Renungan Harian: 09 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 09 Juni 2020
PW. Hati Tersuci SP Maria

Bacaan I: 1Raj. 17: 7-16
Injil   : Mat. 5: 13-16

KOMITMEN
 
Ketika saya bertugas di sebuah paroki, muncul keluhan dari anak-anak muda kalau perayaan ekaristi di gereja gak menarik, “garing”. Mereka bertanya apakah perayaan ekaristi di gereja nyanyian tidak boleh diiringi alat musik lain selain  organ. Saya dengan segera menjawab boleh.
“sok ayo, kalian bikin koor yang diiringi gitar dan yang lain” Ajak saya pada mereka.

Mereka menyanggupi dan menyebut beberapa teman yang bisa bermain musik. Kemudian mereka membuat kesepakatan untuk berlatih.
 
Tetapi apa lacur? Latihan tidak pernah terjadi, ada saja alasan dari mereka yang main musik. Ada yang lupa, ada yang ketiduran. Bahkan saat perayaan ekaristi mereka tetap diharapkan datang, ternyata tidak datang, juga dengan alasan telat bangun dan datangnya terlambat.
 
Teman-teman muda ini mempunyai kemampuan yang bagus, akan tetapi kemampuan itu tidak kelihatan dan “tidak berguna” karena tidak ada komitmen. Saat sedang merencanakan semua kelihatan luar biasa dan akan menjadi luar biasa.
 
Bercermin dari sikap orang-orang muda itu, betapa banyak diantara kita, termasuk saya, sering kali kehilangan identitas diri karena kelemahan dalam komitmen. Identitasku sebagai Imam dan gembala sering kali hilang karena sambalewa dan mencari kesenangan sendiri.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius mengingatkanku untuk sadar akan identitasku dan bertindak sesuai dengan identitasku. “ Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diijak orang.”
 
Akankah aku akan hanya menjadi sesuatu yang dibuang dan diinjak orang?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 08 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 08 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 17: 1-6
Injil   : Mat. 5: 1-12

P A S R A H
 
Pada waktu saya masih novis, salah satu latihan yang harus dijalani oleh setiap novis adalah peregrinasi. Peregrinasi adalah berjalan sejauh 450 Km dengan rute yang telah ditentukan. Selama dalam perjalanan kami tidak membawa bekal; untuk makan kami meminta-minta. Dengan peregrinasi kami dilatih untuk bergantung pada penyelenggaraan ilahi.
 
Pengalaman waktu mau menjalankan peregrinasi muncul banyak kekhawatiran dan ketakutan, apakah nanti saya kuat berjalan, nanti bagaimana cara untuk meminta makan, dan sebagainya.
 
Pada misa pagi sebelum berangkat diingatkan oleh Pater Magister agar tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri dan sungguh-sungguh belajar mengandalkan penyelenggaraan ilahi. Dalam pelaksanaan ada banyak tantangan dan kesulitan namun semua dapat dilalui dengan baik. Dan kami merasakan betapa Tuhan begitu baik dan memungkinkan semua dapat terjadi.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan Allah”. Kiranya miskin di hadapan Allah adalah orang-orang yang berani menggantungkan hidupnya pada Allah.
 
Kelemahan dalam hidupku, adalah sering terjebak untuk mengandalkan diri sendiri. Sehingga sering dihinggapi ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir karena menurut perhitunganku, aku tidak mampu. Akibat yang lain dari seringnya aku mengandalkan diri sendiri, adalah betapa mudah aku menyombongkan diri dengan hasil yang telah aku capai.
 
Betapa sulit berserah dan bergantung pada penyelenggaraan Ilahi, manakala aku merasa mampu dan kuat. Sering kali berserah hanyalah slogan bagiku.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Senin Kedua: Konsolasi dan Desolasi pada Masa Pandemi

Acara Senin Kedua dengan topik Konsolasi dan Desolasi pada Masa Pandemi sudah diselenggarakan pada Senin Sore, 8 Juni 2020 melalui Google meet.

Senin Kedua 8 Juni 2020 melalui Google Meet

Terima kasih untuk teman-teman CLC yang sudah meluangkan waktu untuk sejenak bersua melalui Google Meet. Bertukar suara, bertukar kabar, dan sharing mengenai “Konsolasi dan Desolasi pada masa pandemi”. Meskipun hanya bisa bertemu secara online, sudah bisa kangen-kangenan.

Di bawah ini kami ringkaskan butir-butir refleksi yang kami dapatkan dari acara Senin Kedua tersebut.

Desolasi

Kesepian rohani (desolasi) memang sangat terasa di kehidupan sehari-hari. Ada rasa was-was karena penyebaran virus. Belum lagi yang tinggal di zona merah. Wajar bila ada rasa takut. Ditambah dengan rasa khawatir dan perasaan aneh dengan kehidupan sehari-hari. Ada protokoler yang ketat di tempat bekerja, saat bepergian, dan di rumah. Pun tidak bisa mengikuti misa di gereja seperti biasanya.

Konsolasi

Namun begitu, justru sebagian besar dari teman-teman CLC yang sharing sore ini, lebih merasakan hiburan rohani (konsolasi) daripada desolasi. Ada quality time karena memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Bisa mengikuti misa harian online (yang biasanya tak bisa karena terhambat waktu). Misa online yang tadinya terasa tak biasa, akhirnya menjadi hal yang biasa. Beberapa dari teman-teman CLC justru bisa melakukan rosario secara penuh bersama keluarga. Berdoa menjadi lebih intens.

Konsolasi yang lebih terasa dibandingkan desolasi di masa yang tak menentu ini adalah salah satu buah dari nilai-nilai yang telah diberikan dan diajarkan oleh Santo Ignatius untuk kita.

Semoga kita semua bisa bertahan dan melewati masa pandemi ini dengan baik.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Semoga kita bisa bertemu lagi di acara Senin Kedua berikutnya.

Berkah Dalem Gusti

Renungan Harian: 07 Juni 2020

Renungan Harian
Minggu, 07 Juni 2020
Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus

Bacaan I : Kel. 34: 4b-6.8-9
Bacaan II: 2Kor. 13: 11-13
Injil    : Yoh. 3:16-18

KESELAMATAN
 
Pagi itu, Bagong dengan bibir komat-kamit datang menemui Semar, bapaknya yang sedang duduk minum kopi dengan kedua saudaranya. Melihat Bagong datang dengan bibir komat-kamit Petruk langsung menegur

Petruk:
“Gong, kamu ngapain kok bibir Komat-kamit seperti orang sinting.”

Bagong:
“lho itu omongan orang kafir yang gak ngerti. Aku ini sedang berdoa, kalau kamu mau tau”

Petruk:
“ Kalau kamu berdoa itu masuk ke senthongmu (kamar) sana bukan komat-kamit sepanjang jalan”

Bagong:
“ wah ini, orang yang kurang imannya. Aku beritahu ya Truk, berdoa itu harus dilakukan dimana saja bukan hanya di senthong.”
 
Gareng tampak sebal melihat Bagong, langsung menyela.

Gareng:
“ Bagong itu sekarang keterlaluan, sudah kehilangan rasa kemanusiaannya.”

Petruk:
“ lho, memang ada apa?

Gareng:
“ 2 kali saya pernah ngetok rumah Bagong mau minta tolong membantu tetangganya. pertama sebelah rumahnya yang meninggal mendadak, dan lain hari tetangga belakang rumahnya sakit keras, Bagong sama sekali tidak mau. Bahkan menjawabpun tidak. “

Bagong:
“ Kang Gareng, aku itu disiplin soal doa dan ibadah. Kalau aku sedang doa dan ibadah saya diganggu, sori bro saya gak bisa.”

Gareng: 
“ wooo orang sinthing. Yang penting itu menyelamatkan orang, bertindak atas nama kemanusiaan bukan doa dan ibadah.”

Bagong:
“ Sori Bro, aku ini kan berjuang agar aku selamat dan masuk surga. Aku harus berjuang, lho ini aku bela-belain dengan mati raga luar biasa je.”
 
Semar yang dari tadi diam mendengarkan perdebatan anak-anaknya mencoba menengahi
 
Semar:
“ Heeeeh anak-anakku ngger, masuk surga, masuk Kerajaan Allah, menerima hidup kekal adalah kerinduan dan tujuan akhir dari setiap orang beriman; dan memang hanya orang yang beriman yang akan sampai ke sana.
Tapi ya ngger tolong diperhatikan. Pertama untuk sampai ke sana tidak cukup kalau kamu mengandalkan usahamu sendiri. Seolah-olah dengan doa-doamu yang banyak dan panjang dengan mati raga yang bikin kamu setengah mati lalu bisa membawamu sampai ke sana. Kita tetap membutuhkan tuntunan Roh Kudus agar tidak tersesat. Maka sikap berserah pada tuntunan Roh Kudus itu penting.
Kedua ya ngger, iman itu harus diwujudkan, nah perwujudan iman itu dengan mengamalkan ajaran dari Guru dan Tuhan kita. Mengamalkan cinta kasih.”

Bagong:
“ wah aku salah ya Pak.”

Semar:
“ Salah juga tidak tetapi belum benar. Hidup kita sebagai orang beriman itu harus menampakkan wajah Allah yang penuh belas kasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya. Semua itu dengan cara mencintai sesamamu ngger.
Nah dengan cara itu seperti ajaran para pandita, kita ikut mewujudkan kerajaan Allah.”

Petruk:
“ Wah aku jadi pusing Pak, nggak dong”

Semar:
“ heeeh bocah sableng. Intinya, begini. Iman itu yang menyelamatkan. Namun iman itu harus juga diwujudkan dalam perilaku hidup kita sehari-hari. Selanjutnya untuk mencapai keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan usaha kita sendiri, butuh tuntunan Roh Kudus. Maka kita harus bisa berserah pada tuntunan itu.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 06 Juni 2020

Renungan Harian
Sabtu, 06 Juni 2020

Bacaan I:  2Tim. 4: 1-8
Injil   :  Mrk. 12: 38-44

SHOPPING
 
Di suatu senja, di desa Karang Kadempel tempat tinggal Semar Bodronoyo tampak meriah. Ki Lurah Semar sedang menerima tamu ke tiga anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong. Setelah saling berkabar satu sama lain, Semar bertanya kepada Bagong yang akhir-akhir ini sering kali menghilang tidak ketahuan rimbanya. Belum sempat Bagong menjawab, Petruk sudah menyeletuk:
Petruk:
“ Pak, sekarang Bagong luar biasa, pengetahuannya tentang kehidupan amat luas. Pengetahuan tentang Kitab Suci hebat, Pengetahuan tentang spiritualitas keren, pengetahuan tentang olah batin dan olah rasa mantap, pengetahuan tentang ajaran-ajaran leluhur joss.”

Semar:
“ Heeeeh elok tenan. Apakah itu sebabnya kamu sering menghilang ngger?”

Bagong dengan sikap malu-malu pongah menjawab.

Bagong:
“ Betul Pak. Saya meguru, saya ikut kumpulan-kumpulan. Saya banyak mendengarkan khotbah-khobah dan pengajaran para pandita yang hebat dan menarik. Saya banyak belajar dari guru-guru spiritual yang mumpuni. Saya ikut seminar-seminar tentang olah batin dan olah rasa dari guru-guru meditasi yang hebat. Pokoknya mereka keren-keren dan menarik”

Semar:
“Weh, weh, weh kok ya hebat tenan kamu ngger. Berapa lama kamu ikut orang-orang hebat itu?”

Bagong:
“wah ya tergantung Pak. Kalau menurut saya menarik ya lama, tapi kalau tidak menarik ya saya tinggal dan pindah ke tempat lain.”

Semar:
“ Heeeeh begitu. Terus yang kamu jadikan ukuran menarik dan tidaknya apa ngger?”

Bagong:
“ ya yang memenuhi keinginan saya, yang menghibur saya, yang membuat saya gembira.”

Semar:
“ dengan semua itu mengubah hidupmu tidak ngger?”

Bagong:
“ehmmmmm……”
Bagong garuk-garuk kepala

Semar:
“Wah, wah ngger, kamu ini sekarang tersesat dalam pusaran ngelmu. Ilmu kehidupan itu bukan perkara menarik, menyenangkan dan menghibur. Ilmu itu berguna untuk menerangi hidup agar hidupmu tidak tersesat. Ilmu harus menuntunmu mengarahkan hidup pada Yang Maha Kuasa dan menjadikan kamu semakin welas asih ke sesamamu. jangan bangga dengan banyaknya guru, dan seminar yang kamu ikuti, dan juga jangan bangga dengan lamanya kamu belajar. Yang penting mendalamnya ilmu itu kamu pelajari dan daya ubah dari ilmu itu untuk hidupmu. Kamu itu ibarat orang yang mengumpulkan banyak gaman (senjata) tetapi semua gaman itu tumpul jadi tidak berguna atau gamannya hebat tetapi kamu tidak bisa menggunakan. Ketika saat berperang kamu mati ditumpukan senjata yang heba-hebat itu ngger.”
 
Dalam kehidupan nyata banyak Bagong-Bagong yang bangga dengan pengetahuan hanya untuk kepuasan diri. Seperti kata St. Paulus kepada Timotus: “ sebab akan datang waktunya, orang tidak dapat  lagi menerima ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran.”
 
Jangan-jangan selama ini aku bersikap seperti Bagong, memuaskan diri dengan banyak ilmu dan spritualitas untuk lari dari kebenaran diri.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 05 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 05 Juni 2020
PW. St. Bonifacius, Uskup dan Martir

Bacaan I: 2Tim. 3: 10-17
Injil   : Mrk. 12: 35-37

PILIHAN
 
Dalam adegan goro-goro di sebuah lakon wayang kulit, ada dialog antara Semar dan anak-anaknya. Dialog ini aslinya dalam bahasa Jawa yang saya terjemahkan bebas.
 
Bagong:
“ Pak, apakah hidup sebagai orang baik dan benar itu harus menderita”

Semar:
“Heeeeh anakku kenapa kamu tanya begitu?”

Bagong:
“itu buktinya, bendoro-bendoro kita Pandawa, hidupnya benar dan baik, tetapi selalu mengalami penderitaan yang seolah tanpa henti. Apakah memang takdir dan kodratnya orang baik dan benar itu menjadi orang menderita.”

Semar:
“ anakku, orang baik  dan benar menjadi orang yang menderita itu bukan takdir dan kodrat ya nak ya “

Bagong:
“ lho nyata di dunia itu begitu kok Pak.”

Semar:
“ Heeeeh anakku jangan mencampur aduk. Harus dipilah-pilah. Pertama hidup menjadi orang baik dan benar itu adalah pilihan. Jadi kamu boleh memilih mau jadi orang baik atau tidak , benar atau tidak. Tidak ada yang bisa memaksakan. Setiap orang punya kebebasan ngger (nak) untuk memilih.”

Bagong:
“Terus hubunganya dengan menderita?”

Semar:
“ Heeeh orang kok gak sabaran. Penderitaan itu konsekuensi dari pilihan untuk menjadi orang baik dan benar. Ketika tatanan masyarakatnya amburadul cenderung tidak baik dan tidak benar maka orang yang memilih menjadi baik dan benar itu menjadi terasing ngger. Keterasingan itu yang menyebabkan penderitaan.
Orang baik dan benar yang hidup dalam tantanan yang amburadul, penderitaan itu seperti bayangan. Selama orang itu ada di tempat yang terang bayangannya selalu ada dan mengikuti, tetapi kalau dia dalam gelap ya gak ada bayangannya lagi. Paham ngger?”

Bagong:
“ he………he”
 
Mengikuti Yesus adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi menderita. Seperti kata St. Paulus kepada Timotius: “Setiap orang yang mau hidup saleh dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.
 
Pilihan hidup mengikuti Kristus tidak harus menderita dan juga belum tentu menderita. Akan tetapi bila penderitaan itu hadir sebagai konsekuensi mengikutiNya, apakah aku siap dan sanggup? Pilihan ada dalam kebebasanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 04 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 04 Juni 2020

Bacaan I: 2Tim. 2: 8-15
Injil   : Mrk. 12: 28b-34

SUNYI
 
Ada ungkapan dalam bahasa Jawa
“dadi uwong kuwi aja gumunan lan aja kagetan”.
Ungkapan tersebut secara bebas berarti, Manusia sebaiknya tidak mudah kagum atau terpukau dan juga tidak mudah terkejut.
 
Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar ungkapan itu dipakai untuk bercandaan. Namun sebenarnya ungkapan itu memiliki makna yang amat dalam. Ungkapan tersebut adalah ajakan agar orang berani masuk ke kedalam batin dan berani untuk mengolah rasa. Dengan kemampuan yang terasah  di kedalaman batin dan olah rasa, maka seseorang akan mampu menguasai diri. Dengan penguasaan diri yang mendalam, maka seseorang tidak akan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang lahiriah, hal-hal yang nampak, yang perifer.
 
Hal-hal yang lahiriah, yang nampak, mudah menipu dan menyesatkan. Orang bisa memanipulasi apa yang tampak, demi sebuah kepuasan diri atau usaha membangun citra diri. Apa yang dibangun secara manipulatif, seringkali  sesuatu yang luar biasa, sehingga membuat orang tercengang dan terkejut karena kekagumannya.
 
Orang yang mampu sampai pada penguasaan diri yang mendalam, selalu memancarkan kedalaman batinnya; sehingga yang nampak merupakan buah-buah pengolahan yang mendalam. Dalam diri orang-orang ini amat jelas dalam hidupnya mana tujuan, mana sarana; mana yang utama, mana yang kemudian. Dan dalam hidupnya dengan jelas dan tepat, memilih sarana-sarana terbaik untuk mencapai tujuan.
 
Kiranya ahli taurat yang dipuji Yesus sebagai orang yang bijaksana, karena kemampuannya melihat hal yang utama dalam perintah Allah, dan tidak terjebak dengan ritus-ritus atau tindakan-tindakan yang nampak.
 
Bagaimana dengan diriku? Betapa sering aku masih lebih mementingkan apa yang kelihatan, sehingga kerapkali memanipulasi tindakan. Betapa sering aku menyibukkan diri dengan ritus-ritus dan lupa tujuan dari ritus-ritus itu.
 
Semua itu masih terjadi, kiranya karena aku masing kurang berani masuk ke kedalaman batin, yang berarti aku takut masuk dalam kesunyian.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 03 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 03 Juni 2020
Pw. St. Karolus Lwanga dan kawan-kawan

Bacaan I: 2Tim. 1: 1-3.6-12
Injil   : Mrk. 12: 18-27

TURNING POINT
 
Beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang menggelitik dari seorang teman. Pertanyaannya adalah: “ apakah Inigo akan menjadi Ignatius seandainya tidak ada peristiwa Pamplona?”

Sebagaimana kita ketahui, Inigo seorang perwira dengan ambisi “duniawi” yang luar biasa, kemudian harus terkapar karena kakinya tertembak ketika mempertahankan benteng Pamplona.
Sejak peristiwa itu, dia berbalik dari keinginan “duniawi”, selanjutnya mengarahkan hidupnya sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Kemudian hari Ia dan kawan-kawanya mendirikan tarekat yang diberi nama Serikat Jesus.
 
Pertanyaan teman tersebut mengajak saya untuk merefleksikan bagaimana Allah menuntun seseorang untuk dijadikan alatnya yang luar biasa. Allah mempunyai cara-cara yang unik dan luar biasa untuk membuat orang menjadi sadar dan menemukan titik balik bagi hidupnya. Allah memilih seseorang tidak melihat bagaimana “kelakuan” orang tersebut sebelumnya, tetapi semua bergantung pada kehendakNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan seperti yang tertulis dalam Surat Paulus kepada Timotius yang kedua:
“Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri.”
 
Kisah Inigo yang kemudian menjadi St. Ignatius dan banyak kisah orang kudus yang lain menunjukkan bahwa Allah memilih seseorang bukan karena kesucian dan kehebatan seseorang. Oleh karenanya St. Ignatius dengan jelas menyebut kelompoknya adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Tuhan.
 
Belajar dari pengalaman Ignatius dari Loyola dan banyak orang kudus lain, titik balik bisa terjadi dalam hidup, manakala seseorang berani membiarkan hidupnya untuk dibentuk dan dituntun Tuhan. Dibentuk dan dituntun Tuhan tidak jarang dirasa seperti dibenturkan pada karang yang keras.
 
Bagaimana dengan Aku? Bagian mana dalam sejarah hidupku yang merupakan titik balik? Dan Bagaimana cara Allah menuntunku, dan membentukku? Adakah aku membiarkan Tuhan untuk membentuk dan menuntunku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 02 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 02 Juni 2020

Bacaan I:  2 Ptr. 3: 12-15a.17-18
Injil   :   Mrk. 12 :13-17

KEWAJIBAN
 
Pada saat ada himbauan agar rumah-rumah ibadat tidak menyelenggarakan perayaan peribadatan yang dihadiri umat; umat dihimbau untuk menjalankan ibadat di rumah masing-masing. Terjadilah diskusi dan silang pendapat yang menarik.
 
Sebagian orang setuju dengan himbauan itu karena untuk kepentingan umat itu sendiri, agar tidak terpapar virus covid 19, dan juga agar tempat ibadat tidak menjadi tempat penularan. Sebagian lagi menolak karena ibadat di tempat ibadat adalah kewajiban setiap umat. Beribadat adalah ungkapan pujian pada Allah maka tidak bisa dihalangi hanya karena ketakutan pada virus. Iman pada Allah akan mengalahkan virus.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Markus, kiranya menegaskan bahwa keputusan Gereja untuk meniadakan perayaan ekaristi di gereja dengan mengindahkan himbauan pemerintah adalah keputusan yang baik. Tuhan bersabda: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.
 
Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di bumi Indonesia, umat katolik berkewajiban untuk ikut terlibat dalam kecemasan dan harapan negara ini. Menjadi orang katolik di Indonesia berarti 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia, ungkapan terkenal dari Mgr. Soegijopranoto, SJ.
 
Oleh karenanya ketaatan Gereja Indonesia pada himbauan pemerintah adalah bagian dari perwujudan keikut sertaan bela negara. Ketika negara memanggil untuk terlibat, Gereja siap terlibat.
 
Dengan demikian jelaslah bagiku bahwa soal mana yang lebih penting, taat pada pemerintah atau taat pada Allah bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
 
Apa kewajibanku pada Allah dan Apa kewajibanku pada negara seharusnya selalu menjadi daya dorong dalam tindakanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 01 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 01 Juni 2020
PW. Santa Perawan, Bunda Gereja

Bacaan I: Kej. 3: 9-15.20
Injil   : Yoh. 19: 25-34

PENGINGKARAN
 
Dalam sebuah pertemuan dengan kelompok pasutri (pasangan suami istri), dari sharing-sharing mereka ada ungkapan-ungkapan yang menarik. Beberapa yang menarik itu antara lain: “suami/istri saya kalau pas lagi baik wah luar biasa bagi saya seperti malaikat; tetapi kalau sudah marah, saya seperti ketemu dengan setan.”

Ada pula yang mengatakan:
“ Suami/istri saya itu orang yang amat romantis, selalu membuat kejutan-kejutan, dan mengungkapkan kata-kata mesra; tetapi kalau sudah marah, waduh, kebun binatang bisa keluar.”
 
Dari sharing-sharing yang terungkap nampaknya dalam hubungan suami istri, ketika lagi baik, lagi damai, maka mereka akan mengungkapkan kasih sayangnya dengan luar biasa, baik dengan kata-kata mesra maupun dengan bentuk tindakan yang lain. Akan tetapi bila sedang marah, sedang sakit hati, maka cenderung untuk menyakiti pasangannya. Seolah ada kepuasan apabila bisa menemukan kata atau kalimat yang menyakitkan.
 
Kisah manusia pertama jatuh ke dalam dosa dari Kitab Kejadian, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan I, mengisahkan bagaimana Adam mengingkari Hawa istrinya. Dalam kisah sebelumnya ketika Adam diberi teman yang sepadan ia mengatakan: “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”  (bdk, Kej. 2: 23), Ia menyebut teman yang sepadan itu sebagia bagian yang menyatu dengan dirinya. Namun ketika mereka jatuh dalam dosa, ketika ditanya Allah, Adam menjawab:
“ Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”
Dengan jawaban itu Adam mengingkari perempuan itu sebagai bagian yang menyatu dengan dirinya.
 
Salah satu akibat dosa adalah hilangnya ketulusan hati. Maka orang dengan mudah mengingkari banyak hal dan dengan mudah menyalahkan orang lain. Ketika seseorang kehilangan ketulusan hati maka cinta kasih orang itu mulai terkikis.
 
Bagaimana dengan aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.