Renungan Harian: 16 Juli 2021

Renungan Harian
Jum’at, 16 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 11: 10-12: 14
Injil: Mat. 12: 1-8

Tuhan Jangan Lewat

“Romo, apakah saya boleh minta tanda atau benda apapun untuk rumah kami agar Tuhan tidak lagi mengambil salah satu anggota keluarga kami?” suara seorang ibu di saluran telepon di tengah malam beberapa hari yang lalu. Saya tidak kenal dengan ibu tersebut karena memang bukan dari tempat di mana saya bertugas.

“Maaf, ibu apa yang bisa saya bantu? Apa yang ibu maksud dengan tanda atau benda? Ibu membutuhkan salib atau rosario atau kedua-duanya?” tanya saya memperjelas karena saya tidak mengerti apa dimaksud.

“Apapun itu romo, pokoknya yang bisa menyelamatkan kami,” jawab ibu itu.

“Ibu, tenang ya, apa sebenarnya yang ibu harapkan?” tanya saya dalam bingung.

“Saya boleh cerita romo?” tanyanya.

“Boleh, silahkan ibu,” jawab saya.
 
“Romo, dalam dua minggu ini saya kehilangan 4 orang yang saya cintai. Kedua orang tua saya, adik saya satu-satunya dan suami saya. Romo, semua meninggal karena covid. Awalnya adik saya mengalami batuk pilek, dia tinggal dengan kedua orang tua  saya di rumah sebelah. Oleh ibu saya dikerok karena biasanya begitu dan sehat kembali. Dua hari tidak sembuh malah ibu dan ayah saya ikut batuk-batuk. Kami berpikir kena influenza (flu). Tetapi kemudian hari berikutnya mereka demam tinggi. Suami lapor ke puskesmas khawatir kalau mereka terpapar covid. Hari itu juga mereka dijemput ambulan dibawa ke rumah sakit, dan ternyata positif covid. Saya, suami dan 2 anak saya diperiksa dan puji Tuhan kami negatif.
 
Romo, ternyata keadaan orang tua dan adik saya cukup parah. Seminggu di rumah sakit, ibu dipanggil Tuhan. Belum juga kami bisa memberi tahu bapak, esoknya bapak dipanggil Tuhan. Romo, kami amat terpukul dengan semua itu. Saya begitu sedih dan takut. Saya sungguh-sungguh diam di rumah, beli sayur lewat tukang yang lewat di depan rumah. Saya juga minta suami saya untuk tidak usah pergi kerja dulu. Tetapi suami saya mengatakan kalau dia tidak bekerja kami semua justru mati kelaparan. Saya tidak tahu harus bagaimana jadi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Belum juga kami hilang sedih dan takut adik saya menyusul kedua orang tua kami.
 
Romo, kami berdoa sudah tidak tahu lagi mau bicara apa. Saya merasakan kengerian yang luar biasa. Saya tiap hari ribut dengan suami, karena dia masih juga kerja dan keluar cari tambahan. Saya sudah minta sudah-sudah tetapi tidak didengar. Dan hal yang tidak saya harapkan terjadi. Suami saya pulang kerja demam tinggi dan sesak nafas. Menurut dia sebenarnya sudah beberapa hari merasa tidak enak badan, tetapi tetap harus kerja agar kami bisa makan. Kami semua dites lagi dan kami semua positif. Suami dibawa ke rumah sakit karena cukup parah, sedang saya dan dua anak saya isolasi di rumah. Kebutuhan obat diberi dokter puskesmas sedang kebutuhan sehari-hari kami dikirim oleh tetangga. Romo, saya sudah tidak tahu lagi harus berdoa dengan cara apa. Dua minggu di rumah sakit suami dipanggil Tuhan. Dunia saya gelap, saya mau berteriak sudah tidak ada suara lagi, menangis sudah tidak ada air mata lagi.
 
Romo, sekarang saya masih isolasi dengan kedua anak kami. Saya tiap malam mendekap mereka jangan sampai mereka juga diambil. Itu romo, mengapa saya minta tanda atau benda apapun agar Tuhan tidak datang ke rumah kami dan mengambil salah seorang dari antara kami lagi,” ibu itu bercerita.
 
Saya tidak bisa berkata apa-apa, badan saya terasa lemas membayangkan apa yang dialami ibu itu. Terbayang kengerian hari-harinya berhadapan dengan maut. Saya bertanya pada diri sendiri: “Benarkah ini Tuhan lewat? Sehingga banyak yang dipanggil menghadapNya? Lalu tanda apakah yang harus dipasang di palang pintu rumah agar keluarga tidak diambil? Atau Tuhan butuh begitu banyak malaikat sehingga harus mengambil banyak umatNya di bumi untuk dijadikan malaikat?” Aku tidak tahu jawabnya. Aku bergumam lagu yang kudapat dari media sosial:

“Gusti, kulo nyuwun saras, sarasing sukma……. (Tuhan saya mohon kesembuhan, kesembuhan jiwa)”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Juli 2021

Renungan Harian
Kamis, 15 Juli 2021
PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Kel. 3: 13-20
Injil: Mat. 11: 28-30

P a n i k

Suatu siang sebuah keluarga menerima berita dari putranya yang ada di luar kota bahwa semalam dirinya baru saja kumpul-kumpul dengan teman-temannya, dan salah satu teman yang ikut kumpul itu ternyata positif covid. Berita itu membuat panik orang tuanya. Putranya mengatakan bahwa dirinya akan isoman di kota itu. Orang tuanya bingung karena kalau putranya kemudian ternyata tertular dan sakit, siapa yang akan mengurus di sana. Setelah mengadakan pertimbangan orang tuanya meminta putranya agar swab antigen, dan apabila negatif maka segera cari tiket untuk pulang ke rumah. Orang tuanya memesan hotel di kotanya untuk isolasi mandiri beberapa hari supaya jelas dahulu tidak bergejala baru kumpul di rumah.
 
Hasil tes menunjukkan bahwa anak itu negatif sehingga dia bisa pulang dan tinggal di hotel. Namun baru semalam di hotel, putranya merasa demam dan batuk. Orang tuanya panik lagi dan segera mengambil keputusan menyiapkan kamar terpisah di rumah untuk isolasi mandiri.
Bapaknya segera menghubungi dokter untuk minta saran berkaitan dengan yang terjadi pada putranya. Dokter memberi resep sejumlah obat yang harus diminum untuk penyembuhan.
Anak itu dijemput dari hotel dan diisolasi di kamar yang disediakan.
 
Beberapa waktu berjalan, putranya menunjukkan gejala yang semakin parah, ibunya bingung apa yang harus dilakukan, sementara suaminya mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja karena ada dalam pengawasan dokter. Setiap hari istrinya ribut karena ia membaca media sosial yang menyarankan harus beli ini dan itu, belum lagi mendengar dari teman-temannya yang pernah mengalami terpapar virus covid. Semua yang disarankan media sosial dan teman-temannya hendak dibeli. Suaminya mengatakan tidak perlu karena sudah dapat obat dari dokter, dan itu cukup. Tetapi istrinya mengatakan yang penting sedia dulu soal diminum atau tidak urusan nanti. Tiada hari tanpa keributan berkaitan bagaimana merawat dan menemani putranya. Belum lagi soal saturasi oksigen yang sering kali naik turun, lebih membuat panik. Istrinya minta agar cari tabung oksigen untuk berjaga-jaga. Kepanikan semakin dalam manakala mendengar berita bahwa salah satu temannya semakin turun kesehatannya.
 
Suaminya suatu hari menelpon saya dan menceritakan semua itu. Suaminya mengatakan kepada saya: “Romo, sejujurnya saya juga khawatir dan panik, bagaimanapun itu anak kami, tetapi kalau kami panik membuat anak kami juga menjadi resah sehingga memperlambat penyembuhannya. Saya berjuang untuk selalu tenang menghadapi istri saya, walaupun kadang-kadang jengkel. Dia tiba-tiba bilang ke saya: “Mas, aku sudah beli obat ini dan itu, sebaiknya diberikan nggak ya?.” Karena saya tidak setuju membeli obat ini itu atas saran media sosial dan teman-temannya maka dia diam-diam membeli.
 
Romo, kami selalu berdoa dan berdoa mohon untuk kesembuhan anak kami. Saya ingat Tuhan bersabda: “Datanglah kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.” Saya berdoa menyerahkan beban kami, dan kami “memaksa” Tuhan agar segera menyembuhkan anak kami. Semakin kami “memaksa” semakin kami menjadi resah, dan beban kami semakin berat. Romo mohon doa dan saran.”
 
“Bapak, sabda Tuhan yang bapak kutip dan yakini itu benar namun tidak lengkap. Tuhan bersabda: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajar dari padaKu, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.” Maka bukan hanya mohon dengan “memaksa” Tuhan tetapi belajar untuk memanggul beban itu.”
 
Sebagaimana pengalaman bapak itu, banyak diantaraku yang berpikir seperti bapak itu dan lupa bahwa Tuhan meminta agar aku memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari padaNya.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bersedia memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari padaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Juli 2021

Renungan Harian
Rabu, 14 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 3: 1-6. 9-12
Injil: Mat. 11: 25-27

Allah Menyertai

Beberapa tahun yang lalu, suatu siang saya pergi ke pusat perbelanjaan elektronik. Di pusat perbelanjaan itu terkenal sebagai tempat jual beli dan servis handphone. Ketika saya sedang berjalan mencari sebuah toko servis hp, saya dikejutkan dengan sapaan seorang bapak yang sedang berjalan dengan istrinya.
“Maaf, kamu Iwan ya?” sapa bapak itu.

“Iya benar, maaf, bapak siapa? Maaf saya lupa,” jawab saya.

Saya sama sekali tidak mengenali siapa bapak itu.

“Aku Pras, teman lama,” bapak itu memperkenalkan diri. 

“Waduh, maaf pras mana ya, maaf gak kebayang sama sekali,” jawab saya.

“Halah aku Genjik. Sekarang ingat?” jawabnya.

“Ha? Bener kamu Genjik?” jawabku tidak percaya. Dia mengangguk sambil tertawa. Kami bersalaman dan berpelukan. Sudah amat lama kami tidak bertemu.
 
“Sekarang kamu tinggal di sini? Kamu kerja di mana?” tanya teman saya ketika kami duduk di foodcourt.

“Iya, aku tinggal di sini, aku jadi romo,” jawabku.

“Wah elok, luar biasa tenan, kancaku jadi romo,” katanya.

“Kamu itu yang hebat, wah luar biasa lho. Genjik sekarang ganteng, parlente,” kata saya diikuti tertawa kami berdua.

“Wah bener Wan, ingatase Genjik, anakke tukang becak kok isa dadi uwong. (Betul Wan, seorang Genjik anak tukang becak kok bisa menjadi orang).” Jawabnya.

“Kamu kerja dimana? Dan sudah lama tinggal di sini?” tanya saya.

“Nggak, aku tinggal dan kerja di Jakarta di sini hanya main aja,” jawabnya.

“Wah hebat, luar biasa, keren,” kata saya.

“Yang hebat itu yang di atas,” jawabnya. “Ceritanya panjang Wan, dari ketulo-tulo tekan mukti iso mrajakke wong tua. (dari sengsara hingga mapan dan bisa mensejahterakan orang tua),” katanya.
 
“Wan, ketika aku masuk SMP, bapakku meninggal. Yah, kata orang dulu angin duduk, kalau sekarang sakit jantung mungkin. Bapak meninggal di becaknya. Itu membuat saya amat terpukul. Lebih-lebih, simbok memintaku untuk berhenti sekolah karena tidak sanggup membiayai. Tetapi karena aku ingin tetap sekolah aku “ngenger” (kerja) di rumah saudara jauh. Wan aku sekolah SMP- SMA seperti sambilan, pekerjaan pokokku jadi babu.
Puji Tuhan, aku diterima PMDK di Universitas Negeri yang terkenal itu, tetapi berpikir biaya jadi bingung. Simbok menjual perhiasan yang tidak seberapa tetapi cukup untuk membayar awal kuliah. Aku kuliah sambil kerja dan bersyukurnya aku boleh tinggal di tempat kerja. Jadi hemat tidak membayar kost. Aku bersyukur karena uang hasil kerjaku bukan hanya cukup untuk membayar kuliah dan makan ala kadarnya, tetapi bisa membantu uang sekolah adik-adikku.
 
Singkatnya aku lulus sarjana dan diterima ditempat kerja ini. Dan yang tidak kusangka-sangka aku mendapat kepercayaan dan berkat, sehingga menjadi seperti sekarang aku bisa jadi pimpinan perusahaan. Wan, kalau hanya mengandalkan diriku pasti gak mungkin, kamu sendiri tahu aku seperti apa. Tetapi ya itulah kalau Tuhan mau, Dia tidak akan kurang akal untuk menyempurnakan umatNya. Genjik yang anak tukang becak, babu, sekarang jadi pimpinan perusahaan. Aku sampai sekarang selalu kagum dan heran cara Tuhan menyertai dan menuntun hidupku,” temanku mengakhiri kisahnya yang panjang.
 
Allah memilih dan mengutus seseorang selalu menyertai dan melengkapi yang dibutuhkan dariku adalah kesediaan berjuang untuk dibentuk. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, Musa dipanggil untuk tugas besar, meski itu nampak mustahil bagi Musa, tetapi Tuhan menjanjikan untuk selalu menyertai. “ “Siapakah aku ini, maka aku harus menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
Lalu Tuhan bersabda: “Bukankah Aku akan menyertai Engkau?” “
 
Bagaimana dengan aku? Percayakah aku bahwa Tuhan akan selalu menyertai diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 13 Juli 2021

Renungan Harian
Selasa, 13 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 2: 1-15a
Injil: Mat. 11: 20-24

Penjudi

Suatu sore  saat saya diajak salah seorang teman untuk ngobrol di sebuah café, tak sengaja bertemu seorang teman lama kami. Kami sudah lama tidak pernah bertemu. Kami berdua tahu persis bahwa teman lama kami ini dulu seorang penjudi. Dia orang yang pandai dan punya banyak bakat, tetapi karena hobinya berjudi, dia tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah menengah. Dulu, kalau bertemu, dia selalu kelihatan lusuh, dan kurang tidur. Setiap kali bertemu dia akan selalu bilang pinjam uang untuk modal judi. Maka sering kali kami menghindari dia, karena tidak mau terlibat dalam pinjam meminjam uang dengan dia.
Kali ini penampilan dia jauh berbeda. Dia berpakaian rapi, dan kelihatan segar. Kami berdua senang melihat perubahan dalam dirinya. Kami berdua berpikir bahwa dia sekarang sudah bertobat dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
 
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba teman lama kami itu mengundang kami ke rumahnya, dan agak sedikit memaksa. Karena tidak enak dengannya maka kami memutuskan untuk singgah di rumahnya. Sampai di rumahnya kami agak terkejut dan bersyukur, melihat rumah dia. Rumah cukup besar, bagus dan indah, serta nampak perabot-perabot yang bagus. Kami ngobrol di ruang keluarga tempat dia biasa bersantai. Kami ngobrol kenangan akan dia di masa lalu yang selalu berpenampilan “gembel”.

“Wah, hebat kamu   sekarang, sudah mapan dan sudah bertobat. Begitu dong, hidup lebih baik jangan jadi penjudi aja,” kata teman saya.

Teman lama saya tertawa dan menjawab: “Kamu pikir semua ini hasil saya kerja apa? Ini semua hasil judi. Sekarang judi sudah menjadi pekerjaan saya. Tetapi bukan judi “gembel” lagi.”
 
Kami berdua terkejut mendengar jawabannya. “Jadi kamu sekarang masih judi kerjaannya, cuma sekarang naik kelas?” tanya saya.

“ya begitulah. Aku membuktikan pada semua, kalau judi itu bisa membuat orang hidup mapan,” jawabnya.

“Sik, sik (sebentar), kamu jangan begitu. Kalau sekarang kamu mendapat rezeki yang luar biasa dari judi seharusnya membuat kamu itu sadar, kalau Gusti itu sayang banget dengan dirimu. Dan ini menjadi peringatan agar kamu berhenti, Gusti sudah memberikan bekal untuk dirimu berhenti berjudi,” kata temanku.

Teman lama saya itu tertawa lepas sambil menjawab:
“Yen aku mertobat, teneh wit biyen-biyen jaman dadi kere. (andai saya bisa bertobat ya sudah dari dulu waktu saya  masih jadi kere).”
 
Obrolan kami terhenti karena asisten rumah tangganya menghidangkan jajan pasar kesukaan kami bertiga sejak dulu. Setelah kami ngobrol kesana kemari dan bercanda, kami berdua pamit pulang karena memang hari sudah malam.
 
Kurang lebih setahun kemudian sejak kami bertemu dengan teman lama kami, teman lama kami sekarang tinggal di kampung dalam keadaan sakit sedang hartanya sudah habis untuk judi. Sekarang untuk biaya pengobatan, dia dibantu oleh teman-teman. Dalam hati saya berkata: “andai dia mau mendengarkan apa yang dikatakan teman saya waktu itu, mungkin tidak akan begini.” Tetapi itu semua hanya berandai-andai karena kenyataannya beda.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus mengkritik orang-orang Betsaida, Khorazim yang meskipun melihat tanda yang menghantar pada pertobatan, mereka tidak pernah bertobat. “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”
 
Bagaimana dengan aku? Maukah  aku bertobat?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Juli 2021

Renungan Harian
Senin, 12 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 1: 8-14. 22
Injil: Mat. 10: 34-11: 1

Prinsip Hidup

Pada suatu sore, ketika saya sedang duduk ngopi dengan beberapa teman di halaman gereja, datang anak muda yang saya belum pernah melihat. Anak itu perawakannya kurus, tinggi, bersih meski pakaiannya agak lusuh. Melihat anak itu kumpul dengan teman-teman mudanya saya bertanya pada teman yang duduk bersama dengan saya: “Siapa itu anak muda yang baru datang, kok saya rasanya belum pernah lihat?”.

“Oh itu anak baru romo, dia baru pindah kerja di sini, jadi buruh pabrik,” jawab salah satu teman.

“Oh pantes kok saya  merasa belum pernah lihat,” kata saya.
 
“Romo, denger ceritanya saya kasihan. Waktu itu dia diantar salah satu anak OMK ke rumah untuk mendaftar sebagai warga. Dia asli dari kota besar. dia kabur dari rumah dan kerja di jadi buruh pabrik di kota sebelah, tetapi kemudian pindah ke sini,” kata teman yang juga menjadi ketua lingkungan.

“Waduh kabur, sudah diajak bicara kenapa dia kabur, dan bisa menghubungi keluarganya?” tanya saya.
 
“Sudah mo, saya sudah telepon orang tuanya dan mereka nitip tolong diawasi. Dia itu kabur dari rumah karena beda prinsip dengan orang tuanya. Orang tuanya itu seorang pengusaha, untuk memuluskan usahanya “nyogok sana, nyogok sini”. Suatu ketika anak ini tahu kalau bapaknya melakukan hal itu dan menurut anak itu mengambil keuntungan yang tidak semestinya, anak itu protes ke bapaknya. Dia di kampusnya salah satu aktivis anti korupsi, maka melihat bapaknya melakukan itu dia protes. Di protes, bapaknya tersinggung dan marah.  Bapaknya mengatakan bahwa selama ini dia hidup dengan uang itu, kalau gak mau yang silahkan pergi cari sendiri uang yang menurut dia halal. Jadi sejak itu dia kabur,” teman saya menjelaskan.
 
“Wah, gila luar biasa ya, dia berani meninggalkan segala fasilitas dan kenyamanan demi menghidupi kebenaran yang dia pilih. Hebat, hebat anak muda luar biasa. Saya gak kebayang kalau saya jadi dia apakah saya berani mengambil keputusan seperti dia,” kata saya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus datang tidak membawa damai melainkan pedang. Maksudnya adalah seseorang bisa berselisih karena pilihan hidup. “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
 
Bagaimana dengan aku? Beranikan aku menghidupi pilihan akan kebenaran dengan segala resikonya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 Juli 2021

Renungan Harian
Minggu, 11 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XV

Bacaan I: Am. 7: 12-15
Bacaan II: Ef. 1: 3-4
Injil: Mrk. 6: 7-13

Hartaku

Beberapa Minggu yang lalu, sebagian besar imam diosesan Keuskupan Bandung menerima Surat Keputusan tentang Perutusan baru. Hampir semua dari kami yang menerima perutusan baru berpindah tempat perutusan kecuali saya yang hanya bertukar tanggung jawab. Melihat rekan imam yang berpindah tempat, saya membayangkan kembali ketika saya mendapatkan perutusan di tempat yang baru. Saya mengingat kembali apa yang saya lakukan ketika menerima perutusan di tempat yang baru.
 
Saat saya mengingat-ingat apa yang menyita waktu dan tenaga saya ternyata bukan soal memahami perutusan baru yang saya terima tetapi packing barang-barang yang akan saya bawa pindah. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk membereskan barang-barang saya. Itu baru soal packing, belum lagi saya memikirkan bagaimana saya membawa barang-barang itu ke tempat yang baru.
 
Memang untuk menjalani perutusan di tempat baru, diberi waktu beberapa hari untuk membereskan barang-barang dan segala sesuatu berkaitan dengan perpindahan. Saya bertanya pada diriku sendiri: “Seandainya aku ditugaskan di tempat baru dan besok harus berangkat apa yang aku aku lakukan? Apakah aku berani untuk segera pergi tanpa berpikir harus membawa barang ini dan itu? Sebenarnya lebih tepat aku bertanya apakah aku merelakan untuk meninggalkan barang-barangku?” Dulu saya selalu ngomong kalau saya diminta pindah, saya hanya butuh waktu sehari untuk membereskan barang dan pergi. Ternyata itu belum pernah terjadi.
 
Saya melihat betapa memprihatinkan diriku berhadapan dengan perutusan baru. Aku selalu berpikir bahwa diriku menjadi orang yang taat, mudah dan terbuka untuk diutus kemanapun serta lepas bebas, bila menerima perutusan. Barang-barangku ternyata bisa menjadi hambatanku untuk lepas bebas menerima perutusan. Sampai saat  saya merenungkan hal ini, dalam hati saya masih berat dengan barang-barang untuk begitu saja dilepaskan meskipun saya sadar bahwa itu menghabatku untuk lepas bebas. Dalam hati aku masih berkata: “Suatu saat aku membutuhkan barang-barang itu.”
 
Sabda Tuhan hari ini menegur saya agar saya bersikap lepas bebas, dan sungguh-sungguh bergantung pada penyelenggaraan ilahi. Ketika menerima perutusan baru seharusnya sibuk menyiapkan diri dan berpantas diri untuk menjalankan perutusan baru, sedang hal-hal lain serahkan pada Dia yang telah memberikan perutusan. “Ia berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang; mereka boleh memakai alas kaki, tetapi tidak boleh  memakai dua baju.”
 
Tuhan bantulah orang yang telah Kau pilih ini. “Berilah Cinta dan rahmatMu cukup sudah itu bagiku.”
 
Iwan Roes RD.
Refleksi kecil atas 19 th. Imamat.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Undangan Acara CLC
Senin Kedua

Kami undang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Chrisensia Tri Yuliati untuk berdiskusi tentang “Menyadari Kembali Pentingnya Berkomunitas”.

Acara kami selenggarakan pada:
Hari Senin, 12 Juli 2021
Pukul 7 malam (19:00) WIB

CP: 085729611395
Putri (CLC Yogyakarta)

Berkah Dalem
CLC di Yogyakarta