Renungan Harian: 25 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 25 Juni 2020

Bacaan I : 2Raj. 24: 8-17
Injil    : Mat. 7: 21-29

T e k u n

Pada waktu saya menjalani TOK (Tahun Orintasi Kerasulan) di Timor-Timur (Timor Leste), saya ikut seorang teman yang berprofesi sebagai pemborong ke Baucau. Di sana ia akan membangun Biara Suster. Lokasi di mana akan didirikan biara itu lapisan  tanahnya tipis sedang di bawahnya adalah karang.
 
Menurut teman pemborong, untuk membuat pondasi di karang membutuhkan kerja keras yang luar biasa. Menggali dengan ukuran untuk membuat pondasi butuh berhari-hari. Sering kali terjadi sudah bekerja seharian tidak kelihatan hasilnya.  Bekerja dari hari ke hari, kemajuan yang dirasakan sering tidak dirasakan sebagai sesuatu yang berarti.
 
Setelah penggalian selesai harus dilakukan pembakaran, karena kalau tidak dibakar maka karang itu masih bisa tumbuh ke atas sehingga akan merusak pondasi dan seluruh bangunan.
 
Selain kesulitan dalam menggali, kesulitan yang harus dihadapi adalah cuaca panas yang menyengat. Tempat di mana banyak karang adalah tempat yang panas luar biasa. Dengan demikian untuk membuat fondasi rumah di karang butuh kerja keras yang luar biasa dan waktu yang cukup lama.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menganalogikan orang yang mendengarkan SabdaNya dan melakukannya, dengan orang membangun rumah di atas karang.  Bertolak dari pengalaman di atas untuk bisa melaksanakan perintahnya membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang luar biasa.
 
Persoalannya adalah apakah aku mau untuk bekerja keras dan punya ketekunan yang luar biasa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 24 Juni 2020

Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Bacaan I  : Yes. 49: 1-6
Bacaan II : Kis. 13: 22-26
Injil     : Luk. 1: 57-66.80

Panggilan

Beberapa waktu lalu beredar berita tentang suster dari suatu tarekat  yang mengucapkan kaul pertama. Beritanya bukan berapa jumlah suster yang mengucapkan kaul tetapi tentang salah satu suster yang mengucapkan kaul. Diberitakan suster itu hebat dan luar biasa karena sudah bekerja mapan, lulusan sekolah di Perancis dan sekarang mengucapkan kaul.
 
Banyak orang mengamini berita itu dan banyak orang kemudian dibuat kagum dengan suster yang diberitakan itu.
 
Tanpa bermaksud mengecilkan kehebatan suster yang diberitakan dan tujuan mulia di balik penulisan berita itu; membaca berita itu, saya termenung dan bertanya dalam hati  bukankah ada 6 atau 7 suster yang mengucapkan kaul pada saat yang sama? Apakah enam atau tujuh yang lain tidak hebat? Apakah kalau perempuan dari desa putri seorang petani sederhana “hanya” lulusan SMA di kampung sana kemudian mengucapkan kaul jadi hal yang lumrah sehingga tidak hebat?
 
Pertanyaan yang masih tertinggal dalam diriku: “Apa sih hebatnya?” Mencoba mencari jawab atas pertanyaan ini, saya teringat apa yang dikatakan Pater Markus Wanandi SJ, saat memberi pesan ketika saya memutuskan untuk masuk seminari lagi. Beliau mengatakan: “Wan, you jangan merasa lebih hebat kalau menjadi imam, dibanding hidupmu sekarang ini sebagai awam. Artinya apakah you tetap sebagai awam atau nanti menjadi imam itu sama hebatnya.
 
Kehebatannya bukan sebagai apa you hidup, tetapi terletak pada, pertama, kemampuan mendengaran panggilan itu, jujur dengan panggilan itu dan menghidupi panggilan itu sepenuh hati. Jangan pernah setengah-setengah. Oleh karena itu yang kedua adalah kerelaan untuk memperjuangkan panggilan itu. You tahu apa yang you tinggalkan dengan pilihan ini maka perjuangkan itu semaksimal mungkin jangan pernah menyerah.
 
Yang terakhir yang paling penting, panggilan you yang sesungguhnya adalah untuk menjadi bukan siapa-siapa, agar Dia, yang memanggil you menjadi luar biasa karena you. Jadi kalau you menjadi hebat dan luar biasa dan menikmati itu berarti you gagal dalam panggilan.”
 
Dari pesan Pater Markus, saya sadar kehebatan orang yang dipanggil adalah keberanian berjuang untuk menjadi hebat dalam hidup panggilannya dan pada saat yang sama berani berjuang untuk semakin menjadi bukan siapa-siapa.
 
St. Yohanes Pembabtis yang kita rayakan hari ini menjadi teladan luar biasa bagi orang yang dipanggil. Dia yang hebat, yang punya banyak murid, yang terkenal dalam hidupnya memperjuangkan apa yang dikatakan kepada para muridnya: “ Dia harus menjadi semakin besar dan aku harus menjadi semakin kecil.”
 
Godaan terbesar dalam menghidupi panggilan, terutama aku sebagai imam adalah berjuang  dan berjuang untuk menjadi hebat dan terkenal dan menikmati keuntungan darinya; lupa berjuang untuk semakin menjadi bukan siapa-siapa.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 23 Juni 2020

Bacaan I: 2Raj. 19: 9b-11.14-21.31-35a.36
Injil: Mat. 7: 6.12-14

Halal

Di suatu malam, saya melihat gerobak pemulung yang “parkir” di tepi jalan depan gereja. Saat saya melihat keluar, ternyata gerobak itu milik sepasang suami-istri pemulung dengan 2 anak perempuannya yang masih kecil, mungkin 4 dan 5 tahun. Mereka sedang istirahat di situ; suami-istri itu duduk di pinggir trotoar sedang 2 anaknya duduk di atas tumpukan rongsok di dalam gerobak.
 
Beberapa saat kemudian lewat penjual nasi goreng. Pada saat tukang nasi goreng lewat ke dua anak itu teriak: “Ma, makan, lapar.” Mamanya menenangkan kedua anaknya itu dengan mengatakan nanti ya. Tetapi kedua anak itu tetap merengek minta makan dan selalu mengatakan lapar. Ditawari minum oleh orang tuanya, mereka tidak mau.
 
Saya berhentikan penjual nasi goreng itu, dan saya tanya pada anak-anak itu, mau makan nasi goreng atau mie. Anak yang besar mengatakan nasi goreng sedang yang kecil mie goreng. Ibunya spontan mengatakan: “Nasi goreng aja 1 pak, mereka gak akan habis.”

“Gak apa-apa bu, ibu dan bapak mau makan apa?” sahutku.

“Sudah pak satu cukup untuk kami.” Jawab ibu.
Setelah agak saya paksa, mereka menerima tawaran saya dan pesan nasi goreng.
 
Akhirnya saya pesan untuk mereka dan untuk saya sendiri. Setelah pesanan selesai saya ikut makan bersama mereka sambil ngobrol. Dari ngobrol itu saya tahu bahwa mereka sering kali hanya makan 1 kali sehari. Dan hari itu kebetulan anak-anak dari siang memang belum makan. Biasanya mereka tidak rewel, kalau lapar diberi minum mereka diam. Sambil mendesah bapak itu bicara:
“Pak, zaman sekarang susah untuk hidup baik dan mencari rejeki halal. Apalagi orang seperti saya ini, sering dicurigai. Saya jujur dikira menipu dan ditipu; saya ngomong apa adanya dikira pura-pura.
Tapi hidup baik, jujur dan mencari rejeki halal itu pilihan saya Pak, jadi ya saya jalani saja dengan ikhlas.” Sambungnya.
 
Setelah selesai makan dengan penuh syukur, mereka pergi, dan saya masih melihat kedua anak itu melambaikan tangannya dengan ceria. Saya melihat mereka menjauh, namun kata-katanya masih terngiang di telinga saya: “Untuk hidup baik dan mencari rejeki halal itu susah. Hidup baik, jujur dan mencari rejeki halal itu pilihan, sehingga dijalani dengan ikhlas.” Prinsip hidup yang luar biasa hebat dan mulia dari orang sederhana.
 
Sebagaimana dialami keluarga pemulung tadi, setiap orang yang berjuang untuk hidup semakin baik, dan berjuang di jalan kebenaran, selalu berhadapan dengan tantangan dan penderitaan yang tidak mudah. Akan tetapi sebagaimana kata bapak pemulung, hidup baik dan benar adalah pilihan.
 
Benarlah Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius: “Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikitlah orang menemukannya.”
 
Aku selalu dihadapkan pada pilihan dan aku mempunyai kebebasan untuk memilih. Apa yang hendak kupilih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Latihan Rohani: Keragu-raguan

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Keragu-raguan.

Latihan Rohani: Godaan yang Menyamar

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Godaan yang Menyamar.

Latihan Rohani: Roh Baik dan Roh Jahat

Romo Paul Suparno SJ. memberikan Latihan Rohani Dalam Refleksi melalui serial video Latihan Rohani.

Dalam video kali ini, Romo membahas tentang Roh Baik dan Roh Jahat.

Renungan Harian : 22 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 22 Juni 2020

Bacaan I   :  2Raj. 17: 5-8.13-15a.18
Injil      :  Mat. 7: 1-5

Bergosip

Bergosip menunjuk kegiatan dua orang atau lebih yang membicarakan orang lain yang tidak ada dalam kelompok itu. Kata bergosip punya konotasi negatif karena apa yang menjadi pembicaraan adalah kejelekan orang lain.
 
Bergosip bisa sekedar berbagi informasi tentang kejelekan orang lain yang sumbernya sering kali tidak dapat dipertanggung jawabkan. Akan tetapi  bergosip bisa juga menjadi pengadilan. Mereka yang terlibat bergosip telah berperan sebagai jaksa penuntut , saksi dan hakim sementara yang diadili tidak hadir dan tidak ada pembelanya.
 
Bergosip bagi kebanyakan orang adalah kegiatan yang menyenang dan menjadi hiburan. Bergosip menjadi kegiatan yang menyenangkan bukan hanya karena mendapatkan informasi baru, tetapi lebih dari itu bergosip membuat egoku terhibur. Dengan bergosip, seseorang menempatkan diri sebagai orang benar dan orang lebih baik dari orang yang sedang dibicarakan. Maka dengan bergosip aku sedang menutupi kelemahan diriku.
 
Bergosip di era digital  menjadi semakin dahsyat baik dari sisi pelaku maupun akibatnya. Kalau masa sebelumnya gosip hanya diketahui oleh mereka yang bergosip dan dijaga kerahasiaanya, sekarang gosipnya diunggah ke media sosial dan yang ikut bergosip lebih banyak orang, bahkan di antara mereka yang tidak saling kenal. Dan celakanya gosip itu terus menerus diwartakan agar semakin banyak orang ikut bergosip dengan tujuan agar gosip itu menjadi sebuah fakta kebenaran. Akibatnya orang yang digosipkan sudah diadili oleh massa dan sudah diputus bersalah dengan kekuatan kebenaran publik.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, mengkritik keras tindakan-tindakan seperti itu: “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”
 
Diakui atau tidak kebanyakan dari kita lebih menyukai bergosip, dari pada membicarakan kebenaran dan mengakui kehebatan orang lain.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 21 Juni 2020

Renungan Harian
Minggu, 21 Juni 2020

Hari Minggu Biasa XII
Bacaan I   : Yer. 20: 10-13`
Bacaan II  : Rom. 5: 12-15
Injil      : Mat.10: 26-33

Was-Was

Kebanyakan orang ketika akan memulai hal baru selalu dihinggapi perasaan khawatir, takut dan was-was. Apalagi bila hal baru itu menyangkut sesuatu yang penting bagi hidupnya.
 
Banyak orang tua merasakan was-was dan gelisah saat akan melepas anaknya ke jenjang perkawinan. Mereka was-was akan perjalanan hidup perkawinan anaknya. Apa yang sering muncul dalam pikirannya adalah jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu.
 
Seorang ibu yang melepas anak laki-lakinya, yang begitu ia sayang untuk menjalani hidup perkawinan amat gundah dengan rasa was-was yang menghinggapinya. Dalam nalarnya dia percaya bahwa anak laki-lakinya dapat menjalani hidup perkawinan dengan baik dan dia rela melepaskan; namun hati kecilnya masih belum sungguh-sungguh rela. Cintanya yang begitu besar menjadikan rasa was-was semakin besar.
 
Ia berjuang untuk mengatakan rasa was-wasnya dengan mengungkapkan perasaannya dan memberi pesan kepada anaknya dengan memutar lagu Mikki Viereck “My loving son” :
“And there’s one thing darling
I’d like to say
Be kind, be sweet, be a gentle man
Care and share, and always be fair
……….. you will always be my son. My loving son”
(satu hal yang ingin kupesankan padamu nak, jadilah laki-laki yang sejati, baik dan penyayang, penuh perhatian dan selalu berbagi. Ingatlah, kamu tetap menjadi anakku, anak yang kucintai)
 
Disamping mengungkapan dengan lagu ia juga mengungkapkan dengan kata-kata:
“Spread your wings and fly away with your loving wife
love is truly the greatest gift of life now that you have it never let it go
you will have great days together but you will have hard days as well
just remember to love each other no matter what
remember
there’s always a cup of coffee to share and a big warm hug from me
I love you both”
(bentangkan sayapmu dan terbanglah dengan istrimu tercinta
Cinta adalah anugerah terbesar dalam hidup, dan sekarang kamu mendapatkannya
Kamu akan mengalami hari-hari yang luar biasa bersamanya tetapi juga hari-hari yang penuh tantangan. Ingatlah untuk selalu saling mencintai apapun yang terjadi.
Ingat, selalu ada Mommy yang siap untuk mendengarkan dan berbagai cerita  serta selalu ada pelukan  hangat. )
 
Sebagaimana ibu itu meneguhkan putranya, Sabda Tuhan hari ini juga meneguhkanku dalam perjalanan panggilan dan perutusanku. Jangan was-was. Was-was berasal dari bahasa Arab yang berarti bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Jadi was-was itu rasa takut yang disebarkan oleh mereka yang tidak bermaksud baik, kekhawatiran yang menggoda terus menerus dan melemahkan. (A. Gianto SJ). “Janganlah kamu takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; tetapi takutlah pada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”
 
Akankah aku harus selalu was-was dalam perutusanku jika burung pipit yang dijual seduit dua ekor amat berharga di mata Allah, sedangkan aku lebih berharga dari pada burung pipit?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 20 Juni 2020

Renungan Harian
Sabtu, 20 Juni 2020

Hari Raya Hati Tersuci St. Perawan Maria
Bacaan I  : Yes. 61: 9-11
Injil     : Luk. 2: 41-51

Elok

Dalam sebuah pembicaraan dengan beberapa sesepuh, dengan nada bercanda salah satu sesepuh itu mengajukan pertanyaan sambil tertawa:
“Apa beda perempuan zaman dulu dan perempuan zaman sekarang?” Kami tidak ada yang berani menjawab.
Dalam hati, saya mau mengatakan bahwa banyak perbedaan. Apalagi setelah emansipasi ini.  

“Wanita jaman mbiyen kuwi ora ana suarane, ora ketok polahe ning mrantasi. Yen wanita jaman saiki, nggedhekke suara, kakehan polahe ning ora ana hasile.” Jawab simbah itu. (Perempuan zaman dulu itu tidak ada suaranya, tidak kelihatan geraknya tetapi menyelesaikan banyak hal. Sedang perempuan zaman sekarang keras suaranya, banyak tingkahnya tetapi tidak ada hasilnya).
 
“Modale wanita utama iku, ati sing jembar lan jero. Jembar welas asihe lan jero pangapurane” tambah simbah.

(Modal menjadi perempuan terhormat itu hati yang luas dan dalam. Luas kasih sayangnya dan dalam pengampunannya).

“Perempuan hebat dan pandai sejak zaman dulu sudah ada, bahkan perempuan-perempuan yang lebih hebat dan lebih perkasa dari laki-laki sejak dulu banyak. Namun demikian, mereka menjadi perempuan-perempuan terhormat, hebat dan perkasa bukan karena buah budinya dan bukan karena kekuatan fisiknya. Mereka terhormat dan hebat karena keelokan hatinya. Dengan hati yang elok itu menjadikan suami, anak-anak dan semua yang ada di hatinya menjadi terhormat dan hebat. Hati tadi mampu dengan ikhlas hancur lebur demi mendudukan suami, anak-anak dan semua yang di hatinya di tempat yang terhormat dan hebat.” Terang simbah dengan berapi-api.
 
“Oleh karena itu, hati perempuan utama itu bagai danau dengan air jernih nan segar. Semua yang di dekatnya bisa menemukan kesegaran, ketenangan dan kedamaian. Sebagaimana danau itu dasarnya banyak sampah dan batu serta belukar, begitupun hati perempuan. Di dasarnya ada begitu banyak sampah, duri dan segala hal, karena hati itu menyimpan segala perkara yang dihadapinya. Segala perkara dia simpan, dia olah, dia saring dan dia endapkan sehingga semua tersimpan jauh di tempat yang paling dalam. Apa yang nampak dan memacar adalah kesegaran, ketenangan dan kedamaian.” Lanjut simbah.
 
Ajaran simbah yang dimulai dengan guyon tadi membantu saya memahami sikap Bunda Maria yang dalam injil selalu dikatakan: “Maria menyimpan semua perkara di dalam hatinya.”
Dalam diam ia menghantar PutraNya hingga Sang Putra dimuliakan di kayu salib.
 
Di saat merayakan Hati Tersuci St. Perawan Maria, aku juga ingin merayakan dan mensyukuri keelokan hati ibuku, hati para ibu dan hati perempuan hebat lainnya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 19 Juni 2020
Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus

Bacaan I   : Ul. 7: 6-11
Bacaan II  : 1Yoh. 4: 7-16
Injil      : Mat. 11: 25-30

Ikhlas

 Sore itu aku berkunjung ke rumah salah satu umat di paroki di tempat aku bertugas. Bapak itu dikenal sebagai pedagang hasil bumi yang sukses. Di paroki, beliau menjadi salah satu donator tetap untuk berbagai kegiatan paroki.
 
Saat sampai ke rumahnya, bapak itu sedang memperhatikan karyawan-karyawannya yang sedang memuat hasil bumi ke dalam truk yang besar. Tampak ada 3 buah truk yang siap memuat hasil bumi dari gudang, yang berada di depan rumah. Melihat kedatangan saya, bapak itu dengan ramah mempersilakan saya untuk masuk.

“ wah banyak sekali ya yang dimuat hari ini. Wah hebat, pak.” Ujarku membuka pembicaraan.

“ Mo, mo, itu yang sekarang terlihat. Wah mo kalau ingat bagaimana saya memulai usaha, nangis darah rasanya. Ini semua  mukjizat bagi hidup saya, berkah yang luar biasa.”  : jawabnya.
 
Sambil mempersilakan saya minum dan makan singkong goreng yang dihidangkan, ia berkisah.
“ Mo, dulu saya hidup mapan di Jakarta. Sudah punya kedudukan baik di perusahaan, punya rumah baik, punya kendaraan. Istri saya juga punya kedudukan yang baik di perusahaannya. Rasanya mimpi kami ketika kuliah  sekarang terpenuhi.
 
Krismon tahun 1998 membuyarkan mimpi kami. Saya dan istri di rumahkan, perusahaan di mana kami bekerja tutup, bos besar pemilik perusahaan hilang entah kemana. Kami berdua berhenti tanpa pesangon seperser pun. Kami limbung, gak ngerti harus bagaimana. Untung, ya kami ngomong begitu, kami belum dikaruniai momongan.
 
Ketika kami bekeluh kesah ke bapak, beliau mengusulkan kami pulang dan cari usaha di kampung. Kami memutuskan menjual rumah dan kendaraan, waktu itu kami jual dengan harga murah banget. Dengan hasil penjualan itu kami pulang ke kampung.
 
Waduh Mo, hati ini sakit banget, tiap malam istri nangis gak tahan. Kami jadi omongan tetangga, kami dicibir macam-macamlah pokoknya. Bapak dan ibu selalu menasehati kami, yang ikhlas, semua harus dijalani dengan rela dan ikhlas lahir batin. Berjuang dan berjuang dengan ikhlas pasti ada jalan. Gusti ora sare. Tiap malam kami berdua berdoa, mohon dan mohon agar bisa ikhlas menjalani semua ini.
 
Saya mulai menggarap tanah bapak, awalnya seperti orang kampung lain saya menanam palawija bergantian dengan padi, tergantung musimnya. Seperti petani lain, kami selalu menjadi korban tengkulak, dan kami tidak bisa berbuat lain. Tetapi dari situ saya banyak belajar untuk ikhlas. Belajar mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kesombongan saya, berani merendahkan diri, dan tidak mengagung-agungkan harga diri. Itu semua saya jalanin hampir 3 tahun.
 
Suatu hari saat musim panen kacang tanah. entah angin dari mana seorang teman kerja di Jakarta, main ke rumah.  Dia setelah berhenti kerja meneruskan usaha orang tuanya jual beli hasil bumi. Dia menawari saya kerja sama. Saya mengumpulkan hasil bumi di sini dan mengirim ke dia. Sejak saat itu Mo, keadaan ekonomi kami berubah, hingga menjadi seperti ini.
 
Mo, sampai sekarang saya pegang nasehat orang tua kami, yaitu menjalani hidup dengan ikhlas lahir batin. Saat kami sudah bisa ikhlas, Tuhan mengirim malaekat ke kami dalam diri teman saya. Betul Mo, saya selalu merasa bahwa teman itu adalah malaekat yang diutus Tuhan untuk kami. “ bapak itu menutup kisahnya.
 
Kata ikhlas yang dihidupi bapak tadi membantu saya untuk mengerti sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “ Belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.”
 
Belajar dari pengalaman bapak tadi, betapa berat dan sulit untuk menjadi ikhlas. Akankah aku mampu menjalani hidupku dengan ikhlas?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.