Mendalami Semangat Ignasian: AMDG

AMDG

Acara Mendalami Semangat Ignasian sudah diselenggarakan pada hari Minggu 12 Juni 2020 melalui Google Meet. Terima kasih untuk kehadiran saudara dan saudari sahabat CLC. Terima kasih sudah saling menyapa, bertukar kata, berbagi pengalaman terkait topik kali ini yaitu AMDG. Kami senang dengan sambutan hangat dan keikutsertaan dari sahabat-sahabat CLC dari kota-kota lainnya.


Salam hangat bagi semua sahabat CLC.

Ad Maiorem Dei Gloriam. Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar. Santo Ignatius selalu menekankan AMDG dalam perjalanan hidupnya. Semua karya dan ajaran yang dihasilkan oleh Ignatius berdasarkan pada AMDG, terutama Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola.

Bagaimana dengan kita sendiri? Apa makna AMDG bagi kita sendiri? Apakah kita sudah berbuat sesuatu dalam kehidupan sehari-hari yang memang layak kita persembahkan demi kemuliaan Allah? Pertanyaan yang sering muncul yaitu ‘saya bukan rohaniwan atau imam, saya hanya orang biasa saja yang berdosa, apa yang bisa saya perbuat demi kemuliaan Allah?


Usai acara Mendalami Semangat Ignasian, kami memiliki tradisi untuk meringkas butir-butir refleksi yang kami saling bagikan dalam acara tersebut. Dengan begitu sahabat-sahabat CLC yang tidak bisa mengikutinya secara online tetap bisa tetap belajar tentang hidup yang dilandasi Ajaran Ignasian. Berikut ini adalah beberapa poin refleksi.

Keselamatan Manusia

Allah sudah mulia, Maha Mulia. Kita sebagai umat-Nya melakukan perbuatan yang baik bagi kemuliaan Allah yang besar. Kita melakukan perbuatan baik untuk keselamatan kita dan keselamatan sesama. Kita mengabdi kepada Allah maka Allah akan menyelamatkan jiwa kita.

Hidupku milik Allah.

Allah memberikan manusia kehidupan. Kehidupan adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Oleh karena itu, hendaklah hidup ini menjadi berkat bagi sesama. Hidup menjadi sarana mengabdi kepada Allah. Dan karena kehidupan ini adalah hadiah yang diberikan oleh Allah pada kita. Allah juga yang berhak mengambilnya. Kita sungguh percaya dan memiliki harapan bahwa Allah menyelamatkan kita.

Man and Woman for Others

Orang melihat Allah yang mulia dari perbuatan baik yang kita lakukan. Kehadiran Allah dirasakan oleh sesama kita saat kita membagikan kasih sayang. Saat kita menyayangi mereka yang memerlukan kasih sayang, mereka akan menyadari cinta kasih Allah melalui orang-orang di sekitarnya yang hadir. Kita menjadi saluran kasih sayang Allah.

Begitu pula saat kita bekerja. Bukan hanya untuk sekedar mendapatkan uang, gaji, atau promosi jabatan; namun berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi kebaikan banyak orang, untuk diriku sendiri dan Allah.

Disamping itu, kita memang harus bertanggungjawab dengan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Karena yang kita lakukan bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga pertama-tama karena demi Kemuliaan Allah.

Orang melihat Allah yang mulia dari karya yang kita lakukan dengan sebaik-baiknya, tak peduli besar atau kecil karya tersebut. Selain itu kita hendaknya juga memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar, institusi di tempat kita berkerja, dan komunitas.

Rendah Hati

Tidak bisa dipungkiri bahwa bisa muncul perasaan bangga diri tatkala melakukan sebuah karya. Bisa jadi kita terlena dengan diri sendiri menjadi sombong. Bisa jadi kita bertindak baik untuk sesama karena menikmati puji-pujian; tidak didasarkan demi kemuliaan Allah.

Oleh sebab itu kita harus berefleksi apakah yang sedang dan sudah kukerjakan ini demi Kemuliaan Allah atau untuk kepentingan diriku sendiri? Bila kita memang tulus melakukannya demi Kemuliaan Allah, ada sikap lepas bebas dalam tindakan kita. Dengan demikian kita bisa melakukan perbuatan baik tersebut dengan ringan dan ikhlas.

Kita bekerja dengan rendah hati karena yang kita lakukan demi Allah. Dengan begitu hendaknya kita tidak kecewa bila kita sudah berbuat hal yang baik dengan ikhlas dan lurus namun justru mendapati hal-hal yang menyakitkan atau tidak diterima oleh orang lain.

Perbuatan Yang Nyata

Untuk memuliakan Allah, kita tidak perlu memikirkan untuk melakukan perbuatan yang besar. Kita bisa melakukan perbuatan baik yang kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memulai dari perbuatan-perbuatan yang kecil, ke depannya kita akan dimampukan untuk karya-karya yang lebih besar. Menyadari bahwa saat ini kita masih dalam proses bertumbuh. Makin kita bertumbuh besar, makin besar pula perbuatan baik yang bisa kita lakukan demi sesama.

Hal yang paling penting adalah kita melakukan perbuatan yang nyata, yang secara riil memberikan dampak positif bagi sesama kita. Ada yang bercocok tanam. Memberi pendampingan bagi siswa/i bermasalah. Memberi penghiburan bagi mahasiswa/i yang mengalami kegagalan. Memberi kasih sayang pada mereka yang diabaikan dan kurang dicintai. Memfasilitasi para pengungsi. Memberi pelatihan kerja. Membantu mereka yang terdampak wabah.

Perbuatan nyata yang didasari Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar membuat orang lain sungguh merasakan bahwa Allah mencintai umat-Nya. Allah menyelamatkan manusia.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Sampai bertemu lagi di acara Mendalami Semangat Ignasian berikutnya di bulan Agustus.

Berkah Dalem Gusti

Mendalami Semangat Ignasian, Minggu 12 Juli 2020

Renungan Harian: 7 Juli 2020

Renungan Harian
Selasa, 07 Juli 2020

Bacaan I : Hos. 8: 4-7.11-13
Injil    : Mat. 9: 32-38

Orang Gila

Pada saat ada keputusan perayaan ekaristi tanpa umat, beberapa paroki mulai menyelenggarakan misa online. Ketika banyak Paroki di Keuskupan Bandung sudah menyelenggarakan misa online, paroki kami belum menyelenggarakan. Banyak umat yang bertanya kenapa paroki kami belum menyelenggarakan misa online. Bahkan ada yang sedikit tajam bicaranya dengan mengatakan, masak paroki kami gak mampu menyelenggarakan misa online.
 
Berhadapan dengan semua pertanyaan dan keluhan itu, saya menjawab bahwa sedang diusahakan. Walapun sebetulnya saya belum mengerti persis bagaimana mengusahakannya. Ada harapan besar, kami bisa menyelenggarakan misa online sebagai bentuk pelayanan bagi umat di masa pandemi covid 19 ini.
 
Di saat kami sedang memikirkan, tiba-tiba ada seorang umat yang datang dan mengusulkan untuk membantu menyelenggarakan misa online. Beliau membawa peralatan sendiri, memasang instalasi sendiri, dan menjadi operator. Wow, syukur pada Allah, sejak saat itu paroki bisa menyelenggarakan misa online baik misa Hari Minggu, maupun misa Harian.
 
Tidak berapa lama ada seorang  umat lain lagi yang menawarkan diri menjadi operator. Bahkan ketika melihat computer paroki yang digunakan  tidak memadai untuk misa online yang baik, beliau membawa laptop dari rumahnya untuk digunakan, dan masih digunakan hingga kini.
 
Perayaan ekaristi online masih berlangsung sampai kini berkat kerelaan dua orang umat yang berani menawarkan diri. Banyak umat yang terlayani dan terbantu hidup rohaninya lewat misa online. Tawaran keterlibatan dua orang umat untuk membangun instalasi dan menjadi operator misa online membantu kami para imam di paroki kami untuk tetap menjalankan reksa pastoral.
 
Gereja membutuhkan banyak orang yang terlibat. Saya sering menyebut mereka adalah orang-orang gila; karena mereka mau mengorbankan materi, waktu dan tenaga untuk pelayanan dan sering kali mereka lebih banyak mendapat kritik daripada pujian.
 
Gereja tumbuh dan berkembang karena adanya orang-orang gila ini. Tanpa mereka, dan hanya mengandalkan para Imamnya maka Gereja akan sulit untuk berkembang. Syukur pada Allah dalam perjalanan Gereja, Allah selalu menghadirkan orang-orang gila yang memungkinkan Gereja bertumbuh dan berkembang.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius mengajak kita semua untuk berdoa mohon agar semakin banyak orang gila dalam Gereja. “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Juli 2020

Renungan Harian
Senin, 06 Juli 2020

Bacaan I : Hos. 2: 13.14b-15.18-19
Injil    : Mat. 19: 18-26

Y a k i n

Suatu sore, saat saya masih bertugas di Paroki Subang, ketika saya sedang jalan-jalan di sekeliling taman doa, saya melihat sepasang suami istri yang sedang berdoa. Saya melihat ibu itu sedang mengandung.
 
Tak berapa lama bapak itu mendekati saya dan bertanya apakah saya Romo, dan saya mengiyakan. Bapak itu mohon berkat untuk istrinya. Ibu itu bercerita bahwa dia sedang gundah. Dokter mengatakan bahwa dia harus melahirkan dengan cara operasi Caesar karena bayi dalam kandungannya sungsang. Ibu itu berharap bisa melahirkan normal. Dia datang dari Jakarta, khusus untuk berdoa agar bisa melahirkan normal. Menurut dokter ia akan menjalani operasi caesar lusa.
 
Saya mengatakan kepada ibu itu, bahwa saya akan mendoakan agar operasinya berjalan lancar, ibu dan bayinya selamat. Ibu itu tidak mau, ngotot agar saya mendoakan dapat menjalani persalinan secara normal. Apapun penjelasan saya, ibu itu tidak mau pokoknya minta didoakan agar tidak operasi. Ia mengatakan, bahwa dirinya yakin bunda Maria akan menolong maka minta saya mendoakan dan memberi berkat.
 
Dalam keraguan saya, saya mendoakan ibu itu, dalam doa, saya berdoa mohon berdasar pada iman ibu ini; karena saya sendiri lebih berpikir rasional, percaya apa yang dikatakan dokter.
 
Malam hari, sekitar jam 9 saya menerima telpon dari bapak itu yang memberitakan bahwa istrinya sudah melahirkan anak laki-laki dengan persalinan normal. Bapak itu bercerita setelah sampai rumah, istrinya ingin buang air kecil tetapi ternyata ketuban pecah. Segera dibawa ke rumah sakit dan sampai di rumah sakit setengah jam kemudian istrinya melahirkan dengan cara normal, ditolong bidan tanpa bantuan dokter, karena dokter masih dalam perjalanan ke rumah sakit.
 
Wow, saya seperti tertampar, betapa iman ibu itu luar biasa, dan mukjizat terjadi karena imannya. Ibu yang sederhana, penuh iman, tidak berpikir ribet hanya yakin Tuhan itu baik dan bunda Maria pasti menolong. Ibu itu berani menanggalkan pikiran dan alasan rasional dan mempercayakan diri pada rahmat Tuhan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Juli 2020

Renungan Harian
Minggu, 05 Juli 2020

Minggu Biasa XIV
Bacaan I  : Za. 9: 9-10
Bacaan II : Rom. 8: 9.11-13
Injil     : Mat. 11: 25-30

Seharusnya

Beberapa tahun yang lalu, sepasang suami istri datang menemui saya. Pasangan ini sudah 20 tahun menjalani hidup perkawinan. Pasangan ini  saya lihat sebagai pasangan yang harmonis, dan ideal. Banyak dari teman-teman mereka, yang juga melihat bahwa pasangan ini pasangan yang harmonis dan ideal. Mereka sudah dikarunia 2 orang anak, yang sudah beranjak besar. Pasangan ini aktif dalam kegiatan, baik di paroki maupun di lingkungan.
 
Dalam perjumpaan itu mereka mengatakan pada saya, bahwa mereka ingin bercerai. Seandainya karena aturan Gereja mereka tidak boleh cerai, minimal mendapatkan ijin untuk berpisah. Mendengar apa yang mereka katakan, saya amat terkejut, ada setan apa, kok pasangan yang baik ini tiba-tiba ingin bercerai.
 
Mereka bercerita:
“Romo, hidup perkawinan kami semakin hari semakin hambar dan penuh keributan. Dalam kehidupan kami tidak ada masalah orang ketiga, ke empat, kami baik-baik. Tetapi kami tidak tahan kalau begini terus.”
 
Dalam pembicaraan dengan keduanya secara terpisah, saya mengerti mengapa mereka memutuskan untuk berpisah. Pasangan ini dua-duanya, mempunyai konsep tentang dicintai yang selalu dipegang teguh. Kalau suami  mencintai istri berarti harus selalu ada untuk istri. Oleh karenanya mereka masing-masing tanpa sadar membuat peraturan-peraturan yang harus dipatuhi. Sehingga ketika merasa peraturan itu tidak dipatuhi maka akan terjadi keributan; yang satu mengadili, yang satu membela diri. Bahkan hal-hal yang dahulu dilakukan karena cinta dan perhatian, sekarang menjadi aturan yang dituntut. Misalnya saat makan siang memberi kabar, ketika lupa tidak memberi kabar maka akan menjadi keributan besar.
 
Dua-duanya merasa hidup di antara banyak ranjau. Hidup selalu dalam bayangan ketakutan salah dan menimbulkan keributan. Dan yang menurut saya agak konyol dan dirasakan juga oleh mereka adalah “Peraturan-peraturan” itu tidak tertulis, dan tidak konsinsten tergantung “mood” masing-masing. Misalnya ketika dua-duanya lagi sibuk seharian sehingga tidak sempat  berkabar tidak masalah akan saling mengerti tentang kesibukan masing-masing. Akan tetapi ketika yang satu sibuk dan yang satu sedang tidak sibuk, ketika yang sedang sibuk tidak sempat berkabar maka terjdi keributan. Demikian selalu terjadi.
 
Dua-duanya selalu ngomong seharusnya begini, seharusnya begitu. Masing-masing hidup dengan konsepnya masing-masing dengan aturan masing-masing yang semua tidak jelas. Karena terbelenggu dengan konsep masing-masing dengan “seharusnya-seharusnya” mereka tidak merasakan dan menikmati cinta diantara mereka. Cinta yang dahulu berkobar-kobar sekarang redup, bahkan menghilang karena mereka bertutur dan bertindak sekedar agar tidak menginjak ranjau.
 
“Buang konsep-konsep itu, hilangkan “seharusnya-seharusnya” itu, hilangkan peraturan-peratuan itu, sekarang rasakan perhatian dan cintanya, nikmati itu. Belajar untuk menerima dan menikmati jangan menuntut.” Pesanku pada mereka.
 
Pasangan ini terbelenggu dengan “kuk” berupa aturan-aturan sehingga tidak bertindak dengan cinta dan tidak mengalami cinta.
 
Dalam hubungan dengan Tuhan, aku juga sering terjebak dengan konsep-konsep dosa- tidak dosa, hukuman dan neraka, seharusnya begini, seharusnya begitu. Sehingga hubunganku dengan Tuhan sekedar mematuhi aturan agar tidak dosa, tidak masuk neraka. Tidak ada hubungan cinta. Aku tidak merasakan cinta Tuhan dan aku juga tidak mencintai Tuhan dengan seluruh rasaku.
 
Sabda Tuhan hari ini, sejauh diwartakan Matius mengingatkan kita, bahwa hubungan dengan Tuhan adalah hubungan cinta. Dan cinta itu membebaskan, karena orang tidak terpaku pada peraturan dan tidak terbelenggu dengan konsep-konsep. Semua dilakukan karena cinta sehingga yang ada adalah kerelaan dan kebahagiaan. “Sebab enaklah kuk yang Kupasang dan ringanlah bebanKu”.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Latihan Rohani: Roh Jahat Mempengaruhi Kita yang Baik

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Roh Jahat Mempengaruhi Kita yang Baik.

Renungan Harian: 4 Juli 2020

Renungan Harian
‪Sabtu, 04 Juli 2020

Bacaan I: Am. ‪9: 11-15
Injil   : Mat. ‪9: 14-17

J i m a t

Suatu saat saya bertemu dengan seorang bapak, beliau seorang katolik yang taat, rajin ke gereja, aktif dalam kegiatan di gereja maupun di lingkungan. Dia cukup terkenal sebagai aktifis di paroki.
 
Dalam perjumpaan itu ia memamerkan cincin batu akik yang dipakainya. Dia dengan penuh semangat menceritakan kualitas batu akik yang dipakainya itu dan bagaimana dia mendapatkannya.
 
“Romo, saya mendapatkan batu ini seperti mukjizat. Pada suatu malam saya bermimpi didatangi seorang tua gondrong dan berjenggot panjang. Rambut gondrongnya disanggul, rambut dan jenggotnya semua sudah putih. Dia mengatakan mau ikut saya.
 
Esok paginya Mo, saya kedatangan tamu seorang teman lama, yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa. Dia memberi saya batu akik ini. Ini batu bacan tua, sehingga warna hijaunya bagus. Tetapi bukan hanya itu saja Mo, akik ini ada isinya. Isinya roh seorang kakek yang akan melindungi saya. Maka dia minta saya selalu memakai akik ini maka saya akan selalu terlindungi.
 
Iya kan Mo, seperti mukjijat, malam saya bermimpi, paginya saya dapat batu yang ada isinya ini. Maka  cincin akik ini tidak pernah lepas dari tangan saya. Pernah ada teman yang menawar puluhan juta tetapi tidak saya lepas.
 
Benar lho Mo, sejak saya pakai akik ini beberapa kali saya hampir celaka tetapi selalu selamat.” Bapak itu mengakhiri ceritanya yg menggebu-gebu.
  
“Gimana menurut Romo?”: tanyanya.

“Pak, saya kagum dengan keindahan batu akik bapak. Hijau berkilau indah, hasil alam yang luar biasa. Tuhan memang pelukis yang luar biasa. Bapak memakai cincin  batu itu baik, dan menghiasi jari manis bapak. Tetapi maaf, saya keberatan kalau bapak lalu mengandalkan keselamatan bapak pada batu itu. Bapak menjadikan batu itu  
sebagai pelindung bapak. Batu adalah batu, itu ciptaan Tuhan. Maka keselamatan ada pada Tuhan, Dia yang melindungi kita. Berdoa mohon perlindungan Tuhan agar diberi keselamatan jangan mengandalkan batu. Kita orang katolik yakin dan percaya hanya Tuhan, satu-satunya Sang pelindung dan sumber keselamatan.”
 
Pengalaman bapak tadi masih banyak dijumpai di antara umat katolik. Banyak orang katolik, aktif dan baik tetapi dalam hidup kesehariannya lebih mengandalkan jimat-jimat dari pada Allah.
 
Itulah sikap-sikap yang dikritik Yesus dengan analogi anggur baru diisikan ke dalam kantong kulit yang tua.
 
Kitapun dalam banyak hal sering terjebak dengan menjadikan benda-benda rohani sebagai jimat, bukan sebagai sarana untuk meneguhkan iman. Misalnya kemana-mana membawa Rosario tetapi Rosario itu tidak pernah disentuh dan tidak pernah digunakan untuk berdoa. Tentu kebiasaan baik selalu membawa Rosario akan tetapi jangan sampai lupa bahwa Rosario itu adalah sarana meneguhkan iman kita pada Tuhan, dan sebagai sarana berdoa dengan perantaraan bunda Maria.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 03 Juli 2020

Pesta St. Thomas Rasul
Bacaan I : Ef.2: 19-22
Injil    : Yoh. 20:24-29

Mbah Putri

Mbah Putri, begitulah aku biasa memanggil ibu dari ibuku. Mbah Putri ini orang desa, dan tidak pernah bersekolah, karenanya ia tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi kalau menghitung, kali, bagi, tambah dan kurang luar biasa pandai, asal berkaitan dengan uang.

Saya tidak tahu persis mbah putri agamanya apa, tetapi Mbah Putri tidak pernah menjalankan ritual agama apa pun.

Kendati Mbah Putri “tidak beragama”, namun ia selalu mengingatkan kami untuk selalu berdoa agar mendapatkan berkat. Sering kali Mbah Putri meminta kami untuk berdoa secara khusus untuk ujub khusus.

Suatu ketika, aku melihat Mbah Putri duduk bersimpuh di kebun, bagiku nampak sedang berdoa. Aku tidak berani mengganggu maupun bertanya.

Namun ketika lain waktu aku melihat Mbah Putri sedang bersimpuh lagi, esok harinya aku memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang Mbah Putri lakukan.

Mbah Putri menjawab bahwa ia sedang berdoa. Ia mohon keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan untuk anak, mantu, dan cucu-cucu.

Aku bertanya:
“Mbah Putri berdoa kepada siapa? Ke penunggu pohon jambu?” (karena simbah bersimpuh di bawah pohon jambu).

“Hush, gak boleh ngomong begitu, Mbah Putri berdoa pada Gusti,” jawabnya.

“Lha Gusti-nya Mbah Putri itu siapa atau yang mana?” tanyaku.

“Embuh le, Mbah Putri gak tahu, pokoknya Mbah Putri berdoa kepada yang membuat dan memberi hidup” jawabnya.

Ketika di lain waktu aku tanya lagi tentang Gusti-nya Mbah Putri, saat ia menemaniku tidur, Mbah Putri menjawab:

“Le, Mbah Putri itu orang bodo, orang buta huruf. Kalau ditanya siapa Gusti-nya, Mbah Putri tidak tahu. Mbah Putri gak punya agama dan gak ngerti agama. Tetapi Mbah Putri percaya pada Gusti. Mbah Putri percaya Gusti yang membuat dan memberi hidup.

Le, Mbah Putri gak bisa menerangkan bagaimana-bagaimananya, Mbah Putri hanya bisa merasakan bahwa Gusti menjadi sumber berkah dan memberi berkah. Mbah Putri hanya merasakan bahwa Gusti menjamin hidup kita. Maka, Mbah Putri selalu manembah lan ngabekti (bersujud dan memuji).

Mbah Putri pasrah bongkokan karo sing nggawe urip, lan sakdremo nglakoni urip. (Mbah Putri berserah penuh dengan yang membuat hidup, dan menjalani hidup sesuai dengan berkatnya).”

Bagiku Mbah Putri dan kiranya banyak orang lain yang menghayati hubungan dengan Tuhan seperti itu adalah orang-orang yang disebut bahagia oleh Yesus: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Sedangkan aku yang berpikir rumit tentang Allah jadi kehilangan Allah, karena Allah tidak kurasakan dan hidupku.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 02 Juli 2020

Bacaan I: Am. 7: 10-17
Injil   : Mat. 9: 1-8

Pertolongan

Beberapa tahun yang lalu  saat saya sedang mengunjungi salah satu umat yang sedang sakit di rumah sakit, datang beberapa orang yang ingin mendoakan. Mereka datang memperkenalkan diri dari sebuah gereja, walaupun berbeda denominasi tetapi sama-sama murid Kristus. Keluarga tidak keberatan dan mempersilakan mereka untuk mendoakan.
 
Hal pertama yang dikatakan oleh pemimpin kelompok itu adalah: “Saudaraku, saudara harus bertobat, minta ampun pada Tuhan. Sakit yang saudara alami ini karena dosa. Bertobatlah saudaraku.” Saya melihat wajah si penderita sakit menunjukkan ketidaksukaannya dan agak menahan amarah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam.
 
Mulailah mereka  bernyanyi dengan iringan gitar. Lagu yang bagus dan suara yang bagus. Nyanyian ini memberi penghiburan kepada si sakit. Wajahnya mulai tenang dan mulutnya nampak ikut bernyanyi meski tidak keluar suara. Sesaat kemudian mulai berdoa. Doa dengan ekspresif dan penuh semangat. Saya tidak ingat persis apa isi doanya, karena begitu panjang. Namun yang saya ingat persis sepotong doanya: “Tuhan, lembutkanlah hati saudaraku, hancurkanlah kedegilan hatinya, agar mau bertobat. Sadarkanlah  saudaraku agar kembali kepadaMu dan menjadi sembuh.” 
 
Doa belum selesai si penderita sakit dengan terengah-engah menahan marah, mengusir kelompok doa ini: “Terima kasih, silakah ke luar, saya mau tidur.” Ketika mereka tetap meneruskan doanya, si penderita sakit teriak, mengusir mereka.
 
Saat itu saya berpikir kalau saya menjadi orang yang sakit dan didoakan seperti itu pasti saya akan marah. Saya marah bukan karena didoakan dan bukan pula karena saya orang yang tidak berdosa yang tidak membutuhkan pertobatan; akan tetapi marah karena saya merasa sudah diadili sebagai orang yang berdosa sehingga jatuh sakit.
 
Dalam perjalanan pulang saya berpikir apa yang salah dengan doa mereka. Mereka mendoakan agar si pederita sakit bertobat. Bukankah dalam banyak kisah penyembuhan Yesus bersabda : “Dosamu sudah diampuni”.  Bukankah mereka yang berdoa itu seperti orang-orang yang membawa orang lumpuh kepada Yesus. 
 
Yesus dalam kisah penyembuhan mengatakan dosamu diampuni, karena Yesus mengerti dengan baik bahwa kebutuhan orang itu bukan hanya pemulihan fisik tetapi pemulihan manusia yang seutuhnya. Yesus tidak mengadili orang yang disembuhkan sebagai pendosa dan juga tidak mengadili bahwa penyakitnya akibat dosa.
 
Bertolak dari hal itu saya mengerti dimana salahnya mereka yang mendoakan. (kalau mau disebut salah karena membuat marah yang didoakan). Mereka tidak mengerti kebutuhan si penderita sakit.
Betapa penting belajar untuk mengerti dan memahami agar bisa memberi pertolongan yang baik.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 1 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 01 Juli 2020

Bacaan I : Am. 5: 14-15.21-24
Injil    : Mat. 8: 28-34

Altar dan Pasar

Mgr. Alexander Djajasiswaja, Uskup Keuskupan Bandung almarhum dalam banyak kesempatan mengatakan agar  umat beriman, termasuk para imamnya tidak hanya berkutat di seputar altar saja tetapi juga ke pasar. Pasar yang dimaksud bukan pasar tempat bertemunya  penjual dan pembeli, akan tetapi masyarakat. Mgr. Alex mengajak seluruh umat beriman untuk aktif terlibat dalam dinamika masyarakat.
 
Senada dengan hal itu Komisi Kerawam Konferensi Wali Gereja Indonesia, mengajak seluruh umat beriman semakin terlibat dalam dinamika berbangsa dan bernegara. Agar kecemasan dan harapan masyarakat menjadi kecemasan dan harapan Gereja.
 
Lebih jauh Komisi Kerawam mengajak agar umat tidak terjebak menjadi penikmat kemeriahan liturgi dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin, umat beriman dapat berdoa dengan khusyuk, menikmati liturgi yang megah dan meriah, sementara di luar sana ketidak adilan, pemiskinan dan perusakan lingkungan merajalela.”
 
Syukur pada Allah, di masa bencana covid 19 ini Gereja menampakkan jati diri yang sesungguhnya. Di saat tidak ada kemeriahan liturgy, di saat semua umat beriman merayakan ekaristi di rumah masing-masing, di saat umat beriman ada dalam keprihatinan dalam mengungkapkan imannya secara khusus dalam sakramen ekaristi, Gereja hadir dan terlibat di tengah masyarakat. Umat beriman dengan caranya masing, memberikan hati bagi masyarakat tanpa memandang bulu. Umat beriman amat mudah digerakkan untuk ikut dalam keprihatinan masyarakat.
 
Itulah jati diri Gereja, hadir dengan hati bagi masyarakat. Bagi Gereja tidak ada pewartaan iman tanpa penegakan keadilan. Pewartaan iman dan penegakkan keadilan bagi dua sisi dalam sekeping mata uang.
 
Sebagaimana diwartakan nabi Amos, Allah bersabda: “Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyianmu. Aku tidak mau mendengar lagu gambusmu. Tetapi hendaknya keadilan dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 30 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 30 Juni 2020

Bacaan I : Am. 3: 1-8; 4:11-12
Injil    : Mat. 8: 23-27

Rasa Aman

Beberapa tahun yang lalu, keluarga kami diterpa masalah yang luar biasa. Bapak saya dituduh melakukan pelecehan sexual kepada salah satu ibu. Ibu tersebut dan keluarga amat dekat dengan kami, kalau bertemu selalu memeluk dan mencium kami. Peristiwa yang menjadi sumber masalah itu,0 terjadi di gereja, ketika sudah lama tidak bertemu, ibu itu bertemu bapak dan memeluk bapak. Sebenarnya Peristiwa itu tejadi di depan ibu saya dan suami ibu itu. Sebenarnya kejadian itu sesuatu yang selama ini terjadi dan biasa.
 
Nampaknya ada yang tidak suka dengan keluarga kami, sehingga peristiwa itu diwartakan sebagai bentuk pelecehan sexual oleh bapak. Ada “petisi” yang ditanda tangani oleh beberapa umat termasuk beberapa tokoh, agar bapak di berhentikan sebagai prodiakon. Bahkan keluarga kami kemudian harus ikut lingkungan (kring) lain, karena dibuat tidak nyaman dengan lingkungan kami.
 
Pada saat peristiwa itu menjadi ramai, kami 3 orang anaknya dipanggil pulang oleh bapak. Bapak menceritakan peristiwa itu. Bapak nampak tenang dalam bercerita; tetapi tidak dengan ibu, ibu amat emosional  dan marah kepada orang-orang yang menandatangani maupun dari keluarga ibu yang dianggap dilecehkan. Ibu sakit hati, karena selama ini hubungan dengan keluarga itu sudah demikian dekat.
 
Bapak menenangkan ibu dan kami semua. Bapak mengatakan: “Sekarang kita baru diterpa badai, tetapi tidak usah takut, tidak usah cemas, tidak usah marah-marah. Becik ketitik ala ketara, Gusti ora sare. (Yang benar akan terlihat dan yang jahat anak nampak, Tuhan tidak tidur). Rasa aman kita tidak tergantung dengan mereka-mereka itu, dan jangan pernah meletakkan rasa aman kita pada orang. Rasa aman kita letakkan pada Tuhan yang selalu melindungi kita. Maka rasa aman juga tergantung pada kita sendiri; kalau kita yakin bahwa Gusti ora sare maka kita akan selalu merasa aman meski ada badai.”
 
Kami sekeluarga menghadapai badai itu dengan tenang dan damai. Semua kami percayakan pada Tuhan, dan meletakkan rasa aman kami pada Tuhan. Dan benarlah apa yang dikatakan bapak: “Becik ketitik, ala ketara”.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, para murid takut dan cemas karena kapal terhempas oleh badai. Para murid tahu bahwa Yesus bersama mereka, tetapi mereka lupa dengan pengalaman-pengalaman melihat karya Yesus.
 
Aku pun sering kali mengalami seperti para Murid, mudah takut dan cemas. Tahu dan sadar bahwa Tuhan menyertai tetapi pengalaman kasih Tuhan seringkali tidak mengendap sehingga tidak membekas dalam diriku. Maka aku lebih sering mengandalkan diriku sendiri.
 
Rasa amanku bergantung dimana aku meletakkan rasa amanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.