Renungan Harian: 26 Mei 2021

Renungan Harian
Rabu, 26 Mei 2021
PW. St. Filipus Neri, Imam

Bacaan I: Sir. 36: 1.4-5a. 10-17
Injil: Mrk. 10: 32-45

Cinta Dengan Pamrih

Beberapa tahun yang lalu, di suatu sore, saya kedatangan tamu, perempuan muda calon pengantin yang diantar kedua orang tuanya. Setelah berbasa-basi sebentar, Bapak calon pengantin itu membuka pembicaraan:
“Romo, saya mengantarkan putri saya, yang ingin bicara dengan romo. Soal apa dan bagaimananya biar dia sendiri yang bicara.”

“Romo, saya datang dengan mengajak kedua orang tua saya, mau menyampaikan  bahwa rencana perkawinan saya dan calon saya dibatalkan, dan saya mohon petunjuk apa yang harus saya lakukan,” kata putri itu.

Saya agak terkejut mendengarnya karena perkawinan itu tinggal 1 bulan lagi.

“Maaf, kalau boleh tahu, ada masalah apa?” tanya saya.
 
“Romo, persoalan ini sebenarnya sudah lama tetapi waktu itu saya tidak berpikir mendalam. Romo, kami berdua dipercaya untuk mengelola salah satu usaha keluarga. Setahun lalu ketika kami memutuskan menikah, calon suami pernah bicara agar usaha yang kami kelola itu diserahkan resmi kepada kami. Waktu itu saya pikir baik juga, tetapi papa bilang nanti aja kalau sudah menikah. Beberapa waktu kemudian, saya mau beli mobil dengan uang tabungan saya, calon suami minta agar atas nama dia dengan alasan supaya tidak kena pajak progresif karena saya sudah punya motor atas nama saya. Waktu itu saya setuju aja padahal dia juga punya motor atas nama dia.
 
Romo, puncaknya satu bulan lalu, calon suami ini marah-marah, karena rumah yang menjadi hadiah perkawinan kami atas nama saya. Menurut dia seharusnya atas nama dia, karena dia adalah kepala rumah tangga. Dengan rumah itu atas nama saya berarti orang tua saya tidak percaya dengan dia. Saya sudah mengatakan itu masalah kecil nanti setelah menikah bisa balik nama. Dia tidak terima dan marah, romo, bahkan terucap kata kalau seperti ini lebih baik tidak usah menikah. Saya kaget romo, lho kenapa masalah rumah jadi masalah besar padahal saya sudah mengatakan nanti bisa balik nama. Dia maunya sekarang balik nama, jadi sebelum menikah sudah atas nama dia.
 
Romo, saya seperti disadarkan, jangan-jangan dia mau menikah dengan saya bukan karena sungguh-sungguh mencintai saya tetapi karena keinginan untuk mendapatkan harta. Setelah saya timbang-timbang dan berbicara dengan papa mama, saya semakin yakin bahwa dia hanya mengincar harta. Papa banyak cerita tentang perilaku dia yang berkaitan dengan harta ini romo.
 
Romo, saya sudah mantap untuk membatalkan rencana perkawinan ini. Saya sedih sekali romo, tetapi saya yakin ini jalan yang terbaik untuk masa depan saya,” putri itu mengakhiri kisahnya yang diceritakan dengan berurai air mata.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, kedua Murid Yohanes dan Yakobus tidak mengerti apa arti mengikuti Yesus yang sesungguhnya sehingga meminta agar memperoleh jabatan bila Yesus menjadi Raja Israel (dalam arti manusiawi).  “Perkenankalah kami ini duduk dalam kemuliaan Mu kelak, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri Mu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang aku harapkan dengan mengikuti Yesus?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 25 Mei 2021

Renungan Harian
Selasa, 25 Mei 2021

Bacaan I: Sir. 35: 1-12
Injil: Mrk. 10: 28-31

“Warisan”

Beberapa tahun yang lalu saya mengadakan ibadat pemberkatan tempat usaha milik salah seorang umat. Tempat usaha ini memindahkan tempat usaha yang sebelumnya ada di tempat tinggalnya. Di akhir ibadat saya mengucapkan selamat atas dibukanya tempat usaha yang baru dan semoga berkembang dengan baik.
 
Pada saat makan bersama, pemilik tempat usaha itu duduk di sebelah saya dan kami ngobrol-ngobrol. Kemudian bapak itu berceritera tentang awal mula membuka tempat usaha.
“Romo, sebelum membuka usaha di tempat ini sebetulnya saya sudah bekerja di kota lain. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan saya mempunyai karir yang cukup baik. Jadi sebenarnya saya tidak pernah bermimpi untuk tinggal di kota ini dan membuka usaha di kota ini.
 
Awal mulanya, papa mulai sakit-sakitan, mama harus mengurus dan menemani papa, sehingga usaha papa tidak ada yang mengurus. Dua orang kakak saya yang tinggal di kota ini tidak mau mengurus usaha papa, karena mereka sudah mempunyai usaha masing-masing. Papa minta saya pulang untuk mengurus usaha papa. Papa mengatakan pada saya, nanti usaha papa ini diwariskan ke saya, karena dua kakak saya sudah punya usaha masing-masing yang awalnya adalah usaha papa.
 
Romo, jujur saat itu saya mau pulang karena dijanjikan warisan usaha papa. Saya berpikir daripada saya kerja ikut orang lebih baik saya  punya usaha sendiri. Maka saya pulang dan meneruskan usaha papa. Puji Tuhan romo, usaha berkembang dengan baik dan menjadi besar. Ketika usaha ini menjadi besar, kedua kakak saya mulai mengungkit bahwa usaha papa itu seharusnya diserahkan kepada mereka. Pada saat itu saya kaget dan marah romo, karena saat mereka ditawari untuk mengurus tidak ada yang mau sekarang sudah menjadi besar mereka mau mengambil.
 
Romo, kedua kakak saya bukan hanya meributkan usaha papa, tetapi juga rumah tempat tinggal papa. Romo, saya kasihan dengan papa dan mama. Hampir setiap hari, kedua kakak saya meributkan soal warisan, padahal papa dan mama masih hidup. Puncak dari keributan itu,  kedua kakak saya mengusir saya dari rumah papa dan mama serta tidak boleh lagi mengurus usaha papa. Ketika saya mengatakan kasihan papa dan mama, mereka menganggap itu hanya alasan saya agar mendapatkan semua warisan papa.
 
Romo, meskipun awalnya saya mau pulang demi warisan, saat itu yang saya pikir hanya papa dan mama. Saya ingin merawat mereka. Akhirnya saya kontrak rumah dan mengajak papa dan mama tinggal dengan saya. Di rumah kontrakan itu saya memulai usaha dan puji Tuhan romo, usaha saya maju sehingga bisa seperti ini. Saya merasa semua ini berkat doa papa dan mama  untuk saya. Saya kalau ingat motivasi awal pulang ke rumah demi warisan jadi malu, tetapi sekarang yang penting bagi saya adalah  menemani, merawat dan dekat dengan papa dan mama,” bapak itu mengakhiri kisahnya yang panjang.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus menjanjikan anugerah 100 kali lipat dari apa yang ditinggalkan muridNya yang mengikuti Dia. Janji Yesus itu seringkali menjadi motivasi utama untuk mengikuti Yesus, artinya berani melepaskan segalanya karena akan mendapatkan 100 kali lipat. Pikiran dan mimpi yang berfokus pada anugerah 100 kali lipat menjebak seseorang; orang menjadi lupa bahwa tujuan utama meninggalkan segala sesuatu agar dapat dengan utuh mengikuti dan dekat dengannya. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali 100 kali lipat.”
 
Bagaimana dengan aku? Ikut Yesus demi anugerah 100 kali lipat atau karena ingin semakin dekat denganNya?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 24 Mei 2021

Renungan Harian
Senin, 24 Mei 2021
PW. St. Perawan Maria Bunda Gereja

Bacaan I: Kej. 3: 9-15. 20
Injil: Yoh. 19: 25-34

Ibu-ibu Milenial

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama beberapa teman ngobrol-ngobrol di sebuah café. Obrolan kami berubah topik dari topik rencana kerja beralih ke topik ibu-ibu milenial. Perubahan topik itu terjadi karena salah seorang teman meminta kami untuk memperhatikan ibu-ibu yang datang bersama anaknya yang masih di bawah 2 tahun.
 
Kami melihat beberapa ibu muda yang datang sibuk dengan gadget mereka, hampir tidak memperhatikan anaknya. Beberapa menyerahkan anaknya pada baby sitter, ada juga beberapa yang menangani anaknya sendiri. Beberapa ibu yang tidak menggunakan jasa baby sitter memberi minum dan makan ke anaknya akan tetapi tetap memegang gadget bahkan ada yang fokusnya tetap di gadgetnya sembari menyuapi anaknya.
 
Seorang teman berkomentar:
“Itulah salah satu  bentuk “evolusi” ibu.” Teman lain menceritakan keluhan seorang ibu yang melihat menantunya selalu sibuk dengan gadgetnya sehingga perhatian ke anaknya sering abai. Bahkan ibu itu juga bercerita karena sibuk dengan gadgetnya seringkali menjadi tidak peka dan tidak perhatian dengan yang lain. Sebagai contoh disebutkan ketika sedang liburan bersama, semua orang menunggu menantunya untuk pergi keluar mencari makan. Namun ditunggu dan ditunggu menantunya tidak keluar kamar, dan apa yang terjadi dia di kamar sedang sibuk dengan gadgetnya. Ketika ditegur dengan tidak bersalah menganggap bahwa mereka semua tidak lapar.
 
Teman lain tidak setuju dengan kata “evolusi”.  Betul bahwa ada banyak ibu-ibu milenial berperilaku seperti itu akan tetapi banyak pula ibu-ibu milenial yang memerankan tugas ibu dengan luar biasa. Teman itu bercerita tentang keluarga temannya. Istri temannya adalah lulusan S2 dari sebuah Universitas ternama di Amerika. Ketika mereka mempunyai anak, istrinya memutuskan untuk berhenti bekerja dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Mereka tidak menggunakan asisten rumah tangga dan semua keperluan rumah dan mengurus anak dilakukannya sendiri. Istri temannya itu selalu bangga mengatakan dirinya adalah seorang ibu rumah tangga.
 
Teman-teman setuju dengan tanggapan salah seorang teman itu dan menegaskan bahwa ibu-ibu milenial seperti cerita teman itu masih banyak. Ada seorang teman berkomentar bahwa kenapa kita hanya menilai perempuan tidak prianya, itu ketidakadilan gender. Komentar teman itu menjadi diskusi menarik berkaitan ketidakadilan gender. Setelah diskusi panjang, kami sepakat bahwa peran perempuan sebagai ibu sulit untuk dilepaskan, dan peran itu peran mulia. Peran ibu bukan hanya dilihat bahwa dia melahirkan dan merawat tetapi lebih dari itu ibu adalah perpanjangan tangan Tuhan sebagai sumber kehidupan dan pemelihara kehidupan. Oleh karenanya ibu menjadi roh dalam keluarga.
 
Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kitab Kejadian: “Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa arti ibu bagi hidupku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 Mei 2021

Renungan Harian
Minggu, 23 Mei 2021
Hari Raya Pentakosta

Bacaan I: Kis. 2: 1-11
Bacaan II: Gal. 5: 16-25
Injil: Yoh. 15: 26-27; 16: 12-15

S a k s i

Beberapa tahun yang lalu, saya dipanggil pengadilan untuk menjadi saksi. Pertama saya diambil sumpah/janji yang isinya bahwa saya akan memberikan kesaksian dengan jujur dan benar. Setelah diambil sumpah dan janji, saya diminta untuk menyebutkan identitas diri, dan hakim mencocokkan dengan data yang sebelumnya sudah diminta.
 
Setelah itu, saya ditanya oleh hakim apakah saya kenal dengan orang ini, saya kenal dimana, berapa lama kenal, dalam hubungan apa. Setelah saya menjawab semua pertanyaan tentang pengetahuan saya tentang orang yang saya beri kesaksian, hakim melanjutkan pertanyaan tentang pengetahuan saya atas kasus yang sekarang sedang diadili. Setelah hakim bertanya, giliran jaksa penuntut umum bertanya. Pertanyaan hakim diulang lagi, dan beberapa pertanyaan diulang-ulang. Demikian pula dengan pengacara bertanya hal yang sama dan berulang-ulang. Kiranya pertanyaan yang diulang-ulang untuk mengetahui konsistensi jawaban saya dan kejujuran saya.
 
Pengalaman menjadi saksi di pengadilan menyadarkan saya apa arti menjadi saksi. Saksi harus mengenal sungguh dengan orang yang atas dirinya saya memberi kesaksian. Pengenalan bukan hanya soal dengar-dengar tentang orang itu tetapi punya hubungan tertentu, entah hubungan pertemanan atau hubungan berkaitan dengan pekerjaan tertentu. Selain pengenalan, saksi harus mengetahui tentang peristiwa yang sedang diadili dalam pengadilan. Artinya kalau syarat-syarat itu tidak dipenuhi maka saya tidak bisa menjadi saksi.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes menegaskan panggilan menjadi saksi; memberi kesaksian tentang Tuhan. Dengan demikian saya harus kenal sungguh dengan Tuhan dan tahu tentang karya-karya Tuhan. Saya tidak akan layak dan tidak bisa menjadi saksi apabila saya tidak kenal dengan Tuhan dan karya-karyaNya. “Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku layak dan pantas untuk menjadi saksi?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 22 Mei 2021

Renungan Harian
Sabtu, 22 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 28: 16-20. 30-31
Injil: Yoh. 21: 20-25

Percaya, Diam dan Ikut

Sewaktu saya menjalani Tahun Orientasi Kerasulan, dan sedang belajar bahasa daerah di sebuah desa, saya bertemu dengan seorang tokoh Fretelin. Dalam perjumpaan itu tidak banyak pembicaraan yang saya ingat sampai sekarang tetapi satu hal yang saya ingat adalah “Irmao, kalau Irmao berdiri di balkon (teras pastoran) melihat dalam kegelapan ada sinar-sinar yang berkilatan di hutan sana, itu kami sedang berjuang dan berperang, mohon doakan kami. Irmao jangan terkejut kalau tengah malam ada yang datang minta berkat.” Saya waktu itu hanya mengiyakan karena tidak tahu persis dengan apa yang terjadi dan yang akan terjadi.
 
Suatu hari, tengah malam ada yang mengetok pintu kamar saya. Saya agak terkejut dan sedikit takut, karena sudah larut malam. Saya segera menyalakan lilin, karena di desa itu belum ada listrik dan malam hari penerangan adalah lilin, dan membuka pintu kamar. Salah satu karyawan memberi tahu bahwa ada tamu. Saya menemui 5 orang tamu, perawakannya besar, rambut ikal panjang dan berjenggot. Mereka meminta saya ikut mereka karena ada temannya yang sakit, minta untuk didoakan.
 
Saya berganti pakaian memakai jubah dan ikut mereka. Saya bertanya kepada mereka dimana rumah temannya yang sakit. Salah satu dari mereka menjawab: “Maaf Padre, Padre percaya saja pada kami, Padre diam dan ikut kami.” Salah satu dari mereka memberi saya tutup kepala karena udara amat dingin dan memberi saya ties (kain tenun Timor Leste) untuk menghangatkan badan. Saya naik kuda bersama mereka. Saya tidak tahu dibawa kemana karena saya orang baru dan
waktu itu sungguh gelap gulita. Kami berjalan tanpa menggunakan penerang hanya
mengandalkan ingatan mereka.
 
Setelah perjalan kira-kira
2 jam ( saya tidak tahu persis) kami sampai di tenda tempat teman mereka yang sakit. Saya
menyampaikan bahwa saya belum jadi pastor maka saya tidak bisa
memberi sakramen pengurapan, saya akan mendoakan dan memberikan sakramen maha kudus. Setelah selesai berdoa, dan setelah minum kopi, saya
dipersilakan pulang. Salah seorang dari mereka mengatakan:
“Padre, maaf kami tidak bisa mengantar karena segera terang. Padre pulang sendiri dan kuda ini akan mengantar Padre dengan selamat sampai gereja. Setelah berpelukan dengan mereka saya pulang.
 
Dalam gelam gulita, tidak tahu arah, saya pulang dan ikut kemana kuda itu membawa. Sepanjang jalan saya berdoa rosario, bukan karena saya pendoa tetapi lebih karena saya amat takut. Perasaan tidak aman dan penuh pertanyaan menyelimuti diri saya. Syukur pada Allah, kuda itu mengantar saya sampai pastoran. Di depan pastoran, saya melihat pak Desa, Pak Guru dan beberapa orang menunggu saya di depan gereja. Ketika saya turun dari kuda mereka memeluk saya dan meminta saya istirahat. Tidak ada satupun dari mereka yang bertanya saya dari mana dan bagaimana, sehingga saya pun tidak pernah bercerita pada siapapun pada waktu itu.
 
Pengalaman yang sungguh-sungguh menakutkan dan menegangkan, tetapi saya belajar satu hal yaitu “ikut”. Dalam situasi tertentu jangan banyak bertanya, jangan banyak bicara, percaya dan ikut sehingga selamat.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, mengikuti Yesus adalah percaya, diam dan ikut maka akan selamat. “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku percaya dan ikut Tuhan tanpa syarat?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Mei 2021

Renungan Harian
Jum’at, 21 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 25: 13-21
Injil: Yoh. 21: 15-19

P e t a n i

Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang teman. Teman saya ini sejak lahir, tinggal di kota besar. Dia lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di negeri ini. Setelah lulus dia bekerja di kota besar itu dan mempunyai karir yang luar biasa. Dia telah menikmati kemapanan hidup sebagai orang muda yang sukses. Namun kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan karir yang luar biasa itu dan pindah ke desa asal leluhurnya dan menjadi petani.
 
Dia mengembangkan pertanian organik di desa itu. Dia menggarap tanah milik keluarganya yang tidak seberapa dan menyewa lahan pertanian dari penduduk setempat. Dia mengajak  para pemilik tanah yang disewanya untuk bekerja mengembangkan pertanian organik. Sudah barang tentu bukan hal mudah karena selain membutuhkan kerja keras untuk mengubah cara pandang para petani, juga untuk memasarkan produknya yang tidak murah menjadi tantangan tersendiri.
 
Di desa itu, dia hidup sederhana layaknya petani pada umumnya. Rumahnya penuh dengan alat pertanian, dan beberapa mesin untuk mengolah hasil pertanian. Dia setiap hari selepas kerja di sawah, dia banyak bersosialisasi dengan penduduk desa. Sehingga dalam waktu yang tidak lama dia cukup dikenal oleh warga desa itu. Terbukti ketika saya mencari rumahnya, seorang bapak yang sedang bekerja di sawah ketika saya tanya dimana rumah teman saya, beliau menunjukkan meski jarak dari tempatnya bekerja cukup jauh.
 
Dalam pembicaraan, ketika saya bertanya tentang pilihan menjadi petani, dia mengatakan bahwa dirinya mencintai pekerjaan ini. Dia menjelaskan betapa membahagiakan pekerjaan yang ditekuninya. Dia bercerita dengan berbinar-binar tentang kegiatannya setiap hari, dan usahanya menyadarkan rekan-rekan petani. Dia juga menceritakan tentang pentingnya produk pertanian organik bagi kehidupan manusia dan keseimbangan alam.
 
Dia tidak menampik bahwa pekerjaan yang dijalaninya amat sulit dan menguras tenaga dan pikiran bahkan juga menguras tabungannya. Namun dia bahagia dengan apa yang dijalaninya. Dia mengatakan sekarang hidup dengan sederhana dan kadang sedikit kekurangan tetapi dia merasa nyaman, damai dan bahagia. Sehingga meskipun dia bekerja keras dan meninggalkan segala kenyamanan dan kemapanannya dia amat menikmati kehidupan barunya dan bahagia. Cintanya pada pertanian membuat dia bahagia menjalankan semua aktivitasnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Petrus ditanya Yesus apakah dirinya mencintai Yesus hingga tiga kali untuk menyadarkan dan memurnikan cinta Petrus pada Yesus. Cinta yang tanpa pamrih untuk dirinya sendiri, cinta dengan kerelaan mengosongkan diri dan berserah total kepada Yesus. Dan dengan itu Yesus memberi perintah untuk menggembalakan domba-dombaNya. Menggembalakan domba bukan sebuah keharusan dan tekanan bagi Petrus tetapi menggembalakan domba karena cintanya pada Yesus sehingga Petrus menggembalakan dengan cinta. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku menjalani perutusanku karena cinta?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Refleksi Sahabat CLC – “KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN”

Ketua CLC di Indonesia, Gregorius Tjaidjadi atau yang biasa dipanggil dengan Ko Rius ikut memperingati Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan juga merayakan dan merefleksikan (Pembukaan) Tahun Igantian, 20 Mei 2021 ini dengan menulis refleksi dengan judul tulisanKISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN.

Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.

KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN

Oleh Gregorius Tjaidjadi

Tahun Peringatan 500 tahun pertobahan Ignatius di Hari Kebangkitan Nasional

Berhenti sejenak di hari ini, melihat garis sejarah yang bersilangan membawa banyak kisah dan cerita yang beberapa dasawarsa ini dibaca, didengar, dan coba dipahami. Dua kisah yang hari ini bersilangan di tengah refleksi pagi, sebelum saya memulai kerja di hari ini. Dua kisah itu adalah Kisah Dr. Soetomo yang organisasi Boedi Oetomo-nya (Budi Utomo; BU) kemudian melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, Peringatan Nasional di setiap tanggal 20 Mei. Satunya lagi, kisah Santo Ignatius Loyola, yang secara khusus tahun ini kita peringati, 500 tahun pertobatannya.

Di awal berdirinya, BU muncul sebagai kumpulan orang orang terdidik yang memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat bangsa. Sebuah cita-cita luhur, yang mereka usung lewat berbagai upaya sosial, ekonomi, dan terutama budaya. Sebagai organisasi anak bangsa, yang lahir di era penjajahan Belanda, organisasi ini tidak mengawali kiprahnya dengan membangun narasi besar untuk mengubah status kemerdekaan bangsa, tapi  justru melalui narasi- narasi kecil tentang membangun integritas diri lewat pendidikan dan kebudayaan bangsa. Tidak ada issue politik yang digadang saat awal BU mengawali gerakan mereka, namun niat baik ini kemudian menggelombang, dan mendorong gerakan bangsa untuk bangkit dan menjadi utuh sebagai Bangsa dan Negara yang merdeka.

Demikian juga dengan Ignatius, gelombang besar cara hidup spiritualitas Ignatian yang tersebar dimana-mana saat ini, tidaklah berawal dari cita-citanya untuk mengubah dunia, namun gelombang itu dimulai dari riak kecil pertobatan pribadi, setelah nyaris kehilangan jati diri dihantam peluru meriam yang membekas dalam. Ignatius menemukan titik terendah dalam hidupnya saat itu, kejayaan diri sebagai ksatria, membuatnya hilang arah, ketika mendekam dalam kamar pemulihan tanpa kejelasan masa depan. Titik terendah, berubah menjadi titik balik, saat dia menemukan cita- cita baru, sebuah pertobatan pribadi, dari ksatria yang gemar berbagai kenikmatan duniawi, menjadi peziarah, dengan niat pertobatan lewat mati raga dan mendera diri.

Mendidik diri, mengasah gergaji

Kisah BU dan Santo Ignatius memaparkan sebuah fakta, bahwa proses belajar, dan pendidikan adalah langkah awal yang menjadi bahan bakar perubahan dalam diri dan dalam orang orang yang didampingi. BU tidak serta merta memberikan pendidikan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar tempatnya hidup, namun mengawalinya lewat pengorganisasian dan pengembangan anggota, yang kemudian berdaya, dan mampu berbagi kepada sesama.

Jauh sebelum masa BU, Santo Ignatius sudah mengalami tahap menempa diri yang menghadapkannya dengan kenyataan untuk belajar. Relasinya dengan Tuhan berawal dari kenaifan diri yang melihat hukuman dan pertobatan adalah bentuk relasi dengan Tuhan. Namun Tuhan mengajar Ignatius dengan cara-Nya, sehingga ia menemukan proses pengolahan, pembentukan dan penerimaan diri, sebagai pribadi yang utuh. Tuhan mendidik layaknya seorang guru, yang memberikan pengajaran lewat berbagai peristiwa hidup, dan terutama, lewat perjumpaan Ignatius dengan dirinya sendiri.

Maka tidaklah berlebihan, bila refleksi saya hari ini, menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa sebuah gerakan perubahan besar, selalu berawal dari kesediaan diri untuk belajar, menempa diri dan terus mengasah gergaji*. Hanya dengan kesadaran diri seutuhnya, kita dapat membuat gelombang dan gerakan yang konsisten untuk berubah kearah yang lebih baik. Perubahan besar tentunya tidak selalu berkisah tentang narasi besar dalam hidup, tapi justru dari narasi narasi kecil yang utuh. Apakah saya sadar hari ini? apakah saya hendak memulai hari lebih pagi? Apakah saya akan meluangkan waktu untuk berdoa bersama? Apakah saya mau memperbaiki kesalahan saat bekerja? Apakah saya konsisten berkomunitas? Apakah saya menyadari sungguh setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak-Nya? Apakah saya mampu berbuat lebih baik? Semua hanya dapat dijawab ketika saya mau belajar dan mengembangkan diri.

Berbagi hati, membentuk empati

                Pribadi yang selalu mau untuk belajar, bisa kita kenal lewat para penikmat budaya refleksi. Mereka yang tak jemu, untuk melihat kisah hidup, sebagai guru dan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu kita memahami berbagai peristiwa hidup, dengan kacamata yang baru. Proses ini, membantu keselarasan pola  berpikir, merasa, dan bertindak.

Dalam CLC, kita tahu bahwa budaya refleksi adalah budaya dasar yang selalu disandingkan dengan budaya berbagi. Kita meyakini, bahwa dengan berbagi isi hati, kita dapat terus mempertajam kemampuan kita merasa. Kemampuan mengenali dan mengelola perasaan akan membuat kita lebih jernih melihat peristiwa hidup, baik lewat peristiwa hidup pribadi, maupun mereka yang berbagi dalam kelompok. Bila kita sungguh mengenali rasa dalam diri, dan kemudian dengan pengetahuan yang selalu kita tambah, kita akan mempu mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan, dengan sadar dan utuh.

Keinginan kita untuk selalu belajar lewat refleksi diri, akan menggiring kita untuk menemukan rasa dan empati. Berempati berarti mengubah rasa menjadi tindakan, memperkuat niat dengan keutuhan diri, yang kemudian memunculkan konsistensi dalam bertindak. Sebuah riak kecil yang menciptakan gelombang yang membesar, hanya akan terjadi, ketika riak kecil terus terjadi, terpelihara dan konsisten.

Komunitas dan kisah perubahan

                Saya mengenali CLC sebagai keluarga besar, yang menyediakan ruang dan penghuni, yang konsisten menjadi cermin bagi diri dan sesama untuk berefleksi. Dan dari setiap perjumpaan, proses belajar terjadi. Dari berbagai kisah hidup, berbagai proses pembelajaran dan perubahan dilakukan. Kita melihat betapa spiritualitas Ignatian dan semangat kebangkitan BU, terpatri dalam proses ini. kita menempa diri dengan terus belajar lewat refleksi, kemudian mendorong perubahan lewat empati yang sungguh diyakini. Maka kebangkitan diri adalah konsekuensi yang akan kita terima, saat kita terus belajar mengembangkan diri dan tak ragu mengaktualisasikan empati kita. Maju sebagai pembawa perubahan akan menjadi tantangan yang ada di depan kita. Maka mari kita bertanya pada diri kita sebagai CLC, sudahkan saya berkomunitas untuk bangkit bersama? sudahkah saya berani menjadi pembawa perubahan?

Maka kisah Kebangkitan Nasional, sama seperti napas Siritualitas Ignatian, sebuah kisah mendidik diri lewat refleksi, yang mendorong perubahan perubahan kecil dan besar dalam hidup, sampai akhirnya di suatu titik, kita sungguh dapat berkisah tentang perubahan baik yang dapat kita lakukan, sendiri, maupun bersama. Kisah kebangkitan diri akan terpampang jelas saat Kisah Perubahan terjadi. Beranikah kita untuk berubah? Beranikah kita membawa perubahan? Hari ini? Selamat Hari Kebangkitan Nasional, selamat merefleksikan Tahun Ignatian.

Curriculum Vitae

Foto-foto Rius bersama anggota CLC di Bandung

Foto-foto Rius bersama tim Asia Pasific CLC

Refleksi Sahabat CLC – “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS”

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan sekaligus ikut merayakan pembukaan Tahun Ignasius Loyola bersama para Jesuit, kami sajikan tulisan dari Profesor Dr. Paul Suparno, SJ, M.S.T. yang biasa kami panggil dengan Rm. Paul.

Rm. Paul menyelesaikan karya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada akhir tahun 2020. Saat ini beliau tinggal di Kolese St Ignasius Kotabaru Yogyakarta.
Beliau adalah Asisten Gerejani CLC di Indonesia. Dan juga sebagai pastor pendamping CLC di Yogyakarta.

Berikut kami sajikan tulisan beliau dengan judul tulisan “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS“.

Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.


HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS

Oleh Paul Suparno, S.J.

Hari Kebangkitan Nasional

            Pada tanggal 20 Mei 2021 ini, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Apa yang kita peringati dan bagaimana kita akan memperingatinya?

            Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita ingat gerakan Budi Utomo, yang didirikan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dokter Soetomo serta teman-temnnya. Dokter Wahidin, dokter Jawa yang sangat murah hati untuk membantu orang lain agar maju. Setelah pension dari dokter, ia menjual banyak hartanya dan digunakan untuk membantu pendidikan orang lain. Ia keliling Jawa mencari dana untuk membeayai pelajar-pelajar yang miskin tetapi pandai. Ia giat membantu pendidikan.

Ia mengumpulkan beberapa mahasiswa kedokteran STOVIA Jakarta seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusuma,  dan Suraji untuk mendiskusikan pembentukan suatu badan, yang nantinya disebut Budi Utomo (20 Mei 1908).  Awalnya perkumpulan ini lebih bergerak membantu dalam dunia pendidikan, tetapi kemudian dikembangkan dalam bidang politik membantu gerakan kesatuan bangsa dan kemerdekaan.  Gerakan ini kemudian memancing timbulnya banyak gerakan pemuda di Indonesia ini, yang nantinya mengerucut dalam gerakan pemuda Indonesia dan gerakan menuju kemerdekaan.

Peringatan pertobatan St. Ignatius

Hari ini Jesuit memperingati 500 tahun bertobatnya St. Ignatius Loyola pendiri Serikat Jesus. Suatu pengalaman mendalam pribadi, yang akhirnya menjadi awal dari gerakan perubahan hidup orang sampai dengan munculnya Serikat Jesus.

Ignatius, yang sering disebut Inigo, awalnya adalah seorang tentara yang begitu punya ambisi kuat untuk mengabdi raja dan nantinya dapat mempunyai kehormatan seperti raja. Namun setelah peristiwa Pamplona, dimana ia mengalami patah kakinya dalam peperangan di Pamplona; ia tidak mungkin lagi menjadi seorang militer yang hebat. Ia mengalami frustrasi berat karena kakinya cacat, panjang sebelah.

Dalam kekeringan yang berat dan kefrustrasian itu, ia disentuh Tuhan lewat bacaan buku santo-santa yang mengkisahkan kehidupan Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus mengikuti Yesus.  Sebenarnya yang ia cari adalah buku-buku kepahlawanan atau roman, tetapi yang ada di rumahnya waktu itu hanya buku riwayat santo-santa. Dalam pergulatan besar, ia merasakan bahwa setiap kali ia memikirkan untuk menjadi satria hebat mengabdi raja dan memikirkan mempunyai istri cantik, hatinya menjadi senang, namun lama kelamaan perasaan itu hilang dan yang tinggal adalah malah kekeringan, kesepian, desolasi. Sedangkan, kalau ia memikirkan untuk mengikuti teladan  Santo Fransiskus yaitu mengabdi Yesus, itu terasa berat pada awalnya, tetapi setelah lama ia merasa damai, merasa gembira, mengalami konsolasi. Akhirnya ia mengubah hidupnya. Ia yang tadinya ingin menjadi seorang satria yang terhormat dengan kekuasaan dan isteri yang cantik, berubah menjadi kesatria Yesus, yaitu ingin mengikuti Yesus seperti dialami oleh Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus.

Pertobatan pribadi ini, teryata menggerakkan dia untuk membagikan pengalamannya  kepada orang-orang lain dalam latihan rohani yang ia berikan dan tawarkan kepada orang-orang yang dijumpai dan ia pandang mampu. Dalam perjalanan, ternyata banyak orang yang cocok dibimbing dan mengalami pertobatan hidup seperti dia sendiri.

Pengalaman pertobatan itu dengan seluruh prosesnya ditulis dalam Latihan Rohani  yang dapat digunakan orang untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya dan menemukan panggilan Tuhan bagi hidupnya. Lewat pengalaman itu pulalah akhirnya Ignatius memilih beberapa teman yang menjadi awal dari Serikat Jesus. Lewat pengalaman pribadinya itulah, ia menawarkan sentuhan Tuhan kepada banyak orang untuk dapat juga menemukan Tuhan dalam hidupnya dan hidup bahagia bersama Tuhan.  

Kesamaan menjadi penggerak awal

Bagi saya yang menarik merefleksikan tentang Wahidin dengan gerakan kebangkitan nasional Budi Utomo dan Pertobatan Ignatius, adalah bahwa keduanya menjadi awal, menjadi pemacu, menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan baru dan kehidupan yang baru.

Budi Utomo akhirnya memunculkan gerakan nasional yang lain di Indonesia ini.  Gerakan ini akhirnya menyadarkan kepada banyak pemuda akan pentingya persatuan bangsa, pentingnya bekerjasama sebagai warga, dan akhirnya memacu munculkan gerakan kearah kemerdekaan Indonesia. Semangat Budi Utomo menggerakkan anggotanya dan memberikan inspirasi kepada kelompok lain untuk lebih ikut terlibat memikirkan kebutuhan bangsa Indonesia.

Pertobatan Ignatius, mengubah Ignatius menjadi sahabat Tuhan, dan ingin menyerahkan seluruh hidupnya pada Yesus. Semangat ini  tidak dinikmati sendiri, tetapi selalu ditawarkan kepada orang lain sehingga orang lain juga mengalami semangat itu dan dapat hidup sebagai sahabat Yesus yang sejati.  Pertobatannya membantu banyak orang mengalami pertobatan, perjumpaan dengan Tuhan, dan bersemangat untuk menyebarkan semangat itu kepada orang lain. Semangatnya menjadi pemicu untuk gerakan batin dalam Tuhan bagi orang lain.

Apa artinya bagi kita

Ada dua hal yang bagi saya dapat diambil dan dikembangkan dengan merefleksikan dua peristiwa itu.

  1. Saya dapat lebih menangkap semangat yang dikembangkan oleh Wahidin lewat gerakan Budi Utomo-nya dan menangkap semangat Ignatius yang mempengaruhi banyak orang.  Dengan demikian saya akan lebih tahu dan lebih dapat digerakkan sendiri oleh semangat itu.
  2. Semangat yang aku punyai, harus saya tularkan kepada orang lain dan kelompok lain. Lewat hidup dan semangat kita, kita ikut menawarkan semangat kebangkitan nasional itu dan pertobatan Ignatius itu. Caranya misalnya :
    • Aku mulai berpikir bukan hanya diriku, tetapi kebutuhan bangsa ini, kebutuhan orang lain;
    • Aku lebih mau kerjasama dengan orang lain dalam membangun bangsa ini sebagai satu saudara;
    • Aku tidak menikmati semangat itu sendirian tetapi rela berbagi pada yang lain.

Selamat merayakan hari kebangkitan nasional dan selamat meresapi kehidupan dan semangat Ignatius untuk dapat lebih memajukan kehidupan bangsa kita dan dunia kita.

Renungan Harian : 20 Mei 2021

Renungan Harian
Kamis, 20 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 22: 30; 2: 6-11
Injil: Yoh. 17: 20-26

Hadir Untuk Bersaksi

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang dokter yang saya kenal pada waktu saya tugas di Timor Timur. Pada waktu itu beliau masih menjalani PTT (Pegawai Tidak Tetap) di pedalaman Timor Timur. Beliau amat dicintai oleh masyarakat di sana karena beliau sungguh-sungguh mendedikasikan hidupnya untuk melayani masyarakat. Dalam segala keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap memberi pelayanan yang baik bagi masyarakat.
 
Dalam perjumpaan itu, beliau bercerita bahwa setelah selesai pendidikan dokter spesialis, beliau menjalankan tugas di daerah terpencil lagi. Salah seorang yang ikut dalam perjumpaan itu bercerita bahwa dokter ini amat disayang oleh masyarakat tempat menjalankan tugas. Beliau memberikan hidupnya sungguh untuk masyarakat. Meskipun beliau adalah seorang dokter spesialis tetapi  tidak pernah meminta bayaran untuk praktek di luar jam dinasnya. Beliau sungguh-sungguh memberikan pelayanan secara cuma-cuma.
 
Saat saya bertanya mengapa dari terpencil ke terpencil lagi, beliau dengan berkelakar kalau habitatnya di tempat terpencil. Beliau mengatakan bahwa kehadirannya di daerah-daerah yang terpencil itu memberi kesaksian. Beliau mengatakan kesaksiannya bukan bahwa dokter itu baik tetapi memberi kesaksian bahwa Tuhan itu baik sehingga selalu memperhatikan umatnya. Kesaksian pertama lewat pelayanannya. Masyarakat yang dilayaninya mengalami Tuhan itu baik, mereka menerima pelayanan dengan cuma-cuma, dan dilayani dengan penuh kasih. Kesaksian yang kedua lewat hidupnya sendiri. Meskipun memberikan pelayanan cuma-cuma dan mengandalkan hidup dari gaji sebagai pegawai negeri ternyata beliau merasa berkelimpahan.
 
“Wow, pengabdian yang luar biasa,” kata saya dalam hati. Di saat banyak orang ingin hidup nyaman dengan segala fasilitas yang lengkap, tinggal di kota dengan segala hiburan dan kemudahannya, tetapi beliau memilih untuk di pelosok agar bisa memberikan pelayanan untuk masyarakat pelosok. Lewat hidup dan karyanya menjadi kesaksian bagi banyak orang akan kasih dan kebaikan Tuhan.
 
Sebagaimana pengalaman St. Paulus sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul, dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi dari satu daerah yang sulit dan berbahaya ke daerah lain yang tidak kalah sulit dan berbahayanya. “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisi Paulus dan berkata kepadanya, “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian juga lah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.””
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah memberi kesaksian tentang kasih dan kebaikan Allah lewat hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.