Renungan Harian: 13 Maret 2021

Renungan Harian
Sabtu, 13 Maret 2021

Bacaan I: Hos. 6: 1-6
Injil: Luk. 18: 9-14

Mengenal

Suatu pagi saya kedatangan tamu pasangan suami istri yang baru 3 bulan lalu saling menerimakan sakramen perkawinan bersama orang tua dua belah pihak. Setelah berbasa-basi sebentar, bapak dari mempelai pria bicara:
“Romo, kami sengaja datang menghadap untuk mohon nasehat bagi anak-anak kami. Kami para orang tua ini terkejut dan shock ketika mereka datang dan mengatakan mau berpisah. Hidup perkawinan mereka masih seumur jagung romo, kenapa mereka cepat-cepat memutuskan untuk berpisah.
 
Kami para orang tua ini berkumpul untuk menasehati mereka. Kami minta mereka sabar, dan berjuang untuk saling mengenal lebih dalam. Mungkin selama pacaran mereka sudah mengenal tetapi masih permukaannya saja. Ketika mereka mulai hidup bersama baru menyadari ada banyak perbedaan sehingga membuat mereka sering ribut.
 
Kami menasehati mereka berdasarkan pengalaman kami, dulu kami juga terkejut dengan perbedaan dan segala hal baru tentang pasangan  yang sebelumnya tidak kami tahu dan kenal. Kami menuruti nasehat orang tua kami, agar selalu sabar, mengalah dan berjuang untuk terus saling mengenal. Bahkan kami sampai usia segini masih berjuang untuk mengenal pasangan kami.
 
Romo, kami juga mengatakan untuk mengenal itu butuh usaha, butuh perjuangan, dan pengorbanan bahkan butuh air mata juga. Kalau hanya sambil lalu dan mengandaikan gak akan terjadi. Namun tampaknya nasehat kami kurang berdaya, kiranya kalau romo yang menasehati akan lebih mantap” bapak itu menjelaskan maksud kedatangannya.
 
“Saya mengamini, nasehat orang tua kalian. Maka sekarang tugas kalian bukan berpikir untuk berpisah, tetapi menjalankan nasehat orang tua kalian yang luar biasa itu. Selalu belajar untuk mengenal, usahakan, perjuangkan dan kalau harus berkorban serta banjir air mata jalani,“ nasehat saya kepada kedua pasangan itu.
 
Kiranya nasehat para orang tua sebagaimana dituturkan bapak tadi: “Untuk mengenal butuh usaha, butuh perjuangan dan pengorbanan bahkan air mata” adalah nasehat yang amat baik bagi hubunganku dengan Tuhan. Sering kali usahaku mengenal Tuhan  hanya sambil lalu dan mengandaikan saja sehingga tidak menjadi semakin mendalam.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan nabi Hosea: “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah berusaha dan berjuang mengenal Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Maret 2021

Renungan Harian
Jumat, 12 Maret 2021

Bacaan I: Hos. 14: 2-10
Injil: Mrk. 12: 28b-34

L a y u

Mbah Mo, lelaki tua tetangga saya sudah tidak ceria lagi. Mbah Mo, kami kenal sebagai orang yang selalu ceria, ramah dengan siapa saja dan menghormati semua orang termasuk anak-anak. Setiap lewat depan rumahnya, mbah Mo, selalu lebih dahulu menyapa dan sapaan itu diakhiri dengan pesan supaya hati-hati di jalan.
 
Sejak di tinggal istri tercintanya, mbah Mo  berubah; meski masih menjawab sapaan kami tetapi hampir tidak pernah menyapa lebih dahulu lagi. Setiap kali duduk di teras rumahnya tatapan matanya kelihatan kosong, atau melihat sesuatu yang amat jauh. Bahkan banyak diantara kami melihat mbah Mo sudah tidak ada semangat lagi.
 
Kami semua tahu bahwa perubahan dalam diri mbah Mo karena kehilangan istri tercintanya. Sejak istrinya meninggal 100 hari yang lalu mbah Mo nampak semakin kurus dan layu. Setiap kali kami menyapa, beliau masih berusaha untuk menjawab dengan ramah tetapi tidak lagi ceria. Semua tetangga kasihan melihat mbah Mo, beliau betul-betul patah hati.
 
Kami para tetangga tahu bagaimana  mbah Mo itu begitu mencintai istrinya dan setiap kali kami melihat kemesraannya. Mereka selalu duduk berdua di teras rumah. Kalau istrinya menyapu halaman, beliau menyiram tanaman. Kami semua bisa mengerti bahwa betapa hancur beliau ditinggal orang yang dicintainya. Separuh jiwanya sungguh-sungguh sudah hilang, sehingga yang tersisa adalah badan yang nampak semakin layu.
 
Betapa dahsyat penderitaan orang yang ditinggal kekasihnya. Pengalaman cinta yang mendalam dan mendarah daging sekian lama seolah-olah sekarang dicabut begitu saja sehingga seolah-oleh telah membunuh yang ditinggalkan.
 
Mengingat pengalaman mbah Mo, menyentakku untuk melihat hubunganku dengan Tuhan. Tuhan mencintaiku itu pasti akan tetapi persoalan besar adalah apakah aku mengalami cinta Tuhan itu. Dalam nalarku, aku dengan yakin mengatakan bahwa aku mengalami cinta Tuhan dan akupun mencintaiNya. Namun apakah cinta Tuhan itu sungguh ada dalam pengalaman rasaku? Sehingga aku merasakan ada sesuatu yang hilang manakala aku menjauh dariNya?
 
Kiranya aku belum sampai pada pengalaman rasa yang sesungguhnya berkaitan dengan cinta Tuhan. Mengalami, merasakan dan menikmati cinta Tuhan masih menjadi pergulatanku terus menerus. Ada begitu banyak tantangan dan kesulitan untuk bisa mengalami cinta Tuhan dalam pengalaman rasa. Ada banyak alasan untuk mengatakan betapa sulit mengalami cinta Tuhan. Sehingga ketika aku jauh dari Tuhan, aku pun tidak merasakan sesuatu hal besar yang hilang, atau bahkan aku merasa menjadi layu.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan nabi Hosea menjadi tantangan besar bagi peziarahan hidupku. Mengalami cinta Tuhan dalam pengalaman rasa sehingga cinta Tuhan kurasakan menghidupkan dan menyegarkan aku. “Aku akan menjadi seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon mawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sudah mengalami cinta Tuhan dalam pengalaman rasa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 Maret 2021

Renungan Harian
Kamis, 11 Maret 2021

Bacaan I: Yer. 7: 23-28
Injil: Luk. 11: 14-23

H a b i t a t

Dulu, waktu saya masih misdinar, bersama dengan teman-teman misdinar berkunjung ke pertapaan Trapis di Rawaseneng, Temanggung. Pada waktu itu kami diterima oleh seorang frater, yang saya sudah lupa namanya. Sejauh saya ingat frater itu berasal dari Flores dengan perawakan yang besar.
 
Ketika kami diajak berkeliling, di halaman sebelum pintu masuk biara, kami diajak melihat kolam ikan yang tidak terlalu besar, menurut saya itu hanyalah penghias yang memperindah taman. Namun frater itu menerangkan bahwa kolam  dan ikan itu merupakan simbol kehidupan para trapis. Sebagaimana ikan-ikan itu hanya bisa hidup di dalam air, demikian juga para biarawan trapis hanya bisa hidup dalam aturan-aturan biara: selalu hening, tidak ada
televisi, tidak ada koran, hidup penuh dengan doa dan kerja tangan. Kalau para trapis melihat televisi dan baca koran pasti tidak bisa hidup karena akan selalu terganggu keheningannya.
 
Pada saat itu, saya membayangkan betapa berat, dan menyedihkan hidup sebagai biarawan trapis. Ketika salah seorang berkomentar: “Wah tidak enak ya menjadi biarawan trapis,” frater itu menjawab bahwa hidup dengan cara itu adalah hidup yang membahagiakan bagi para biarawan, sebagaimana ikan-ikan itu bahagia di air. Rasanya saya tidak mengerti betul dengan apa yang dijelaskan frater itu soal kebahagiaan.
 
Orang beriman, hidup dengan berbagai macam aturan-aturan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Aturan-aturan itu diadakan agar orang beriman sampai pada tujuan hidupnya yaitu kebahagiaan. Semakin tahu dan sadar akan adanya aturan semakin banyak aturan yang dilanggar bahkan dengan sadar melanggar aturan itu. Apakah dengan sadar melanggar aturan berarti tidak tahu tujuan adanya aturan? Tujuan adanya aturan dimengerti dengan baik, akan tetapi pengertian dan kesadaran akan kebahagiaan yang sering hilang.
 
Pelanggaran aturan terjadi karena melihat dan merasa bahwa aturan itu tidak memberikan kebahagiaan, sehingga godaan untuk melanggar aturan amat besar. Godaan menawarkan kebahagiaan semu, karena apa yang ditawarkan memberi kesenangan dan kegembiraan. Namun kesenangan dan kegembiraan itu seringkali amat sebentar atau tidak terlalu lama dan yang paling pokok tidak meningkatkan kualitas hidup sebagai pribadi.
 
Kebahagiaan terletak bukan hanya pada rasa senang dan gembira, tetap lebih dari itu adanya peningkatan kualitas hidup. Kesadaran akan hal ini amat sulit sehingga hal ini menjadi perjuangan dan pergulatan setiap orang beriman dalam peziarahan hidupnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yeremia, aturan-aturan Tuhan menghantar umat Israel sampai kepada kebahagiaan. Akan tetapi umat Israel melihat orang-orang yang tidak mengikuti Tuhan lebih senang dan gembira dibanding mereka yang mengikuti aturan Tuhan. Pergulatan umat Israel adalah pergulatan setiap orang beriman yang berziarah. “Dengarkanlah suaraKu, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umatKu, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah dalam peziarahan hidupku aku memperjuangkan kebahagiaan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Maret 2021

Renungan Harian
Rabu, 10 Maret 2021

Bacaan I: Ul. 4: 1. 5-9
Injil: Mat. 5: 17-19

Identitas

Beberapa hari ini, berita baik di media sosial maupun media cetak dan elektronik banyak memberitakan kunjungan Bapa Suci Sri Paus Fransiskus ke Irak. Banyak ulasan  tentang kunjungan Sri Paus ini terlebih perjumpaannya dengan pimpinan Syiah di Irak.
 
Kedatangan Sri Paus ke Irak membawa pesan perdamaian dan sekaligus memberikan harapan pada kaum minoritas di sana yang selama ini mengalami perlakuan yang buruk. Perjumpaan Sri Paus dengan pemimpin Syiah memberi angin segar bagi kaum minoritas yang tertindas, karena ada janji dan jaminan perlindungan dari pemimpin Syiah. Kehadiran Sri Paus bukan hanya memberikan harapan baru tetapi juga meneguhkan bagi rakyat Irak yang mengalami penderitaan cukup lama.
 
Kedatangan Sri Paus mengajak seluruh agama-agama untuk hidup berdampingan secara damai. Agama-agama sering kali menjadi sumber perpecahan dan permusuhan yang mengakibatkan penderitaan dan perendahan martabat manusia.
 
Kunjungan Sri Paus menjadi tindakan simbolik yang mewartakan identitas orang beriman adalah membangun jembatan kasih; mempertemukan dan merajut yang terpisah oleh kebencian dan permusuhan dalam ikatan cinta. Sri Paus dengan tindakan simbolik itu menegaskan bahwa identitas orang beriman bukan pada pakaian dan assesoris bukan pula kehebatan agamanya dengan merendahkan dan atau meniadakan agama lain; melainkan identitas orang beriman adalah kasih, mewartakan wajah belas kasih Allah dalam hidup sehari-hari.
 
Apa yang dilakukan Sri Paus di Irak dengan segala resiko yang tidak ringan memberikan pesan yang amat kuat di dunia yang penuh dengan konflik antar agama. Banyak diantara kita yang sering kali tanpa sadar menjadi pemicu konflik-konflik antar agama dalam skala yang paling kecil dan sederhana. Dan sering kali sumbernya adalah pemahaman yang salah dengan identitas paling utama dari hidup beragama kita. Sikap eksklusif yang bersumber pada rasa agamanya paling hebat dan benar tanpa menebarkan kasih.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Ulangan: “lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku menjadi bagian dari orang-orang yang terjebak dalam identitas semu sebagai orang beriman?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Maret 2021

Renungan Harian
Selasa, 09 Maret 2021

Bacaan I: Tamb. Dan. 3: 25. 34-43
Injil: Mat. 18: 21-35

Sadar Diri

Sri Paus memberikan nasehat yang amat bagus berkaitan dengan hidup perkawinan, “The perfect family doesn’t exist, nor is there a perfect husband or a perfect wife, and let’s not talk about the perfect mother in law! It’s just us sinners. If we learn to say we’re sorry an ask forgiveness, the marriage will last.” (Keluarga yang sempurna itu tidak ada, demikian juga tidak ada suami atau istri yang sempurna. Janganlah bicara soal ibu mertua yang sempurna pula. Kita semua adalah orang berdosa. Jika kita selalu belajar untuk mengatakan maaf dan minta diampuni maka perkawinan akan langgeng).
 
Sri Paus menerangkan, seorang suami adalah seorang laki-laki yang tidak sempurna, berasal dari keluarga yang tidak sempurna demikian pula seorang istri adalah seorang perempuan tidak sempurna yang berasal dari keluarga yang tidak sempurna. Maka yang paling penting adalah selalu belajar untuk meminta maaf dan memaafkan, meminta ampun dan mengampuni.
 
Hal yang mendasar ditekankan Sri Paus adalah kesadaran diri sebagai pendosa, kesadaran diri sebagai orang yang tidak sempurna. Kesadaran ini memampukan seseorang untuk meminta ampun dan mengampuni.
 
Tindakan mengampuni adalah pergulatan besar bagi banyak orang. Pernyataan yang sering muncul adalah: “kesabaran seseorang ada batasnya.” Maka orang bertanya: “sampai kapan saya harus bersabar?” Betapa lebih mudah menyimpan dendam dari pada memberikan pengampunan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Tuhan Yesus menjawab pertanyaan Petrus, bahwa pengampunan itu tidak terbatas. Pertanyaan Petrus mewakili pergulatan banyak orang berkaitan dengan pengampunan. Betapa sulit memahami dan melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki. Kiranya  nasehat Sri Paus membantu untuk menghayati perintah Yesus yaitu kesadaran diri sebagai orang berdosa dan tidak sempurna.
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
 
Bagaimana dengan aku? Mudahkah aku mengampuni orang lain yang bersalah kepadaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 8 Maret 2021

Renungan Harian
Senin, 08 Maret 2021

Bacaan I: 2Raj. 5: 1-15a
Injil: Luk. 4: 24-30

Angkuh

Dalam sebuah persiapan perayaan perkawinan, seorang imam meminta diadakan latihan dengan pengantin dan keluarga, dengan harapan pada saat nanti perayaan ekaristi pemberkatan perkawinan dapat berjalan dengan lancar. Namun pengantin merasa tidak perlu latihan karena mereka sudah sering melihat upacara pemberkatan perkawinan. Tentu saja pastor tidak keberatan bahwa pengantin tidak perlu latihan karena sudah tahu. Pastor hanya memastikan apakah buku dan para petugas sudah disiapkan. Pengantin memastikan bahwa semua sudah beres, pokoknya pastor tinggal melayani pemberkatan, semua sudah diurus oleh pengantin.
 
Satu hari sebelum hari H, buku perayaan ekaristi, yang diminta pastor belum dikirim. Bahkan pastor menanyakan Bacaan untuk perayaan ekaristi pun belum mendapatkan. Sudah barang  tentu hal itu menyulitkan pastor untuk mempersiapkan khotbah.
 
Pada hari H, saat pengantin sudah siap dan akan mulai perayaan ekaristi pemberkatan perkawinan, buku tidak ada. Maka pastor meminta karyawan gereja untuk menyiapkan buku yang biasa dipakai. Pada saat perayaan ekaristi mulai, pengantin bingung tidak tahu harus melakukan apa bahkan untuk menempatkan diri pun bingung. Belum lagi saat pembacaan sabda, ternyata tidak ada petugas yang ditunjuk. Akibat yang terjadi, ada kekacauan  dan terasa suasana menjadi tidak khidmat.
 
Seandainya waktu itu pengantin mau latihan barang sebentar kiranya hal-hal yang menimbulkan kekacauan pada saat perayaan ekaristi tidak terjadi. Keangkuhan pengantin bahwa sudah merasa tahu dan mengerti justru menimbulkan kekacauan yang merugikan mereka sendiri. Banyak orang mempertanyakan mengapa hal itu terjadi, karena suasana upacara pemberkatan perkawinan menjadi tidak khidmat.
 
Sikap angkuh merasa  bisa, merasa sudah mengerti dan menganggap gampang serta sepele akan sesuatu menimbulkan kerugian yang besar bagi diri sendiri. Keangkuhan memunculkan resistensi dalam diri yang berakibat banyak tawaran rahmat yang hilang sia-sia.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Raja-Raja, sikap Naaman yang angkuh berakibat bahwa dia tidak sembuh dari penyakit kusta. Untunglah Naaman mau mendengarkan pegawai-pegawainya sehingga dia mengalami rahmat kesembuhan. “Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana  dan menjadi tahir?”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mampu merendahkan diri dan terbuka pada tawaran rahmat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 7 Maret 2021

Renungan Harian
Minggu, 07 Maret 2021
Minggu Prapaskah III

Bacaan I: Kel. 20: 1-17
Bacaan II: 1Kor. 1: 22-25
Injil: Yoh. 2: 13-25

H o r m a t

Sore itu kami di paroki mengadakan pembekalan untuk umat berkaitan dengan tata gerak dalam perayaan ekaristi. Kami mengundang romo yang berkompeten untuk memberikan penjelasan mengenai tata gerak.
 
Pembicara menjelaskan arti dan tujuan dengan tata gerak dalam perayaan ekaristi. Semua peserta antusias mendengarkan penjelasan itu. Banyak peserta yang mengatakan baru mengerti sekarang mengapa dalam perayaan ekaristi harus berdiri, membungkuk, berlutut dan berbagai tata gerak lain. Mereka selama ini mengikuti tata gerak itu karena kebiasaannya dan diajarkan demikian tetapi tidak mengetahui arti dan tujuannya.
 
Ketika sesi tanya jawab, banyak peserta yang bertanya meminta penjelasan, bahkan sampai hal-hal yang kecil dan sederhana. Kemudian ada satu peserta seorang bapak yang sudah sepuh bertanya tentang sikap  saat imam mengangkat Tubuh Kristus dan Darah Kristus, pada saat konsekrasi. Dalam penjelasannya pembicara menerangkan bahwa sikap yang benar bukan menunduk tetapi justru memandang Tubuh Kristus dan Darah Kristus yang diangkat. Bapak itu merasa bahwa sikap itu tidak hormat.
 
Pembicara menjelaskan dengan panjang lebar alasannya mengapa harus bersikap seperti itu. Sementara bapak itu mengatakan bahwa menurut rasanya tidak sampai, bahwa harus memandang. Menurut beliau memandang wajah orang yang amat dihormati dan diagungkan adalah tidak sopan. Sehingga beliau mengatakan tidak mungkin melakukannya.
Meskipun dijelaskan bahwa menurut tata aturan yang benar adalah memandang dan itu juga adalah sikap hormat namun bagi bapak itu tetap sulit untuk diterima.
 
Pembicaraan itu tidak akan pernah selesai, kalau diteruskan, karena pembicara harus menjelaskan tata aturan yang baku sedangkan bapak itu berbicara berdasarkan pengalaman rasa. Sebuah pengalaman rasa yang tumbuh dan hidup dalam diri bapak itu. Pengalaman rasa itu bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba dan sesuatu yang dipikirkan melainkan sesuatu yang sudah dihidupi sekian lama dan juga berdasarkan pengalaman budaya yang membentuknya.
 
Mungkin dalam khasanah ilmu liturgi dan teologi sikap bapak itu “tidak benar dan tidak pas” namun apa yang “benar dan pas” menurut teori itu “tidak benar dan tidak pas” menurut pengalaman rasa bapak itu.
 
Pengalaman akan Tuhan adalah pengalaman rasa, pengalaman personal yang menggetarkan. Ketika pengalaman akan Tuhan sampai pada pengalaman rasa, maka hubungan dengan Tuhan menjadi jauh lebih dalam. Mungkin banyak orang seperti bapak itu, yang mungkin menurut teori dan atau aturan baku adalah salah, namun  pengalaman rasa yang cukup mendalam dengan Tuhan melampaui teori dan aturan baku. Mereka mungkin sulit menjelaskan dasar teologi dan biblisnya tetapi mereka merasakan. Sering kali pengalaman iman “orang-orang sederhana” seperti bapak itu jauh lebih dalam dibandingkan banyak “orang cerdik pandai” yang mampu menjelaskan dasar teologi dan biblisnya.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada jemaat di Korintus: “orang Yahudi menuntut tanda dan orang Yunani mencari hikmat. Tetapi kami memberitakan Kristus yang tersalib. Suatu sandungan bagi orang Yahudi, dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah hubunganku dengan Tuhan sampai pada pengalaman rasa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Maret 2021

Renungan Harian
Sabtu, 06 Maret 2021

Bacaan I: Mi. 7: 14-15.18-20
Injil: Luk. 15: 1-3. 11-32

M a a f

Beberapa waktu yang lalu, sering muncul di media sosial, orang yang mengunggah video yang berisi ujaran kebencian yang ditujukan untuk institusi pemerintah, baik sipil maupun militer, atau untuk orang tertentu. Biasanya video itu menjadi viral karena menjadi  berita di media sosial juga. Setelah pengunggah dan biasanya adalah pelaku video ujaran kebencian itu ditangkap, pelaku akan meminta maaf, mengaku salah, khilaf dan berjanji  tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
 
Pola permintaan maaf setelah ditangkap selalu berulang sehingga bila muncul unggahan video ujaran kebencian, banyak orang berkomentar bahwa sebentar lagi setelah ditangkap akan minta maaf dan mengaku khilaf. Membaca komentar banyak orang berkaitan dengan pola seperti itu menunjukkan adanya ketidak percayaan banyak orang akan kesungguhan dan ketulusan orang yang meminta maaf itu.
 
Sudah barang tentu amat sulit untuk menilai kesungguhan dan ketulusan orang yang meminta maaf. Namun demikian, banyak orang mempertanyakan apakah mereka itu (para pelaku) akan meminta maaf seandainya tidak ditangkap? Artinya mereka meminta maaf karena ada tekanan, “dipaksa” meminta maaf atau mereka meminta maaf karena takut dengan hukuman.
 
Sabda Tuhan hari ini, sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan dan menegaskan permohonan maaf dan sikap tobat bersumber pada pengalaman cinta. Kesadaran akan kesalahan diri bukan karena ada paksaan atau tekanan, akan tetapi bersumber pada pengalaman cinta yang selama ini dialami telah hilang. Sehingga permintaan maaf dan pertobatan karena adanya kerinduan untuk mengalami kembali cinta yang hilang itu. “Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi di sini aku mati kelaparan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah pertobatanku bersumber pada pengalaman cinta?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Maret 2021

Renungan Harian
Jumat, 05 Maret 2021

Bacaan I: Kej. 37: 3-4. 12-13a. 17b-28
Injil: Mat. 21: 33-43. 45-46

Fasilitas

Sore itu, sepulang bapaknya dari kantor, seorang anak dengan bangga menunjukkan raport kenaikan kelasnya. “Pa, aku ranking 1 pararel lagi,” kata anak itu dengan bangga.
“Wah hebat nih anak papa, selamat ya nak, papa bangga sama kamu,” jawab bapaknya.

Bapak itu duduk melihat raport anaknya sambil tersenyum bangga.
“Nak, yang ranking 2 masih temanmu yang itu?” tanya bapak itu sambil melihat raport. “Iya pa, masih dia,” jawab anak itu.
 
“Nak, papa, bahagia dengan hasil studimu, dan papa bangga sama kamu. Papa ingin ngomong sama kamu dan ini penting,” kata bapak itu.
“Mau ngomong apa? Serius banget?” tanya anak itu penasaran.
“Nak, tidak mengurangi kebahagiaan dan kebanggaan papa terhadapmu, papa berharap kamu tidak bangga berlebihan dan juga jangan merasa hebat karena ranking 1. Menurut papa, temanmu yang ranking 2 itu lebih hebat. Kenapa?
 
Kamu kenal dan tahu kan, temanmu yang ranking 2 itu setiap pulang sekolah langsung kerja untuk membiayai hidup ibu dan 2 adiknya? Bahkan kalau hari libur dia akan kerja seharian? Dia sekolah tetapi harus memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk menghidupi ibu dan 2 orang adiknya. Bayangkan kapan dia punya waktu belajar, pulang kerja pasti sudah capek, itupun masih harus mengurus rumahnya.
 
Sekarang lihat dirimu, tugasmu hanya sekolah, itupun kamu masih ada guru les yang menemanimu belajar. Kamu punya fasilitas yang lengkap, semua kebutuhanmu terpenuhi. Artinya seharusnya kamu bisa lebih lagi dibandingkan dengan temanmu itu.
 
Nak, papa mengingatkan kamu supaya kamu berani menjadi pejuang jangan menjadi penikmat. Dengan fasilitas yang tersedia seharusnya memacu dirimu untuk lebih berprestasi, menggunakan fasilitas yang tersedia semaksimal mungkin untuk mendapat hasil, mendapatakan prestasi yang maksimal. Jangan sampai karena adanya fasilitas menjadikan kamu penikmat fasilitas, tidak menggunakan fasilitas semaksimal mungkin untuk mendapat hasil atau prestasi yang maksimal tetapi menikmati fasilitas untuk memenuhi kesenangan dan kenyamananmu.
 
Papa, berharap mulai sekarang sampai nanti, kapanpun, kamu selalu menjadi pejuang. Selalu berani memanfaatkan fasilitas yang tersedia, sesedikit apapun fasilitas yang tersedia, kamu harus bisa memberikan hasil yang maksimal. Hal penting juga jangan pernah menyalahkan fasilitas bila tidak memberikan hasil yang maksimal, jangan tergantung dengan fasilitas. Daya juang dan semangat juang jauh lebih penting. Belajar dari temanmu itu, dengan fasilitas yang amat terbatas tetapi memberikan hasil yang luar biasa.
 
Nak, zaman sekarang banyak orang ribut tentang fasilitas, berteriak menuntut disediakan dan dipenuhi fasilitas tetapi fasilitas itu bukan untuk menghasilkan karya yang maksimal tetapi untuk dinikmati, untuk memenuhi kenyamanan dan kesenangannya,” bapak itu mengakhiri nasehatnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius, Yesus mengkritik sikap orang farisi dan ahli taurat yang menjadi penikmat fasilitas dan lupa akan tujuan adanya fasilitas itu. “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku seorang penikmat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Maret 2021

Renungan Harian
Kamis, 04 Maret 2021

Bacaan I: Yer. 17: 5-10
Injil: Luk. 16: 19-31

Merana

Ketika saya mengetuk rumah itu, tidak segera ada jawaban dari pemilik rumah. Setelah berkali-kali mengetok barulah ada jawaban dari dalam rumah, yang diikuti suara sandal diseret. “Selamat sore pak,” sapaku ketika bapak itu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.
 
Bapak itu, berperawakan tinggi, kurus dan dari wajahnya nampak bahwa dirinya bukan orang sehat. Bapak itu tinggal sendirian di rumah itu. Saya sore itu mengunjungi bapak itu, karena bapak itu sudah lama sakit dan menurut beberapa umat yang mengenal beliau, beliau kesulitan untuk berobat sementara beliau tinggal sendirian.
 
Dari cerita beberapa umat yang mengenal bapak itu, bapak itu dulunya orang yang berkelimpahan. Namun karena berkelimpahan itu, menjadikan dirinya seperti lupa diri. Beliau tidak mau bergaul dengan tetangganya, memang dia hampir tidak pernah di rumah. Hal yang  memprihatinkan adalah meski dia berkelimpahan akan tetapi beliau menelantarkan istri dan anak-anaknya.
 
Dengan hartanya yang melimpah itu dia meninggalkan istri dan anak-anaknya hidup dengan perempuan lain, bahkan sering berganti-ganti. Puncaknya bapak itu menceraikan istrinya dan pergi dengan perempuan lain.
 
Setelah usahanya bangkrut bapak itu kembali ke rumahnya dan tinggal sendirian, sementara istri dan anak-anaknya sudah pindah ke kota lain. Tak berapa lama tinggal di rumahnya, rumah itu dijual dan bapak itu sekarang tinggal di rumah kontrakan yang di sewa oleh anaknya.
 
Dalam pembicaraan dengan beliau, beliau mengeluh panjang lebar bahwa dirinya sekarang kesepian. Beliau sedikit emosi ketika membicarakan anak-anaknya yang tidak pernah mau menengok dirinya. Beliau merindukan bertemu dengan anak-anak dan cucu-cucunya, tetapi tidak pernah terwujud. Beliau juga mengeluh tentang tetangga-tetangganya yang acuh tak acuh dengan dirinya. Beliau marah dengan beberapa teman dekatnya yang sekarang semua seolah tidak mengenal dirinya.
 
Sepulang dari rumah bapak itu saya menghubungi salah satu anaknya dan menyampaikan kerinduan bapaknya. “Romo, kami sebenarnya tidak keberatan untuk mengunjungi bapak, tetapi sikap bapak tidak menyenangkan. Setiap kali kami datang, bapak selalu marah-marah mengatakan kami anak durhaka, tidak berbakti kepada bapak. Bapak akan memberi nasehat panjang lebar yang intinya harus berbakti pada orang tua. Bapak selalu menyalahkan orang lain yang tidak peduli dengan dirinya. Bapak tidak pernah menyadari bahwa semua itu karena perbuatan dia. Bapak tidak sadar bahwa pada waktu beliau masih jaya, seolah-oleh semua bisa dibeli, sehingga tega mengusir kami dan ibu keluar dari rumah. Bapa selalu meremehkan orang-orang di sekitar sini. Maka kami jadi malas untuk mengunjungi bapak, lebih baik kami tidak pernah bertemu dengan bapak dari pada bikin emosi,” kata anak itu.
 
Bapak tua itu sekarang menderita amat sangat karena kesepian yang berkepanjangan. Bapak itu menuai apa yang telah ditaburnya selama ini. Saat sedang jaya dan hebat seolah-olah tidak membutuhkan orang lain; beliau merasa dengan hartanya bisa mendapatkan segalanya. Sekarang ketika masa jayanya sudah berakhir dia mengalami hidup yang kering dan tidak mempunyai daya apapun. Sebagaimana yang dikatakannya, beliau merasa sudah mati meski kenyataannya masih hidup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan nabi Yeremia: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan. Ia seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak mengalami datangnya hari baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asin yang tidak berpenduduk.”
 
 Bagaimana dengan aku? Siapa yang kuandalkan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.