Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Undangan Acara CLC
Senin Kedua

Kami undang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Romo Angga Indraswara, SJ. (Romo Angga) untuk berdiskusi tentang “Discerment Ignasian dan Hiruk-Pikuk Politik: Berimajinasi bersama St. Ignasius”.

Acara kami selenggarakan pada:
Hari Senin, 14 Juni 2021
Pukul 7 malam (19:00) WIB

Link Zoom
https://zoom.us/j/6358985886?pwd=OHpDMEZOWE1ZeXl5bFMwcEJpNTI3QT09

Meeting ID: 635 898 5886
Passcode: clc

CP: Putri (CLC Yogyakarta)

Berkah Dalem
CLC di Yogyakarta

PS. Jika Anda berkenan, mohon bantu kami untuk mengedarkan undangan ini ke kelompok CLC Anda atau teman-teman simpatisan CLC/yang tertarik dengan Ignatian yang Anda kenal. Terima kasih.

Renungan Harian: 11 Juni 2021

Renungan Harian
Jum’at, 11 Juni 2021
Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus

Bacaan I: Hos. 11: 1. 3-4. 8c-9
Bacaan II: Ef. 3: 8-12. 14-19
Injil: Yoh. 19: 31-37

Kelegaan

Beberapa tahun yang lalu saya memberikan sakramen baptis kepada seorang bapak yang sudah berusia 85 tahun. Istri, anak, menantu dan cucu-cucunya sudah baptis, hanya bapak ini yang semula belum dibaptis. Menurut cerita istrinya, suaminya ketika ditawari untuk dibaptis selalu mengatakan belum mau, alasannya tidak pernah jelas. Bahkan sering dengan bergurau bapak ini mengatakan kepada istrinya: “Nanti kalau kamu dan anak-anak masuk surga jangan lupain saya ya.” Maka istri dan anak-anaknya tidak ada yang meminta atau membujuk bapak itu untuk dibaptis.
 
Sampai pada suatu saat, bapak itu minta pada istrinya agar dirinya bisa dibaptis. Ketika istrinya meminta agar suaminya dibaptis, saya minta agar suaminya disiapkan oleh katekis dalam waktu satu atau dua bulan mengingat usia. Saya meminta katekis untuk mengajari berdoa saja karena pelajaran-pelajaran pasti sudah sulit dimengerti. Menurut katekis, belajar berdoa pun juga sulit, sudah tidak mampu untuk menghafal. Ketika berdoa Bapa Kami, bapak itu ingat bagian awal, bagian tengah ke belakang lupa; suatu ketika bagian awal lupa tetapi bagian akhir ingat. Demikian berulang terjadi, dan kami semua mengerti mengingat usia.
 
Maka setelah disiapkan selama 1 bulan, saya membaptis bapak itu dalam sebuah ibadat di rumahnya.

Setelah dibaptis, saya bertanya:
“Opa, setelah dibaptis rasanya bagaimana?”

“Saya rasanya lega,” jawab bapak itu.

“Lega karena apa?” tanya saya.

“Romo, saya lega karena saya sekarang bisa berdoa dan tahu berdoa kepada siapa. Saya sekarang ini merasa sudah sah kalau berdoa. Sebelum dibaptis rasanya kok belum sah jadi agak ragu dan takut. Dan lagi dengan dibaptis saya tahu kemana saya harus pergi, dan saya merasa dibawa dekat dengan Tuhan,” jawab bapak  itu.
 
“Wow luar biasa,” kata saya dalam hati. Apa yang dikatakan Bapak itu bagi saya menunjukkan pengalaman iman yang luar biasa. Bapak itu sudah tidak bisa lagi menangkap apa yang diajarkan, doa-doa pokok sederhana sudah tidak dapat menghafal lagi akan tetapi penghayatan iman luar biasa. Menurut saya entah dengan cara bagaimana beliau berdoa, tetapi doa-doanya menunjukkan pengalaman kedekatannya dengan Tuhan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Di dalam Dia, kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Sejauh mana penghayatan imanku yang terungkap dalam hidup doaku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Juni 2021

Renungan Harian
Kamis, 10 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 3: 15-4:1.3-6
Injil: Mat. 5: 20-26

Agama Sebagai Topeng

Beberapa waktu yang lalu, ada berita yang cukup heboh dan sekaligus amat memprihatinkan. Berita itu berkenaan dengan kasus tindak pelecehan sexual yang dialami oleh beberapa anak misdinar oleh Pembina misdinar. Berita yang amat mengejutkan ini amat memukul banyak orang. Syukur pada Allah segera ketahuan dan diambil langkah hukum serta langkah-langkah pendampingan para korban.
 
Bagi beberapa orang yang mengenal pendamping misdinar merasa terkejut karena selama ini dia dikenal sebagai seorang aktivis di paroki dan sudah lama aktif dalam kegiatan menggereja. Selain aktivis, dia juga dikenal sebagai sosok yang baik, tidak neko-neko. Maka ketika kasus itu terbongkar beberapa orang setengah tidak percaya.
 
Kejadian seperti itu bukan yang pertama dan terakhir terjadi dalam Gereja. Sudah lama berita tentang pelecehan baik yang dilakukan oleh awam aktivis maupun oleh imam, biarawan atau biarawati. Dan berita itu sudah menyebar kemana-mana bahkan ada keuskupan di Amerika yang dinyatakan bangkrut karenanya.
 
Tentu kasus seperti itu  sungguh-sungguh mencoreng Gereja, dan mempermalukan Gereja. Meskipun tidak bisa dikatakan bahwa Gereja kemudian menjadi rusak atau semua imam, biarawan dan biarawati tidak bisa dipercaya. Kalau mau jujur melihat persentase jumlah pelaku dibandingkan jumlah Imam, biarawan, biarawati dan aktivis Gereja pasti amat sedikit.
Artinya banyak imam, biarawan, biarawati dan aktivis Gereja dengan segala kekurangannya tetap hidup baik dan terpuji.
 
Melihat kejadian-kejadian yang memalukan itu, harus disadari bahwa banyak orang yang menjadikan agama sebagai topeng hidupnya. Agama tidak lagi dilihat dan dihayati sebagai sarana untuk mencapai keselamatan yaitu semakin dekat dan bersatu dengan Allah. Agama dijadikan sarana untuk mendapatkan wajah suci dan terpuji. Kehidupan beragama dijadikan topeng. Orang aktif dalam kehidupan menggereja bukan menjadikan dirinya semakin penuh kasih dan dekat dengan Tuhan tetapi untuk mendapatkan pujian dan pandangan orang akan dirinya yang baik.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam  Kerajaan Surga.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku menghayati hidup keagamaanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Juni 2021

Renungan Harian
Rabu, 09 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 3: 4-11
Injil: Mat. 5: 17-19

Mengandalkan Rahmat

Setiap kali mengikuti perayaan tahbisan imam, saya selalu terkenang saat saya menerima tahbisan suci. Bukan kemeriahan perayaan ekaristi atau pesta-pesta yang diadakan namun ritus-ritus yang ada dalam perayaan itu. Ada dua hal mengesan yang selalu membawa pada ingatan akan tahbisan yang saya terima.
 
Pertama, saat bapak Uskup memindahkan stola dan kemudian memberikan kasula. Pada saat bapak Uskup memberikan kasula beliau mengatakan: “Romo, jadilah pelayan umat yang baik.” Kemudian yang ditahbiskan menerima kasula dengan menjawab: “Mohon doa Bapak Uskup.” Uskup sebagai imam agung yang mentahbiskan memberi pesan dengan jelas agar imam yang ditahbiskan menjadi pelayan umat yang baik; bukan hanya sebagai pelayan umat saja tetapi pelayan umat yang baik. Artinya menjadi imam bukan sekedar pelayan umat tetapi menjadi pelayan umat yang baik; tuntutan minimal adalah menjadi pelayan umat yang baik. Sudah pasti menjadi pelayan umat yang baik tidak mudah, banyak tantangan yang luar biasa. Tantangan terbesar tentu saja mengalahkan diri sendiri. Menjalani panggilan dan perutusan menjadi pelayan yang baik seumur hidup sudah pasti bukan perkara mudah, dan rasanya kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri pasti tidak akan mampu. Oleh karenanya kesadaran akan ketidak mampuan itu hal yang utama untuk menjadi pelayan umat yang baik adalah mengandalkan rahmat. Kesadaran akan kelemahan diri dan berjuang untuk selalu terbuka pada rahat, maka imam yang menerima kasula menjawab mohon doa bapak Uskup.
 
Kedua, saat menerima bahan persembahan dari umat yang diterima bapak Uskup dan diserahkan kepada imam baru, bapak Uskup mengatakan: “Terimalah bahan persembahan yang dibawa umat Allah ini. Hayatilah apa yang kau perbuat; selaraskan hidup dengan rahasia salib Tuhan.” Tugas ini semakin berat, menghayati dalam melayani perayaan ekaristi sungguh-sungguh amat berat terlebih menyelaraskan dengan rahasia salib Tuhan.
 
P. Cantalamessa, OFM.Cap. dalam suatu retret mengatakan: “Ketika Imam dalam konsekrasi mengulang kata-kata Yesus: Terimalah dan makanlah inilah TubuhKu yang dikorbankan bagimu, bukan hanya sekedar mengulang kata-kata Yesus ribuan tahun lalu tetapi sungguh mengatakan dari dirinya sendiri juga bahwa bersedia untuk mengorbankan diri bagi umat yang dilayaninya.”
 
Dengan semua hal di atas, sudah pasti, saya dan para imam dengan segala kerapuhan dan dosa tidak akan mampu menjalankan semuanya. Tanpa rahmat dan daya ilahi Allah sendiri saya dan para imam bukan apa-apa. Maka tidak ada alasan untuk menyombongkan diri dan berbangga dengan segala hal yang telah kulakukan. Kalau mau sombong apa yang akan disombongkan? Kalau mau berbangga apa yang dibanggakan selain bangga dengan rahmat yang tidak pernah habis tercurah.
 
Kiranya pengalaman dipilih dan diutus menjadi imam dengan segala tantangan dan kesulitan serta kenyataan akan ketidak mampuan dalam menjalankannya tanpa dinaungi rahmat Allah, juga pengalaman semua orang dalam panggilan dan martabatnya masing-masing.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus: “Dari diri kami sendiri, kami merasa tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri……..Dialah yang membuat kami sanggup menjadi pelayan suatu perjanjian baru.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu mengandalkan rahmat Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 Juni 2021

Renungan Harian
Selasa, 08 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 1: 18-22
Injil: Mat. 5: 13-16

Komentator

Beberapa tahun yang lalu ketika saya berpastoral di KUKSA-UI (mahasiswa katolik Universitas Indonesia) saya terlibat diskusi dengan teman-teman mahasiswa. Dalam diskusi itu banyak teman-teman mahasiswa mengkritik Gereja Katolik yang tidak membumi, tidak terlibat dalam masyarakat. Disamping itu teman-teman mahasiswa juga mengkritik kegiatan teman-teman mahasiswa yang sering kali kumpul-kumpul di Wisma SJ, karena seharusnya mereka berbaur dengan teman-teman mahasiswa umum. Kalau kumpul hanya dengan teman-teman yang katolik maka itu namanya membuat pabrik garam.
 
Pada saat itu kritik mereka pada Gereja cukup pedas, mereka memberikan usulan-usulan apa yang harus dilakukan Gereja. Beberapa teman mahasiswa menanggapi kritik itu dengan memberikan penjelasan tentang posisi Gereja, namun demikian teman-teman yang mengkritik justru semakin keras dan seram. Pada saat itu  diskusi itu saya ditemani romo Herman, Imam Jesuit dari Australia. Sebenarnya romo Herman hanya ingin mendengarkan dan meminta saya hanya untuk mendengarkan tidak memberi tanggapan. Namun karena teman-teman mendesak agar romo Herman atau saya memberi tanggapan, maka romo Herman menjawab.
 
“Teman-teman, terima kasih atas kritiknya yang menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap Gereja. Gereja itu siapa? Uskup, para Imam? Biarawan biarawati? Gereja itu adalah kita semua, saya, frater dan teman-teman semua. Artinya kalau kritik yang teman-teman sampaikan itu berarti kritik untuk kita semua. Maka pertanyaanya adalah apa yang telah kita semua lakukan agar Gereja sungguh-sungguh membumi dan  terlibat dalam masyarakat? Semoga kritik itu menjadikan motivasi bagi teman-teman untuk bergerak dan bertindak. Satu hal penting jangan hanya berteriak-teriak meneriakan ketidakpuasan, dan mengatakan harus begini dan harus begitu. Bergerak dan bertindak sehingga mengalami dan mengerti berbagai macam tantangan dan kesulitan. Ingat, kita adalah garam dan terang maka harus asin dan memancarkan cahaya,” romo Herman menjelaskan.
 
Semua teman diam, dan saat itu kami semua disadarkan bahwa kami adalah garam dan terang, bukan diminta menjadi garam dan terang. Artinya identitas kami adalah garam dan terang sehingga harus asin dan bercahaya. Bergerak dan bertindak adalah wujud dari keberadaan garam dan terang.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kalian ini cahaya dunia.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mau bergerak dan terlibat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Juni 2021

Renungan Harian
Senin, 07 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 1: 1-7
Injil: Mat. 5: 1-12

Belajar Berempati

Di paroki di tempat saya menjalani perutusan, terpilih seorang ibu dan seorang bapak yang mengampu seksi pengembangan sosial ekonomi. Keduanya dipilih atas usulan umat dan tokoh-tokoh umat di paroki. Pada waktu itu saya masih baru bertugas, maka saya percaya dengan pertimbangan beberapa tokoh umat dalam pemilihan itu.
 
Dalam perjalanan, saya dibuat kagum dengan pelayanan mereka berdua. Ketika ada salah satu umat yang membutuhkan pertolongan biasanya butuh bantuan-bantuan karitatif, saya selalu meminta saran mereka, atau saya mengarahkan umat yang membutuhkan untuk menemui salah satu dari mereka. Mereka bisa mengerti dan mengenali mana umat yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan, mana yang “menipu / menjual” belas kasihan.
 
Banyak umat yang terbantu dengan kehadiran mereka sebagai seksi pengembangan sosial ekonomi. Banyak umat yang dibantu untuk menjadi berdaya secara ekonomi, baik dengan cara berjualan atau membuat produk tertentu yang bisa dijual. Mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk mendampingi umat dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, dan umumnya berhasil jika sungguh-sungguh ikut pendampingan.
 
Suatu ketika pernah terjadi, seorang umat yang dibantu tetapi selalu gagal. Saya mengatakan kiranya bantuan harus dihentikan karena sepertinya tidak ada niat dari orang itu untuk dibantu dan berkembang. Bapak dan ibu itu tidak menyerah dan meminta saya untuk tetap sabar dalam membantu. Bapak itu mengatakan: “Romo, menurut saya orang itu bukan tidak ada niat, tetapi belum menemukan bentuk yang cocok. Orang yang dalam situasi seperti itu biasanya terantuk-antuk, karena rasanya semua pintu itu tertutup untuknya.” Saya diam merenungkan apa yang dikatakan bapak itu, dan menyetujui untuk dibantu.
 
Dalam suatu pembicaraan, saya bertanya kepada mereka tentang kerelaan mereka untuk membantu banyak umat dalam karya sosial ini. Mereka mensharingkan pengalaman yang kurang lebih sama. Mereka bercerita bahwa mereka dulu berada dalam situasi yang kurang lebih sama dengan umat yang dibantu. Ekonomi rumah tangga mereka seringkali kekurangan sehingga berada dalam kesulitan dan kebingungan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak sedikit. Mereka berjuang untuk mencari cara menambah pendapatan bagi keluarganya. Berjuang memulai usaha dari nol, dan mengumpulkan hasil dari usaha mereka rupiah demi rupiah. Mereka berhitung dengan cermat, dan hanya menggunakan laba dari usaha dengan cermat pula sehingga bisa membesarkan usahanya. Pada akhirnya usahanya berhasil dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga.
 
Pengalaman mereka berjuang jatuh bangun, hingga berhasil dirasakan sebagai rahmat besar dalam hidup mereka. Dalam kesulitan dan penderitaan membangun ekonomi keluarga mereka merasakan banyak rahmat dari Tuhan melalui banyak orang yang membantu. Maka pengalaman itu menjadi motivasi mereka untuk melayani banyak umat yang mengalami kesulitan ekonomi. Mereka menyebut karya mereka sebagai berbagi rahmat dan kebahagiaan. Sharing yang luar bisa dan pembelajaran bagi saya untuk lebih berempati dengan umat yang mengalami kesulitan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Surat Paulus kepada umat di Korintus: “Ia menghibur kami dalam segala penderitaan, sehingga kami sanggup menghibur semua orang yang berada dalam macam-macam penderitaan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah pengalaman syukurku menjadi motivasi bagiku untuk semakin berempati dengan orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Juni 2021

Renungan Harian
Jum’at, 11 Juni 2021
Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus

Bacaan I: Hos. 11: 1. 3-4. 8c-9
Bacaan II: Ef. 3: 8-12. 14-19
Injil: Yoh. 19: 31-37

Kelegaan

Beberapa tahun yang lalu saya memberikan sakramen baptis kepada seorang bapak yang sudah berusia 85 tahun. Istri, anak, menantu dan cucu-cucunya sudah baptis, hanya bapak ini yang semula belum dibaptis. Menurut cerita istrinya, suaminya ketika ditawari untuk dibaptis selalu mengatakan belum mau, alasannya tidak pernah jelas. Bahkan sering dengan bergurau bapak ini mengatakan kepada istrinya: “Nanti kalau kamu dan anak-anak masuk surga jangan lupain saya ya.” Maka istri dan anak-anaknya tidak ada yang meminta atau membujuk bapak itu untuk dibaptis.
 
Sampai pada suatu saat, bapak itu minta pada istrinya agar dirinya bisa dibaptis. Ketika istrinya meminta agar suaminya dibaptis, saya minta agar suaminya disiapkan oleh katekis dalam waktu satu atau dua bulan mengingat usia. Saya meminta katekis untuk mengajari berdoa saja karena pelajaran-pelajaran pasti sudah sulit dimengerti. Menurut katekis, belajar berdoa pun juga sulit, sudah tidak mampu untuk menghafal. Ketika berdoa Bapa Kami, bapak itu ingat bagian awal, bagian tengah ke belakang lupa; suatu ketika bagian awal lupa tetapi bagian akhir ingat. Demikian berulang terjadi, dan kami semua mengerti mengingat usia.
 
Maka setelah disiapkan selama 1 bulan, saya membaptis bapak itu dalam sebuah ibadat di rumahnya.

Setelah dibaptis, saya bertanya:
“Opa, setelah dibaptis rasanya bagaimana?”

“Saya rasanya lega,” jawab bapak itu.

“Lega karena apa?” tanya saya.

“Romo, saya lega karena saya sekarang bisa berdoa dan tahu berdoa kepada siapa. Saya sekarang ini merasa sudah sah kalau berdoa. Sebelum dibaptis rasanya kok belum sah jadi agak ragu dan takut. Dan lagi dengan dibaptis saya tahu kemana saya harus pergi, dan saya merasa dibawa dekat dengan Tuhan,” jawab bapak  itu.
 
“Wow luar biasa,” kata saya dalam hati. Apa yang dikatakan Bapak itu bagi saya menunjukkan pengalaman iman yang luar biasa. Bapak itu sudah tidak bisa lagi menangkap apa yang diajarkan, doa-doa pokok sederhana sudah tidak dapat menghafal lagi akan tetapi penghayatan iman luar biasa. Menurut saya entah dengan cara bagaimana beliau berdoa, tetapi doa-doanya menunjukkan pengalaman kedekatannya dengan Tuhan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Di dalam Dia, kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Sejauh mana penghayatan imanku yang terungkap dalam hidup doaku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Juni 2021

Renungan Harian
Sabtu, 05 Juni 2021
PW. Bonifasius, Uskup dan Martir

Bacaan I: Tob. 12: 1. 5-15. 20
Injil: Mrk. 12: 38-44

Menolak Diri

Beberapa tahun yang lalu, saya kenal seorang calon imam yang baik, ukuran baik ini dalam pandangan saya, para staf seminari dan umat yang mengenal dia. Calon imam ini penampilannya sederhana, tutur katanya halus, sopan, dalam kehidupan bersama tidak neko-neko dan hampir tidak pernah melanggar peraturan. Dengan penampilan yang demikian maka dalam pandangan kami, para staf seminari, dia adalah calon imam yang baik.
 
Namun demikian menurut teman-temannya sesama calon imam, orang ini banyak kepura-puraan. Apa yang ditampilkan bukan sesuatu yang sesungguhnya. Dengan penampilan seperti itu dia berharap mendapatkan penilaian yang baik dari para staf seminari. Beberapa teman melihat dan mengalami bahwa dia sering jajan di luar dan mentraktir teman-temannya yang menurut ukuran uang saku calon imam sebagai hal yang mustahil. Masih menurut teman-temannya dan juga beberapa umat yang kenal, dia selalu memperkenalkan diri bahwa dirinya berasal dari keluarga yang berkecukupan bahkan lebih dari cukup. Sehingga dia selalu mendapatkan tambahan uang saku dari keluarganya yang cukup besar.
 
Sampai suatu saat ada seorang umat yang bicara dengan staf seminari bahwa calon imam itu pinjam sejumlah uang untuk membantu kakaknya yang sedang sakit. Kami para staf seminari terkejut karena dia berani pinjam uang ke umat. Dari satu kasus itu ternyata tidak hanya satu umat yang dipinjami uang melainkan ada beberapa umat yang juga dipinjami uang dengan alasan yang berbeda. Tentu hal itu membuat para staf seminari menjadi malu dan menelusuri jangan sampai banyak orang yang menjadi korban calon imam itu. Pada saat itu staf seminari tidak bisa bertanya pada calon imam yang bersangkutan karena sedang libur.
 
Pada suatu sore kami memutuskan untuk membuka kamar calon imam tersebut, dan kami semua terkejut karena di dalam kamarnya ada seperangkat komputer yang dilengkapi TV tuner, dan beberapa peralatan yang seharusnya tidak dimiliki oleh calon imam. Dengan berbekal data-data yang ada maka staf seminari memutuskan bahwa orang ini sebaiknya hidup di luar seminari terlebih dahulu untuk memurnikan panggilannya. Untuk kepentingan itu saya diutus untuk ke rumah calon imam tersebut dan bicara dengan orang tuanya.
 
Saya pergi ke desanya dan saya kesulitan untuk menemukan rumahnya. Saya bertanya ke pastor paroki, ternyata pastor paroki tidak kenal dengan calon imam itu pun orang tuanya juga tidak dikenal. Saya ke kantor lurah, diarahkan ke pak RW dan diantar ke pak RT, tetapi tidak ada yang kenal. Untung di tempat pak RT ada satu orang yang kenal dan cerita bahwa keluarga calon imam itu tinggal menumpang di rumah belakang seseorang.
 
Ketika saya sampai di rumah calon imam tersebut saya amat terkejut karena rumahnya amat sederhana dan itu pun bukan milik orang tuanya. Amat berbeda dengan apa yang diceritakan tentang keluarganya, gaya hidupnya dan barang-barang yang dimilikinya. Hal itu semakin menguatkan kami bahwa ada yang tidak benar dengan orang ini.
 
Calon imam itu telah menolak kenyataan siapa dirinya dan asal usulnya. Dia ingin membangun diri yang baru dengan salah, dia dendam dengan hidupnya dengan hidup cara yang sebaliknya tetapi dengan memanfaatkan orang lain.  Benar seperti yang dikatakan teman-temannya dia mampu bermain peran begitu rupa, sehingga membuat orang terpesona dan mengasihinya.
Dia membangun citra diri yang salah, bahkan mungkin ini sebuah bentuk kelainan kepribadian.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus mengkritik sikap dan cara hidup ahli taurat yang membangun citra diri demi kedudukan dan kehormatan serta untuk menutupi kebusukan diri. “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat. Mereka suka berjalan-jalan dengan pakaian panjang dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat-tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku berani menampilkan diriku apa adanya?
 
Iwan  Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 4 Juni 2021

Renungan Harian
Jum’at, 04 Juni 2021

Bacaan I: Tob. 11: 5-11
Injil: Mrk. 12: 35-37

Kasih Orang Tua

Beberapa waktu yang lalu saya menerima telepon dari seorang ibu untuk minta intensi misa. Ibu itu minta intensi untuk mengucapkan syukur karena putrinya telah ditemukan dan kembali ke rumah. Saya menyanggupi dan bertanya apakah putrinya hilang? Ibu itu lewat telepon bercerita tentang  putrinya.
 
“Pastor, anak perempuan saya kurang lebih 5 tahun lalu pergi dari rumah. Sejak pergi dari rumah saya tidak tahu kabarnya, tidak tahu keberadaannya. Kepergiannya sungguh membuat kami sekeluarga amat terluka dan amat sedih, secara khusus membuat saya menderita.
 
Pastor, awalnya anak saya pulang kuliah diantar oleh seorang laki-laki. Saya tanya anak saya apakah laki-laki itu pacarnya, dia mengatakan iya. Karena dia pacar anak saya, kami menerima dengan baik, dan kami ajak makan malam bersama. Pada saat makan itu kami berkenalan satu sama lain. Bapaknya tanya apakah teman kuliah anak kami, laki-laki itu menjawab bukan, apakah masih kuliah dia menjawab bahwa dirinya tidak kuliah dan sekarang kerja serabutan. Kami tidak mempersoalkan, dengan itu, dan bapaknya menasehati kalau sekarang berteman, berteman yang baik untuk saling kenal lebih dalam.
 
Suatu kali kami mendengar bahwa laki-laki itu sudah beristri, ketika laki-laki itu datang, sebagaimana biasa kami  terima dengan baik. Bapaknya bertanya apakah dia masih bujangan, laki-laki itu menjawab bahwa dirinya sudah punya istri dan seorang anak, tetapi sekarang baru dalam proses bercerai. Bapaknya menasehati kalau sudah beristri sebaiknya jangan pergi-pergi dengan anak kami nanti menimbulkan masalah baru. Intinya kami keberatan kalau laki-laki itu pacaran dengan anak saya. Semua itu kami bicarakan baik-baik, namun yang membuat kami, saya dan bapaknya marah, ketika laki-laki itu bicara dengan ringan kalau proses perceraian lama, nanti bisa nikah siri lebih dahulu.
 
Malam hari kami panggil anak kami dan menasehati agar menjauh dari laki-laki itu, karena sudah beristri. Tetapi entah mengapa anak kami justru membela laki-laki itu. Bapaknya agak keras mengatakan bahwa kami tidak setuju bahwa dia pacaran dan nanti menikah dengan laki-laki itu.
 
Pastor, esok pagi anak kami sudah tidak di rumah dan meninggalkan surat kalau dia pergi dan tidak perlu dicari. Kalau dia tahu kami mencari sampai lapor polisi, anak kami mengancam akan bunuh diri. Pastor, saya lemas dan bapaknya amat marah, sampai harus opname karena sakit jantung. Kami tidak berani berbuat apa-apa untuk mencari anak kami, karena kami khawatir anak kami nekat. Kami hanya bisa berdoa, dan berdoa.
 
Dua hari yang lalu tanpa disangka anak kami menelepon minta dijemput. Pastor, kami menjemput anak kami, dan kami bahagia sekali bahwa dia mau pulang ke rumah, pulang ke kami. Ternyata anak kami telah disia-siakan laki-laki itu,  dia harus kerja keras menghidupi laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu kasar dan suka main perempuan. Anak kami tidak berani menghubungi kami karena selalu diancam oleh laki-laki itu. Syukurlah laki-laki itu ditangkap polisi karena perkelahian sehingga anak kami bisa menghubungi kami.
 
Pastor, kami amat bahagia, amat bersyukur anak kami mau kembali, Tuhan telah mengangkat beban yang amat berat dari pundak kami. Itulah pastor, kenapa kami minta intensi, kami mau bersyukur karena Tuhan mendengarkan doa kami selama ini.”
 
Betapa banyak, orang menderita karena kasihnya pada anak-anaknya. Dan betapa penderitaan orang tua yang panjang bisa lenyap ketika mengalami kasih bersama anak-anaknya. Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kitab Tobit, kebahagiaan luar biasa dirasakan oleh Tobit, dan syukur yang luar biasa pada Allah, karena ia bisa melihat kembali wajah anaknya. “Terpujilah Allah! Terpujilah namaNya yang besar! Terpujilah para malaikatNya yang kudus! Hendaklah nama Tuhan yang besar berada di atas kita dan terpujilah segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh, aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi aku melihat kembali anakku Tobia.”
 
Bagaimana dengan aku? Seberapa besar aku mencintai orang tuaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Refleksi Sahabat CLC – “MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN”

Dalam merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Internasional) yaitu pada tanggal 5 Juni 2021, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC Rm Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ, M.Sc. atau Rm. Wir, SJ.

Rm. Wir SJ berkenan berbagi/ sharing refleksi tulisan yang menyangkut kedua hal di atas berjudul “Menjalani Pertobatan Ekologis Secara Ignasian”.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.


MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN

P. Wiryono Priyotamtama, SJ

Suatu hari seorang teman dosen mentraktir penulis untuk bisa menikmati bakmi kesukaannya : bakmi Jamur Vegan Vegetarian. Sambil menikmati bakmi, dia cerita tentang mengapa dia sejak lima tahun yang lalu memutuskan untuk menjalani pola makan kaum vegetarian. Ia sedang menjalani sebuah pertobatan ekologis. Bertobat dari kebiasaan makan dengan lauk serba daging, ke kebiasaan makan dengan lauk non daging. Demi menjaga kesehatan, demikian alasan yang disampaikan.

Kembali dari makan bakmi traktiran teman, penulis tergerak untuk ikut berpikir  tentang perlunya merawat kesehatan dirinya. “Demi menjaga kesehatanku mengapa aku tidak tertarik dengan pola makan vegetarian? Ah, bukan tidak tertarik tetapi tidak mungkin ! Sebagai seorang yesuit aku hanya bisa makan menurut apa yang disajikan oleh komunitasku di meja makan. Pertobatan ekologisku harus memilih cara lain!” Demikian gerak batin penulis memberikan pembenaran. Dasar pembenaran ini bisa kita kaitkan dengan faham Ignatius tentang siapakah kita ini sebagai manusia,  untuk apa manusia diciptakan, dan bagaimana cara hidup ekologis selayaknya selalu menjadi pilihan kita? Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa diperoleh dengan mengikuti pencerahan yang dihasilkan oleh gerak batin kita. .

Siapakah kita ini sebagai manusia? Pertama, kita ini makhluk ciptaan. Sebagai ciptaan,  kelangsungan hidup kita tergantung pada Sang Pencipta. Tergantung pada rencana ilahi yang ditetapkan untuk setiap barang atau makhluk hidup yang Ia ciptakan. Segala sesuatu yang tercipta memiliki nilai khusus di mata Sang Pencipta. Kedua, manusia sebagai ciptaan diberi keistimewaan yakni diciptakan menurut citra Sang Pencipta. Citra utama Sang Pencipta adalah penuh kasih. Manusia diciptakan dengan citra utama ini yakni mampu dikasihi dan mampu mengkasihi. Bahkan lebih jauh kemanusiaan kita sebenarnya merupakan sebuah ekosistem afektif Allah kita.  Relasi kita sebagai manusia dengan Sang Pencipta bisa sangat intim bahkan menyatu sebagaimana kita temukan dalam diri Yesus Kristus.

Untuk apa manusia diciptakan?  Latihan Rohani St. Ignatius mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Pertanyaan yang perlu dilontarkan di sini adalah bagaimana kita memahami dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain agar benar-benar bisa menjadi penolong bagi kita? Dengan cara mengeksploitasi? Pasti tidak. Dengan cara apa? Di sinilah relevansi pertobatan ekologis  kita yakni untuk berubah dari cara eksploitatif  atau menguasai ke cara lain yakni merawat, melestarikan, dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain seperti Sang Pencipta memperlakukan. Manusia yang diciptakan menurut citra Sang Pencipta harus selalu belajar dari Sang Pencipta dalam memperlakukan segala sesuatu yang tercipta di muka bumi.

Bagaimana mengusahakan agar gerak batin kita selalu mengarah ke pilihan pertobatan ekologis? Pertama, yang dimaksudkan dengan gerak batin seperti diajarkan dalam Latihan Rohani St. Ignatius adalah gerak roh dalam kedalaman hati kita. Gerak roh ini bisa membawa keinginan atau hasrat, pikiran, dan perasaan  kita ke arah hal-hal baik atau hal-hal kurang baik atau jahat. Kedua, kita usahakan agar gerak batin kita selalu mengarah kepada kebaikan dan bukan kejahatan. Untuk ini kita bisa selalu melakukan pemeriksaan batin terkait ke arah mana hasrat, pikiran, dan perasaan kita digerakkan dan roh macam apa telah menggerakkan. Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Ignatius Loyola sebagai pemeriksaan batin harian. Praktek pemeriksaan batin ini sangat membantu dalam usaha kita menjalani pertobatan ekologis yang arahnya selalu mengedepankan kebaikan-kebaikan bersama.

Apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam kategori kebaikan-kebaikan bersama? Semua saja yang bisa kita kaitkan dengan pemeliharaan relasi afektif yang sehat  dengan diri kita sendiri, lingkungan, sesama, dan Allah yang masing-masing ataupun keseluruhan merupakan ekosistem afektif Allah sendiri.  Segala-sesuatu dipersatukan dalam ekosistem afektif Allah ini. Kitapun bisa menemukan Allah di dalam segala sesuatu. Di dalam pilihan temanku menjadi seorang vegetarian, aku bisa menemukan bagaimana Allah telah menggerakkan hatinya untuk memilih pola hidup yang terbaik bagi dirinya di usia menjelang 60 tahun. Dengan menjadi vegetarian kerja sistem pencernaan tubuhnya menjadi lebih ringan, gangguan obesitas menghilang, kolesterol menjadi normal, dan keluhan tekanan darah tinggi tak lagi terdengar. Pendek kata kesehatan tubuhnya menjadi lebih terpelihara. Hidupnya menjadi lebih ceria. Dalam refleksi kita bisa menyatakan bahwa dalam tubuh  yang sehat kita jumpai jiwa yang sehat. Relasi-relasi  afektif yang dibangun oleh jiwa yang sehat pastilah menciptakan pertumbuhan ekosistem tubuh, keluarga, komunitas, tempat kerja, masyarakat, dan Gereja yang sehat.

            Ada tiga rahmat yang bisa kita harapkan dari Tuhan lewat pertobatan ekologis kita seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si.  Ketiga rahmat tersebut adalah : 1) perdamaian diri kita dengan seluruh alam ciptaan (LS 218), 2) tumbuhnya semangat murah hati (LS 220), dan 3) terciptanya daya kreativitas dan antusiasme lebih besar dalam usaha memecahkan masalah-masalah dunia saat ini (LS 220). Tergerak hati penulis untuk selalu memohon rahmat-rahmat ini di saat-saat sedang menjalani pertobatan ekologisnya. Apa bentuk kongkritnya? Bisa disebutkan di sini : senam pagi 30 menit dengan gerakan-gerakan Taichi, jalan kaki 60 menit di sekitar rumah, menyelesaikan penyusunan buku ajar  mata kuliah lintas program studi Healing Earth  di Universitas Sanata Dharma, dan mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul. Inilah bentuk pertobatan ekologis yang dipilih penulis. Intensi pertobatan ekologis penulis adalah kombinasi antara kesehatan ekosistem afektif diri sendiri dan pembentukan  ekosistem afektif mahasiswa dan masyarakat yang sedang penulis dampingi saat ini.

                                                                              Girisonta, 30 Mei 2021

Mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul

Kelompok olah raga Taichi USD yang diikuti oleh Rm Wir

MENJADI SAHABAT CLC

Acara Awal Tahun Baru 2019 di Pastoran Paingan (Pradnya Laksita) Yogyakarta

Tentang Rm. Wir SJ (2020)

(sumber : https://books.google.co.id/books/about/Buku_Ajar_Pendekatan_Ilmiah_Lanjut.html?id=UWruDwAAQBAJ&redir_esc=y )

P. Wiryono Priyotamtama SJ, lahir di Madiun pada tanggal 8 September 1947. Mata pelajaran Biologi menjadi mata pelajaran paling disukai sejak menjadi siswa di SMP dan SMA Seminari Menengah Mertoyudan Magelang. Menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan berbagai kegiatan penelitian bidang Morfologi Tanaman dan Mikrobiologi, diantaranya praktek pengelolaan perkebunan di Perusahaan Perkebunan di Siluwok Sawangan Batang, dan penelitian lapangan di calon waduk Gadjah Mungkur, Wonorigi, pemukiman transmigran di Sitiung Sumatra Barat, dan Way Abung di Lampung, dan di tempat-tempat lain.

Gelar Educational Doctor (Ed.D) (1986) dari Oklahoma State University Stilwater, Oklahoma, USA, dalam bidang Pendidikan Pertanian. Sejak saat itu seluruh hidupnya diabdikan sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi yakni sebagai dosen tetap di Universitas Timor Timur di Dili, Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang, dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Mata kuliah yang paling sering diampu adalah Metode Penelitian, Pendekatan Ilmiah Dasar, Pendekatan Ilmiah Lanjut, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Budidaya Taman dan Hewan, Botani Ekoomi, dan mata kuliah Ilmu Lingkungan yangdiberi nama Healing Earth.

Dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1986 sampai dengan Maret 2020. Sejumlah pengalaman pengabdian yang pernah dijalani antara lain: menjadi Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993), Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996), Pimpinan Serikat Yesus Provinsi Indonesia di Semarang (1996- 2002), Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003), Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005), Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014), dan Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

Beliau saat ini berdomisili di Jesuit Residence, Wisma Pradnya Laksita, Pedukuhan Paingan, Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

HIDUP DAN KARYA SEBAGAI JESUIT

  • TAHBISAN sebagai JESUIT
  • PERAYAAN 50 TAHUN BERZIARAH DALAM ORDO SERIKAT JESUS

Perayaan bersama anggota CLC di Yogyakarta : Minggu, 21 Januari 2018, Di Ruang Seminar LPPM – Kampus II USD, Mrican

Perayaan di Universitas Sanata Dharma (Ruang Koenjono, lt 4 Gedung Pusat, Kampus II) : 27 Januari 2018

  • PERUTUSAN MENJADI PROVINSIAL JESUIT (1996 – 2002)
Source :
  • https://www.hidupkatolik.com/2014/10/12/19197/menabur-benih-iman-di-tanah-suai.php
  • Setia melayani: Romo Dewanto saat ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Mgr Ignatius Suharyo, Rm Wir sebagai Provinsial dan Rm Paul Suparno SJ sbg Rektor Kolsani.

    • PERUTUSAN MENJADI PIMPINAN PERGURUAN TINGGI (Rektor) dan aneka jabatan pimpinan yang lain

    Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993)

    Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996)

    Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003)

    Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

    Fasilitator Program Tersiat Serikat Yesus di Giri Sonta (dari 2016 sampai dengan saat ini)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Source : https://usd.ac.id/biro/personalia/daftar.php?id=berita&noid=74&offset=30

    https://www.viva.co.id/berita/politik/469383-jokowi-megawati-dan-pohon-beringin-yang-ditanam-soekarno?page=all&utm_medium=all-page

    • Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Indonesia menyelenggarakan 1st International Conference yang mengangkat  isu kemiskinan dan lingkungan yang dibuka pada Jumat (21/9) lalu di Auditorium Kampus 3 Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). 

    Hari Studi APTIK 2018 : Mengukuhkan Kebangsaan dalam Kebhinekaan, 10-12 Oktober 2018, Bertempat di Hotel IBIS, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) gelar Hari Studi di kota Pontianak (11-12/10/ 2018). Untuk kegiatan ini, Yayasan Widya Dharma Pontianak dipercayakan menjadi tuan rumah. Tercatat 19 Yayasan Perguruan Tinggi Katolik yang menjadi anggota APTIK, didampingi oleh para Rektor Perguruan Tinggi anggota APTIK  hadir dalam Hari Studi kali ini. Total jumlah peserta 105 orang.

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menyelenggarakan Kongres APTIK XXXVI tahun 2019 pada tanggal 8-9 Maret 2019. Pembukaan Kongres dilaksanakan pada Jumat, 08 Maret 2019 di Ballroom Hotel Harper Mangkubumi Yogyakarta. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus APTIK, Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ sekaligus menandai dibukanya Kongres APTIK.

    FASILITATOR TERTIAT JESUIT PROVINSI INDONESIA

    Tersiaris Provindo 2017 (belakang: Rm Seno, Rm Bambang, Rm Andalas, Rm Nico. Depan: Rm Yuniko, Rm Putranto, Rm Priyo, Rm Wiryono, Rm IJ (PHI) dan Rm Jason (PHI)

    Tersiaris Provindo 2019 (Rm Wiryono, Rm Priyo, Rm Fristian, Br Marsono, Rm Mario, Rm Eko, Rm Agam, Rm Ochang (KOR), Rm Putranto

    Source : https://jesuits.id/tertiat-provinsi-indonesia/

    BERSAMA KELUARGA JESUIT, dan lain-lain