Renungan Harian: 25 November 2021

Renungan Harian
Kamis, 25 November 2021

Bacaan I: Dan 6: 12-28
Injil: Luk. 21: 20-28

Menatap Ke Depan

“Romo, pada masa itu sungguh-sungguh masa yang amat gelap dalam kehidupan kami.
Saya mempunyai usaha yang amat sukses dalam bidang perdagangan dan angkutan. Saya berdagang hasil bumi dan mempunyai beberapa truk yang mengangkut hasil bumi jualan kami. Selain itu saya masih punya beberapa truk yang kami sewakan untuk angkutan. Pada saat itu rasanya uang itu mengalir dan apapun yang kami inginkan dapat terpenuhi.
 
Sebagai orang yang masih muda dan sudah sukses seperti itu tentu mengagumkan bagi banyak orang dan menjadi kebanggaan keluarga. Kesuksesan yang luar biasa itu ternyata membuat saya lupa diri dan sombong. Saya merasa hebat, merasa semua bisa saya dapatkan dan semua bisa saya beli. Karena banyak pujian sehingga saya merasa bisa melakukan semua dengan kemampuan sendiri, saya tidak pernah mau mendengarkan saran ataupun masukan dari siapapun. Orang yang memberikan saran selalu saya remehkan karena saya menjadi hebat seperti ini bukan karena saran dan nasehat mereka.
 
Romo, kesombongan saya ini harus saya bayar amat mahal. Usaha saya jatuh, semua habis bahkan sampai rumah pun habis saya jual sehingga saya dan istri harus tinggal di rumah petak. Saya yang semula selalu bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan saya, apapun bisa saya beli, sekarang untuk makan saja kami kesusahan. Kalau boleh dan bisa berdoa, mungkin doa saya  hanya boleh makan sehari saja cukup bagi kami, itu pun amat sulit. Itu semua belum cukup membuat kami menderita, cibiran banyak orang dan hujatan-hujatan banyak orang setiap kali harus kami terima. Saat itu saya rasanya begitu tertekan dan tidak berani keluar rumah. Saya sungguh stress, hampir setiap saat meratapi nasib dan menangis dan tidak jarang terbersit dalam benak untuk mengakhiri hidup ini.
 
Syukur pada Allah romo, saya mempunyai istri yang luar biasa. Istri setia menemani saya dan menguatkan saya. Suatu saat istri saya berkata: “Pa, kita memang salah, kita memang berdosa sehingga harus menanggung semua ini. Pa, ini kesempatan bagi kita untuk bertobat, memperbaiki diri. Kita terima semua ini Pa, sebagai bentuk pertobatan dan penyesalan kita. Ayo Pa, kita tanggung semua ini, kita tanggung ejekan dan cibiran banyak orang, karena memang kita seperti itu. Ayo Pa, kita tatap ke depan, kita tidak boleh menunduk terus, tidak boleh kalah dengan keadaan. Tuhan itu maha belas kasih maka pasti Dia memberikan pengampunan, memberi jalan dan terang.”
 
Romo, kata-kata istri saya itu menggugah saya untuk bangkit dan berani menatap ke depan. Saya sujud mohon ampun pada Tuhan, saya berserah pada kehendakNya. Saya tidak berharap dan mimpi untuk menjadi orang sukses seperti dulu lagi, saya hanya berharap boleh menjalani dan melanjutkan hidup ini dengan berani menanggung semuanya. Puji Tuhan, benar kata istri saya, Tuhan maha belas kasih, Dia memberi jalan dan terang. Dengan rahmatNya saya dan istri kuat berjuang keras untuk menjalani hidup ini sehingga bisa seperti ini, Romo, saya tidak pernah membayangkan dan tidak berani berharap bisa seperti ini, tetapi rahmatNya luar biasa. Berani menatap ke depan dengan mengandalkan Tuhan menjadikan kami bisa seperti ini keluar dari kegelapan hidup kami,” seorang bapak menceritakan perjalanan hidupnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Apabila semua itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Beranikah kita menerima kegagalan dan mengakui kelemahan diri, untuk kemudian bangkit dan berjalan lagi?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 November 2021

Renungan Harian
Rabu, 24 November 2021

Bacaan  I: Dan. 5: 1-6. 13-14. 16-17. 23-28
Injil: Luk. 21: 12-19

Bersyukur

“Romo, kalau saya melihat perjalanan karir kerja, satu hal yang paling saya syukuri adalah bahwa saya pada masa itu berani untuk tidak ikut-ikutan teman. Pada awal saya kerja, saya kenal, kemudian menjadi akrab dan bersahabat dengan 4 orang teman kerja. Kami selalu menyebut diri geng pandawa, karena kami berlima cowok semua.
 
Keempat teman  ini bagi saya adalah orang-orang hebat. Mereka adalah lulusan dari perguruan tinggi ternama di negeri ini dan perguruan tinggi luar negeri. Cara berpikir dan cara bicara mereka menunjukkan kualitas diri mereka sedangkan cara bekerja mereka juga luar biasa. Berteman dan bersahabat dengan mereka, membuat saya banyak belajar sehingga memacu kinerja saya. Dalam bekerja kami sering saling membantu sehingga menjadikan persahabatan kami semakin baik.
 
Setiap akhir pekan kami selalu bersama untuk sekedar ngopi dan ngobrol-ngobrol; maklum kami semua adalah bujangan dan perantau di kota ini. Hampir tidak pernah kami lewatkan akhir pekan untuk pergi bersama kecuali ada yang sakit atau keperluan amat penting. Seolah-olah menikmati akhir pekan bersama menjadi prioritas kami.
 
Kebiasaan nongkrong hanya sekedar minum kopi, menjadi minum bir dan minum-minuman keras. Saya masih bisa minum bir tetapi menolak setiap kali saya ditawari minuman keras. Mereka selalu membujuk saya untuk mencoba demi persahabatan; tetapi saya selalu menolak. Mereka selalu mengejek-ejek saya dari kata yang biasa sampai kata-kata yang amat kasar. Saya selalu mengatakan bahwa saya tidak keberatan mereka minum minuman keras tetapi jangan paksa saya. Mereka tidak keberatan dengan sikap saya. Jadi kalau kumpul-kumpul mereka minum minuman keras, akan minum jus atau minuman ringan lain.
 
Saya tidak tahu persis mulai kapan tetapi saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Saya merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari saya. Saya tahu beberapa kali mereka pergi bersama tetapi tidak di akhir pekan. Beberapa kali saya tanyakan mereka menjawab bahwa mereka tidak pergi bersama atau kali lain menjawab itu urusan pekerjaan. Saya tidak terlalu memusingkan hal itu karena setiap akhir pekan kami masih selalu pergi bersama. Namun lama kelamaan mereka mengatakan bahwa amat sibuk sehingga tidak bisa kumpul-kumpul lagi; saya bisa mengerti alasan mereka. Akhirnya kami amat jarang kumpul-kumpul lagi.
 
Sampai suatu kali saya mendengar kabar yang mengejutkan bahwa keempat teman saya itu ditangkap polisi di salah satu kamar kost teman saya karena kasus penggunaan narkoba. Saya amat terkejut mendengar hal itu. Lebih terkejut lagi mendengar bahwa ternyata mereka sudah lama menggunakan narkoba. Saya berpikir bahwa mereka menggunakan narkoba sejak mereka mulai menghindar dari saya. Kejadian itu sungguh-sungguh menghancurkan karir mereka yang cemerlang dan terlebih menghancurkan hidup mereka. Mereka orang-orang yang saya kagumi, mereka orang-orang yang hebat tetapi hancur karena kesalahan mereka dalam memilih,” seorang bapak berkisah.
 
Keberanian bapak itu untuk bertahan dari ajakan sahabat-sahabatnya dengan resiko menanggung ejekan-ejekan dan bahkan disingkiri oleh sahabat-sahabatnya. Ketangguhan untuk bertahan yang membawa pada keselamatan dirinya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidup.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani bertahan di jalan kebenaran?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 November 2021

Renungan Harian
Selasa, 23 November 2021

Bacaan I: Dan. 2: 31-45
Injil: Luk. 21: 5-11

Nasehat Bapak Untuk Putrinya

Beberapa waktu yang lalu, saya memimpin perayaan ekaristi untuk persiapan pesta perkawinan (Midodareni) dan pada saat yang sama adalah pesta perak perkawinan orang tua calon pengantin perempuan. Pada saat khotbah saya minta bapak pengantin perempuan  untuk memberikan nasehat kepada calon pengantin yang bertolak dari pengalaman 25 tahun hidup perkawinannya.
 
“Anakku, saat ini kalian saling mengagumi satu sama lain tetapi jangan hanya berhenti pada kekaguman itu. Karena apa yang sekarang mengagumkan dan menarik itu bisa berubah setiap saat, cepat atau lambat. Apa yang penting adalah menemukan kekaguman yang lebih dalam dan paling dalam yaitu penyerahan diri satu sama lain. Dan dengan itu kalian akan saling menghormati dan mencintai dengan tulus.
 
Anakku yang kucintai, kalau kamu sekarang ini melihat bapak dan ibumu nampak sudah mapan, bahagia dan saling mencintai, semua buah perjalanan panjang. Dan perjalanan itu tidak semua mulus, mudah menyenangkan. Usaha bapak untuk mengerti dan mencintai ibumu dan sebaliknya penuh dengan luka dan air mata. Ada kalanya kami bisa saling mengerti tetapi banyak juga kami tidak saling mengerti. Ada saat dimana kami merasakan cinta yang berbunga-bunga dan berkobar-kobar, tetapi ada masa dimana kami merasa jenuh dan menjalani hidup seperti tidak ada gairah cinta.
 
Nduk cah ayu, membangun ekonomi rumah tangga juga tidak kalah sulitnya. Perjalanan ekonomi keluarga kita seperti jet coaster, suatu saat kita di atas, tetapi juga terjadi masa di mana kita tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan esok hari kami tidak tahu harus mendapatkan dari mana dan dengan cara apa.
 
Nak, semua itu akan terjadi dan akan kamu alami maka yang penting adalah selalu bersandar pada kasih Allah. Waspadalah tetaplah “eling” ketika saat itu tiba dan harus kamu alami, jangan pernah kehilangan arah dan pegangan. Hendaklah selalu berpegang pada harapan pada belas kasih Allah. “Gusti ora sare” nduk, Tuhan pasti memberikan rahmatnya. Maka jangan pernah berpaling dariNya dan jangan pernah merasa hebat dan kuat,” nasehat yang diberikan bapak itu dengan penuh haru.
 
Mendengarkan nasehat bapak kepada putrinya itu banyak tamu yang hadir ikut larut dalam keharuan. Nasehat yang luar biasa buah perjalanan panjang hidup perkawinannya. Nasehat yang diberikan sebagai bekal perjalanan putrinya untuk mengarungi bahtera kehidupan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus memberikan nasehat kepada para muridNya: “Waspadalah jangan sampai kalian disesatkan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 November 2021

Renungan Harian
Senin, 22 November 2021
PW. St. Caecilia, Perawan dan Martir

Bacaan I: Dan. 1: 1-6. 8-20
Injil: Luk. 21: 1-4

Hanya Ini

Ibu itu bagi banyak orang di paroki tidak dianggap sebagai seorang aktivis karena tidak pernah terdaftar sebagai salah satu pengurus baik di lingkungan maupun paroki. Ibu tidak juga pernah disebut sebagai donator paroki karena namanya tidak pernah disebut dalam daftar penyumbang bagi paroki bila ada kegiatan-kegiatan paroki. Ibu itu seorang ibu rumah tangga biasa, sederhana tidak pernah kelihatan menonjol di paroki, namun demikian saya melihat ibu itu melakukan banyak hal untuk paroki yang kiranya luput dari perhatian banyak orang.
 
Ibu itu selalu membereskan bunga-bunga hiasan di altar ketika sudah mulai layu, dan sering kali merangkai kembali dari bunga-bunga bekas rangkaian yang masih segar. Ibu itu selalu dengan suka rela mencuci taplak-taplak altar, dan tirai-tirai dalam gereja. Bahkan tidak jarang ibu itu memberikan tirai baru, yang kainnya dia beli sendiri, dijahit sendiri dan dipasang sendiri dengan bantuan koster paroki. Ibu itu selalu dengan gembira menyiapkan masakan untuk para pastor bila pada hari itu yang memasak berhalangan dan bahkan ibu itu selalu siap memasak “ala kadarnya” bila di pastoran tidak ada kiriman. Ibu itu pandai memasak, sehingga masakannya meski sederhana rasanya amat enak, sehingga menyenangkan. Ibu itu menjadi “andalan” karyawan pastoran bila harus menyediakan masakan.
 
Dari semua hal yang ibu itu lakukan sebenarnya ibu itu melakukan banyak hal bahkan bisa disebut melakukan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang disebut aktivis, dan ibu itu juga memberi banyak hal mungkin lebih banyak daripada mereka yang disebut donator. Hal yang membedakan, ibu itu tidak pernah disebut namanya dalam buku-buku paroki maupun ucapan-ucapan terima kasih di gereja. Suatu ketika saya pernah berkomentar saat ibu itu sedang memasang tirai di gereja:
“Wah, ibu itu luar biasa ya, membeli kain sendiri, menjahit sendiri dan memasang sendiri. Belum lagi sering kali harus direpotkan untuk masak bagi para pastor.”

“Romo, saya itu punyanya hanya tenaga, jadi hanya ini yang dapat saya persembahkan,” jawab ibu itu.
 
Sikap ibu itu bagi saya seperti sikap seorang janda miskin yang memberi persembahan sebagaimana diwartakan dalam injil Lukas: “Tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang telah kupersembahkan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 21 November 2021

Renungan Harian
Minggu, 21 November 2021
Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan I: Dan. 7: 13-14
Bacaan II: Why. 1: 5-8
Injil: Yoh. 18: 33b-37

P H K

Beberapa waktu yang lalu, saat saya mendengar teman saya mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK), saya menelepon dia untuk memastikan. Saya amat hati-hati saat menelepon dia, karena saya dapat merasakan kesedihan dan kekecewaan dia. Namun apa yang saya duga salah, ketika dia mengangkat telepon terdengar suara dia yang riang sebagaimana biasa. Maka saya bertanya apakah benar bahwa di PHK? Di seberang terdengar dia tertawa terbahak.
 
“Wan, kalau disebut di PHK ya; tetapi kalau disebut tidak ya tidak. Lebih tepatnya saya dipaksa untuk mengundurkan diri. Menyedihkan sih, tetapi saya merasa bangga dengan apa yang telah saya pilih dan saya putuskan,” jawabnya. “Lho memang ada masalah apa, kalau boleh tahu?” tanya saya. “Wan, saya menemukan adanya indikasi ketidakberesan keuangan di perusahaan ini, temuan ini saya laporkan ke pimpinan dan kemudian ditindak lanjuti. Dari penyelidikan yang dilakukan diketahui bahwa ada beberapa oknum di perusahaan yang menggunakan uang dengan tidak semestinya dan bertindak diluar kewenangannya. Beberapa oknum itu kemudian di PHK dan dipolisikan.
 
Wan, beberapa orang yang di PHK itu memberikan data ke saya tentang adanya kecurangan perusahaan yang berakibat hukum. Data yang saya terima saya laporkan ke pimpinan untuk ditindak lanjuti. Pimpinan meminta saya untuk mengecek kebenaran data yang diberikan oleh mereka yang di PHK, dan memang benar. Saya menyampaikan ke pimpinan bahwa  apa yang terjadi ini punya akibat hukum. Setelah mendengarkan penjelasan saya, pimpinan meminta saya untuk mengatur sedemikian agar data-data menjadi benar dan tidak ada akibat hukum. Saya keberatan, saya menyarankan perbaikan dengan mematuhi regulasi yang berlaku.  Pimpinan memaksa saya dan saya tidak mau melakukan permintaan pimpinan, karena saya menyampaikan kebenaran. Karena saya tetap tidak mau memenuhi permintaan pimpinan, saya diberi pilihan untuk tetap bekerja atau saya mundur.
 
Saya cukup lama menimbang Wan, karena ini menyangkut  keluarga. Kalau  saya mundur berarti dan saya belum tentu mendapat pekerjaan baru berdampak pada kehidupan keluarga; tetapi kalau saya memilih tetap bekerja berarti saya  harus melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani saya. Setelah menimbang-nimbang dan bicara dengan istri, saya memilih mundur, dan saya memilih mundur dengan bangga. Gitu Wan ceritanya, jadi saya gak sedih-sedih amat,” cerita teman saya.
 
Saya kagum dengan apa yang telah dipilih oleh teman saya. Dia berani untuk mewartakan kebenaran meski resiko yang diterima amat berat. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Untuk itulah Aku datang ke dunia ini yakni untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani mewartakan kebenaran, meski dengan resiko amat berat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 November 2021

Renungan Harian
Sabtu, 20 November 2021

Bacaan I:1Mak 6:1-13
Injil: Luk. 20: 27-40

Tidak Percaya

Dalam sebuah diskusi terbuka di Ruang FB, sekurangnya 2 pihak berdebat dengan sengit, prihal Ekaristi Kaum Muda, dimata mereka. Diskusi yg awalnya sebuah pertanyaan, berkembang menjadi ajang penghakiman, dari kedua belah pihak.

Yang berpegang pada TPE, dengan sangat yakin berkali-kali memperkarakan prihal proses perayaan yang sering dilanggar, dan kemudian menjadi sebuah keyakinan akan terjadinya pelanggaran dan penistaan.

Sementara yg lainnya, dengan yakin mengutarakan bahwa hal ini adalah sebuah upaya perbaikan, sebagaimana keprihatinan mereka akan permasalahan yg dihadapi OMK, terutama saat banyak OMK mulai meninggalkan gereja. Hal ini yg kemudian membuat mereka merasa perlu melakukan sesuatu, untuk memperbaiki situasi ini.

Pertentangan seolah tidak ada akhir, namun yang sangat mengejutkan adalah saat seseorang menyebut pihak lain sebagai pihak Sesat dan tidak percaya pada motivasi mereka, dan menyatakan bahwa yg mereka lakukan membawa OMK pada kesesatan yang lebih besar lagi.

Pertentangan ini banyak terjadi dimanapun, dan dalam beragam situasi, dan tema. Namun yg pasti, ada pihak yg merasa memegang aturan dan ketetapan, sehingga mudah menganggap pihak lain sesat dan tak layak.

Sungguhkah ini perlu terjadi? Menghakimi pihak lain, semata dari kebenaran yg dipahami sepihak. Saya mengikuti diskusi informal itu dengan rasa cemas, namun syukur, karena artinya OMK ini masih punya kepedulian.

Tampak jelas dalam benak saya, betapa ketidak percayaan adalah issue penting dalam diskusi tersebut. Kedua belah pihak tidak saling percaya. Argumen demi argumen mengalir seolah tidak ada jalan keluar. Semua karena diskusi sudah diawali dengan ketidakpercayaan. Nada diskusi adalah nada kebuntuan, bukan untuk kehidupan.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas,
“Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan…”
Para saduki sudah mengawali dengan ketidakpercayaan dan bertanya untuk menguji, bukan sungguh untuk sebuah kebaikan.
Maka Yesus menjawab dan mengingatkan kita semua, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan orang hidup, dan bukan Tuhan orang mati. Kita percaya akan kebangkitan, yang juga berarti percaya pada perbaikan bagi sesama. Kita tidak berhenti hanya pada tafsir Aturan, yang tidak sedikit mematikan sesama kita.

Percayakah kita pada Tuhan orang hidup? Percayakah kita pada kebangkitan? Percayakah kita, bahwa kita bisa hidup bersama, saat ada kerelaan untuk saling percaya?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 November 2021

Renungan Harian
Jumat, 19 November 2021

Bacaan I:1Mak. 4:36-37,52-59;
Injil: Luk. 19: 45-48

Prioritas

“Udah nggak anehlah, udah, biar aja, artinya konsumsinya bisa jadi tambahan buat kitakan…”
Ucap seorang teman, dengan tertawa, entah apakah itu sarkas, atau sungguh sebuah humor, yg pasti dia mengatakan itu untuk menanggapi seorang rekan yang untuk kesekian kalinya mangkir dalam rapat kegiatan komunitas, seperti juga mangkir ya di komunitas belakangan ini. Beberapa rekan ikut tertawa, sementara beberapa yang lain tampak terganggu dengan berita yang kami baca bersama lewat WAG kami.

“Aku terganggu nih, nggak nyaman banget dengan apa yang selalu dia lakukan, membawa ide besar, sepakat untuk mengadakannya bersama, tapi trus ngilang tiap kita perlu bersiap dan melaksanakan kegiatan kita. Yg buat aku makin nggak nyaman tuh, karena aku tahu dia nggak ikut kegiatan kita, karena dia sibuk dengan kegiatan lain, yang datang setelah dia berkomitmen untuk jalan bersama dengan kegiatan kita.

Nggak pengen kesel atau marah sih, karena aku tahu, tiap orang punya hak dan priotiras, akan apa yg jadi pilihan pribadinya, tapi yg dia lakukan itu buat aku merasa kita tidak penting dan kebersamaan serta kegiatan kita ini, tidak ada apa-apanya, dibanding dengan kegiatan yang dia ikuti dan jalankan bareng ditempat lain.

Dan jujur yang buat aku lebih sedih lagi tuh, gw mulai merasa, dia bukan bagian dari kita, demikian juga kita bukan bagian dari dia. Apa yg dia lakukan tampak beda dan jauh dari apa yg seharusnya dia lakukan.

Kalau ada konsumsi rapat yg bisa buat dia datang, aku beliin lah…” Curahan hati seorang teman menanggapi apa yg terjadi dipertemuan komunitas, sore itu. Sharingnya membuat kami terdiam dan mulai merasakan apa yg dia rasakan.

Terkadang karena prioritas lain yg lebih menggiurkan dan menguntungkan, kita lupa akan komitmen dan prioritas hidup kita. Kita lupa akan fondasi yg kita sepakati, pahami dan amini, lalu berbahagia diatas penyangkalan dan perselingkuhan.

Dari pertemuan sore itu, saya belajar dan mempertanyakan pada diri sendiri, soal prioritas dan komitmen, serta kesetiaan saya pada proses.

Sungguhlah tidak mudah, menjadi selalu sadar akan prioritas, dan komitmen, saat kita tidak menganggapnya sungguh ada dan perlu dipelihara, serta dijaga.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas, Yesus murka akan apa yg terjadi di Bait Allah. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”
Hilang arah, keberadaan Bait Allah tercemar oleh prioritas lain yg ada disana. Mereka lupa tujuan mereka hadir di Bait Allah, mereka pungkiri prioritas utama kehadiran mereka disana.

Apakah aku tahu prioritas hidupku? Adakah aku setia dan berkomitmen pada Tujuan hidup iman kita, untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 November 2021

Renungan Harian
Kamis, 18 November 2021

Bacaan I: 1Mak. 2: 15-29
Injil: Luk. 19: 41-44

Stres

“Pater, lihat itu anak saya, setiap hari dia hanya duduk di situ sepanjang hari, tidak pernah ngomong. Setiap hari tidak ada yang dilakukan selain duduk bengong. Kalau tidak disuruh mandi atau tidur, dia akan tetap di situ terus. Makan kalau tidak disodori juga tidak makan. Sudah beberapa kali kami bawa ke dokter tetapi belum ada perubahan. Menurut dokter secara fisik anak kami sehat, tetapi dia mengalami gangguan kejiwaan. Kami sedih pater melihat anak kami ini.
 
Pater, dia menjadi seperti ini sejak pulang dari Malaysia. Waktu dia baru datang, rasanya masih biasa tetapi tidak mau cerita  apapun tentang pekerjaannya. Selang dua hari dia mulai seperti itu. Awalnya saya pikir dia biasa-biasa, duduk di situ, tetapi setelah beberapa hari kami baru tahu kalau dia ada sakit.
 
Pater, waktu dia minta ijin untuk pergi ke Malaysia, kami berdua tidak setuju, kami melarang. Mamanya sampai menangis-menangis, mohon agar dia tidak pergi. Dia mengatakan di sana akan bekerja di perusahaan sawit karena ajakan beberapa kawannya di sini. Kami melarang karena kami pernah dengar bahwa banyak pekerja di sana yang pulang dengan penderitaan dan tidak jarang harus berhadapan dengan pihak berwajib di sana. Kami sudah memberi pengertian panjang lebar agar tetap mau tinggal di kampung saja. Di sana bekerja jadi buruh kebun sementara di sini kami punya kebun kopi yang cukup luas.
 
Dia sudah tidak mau mendengarkan kami lagi, mamanya sampai mohon-mohon untuk didengarkan, mamanya yang melahirkan dan membesarkan sudah tidak didengar dan tidak dianggap lagi. Dia lebih mendengarkan kawan-kawannya. Dia selalu menjawab kalau  di kampung terus tidak berkembang. Sering kali kami berdua berpikir: “andai saja dulu kamu mendengarkan kami, dan kamu mau mengerti, tentu kamu tidak akan seperti ini. Andai saja kamu mau melihat air mata kami dan mengerti betapa kami sayang sehingga melarang kamu, tentu kamu tidak akan seperti ini.” Itulah pater, kami selalu menyesal dengan apa yang terjadi ini,” seorang bapak bercerita.
 
Seringkali ketika sudah mempunyai niat dan keputusan, sulit untuk mendengarkan nasehat atau penjelasan dari orang yang lebih tua. Semua yang ada di pikirannya adalah apa yang menjadi niatnya tanpa mempedulikan pertimbangan-pertimbangan yang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan Yesus menangisi kota Yerusalam yang akan hancur, karena orang Israel tidak mau mendengarkan dan berbalik dari kesalahannya. “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku tahu apa yang perlu untuk damai sejahteraku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 17 November 2021

Renungan Harian
Rabu, 17 November 2021
PW. St. Elisabeth dari Hongaria

Bacaan I: 2Mak. 7: 1.20-31
Injil: 19: 11-28

Ramah

Saya kagum dengan bapak berambut putih itu. Bapak itu meski rambutnya semua sudah putih namun kalau menilik usianya belum terlalu tua, beliau berusia 60 tahun. Bapak itu begitu ramah dengan semua orang; hormat menyapa semua orang. Sikap hormat dan ramahnya tidak hanya dilakukan untuk orang yang tua, tetapi juga untuk orang yang lebih muda, bahkan untuk anak muda dan remaja beliau selalu ramah dan menampakkan sikap hormatnya.
 
Dalam berbagai kegiatan bapak itu selalu bisa bekerja sama dengan siapapun juga dengan orang-orang yang kami kenal sebagai orang yang sulit. Anehnya orang-orang yang kami anggap sulit selalu merasa nyaman bekerjasama dengan bapak itu dan juga merasa nyaman untuk ngobrol dan berkeluh kesah dengannya.

Saya dan beberapa teman heran dengan bapak itu, karena beliau bisa bicara dan mendengarkan orang-orang yang kami anggap membosankan atau menjengkelkan.
 
Dalam sebuah kesempatan saya mengungkapkan kekaguman saya dan bertanya apa yang bapak itu lakukan.
“Wah, romo berlebihan memuji saya. Saya merasa biasa saja; saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Kalau romo bertanya bagaimana saya bisa ngobrol dan bekerjasama dengan orang-orang yang romo sebut sebagai orang sulit, mungkin karena saya sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang seperti itu.
 
Romo, pertama saya kerja, saya punya kepala bagian yang menurut kami semua sebagai orang yang aneh. Kepala bagian kami itu orang yang keras, mudah tersinggung, mudah marah dan kalau bicara, sungguh-sungguh tidak enak didengar. Beliau orang yang amat idealis tetapi beliau sendiri tidak bisa menjalankan ide-idenya. Beliau hampir tidak pernah menghargai bawahannya, semua hal selalu dikritik tetapi bagaimana memperbaiki beliau tidak tahu. Bahkan untuk pekerjaan beliau sendiri, beliau tidak mengerti apa yang harus dibuat. Belum lagi sikapnya yang seenaknya.
 
Kami semua tidak suka dengan beliau, maka banyak teman yang bekerja seenaknya dan ogah-ogahan dan bahkan banyak yang mengundurkan diri karena sikap kepala bagian seperti itu. Waktu itu saya sebenarnya protes dan sungguh benci dengan sikap beliau, tetapi mungkin karena saya takut, saya berjuang untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Pekerjaan-pekerjaan yang sulit saya kerjakan meskipun saya sering dimarahi dan dimaki. Saya berjuang untuk sabar dan bertahan. Beberapa kali saya terlibat perdebatan dengan beliau menyangkut pekerjaan, meski dengan resiko saya sakit hati.
 
Dengan apa yang saya lakukan itu, saya menjadi bisa melakukan banyak pekerjaan di kantor itu. Hal-hal yang sulit selalu membuat saya berdebat dengan pimpinan, karena tidak menemukan jalan keluar, saya diminta kursus ini dan itu. Dan anehnya lama kelamaan saya bisa menikmati punya pimpinan yang seperti itu. Akibatnya saya menjadi bermasalah dengan teman-teman kantor, tetapi saya selalu bersikap wajar sehingga lama kelamaan kami menjadi akrab. Mungkin karena itu ya romo,” bapak itu bercerita.
 
Sikap protes terhadap pimpinan yang tidak baik maupun terhadap situasi dengan melakukan hal-hal yang positif menjadikan bapak itu bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Protes tidak berarti lari dan melawan dengan cara negatif. Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam injil Lukas lewat sebuah perumpamaan mengajarkan bagaimana harus mengembangkan rahmat meski dalam situasi yang amat tidak baik dan menekan.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mampu mengembangkan diri dalam situasi yang kutolak?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 November 2021

Renungan Harian
Selasa,16 November 2021

Bacaan I: 2Mak. 6: 18-31
Injil: Luk. 19: 1-10

Bagi Tuhan

“Romo, saya bingung lihat perubahan hidup teman kita yang satu itu. Kok bisa ya dia berubah total begitu. Kita tahu kan mo, dia selama ini menjadi orang katolik sekedar katolik KTP lebih sedikit. Maksud saya, dia hanya sekedar ikut misa minggu saja sebagai orang katolik, selebihnya tidak pernah ikut kegiatan. Bahkan misa minggu pun kalau dia sempat. Hidup dia dan istrinya itu hanya kerja-kerja dan kerja. Di otaknya yang muncul adalah soal bagaimana menghasilkan uang.
 
Ingatkan mo, kita sering mengejek-ejek dia: “Orang tuanya aktivis tapi anaknya gak jelas, dirinya termasuk paroki mana juga tidak pernah tahu.” Dan dia biasanya cuma cengar-cengir tidak jelas. Bahkan dia juga lupa membaptiskan anaknya kalau orang tuanya tidak pernah mengingatkan dan dia cerita itu tanpa merasa bersalah. Ya itu teman kita, dengan kelakuan seperti itu dan tidak pernah merasa malu.
 
Maka, saya heran kenapa dia bisa berubah seperti itu. Sekarang, romo tahu dan lihat sendiri, dia begitu aktif terlibat di gereja, dengan seluruh keluarganya lagi. Dia amat mudah terlibat, mudah diajak dan dengan mudah pula menyumbang untuk Gereja. Coba romo tanya dong apa yang membuat dia berubah begitu?” seorang teman bertanya.
 
Suatu ketika dalam perjumpaan dengan teman yang kami maksud itu, teman itu bercerita: “Mo, waktu itu saya dan istri dipaksa oleh orang tua saya untuk ikut seminar rohani. Saya dan istri ikut dengan ogah-ogahan. Saya ikut karena lebih untuk menghormati orang tua. Tetapi saat itu entah kenapa saya seperti ditegur soal apa yang telah kubuat untuk Tuhan. Saya baru sadar bahwa semua yang saya capai, apa yang saya dapat semua kemurahan Tuhan. Saya sudah menikmati banyak hal tetapi saya melupakan Tuhan. Sejak itu  mo, saya dan istri berjanji untuk memberikan diri dan waktu bagi Tuhan.”
 
Pengalaman perjumpaan (kesadaran) dengan Tuhan membuat hidup teman saya berubah total. Kesadaran akan kemurahan Tuhan menjadikan teman saya selalu menyediakan diri untuk Tuhan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Zakheus berubah total saat berjumpa dengan Yesus. “Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah  aku mengalami perjumpaan dengan Tuhan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.