Kegiatan CLC DI SURABAYA

Karya adalah panggilan hati. Berkarya pada dasarnya terlibat aktif dlm pergulatan kehidupan di dunia. Dibutuhkan belajar mengolah diri utk mengetahui apakah kita telah berkarya dg baik dan memberikan manfaat bagi sekeliling kita?

Mari hadiri Rekoleksi Masa Pra Paskah utk belajar sejenak mengolah hati dan pikiran mengetahui apakah karya2 kita telah benar2 sesuai dg kehendak Allah. Pendaftaran utk mengikuti acara melalui: http://bit.ly/Rekoleksi_Spiritualitas_Ignatian

Renungan Harian: 23 Februari 2021

Renungan Harian
Selasa, 23 Februari 2021

Bacaan I :  Yes. 55: 10-11
I n j i l : Mat. 6: 7-15

Luka Batin

Ibu itu duduk di bangku baris hampir belakang di rumah duka tempat mantan suaminya terbaring dalam peti jenazah. Sedang di baris depan nampak perempuan dengan seorang anak kecil dan beberapa anak yang sudah besar; menurut ceritanya itu adalah “istri” dan “anak-anak” bapak itu. Itupun entah perempuan yang keberapa hasil selingkuhan almarhum.
 
Ibu itu di baris belakang memeluk ketiga putra-putrinya untuk menenangkan mereka. Anak-anaknya menangis kira saya bukan pertama-tama karena kehilangan bapaknya tetapi karena mendengarkan kemarahan Omanya. Oma itu di tengah pelayat marah ke ketiga anak itu dengan suara keras: “Kalian itu anak-anak durhaka, kalian tidak menghormati papa kalian, padahal dia selalu mencintai kalian. Kalian tidak tahu balas budi, dasar anak durhaka.”
 
Sementara banyak orang tahu bahwa anak itu mengalami luka batin yang amat mendalam karena ulah papanya. Berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana mamanya dihina oleh selingkuhan papanya yang datang ke rumah mereka untuk minta uang hasil jualan di toko, padahal yang bekerja di toko adalah mamanya. Anak-anak itu menyaksikan bagaimana mereka diusir oleh keluarga papanya ketika orang tua mereka berpisah, padahal rumah itu adalah hasil kerja keras mamanya. Dan masih banyak lagi peristiwa yang diketahui oleh para kerabat dan teman-temannya.
 
Saya duduk di belakang ibu dan putra-putrinya, mendengar bagaimana ibu itu menenangkan anak-anaknya. “Sudah kalian diem, dengarkan saja dan ditelan. Tidak usah melawan dan juga tidak usah membenarkan diri, karena semakin kamu membenarkan diri hanya akan semakin menyakitkan. Satu hal yang penting, kalian harus selalu berdoa untuk papa meski kalian belum bisa mengampuni dan masih dendam dengan papa.”
 
Tanpa terasa saya menitikkan air mata, saya bisa merasakan betapa sakit yang dialami oleh ibu dan anak-anaknya. Saya membayangkan andai saya dalam posisi ibu dan anak-anak itu, akankah aku bisa memberikan penghormatan dan cinta pada papanya? Pertanyaan besar bagaimana cara agar saya mampu mengampuni dan menghilangkan dendam? Bahkan mungkin nasehat agar aku mendoakan tak bisa dilakukan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Tuhan mengajarkan berdoa Bapa Kami. Salah satu bagian berbunyi: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Dalam situasi seperti yang dialami oleh ibu dan anak-anaknya, akankah mampu melakukannya? Mohon ampun dengan syarat mengampuni yang bersalah kepadanya. Entahlah, namun kiranya nasehat ibu kepada anak-anaknya untuk selalu mendoakan papanya adalah cara yang paling mungkin untuk dilakukan meski itu pun amat sulit.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mudah mendoakan doa Bapa Kami?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Februari 2021

Renungan Harian
Senin, 22 Februari 2021
Pesta Takhta St. Petrus Rasul

Bacaan I :  1Ptr. 5: 1-4
I n j i l : Mat. 16: 13-19

Pelayan

Rasanya aku baru terlelap ketika hp ku berdering. Aku mencoba mengabaikan dering hp itu, tetapi dering itu terus berulang-ulang, maka dengan agak jengkel aku membuka mata dan mengangkat hp. Saat aku lihat aku tidak kenal dengan nomor kontak yang menghubungiku, setelah aku sapa, di seberang sana ada seorang ibu yang meminta sakramen pengurapan orang sakit untuk suaminya yang sedang sakit; beliau berharap aku segera datang. Jam di hp ku menunjuk pukul 01.30 am, aku dengan malas dan agak sedikit kesal bangun dan bersiap untuk pergi.
 
Dengan mengenakan jas hujan aku menembus hujan dan dinginnya udara dini hari itu. Aku segera menuju ke rumah umat yang akan menerima sakramen pengurapan orang sakit. Sesampai di depan rumah ibu itu, aku memencet bel berkali-kali tetapi tidak ada tanda-tanda dibukakan pintu. Aku mencoba mengetok-ngetok pintu pagar tetapi tetap tidak ada tanggapan. Aku menelpon berulang-ulang juga tidak diangkat. Di bawah guyuran hujan, sudah lebih dari 30 menit aku berjuang untuk bisa masuk ke rumah itu. Untunglah kemudian ada hansip yang sedang berpatroli, yang membantu saya, dia melompat pagar yang cukup tinggi itu, tidak lama kemudian, seorang ibu membukakan pintu pagar  dan mempersilakan saya masuk.
 
“Maaf, romo, maaf, saya tertidur sewaktu menunggu romo,” ibu itu menyapaku. Setelah aku masuk, seorang bapak keluar dari kamar, dengan wajah masih mengantuk berat, tetapi tidak menampakkan tanda-tanda sakit. “Bapak sakit apa? Apa yang bapak rasakan?” tanyaku menyapa bapak itu setelah beliau duduk. “Romo, saya hanya masuk angin, saya tidak apa-apa. Saya terkejut tadi dibangunkan istri saya, dan mengatakan kalau romo datang mau memberi perminyakan. Saya bingung,  kenapa saya harus mendapatkan sakramen perminyakan?” jawab bapak itu.
 
“Maaf romo, merepotkan, saya takut kalau bapak kenapa-kenapa, karena mulai dari siang selalu ngomong soal kalau nanti meninggal saya harus begini dan begitu. Saya jadi kepikiran terus maka tadi saya minta romo datang.” Ibu itu menjelaskan.
 
Rasanya pengen marah mendengar apa yang dikatakan bapak dan ibu itu.  Mengapa ibu itu tidak menelpon nanti setelah agak siang? Mengapa juga jam 01.30 dini hari meminta saya datang segera dan ternyata suaminya hanya masuk angin.
 
Dalam perjalanan pulang, saya menimbang-nimbang, kenapa saya harus marah? Bukankah itu bagian dari tugas pelayanan. Mengapa aku melihat peristiwa itu hanya dari sisiku dimana aku dibangunkan dini hari dan harus berhujan-hujan pergi ke rumah ibu itu? Mengapa aku tidak melihat dan merasakan kekhawatiran ibu itu yang melihat suaminya tidak sehat dan sedari siang bicara soal kematian? Bukankah ibu itu ingin memberikan bekal terakhir yang mulia untuk suaminya?
 
Aku menjadi sadar, aku belum bisa menjadi pelayan yang baik, betapa sering aku bersungut-sungut dan mengeluh dalam menjalani perutusan ini. Aku masih jauh dari harapan sebagai seorang gembala yang baik. Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam surat St. Petrus: “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan terpaksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Februari 2021

Renungan Harian
Minggu, 21 Februari 2021
Minggu Prapaskah I

Bacaan I    :  Kej. 9: 8-15
Bacaan II : 1Ptr. 3: 18-22
I n j i l : Mrk. 1: 12-15

Pelangi

Dulu waktu masih SMP saya menderita sakit hepatitis. Akibat dari sakit itu saya tidak boleh makan yang mengandung minyak, sehingga semua makanan direbus atau dibakar; saya tidak boleh kecapekan dan banyak lagi aturan yang dibuat sehingga membuat semua menjadi terbatas. Sebelum sakit, saya sudah mendapatkan pembatasan untuk makanan dan buah-buah tertentu, sekarang dengan sakit ini membuat semakin banyak hal yang dibatasi.
 
Sementara saya dibatasi dengan banyak hal tidak demikian dengan adik-adik, mereka lebih bebas untuk bergerak dan makan makanan maupun buah-buahan. Situasi itu membuat saya sering kali protes dan marah ke orang tua; mengapa mereka boleh sedang saya tidak boleh. Bapak, ibu selalu berjuang untuk menghibur saya, misalkan adik-adik makan nasi goreng atau sesuatu yang digoreng, maka ibu akan menyodorkan makanan itu untuk dicium saja menurut ibu itu cukup gak perlu makan itu dan saya mendapatkan makanan yang lain.
 
Belum lagi melihat teman-teman main bola sambil hujan-hujanan, betapa menyenangkan seandainya bisa bergabung. Pernah suatu ketika saya mencuri-curi ikut main bola sambil hujan-hujanan, ibu menjadi marah dan panik sehingga harus repot melakukan berbagai macam hal untuk membuat saya menjadi sehat.
 
Saya ingat nasehat bapak yang selalu diulang-ulang ketika saya protes dengan keadaan saya. “Mas, pembatasan ini hanya sementara, nanti kalau sudah sehat  mas Iwan boleh makan apa saja dan boleh olah raga dan hujan-hujanan. Mau seharian olah raga dan hujan-hujanan juga boleh. Apa yang sekarang ada diterima dan dijalani dengan ikhlas tidak boleh menggerutu. Itulah hidup, ada kalanya menderita luar biasa, tidak bisa ini tidak bisa itu semua akan bertanya sampai kapan? Tidak ada yang tahu sampai kapan, yang penting dijalani dengan ikhlas tidak boleh menggerutu saatnya pasti tiba bahwa semua itu berubah. Tuhan tidak pernah memberi beban yang lebih dari kekuatan dan kesanggupan kita untuk memikulnya.”
Saya tidak ingat persis apakah pada waktu itu nasehat itu membuat saya lebih tenang atau tidak.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, Allah berjanji bahwa Ia tidak akan menghukum dengan memusnahkan manusia lagi. Di balik petaka pada zaman Nuh, Allah justru memperbaharui ciptaanNya dan ciptaan baru itu dijaga dan dipelihara oleh Allah dijamin kelangsungan dan kesejahteraannya. “Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjianKu yang telah Kuadakan dengan kamu dan dengan segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku menghadapi derita dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Februari 2021

Renungan Harian
Sabtu, 20 Februari 2021

Bacaan I :  Yes. 58: 9b-14
I n j i l : Luk. 5: 27-32

S e h a t

Bapak tua itu setiap sore selalu duduk-duduk di halaman Gereja. Entah di situ ada teman-temannya atau tidak, dia selalu ada disitu. Dia duduk menikmati kopi yang ia bawa dalam termos dan merokok. Setiap isapan rokok dan hembusannya nampak selalu dia nikmati. Kehadirannya menjadi khas, karena dia selalu batuk-batuk, sehingga meski tidak melihat orangnya, semua orang sudah tahu bahwa ada bapak tua di halaman gereja.
 
Bapak itu berperawakan tinggi, kurus tapi kekar. Dia mempunyai toko kelontong di kota itu yang cukup dikenal. Sedari subuh dia sudah membuka tokonya melayani pedagang-pedagang yang “kulakan” di tokonya. Sore jam 4, dia sudah tutup toko dan duduk-duduk di halaman gereja.
 
Beberapa temannya yang sering ikut nongkrong selalu menyarankan agar bapak itu periksa ke dokter, mengingat bapak itu sering batuk-batuk dan seringkali setelah batuk-batuk seperti kesulitan untuk bernafas. Di samping itu bapak itu juga sering mengeluh kalau badannya pegal-pegal terutama di pundak dan leher. Tetapi bapak itu bergeming, semua saran teman-teman selalu dianggap angin lalu. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya sehat, bahkan dengan bangga mengatakan sejak kecil belum pernah masuk rumah sakit. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya akan sembuh pegal-pegalnya bila dikerok.
Lama-lama teman-temannya tidak lagi mengingatkan mungkin karena sudah bosan atau karena merasa tidak berguna; meski teman-temannya merasa prihatin dengan kesehatannya.
 
Malam itu saya dikejutkan berita bahwa bapak tua itu telah dipanggil Tuhan. Saya terkejut karena sore hari saya masih melihat dia menikmati kopi dan rokoknya di halaman gereja. Ternyata berita tentang kematiannya mengejutkan banyak temannya terutama yang sore hari tadi ikut ngobrol di halaman gereja.
 
Ketika saya melayat ke rumah duka, teman-teman menyesalkan sikap bapak tua itu. Seandainya dia mau mendengarkan saran teman-teman untuk ke dokter mungkin dia belum meninggal. Tetapi sayang dia selalu merasa sehat. Teman-teman berkomentar betapa bahaya orang yang merasa sehat karena bisa jadi badanya tidak sesehat yang dia pikir atau barangkali dia menutupi keadaan dirinya yang sesungguhnya.
 
Mengingat peristiwa itu, saya jadi sadar tentang keadaan diriku, ternyata aku pun juga berlaku seperti bapak tua itu terhadap jiwaku. Aku selalu merasa bahwa aku baik-baik saja. Merasa tidak melakukan dosa besar, merasa selalu bertindak benar dan yang lebih konyol adalah selalu merasa lebih baik dibanding dengan orang lain. Akibatnya saya merasa tidak perlu bertobat, pun kalau bertobat karena memang sudah menjadi kewajibanku bukan karena aku membutuhkan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang-orang yang selalu merasa sehat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 Februari 2021

Renungan Harian
Jumat, 19 Februari 2021

Bacaan I  :  Yes. 58: 1-9a
I n j i l : Mat. 9: 14-15

P u a s a

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang makan oleh beberapa teman di sebuah rumah makan. Hari itu kami makan bersama seperti reuni dengan teman-teman kerja saya dahulu. Kami menikmati makan malam sambil ngobrol “ngalor ngidul”, bercanda dan tertawa lepas bersama. Malam itu sungguh malam “melepas” obrolan yang sudah lama tidak kami nikmati.
 
Di tengah obrolan itu, salah seorang teman bertanya:
“Eh, ngomong-ngomong kalian puasa tidak?” Hari itu adalah masa prapaskah.
“Puasa, cuma hanya tiap hari Jum’at saja,” jawab seorang teman.
“Sama, saya juga seperti dia,” jawab teman lain.
“Wah parah nih kalian, masa puasa hanya tiap hari Jum’at,” teman yang bertanya tadi menimpali.
“sudah beberapa tahun, saya selalu puasa 40 hari, mulai Rabu Abu sampai nanti Jum’at Agung,” teman itu menegaskan.
 
“Wah keren, emang beda kalau orang saleh dengan kami-kami orang berdosa ini,” sahut salah seorang teman sambil tertawa.
“lho, kalau kamu puasa 40 hari kapan? saya sering melihat kamu makan di luar?” tanya seorang teman.
“Iya, tetapi makan malam. Saya sehari hanya makan sekali, makan malam saja. Sepanjang hari saya tidak makan dan minum, sampai nanti matahari terbenam,” teman saya menerangkan.
“lalu kenapa juga malah makan di luar?” tanya seorang teman lagi.
“Habis bagaimana ya, orang rumah itu tidak mau tahu kalau saya sedang puasa. Istri menyediakan makanan di rumah itu seperti hari-hari biasa, tidak ada perubahan. Maksud saya, berubahlah menyediakan makanannya, ada yang berbeda, kan dia tahu kalau saya sedang puasa. Beberapa kali saya ngomong tetapi ujungnya malah ribut soal makanan. Dari pada ribut di rumah mending saya makan di luar,” jawab teman saya.
 
“Dab, dab (mas) kalau seperti itu mending kamu gak usah puasa. Ngapain juga kamu puasa kalau malah lebih boros dan menyia-nyiakan masakan istrimu. Lebih baik kamu tidak puasa tetapi selalu makan di rumah dan mensyukuri makanan yang disediakan istrimu. Menurut saya itu sudah bentuk puasa. Dab, dab kamu puasa 40 hari tetapi selama 40 hari kamu bikin kesel istrimu untuk apa?” salah seorang teman komentar, dan kami tertawa.
 
“Eh, setan-setan, kalian tidak puasa tetapi malah mengkhotbahi orang yang puasa. Kalian jalani puasa dulu seperti saya baru kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan. Dasar setan-setan bisanya cuma mengganggu,” jawab teman saya.
“Namanya juga setan, jadi tugas kami memang mengganggu, kalau untuk mengganggu harus puasa dulu ngapain kami jadi setan,” jawab teman lain, yang ditanggapi dengan tawa terbahak kami semua.
 
Kiranya benar apa yang dikatakan teman saya, meski karenanya kami disebut setan. Puasa sesuatu yang baik dan luhur, tetapi kalau dengan puasa membuat orang lain bahkan istri sendiri menjadi sakit hati dan kesal menjadikan makna puasa hilang. Maka benar kata teman saya lebih baik tidak berpuasa tetapi membuat orang lain menjadi damai dan merasa dicintai.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan nabi Yesaya yang mengkritik cara puasa orang-orang Yahudi: “Berpuasa yang Kukehendaki ialah: engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri”.
 
Bagaiman dengan aku? Bentuk puasa seperti apa yang aku jalani?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 Februari 2021

Renungan Harian
Kamis, 18 Februari 2021

Bacaan I :  Ul. 30: 15-20
I n j i l : Luk. 9: 22-25

Transmigran

Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke salah satu keluarga transmigran dari Jawa yang menurut saya berhasil. Saya sebut berhasil karena keluarga itu sekarang memiliki tanah pertanian yang luas, dua kali dari yang dulu diterimanya hasil membeli tanah di tempat trans; tanah pertanian dikelola dengan baik bahkan waktu itu sudah menggunakan traktor milik sendiri; memiliki peternakan sapi dan kambing; sekarang menempati rumah permanen yang bagus, untuk di wilayah itu membangun rumah seperti itu bisa menghabiskan dana lebih 1 milyar; bisa menyekolahkan putra-putrinya hingga sarjana di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa.
 
Dalam perjumpaan itu beliau bercerita awal mula ikut program transimigrasi.
“Romo, saya lahir dari keluarga petani, dan kemudian saya menjadi petani, tetapi lebih tepatnya menjadi buruh tani. Waktu itu, saya hanya punya sawah warisan orang tua yang tidak seberapa; untuk menghidupi keluarga sudah pasti tidak akan cukup, maka saya menjadi buruh tani untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
 
Waktu itu ada tawaran ikut transmigrasi ke tempat ini,  tawaran yang menarik karena akan mendapatkan rumah dan tanah garapan. Satu sisi saya tertarik untuk memiliki tanah yang cukup untuk menghidupi keluarga tetapi di sisi lain saya juga takut harus pergi amat jauh ke tempat yang tidak pernah saya bayangkan. Orang tua melarang saya pergi, karena menurut mereka untuk apa pergi jauh, disini walau serba kekurangan tetapi bisa kumpul dengan sanak saudara, lebih hangat.
 
Dalam kebimbangan itu saya “sowan” ke romo paroki mohon saran dan terang untuk mengambil keputusan. Romo paroki saya, waktu itu romo Belanda “ngendiko”: “ Semua tergantung dengan kamu sendiri. Ini ada tawaran yang bagus untuk meningkatkan kesejahteraan hidupmu dan keluargamu. Semua belum jelas maka satu hal yang penting adalah kesanggupanmu untuk hidup prihatin (berani menderita) dan bekerja keras. Menurut saya, itu tanah terjanji bagimu kalau kamu yakin dan sanggup berangkatlah Tuhan pasti memberikan berkatNya dengan melimpah.
 
Takut dan khawatir itu pasti ada dan bahwa rasa itu ada penting, agar kita tidak menjadi “sembrono dan grusa-grusu” (terlalu yakin). Kalau kamu meminta pendapat saya, saya menyarankan pergilah, tetapi syaratnya berani menderita dan mau kerja keras, hasilnya akan dinikmati anak-anak dan cucu-cucumu nanti.
 
Jadi kalau kamu yakin, sanggup dan berani, kamu menyongsong masa depanmu yang lebih baik tetapi kalau kamu tidak yakin, tidak sanggup dan tidak berani berarti kamu akan seperti ini terus dan semakin sulit nantinya.”
 
Berbekal nasehat romo itu, saya mantap untuk mendaftar dan berangkat.
 
Pertama datang ke tempat ini, kami menangis dan rasanya pengen pulang saja. Tetapi ingat pesan romo paroki, untuk mengubah hidup, mengubah masa depan, saya harus mau menderita dan kerja keras. Maka saya dan istri segera memantapkan hati untuk kerja keras. Ini saatnya saya mengubah nasib. Saya siap menderita dengan kerja keras demi masa depan yang lebih baik, masa depan yang lebih sejahtera. Saya tidak boleh menunda untuk kerja keras meski menderita, kalau tidak sekarang, saya tidak akan berhasil, saya yakin rahmat Tuhan cukup untuk kami.
 
Itu romo, tahun- tahun pertama yang penuh  derita kami alami, dan syukur pada Allah, Tuhan sungguh-sungguh melimpahkan berkatNya sehingga kami bisa seperti ini. Benar kata romo paroki, ini tanah terjanji bagi saya, saya bisa mengubah nasib hidup kami.”
 
Perubahan hidup ditempuh dengan kerja keras, kesediaan dan kesanggupan untuk menderita. Perubahan hidup tidak begitu saja jatuh dari langit dan tidak hanya menunggu. Setiap usaha perubahan hidup selalu dihadapkan pada pilihan mau atau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, berani atau tidak berani untuk berjuang dan menderita.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Ulangan, Allah menawarkan berkat atau kutuk, hidup atau mati. Kalau mau memilih Allah dengan konsekuensi berjuang penuh penderitaan yang menghantar kepada hidup atau memilih yang lain yang mungkin lebih nyaman tetapi menghantar pada kematian.
“Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati, baik engkau maupun keturunanmu, yaitu dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suaraNya dan berpaut padaNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang kupilih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Februari 2021

Renungan Harian
Rabu, 17 Februari 2021
Hari Rabu Abu

Bacaan I  :  Yl. 2: 12-18
Bacaan II : 2Kor. 5: 20-6: 2
I n j i l : Mat. 6: 1-6. 16-18

Topo Pepe

Beberapa tahun yang lalu di sebuah media diberitakan ratusan buruh dari berbagai aliansi di Yogyakarta melakukan “topo pepe” di alun-alun utara Yogyakarta. Para buruh melakukan unjuk rasa karena tidak setuju dengan rencana pemerintah Daerah Istimewa menaikkan Upah Minimum Kabupaten yang hanya berkisar 8,25 persen yang dirasa terlalu kecil.
 
Para buruh melakukan “topo pepe” berharap kebijakan Sultan Yogya atas kecilnya kenaikan Upah Minimum Kabupaten. Para buruh berpendapat ada yang mungkin tidak bisa dilakukan Sultan Yogya sebagai Gubernur DIY karena terbatas secara administratif tetapi sebagai Raja dapat melakukan seturut kebijakan seorang Raja.
 
“Topo pepe” adalah suatu tradisi lama di Jawa ketika rakyat melakukan unjuk rasa. Kata unjuk rasa lebih tepat menunjuk “topo pepe” dari pada demonstrasi, karena unjuk rasa berarti menunjukkan, mengungkapkan rasa, kegelisahan. “Topo pepe” adalah kegiatan unjuk rasa mohon keadilan raja dengan cara duduk diam, berjemur menghadap tahta kerajaan. “Topo berarti bermeditasi dengan bermati raga sedangkan “pepe” berarti berjemur maka “topo pepe” berarti bermeditasi dengan bermatiraga berjemur memohon kebijaksanaan raja atas ketidak adilan yang dialami oleh warga.
 
Dalam tradisi, rakyat yang mengadakan “topo pepe” akan melakukannya sampai raja menyapa mereka. Dalam tradisi raja akan menyapa mereka dan menanyakan apa yang diharapkan oleh rakyat dengan mengadakan “topo pepe” itu.
 
Mulai hari ini, umat katolik memulai hari-hari puasa dan pantang. Masa puasa dan pantang adalah masa  dimana umat katolik seperti melakukan “topo pepe” bermeditasi dan bermati raga (meski tidak berjemur)  mohon belas kasih Sang Raja Agung, Allah yang penuh kerahiman. Bermeditasi melihat diri sendiri (introspeksi), menyadari keadaan diri sendiri yang selama ini cenderung mencari diri sendiri dan menjauh dari Allah.
 
Sekarang “topo pepe” kembali kepada Allah mohon belas kasihNya, agar berkenan mengampuni segala kesalahan dan dosa; serta berharap agar berkat belas kasih dan kerahimanNya, Allah Sang Raja Agung berkenan menerimanya kembali. Selama 40 hari melakukan “topo” mengolah diri agar layak diterima kembali sebagai bagian dari anak-anakNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yoel: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukumanNya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal”.
 
Bagaimana dengan aku? Akankah aku mau memasuki hari-hari penuh rahmat ini dengan “topo”?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Februari 2021

Renungan Harian
Selasa, 16 Februari 2021

Bacaan I :  Kej. 6: 5-8; 7: 1-5.10
I n j i l : Mrk. 8: 14-21

Berkah Merapi

Beberapa minggu yang lalu Gunung Merapi, di Jawa Tengah mengeluarkan letusan kecil yang menyebabkan banyak orang mengungsi untuk menyelamat diri dari bahaya letusan. Sudah beberapa kali Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda bahaya.
 
Bagi penduduk di sekitar Gunung Merapi, bahaya letusan Gunung Merapi amat disadari dan dimengerti. Apalagi beberapa tahun lalu letusan Gunung Merapi menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda. Penderitaan hidup di pengungsian sepertinya sudah menjadi “makanan” yang setiap kali harus dikunyah.
 
Meski demikian bagi penduduk di sekitar Merapi selalu melihat berkah di balik bencana letusannya. Gunung Merapi yang memuntahkan lahar panas yang bisa menghanguskan apapun yang diterjangnya dan juga lahar  dingin yang menggulung semua yang dilewatinya pada saat yang sama mengalirkan berkah bagi alam di sekitarnya.
 
Saat bencana besar  beberapa tahun lalu, banyak wilayah di sekitar Merapi yang hangus dan meninggalkan sisa abu dan arang serta bebatuan yang berserakan. Namun dalam beberapa tahun kemudian tanah-tanah itu menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang menghijau kembali, para petani dapat menghasilkan panenan hasil tanah yang subur dan para penambang pasir mendapatkan cadangan pasir yang lebih banyak. Bencana yang menghanguskan dan memporak-porandakan seakan sebuah siklus pembaharuan alam sekitar.
 
Saat ini dunia sedang dilanda virus covid 19, yang menghancurkan banyak sisi kehidupan dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Namun dibalik bencana yang mengerikan ini juga seakan sebuah pembaharuan dunia. Udara menjadi lebih segar, kesadaran manusia akan kebersihan diri dan lingkungan menjadi tumbuh, solidaritas dan bela rasa menjadi tumbuh berkembang dan bagi orang beriman, orang diajak kembali kepada kesadaran akan imannya dan berjuang menghidupi imannya dengan lebih serius.
 
Di balik bencana-bencana yang mengerikan dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa seakan menjadi sarana untuk memperbaharui dunia. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, Allah murka dan memusnahkan dunia namun Allah tetap menjaga kelangsungan alam ciptaan sehingga ada pembaharuan alam ciptaan. “Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betina. Tetapi dari binatang yang haram satu pasang jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpeliharalah hidup keturunannya di seluruh bumi.”
 
Bagaimana dengan aku? Mampukah aku melihat berkah di balik bencana yang kualami?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.