Apa Itu Latihan Rohani (LR)

Latihan Rohani (LR) merupakan sintesis pengalaman rohani transformatif St. Ignatius. LR membentuk kerohanian St. Ignatius dan selanjutnya menjadi kekayaan rohani untuk sesama serta merupakan cara reksa jiwa-jiwa. LR berisi kumpulan bahan dan petunjuk meditasi atau kontemplasi yang tersusun dalam sebuah dinamika sebagaimana termuat di dalamnya (built in). Sebagian dari dinamika LR tersebut tampak pada pengelompokan isi meditasi dalam empat minggu. Pengelompokan isi ini dilengkapi dengan pelbagai catatan, aturan tambahan serta patokan yang membantu proses menjalankanlatihan rohani.

Sumber : https://jesuits.id/latihan-rohani/

Latihan Rohani Pertama:“Pisang Goreng” untuk Banyak Orang

Saat mengambil buku ini, Anda yang mengetahui – entah sedikit
maupun banyak – tentang Latihan Rohani St. Ignasius, mungkin
bertanya: Apa itu Latihan Rohani Pertama? Mengapa disebut
sebagai Latihan Rohani Pertama? Apa bedanya dengan Latihan
Rohani yang selama ini saya kenal?
Belum lama ini saya mendampingi anggota Magis – kelompok
orang muda yang mendalami Spiritualitas Ignasian – melaksanakan
Latihan Rohani Pertama. Guna memperdalam pengalaman yang
telah mereka peroleh sekaligus untuk memperkenalkan Latihan
Rohani Pertama kepada para Novis Serikat Yesus, Romo John
Nugroho (Pendamping Magis) dan Romo Setyodarmono (Magister
Novis) merancang refleksi akhir Latihan Rohani Pertama di
Novisiat Girisonta. Dalam refleksi akhir ini anggota Magis berbagi
pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani Pertama sementara
para Novis berbagi pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani
yang dilaksanakan sebagai retret selama 30 hari.
Dalam kesempatan sharing tersebut, Romo Nano – panggilan
akrab Romo Setyodarmono – mengibaratkan Latihan Rohani
Pertama sebagai “pisang goreng” sementara Latihan Rohani 30 hari
sebagai “nasi goreng”. Dengan ekspresi yang gokil dia mengatakan,
“Hai para Magiser, kalian jangan puas telah menjalani Latihan
Rohani Pertama. Latihan Rohani Pertama itu, hanyalah “pisang
goreng”, snack atau menu pencuci mulut saja. Kalian mesti punya
impian suatu saat nanti dapat menikmati juga menu utamanya:
Latihan Rohani 30 hari.” Sebaliknya, kepada para Novis Romo
Magister berseru, “Hai kalian para Novis, jangan puas dan bangga
telah menjalani Latihan Rohani 30 hari. Kalian boleh bersyukur
telah memperoleh banyak anugerah dalam Latihan Rohani. Namun
ingatlah, banyak orang tidak mampu atau tidak punya kesempatan
mencicipi “nasi goreng” Latihan Rohani seperti kalian. Karena

itu, penting juga bagi kalian mengetahui dan mempelajari “pisang
goreng” Latihan Rohani Pertama ini. Dengan demikian, kalian
punya keterampilan untuk membagikan pengalaman yang telah
kaliah peroleh dalam Latihan Rohani 30 hari.”
Saya selalu tersenyum geli kalau ingat penjelasan Romo Nano
tersebut. Semoga tidak ada pengagum dan ahli Spritualitas
Ignasian yang marah atau tersinggung karena Latihan Rohani
dibaratkan sebagai “pisang goreng” dan “nasi goreng”. Namanya
saja pengibaratan, di dalamnya selalu ada penyederhanaan. Namun
justru dalam kesederhanaan itulah kita dapat menemukan inti
makna atau paling tidak semangat yang ingin dikomunikasikan.
Dibandingkan dengan Latihan Rohani 30 hari, Latihan Rohani
Pertama memang lebih ringan dan mudah. Ia sekadar snack ringan
saja. Namun karena mudah dan ringannya inilah, Latihan Rohani
Pertama lebih terjangkau oleh banyak orang. Dan inilah keunggulan
Latihan Rohani Pertama. Ia dapat menjadi pilihan bagi mereka yang
ingin memperdalam relasi dengan Allah lewat Latihan Rohani,
namun belum memiliki kesempatan atau kemampuan yang cukup
untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari. Setelah mencicipi Latihan
Rohani Pertama ini, semoga nantinya ada kesempatan bagi mereka
(atau muncul dorongan kuat dalam diri mereka sehingga sanggup
menciptakan kesempatan) untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari.
Pada sisi lain, bagi mereka yang sudah menjalani Latihan Rohani
30 hari – para Yesuit, imam praja maupun imam serta suster dan
bruder dari tarekat tertentu, serta beberapa awam terpilih – dan
bersyukur atas anugerah Latihan Rohani, namun masih bingung
bagaimana cara mengantar orang untuk mengalami anugerah yang
sama, Latihan Rohani Pertama merupakan sarana yang mudah dan
efektif. Bahan, langkah dan struktur doa Latihan Rohani Pertama
sangat mudah dipahami dan diikuti oleh mereka yang sudah
menjalankan Latihan Rohani 30 hari sehingga pasti tidak ada
kesulitan juga bagi mereka untuk menjelaskannya kepada peserta
yang akan didampingi.

Latihan Rohani Anotasi 18
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan sekilas perbedaan
Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani 30 hari. Lalu apa
beda Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani Anotasi 19?
Dalam buku Latihan Rohani St. Ignasius menjelaskan bahwa Latihan
Rohani dapat diberikan dalam tiga bentuk. Hal ini dijelaskan dalam
“Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20, ke-19 dan ke-18.”
Dalam “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20” disampaikan
bahwa Latihan Rohani Penuh – penuh artinya seluruh latihan yang
terdapat dalam buku Latihan Rohani dapat diberikan selama 30
hari di mana orang menyepi atau mudur dari aktivitas sehari-hari.
Kemudian, “Catatan Pendahuluan ke-19” menyebutkan, “… orang
yang terpelajar dan berbakat, namun terhalang oleh kepentingan
umum atau pekerjaan-pekerjaan yang penting,” dapat menjalankan
Latihan Rohani Penuh selama 30 minggu sambil tetap menjalankan
aktivitas sehari-hari. Inilah yang selama ini dikenal sebagai Latihan
Rohani Anotasi 19. Bahan Latihan Rohani Anotasi 19 sama dengan
Latihan Rohani 30 Hari, namun pelaksanaannya lebih panjang dan
peserta tidak perlu mundur dari aktivitas sehari-hari. Baik Latihan
Rohani dalam bentuk retret 30 hari maupun Latihan Rohani
Anotasi 19 inilah yang dalam uraian sebelumnya oleh Romo Nano
diistilahkan sebagai “nasi goreng”.
Sementara itu, “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-18”
menyebutkan Latihan Rohani harus disesuaikan dengan keadaan
orang yang hendak melakukannya. Mereka yang mempunyai
keterbatasan tertentu entah “umur, pendidikan, dan bakatkemampuan” maupun waktu dan keterbatan lain dapat diberikan
sebagian Latihan Rohani asal mereka mempunyai keinginan atau
dambaan untuk mencapai “sampai ke tingkat tertentu kedamaian
jiwa.” Latihan Rohani Pertama tidak lain merupakan pelaksanaan
Anotasi ke-18 sehingga dapat disebut juga sebagai Latihan Rohani
Anotasi 18. Latihan Rohani Pertama memberikan sebagian bahan
dari buku Latihan Rohani sesuai dengan kondisi orang yang tidak

atau belum mampu menjalankan Latihan Rohani Penuh. Seperti
Latihan Rohani Anotasi 19, Latihan Rohani Pertama dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari, namun durasinya lebih pendek, yaitu
cukup sebulan saja.

Latihan Rohani Pertama

Sampai di sini perlu ditegaskan bahwa Latihan Rohani Pertama
bukanlah hasil tulisan St. Ignasius sendiri, melainkan pengolahan
Michael Hansen, SJ – seorang Yesuit dari Australia – atas Anotasi
ke-18 Latihan Rohani St Ignasius. Lewat penelitian atas tulisan serta
surat-surat St Ignasius dan kesaksian orang-orang tentang apa yang
dilakukan St Ignasius, Hansen menyusun Latihan Rohani Pertama.
Hansen bertolak dengan merekonstruksi “percakapan rohani” yang
dilakukan oleh Ignasius sejak ia mengalami betapa Allah telah
mencintainya dan mendidiknya seperti seorang guru mendidik
muridnya. Percakapan rohani ini dimulai ketika Ignasius berada
di Loyola dan Manresa dan terus dilakukan setelah ia kembali
dari peziarahan di Yerusalem dan selama ia studi di Barcelona,
Alcala dan Salamanca. Bahan percakapan dan cara bercakap-cakap
Ignasius dengan orang yang bimbing inilah yang menjadi cikal
bakal buku Latihan Rohani, yakni buku panduan melaksanakan
dan memberikan retret tigapuluh hari. Inipula yang menjadi dasar
bagi Hansen menyusun bahan doa dan langkah percakapan dalam
Latihan Rohani Pertama.
Mengapa Latihan Rohani Anotasi ke-18 ini disebut sebagai
Latihan Rohani Pertama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
saya menggunakan penjelasan dari Michael Hansensendiri. (bdk.
The First Spiritual Exercise (Notre Dame: Ave Maria Press, 2013)),
hlm. 15) Latihan ini disebut sebagai Latihan Rohani Pertama
karena, pertama, inilah perziarahan rohani pertama. Inilah latihan
rohani pertama yang dipelajari dan dilaksanakan oleh Ignasius, Si
Peziarah, dalam mencari kehendak Tuhan.

Inilah pula latihan rohani pertama yang diberikan oleh Ignasius
kepada orang lain. Dan mungkin inilah pula latihan rohani pertama
yang akan kita berikan kepada orang yang ingin maju dalam
kehidupan rohani saat ini.
Kedua, latihan ini pertama dari sudut isi. Dalam Latihan Rohani
Pertama banyak diberikan latihan “pertama”: Prinsip pertama
tentang kebebasan Kristiani, doa-doa Kristiani pertama, keutamankeutaman pertama, gagasan yang perlu dibangun pertama kali
ketika kita bangun pagi, penciptaan pertama, dosa pertama, metode
doa serta buah-buah roh pertama, langkah pertama pembedaan
roh, dst.
Ketiga, latihan-latihan yang diberikan berada pada urutan
pertama dan menjadi bagian dinamika pertama dalam Latihan
Rohani. Salah satu modul Latihan Rohani Pertama berisi seluruh
bahan dalam Minggu Pertama Latihan Rohani Penuh. Bahan ini
dilakukan sebelum orang melanjutkan latihan yang lain.
Keempat, latihan-latihan ini pertama digunakan. Mereka adalah
bentuk pertama Latihan Rohani yang dapat diberikan. Tidak
seperti Latihan Rohani Penuh, mereka dapat langsung diberikan
kepada siapa saja. Mereka merupakan bentuk lengkap dari Latihan
Rohani pada dirinya sendiri. Dalam spiritualitas Ignasian, latihan
ini tidak hanya merupakan cara awal yang paling tepat untuk mulai,
melainkan juga satu-satunya cara untuk mulai.

Empat Retret Latihan Rohani Pertama

Latihan Rohani Penuh, baik yang dilaksanakan dengan menyepi
maupun dalam kehidupan sehari-hari, dilaksanakan dalam bentuk
satu retret. Sementara itu Latihan Rohani Pertama lebih fleksibel;
mereka dibuat dalam bentuk empat retret yang dapat dipilih
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing orang.
Setiap retret menjawab dambaan terdalam akan kedamaian sejati
dan dambaan akan pengalaman cinta, pelayanan, pengampunan,
penyembuhan, kebebasan dan persahabatan dengan yang Ilahi.
Inilah dambaan terdalam yang ada dalam lubuk hati semua orang.
Empat Retret tersebuat adalah:

  1. Damai Sejati dalam Cinta Ilahi
    (Inner Peace in Divine Love)
  2. Damai Sejati dalam Kegelapan dan Terang
    (Inner Peace in Darkness and Light)
  3. Damai Sejati dalam Persahabatan dengan Yesus
    (Inner Peace in Friendship with Jesus)
  4. Damai Sejati dalam Pelayanan kepada Allah
    (Inner Peace in the Service of God).
    Buku yang ada di tangan Anda ini baru menyajikan terjemahan
    untuk retret “Damai Sejati dalam Cinta Ilahi.” Semoga dalam waktu
    yang tidak terlalu lama, terjemahan tiga retret yang lain dapat
    segera tersedia. Bagian Pertama dari buku ini berisi Penjelasan
    Umum tentang Latihan Rohani Pertama. Bagian Kedua merupakan
    kumpulan Panduan Praktis untuk melaksanakan Latihan Rohani
    Pertama. Panduan Praktis ini menjelaskan berbagai langkah
    yang akan dilakukan, baik pribadi maupun kelompok, selama
    menjalankan Latihan Rohani Pertama. Di dalamnya dijelaskan
    struktur serta dinamika doa dan percakapan rohani, cara menuliskan
    pengalaman doa dan percakapan, serta pedomaan pembedaan roh.
    Bagian Ketiga berisi Bahan Doa Harian dari retret “Damai Sejati
    dalam Cinta Ilahi.”

Perlu ditegaskan di sini bahwa seperti buku Latihan Rohani
yang ditulis oleh St. Ignasius, panduan Latihan Rohani Pertama
ini bukanlah buku atau renungan untuk dibaca. Kita perlu
menggunakan buku ini seperti cara kita menggunakan buku
panduan berenang atau buku resep masakan. Kita tidak akan dapat
berenang atau merasakan masakan yang lezat dengan sekadar
membaca buku panduan. Supaya dapat berenang, kita harus
menceburkan diri ke kolam renang; untuk menikmati masakan
dan kegembiraan memasak, kita harus pergi ke dapur, memasak
dan mencicipi hasilnya. Demikian pula Latihan Rohani Pertama
akan membuahkan pengalaman akan kasih Allah kalau dilakukan:
kita berdoa, membuat catatan tentang doa, melakukan pembedaan
rohdan berbagi pengalaman dalam doa lewat percakapan rohani.
Penerbitan buku Latihan Rohani Pertama ini dilaksanakan
dalam kerjasama dengan Magis. Magis pula yang akan menjadi
ujung tombak untuk memperkenalkan Latihan Rohani Pertama
di Indonesia. Jika Anda atau Komunitas Anda (kelompok orang
muda, paroki, lingkungan, kelompok kategorial maupun kelompok
lain) berencana untuk melakukan Latihan Rohani Pertama
dan memerlukan penjelasan atau bimbingan silakan kontak ke
lrpertama@gmail.com.
Mengakhiri Pengantar ini baik kiranya kita mendengarkan apa
pandangan St. Ignasius sendiri tentang Latihan Rohani. Sembilan
tahun setelah diperiksa dan bebas dari penjara di Alcalá, Ignatius
menulis kepada seorang teman:

Biarkan aku mengulang sekali lagi, dua kali dan bahkan berulangkali sepanjang aku mampu: Aku memohon kepadamu – permohonan
yang lahir dari keinginan untuk melayani Allah Tuhan kita – agar
engkau melaksanakan apa yang telah kukatakan kepadamu sejak dulu
hingga sekarang.
Semoga Allah yang Mahamulia tidak akan bertanya kepadaku
pada suatu saat nanti mengapa aku tidak meminta dan mendesakmu
dengan sekuat tenaga.
Latihan Rohani adalah hal terbaik dari semua yang dapat
kupikirkan, kualami dan kupahami dalam hidup ini. Latihan Rohani
dapat membantu seseorang untuk merealisasikan diri terbaiknya,
sekaligus memampukan orang untuk memberikan manfaat,
membantu dan berguna bagi banyak orang. Bahkan, jika engkau tidak
merasa memerlukan bantuan untuk yang pertama [merealisasikan
diri terbaikmu], engkau akan melihat bahwa manfaat Latihan Rohani
untuk hal kedua [membantumu menolong orang lain] lebih besar dari
yang engkau bayangkan.

Ignasius kepada M. Minoa, 16 November 1536

Dengan kata lain, bahkan ketika engkau tidak merasa
membutuhkan Latihan Rohani bagi dirimu sendiri, paling tidak
engkau membutuhkannya supaya engkau dapat menolong orang
lain dengan lebih baik. Bagi Ignasius Latihan Rohani tidak lain
adalah sarana terbaik untuk menolong orang lain.

Yogyakarta, 16 April 2016
Antonius Sumarwan, SJ

(Power Point) Latihan Rohani Pemula oleh Rm Antonius Sumarwan, SJ

Latihan Rohani Anotasi 18 dan 19

Beberapa tahun yang lalu, saya retret di Girisonta. Salah satu bahan yang saya pakai adalah “Memilih Kristus di Dunia” karangan Jospeh A. Tetlow S.J; sebuah buku yang indah, baik format mau pun isinya, tebal (dan pasti mahal), diterjemahkan oleh Willie Koen, dalam rangka kerjasama dengan Universitas Sanata Dharma, sebagai kenangan Provinsi Serikat Yesus Indonesia atas 75 tahun berdirinya KOLSANI.

Andaikata tidak saya bawa buku ini untuk retret, barangkali ia akan tersimpan rapi tak tersentuh untuk waktu yang lama. Sebab sebagaimana dimaksud di pengarang, buku ini adalah buku pegangan (manual) untuk memberi bimbingan Latihan Rohani Ignasian menurut anotasi 18 dan 19 kepada para awam yang membutuhkan. Dan saya merasa kurang punya peluang untuk pekerjaan ini.

Sebenarnya ketertarikan saya pada buku ini sudah lama, sejak buku itu diperkenalkan oleh Rm. Darminta S.J. dalam retret kami selama tersiat, tahun 1992. Lalu kami rame-rame memfotokopi dengan semangat dan harapan waktu itu, bahwa suatu hari kami pun akan diminta dan mendapat kesempatan untuk memberi bimbingan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari bagi umat biasa atau tokoh-tokoh  katolik yang sibuk dan tak mampu meluangkan waktu panjang untuk retret. Tetapi waktu berlalu sesudah tersiat sampai saat saya menghadiri Lokakarya Latihan Rohani di Cimacan  (Villa Renata) pada Februari 1997, dimana pater Tetlow sendiri hadir dan memimpin. Suatu kesempatan yang bagi saya memberi pengetahuan baru tentang bagaimana memberi Latihan Rohani yang sebaiknya. Buku dari pater Tetlow itu tiba-tiba menjadi aktual lagi bagi saya dan lebih terasa manfaat dan kemudahan pemakaiannya, dengan lembar-lembar pembimbing di sebelah kiri serta lembar-lembar bagi pembuat retret di sebelah kanan, yang setiap kali bisa difotokopi dan diberikan kepada peserta retret.

Saya tidak tahu dan tidak ingat, sejauh mana buku  itu sudah dibedah atau diresensi atau dibicarakan sesudah diterbitkan. Pada waktu kita merayakan 450 tahun Serikat dan 500 tahun hidup Ignatius,  Rm. Tom juga telah membuat buku tuntunan retret anotasi 18 dan 19 untuk komunitas-komunitas kita. Waktu itu memang ada gerakan untuk mempromosikan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari. Tentu saja nasib karangan Rm. Tom dan juga buku Tetlow yang baru ini dapat kita pertimbangkan. Sebagai manual, tentu saja bisa dipertanyakan sejauh mana sudah dipergunakan dan dimanfaatkan secara efektif.

Dalam ngomong-omong dengan seorang rekan yesuit, saya berpikir memang banyak orang yang membutuhkan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi kalau dilayani, sejauh mana kita bersedia (atau mamapu) meluangkan diri? Kalau dituruti, buku Tetlow ini bisa menuntut cukup banyak waktu, bagi orang yang sudah sibuk (atau mapan). Membimbing satu orang saja, misalnya, selama tiga puluh lima kali pertemuan dengan satu kali pertemuan per minggu untuk konperensi selama kurang lebih satu jam dengan peserta retret, membutuhkan ketekunan tidak saja bagi peserta Latihan Rohani, tetapi juga bagi pemberi Latihan Rohani. Orang harus menyediakan diri sungguh-sungguh dan mengatur waktunya, agar tidak membuat perjalanan lebih dari satu minggu, yang bisa membuat satu pertemuan batal atau tertunda. Itu pun baru satu orang. Bagaimana kalau harus membimbing lebih dari satu orang? Membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Jadi dalam waktu satu tahun, mungkin kita hanya bisa menolong satu orang saja.

Hal inilah yang memerlukan pemikiran dalam menindak lanjuti penerbitan buku Tetlow itu. Tidak perlukah dibicarakan siapa calon-calon yang perlu diberi retret anotasi 18 dan 19 itu? Bagaimana menyeleksinya? Para pemuka jemaat? Para politikus? Cendekiawan katolik? (yang sudah lama mengeluh kurang mendapat pelayanan kategorial?). Tidak perlukah dipromosikan secara agak khusus praksis Latihan Rohani anotasi 18 dan 19 ini untuk mereka? Sudah siapkah kita menyediakan pelayanan itu? Perlukah dibentuk panitia promosi yang melayani mereka yang membutuhkan (semacam medan kerasulan baru?) ataukah cukup dilayani secara sambilan oleh semua yesuit yang kebetulan diminta untuk membimbing? Tidak bisakah pendampingan Latihan Rohani jenis ini dilakukan secara kelompok, dan tidak hanya pribadi, untuk mengefesiensikan tenaga yang ada? Inilah sejumlah pemikiran atau lebih tepat pertanyaan yang mungkin perlu dibicarakan, kalau mau menggunakan dan memanfaatkan buku Tetlow ini dengan sebaik mungkin. Dari sini mungkin akan berkembang studi Spiritualitas Ignatian di Indonesia. (A. Sudiarja)

Sumber :https://psiusd.wordpress.com/2011/07/24/latihan-rohani-anotasi-18-dan-19/

Isi LATIHAN ROHANI

Berikut dipaparkan secara singkat isi dari Latihan Rohani yang terdiri dari Minggu Pertama, Panggilan Raja, Minggu Kedua, Minggu Ketiga dan Keempat, Kontemplasi Mendapat Cinta, Anotasi, Aturan Tambahan dan Pedoman atau Patokan-patokan.

Minggu Pertama

Berisi meditasi-meditasi tentang dosa [45-72], pemeriksaan hati umum [24-43] dan khusus, serta pengakuan dosa umum [44]. Minggu Pertama LR membantu retretan untuk mengalami sejarah nyata hidupnya bersama dengan pengalaman akan Allah yang Mahakasih. Dalam lingkup dinamika LR sebulan, Minggu Pertama merupakan pengalaman pemurnian jiwa untuk berkembang di hadapan Allah. Secara lebih konkret, Minggu Pertama menawarkan bahan tentang manusia pendosa dan perjumpaan dengan Yesus Kristus yang tersalib, Sang Penyelamat [53]. Minggu Pertama menyediakan lima bahan doa (ejercicio: latihan). Yang pertama [45-54] adalah bahan tentang dunia dosa. Ditampilkan dosa dalam kenyataan obyektif radikal. Ditunjukkan bahwa realitas dosa yang merupakan kenyataan sejarah dan melampaui ruang dan waktu itu eksistensial dan sungguhsungguh. Latihan ini mengundang retretan untuk menangkap kenyataan jahat dan menyadari kenyataan tersebut. Yang dicerminkan oleh realitas jahat ini adalah ketidaktaatan dan situasi di dalamnya seorang pendosa berada di luar kasih Allah. Latihan kedua adalah [55-61] meditasi dengan bahan tentang proses dosa. Latihan ini membantu retretan untuk memandangi realitas obyektif dosa melalui tempat dan waktu, menyadari kenyataan jahat, buruk serta kenyataan bahwa “saya ini pendosa”.  Latihan ketiga dan keempat berupa pengulangan [62-63] dan ringkasan [64] atas meditasi sebelumnya. Menurut Ignatius pengulangan merupakan kesempatan untuk mencipta kembali suasana tenang yang membantu proses membatinkan pengalaman rohani serta mempertajam kepekaan pengenalan akan gerakan-gerakan Roh. Latihan kelima adalah meditasi tentang neraka [65-71]. Dalam latihan ini neraka dipahami sebagai cara untuk merasakan konsekwensi dan jahatnya dosa. Retretan menghadirkan penghukuman sebagai kenyataan eksistensial akibat dari sikap serta pilihan memberontak dan akibat menolak hidup di dalam lingkungan kasih pemeliharaan Allah. Jadi bahan meditasi tentang neraka bukanlah sekedar sebuah sajian kemungkinan abstrak.   Dalam Minggu Pertama ini kita menemukan salib yang ditempatkan sebagai satu-satunya jembatan antara Allah dan pendosa. Inilah pengalaman rohani yang diharapkan bisa terjadi dalam sebuah dialog mendalam Minggu Pertama: penebusan, kasih Allah yang berlimpah. Selanjutnya retretan [53] mulai meditasi dengan wawancara-wawancara dengan pribadi-pribadi ilahi atau para kudus. Wawancara ini menandai permohonan penting: rahmat khusus penebusan. 

Panggilan Raja

“Panggilan Raja” membuka bahan-bahan meditasi Minggu Kedua LR. Meditasi ini memainkan perananan sebagai asas dan dasar semua kontemplasi hidup Kristus Tuhan. Dalam prolog meditasi “Panggilan Raja” Ignatius menguraikan ideal pemimpin duniawi. Prolog ini adalah juga merupakan prolog seluruh hidup Yesus yang akan dikontemplasikan oleh retretan. Permohonan yang dimunculkan di dalam meditasi ini bukan saja bagaimana seorang retretan merasa dipanggil dan tidak tuli terhadap panggilan itu [91] tetapi juga menimbang bagaimana menanggapinya.   Di sini menarik memadankan dialog dalam Minggu Pertama dengan Minggu Kedua. Dalam Minggu Pertama retretan berdialog di hadapan salib [53] dan dalam Minggu Kedua dialog dilaksanakan di hadapan Sang Raja Abadi [9698]. Jawaban positif terhadap Panggilan Raja Abadi terasa sebagai perpanjangan atas pertanyaan permenungan di dalam dialog di hadapan salib “Apa yang mesti dibuat bagi Kristus?” [53]. Kita bisa memahami bahwa “Panggilan Raja” menjembatani Minggu Pertama dan Minggu Kedua LR. Jalan untuk mengikuti Sang Raja Abadi telah terbuka dan retretan berkesungguhan memenuhi apa yang dijanjikannya di dalam doa persembahan [98]. 

Minggu Kedua

 Minggu Kedua LR menghadirkan kepada retretan jalan terang. Artinya, dalam Minggu ini retretan memohon keutamaan-keutamaan untuk meneladan Kristus Tuhan. Retretan mengkontemplasikan misteri-misteri Kristus mulai dari penjelmaan hingga naik ke Yerusalem. Dua hari berturut-turut setelah meditasi “Panggilan Raja” disajikan bahan kontemplasi penjelmaan, kelahiran dan hidup Kristus [101-134]. Bisa dikatakan bahwa misteri-misteri hidup Kristus merupakan bahan doa khas Minggu Kedua. Pengenalan mendalam akan Allah menjadi permohonan utama dan mengarahkan retretan dalam kontemplasikontemplasinya. Satu-sastunya sasaran dari seluruh kontemplasi tersebut adalah Kristus sendiri. Retretan ingin mengenal Yesus secara mendalam supaya lebih mencintai dan mengikuti-Nya [104]. Dalam Minggu Kedua kita menemui tiga meditasi yang tertata seperti tiga bagian dalam satu paket. Ketiga meditasi tersebut adalah “Dua Panji” [136-147], “Tiga Golongan Orang” [149-156] dan “Tiga Kerendahan Hati” [165-167]. Ketiga meditasi ini menurut Jesús Corella merupakan sarana untuk mengadakan pemilihan. “Dua Panji” lebih diarahkan ke sisi pemahaman diri retretan, “Tiga Golongan Orang” terarah ke sisi kehendak dan “Tiga Kerendahan Hati” lebih terarah ke sisi afektif”.  Elías Royón menafsirkan bagian ini dengan menempatkan “Tiga Kerendahan Hati” sebagai kunci pemahaman atas tiga meditasi dalam rangka membuat pemilihan tersebut. Diterangkan tiga hal ini: 1) tujuan dan isi konsiderasi 2) Tiga Kerendahan Hati dalam dinamika LR; 3) dinamika “magis”. Jika isi yang dimeditasikan di dalam “Tiga Kerendahan Hati” adalah kasih Allah dalam ketaatan (kerendahan hati pertama), dalam kesediaan melayani (kerendahan hati kedua), sebenarnya meditasi ini telah dilaksanakan di dalam “Asas dan Dasar” serta “Tiga Golongan Orang”. Dalam arti ini merenungkan “Tiga Kerendahan Hati” merupakan pengulangan dan dimaksudkan agar proses rohani berjalan semakin lebih efektif. Dapatlah kita katakan juga bahwa dalam “Tiga Kerendahan Hati”, identifikasi dengan Kristus diungkapkan dalam suatu preferensi yang jelas. Kemiskinan, perendahan dan salib dipeluk bersama Kristus dalam kebijaksanaan yang dengan cara begitu ditransformasikan sebagai kekuatan rohani. Di sini (dalam kerendahan hati ketiga) kita temukan suatu pemberian bobot nilai bahwa indiferensi saja tidak cukup. Retretan tidak dapat tinggal indeferen tetapi mesti secara sadar menginginkan dan memilih. Inilah preferensi rohani. Dan dinamika dalam meditasi ini adalah memilih yang “lebih”. Semangat memilih yang “lebih” ini   diwujud-konkretkan dalam mengikuti, meneladan dan melayani dengan bersemangat “lebih”.   Dari sudut pandang “Dua Panji”, Karl Rahner mengajak kita untuk memandang hidup ini sebagai rangkaian keputusan. Dari sini dia memahami “Dua Panji” sebagai program dari Raja Abadi yang ditandai oleh hidup miskin dan rendah hati. Dari sisi pengalaman rohani yang utuh kita memandang “Dua Panji” sebagai inti dasar untuk menyiapkan pemilihan melalui pengalaman pembedaan roh; meditasi “Tiga Golongan Orang” dimaksudkan untuk membangun kepekaan batin dan ajaran sejati dikenal dari “Dua Panji”; meditasi“Tiga Kerendahan Hati” mengantar ke pengalaman penghendakan  untuk sampai ke puncak kerohanian dengan hati bersih dan intensi murni; puncak tersebut adalah kerendahan hati ketiga yang merupakan cara Yesus menjadi miskin dan rendah hati. Dan dalam konteks meditasi yang utuh ungkapan abstrak “kerendahan hati” dan “kemiskinan” dikonkretkan di dalam sebuah tatanan untuk membuat pemilihan.  Pemilihan dan pembaharuan martabat hidup dipahami dalam rangkaian utuh meditasi-meditasi ini sebagai tujuan LR. Karena itu di dalam membuat pemilihan dihadirkan kepada retretan nomor-nomor latihan untuk mengingat semua pengalaman yang terjadi di dalam meditasi-meditasi sebelumnya; misalnya, dalam preambul untuk melaksanakan pemilihan diacu pengalaman “Asas dan Dasar” [23], “Panggilan Raja” [97], “Tiga Golongan Orang” [154] dan “Tiga Kerendahan Hati” [164]. Dan untuk melaksanakan pilihan yang baik dan sehat [179-187] semua meditasi membimbing retretan untuk bertahan setia dalam pengalaman akan macam-macam gerak roh. Dalam hal ini hidup Kristus, sebagai bahan meditasi Minggu Kedua, memainkan peran sebagai acuan pokok dan berfungsi sebagai orientasi untuk melaksanakan pemilihan; atau jika tidak melakukan pemilihan martabat hidup, sebagai orientasi untuk memperbaiki dan memperbaruinya [189]. “Asas dan Dasar” di sini tampil secara sedikit baru: “… dalam semua dan untuk semua, pujian dan kemuliaan Allah Tuhan kita yang lebih besar” [189].

Minggu Ketiga dan Keempat

Kontemplasi-kontemplasi Minggu ketiga dan keempat ditandai oleh cirinya yang khas, yaitu jalan rohani kesatuan atau kesempurnaan. LR diarahkan untuk membangun kesatuan mendalam dan sehari-hari dengan Allah lewat misteri paskah. Selama Minggu Ketiga, retretan disatukan dengan Kristus dalam penderitaan dan selama Minggu Keempat disatukan dengan Kristus dalam suka cita Dalam kaitannya dengan Minggu Kedua dapatlah kita katakan bahwa apa yang mesti dilakukan oleh retretan di dalam Minggu Ketiga sudah dirumuskan di dalam “Kerendahan Hati Ketiga” [167]. Di sini retretan menghidupi dan menderita “secara nyata” misteri sengsara yang sama, mengalami kontemplasi dan identifikasi sepenuhnya dengan Yesus. Kita temukan juga di sini Ekaristi sebagai meditasi pertama, karena dipandang sebagai inti dari misteri paskah yang merangkum semua misteri Kristus, secara khusus misteri-misteri Kristus Minggu Ketiga dan Minggu Keempat.

Dalam realitas penderitaan dunia dan derita diri retretan sendiri [203], retretan masuk ke dalam realitas personal dan sosial untuk sampai pada pengalaman akan solidaritas dengan Kristus dalam proses identifikasi dengan diri-Nya dan dalam proses transformasi realitas tersebut. Proses identifikasi dan transformasi tersebut merupakan menjadi proses penyelamatan. Bila kita memahami derita Minggu Pertama sebagai derita dosa dan konsekuensi logis pendosa, derita Minggu Ketiga merupakan derita oleh karena solider dengan Kristus dalam perutusannya sebagai Penebus.  Singkatnya, derita pertama adalah derita dari retretan pendosa, sedangkan derita kedua adalah derita Kristus Penebus.  Dari sudut pandang struktur LR, di sini kita berhadapan dengan suatu gerak rohani dari karya penebusan, yaitu dari “tindakan aktif mencipta” Minggu Kedua ke “menderita pasif” Minggu Ketiga. Terungkap juga di sini pengalaman akan ke-Mahamampuan ilahi di dalam ketidak-berdayaan manusiawi.  Permohonan dan sasaran pengalaman rohani Minggu Keempat adalah Kristus, Dia yang dibangkitkan. Ini berarti juga kemanusiaan yang mengungkapkan keilahian. Dalam pikiran Ignatius, penciptaan baru dalam Roh dicerminkan sekarang dalam diri manusia melalui rahmat penghiburan mendalam: dalam suka cita yang datang oleh kemenangan Dia yang terbangkitkan dan dalam kasih yang tulus.  Kontemplasi-kontemplasi Minggu Keempat diarahkan ke pengalamanpengalaman rohani positif akan kehadiran Kristus yang bangkit. Relasi Tuhan dengan ciptaan-Nya dibangun dalam tatanan persahabatan. Kristus dalam Minggu Keempat menghibur dengan menambah harapan. Pada Minggu Keempat ini dari sisi eklesial, Ignatius menghadirkan Yesus yang membangun komunitas. Inilah corak eklesial Minggu Keempat LR. Dan penampakan kepada Bunda Maria yang ditempatkan sebagai renungan pertama berperan seperti “Asas dan Dasar” dari kontemplasi-kontemplasi lain. Corak dan isi kontemplasi-kontemplasi lain adalah merindukan Kristus yang bangkit.  Di sini kita memahami bahwa letak korelasi antara Minggu Ketiga dan Minggu Keempat ada dalam identifikasi dan keikutsertaan afektif dengan Kristus. 

Kontemplasi untuk Mendapat Cinta

Sebagian dari kita cenderung memandang kontemplasi ini sebagai “Minggu Kelima” dalam LR. Kita bisa memahami pandangan itu karena dalam kontemplasi tersebut pokok pertama merupakan rangkuman autentik LR. Ketigapokok lainnya merupakan pengantar untuk masuk ke dalam hidup mistik seharihari. Hal lain yang bisa ditegaskan berkenaan dengan itu adalah bahwa LR tidak berakhir di dalam “Kontemplasi untuk Mendapat Cinta”, melainkan diteruskan dan diperdalam di dalamnya. “Kontemplasi untuk Mendapat Cinta” adalah “latihan” tetap sebagai cara hidup, cara berada, cara berdoa, dll. Sikap dan dasar rohani penggunaan macam-macam hal [231] mengundang retretan untuk kembali ke “Asas dan Dasar”. Pendeknya “Kontemplasi Mendapat Cinta” adalah transisi nyata dan rohani di akhir proses LR sebulan menuju hidup keseharian.     Allah bekerja dan aktif.  Retretan mesti menyadari Allah yang demikian ini dan ambil bagian di dalamnya secara nyata. Unsur-unsur dalam “Kontemplasi Mendapat Cinta” dan “Asas dan Dasar” sama (manusia-ciptaan-Allah).  Kata “memuji, menghormati dan melayani” [23] dalam “Asas dan Dasar” dirangkum di dalam “Kontemplasi mendapat cinta” dengan satu kata sentral: “amar”, yang juga merangkum seluruh LR. 

Anotasi, Aturan Tambahan dan Pedoman atau Patokan-patokan 

 Anotasi mendahului semua bahan latihan rohani dan berfungsi sebagai “Pendahuluan” [1-20] yang berbicara mengenai pembimbing retret dan retretan. Sementara Aturan Tambahan [73-90] merupakan catatan yang perlu diperhatikan untuk bisa melaksanakan latihan-latihan rohani dengan optimal. Pedoman atau Patokan-patokan tersebut meliputi “Menata diri dalam hal makan” [210-217], “Tiga cara berdoa” [238-260], “Patokan pembedaan roh” [313-336], “Peraturan membagi derma” [337-344], “Catatan mengenai skrupel” [345-351], “Patokan tentang kesepahaman dengan Gereja” [352-370].

Anotasi Anotasi merupakan komentar atau penjelasan atas sebagian isi LR terutama atas hal-hal yang bersangkutan dengan pelaksanaan LR baik mengenai diri retretan maupun pembimbing. Sangat mungkin bahwa anotasi ini dikembangkan bersama dengan pengalaman pelaksanaan LR. Tepatnya, anotasi menjelaskan hakekat dan tujuan LR [1], tahap umum [2-3], pembagian dan lama latihan [4], disposisi dasar retretan [5], bagaimana pembimbing memperlakukan retretan menyangkut pengalaman vital [6-17], penyesuaian-penyesuaian LR bagi pelbagai pelaku LR. Kita bisa membedakan anotasi tersebut dari sisi isi dalam dua kelompok. Anotasi kelompok pertama adalah keterangan-keterangan menyangkut disposisi retretan: [3,5,11,12,16,20]. Anotasi kelompok kedua adalah penjelasan yang relevan bagi pembimbing: [1,2,4,6-10,14,15,17,18,1926]. 

*  Diambil dengan revisi dari L. A. Sardi S. J., Jesuit Magis. Pengalaman formasi 6 jesuit awal, Yogyakarta: Kanisius, 2006, 17-33

Sumber : https://jesuits.id/isi-latihan-rohani/

DISKRESI

Salah satu warisan rohani berharga yang diberikan St. Ignatius kepada kita adalah diskresi dan eleksi. Keterangan kedua tersedia di dalam Latihan Rohani. Berikut ini disampaikan uraian singkat mengenai diskresi dan eleksi, termasuk di belajar dari St. Ignatius sendiri. Disajikan juga secara singkat keterangan menurut Santa Catarina dari Siena dan St. Bernardus. Tepatnya dalam tulisan ini dipaparkan: 1) Pemahaman tentang diskresi, 2) patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani, 3) Belajar dari St. Ignatius, 4) Pentingnya pembedaan roh dalam hidup rohani, dan 5) eleksi dan dua waktu eleksi menurut St. Ignatius Loyola.

Pemahaman diskresi

 Diskresi atau pembedaan roh adalah bentuk latihan rohani did alamnya orang merasakan (sentir) bermacam-macam gerak batin (las mociones) untuk mengenali (conocer) mengenal kehendak Allah untuk dirinya dan selanjutnya mengorientasikan kemerdekaannya sesuai dengan kehendak Allah yang dimaksud (eligir). Dipahami sebagai olah rohani karena tindakan diskresi ini merupakan tindakan manusia beriman sejauh menyangkut relasinya dengan Tuhan, terutama mengenai kehendaknya. Karena itu kondisi pertama dari tindakan diskresi adalah keterbukaan manusia kepada Allah dan kenyataan bahwa Allah menyatakan dirinya dan dalam peristiwa-peristiwa manusiawi. Sebagai pengalaman rohani di sini diskresi merupakan pengalaman di dalamnya Allah dengan kehendaknya, dalam arti tertentu, bertemu dengan keterbukaan radikal manusia.  

Kehendak Allah dapat memainkan peranan, baik sebagai kriteria maupun tujuan; artinya diskresi merupakan proses untuk mengenal kehendak Tuhan.

Dalam pelaksanaannya tindakan diskresi rohani berupa tindakan batin seperti memeriksa, mengenal, melihat, memisahkan, membedakan, memahami, menangkap, mempersepsi, memperjelas, dll. Semua itu terjadi dalam wilayah gerakan-gerkaan batin sebagai obyeknya. Gerakan-gerakan batin sendiri dapat berupa dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, pemikiranpemikiran, intuisi-intuisi, usulan-usulan, dll.  

Jelas bahwa secara metodis diskresi mengandaikan jarak “aku” sebagai subyek dan diri sendiri. Jarak atau distansi yang diambil membantu proses diskresi dalam arti, seseorang membuat interpretasi dan pemaknaan dari kejernihan jarak tersebut dan tidak terlalu melekat dengan hal atau peristiwanya. Jarak membantu untuk membuat analisis kritis dunia batin, misalnya, dengan pertanyaanpertanyaan dasar: “Bagaimana terjadi? Apa sebabnya? Dimana orientasinya? Dengan itu seseorang dapat mengidentifikasi asal usul gerakan-gerakan karena biasanya gerakan-gerakan batin tersebut berawal sekedar dari fenomen.

Mengenai asal usul dari macam-macam gerak batin St. Ignatius menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga pemikiran: pertama dari diri sendiri dan dua yang lain dari luar [LR 32]. Tentang asal-usul ini kita diajak oleh St. Ignatius terutama untuk mengerti keaslian dan kesejatian pemikiran sendiri. Karena kita tidak bisa menyangkal adanya kemungkinan pengaruh dari bagian tidak sadar menyangkut asal usul pemikiran. Perhatian terhadap sisi ini cukup relevan setelah psikologi masuk ke dalam studi tentang alam ketidaksadaran. Di sini saya setuju, misalnya dengan sumbangan dari buku Las Afecciones Desordenadas, influjo del subconsciente en la vida espiritual, (Afeksi tidak teratur, pengaruh bawah sadar di dalam hidup rohani) yang ditulis Luis M García Domínguez S. J., (1992). Secara umum kita menyambut bantuan psikologi karena membawa kita untuk membedakan mana yang psikologis dan mana yang spiritual serta menempatkan kita masuk ke hal-hal yang tidak kita sadari tetapi berpengaruh di dalam sikap dan pilihan-pilihan hidup kita.  

Patokan Pembedaan Roh Minggu Pertama Latihan Rohani St. Ignatius Loyola

Relasi doktrinal antara Patokan Pembedaan Roh Minggu dan Autobiografi St. Ignatius

Kedua teks, patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani dan Autobiografí memiliki sumber yang sama, yaitu, pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola, meskipun penulisnya berbeda karena penulis Autobiografi adalah Luis Gonçalves da Cámara. Menyangkut diskresi kedua teks itu memiliki hubungan erat menyangkut pokok mengenai diskresi. Malahan kita dapat mengatakan bahwa dalam Autobiografi dan dalam patokan pembedaan roh terdapat sejumlah hal yang sama. Pembedaannya terletak pada bahwa bahasa Autobiografí yang lebih naratif, sementara bahasa dalam patokan pembedaan roh lebih instrumental. Namun demikian keduanya merupakan cara untuk menerangi pengalaman rohani dan sarana untuk memandu pilihan.

Secara positif, di sini kita bisa mendapatkan pandangan tentang hal-hal dasar mengenai diskresi dari kedua teks itu sama. Boleh jadi, inilah alasan García Hirschfeld dalam penjelasan tema tentang mengenai patokan pembedaan roh   dengan menunjuk nomor-nomor Latihan Rohani [313], [314], [316] dan [317] dan Autobiografi.  2.1.1. Cara menerangi pengalaman 

Kendati dalam patokan pembedaan roh ada bahasa teksnis, patokan ini tidak pertama-tama menawarkan pembelajaran teknis, tetapi menerangi pengalaman. Patokan-patokan ini memainkan peran untuk mengorientasikan seorang pribadi dalam situasi tertentu melaluinya meraih atau sampai pada pengalaman iman yang lebih baik. Situasi tertentu ini merupakan saat rohani atau setidaknya kita menempatkannya sebagai saat rohani. Dan yang paling pokok dari pengalaman iman dan saat rohani ini adalah indeferensi atau lepas bebas atau kemerdekaan batin; artinya dalam arti sikap penuh kesungguhan mempersembahkan diri bagi “dalam pelayanan murni kepada Allah Tuhan kita”.  Singkatnya, dalam proses rohani itu kita menempatkan dengan baik patokan-patokan pembedaan roh yang merangkum pengalaman rohani. Karena itu siap menjalani diskresi, bagi Ignatius, berarti membangun sebuah rencana dan mengusahakan pencapaiannya. Diskresi sebagai rancangan merupakan latihan rohani untuk menyiapkan menyambut kehendak Allah. Diskresi sebagai sebuah situasi rohani membawa orang ke tercapainya sesuatu yang diusahakan dan dimohon, yaitu sikap lepas bebas Ignatian atau kemerdekaan batin.

Diskresi sebagai pengalaman 

Autobiografí adalah deskripsi tentang semua pengalaman diskresi dan menunjuk langkah Allah (Allah bertindak) dalam hidup Ignatius. Autobiografí menghadirkan Ignatius kepada kita sebagai manusia yang bertanya mengenai dirinya sendiri. Di sana ada penegasan tentang pentingnya sikap reflektif, pencarian dan melihat sisi kedalaman hidup atau yang batiniah. Seperti kita ketahui lewat Autobiografí kita bertemu dalam pengalaman Ignatius dinamika proses rohani dari yang luar ke yang dalam. Dihadirkan sebuah evolusi rohani dalam horizon pelayanan yang makin diperjelas, hingga horison itu memilah hidup Ignatius secara definitif (Autobiografí 4,5, 11). Di sini kita belajar bahwa melayani sebagai kriteria dari konsolasi. Kita belajar juga bahwa diskresi bukan saja soal teknis kerohanian tetapi pengalaman rohani dalam arti di dalam diri orang itu dengan seluruh kekayaan historis yang lalu dan dengan seluruh keinginan dan mimpi salehnya, mencari dan menemukan kehendak Allah. 

Pemeriksaan kesadaran sebagai diskresi dan pengalaman rohani 

Menurut Latihan Rohani Ignatius pemeriksaan kesadaran merupakan latihan rohani [bdk. LR 1]. Dalam uraian ini pemeriksaan kesadaran merupakan usaha awal untuk melakukan diskresi. Yang sebenarnya terjadi dalam periksaan kesadaran adalah mengenal diri sendiri sejauh sebagai pribadi rohani yang curigasehat terhadap gerakan-gerakan batinnya. Di sini Ignatius membedakan tiga level pribadi: 1) pribadi yang “kasar” dan tidak kompleks, 2) pribadi yang sudah akrab dengan prinsip Asas dan Dasar) pribadi yang sudah maju secara rohani.  Pemeriksaan kesadaran membantu kita untuk tidak hanya menunjuk dimana kita berada, tetapi juga untuk berdiskresi dalam tingkat mengenal apa yang terjadi dan apa yang hendak dipilih. Pemeriksaan kesadaran demikian ini memiliki tujuannya adalah sikal lepas bebas yang terus berlangsung ttap yang merupakan proses rohani yang lebih konkret dalam hidup normal. Untuk itu penting menyediakan dan membiasakan pemeriksaan kesadaran sebagai latihan rohani yang terus dijalankan yang pada gilirannya mempertajam rasa perasaan rohani.

Patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani [313-327]3

Dalam Latihan Rohani St. Ignatius menyajikan dua patokan pembedaan roh. Yang pertama, untuk Minggu Pertama dan diberi judul: “Aturan untuk merasakan dan mengenal macam-macam gerakan batin yang terjadi di dalam jiwa: “yang baik untuk diterima, dan yang buruk untuk dihindarkan dan tepat untuk Minggu Pertama”. Dengan memperhatikan sumber dari patokan-patokan ini, yang adalah pengalaman pribadi, pengalaman antar pribadi dan tradisi, kita dapat mengatakan bahwa patokan pembedaan roh ini adalah mediasi linguistik untuk mengkomunikasikan pembelajaran dan sesuatu yang esensial dari suatu pengalaman kepada orang lain. Karena itu patokan pembedaan berbicara tentang obyektivitas pengalaman dan aspek universalitasnya, dalam hal ini, pesan spiritual. Patokan berada melampaui dimensi spacial (ruang) dan budaya serta memainkan peran untuk menerangi hati pribadi dan mengarahkannya.  

Yang dibuat, terutama dengan diskresi menurut judul patokan tersebut adalah merasakan dan mengenal gerak-gerak batin. Secara konkret yang terjadi adalah memberi nama, memformulasikan, mengungkapkan gerak-gerak batin tersebut: perjalanannya, sebab, tujuan dan kecenderungannya. Melalui karya ini dapat diidentifikasi pelbagai macam gerakan batin termasuk jumlah dan kualitasnya. Di sini, seperti dikatakan oleh García Hirshcfeld, gerakan, pemikiran, kecenderungan, ilustrasi, agitasi… lebih daripada formulasi logis dengan isi dan pesan filosofis atau ideologis. St. Ignatius memahaminya sebagai gerakan batin, dengan daya kerja afektif emosional yang meninggalkan jejak tertentu dalam kesadaran. 

Penting memperhatikan istilah yang menunjuk subyek yang melakukan diskresi. Kita menemukan setidaknya tiga istilah: manusia, persona (seorang pribadi) dan jiwa. Manusia adalah istilah teologis yang menunjuk kenyataan tercipta. Pribadi atau persona menunjuk visi antropologis seseorang dengan ciri otonomi dan kemerdekaannya. Di sini dibedakan antara laki dan perempuan. Jiwa mengungkapkan kenyataan menjadi manusia di sana berkomunikasi dan berelasi dengan dunia lain. 

Dengan mengandaikan adanya kebutuhan pastoral, kita bisa mengatakan bahwa pertama [314, 315] bermaksud memperjelas situasi rohani dan pribadi. Artinya roh-roh bekerja menurut situasi orang. Mengenai dua nomor itu Marko Rupnik S.J mengungkapkan dengan baik isinya: 1) Tindakan roh buruk dan Roh Tuhan dalam diri seseorang.  2) Tindakan Roh yang diorientasikan kepada Allah dan roh musuh yang menghalang-halangi orang mengarah kepada Allah [315].

Dalam Latihan Rohani Ignatius menuliskan dua patokan berdiskresi. Patokan pertama dikhususkan untuk Minggu Pertama Latihan Rohani dan patokan kedua adalah lebih tepat untuk minggu-mingu berikutnya. Tetapi dalam praktek latihan rohani tentang bagaimana dan kapan digunakan, tergantung pada situasi nyata rohani retretan. Dari perspektif doktrinal patokan pertama menghadirkan hal yang dasar di seputar konsolasi dan desolasi.  

Kita boleh yakin bahwa dasar dari patokan-patokan ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman Ignatius sebagaimana tampak di dalam Autobiografi. Kita bisa menyebut nomor-nomor ini, 8-9: Loyola, 20-22: Manresa, 25-26: Manresa, 54-55: Barcelona, 99-101: Roma. 

Situasi rohani dari seorang pribadi 

Kita dapat mengatakan bahwa patokan-patokan tersebut menerangi kita dalam mencermati situasi rohani seseorang. Di sini secara sederhana dibedakan antara dua situasi seorang pribadi.  a. Orang yang berjalan dari dosa besar ke dosa besar lainnya [314], b. Orang yang secara intensif membersihkan diri dari dosas-dosa dan orang yang terus naik dan semakin naik dalam pelayanan kepada Allah [315]. 

 Dalam dua nomor ini [314 – 315] dikenal bagaimana roh buruk dan roh baik membawa kepentingannya masing-masing. 

Penghiburan

Penghiburan dilukiskan sebagai keadaan jiwa yang dikobarkan dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhan [316.] Lalu dalam dua nomor ini [323-324] ditunjukkan sikap yang mesti diambil oleh seseorang bila sedang berada dalam konsolasi, yaitu berpikirkan bagaimana suatu saat bila berada di dalam desolasi. Ini semacam posisi dan sikap antisipatif dalam hidup rohani.

Desolasi 

Dengan desolasi dimaksud kegelapan jiwa [317] dan dalam desolasi tersebut ditemukan jiwa yang malas, takut, ceroboh dan terpisah dari Allah dan Tuhan. Dalam nomor-nomor lain ditunjukkan sikap dan posisi yang mesti diambil di saat berada dalam desolasi.  Pada saat desolasi tidak mengubah keputusan, sebaliknya memperkuat ketetapan dan rancangan yang sudah dibuat sebelum desolasi [318] dan lebih menekankan doa, meditasi dan menjalankan penitensi  [319]  Ditunjukkan juga pembelajaran rohani dari desolasi; miisalnya, 1) Allah membiarkan manusia di dalam pencobaan berkenaan dengan potensi alaminya untuk tumbuh dalam cinta dan dalam rahmat intensif dari Allah [320]; 2) mesti sabar, membuat yang berlawanan dengan godaan-godaan yang datang [321].

Tiga sebab utama desolasi [322]

Pertama, karena kendor, malas, atau sambalewa dalam latihan-latihan rohani. Kedua, untuk mencobai seberapa besasr kekuatan kita dan berapa jauh yang dapat kita capai dalam pengabdian dan pujian-Nya, tanpa upah besar berujud hiburan ataupun rahmat yang melimpah.  Ketiga, untuk memberi kita pengetahuan serta pengertian yang benar, supaya kita merasa dalam-dalam bahwa bukanlah tergantung dari kita: timbul serta langsungnya rasa devosi yang berkobar, rasa cinta yang meluap, airmata atau macam hiburan rohani yang lain, tetapi semuanya itu adalah anugerah dan rahmat Tuhan kita belaka.

Tiga analogi musuh bekerja 

Disebutkan tiga penggambaran musuh dalam bekerja. Yang pertama, bersikap seperti wanita, lemah bila lawan dan kuat bila dibiarkan [325]. Yang kedua, bekerja seperti buaya darat: ingin tetap dirahasiakan dan tak dilakukan kepada siapapun pula [326]. Juga bersikap seperti komandan tentara dalam usahanya untuk menumbuhkan serta merebut apa yang diinginkannya [327].

Belajar dari St. Ignatius: tanggap terhadap rahmat

 Dengan mencermati narasi pengalaman rohaninya, kita menemukan saat St. Ignatius memiliki pengalaman lebih terbuka terhadap yang nyata dari dirinya sendiri dan terhadap rahmat Allah. St. Ignatius menemukan dunia batin yang membawanya sadar akan kompleksitas. Dalam situasi ini, misalnya diungkapkan di dalam pertanyaan pesimistis untuk yang baru: “Bagaimana engkau dapatmenderita dalam hidup selama 70 tahun demikian itu?” (Autobiografi. 20). Saat ini membawa St. Ignatius lebih memperjelas terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dari sini dengan identifikasi sebab-sebab dan asal usul gerakan-gerkan perasaan dan pemikian keluar sebuah patokan dalam arti tujuan umum dan yang mendasar dari diskresi. 

Dalam perjalanan rohaninya St. Ignatius sampai pada kesederhanaan hidup rohani; artinya, arti memiliki kecenderungan untuk sesuara atau sejalan dengan rahmat Allah (a sintonía a la gracia de Dios). Allah dialami sebagai Allah yang sederhana. St. Ignasius sampai pada keadaan tanggapan dan peka terhadap rahmat Allah. Pada akhirnya kita menemukan di sini dalam pengalaman St. Ignatius kemerdekaan manusiawi yang cocok dengan kehendak Allah. 

Dari sisi luar yang tampak dalam St. Ignatius adalah karya-karya sebagaimana dilaksanakan oleh orang-orang kudus: melaksanakan hal yang baik, melaksanakan yang besar. Mengingat yang ideal dan mimpi-mimpi yang lalu, sebetulnya yang terjadi pada tahap ini adalah perubahan obyek, tetapi subyek belum berubah. Dalam konteks dan kerangka pematangan rohaninya St. Ignatius masihperlu menempuh sejumlah langkah lagi. Namun tetap saya dapatlah kita menganggap remeh langkah atau tahap pengalaman ini. Kendati belum ada perubahan subyek setidaknya ada sebuah gerak perkembangan maju pelan-pelan (evolusi rohani). Interpretasi saya mengenai tahap ini adalah lebih baik dikatakan bahwa Ignatius berada di dalam proses menjadi baru dengan saat rohani yang penting yaitu menjadi tanggap dan peka terhadap rahmat Tuhan. Dalam proses ini obyek yang adalah secara nyata baik mempengaruhi dan membentuk dirinya sebagai subyek. Hanya dengan interpretasi demikian dapatlah kita memahami dengan baik lima pengalaman mistik besar Ignatius di Manresa (Autobiografi 2830). Kehilangan nilai dan rasa dari sisi evolusi yang berjalinan antara subyek dan obyek ini akan mempersulit kita dalam memahami aspek manusia dari pengalaman mistik Ignatius atau tibalah kita pada suatu pemahaman mengenai pengalaman di Manresa sebagai murni pengalaman atau rahmat tercerurah. 

Benar bahwa satu dari warisan rohani St. Ignatius adalah diskresi rohani. Dalam Latihan Rohani dihadirkan diskresi sebagai bagian integral dari Latihan Rohani. Dalam Autobiografi (peristiwa rohani) terutama untuk tiga bab pertama kita menemukan saat-saat di sana St. Ignatius belajar diskresi rohani. Di sana kita dapat melihat St. Ignatius dari perspektif kepribadiannya dan tipe pokoknya dalam konteks belajar berdiskresi. Dalam hal ini kendati semua itu terjadi pada abad XVI di dunia Spanyol, tetapi memiliki nilai melampaui waktu dan budaya. 

Kita dapat membayangkan bahwa St. Ignatius adalah manusia ambisius dengan standard nilai hormat dan kehormatan dunia kepahlawanan. Buku    kepahlawanan membantu mengartikulasikan serta menegukan apa yang hidup di dalamnya dan menawarkan cara untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Proses merefleksikan dan melihat diri lewat dua kodeks atau standard (dari dunia kepahlawanan: kekayaan, hormat, kemuliaan dan dari Yesus: kemiskinan, kerendahan hati, kemuliaan Allah8) membawa Ignatius ke suatu momen perubahan secara pelan dari pribadi manusia yang tertutup menjadi terbuka kepada Allah. 

Evolusi batin dan sikap yang terjadi di hadapan buku-buku suci adalah pertumbuhan progresif dari identifikasi terhadap figur baru. Syukurlah Ignatius tidak memiliki retorika teologis, sehingga kita dapat belajar darinya. Dari pengalaman Ignatius yang demikian itu kita bisa belajar langkah-langkah, katakan saja, dari buta menjadi terbuka, langkah-langkah untuk sampai pada pengalaman membuka mata (dapat membedakan pelbagai gerak batin) untuk mengikuti kehendak Allah. 

Langkah-langkah itu adalah: 1) melihat sebagai penonton; 2) memasukan diri ke dalam sejarah dan peristiwa; 3) implikasi afektif’; 4) konsekwensi afektif dan 5) usulan logis (atau aplikasi kausal). Adalah mungkin dalam resolusi baru Ignatius menemukan krisis besar, yaitu hingga usia 26 tahun dia berada di bawah setan. Ignatius mengalami krisis hidup dan eksistensial mengenai hidup bagi dirinya sendiri dengan corak pengalaman yang setidaknya Ignatius sendiri menemukan sesuatu yang bernilai, yaitu keterbukaan kepada Allah dan kemampuan dasar untuk membedakan antara yang satu dari setan dan yang lain dari Allah (Autobiograf).

Sumber : https://jesuits.id/diskresi-dan-eleksi/

ELEKSI

Salah satu warisan rohani berharga yang diberikan St. Ignatius kepada kita adalah diskresi dan eleksi. Keterangan kedua tersedia di dalam Latihan Rohani. Berikut ini disampaikan uraian singkat mengenai diskresi dan eleksi, termasuk di belajar dari St. Ignatius sendiri. Disajikan juga secara singkat keterangan menurut Santa Catarina dari Siena dan St. Bernardus. Tepatnya dalam tulisan ini dipaparkan: 1) Pemahaman tentang diskresi, 2) patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani, 3) Belajar dari St. Ignatius, 4) Pentingnya pembedaan roh dalam hidup rohani, dan 5) eleksi dan dua waktu eleksi menurut St. Ignatius Loyola.

Pemahaman diskresi

 Diskresi atau pembedaan roh adalah bentuk latihan rohani did alamnya orang merasakan (sentir) bermacam-macam gerak batin (las mociones) untuk mengenali (conocer) mengenal kehendak Allah untuk dirinya dan selanjutnya mengorientasikan kemerdekaannya sesuai dengan kehendak Allah yang dimaksud (eligir). Dipahami sebagai olah rohani karena tindakan diskresi ini merupakan tindakan manusia beriman sejauh menyangkut relasinya dengan Tuhan, terutama mengenai kehendaknya. Karena itu kondisi pertama dari tindakan diskresi adalah keterbukaan manusia kepada Allah dan kenyataan bahwa Allah menyatakan dirinya dan dalam peristiwa-peristiwa manusiawi. Sebagai pengalaman rohani di sini diskresi merupakan pengalaman di dalamnya Allah dengan kehendaknya, dalam arti tertentu, bertemu dengan keterbukaan radikal manusia.  

Kehendak Allah dapat memainkan peranan, baik sebagai kriteria maupun tujuan; artinya diskresi merupakan proses untuk mengenal kehendak Tuhan.

Dalam pelaksanaannya tindakan diskresi rohani berupa tindakan batin seperti memeriksa, mengenal, melihat, memisahkan, membedakan, memahami, menangkap, mempersepsi, memperjelas, dll. Semua itu terjadi dalam wilayah gerakan-gerkaan batin sebagai obyeknya. Gerakan-gerakan batin sendiri dapat berupa dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, pemikiranpemikiran, intuisi-intuisi, usulan-usulan, dll.  

Jelas bahwa secara metodis diskresi mengandaikan jarak “aku” sebagai subyek dan diri sendiri. Jarak atau distansi yang diambil membantu proses diskresi dalam arti, seseorang membuat interpretasi dan pemaknaan dari kejernihan jarak tersebut dan tidak terlalu melekat dengan hal atau peristiwanya. Jarak membantu untuk membuat analisis kritis dunia batin, misalnya, dengan pertanyaanpertanyaan dasar: “Bagaimana terjadi? Apa sebabnya? Dimana orientasinya? Dengan itu seseorang dapat mengidentifikasi asal usul gerakan-gerakan karena biasanya gerakan-gerakan batin tersebut berawal sekedar dari fenomen.

Mengenai asal usul dari macam-macam gerak batin St. Ignatius menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga pemikiran: pertama dari diri sendiri dan dua yang lain dari luar [LR 32]. Tentang asal-usul ini kita diajak oleh St. Ignatius terutama untuk mengerti keaslian dan kesejatian pemikiran sendiri. Karena kita tidak bisa menyangkal adanya kemungkinan pengaruh dari bagian tidak sadar menyangkut asal usul pemikiran. Perhatian terhadap sisi ini cukup relevan setelah psikologi masuk ke dalam studi tentang alam ketidaksadaran. Di sini saya setuju, misalnya dengan sumbangan dari buku Las Afecciones Desordenadas, influjo del subconsciente en la vida espiritual, (Afeksi tidak teratur, pengaruh bawah sadar di dalam hidup rohani) yang ditulis Luis M García Domínguez S. J., (1992). Secara umum kita menyambut bantuan psikologi karena membawa kita untuk membedakan mana yang psikologis dan mana yang spiritual serta menempatkan kita masuk ke hal-hal yang tidak kita sadari tetapi berpengaruh di dalam sikap dan pilihan-pilihan hidup kita.  

Patokan Pembedaan Roh Minggu Pertama Latihan Rohani St. Ignatius Loyola

Relasi doktrinal antara Patokan Pembedaan Roh Minggu dan Autobiografi St. Ignatius

Kedua teks, patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani dan Autobiografí memiliki sumber yang sama, yaitu, pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola, meskipun penulisnya berbeda karena penulis Autobiografi adalah Luis Gonçalves da Cámara. Menyangkut diskresi kedua teks itu memiliki hubungan erat menyangkut pokok mengenai diskresi. Malahan kita dapat mengatakan bahwa dalam Autobiografi dan dalam patokan pembedaan roh terdapat sejumlah hal yang sama. Pembedaannya terletak pada bahwa bahasa Autobiografí yang lebih naratif, sementara bahasa dalam patokan pembedaan roh lebih instrumental. Namun demikian keduanya merupakan cara untuk menerangi pengalaman rohani dan sarana untuk memandu pilihan.

Secara positif, di sini kita bisa mendapatkan pandangan tentang hal-hal dasar mengenai diskresi dari kedua teks itu sama. Boleh jadi, inilah alasan García Hirschfeld dalam penjelasan tema tentang mengenai patokan pembedaan roh   dengan menunjuk nomor-nomor Latihan Rohani [313], [314], [316] dan [317] dan Autobiografi.  2.1.1. Cara menerangi pengalaman 

Kendati dalam patokan pembedaan roh ada bahasa teksnis, patokan ini tidak pertama-tama menawarkan pembelajaran teknis, tetapi menerangi pengalaman. Patokan-patokan ini memainkan peran untuk mengorientasikan seorang pribadi dalam situasi tertentu melaluinya meraih atau sampai pada pengalaman iman yang lebih baik. Situasi tertentu ini merupakan saat rohani atau setidaknya kita menempatkannya sebagai saat rohani. Dan yang paling pokok dari pengalaman iman dan saat rohani ini adalah indeferensi atau lepas bebas atau kemerdekaan batin; artinya dalam arti sikap penuh kesungguhan mempersembahkan diri bagi “dalam pelayanan murni kepada Allah Tuhan kita”.  Singkatnya, dalam proses rohani itu kita menempatkan dengan baik patokan-patokan pembedaan roh yang merangkum pengalaman rohani. Karena itu siap menjalani diskresi, bagi Ignatius, berarti membangun sebuah rencana dan mengusahakan pencapaiannya. Diskresi sebagai rancangan merupakan latihan rohani untuk menyiapkan menyambut kehendak Allah. Diskresi sebagai sebuah situasi rohani membawa orang ke tercapainya sesuatu yang diusahakan dan dimohon, yaitu sikap lepas bebas Ignatian atau kemerdekaan batin.

Diskresi sebagai pengalaman 

Autobiografí adalah deskripsi tentang semua pengalaman diskresi dan menunjuk langkah Allah (Allah bertindak) dalam hidup Ignatius. Autobiografí menghadirkan Ignatius kepada kita sebagai manusia yang bertanya mengenai dirinya sendiri. Di sana ada penegasan tentang pentingnya sikap reflektif, pencarian dan melihat sisi kedalaman hidup atau yang batiniah. Seperti kita ketahui lewat Autobiografí kita bertemu dalam pengalaman Ignatius dinamika proses rohani dari yang luar ke yang dalam. Dihadirkan sebuah evolusi rohani dalam horizon pelayanan yang makin diperjelas, hingga horison itu memilah hidup Ignatius secara definitif (Autobiografí 4,5, 11). Di sini kita belajar bahwa melayani sebagai kriteria dari konsolasi. Kita belajar juga bahwa diskresi bukan saja soal teknis kerohanian tetapi pengalaman rohani dalam arti di dalam diri orang itu dengan seluruh kekayaan historis yang lalu dan dengan seluruh keinginan dan mimpi salehnya, mencari dan menemukan kehendak Allah. 

Pemeriksaan kesadaran sebagai diskresi dan pengalaman rohani 

Menurut Latihan Rohani Ignatius pemeriksaan kesadaran merupakan latihan rohani [bdk. LR 1]. Dalam uraian ini pemeriksaan kesadaran merupakan usaha awal untuk melakukan diskresi. Yang sebenarnya terjadi dalam periksaan kesadaran adalah mengenal diri sendiri sejauh sebagai pribadi rohani yang curigasehat terhadap gerakan-gerakan batinnya. Di sini Ignatius membedakan tiga level pribadi: 1) pribadi yang “kasar” dan tidak kompleks, 2) pribadi yang sudah akrab dengan prinsip Asas dan Dasar) pribadi yang sudah maju secara rohani.  Pemeriksaan kesadaran membantu kita untuk tidak hanya menunjuk dimana kita berada, tetapi juga untuk berdiskresi dalam tingkat mengenal apa yang terjadi dan apa yang hendak dipilih. Pemeriksaan kesadaran demikian ini memiliki tujuannya adalah sikal lepas bebas yang terus berlangsung ttap yang merupakan proses rohani yang lebih konkret dalam hidup normal. Untuk itu penting menyediakan dan membiasakan pemeriksaan kesadaran sebagai latihan rohani yang terus dijalankan yang pada gilirannya mempertajam rasa perasaan rohani.

Patokan pembedaan roh Minggu Pertama Latihan Rohani [313-327]3

Dalam Latihan Rohani St. Ignatius menyajikan dua patokan pembedaan roh. Yang pertama, untuk Minggu Pertama dan diberi judul: “Aturan untuk merasakan dan mengenal macam-macam gerakan batin yang terjadi di dalam jiwa: “yang baik untuk diterima, dan yang buruk untuk dihindarkan dan tepat untuk Minggu Pertama”. Dengan memperhatikan sumber dari patokan-patokan ini, yang adalah pengalaman pribadi, pengalaman antar pribadi dan tradisi, kita dapat mengatakan bahwa patokan pembedaan roh ini adalah mediasi linguistik untuk mengkomunikasikan pembelajaran dan sesuatu yang esensial dari suatu pengalaman kepada orang lain. Karena itu patokan pembedaan berbicara tentang obyektivitas pengalaman dan aspek universalitasnya, dalam hal ini, pesan spiritual. Patokan berada melampaui dimensi spacial (ruang) dan budaya serta memainkan peran untuk menerangi hati pribadi dan mengarahkannya.  

Yang dibuat, terutama dengan diskresi menurut judul patokan tersebut adalah merasakan dan mengenal gerak-gerak batin. Secara konkret yang terjadi adalah memberi nama, memformulasikan, mengungkapkan gerak-gerak batin tersebut: perjalanannya, sebab, tujuan dan kecenderungannya. Melalui karya ini dapat diidentifikasi pelbagai macam gerakan batin termasuk jumlah dan kualitasnya. Di sini, seperti dikatakan oleh García Hirshcfeld, gerakan, pemikiran, kecenderungan, ilustrasi, agitasi… lebih daripada formulasi logis dengan isi dan pesan filosofis atau ideologis. St. Ignatius memahaminya sebagai gerakan batin, dengan daya kerja afektif emosional yang meninggalkan jejak tertentu dalam kesadaran. 

Penting memperhatikan istilah yang menunjuk subyek yang melakukan diskresi. Kita menemukan setidaknya tiga istilah: manusia, persona (seorang pribadi) dan jiwa. Manusia adalah istilah teologis yang menunjuk kenyataan tercipta. Pribadi atau persona menunjuk visi antropologis seseorang dengan ciri otonomi dan kemerdekaannya. Di sini dibedakan antara laki dan perempuan. Jiwa mengungkapkan kenyataan menjadi manusia di sana berkomunikasi dan berelasi dengan dunia lain. 

Dengan mengandaikan adanya kebutuhan pastoral, kita bisa mengatakan bahwa pertama [314, 315] bermaksud memperjelas situasi rohani dan pribadi. Artinya roh-roh bekerja menurut situasi orang. Mengenai dua nomor itu Marko Rupnik S.J mengungkapkan dengan baik isinya: 1) Tindakan roh buruk dan Roh Tuhan dalam diri seseorang.  2) Tindakan Roh yang diorientasikan kepada Allah dan roh musuh yang menghalang-halangi orang mengarah kepada Allah [315].

Dalam Latihan Rohani Ignatius menuliskan dua patokan berdiskresi. Patokan pertama dikhususkan untuk Minggu Pertama Latihan Rohani dan patokan kedua adalah lebih tepat untuk minggu-mingu berikutnya. Tetapi dalam praktek latihan rohani tentang bagaimana dan kapan digunakan, tergantung pada situasi nyata rohani retretan. Dari perspektif doktrinal patokan pertama menghadirkan hal yang dasar di seputar konsolasi dan desolasi.  

Kita boleh yakin bahwa dasar dari patokan-patokan ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman Ignatius sebagaimana tampak di dalam Autobiografi. Kita bisa menyebut nomor-nomor ini, 8-9: Loyola, 20-22: Manresa, 25-26: Manresa, 54-55: Barcelona, 99-101: Roma. 

Situasi rohani dari seorang pribadi 

Kita dapat mengatakan bahwa patokan-patokan tersebut menerangi kita dalam mencermati situasi rohani seseorang. Di sini secara sederhana dibedakan antara dua situasi seorang pribadi.  a. Orang yang berjalan dari dosa besar ke dosa besar lainnya [314], b. Orang yang secara intensif membersihkan diri dari dosas-dosa dan orang yang terus naik dan semakin naik dalam pelayanan kepada Allah [315]. 

 Dalam dua nomor ini [314 – 315] dikenal bagaimana roh buruk dan roh baik membawa kepentingannya masing-masing. 

Penghiburan

Penghiburan dilukiskan sebagai keadaan jiwa yang dikobarkan dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhan [316.] Lalu dalam dua nomor ini [323-324] ditunjukkan sikap yang mesti diambil oleh seseorang bila sedang berada dalam konsolasi, yaitu berpikirkan bagaimana suatu saat bila berada di dalam desolasi. Ini semacam posisi dan sikap antisipatif dalam hidup rohani.

Desolasi 

Dengan desolasi dimaksud kegelapan jiwa [317] dan dalam desolasi tersebut ditemukan jiwa yang malas, takut, ceroboh dan terpisah dari Allah dan Tuhan. Dalam nomor-nomor lain ditunjukkan sikap dan posisi yang mesti diambil di saat berada dalam desolasi.  Pada saat desolasi tidak mengubah keputusan, sebaliknya memperkuat ketetapan dan rancangan yang sudah dibuat sebelum desolasi [318] dan lebih menekankan doa, meditasi dan menjalankan penitensi  [319]  Ditunjukkan juga pembelajaran rohani dari desolasi; miisalnya, 1) Allah membiarkan manusia di dalam pencobaan berkenaan dengan potensi alaminya untuk tumbuh dalam cinta dan dalam rahmat intensif dari Allah [320]; 2) mesti sabar, membuat yang berlawanan dengan godaan-godaan yang datang [321].

Tiga sebab utama desolasi [322]

Pertama, karena kendor, malas, atau sambalewa dalam latihan-latihan rohani. Kedua, untuk mencobai seberapa besasr kekuatan kita dan berapa jauh yang dapat kita capai dalam pengabdian dan pujian-Nya, tanpa upah besar berujud hiburan ataupun rahmat yang melimpah.  Ketiga, untuk memberi kita pengetahuan serta pengertian yang benar, supaya kita merasa dalam-dalam bahwa bukanlah tergantung dari kita: timbul serta langsungnya rasa devosi yang berkobar, rasa cinta yang meluap, airmata atau macam hiburan rohani yang lain, tetapi semuanya itu adalah anugerah dan rahmat Tuhan kita belaka.

Tiga analogi musuh bekerja 

Disebutkan tiga penggambaran musuh dalam bekerja. Yang pertama, bersikap seperti wanita, lemah bila lawan dan kuat bila dibiarkan [325]. Yang kedua, bekerja seperti buaya darat: ingin tetap dirahasiakan dan tak dilakukan kepada siapapun pula [326]. Juga bersikap seperti komandan tentara dalam usahanya untuk menumbuhkan serta merebut apa yang diinginkannya [327].

Belajar dari St. Ignatius: tanggap terhadap rahmat

 Dengan mencermati narasi pengalaman rohaninya, kita menemukan saat St. Ignatius memiliki pengalaman lebih terbuka terhadap yang nyata dari dirinya sendiri dan terhadap rahmat Allah. St. Ignatius menemukan dunia batin yang membawanya sadar akan kompleksitas. Dalam situasi ini, misalnya diungkapkan di dalam pertanyaan pesimistis untuk yang baru: “Bagaimana engkau dapatmenderita dalam hidup selama 70 tahun demikian itu?” (Autobiografi. 20). Saat ini membawa St. Ignatius lebih memperjelas terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dari sini dengan identifikasi sebab-sebab dan asal usul gerakan-gerkan perasaan dan pemikian keluar sebuah patokan dalam arti tujuan umum dan yang mendasar dari diskresi. 

Dalam perjalanan rohaninya St. Ignatius sampai pada kesederhanaan hidup rohani; artinya, arti memiliki kecenderungan untuk sesuara atau sejalan dengan rahmat Allah (a sintonía a la gracia de Dios). Allah dialami sebagai Allah yang sederhana. St. Ignasius sampai pada keadaan tanggapan dan peka terhadap rahmat Allah. Pada akhirnya kita menemukan di sini dalam pengalaman St. Ignatius kemerdekaan manusiawi yang cocok dengan kehendak Allah. 

Dari sisi luar yang tampak dalam St. Ignatius adalah karya-karya sebagaimana dilaksanakan oleh orang-orang kudus: melaksanakan hal yang baik, melaksanakan yang besar. Mengingat yang ideal dan mimpi-mimpi yang lalu, sebetulnya yang terjadi pada tahap ini adalah perubahan obyek, tetapi subyek belum berubah. Dalam konteks dan kerangka pematangan rohaninya St. Ignatius masihperlu menempuh sejumlah langkah lagi. Namun tetap saya dapatlah kita menganggap remeh langkah atau tahap pengalaman ini. Kendati belum ada perubahan subyek setidaknya ada sebuah gerak perkembangan maju pelan-pelan (evolusi rohani). Interpretasi saya mengenai tahap ini adalah lebih baik dikatakan bahwa Ignatius berada di dalam proses menjadi baru dengan saat rohani yang penting yaitu menjadi tanggap dan peka terhadap rahmat Tuhan. Dalam proses ini obyek yang adalah secara nyata baik mempengaruhi dan membentuk dirinya sebagai subyek. Hanya dengan interpretasi demikian dapatlah kita memahami dengan baik lima pengalaman mistik besar Ignatius di Manresa (Autobiografi 2830). Kehilangan nilai dan rasa dari sisi evolusi yang berjalinan antara subyek dan obyek ini akan mempersulit kita dalam memahami aspek manusia dari pengalaman mistik Ignatius atau tibalah kita pada suatu pemahaman mengenai pengalaman di Manresa sebagai murni pengalaman atau rahmat tercerurah. 

Benar bahwa satu dari warisan rohani St. Ignatius adalah diskresi rohani. Dalam Latihan Rohani dihadirkan diskresi sebagai bagian integral dari Latihan Rohani. Dalam Autobiografi (peristiwa rohani) terutama untuk tiga bab pertama kita menemukan saat-saat di sana St. Ignatius belajar diskresi rohani. Di sana kita dapat melihat St. Ignatius dari perspektif kepribadiannya dan tipe pokoknya dalam konteks belajar berdiskresi. Dalam hal ini kendati semua itu terjadi pada abad XVI di dunia Spanyol, tetapi memiliki nilai melampaui waktu dan budaya. 

Kita dapat membayangkan bahwa St. Ignatius adalah manusia ambisius dengan standard nilai hormat dan kehormatan dunia kepahlawanan. Buku    kepahlawanan membantu mengartikulasikan serta menegukan apa yang hidup di dalamnya dan menawarkan cara untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Proses merefleksikan dan melihat diri lewat dua kodeks atau standard (dari dunia kepahlawanan: kekayaan, hormat, kemuliaan dan dari Yesus: kemiskinan, kerendahan hati, kemuliaan Allah8) membawa Ignatius ke suatu momen perubahan secara pelan dari pribadi manusia yang tertutup menjadi terbuka kepada Allah. 

Evolusi batin dan sikap yang terjadi di hadapan buku-buku suci adalah pertumbuhan progresif dari identifikasi terhadap figur baru. Syukurlah Ignatius tidak memiliki retorika teologis, sehingga kita dapat belajar darinya. Dari pengalaman Ignatius yang demikian itu kita bisa belajar langkah-langkah, katakan saja, dari buta menjadi terbuka, langkah-langkah untuk sampai pada pengalaman membuka mata (dapat membedakan pelbagai gerak batin) untuk mengikuti kehendak Allah. 

Langkah-langkah itu adalah: 1) melihat sebagai penonton; 2) memasukan diri ke dalam sejarah dan peristiwa; 3) implikasi afektif’; 4) konsekwensi afektif dan 5) usulan logis (atau aplikasi kausal). Adalah mungkin dalam resolusi baru Ignatius menemukan krisis besar, yaitu hingga usia 26 tahun dia berada di bawah setan. Ignatius mengalami krisis hidup dan eksistensial mengenai hidup bagi dirinya sendiri dengan corak pengalaman yang setidaknya Ignatius sendiri menemukan sesuatu yang bernilai, yaitu keterbukaan kepada Allah dan kemampuan dasar untuk membedakan antara yang satu dari setan dan yang lain dari Allah (Autobiograf).

Sumber : https://jesuits.id/diskresi-dan-eleksi/

Renungan Harian: 19 November 2020

Renungan Harian
Kamis, 19 November 2020

Bacaan I : Why. 5: 1-10
Injil : Luk. 19: 41-44

G r a n t e s

Hari itu jam 02.00 dini hari, saya pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah, untuk memberi sakramen perminyakan. Di halaman Rumah Sakit paman dari pasien itu telah menunggu, kemudian mengantar saya ke IGD tempat pasien mendapat perawatan.
 
Pasien itu adalah anak muda kelas 3 SMU. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas, motor yang dikendarainya bertabrakan dengan motor pengguna jalan lain. Sesampai di tempat anak itu dirawat, saya melihat luka yang cukup parah. Saya segera mengajak keluarga untuk berdoa. Selama berdoa, ibu dari anak itu tidak berhenti menangis dan meratap.
 
Setelah selesai berdoa, kami menunggu di ruang tunggu karena anak itu sedang mendapatkan perawatan. Saya duduk di sebelah ibu itu untuk menenangkan. Sambil terus berurai air mata dan terisak, ibu itu bercerita. “Pastor, ini semua salah saya, seandainya saya tidak membelikan motor pasti tidak ada kejadian seperti ini. Pastor, dia sudah sejak masuk SMU ribut minta dibelikan motor, karena dia ingin seperti teman-temannya. Saya tidak pernah menuruti permintaannya karena saya khawatir kalau dia celaka.
 
Sebulan yang lalu dia minta dengan marah-marah; saya menjelaskan banyak hal kenapa tidak menuruti permintaannya, tetapi dia tidak mau dengar. Saya amat khawatir pastor, karena saya dengar teman-temannya seneng balap-balapan. Dia marah dan tidak mau sekolah, pokoknya kalau tidak dibelikan motor dia tidak mau sekolah. Saya tetap tidak menuruti. Tetapi saya kemudian dipanggil ke sekolah karena anak saya sudah 1 minggu tidak sekolah.
 
Saya bingung pastor, saya berharap anak saya berhasil, punya masa depan yang baik, saya sebagai orang tua hanya bisa membekali dengan ilmu untuk masa depan dia. Tetapi gara-gara motor, anak saya lalu menjadi tidak jelas. Akhirnya saya mengalah dan membelikan motor. Apa yang saya khawatirkan terjadi, sekarang saya harus melihat anak saya seperti itu. Pastor, manah kula grantes. (Pastor, hati saya menangis sedih),” Ibu mengakhiri ceritanya.
 
“Ngger, saumpama kowe ngerti yen ibu orang nuruti kuwi merga ibu tresna lan ngeman kowe, kedadian iki mesthi ora ana.” Ibu itu berguman lirih.
(Nak, seandainya kamu mengerti kalau ibu tidak mau membelikan motor itu, karena ibu mencintai dan sayang denganmu, kejadian ini pasti tidak ada.)
 
Hubungan anak dengan ibunya itu seperti aku dengan Tuhan. Aku sering mencari keinginanku sendiri dan tidak peduli dengan Tuhan. Aku sering protes dengan Tuhan tanpa mengerti betapa Tuhan mencintai aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas, Yesus bersedih akan kedegilan hati umat yang dicintaiNya: “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
 
Sadarkah aku, akan cinta Tuhan yg sedemikian besar, lewat setiap peristiwa hidup yang kualami?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 November 2020

Renungan Harian
Rabu,18 November 2020

Bacaan I : Why. 4: 1-11
Injil    : Luk. 19: 11-28

Bengkel

Bengkel mobil itu selalu penuh dengan mobil-mobil yang mengantri untuk diperbaiki, meski bengkel itu tidak ada papan namanya. Bengkel ini lebih banyak diisi dengan mobil-mobil yang mengalami kerusakan yang umumnya cukup parah. Maka tidak heran yang mengantri di bengkel itu bukan mobil-mobil mewah dan bagus tetapi mobil-mobil niaga, seperti angkot, truk dan bus-bus.
 
Mbah bengkel, begitu saya biasa memanggilnya. Setiap hari mbah bengkel, yang sudah sepuh itu, selalu berlumuran dengan oli dan kotoran dari kerjaannya memperbaiki mobil. Beliau selalu dibantu oleh dua orang karyawan. Mbah bengkel amat dikenal sebagai montir yang ahli memperbaiki semua jenis kendaraan. Jadi tidak heran kalau banyak kendaraan yang selalu mengantri untuk mendapatkan sentuhan tangannya.
 
Mbah Bengkel pernah berkisah, bahwa dirinya bukanlah anak sekolahan, apalagi lulusan sekolah teknik. Zaman dulu, begitu beliau berkisah, karena keadaan, beliau tidak mungkin untuk sekolah. Ia bekerja menjadi kernet truk di sebuah perusahaan angkutan. Di tempat kerjanya truk-truk yang tua selalu dihindari oleh kernet-kernet yang ada, karena truk-truk itu banyak “rewelnya”. Dan entah bagaimana truk yang paling jelek dan banyak rewel selalu diserahkan ke mbah Bengkel untuk menjadi kernetnya.
 
Alih-alih marah dan sedih, mbah Bengkel senang mendapatkan truk tua yang sering rewel. Beliau berpandangan kalau mendapatkan truk-truk yang sering rewel maka dirinya akan banyak belajar tentang mesin-mesin kendaraan. Dan itu yang terjadi, semakin hari mbah Bengkel semakin mahir memperbaiki kendaraan hingga kemudian mendapat julukan dukun mesin, karena kendaraan-kendaraan yang “bobrok” mesinnya, ditangani mbah Bengkel akan menjadi baik kembali.
 
Mbah Bengkel menuturkan banyak teman sesama kernet zaman dahulu menyesal mengapa tidak bersikap seperti beliau dengan gembira menjadi kernet truk-truk yang banyak rewel sehingga bisa menjadi “dukun” mesin.
 
Sikap yang ditunjukkan mbah Bengkel, melihat beban sebagai kesempatan untuk belajar menjadikan beliau mendapatkan anugerah besar sebagai “dukun” mesin. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas sikap hamba-hamba yang menerima mina, dan memandang sebagai kepercayaan dari Tuannya maka mereka mengembangkan dan menghasilkan buah. Mereka memandang Tuannya sebagai sosok yang mempercayai dan memberi kesempatan, bukan sebagai sosok yang mengancam dan menakutkan. “Aku berkata kepadamu, setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”
 
Bagaimana aku memandang beban dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 17 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 17 November 2020

PW. St. Elisabeth dari Hungaria, Biarawati
Bacaan I : Why. 3: 1-6. 14-22
Injil    : Luk. 19: 1-10

Naik Kelas

Setelah misa Sabtu sore, ada pasangan suami istri yang masih muda meminta waktu untuk berbicara. Saya meminta mereka untuk sebentar menunggu di ruang tamu, karena saya masih ingin menyapa umat yang lain. Setelah halaman gereja mulai kosong, saya segera ke ruang tamu untuk bertemu dengan pasangan suami istri yang sudah menunggu.
 
Setelah saya menyapa mereka, istri berkata: “Pastor, kami mau minta berkat untuk cincin ini; cincin ini untuk mengganti cincin perkawinan kami.” “Oh, baik. Cincin yang lama kenapa? Hilang atau sudah tidak muat lagi?” tanya saya. Mendengar pertanyaan saya, mereka tiba-tiba terdiam dan saling berpandangan. “Emmm, cincin yang lama masih ada sih, pastor; cuma….  Gimana ya pastor, ceritanya agak panjang. Pastor punya waktu mendengarkan kami bercerita?” suami menjawab.
 
“Pastor, sebenarnya kami minta berkat cincin ini untuk memperbaharui perkawinan kami. Selama hampir setahun ini  kami sudah pisah ranjang. Kami masih tinggal satu rumah, tetapi hampir tidak pernah bertegur sapa. Kami bicara seperlunya saja; bahkan kami cenderung pulang selarut mungkin supaya tinggal tidur tidak harus ketemu apalagi bicara.
 
Awal persoalan rumah tangga kami adalah perselingkuhan istri. Saya mendapati istri selingkuh dengan teman kantornya. Mulanya dia tidak mengakui, sehingga hal itu menimbulkan pertengkaran hampir tiap hari. Saya menjadi tidak percaya dengan istri dan saya jadi sering marah-marah.  Sampai kemudian dia mengakui dan minta maaf. Tetapi saya sulit memaafkan dan saya balas dendam. Jadi kemudian yang terjadi dalam rumah tangga kami tidak karuan. Istri selingkuh dan saya juga selingkuh untuk balas dendam.
 
Akhirnya kami lelah dengan situasi ini. Kira-kira sebulan yang lalu pastor, istri saya ngajak ngobrol. Kami berdua ngobrol di rumah. Istri tanya ke saya, rumah tangga ini mau diapakan, kalau begini terus apakah tidak lebih baik kita pisah saja. Istri saya mengatakan bahwa sebenarnya sejak ketahuan dan mengaku itu sudah tidak berhubungan lagi dengan teman kantornya itu. Dia sungguh-sungguh sudah bertobat. Saya sendiri sebenarnya selingkuh juga tidak sampai satu bulan, karena hanya ingin balas dendam.
 
Istri saya mengatakan bahwa dia amat mencintai saya, dan berharap bisa memulai lagi dari awal hidup perkawinan ini. Saya juga sadar kalau saya juga amat mencintai istri saya dan hanya karena sakit hati sehingga saya berbuat seperti itu.
 
Selama sebulan pastor, kami tiap malam ngobrol bareng membuka diri dan jujur satu sama lain. Akhirnya kami menyadari bahwa selama ini kami terlalu sibuk mengejar ambisi kami masing-masing sehingga lupa untuk saling memperhatikan dan menyayangi sehingga terjadi perselingkuhan itu. Istri saya salah karena selingkuh dan saya juga salah karena kurang memberikan cinta sehingga menyebabkan istri selingkuh. Kami selama ini hidup rumah tangga tetapi cinta kami kurang mendalam dan rasanya seolah-olah saja.
 
Akhirnya kami sepakat memulai dari awal lagi rumah tangga kami. Persoalan rumah tangga ini kami anggap sebagai sekolah hidup, dan kami sekarang sudah naik kelas. Cinta kami lebih mendalam dan berjuang untuk semakin mendalam bukan biasa-biasa. Itulah pastor kenapa kami minta berkat cincin perkawinan lagi.” Suami menutup kisahnya.
 
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali aku terjebak dengan sesuatu yang rutin dan biasa-biasa, jelek sih tidak, tetapi baik juga tidak. Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan agar tidak suam-suam kuku: “Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas. Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan dikau dari mulutKu.”
 
Bagaimana dengan aku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 November 2020

Renungan Harian
Senin, 16 November 2020

Bacaan I : Why. 1: 1-4; 2: 1-5a
Injil    : Luk. 18: 35-43

Mengadili

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa umat yang lagi berkumpul di halaman gereja. Topik obrolan kami adalah adanya beberapa ustad yang mengaku bekas
imam. Sebetulnya pembicaraan bermula dari adanya berita seorang pendeta yang mengomentari berita tentang pendapat Sri Paus berkaitan dengan LGBT.
 
Pembicaraan menjadi seru karena kami masing-masing memberikan pendapat yang cenderung emosional. Pembicaraan cenderung emosional karena merasa bahwa gereja sudah dilecehkan oleh orang-orang itu. Ada kejengkelan dan kemarahan karena merasa orang-orang itu dibiarkan begitu saja memberitakan kebohongan. Pertanyaan yang dimunculkan adalah kenapa tidak ada upaya hukum melawan orang-orang itu.
 
Kami berpendapat bahwa orang-orang itu seharusnya mendapatkan hukuman yang berat agar menjadi efek jera. Kami membandingkan dengan orang-orang yang menghina agama tertentu dan dihukum berat. Dengan adanya hukuman yang memberi efek jera di kemudian hari tidak ada orang yang dengan mudah menyampaikan pendapat yang menghina Gereja.
 
Kami membubarkan diri dengan memegang pendapat dan harapan agar orang-orang itu dihukum berat. Kami berpikir andai punya kuasa untuk menjatuhkan hukuman pasti orang-orang itu sudah kami hukum seberat-beratnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan bahwa apa yang telah kami pikirkan adalah salah. Pemikiran dan pendapat emosional yang mengadili orang-orang yang kami anggap melecehkan Gereja tidak sepantasnya terjadi. Memang kami tidak berbuat sesuatu akan tetapi niat kami telah salah karena kehilangan kasih.
 
Sebagaimana umat di Efesus ditegur oleh Allah karena mereka membela Gereja di Efesus tetapi melupakan kasih. “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh. Bertobatlah dan lakukanlah apa yang kau lakukan semula.”
 
Betapa dalam kehidupanku sehari, ketika aku merasa benar, aku merasa berhak menghukum dia yang bersalah seturut kemauanku dan melupakan kasih.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.