HARI 5, 27 NOV 2020

MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA (FRATELLI TUTTI)

Tujuan

Untuk terlibat dalam karya perutusan Gereja mondial bagi seluruh dunia, menjadi sahabat bagi semua orang.

Mohon

Agar rela menjadi sahabat bagi semua orang

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik,
  • Baru saja Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik baru yang bernama Fratelli Tutti; menjadi sahabat bagi semua orang.
  • Paus sadar bahwa masalah dunia ini tidak dapat dipecahkan sendiri, tetapi harus dipecahkan bersama oleh semua manusia, semua bangsa. Maka persaudaraan antar semua bangsa adalah mutlak bagi kemajuan dan kedamaian dunia.
  • Pengalaman covid-19 dengan jelas menunjukkan bahwa perlu kita bersatu tanpa membeda bedakan suku, ras, agama, kedudukan, dan negara untuk menumpas virus ini.
  • Bagaimana semangat itu dapat kita lakukan dan kembangkan dalam CLC dan juga dalam kehidupan kita?

Bahan renungan

1. Melihat apa yang dilakukan Paus Fransiskus dalam membangun persaudaraan

  1. Menerima pengungsi di Vatikan; Mengunjungi orang-orang yang tersingkir, sakit, di penjara, dll.
  2. Membangun kerjasama dengan semua pimpinan agama: kristiani, Islam, Hindhu, Budha, dll.
  3. Menerima berbagai pimpinan Negara dan menekankan pentingnya kerjasama;
  4. Paus Fransiskus bertemu dan mengadakan doa perdamaian di Taman Vatikan bersama Shimon Peres (Israel) dan Abu Mazen (Palestina). Paus mengatakan: “Kehadiran Anda adalah tanda persaudaraan yang besar, yang Anda penuhi sebagai anak-anak Abraham, dan ekspresi konkret kepercayaan pada Tuhan, Tuhan dari semua sejarah, yang hari ini memandang kita sebagai saudara dan saudari satu sama lain dan ingin memimpin kita di jalan-Nya ”.
  5. Di Kuba, Paus Fransiskus dan Patriark Kirill menandatangani deklarasi bersama yang, dalam kata-kata pembukaannya, menekankan: “Dengan sukacita, kita bertemu satu sama lain sebagai saudara seiman yang bertemu untuk ‘berbicara dengan lantang”.
  6. Paus berlutut dan mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan yang dipanggil ke Vatikan untuk retret spiritual dan damai. “Kepada kalian bertiga, yang menandatangani Perjanjian Perdamaian,” kata Paus dengan kata-kata tulus, “Saya berbicara kepadamu sebagai saudara, tinggallah dalam damai. Saya berkata dari hati. Marilah kita maju bersama.”
  7. Penandatanganan Dokumen tentang Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi pada tahun 2019 menandai satu lagi contoh dedikasi Paus Fransiskus untuk mempromosikan cinta persaudaraan.

2. Ensiklik Fratelli-Tutti

  • Diumumkan pada tanggal 3 Oktober 2020 di Asisi oleh Paus Fransiskus.
  • Isi utama:
    • Mengajak untuk membangun persaudaraan universal dengan semua orang.
    • Kita semua adalah saudara. Ini diinspirasikan oleh Santo Fansiskus Asisi yang menghidupi semua makluk sebagai saudaranya. Dia bersaudara dengan siapapun termasuk waktu itu dengan kelompok Muslim di Mesir.
    • Pengalaman Covid 19 semakin meyakinkan bahwa kita hanya dapat hidup damai dan maju kalau mau bersaudara dengan siapapun dan bekerjasama dengan siapapun. Tidak dapat hidup di dunia tanpa berkaitan dengan yang lain.
  • Beberapa nilai dan tekanan diungkapkan seperti:
    • Siapa saudaraku?
    • Kita diajak merenungkan Kisah Orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dirampok (Lk 10: 25-37). Disini jelas siapa saudara kira menurut Yesus.
    • Saudara tanpa membedakan suku, agama, budaya, karakter, dll.
    • Ada banyak kendala untuk membangun persudaraan itu
    • Namun ada harapan bahwa itu dapat kita usahakan
    • Lalu diungkapkan beberapa cara untuk semakin membangun persaudaraan.
  • Apa yang mengesan bagiku dari insiklik itu? Bagaimana itu dapat memperbaharui hidup, sikap, perutusan kita kedepan?

3. Beberapa hambatan yang menghalangi kita untuk bersahabat

  • Merasa paling hebat, paling baik, paling suci, paling sempurna
  • Minder dengan orang lain, maka menyendiri
  • Hanya mencari aman dengan kelompok dan gangnya sendiri
  • Hambatan psikologis, tidak tenang, tidak aman dengan yang lain

4. Apa yang aku dapat dilakukan untuk membangun persaudaraan universal

  • Sebagai pribadi
  • Di CLC
  • Di lingkup tetangga dan gereja
  • Di tempat kerja?

Doa pribadi di depan Yesus

Dengan tenang kita bicara dengan Tuhan Yesus tentang  apa yang mengesankan dari ensiklik ini dan apa yang dapat kita kembangkan dalam lingkup kita.

Bahan WAG

Silahkan secara singkat menuliskan apa yang terkesan dalam permenungan hari ini.

MARI MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG TANPA MEMBEDA-BEDAKAN!


Panduan Hari Kelima ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 26 November 2020

Renungan Harian
Kamis, 26 November2020

Bacaan I : Why. 18: 1-2. 21-23; 19: 1-3.9a.
Injil : Luk. 21: 20-28

R u n t u h

Bapak itu menggendong cucunya keluar gereja dengan bangga. Bapak itu akan memperkenalkan bahwa anak kecil yang dalam gendongannya adalah cucunya. Bapak itu akan tertawa sumringah saat setiap orang yang menyapanya selalu mengatakan bahwa cucunya ganteng dan lucu.
 
Orang yang mengenal bapak itu, selalu komentar: “Kok bisa ya”. Bahkan beberapa orang muda yang mengenal orang tua anak kecil sambil bercanda bicara ke orang tua anak kecil itu: “Bapakmu kesambet atau salah minum obat? Kok bisa berubah seperti itu?” Pemandangan itu adalah pemandangan yang aneh bagi  semua orang yang mengenal bapak itu.
 
Bapak dikenal sebagai orang yang galak dan angkuh. Orang yang suka mengkritik dan menegur. Banyak orang muda di gereja takut dengan bapak itu, bukan hanya orang muda tetapi kebanyakan umat yang aktif terlibat di gereja takut dan tidak senang dengan gaya dan cara bapak itu menegur. Orang yang suka mengkritik tetapi kalau diingatkan akan marah dan menunjukkan kekuasaannya.
 
Lebih parah lagi beliau tidak senang dengan anak kecil. Kalau ada anak kecil menangis atau sedikit berisik di gereja, beliau dengan damai akan mendatangi orang tua anak yang nangis atau sedikit berisik itu dan marah-marah.
 
Bapak itu mendatangi saya dan menyapa saya sambil “memamerkan” cucunya. “Wah hebat ini, kakek yang sayang dengan cucunya,” kata saya menyambut sapaannya.
“Wah pastor, cucu saya ini anugerah besar dalam hidup saya. Dia betul-betul mengubah hidup  saya,” kata bapak itu dengan bangga.
“Wah cucu hebat ini bisa mengubah kakek,” kataku menimpali
 
“Pastor, saya tahu dan sadar, saya ini orang yang keras, kasar dan angkuh. Saya selalu mau menang dan tidak akan ada orang yang bisa mengalahkan saya. Semua orang di rumah tunduk dengan saya. Saya juga tahu kalau banyak orang di gereja ini takut dan tidak suka dengan saya. Tetapi inilah saya, saya selalu menegakkan kebenaran, disiplin dan aturan.
Di rumah semua harus tunduk dengan aturan yang ada. Saya tahu dan sadar kalau semua orang di rumah amat takut dengan saya.
 
Pastor, ketika cucu saya lahir saya tidak begitu peduli, karena bagi saya bayi itu tanggung jawab orang tuanya. Mereka yang harus urus dan sebagainya. Saya juga tidak mau kalau bayi itu tinggal di rumah saya, main ke rumah tentu saja, tetapi sebaiknya tidak menginap, saya terganggu dengan suara tangisnya.
 
Sampai suatu saat, anak itu saat digendong mamanya melihat saya terus, saya juga lihat anak itu. Dalam hati saya kenapa dia melihat saya terus? Apakah dia takut juga dengan saya? Tiba-tiba anak itu tersenyum, saya kaget setengah mati; itu pertama kali saya melihat anak itu tersenyum. Tiba-tiba saya merasa bergetar, hati saya berdesir melihat senyum anak itu. Tak berapa lama dia mengulurkan kedua tangannya minta gendong ke saya. Semua orang dalam rumah itupun terkejut dan semua mata tertuju ke saya. Saya melihat papa dan mama anak itu takut, dan mencoba mengalihkan perhatian anak itu dari saya, tetapi anak itu berontak dan minta gendong ke saya.
 
Saya terpaku sebentar, dan entah dorongan dari mana saya mengulurkan tangan saya untuk menggendong anak itu. Anak yang tadinya nangis meronta dan berontak, tiba-tiba diam dan tersenyum dalam dekapan saya. Pastor, dunia seakan runtuh rasanya ketika saya menggendong cucu. Saya merasakan cinta, sayang, dan ingin melindungi cucu yang rapuh ini bercampur jadi satu. Cucu dalam gendongan saya tersenyum terus dan saya melihat dia tanpa terasa air mata saya menetes. Saat itu saya merasakan betapa Tuhan luar biasa memberi anugerah indah ini.
 
Sejak saat itu rasanya keangkuhan, harga diri yang tinggi, sifat keras saya semua runtuh. Saya mengalami betapa kecil dan bukan siapa-siapa diri saya berhadapan dengan anak kecil anugerah besar dalam hidup saya ini.” Bapak itu bercerita dengan menahan air mata.
 
Kesombongan, hati yang keras, imagi diri yang tinggi, hancur karena keagungan Tuhan. Orang yang bisa mengalami keagungan Tuhan yang membawa pada pengalaman diri yang kecil dan bukan siapa-siapa menghantar pada perubahan hidup. Perubahan yang menjadikan hidup penuh syukur, hati yang lembut, penuh cinta. Itulah pertobatan yang sejati. Orang bangkit dari manusia lama dan menyongsong hidup baru yang menghantar pada keselamatan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. Apabila semua itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
 
Bagaimana dengan aku? Mampukah aku melihat keagungan Tuhan, dan tergetar karenanya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

HARI 4: KAMIS, 26 NOV 2020

KITA DIUTUS MEMBAWA KEGEMBIRAAN DI TENGAH DUNIA SAAT INI

Tujuan

Untuk semakin rela menjalankan perutusan Tuhan dalam hidup kita.

Mohon

Agar gembira menjadi utusan Tuhan di dunia ini.

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang dikasihi Tuhan, kita yang dicintai Tuhan begitu besar, kita juga diutus Tuhan. Cinta Tuhan selalu mengandung unsur perutusan. Siapapun yang merasa dicintai Tuhan akan merasa juga diutus menyebarkan cinta Tuhan itu kepada semua orang.
  • Misalnya:
    • Seorang anak SD yang merasakan cinta Tuhan dalam retret, dengan semangat ingin belajar lebih rajin, ingin membantu orang tuanya, ingin berdamai dengan temannya;
    • Seorang mahasiswa yang tersentuh dalam retret akan cinta Tuhan, dengan gembira rela membantu teman-temannya maju dan aktif di berbagai kegiatan;
    • Seorang bapak yang merasakan dicitai Tuhan, dengan penuh semangat mau berkorban bagi kebahagiaan keluarganya dan tetangganya;
  • Kita sebagai seorang CLC, yang merasakan dicintai Tuhan,  kita juga diutus ikut terlibat dengan karya perutusan Tuhan lewat perutusan Gereja.
  • Perutusan Tuhan adalah “agar kita menjadi pewarta gembira bagi manusia jaman ini
  • Perutusan CLC juga bersesuaian dengan perutusan gereja yang terlibat menyelamatkan manusia terutama mereka yang tersingkir dan terpinggirkan.
  • Kita ingin meneliti dan mendeteksi perutusan CLC dan apa yang dapat kita lakukan dalam ikut perutusan itu.

Bahan renungan

  1. General principal Part 1. Kharisma kita; nomor 8 (singkatan bebas)

Bacalah teks ini pelan-pelan!

  • Sebagai anggota umat Allah, kita telah menerima dari Tuhan perutusan untuk menjadi saksi keselamatan di depan umat manusia, lewat tingkahlaku, kata-kata, dan tindakan, yaitu terlibat dengan misi Tuhan “membawa kabar baik pada yang miskin, pembebasan pada tawanan, penglihatan pada yang buta,  dan pewartaan kerajaan Allah sudah datang” (Lk 4: 18-19)
  • Hidup kita sebagai CLC adalah apostolis, perutusan. Bidang perutusan CLC tidak ada batasnya mencakup bidang gereja dan masyarakat dunia.
  • Untuk membawa keselamatan  pada semua manusia dengan  membuka hati mereka pada pertobatan  dan berusaha mengubah struktur masyarakat yang menindas.

       Pertanyaan refleksi

  • Perutusan apa yang utama dari General Principle itu?
  • Apakah anda setuju dengan perutusan itu?
  • Apakah perutusan itu juga cocok dengan situasi Indonesia dan situasi tempat kita sekarang hidup?
  • Apa aku tertarik untuk melakukannya?
  • Bicaralah secara pribadi dengan Tuhan yang mengutus Anda!

2. Perutusan pribadi CLC

  • Barangkali anda sebagai CLC sendirian, tidak punya kelompok ataupun teman. Maka anda dapat melakukan perutusan pribadi sebagai anggota CLC.
  • Perutusan pribadi apa yang sampai hari ini telah anda lakukan? Apakah anda puas, gembira dengan perutusan itu?
  • Apa ada perutusan pribadi yang ingin lebih anda lakukan kedepan yang sesuai dengan semangat perutusan dunia ini?
  • Semangat apa yang akan anda bawa dalam melakukan perutusan pribadi ini?
  • Apakah anda rela berbagi tentang perutusan pribadi ini dengan teman dan sahabat CLC lain?

3. Perutusan kelompok CLC

  • Sebagai kelompok perutusan apa yang penah anda lakukan? Apa anda gembira dengan perutuan itu?
  • Apakah anda sebagai kelompok CLC ingin lebih melakukan perutusan bersama ke depan?
  • Bila ya, kiranya perutusan apa yang dapat dilakukan bersama?
  • Bagaimana anda akan melakukannya?
  • Langkah apa yang akan anda buat agar gagasan perutusan bersama ini terwujud?

Doa pribadi pada Yesus

  • Dengan tenang, hening di depan Yesus. Anda ungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikiran anda pada Yesus.
  • Ungkapkan apakah anda ingin menjalankan perutusan yang diberikan Tuhan? Perutusan pribadi, kelompok atau apa?

Sharing di WAG

Dengan tenang secara singkat tulislah apa yang anda alami hari ini, yang anda rasakan  dalam hal perutusan CLC.


Panduan Hari Keempat ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 25 November 2020

Renungan Harian
Rabu, 25 November 2020

Bacaan I : Why. 15: 1-4
Injil    : Luk. 21: 12-19

Kesempatan

Beberapa tahun yang lalu ketika saya bertugas mendampingi guru-guru inpres di Keuskupan Bandung, saya mengunjungi seorang ibu guru yang bertugas di tempat terpencil. Di desa tersebut, ibu guru itu satu-satu orang asing. Di sekolah tempat beliau mengajar hanya ada 3 orang guru, 2 orang guru asli desa itu dan 1 lagi ibu guru itu. Ibu guru itu bukan hanya sebagai satu-satunya pendatang di desa itu akan tetapi ibu guru itu satu-satunya orang memeluk agama yang berbeda.
 
Dalam perjumpaan itu, pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah:
“Apa yang ibu pikirkan dan bayangkan ketika mendapat tugas di desa ini?” Pertanyaan itu muncul berdasar kekaguman saya dengan ibu guru itu.

Beliau pergi menjalankan tugas di tempat yang asing itu ketika beliau berusia 18 tahun, saat setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Sebuah keberanian yang luar biasa untuk menjalankan tugas.
 
“Romo, saat saya mendapatkan penugasan di desa ini, saya amat sadar bahwa saya akan menjadi orang asing. Dalam bayangan saya, di desa ini pasti ada guru-guru lain yang datang dari tempat lain. Pada saat pembekalan di Kabupaten, saya tahu bahwa satu-satunya orang yang beragama lain. Kemudian saat sampai di desa ini saya baru tahu ternyata saya satu-satunya pendatang.
 
Awal tinggal di desa ini amat berat bagi saya. Rasa khawatir, takut dan sedih campur aduk dalam diri saya. Pada awal saya datang, penduduk desa belum banyak yang mengerti bahasa Indonesia mereka menggunakan bahasa Sunda. Tidak ada satu katapun yang saya mengerti.
 
Saya hanya bisa berdoa dan berdoa mohon diberi kekuatan dan keberanian. Saya ingat nasehat ibu ketika saya mau berangkat: “Nak, jangan takut, Tuhan pasti menjaga dan menuntun. Dan lihatlah keberadaanmu di tempat asing sebagai kesempatan untuk memberi kesaksian tentang kasih, hormat, dan menghargai orang lain. Bagaimana caranya Tuhan yang akan menunjukkan jalan dan caranya.”
 
Saya berpegang pada nasehat ibu itu maka saya selalu berdoa dan mohon. Ternyata dalam perjalanan saya tidak banyak mengalami kesulitan seperti yang saya khawatirkan dan takutkan. Saya diterima di sini, dibimbing dan dituntun untuk mengenal bahasa dan adat istiadat di desa ini. Penduduk desa tidak menganggap saya sebagai orang asing, tetapi menjadi bagian dari mereka. Bahkan saya sering diantar ke kota untuk ke gereja.
 
Romo, saya mengalami mukjizat luar biasa di desa ini. Saya merasakan sungguh kasih Tuhan, dan bagaimana Tuhan membimbing serta menuntun saya.” Ibu itu membagikan pengalaman hidupnya.
 
Pengalaman luar biasa. Kisah ibu guru itu membuat saya terharu sekaligus kagum luar biasa. Kepasrahan pada tuntunan dan kasih Allah. Dan yang lebih penting lagi bagaimana ibu guru itu menghayati perutusan di tempat yang asing dan sulit sebagai kesempatan untuk memberi kesaksian lewat hidupnya.

Benarlah sabda Tuhan  sejauh diwartakan St. Lukas:
“…… Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. …….Tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang. Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu.
 
Bagaimana dengan aku, adakah aku menghayati tantangan dan kesulitan hidup sebagai kesempatan untuk bersaksi?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

HARI 3: RABU, 25 NOV 2020

DIPANGGIL MENJADI SAHABAT YESUS

Tujuan

Untuk semakin menyadari cinta Tuhan yang luar biasa, yaitu mengangkat kita menjadi sahabat-Nya.  

Mohon

Untuk rela dan gembira dijadikan sahabat Yesus

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik, Cinta Tuhan Yesus kepada kita semakin besar; Ia bukan hanya mencintai kita dengan memberikan pengalaman yang baik dan memberikan rahmat-Nya yang besar kepada kita; Ia bukan hanya menemani dan meringankan beban hidup kita di saat kita gelap.
  • CintaNya semakin besar pada kita, yaitu Ia mengangkat kita menjadi sahabatNya. Sahabat adalah orang yang dipercaya untuk meneruskan karyaNya. Bahwa lewat diri kita, yang juga tidak sempurna ini, karya keselamatan Tuhan dapat sampai kepada umat manusia.
  • Inilah misteri Tuhan membutuhkan manusia!
  • Kita dijadikan sahabatNya untuk ikut menyebarkan kasihNya kepada semua orang.
  • Apakah aku mau? Apakah aku tidak gembira dan bangga bahwa dipercaya menjadi sahabatNya?
  • Dan ingat sekali Tuhan mengangkat kita menjadi sahabatNya, Ia tidak pernah menarik dan membatalkan persahabatan itu!

Bahan Renungan

1. Yoh 15: 9-17: Kamu adalah sahabatKu

  • Bacalah teks ini pelan-pelan, resapkan isinya, rasakan apa yang tergerak dalam hati anda mendengarkan sabda Yesus kepada Anda.
  • Terutama ulangi kata Yesus kepada anda:
    •  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan yang Kuperitahkan kepadamu.
    • Aku tidak menyebut kamu hamba….. tetapi Aku menyebut kamu sahabat..
    • Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu…”
  • Rasakan apa yang muncul dalam hati anda mendengarkan sapaan Yesus diatas! Apa yang tergerak dalam hati anda? Apakah anda senang, bangga?
  • Atau anda gelisah, tidak senang? Mengapa?
  • Dengan tenang, bicaralah secara pribadi pada Yesus yang menjadikan anda sahabatNya! Ungkapkah semua apa yang anda alami dan rasakan?

2. Melihat apa yang telah kita buat sebagai sahabat Yesus

  • Lihatlah perjalanan hidup anda entah sebagai pribadi ataupun kelompok, apa yang telah anda lakukan sebagai ungkapan rela menjadi sahabat Yesus di dunia ini.
  • Apa yang belum aku lakukan sebagai sahabatnya?
  • Apakah aku sahabat yang sungguh dapat dipercaya?
  • Apa aku sahabat yang sering berkomunikasi dengan Tuhan? Sejauh mana komunikasi dengan Tuhan aku pupuk dalam hidupku sehari-hari?
  • Apa aku senang menjadi sahabat bagi orang lain pula?
  • Apa yang ingin aku lakukan untuk semakin menjadi sahabat sejati Tuhan?

Doa pribadi di depan Yesus

  • Secara pribadi dengan tenang silahkan anda ungkapkan apa yang anda alami selama merenungkan sabda Tuhan itu pada Tuhan sendiri.
  • Mohonlah untuk menjadi sahabatNya yang setia.

Bahan sharing WAG

Secara singkat silahkan menuliskan apa yang anda alami hari ini, apa yang mengesankan, apa yang menyentuh dalam renungan anda.

Panduan Hari Ketiga ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 24 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 24 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 14-20
Injil    : Luk. 21: 5-11

S e x y

Sudah amat sering dalam berbagai kesempatan maupun di pelbagai tempat diadakan seminar atau pengajaran tentang akhir zaman. Pelbagai judul seminar yang memikat ditampilkan untuk menarik orang mengikuti acara tersebut. Judul itu misalnya: “Mengintip zaman akhir”, “Sekarang tanda-tanda akhir zaman mulai nampak “ dan lain sebagainya.
 
Dengan pelbagai judul dan warta itu banyak orang terpikat untuk mengikutinya; karena mereka berprasangka bahwa para pembicara itu tahu kapan akhir zaman akan terjadi. Sehingga para pengikut seminar atau pengajaran itu punya harapan besar bahwa setelah ikut seminar atau pengajaran, mereka akan tahu kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Saya tidak tahu persis apa isi seminar atau pengajaran tersebut, karena belum pernah mengikuti, dan tanpa bermaksud menghakimi para narasumbernya, tapi dapat diduga bahwa yang dibicarakan adalah hal-hal yang tertulis dalam kitab Wahyu, kitab Daniel atau dari Injil yang bicara tentang akhir zaman. Saya menduga demikian karena saya yakin bahwa para narasumber tidak tahu pasti kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Pertanyaan muncul, mengapa tema-tema akhir zaman menjadi tema yang sexy untuk “dijual”? Akhir zaman adalah misteri besar dalam hidup manusia maka bila ada yang bisa menguak misteri itu pasti menjadi menarik. Sering kali mereka yang ikut seminar dan pengajaran tersebut lebih ingin memuaskan pengetahuan mereka  daripada ingin mempersiapkan diri lebih baik sehingga bila saatnya tiba mereka selamat.
 
Banyak orang, termasuk saya sering kali merasa puas dan senang ketika menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang luar biasa. Namun rasa puas dan senang itu seringkali menjebak saya untuk berhenti pada rasa itu. Saya lupa untuk mengolah, mengunyah dan mencecap-cecap pengetahuan itu sehingga tidak memunculkan gerakkan batin, tidak memunculkan kehendak, apalagi sebuah keputusan untuk bertindak.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini mengingatkan, agar tidak terjebak dengan pengetahuan semata, tetapi yang lebih penting adalah bertindak, menata diri, mempersiapkan diri dari waktu ke waktu agar bila saatnya tiba, aku dianggap pantas. Sabda Tuhan sejauh diwartakan St. Lukas dengan tegas mengingatkan agar waspada: “Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Orang yang menyesatkan atau disesatkan? Orang yang puas dengan pengetahuan atau orang yang berani mengolah apa yang kuterima?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

HARI 2: SELASA, 24 NOV 2020

MENEMUKAN TUHAN DALAM PENGALAMAN GELAP DAN BERAT

Tujuan

Untuk menemukan Tuhan dalam pengalaman gelap dan berat, sehingga lebih happy dalam hidup ini

Mohon

Boleh menyadari dan mensyukuri kasih Tuhan dalam pengalaman gelap kita

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik,
  • Sebagai seorang CLC kadang kita juga punya pengalaman gelap, pengalaman berat, dan pengalaman yang menyakitkan.
  • Dalam situasi seperti itu, kadang kita bertanya, “Apakah Tuhan pergi dari padaku? Apakah Tuhan tidak mencintai aku lagi?”
  • Ternyata tidak! Bahkan kadang dalam pengalaman gelap dan berat itu, kehadiran Tuhan lebih jelas dan peran Tuhan lebih kentara bagi hidup kita. Bahkan dalam pengalaman yang menyakitkan itu, sering kita semakin tahu apa yang diinginkan Tuhan pada kita, kita semakin mengerti betapa cintaNya luar biasa.
  • Seorang mahasiswa saya berontak pada Tuhan waktu ayahnya meninggal karena ayahnya adalah satu-satunya yang bekerja dan membeayai kuliahnya. Ia frustrasi, stress, dan sungguh gelap.  ”Lalu mau apa saya?” Tetapi setelah beberapa bulan, ia menemukan maksud Tuhan, yaitu agar dia belajar mandiri, dan juga sadar ternyata Tuhan tetap mencintainya dengan berbagai cara yang lain. Ia menjadi gembira dan semangat lagi!
  • Kita lihat pengalaman beberapa orang di Kitab Suci yang justru menemukan Tuhan dalam situasi yang berat, gelap, berdosa, dan kacau:  
    • Saulus, yang mengejar murid Yesus dan ingin membunuh mereka. Ia tetap dicintai Tuhan dan bahkan dipercaya menjadi muridNya yang hebat.
    • Perempuan yang berjinah itu, di depan Tuhan Yesus, tidak dihukum, tetap dihidupkan dan menjadi baru.
    • Banyak orang sakit dan berbeban berat datang pada Yesus dan disentuh serta disembuhkanNya.
  • Apa aku juga sering datang pada Tuhan di saat berbeban berat?
  • Kita ingin mendalami, menyadari, dan menemukan kasih Tuhan dalam pengalaman kita yang berat tahun ini.

Bahan Renungan

1. Melihat pengalaman yang sangat berat tahun ini

  • Kenang kembali pengalaman-pengalaman yang sangat berat, gelap, dan menyakitkan dalam setahun ini! Pengalaman apa itu?
  • Apa yang anda rasakan dan alami dengan pengalaman itu?
  • Bagaimana akhirnya anda dapat keluar dari situasi berat dan gelap itu?
  • Siapa saya yang ikut andil dalam mengangkat anda?
  • Apa peran Tuhan dalam pengalaman itu? Apa dampaknya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?
  • Syukurilah pengalaman itu.

2. Melihat orang yang menjengkelkan tahun ini

  • Lihat orang-orang yang setahun ini anda rasakan menjengkelkan, membuat anda tidak enak, membuat anda sakit hati.
  • Apa yang dilakukan mereka itu pada anda? Bagaimana perasaan anda?
  • Mengapa anda jengkel pada mereka?
  • Apakah anda sudah berdamai dengan orang itu?
  • Apa maknanya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?  
  • Apa maksud Tuhan dengan pengalaman itu?
  • Syukurilah pengalaman itu.

3. Pengalaman gagal dan hancur

  • Barangkali anda punya pengalaman gagal, hancur, atau bakan traumatis. Pengalaman apa itu? Apa sebabnya anda gagal dan hancur?
  • Bagaimana anda bangun kembali?
  • Apa dalam pengalaman seperti itu anda datang pada Tuhan atau lari dari padaNya? Mengapa? Apa peran Tuhan dalam hal itu?
  • Syukurlah itu.

Menghadap Tuhan secara pribadi

  • Dengan semua pengalaman itu, pandanglah Tuhan yang memandang anda.
  • Ungkapkan semua perasaan dan pengalaman serta isi hati anda pada Dia?
  • Apa yang tergerak dalam hati anda?

Menuliskan pengalaman di WAG

  • Tuliskan dengan singkat apa yang anda temukan dalam permenungan hari ini.
  • Buah apa yang anda dapatkan untuk hidup anda kedepan?


Panduan Hari Kedua ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian : 23 November 2020

Renungan Harian
Senin, 23 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 1-3. 4b-5
Injil    : Luk. 21: 1-4

Orang Kaya

Malam itu kami mengadakan rapat pembangunan. Rapat ini adalah rapat rutin setiap akhir bulan untuk membicarakan berbagai hal berkaitan dengan pembangunan pastoran. Sebagaimana biasa dalam rapat kami mendengarkan laporan tentang perkembangan  pembangunan, laporan berbagai macam kendala yang harus diselesaikan dan yang paling terakhir adalah laporan tentang dana.
 
Setiap kali kami mendapatkan sumbangan dalam jumlah besar, kami selalu bersyukur dan kagum dengan orang-orang yang menyumbang dalam jumlah besar. Malam itu salah satu tim dana menyampaikan bahwa ada amplop sumbangan dari seorang ibu. Kami mengenal ibu yang memberi sumbangan itu adalah seorang janda yang hidup amat sederhana, dan untuk kehidupan sehari-hari selain berjualan, beliau selalu mendapatkan bantuan dari seksi sosial paroki.
 
Amplop itu belum dibuka karena tim dana tidak berani membuka dan berpikir sumbangan itu lebih baik dikembalikan mengingat keadaan beliau. Kami memutuskan untuk membuka amplop sumbangan beliau dan ternyata jumlah uang dalam amplop itu 2 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar bahkan amat besar untuk ibu itu. Setelah ditimbang-timbang kami memutuskan untuk mengembalikan sumbangan itu karena menurut kami akan lebih berguna untuk kehidupan ibu itu.
 
Ketika saya bertemu dengan ibu itu untuk mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan sumbangannya dan bermaksud untuk mengembalikannya, ibu itu berkata:

“Romo, mohon agar berkenan menerima sumbangan Oma, meskipun amat sedikit. Ketika romo mengumumkan pembangunan pastoran dan mengumpulkan dana, oma sedih karena oma tidak punya apa-apa. Ingin ikut andil tetapi untuk hidup sehari-hari saja oma dibantu paroki.
 
Romo, karena oma ingin sekali ikut andil, maka oma memutuskan menyisihkan sedikit uang oma. Oma pikir, cukup bisa makan sekali sehari dan sisanya oma kumpulkan. Mungkin hanya sekali oma bisa memberikan sumbangan tetapi oma bahagia bisa ikut andil dalam pembangunan pastoran. Maka oma berharap dengan sangat agar romo berkenan menerima sumbangan oma.”
 
Saya pulang ke pastoran tanpa terasa air mata saya berlinang. Saya telah bertemu dengan orang yang luar biasa; orang yang secara materi memang miskin tetapi beliau bagi saya adalah orang yang kaya; dan yang lebih membuat hati saya sedih, pastoran yang bagus itu dibangun dari uang orang yang rela makan sekali sehari.
 
Bagi saya, oma itu adalah janda miskin yang dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh St. Lukas. Orang yang memberikan persembahan amat besar. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

HARI 1: SENIN, 23 NOV 2020

MENSYUKURI KASIH TUHAN DALAM SETAHUN INI

Tujuan

Untuk boleh mensyukuri kasih Tuhan dalam tahun ini, sehingga hidup kita lebih happy.

Mohon

Boleh bersyukur atas kasih Tuhan yang kita alami.

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik, selamat bertemu dalam retret tahunan 2020 ini!
  • Semoga di tengah keramaian dan kesibukan tugas dan pekerjaan kita, kita masih dapat menyisihkan waktu sejenak untuk berdoa, bermenung, dan berefleksi tentang hidup dan panggilan kita sebagai seorang CLC.
  • Sebagai seorang CLC, dasar hidup kita adalah bahwa kita ini dicintai Tuhan, apapun keadaan kita. Cinta Tuhan itu dapat kita rasakan dalam berbagai pengalaman hidup kita setahun ini, lewat orang-orang yang baik kepada kita, lewat kemajuan dan rahmat yang kita alami setahun ini. Maka kita ingin merenungkan hal itu.
  • Untuk membuka hati kita, kita sejenak ingin membaca pelan-pelan, merenungkan pengalaman pemasmur yang sungguh mengalami dalam hidupnya kasih Tuhan, yaitu dalam masmur 23: Tuhanlah Gembalaku.
  • Silahkan dengan tenang anda baca masmur itu dengan  pelan, resapkan isinya, dengarkan gerak batin anda selama membaca masmur itu!
    • Tuhanlah Gembalaku, aku tak kan kekurangan sesuatu
    • Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
    • I membimbing aku ke air yang tenang
    • Ia menyegarkan jiwaku…….dst…

Bahan Renungan

  1. Melihat pengalaman yang mengesankan tahun ini
  2. Lihatlah kembali pengalaman-pengalaman yang mengesankan dalam hidup anda selama setahun ini, yang anda rasakan sebagai bentuk kasih Tuhan pada anda!
  3. Pengalaman apa itu? Apa yang anda alami?
  4. Apa peran Tuhan yang anda rasakan dalam pengalaman itu?
  5. Setelah itu dengan tenang, ungkapkan perasaan anda pada Tuhan! Syukurilah semua itu!
  • Orang-orang yang menyertai anda setahun ini
  • Dengan tenang, anda ingat kembali beberapa orang yang sungguh anda rasakan sebagai tanda kasih Tuhan bagi hidup anda setahun ini!
  • Siapa saja mereka itu? Apa yang mereka lakukan pada anda?
  • Bagaimana perasaan dan hati anda mengenang apa yang dibuat orang itu?
  • Syukurilah mereka, karena mereka telah menjadi tanda kasih Tuhan bagi anda.
  • Dengan tenang doakan orang itu pada Tuhan pula.
  • Kemajuan dan berkat pribadi yang dialami
  • Dengan tenang anda lihat kembali kemajuan apa yang anda alami selama setahun ini baik sebagai pribadi maupun dalam tugas anda.
  • Barangkali anda bertambah pengetahuan, bakat, kebijaksanan, penghasilan, tambah penghargaan, kesehatan yg baik, makin mantap dalam hidup, makin tenang, dll.  
  • Sadarilah bahwa itu semua adalah bentuk kasih Tuhan pada anda. Syukurilah itu semua di depan Tuhan.

Bersyukur dan berdoa pribadi

  1. Dari semua yang ada temukan diatas, berdoalah secara pribadi pada Tuhan, ungkapkan semua perasaan dan isi hati anda pada Dia yang mencintai anda!
  2. Kalau anda ingin bernyanyi, bernyanyilah, kalau ingin menulis puisi, tulislah!  
  3. Ingin menulis doa, silahkan pula!
  4. Mau diam menatap Tuhan, silahkan!

Mensharingkan pada teman di WAG

  1. Tulislah secara singkat apa yang ada alami, yang anda rasakan, yang anda temukan, yang mengesankan dalam permenungan sehari ini.

SELAMAT BERMENUNG! TUHAN MEMBERKATI!



Panduan Hari Pertama ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 22 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 22 November 2020

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan I  : Yeh. 34: 11-12. 15-17
Bacaan II : 1Kor. 15: 20-26a. 28
Injil     : Mat. 25: 31-46

Nasi Bungkus

Dalam pertemuan seksi sosial paroki, para pengurus mengusulkan agar paroki mengadakan aksi sosial membagi nasi bungkus satu kali dalam seminggu untuk saudara-saudara yang  berkekurangan. Idenya bukan hanya agar  saudara-saudara yang berkekurangan mendapatkan makan tetapi juga agar mereka mendapatkan makanan yang sedikit lebih baik. Akhirnya diputuskan untuk dijalankan.
 
Sesuai dengan kesepakatan dalam rapat pada hari itu mulai pagi beberapa ibu dan beberapa bapak mulai memasak untuk menyiapkan nasi bungkus. Hari itu kami menyediakan 250 nasi bungkus untuk dibagikan. Setelah selesai membungkus maka para bapak dan ibu itu berbagi tugas untuk berkeliling membagikan nasi bungkus.
 
Dalam perjalanan waktu, kami kesulitan untuk menentukan menu, karena bahan dasar selalu telur, daging ayam dan tahu tempe. Kami selalu bicara tidak masalah dengan bahan dasar tetapi yang penting cara mengolahnya selalu berganti dan selalu diusahakan agar nasi harus baik.
 
Pada suatu saat harga ayam begitu mahal, sehingga kami memutuskan untuk beberapa kali menyediakan masakan berbahan dasar telur. Keputusan itu dibuat karena kemampuan kami terbatas. Dalam bulan itu hanya satu kali menu berbahan dasar daging ayam.
 
Suatu hari, beberapa ibu sepulang membagi nasi bungkus, tampak sedih dan marah. Beliau bercerita bahwa ada dua orang yang menerima nasi bungkus ketika melihat menunya berbahan telur ngomel-ngomel dan langsung membuang nasi bungkus itu ke tempat sampah. Mendengar cerita ibu-ibu itu, saya mengatakan untuk tidak berkecil hati. Hal yang paling penting adalah usaha kita untuk berbagi. Niat baik disertai usaha yang baik dan kerja yang baik untuk saudara-saudara kita, menurut saya itu sudah luar biasa. Soal ada yang menerima dengan senang hati atau ada yang menolak bahkan mencemooh jangan menjadikan risau dan surut. Tugas kita adalah berbagi kasih.
 
Dalam pembicaraan pada waktu evaluasi beberapa dari bapak dan ibu itu bercerita bahwa pengalaman kebahagiaan saat berbagi lebih besar dari pada dukanya. Kelelahan dan kesulitan dalam menyiapkan nasi bungkus terbayar melihat kebahagiaan saudara-saudara yang menerima. Bahwa ada yang menolak tidak menjadi persoalan karena hati ini diajarkan, dilatih untuk peka dengan saudara-saudara yang berkekurangan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menegaskan bahwa betapa penting kepekaan hati pada saudara-saudara yang berkekurangan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.”
 
Apakah aku mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri saudaraku yang hina dan berkekurangan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.