Renungan Harian: 17 September 2021

Renungan Harian
Jumat, 17 September 2021

Bacaan I: 1Tim. 6: 2c-12
Injil: Luk. 8: 1-3

Menyesal

“Siapa yang tidak butuh uang? Setiap orang hidup pasti butuh uang; apalagi di zaman sekarang. Hampir semua orang tahu bahwa uang itu punya kekuasaan yang luar biasa. Dengan uang orang bisa membeli banyak hal, bahkan orang bisa membeli kedudukan dan kehormatan. Paham itu ku amini dan ku hidupi, maka satu hal yang ku perjuangkan dalam hidupku adalah mendapatkan uang sebanyak mungkin.
 
Banyak orang mengingatkan aku tentang pandanganku tentang uang yang dianggap salah, bahkan termasuk orang tuaku pun menegurku. Tetapi mereka tidak bisa mengalahkan segala argumenku tentang uang. Bapak pernah mengatakan:
“Untuk apa kamu bisa punya uang kalau akhirnya kamu tidak bahagia dan hidupmu tidak selamat.” Kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Kalau aku punya uang banyak, aku bisa memberi derma yang banyak, bisa menyantuni banyak orang, itu kan berarti aku mengumpulkan bekal ke akhirat.
 
Dengan kerja kerasku dengan segala akalku, aku sungguh-sungguh berhasil menjadi orang mempunyai uang lebih dari cukup. Rasanya uang itu datang begitu mudah, sehingga rasanya segala yang kuinginkan dapat kubeli. Dan benar, dengan aku punya banyak uang, aku punya banyak teman, aku bisa mendapatkan kedudukan dan mendapatkan tempat yang terhormat di masyarakat. Meski aku royal, tetapi aku tidak lupa untuk menabung dan berderma. Semua itu kuperhitungkan untuk masa tua nanti.
 
Tetapi, di saat aku sedang menikmati segala kesuksesanku, tiba-tiba aku mendapatkan vonis dokter yang menyatakan aku menderita penyakit kanker yang langka. Saat aku mendapatkan vonis itu, aku tidak terkejut dan aku tetap tenang tidak ada kekhawatiran sedikitpun dalam diriku. Aku berpikir, aku bisa berobat ke luar negeri mendapatkan dokter yang lebih hebat dan peralatan yang lebih canggih. Soal biaya aku tidak khawatir karena aku yakin dengan apa yang kumiliki.
 
Namun, ternyata, biaya operasi, obat-obatan dan perawatan lanjut membutuhkan biaya yang amat besar. Semua harta yang kukumpulkan hampir habis untuk biaya pengobatanku. Sekarang ini aku tinggal mempunyai sedikit tabungan yang kugunakan untuk kebutuhan hidupku sehari-hari. Aku sudah tidak mampu membeli obat-obatan lagi.
 
Sekarang ini, aku tinggal di rumah orang tuaku sendirian  seolah menunggu ajal menjemput. Semua teman dan segala yang bisa kubeli sekarang hilang entah kemana. Aku sekarang baru mengerti mengapa banyak orang mengingatkanku dan menentang pandanganku. Andai aku dahulu mendengarkan mereka, mungkin sekarang aku hidup tenang dengan keluarga meski aku menderita sakit. Minimal ada orang yang menyapaku atau sekedar teman untuk ngobrol atau mendengarkan keluhan sakitku,” seorang bapak berkisah saat aku mengunjungi untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit.
 
Benarlah yang dikatakan St. Paulus sejauh diwartakan dalam surat kepada Timotius: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Karena memburu uanglah, maka beberapa orang telah menyimpang dari iman, dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai penderitaan.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku melihat uang sebagai sarana dan bukan tujuan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 September 2021

Renungan Harian
16 September 2021
PW. St. Kornelius dan Siprianus

Bacaan I: 1Tim. 4: 12-16
Injil: Luk. 7: 36-50

Bertobat

“Sudah 10 tahun kami mengarungi bahtera perkawinan. Kami sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sehat dan ganteng. Anak kami bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kami bahagia dengan tumbuh kembangnya. Setiap kali bertemu dengan teman atau kerabat pertanyaannya yang disampaikan ke kami selalu sama: “kapan, si ganteng mendapat adik?.” Biasanya kami hanya tersenyum. Sebenarnya tidak ada masalah kesehatan bagi kami berdua untuk memiliki anak lagi, tetapi kami sudah memutuskan tidak ingin menambah anak lagi agar perhatian kami tercurah untuk anak kami. Ada alasan kuat bagi kami untuk tidak memiliki anak lagi.
 
Pada saat kami masih pacaran, karena kebodohan kami, maka saya hamil. Saat itu sungguh dunia ini seperti runtuh. Saya belum siap untuk punya bayi, dan saya juga tidak mungkin saat ini harus mengurus bayi. Maka saya bersama pacar saya yang sekarang menjadi suami saya sepakat untuk menggugurkan kandungan saya.  Saya sudah mendatangi beberapa dukun untuk menggugurkan juga sudah minum beberapa ramuan, ternyata bayi ini bandel tidak juga mau keluar. Akibatnya perut saya semakin membesar dan ketahuan oleh orang tua kami. Maka kami segera dinikahkan.
 
Setelah pernikahan kami amat khawatir dengan bayi dalam kandungan saya. Saya khawatir bayi saya menjadi cacat akibat ulah kami mau menggugurkan. Saat itu saya dan suami berjanji kalau bayi ini lahir apapun keadaanya kami akan merawat dengan sepenuh hati. Kami berharap kasih sayang yang kami curahkan kepada anak kami bisa menjadi silih atas perbuatan dosa yang pernah kami lakukan. Maka seluruh perhatian dan kasih sayang kami, kami curahkan pada anak kami ini, sejak masih dalam kandungan hingga sekarang. Itulah alasan kami untuk tidak mempunyai anak lagi,” sharing seorang ibu muda ditemani suaminya.
 
Pasangan suami istri itu menyadari kesalahannya dan memperbaiki dengan mencurahkan kasih sayangnya pada anak yang awalnya hendak digugurkan. Mereka berdua mencurahkan kasih sayangnya dengan berharap bisa menjadi silih atas segala kesalahan dan dosanya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku melakukan perbuatan silih atas dosa dan kesalahanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 September 2021

Renungan Harian
15 September 2021
PW. St. Perawan Maria Berdukacita

Bacaan I: Ibr. 5: 7-9
Injil: Yoh. 19: 25-27

Mati Rasa

“Romo, saya sudah tidak tahu lagi harus rasa hati ini; saya sudah mati rasa. Romo, tolong sampaikan pada Tuhan, tanyakan pada Tuhan apa salah saya, sehingga harus mengalami seperti ini. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya akan mengalami seperti ini. Dalam tiga hari berturut-turut saya telah kehilangan 3 orang yang saya cintai, suami dan dua orang anak saya. Romo, lihat, lihat saya harus menyaksikan 3 orang yang saya cintai ini terbaring dalam peti dan setiap hari harus mengantar ke krematorium. Romo, tolong sampaikan pada Tuhan, kalau Tuhan mencintai kami ambil saya sekalian. Saya sudah tidak tahan dan tidak mungkin untuk hidup sendiri. Sedih dan luka ini belum juga sembuh sudah harus terluka lagi. Bahkan lelah dan tidur pun belum sempat harus mengalami semua ini,” seorang ibu meratap saat mengantar putranya ke krematorium.
 
Saya tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana menghibur dan meneguhkan ibu itu. Terlalu berat beban yang harus ditanggungnya. Saya bisa merasakan betapa berat duka yang ditanggungnya kehilangan 3 orang yang dicintainya dalam 3 hari secara berurutan. Saya hanya diam mendengarkan dan dalam hati berdoa mohon penghiburan, kekuatan iman dan pengharapan bagi ibu tersebut.
 
Saya berpikir andai bisa protes dan demonstrasi ke Tuhan, saya akan ikut ibu itu untuk protes dan demo. Meski tidak tahu apa yang diminta; apakah keluarga yang meninggal dibangkitkan kembali atau bagaimana.  Tetapi satu hal yang ingin saya dengar adalah apa pernyataan Tuhan dengan semua peristiwa itu.

“Romo, apa daya saya hanya seorang ibu. Sejak awal menjadi ibu, hanya bisa diam dan mencoba mengerti semua dalam diam. Banyak yang tidak saya mengerti, banyak yang tidak bisa saya pahami dan tidak mungkin saya bertanya kecuali diam. Dan ternyata dalam diam saya diajar untuk mengerti. Kiranya sekarang saatnya juga saya harus diam biar Tuhan mengajar saya untuk mengerti,” ibu itu berkata mengejutkan lamunan saya.
 
“Itulah kekuatan seorang ibu, itulah cahaya terang seorang ibu, kemampuan untuk memahami dan mengerti dalam diam tanpa bertanya,” kata saya dalam hati.

Kiranya itu pula yang dilakukan bunda Maria, menyimpan segala perkara dalam hati, dan mengolahnya dalam terang ilahi. Sejak menjawab “ya” di awal perutusan hingga menjelang akhir perutusannya melihat Putranya tergantung di kayu salib, selalu berserah dan terbuka pada kehendak Tuhan. “Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku mengerti kehendak Tuhan dalam dukaku yang mendalam?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 14 September 2021

Renungan Harian
Selasa, 14 September 2021
Pesta Salib Suci

Bacaan I: Bil. 21: 4-9
Bacaan II: Flp. 2: 6-11
Injil: Yoh. 3: 13-17

Rekonsiliasi

“Romo, mohon maaf, kami minta tolong romo untuk menghubungi istri kakak saya. Sekarang, kakak saya sakit parah dan sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sekarang bicaranya sudah ngelantur, dan yang selalu disebut adalah nama istri dan anak-anaknya. Beberapa kali dia meminta kami untuk menghubungi istri dan anak-anaknya; keinginannya sebelum meninggal ingin minta maaf pada istri dan anak-anaknya. Kami sudah beberapa kali menghubungi tetapi ditolak dan akhir-akhir ini kami tidak bisa menghubungi lagi. Jadi mohon romo, kiranya romo bisa menghubungi istri kakak,” seorang ibu yang didampingi suaminya meminta tolong.
 
Saya agak keberatan untuk dimintai tolong, karena saya tahu persis bagaimana istri dan anak-anaknya punya trauma dan luka yang amat mendalam karena perilaku bapak itu. Tetapi dilain pihak saya juga akan merasa bersalah dan tidak pantas kalau menolak permintaan ibu itu.

“Ibu, bapak, sejujurnya saya amat keberatan untuk mengabulkan permintaan ibu. Saya amat khawatir kalau permintaan ini akan merobek luka yang mulai tertutup, dan itu pasti akan lebih menyakitkan. Ibu dan bapak tentu ingat peristiwa satu tahun yang lalu. Kejadiannya persis seperti sekarang. Ibu datang minta tolong, karena kakak sudah sakit parah ingin meminta maaf dengan istri dan anak-anaknya. Ibu ingat apa yang terjadi? Alih-alih minta maaf, kakak ibu justru melampiaskan emosi dan kemarahannya kepada istri dan anak-anaknya. Kakak ibu, dengan kata-kata kasar memaki dan mencela istri dan anak-anaknya; ia merasa diri sebagai orang yang benar dan harus dibenarkan. Maaf ibu, ibu adalah juga seorang perempuan, juga seorang istri dan ibu; ibu juga tahu persis kelakuan kakak ibu seperti apa jadi ibu pasti mengerti luka dan trauma yang dialami istri dan anak-anaknya,” jawab saya menanggapi permintaan ibu itu.
 
“Romo, kalau sekarang rasanya kakak saya tidak mungkin berlaku seperti dulu lagi untuk ngomong pun sekarang sudah amat lemah,” ibu itu mencoba meyakinkan saya.

“Baik ibu, saya akan menghubungi kakak ipar ibu, namun seandainya tidak mau, maka saya mohon maaf,” jawab saya.
 
“Romo, saya akan membawa anak-anak untuk menemui suami di rumah sakit,” jawab ibu, istri dari bapak yang sedang sakit. Saya amat terkejut dengan kesediaannya itu.

“Ibu yakin akan pergi ke sana? Dan ibu tidak apa-apa?” tanya saya meyakinkan.

“Betul romo, saya yakin. Memang perasaan yang muncul ada kekhawatiran, cemas dan takut mungkin ini rasanya di taman Getsemani. Kami siap kalau harus mengalami peristiwa seperti waktu itu. Kalau peristiwa  tahun lalu saya anggap salib maka kami siap untuk menanggung salib yang baru. Syukur-syukur salib yang saya pikul itu menjadi berkat dan bekal kehidupan kekal untuk suami saya,” ibu itu menegaskan.
 
“Luar biasa, iman ibu ini,” kata saya dalam hati. Kesediaan dan kerelaan ibu itu untuk bertemu dengan suaminya yang selama ini telah menggores-ngores luka dan ada kemungkinan menggores luka lebih dalam lagi; bagi saya adalah bentuk meninggikan salib Kristus dan mengalirkan rahmat salib. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes “Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku meninggikan salib Kristus?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 September 2021

Renungan Harian
13 September 2021
PW. S. Yohanes Krisostomus

Bacaan I: 1Tim. 2: 1-8
Injil: Luk. 7: 1-10

Menjadi Kudus

“Romo, apa yang salah dengan diri saya, semua orang di rumah saya menganggap saya sebagai orang gila. Saya tidak mengerti cara berpikir mereka. Setiap orang punya pilihan, dan setiap orang harus memilih yang terbaik untuk hidupnya. Pilihan yang terbaik itu bukan soal menjadi orang sukses, dengan ukuran adalah menjadi sarjana, punya pekerjaan mapan, punya gaji yang  tinggi dan hidup mewah. Itu bagi saya salah, ukuran yang mereka pakai adalah ukuran duniawi.
 
Romo, saya telah memutuskan untuk meninggalkan itu semua, dan saya telah memilih untuk mempersembahkan hidup saya sepenuhnya untuk Tuhan. Ukuran kesuksesan bagi saya adalah kalau saya menjadi orang kudus. Maka saya berjuang untuk menjadi orang kudus. Sekarang saya meninggalkan kuliah, meninggalkan dunia dengan mengisi hidup saya dengan berdoa, dan bermati raga karena saya mau menjadi orang kudus,” seorang anak muda bercerita tentang dirinya.
 
“Apa yang kamu lakukan setiap hari?” tanya saya memperjelas.

“Saya setiap hari berdoa, dari rosario, novena, jalan salib dan doa-doa yang lain romo,” jawabnya.

“Oh ok, lalu kamu tidak membantu orang di rumah?” tanya saya.

“Tidak romo, saya tidak punya waktu untuk itu lagi, untuk berdoa saja kurang,” jawabnya.

“Tetapi kamu tetap makan?” tanya saya.

“Saya tetap makan romo tetapi diantar ke kamar,” jawabnya.
 
“Pilihan kamu menjadi orang kudus itu benar dan baik. Namun cara yang ditempuh bukan dengan cara seperti itu. Kalau kamu mengasingkan diri dengan cara begitu berarti kamu melarikan diri dari sesuatu. Kamu seorang mahasiswa, maka perutusanmu dari Allah menjadi mahasiswa. Pergulatan mu sebagai mahasiswa, sebagai orang muda, sebagai anak dalam keluarga itulah panggilan dan perutusanmu yang menghantar pada kekudusan. Adanya tegangan-tegangan, adanya konflik-konflik, adanya tantangan dan kesulitan itulah ladang pengudusan dan juga sarana untuk mengolah imanmu.
 
Iman yang kuat, iman yang dewasa itu bertumbuh lewat pergulatan hidup. Cara kamu mengenal Tuhan dan mengenal cara Tuhan menuntunmu dalam pergulatan hidupmu itulah yang mendewasakan imanmu. Kekudusan adalah rahmat; rahmat yang harus dimohon dan diperjuangkan terus menerus dalam hidupmu sehari-hari yang bisa. Kalau sekarang kamu meninggalkan semua dan hidup dengan membaca banyak doa kiranya itu mengingkari panggilan dan perutusan mu saat ini. Sekali lagi, hadapi dan jalani semua pergulatan mu sebagai seorang mahasiswa, sebagai anak muda dan juga sebagai anak dalam keluarga. Karena disitulah imanmu didewasakan dan itulah jalan kekudusan yang sesungguhnya,” saya menjelaskan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, kisah seorang perwira yang dipuji Yesus menegaskan bahwa iman yang dewasa ditemukan dalam pergulatan hidup sehari-hari. “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku. Sebab itu aku juga merasa tidak pantas datang sendiri mendapatkan Tuan. Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku itu akan sembuh.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah imanku bertumbuh lewat pergulatan hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 September 2021

Renungan Harian
Minggu, 12 September 2021
Hari Minggu Biasa XXIV

Bacaan I: Yes. 50: 5-9a
Bacaan II: Yak. 2: 14-18
Injil: Mrk. 8: 27-35

Tidak Kenal

“Bapak setengah baya itu orang baru di kampung kami. Namun meskipun orang baru dan bukan asli dari kampung kami, bapak itu sudah amat kami kenal. Sejak  pertama kali pindah ke kampung kami, beliau memperkenalkan diri ke tetangga-tetangga; beliau selalu mau terlibat kegiatan di kampung kami. Bahkan beliau tidak segan untuk ikut ronda meski pada waktu itu belum dapat giliran. Sikapnya yang ramah dan terbuka membuat beliau cepat akrab dengan warga di kampung.
 
Tidak butuh waktu yang lama, bapak itu menjadi sosok yang dihormati di kampung kami. Beliau dalam pertemuan-pertemuan di kampung selalu mempunyai gagasan-gagasan yang baik untuk kemajuan kampung dan kemajuan orang-orang muda di kampung. Bukan hanya sekedar memberikan gagasan tetapi beliau mau turun tangan untuk mewujudkan gagasannya dan bahkan tidak jarang beliau menjadi donator terbesar untuk mewujudkan gagasannya. Beliau selalu dikenal sebagai orang dermawan di kampung. Entah sudah berapa banyak orang ditolong olehnya.
 
Kami, orang kampung menjadi semakin hormat, manakala kami mengetahui bahwa dia itu seorang pengusaha dengan banyak karyawan yang keluar masuk di rumahnya dengan mobil-mobil bagus. Kami tahu bahwa beliau seorang pedagang di kota, namun memilih tinggal di kampung kami. Bukan hanya tinggal di kampung kami tetapi sungguh melebur dengan warga kampung. Beliau menempatkan diri sedemikian sehingga seolah tidak berjarak dengan warga kampung, meski kalau dilihat dari sisi ekonomi dan pendidikan amat jauh jurangnya.
 
Saat ada pemilihan kepala kampung, kami warga kampung sepakat untuk memilih beliau menjadi kepala kampung kami. Kami sepakat tidak perlu pemilihan karena kami semua telah mufakat bulat memilih beliau menjadi kepala kampung. Namun  kami kecewa tetapi sekaligus semakin hormat, karena beliau menolak dengan alasan kesibukan dan mengusulkan ketua karang taruna dengan dukungan penuh dari beliau.
 
Pagi itu, seluruh kampung menjadi heboh karena di rumah bapak itu banyak polisi dengan membawa senjata lengkap dan kami melihat bapak itu diborgol dibawa masuk ke mobil polisi dan ada banyak barang yang diangkut dari rumahnya. Kami semua terkejut dan tidak percaya mendengar penjelasan bapak Babinsa bahwa bapak itu adalah seorang gembong narkoba. Orang kampung masih tak percaya dengan semua kejadian ini dan masih belum yakin kalau beliau adalah gembong narkoba,” seorang bapak berkisah.
 
Betapa sering kita salah mengenal dan mengerti seseorang karena melihat apa yang nampak. Bisa jadi yang nampak itu lebih baik dari sesungguhnya atau sebaliknya. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat sejauh mana aku mengenal Tuhan dalam pengalaman pergulatan hidupku. Pengenalanku secara pribadi bukan berdasarkan pendapat orang banyak. “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?”
 
Bagaimana dengan aku? Siapakah Tuhan menurut aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Acara Senin Kedua
Senin, 13 September 2021
Pukul 19:00 WIB (7 malam)

Kami mengajak Anda semua untuk ikut serta berbagi dan berdiskusi tentang Menemukan Tuhan dalam Segala, dengan fokus Dunia Pendidikan.

Kami mengundang dua narasumber, Drs. Wahyu Krisnanto, M.A. dan Ibu Magdalena Indria Dewi, untuk membagikan pengalaman mereka dalam dinamika belajar mengajar sehari-hari; yang dilandasi oleh Semangat Ignasian.

Zoom:
Meeting ID: 835 6616 3924
Passcode: clc

Tautan Zoom:
https://us02web.zoom.us/j/83566163924?pwd=QWRPcWY4bGloeUY0T0E5YWtDVitVQT09

CP: Putri

Acara ini terbuka untuk komunitas CLC, komunitas Ignatian lainnya, dan siapapun yang memiliki minat dengan cara hidup Ignatian. Oleh karena itu, kami minta tolong pada Anda untuk meneruskan informasi ini ke teman, rekan kerja, dan kenalan Anda. Terima kasih.

CLC di Yogyakarta

Salam Hangat.
AMDG

Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Teman2 CLC dan Non CLC Ytk.🌻

Pertemuan kelompok bulan September ini, kita akan lanjut dengan mendalami buku
the First Spiritual Exercises Michael Hansen SJ.

Adapun tema ke 3 dari pembahasan kita topiknya adalah :
Inner Peace in Friendship with Jesus.

Tema ini sangat penting dan menarik karena Yesus merupakan pusat hidup dan kerohanian kita (Rm. Dipo)

Silkan dicatat waktunya :
Hari : Minggu
Tanggal : 19 September
Waktu. : 10.00 – 12.00
Pembimbing : Rm. A. Sudiarja SJ

Mari teman, silakan bergabung dalam pertemuan ini.

Kita berproses bersama untuk makin mendalami LR St. Ignasius.

Silakan mengajak teman2 lain untuk join 🥰

Terima kasih 🙏🏻🔥
Salam AMDG 💐

Renungan Harian: 11 September 2021

Renungan Harian
Sabtu, 11 September 2021

Bacaan I: 1Tim. 1: 15-17
Injil: Luk. 6: 43-49

Tukang Gali

Beberapa waktu yang lalu, kami akan membuat septic tank untuk menampung air kotor limbah rumah tangga. Telah dirancang bahwa septic tank itu berukuran panjang 5m, lebar 2m dan kedalaman 2m. Setelah rancangan selesai kami mencari tukang gali tanah. Dari beberapa tawaran akhirnya kami memutuskan seseorang yang sanggup menggali tanah sesuai ukuran dengan upah yang telah disepakati.
 
Esok hari setelah kesepakatan itu datang seorang tukang gali yang mulai mengerjakan. Melihat bahwa dia sendirian sebenarnya kami agak heran, betapa akan berat pekerjaannya itu dilakukan sendirian. Namun menurut tukang itu, dia bisa mengerjakan sendirian. Disamping itu dengan mengerjakan sendirian, seluruh upah berdasarkan kesepakatan itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak harus berbagi dengan orang lain.
 
Setelah 3 hari bekerja, tukang itu menyatakan bahwa pekerjaannya sudah selesai dan dia meminta sisa upah yang belum dibayarkan. Kami agak terkejut bahwa dia bisa menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat. Saat kami melihat apa yang sudah dikerjakan, kami terkejut dengan hasilnya. Ternyata tukang gali itu menggali tidak seperti ukuran yang disepakati. Panjang tidak sampai 5m, lebar hanya 1,5 m dan kedalaman hanya 90 cm. Tentu saja kami mengatakan bahwa pekerjaan itu belum selesai. Tukang gali itu mengatakan bahwa pekerjaan sudah selesai, maka kami bersama tukang itu mengukur hasil pekerjaannya. Dan memang tidak seperti kesepakatan yang sudah ada.
 
Tukang gali itu mengatakan bahwa tanahnya keras, di sana sulit ada ini dan itu, pokoknya banyak alasan. Dia tidak mau melanjutkan pekerjaannya tetapi meminta semua upah hasil kesepakatan. Tentu saja kami menolak, dan tetap meminta tukang gali itu untuk menyelesaikannya. Kami meminta dia untuk mencari teman untuk membantu dan kami yang akan membayarnya. Setelah pembicaraan yang alot akhirnya dia mau meneruskan pekerjaannya.
 
Dalam pembicaraan yang alot itu saya menangkap bahwa tukang gali itu hanya melihat besarnya upah yang akan didapatkan, tanpa berpikir bagaimana kerja keras yang akan dijalani. Maka yang terjadi dia tidak berpikir panjang, pokoknya mendapatkan upah yang besar hanya untuk dirinya sendiri.
 
Demikian juga dalam kehidupan sering orang terjebak dengan memikirkan hasilnya tanpa memikirkan proses yang harus dijalani. Akibatnya sering menjadi asal-asalan pokoknya mendapatkan hasil. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, lewat perumpamaan Yesus menegaskan pentingnya orang menjalani proses meski harus dengan kerja keras. Proses yang disertai kerja keras akan menghasilkan buah baik dan luar biasa. Peziarahan hidup menuju Allah adalah proses yang harus dijalani dengan kerja keras agar tidak mudah goyah dan tersesat. Menjalani proses yang benar diumpamakan dengan orang yang mendirikan rumah di atas batu. Butuh kerja keras luar biasa namun rumah menjadi kokoh dan kuat.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku orang yang mau berproses dengan baik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 September 2021

Renungan Harian
Jum’at, 10 September 2021

Bacaan I: 1Tim. 1:  1-2. 12-14
Injil: Luk. 6: 39-42

Dipermalukan

Pada sebuah pertemuan orang tua calon komuni pertama, saya diminta untuk berbicara tentang membangun keluarga katolik yang baik. Harapan yang diminta, saya menjelaskan bagaimana tentang pendidikan anak, agar para orang tua dapat mendampingi putra-putrinya dengan baik. Mengingat keterbatasan saya maka saya meminta pasangan suami istri yang sudah senior dan kami kenal sebagai pasangan yang baik bisa dijadikan panutan untuk sharing tentang pengalaman pola asuh dalam keluarganya.
 
“ Bapak ibu dan saudara-saudari yang terkasih, sebenarnya saya tidak pantas untuk berbicara di depan bapak ibu dan saudara-saudari sekalian. Kalau sekarang ini keluarga saya nampak rukun, baik dan menurut romo bisa jadi contoh sebenarnya masih terlalu jauh. Kami masih berjuang dan bergulat untuk selalu menata keluarga kami. Kami, terutama saya, mulai berubah dan menjadikan keluarga seperti yang romo lihat rasanya belum sampai 10 tahun. Kalau saya melihat keluarga kami tahun-tahun sebelumnya bisa dikatakan keluarga amburadul.
 
Saya selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, dan menikmati hobi saya bersama teman. Pulang ke rumah saya selalu menuntut keadaan rumah beres. Rumah beres, anak-anak beres pokoknya semua harus baik. Maka tidak pernah ada hari saya tidak marah, baik dengan istri maupun dengan anak-anak. Tidak jarang karena saya marah-marah kemudian menjadi pertengkaran dengan istri. Apa yang muncul dari diri saya adalah tuntutan-tuntutan agar semua baik, semua sempurna. Saya mendidik dengan keras anak-anak saya, dan semua harus nurut tidak bisa dibantah.
 
Suatu hari, anak saya yang paling besar pulang dari kuliah sudah malam seingat saya jam 10 an. Melihat anak saya pulang malam, saya langsung marah dengan kata-kata kasar, dan juga menyalahkan istri yang tidak bisa mendidik anak. Tanpa saya duga dan tidak pernah muncul dalam benak saya anak saya melawan. Dia menunjukkan “data-data” tentang perilaku saya yang tidak bisa dicontoh. Dia menunjukkan betapa saya selalu menuntut dan menuntut; menyalahkan dan menyalahkan tetapi sebenarnya saya jauh lebih brengsek dari apa yang saya salahkan. Anak saya sampai mengatakan: “ Pa, ngaca, ngaca. Cari kaca yang bersih untuk ngaca biar papa tahu, seperti apa papa itu. Papa tahu nggak, papa itu orang yang melihat semut di seberang lautan dan mengamat-mengamati terus tetapi gajah dipelupuk mata papa sendiri, papa tidak melihat.”
 
Saya terkejut dan shock, sampai saya hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa mau melawan sudah tidak berdaya karena semua yang dikatakan anak saya itu benar. Saya lalu masuk kamar dan diam. Semalaman saya sungguh-sungguh tidak bisa tidur, saya merasa malu dengan diri saya. Saya telah merendahkan diri saya sendiri. Saya telah dilempar ke dasar kesadaran diri saya oleh anak saya sendiri. Esok pagi, saya datang ke kamar anak saya satu persatu dan saya meminta maaf kepada mereka  dan mengajak mereka untuk memperbaiki situasi di rumah ini. Demikian pula saya meminta maaf pada istri saya dan mengajak dia untuk kembali dari awal dan saya berjanji untuk berubah,” bapak itu mengakhiri sharingnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan agar berani untuk selalu mawas diri dan tidak mudah untuk menyalahkan orang lain. Teladan hidup adalah nasehat yang paling baik. “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kau ketahui?”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku lebih mudah mawas diri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.