Renungan Harian: 05 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 05 Juni 2020
PW. St. Bonifacius, Uskup dan Martir

Bacaan I: 2Tim. 3: 10-17
Injil   : Mrk. 12: 35-37

PILIHAN
 
Dalam adegan goro-goro di sebuah lakon wayang kulit, ada dialog antara Semar dan anak-anaknya. Dialog ini aslinya dalam bahasa Jawa yang saya terjemahkan bebas.
 
Bagong:
“ Pak, apakah hidup sebagai orang baik dan benar itu harus menderita”

Semar:
“Heeeeh anakku kenapa kamu tanya begitu?”

Bagong:
“itu buktinya, bendoro-bendoro kita Pandawa, hidupnya benar dan baik, tetapi selalu mengalami penderitaan yang seolah tanpa henti. Apakah memang takdir dan kodratnya orang baik dan benar itu menjadi orang menderita.”

Semar:
“ anakku, orang baik  dan benar menjadi orang yang menderita itu bukan takdir dan kodrat ya nak ya “

Bagong:
“ lho nyata di dunia itu begitu kok Pak.”

Semar:
“ Heeeeh anakku jangan mencampur aduk. Harus dipilah-pilah. Pertama hidup menjadi orang baik dan benar itu adalah pilihan. Jadi kamu boleh memilih mau jadi orang baik atau tidak , benar atau tidak. Tidak ada yang bisa memaksakan. Setiap orang punya kebebasan ngger (nak) untuk memilih.”

Bagong:
“Terus hubunganya dengan menderita?”

Semar:
“ Heeeh orang kok gak sabaran. Penderitaan itu konsekuensi dari pilihan untuk menjadi orang baik dan benar. Ketika tatanan masyarakatnya amburadul cenderung tidak baik dan tidak benar maka orang yang memilih menjadi baik dan benar itu menjadi terasing ngger. Keterasingan itu yang menyebabkan penderitaan.
Orang baik dan benar yang hidup dalam tantanan yang amburadul, penderitaan itu seperti bayangan. Selama orang itu ada di tempat yang terang bayangannya selalu ada dan mengikuti, tetapi kalau dia dalam gelap ya gak ada bayangannya lagi. Paham ngger?”

Bagong:
“ he………he”
 
Mengikuti Yesus adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi menderita. Seperti kata St. Paulus kepada Timotius: “Setiap orang yang mau hidup saleh dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.
 
Pilihan hidup mengikuti Kristus tidak harus menderita dan juga belum tentu menderita. Akan tetapi bila penderitaan itu hadir sebagai konsekuensi mengikutiNya, apakah aku siap dan sanggup? Pilihan ada dalam kebebasanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 04 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 04 Juni 2020

Bacaan I: 2Tim. 2: 8-15
Injil   : Mrk. 12: 28b-34

SUNYI
 
Ada ungkapan dalam bahasa Jawa
“dadi uwong kuwi aja gumunan lan aja kagetan”.
Ungkapan tersebut secara bebas berarti, Manusia sebaiknya tidak mudah kagum atau terpukau dan juga tidak mudah terkejut.
 
Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar ungkapan itu dipakai untuk bercandaan. Namun sebenarnya ungkapan itu memiliki makna yang amat dalam. Ungkapan tersebut adalah ajakan agar orang berani masuk ke kedalam batin dan berani untuk mengolah rasa. Dengan kemampuan yang terasah  di kedalaman batin dan olah rasa, maka seseorang akan mampu menguasai diri. Dengan penguasaan diri yang mendalam, maka seseorang tidak akan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang lahiriah, hal-hal yang nampak, yang perifer.
 
Hal-hal yang lahiriah, yang nampak, mudah menipu dan menyesatkan. Orang bisa memanipulasi apa yang tampak, demi sebuah kepuasan diri atau usaha membangun citra diri. Apa yang dibangun secara manipulatif, seringkali  sesuatu yang luar biasa, sehingga membuat orang tercengang dan terkejut karena kekagumannya.
 
Orang yang mampu sampai pada penguasaan diri yang mendalam, selalu memancarkan kedalaman batinnya; sehingga yang nampak merupakan buah-buah pengolahan yang mendalam. Dalam diri orang-orang ini amat jelas dalam hidupnya mana tujuan, mana sarana; mana yang utama, mana yang kemudian. Dan dalam hidupnya dengan jelas dan tepat, memilih sarana-sarana terbaik untuk mencapai tujuan.
 
Kiranya ahli taurat yang dipuji Yesus sebagai orang yang bijaksana, karena kemampuannya melihat hal yang utama dalam perintah Allah, dan tidak terjebak dengan ritus-ritus atau tindakan-tindakan yang nampak.
 
Bagaimana dengan diriku? Betapa sering aku masih lebih mementingkan apa yang kelihatan, sehingga kerapkali memanipulasi tindakan. Betapa sering aku menyibukkan diri dengan ritus-ritus dan lupa tujuan dari ritus-ritus itu.
 
Semua itu masih terjadi, kiranya karena aku masing kurang berani masuk ke kedalaman batin, yang berarti aku takut masuk dalam kesunyian.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 03 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 03 Juni 2020
Pw. St. Karolus Lwanga dan kawan-kawan

Bacaan I: 2Tim. 1: 1-3.6-12
Injil   : Mrk. 12: 18-27

TURNING POINT
 
Beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang menggelitik dari seorang teman. Pertanyaannya adalah: “ apakah Inigo akan menjadi Ignatius seandainya tidak ada peristiwa Pamplona?”

Sebagaimana kita ketahui, Inigo seorang perwira dengan ambisi “duniawi” yang luar biasa, kemudian harus terkapar karena kakinya tertembak ketika mempertahankan benteng Pamplona.
Sejak peristiwa itu, dia berbalik dari keinginan “duniawi”, selanjutnya mengarahkan hidupnya sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Kemudian hari Ia dan kawan-kawanya mendirikan tarekat yang diberi nama Serikat Jesus.
 
Pertanyaan teman tersebut mengajak saya untuk merefleksikan bagaimana Allah menuntun seseorang untuk dijadikan alatnya yang luar biasa. Allah mempunyai cara-cara yang unik dan luar biasa untuk membuat orang menjadi sadar dan menemukan titik balik bagi hidupnya. Allah memilih seseorang tidak melihat bagaimana “kelakuan” orang tersebut sebelumnya, tetapi semua bergantung pada kehendakNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan seperti yang tertulis dalam Surat Paulus kepada Timotius yang kedua:
“Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri.”
 
Kisah Inigo yang kemudian menjadi St. Ignatius dan banyak kisah orang kudus yang lain menunjukkan bahwa Allah memilih seseorang bukan karena kesucian dan kehebatan seseorang. Oleh karenanya St. Ignatius dengan jelas menyebut kelompoknya adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Tuhan.
 
Belajar dari pengalaman Ignatius dari Loyola dan banyak orang kudus lain, titik balik bisa terjadi dalam hidup, manakala seseorang berani membiarkan hidupnya untuk dibentuk dan dituntun Tuhan. Dibentuk dan dituntun Tuhan tidak jarang dirasa seperti dibenturkan pada karang yang keras.
 
Bagaimana dengan Aku? Bagian mana dalam sejarah hidupku yang merupakan titik balik? Dan Bagaimana cara Allah menuntunku, dan membentukku? Adakah aku membiarkan Tuhan untuk membentuk dan menuntunku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 02 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 02 Juni 2020

Bacaan I:  2 Ptr. 3: 12-15a.17-18
Injil   :   Mrk. 12 :13-17

KEWAJIBAN
 
Pada saat ada himbauan agar rumah-rumah ibadat tidak menyelenggarakan perayaan peribadatan yang dihadiri umat; umat dihimbau untuk menjalankan ibadat di rumah masing-masing. Terjadilah diskusi dan silang pendapat yang menarik.
 
Sebagian orang setuju dengan himbauan itu karena untuk kepentingan umat itu sendiri, agar tidak terpapar virus covid 19, dan juga agar tempat ibadat tidak menjadi tempat penularan. Sebagian lagi menolak karena ibadat di tempat ibadat adalah kewajiban setiap umat. Beribadat adalah ungkapan pujian pada Allah maka tidak bisa dihalangi hanya karena ketakutan pada virus. Iman pada Allah akan mengalahkan virus.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Markus, kiranya menegaskan bahwa keputusan Gereja untuk meniadakan perayaan ekaristi di gereja dengan mengindahkan himbauan pemerintah adalah keputusan yang baik. Tuhan bersabda: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.
 
Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di bumi Indonesia, umat katolik berkewajiban untuk ikut terlibat dalam kecemasan dan harapan negara ini. Menjadi orang katolik di Indonesia berarti 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia, ungkapan terkenal dari Mgr. Soegijopranoto, SJ.
 
Oleh karenanya ketaatan Gereja Indonesia pada himbauan pemerintah adalah bagian dari perwujudan keikut sertaan bela negara. Ketika negara memanggil untuk terlibat, Gereja siap terlibat.
 
Dengan demikian jelaslah bagiku bahwa soal mana yang lebih penting, taat pada pemerintah atau taat pada Allah bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
 
Apa kewajibanku pada Allah dan Apa kewajibanku pada negara seharusnya selalu menjadi daya dorong dalam tindakanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 01 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 01 Juni 2020
PW. Santa Perawan, Bunda Gereja

Bacaan I: Kej. 3: 9-15.20
Injil   : Yoh. 19: 25-34

PENGINGKARAN
 
Dalam sebuah pertemuan dengan kelompok pasutri (pasangan suami istri), dari sharing-sharing mereka ada ungkapan-ungkapan yang menarik. Beberapa yang menarik itu antara lain: “suami/istri saya kalau pas lagi baik wah luar biasa bagi saya seperti malaikat; tetapi kalau sudah marah, saya seperti ketemu dengan setan.”

Ada pula yang mengatakan:
“ Suami/istri saya itu orang yang amat romantis, selalu membuat kejutan-kejutan, dan mengungkapkan kata-kata mesra; tetapi kalau sudah marah, waduh, kebun binatang bisa keluar.”
 
Dari sharing-sharing yang terungkap nampaknya dalam hubungan suami istri, ketika lagi baik, lagi damai, maka mereka akan mengungkapkan kasih sayangnya dengan luar biasa, baik dengan kata-kata mesra maupun dengan bentuk tindakan yang lain. Akan tetapi bila sedang marah, sedang sakit hati, maka cenderung untuk menyakiti pasangannya. Seolah ada kepuasan apabila bisa menemukan kata atau kalimat yang menyakitkan.
 
Kisah manusia pertama jatuh ke dalam dosa dari Kitab Kejadian, sebagaimana kita dengar dalam Bacaan I, mengisahkan bagaimana Adam mengingkari Hawa istrinya. Dalam kisah sebelumnya ketika Adam diberi teman yang sepadan ia mengatakan: “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”  (bdk, Kej. 2: 23), Ia menyebut teman yang sepadan itu sebagia bagian yang menyatu dengan dirinya. Namun ketika mereka jatuh dalam dosa, ketika ditanya Allah, Adam menjawab:
“ Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”
Dengan jawaban itu Adam mengingkari perempuan itu sebagai bagian yang menyatu dengan dirinya.
 
Salah satu akibat dosa adalah hilangnya ketulusan hati. Maka orang dengan mudah mengingkari banyak hal dan dengan mudah menyalahkan orang lain. Ketika seseorang kehilangan ketulusan hati maka cinta kasih orang itu mulai terkikis.
 
Bagaimana dengan aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 31 Mei 2020

Renungan Harian
Minggu, 31 Mei 2020
Hari Raya Pentakosta

Bacaan I :   Kis. 2: 1-11
Bacaan II: 1Kor. 12: 3b-7.12-13
Injil    :   Yoh. 20: 19-23

DAYA PENGAMPUNAN
 
Beberapa tahun yang lalu, saya memimpin perayaan ekaristi  untuk pesta perak perkawinan seorang teman. Saya dan banyak teman lain mengenal pasangan ini sebagai pasangan yang serasi, rukun dan damai. Selain itu pasangan ini amat perhatian ke semua teman dan banyak membantu teman lain.
 
Saat khotbah saya meminta pasangan ini untuk sharing, pengalaman yang menarik dari pasangannya. Teman saya seorang bapak yang dikenal baik dan saleh ini, memulai sharingnya dengan mengatakan bahwa yang menarik dari istrinya adalah pengampunannya.
 
Ia berkisah bahwa dirinya dulu tidak seperti yang teman-teman kenal sekarang ini. Ia berkali-kali selingkuh, mengkhianati istrinya. Dan setiap kali ia meminta maaf, istrinya selalu memaafkan. Hingga suatu titik ia merasa malu dengan istrinya karena selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Ia mengatakan kepada istrinya: “aku sudah gak pantas lagi untuk menjadi suamimu, sudah terlalu banyak luka yang telah saya buat. Saya sudah gak berani lagi untuk meminta maaf karena sudah terlalu sering. Sekarang sebaiknya saya keluar dari rumah ini agar tidak lagi menyakiti kamu.”
“ jangan pergi. Ini rumah kita. Ayo kalau mau kita perbaiki hubungan kita. Kita mulai dari nol lagi. Kita lihat ke depan.” jawab istrinya.
 
Jawaban istrinya ini menjadikan dia seperti orang yang disentak. Ia merasakan cinta istrinya yang begitu luar biasa. Sejak saat itu ia berubah, tidak lagi selingkuh, dan hidup sebagai manusia yang baru. Istrinya juga melihat bahwa suaminya seperti lahir kembali. Hidupnya menjadi lebih bersemangat dan penuh gairah menatap hari-harinya.
 
Kekuatan daya pengampunan istrinya menjadikan dirinya menjadi manusia baru. Daya pengampunan mampu menghidupkan dirinya lagi. Mampu membuat dirinya merasakan kasih yang tulus dan murni, sehingga membuat gairah hidupnya berkobar-kobar lagi.
 
Itulah salah satu karunia Roh Kudus yaitu hidup baru melalui kekuatan daya pengampunan.
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini: “ Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
 
Daya untuk mengampuni telah dicurahkan kepada kita, namun dalam hidup sehari-hari betapa sulit pengampunan itu tercurah dariku bagi orang lain. Betapa aku lebih senang menyimpan dendam dan rindu untuk melampiaskan dendam itu, dari pada aku membuka kran pengampunan.
 
Pertanyaan besar adalah kemana daya Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam diriku lewat sakramen babtis dan penguatan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 30 Mei 2020

Renungan  Harian
Sabtu, 30 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 28: 16-20. 30-31
Injil   : Yoh. 21: 20-25

FOLLOWER
 

Beberapa waktu yang lalu ketika di negeri ini marak demonstrasi, ada tayangan di televisi wawancara dengan peserta demo. Beberapa peserta demo ditanya mengapa ikut demo dan untuk apa demo ini? Beberapa peserta yang ditanya umumnya menjawab bahwa dirinya tidak tahu demo ini untuk apa dan tuntutannya apa. Mereka umumnya menjawab ikut demo karena ikut-ikutan teman.

 Beberapa waktu yang lalu sempat booming K-pop di kalangan anak muda. Mereka mengidolakan artis-artis Korea dan berdandan ala mereka. Kebanyakan dari anak muda yang ikut gaya “kekorea-korea’an” tidak tahu dimana baik dan menariknya dari artis-artis Korea ini. Kenapa ikut gaya mereka? jawabannya adalah ikut-ikutan atau karena “nge’trend”.
 
Dari dua kisah di atas menunjukkan betapa banyak diantara kita mengikuti sesuatu atau seseorang lebih karena alasan ikut-ikutan atau trend; dari pada kesadaran akan nilai luhur yang mau diperjuangkan. Persoalannya ketika orang ikut-ikutan atau ikut tred, seringkali terbawa euphoria masa, sehingga sering menjadi tidak sadar bahwa dirinya sedang ikut-ikutan. Hal seperti itu sering tidak akan bertahan lama, hanya sekilas saja.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh Yohanes, Yesus bersabda kepada Petrus: “ikutlah Aku.” Dan Petrus mengikuti Dia. Kalau Yesus bersabda kepadaku: “ikutlah Aku.” Apa jawabku dan apa yang kuperbuat?
 
Sekarang ini aku menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Pertanyaanya adalah apa yang mendasari aku mengikuti Kristus. Aku ikut Kristus karena ikut-ikutan? Trend? Atau ada nilai luhur yang kuperjuangkan? Nilai luhur apa yang aku perjuangkan?
 
Andai aku mengikuti Kristus tidak mendapatkan keuntungan yang sekarang ini dapat kunikmati, dan bahkan Ia menunjukkan kesulitan dan tantangan serta penderitaan sebagai konsekuensi mengikuti Dia, masihkah aku mau mengikuti Dia?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 Mei 2020

Renungan Harian
Jumat, 29 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 25: 13-21
Injil   : Yoh. 21: 15-19

BERKOBAR
 
St. Ignatius Loyola dalam latihan rohani mengajarkan agar dalam memilih apapun, hendaknya disadari mana yang merupakan sarana dan mana yang merupakan tujuan. Hal itu penting agar kita tidak terjebak lebih mementingkan sarana dari pada tujuan.
 
Secara khusus dalam tuntunan untuk memilih pilihan hidup, yang pertama dan utama disadari dan diyakini adalah tujuan manusia hidup (diciptakan). Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah agar jiwanya diselamatkan. Maka bentuk pilihan hidup apapun, apakah aku memilih hidup berkeluarga, hidup membujang atau menjadi imam, biarawan dan biarawati karena aku sadar dan yakin bahwa dengan pilihan itu aku akan lebih memuji, menghormati dan mengabdi Allah.
 
Saya yakin meski banyak orang tidak mengenal latihan rohani, sebagian besar orang mendasarkan pilihan hidupnya pada dorongan dan kehendak untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah. Banyak orang mengatakan bahwa pilihan hidupnya sebagai ibadah.
 
Semua itu sumbernya adalah pengalaman akan cinta Allah yang begitu dahsyat, sehingga memunculkan hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah.
 
Sebagaimana dalam Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes, Petrus mendapatkan perintah menggembalakan domba-dombaNya setelah ia menjawab: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Itu adalah jawaban Petrus yang ketiga atas tiga kali pertanyaan Yesus apakah ia mencintaiNya.
 
Dalam peziarahan, menghidupi pilihan seringkali tidak kita tunjukan bahwa hidup kita itu adalah pujian, penghormatan dan pengabdian pada Allah. Tidak usah bicara soal yang “lebih” (magis), yang minimal saja belum dapat terpenuhi. Pertanyaannya apa yang salah? Pilihannya yang salah? cara menghidupi yang salah? atau pertimbangan sejak awal yang salah?
 
Bagiku yang menjadi persoalan utama adalah hasratku yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah meredup, bahkan sering kali hilang. Hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah adalah dasar ketika aku membuat pilihan.
 
Pertanyaan besar bagiku, dan selalu terus aku perjuangan adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan hasrat yang berkobar-kobar untuk mencintai Allah.
 
Jangan-jangan aku seringkali dan atau telah mengganti Allah dengan ilah-ilah yang lain.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 28 Mei 2020

Renungan Harian
Kamis, 28 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 22: 30; 23: 6-11
Injil   : Yoh. 17: 20-26

M A G I S
 
Magis artinya semangat lebih. Semangat untuk berkarya dengan pencapaian yang lebih, baik dalam kualitas maupun kuantitas. Tentu saja semangat dalam hal kebaikan. Semangat magis lebih diutamakan pada sisi kualitas; artinya bukan soal banyaknya (berkaitan dengan jumlah) akan tetapi mendalamnya (berkaitan dengan mutu).
 
Apa yang mendasari semangat magis bukanlah soal menjadi unggul dibanding yang lain, atau ambisi-ambisi untuk memenangkan persaingan. Akan tetapi yang mendasari semangat magis adalah cinta pada Allah yang berkobar-kobar. Pengalaman cinta Allah yang begitu besar menumbuhkan dalam diri seseorang, cinta pada Allah yang berkobar-kobar. Sebagai dampaknya, maka seseorang memperjuangkan hidupnya agar menjadi pujian, penghormatan pada Allah.
 
Pengalaman St. Paulus, sejauh diwartakan dalam Kisah Rasul menunjukkan adanya dorongan dari Allah, untuk bersikap magis. Tuhan bersabda kepada Paulus: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau berani telah bersaksi tetang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”
 
Sebagaimana St. Paulus, seseorang dengan sikap magis, didorong untuk tidak berpuas diri dengan hasil yang telah dicapai, tetapi didorong untuk lebih lagi.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani mendorong diriku dengan segala dayaku untuk bertindak yang lebih? Atau merasa cukuplah, kalau aku sudah masuk dalam golongan orang-orang baik?
Pertanyaan lebih lanjut, apa yang mendasariku untuk bersikap magis? Kepuasan karena mampu mengalahkan orang lain? Popularitas?
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 27 Mei 2020

Renungan Harian
Rabu, 27 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 20: 28-38
Injil   : Yoh. 17: 11b-19

GEMBALA
 
Beberapa waktu lalu ada pernyataan dari seorang teman yang membuat saya tersentak dan merenung cukup lama. Teman saya mengatakan:

“…di masa pandemic corona ini banyak gereja berlomba-lomba mengadakan misa online. Bukankah itu berbiaya mahal? Bukankah lebih baik uangnya diberikan kepada orang miskin atau yang membutuhkan.”

“Paroki-paroki minta agar umat dimanapun untuk subscribe. Ini pelayanan atau mau tampil?” tambahnya.
 
Saya bertanya pada diri saya sendiri:
“saat aku memutuskan membuat video khotbah apa yang mendorong saya? Juga ketika kemudian ada umat yang menawari untuk misa live streaming, apa yang mendorong saya untuk menyetujui? Ikut trend? Ingin terkenal? Membunuh kebosanan? Atau ikut dalam “persaingan” ?
 
Pada saat Bapak Uskup Keuskupan Bandung memutuskan bahwa perayaan ekaristi tidak diikuti umat, saya memutuskan untuk setiap hari merayakan ekaristi pribadi di Gereja. Saya mulai menikmati dan nyaman dengan merayakan ekaristi pribadi. Setiap kali khotbah bisa saya isi dengan meditasi pribadi.
 
Setelah satu minggu berjalan umat mulai bertanya kenapa paroki, kita tidak mengadakan misa online, kami ingin ikut misa di paroki sendiri. Pertanyaan itu menyadarkan saya untuk menemukan bentuk-bentuk penggembalaan dan pelayanan bagi umat yang dipercayakan kepada kami dalam situasi seperti ini.
 
Bertolak dari hal itu dan didasari keinginan untuk menyapa umat maka saya membuat rekaman khotbah yang bisa saya bagikan kepada umat. Syukur pada Allah, kemudian ada umat yang menawari untuk mengusahakan misa online dengan memanfaatkan sarana yang sudah tersedia yaitu jaringan internet (wifi) dan camera CCTV yang biasanya disambungkan dengan monitor di luar gedung gereja ketika misa hari minggu. Pada saat itu tidak terbersit sedikitpun dalam diri saya untuk menjadi terkenal atau masuk dalam bursa “persaingan”.
 
Kiranya misa-misa online dan romo-romo membuat video-video adalah usaha kami para pelayan yang mendapat tugas penggembalaan untuk selalu menyapa dan hadir di tengah-tengah umat yang dipercayakan pada pelayanan kami.
 
Disamping itu selalu berjuang melawan godaan untuk mencari popularitas tetap harus diupayakan. Tidak penting berapa subscriber dan viewer nya yang lebih utama adalah melayani, menyapa dan tetap hadir. Examen conscientiae dan kritik dari teman-teman menjadi bagian penting agar tidak jatuh dalam godaan.
 
Sebagaimana St. Paulus, sejauh diwartakan dalam Kisah Rasul yang kita dengar dalam bacaan I hari ini mengatakan: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri.”
 
Tugas pelayanan dan penggembalaan tetap harus diupayakan dan harus semakin kreatif di masa seperti ini, agar umat tetap selalu merasakan kehadiran para pelayannya dan tetap merasakan sapaannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.