Renungan Harian: 30 Mei 2020

Renungan  Harian
Sabtu, 30 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 28: 16-20. 30-31
Injil   : Yoh. 21: 20-25

FOLLOWER
 

Beberapa waktu yang lalu ketika di negeri ini marak demonstrasi, ada tayangan di televisi wawancara dengan peserta demo. Beberapa peserta demo ditanya mengapa ikut demo dan untuk apa demo ini? Beberapa peserta yang ditanya umumnya menjawab bahwa dirinya tidak tahu demo ini untuk apa dan tuntutannya apa. Mereka umumnya menjawab ikut demo karena ikut-ikutan teman.

 Beberapa waktu yang lalu sempat booming K-pop di kalangan anak muda. Mereka mengidolakan artis-artis Korea dan berdandan ala mereka. Kebanyakan dari anak muda yang ikut gaya “kekorea-korea’an” tidak tahu dimana baik dan menariknya dari artis-artis Korea ini. Kenapa ikut gaya mereka? jawabannya adalah ikut-ikutan atau karena “nge’trend”.
 
Dari dua kisah di atas menunjukkan betapa banyak diantara kita mengikuti sesuatu atau seseorang lebih karena alasan ikut-ikutan atau trend; dari pada kesadaran akan nilai luhur yang mau diperjuangkan. Persoalannya ketika orang ikut-ikutan atau ikut tred, seringkali terbawa euphoria masa, sehingga sering menjadi tidak sadar bahwa dirinya sedang ikut-ikutan. Hal seperti itu sering tidak akan bertahan lama, hanya sekilas saja.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh Yohanes, Yesus bersabda kepada Petrus: “ikutlah Aku.” Dan Petrus mengikuti Dia. Kalau Yesus bersabda kepadaku: “ikutlah Aku.” Apa jawabku dan apa yang kuperbuat?
 
Sekarang ini aku menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Pertanyaanya adalah apa yang mendasari aku mengikuti Kristus. Aku ikut Kristus karena ikut-ikutan? Trend? Atau ada nilai luhur yang kuperjuangkan? Nilai luhur apa yang aku perjuangkan?
 
Andai aku mengikuti Kristus tidak mendapatkan keuntungan yang sekarang ini dapat kunikmati, dan bahkan Ia menunjukkan kesulitan dan tantangan serta penderitaan sebagai konsekuensi mengikuti Dia, masihkah aku mau mengikuti Dia?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 Mei 2020

Renungan Harian
Jumat, 29 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 25: 13-21
Injil   : Yoh. 21: 15-19

BERKOBAR
 
St. Ignatius Loyola dalam latihan rohani mengajarkan agar dalam memilih apapun, hendaknya disadari mana yang merupakan sarana dan mana yang merupakan tujuan. Hal itu penting agar kita tidak terjebak lebih mementingkan sarana dari pada tujuan.
 
Secara khusus dalam tuntunan untuk memilih pilihan hidup, yang pertama dan utama disadari dan diyakini adalah tujuan manusia hidup (diciptakan). Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah agar jiwanya diselamatkan. Maka bentuk pilihan hidup apapun, apakah aku memilih hidup berkeluarga, hidup membujang atau menjadi imam, biarawan dan biarawati karena aku sadar dan yakin bahwa dengan pilihan itu aku akan lebih memuji, menghormati dan mengabdi Allah.
 
Saya yakin meski banyak orang tidak mengenal latihan rohani, sebagian besar orang mendasarkan pilihan hidupnya pada dorongan dan kehendak untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah. Banyak orang mengatakan bahwa pilihan hidupnya sebagai ibadah.
 
Semua itu sumbernya adalah pengalaman akan cinta Allah yang begitu dahsyat, sehingga memunculkan hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah.
 
Sebagaimana dalam Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes, Petrus mendapatkan perintah menggembalakan domba-dombaNya setelah ia menjawab: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Itu adalah jawaban Petrus yang ketiga atas tiga kali pertanyaan Yesus apakah ia mencintaiNya.
 
Dalam peziarahan, menghidupi pilihan seringkali tidak kita tunjukan bahwa hidup kita itu adalah pujian, penghormatan dan pengabdian pada Allah. Tidak usah bicara soal yang “lebih” (magis), yang minimal saja belum dapat terpenuhi. Pertanyaannya apa yang salah? Pilihannya yang salah? cara menghidupi yang salah? atau pertimbangan sejak awal yang salah?
 
Bagiku yang menjadi persoalan utama adalah hasratku yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah meredup, bahkan sering kali hilang. Hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah adalah dasar ketika aku membuat pilihan.
 
Pertanyaan besar bagiku, dan selalu terus aku perjuangan adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah.
 
Jangan-jangan aku seringkali dan atau telah mengganti Allah dengan ilah-ilah yang lain.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 28 Mei 2020

Renungan Harian
Kamis, 28 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 22: 30; 23: 6-11
Injil   : Yoh. 17: 20-26

M A G I S
 
Magis artinya semangat lebih. Semangat untuk berkarya dengan pencapaian yang lebih, baik dalam kualitas maupun kuantitas. Tentu saja semangat dalam hal kebaikan. Semangat magis lebih diutamakan pada sisi kualitas; artinya bukan soal banyaknya (berkaitan dengan jumlah) akan tetapi mendalamnya (berkaitan dengan mutu).
 
Apa yang mendasari semangat magis bukanlah soal menjadi unggul dibanding yang lain, atau ambisi-ambisi untuk memenangkan persaingan. Akan tetapi yang mendasari semangat magis adalah cinta pada Allah yang berkobar-kobar. Pengalaman cinta Allah yang begitu besar menumbuhkan dalam diri seseorang, cinta pada Allah yang berkobar-kobar. Sebagai dampaknya, maka seseorang memperjuangkan hidupnya agar menjadi pujian, penghormatan pada Allah.
 
Pengalaman St. Paulus, sejauh diwartakan dalam Kisah Rasul menunjukkan adanya dorongan dari Allah, untuk bersikap magis. Tuhan bersabda kepada Paulus: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau berani telah bersaksi tetang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”
 
Sebagaimana St. Paulus, seseorang dengan sikap magis, didorong untuk tidak berpuas diri dengan hasil yang telah dicapai, tetapi didorong untuk lebih lagi.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani mendorong diriku dengan segala dayaku untuk bertindak yang lebih? Atau merasa cukuplah, kalau aku sudah masuk dalam golongan orang-orang baik?
Pertanyaan lebih lanjut, apa yang mendasariku untuk bersikap magis? Kepuasan karena mampu mengalahkan orang lain? Popularitas?
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 27 Mei 2020

Renungan Harian
Rabu, 27 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 20: 28-38
Injil   : Yoh. 17: 11b-19

GEMBALA
 
Beberapa waktu lalu ada pernyataan dari seorang teman yang membuat saya tersentak dan merenung cukup lama. Teman saya mengatakan:

“…di masa pandemic corona ini banyak gereja berlomba-lomba mengadakan misa online. Bukankah itu berbiaya mahal? Bukankah lebih baik uangnya diberikan kepada orang miskin atau yang membutuhkan.”

“Paroki-paroki minta agar umat dimanapun untuk subscribe. Ini pelayanan atau mau tampil?” tambahnya.
 
Saya bertanya pada diri saya sendiri:
“saat aku memutuskan membuat video khotbah apa yang mendorong saya? Juga ketika kemudian ada umat yang menawari untuk misa live streaming, apa yang mendorong saya untuk menyetujui? Ikut trend? Ingin terkenal? Membunuh kebosanan? Atau ikut dalam “persaingan” ?
 
Pada saat Bapak Uskup Keuskupan Bandung memutuskan bahwa perayaan ekaristi tidak diikuti umat, saya memutuskan untuk setiap hari merayakan ekaristi pribadi di Gereja. Saya mulai menikmati dan nyaman dengan merayakan ekaristi pribadi. Setiap kali khotbah bisa saya isi dengan meditasi pribadi.
 
Setelah satu minggu berjalan umat mulai bertanya kenapa paroki, kita tidak mengadakan misa online, kami ingin ikut misa di paroki sendiri. Pertanyaan itu menyadarkan saya untuk menemukan bentuk-bentuk penggembalaan dan pelayanan bagi umat yang dipercayakan kepada kami dalam situasi seperti ini.
 
Bertolak dari hal itu dan didasari keinginan untuk menyapa umat maka saya membuat rekaman khotbah yang bisa saya bagikan kepada umat. Syukur pada Allah, kemudian ada umat yang menawari untuk mengusahakan misa online dengan memanfaatkan sarana yang sudah tersedia yaitu jaringan internet (wifi) dan camera CCTV yang biasanya disambungkan dengan monitor di luar gedung gereja ketika misa hari minggu. Pada saat itu tidak terbersit sedikitpun dalam diri saya untuk menjadi terkenal atau masuk dalam bursa “persaingan”.
 
Kiranya misa-misa online dan romo-romo membuat video-video adalah usaha kami para pelayan yang mendapat tugas penggembalaan untuk selalu menyapa dan hadir di tengah-tengah umat yang dipercayakan pada pelayanan kami.
 
Disamping itu selalu berjuang melawan godaan untuk mencari popularitas tetap harus diupayakan. Tidak penting berapa subscriber dan viewer nya yang lebih utama adalah melayani, menyapa dan tetap hadir. Examen conscientiae dan kritik dari teman-teman menjadi bagian penting agar tidak jatuh dalam godaan.
 
Sebagaimana St. Paulus, sejauh diwartakan dalam Kisah Rasul yang kita dengar dalam bacaan I hari ini mengatakan: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri.”
 
Tugas pelayanan dan penggembalaan tetap harus diupayakan dan harus semakin kreatif di masa seperti ini, agar umat tetap selalu merasakan kehadiran para pelayannya dan tetap merasakan sapaannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 26 Mei 2020

Renungan Harian
Selasa, 26 Mei 2020
PW. St. Filipus Neri

Bacaan I: Kis. 20: 17-27
Injil   : Yoh. 17: 1-11a.

Merdeka

Beberapa tahun yang lalu, khususnya pada masa Orde Baru, istilah ABS (Asal Bapak Senang) amat popular. Popular bukan hanya karena sering disebut, akan tetapi banyak perilaku yang menunjukkan sikap ABS.
 
Sikap ABS adalah perilaku dimana orang mau melakukan apa saja, bahkan kalau itu harus memanipulasi, termasuk memanipulasi diri, dengan tujuan menyenangkan atasannya. Singkatnya orang tidak lagi berpikir benar atau salah, baik atau tidak, pokoknya yang penting atasannya senang.
 
Sikap ABS membuat orang tidak bebas, tidak otonom.
Persoalan besar adalah mana kala masyarakat menganggap dan menerima ABS sebagai kebenaran baru, sehingga menjadi “budaya” baru dalam hidup bermasyarakat. Dalam situasi itu orang bersikap ABS merasa telah memilih tindakan yang benar dan sah. Lebih dalam lagi, orang tidak lagi merasa tertekan tetapi merasa senang melakukannya.
 
Entah disadari atau tidak, sikap beriman kita senada dengan sikap ABS.
Sejak kecil aku dididik dengan baik, sebagai orang beriman katolik. Maka, ke gereja, doa dan ikut aktif dalam hidup menggereja adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Dulu ketika masih kecil, kalau hal-hal itu tidak dilakukan akan mendapatkan marah atau ada ancaman menjadi orang yang berdosa. Tanpa sadar semua itu tertanam dalam diriku.
 
Tanpa sadar aku sampai sekarang menjalankan hal-hal itu karena kewajiban. Aku akan merasa lega bila itu sudah dijalankan; tetapi akan merasa resah dan merasa ada sesuatu yang aneh dalam hidupku, bila hal itu belum dijalankan.
 
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mematangkan batin dalam hidup beriman. Kita diajak untuk beriman dengan batin yang merdeka, diri yang otonom. Tuhan bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau Utus.”
 
Sabda Tuhan itu menegaskan bahwa hidup kekal timbul dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusanNya. Kemauan, menunjuk kebebasan batin untuk memilih.
 
Orang diajak untuk berani mengenali siapa saya sesungguhnya dengan segala praktek hidup berimannya. Melepaskan diri dari segala hal yang muncul dalam diri, sebagai sebuah keharusan (imperatif afirmatif). Dengan melepaskan segala keterikatan itu, aku menjadi orang yang “bebas untuk”.
 
Kehendakku yang menjadi keputusanku, dan pada gilirannya menjadi hasratku. Hasrat memilih mengimani Allah muncul dari kebebasan batinku. Aku beriman bukan karena takut pada orang tua yang telah mendidikku, pun pula bukan karena takut dosa, dan masuk neraka. Entah ada dosa atau tidak, entah ada neraka atau tidak, bahkan entah ada surga atau tidak, aku tetap memilih untuk mengimani Allah.
 
Aku telah mengalami cintaNya yang besar dalam hidupku. Pengalaman cinta itulah yang mendorongku untuk mencintaiNya dan mengejar cintaNya.
 
Persoalan bagiku adalah, apakah aku bisa melepaskan segala sesuatu itu dan berani mengenali diriku yang sesungguhnya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 Mei 2020

Renungan Harian
Senin, 25 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 19: 1-8
Injil   : Yoh. 16: 29-33

Restu

Dalam perayaan upacara perkawinan, baik dalam perayaan ekaristi maupun ibadat sabda, sejauh yang saya alami, saat yang paling mengharukan adalah saat sungkeman (mohon restu kepada orang tua). Memang benar saat mengucapkan janji perkawinan juga mengharukan, tetapi tidak banyak terjadi.
 
Mohon restu bukan hanya soal mohon ijin dari orang tua, tetapi lebih dari itu, mohon berkat dan doa dari orang tua. Dari satu sisi, pengantin tahu dan sadar bahwa perjalanan hidup perkawinan tidak selamanya mudah dan indah; maka doa dan berkat dari orang tua amat dibutuhkan sebagai pegangan dan kekuatan.

Di sisi lain, orang tua sudah mengalami bahwa perjalanan perkawinan sungguh tidak semudah dan seindah yang dibayangkan; maka mereka memberikan doa dan berkat. Sebagaimana selalu terucap dari para orang tua:
”Perjalanan hidup perkawinan tidak mudah, banyak suka duka dan tidak jarang menderita, tetapi jangan takut, doa dan berkat bapak ibu menyertai kalian”
 
Dari doa dan berkat yang terucap dari orang tua, terungkap penegasan dari mereka bahwa perjalanan perkawinan yang berat dan rumit, serumit dan seberat apapun, pasti akan bisa dilalui, karena mereka sudah dan sedang menjalaninya.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini yang merupakan penutup dari “pesan perpisahan” Yesus kepada murid-muridNya, sejauh diwartakan Yohanes 16: 1-33, memberikan peneguhan kepada para murid. “ Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
 
Yesus menegaskan kepada para murid, penderitaan pasti akan dialami, tetapi jangan takut Aku selalu menyertai dan menguatkan kalian. Aku telah mengalami dan telah melewati penderitaan itu, maka kalian pun pasti akan mampu.
 
Dengan kata lain Yesus mau menegaskan dan memberi jaminan kepada para murid ”jangan takut dan khawatir, tidak ada penderitan yang tidak akan tertanggungkan. Jangan gentar dan ragu. Aku selalu menyertai.”
 
Kalau demikian apa yang membuat aku takut, khawatir, gentar dan ragu, saat berhadapan dengan penderitaan dalam peziarahanku mengikuti Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 Mei 2020

Renungan Harian
24 Mei 2020
Minggu Paskah VII

Bacaan I : Kis. 1: 12-14
Bacaan II: 1Ptr. 4: 13-16
Injil    : Yoh. 17: 1-11a.

Berjuang

Seorang Bapak yang sekarang sudah sepuh, berbagi pengalaman tentang pergulatan hidupnya. Dia mengisahkan, di awal karirnya, ia bekerja disebuah perusahaan swasta yang besar. Salah satu tugasnya adalah menjumpai klien-klien di luar negeri.
 
Dalam perjumpaan dengan klien di luar negeri, acara yang tidak pernah dilewatkan adalah dijamu oleh para klien, dan tentu saja dengan pembicaraan bisnis. Apa yang ia temui dalam perjamuan itu adalah selalu disediakan 2 perempuan cantik menemani dan melayani. Perempuan-perempuan cantik itu bukan hanya melayani perjamuan, tetapi juga menggoda yang menjurus ke arah hubungan badan. Bahkan kliennya dengan terus terang mengatakan bahwa perempuan-perempuan cantik boleh dibawa ke tempatnya menginap.
 
“Bukannya saya tidak tertarik dan tidak terdorong untuk mengikuti ajakan perempuan-perempuan cantik itu. Saya seorang laki-laki muda dan tulen.” Lanjut bapak itu.
“Namun saya selalu ingat akan spiritualitas yang saya hayati dan perjuangkan. Saya mengatakan tidak. Saya tetap fokus untuk pekerjaan saya.”
 
Setiap kali berdoa, dia selalu mohon agar dihindarkan dari pencobaan. Namun dirinya amat sadar dan tahu bahwa kalau dia berjumpa dengan klien-klien, hal itu seringkali terjadi. Maka pilihannya adalah tidak mau menjalankan pekerjaan itu supaya dirinya jauh dari pencobaan, atau dia tetap menjalankan tugas itu dan berjuang untuk setia pada kehidupan rohani yang dirinya perjuangkan, dengan resiko kehilangan klien-klien.
 
Ternyata dalam perjalanan waktu, para klien justru menghargainya dan menaruh hormat. Hormat karena dia selalu berani menolak tawaran dan godaan itu. Baginya hal kecil itu (walaupun dengan perjuangan luar biasa) menjadi pewartaan bagi klien-kliennya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes, dalam doanya Yesus berkata: ”Bapa, telah tiba saatnya: permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.”
Kata memuliakan dalam hal itu berhubungan dengan sengsara dan wafatNya. Yesus dengan jelas dan tegas tidak mohon agar dihindarkan dari sengsara dan wafat akibat penolakan manusia. Justru dengan kerelaannya untuk tetap menderita, menunjukan (mewartakan) betapa cinta Allah kepada manusia. Allah yang berpihak pada manusia, meski manusia menolaknya. Allah tetap setia, untuk mengembalikan manusia; yang lebih memilih kegelapan; menuju terang.
 
Belajar dari pengalaman di atas, kita selalu berdoa

“…hindarkan kami dari pencobaan…”

,Itu bukan berarti Allah menghilangkan pencobaan atau aku melarikan diri dari pencobaan. Tetapi justru aku dipanggil untuk berjuang di dalam pencobaan itu dan tetap berpegang pada ajaranNya.
 
Pencobaan bukan untuk dicari dan didekati, tetapi bila pencobaan itu datang, atau aku dihadapkan, atau dimasukkan dalam pencobaan, aku tidak lari atau menyerah (menikmati) pada pencobaan. Aku tetap tekun dan setia berjuang di dalamnya.
 
Persoalannya adalah, apabila aku ada dalam pencobaan, dapatkah aku tekun dan setia berjuang berpegang pada belas kasihNya, sehingga pada akhirnya aku keluar, tetap dengan terang yang kupunya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Discerning Parents – Pola Asuh Reflektif untuk Generasi Z –

Belum lagi rampung pemetaan karakter dan antisipasi zaman pada Generasi Millenial yang unik, kini generasi baru mulai memberikan pengaruh dengan respon yg semakin berbeda dengan kalangan tua.

Generasi Z, begitu mereka disebut. Sebuah generasi hasil akumulasi dari budaya instan, penduduk asli dunia maya, penguasa peralatan digital, dengan pola interaksi antar manusia yg ramai namun sepi.

Semua itu membingkai sebuah tantangan umum bagi kita…..

Bagaimana cara mengasuh mereka?

Akankah mereka setangguh generasi X, seluwes generasi M, atau sebaliknya?

Berita buruknya, tak ada “SOP” baku yang berlaku untuk semua.

Berita baiknya, Tuhan selalu punya jalan yg tepat, selama kita mampu mendengar, memahami dan meneguhkan seruanNya, lewat pilihan yg kita ambil.

Mari menggali dan menimba inspirasi dari Tradisi Spiritualitas yang telah terbukti ampuh selama 450 tahun membangun generasi tangguh, mandiri dan unggul, lewat kemampuan ber – DISCERNMENT.

Dalam Seminar ini, kaum muda dan keluarga muda diajak untuk:

  • Merefleksikan tantangan pola pengasuhan dalam kehidupan sehari-hari
  • mengenal Discernment sebagai proses peneguhan rohani
  • mencoba berlatih Discerment dalam kehidupan sehari-hari.