Renungan Harian: 24 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 24 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 3: 14-17
Injil   : Mat. 13: 18-23

G a g a l

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima tamu sepasang suami istri yang sudah sepuh. Saya mengenal bapaknya karena beliau cukup dikenal; beliau adalah Guru Besar di sebuah Perguruan Tinggi yang terkenal. Dalam perjumpaan itu mereka berdua kelihatan begitu sedih. Setelah berbasa basi sebentar, bapak memulai pembicaraan.
 
“Romo, mohon jangan melihat saya sebagai seorang professor, tetapi lihatlah saya sebagai salah satu umat romo. Romo, saya ingin konsultasi berkaitan dengan hidup kami sebagai orang tua. Kami merasa gagal romo.” Bapak itu mulai bicara.

Tentu saya amat terkejut dengan pernyataan awal beliau. Karena sejauh saya tahu keluarganya cukup sukses, putra-putrinya punya kedudukan bahkan beberapa cucunya juga telah sukses. Namun saya tidak bertanya saya diam mendengarkan.
 
“Romo, kami merasa sudah mendidik anak-anak kami dengan baik, membekali mereka dengan pedidikan dan ilmu yang menurut kami amat baik. Tetapi kenapa di ujung usia kami, kami melihat kegagalan dalam pendidikan kami untuk anak-anak.
 
Saya tidak tahu bagaimana awal mulanya, karena selama ini kami merasa anak-anak kami sudah mapan, hidup keluarganya baik, anak-anak mereka juga baik. Beberapa hari lalu kami baru tahu dan mendengar langsung dari mereka bahwa hidup keluarga mereka sudah berantakan. Mereka ternyata sudah hidup masing-masing meski kelihatannya satu rumah.
 
Kami, saya dan ibunya anak-anak, beberapa hari ini sulit tidur, kami “metani” (meneliti) dimana salah kami sehingga dua anak kami hidup keluarganya berantakan. Mekaten romo, uneg-uneg kami. (demikian romo uneg-uneg kami).” Bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
Saya bingung mau bicara apa, karena menurut saya beliau-beliau ini sudah amat matang dan tidak membutuhkan nasehat saya.
 
Mengingat pengalaman perjumpaan dengan bapak ibu sepuh ini, menurut hemat saya seperti keluhan Allah terhadap umat Israel sebagaimana diwartakan Nabi Yeremia. Allah telah menempatkan gembala-gembala terbaik untuk menuntun umat Israel tetapi mereka tetap mencari jalannya sendiri. Apakah Allah gagal? Apakah para gembala yang dipilih Allah gagal?
 
Kegagalan bukan dari pihak Allah pun pula bukan dari pihak para gembala, akan tetapi kegagalan ada pada umat Israel dalam menggunakan kebebasannya.
 
Bagaimana aku menggunakan kebebasanku? Akankah dengan kebebasanku aku telah memilih sarana-sarana terbaik untuk keselamatan jiwaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 23 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 2: 1-3.7-8.12-13
Injil   : Mat. 13: 10-17

Magersari

Ada sepasang suami istri merantau ke desa tetangga. Mereka merantau karena desa tetangga ada pasar yang menjadi pusat jual beli sembako dan hasil bumi. Sehingga di desa tetangga itu lebih banyak peluang bagi mereka untuk bekerja. Suami istri ini bekerja sebagai buruh serabutan di pasar.
 
Di tempat yang baru mereka tidak punya rumah, sehingga mereka selalu tidur di lapak-lapak yang kosong di pasar itu. Mereka tidur di situ karena mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah.
 
Melihat keadaan suami istri itu, ada pedagang pasar yang menawarkan rumah kosong miliknya untuk ditempati. Suami istri itu begitu bersyukur bahwa mereka boleh menempati rumah kosong milik pedagang itu. Rumah kosong itu letaknya di halaman belakang rumah pedagang itu. Pedagang itu tidak meminta uang sewa, bahkan ia memberi uang kepada mereka untuk membeli tempat tidur dan perlengkapan rumah tangga.
 
Jadilah suami istri itu tinggal di rumah kosong pedagang pasar itu. Dalam khasanah Jawa suami istri itu magersari di tempat pedagang. Bertahun tahun suami istri itu magersari di tempat pedagang itu. Keempat anaknya lahir dan besar di tempat itu. Bahkan anak pertamanya sesudah menikah diijinkan oleh pedagang itu untuk membuat kamar tambahan di samping rumah orang tuanya.
 
Entah bagaimana kisahnya, pada suatu hari pedagang itu yang sudah sepuh didatangi orang yang merasa telah membeli rumahnya. Pedagang itu diminta untuk segera mengosongkan rumahnya. Betapa terkejut pedagang itu, karena mereka merasa tidak pernah menjual rumahnya.
 
Setelah ditelusuri ternyata suami istri yang magersari itu yang menjual tanah dan rumah pedagang itu. Semua tetangga heran dengan kelakuan suami istri itu. Sudah ditolong tetapi malah mencelakakan yang menolong. Orang-orang di desa itu menyebut suami istri itu “Dikek’i ati malah ngrogoh rempela” (diberi hati akan tetapi malahan mengambil jantung).
 
Sikap dan perilaku suami istri yang magersari itu seringkali menggambarkan sikapku pada Tuhan. Aku sering kali bersikap tidak tahu terima kasih dan bahkan durhaka pada Tuhan. Kritik nabi Yeremia terhadap umat Israel adalah kritik bagi sikap dan perilakuku. “UmatKu berbuat kejahatan ganda; mereka meninggalkan Daku, sumber air yang hidup, dan menggali sendiri kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 22 Juli 2020

Pesta S. Maria Magdalena
Bacaan I: Kid. 3: 1-4a
Injil   : Yoh. 20: 1.11-18

Penantian

Nenek tua itu setiap hari selalu duduk di teras rumahnya dari subuh hingga magrib. Mbah
Cokro, kami biasa menyebutnya, tetapi entah siapa sebenarnya namanya. Semua tetangga tahu kebiasaan mbah Cokro karena apa yang dilakukan setiap hari selalu sama. Ia membuka pintu dan jendela rumahnya, mematikan lampu teras, lalu menyapu halaman. Tidak berapa lama ia akan duduk di teras rumahnya.
 
Di rumah itu mbah Cokro tinggal sendirian, sedang seorang anak perempuannya, yang sudah berkeluarga tinggal tidak jauh dari rumah mbah Cokro. Anak perempuan inilah yang selalu mengirim makanan untuk mbah Cokro.
 
Salah satu kebiasaan mbah Cokro adalah berjalan keluar halaman rumah dan melihat ke jalan raya, setelah beberapa saat sambil geleng-geleng dan ngomong sendiri kembali duduk. Hal itu selalu dilakukan berulang-ulang. Karena tindakan mbak Cokro yang seperti itu, maka kami beranggapan bahwa mbah Cokro orang yang sakit jiwa. “kurang sak setrip”.
 
Menurut cerita orang-orang, apa yang dilakukan mbah Cokro itu menantikan anak laki-laki nya pulang. Ia selalu mengharapkan anaknya pulang, meski telah berpuluh tahun anaknya tidak pulang, dan mungkin tidak akan pernah pulang.
 
Kata orang anak mbah Cokro “diciduk” pada zaman ”Gestok” (gerakan satu Oktober). Anak mbah Cokro dianggap bagian dari partai PKI, karena anaknya menjadi anggota  drumband PKI.
 
Nampaknya kerinduan mbah Cokro akan anaknya itulah yang menyebabkan dia berperilaku seperti itu, dan bahkan kami menyebut beliau orang yang “kurang sak strip”.
Kerinduan yang bersumber dari cinta yang luar biasa.
 
Kerinduan yang bersumber dari cinta yang luar biasa dilukiskan amat indah oleh penulis Kidung Agung:
“Pada malam hari, di atas peraduanku, kucari jantung hatiku. Kucari dia, tapi tak kutemukan…..”
 
Aku bertanya pada diriku sendiri: “Seberapa besar kerinduanku akan Tuhan?”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Juli 2020

Renungan Harian
Selasa, 21 Juli 2020

Bacaan I: Mi.7: 14-15.18-20
Injil   : Mat. 12: 46-50

Saudara

Beberapa tahun yang lalu saat saya bertugas di sebuah paroki, ada seorang bapak, umat di paroki kami meninggal dunia mendadak. Menurut dokter beliau meninggal karena serangan jantung. Bapak itu, meninggalkan seorang istri dan 2 orang putra.
 
Bapak itu, tinggal di kota dimana saya bertugas hanya dengan keluarganya, sedang sanak saudaranya, baik dari beliau maupun dari istrinya, semua di luar kota. Oleh karenanya bisa dibayangkan bagaimana kesulitan istri dan anak-anak mengalami peristiwa yang mendadak itu. Untunglah begitu mendengar berita tentang meninggalnya bapak itu, segera beberapa umat bergerak. Beberapa menuju rumah sakit untuk membantu pengurusan jenazah, beberapa langsung ke rumah duka untuk membereskan rumahnya dan memasang tenda, beberapa menyiapkan rangkaian bunga dan bunga tabur. Maka begitu jenazah tiba di rumah segala hal yang diperlukan untuk persemayaman sudah lengkap.
 
Hal yang mengherankan adalah sanak family dari almarhum, datang seperti tamu, tidak satupun yang menempatkan diri menjadi bagian dari keluarga. Beberapa umat paroki yang justru bertindak sebagai tuan rumah, termasuk menjamu sanak family yang datang.
 
Setelah upacara pemakaman selesai, saat saya minta pamit, ibu itu berkata:
“Romo, terima kasih banyak, ternyata yang menjadi saudara, sanak family saya adalah teman-teman di paroki.”
 
Apa yang diungkapkan ibu tersebut menunjukkan bahwa yang disebut saudara pertama-tama bukan soal hubungan darah, akan tetapi adalah mereka yang punya kepedulian dan mau terlibat dalam hidupku.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menegaskan hal itu: “Sebab, siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu, dialah saudariKu, dialah ibuKu.”
Yesus menegaskan ukuran saudara bagi Yesus bukan perkara hubungan darah, melainkan apa yang telah dilakukan oleh orang itu.
 
Apakah aku bisa, layak dan pantas disebut saudara Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Juli 2020

Renungan Harian
Senin, 20 Juli 2020

Bacaan I: Mi. 6: 1-4.6-8
Injil   : Mat. 12: 38-42

Kesetiaan

Ketika saya mengikuti sebuah kursus di Yogya, di hari terakhir kursus kami diajak rekreasi. Salah satu tempat tujuan rekreasi kami adalah Kraton Yogyakarta. Sesampai di Kraton kami berkeliling melihat bangunan, melihat peninggalan-peninggalan dan lain-lain.
Selain melihat berkeliling, saya sempat ngobrol cukup lama dengan salah satu abdi Dalem. Abdi Dalem yang saya temui ini, sudah lebih dari 30 tahun mengabdi di Kraton. Beliau mengabdi sejak masih remaja. Awalnya Beliau ikut bapaknya yang juga abdi Dalem.
Pada saat pertama kali menjadi abdi Dalem tugasnya adalah membersihkan halaman. Bertahun-tahun beliau menjalani tugas itu. Sejak 10 tahun terakhir tugasnya tidak lagi membersihkan halaman, tetapi menjadi penjaga regol (penjaga pintu).
Dalam pembicaraan, beliau amat bangga menjadi abdi Dalem. Baginya, menjadi abdi Dalem adalah anugerah bagi dirinya dan keluarga. Kalau dilihat dari sisi materi, maksudnya jumlah rupiah yang beliau terima tidak seberapa tetapi bukan itu yang dicari sebagai abdi Dalem. Menjadi abdi Dalem adalah wujud “bekti” (hormat dan pengabdian) pada Sinuwun (Raja). Keuntungan menjadi abdi bisa selalu “ngalap” dan “nglorot” (mendapatkan) berkah dari Sinuwun.
Secara materi hampir tidak ada yang diterima, tetapi berkah yang diterima luar biasa. Keluarga “ayem tentrem” (damai), usaha dagang kecil-kecilan istri selalu laris sehingga mencukupi kebutuhan keluarga, dan bisa menyekolahkan 2 anaknya hingga perguruan tinggi.
Maka beliau akan tetap menjadi abdi sampai dirinya sungguh-sungguh tidak kuat.

“Walaupun saya ditawari gaji yang besar, sejak dulu saya tidak mau dan tidak akan pernah mau. Hidup saya sudah saya persembahkan pada Sinuwun.”ungkap beliau dengan mantap.

Wow, mengagumkan, sebuah pengabdian dan kesetiaan yang luar biasa. Andai aku punya sikap seperti itu pada Tuhan, betapa luar biasanya aku. Mengabdi Tuhan sepenuhnya dengan penuh kesetiaan. Bukankah hanya itu yang Tuhan minta dariku? menurut nabi Mikha: “Apa yang dituntut Tuhan daripadamu? Tak lain dan tak bukan ialah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Latihan Rohani: Roh Baik Mempengaruhi Kita yang Jahat

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Roh Baik Mempengaruhi Kita yang Jahat.

Renungan Harian: 19 Juli 2020

Renungan Harian
Minggu, 19 Juli 2020

Hari Minggu Biasa XVI
Bacaan I  : Keb. 12: 13.16-19
Bacaan II : Rom. 8: 26-27
Injil     : Mat. 13: 24-43

Pergulatan

Di suatu pagi saya kedatangan tamu seorang bapak. Setelah sedikit berbasa-basi, bapak itu mengatakan bahwa dirinya ingin cepat dipanggil Tuhan. Seluruh aktifitas pengelolaan bisnisnya sudah diserahkan kepada istri, anak dan menantunya. Bapak itu sudah tidak mau lagi mengurus bisnisnya, satu hal yang diharapkan dirinya ingin cepat dipanggil Tuhan.
 
Bapak itu cerita bahwa dirinya selama ini hidup penuh dengan dosa. Dalam berbisnis penuh dengan liku-liku yang mau tidak mau menjurus ke dosa. Dosa yang paling besar yang disadari dan dirasakan adalah suka “bermain perempuan”. Sudah banyak perempuan yang menjadi “korbannya”. Beliau mengakui dengan jujur tidak tahan bila melihat perempuan.
 
Sekarang, Bapak itu sudah bertobat dan tidak ingin jatuh dalam dosa lagi. Akan tetapi godaan itu selalu mengganggu dan mengganggu. Agar dirinya tidak jatuh dalam dosa yang sama lagi, beliau telah menceritakan semua “kelakuannya” kepada istrinya, dan sudah minta ampun pada istri dan keluarganya. Beliau takut jatuh dalam godaan yang sama, maka beliau banyak menghabiskan waktu di rumah. Beliau tidak berani keluar rumah sendirian, selalu minta ditemani istri, anak atau minimal sopirnya.
 
Bapak itu merasakan begitu dirinya bertobat dan menjauhi hal-hal yang membuat dirinya jatuh dalam dosa lagi, godaan semakin hebat. Bahkan beliau merasakan hal-hal yang dulu tidak menjadi soal sekarang sungguh-sungguh dirasakan menjadi godaan. Karena itu beliau berharap agar secepatnya dipanggil agar tidak jatuh dalam dosa lagi.
 
Bapak itu berkeluh kesah, kenapa ketika dirinya bertobat justru merasa tantangan hidupnya menjadi semakin hebat dan semakin sulit. Tidak jarang dirinya merasa seperti sendirian di tengah lautan godaan.
 
Pengalaman bapak itu dan kiranya pengalaman semua orang yang berjuang untuk hidup semakin baik, godaan dan tantangan hidup menjadi berat. Semakin maju dalam kebaikan semakin besar pula tantangan dan godaan.
 
Pengalaman yang demikian itu digambarkan dengan perumpamaan benih lalang yang ditaburkan di ladang gandum. Kekuatan-kekuatan roh jahat masih tetap dan selalu membayangi orang-orang yang mau berbalik ke pada Tuhan, orang-orang yang berjuang untuk hidup semakin baik dan semakin dekat dengan Tuhan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius meneguhkan kita, bahwa diri kita diajak untuk semakin menjadi diri sendiri, menyadari bahwa diri kita adalah benih yang baik, dan tumbuh dengan baik sehingga sampai saatnya dapat dipanen hasilnya. Kita tidak diutus untuk mengenyahkan kejahatan itu, karena itu menjadi Karya Allah, sedang kita dalam perjuangan untuk menjadi semakin baik, diajak  untuk menyadari diri bahwa kita ada dalam naungan yang kuasa.
 
Mereka yang bertahan sampai akhir akan disebut sebagai orang-orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah.
 
Akankah aku bercahaya seperti matahari?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Juli 2020

Renungan Harian
Sabtu, 18 Juli 2020

Bacaan I: Mi. 2: 1- 5
Injil   : Mat. 12: 14-21

Nglambrang

Saya ingat pada waktu masih novis, setiap kali habis memberi puncta (pokok-pokok renungan) untuk  doa besok pagi, Pater Magister selalu berpesan agar sebelum tidur mengingat pokok-pokok doa dan besok pagi begitu bangun segera memikirkan pokok-pokok doa.
 
Pada waktu itu hal itu sungguh-sungguh kulakukan karena khawatir kalau besok pagi doanya jadi berantakan dan tidak bisa menuliskan refleksi doa. Saya merasa sering kali tertidur karena bosan mengingat-ingat bahan doa.
 
Pengalaman masa novisiat yang seringkali aku jalankan dengan rasa takut sekarang aku petik manfaatnya. Betapa penting setiap kali aku mau tidur aku mengingat-ingat niat-niat baik apa yang hendak kulakukan esok hari, dan begitu bangun aku segera mengingat-ingat niat baik yang hendak kulakukan sehingga hari itu menjadi keputusan untuk kujalankan.
 
Pada saat hendak tidur seringkali pikiran jadi “nglambrang” (pikiran kemana-mana tak ada juntrungannya) tidak jarang membuat sulit tidur. Pikiran yang “nglambrang” seringkali menjadi sumber kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Pikiran yang “nglambrang” seringkali menjadikan kita seolah-olah telah menyelesaikan banyak hal padahal semua masih utuh belum tersentuh. Pikiran yang “nglambrang” tidak jarang juga menjadi awal dari sebuah tindakan jahat.
 
Pikiran yang “nglambrang” pada saat mau tidur muncul begitu saja. Banyak orang sudah akan tidur tetapi tidak segera lelap, nah pada saat itulah pikiran jadi “nglambrang”. Dan apabala sudah mulai tidak tahu bagaimana mengakhirinya.
 
Pelajaran berharga yang kuterima  di novisiat adalah setiap mau tidur memikirkan rencana-rencana baik dan niat-niat baik yang akan kujalankan esok hari; begitu aku bangun segera memikirkan rencana-rencan dan niat-niat baik yang sudah kuputuskan untuk kujalankan hari ini. Harapannya dengan hari baru dan semangat baru, niat-niat itu menjadi hasratku untuk kujalankan hari ini.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 17 Juli 2020

Bacaan I: Yes. 38: 1-6.21-22.27-28
Injil   : Mat. 12: 1-8

Gusti Ora Sare

Pada saat saya masih frater, saya live in di sebuah desa dan tinggal di keluarga petani. Bapak petani di mana saya tinggal, adalah seorang petani tulen. Saya sebut sebagai petani tulen karena beliau keturunan petani, dan sejak kecil menjadi petani sampai sekarang. Selain bertani beliau juga memelihara sepasang lembu dan 5 ekor kambing.
 
Setiap hari beliau ke sawah untuk mengerjakan sawahnya, dan dilanjutkan mencari rumput atau daun-daunan untuk makan ternaknya. Pagi-pagi ketika matahari belum terbit beliau sudah pergi ke sawah dan akan pulang ke rumah nanti menjelang mahgrib. Itulah yang dikerjakan setiap hari. Kecuali hari Minggu, beliau tidak ke sawah, tetapi ke gereja untuk ikut ibadat atau perayaan ekaristi; setelah pulang dari gereja, beliau pergi untuk mencari makanan ternak hingga menjelang mahgrib.
 
Hal yang paling menarik bagi saya adalah, setiap pagi sebelum ke sawah dan nanti sore hari setelah mandi, beliau selalu berdoa Rosario, di depan meja kecil yang ditata sebagai semacam altar doa. Di atas meja itu ada Salib, lilin dan patung keluarga kudus. Setiap hari ia berdoa di tempat itu.
 
Beliau mengatakan: “Frater, saya ini orang buta huruf, bisanya hanya doa Rosario. Ini wujud syukur saya dan penyerahan diri saya pada Allah. Allah selalu menjamin hidup saya. Saya amat yakin “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur). Dalam hidup saya banyak mukjizat Frater”
 
Di suatu malam beliau bercerita tentang pengalaman mukjizat yang beliau alami:

“Frater, pernah suatu saat saya gagal panen. Semua padi habis dimakan wereng. Anehnya hanya di tempat saya, di tempat lain, di sawah teman-teman, mereka bisa panen. Saya sedih sekali frater, stress. Saya tidak panen, sementara utang pupuk ke KUD harus dibayar, saya tidak tahu bagaimana dapat uang untuk membayarnya.
 
Di saat teman-teman panen padi, saya hanya bisa memanen “damen” (batang padi) untuk pakan ternak. Teman-teman menawarkan untuk ikut membantu panen dengan upah damen. Saya jalani semua itu. Saya sedih, stress tetapi saya tetap berharap, Gusti ora sare. Teman-teman menjemur “gabah” (bulir padi), saya menumpuk damen. Rumah dan halaman teman-teman penuh dengan karung-karung gabah, rumah dan halaman ini penuh dengan damen.
 
Frater, sesaat kemudian musim kemarau yang panjang. Di saat teman-teman yang punya ternak kesulitan mendapatkan pakan, saya punya pakan yang melimpah. Saat itu ternak mereka kurus-kurus, ternak saya gemuk-gemuk.  Nah pada saat lebaran haji, ternak saya semua laku dengan harga yang tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan. Dari hasil penjualan ternak, saya bisa mengembalikan utang ke KUD, bisa membeli bibit, bisa membeli pedhet (anak lembu) 4 ekor dan bisa membeli cempe (anak kambing) 10 ekor. Saya amat bersyukur. Bahkan teman-teman mengatakan bahwa saya yang panen damen lebih untung dibanding mereka yang panen padi.
 
Frater, pengalaman itu membuat saya tidak pernah takut dan was-was. Sungguh bagi saya “Gusti ora sare”, Dia selalu mendengarkan doa-doa saya, meski doa-doa itu tidak terucap. Dia selalu menjamin hidup saya.”
 
Ungkapan “Gusti ora sare” yang sering saya dengar, baik dari orang tua saya maupun dari banyak orang, adalah ungkapan iman yang mendalam akan Allah yang penuh kasih. Ungkapan yang selalu menjadi pegangan hidup; hidup yang penuh Iman dan pengharapan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 16 Juli 2020

Bacaan I: Yes 26: 7-9.12.16-19
Injil   : Mat. 11: 28-30

R i n d u

Di sebuah stasi ada seorang nenek, yang menurut anak-anaknya usianya sudah lebih dari 100 tahun. Meski badannya sudah bongkok nenek ini masih bisa jalan sendiri bahkan saya pernah melihat beliau masih bisa menyapu di kebun. Artinya meski usianya sudah amat lanjut, nenek ini masih cukup mandiri.
 
Setiap kali bertemu dengan saya, nenek ini selalu bertanya kapan dirinya dipanggil Tuhan. Teman-temannya semua sudah dipanggil Tuhan. Bahkan setiap kali mendengar ada orang yang meninggal, nenek ini selalu mengeluh kenapa mesti orang itu yang dipanggil lebih dulu bukan dirinya.
 
Pernah dalam sebuah perjumpaan ketika saya berkunjung ke rumahnya, nenek bertanya:
“Rama, saya sudah pengin banget dipanggil Tuhan, saya sudah siap. Saya sudah rindu bertemu dengan Tuhan. Apa dosa saya sehingga Tuhan belum memanggil saya? Rama, tolong doakan saya biar Tuhan cepat memanggil saya.”
 
Saya merasa kasihan melihat nenek itu. Di kala banyak orang merindukan umur panjang, nenek ini mendapatkan anugerah umur panjang dan sehat justru ingin segera dipanggil.
Kerinduannya untuk dipanggil sungguh luar biasa. Beliau merasa sudah cukup berziarah di dunia ini. Beliau sudah banyak bersyukur boleh melihat anak, cucu dan cicit semua mapan dan bahagia. Menurut saya pengalaman syukur inilah yang menjadikan nenek ingin cepat dipanggil.
 
Kiranya kerinduan umat Israel akan penyelamat dari Allah sebagaimana digambarkan oleh nabi Yesaya: “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, dan dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi”  menggambarkan kerinduan semua orang akan Tuhan. Mereka yang merindukan Tuhan adalah mereka yang mengalami kasih Tuhan, mereka yang mengalami syukur atas kelimpahan kasih Tuhan.
 
Adakah kerinduanku akan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.