Renungan Harian: 30 September 2020

Renungan Harian
Rabu, 30 September 2020

Pw. St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan I : Ayb. 9: 1-12. 14-16
Injil    : Luk. 9: 57-62

S u w i t o

Ketika liburan, waktu masih seminaris, saya sowan (mengunjungi) eyang yang tinggal di Yogya. Pada waktu itu eyang meminta saya untuk membantu membereskan almari yang berisi banyak barang, diantara ada album-album foto yang kelihatan sudah tua. Album-album itu menarik perhatian saya, karena saya belum pernah melihat. Maka saya meminta ijin eyang apakah diperbolehkan untuk melihat-lihat foto dalam album itu. Dan eyang mengijinkan.
 
Dari banyak foto dalam album itu yang menarik adalah foto-foto eyang waktu masih muda dengan pakaian jawa  dan pakaian kebesaran jawa. Selain itu ada foto-foto prajurit kraton Yogya. Eyang menerangkan, nama-nama pasukan-pasukan itu. Di saat eyang menerangkan tentang nama-nama pasukan prajurit kraton eyang  bercerita tentang bagaimana seseorang mengabdi kraton.
 
“Jaman dulu, orang bisa “suwito” (mengabdi) pada Sinuwun (Raja) itu sebuah kebanggaan luar biasa. Maka “suwito” pada sinuwun menjadi cita-cita banyak orang muda pada masa itu. Namun untuk bisa “suwito” tidak mudah, berat dan harus berani “ngrekoso” (menderita).
 
Satu hal penting yang harus dimiliki oleh orang yang mau “suwito” adalah sikap “madhep, mantep anggone suwito, ora mangro lan ora minggrang-minggring, ora nolah noleh” (adanya kemantapan niat, tidak setengah-setengah dan fokus). Kalau tidak punya sikap seperti itu maka tidak akan terpakai. Apalagi kalau jadi prajurit, kalau tidak punyak kemantapan hati dan tidak fokus akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan teman-temannya, pada gilirannya merugikan Sinuwun dan kraton.
 
Cerita eyang tentang orang-orang yang mau mengabdi raja, membantu saya untuk memahami sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas. Mereka yang mau mengikuti Yesus harus punya kemantapan hati dan totalitas. Maka hanya mereka yang punya kemantapan hati dan totalitas layak menjadi muridNya.
 
Aku yang menyebut diri murid Yesus adakah kemantapan hati dan totalitas dalam diri saya untuk mengikutiNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 September 2020

Renungan Harian
Selasa, 29 September 2020

Pesta S. Mikhael, Gabriel, Rafael Malaikat Agung
Bacaan I : Dan. 7: 9-10. 13-14
Injil    : Yoh. 1: 47-51

Malaikat Pelindung

Hari itu saya mendapat kejutan, kedatangan tamu. Tamu itu sahabat lama yang mungkin sudah 20 tahun tidak pernah bertemu dan tidak pernah mendengar kabarnya. Hari itu sebenarnya bukan juga sebuah niat yang disengaja oleh sahabat saya untuk mengunjungi dan bertemu dengan saya.
 
Perjumpaan yang sungguh amat menyenangkan. Karena begitu senangnya kami bisa berjumpa sehingga kami tidak sadar bahwa ada orang lain yang juga ikut dengan dia. Saya melihat perempuan cantik yang bersama dia, spontan saya bertanya: “Ini istrimu? Akhirnya ada juga perempuan cantik yang bisa menaklukan dirimu. “ Sahabat saya tertawa mendengar pertanyaan saya, dan perempuan di sebelahnya tersenyum tersipu.
“Eh iya, kenalin Wan,” katanya. “Sori sampai lupa kalau bawa gandengan,” tambahnya.
“Dia bukan istri saya Wan, dia malaikat pelindung saya,” jawabnya.
“Ha………..ha, bisa romantis juga kamu ya, keren, mantap.”
“Serius Wan, dia bukan istrinya, saya masih sendiri.”
“Oh, sori. Tapi beliau calon istri?” tanyaku penasaran karena mereka tampak amat mesra.
“Ehmmmm belum tahu. Kami baru bertemu lagi setelah sekian puluh tahun”
 
“Wan, dia sungguh malaikat saya.” Katanya mencoba menjelaskan.
“Saya kenal dengan dia, 27 tahun yang lalu, ketika kami sama-sama kerja. Mungkin 6 bulan kemudian kami saling jatuh cinta. Dia cinta pertama saya, dan saya betul-betul jatuh cinta padanya. Kami bermimpi untuk membangun keluarga. Pernah saya mengajak dia menikah, tetapi sulit untuk mewujudkan karena ada perbedaan martabat antara keluargaku dan keluarganya yang menjadi penghalang. Saya pernah mengajak nekat, tetapi dia amat bijak, mengatakan tidak bisa dan mengingatkan saya tentang rasa hormat pada orang tua dan keluarga.
 
Setahun kemudian kami berpisah dan “lost contact”. Tapi Wan, rasanya cinta saya dengan dia tidak bisa hilang. Pengalaman cinta saya pada dia membuat saya mengatur hidup saya lebih baik. Satu hal yang inginkan agar lewat hidup saya dia bangga dengan saya  dan kebanggaan itu membuat dirinya bahagia.
 
Mungkin bagi banyak orang kedengaran sinting, tapi pengalaman cintanya dan cintaku kurasakan menjagaku agar aku hidup lebih baik, tidak “neko-neko”. Saya tidak tahu dia dimana dan bagaimana, tapi aku berharap kalau dia dengar tentang aku, dia tahu bahwa aku hidup baik. Aku selalu berharap bisa menemukan dia lagi, entah dia sudah berkeluarga atau belum, hanya untuk memastikan bahwa dia bahagia, dan untuk berterima kasih atas cintanya yang selalu menjaga hidupku.
 
Wan, aku sejak kecil diajarkan tentang malaikat pamomong (malaikat pelindung), aku selalu membayangkan malaikat itu bersayap dan melindungi aku dengan sayapnya. Setelah besar aku juga tidak tahu malaikat itu seperti apa, tetapi sekarang aku tahu, dia malaikat pelindung saya yang melindungi saya dengan cintanya. Jadi kalau aku menyebut dia itu malaikat saya, bukan soal pujian dan romantisme gombal-gombalan, tapi aku sungguh mengalami dan merasakan kalau dia malaikatku.” Dia mengakhiri cerita dengan berseri-seri.
 
Saya ingat waktu kecil diajari ibu setiap doa malam dan mau pergi menyisipkan doa “Malaikating Allah ingkang dados pamomong kulo, kulo aturi njagi kulo amin.” (Malaikat Allah yang menjadi pelindungku, aku mohon perlindunganmu amin.) Seperti apa malaikat itu? Kiranya orang-orang yang mencintaiku dan dengan cintanya menuntun hidupku itulah malaikat-malaikat yang Tuhan berikan bagiku.
 
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 28 September 2020

Renungan Harian
Senin, 28 September 2020

Bacaan I : Ayb. 1: 6-22
Injil    : Luk. 9: 46-50

K a r m a

Pada suatu sore saya kedatangan tamu seorang ibu muda yang ingin konsultasi. Setelah kami saling mengucapkan salam ibu itu memulai dengan permintaan: “Pastor, saya mohon doa dan berkat yang dapat membebaskan karma yang saya tanggung.” Saya agak terkejut dengan permintaa ibu tersebut, mengingat tidak ada ajaran karma dalam Gereja Katolik.
 
“Maaf ibu, kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya saya.

“Begini pastor,” ibu itu memulai kisahnya.
“Pastor, saya tidak mengerti perkawinan saya selalu berantakan karena suami meninggalkan saya demi wanita lain. Saya sebelumnya sudah menikah tidak di gereja, perkawinan kami berjalan 5 tahun suami saya pergi dari rumah dengan wanita lain. Saya bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga, karena suami saya tidak bekerja. Setiap hari judi dan main perempuan. Akhirnya kami bercerai.
 
Kemudian saya bertemu dengan orang katolik dan mengajak menikah. Saya mau jadi katolik dan mau menikah dengan dia karena saya tahu perkawinan katolik tidak boleh cerai. Tetapi kejadian berulang, suami saya selingkuh dan sekarang pergi dengan wanita lain. Saya sedih, hancur pastor. Rasanya saya sudah berjuang menjadi istri yang baik, saya rela keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga agar bisa ngurus rumah tangga dengan baik. Tetapi toh yang terjadi suami saya pergi juga.
 
Suatu kali saya bertemu dengan seorang teman dan mengatakan bahwa itu karena karma, jadi saya harus dibebaskan dari karma itu.
 
Pastor, menurut saya karma itu saya terima akibat perilaku ibu saya. Pastor, ibu saya dulu meninggalkan ayah saya dan saya karena selingkuh dengan laki-laki lain. Dan kemudian saya tahu ibu sudah 3 kali kawin cerai, karena ibu saya selalu meninggalkan suaminya pergi dengan laki-laki lain. Begitu Pastor, jadi saya mohon dibebaskan dari karma.”
 
Pandangan seperti ibu muda itu masih banyak hidup dan dihidupi oleh banyak dari kita. Penderitaan, sakit dan kemalangan yang dialami seseorang adalah akibat dosa. Karena orang itu berdosa maka dia menderita, sakit atau ditimpa kemalangan. Baik itu dosa dirinya sendiri atau dosa leluhurnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Ayub menegaskan bahwa penderitaan, sakit atau kemalangan tidak serta merta karena akibat dosa. Penderitaan, sakit dan kemalangan bisa menimpa baik orang suci maupun orang berdosa. Sebagaimana kisah Ayub orang yang suci di mata Allah tetapi ditimpa kemalangan bertubi-tubi.
 
Hal yang paling penting adalah bagaimana aku menghadapi penderitaan, sakit dan kemalangan. Aku menyalahkan Tuhan? Menyalahkan leluhur?
Dan yang lebih penting adalah, apakah aku mudah menghakimi orang lain bahwa penderitaan, sakit dan kemalangan karena dia berdosa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 September 2020

Renungan Harian
Minggu, 27 September 2020

Hari Minggu Biasa XXVI
Bacaan I  : Yeh. 18: 25-28
Bacaan II : Flp. 2: 1-11
Injil     : Mat. 21: 28-32

Kesepian

Sore itu, saya memimpin misa requiem untuk seorang teman. Gereja yang cukup besar itu terasa sempit karena banyaknya orang yang ikut perayaan ekaristi. Saya melihat banyak orang menangis, berduka kehilangan dia. Suasana duka menyelimuti perayaan ekaristi itu.
 
Almarhum memang sosok yang luar biasa. Seorang lelaki yang selalu berpenampilan rapi, ramah dengan setiap orang, murah hati, dan ringan tangan untuk membantu. Seorang pria yang sukses dalam karirnya, seorang yang aktif dalam berbagai organisasi dan organisasi yang dia pimpin selalu sukses dalam aktifitasnya. Maka tidak heran banyak orang yang kehilangan sosok ini.
 
Saat menunggu perayaan ekaristi dimulai, ingatan saya membawa pada pengalaman beberapa tahun sebelumnya. Hari itu saya mengunjungi dia di rumah sakit. Dia dirawat bukan karena penyakit yang diidapnya, tetapi akibat percobaan bunuh diri yang dia lakukan.
 
Peristiwa percobaan bunuh diri itu cukup menggemparkan di kalangan teman-teman, dan menimbulkan banyak tanya. Kami mengenal dia sebagai orang yang sukses dalam karir, orang yang banyak teman, dalam berbagai aktifitas sukses, banyak membantu orang sehingga membuat orang yang dibantunya menjadi luar biasa. Dia orang yang punya kharisma kepemimpinan luar biasa, orang perfeksionis, selalu teratur dan tertata baik. Mengapa harus mengakhiri hidup dengan cara demikian?
 
Saat saya menjenguknya, dia menangis melihat saya. Dia meminta saya untuk menegakkan tempat tidurnya supaya dirinya bisa setengah duduk. “Sori Wan,” katanya berbisik, sambil meneteskan air mata. “It’s ok,” jawabku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah, tenang, istirahat, yang penting cepet sembuh.” Kata saya mencoba menenangkan dia. “Saya malu dengan diri saya sendiri, saya tolol.” Katanya sambil berurai air mata.
 
“Wan, saya ini sesungguhnya tidak seperti yang kamu  dan teman-teman lihat dan kenal. Hidup saya kering, saya kesepian dan lelah. Saya merasa punya banyak teman, bergaul di sana-sini, main bareng ke sana-ke mari tetapi ternyata tidak ada seorangpun yang dekat dengan saya. Bagi banyak orang ternyata saya bukan pilihan untuk menjadi teman mereka. Saya merasa banyak dari mereka lebih senang kalau saya tidak ada.
 
Wan, kamu tahu saya selalu melakukan yang terbaik untuk banyak teman, dan mereka selalu memuji teman yang aku bantu bahwa acaranya sukses luar biasa dan hebat, tetapi dia hanya mengucapkan terima kasih yang kurasa basa-basi. Dia di depan saya tidak memuji sedikitpun atas apa yang telah saya buat; dia malah memuji orang lain yang tidak berbuat gak seberapa, itupun orang itu bertindak karena saya suruh.
 
Kamu ingat acara yang kita buat? Aku kerja setengah mati, dan acara itu luar biasa. Tidak ada satupun orang yang memuji saya Wan, yang dipuji siapa? Pembawa acara yang mengatur acara detail dan tepat waktu, padahal kamu tahu semua itu aku yang buat.
 
Wan, saat aku pengin jalan, makan keluar dan aku mengajak beberapa teman, mereka selalu mengatakan ini dan itu, yang bagi saya itu bentuk penolakan halus. Saya lelah dengan hidup saya, saya mau membuktikan bahwa saya berguna untuk banyak orang, tetapi ternyata sia-sia tidak ada gunanya.” Dia mengakhiri keluh kesahnya yang luar biasa.
 
“Kamu sudah melakukan hal luar biasa. Jangan pernah menjadikan hidupmu untuk membuktikan sesuatu, dan jangan berharap hasil dari apa yang kamu perbuat. Menabur saja, menabur dan menabur, siapa yang panen biar waktu yang menentukan.” Kata saya menghibur.
 
Sejak dia keluar dari rumah sakit, saya melihat hidupnya jadi lebih ceria, dan bersemangat melakukan apapun. Teman-teman merasakan dan melihat perubahan hidupnya. Dia jauh menjadi lebih ramah, jauh lebih hormat pada orang lain dan menghasilkan karya-karya yang jauh luar biasa. Penyesalan yang mengubah hidupnya.
 
Lamunan saya hilang, ketika salah satu teman mengatakan misa sudah siap dimulai.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, kata kuncinya adalah menyesal. Menyesal karena tahu bahwa menolak tawaran rahmat. Dan penyesalan itu menjadikan diri semakin terbuka dan peka akan tawaran-tawaran rahmat Allah.
 
Jangan-jangan aku tidak peka terhadap tawaran rahmat Allah karena aku selalu menutup diriku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 26 September 2020

Renungan Harian
Sabtu, 26 September 2020

Bacaan I : Pkh. 11: 9-12: 8
Injil    : Luk. 9: 43b-45

S i a – s i a

Seorang fotografer, selalu bepergian untuk mendapatkan karya foto yang bagus. Setiap kali sehabis berburu obyek foto, ia selalu menampilkan karya fotonya melalui media sosial. Banyak orang mengagumi karya fotonya. Ia mampu menampilkan karya-karya indah, baik itu pemandangan alam, binatang maupun sosok-sosok tertentu.
 
Lewat karya-karya yang diunggah, banyak orang mengetahui bahwa ia telah menjelajah banyak tempat. Bahkan sering kali baru saja ia mengunggah hasil karya foto di suatu tempat, pada saat yang sama ia telah mengunggah keberadaannya ditempat lain.
 
Banyak teman-temannya berkomentar: “Wah, pergi-pergi terus ya.” Beberapa teman lain berkomentar: “Banyak duit ya, pergi-pergi terus.” Teman lain lagi bertanya: “Untuk apa foto-foto itu?” Komentar-komentar yang tidak salah, karena memang ia bukanlah fotografer professional yang mendapatkan uang dari karya fotonya. Baginya fotografi adalah hobi dan refreshing.
 
Tak pelak pertanyaan-pertanyaan itu cukup mengganggunya, meski awalnya tidak begitu diambil pusing. Pertanyaan untuk apa melakukan semua ini? Adalah pertanyaan mendasar yang selalu menghantuinya. “Apakah aku melakukan semua ini demi sebuah pujian dari banyak orang di media sosial? Apakah aku mencari kepuasan lewat “jempol” banyak orang di media sosial? Apakah aku melakukan semua ini karena aku mencari eksistensi diri? Apakah aku melakukan semua untuk membuktikan pada “dunia” bahwa aku mampu dan lebih baik dari orang lain?” pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang selalu mengganggunya.
 
Suatu saat ia bercerita bahwa dengan melihat alam yang indah bisa menemukan Tuhan. Pada saat ia bercerita seperti itu, teman lain bertanya: “apakah di sini tidak ditemukan Tuhan? Haruskah Tuhan ditemukan ditempat-tempat yang jauh dan berbiaya mahal?
 
Semua alasan-alasan rasional untuk menjawab pertanyaan yang menggelisahkan tidak bisa ditemukan lagi. “Apakah semua ini hanyalah kesia-siaan belaka? Apakah aku selama ini mengejar kesia-siaan?
 
Sampai suatu saat ketika ia berburu matahari tenggelam, ia melihat dan menikmati langit memerah jingga, dan matahari memancarkan sinar keemasan di batas cakrawala, ia merasakan getaran hebat dalam dirinya. Air matanya mengucur, entah mengapa tetapi rasa bahagia ia rasakan. “Aku merasakan cinta yang luar biasa, alam seolah memelukku. Berdiri menatap cakrawala yang luas membentang dengan keagungannya menjadikan aku merasa kecil, dan bukan siapa-siapa. Entah dorongan dari mana, saat itu aku merasakan Tuhan yang begitu dekat, tetapi pada saat yang sama aku merasakan keagungan Tuhan yang menggetarkan.” Katanya melukiskan pengalaman itu.
 
“Itu yang kucari selama ini, meski pada awalnya aku tidak tahu untuk apa aku melakukan semua ini. Pengalaman akan Tuhan yang begitu menggetarkan dan pengalaman cinta yang begitu hangat menyelimuti diriku yang selama ini tidak kutemukan dalam rasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berurai air mata untuk cinta  dari keagungan semesta yang hadir dalam rasa,” ia meneruskan kisahnya.
 
“Sejak saat itu, hasil karya foto nomor sekian bagiku, saat aku berburu foto. Hal pertama dan utama adalah pengalaman menemukan cinta Allah melalui semesta yang hadir dalam rasa. Kalau sekarang, aku mengunggah karya foto melalui media sosial bukan demi “jempol” dan pujian tetapi aku ingin menghadirkan cinta dan sebagai ungkapan syukurku atas anugerah semesta, lewat sepotong karya foto itu.” Ia menutup kisahnya.
 
Benarlah kata Pengkhotbah melalui bacaan hari ini: “Kesia-siaan atas kesia-siaan kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah kesia-siaan.” Segala sesuatu di atas bumi akan menjadi sia-sia dan membawaku pada kesia-siaan mana kala aku terjebak untuk menjadi penikmat dan memburu segala sesuatu demi kenikmatanku.
 
Segala sesuatu menjadi berarti manakala segala sesuatu itu menjadi sarana bagiku semakin dekat dengan Tuhan, dan aku pergunakan sebagai pujian, penghormatan dan pengabdian bagi Tuhan agar jiwaku diselamatkan.
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah aku mengejar kesia-siaan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 September 2020

Renungan Harian
Jumat, 25 September 2020

Bacaan I : Pkh. 3: 1-11
Injil    : Luk. 9: 19-22

Nggege Mangsa

Waktu itu saya pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Hari itu guru-guru ada rapat, sehingga semua murid dipulangkan. Sesampai di rumah, saya bilang ke ibu kalau saya lapar. Mungkin kebiasaan pulang sekolah itu makan, jadi meski pulang lebih awal saya merasa lapar.
 
Ibu menjawab bahwa nasinya belum masak. Ibu baru selesai “ngaru”. (pada masa itu beIum memakai rice cooker). Ibu meminta saya untuk membantu meletakan “dandang” (tempat untuk menanak nasi) ke atas “anglo” dan berpesan kalau sudah bunyi “kemrengseng” (bunyi air mendidih) agar memberi tahu ibu. Waktu itu ibu sedang sibuk menjahit.
 
Rasanya menunggu nasi menjadi masak, lama sekali, karena perut sudah keroncongan. Beberapa kali saya bertanya pada ibu: “Bu, wis mateng?” (Bu, nasi sudah masak?) karena saya beberapa kali bertanya, ibu berhenti menjahit dan menasehati saya.
 
“Mas, jadi orang itu harus sabar. Masak nasi itu ada aturannya agar nasi tanak (benar-benar masak). Kalau dipaksakan nasi menjadi tidak enak dan bisa bikin sakit perut. Nanti, kalau sudah besar, apapun harus sabar dan ikut aturannya (prosesnya)  “aja nggege mangsa tundhane ora becik” (jangan mendahului/memaksakan waktunya, jalan pintas nanti akhirnya tidak baik). Semua ada waktunya, meskipun menunggu itu tidak enak bahkan menyakitkan tetapi kalau waktunya tiba semua menjadi baik.
 
Mas, nanti kalau sudah besar, kalau merasakan hidup itu sulit, gelap dan penuh derita, jangan “nggege mangsa” jalani semua dengan sabar dan ikhlas. Asal kita mau berusaha dan berjuang, waktunya akan datang, kesulitan akan teratasi, gelap berubah menjadi terang dan penderitaan menjadi kebahagiaan. Tetapi semua itu ada waktunya, jadi kalau sudah tiba waktunya semua itu membahagiakan.” Ibu mengakhiri nasehatnya.
 
Waktu itu saya tidak mengerti apa yang ibu katakan pada saya, baru setelah ibu pergi, saya menyadari nasehat yang amat bagus dari ibu. Ada kecenderungan dalam diriku tidak sabar, “grusa-grusu” dan instant. Lupa bahwa segala sesuatu ada prosesnya dan ada waktunya. Cepat belum tentu menjadi lebih baik demikian pula lambat belum tentu menjadi lebih buruk, semua tergantung proses yang dijalani.
 
Seperti kata pengkhotbah dalam bacaan hari ini: “Untuk segala sesuatu ada waktunya……..Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
 
Bagaimana dengan diriku? Mau dan rela untuk sabar dan tekun mengikuti dan menjalani proses?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 September 2020

Renungan Harian
Kamis, 24 September 2020

Bacaan I : Pkh. 1: 2-11
Injil    : Luk. 9: 7-9

R i s a u

Perayaan ekaristi pada pagi hari itu agak gaduh, sehingga saya menghentikan khotbah saya. Kejadian itu berawal adanya anak kecil yang menangis menjerit memanggil-manggil mamanya.

“Mamaaaaa,” teriak anak itu sambil menangis.

Sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan anak kecil yang menangis itu, karena memang itulah anak kecil. Namun tidak berapa lama setelah anak kecil itu teriak, di bangku lain ada seorang ibu yang berteriak-teriak dan jatuh pingsan.                                     
Semua umat terkejut dan sontak perhatian ke arah datangnya suara anak yang teriak dan ibu yang teriak diiringi bunyi sesuatu yang jatuh. Pada awalnya semua menduga bahwa anak kecil yang teriak itu adalah anak ibu yang jatuh pingsan, ternyata bukan. Anak yang nangis langsung digendong ibunya dan dibawa keluar sedang beberapa umat mengangkat ibu yang pingsan itu untuk mendapatkan perawatan. Setelah situasi agak tenang, saya melanjutkan perayaan ekaristi.
 
Seusai perayaan ekaristi ada seorang ibu menemui saya dan menyampaikan  bahwa ibu yang tadi pingsan sudah pulih. Ibu itu meminta saya untuk mendoakan ibu yang pingsan tadi.
Setelah saya menyapa umat yang pulang gereja, saya menemui ibu yang tadi pingsan untuk mendoakan.
 
“Bagaimana ibu, sudah sehat? Ibu ke gereja dengan siapa?” sapa saya.

“Sudah pastor, terima kasih. Saya ke gereja sendiri. “

 “Ibu yakin sudah sehat dan bisa pulang sendiri?”

“Sudah pastor terima kasih, saya sudah kuat, saya tidak apa-apa” jawab ibu dengan sopan.

“Ibu masuk angin? Atau ibu sebelumnya sudah tidak enak badan?” tanya saya.

“Tidak pastor, saya sehat. Saya terkejut mendengar teriakan anak kecil itu” jawabnya.

“Oh, maaf ya, ibu jadi terganggu,”

“Tidak pastor, saya yang minta maaf. Saya boleh cerita sedikit?” pinta ibu itu.
“Oh, silahkan ibu.”
 
“Pastor, ketika saya mendengar anak kecil itu menangis dan teriak memanggil mamanya, saya tidak tahan. Setiap kali mendengar anak kecil teriak memanggil mamanya, hati saya rasanya seperti disayat-sayat.” Ibu itu bercerita dengan berurai air mata.
 
“Pastor, kejadian itu kira-kira 15 tahun yang lalu. Saat itu, karena saya tertarik dengan laki-laki lain, saya meninggalkan rumah, suami dan anak saya. Diawali dengan keributan besar dengan suami saya, saya pergi dari rumah. Ketika saya pergi, anak saya yang waktu itu umur 2 tahun, menangis teriak, panggil-panggil saya, di dekapan papanya. Tetapi saya sudah tidak mempedulikan, tekad saya sudah bulat untuk pergi. Maka kalau dengar anak kecil menangis berteriak memanggil mamanya, saya selalu ingat peristiwa itu. Peristiwa yang selalu menghantui hidup saya.” Ibu itu berkisah.
 
“Ibu, pernah bertemu dengan anak ibu?” tanyaku.

“Belum dan saya belum mau bertemu,” Jawabnya.

“Ibu tahu dimana anak ibu tinggal?”

“tahu pastor, dia pernah menghubungi saya dan ingin bertemu.”

“Kenapa ibu tidak mau menemuinya? Kiranya perjumpaan itu menjadi saat untuk berdamai dengan anak ibu dan ibu menjadi damai dengan hidup ibu.”

“Tidak pastor, saya tidak mau kalau nanti saya bertemu dan saya dihina dan direndahkan. Biar, saya menderita dengan bayangan yang menghantui saya dari pada saya dihina dan direndahkan”

Saya diam, tidak bisa mengerti dan tidak tahu apa yang harus saya katakan
 
Betapa di dalam kehidupanku, aku sering kali lebih memilih penderitaan yang disebabkan oleh bayangan masa laluku, demi memelihara dan menghidupi kesombonganku. Bukankah setiap dari aku mempunyai bayang-bayang gelap? Dan bukankah bayangan gelapku akan menjadi komposisi indah bagi hidupku mana kala aku mau menerima, memeluk dan menyelaraskannya?

Betapa aku harus berani dan rela merendahkan diri, serta menderita agar bayangan hitamku menjadi selaras?
 
Kiranya pengalaman Herodes dalam sabda Tuhan sejauh diwartakan Lukas hari ini, menunjukkan kerisauan dan kecemasan akan masa lalu: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”
 
Dalam peziarahan hidup dalam terang dan menuju “Sang Cahaya”, bayangan gelapku selalu muncul dan mengikuti. Akankah aku mampu melupakan dan menghilangkannya?
Bukankah yang dapat kulakukan adalah menyelaraskan dengan hidupku, sehingga menjadi kompisi indah bagi hidupku? Aku, bayangan gelapku dan “Sang Cahaya” adalah komposisi indah hidupku.
 
Persoalannya adakah kemauan dan kemampuan untuk menyelaraskannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 September 2020

Renungan Harian
Rabu, 23 September 2020

PW. St. Padre Pio 
Bacaan I : Ams. 30: 5-9
Injil    : Luk. 9: 1-6

C u k u p

Sore itu, saat saya sedang menikmati matahari tenggelam yang bulat memerah di halaman gereja, ada bapak tua yang memikul keranjang bambu. Karena sering ada orang yang salah jalan masuk halaman gereja, maka saya mengira bapak tua itu orang yang salah jalan. “Bapak mau kemana, ini tidak ada jalan lagi,” sapaku.

“Bapak tidak salah jalan nak, bapak mau menawari apakah mau membeli keranjang?” Jawab bapak itu. “Saya gak mau beli pak,”
“tolong beli, ini bagus dan dari pagi belum ada yang beli” pinta bapak itu.
 
Saya iba melihat bapak tua itu. Seharusnya beliau istirahat di rumah, tetapi masih harus berjualan. Bapak tua itu badannya sudah bungkuk, dan kulit wajah sudah berkeriput menunjukkan usianya. Kemudian bapak itu saya ajak duduk di pastoran, dan saya beli 6 keranjang yang di bawanya.
 
Bapak itu saya tawari makan, beliau menolak. Tetapi setelah saya desak beliau mau. Saya meminta  ibu yang membantu di pastoran untuk menyiapkan makan. Saat saya tawari minum teh atau kopi beliau menjawab: “Aki, minum air putih saja cukup, nak.”
“Aki, tidak minum kopi?” tanyaku.
“Minum, tetapi sekarang cukup air putih,” jawabnya.

Saya minta agar bapak tua itu disediakan kopi, selain air putih.
 
Bapa tua itu mengambil nasi sedikit, sayur dan sepotong tempe. Ayam goreng, tahu dan ikan asin, tidak diambilnya.

“Kek, jangan malu ya, kenapa lauk yang lain tidak diambil?” tanyaku.

“Ini sudah cukup untuk aki.” Jawabnya.

Sambil menemani beliau makan, saya ngobrol dengannya. Bapak tua, itu bercerita bahwa istrinya membuat keranjang dan beliau yang menjualnya. Hasil menjual keranjang cukup untuk makan sehari-hari dengan istrinya, karena beliau hanya tinggal berdua sedang anak-anaknya sudah berkeluarga dan berpisah. Hari itu, ia membawa keranjang lebih banyak dari biasanya karena berharap ada kelebihan uang untuk membeli obat buat istrinya. Sayang hari itu, dagangannya sampai sore tidak laku.
 
Setelah selesai makan, saya membayar enam keranjang yang saya beli, dan memberi sedikit uang untuk bapak itu. Saya terkejut, karena bapak itu hanya mau menerima uang sejumlah harga keranjang. Saya agak sedikit memaksa, tetapi beliau tetap tidak mau menerima.

“Nak, apa yang aki terima sudah cukup untuk makan besok dan beli obat untuk nini. Riski ini sudah cukup, dan biar besok aki kerja lagi. Nanti kalau aki terima uang ini,  besok aki jadi malas kerja.” Jawabnya dengan tersenyum.

Saat saya menjabat tanganya sambil sedikit membungkuk memberi hormat, bapak itu menepuk pundak saya dan berkata:

“sing sehat dan selalu berkecukupan ya nak.”
 
Saya menatap punggung bapak tua itu yang pergi meninggalkan pastoran. Saya tersentak dengan perjumpaan dan pembicaraan yang amat singkat itu. “Orang yang luar biasa, yang dikirim Tuhan untuk mengajariku agar selalu berpikir cukup,” pikir saya dalam hati. Orang yang amat langka di masa sekarang, di mana banyak orang berlomba untuk mengumpulkan dan menumpuk.
 
Sebagaimana nasehat dalam kitab Amsal: “Janganlah aku kauberi kemiskinan atau kekayaan; biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Jangan sampai kalau aku kenyang, lalu menyangkalMu”
 
Berkata cukup membutuhkan keberanian yang luar bisa dan kepasrahan yang luar biasa pula. Adakah aku berani mengatakan cukup?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 22 September 2020

Renungan Harian
Selasa, 22 September 2020

Bacaan I : Ams. 21: 1-6. 10-13
Injil    : Luk. 8: 19-21

Tetangga Baru

Tetangga baru di kampung kami itu biasa kami panggil pak Raden. Entah siapa namanya karena tidak ada di antara kami yang mengenalnya. Bahkan pak RT pun tidak tahu siapa namanya karena tidak pernah lapor. Kami memanggil pak Raden, karena beliau mempunyai kumis yang tebal, mirip tokoh pak Raden dalam film Unyil.
 
Sudah beberapa bulan beliau tinggal di kampung kami tetapi tidak ada satupun yang mengenalnya. Beberapa orang yang berpapasan dengan beliau dan menyapanya tidak pernah ada yang mendapatkan balasan. Sehingga orang di kampung kami enggan menyapanya.
 
Beberapa kali pak Raden, mengadakan hajatan, tetapi tidak seorangpun  warga di kampung kami yang diundang. Banyak tamu yang datang, tetapi entah mereka datang dari mana.
Pernah suatu ketika pohon besar di depan rumah pak Raden dahan yang besar patah dan menimpa pagar dan halaman rumahnya, warga kampung yang hendak membantu membersihkan justru diusir.
 
Pada suatu malam, terdengar teriakan minta tolong dari rumah pak Raden. Warga kampung berdatangan tetapi tidak bisa masuk menolong, karena pintu pagar terkunci. Untunglah ada beberapa orang muda yang berani memanjat pagar sehingga bisa membuka pintu pagar.
 
Ternyata bu Raden sakit dan tidak sadarkan diri. Di rumah itu ternyata hanya ada bu Raden dan anak perempuannya. Warga segera membawa bu Raden ke klinik rawat inap. Dan ternyata bu Raden harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Beberapa warga kampung kami mengantar sampai di rumah sakit besar, dan bahkan menunggu sampai ada keluarganya yang datang.
 
Sejak peristiwa itu, pak Raden menjadi ramah dengan warga kampung kami dan mau ikut pertemuan bapak-bapak. Beliau sekarang sudah di kenal oleh warga kampung kami.
 
Benarlah kata pepatah, saudara yang terdekat adalah tetangga yang terdekat. Sebagaimana dalam kitab Amsal: “Siapa yang menutup telinga bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 21 September 2020

Renungan Harian
Senin, 21 September 2020

Pesta St. Matius Rasul
Bacaan I : Ef. 4: 1-7. 11-13
Injil    : Mat. 9: 9-13

C a n t i k

Setiap kali ada kerja bakti membersihkan gereja dan sekitarnya, ibu muda itu selalu membersihkan tempat-tempat yang tidak dikerjakan orang lain. Dia selalu bekerja sendiri, dan menyendiri, begitu selesai dia langsung pulang; tidak pernah ikut kumpul-kumpul dengan umat yang lain.
 
Beberapa kali saya melihat ibu ikut misa tetapi selalu di luar tidak pernah masuk ke gereja, meski saat itu gereja tidak penuh. Pernah saya menegur agar masuk tetapi dia tetap tidak bergeming. Ibu itu tidak pernah menyambut komuni, dan begitu selesai berkat langsung pulang.
 
Pernah suatu saat, ketika saya tidak mempersembahkan misa, saya mencoba menyapa ibu itu, tetapi ibu kelihatan tidak ingin bicara dengan saya, hanya tersenyum dan segera menghindar. Saya pernah bertanya pada salah satu umat tentang ibu itu, ia menjawab: “Memang selalu begitu pastor.”
 
Suatu sore, ibu muda itu datang, dia meminta ijin untuk membersihkan patung bunda Maria, dan Hati Kudus Yesus. Saya mempersilakan, dan ibu segera meninggalkan saya untuk ke gereja. Sejak saat itu tiga kali dalam seminggu, di sore hari ibu membersihkan patung dalam gereja.
 
Suatu malam, beberapa tokoh umat dan sesepuh datang menemui saya ingin berbicara. Salah satu bapak bertanya kepada saya: “Maaf, Pastor, apakah benar, pastor yang mengijinkan ibu itu membersihkan patung-patung dalam gereja?” “Iya betul” jawab saya.
“Pastor harus segera menghentikan dan melarang ibu itu untuk membersihkan lagi.” Bapak itu dengan tegas sedikit emosi meminta saya. “lho memang dia merusak?” tanyaku dengan agak terkejut.
“Tidak Bapak Pastor, dia itu orang yang tidak pantas untuk itu, dia itu pelacur.” Jawab bapak itu. Saya sekarang benar-benar terkejut. Untuk menutupi keterkejutan, saya bertanya: “Bapak-bapak yakin dan tahu persis?” “Kami tahu persis, dia tiap malam selalu ada di tempat itu, beberapa dari kami melihat dengan mata kepala kami sendiri.” Bapak itu menegaskan.
Dengan bercanda, sambil tertawa kecil saya menimpali: “lho jangan-jangan bapak-bapak yang melihat itu pelanggannya?” Hanya dua orang yang tertawa bersama saya, yang lain tertunduk dengan wajah tegang; mungkin candaan saya menyinggung mereka.
 
“Bapak-bapak, adakah yang salah dengan orang yang membersihkan patung-patung itu?” tanya saya. Dengan nada bercanda saya melanjutkan: “Begini, nanti kalau bunda Maria dan Tuhan Yesus protes, saya akan menghentikan.”
Mereka, diam dan masih tetap mendesak saya agar menghentikan ibu itu untuk membersihkan patung-patung itu.
 
Malam itu saya merenung: “Apa yang akan dikatakan bunda Maria dan Tuhan Yesus? Adakah orang itu akan dihakimi?”
Aku bertanya dalam diriku: “Adakah aku lebih pantas dari ibu itu? Ibu itu dianggap tidak pantas karena semua orang melihat dia sebagai orang yang tidak pantas, sedang dalam diriku mungkin lebih banyak hal yang tidak pantas.”
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menyejukkan diriku: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.