Renungan Harian: 26 April 2022

Renungan Harian
Selasa, 26 April 2022

Bacaan I: Kis. 4: 32-37
Injil: Yoh. 3: 7-15

Dialog

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang bapak, yang dengan menggebu-gebu bercerita tentang pengalamannya berdialog dengan teman-teman dari agama lain maupun yang tidak beragama. Dari ceritanya yang menggebu-gebu itu saya menangkap bahwa nampaknya yang terjadi bukan dialog tetapi “perdebatan” diantara mereka.
Bapak itu merasa harus membela iman katolik di depan teman-temannya yang menurut bapak itu bukan hanya mempertanyakan tetapi juga menyerang iman katolik.
 
“Romo, benarkan bahwa kita ini sebagai orang katolik, perjalanan hidup kita ini menuju surga? Bukankankah iman kita mengajarkan bahwa dengan kita mengimani Yesus Kristus dan dengan baptis yang kita terima kita diangkat menjadi anak-anak Allah? Dengan demikian kita menjadi ahli waris surga.
 
Romo, mereka itu tidak percaya dan bahkan menghina bahwa orang katolik itu dibodohi oleh para pastor. Teman saya yang atheis mengatakan bahwa surga itu tidak ada. Teman yang lain malah mengatakan: “Kalau benar dengan baptis orang katolik menjadi ahli waris surga kenapa mesti ke gereja dan berdoa, bukannya pasti masuk surga.” Romo, saya marah dan saya menjelaskan tetapi mereka tidak pernah mengerti. Saya jadi terpancing untuk menunjukkan kehebatan agama katolik dibanding agama lain,” bapak itu menjelaskan.
 
“Pak, dengan apa yang bapak lakukan hasilnya apa? Mereka menjadi katolik? Atau Mereka tidak mempertanyakan lagi? Atau malah bapak jadi bermusuhan dengan mereka? Pak, mereka tidak akan mengerti dengan apa yang bapak jelaskan karena mereka punya keyakinan dan pemahaman sendiri. Bapak membela  iman katolik dengan cara seperti itu tidak ada manfaatnya yang ada bapak dan teman-teman bapak itu bermusuhan dan bapak menjadi sakit hati.
 
Usul saya, kalau mereka bertanya, bapak menjelaskan soal mereka percaya atau tidak bukan hal penting tetapi bapak menjawab dan menjelaskan dengan baik. Kalau mereka bermaksud untuk menghina atau merendahkan abaikan saja; iman kita tidak akan pudar karena direndahkan. Kalau bapak mau menunjukkan bahwa bapak adalah seorang yang beriman katolik, tunjukkan lewat hidup bapak sehari-hari. Pergulatan bapak setiap hari jatuh bangun untuk berbuat baik dan hidup yang baik itu perwujudan iman. Misalnya bapak menolong seorang yang menderita; orang melihat bahwa tindakan bapak itu karena dorongan kemanusiaan saja. Anggapan orang itu betul dan tidak salah, tetapi bahwa bapak sebagai orang beriman melihat tindakan itu sebagai wujud kasih bapak pada Allah itu buah refleksi bapak sebagai orang beriman.
 
Orang mengatakan surga itu tidak ada ya biarkan saja. Bapak tidak perlu membuktikan surga itu seperti apa dan dimana. Keyakinan bapak bahwa surga itu ada dan bapak ingin masuk surga sehingga selalu mendorong bapak untuk berani bergulat untuk hidup baik dengan jatuh bangun itu jauh lebih penting.

Kiranya yang penting bukan berdebat dan mempertentangkan iman; yang penting adalah saling mengerti dan memahami adanya perbedaan keyakinan. Kedepankan perwujudan iman dalam hidup sehari-hari itu jauh lebih baik,” jawab saya.
 
Perdebatan, saling merendahkan keyakinan orang lain sering kali menjadi sumber permusuhan dan kebencian. Dialog iman bukan untuk berdebat, bukan pula untuk mencari siapa yang paling baik dan paling benar akan tetapi untuk lebih saling mengerti dan memahami sehingga dari situ akan muncul sikap saling menghormati satu dengan yang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, dialog Yesus dan Nikodemus menjadi dialog yang menyelamatkan karena ada kehendak untuk mengerti dan memahami.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 April 2022

Renungan Harian
Senin, 25 April 2022
Pesta St. Markus, Penulis Injil

Bacaan I: 1Ptr. 5: 6b-14
Injil: Mrk. 16: 15-20

Jujur

“Romo, sejak kecil ajaran orang tua yang keras dan selalu saya ingat sampai sekarang adalah jujur. Sejauh saya ingat, saat saya masih kecil rasanya tidak ada masalah dan tidak menjadi beban. Saya mulai merasakan bahwa jujur adalah sesuatu yang sulit dan menyakitkan saat saya sudah mulai SMP.
 
Saat saya mulai sekolah hal yang ditekankan orang tua sebagai wujud jujur adalah disiplin, dan di sekolah tidak boleh mencontek dan apapun dikerjakan sendiri. Nah, saat saya mulai SMP, banyak teman-teman yang mencontek atau berbagai jawaban. Hal itu seolah-olah menjadi pemandangan yang biasa di kelas. Seringkali terjadi bahwa nilai teman-teman saya yang mencontek itu tinggi, bisa 9 atau bahkan ada yang 10, sedang saya hanya dapat 8. Saat itu saya mulai merasa ini tidak adil. Teman-teman saya yang suka mencontek dan dapat nilai-nilai bagus selalu bercerita bahwa mereka tidak pernah belajar, bahkan banyak yang tidak tahu kalau besok ada ulangan. Disamping itu mereka tidak pernah mengerjakan PR di rumah, mereka selalu meminjam jawaban dari teman. Tidak jarang mereka memaksa untuk meminjam. Saya semakin merasakan ada yang tidak adil adalah teman-teman saya yang mencontek itu dipuji-puji oleh para Guru karena nilainya bagus dan seperti mendapatkan keistimewaan dari guru-guru. Teman-teman saya ini selalu dianggap sebagai siswa teladan, karena PR selalu bagus, dan ulangan-ulangan maupun ujian nilainya bagus.
 
Suatu  ketika saya pernah bercerita kepada orang tua tentang apa yang terjadi di sekolah. Tetapi orang tua selalu mengatakan, biarkan saja mereka yang penting saya selalu jujur. Romo, pada masa itu rasanya saya ingin menjadi seperti mereka. Tidak usah belajar tetapi mendapat nilai yang bagus. Romo, saya seringkali menjadi iri dengan teman-teman saya itu karena mereka selalu menjadi juara di kelas dan selalu mendapatkan penghargaan atas nilai-nilai mereka yang bagus.
 
Romo, apa yang saya alami sewaktu saya masih SMP, merasakan adanya ketidak adilan ternyata belum seberapa dibanding dengan saat saya mulai bekerja. Jujur bukanlah tindakan yang popular dan menguntungkan. Sikap jujur saya yang sudah tertanam sejak kecil membuat saya sering menghadapi banyak kesulitan dan tantangan yang tidak mudah. Sikap jujur sering kali membuat saya diajuhi oleh rekan-rekan kerja, membuat saya sering “dibuli” dengan sebutan orang sok suci dan macam-macam. Situasi itu membuat saya seringkali mempertanyakan untuk apa saya bersikap seperti ini. Saya merasa sikap jujur membuat hidup menjadi lebih susah.
 
Belum lagi bila bicara tentang uang. Saya  merasakan sikap jujur membuat saya jauh dari rezeki. Banyak teman-teman secara ekonomi lebih mapan karena keberanian mereka untuk tidak jujur. Sedangkan saya, karena mempertahankan kejujuran ekonominya senin –  kamis. Situasi-situasi itu sungguh-sungguh menjadi pergulatan yang luar biasa bagi hidup saya. Berkali-kali saya sudah membuat keputusan untuk ikut saja arus sebagaimana dihidupi oleh teman-teman saya. Puji Tuhan saya tidak punya keberanian untuk itu sehingga saya tidak jatuh dalam pilihan itu.
 
Romo, kalau saya sekarang melihat semua itu, saya bersyukur bahwa saya berani bertahan untuk selalu mengedepankan kejujuran, walaupun ada banyak hal yang tidak saya dapatkan dengan bersikap seperti itu. Namun hidup saya lebih damai dan tenteram. Romo, godaan itu ternyata selalu membayangi saya hingga saat ini. Meski sudah pensiun ternyata godaan untuk bersikap tidak jujur selalu menjadi bayangan yang mengikuti saya,” seorang bapak mensharingkan pengalamannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Petrus: “Lawanmu, si iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 April 2022

Renungan Harian
Minggu, 24 April 2022

Bacaan I: Kis. 5:12-16
Bacaan II: Why. 1:9-11a,12-13,17-19
Injil: Yoh. 20:19-31

Beriman

Dalam komunitas, kami merayakan kebersamaan dalam setiap peristiwa hidup. Pernikahan adalah salah satunya. Bukan sekali dua kali kami membantu penyelenggaraan Pernikahan anggota komunitas, dari persiapan Misa sampai Resepsi.

Sekali waktu kami membantu perayaan pernikahan salah satu rekan kami. Saat seperti itu adalah saat yg berbahagia buat kami, karena boleh ikut serta dalam sukacita keluarga.

Dari semua persiapan yang mempelai dan keluarga lakukan, kami membantu untuk mengkoordinir dibeberapa hal. Namun satu yg selalu membuat hati kami ciut. Pesta Kebun, dimusim hujan.

Mulai dari persiapan kami selalu bertanya, setengah mengingatkan tentang resikonya. Namun pasangan ini nampak yakin dengan keputusan mereka.
Maka jadilah misa di pagi hari dan resepsi kebun di malam hari.

Acara keluarga dan misa di pagi hari berjalan baik, namun ketika pulang dari Gereja, hujan mulai turun. Kami mulai cemas, terutama mengingat para undangan. Bagaimana kalau tidak ada yang datang? Atau datang lalu kehujanan? Betul bahwa masih ada sudut sudut untuk berteduh, tapi panggung pelaminan ada ditengah kebun tanpa tenda.

Sebagai tim pendahulu, kami sampai lebih awal di tempat resepsi. Diundangan tertulis resepsi dimulai pukul 18.00, sementara di pukul 15.00, hujan turun tampak tak ada rencana berhenti.

Pukul 16.00 mobil pengantin datang untuk bersiap touchup dan makeup mempelai. Masih dengan kecemasan yang sama, kami bertanya apa yg perlu dipersiapkan untuk antisipasi.

“Nanti juga reda” sahut pengantin perempuan sambil tersenyum tanpa beban.

Betul saja, hujan reda tak lama setelah rombongan pengantin dan makeup datang. Staf restoran tampak sigap membersihkan dan mengeringkan kursi meja. Tak lama setelahnya, soundsystem dan pemusik sudah tampak bersiap. Dan kami mulai merapikan meja penerima tamu, persiapan acara dll.

Acara malam itu, indah sekali. Walau bintang tak bersinar terang, tapi tak ada hujan sama sekali, tanah tidak becek, dan udara segar. Lampu lampu kebun dan hiasan jadi maksimal memberi kesan buat semua yg datang.

“Pake pawang loe Dew?” Canda kami disela-sela obrolan selepas acara selesai dan tamu-tamu sudah pulang.

“Novena aja hahahaha” jawabnya ringan sambil tertawa lepas

Kemudian kami tahu, bahwa tentunya semua kemungkinan sudah dipertimbangkan, dan keyakinan mempelai, bukan bahwa tidak akan turun hujan, tapi bahwa Tuhan akan berikan yg terbaik buat mereka. Baik itu dalam kondisi hujan, atau tidak. Mereka percaya, bahwa Tuhan akan berikan yang paling tepat.

Nampaknya beriman bukan sekedar soal fakta dan bukti riil, tapi soal keyakinan akan rencana Tuhan yang lebih besar pada diri kita. Bukan sekedar kebaikan dimata kita, tapi kebaikan yang lebih besar, kebaikan seturut restu Nya.

Ketika kita beriman padaNya, kita tahu kasihnya akan menuntun kita, kendati kita masih belum atau sukar melihatnya.
Seperti tertulis, dalam injil Yohanes, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 April 2022

Renungan Harian
Sabtu, 23 April 2022

Bacaan I: Kis 4:13-21
Injil: Mrk 16:9-15

Belajar mendengarkan

“Tenang, tidak perlu parno (paranoid/cemas berlebih), saya sudah lulus TKK P3K Pramuka, masih bisa lah untuk sekedar pasang perban” gurau salah satu anggota Tim gabungan disambung gelak tawa beberapa rekan lain yang hadir di rapat persiapan itu.

“saya bantu, gini gini saya anggota PMR dulu” sambung yang lain.

Pernyataan mereka memberikan alasan, untuk pembatalan anggaran Paramedik, Obat obatan standar dan P3K. untuk kegiatan 2 minggu Kemah Kepemimpinan bagi 32 anak muda, yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Tempat yang aman, nyaman, dengan akses kendaraan yang baik; walau agak jauh dari Rumah sakit; menjadi salah satu alasan pembatalan anggaran tersebut. kami berangkat dengan kotak P3K standar, yang biasa kita jumpai di mobil.

Sebenarnya, usulan Paramedik dan perlengkapan pendukungnya, kami dari tim Fasilitator angkat, mengingat bahwa para peserta akan berkegiatan cukup intens dari pagi sampai malam, ditengah musim hujan di daerah megamendung puncak Bogor. Kegiatan mereka bukan sekedar duduk dengar diam, tapi juga lengkap dengan aktivitas outing dan praktek lapangan. Kondisi tidak fit dan sakit kami yakini akan mengganggu alur kegiatan, dan yang terutama membuat ketidaknyamanan pada peserta. Namun keputusan sudah diambil, dan berkegiatanlah kami, dengan tetap penuh antusias dan semangat.

Hari pertama dan ke-2 dilalui dengan semangat yang luar biasa, baik kami panitia dan peserta, semua begitu bersemangat, kendati mereka tampak lelah karena perjalanan dari tempat asal mereka masing-masing. Masuk hari ke-3, 2 orang peserta minta izin tidak berkegiatan hari itu karena merasa tidak enak badan. dan di hari ke-4 yang diliputi hujan dari subuh, beberapa peserta lainnya merasa pusing pusing, dan izin untuk kembali tidur selepas makan siang. Kondisi ditempat kegiatan mulai tidak nyaman, dan kecemasan tampak dari para mentor. karena mereka yang mendampingi adik adik peserta, dan mereka cemas melihat peserta mulai tumbang karena sakit, satu per satu.

Keputusan perlu diambil, dan kami mendatangkan paramedik dan dokter, untuk memeriksa dan memberi obat dan vitamin pada yang sakit. 2 orang panitia juga diminta untuk membeli beberapa vitamin dan suplemen pendukung bagi para peserta. setelah itu, situasi menjadi lebih membaik, dan beberapa orang diminta secara khusus memperhatikan kondisi kesehatan peserta dan memastikan bahwa mereka meminum vitamin, dan mengenakan baju hangat ketika cuaca kurang baik.

“Mas, kalau kita mempersiapkan diri dari awal dengan tim kesehatan, dan prosedur-prosedurnya, mungkin kita tidak perlu mengeluarkan biaya lebih besar dan kehilangan 2 hari kegiatan karena peserta sakit yah…” ucap seorang mentor saat kami sedang bersiap melakukan rapat evaluasi kegiatan siang hari itu.

“Yah kita belajarlah yah dari peristiwa ini, toh tidak ada yang mau itu terjadi. tugas kita memang untuk mempersiapakan berbagai hal yang dapat menunjang pencapaian target, dan prihal kesehatan memang menjadi perhatian kami, tim fasil, setiap mengadakan kegiatan Camp dengan durasi panjang dan dilingkungan yang baru bagi peserta. terutama saat kegiatan tidak hanya di dalam ruangan” jawab saya

“iya yah mas, sebenarnya mas sudah sampaikan potensi potensi gangguan karena kondisi kesehatan peserta, tapi sepertinya kami memang tidak mengenali dan memahami maksudnya, dan kita baru pertama kali bekerja bersama mas, jadi tampaknya kami abai memberi perhatian. maaf yah mas, kami perlu belajar lebih mendengarkan” ucapnya menutup evaluasi kecil diantara kami, sebelum kemudian di evaluasi resmi, hal ini diungkap dan menjadi pembelajaran bersama.

kita perlu belajar mendengar dari siapa saja, dan memberi ruang yang cukup luas untuk memahami pendapat, keprihatinan dan harapan mereka. kita bukan saja diharapkan membangun komunikasi, tapi lebih lanjut lagi membangun kepercayaan dengan sesama. sesama kita bisa jadi mereka yang dekat dengan kita dan sudah kita kenal, tapi sesama kita juga adalah mereka orang asing yang ada disekitar kita.

kita bisa belajar dari pengalaman para rasul. Maria Magdalena memberi tahu mereka akan kebangkitan Kristus, tapi mereka masih ragu. apakah karena seorang perempuan yang mengatakannya? Dua murid yang bertemu dengan Yesus dijalan, juga mengatakan hal yang sama, mereka masih juga ragu. Apakah karena yang mengatakan bukan dari bilangan mereka ber-11, sehingga dianggap orang luar?

Nampaknya Yesus sedang mempersiapkan para rasul untuk mau mendengar dengan baik dan percaya dengan tulus. Bisa saja Yesus langsung menghadirkan diri diantara mereka dari awal kebangkitannya, tapi akankah itu mengajaran para rasul untuk mendengar dan percaya pada sesama mereka, pada Yesus Tuhan yang hadir dalam keseharian dan lewat berbagai sosok yang akan mereka jumpai dalam perutusan mereka.

“Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya”

maukah saya, membuka hati untuk mendengar? mampukah kita belajar mendengar dengan hati yang terbuka akan kehadiran Tuhan lewat sesama? mampukah saya membangun kepercayaan pada sesama? mari mohon rahmat Tuhan untuk menemani kita belajar lagi.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 April 2022

Renungan Harian
Jumat, 22 April 2022

Bacaan I: Kis 4:1-12
Injil: Yoh 21:1-14

Belajar Peka

Entah sudah berapa kali kami melakukannya, tapi aktivitas jalan pagi rute Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda ke Jurug Maribaya PP tidak pernah keluar dari daftar menu kegiatan komunitas kami. Biasanya di hari minggu, selepas misa pagi, perjalanan dimulai, dan berakhir agak variatif, dari jadwal makan siang, sampai pukul 15.00. Perjalanan kurang lebih 11-12 km lengkap dengan jalur pendakian dan turunan yang sangat mudah dicapai banyak orang.

kegiatan ini merupakan variasi dari jadwal pertemuan rutin kami, sekaligus obat penat setelah sibuk dan penuh hati dan kepala ini, oleh banyak kerja dan peristiwa hidup. walau bukan sekali duakali kami melakukannya, setiap perjalanan yang kami tempuh selalu terasa baru dan menyegarkan. cuaca saat perjalanan memang berpengaruh, demikian juga dengan kondisi jalanan yang ikut berubah seturut musim, tapi kami sadar, bahwa interaksi, obrolan dan kisah yang kami bagi sepanjang perjalananlah yang membuat setiap perjalanan kami selalu segar.

Seperti kali terakhir kami pergi bersama di Minggu Palma yang lalu. Dari obrolan diperjalanan itu, ada kisah pengenalan diri diantara anggota komunitas, baik yang memilih tak jadi pergi karena perlu menjaga kesehatan, atau yang karena rindu, tetap pergi walau tak yakin akan kuat ikut sampai akhir. Ada kisah menantang diri dan perjuangannya, untuk bangun pagi, dengan tetap menjalankan kewajiban pergi Misa, sebelum pergi memenuhi keinginan berjumpa di Tahura.

Ada kisah menanti teman yang tersesat di kota sendiri, yang sepertinya tak perlu terjadi, namun ajaibnya terjadi dan tetap ditanggapi dengan tawa geli, bukan marah atau keluhan sepanjang hari. Ada kisah lega setelah pilihan hidup diambil dan konsekuensi diterima dengan hati berseri, walau jelas tidak mudah. Ada kisah pria-pria dewasa, yang sibuk menghadapi rambut yang mulai menipis, dan eksperimen berbagai serum dan sampo menjadi kesaksian yang digelar bergantian, dengan satu harapan yang sama, bahwa botak bisa dihindari.

Ada kisah adu perjuangan dimasa pandemi, antara pekerjaan, resign, hiruk pikuk interaksi bersama rekan kerja, mencari peluang usaha, dan tetap tabah menjalani hari sibuk berbonus macet berjam jam selepas kerja malam.
Ada kisah menjaga integritas didunia profesi, yang godaannya menjajakan hati nurani dan melacurkan harga diri. Ada kisah indahnya pengharapan, dengan jalan 5 kilometer, untuk gorengan tempe, balabala, gehu, perkedel, dan pisang bakar, tersaji dengan sambal favorit. Dan sungguh pengharapan itu indah, karena kios buka kendati di bulan puasa.

perjumpaan yang luar biasa membuka ruang kebersamaan kami, sekaligus kesempatan untuk dapat berbagi secara mendalam. Melalui perjumpaan itu, kami menjadi lebih mengenal dan peka terhadap satu sama lain. kepedulian terbentuk lewat saling membawakan bekal, membawakan jas hujan, menyediakan diri untuk antar jemput, dan terutama menyediakan telinga untuk menemani. Kepedulian dan kasih terbentuk, lewat penerimaan satu sama lain dan perhatian yang terbentuk dalam komunitas.

Yesus punya kuasa yang besar dalam hidup, tapi dengan kepekaan dan kepeduliannya, Yesus mau menyediakan hal sederhana seperti sarapan dan membantu para rasul mendapatkan ikan. Yesus peduli pada setiap perkara hidup kita, kepekaannya mengenali para rasul dan masyarakat disekitarlah yang membuatnya rela berkorban untuk kita umat manusia.

Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.

Yesus peka dan peduli, adakah kita mau terus belajar untuk peka dan peduli pada orang orang disekitar kita? tidak perlu dengan berbagai perkara besar, cukup dengan hal hal kecil yang menunjukan kita peduli. dapatkah kita?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 April 2022

Renungan Harian
Kamis, 21 April 2022

Bacaan I: Kis 3:11-26
Injil: Luk 24:35-48

Bodyrafting

Dalam sebuah Retret Formasi, kami berkesempatan mengajak peserta muda untuk berdinamika bersama. Kami membagi mereka menjadi 4 kelompok, beranggotakan 8 orang tiap kelompoknya. kali itu kami mengajak mereka “Bodyrafting”, mengarungi sungai dengan berbekal jaket pelampung dan seperangkat pengaman lainnya.

“Bodyrafting” di Greencanyon, sudah cukup umum dan terkenal, namun walau sudah bukan menjadi hal baru, pengalaman ini tetap mengejutkan untuk para peserta dan memunculkan banyak reaksi. Ada yang dengan sangat gembira, tak sabar untuk segera masuk sungai. Namun tidak sedikit yang takut dan khawatir saat diumumkan bahwa mereka semua ditantang untuk melakukan susur sungai.
Ketika mobil pick’up datang menjemput ke penginapan kami, para peserta naik dengan ragu, dan beberapa minta izin untuk ke wc terlebih dulu, yang kami yakini karena dorongan gugup.

Setelah sampai ke tempat penyedia layanan, pemandu memberikan instruksi pelaksanaan kegiatan, prosedur keselamatan dan keamanan, serta kemudian menunjukkan pada mereka cara mengenakan peralatan dan perlengkapan keamanan. Para pemandu sangat cekatan melayani para peserta dan kemudian memberi semangat dan memberi keyakinan pada peserta yang tampak takut.

Dengan pick’up yang sama, peserta diantar menuju hulu sungai, dan memulai mengarungi sungai dan ngarai. Mereka berenang, memanjat beberapa tebing kecil, terjun dari undakan dan bebatuan, sampai berseluncur di antara jeram kencang. Durasi 5 jam berlalu dengan sangat cepat, dan perubahan signifikan terlihat dari ketakutan dan keraguan di awal, menjadi wajah gembira dan lega di garis akhir.

Sore harinya, para peserta diajak untuk sharing refleksi proses mereka selama kegiatan tadi paginya. Banyak sharing yang menggembirakan, banyak rasa syukur dan terima kasih yang dilayangkan pada semua pihak yang memungkinkan mereka mengalami ini semua. Namun ada satu peserta yang dengan mendalam membagikan refleksinya, “Kak, saya tidak bisa berenang. karenanya saya takut setengah mati, bahkan saya sudah mau pamit tidak mau ikut saat kita sudah sampai hulu sungai tadi. Tapi saya juga penasaran. Tapi saya ditenangkan Goris, dan Goris bilang akan menemani saya di sungai nanti. Jujur saya masih tetap takut, Kak. tapi ketika saya nyebur, saya tidak lagi hidup dalam ketakutan. Saya mengenali pilihan baru, yaitu untuk berani, dan untuk mengendalikan tubuh saya, mengenali pelampung dan sepertinya saya sudah bisa berenang sekarang, Kak.” ucapnya sambil tertawa, disambut tawa dan tepuk tangan teman-teman yang lain.

“Saya jadi merasa ditegur sih Kak. dalam perkuliahan, saya seringkali dihantui rasa takut, dan akhirnya, saya menunda bahkan menghindari tantangan dan kewajiban saya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, saya sering meniadakan masalah dengan mengabaikannya, bukan dengan menghadapi dan menyelesaikannya. Saya takut dan lalu memungkiri kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya menantang saya untuk maju. Tak sedikit juga teman yang akhirnya jera dan lelah menyemangati saya, dan dari situasi tadi, saya jadi disadarkan untuk bersyukur pada anugrah sahabat, teman, keluarga yang membantu saya, dan tidak menyia-nyiakan itu semua. Jadi terima kasih dan mohon maaf yah teman teman, bila selama ini saya sangat keras kepala pada kelemahan saya, dan terus-terusan minta dimaklumi, padahal itu membuat saya tidak maju” susulnya membuat banyak dari kami ikut berefleksi, adakah kami mengalami hal serupa?

Bukan sekali dua kali Yesus menyapa para rasul dengan mempertanyakan keraguan dan ketakutan mereka, dan tampaknya Yesus juga hendak mengingatkan kita, untuk mengenali ketakutan dan keraguan kita, agar lebih bijak dalam bersikap dan bertindak. Adakah kita berani mengenali ketakutan kita?
“Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?”

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 April 2022

Renungan Harian
Rabu, 20 April 2022

Bacaan I: Kis 3:1-10
Injil: Luk 24:13-35

Berkobar

Pada sebuah acara kumpul kumpul komunitas, saya berjumpa dengan beberapa adik yang pernah saya dampingi dalam beberapa kegiatan dan program. Salah satu bahan obrolan yg membuat kami tertawa geli adalah saat salah seorang dari mereka bilang

“Kak, kemarin itu saya membantu teman memfasilitasi kegiatan di sebuah hotel. Ditengah-tengah acara, seorang peserta tampak rusuh menghampiri saya, dan ternyata dia tanya dimana Toilet terdekat, dan saya dengan sigap memberinya arahan.

Setelah dia pergi, saya tertawa geli, bukan karena tampangnya yang lucu, tapi karena saya geli bisa membuktikan apa yang kakak sampaikan dulu di pelatihan fasilitator.

kakak pernah bilang “Perhatian pada detail dan membantu peserta menjalani proses mereka sekondusif mungkin, bahkan sesederhana penyediaan toilet yg bersih dan menunjukan dimana letak toilet terdekat.”, Ternyata, saya mengalaminya, dan sukses membantu peserta itu, karena saya sudah bersiap sebelumnya, seperti yg dirimu bilang dan contohkan”
Katanya sambil tertawa

Tentunya saya senang mendengar itu, mereka belajar bukan hanya dari teori, namun contoh dan tindakan nyata. Hal itu juga mengingatkan saya pada proses belajar saya ( bila tidak bisa dibilang proses kaderisasi). saya juga memiliki pemahaman baik, dari para pendamping saya sebelumnya. Mereka bukan sekedar memberi informasi, tapi juga memberi contoh nyata dan teladan.

Pernah seorang pendamping saya memboikot salah satu perusahaan minuman kemasan, karena perusahaan tersebut menguasai sebuah mata air dan menutupnya dari akses masyarakat, dan membuat mayarakat disekitar pabrik tersebut harus pergi berkilo meter untuk mendapatkan air bersih.

Tempatnya jauh dari tempat tinggal kami, tidak ada dampak langsung rasanya, jadi mengapa dia perlu memboikot perusahaan tersebut? Apa dampaknya dia melakukan itu? Saya yakin perusahaan tersebut dan orang orang banyak tidak tahu apa yg dia lakukan, dan yang pasti saat itu tidak ada sosial media digital yg bisa meledakan issue menjadi perkara besar. Mengapa dia melakukannya?

Dalam berjalannya waktu, saya melihat konsistensinya, saya melihat boikot pribadi yg dia lakukan, dan saya melihat betapa gembiranya dia saat ada minuman kemasan serupa dari perusahaan yg lain yang bisa dia nikmati. Saya belajar tentang Aktif Tanpa Kekerasan, dan Analisa sosial dari contoh dan teladan nyata. Dan itu semua membekas, hingga sampai saat ini.

Saya memahami dan menjalani Aktif Tanpa Kekerasan dan Analisa Sosial, dalam kehidupan saya, bukan sebuah tuntutan teori hafalan, tapi sebagai cara hidup yang baik. Sesuatu yg menjadi semangat yg berkobar, bukan hanya semangat soda yg meletup sesaat, lalu padam. Bukan hanya sebuah jargon semata, tapi prilaku sehari-hari.

Dari pengalaman pengalaman ini saya melihat, bahwa ajaran baik akan melekat dan berbekas saat sudah mencapai contoh dan teladan. Sesuatu yg adalah aktualisasi diri, bukan sekedar teori dari buku yang hits di pasaran. Sebuah nilai yang terus menetap dan berkobar, tak pandang waktu dan usia.

Nampaknya itu juga yg dialami para murid, saat menemukan jiwa yg berkobar dalam diri mereka, lewat ajaran Yesus

“Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Mereka sangat mengenali dan terhubung dengan ajaran Yesus, karena pengalaman dan teladan yg mereka boleh peroleh, menghidupkan api semangat dalam diri mereka.

Mampukah kita mengobarkan nilai dan ajaran baik dalam diri kita dan pada sesama? Siapkan kita menerima contoh dan teladan baik, seturut siap dan bersedia menjadi contoh dan teladan?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 April 2022

Renungan Harian
Selasa, 19 April 2022

Bacaan I: Kis 2:36-41
Injil: Yoh 20:11-18

Namaku disebut

Hari itu kami melayat ibu dari salah satu rekan kami. Beliau meninggal secara mendadak, bukan karena sakit yang menahun. Kami datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi yg meninggal, dan sejenak menemani rekan kami yang baru ditinggal orang tuanya.

Kami mengenal rekan kami, dan dinamika di keluarganya. Kami tahu Ada relasi konflik dalam keluarga rekan kami. Orang tua yang tiada henti bertengkar, issue kepercayaan yang luar biasa diantara anggota keluarga, komunikasi pasif agresif, bahkan ada kekerasan fisik yang menyertai amarah orang tua saat menegur anak anaknya. Karenanya, Kami berprasangka buruk, bahwa tidak akan ada kesedihan mendalam dari rekan kami ini.

Tapi kenyataannya berbeda. Setibanya kami di rumah duka, kami melihat rekan kami yang duduk menyandar di peti jenasah ibunya, dengan wajah sembab, dan air mata yg terus mengalir, kendati tanpa suara. Saat kami panggil, Dia berdiri dan menghampiri kami. Kami baru mendengar isak tangisnya, saat dia memeluk kami bergantian.

Getaran tubuhnya membuat kami sadar betul, bahwa prasangka kami salah. Kesedihan rekan kami sangat nyata.

Kami diajak duduk disalah satu sudut, dan dia mulai bercerita tentang apa yang terjadi, tentang rasa sakit yg mendadak, dan upaya pertolongan yang gagal.
Kami mendengar dengan seksama, dan berharap kehadiran kami bisa sedikit memgurangi kesedihannya.

“Gue juga nggak paham dari mana rasa kesedihan ini muncul. Tapi rasa kehilangan ini nyata banget, dan rasanya gue belum iklas ditinggal” ucapnya setengah berbisik.

Kami saling bertukar pandang, heran dan takjub mendengar itu.

“Kalian tahu nggak, dari semua kepedihan yg ada dalam relasi kami, disatu peristiwa gue disadarkan, bahwa mama sayang pada kami.

Disatu waktu, selepas bertengkar hebat, kami semua perang dingin dan menjaga jarak, tapi di tengah malam, saat semua mengunci diri di kamar masing masing, gue keluar mau ke WC, tanpa sengaja gue lihat mama sedang berdoa di depan patung Bunda Maria. Gue berjalan perlahan mau lewat, sayup sayup gue dengar, dia menyebut nama kami. Ada nama gue disebut, dan dengan jelas dia bilang menyesali perbuatannya dan tidak bermaksud buruk. Gue kaget, tapi nggak tahu harus apa. Perlahan gue kembali ke kamar, dan malam itu gue sadar, mama sayang pada gue, tapi dia menunjukannya dengan cara yang tidak tepat. Ada upaya yg dia coba lakukan, tapi selalu berujung keributan, karena dia hanya melakukan apa yg dia kenali sebagai pola asuh disiplin dan baik menurut orang tuanya. Gue sadar, gue juga perlu berdamai dengan situasi ini, dan dari sisi gue, gue perlu berupaya juga agar kami bisa punya damai di rumah.

Peristiwa malam itu tampak sederhana, tapi ini sangat menyadarkan gw akan apa yang sedang terjadi. Tuhan menyadarkan gue, bahwa persepsi dan asumsi buruk gue membutakan gue pada realita yang ada, bahwa mama sayang kami” kisahnya sore itu.

Kadang kita punya harapan, ekspektasi dan atau asumsi yang menutup pandangan kita akan sebuah realita secara utuh. Hal itu membuat kita kehilangan kemampuan menemukan Tuhan dalam hidup, dan karenanya kita perlu kembali belajar melihat dan mendengar kasih serta cinta, agar kita boleh menikmati kasih Tuhan. Seperti Maria, yang tersadarkan saat namanya di panggil Tuhan,

“Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

Dapatkah kita mendengar panggilan-Nya, dan keluar dari kebutaan diri kita?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 April 2022

Renungan Harian
Senin, 18 April 2022

Bacaan I: Kis 2:14.22-32
Injil: Mat 28:8-15

Janji

Karena dorongan kerinduan dan karena bertepatan dengan hari raya Paskah, maka saya menyempatkan menghabiskan hari minggu kemarin dengan berkumpul bersama beberapa adik di komunitas, dan melewatkan siang sampai menjelang malam bersama.

Tentunya banyak hal kami lakukan untuk melepas kangen, mulai dari berbagi kisah setiap dari kami di masa Pra Paskah dan Trihari Suci yg baru lalu, bermain bersama anggota terkecil di komunitas kami; anak batita rekan kami; makan siang bersama ;dengan lauk BPK, yg agak seperti balas dendam selepas masa pantang dan puasa; dan tentunya kudapan dan obrolan yg mengalir tanpa henti.

Kami berkisah tentang beberapa rekan yang ada dalam lingkaran keprihatinan kami, dan tentunya bagaimana baiknya kami menanggapi dan membantu mereka. Kami juga berkisah dan berencana tentang acara Retret Formasi, yang bulan depan akan kami jalani.

Kami menemukan sapaan reflektif, saat kami membicarakan soal acara Janji Setia Sementara yang akan ditawarkan pada setiap peserta Retret FC di akhir proses Retret nanti. Hal itu mengingat kembali kami akan Pembaharuan Janji Baptis yg baru saja dilakukan saat Vigili Paskah.
Kami menemukan hati kami berat, saat secara sadar harus menjawab serangkaian pertanyaan itu.

Mulut mengatakan “Ya” namun hati kami malu karena tahu, bahwa dari pengalaman sebelumnya, kami belum mampu dan gagal menjalani janji.

Tentunya kami tidak hendak menyamakan Janji Setia di CLC dengan Janji Baptis seorang Katolik, tapi keduanya mengingatkan kami, bahwa saat sesuatu menjadi niat dan terucap sebagai Janji, ada konsekuensi yang menyertainya. Ada kelayakan Cara Hidup berkomunitas yg perlu dijalankan, ada anjuran dan hukum yang perlu kami internalisasi, ada teladan yang menjadi norma, dan ada upaya yang sungguh-sungguh perlu direalisasi, bukan yang hanya berhenti pada ucapan semata.

Kami bersyukur, bahwa kami disapa oleh kesadaran itu. Kami tahu kami belum mampu, tapi kami juga tahu ada pengharapan dalam setiap Janji yang kami sampaikan. Ada keinginan agar upaya kami menjadi lebih baik. Kami mengucapkannya, agar hati kami, dan kasih sesama yang mendengarnya, menjadi saksi upaya kami untuk lebih sungguh menjalankan Janji kami.

Semoga Janji Baptis kita tidak semurah kenikmatan semu dan hal hal material duniawi semata. Semoga kita tidak menjual Janji kita pada kebohongan dan pembenaran, seperti yg dilakukan para serdadu yang bersaksi dusta

“Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”

Semoga kita mampu terus setia pada Janji Baptis kita, dan mau kembali pada janji tersebut, saat godaan dan penyangkalan menghampiri kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

(Renungan Harian)

Renungan Harian

Sepanjang Pekan Suci, kami tidak akan hadir menemani anda, dan berharap anda menikmati perjumpaan dan refleksi mendalam bersama keluarga, komunitas di lingkungan, umat di Paroki, dan tentunya pertobat diri.

Selamat Menjalankan Pekan Suci

CLC di Indonesia