itu menjawab bahwa pada hari itu ada acara pertemuan penting di parokinya. Mendengar jawaban imam tersebut bapak Uskup mengatakan:
“Romo, Gereja tidak akan bubar karena romo tinggalkan ikut pertemuan imam.”
 
Saya ingat sebuah kisah. Ada seorang penggembala kambing, yang sedang menggembalakan kambingnya di sebuah padang rumput. Kambing yang digembalakan amat banyak sehingga dia selalu membawanya di padang yang cukup luas.
 
Ketika sedang menggembalakan ada seorang bapak yang menyapanya: “Pak, ada berapa jumlah kambing bapak?”
“Maaf, semua ini bukan kambing-kambing saya, saya hanyalah penggembalanya saja. Saya tidak tahu berapa jumlah kambing-kambing itu,” jawab si gembala.
“Kalau tuanmu apakah tahu berapa jumlah kambing-kambing itu?” tanya bapak itu.
“Tuanku pasti tidak tahu jumlah kambing-kambing itu karena saya yang selalu menggembalakan dan mengurusnya.” Jawab si gembala.
“Saya beli kambing 1, saya hargai 500 ribu ya?” kata bapak itu.
“Maaf pak, kalau soal jual beli silahkan langsung menghubungi tuan saya,” kata si gembala.
“Tuanmu kan tidak tahu berapa jumlah kambingnya, kamu pun tidak tahu. Jadi kalau saya ambil satu tidak ada yang tahu, dan uangnya untuk kamu” desak bapak itu.
“Pak, saya bukan pemilik, saya hanya gembala, jadi saya tidak berhak untuk menjual kambing itu. Meskipun tuan saya dan saya tidak tahu berapa jumlah kambing itu, tetapi saya tahu bahwa kambing itu berkurang satu kalau bapak beli,” jawab si gembala.
 
Berdasarkan kejadian dan kisah di atas, saya diingatkan bahwa saat saya menjalani perutusan, saya bukan pemilih karya itu. Saya adalah utusan yang mengerjakan karya itu. Maka ketika saya merasa sukses dengan sebuah karya, tidaklah pantas saya mengaku bahwa itu adalah karya saya, sehingga ketika saya dipindah tugaskan untuk karya yang baru, saya menjadi kesal dan marah.
 
Ada kecenderungan besar dalam diri saya untuk merasa bahwa karya ini adalah milik saya dan saya menyombongkan diri bahwa kalau tidak ada saya karya ini tidak akan berhasil. Kalau saya bertindak seperti itu maka saya bagai pencuri di kandang domba. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku merasa karya ini sebagai karyaku dan milikku atau aku sadar sebagai seorang utusan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 April 2021

Renungan Harian
Minggu, 25 April 2021

Bacaan I: Kis. 4: 8-12
Bacaan II: 1Yoh. 3: 1-2
Injil: Yoh. 10: 11-18

Belajar Jadi Gembala

Ketika saya pertama kali tiba di Dili Timor-Timur (Timor Leste)  pater Rektor, pater Albrecht mengeluh mengapa saya dikirim ke sini, sementara menurut beliau Seminari Bunda Maria Lahane tidak membutuhkan tenaga. Kemudian pater Albrecht meminta saya untuk membantu pater Rutten mengurus “toko” kecil melayani kebutuhan seminaris berkaitan dengan fotocopy dan alat tulis.
 
Mendengar apa yang dikatakan pater Albrecht saya shock apalagi saya mendapat tugas “hanya” mengurus “toko” kecil itu. Tetapi tidak ada pilihan lain bahwa saya taat menjalankan tugas itu. Saya melayani seminaris yang fotocopy atau membutuhkan alat tulis. Terlintas dalam diriku: “datang jauh-jauh hanya untuk jadi tukang fotocopy”.
 
Setelah seminggu menjadi “tukang” fotocopy, saya dipanggil pater Albrecht untuk wawancara. Beliau berkata: “Iwan, saya tahu bahwa kamu pasti tidak suka atau marah dengan tugasmu sekarang ini. Saya tahu bahwa kemampuanmu pasti lebih dari sekedar menjadi “tukang fotocopy”. Saya sendiri juga masih belum tahu tugas apa yang hendak saya berikan kepada kamu. Namun saya minta kamu menjalankan dan menghayati tugas itu sebagai sarana belajar menjadi gembala yang baik.
 
Kamu harus memastikan bahwa para seminaris yang kamu layani mendapatkan pelayanan yang terbaik. Saat memfotocopy pastikan hasilnya amat baik, bahkan kalau perlu mereka mendapatkan hasil yang amat baik yang tidak mereka duga. Berilah saran pada mereka kalau apa yang hendak di fotocopy kurang baik.
 
Belajarlah untuk memberikan waktumu sepenuhnya untuk melayani kebutuhan mereka. Sekarang hanya kebutuhan fotocopy dan alat tulis. Mungkin suatu saat nanti kamu harus melayani orang-orang berkaitan dengan kebutuhan hidup mereka. Pada saat itu mungkin bukan hanya waktu yang diminta darimu, tetapi hidupmu bahkan nyawamu.”
 
Kata-kata pater Albrecht pada saat itu bagiku berbunyi sekedar penghiburan atas kegundahanku dengan tugas “sepele” itu. Namun tidak untuk saat ini. Kata-kata itu amat berharga karena beliau menunjukkan dengan hidupnya.
 
Pada saat jajak pendapat dengan hasil Timor-Timur lepas, pater Albrecht berkeliling membagikan kebutuhan hidup untuk banyak orang yang mengungsi. Beliau tanpa lelah dan tanpa takut bergerak untuk memastikan bahwa mereka yang dilayaninya mendapatkan hidup yang baik. Dan karena tindakannya itu bukan hanya waktu, tenaga  yang diberikan, Ia telah memberikan nyawanya. Ia ditembak di depan pastoran dan meninggal.
 
Bagiku beliau telah menjadi martir yang luar biasa. Beliau telah memberikan nasihat yang luar biasa, beliau telah memberikan teladan sebagai gembala yang baik pada seorang frater sombong yang marah karena hanya jadi tukang fotocopy.
 
Sebagaimana sabda 0Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku seorang gembala yang baik?
 
Pater Albrecht, doakanlah aku.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 April 2021

Renungan Harian
Sabtu, 24 April 2021

Bacaan I: Kis. 9: 31-42
Injil: Yoh. 6: 60-69

Setan Penunggu Rumah

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan tamu sepasang suami istri. Mereka bertanya apakah saya bisa dan mau mengusir setan di rumah mereka. Bapak itu bercerita bahwa rumah mereka hawanya panas, semua orang di rumah mudah terpancing emosi. Bapak itu menuturkan apapun bahkan hal sepele yang seharusnya tidak menjadi sumber keributan bisa menjadi sumber keributan yang besar.
 
Masih menurut bapak itu, bahwa semua orang di rumah itu bisa marah-marah tanpa sebab, bukan hanya dirinya atau istrinya, anak-anak dan asisten rumah tangganya pun bisa amat mudah terpancing emosi. Selain soal emosi, di rumahnya banyak barang mudah jatuh dan pecah. Sudah banyak piring, gelas dan alat makan yang jatuh dan pecah. Bapa itu bercerita bahwa dirinya memegang gelas hendak minum air putih entah bagaimana gelasnya bisa pecah. Masih banyak hal lain yang tidak masuk akal terjadi di rumah mereka.
 
Ibu itu menyambung cerita suaminya, bahwa pernah ada tamu kerabatnya yang mengatakan bahwa di rumah itu ada penghuninya yang tidak senang dengan keluarga itu sehingga mengacaukan agar keluarga itu menjadi hancur. Kerabat mereka itu menganjurkan agar mencari pastor yang bisa mengusir setan.
 
Saya menyampaikan bahwa saya bukan pengusir setan, dan tidak punya keahlian dalam usir mengusir setan tetapi saya akan datang ke rumah mereka dan akan berdoa serta memberkati rumah mereka.
 
Pada hari yang sudah kami sepakati saya berkunjung ke rumah keluarga itu. Sesampai di rumah itu, saya bertemu dengan putrinya yang sedang duduk di teras. Melihat saya datang, putrinya itu berteriak memanggil papanya. Tidak berapa lama papanya keluar dan spontan marah ke anak perempuannya:
“Bagaimana sih kamu, pastornya kok tidak disuruh masuk, masak sudah besar begitu saja tidak bisa, dasar tolol.” Anak perempuan itu masuk ke dalam rumah dan terdengar suara pintu di banting.
 
Setelah kami duduk dan ngobrol basa basi, asisten rumah tangga datang membawa teh hangat untuk kami. Saat bapak itu minum, spontan marah ke istrinya karena tehnya manis. Istri memanggil asisten rumah tangga dan menegur kenapa tehnya bapak manis. Asisten rumah tangga itu menjawab bahwa ibu meminta dibuatkan teh manis untuk bapak dan tamu. Terjadi keributan di ruang tamu soal teh manis itu.
 
Setelah mereka reda dengan keributannya, saya mengatakan:
“Bapak, maaf menurut saya di rumah ini tidak ada setan penunggu dan pengganggu.”
“Pastor kan lihat sendiri kami bisa ribut seperti ini, dan itu terjadi setiap hari,” bapak itu menjawab.

“Bapak, hawa panas dalam rumah ini sumbernya bukan setan penunggu tetapi sumbernya karena tidak ada damai di rumah ini.
 Bapak, ibu, jangan mencari kambing hitam untuk hawa panas di rumah ini yang menjadi sumber keributan. Sumber dari semua masalah ini, mohon maaf, menurut saya adalah tidak adanya saling menghormati di rumah ini. Maka, mulai sekarang belajar saling menghormati satu dengan yang lain. Hal sederhana yang bisa dimulai adalah saling menyapa, selamat pagi atau selamat siang atau apapun dengan senyum, dan yang kedua semua belajar mendengarkan satu sama lain,” saya menjelaskan.
 
Saya mengajak semua anggota rumah berdoa bersama dan mengajak untuk saling bermaaf-maafan.
 
Betapa sering aku mencari kambing hitam untuk ketidak damaian diriku atau keluargaku. Dan yang paling mudah dikambing hitamkan adalah setan penunggu. Aku sering lupa bahwa kedamaian itu bersumber dari diriku sendiri yang selalu memancarkan damai bagi diriku dan orang lain.
 
Sebagaimana jemaat perdana hidup dalam damai, sebagaimana diwartakan dalam kisah para Rasul, bukan pertama-tama karena Saulus bertobat tetapi karena mereka hidup dan dibangun di dalam kasih. “Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku meletakkan kedamaianku dalam diri orang lain?
 
Iwan Roes RD. 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Kegiatan KOLEGIUM-CLC-DI-BANDUNG

Mengapa kita perlu Refleksi?

Pertanyaan sederhana, namun jawabannya dapat mengubah cara kita bertindak, merasa dan berpikir. Pertanyaan yg membantu kita memahami manfaat refleksi bagi diri dan sesama.

Dalam rangka Pertemuan Kelompok Kecil Bersama, CLC di Bandung mengundang Bapak, Ibu, Saudara dan saudari sekalian untuk hadir dan mengikuti,

Rekoleksi “Mengapa Kita perlu Refleksi?”
Minggu, 25 April 2021
09.00-12.30 wib
Pendamping Rekoleksi:
Romo Rusbani Setiawan Pr. (Iwan Roes; pendamping Renungan Harian CLC)

melalui Zoom Meeting, interaktif (pastikan microphone&kamera/video zoom anda berfungsi)
https://us02web.zoom.us/j/81482141337?pwd=WlE2SjE1OTJ3QlN0NHFiaUgvU1J3UT09
Meeting ID: 814 8214 1337
Passcode: CLCbdg
(ruang virtual akan dibuka pkl.08.45)

Undangan untuk anggota CLC dan umat kristiani secara umum.

Sampai berjumpa nanti

Ad Maiorem Dei Gloriam
Kolegium-CLC di Bandung

Dokumentasi saat acara berlangsung.

Sesi Perkenalan.. dipandu oleh Gregorius Tjaidjadi (Rius)

Menonton video lagu “BRIDGE OVER TROUBLED WATER” dan merenungkan apa yang mengesan

Presentasi Materi tentang “Refleksi” oleh Rm. Rusbani Setiawan, Pr. (Rm Iwan / Iwan Roes -pendamping Renungan Harian CLC)

Kesempatan bertanya atas materi yang sudah dipresentasikan ..

Sharing dalam Kelompok Kecil

Pleno dilanjutkan dengan aneka pengumuman

Rekap/Refleksi materi dalam gambar oleh Ibrahim Aryon (Ibra)

TERIMA KASIH …