Renungan Harian: 19 November 2022

Renungan Harian
Sabtu, 19 November 2022

Bacaan I: Why. 11:4-12
Injil: Luk. 20:27-40

Hidup bersama

Sore itu saya sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi seorang adik dampingan. Dia sudah pernah pamit pada kami. Keputusan penghentian Beasiswa nya membuat dia tidak lagi mendapat support keuangan, bukan hanya untuk kuliah, tapi juga untuk biaya hidup.

Saat pamit, dia memutuskan untuk mencoba kesempatan mendaftar ke jalur militer. Katanya ada saudara jauhnya yang akan membantu. Memang konsekuensinya dia perlu mendaftar dengan sejumlah uang admin dan ongkos menuju ke lokasi.
Teman teman satu kelompok berinisiatif membantu meminjamkan sejumlah dana dari pengumpulan di kelompok kami. Tapi seperti kecurigaan kami, dia yang sangat yakin pada saudaranya itu, sungguh ditipu.

Dengan pahit hati, dia kembali ke bandung dan nebeng di kost temannya. Stress berlanjut, dan tanda tanda depresi menyertai.

“Kak, mohon maaf yah kak, jadi menyusahkan kakak dan teman teman” katanya sambil menangis, saat saya mengunjungi dia di kost temannya.

“Sudah, kami paham kesusahanmu, kamu harus coba untuk tenang”saya menjawab sekenanya, sambil mencoba mengenali bagaimana kondisinya saat ini.

Saya tanya secara perlahan, bagaimana pristiwa yg terjadi. Dia mulai bercerita lebih detail, disertai kemarahan dan air mata yang terus mengucur.
Saya sediakan telinga dan hati saya hari itu, hanya buat menemani dan mendengar serta menenangkan.

“Kak, kemarin lusa, saat teman teman kuliah, saya sendirian. Rasanya kosong dan nggak ada guna hidup ini kak. Saya pergi ke lembah di belakang sana. Awalnya mau menenangkan diri. Tapi lalu terpikir mau bunuh diri saja kak.”katanya perlahan

“Apa?!” Saya terkejut dan mencondongkan telinga, khawatir salah mendengar

“Iya kak, bunuh diri.”jawabnya lagi

Saat itu, saya dan beberapa teman memaksakan diri menemani mereka di setiap Jumat siang, bertaruh waktu istirahat siang dan hari libur, karena issue kesehatan mental sudah terjadi ditempat itu. Saya tahu ini bisa terjadi, tapi saya tidak menyangka sore itu saya akan mendengarnya mengatakan itu.

“Seperti tidak ada jalan lain, dan tidak ada guna hidup saya kak.

Tapi trus saya mikir, ini motor yang saya pinjam, siapa yang akan kembalikan ke kost. Trus saya berpikir, bagaimana saya mempertanggungjawabkan hidup saya ke Tuhan nanti? Saya akan bertemu lagi atau tidak dengan keluarga dan teman teman saya? Mereka sangat mencintai dan mempercayai saya.

Saya jadi ketakutan dan pulang. Malamnya, saat kumpul dengan teman teman, mereka masih bersedia menanggung makan, tempat tinggal dan tidak menyoalkan pinjaman saya. Disitu saya menangis kak. Tapi tidak tahu bagaimana mengatakan apa yg saya rasa.” Katanya menjelaskan.

Karena kejadian itu teman teman yang menyayanginya khawatir, dan mengundang saya menemani, walau saya juga tidak tahu persis apa yg bisa saya lakukan, selain menemani.

Gambaran tentang hidup setelah mati punya berbagai gambaran dan tafsir. Namun yang pasti, hidup kita saat ini bersama Kristus, membantu kita memahami, bahwa yang hidup dalam Kristus, akan bangkit bersama. Adakah saya hidup bersama Kristus? Tampaknya ini yang menyelamatkan adik dampingan, yang masih sempat mempertanyakan kerinduannya untuk hidup kekal bersama Kristus, yang lalu membatalkan tindakan pendek pikirnya.

Adakah kita menjalani hidup saat ini sebagai, hidup dalam Kristus, sehingga akan ada kerinduan kita, untuk bangkit bersama nanti dan hidup kekal bersamaNya?

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 November 2022

Renungan Harian
Jumat, 18 November 2022

Bacaan I: Why. 10:8-11
Injil: Luk. 19:45-48

Emosi

Sekali waktu saat saya menjadi relawan di komisi kepemudaan, saya ditugaskan membawa materi pada sebuah pelatihan bagi mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Di satu sesi, saya dibuat gugup saat keping VCD yang akan digunakan untuk memutar film tidak dapat berfungsi. Saat itu metode yang akan digunakan adalah Nonton dan diskusi film, dan karenanya saya berimprovisasi, saya membuat dinamika permainan dan sharing.

Setelah selesai, seperti biasa, para senior di Komkep mengevaluasi proses persiapan sampai eksekusi yang saya lakukan. Saya menjelaskan semua yang saya lakukan sampai dengan peserta paham dengan materi yang saya sampaikan.

“Tapi kamu sadar yang kamu lakukan akan berdampak buruk pada alur pemberian materi dan metode sesi yang lain?!”ujar seorang senior, yang selalu paling ditakuti dalam proses belajar dan tumbuh kembang kami saat itu.

“Kamu tuh sudah diingatkan untuk mempersiapkan dan memeriksa semua peralatan dan perlengkapan sebelum sesi kamu. Bukan hanya yakin semua ada, dan tidak di cek. kamu tuh ceroboh dan ngeyelan. Kamu ngerti nggak yang saya maksud?!”ujarnya dengan nada yang meninggi

“Iya mas, paham, tapi kalau VCD nya rusak, lalu saya mesti apa? Sesi kan harus terus berjalan, saya sudah coba semaksimal yang saya bisa dan apa yang saya lakukan cukup dipahami peserta kok”saya menjawab dengan nada tak kalah tinggi, karena merasa sudah cukup baik melakukan pekerjaan saya

“Nah, kan, ini yang saya maksud. Kamu nggak paham! Jangan jawab, kamu evaluasi sendiri apa yang kamu lakukan!”tegurnya cukup keras

sulit bagi saya melihat apa yang sebenarnya dimaksud saat itu, karena saya melihat senior saya sangat emosional, sehingga saya menanggapinya dengan emosional pula.
Setelahnya, saya paham bahwa sebenarnya dalam pelatihan ini, kami bukan hanya akan memberi satu sesi saja pada peserta, dan kami harus belajar melihat kesinambungan satu bagian ke bagian yang lain. Materi materi dibuat pendek dan berjenjang agar mempermudah peserta mengikuti dan memahami materi, kemudian menginternalisasi dengan lebih baik lagi.

Yang saya lakukan, menimbulkan repetisi, baik dalam paparan materi, mau pun metode. Dan sebenarnya, dalam evaluasi, sudah jelas, bahwa saya lalai untuk melakukan pemeriksaan dan kesiapan, berimprovisasi tanpa koordinasi, dan terlalu sombong dengan apa yang saya capai tanpa sadar yang saya lakukan akan berpotensi merepotkan orang lain, dan kerugian para peserta.

Dimalam harinya, kami evaluasi harian. Saya tidak punya daya untuk melawan, selain mengaku salah, meminta maaf dan benar benar belajar dari proses itu. Dan sungguh, masa masa kaderisasi itu mengajar saya tentang bagaimana emosi juga mengajar kita untuk berefleksi lebih dalam.

Perasaan kita akan lebih jelas tampak dalam bentuk emosi yang keluar dan teraktualisasi. Dan hanya dengan mengungkapkan, kita bisa dengan jelas menangkap apa yang sebenarnya terjadi, dan orang lain dapat merespon apa yang kita rasa dan tunjukan. Emosi yang dikelola dengan baik, akan memperjelas posisi kita dan bagaimana kita bersikap terhadap sesuatu.

Masa belajar dan kaderisasi saya rasanya akan hambar dan tak jelas, bila tidak ada turbolensi emosi yang menyertai kami para kader dan para pengkader. Bukan sekali dua kali kami tampak ada dalam pertengkaran, tapi dengan kepercayaan dan refleksi, proses itu menjadi pembelajaran yang luar biasa.

Yesus menunjukan perasaannya, lewat emosi marah yang Dia luapkan pada orang orang yang mengubah rumah Tuhan menjadi sarang penyamun. Dia dengan keras mengecam mereka dan menantang mereka, dengan tujuan mereka berubah dan tidak melakukannya lagi.

Yesus punya alasan dengan kemarahannya, Yesus punya harapan, akan refleksi mendalam dari para muridnya. Emosi yang muncul juga menunjukan, betapa manusiawi Yesus menanggapi prilaku buruk manusia, dan dia menunjukan dengan jelas, dimana posisinya dalam menanggapi kerusakan sosial yang terjadi saat itu.

kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Sudah jelaskah kita mengenali setiap rasa yang kita miliki? Apakah emosi yang muncul kita sadari betul? Adakah emosi yang kita tunjukan membantu kita menunjukan pernyataan diri dan posisi kita? Adakah perasaan marah terolah baik dalam emosi kita,yang menjadi bahan bakar kita dalam memberi pelayanan dan cinta kasih pada sesama?

Semoga kita mampu terus berefleksi, dari setiap perasaan dan emosi yang kita alami.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 November 2022

Renungan Harian
Kamis, 17 November 2022

Bacaan I: Why 5:1-10
Injil: Luk 19:41-44

Perasaan

Sekali waktu saya bertanya pada seorang teman relawan, yang bersedia menghabiskan cuti kantor nya untuk ikut mendampingi pelatihan, apa yang membuatnya bersedia melakukan hal ini
“Dulu saat SMP pernah ikut kegiatan gini, dan rasanya senang banget. Jadi yakin deh kalo buat gini, bawa nostalgia dan rasanya lebih senang lagi” jawabnya

Dilain waktu saya bertanya pada seorang teman, yang sedari menjadi ayah, meninggalkan semua kegemarannya dengan video games dan ‘nga-fe, dan tinggal di rumah. apa yang membuatnya bersedia melakukan hal ini
” Yah anak, anak goe tuh nyenengin banget, tiap pulang gendong, rasanya nyaman banget. Tenang, senang, mudah ketawa-ketawa dan kerepotan yang terjadi tuh semodel tantangan video games, yg kalau terselesaikan tuh puasnya luar biasa”

Lain lagi saat seorang teman pendamping anak-anak muda yang punya issue kesehatan mental, saya tanya, apa yang membuatnya mau mendampingi dan mengerjakan issue yg tidak populer dan rumit ini
“Saya pernah kehilangan teman yang bunuh diri kak. Saat itu rasa yang muncul menyesakan dada, kerongkongan tercekak, dan rasanya pundak mengeras tegang, air mata mengalir tanpa suara apapun.Itu menyedihkan sekali. Dan saya merasakan hal yang sama saat ada yang menelpon dan mulai bercerita akan kerentanan mereka, dan niat bunuh diri. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya berusaha agar hal pahit dulu tidak terjadi lagi”jawabnya

Setiap orang yang saya tanya tentang alasan mereka melakukan hal hal yang menurut saya hebat ini, saya melihat bahwa mereka mengenal dan punya perasaan yang kuat yang melatarbelakangi pilihan dan tindakan mereka. Semua berasal dari rasa, dan kehendak untuk membuat perubahan, menjadi lebih baik.

Kita sering tidak sadar, betapa besar pengaruh rasa,dan empati, mendorong kita untuk bisa bertindak jauh, tanpa kehabisan amunisi. Kadang kegembiraan, dan keinginan untuk mengulangnya, tapi kadang rasa sedih yang mendalam, yg lalu mengupayakan agar hal sedih dapat berubah senang, atau sekurangnya dapat dilakui dengan penerimaan yang mendalam.

Yesus mengenali rasa yang muncul, dan dia mengungkapkannya dengan menangisi Yerusalem. Dia menunjukan keterikatannya pada umat manusia, dan upaya penyelamatan yang hendak dilakukannya.

Adakah kita mengenali dan terus menjaga rasa yang kita miliki, agar kita dapat terus berempati dan melakukan perubahan baik dalam hidup.

Ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”

Apa perasaan dominan mu hari ini, yang membuatmu mau berkarya, hari ini…….?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 15 November 2022

Bacaan I: Wah 3:1-6,14-22
Injil: Luk 19:1-10

Nasihat masa kecil

Karena akan ada pekerjaan di Jakarta yang dimulai pagi hari, saya memutuskan untuk pergi menggunakan travel di malam hari sebelumnya. Dimasa itu, travel menjadi pilihan yang paling praktis, dibanding kereta atau kendaraan kantor.

Selepas kerja, saya langsung menuju ke mall tempat travel berada. Saya sempatkan untuk makan malam lebih awal di salah satu fastfood yang tidak jauh dari shuttle travel saya.

Saat sedang makan, ada serombongan ibu beserta anak anak mereka datang, situasi menjadi riuh. Ibu ibu berdiskusi untuk memesan, sementara anak anak langsung bermain area bermain disudut ruang, tak jauh dari tempat saya duduk.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, seorang anak terjatuh dan menangis, sementara anak anak yang lain menyalahkan satu anak dan mulai adu mulut.

Ibu dari anak yang menangis segera datang, tampak cemas dan langsung menggendong anaknya, membawanya menjauh, dan menenangkan anaknya ditempat duduk dekat tempat saya makan.

Disudut sana masih terjadi saling ejekan
“Udah jauhin, jangan diajak main, mainnya kasar, jangan ditemenin lah”
Saya tersenyum mendengar anak anak yang bertengkar, dalam benak saya, yah besok juga dah lupa dan main bersama lagi.

Tapi saya tiba tiba terdiam dan mulai berpikir, saat saya mendengar ibu yang sedang menenangkan, seperti mengamini ucapan anak anak disudut ruang sana.

“Ibu kan udah bilang, jangan deket deket dan main sama yang nakal. Jauh jauh ajah, bertemen sama yang baik ajah yah. Biar kamu nggak celaka. Dah, jangan nangis, untung kuat yah. Udah kita makan yah, nggak usah main lagi, ambil sepatunya, kita makan”ucap ibu itu menenangkan anaknya.

Sekilas rasanya wajar dan normal, dan bukan kali pertama saya mendengar nasihat senada. tapi sebagai orang luar di peristiwa itu dan mendengar nasihat tadi, saya baru sadar, terbayang bagaimana sedari kecil saya sudah terlatih dan terdidik untuk tidak bermain dengan anak nakal dan yang buruk perlu dijauhi.

Ternyata, ekskomunikasi secara tidak sadar sudah kita kenali dan praktekan sedari kecil. Rasanya tak aneh saat saya menjadi ragu untuk mendekat pada orang yang katanya bermasalah, agak sulit membantu mereka yang ber’ulah, dan enggan menjadi teman mereka yang sudah dijauhi banyak orang karena satu dan lain hal.

Lalu pertanyaannya, dimana cinta kasih yang kita miliki dan yang juga menjadi pelajaran hidup kita sedari kecil? Jangan jangan kita perlu mengkaji ulang nasihat nasihat masa kecil kita, menjadi lebih jelas tentang berhati-hati dan mawas diri, ketimbang langsung membiasakan hukuman menjauhi dan pengucilan.

Mungkin Zakeus akan lebih cepat bertobat, saat orang orang mendekat dan menyapanya sebagai sahabat, ketimbang memperlakukannya sebagai musuh dan menjauhinya.

Yesus memilih mendekat dan menyapanya. Betul itu tidak mudah, apalagi seruan banyak orang membangun opininya sendiri

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa”

Semoga, kita terus disemangati dan ditemani oleh Tuhan, untuk mendekat dan menemani mereka yang berdosa, dan membantunya menemukan Tuhan. Kita juga perlu sadar, bahwa kita orang berdosa, yang pasti akan senang saat ada yang menyapa dan menemani sebagai sahabat.

Tuhan ampuni kami, Tuhan temani kami.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 November 2022

Renungan Harian
Senin, 14 November 2022

Bacaan I: Wah 1:1-4, 2:1-5a
Injil: Luk 18:35-43

Saksi

Sore itu selepas bekerja di gudang tempat kami menyiapkan peralatan dan perlengkapapan kegiatan, kami berniat makan bersama untuk makan siang yang terlambat kami lakukan.

Karena letak gudang di jalan besar yang berseberangan dengan Ayam goreng cepat saji milik Sang kolonel, kami sangat sering menyebrang dan makan disana. Dan karena terlalu sering, kami sampai bosan. Pesan makan online pun sudah tertebak makanan yang ada disana dan juga sudah bosan.

“Kak, masa kecil dan remaja loe dulu di sekitar sini kan? Apa lagi yang enak disekitar sini?” Tanya salah seorang teman

“Udah pernah makan mie kocok di stadion Persib belum? Enak loh, kuahnya nggak terlalu berlemak, ada tulang muda dan iga” saya mengusulkan

“Hah? Mie kocok pake iga, serius loe? Kikil atuh mie kocok mah”seru yg lain

“Ya ada, kikil toge mah wajib, tapi ini khas. Makanya coba deh, goe sih cocok yah, kuah nya lekoh, tulang mudanya buat ketagihan”saya menambahkan

Tampanya mereka ragu, tapi karena ada seorang yang penasaran, maka kami bersepakat untuk membeli. Karena tidak ada di layanan online, seorang teman pergi membeli. Karena tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit kami sudah siap makan.

Semua tampak terkesima dengan perbandingan harga dengan apa yang tampil di meja makan. Saya mulai meracik dengan sambal dan jeruk limo, demikian juga dengan yang lain dan reaksi mereka beragam dengan arah senada, kepuasan dan kekaguman akan rasa yang tersaji.

“Gile ini di mangkokin cantik dikit dah jadi makanan mewah di restoran ini mah” kata yang satu

“Iya gila ini enak banget, cocok goe” sahut yang lain

“Kak, loe mah aneh, berbulan bulan kita kerja disini, berujung makan fastfood dan junkfood, loe baru bilang sekarang ada makanan se enak ini di dekat sini. Ini mah tiap kali kita gawe disini makannya ini, gw nggak nolak. Punya tempat makan enak di share donk kak, jangan di monopoli” ucap yang lain.

Kami makan dengan perasaan senang, ngobrol dan merasa siap untuk melanjutkan lagi pekerjaan kami disore itu dengan semangat.

Dari keraguan dan ketidak tahuan, teman teman menemukan jawabnya dari apa yang mereka alami, rasakan dan nikmati. Apa yang saya sampaikan membuat mereka tahu dan mengalami mie kocok yang enak. Kalau saya diam saat ditanya dan tidak berbagi pengalaman saya, maka tidak ada para pelanggan baru mie kocok itu dan orang orang puas sore itu.

Dari peristiwa berbagi sore itu, kita dapat belajar tentang peran berbagi dan bersaksi. Tampaknya kesaksian dan pengalaman diri kita, bisa membantu banyak orang merasakan bahkan mengalami berkat yang Tuhan beri. Disini kita sadar, bahwa menjadi saksi iman itu baik dan penting. Bisa jadi ada dari mereka yang tidak merasakan atau paham dengan kesaksian kita, tapi setidaknya, akan ada orang orang yang punya pengalaman yang sama, yang tersentuh dan menjadi semakin diteguhkan imannya, oleh kesaksian kesaksian yang ada.

Bagaimana dengan hidup kita? Adakah berkat Tuhan penyentuh dan kita rasakan sungguh? Adakah kita membagikannya pada orang lain? Adakah kesaksian akan besarnya kasih Tuhan kita wujudkan lewat cara hidup kita? dengan kesaksian kita, banyak orang akan ikut memuji dan memuliakan Tuhan.

Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau! t ” Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah

Semoga kita dapat menjadi saksi Tuhan lewat cara hidup kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 10 November 2022

Renungan Harian
Kamis, 10 November 2022

Bacaan I: Fil 1:7-20
Injil: Luk. 17:20-25

Kerajaan Allah

“Ternyata tidak mudah yah kak” sahut seorang adik di komunitas, saat proses dampingan Pilar Spiritualitas, tahap 2 ‘Spiritualitas Ignasian dalam Komunitas’, dengan materi bantu ‘General Principles and General Norms of Christian Life Community’ (Prinsip Prinsip Umum dan Norma Norma Umum CLC)

Saat itu kami membahas Point 4 Prinsip Umum, tentang Karisma CLC

“Komunitas kami terdiri dari umat Kristiani: laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dari semua latar belakang sosial, yang ingin mengikuti Yesus Kristus lebih dekat dan bekerja bersamaNya untukmembangun Kerajaan Allah, dan yang telah mengenal CLC sebagai karya khusus dalam Gereja.

Kami ingin menjadi umat Kristiani yang bertanggung jawab dalam menjadi saksi kemanusiaan dan nilai injili di tengah Gereja dan masyarakat, membawa pengaruh pada martabat pribadi, keselamatan keluarga, dan keutuhan ciptaan. Kami secara khusus sadar akan kebutuhan yang mendesak untuk berkarya demi keadilan melalui keberpihakan pada kaum miskin, dan akan melaksanakan hidup sederhana sebagai ungkapan kebebasan dan solidaritas kami bersama mereka.

Untuk mempersiapkan anggota kami lebih efektif memberikan kesaksian dalam karya perutusan, terutama di lingkungan kehidupan kami sehari-hari, kami mengumpulkan dalam komunitas, pribadi-pribadi yang merasakan adanya kebutuhan lebih mendesak untuk menyatukan seluruh dimensi hidup kemanusiaan dalam kepenuhan iman Kristiani menurut kharisma kami. Kami berupaya menyatukan hidup ini dengan menanggapi panggilan Kristus dari tengah dunia dimana kami hidup.”

“Kalau terus dibaca saja, memang sulit, saya juga selalu merasa berat tiap kali membaca GP kita ini. Tapi lalu saya memutuskan untuk tidak berhenti di membaca. Dan lakukan saja dari hal-hal kecil yang saya bisa, entah itu tepat atau tidak, yang penting kita coba.

Membangun relasi egaliter dan berkeadilan dan berkesetaraan gender. Berusaha melakukan kebaikan dan menyebar kepeduliaan pada issue kemanusiaan,lingkungan hidup, sesederhana apapun. Hidup sederhana dan berpihak pada pengentasan kemiskinan.

Itu sebabnya, saya terus belajar dan mendukung gerakan Keadilan dan kesetaraan gender, Ajaran Sosial Gereja, go green, donor darah sebisa saya, menabung dan mengelola keuangan di Koperasi yang mengangkat Ekonomi kerakyatan, untuk mengentaskan kemiskinan.

Apa yang kita lakukan, adalah upaya membangun kerajaan Allah bagi semua orang, dan semua dimulai dari diri kita pribadi. Tanpa perlu merancang hal besar yang sulit dan rumit, tapi justru dari cara hidup kita.

Kita coba jalankan bersama yah, saya juga terus belajar dan mencoba menjadi bagian dari karisma kita di CLC” saya berbagi malam itu. Sebuah sharing sekaligus peneguh diri, karena sering juga gagal dan tak mampu menjalankannya.

Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu

Semoga kita bisa terus bersama Kristus membangun Kerajaan Allah, lewat setiap tindakan kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 November 2022

Renungan Harian
Rabu, 9 November 2022

Bacaan I: 1 Yeh 47:1-2,8-9,12
Injil: Yoh 2:13-22

Barter

Sekali waktu saya dan beberapa teman janji bertemu. Kami memutuskan hari minggu, walau kami tahu, hari minggu adalah hari keluarga. Tapi rasanya itu yang paling mungkin, karena hari biasa, adalah hari kerja, sisa waktu di malam hari terkadang terlalu sempit dan melelahkan.

Kami bersepakat untuk memilih sebuah cafe dengan konsep taman, di sekitar jalan Sulaksana, Bandung. Cafe yang nyaman, taman luas, ada area bermain buat anak dan makanan serta minuman yang cukup baik. Kami memang bersepakat bahwa sangat boleh membawa keluarga.

Saya datang pertama kali di tempat tersebut, lalu menyusul teman teman lain. Dari sana saya bisa melihat betapa serunya teman teman saya yang adalah orang tua muda mengkomando rombongan kecil keluarganya.

Menyenangkan akhirnya bisa meluangkan waktu bersama, dan ngobrol kesana kemari, dari nostalgia sampai hal hal kedepan. Ditengah obrolan obrolan yang muncul, beberapa anak teman saya datang, dan mengajak orang tuanya bermain atau sekedar berbuat gaduh mencari perhatian orang tuanya. Dinamika ini menjadi seru untuk dinikmati.

Saya melihat ada teman saya yang sudah siap dengan jajanan dan setiap kali anaknya rewel, dia memintanya diam dengan jajanan sebagai barter. Yang lain dengan santai menyuruh anaknya diam dengan barter HP dan menyuruhnya main. Semua punya trik nya masing masing.

Seorang teman agak berbeda, ketika anaknya tampak jenuh dan gaduh, dia memanggil dan berbisik pada anaknya, lalu si anak mengangguk angguk lalu pergi bermain di taman.

“Disogok apa nih, langsung nggak rewel dan pergi main?” Goda saya

“Nggak pake sogokan, anak gw dah diajar bersepakat dari kecil”jawab teman saya dengan tawa ringan

“Goe dan papi nya sepakat, bahwa di rumah kami semua disepakati bersama, jadi anak juga kami perlakukan sama. Ada bagian kami yang tentukan, tapi tetap dengan penjelasan, supaya anak dah kenal konsep bersepakat dari kecil.

Tadi dia kami suruh milih, mau ikut mami pertemuan dengan teman teman mami, atau di rumah dengan papi nya. Tapi kalau ikut mami bertemu banyak orang, artinya dia harus menjaga diri dan orang disekitar, nggak boleh buat gaduh dan mengganggu orang.

Goe jelasin apa saja yang akan mami lakukan dan berapa lama kira kira. Dan dia deal ikut goe, jadi tadi sepertinya dia liat temen temennya bosan, jadi ikut bosan, dan mulai rewel, jadi goe bisikin lagi tuh kesepakatan kami di rumah. Dan goe juga bilang tinggal 20 menit lagi kita pulang. Jadi dia mood lagi tuh kayaknya. Goe nggak mau pake konsep nyogok anak, takut makin tuman loh entar. Jadinya semua relasi serba transaksional, semua perlu di barter. Kalo bersepakat tuh lebih melatih dia buat liat kondisi dan aware sama sekitar. Papinya dan goe sepakat begitu.

Jadi ayo dilanjut pembicaraannya, tinggal 20menit nih waktu goe. Harus beri contoh baik dalam bersepakat.” Jawab teman saya sambil tertawa dan kami melanjutkan obrolan kami.

Saya rasa benar apa yang teman saya sampaikan. Dengan nyogok, kita malah memelihara potensi buruk yang mengarah pada pemerasan nantinya. Relasi orang tua anak pun menjadi relasi yang transaksional, orang tua beri apa, baru anak mau lakukan. Bila anak mau apa, dia tinggal rewel, dan dia tahu akan dapat sesuatu dari orang tuanya. Semua dengan konsep barter

Nampaknya itu juga yang Yesus ingin kita ingat terkait relasi kita dengan Bapa kita di surga. Bahwa korban hewan dan bakaran, bukan alat barter dan menyogok, namun selayaknya sebagai tanda kasih semata. Tidak di bisnis-kan, apa lagi dengan sengaja di nominalkan, dan membuat orang yang tidak mampu, menjadi terpinggirkan.

Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

Tuhan tidak ingin relasi kita menjadi relasi transaksional dan barter, atau memaksa berkat dengan doa dan persembahan. Relasi kasih yang tulus yang Tuhan pinta dari kita, dan soal berkat maupun surga, itu kuasa Allah untuk menentukan.

Semoga kita tidak terjebak dalam relasi barter dan transaksional dengan Tuhan, dan sungguh dengan Tulus mengasihi dan dikasihi Tuhan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 8 November 2022

Bacaan I: Tit 2:1-8,11-14
Injil: Luk. 17:7-10

Tidak ada

Sekali waktu setelah selesai menjadi tuan rumah dan pendamping sebuah perhelatan Retret Internasional, teman saya menunjukan kumpulan foto kegiatan yang berlangsung hampir 6 hari, dengan persiapan yang berbulan bulan.

Foto foto yang menarik, kegiatan dibeberapa tempat, dari check point di seminari, sampai di area Gua Maria. Semua tampak menyenangkan untuk dilihat dan dikenang.
Ada banyak rasa yang tiba tiba muncul, senang, bahagia, terharu, bangga, dan sedih.

Teman saya memperhatikan perubahan yang saya alami, lalu bertanya

“Kamu kenapa? Kok kayak sedih gituh, mikirin apaan? Terharu yah”tanya nya melihat saya jadi terdiam melihat foto foto itu.

Awalnya saya menghindar, dan mengatakan tidak ada apa apa. Dan saya berusaha untuk mencari tahu juga kenapa dengan saya dan berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa saat saya baru mengaku.

“Nggak ada foto saya”saya menjawab dengan tertawa, yang rasanya agak kecut.

“Hah?! Masa?!”lalu dia melihat ulang foto foto yang ada.

Sebenarnya, dan selayaknya, saya tidak perlu aneh. Saya menjadi 1 dari 2 orang awal yg mengkomandoi kegiatan di tempat kami tersebut. Sebagai bagian dari kegiatan internasional, banyak hal yg perlu kami kerjakan dan persiapkan. Saya bersama beberapa teman ada di bagian persiapan, dan mengurusi serta mempersiapkan hal hal teknis diawal, dan lebih dulu dari peserta dan panitia yang lain.

Kami selalu lebih awal mempersiapkan tempat, sesi dan koordinasi pendamping. Memastikan peserta ada ditempatnya, lalu pergi lagi untuk mempersiapkan tahap selanjutnya, lebih awal. Jadi tak aneh, bila saya dan beberapa teman, tidak ada dalam frame foto dibagian kegiatan manapun. Saat itu kamera handphone belum secanggih sekarang, dan tim dokumentasi masih terbatas pula.

“Tapi kamu nggak mengukur nilai pelayanan yang kita beri dari tampil atau tidaknya kamu di foto foto ini kan?”tanyanya sambil tampak masih melihat foto foto itu

“Nggak sih, cuma jujur tadi agak sedih karena, saya seperti tidak ada. Padahal saya merasa, saya berbuat banyak. Mungkin ini ego sedang berbicara. Ada rasa tidak diapresiasi jadinya. Konyol yah”saya geli dan tertawa sendiri menyadari apa yang saya rasa dan pikir.

” Sedari kamu mengajak kami gabung di kepanitiaan, dan mulai bekerja mempersiapkan semuanya, sampai jatuh bangun, keringat air mata, masa iya kamu sedih karena foto?

Nggak lah, jangan, kita sudah menyediakan diri sebagai relawan. Kita dengan sadar memilih kerelaan dan panggilan pelayanan dalam kegiatan ini. Sepertinya tidak perlu mengharap pengakuan, pujian, dan bayaran dalam bentuk apapun, selain kebahagiaan karena nilai dan pelayanan kita bisa berjalan dengan baik.

Wajah siapa pun yang muncul, dan dilihat orang, itu tidak menjadi bukti pencapaian kita. Yah wajar sih kalau kita masih mengharap pengakuan akan keberadaan kita. Tapi rasanya kita perlu terus melatih diri, bahwa ini pilihan dan tugas kita, jadi tidak perlu mengharap lebih, selain semua tugas pelayanan berjalan dengan baik, dan berbuah untuk banyak orang”jawabnya meneguhkan.

Moment itu adalah masa pembelajaran saya. Semakin dewasa, saya semakin paham dengan sharing dimasa itu. Bahwa mereka yang telah kita pilih untuk layani, adalah yang utama. Kita sebagai pelayan, perlu berbahagia, dan berbangga, saat pelayanan kita bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Cukup, tak perlu yang lain. Kalau pun ada, itu bukan upah, tapi bonus, yang bisa jadi tak ada, dan bila ada, kita syukuri dengan bahagia.

Seperti sabda Tuhan hari ini, bagaimana Dia memberi perumpamaan tentang totalitas pelayanan, yang tidak pamrih, dan mengharap balas.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.

Tuhan, selalu temani kami, agar dalam setiap hal yang kami lakukan, kami bisa menjadi pelayanMu yang sungguh.

Ad Maiorem Dei Gloriam

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 November 2022

Renungan Harian
Senin, 7 November 2022

Bacaan I: 1 Tit 1:1-9
Injil: Luk. 17:1-6

Menyesal

“Jadi belum baikan nih kak?belum termaafkan?” Tanya seorang adik sambil melirik pada seorang rekan yang pada beberapa kali kegiatan, membuat beberapa orang, dan saya salah satunya, kesal dan marah.

“Hah? Maksudnya gimana?” Tanya saya sambil tersenyum, tentu saya tahu apa yang dia maksud, tapi saya ingin dia menperjelas yang dia maksud

“Ya dari beberapa kali evaluasi dan kegiatan, dia membuat kalian kesal dan marah. Dan sudah jelas juga dia melakukan kesalahan yang berpotensi membahayakan peserta dan kita. Dan anehnya dibuat lagi dan lagi” jelasnya

“Nah, itu tahu” jawab saya sambil tertawa

“Kalau soal maaf, bisa diaturlah, manusia mana yang nggak punya salah sih. Cuma kalau yang kamu maksud kemudian kepercayaan dan delegasi tanggung jawab, itu beda lagi ceritanya de. Walau sering sulit menerima keadaan dan memberi maaf, tapi aku sudah memberi maaf kok, tapi ini sudah bukan soal memberi maaf, tapi ini soal Penyesalan.

Aku pribadi sering merasa permohonan maaf saja susah dia utarakan, ditambah lagi, susah sekali melihat dia sungguh menyesal. Jadi bagaimana aku yakin kalau dia sadar dengan kesalahannya dan tidak akan berbuat kecerobohan dan pelanggaran itu lagi?

Meminta maaf itu aku rasa bukan soal diutarakan. Harus diawali dulu dari kesadaran, tahu persis apa yang menjadi kesalahan, benar benar mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan dan punya rasa menyesal dengan sungguh, dan yang terpenting dan sering jadi patokan ku pribadi nih, dia menunjukan perubahan dalam berprilaku, nah baru aku yakin dia sungguh menyesal dan meminta maaf.

Karena artinya dia sungguh sungguh. Jadi bukan tugasku sekarang untuk mengobral maaf dan memberinya kepercayaan begitu saja. Aku rasa sekarang tugas dia untuk sungguh menyesal dan berubah. Aku rasa dari sana kita jadi bisa sungguh dengan tulus juga memberi maaf dan paham akan penyesalan yang dia beri. Kalau belum ada tanda tanda itu, yah tidak perlu ada amarah dan kecewa lagi sih, tapi yah rasanya manusiawi yah kalau lalu aku belum bisa mempercayakan delegasi dan tanggung jawab. Yah aku juga masih perlu banyak belajar dan bertobat lah kalau soal memaafkan”jelas saya

Rasanya kita sering terjebak dalam “lingkaran setan memaafkan”. maaf dan diulangi lagi, dan maaf lagi dan diulangi lagi. Bahkan terkadang sampai bosan dan kosong rasa percaya kita. Perlahan tapi pasti, kita jadi tersakiti lagi dan lagi, bahkan potensi ‘kerusakan pada banyak orang’ jadi hal yang sangat mungkin terjadi.

Seringkali desakan “harus memaafkan” membuat kita buta akan urutan proses yang semustinya kita pahami sebagai proses meminta dan memberi maaf. Apa yang perlu dimaafkan? Apa sungguh ada yang meminta maaf? Apa sungguh kita memberi maaf karena ada yang meminta maaf? Atau kita hanya butuh sebuah proses penerimaan diri kita pribadi, akan apa yang terjadi?

Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia

Seseorang harus tahu apa kesalahan yg terjadi, sungguh merasa menyesal, dan mengubah prilaku buruknya.

Meminta maaf dan memberi maaf adalah proses timbal balik, bila tak ada penyesalan dan perubahan, lalu apa arti maaf yang kita beri?

Semoga Tuhan memberi kita hati yang damai, yang memampukan kita menerima situasi yang terjadi, memberi maaf dengan sungguh, dan atau meminta maaf dengan sadar saat kita berbuat salah.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 6 November 2022

Renungan Harian
Minggu, 6 November 2022

Bacaan I: 2Mak 7:1-2, 9-14
Bacaan II: 2 Tes 2:16-3:5
Injil: Luk. 20:27-38

Orang Hidup

“Kami, dipernikahan kami tidak ada uparaca adat injak telur dan cuci kami suami”kata seorang mba berkisah tentang ritual dalam upacara pernikahan mereka, dalam sebuah pelatihan Kepekaan Gender.

Saya sudah mengenal mereka cukup lama, saya ingat betul bagaimana relasi mereka sebagai sahabat. Sebagai penggiat issue keadilan dan kesetaraan gender, mereka tahu bahwa salah satu tantangan terbesar adalah budaya di rumah.

Dalam pernikahan mereka, budaya adil dan setara mereka sepakati sebagai budaya baru, mengganti budaya yang mereka belum temukan jawab, selain kata
“Ya dari dulunya begitu, kalau tidak, bisa pamali”

Mereka menyepakati, tradisi dari masa lalu yang memanusiakan manusia dibawa dan dilestarikan, namun bila tradisi tidak mendorong keadilan dan kesetaraan, serta memanusiakan manusia sebagai citra Allah, maka perlu dikaji ulang dan direvisi. Mereka yakin, bahwa fokus relasi yang ada, adalah milik mereka yang hidup, bukan hanya soal tradisi, warisan pendahulu yang sudah mati.

Dulu saya sulit memahaminya, dan melihatnya sebagai tindakan nekat, karena berani membuat “budaya sendiri” yang tak populer. Dan kini setelah bertahun-tahun kemudian, mereka sudahbpunya 2 anak remaja, yang juga hidup dalam budaya adil dan setara. Ternyata bisa.

Kadang kita melihat masa lalu sebagai patokan, sehingga lupa pada masa kini dan manusia manusia yang ada.

Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup

Semoga kita berani menatap Allah yang ada di wajah mereka yang hidup disekitar kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.