Renungan Harian: 13 November 2021

Renungan Harian
Sabtu, 13 November 2021 

Bacaan I: Keb. 18: 14-16; 19: 6-9
Injil: Luk. 18: 1-8

Kecewa

Sudah beberapa saat saya tidak melihat anak muda yang sering datang ke gereja. Karena sudah hampir sebulan saya tidak melihat maka saya bertanya kepada teman-temannya kemana salah satu teman mereka itu. Namun teman-temannya menjawab bahwa mereka juga sudah lama tidak bertemu. Maka saya meminta teman-temannya untuk mencari tahu dengan menyapanya.
 
Anak muda ini salah satu aktivis di kelompok persekutuan doa. Dia tidak pernah absen setiap kali ada acara persekutuan doa, bahkan sudah beberapa kali terpilih menjadi koordinator pemusik. Anak muda ini memiliki bakat dan kemampuan bermusik dengan baik, sehingga persekutuan doa menjadi lebih meriah karena kehadirannya. Selain kemampuan bermusik anak muda ini juga punya kemampuan untuk memimpin teman-temannya dan juga untuk mengajak teman-temannya. Diantara teman-temannya, dia dikenal sebagai anak yang periang, mudah bergaul dan saleh. Menurut teman-temannya dan sejauh saya kenal anak ini memiliki hidup doa yang baik. Kelihatan sekali setiap kali doa nampak kesungguhan dan penuh penghayatan.
 
Beberapa minggu kemudian saya melihat anak muda itu keluar dari gereja sehabis misa. Saya menyapanya dan bertanya kabarnya serta kenapa sudah beberapa lama tidak kelihatan. Dia menjawab bahwa dia sehat, baik-baik hanya baru bosan dan jenuh. Kemudian saya mengajak bicara secara pribadi dan bertanya tentang kebosanan dan kejenuhannya. Dalam pembicaraan itu terungkap bahwa sebenarnya dia sedang kecewa dan marah dengan Tuhan. Selama ini dia aktif di persekutuan doa dan juga tekun dalam doa karena dia berharap mendapatkan jodoh yang seiman. Dia semakin bersemangat dalam persekutuan doa karena ada seorang gadis yang ditaksirnya. Menurutnya, gadis itu sudah akrab dan dekat dengan dirinya, bahkan setiap kali ada acara selalu pergi bersama. Dia bahagia bahwa gadis itu semakin dekat dengan dirinya dan selalu berdoa agar gadis itu sungguh-sungguh menjadi jodohnya. Namun ketika dia menyatakan cintanya ternyata gadis itu menolaknya.
 
Penolakan gadis itu membuat dirinya amat terpukul dan kecewa. Dia merasa bahwa apa yang telah dilakukan selama ini sia-sia. Dia aktif dalam persekutuan doa, dia tekun dalam doa tetapi ternyata Tuhan tidak mendengarkan doanya. Dia marah kenapa Tuhan tidak mendengarkan doanya padahal dia sudah berdoa dengan sungguh-sungguh dan seringkali disertai dengan puasa. Maka dia memutuskan untuk mundur dari semua kegiatan dan malas berdoa karena percuma saja.
 
Pengalaman anak muda tersebut seringkali terjadi pada banyak diantara kita. Berdoa dengan tekun, dengan berbagai cara berdoa, banyak berdevosi agar permohonannya dikabulkan tetapi ternyata hasilnya sebaliknya. Kecewa, marah dan menjadi tidak mau berdoa lagi karena merasa sia-sia. Kiranya cara pandang dan pemahaman bahwa saat berdoa permohonan harus dikabulkan menjadi pegangan yang menghasilkan kekecewaan. Lupa bahwa saat berdoa adalah mohon bukan memaksakan dan itu berarti Tuhan yang punya kehendak. Saat mohon, hati dan budi tertutup pada hal yang dimohonnya, lupa bahwa ada hal yang lebih besar dan lebih baik yang telah diterimanya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan menegaskan bahwa kalau mau berdoa dengan sungguh dan tekan, doanya akan didengarkan, akan tetapi harus disertai iman akan kemurahan Tuhan. “Aku berkata kepadamu, Ia akan segera menolong mereka. Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan Iman di bumi ini?”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana sikapku dalam hidup doa?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 November 2021

Renungan Harian
Jumat, 12 November 2021
PW. St. Yosafat, Uskup dan Martir

Bacaan I: Keb. 13: 1-9
Injil: Luk. 17: 26-37

Melarikan Diri

“Romo, saya sungguh menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Saya juga bingung kenapa saya waktu  itu memutuskan ikut-ikutan teman, dengan akibat seperti ini. Sesungguhnya saya tidak tahu rencana itu mulai kapan dan bagaimana, saya cuma diajak dengan jaminan yang meyakinkan sehingga saya tidak berpikir panjang untuk ikut.
 
Saya mendapatkan hukuman 18  bulan penjara. Dan pada saat kejadian sebenarnya masa hukuman saya tinggal 2 bulan lagi, tetapi karena kejadian itu saya harus tinggal di penjara ini lebih lama lagi, belum lagi luka yang saya dapat akibat ditembak di kaki saya. Dua hari sebelum kejadian, teman saya mengajak saya untuk melarikan diri dari penjara ini. Teman saya mengatakan bahwa semua sudah direncanakan dengan baik. Teman juga mengatakan nanti kalau sudah di luar saya akan bebas dan tidak akan ada masalah karena ada teman di luar yang menjamin pelarian kami dan melindungi kami. Sebenarnya saya sudah menolak ajakan teman tadi, karena saya bebas tinggal sebentar lagi. Namun bujukan teman itu menggoda saya, karena iming-iming jaminan hidup dan perlindungan setelah berhasil melarikan diri. Belum lagi keberhasilan melarikan diri akan mendapat pengakuan luar biasa diantara teman-teman.
 
Memang benar apa yang dikatakan oleh teman saya, bahwa semua sudah direncanakan dengan baik. Malam itu, rasanya pelarian kami terasa lancar. Kami bisa keluar dari penjara seperti mudah dan saya merasakan sebuah kebebasan dan kemenangan. Namun itu tidak lama, karena hari-hari kami selalu diliputi ketakutan dan kecemasan. Kami harus selalu bersembunyi, dan menghindari perjumpaan dengan orang. Berhari-hari hidup kami amat susah, selain harus selalu bersembunyi kami mulai kelaparan dan susah untuk mendapatkan makanan. Dan apa yang kami khawatirkan terjadi, saat kami sedang tidur di tempat persembunyian kami terkepung, dan karena kami berusaha lari, kami dilumpuhkan. Kaki saya terkena tembakan yang membuat saya tersungkur dengan kesakitan luar biasa. Itulah romo, andai saja saya waktu itu tidak ikut tentu saya sudah bebas dan hidup tenang,” seorang berkisah saat saya mengunjungi penjara.
 
Kisah yang bagi saya menyeramkan dan menyedihkan. Saya sendiri sempat berpikir: “Kenapa dia tidak menyelesaikan saja hukumannya yang tinggal 2 bulan.” Bayangan akan kebebasan, bayangan akan hidup bebas dengan jaminan serta kurang berpikir panjang mengakibatkan dia harus menjalani hidup di penjara lebih lama dan menderita, bahkan hampir membuat nyawanya melayang.
 
Dalam hidup beriman seringkali mirip dengan cara bertindak teman warga binaan itu. Bayangan akan hidup bebas; bayangan kesenangan yang lebih membuatku sering memilih jalanku sendiri dan tidak jarang sebuah pilihan jalan pintas. Akibatnya membuat hidup menjadi tidak bahagia dan tidak menjadi damai. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Barang siapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mampu membuat pilihan-pilihan baik untuk tekun dan setia?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 November 2021

Renungan Harian
Kamis, 11 November 2021
PW. St. Martinus dari Tours, Uskup

Bacaan I: Keb. 7: 22-8: 1
Injil: Luk. 17: 20-25

Kisi-Kisi

Beberapa anak tampak sibuk menelpon ke sana ke mari dengan penuh kecemasan. Mereka semua nampak resah dan tidak jarang ngomel-ngomel sendiri tidak jelas. Tidak berapa lama, telepon salah seorang dari mereka berbunyi, setelah berbicara sebentar dengan rekannya di telpon dia mengatakan kepada teman-temannya yang di situ bahwa ada; temannya sudah mendapatkan. Segera dua orang dari mereka pergi mengendarai motor, sementara teman-teman lain menunggu. Wajah mereka menampakkan kelegaan bahwa apa yang diharapkan sudah di dapat. Tak berapa lama telpon salah satu dari mereka bunyi juga, anak yang menerima telepon itu menjawab: “Tunggu sebentar ya.”
 
Beberapa saat kemudian, dua orang anak yang tadi pergi sudah kembali dan menunjukkan wajah kecewa: “Ini mah udah kadaluarsa.” Wajah anak-anak itu kembali muram. Dua anak segera pergi lagi. Namun ketika kembali mereka juga kecewa, karena apa yang didapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Anak-anak itu masih sibuk menelpon dan menerima telepon. Setiap kali mereka pergi tetapi kembali dengan wajah muram. Semakin lama wajah mereka semakin menampakkan kecemasan.
 
Karena penasaran saya mendekati mereka, menyapa mereka dan bertanya ada apa dengan mereka. Salah satu dari mereka menjawab: “Pastor kami sedang mencari kisi-kisi untuk UN (ujian negara) syukur-syukur dapat bocoran soal. Karena kata teman-teman sudah banyak teman yang dapat kisi-kisi dan soal.” “Kenapa kalian tidak di rumah belajar saja dari pada sekarang sibuk cari kisi-kisi, padahal tinggal besok UN,” tanya saya. “Bahannya banyak pastor, kalau ada kisi-kisi lebih gampang apalagi kalau dapat soal,” jawab salah seorang dari mereka.
 
Anak-anak itu bukannya sibuk belajar mempersiapkan diri tetapi justru sibuk mencari kisi-kisi dan soal. Mereka terombang-ambing oleh berita dari teman-temannya yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Sehingga mereka pergi ke sana ke mari saat mendengar berita bahwa di tempat-tempat itu bisa mendapatkannya, dan hasilnya semua tidak seperti yang mereka harapkan.
 
Sikap anak-anak muda itu seperti sikap banyak di antara kita. Banyak orang bicara tentang akhir zaman, tentang tanda-tanda akhir zaman, bahkan ada yang sudah meramalkan kapan datangnya; banyak seminar tentang akhir zaman, dari yang mengintip akhir zaman sampai nubuat tentang akhir zaman namun semua berujung pada hal yang sama, pembicara maupun peserta tidak ada yang tahu. Bukannya sibuk mempersiapkan diri bila saatnya tiba menjadi siap tetapi lebih memilih memuaskan pengetahuan yang tidak ada seorang pun tahu kepastiannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Tidak dapat dikatakan, “Lihat, ia ada di sini atau  ia ada di sana. Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu”.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang sibuk dengan mencari tanda-tanda akhir zaman?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 November 2021

Renungan Harian
10 November 2021
PW. St. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Keb. 6: 1-11
Injil: Luk. 17: 11-19

Tidak Tahu Diri

“Suatu hari, ART di rumah kami tidak masuk kerja karena sakit. ART di rumah kami adalah seorang ibu, yang datang pagi hari dan nanti sore hari pulang ke rumahnya. Rumah tidak terlalu jauh dari rumah kami. Karena kami mendengar bahwa dia sakit maka kami meminta sopir di rumah untuk membawa periksa ke dokter. Betapa kami terkejut mendengar cerita sopir kami, bahwa ART kami bukan sakit seperti yang kami kira, tetapi sakit karena luka-luka di wajah akibat dipukul suaminya. Mendengar itu kami menjemput untuk membawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan surat visum sebagai bukti untuk lapor ke polisi.
 
Namun ART kami tidak mau membawa peristiwa itu ke polisi, dia mau menerima saja, kasihan suaminya. Dari cerita ART kami, kejadian itu bukan yang pertama, tetapi sudah berulang kali. Setiap kali suaminya minta uang dan dia mengatakan tidak punya, suami akan marah-marah dan sering dengan memukul. Sejauh kami tahu, dari tetangganya, suami ART kami ini tidak bekerja, setiap hari kerjanya judi mancing. Sedang untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, ART kami yang bekerja.
 
ART kami ini luar biasa mencintai keluarganya. Setiap kali makan siang, kalau lauknya daging ayam, atau daging sapi, atau telur selalu dibungkus dan dibawa pulang. Dia rela makan nasi dengan sayur tanpa lauk demi suami dan anaknya. Bahkan kalau kami membeli makanan atau jajanan bagian dia selalu dibungkus untuk keluarganya.
 
Kami kasihan dengan ART kami, dia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya namun seringkali mendapatkan perlakukan kejam dari suami. Kami tidak tahu apa yang dalam pikiran suami semacam itu. Tidak mengerti terima kasih, tidak tahu diri  seolah-olah karena dia suami sehingga berhak untuk mendapatkan semua dari istrinya. Dan lagi seolah-olah punya hak untuk memukul istrinya demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Suatu saat ART kami pernah cerita dan berharap:
“Bu, sebenarnya suami saya tidak bekerja saya tidak menjadi masalah, karena saya  bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Namun yang membuat saya selalu tertekan itu sikap kasarnya dan sikapnya yang suka memukul.”

Bagi kami suaminya itu orang yang tidak tahu terima kasih,” seorang ibu bercerita tentang perjuangan membela ART-nya.
 
Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemui orang-orang yang tidak tahu terima kasih. Umumnya hal itu terjadi karena orang-orang merasa berhak dan sudah sepantasnya mendapatkan apa yang diharapkannya. Demikian juga hubunganku dengan Tuhan, seringkali aku tidak bersyukur atas apa yang telah aku terima karena merasa semua itu adalah usahaku dan atau aku merasa berhak mendapatkannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang Sembilan orang tadi? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 November 2021

Renungan Harian
Selasa, 09 November 2021
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

Bacaan I: Yeh. 47: 1-2. 8-9. 12
Bacaan II: 1Kor. 3: 9b-11. 16-17
Injil: Yoh. 2: 13-22

Prihatin

Dalam sebuah acara, saya tinggal dan menginap di rumah salah satu tokoh umat di paroki itu. Bapak itu sudah sepuh, sehingga sekarang tidak banyak aktif lagi dalam berbagai kegiatan.

Malam itu setelah selesai acara, saya pulang ke rumah tempat saya menginap, bapak sepuh itu belum tidur. Beliau duduk di balai-balai beranda rumahnya. Saya menghampiri dan menyapa beliau. Kemudian beliau mempersilahkan saya untuk istirahat, tetapi saya menjawab bahwa saya belum mengantuk. Sehingga kami ngobrol sambil menikmati kopi yang disediakan istrinya.

“Romo, saya menjadi katolik dan dibaptis itu sudah dewasa, sudah berkeluarga dan punya anak. Sebelumnya saya mengikuti agama asli. Saya dulu tidak berpikir untuk menjadi katolik, karena orang tua saya dan hampir semua orang disini pengikut agama asli. Saya tidak tahu apakah itu agama atau bukan, orang-orang sekarang menyebut bukan agama, tetapi tidak penting bagi saya. Dengan kepercayaan saya itu mengajarkan pada saya untuk menyembah dan menghormati yang kuasa dengan cara mencintai dan menghormati semesta. Hormat dan mencintai alam dan manusia. Kita semua ini sesama ciptaan, baik alam yang hidup maupun yang tidak hidup maka kami harus menghormati dan menjaga dan melestarikan. Hal yang penting dari dalam diri manusia adalah mengalirkan kehidupan sehingga semua hal yang kutemui, yang bersentuhan dengan saya haruslah mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kami selalu diingatkan agar kami bisa menjadi seperti air yang mengalir dan udara yang memenuhi semesta ini. Semua yang mendapatkan air dan udara pasti hidup, segar dan lestari.

Saya dulu masuk katolik dan dibaptis karena melihat bahwa gereja, pastor dan umatnya selalu ramah dengan semua orang. Mereka rukun, saling menghormati dan melayani. Dengan semua masyarakat juga membaur, dan menjadi bagian dari masyarakat. Pastornya selalu jalan berkeliling menyapa semua orang yang ditemui dan pastornya selalu mudah ditemui oleh semua orang. Pastornya mudah menerima dan membantu banyak orang. Saya melihat Gereja sebagai tempat yang mengayomi, dan memberi hidup. Jadi saya melihat Gereja mewujudkan ajaran yang saya anut. Maka ketika saya diajak untuk masuk katolik saya dengan senang hati mau menjadi katolik.

Maaf ya romo, sekali lagi maaf. Saya merasakan semoga salah, Gereja sekarang kok seperti lebih tertutup. Pastornya lebih banyak sibuk di gereja dan kurang membaur dengan masyarakat. Umatnya sekarang juga seperti kurang guyup, banyak yang bermusuhan dan entahlah, seperti ada kelompok-kelompok. Saya merasa sekarang Gereja kurang mengalirkan kehidupan untuk banyak orang. Maaf romo, semoga saya salah. Saya hanya berharap bahwa Gereja tetap seperti dulu, ramah, membaur, mengayomi banyak orang sehingga terasa mengalirkan kehidupan,” bapak sepuh itu mengakhiri kisah dan nasehatnya.

Saya berterima kasih kepada bapak sepuh itu atas kisah dan nasehatnya. Saya menyadari betul bahwa keprihatinan bapak itu kiranya menjadi keprihatinan banyak orang. Gereja, pastor dan umatnya harus lebih mewujudkan tindakan-tindakan kasih kepada semua orang. Pastor dan umatnya harus lebih membaur dan terlibat dalam masyarakat. Sehingga seperti harapan bapak itu Gereja mengalirkan rahmat kehidupan.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Nabi Yeheskiel: “Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.”

Bagaimana dengan aku? Apakah aku mengalirkan rahmat kehidupan?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 November 2021

Renungan Harian
08 November 2021

Bacaan I: Keb. 1: 1-7
Injil: Luk. 17: 1-6

Mengampuni

Dalam sebuah pembinaan persiapan perkawinan saya memberikan beberapa pertanyaan dibicarakan dengan pasangan masing-masing.

Salah satu pertanyaan adalah “Bagaimana dan apa yang akan kamu lakukan kalau dalam perjalan hidup perkawinan, ternyata pasangan anda selingkuh”. Setelah beberapa waktu diberi kesempatan berpikir, menjawab dan bicara dengan pasangan masing-masing, saya meminta mereka untuk sharing di depan semua. Dari semua peserta, hanya satu yang mengatakan bahwa dirinya marah. Hampir semua peserta mengatakan bahwa mereka akan introspeksi, melihat diri sendiri apa yang salah dan apa yang kurang dalam dirinya sehingga pasangannya selingkuh. Selanjutnya akan membicarakan dengan pasanganya dan kemudian saling mengampuni dan memulai sesuatu yang baru untuk melanjutkan hidup perkawinan mereka.
Ketika saya bertanya apakah benar mereka akan mengampuni dan akan menerima pasangannya yang selingkuh serta berani melanjutkan perkawinan mereka, hampir semua mengatakan “Iya”. Saya menyampaikan kepada semua peserta bahwa saya merasa mereka semua bohong. Sontak mereka semua tertawa. Saya mengulangi pertanyaan untuk menegaskan apakah betul mereka tidak marah dan lebih memilih introspeksi diri, semua peserta senyum-senyum. Kemudian beberapa berani menjawab bahwa mereka sejujurnya marah dan sulit untuk mengampuni namun berjuang untuk mengampuni.
 
Salah seorang dari mereka bicara: “Romo, mengampuni itu sulit. Sekarang pun saya sering sulit mengampuni. Saat pasangan saya bersalah, misalnya janjian dia lupa, atau terlambat menjemput, yang muncul dalam diri saya adalah marah. Saat pasangan saya minta maaf, saya bilang “iya” tetapi sebetulnya masih dongkol dan belum sungguh-sungguh mengampuni. Kalau saya bilang “iya” sebetulnya karena saya tidak ingin ribut. Perasaannya yang muncul adalah seperti mengatakan: “ya sudahlah, mau apa karena sudah terjadi. Ribut-ribut juga tidak berguna.
”Tetapi romo jeleknya saya adalah sering kali mengungkit bahwa dia sering seperti itu, sehingga jadi tambah jengkel.”
 
Ungkapan jujur salah satu peserta itu, seolah mewakili diri saya dan mungkin banyak orang. Pengampunan yang diberikan pada orang yang meminta maaf seringkali seperti basa-basi karena tidak mau ribut. Kecenderungan yang muncul adalah berusaha melupakan sakit hati, atau kemarahan atau dendam yang ada pada diriku. Akibatnya tanpa sadar selalu muncul kemarahan atau membuat relasi tidak baik.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus menegaskan kembali pentingnya pengampunan. Bahkan Ia bersabda: “Bahkan jika ia berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: “Aku menyesal,” engkau harus mengampuni dia.” Bagi saya belum terbayang bila hal itu terjadi pada diriku. Seandainya hal-hal sederhana tentu dengan mudah memberikan pengampunan. Namun bila hal itu menyangkut hal yang sungguh melukai pasti akan sulit. Tidak dipungkiri aku akan memberikan cap pada orang itu bahwa dia “penjahat” pun kalau dia hanya sekali melukai dan sudah tidak berbuat salah lagi padaku. Kiranya Tuhan mengajakku untuk belajar mencintai dengan benar. Pengampunan menjadi bagian tak terpisahkan dari mencintai.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mampu untuk memberikan pengampunan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 November 2021

Renungan Harian
Minggu, 07 November 2021

Bacaan I: 1Raj. 17: 10-16
Bacaan II: Ibr. 9: 24-28
Injil: Mrk. 12: 38-44

Pemimpin Baru

Seorang teman berkeluh kesah dengan penuh emosi.

“Mo, aku kesel banget dengan pengganti saya; baru sebulan menjabat sudah menjelek-jelekkan saya. Dia selalu ngomong ke anak buah bahwa semua yang saya lakukan itu salah. Seharusnya begini, seharusnya itu bisa lebih maksimal tidak hanya seperti ini. Dia selalu bertanya apa yang telah saya lakukan ketika memimpin di tempat itu, kalau yang terjadi seperti ini. Ngomongnya kasar, dia selalu mengatakan bahwa saya tidak becus jadi pimpinan, dan dia juga mengatakan semua kepala bagian yang ada adalah orang-orang tidak becus peninggalan saya.
 
Dia itu tidak tahu bagaimana keadaan cabang itu saat saya datang. Dia tidak tahu bagaimana pembenahan yang ada. Kalau sekarang sudah tertib dan beberapa kali diaudit juga baik, bukan perkara mudah. Sekarang dia tinggal meneruskan saja malah menjelek-jelekkan orang lain. Saya kalau tidak menghargai bahwa dia itu jauh lebih senior dari saya, saya pengin membungkam mulutnya.
 
Mo, dia itu sesungguhnya senior saya, tetapi pernah bentrok dengan bos besar lalu di non job kan. Ketika bos besar pensiun dan digantikan anaknya dia ditarik lagi sebagai wakil pimpinan cabang di kota lain. Di kota itu dia selalu bentrok dengan pimpinan cabang, dia mengkritik semua kebijakan pimpinan cabang, dan dia jalan dengan caranya sendiri. Akibatnya karyawan di cabang itu terbelah. Dia itu ingin menunjukkan eksistensinya lagi sebagai senior dan pernah memimpin cabang-cabang besar tapi ya itu dengan cara menyalahkan orang lain.

Saya sejujurnya jadi kasihan dengan para karyawan; mereka itu orang-orang yang sudah mulai tertib dan baik tetapi sekarang jadi resah karena setiap hari selalu disalahkan. Pengganti saya selalu mengatakan seharus-seharusnya tetapi bagaimana idenya yang seharusnya itu diterapkan amat sulit dan dia sendiri juga tidak bisa memberikan petunjuk praktisnya. Pokoknya semua itu salah.”
 
Adalah kecenderungan banyak orang berusaha mendapatkan simpati, penghormatan dan pujian, dengan cara menjelek-jelekan orang lain, mengumbar kritik tetapi tidak memberikan solusi. Tidak sedikit dengan cara seperti itu sebagai usaha untuk menyingkirkan orang lain.

Tidak banyak orang yang berani memperjuangkan kehormatan diri dengan memberikan keteladanan hidup baik dan menghormati orang lain. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus mengkritik sikap ahli Taurat yang selalu mencari penghormatan dan menuntut penghormatan tetapi dengan cara-cara yang tidak baik. “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang-orang yang menuntut penghormatan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 November 2021

Renungan Harian
Sabtu, 06 November 2021

Bacaan I: Rom. 16: 3-9. 16. 22. 27
Injil: Luk. 16: 9-15

Sopir

Seorang teman mengeluh tentang sopirnya. Pada awal bekerja, sopir itu amat baik, orangnya sopan, rajin, mengendarai mobil dengan aman dan nyaman dan merawat mobil dengan baik.

Setelah masa percobaan maka teman saya memutuskan untuk mengangkat sopir itu menjadi sopir tetap bagi dirinya dan keluarganya. Sopir itu mendapatkan gaji yang cukup besar untuk ukuran sopir pribadi keluarga. Sopir itu mengucapkan banyak terima kasih karena diterima kerja dan mendapatkan gaji yang cukup besar.
 
Sopir itu berasal dari luar kota, dan keluarganya tinggal di luar kota. Dia tinggal ngontrak satu kamar untuk dirinya. Dua minggu sekali dia mendapatkan libur sabtu minggu agar bisa menengok keluarganya yang ada di kampung. Hal yang baik meski dia pulang kampung Senin pagi dia sudah kembali bekerja dan tidak pernah terlambat. Karena sopir ini baik dan rajin maka teman saya memberi tawaran agar keluarganya dibawa ke kota ini dan sopir ini boleh menempati satu rumah kecil milik teman saya.

Sopir ini amat gembira karena bisa berkumpul dengan keluarganya. Dia semakin gembira karena anak-anaknya yang sekolah dibiayai oleh teman saya. Selain itu dia juga mendapatkan pinjaman sepeda motor untuk berangkat kerja.
 
Dalam perjalanan waktu, sopir ini beberapa kali minta ijin dengan alasan menengok keluarganya di kampung yang sedang sakit. Namun karena sering minta ijin teman saya menjadi curiga, sehingga mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata sopir ini menjadi “sopir tembak” untuk keluarga lain yang membutuhkan jasanya. Tentu saja teman saya marah dengan kelakuan sopir itu. Teman saya menegur dengan keras dan memberi pilihan tetap bekerja dengannya atau mau menjadi “sopir tembak”. Sopir itu minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Akan tetapi setelah beberapa bulan kejadian itu berulang.
 
Teman saya memutuskan untuk mengakhiri mempekerjakan sopir itu. Karena sudah tidak bekerja sebagai sopir pribadi keluarganya maka kendaraan dan rumah diminta kembali. Sopir itu memohon-mohon agar jangan dikeluarkan, bahkan mengajak keluarganya untuk memohon agar tetap dipekerjakan. Teman saya mengatakan bahwa dirinya sudah diberi kesempatan untuk memilih dan ternyata sopir itu tetap melakukan kesalahan yang sama hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan sesaat. Sopir itu lupa bahwa apa yang selama ini diterima jauh lebih besar dan berharga dari pada keuntungan sesaat sebagai sopir tembak.
 
Dalam hidupku sehari-hari aku sering berlaku seperti sopir itu. Aku sudah mengalami dan menikmati banyak rahmat tetapi sering kali melupakan rahmat yang begitu melimpah dengan mencari keuntungan-keuntungan sesaat. Akibatnya aku kehilangan rahmat yang lebih berguna bagi hidupku. Ketekunan dan kesetiaan menjadi perjuangan terus menerus dalam peziarahan hidupku. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Seorang hamba tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku setia dan tekun mengabdi Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 November 2021

Renungan Harian
Jumat, 05 November 2021

Bacaan I: Rom. 15: 14-21
Injil: Luk. 16: 1-8

Pemberdayaan

Tetangga persis di depan rumah saya, keluarga yang amat ramah. Setiap kali kami saling menyapa dari  halaman rumah kami masing-masing. Saya orang baru di kota itu dan bapak itu juga baru tinggal di rumahnya yang baru. Berawal dari tegur sapa sederhana, akhirnya saya mengenal bapak tuan rumah itu..

Melihat nomor polisi mobil yang selalu beliau pakai, saya menduga bapak ini seorang pejabat pemerintah. Meski demikian bapak itu amat ramah dan sopan serta menunjukkan hormat kepada semua orang.

Saat dia di teras atau halaman rumahnya beliau selalu menyapa tetangga yang lewat depan rumahnya.
 
Dalam perjumpaan-perjumpaan dengan beliau, kami ngobrol hal-hal ringan, soal cuaca yang panas, kemacetan atau berita-berita seputar daerah. Beliau tidak pernah menyinggung pekerjaannya dan saya pun tidak pernah menanyakan tentang pekerjaan beliau. Meski kami sering ngobrol tetapi tidak menjadi tahu banyak hal.
 
Suatu ketika, beliau memberi saya sekarung beras, beliau mengatakan bahwa baru saja panen. Panen tahun ini cukup melimpah, karena cuaca baik dan tidak ada hama yang mengganggu. Dalam pembicaraan soal panen, beliau bercerita bahwa beliau mempunyai banyak sawah dan kebun di desa asalnya dan desa asal istrinya. Sawah dan kebun itu dibagi-bagi dalam beberapa bagian dan digarap oleh warga setempat; bahkan beliau bercerita bahwa semua sawah dan kebun itu kepemilikannya atas nama para penggarap, beliau mengungkapkan bahwa semua itu untuk pemberdayaan. Selain sawah dan kebun beliau juga punya ternak yang lumayan banyak dan dengan cara yang sama diserahkan kepada para penggarap. Setiap kali beliau menerima bagian panen dan hasil penjualan ternak. Saya pikir bapak ini pejabat yang luar biasa, karena cara pandangnya amat mengesankan berkaitan dengan pemberdayaan petani dan peternak.
 
Suatu waktu beliau datang meminta injin untuk menitipkan beberapa mobil di halaman kami, kami tentu tidak keberatan atas permintaan beliau. Namun kemudian saya keberatan dan menolak halus karena beliau meminta saya agar mengakui bahwa semua kendaraan itu milik saya. Untunglah beliau mengerti alasan saya bahwa seorang pastor tidak mungkin memiliki mobil pribadi. Akhirnya beliau bercerita bahwa semua kendaraan itu dititipkan ke beberapa karyawannya.
 
Beberapa bulan kemudian saya mendengar dan membaca berita bahwa beliau ditangkap KPK karena Beliau dan atasannya dituduh korupsi. Sejauh saya dengar pimpinan dan beliau dijatuhi hukuman kurungan dan sita harta. Namun demikian tampaknya hanya beberapa harta beliau yang disita sedangkan banyak harta yang tidak disita karena tidak diketahui sebagai milik beliau. “Wah hebat juga strategi bapak itu,” kataku dalam hati. Nampaknya beliau sudah tahu bahwa suatu saat akan ditangkap KPK maka beliau sudah mempersiapkan diri seandainya saat itu terjadi dan dirinya dihukum setelah menjalani masa hukuman beliau dan keluarganya masih mempunyai banyak harta untuk kehidupan selanjutnya. Usaha yang luar biasa dan dipersiapkan dengan amat rapi.
 
Kiranya hal seperti itu yang dikatakan Yesus sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apakah aku akan menyelamatkan diriku saat aku tahu bahwa pengadilan Tuhan pasti akan terjadi?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 November 2021

Renungan Harian

Kamis, 04 November 2021
PW. St. Carolus Borromeus, Uskup

Bacaan I: Rom. 14: 7-12
Injil: Luk. 15: 1-10

Pulang

“Semua bentuk kejahatan rasanya sudah pernah ku buat. Hidupku benar-benar penuh dengan kejahatan. Aku menjadi seperti ini bukan karena lingkungan bukan pula karena bentuk protes pada keluargaku. Semua ini kulakukan karena aku ingin mengejar kesenanganku, aku ingin menjadi orang bebas yang bisa melakukan apapun yang ku mau.

Semua bermula ketika aku sudah mengenal kehidupan malam. Awalnya aku hanya nongkrong dengan teman-teman dan aku menikmati ngobrol bersama dengan teman-teman. Kemudian kami suka minum-minum dan dengan itu membuat aku semakin senang, karena aku mengalami kegembiraan, bisa ngomong apapun dan bisa tertawa lepas. Dari situ aku mulai mengenal narkoba dan kehidupan sex bebas. Sungguh aku menikmati semua karena aku mendapatkan kesenangan dengan semua itu.

Kehidupan yang menyenangkan seperti membuat aku pergi dari rumah. Aku pergi dari rumah bukan diusir bukan pula aku tidak diterima di rumah melainkan karena aku tidak nyaman dengan rumah dan tidak dengan keluargaku. Aku berpikir dengan aku pergi dari rumah membuat aku semakin bebas melakukan apapun, tidak dibayangi perasaan tidak enak dengan orang rumah. Aku pergi dari rumah dan bekerja di sebuah klub malam. Aku bekerja mendapat gaji dan aku mendapatkan semua kesenangan yang kuinginkan

Dalam kehidupan yang menyenangkan seperti itu, sering aku merasa gelisah saat aku mau tidur. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuat aku gelisah namun kegelisahan itu membuat aku merasa sendiri dan kesepian. Untuk menghilangkan semua kegelisahan itu aku sengaja minum obat-obatan yang bisa membuat aku tidur. Namun ternyata lama kelamaan kegelisahan itu semakin menghantui aku. Saat aku bersenang-senang aku sungguh-sungguh menikmati kesenangan itu, tetapi setelah itu aku selalu mengalami kegelisahan. Aku rasanya seperti dilemparkan ke dalam kesepian yang mendalam. Aku punya banyak teman tetapi aku merasa sendiri, aku bersenang-senang tetapi aku merasakan sesuatu yang kosong.

Aku beberapa kali cerita ke teman-temanku dan mereka mengatakan itu biasa, mereka menyarankan agar aku minum obat penenang dan jangan banyak melamun dan berpikir. Namun saat aku mendengar seperti itu justru membuat aku berpikir, mengapa teman-temanku juga mengalami kegelisahan seperti yang kualami.

Saat itu untuk pertama kali aku berpikir tentang salah benar. Aku bertanya apa yang salah dengan apa yang kujalani.

Sampai suatu saat aku dengar seorang perempuan malam yang mengatakan kepadaku bahwa dia mau pulang menengok orang tua dan anaknya. Aku bertanya: “mengapa mesti pulang bukankah soal uang bisa dikirim dan bukankah dirinya akan kehilangan kesenangan?”

dia mengatakan bahwa saat pulang dia menemukan kesenangan yang lebih dari seperti yang dia jalani seperti ini. Saat pulang dia menemukan sesuatu yang membuat dirinya tidak gelisah. Jawaban dia membuat saya berpikir untuk pulang. Dan saat saya berpikir untuk pulang entah datang dari mana rasa itu, tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang mendalam; aku menangis untuk pertama kalinya. Muncul dalam benakku orang tuaku yang selalu berdoa, yang selalu ke gereja, yang mencintai aku. Pada saat yang sama aku juga berpikir kalau aku pulang, aku tidak akan kembali ke tempat yang menyenangkan ini. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, seandainya aku diusir pun aku rela. Tetapi sampai di rumah aku dipeluk oleh bapak dan ibuku. Aku tidak pernah ditanya apa yang kulakukan dan dari mana aku selama ini. Mereka menerimaku seolah-olah aku tidak pernah berbuat jahat dan seolah-olah aku seorang pahlawan yang pulang. Saat itu aku merasakan apa yang kusebut sebagai kedamaian lawan kegelisahan dan kesepian. Aku merasakan tidak sendiri lagi, aku merasakan ada orang yang selalu memelukku untuk mengusir kegelisahan dan kesepianku. Aku heran dengan semua ini, apalagi aku melihat orang tuaku gembira melihatku di rumah. Aneh, tetapi itu yang kualami. Semua itu membuatku berjanji untuk tidak kembali lagi ke tempat aku mendapatkan kesenangan selama ini karena di rumah aku menemukan yang lebih dari itu,” seorang teman berkisah tentang pertobatannya.

Kegembiraan keluarga mendapatkan anaknya yang pulang menjadikan tidak ada pengadilan, tidak ada penolakan dan yang ada hanya penerimaan. Penerimaan itu membuahkan perubahan hidup. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Aku berkata kepadamu, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Bagaimana dengan aku? Adakah aku bagian orang membuat sukacita para malaikat Allah?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.