Renungan Harian : 7 Mei 2021

Renungan Harian
Jum’at, 07 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 15: 22-31
Injil: Yoh. 15: 12-17

Karya Roh yang Meringankan

Beberapa waktu yang lalu, setelah perayaan misa ada sepasang suami istri yang ingin bicara. Setelah berbasa basi sejenak, bapak itu mulai bercerita.
“Romo, kami bukan umat di paroki sini, ini kami sedang liburan. Kami waktu mendengar khotbah romo tadi, kami sungguh tersentuh, maka kami akan sharing pengalaman kami.
 
Romo, saya mengalami anugerah yang luar biasa, kami sungguh amat bahagia dan penuh syukur. Bahkan saya ngomong ke isteri saya bahwa saya kalau sekarang dipanggil saya sudah siap dan saya pasrah. Anugerah itu kami terima tahun lalu, anugerah besar itu adalah kemurahan dari Gereja bahwa kami boleh menyambut Tubuh Kristus.
 
Romo, kami mengalami bahwa perkawinan kami yang pertama, gagal. Jadi saya ini duda dan bertemu dengan istri saya ini yang juga sudah menjanda. Saya mengalami perkawinan yang pertama selama 10 tahun dan kami bercerai karena istri saya pergi meninggalkan saya. Demikian juga istri saya sekarang menjalani perkawinan yang pertama selama 7 tahun lalu bercerai  suaminya pergi dengan perempuan lain, karena istri saya sekarang ini tidak bisa memberikan keturunan.
 
Selama 20 tahun romo kami hidup dalam perkawinan ini dan tidak dapat disahkan oleh Gereja karena perkawinan kami yang pertama. Meskipun demikian romo, kami selalu ke gereja mengikuti perayaan ekaristi meski kami tidak boleh menyambut Tubuh Kristus. Ada kerinduan yang besar dalam diri kami agar diperkenankan menyambut tetapi kami tahu diri bahwa kami hidup dalam dosa karena perkawinan kami yang kedua ini. Kami sering menangis berdua, merindukan kapan kami boleh menyambut dan apakah ada jalan untuk itu.
 
Puji Tuhan romo, tahun lalu kami dipanggil oleh romo paroki, dan dibantu untuk mendapat kemurahan Gereja agar dapat menyambut Tubuh Kristus. Romo, saat itu sebuah mukjizat bagi kami, sesuatu yang tidak terbayangkan dapat terjadi. Betul seperti yang romo sampaikan dalam khotbah, karya Roh Kudus itu mendamaikan, meringankan beban dan membahagiakan, “ bapak itu mengakhiri sharingnya.
 
Saya amat tersentuh dengan pengalaman pasangan suami istri itu. Saya bisa merasakan betapa berat beban kerinduan untuk menyambut Tubuh Kristus itu harus mereka tanggung sekian lama. Syukur pada Allah, sekarang ini ada kemurahan untuk menyambut Tubuh Kristus bagi umat Allah yang terhalang tentu dengan pertimbangan yang masak dan baik dari pastor paroki dan bapak Uskup. Betul seperti yang dialami pasangan itu, Karya Roh Kudus yang meringankan beban hidup umat beriman.
 
Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul. Keputusan sidang di Yerusalem yang melegakan dan tidak memberi beban pada jemaat. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah dalam menghadapi persoalan mencari terang  Roh Kudus?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 6 Mei 2021

Renungan Harian
Kamis, 06 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 15: 7-21
Injil: Yoh. 15: 9-11

Menang-Menangan

Beberapa tahun yang lalu, suatu siang saya didatangi 5 orang yang marah-marah. Mereka saya persilahkan duduk di pastoran tidak mau, mereka tetap berdiri dengan marah-marah menuntut tanggung jawab saya dan ganti rugi. Saya terkejut karena saya merasa tidak ada persoalan apa-apa. Setelah saya bertanya, barulah saya tahu bahwa salah seorang bapak itu adalah orang tua murid kelas 4 Sekolah Dasar, di sekolah katolik. Bapak itu tidak rela bahwa anaknya dibully yang berakibat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya. Bapak itu datang ditemani kerabatnya yang berprofesi sebagai polisi dan pengacara.
 
Mereka menuntut agar saya sebagai pastor bertanggung jawab untuk memberi ganti rugi sejumlah uang yang cukup banyak, kalau tidak maka sekolah akan ditutup dan saya akan dituntut atas kelalaian saya, yang menyebabkan korban mengalami tekanan psikis karena takut ke sekolah dan luka-luka.
 
Karena saya tidak tahu kejadian yang sesungguhnya, maka saya minta mereka untuk menunggu sebentar agar bisa  saya memanggil wali kelas dan kepala sekolah. Setelah wali kelas dan kepala sekolah datang, saya meminta penjelasan atas peristiwa yang dialami oleh putra bapak tersebut. Wali kelas dan kepala sekolah bercerita bahwa kejadian yang sebenarnya, anak bapak itu jatuh ketika berlari-lari mengejar temannya. Sesungguhnya anak bapak itu yang sering kali membully dan memukul teman-temannya. Peristiwa terjadi karena anak itu sedang mengejar temannya yang punya mainan kartu. Kartu itu diminta oleh anak itu, temannya tidak membolehkan karena dipaksa lari ke  kantor guru, dan anak itu lari mengejar dan jatuh.
 
Mendengar penjelasan wali kelas dan kepala sekolah bapak orang tua murid dan kerabatnya justru tidak terima dan menuduh bahwa kami telah bersekongkol untuk berbohong. Mereka terus marah-marah dengan kata-kata kasar dan menuntut kami. Kemudian saya memanggil anak dan orang tua yang pada saat kejadian dikejar-kejar anak bapak itu, dan meminta bapak itu juga menjemput anaknya.
 
Ketika dipertemukan, ternyata anak bapak itu mengaku bahwa dirinya bohong, karena takut dimarahi oleh orang tuanya. Dia takut karena baju seragamnya sobek. Setelah mendengarkan semua, saya meminta maaf, bahwa kami dalam mengawasi kurang baik, dan berjanji akan lebih memperhatikan anak-anak didik. Saya juga minta agar bapak itu tidak memarahi anaknya.
 
Saya juga minta kepada bapak itu kalau ada masalah dengan sekolah hendaknya dibicarakan dengan baik, kami terbuka untuk menerima bapak atau ibu orang tua wali. Saya berharap kejadian seperti ini, sampai harus bawa pengacara tidak perlu terjadi lagi. Mereka meminta maaf, dan menyatakan penyesalan serta merasa malu.
 
Sering terjadi peristiwa seperti itu dengan kasus yang berbeda. Banyak orang bersikap menang-menangan mengandalkan kekuatan, sulit untuk diajak berbicara untuk mencari penyelesaian yang terbaik.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul, andai Paulus, Barnabas, para rasul serta para penatua bersikap menang-menangan, maka tidak akan menemukan pemecahan yang terbaik berkaitan dengan sunat. Kehendak Allah tertutupi oleh emosi dan keinginan untuk menang. “Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung tukar pikiran, berdirilah Petrus dan berkata kepada para rasul serta penatua-penatua…”

Bagaimana dengan aku? Pada situasi semacam
itu adakah aku mampu mencari pemecahan yang terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 5 Mei 2021

Renungan Harian
Rabu, 05 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 15: 1-6
Injil: Yoh. 15: 1-8

Menang Tanpo Ngasorake
(Menang tanpa mengalahkan)

Setelah misa siang, ada sepasang suami istri yang sudah cukup sepuh meminta waktu untuk berbicara. Pada saat bertemu di ruang tamu, bapak memulai pembicaraan mengatakan maksud menemui saya.
“Romo, kami sedang bingung dan sedih. Anak perempuan saya, yang bekerja di kota lain, tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya akan dilamar oleh keluarga pacarnya. Kami selama ini tidak tahu bahwa dia sudah punya pacar romo, karena selama ini dia juga tidak pernah cerita. Beberapa kali dipancing-pancing oleh ibunya, jawabnya selalu bahwa dirinya belum memikirkan perkawinan.
 
Romo, yang membuat kami gundah adalah pacarnya itu beda keyakinan, anak saya sebenarnya tetap ingin menjadi orang katolik, tetapi keluarga pacarnya menuntut anak saya pindah keyakinan. Kami sudah menasehati dan sedikit banyak menekankan supaya tidak diteruskan tetapi anak saya tetap pada pendirian kalau memang harus pindah keyakinan tetap akan dijalani asal bisa menikah. Dia bahkan mengancam, bahwa boleh tidak boleh tetap akan menikah dan 2 hari lagi keluarga pacarnya akan melamar.
 
Kami jadi bingung romo, kami sesungguhnya tidak rela kalau anak saya harus berpindah keyakinan. Kami tidak tahu bagaimana harus menghadapi keluarga pacar anak saya yang mau melamar. Kenal juga belum tetapi sudah mau melamar, katanya itu adat mereka. Saya minta anak saya pulang terlebih dahulu agar kami bisa ngobrol bareng, anak kami tidak mau. Dia sudah marah romo, ketika kami mengungkapkan keberatan kami,” bapak itu bercerita dengan menahan emosi.
 
“Bapak, saya ikut prihatin dengan apa yang bapak alami. Sekarang diterima dengan baik, bapak jangan menunjukkan sikap menentang, bapak persiapkan segala sesuatu untuk menyambut calon besan dengan baik, dengan terbuka dan dengan penuh kasih. Bapak terbuka untuk mengenal dan juga terbuka untuk dikenal, semua dijalankan dengan penuh kasih. Nanti bicara dengan nada yang penuh hormat, mengalah kiranya adalah jalan yang baik,” jawab saya.
 
Tiga hari kemudian bapak ibu itu datang lagi dan bercerita dengan suka cita:
“ Romo, acara lamaran kemarin berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Pada awalnya keluarga pihak laki-laki kelihatan tegang, seolah-olah sudah tahu kalau kami tolak dan akan ngotot membawa anak kami.
 
Ketika kami sambut dengan hangat, kami amat hormat dan kami mencoba memperkenalkan diri dan mencoba mengenal tamu kami yang kami anggap sebagai saudara, semua jadi cair romo. Kami tunjukkan bahwa kami menerima calon menantu, dan mencintainya. Akhir pembicaraan saya rasakan sebagai mukjizat, karena ketika kami mengutarakan keinginan agar anak kami tetap bisa menjalankan keyakinannya dan kami tawarkan jalan keluarnya mereka menerima dengan suka cita pula romo. Segala kekhawatiran dan keresahan kami hilang.”
 
Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kisah Para Rasul, perbedaan pendapat berkaitan dengan sunat menjadi runcing, dan kepergian Paulus dan Barnabas ke Yerusalem tentu dengan keyakinannya yang berbeda dengan apa yang terjadi di Yerusalem. Namun penerimaan saudara jemaat dan para rasul serta penatua di Yerusalem dengan kasih menjadikan keterbukaan untuk mencari kehendak Allah. “Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah keberanian dan kerelaanku untuk mengedepankan kasih dalam perbedaan pendapat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Mei 2021

Renungan Harian
Selasa, 04 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 14: 19-28
Injil: Yoh. 14: 27-31a.

Keblinger

Suatu sore, saya kedatangan tamu 3 orang bapak. Bapak-bapak itu ternyata kakak beradik; mereka datang untuk minta saya memberikan doa dan berkat bagi adiknya, yang sekarang sedang sakit. Ketika saya tanya tentang adiknya sakit apa, bapak-bapak itu menjawab bahwa adiknya sakit karena terlalu banyak bermatiraga. Saya agak terkejut mendengar bahwa adiknya sakit karena terlalu banyak bermatiraga. Lalu saya minta penjelasan apa yang telah dilakukan oleh adiknya yang sakit itu.
 
Seorang bapak yang paling tua bercerita: “Romo, adik saya itu secara ekonomi berkekurangan, sehingga kami kakak-kakaknya selalu menopang ekonomi keluarga adik ini. Berkali-kali menjalankan usaha selalu gagal, kami sendiri tidak tahu persis mengapa selalu gagal. Adik  bercerita bahwa setiap kali berusaha selalu ada yang tidak suka, sehingga dibuat gagal. Karena hal itu, entah dengar dari siapa adik saya lalu banyak pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan “wahyu” agar dapat mengalahkan hal-hal yang mengganggu usahanya. Dia selalu berpuasa macam-macam, kadang hanya makan umbi-umbian, kadang hanya makan buah-buah, kadang hanya minum saja. Semua dilakukan agar mendapatkan “wahyu” untuk usaha yang cocok, dan tidak mendapat gangguan.”
 
Kemudia saya bersama dengan bapak-bapak itu pergi ke rumah sakit tempat adiknya dirawat. Saya terkejut melihat keadaan bapak yang sakit. Badannya amat kurus, matanya cekung sungguh-sungguh memprihatinkan. Saat saya menyapa, dia masih bisa menjawab dengan jelas meski amat perlahan dan lirih. Bapak itu mengatakan bahwa dirinya gagal. Saya bertanya apa yang dimaksud dengan gagal itu.
 
“Romo, saya gagal mendapatkan “wahyu”. Saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga, saya sudah mati raga luar biasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saya hanya ingin keluarga saya sejahtera romo, dan saya yakin hanya dengan “wahyu” itu keluarga saya sejahtera,” bapak itu menjelaskan.

“Mengapa bapak melakukan semua ini, dapat nasehat dari siapa?” tanya saya.

“Romo, saya tidak dapat nasehat dari siapa-siapa tetapi saya mengerti sendiri. Dalam kitab suci dikatakan untuk menjadi murid Kristus harus berani menderita, tidak sayang dengan nyawanya sendiri. Dalam ajaran leluhur juga dikatakan segala sesuatu itu bisa dicapai dengan “laku” (berjuang dengan askese),” bapak itu menjawab.
 
“Waduh, bapak ini keblinger (gagal paham),” kata saya dalam hati.

“Bapak, menjadi murid Kristus harus menderita itu betul dikatakan dalam Kitab Suci, dan bahwa untuk meraih segala sesuatu itu harus dengan “laku” juga  betul. Tetapi penderitaan tidak harus dicari-cari dan dibuat-buat. Apa yang bapak lakukan ini namanya mencari-cari penderitaan dan menyiksa diri. Bukan itu yang dimaksud dalam Kitab Suci maupun ajaran leluhur.
 
Tujuan bapak adalah menyejahterakan keluarga, maka yang harus bapak lakukan adalah kerja keras, membangun usaha, menekuni usaha dan mengembangkan usaha. Kerja keras bapak dalam berusaha, ketekunan bapak dalam berusaha, kesediaan bapak untuk jatuh bangun membangun usaha itulah keikut sertaan bapak dalam penderitaan Kristus dan juga laku bapak sebagai kepala keluarga. Ketekunan bapak dalam menjalankan usaha yang sering gagal tetapi berani bangkit lagi, tidak takut jatuh dan gagal pun tidak malu karena gagal itulah wujud bapak mengalahkan diri sendiri.
Jadi, sekarang bapak harus berjuang untuk sembuh, berjuang untuk makan dan tekun menuruti nasehat dokter agar bapak dapat berjuang, menderita  dan laku untuk kesejahteraan keluarga dengan cara kerja keras, bukan dengan mencari “wahyu”,” kata saya meneguhkan bapak yang sedang sakit.
 
Penderitaan dalam mengikuti Kristus tidak harus dicari-cari dan dibuat-buat tetapi hal yang penting adalah kesiap sediaan kita bila hal itu terjadi saya berani menanggungnya dengan rela. Sebagaimana nasehat Paulus dan Barnabas sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul: “Di tempat itu, mereka menguatkan hati murid-murid, dan menasehati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman. Mereka pun mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus mengalami banyak sengsara.”
 
Bagaimana dengan aku? Sejauh mana aku memahami dan memaknai penderitaan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 Mei 2021

Renungan Harian
Senin, 03 Mei 2021
Pesta S. Filipus dan Yakobus Rasul

Bacaan I: 1Kor 15: 1-8
Injil: Yoh. 14: 6-14

Pekerjaan

Beberapa waktu yang lalu berita politik Indonesia heboh dengan berita kunjungan Presiden Joko Widodo ke proyek Hambalang. Sebagaimana diketahui bersama bahwa proyek Hambalang, digagas dan mulai dilaksanakan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek itu menjadi mangkrak karena diduga uang untuk proyek sudah habis dikorupsi. Bahkan Korupsi proyek itu menyeret nama-nama penting dalam pemerintahan pada waktu itu dan para petinggi partai Demokrat.
 
Kunjungan Presiden Jokowi ke Hambalang ditafsirkan macam-macam, baik yang menafsirkan sebagai tindakan simbolik, ada juga yang menafsirkan bahwa ada usaha untuk menghidupkan kembali proyek itu. Pada intinya umumnya menafsirkan kunjungan itu sebagai bagian “perang” politik.
 
Lepas dari tafsiran para pengamat politik dan juga tidak ingin masuk dalam wilayah itu, mangkraknya  proyek Hambalang dilihat sebagai noda hitam dalam pemerintahan SBY. Keberhasilan sebuah pemerintahan diukur dari hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah pada masa pemerintahannya. Semakin banyak pekerjaan yang berguna bagi bangsa dan rakyat maka semakin berhasil pemerintah yang berkuasa.
 
Kiranya penilaian seperti itu tidaklah aneh, karena seorang pribadi pun akan dinilai berdasarkan apa yang sudah dikerjakan. Semakin banyak hasil karya seseorang yang berguna dan dapat dinikmati orang lain maka semakin hebat seseorang dinilai oleh orang lain. Dengan kata lain pekerjaan seseorang sering kali menjadi ukuran kualitas pribadi seseorang.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes ukuran seseorang sebagai orang yang percaya pada Yesus adalah pekerjaannya. Sejauh mana seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Tuhan. “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”
 
Bagaiman dengan aku? Pekerjaan apa yang telah aku kerjakan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Refleksi Sahabat CLC – “MENEMUKAN TUHAN MELALUI PROFESI GURU”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus. Untuk itu kami sajikan tulisan refleksi dari Ibu Dra. Magdalena Indria Dewi.

Ibu Magda lahir di Padang tanggal 24 April 1964.
Masuk CLC tahun 1983 kelompok Metanoia.
Menjadi Pendamping Kelompok Kecil CLC yaitu Kelompok Fidelis, Kelompok IFO, Kelompok Pierre Favre, dan Kelompok Francis Xave.
Dalam Kepengurusan CLC :
Bendahara Lokal Yogyakarta ( Waktu CLC muda sekitar tahun 1984)
Bendahara Yogyakarta ( CLC tua )
Bendahara CLC Nasional,
Ketua CLC Yogyakarta.

Profesi saat ini adalah Guru SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

MENEMUKAN TUHAN DALAM PROFESI SEBAGAI GURU

Oleh Magdalena Indria Dewi

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional, membuat saya melihat 35 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang guru.

Pada mulanya sebagai orang muda penuh dengan keidealisan ingin mencerdaskan anak bangsa, merasa cukup ilmu untuk terjun ke sekolah . Surat lamaran kebeberapa sekolah yang punya nama di Yogyakarta, tetapi  tidak  mendapat balasan. Mungkin karena saya belum lulus dari IKIP Sanata Dharma.

Kemudian saya mendapat informasi SMA St Thomas membutuhkan tenaga pengajar Matematika, saya diterima dengan tangan terbuka. Dengan semangat saya mempersiapkan untuk mengajar, ternyata situasinya sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, materi Matematika yang saya kuasai rasanya  sia-sia, anak-anak  tidak memperhatikan pelajaran saya,

Suatu ketika pada saat saya merasa gagal sebagai seorang guru, saya masuk ke kelas memberi pekerjaan ke anak-anak, kemudian saya berkeliling, bukan untuk menanyakan soal yang mereka kerjakan, tetapi ngobrol secara pribadi dengan mereka satu persatu, tentang asalnya ( karena kebanyakan mereka bukan  dari  Yogyakarta ), keluarganya. Ternyata setelah itu sikap mereka berubah, mereka mulai memperhatikan ketika saya mengajar. Waktu istirahat hanya saya habiskan bersama mereka, relasi saya dengan anak-anak semakin akrab, saya semakin tahu latar belakang keluarga mereka, sehingga saya makin memahami mereka.

Keidealisan saya untuk membuat mereka menguasai pelajaran Matematika berubah  mereka menyukai pelajaran Matematika. Saya semakin menghayati profesi saya sebagai guru, saya melihat keindahan menjadi seorang guru, bukan hanya untuk mentransfer ilmu saja  tapi bagaimana menghargai setiap pribadi anak didik dengan segala keunikannya. Beruntung saya di CLC dilatih untuk sharing, mendengarkan, memahami, menghargai setiap pribadi .

Anak-anak SMA St Thomas sudah kenyang dengan nasehat-nasehat, mereka lebih senang mendengarkan, sharing-sharing saya.

Saya berterima kasih dengan SMA St Thomas, karena di situlah saya ditempa sebagai seorang guru yang sesungguhnya. Dan memantapkan panggilan hidup saya sebagai seorang guru.

Ketika saya ditempatkan disekolah negeri saya tidak mengalami kesulitan lagi dalam hal pendekatan dengan anak-anak. Tantangan yang dihadapi berbeda, di tengah kelompok mayoritas bukan Katolik, saya belajar menjadi pribadi yang kokoh, tidak terbawa arus kebiasaan yang kurang baik, saya semakin menghayati tugas orang Kristiani itu menjadi garam, bukan hal besar yang dilakukan tetapi mewarnai.

Di masa pandemi mendidik anak lebih sulit, karena tidak berhadapan langsung dengan anak-anak, memang terasa ada yang sangat berbeda, soal materi mereka lebih canggih untuk eksplore di internet.

Tetapi pendidikan karakter tidak bisa maksimal tanpa ada komunikasi langsung, saya hanya  menjadi akrab dengan anak-anak yang sering bertanya lewat WA.

Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi, masih menjadi PR buat saya bagaimana  dalam situasi yang sangat terbatas, tetapi dapat menjalin relasi hati dengan anak-anak.

Yang menarik buat saya ketika studi banding untuk pembelajaran tatap muka ke SMA negeri lain yang sudah uji coba tatap muka. Mereka mengatakan “ target kami tidak pada penguasaan  kompetensi, tetapi bagaimana membentuk karakter  anak didik “

Tiga tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun, melihat perjalanan hidup saya sebagai seorang guru, membuat saya terkagum-kagum akan peran Tuhan yang mendidik saya secara personal. Tidak selalu mudah untuk memahami waktu itu, bahkan harus mengeluarkan airmata, merasa gagal.

Setiap saya merasa sudah tahu, tantangan baru muncul lagi. Ya mungkin seumur hidup saya harus belajar

Lepas bebas, cura personalis, magis yang dulu jauh dalam pikiran saya, semakin dapat saya pahami setelah merefleksikan setiap peristiwa yang saya alami. Spiritualitas Ignatian sangat membantu dalam menemukan Tuhan dalam peristiwa hidup saya

Dokumentasi kebersamaan yang penuh kegembiraan bersama para siswa SMAN Depok Sleman Yogyakarta

Refleksi Sahabat CLC – “MODEL PEMBELAJARAN PASCA PANDEMI”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus.

Dalam edisi ini kami sajikan tulisan dari Bp.
Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

Pak Eka lahir di Sukoharjo, 20/10/63. Gabung CLC 1985, pernah jadi ktua CLC lokal yogya, wakil keyua dan ketua nasional serta pernah jadi anggota CLC di Manila 1992 sd 1993. Sekarang dosen Informatika USD.

Model Pembelajaran Pasca Pandemi

Oleh Johanes Eka Priyatma

Kita memetik pelajaran berharga dari pembelajaran daring selama pandemi ini. Ternyata,
meskipun sudah menggunakan teknologi internet dan multimedia yang canggih, pembelajaran
daring tetap terasa garing. Suasana belajar garing ini membuat gairah belajar menurun. Bukan
hanya mahasiswa tetapi dosen juga merasakan suasana garing ini. Sejalan dengan harapan pandemi
akan segera berakhir lewat program vaksinasi, apakah pembelajaran pasca pandemi sebaiknya
kembali sepenuhnya ke luring ?
Sejatinya, garingnya pembelajaran daring bukan karena tiadanya tatap muka di kelas
melainkan hilangnya sebagian besar interaksi sosial yang menyertainya. Peristiwa belajar hanya
akan berlangsung efektif dan bermakna bila menjadi bagian dari interaksi sosial yang otentik.
Mahasiswa akan bergairah belajar bila itu berlangsung di antara berbagai kegiatan sosial seperti
ngobrol di luar kelas, menikmati camilan di kantin rame-rame, ataupun sibuk dengan berbagai
kegiatan kemahasiswaan.
Pembelajaran daring telah memberikan pengalaman mendalam bahwa belajar bukan
semata perkara teknis menyangkut ketersediaan bahan ajar, sarana komunikasi, serta sistem
evaluasi yang tepat. Belajar selalu tidak sederhana karena menyangkut berbagai faktor sosial yang
berelasi secara kompleks. Relasi sosial ini akhirnya akan memengaruhi sikap dan semangat
belajar. Dengan kata lain, belajar adalah peristiwa sosial dan bukan semata individual.
Sementara itu, pembelajaran daring sebenarnya menawarkan berbagai nilai tambah seperti
efisiensi, fleksibilitas, perluasan jangkauan, serta kemandirian. Sayangnya, berbagai nilai tambah
ini tidak berpengaruh positif terhadap gairah belajar bila pembelajaran berlangsung sepenuhnya
daring. Dari survey yang melibatkan 8500 mahasiswa dan 275 dosen di sebuah PTS di Yogyakarta,
93 % mahasiswa dan 85 % dosen merasa lebih bersemangat belajar dan mengajar bila dapat
bertatap muka kembali.
Setelah pandemi berlalu dan interaksi sosial fisik kembali normal, saya kuatir kita akan
kembali memakai model pembelajaran yang sepenuhnya luring. Bila ini yang terjadi, kita akan
sangat merugi. Pengalaman masif menjalani pembelajaran daring selama setahun tidak mengubah
secara signifikan pembelajaran tradisional yang sudah lama mendapat banyak kritik jauh sebelum
pandemi terjadi. Kehadiran teknologi e-learning selama 25 tahun terakhir yang tidak mengubah
signifikan model pembelajaran tradisional menjadi fakta mencolok betapa kekuatiran ini sangat
relevan.
Idealnya, pengalaman setahun ini menjadi bekal bernilai dan konkrit untuk
mentransformasi pembelajaran tradisional kita menjadi lebih berkualitas. Kita tentu berharap
pandemi segera berlalu tetapi selayaknya sedih bila pandemi tidak mengubah pembelajaran
menjadi lebih berkualitas.
Secara umum ada dua hal pokok yang sebaiknya kita lakukan. Pertama, pembelajaran
sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan seluas-luasnya sumber belajar di internet. Kedua,
internet dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan relasi yang efisien, fleksibel, serta
memperluas jangkauan akses belajar.
Dua langkah transformatif ini, secara konseptual mengarah kepada model pembelajaran
terbalik (flipped). Memakai model ini, kelas fisik tetap berlangsung tetapi orientasi dan jenis
aktifitas utamanya bukan untuk ceramah. Interaksi di kelas diubah supaya mahasiswa lebih aktif
terlibat dalam perbincangan lewat diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, debat, maupun
seminar.
Dalam pembelajaran terbalik, mahasiswa dituntut belajar mandiri terlebih dahulu sebelum
mengikuti kuliah. Mahasiswa belajar mandiri memakai bahan yang disediakan dosen di laman
belajar (Learning Management System /LMS). LMS berisi sumber belajar yang kaya bentuk seperti
teks, gambar, multimedia, maupun tautan ke berbagai alamat di internet. Pada LMS ini dosen perlu
memandu mahasiswa menjalani dinamika belajar mandiri yang efektif sekaligus menantang.
Dosen harus memastikan mahasiswa menjalani dinamika belajar tersebut, misalnya dengan
mewajibkan mengumpulkan tugas sebelum mengikuti kuliah.
Ketika kegiatan kuliah di kampus berubah menjadi interaksi dialogis yang intensif antara
dosen, mahasiswa, dan antar mahasiswa maka kualitas belajar akan meningkat drastis. Lewat
diskusi, tanya-jawab, serta debat yang konstruktif, kedalaman dan perluasan pengetahuan akan
terjadi secara alami dan otentik. Dinamika belajar ini akan membuka kesempatan yang luas bagi
perbincangan keilmuan yang kontekstual dengan berbagai persoalan sosial terkait. Model interaksi
di kelas ini akan menyemai kemandirian berpikir dan bersikap mahasiswa. Kemandirian itu sangat
lemah selama ini karena model pembelajaran kita yang cenderung monolog dan informatif semata
sehingga miskin dialog yang transformatif.
Dalam perspektif yang lebih luas, pembelajaran modern yang kontekstual sebaiknya
dilangsungkan bukan hanya dalam bentuk campuran antara daring dan luring tetapi menggunakan
gagasan ruang sibernetik (cybernetics space). Mitra dan Schwartz (2001) mengusulkan cara
pandang sibernetika (cybernetics) dalam melihat realitas saat ini. Ini adalah cara pandang integratif
yang tidak memisah-misahkan antar komponen. Memakai cara pandang ini, ruang siber/maya
(cyberspace) dan ruang fisik (physical space) dipahami sebagai satu kesatuan dan menjadi ruang
hibrida baru cybernetic space (ruang sibernetik).
Gagasan ruang sibernetika dapat menjadi paradigma untuk menata ulang praksis pendidikan
kita. Kerangka ini memberi panduan setidaknya dalam empat wilayah besar pembelajaran yakni
identitas dosen dan mahasiswa, relasi antara keduanya, pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi
kepentingan kedua belah pihak, serta ‘ruang’ di mana relasi tersebut berlangsung.
Karena pengetahuan tersedia melimpah di jagad maya maka identitas dan relasi dosenmahasiswa sebagai yang ‘mahatahu’ dan yang ‘kurang tahu’, semakin sumir. Perubahan identitas
dan relasi ini juga mencakup perubahan cara, waktu dan tempat relasi. Kerangka sibernetik akan
memaksa dosen dan mahasiswa menyiapkan diri sebagai warga sibernetik dengan tata relasi yang
baru. Di alam baru ini, eksistensi dan kehadiran harus mewujud baik di ruang fisik maupun maya.
Kegiatan memberi informasi sebaiknya diganti menjadi mengkritisinya. Ruang kerja dosen akan
sama penting dengan akun media sosial. Komunikasi visual dan verbal serta formal dan informal
akan menjadi sama penting.
Karena kurang siap, kita mungkin memaksa mahasiswa sepenuhnya belajar di ruang fisik. Ini
merugikan karena pendidikan akan kehilangan kesempatan menegosiasikan ruang fisiknya
menjadi bagian penting ruang sibernetik. Padahal, ruang fisik memiliki nilai tersendiri dibanding
ruang maya, seperti otentisitas, kepastian, kehangatan otentik serta kepermanenan. Sementara itu,
bagi mahasiswa ruang fisik haruslah semudah dan senyaman ruang maya. Konsekuensinya, kelas,
laboratorium, perpustakaan, dan kantin perlu ditata ulang menjadi bagian ruang sibernetik dalam
arti ketersediaan dan kualitas sarana fisikal sama penting dengan sarana digital.
Pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi hal paling pokok dalam pembelajaran memang
menjadi hal yang paling sulit untuk digagas ulang dalam ruang sibernetik ini. Perkara ini menjadi
semakin pelik manakala pengetahuan dan nilai-nilai kita pahami lebih sebagai perkara otoritas
yakni menjadi hak milik, bersumber pada, atau kewenangan dari pendidik. Internet telah lama
menegasikan hal ini karena informasi dan pengetahuan telah bersifat terbuka, demokratis,
melimpah, dan murah. Perbincangan yang jujur dan reflektif dapat menjadi salah satu solusi dalam
perkara ini.
Akhirnya, internet bukan hanya sarana untuk memasuki ruang maya tetapi lebih pas kita
dudukkan sebagai sarana untuk hidup dalam ruang sibernetik. Cara pandang ini membawa
konsekeunsi bahwa sejatinya e-learning tidak dapat serta merta menggantikan traditional
learning. Ini juga memperjelas mengapa keberhasilan e-learning meningkatkan kualitas hasil
belajar masih belum signifikan (Sun dkk., 2008). Untuk itu sistem-sistem pembelajaran berbasis
internet perlu dikembangkan dalam perspektif sibernetik, terutama dalam mempertimbangkan
aspek-aspek non-virtualnya. Kuncinya terletak pada terintegrasinya aspek-aspek penting dalam
belajar yang justru banyak terkait dengan persoalan di ruang non-virtual seperti motivasi,
penerimaan, dukungan dan kebersamaan.

Referensi


Mitra, A., & Schwartz, R.L. (2001). Rethinking the Relationship between Real and Virtual Spaces
Journal of Computer-Mediated Communication. http://www.ascusc.org/

Sun, P.C., Tsai, R.J., Finger, G., Chen, Y.Y. & Yeh, D. (2008). What drives a successful eLearning? An empirical investigation of the critical factors influencing learner satisfaction.
Computer & Education, 50 (4), 1183–1202.

Biodata Penulis:

  1. Penulis adalah Rektor Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia
  2. Pendidikan terakhir S3 Sistem Informasi Universiti Putra Malaysia
  3. Pekerjaan tetap : Dosen pada Jurusan Teknik Informatika Sanata Dharma

Bersama para Wakil Rektor Universitas Sanata Dharma

Bersama para mahasiswa

Bersama CLC dan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam acara CLC di Yogyakarta

Bersama keluarga tercinta

Refleksi Sahabat CLC – “HIDUP BARU KARENA MARIA”

Pada bulan Mei bulan Maria ini kami sajikan tulisan refleksi dari Bp. Drs. T. Adi Susila, MM. dengan judul tulisan “Hidup Baru Karena Maria”.

HIDUP BARU KARENA MARIA

Oleh: Tarcisius Adi Susila

Mei adalah bulan Maria. Seorang imam Yesuit, Gerard Manley Hopkins, yang me­ning­gal pada usia 44 tahun di Dublin, meninggalkan sebuah kenang-kenangan be­rupa puisi berjudul “Magnificat Mei”. Tradisi yang terkait dengan Mei bulan Maria, bukanlah berasal dari Gerard Manley Hopkins SJ, tetapi dari para imam Yesuit yang tinggal di Kolese Roma (Collegium Romanum, sekarang Universitas Gregoriana), yang kini sudah berumur lebih dari 450 tahun, yang memperkenalkan kebiasaan mem­per­­sembahkan bulan Mei untuk menghormati Bunda Maria.

Pada tahun 1563, tujuh tahun setelah Ignatius wafat, seorang imam Ye­suit, Jean Leunis SJ, diutus Serikat Yesus untuk menjadi pamong bagi para maha­siswa yang tinggal dan belajar di Ko­lese Roma. Sebagai pendidik, dia memben­tuk sebuah komunitas Kaum Muda yang diberi nama Prima Primaria (cikal bakal dari Kongre­gasi Maria, Sodality of Our Lady, atau di kelak kemudian hari menjadi Chris­tian Life Com­munity), sebuah komunitas pembinaan kaum muda yang ber­lindung pada Bunda Maria. Bisa dipahami bahwa pada abad 15-16, telah ber­kembang dengan subur devosi kepada Bunda Maria karena pengaruh dari sekolah spiritu­alitas Pe­rancis. Jean Leunis, waktu itu masih frater skolatistik, memperke­nal­kan prak­tek-praktek hidup rohani yang mem­bantu kaum muda bertumbuh dalam iman, seperti: devosi kepada Trinitas, adorasi Ekaristi, devosi kepada Hati Kudus, dan devosi kepada Bunda Maria.

Ignatius Loyola adalah pendiri Serikat Yesus (1540). Dia memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bagi Ignatius, semua bulan dipersembahkan untuk Bun­da Maria. Maria mempunyai peranan yang penting dalam panggilan Ig­na­tius. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi imam (sebelum mendirikan Serikat Yesus), dia telah mengembangkan afeksi yang mendalam kepada Bunda Maria. Terutama, karena visi yang telah mengubah hidupnya, yaitu bahwa dia mempunyai Maria Bunda Al­lah. Bunda Maria itulah yang membantu Ignatius hingga akhirnya menda­patkan ka­runia indulgensi penuh bagi hidup masa lampaunya. Pengalaman rohani ini men­jadi titik puncak pertobatan Ignatius sekaligus awal dari hidupnya yang baru.

Ignatius, yang lahir tahun 1491 dalam keluarga bangsawan Basque Spanyol, adalah anak termuda dari 13 bersaudara. Ibunya sendiri sudah meninggal dunia, tidak lama sesudah melahirkan Ignatius. Ignatius dibesarkan oleh seorang ibu ang­kat, yang secara kebetulan bernama Maria. Ketika umur 7 tahun, kakaknya yang tertua, Martin, yang mewarisi keluarga kerajaan, menikah dengan Magdalena Ara­oz, yakni perempuan yang menantikan diri bisa menjadi pengganti ratu Spanyol, Isabella. Ferdinand, suami Isabella, adalah pendukung finansial untuk kegiatan eks­plorasi Christophorus Columbus, yang mengadakan penjelajahan ke dunia baru. Columbus yang melakukan penjelajahan dunia baru itu, berumur sebaya dengan Ignatius, bahkan hanya selisih 1 tahun lebih tua. Menarik bahwa kapal yang dipakai oleh Columbus untuk penjelajahan dunia baru itu adalah kapal yang dengan nama Santa Maria.

Martin, kakak Ignatius, dan pasangan barunya mendapatkan hadiah berupa lukisan yang menggambarkan kabar sukacita malaikat Tuhan kepada Maria (Annun­ciation), sebuah hadiah perkawinan dari Ratu Isabella. Lukisan yang sungguh mem­punyai arti bagi hidup mereka itu ditaruh di dalam sebuah kapel yang dibangun di dalam puri Loyola. Sejak masih berumur 7 tahun, Ignatius sudah melihat lukisan itu. Di puri Loyola itu pun juga Ignatius pernah melihat sebuah patung Bunda Maria Risang Sungkawa (Sorrowful Mother).

Semua ingatan akan Bunda Maria tidaklah secara ajaib membuat Ignatius men­­jadi seorang Santo. Pada kenyataannya, Ignatius bertumbuh sebagai pribadi duniawi, yang terobsesi oleh hal-hal duniawi, kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dunia, bermimpi menjadi prajurit kerajaan dan secara intens meniti karir hingga punya nama besar. Pertobatan yang dialami Ignatius adalah karena intervensi dari Bunda Maria. Karena itu, Ignatius bersyukur bahwa dirinya tergerak untuk bergeser dari ambisinya menjadi pengabdi Ratu duniawi menjadi pengabdi Ratu surgawi, yakni Santa Perawan Maria. Fokus perhatian di dalam hidupnya tertuju pada Yesus Kristus, Anak Maria itu.

Ketika Ignatius terluka dalam perang di Pamplona pada tahun 1521, karena terkena bom pada kakinya persis pada bulan Mei, dia diantar pulang oleh tentara Perancis ke puri Loyola, dan dirawat oleh Magdalena, kakak iparnya, yang mera­watnya hingga pulih kembali sehat. Ignatius pernah meminta kepada Magdalena supaya bisa menyediakan buku-buku bacaan yang menyajikan cerita kepahlawanan dan kisah-kisah percintaan. Tetapi kakak yang baik itu justru memberikan buku-buku devosi, antara lain: Kisah hidup Yesus Kristus (Vita Christi), yang ditulis oleh Ludolph Sa­xony, seo­rang biarawan Kartusian, dan buku tentang hidup para Santo (Flos Sanctorum), yang ditulis oleh Jacobus Voragine, seorang biarawan Dominikan.

Buku-buku itu memiliki peran pen­ting dalam pertobatan Ignatius. Ignatius sa­ngat terkesan dengan buku bacaan ten­tang hidup Yesus Kristus yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Karena sangat mengesankan, Ignatius menggaris-bawahi kata-kata Yesus dengan tinta me­rah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Seba­gaimana Ignatius berpikir ten­tang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dan Maria, demikian juga ia me­renungkan hidup para santo, suatu kehausan rohani yang tumbuh di dalam batin Ignatius.

Pada suatu malam, ketika terbangun dari tidur, Ignatius mendapatkan pe­nam­pakan dari Bunda Maria yang menggendong Yesus. Penampakan itu meme­nuhi hati Ignatius dengan perasaan damai yang mendalam. Pada saat yang sama, ia merasa jijik yang mendalam dengan hidup masa lampaunya. Ignatius menyadari bahwa kehausan seksual telah membawa dirinya kepada kehampaan. Karena itu, mulailah ia meninggalkannya dan menggantikannya dengan kasih. Ia merindukan seluruh hidupnya untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

Melalui penampakan Maria dan Yesus, pikiran-pikiran yang mengganggu Ig­natius hingga kehilangan pegangan dalam hidup, digantikan dengan kebijak­sanaan dan kedamaian. Sejak saat itu, Ignatius mengalami karunia pertobatan, perubahan batin, transformasi diri. Sampai pada akhir hidupnya, Ignatius dapat mengarahkan dirinya untuk hidup murni tanpa menyesal, karena ia telah belajar mengatur ulang kehendaknya dalam hal keintiman dan kebersatuannya dengan Allah.

Meskipun Ignatius tahu bahwa Maria adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang sama seperti manusia lain pada umumnya, ia juga menyadari bahwa Maria te­lah menerima rahmat yang istimewa. Itulah mengapa Ignatius tetap menjaga kedekatannya dengan Maria dalam seluruh hidupnya. Pada gilirannya, Maria mem­bantu untuk membentuk diri Ignatius menjadi imam dan guru rohani.

Paus Fransiskus adalah imam Yesuit dan putra Ignatius. Selama berkunjung ke Naples Perancis pada Maret 2015, ia menekankan betapa pentingnya peran Maria dalam menggerakkan panggilan imam dan religius, yakni: makin mendekatkan me­reka dengan Yesus. Paus Fransiskus mengatakan: “Bagaimana saya bisa meyakin­kan bahwa sa­ya mengikuti Yesus? Bunda-Nya membimbing kita menuju Yesus. Imam, religius entah lelaki atau perempuan, (sia­pa saja) yang tidak mencintai Bun­da Maria, yang tidak berdoa kepada Bunda Maria, atau yang tidak berdoa Rosario, … Jika tidak menginginkan Bunda-Nya, maka Bunda-Nya juga tidak akan memberi­kan kepada mereka Putra-Nya.”

Kegiatan- CLC-DI-INDONESIA

CLC Berdoa Rosari 2021

Menyambut Bulan Maria yg jatuh pada bulan Mei, seperti biasa, CLC yg berdevosi pada Maria merayakannya dengan berdoa Rosari bersama.

Tahun ini, Exco sudah menyiapkan panduan Doa Rosario yg akan kita doakan bersama setiap harinya.

Silakan memilih waktu terbaik anda disetiap harinya, siapkan diri sebaiknya, agar tak terputus niat dan doa kita, akan ujud ujud doa yg kita persembahkan bagi Sang Bunda.

Selamat memasuki Bulan Maria, CLC Berdoa Rosari.

An.
ExCo CLC di Indonesia

Renungan Harian: 2 Mei 2021

Renungan Harian
Minggu, 02 Mei 2021
Hari Minggu Paskah V

Bacaan I:  Kis. 9: 26-31
Bacaan II: 1Yoh. 3: 18-24
Injil: Yoh. 15: 1-8

Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

Dalam sebuah retret, saya mengatakan bahwa retret ini saat masing-masing dari kita untuk melihat diri sendiri dan merefleksikan pengalaman perjalanan hidup masing-masing. Keberhasilan retret bukan tergantung dari saya tetapi tergantung dari keterbukaan dan kesediaan masing-masing dari kita untuk melihat dan merefleksikan hidup.
 
Pada malam pertama ada seorang bapak guru yang meminta waktu untuk berbicara. Dia masih muda, guru baru, dan baru lulus sarjana keguruan. Dia bercerita bahwa dia dan adik perempuannya mempunyai luka yang amat dalam dengan orang tuanya. Mereka berdua merasa sebagai anak yang dibuang oleh kedua orang tuanya, karena sejak kecil dititipkan ke nenek mereka. Sedang orang tuanya tidak tahu kemana, baru akhir-akhir ini mereka tahu bahwa kedua orang tuanya menjadi TKI di Malaysia.
 
Saya bertanya selama tinggal dengan nenek siapa yang membiayai hidup mereka. Sejak kecil mereka tahu bahwa mereka hidup dari hasil sawah nenek yang digarap oleh parang penggarap, karena neneknya  sudah tidak kuat lagi untuk menggarap sawah. Masih menurut bapak guru itu, bahwa semua biaya hidup dan pendidikan hingga lulus kuliah dan adiknya masih kuliah berasal dari sawah neneknya yang cukup luas.
 
Baru  akhir-akhir ini mereka tahu bahwa orang tuanya selalu mengirim uang ke neneknya dan kemudian dibelikan sawah untuk membiayai hidup mereka. Bapak guru itu dan adiknya satu pihak tahu bahwa mereka hidup dari hasil keringat kedua orang tuanya, tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa mereka sejak kecil tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Perasaan dibuang itu lebih dominan dan itu amat menyakitkan.
 
Saya mengajak untuk mengolah rasa sakit itu dengan melihat dan merenungkan kenyataan yang dihadapi orang tuanya. Kedua orang tuanya pergi menjadi TKI dan menitipkan kedua anaknya ke nenek mereka tentu dengan harapan anak-anaknya dapat hidup lebih layak, dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Kiranya orang tua tidak akan mudah meninggalkan anak-anak mereka, pasti ada luka yang mendalam tetapi pilihan itu diambil demi kebahagiaan anak-anaknya.
 
Benar bahwa bapak guru itu dan adiknya tidak mendapatkan kasih sayang orang tua sebagaimana teman-teman lain, benar bahwa anak-anak butuh kasih sayang kedua orang tua bukan hanya soal materi tetapi cinta yang besar pada anak-anaknya membuat kedua orang tua mengambil keputusan yang amat berat.
 
Pada akhir retret, bapak guru itu menangis dan merasa berdosa dengan kedua orang  karena selama ini telah membencinya. Selama retret ia mengalami dan merasakan betapa cinta orang tuanya yang begitu besar terhadap dirinya dan adiknya. Pengorbanan yang luar biasa telah dibuat orang tuanya. Dia sadar, tidak pernah ada kata cinta dan belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya, tetapi keputusan orang tuanya menunjukkan kasih sayang yang luar biasa bagi dirinya dan adiknya.
 
“Syukur pada Allah, bapak bisa melihat pengalaman luka yang amat dalam menjadi pengalaman cinta. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi besar untuk menjalani perjalanan hidup yang lebih baik, membanggakan kedua orang tua” kata saya menutup perjumpaan malam itu.
 
Sudah barang tentu perjuangan yang luar biasa bagi bapak guru itu untuk bisa mengolah pengalaman hidupnya. Dia bisa mengalami cinta orang tuanya yang selama ini baginya adalah kebencian karena menelantarkan. Cinta bukan soal kata-kata dan belaian semata tetapi pemberian hidup dan kebahagiaan bagi yang dicintainya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Yohanes yang pertama: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah mencintai dengan perbuatan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.