Renungan Harian: 30 Agustus 2020

Renungan Harian
Minggu, 30 Agustus 2020

Minggu Biasa XXII
Bacaan I  : Yer. 20: 7-9
Bacaan II : Rom. 12: 1-2
Injil     : Mat. 16: 21-27

Terserah

Beberapa tahun yang lalu, saya menghadapi peristiwa yang cukup mengejutkan dan sekaligus menyedihkan. Pengalaman ini tentang pasangan calon pengantin yang hendak saya berkati dalam perayaan ekaristi penerimaan sakramen perkawinan.
 
Pasangan ini tinggal di luar kota, dan hendak menikah di paroki dimana saya bertugas, karena keluarga mempelai perempuan berdomisili di paroki tempat saya bertugas. Semua urusan administrasi sudah dibereskan oleh pastor paroki tempat kedua pengantin berdomisili.Semua sudah disiapkan dengan baik, saya juga melihat koor sudah latihan, keluarga sudah menyiapkan segalanya. Bahkan saya dengan pengantin sudah mengadakan gladi resik.
 
Namun kurang lima hari kedua pengantin didampingi kedua orang tuanya membatalkan perkawinan itu. Saya cukup terkejut, karena tinggal lima hari lagi. Kedua orang tua pengantin menangis dan mohon agar saya sebagai pastor dapat menasehati mereka. Kepada kedua orang tua pengantin saya hanya bisa mengatakan, mohon bersabar dan lebih baik sekarang batal dari pada nanti kalau sudah menikah.
 
Ketika saya mengajak kedua pengantin ngobrol mengenai sebab mereka membatalkan, saya menjadi terkejut karena pemicunya adalah kata “terserah” yang sering diucapkan oleh calon pengantin perempuan. Calon mempelai pria bercerita bahwa dirinya tidak tahan dengan keributan-keributan  yang sering terjadi dan sungguh-sungguh menguras emosi dan energi.
 
Sejak pacaran, calon mempelai perempuan, kalau diajak berbicara khususnya berkaitan dengan pilihan selalu menjawab:
“terserah kamu saja, aku ikut .”
Tetapi nanti pada saat sudah diputuskan dan dijalankan mempelai perempuan akan marah-marah dan mengkritik harusnya begini dan begitu. Dia memberi contoh kalau diajak makan, ditanya mau makan apa dan dimana, jawabnya terserah saya ikut saja. Tetapi saat diajak makan nasi uduk, selama makan itu calon istri ini ngomel-ngomel yang gak enaklah, harusnya bukan makan ini dan itu. Hal itu yang memicu keributan.
 
Demikian pula ketika persiapan pesta perkawinan, jawaban calon mempelai perempuan terserah kamu saja. Dan ketika semua sudah siap, calon mempelai perempuan marah-marah, karena dia tidak seneng dengan pakaiannya, dengan acara adat dan macam-macam. Intinya semua apa yang sudah dipersiapkan ini tidak benar.
 
Pada saat saya konfirmasi ke pengantin perempuan, dia mengatakan bahwa dirinya memang kalau ditanya tidak bisa mikir dan tidak bisa menentukan pilihan tetapi setelah diputuskan dan dijalankan dia baru bisa mikir bahwa ini tidak baik, itu tidak menyenangkan.
 
Setelah mendengarkan cerita mereka maka saya setuju bahwa perkawinan ini ditunda.
 
Belajar dari pengalaman calon pengantin di atas, betapa sulit untuk menyatukan pikiran, pandangan dan kehendak. Bahkan ketika sudah mengatakan terserah, yang ditangkap sebagai kepasrahan pun ternyata tidak berarti sungguh-sungguh menyatukan diri. Menyatukan diri baik pikiran, pandangan dan kehendak dengan orang lain membutuhkan kerelaan untuk menanggalkan diri dan siap untuk menderita.
 
Kiranya itu pula yang diminta Yesus bagi para pengikutnya sejauh diwartakan Matius: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku.”
Penyangkalan diri bukan untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi lain tetapi aku mau menyatukan diri dengan cara berpikir, cara pandang, dan cara bertindak Yesus.
 
Dalam praktek bukankah aku sering memaksakan kehendaku pada Tuhan? Dan entah sadar atau tidak aku memanipulasi Allah agar menuruti semua keinginanku?
Bagiku seringkali Allah itu baik dan maha segala maha manakala memenuhi segala keinginanku.
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 Agustus 2020

Renungan Harian
Sabtu, 29 Agustus 2020

PW. Wafatnya St. Yohanes Pembaptis
Bacaan I : Yer. 1: 17-19
Injil    : Mrk. 6: 17-29

Kehendak

Pada suatu pagi, saya dapat kunjungan seorang teman yang sudah begitu lama tidak berjumpa. Pagi itu dia datang menggunakan sepeda motor berboncengan dengan istrinya. Melihat mereka datang menggunakan sepeda motor, spontan saya menyapa: “Wah gak salah loe naik motor? Gak masuk angin tu istri loe?” Saya menyapa begitu karena sejak saya kenal, dia tidak pernah naik motor, dan pernah suatu ketika dengan bercanda mengatakan kalau naik motor takut masuk angin. Mendengar sapaan saya dia tertawa terbahak: “Bisa aja loe Wan.”
 
Teman saya ini berprofesi sebagai konsultan pajak. Kalau dilihat dari sisi materi untuk ukuran seusianya pada masa itu, dia boleh disebut orang yang  sukses. Dia dan keluarganya selalu memakai mobil-mobil keluaran terbaru. Maka ketika dia datang dengan sepeda motor yang biasa, itu amat mengejutkan.
 
“Eh, setan apa yang bikin loe sekarang naik motor?” tanya saya keheranan. “ha……ha setan bunting kali. Ceritanya panjang Wan.” Jawabnya.
“Wan, loe tahu kerjaan gue. Waktu gue masih dikerjaan itu, wah duit tuh mengalir deras seperti air. Gue gak pernah mikir soal duit, karena akan selalu datang. Gue seneng, gue bersyukur dan gue nikmati itu semua.
 
Nah suatu kali gue ke gereja karena anak yang besar komuni pertama. Itu pertama kali gue ke gereja sejak menikah. Denger khobah pastor gue jadi gundah. Pekerjaan gue ini gak sepenuhnya halal, dan uang uang yang gue terima juga gak sepenuhnya halal. Tapi mo gimana, ini kerjaan gue dan gue harus hidup. Sejak saat itu gue selalu ke gereja, dan setiap pulang gereja selalu gundah dan resah. Gue tahu ada yang gak beres dengan hidup gue tapi ya mau gimana lagi. Semakin lama, hidup gue semakin resah, dan jawaban mau gimana lagi tidak bisa menghilangkan keresahan gue.
 
Ya udah, gue mutusin gak usah pergi ke gereja. Tetapi gak pergi ke gereja tambah resah, karena ada sesuatu yang hilang. Sampai suatu saat saya punya niat nih, udah gue mau tinggalin pekerjaan ini dan cari pekerjaan lain.
 
Gue ngomong ke bini gue. Bini gue marah, gimana harus hidup, gimana dengan teman-temannya, gimana dengan anak-anak, macam-macam dah pokoknya. Wah, Wan, berbulan-bulan gue ngobrolin ini ama bini. Akhirnya bini gue menyerah juga dan siap untuk mulai sesuatu yang baru.
 
Jadilah, gue tutup kantor konsultan pajak dan gue buka bengkel mobil. Kendaraan dan beberapa rumah habis buat modal. Hidup gue berubah drastis yang dulu gak mikirin duit, sekarang harus berhitung sungguh-sungguh. Kami bersyukur dengan setiap rupiah yang kami dapat. Wah, gak mudah, betul-betul gak mudah. Bini gue sempat stress, karena ditinggalkan teman-temannya  dan macam-macam omongan yang amat tidak enak sering kami denger.
 
Tapi ya Wan, anehnya hidup kami jadi lebih tenang, lebih adem dan bahagia. Sekarang kerja lebih berat, dapetnya jauh lebih sedikit tapi kami damai.” Teman saya mengakhiri cerita panjangnya.
 
Allah selalu membuat manusia gelisah dan resah. Kegelisahan dan keresahan yang menggoncang-goncang kemapanan seseorang. Kegelisahan dan keresahan yang menuntun pada kehidupan yang semakin baik. Namun demikian, kegelisahan dan keresahan ini membutuhkan pengolahan diri yang luar biasa untuk sampai pada kehendak dan keputusan untuk bertindak yang lebih baik. Banyak hal yang dipertaruhkan untuk sampai pada hasrat bertindak yang lebih baik. Hal yang paling berat adalah mempertaruhkan harga diri.
 
Pengalaman Herodes yang gagal dengan keresahan yang menuntun sampai pada kehendak untuk bertindak yang lebih baik karena tidak ada keberanian mempertaruhkan harga dirinya.
 
Bagaimana dengan aku? Beranikah aku mengolah keresahan dan kegelisahanku, tidak hanya sampai pada kehendak saja, tetapi sampai pada hasrat untuk bertindak lebih baik? Apakah aku berani mempertaruhkan harga diriku untuk mencapai hasrat itu?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 28 Agustus 2020

Renungan Harian
Jumat, 28 Agustus 2020

PW. St. Agustinus
Bacaan I : 1Kor. 1: 17-25
Injil    : Mat. 25: 1-13

Manipulasi

Banyak berita yang mewartakan, banyak orang yang menyebut diri sebagai guru  atau pemimpin spiritual yang mengajarkan jalan keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Namun setelah mempunyai banyak pengikut kemudian berujung pada penipuan.
 
Mereka yang menyebut diri sebagai guru atau pemimpin  spiritual sudah pasti bukan orang biasa-biasa. Mereka pasti punya kharisma dan kepandaian. Hal itu terbukti dia mampu menggaet banyak orang sebagai pengikut dan membuat para pengikutnya percaya penuh dengan ajarannya.
 
Para pengikutnya bisa saja kita menyebut sebagai orang “bodoh” akan tetapi mereka (para pengikut) adalah orang-orang yang mencari keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Mereka mau menjadi pengikut karena guru atau pemimpin spiritual itu menawarkan apa yang mereka butuhkan.
 
Dari kisah di atas menunjukkan bagaimana seseorang menggunakan kharisma dan kepandaiannya untuk memanipulasi orang lain demi mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan demikian lewat perbuatannya dia telah menyesatkan banyak orang. Bahasa yang sedikit kasar mereka yang mengaku guru atau pemimpin spiritual itu telah mamanfaatkan “kebodohan” banyak orang untuk kepentingan pribadi.
 
Apa yang dilakukan oleh para pemimpin atau guru spiritual itu sering kali terjadi pada para pemimpin agama termasuk para pastor. Bagaimana para pastor atau para pemimpin agama menggunakan kharisma dan kepandaiannya untuk memanipulasi jemaatnya demi kepentingan pribadi.
 
Kepentingan pribadi tidak selalu harus diartikan sebagai materi yang didapatkan tetapi juga bentuk kultus-kultus individu. Tidak jarang para pastor membangun image kharisma dan kepandaiannya untuk mendapatkan pengkultusan dari jemaatnya. Akibat yang terjadi sama, jemaat disesatkan.
 
Jemaat cenderung menjadi lebih percaya kepada para pastor atau pemimpin agama dari pada percaya kepada Allah. Para pemimpin agama seharusnya menghantar jemaatnya sampai pada pengalaman akan Allah bukan pada kehebatan dan kemegahan para pemimpin agama.
Apa yang dimanipulasi oleh mereka adalah kerinduan jemaat akan keselamatan.
 
Surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus menyatakan: “Kami memberitakan Kristus yang tersalib, suatu sandungan bagi orang Yahudi, tetapi bagi mereka yang dipanggil, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.” Pewartaan tentang Kristus yang tersalib adalah pewartaan tentang pengorbanan yang sehabis-habisnya demi keselamatan manusia.
 
Oleh karenanya berbeda dengan para pemimpin spiritual, pemimpin agama atau guru yang memanipulasi pengikutnya demi keuntungan pribadi. Ciri utama adalah pemberian diri. Kalau ada yang mengaku diri sebagai pemimpin spiritual atau pemimpin agama menggunakan kharisma dan kepandaiannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri sudah pasti ada unsur manipulasi.
 
Bagaimana dengan aku? Bukankah aku senang bila ada orang atau kelompok orang mengkultuskan atau mengidolakanku? Bukankah aku sering berjuang untuk mendapatkan keuntungan pribadi? Jadi siapa aku yang sebenarnya?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 27 Agustus 2020

Renungan Harian
Kamis, 27 Agustus 2020

PW. St. Monica
Bacaan I: 1Kor. 1: 1-9
Injil   : Mat. 24: 42-51

Mampir Ngombe

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “Wong urip neng ngalam donya kuwi mung koyo wong mampir ngombe”. (Orang hidup di dunia itu bagai orang yang singgah untuk minum). Ungkapan tersebut berlatar pengalaman orang-orang desa pada masa yang membawa dagangan ke kota.
 
Pada masa lalu, orang-orang desa kalau mau menjual hasil bumi atau hasil rumah tangganya, harus pergi ke kota. Pada umumnya keramaian pasar-pasar di kota terjadi pada hari pasaran tertentu, misalnya pahing, pon, wage kliwon atau legi. Di luar hari-hari pasaran, pasar-pasar akan sepi.
 
Orang-orang desa kalau mau ke kota, harus jalan kaki, karena pada masa itu belum ada transportasi umum seperti sekarang. Mereka akan berangkat malam hari atau dini hari agar pagi hari bisa sampai di pasar untuk menjual hasil bumi atau hasil rumah tangganya.
 
Pada masa lalu setiap rumah selalu menyediakan kendi (tempat minum dari gerabah) di depan rumahnya, sehingga siapapun orang yang lewat dan kehausan dapat minum dari air kendi yang tersedia.
 
Orang-orang desa yang berjalan ini sering kali kalau haus akan minum dari air kendi yang disediakan di depan rumah orang. Mereka sejenak melepas lelah dengan minum air kendi itu. Itulah yang disebut dengan mampir ngombe. Artinya hanya sebentar dan hanya secukupnya. Kalau kelamaan istirahat makan akan ketinggalan pasar, dan kalau kebanyakan minum sakit perut sehingga berat untuk berjalan akibatnya ketinggalan pasar.
 
Dengan ungkapan “Urip mung mampir ngombe” mau menegaskan bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara dan hidup di dunia ini bukan tujuan. Ada hidup yang kekal dan menjadi tujuan utama dari hidup ini.
 
Dengan demikian hidup di dunia ini hendaknya selalu diarahkan pada tujuan hidup yang kekal. Menjalani hidup dengan secukupnya jangan mengumbar hawa nafsu yang menyebabkan orang lupa dengan tujuan hidup dan akibatnya tidak sampai pada tujuan hidup itu sendiri.
 
Hidup di dunia jangan takut untuk prihatin (menderita) dan mengalami kesulitan, asal semua mengarah pada tujuan hidup. Semua penderitaan dan kesulitan itu tidak lama, tidak kekal. Maka hal paling penting dalam menjalani peziarahan hidup di dunia ini adalah selalu “eling lan waspada” (selalu sadar/aware dan waspada) agar tidak berbelok dari arah tujuan hidup yang sebenarnya.
 
Kiranya ungkapan dalam bahasa Jawa di atas senada dengan Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius: “Hendaklah kamu siap siaga, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga.”
 
Persoalan besar adalah bagaimana aku selalu eling lan waspada dalam hidup yang “mung mampir ngombe” itu?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 26 Agustus 2020

Renungan Harian
Rabu, 26 Agustus 2020

Injil : Mat. 23: 27-32

Kuburan

Waktu saya masih frater, saya pernah jalan-jalan ke makam Ereveld Menteng Pulo. Makam itu tertata rapi dan indah. Pergi ke makam terasa seperti rekreasi ke sebuah taman yang indah. Demikian pula ketika saya pergi ke pemakaman Cina, di Cikadut Bandung, komplek pemakaman yang amat indah. Banyak makam yang dinaungi rumah-rumah cukup besar dengan arsitektur khas Cina. Sehingga pergi ke sana serasa pergi ke China Town.
 
Pada masa sekarang ini sudah banyak makam-makam komersial yang menawarkan keindahan luar biasa. Sehingga makam menjadi tempat rekreasi bagi keluarga yang sanak saudaranya dimakamkan di tempat itu.
 
Suasana makam yang indah, asri dan menyenangkan dapat menyembunyikan apa yang sesungguhnya tersimpan di dalamnya. Andai semua yang tersimpan di dalamnya dibuka sudah barang tentu membuat banyak orang pergi menjauh menghindari tempat itu.
 
Makam yang indah seringkali dipakai untuk menggambarkan kenyataan diri seseorang. Banyak orang yang menampilkan diri sebagai orang yang baik, anggun dan suci untuk menutupi kenyataan diri yang sesungguhnya.
 
Akhir-akhir ini Gereja Katolik di Indonesia sedang menjadi perhatian banyak orang, baik orang di luar Gereja maupun di dalam Gereja itu sendiri berkaitan dengan kasus-kasus kejahatan sexual. Apa yang terjadi seperti orang membokar makam dan mempertontonkan kebusukan di dalamnya.
 
Banyak orang mengkritik sikap Gereja secara khusus para pejabat Gereja yang seolah-olah mengubur dalam-dalam berbagai kejahatan sexual yang terjadi dalam Gereja dengan membangun makam-makam yang indah.
 
Saat ini, Gereja belajar untuk menatap kenyataan yang sungguh-sungguh pahit. Akan tetapi pada saat yang sama Gereja belajar untuk semakin terbuka dan akuntabel. Gereja malu, sedih dan menangis dengan semua peristiwa ini. Menangis bukan karena kebusukannya dibongkar tetapi malu, sedih dan menangis karena keberpihakan kepada para korban.
 
Gereja membuka diri untuk dibongkar, dan dengan semua dibongkar pada saat yang sama Gereja menunjukkan bahwa benar ada kebusukan tetapi yang harum mewangi dalam Gereja jauh lebih banyak.
 
Kritik Yesus terhadap orang farisi sejauh diwartakan Matius adalah kritik untuk Gereja juga: “ Hai kalian orang-orang munafik, sebab kalian itu seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Kriktik yang keras dan menyakitkan, akan tetapi membangunkan diri untuk berjuang menjadi orang-orang yang autentik.
 
Apa yang dialami Gereja dengan peristiwa akhir-akhir ini adalah bagian dari proses pemurnian dan oleh karenanya harus menjadi peristiwa syukur. Kita harus malu, sedih dan menangis atas kritik tajam dengan dibongkarnya kebusukan ini. Akan tetapi malu, sedih dan menangis bukan karena kebusukan kita dibongkar tetapi ada banyak korban yang selama ini tidak mendapatkan perhatian, kasih dan perlindungan dari kita.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 Agustus 2020

Renungan Harian
Selasa, 25 Agustus 2020

Bacaan I : 2Tes. 2: 1-3a.13b-17
Injil    : Mat. 23: 23-26

Mawas Diri

Dalam sebuah diskusi informal di group media sosial ada seseorang yang banyak memberikan kritik mengenai sistem pendidikan. Semakin banyak kawan memberikan jawaban semakin banyak kritik yang dilontarkan. Hal yang menarik adalah ada satu teman yang menyampaikan pendapat: “Kalau memberikan kritik sebaiknya memberikan usulan solusi. Kalau hanya mengkritik saja banyak temannya.”
 
Pendapat seorang teman itu, bukan didasari atas ketidak sukaan kepada pemberi kritik, akan tetapi mengingatkan untuk semua anggota group, agar marwah anggota group terjaga sebagai marwah kaum intelektual.
 
Ada sementara orang yang dengan mudah melontarkan kritik, dan sering kali kritik yang destructive, pokoknya kalau tidak sesuai dengan apa yang dia mau pasti dikritik. Ada sementara orang yang sering menyampaikan kritik karena ingin terlihat pandai.
 
Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “Aja ngaku pinter yen durung bisa nggoleki lupute awake dhewe”. (jangan mengaku pandai kalau belum bisa mencari kesalahan diri sendiri). Ungkapan tersebut mengajarkan agar setiap orang punya kemampuan untuk mawas diri. Orang diajak untuk berani dengan jujur mengukur diri sendiri; mengukur kemampuan diri, mengukur kekuatan diri dan mengukur kebenaran diri.
 
Dengan kemampuan mawas diri orang diantar kepada pengalaman kerendahan hati, dan menjadi diri sendiri. Sehingga tidak mudah untuk melontarkan kritik yang destructive atau hanya sekedar melontarkan kritik hanya agar dianggap pandai.
 
Senada dengan hal di atas kritik Yesus terhadap orang farisi sejauh diwartakan Matius menunjuk sikap orang farisi yang tidak mampu mawas diri: “Hai orang-orang farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebalah luarnya juga akan bersih.”
 
Bagaimana dengan diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Latihan Rohani : Ingin Disembunyikan

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Ingin Disembunyikan.

Renungan Harian: 24 Agustus 2020

Renungan Harian
Senin, 24 Agustus 2020

Pesta St. Bartolomeus Rasul
Bacaan I : Why. 21: 9b-14
Injil    : Yoh. 1: 45-51

B e n e r

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “luwih gampang ndidhik wong bener dadi pinter tinimbangane ndidhik wong pinter dadi bener”. (lebih mudah mendidik orang benar menjadi pandai dari pada mendidik orang pandai menjadi benar).
 
Dari ungkapan diatas menjelaskan bahwa dalam kata “bener” termaktup arti jujur, terbuka, rendah hati. Maka “wong bener” (orang benar) berarti orang yang jujur, terbuka, rendah hati. Oleh karena itu dalam diri “wong bener” akan mudah dididik karena tidak ada resistensi.
 
Berbeda dengan “wong pinter” (orang pandai), sering kali mereka sudah mempunyai pemikiran sendiri yang diyakininya sehingga dengan demikian mudah resisten dengan hal-hal baru. Resistensi inilah yang menjadikan sulit untuk berkembang.
 
Kiranya apa yang dikatakan Yesus kepada Natanael sejauh diwartakan Yohanes menunjuk sikap jujur dan keterbukaan seorang Natanael: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.”  Natanael tidak resisten, sehingga mudah untuk melihat dan mengalami hal yang baru. Maka ketika melihat Yesus, Dia bisa mengungkapkan imannya.
 
Hidup beriman membutuhkan keterbukaan dan kejujuran diri agar aku mampu mengolah pengalamanku sehari-hari. Mampu menangkap hal-hal baru dalam peziarahan hidupku yang nampaknya rutin dan membosankan. Dari situ menemukan banyak pengalaman berahmat yang pantas aku syukuri walau lewat pengalaman yang mungkin tidak mengenakan.
 
Oleh karena itu pertanyaan besar bagiku, apa yang menjadikan aku resisten untuk melihat sesuatu yang baru dalam peziarahan hidupku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Agustus 2020

Renungan Harian
Minggu, 23 Agustus 2020

Hari Minggu Biasa XXI
Bacaan I  : Yes. 22: 19-23
Bacaan II : Rom. 11: 33-36
Injil     : Mat. 16: 13-20

P u z z l e

Dalam sebuah kesempatan, saya bersama beberapa teman berbagi pengalaman saat ditinggalkan orang tua menghadap yang kuasa. Pokok pembicaraan kami adalah apa yang kami rasakan dan pikirkan saat menunggui orang tua yang sudah pergi.
 
Ada banyak kesamaan berkaitan dengan apa yang kami rasakan dan pikirkan. Perasaan yang dominan adalah perasaan kosong. Ada sesuatu yang hilang dari hati ini. Rasa itu menjadikan diri sesaat tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang kami pikirkan adalah mencoba untuk menerima kenyataan bahwa orang yang kami cintai memang telah pergi dan berjuang untuk merelakan dia yang kucintai menghadap Allah dan Bapanya.
 
Hal yang paling menarik adalah kami merasakan semua pengalaman kasih bersama beliau hadir kembali. Seolah-olah kami sedang menikmati film documenter tentang kasih beliau kepadaku. Dan bukan hanya kami melihat tetapi kami mengalami kembali pengalaman itu.
 
Pada saat yang sama kami seperti menyusun kepingan-kepingan puzzle tentang sosok yang mencintai kami itu. Kalau selama ini kami merasa bahwa ada sisi pengalaman yang kami rasakan bahwa itu bukan bentuk cinta, ataupun kami merasakan bahwa kami dibedakan sehingga bagai kepingan puzzle yang salah; sekarang kami melihat dan menemukan bahwa itu keping-keping puzzle yang kami cari dan butuhkan.
 
Dengan demikian saat itu kami bisa melihat sosok orang tua kami, yang telah memberikan dirinya untuk kami. Kami mengenal beliau dengan lebih lengkap. Memang tidak semua kepingan puzzle bisa kami temukan tetapi kami telah merangkai puzzle pengenalan kami tentang orang tua kami lebih utuh.
 
Sebagaimana pengenalan kami tentang orang tua kami bagai merangkai kepingan-kepingan puzzle pengalaman kami bersama beliau-beliau demikian pula kiranya pengenalan kami akan Yesus bersumber dari pengalaman bersama dengan Dia. Sehingga bila Ia bertanya padaku: “menurut kamu siapakah Aku ini?” aku bisa memberi jawaban yang lebih utuh.
 
Pertanyaan besar bagiku adalah berapa banyak kepingan puzzle  tentangNya yang telah kupunya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 22 Agustus 2020

Renungan Harian
Sabtu, 22 Agustus 2020

PW. SP. Maria Ratu
Bacaan I : Yeh. 43: 1-7
Injil : Mat. 23: 1-12

S a n t u n

Pada masa sekarang media sosial menjadi sarana ekspresi diri yang luar biasa. Media sosial menjadi sarana ekspresi yang mudah, dan murah. Banyak orang memanfaatkan sarana itu untuk menampilkan berbagai macam ekspresi diri.
 
Sudah barang tentu sebuah sarana pada dirinya netral, sarana itu menjadi positif atau negatif amat bergantung dari yang menggunakan sarana itu. Kalau mencermati media sosial, apa yang diunggah  ada begitu banyak ekspresi yang bagus, bermutu dan mendidik; namun tidak sedikit pula yang “receh” tidak jelas maksudnya. 
 
Sebagaimana disebut di atas ada cukup banyak  orang yang menggunakan sarana ini untuk mengekspresikan hal-hal yang cenderung negatif dan destruktif. Pengguna dengan mudah mengeluarkan pendapat yang cenderung menyerang orang lain dan merendahkan orang lain. Bahkan pilihan kata-kata yang digunakan seringkali kata-kata yang tidak pantas digunakan untuk dialamatkan pada pribadi lain.
 
Beberapa kali pengguna media sosial harus berurusan dengan hukum pidana berkaitan dengan apa yang ditulisnya. Apa yang terjadi kemudian mereka yang berurusan dengan hukum ini minta maaf dan memberi alasan melakukan itu karena khilaf.
 
Akhir-akhir ini muncul perdebatan, berkaitan dengan masalah pidana yang menimpa beberapa pengguna media sosial. Ada yang menyatakan mengapa di negeri yang merdeka ini sekarang orang tidak punya kebebasan berpendapat dan mengekspresikan diri. Bukankah mengemukakan pendapat adalah hak setiap pribadi.
 
Tanpa bermaksud untuk masuk dalam perdebatan itu, ada keprihatinan besar  dalam diri saya yaitu hilangnya kesantunan dalam berpendapat dan berekspresi. Dengan hilangnya kesantunan maka hilang pula penghargaan terhadap pribadi lain.  Bahkan menjurus pada perendahan martabat kemanusiaan.
 
Sikap santun mengandaikan adanya rasa hormat terhadap pribadi lain. Dengan sikap santun ada perendahan diri dan menempatkan pribadi lain sebagai pribadi yang berharga. Pada gilirannya ia akan mendapatkan penghargaan yang tinggi dari pribadi lain karena kesantunannya itu.
 
Benarlah sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius: “Barang siapa merendahkan diri, akan ditinggikan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.