Renungan Harian: 8 Januari 2023

Renungan Harian
Minggu, 8 Januari 2023
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

Bacaan I: Yes. 60:1-6
Bacaan II: Ef. 3:2-3a, 5-6
Injil: Mat. 2:1-12

Berharga

Sianh itu, sepulang pelatihan saya mampir ke Cafe milik rekan saya yang baru buka. Itu bukan yang pertama kalinya, tapi itu yang pertama kali sejak secara tiba tiba dia keluar dari wag sebuah komunitas tempat kami beraktifitas bersama. Banyak yang bingung dengan apa yg terjadi, tapi tidak berani bertanya.

Maka siang itu saya menyengaja mampir untuk menyapa dan bertanya.

“Sebenarnya tidak ada apa apa sih, mungkin sedang sensi saja sih goe”jawabnya sambil menyeruput kopinya.

“Jadi artinya karena sesuatu di wag yah?” Tanya saya mempertajam

“Yah lucu sih kalau dipikir pikir. Goe agak tersinggung karena sedari awal cafe goe buka, sampai sekarang sudah hampir 6 bulan, teman teman tuh lebih memilih untuk kumpul dan pergi ke tempat tempat lain, tapi malah tidak menyempatkan diri mengunjungi tempat goe.

Yah goe tahu tempat gw agak jauh dari tengah kota, tapi juga nggak sampai keluar kota kan?

Katanya teman, kok malah nggak berasa didukung, bahkan diucapin selamat dan disapa gituh? Kalau memang relasi kita ada artinya, yah sekurangnya ngucapin selamat lah atau apa. Ini kayaknya cuma loe yang rajin mampir. Padahal loe sibuk juga kan, jadi bukan masalah waktu juga.

Yah, ini yg goe bilang sensi. Karena setelah keluar WAG, dan lewat beberapa hari, baru mikir, ngapain goe maksa orang yah. Tapi yah goe sadar diri juga lah, ngapain maksa diri masuk ke sana, kalo nggak ada rasa” jawabnya datar

Saya yakin ada komunikasi yang tidak tersampaikan, sehingga satu sama lain, memiliki ekspektasi dan asumsi yang berbeda, dan memunculkan konflik.

Tapi tidak dapat saya pungkiri, bahwa saat seseorang memiliki arti bagi kita, kita pasti akan dengan jelas menunjukan rasa simpati bahkan empati bagi mereka. Kita akan mengusahakan, jangankan mengunjungi mereka yang masih satu kota, yang berbeda kota pun akan kita lakukan, karena kita tahu itu berharga untuk dilakukan.

Sedemikian berhargalah Yesus, sang Raja, bagi para Majus dari Timur. Dari eropa, afrika dan asia, jauh berjalan menuju Bethlehem. Mengorbankan waktu, tenaga, dan harta untuk sesuatu yang sungguh dirasa berharga.

dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Apa yang berharga bagi hidup kita? Akankah kita mengupayakannya sedemikian rupa agar tercapai? Adakah Tuhan berharga bagi kita, dan kita rela berjuang untuk berjumpa denganNya?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 Desember 2022

Renungan Harian
Jumat, 23 Desember 2022

Bacaan I: Mal. 3:1-4; 4:5-6
Injil: Luk. 1:57-66

Menjadi apa nanti?

Dalam sebuah acara komunitas, seorang rekan membawa serta anak balita nya. Anak yang lucu dan sangat ceria. Prilakunya sopan, salim pada kami dan memyapa teman teman ayahnya denga sapaan singkat
“Hai om…..hai tante….”

Dia diam di samping ayahnya, menunggu kami ngobrol. Anak perempuan yang tampak patuh. Tidak berapa lama dia menarik narik celana ayahnya dan ayahnya membungkuk untuk mendengar bisikannya.

“Oh boleh, tapi hanya main disana saja gak jauh jauh dan tidak sampai tidak terlihat ayah ya…..” Kata teman kami menjawab bisikan anaknya.

Lalu anak itu pergi berlari menuju taman kecil dan mulai bermain disekitar rindangnya pohon.

Melihat anak yang manis, ramah dan patuh itu membuat kami kagum

“Anak loe dikasih makan apaan, kok bisa behave gituh” seru seorang diantara kami

“Iya, lucu banget, mandiri lagi tuh, nggak banyak rewel”seru yang lain.

“Gede jadi orang sukses ini mah, dari kecil ajah udah pinter gini” seru yang lain

Rekan kami tersenyum
“Ini bukan pekerjaan mudah sih, ada takut disetiap tahapnya, tidak selalu manis juga kok, kadang sangat keras kepala juga. cuma jujur kami dari kecil membiasakan untuk menemani dan mengajaknya ngobrol. Selalu berbagi dan tidak khawatir kalau dia pun banyak pertanyaan.
Sekarang kami malah agak khawatir, karena dia punya banyak keinginan.

Jadi kami cuma bisa berusaha buat membantu dan memberikan pengertian serta pemaknaan. Sisanya, nggak tahu deh, biar Tuhan yang memainkan peranNya atas anak ini lah” jawab teman kami

Tidak mudah menjadi orang tua, tidak mudah menjadi teman setia proses tumbuh kembang anak, tidak mudah melihat anak anak menjadi dewasa dengan pilihan mereka, tidak mudah menemukan kehendak Tuhan pada anak anak penerus gereja.

Namun bacaan hari ini memberi kita sebuah keyakinan, bahwa amanat dan kepercayaan yang sudah diberi oleh Tuhan, harus dipegang teguh, dilestarikan dan di pertanggung jawabkan kembali pada Tuhan, sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak kita.

Adakah kita, tumbuh dan berkembang, atau menemani proses tumbuh dan kembang para penerus dengan baik dan amanah? Adakah kita setia menemani mereka, sampai mereka menjawab panggilan Tuhan untuk karya pelayanan mereka di dunia?
Percayakah kita ada Tuhan dalam setiap proses tumbuh kembang?

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Semoga Tuhan selalu beserta kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 12 Desember 2022

Renungan Harian
Senin, 12 Desember 2022

Bacaan I: Bil. 24:2-7,15-17a
Injil: Mat. 21:23-27

Curriculum vitae

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?”

Bukankah kita sering mengalami hal seperti bacaan hari ini? Baik sebagai penanya, atau yang ditanya.

Sekali waktu seorang rekan muda bertanya kepada saya, mengapa saya sangat getol meminta mereka untuk mencermati dan melengkapi CV para Narasumber yang akan memberi materi dan membawakan pelatihan.

“Padahal kan mas, kita sudah tahu para narasumber, dan apa tidak dianggap berlebih dengan menulis banyak hal di ppt perkenalan tentang mereka?”tanya nya.

“CV yang kita minta, untuk kita pahami dan kenali siapa narasumber dan pemateri kita. Dan perkenalan dengan menuliskan beberapa hal yang mereka tulis di CV mereka, kita perlukan karena tidak semua peserta siap untuk menjadi pembelajar yang reflektif. Kadang mereka butuh tahu dulu siapa yang akan memberi materi. Buat mereka lebih penting penyanyi dari pada lagunya.

Bagi yang sudah biasa berefleksi tentunya tidak khawatir dengan siapapun yang menjadi narasumber, karena materi yang diberikan untuk dipelajari, dipahami, dan di refleksikan menjadi lebih penting dari siapa ‘penyanyinya’.

Yah tentunya kita sebagai penyelenggara perlu juga menyesuaikan keselarasan pemateri dan materi yang kita ingin bagikan pada peserta, jadi tidak asal pilih orang.” Saya coba menjelaskan

“Memangnya besar yah efeknya mas?penyajian info narsum dengan gelar dan lainnya di ppt perkenalan?”tanyanya memastikan

“Sayangnya, iya. Kadang nama besar dan rentetan gelar yang dicari, Atau jabatan dan status sosial, atau pengalaman kerja yang mengagumkan. Yah ada juga hal hal lain.

Disatu sisi, wajar sebagai referensi, tapi disisi lain, kalau sampai karena ketidaktahuan kita menilai pembicara itu baik atau buruk hanya dari rentetan gelar, rasanya tidak bijak bukan? Yah kita lihat lihat peserta juga lah, itu sebabnya saya kadang sajikan cv lengkap, kadang garis besarnya saja, atau kadang tidak sama sekali. Masih bisa kita sesuaikan lah…..”saya menambahkan

Semoga kita tidak menilai sesama hanya dari status status sosial tertentu, tapi dari martabat kemanusiaan dan kasih yang mereka sebar lewat kata dan tindakan mereka.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 11 Desember 2022

Renungan Harian
Minggu, 11 Desember 2022

Bacaan I: Yes. 35:1-6a,10
Bacaan II: Yak. 5:7-10
Injil: Mat. 11:2-11

Diteguhkan

“Tidak cape mendampingi anak-anak muda dengan berbagai dilema dan kegalauannya”tanya seorang teman melihat saya selesai bertelephone dengan seorang rekan muda.

“Nggak lah, ini impas kok dengan buah yang nanti bisa kita lihat dan dapat”jawab saya

“Jadi tadi ada masalah apa lagi?”tanyanya

“Masalah? Nggak kok, nggak ada masalah. Jadi ngobrol lama karena dia cerita dan berbagi, soal rencana pelatihan yang akan dia adakan bersama teman temannya. Kadang teman teman muda ini hanya butuh didengar dan diteguhkan” jawab saya

“Berapa lama sih waktu yang mereka butuhkan? Kapan siap dan mandirinya kalau terus butuh diteguhkan?keburu tua” Tanyanya setengah bercanda

Sampai kapan kita perlu dan dapat memberi peneguhan? Sampai kapan kita butuh diteguhkan? Itu pertanyaan yang kadang juga saya tanya pada diri sendiri. Tapi tampak jelas bahwa meneguhkan dan diteguhkan adalah sebuah proses alami dalam hidup berkomunitas. Selama kita hendak menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam berbuat kasih, maka meneguhkan adalah salah satunya. Bukan hal besar mungkin, untuk mendengar, menemani dan meneguhkan sesama agar berani menjalani panggilannya. Tapi kita akan terkesima oleh hasilnya, saat yang kita teguhkan bertumbuh dan menjadi.

Yohanes Pembabtis sekali pun, butuh diteguhkan akan hadirnya Dia, sang mesias, yang sudah dia kenali. Dan dari sana, Yohanes pembabtis semakin teguh dan percaya, bahwa yang ditunggu sudah datang.

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Greg Tjai

Renungan Harian: 9 Desember 2022

Renungan Harian
Jumat, 9 Desember 2022

Bacaan I: Yes. 48:17-19
Injil: Mat. 11:16-19

Saya bilang juga apa

Suatu siang saat kami makan siang bersama, seorang teman bercerita tentang seorang teman “pengusaha muda” yang mengalami kemalangan dalam usahanya. Usaha ke-3 yang dirintisnya, akhirnya tutup, seperti 2 usaha sebelumnya.

Kami pernah membantunya dipersiapan dan pembenahan usaha ke 3 nya ini, tapi akhirnya proses bantu berhenti karena proses yang berkembang tidak sehat dan semua masukan yang diberikan seolah tidak ditindaklanjuti dan dibenahi, malah membuat rancangan tanpa pola yg jelas. Teman ini terkenal “optimis” dan tidak perhitungan. Akhirnya kami memilih diam dan tidak berkomentar apapun kalau sedang ngobrol dengan yang bérsangkutan tentang usahanya.

Kegagalan usaha sebelumnya ada pada pola over-invesment, setiap keuntungan langsung jadi cabang baru, tiap dapat project langsung beli peralatan baru, yang membuat perputaran uang tidak sehat dan tidak mampu membiayai diri, sampai tutup. Dan dia mengulanginya lagi dan lagi.

“Duh ngomongin dia aja berasa dosa, tapi lebih dosa lagi kali yah kalo saya bilang ‘saya bilang juga apaaaah!’ didepan orangnya”ucap teman yang sempat aktif membantu.

Kami tertawa karena ingat betapa sulit membantu teman ini, karena prilakunya yang membuat kami bingung, kami lebih sering jadi pendengar ajarannya tentang wirausaha, bukan sebaliknya. jadi buat apa dia minta bantuan dan konsultasi kalau dia terus melakukan pola yang sama, tanpa dipikirkan.

“Yah sebenarnya itu hak dia sih, mau pakai masukan kita atau tidak. Dan hak kita juga kalau milih tidak berurusan lagi dengan ide ide gilanya. Tapi memang kurang elok yah kita seolah berbahagia dan bersyukur diatas penderitaan orang, kendati kita pernah dibuat kesal atas ke ngeyel’an nya”saya berusaha menggambarkan situasi yang terjadi

“Nggak niat bersyukur akan kegagalan nya sih mas, cuma ini mulut aja yang tergoda bilang, ‘Saya bilang juga apa’, udah sih gitu ajah, nggak bakal sampai bilang ‘sukur!….saya bilang juga apa!”celetuk teman lain menjadikannya bahan candaan, dan kami tertawa.

Mungkin kita pernah ada dalam situasi kesal karena apa yang kita ucapkan, beri dan bantu, tidak digubris dan dihiraukan. Kita yang sudah sangat yakin dengan pola A, seolah harus menerima bahwa A salah dan tidak layak jadi pilihan. Situasi yang membuat kita seolah dipaksa menerima, bahwa ada hal salah yang harus diterima sebagai kebenaran. Dari sini kata kata ‘saya bilang juga apa’ lahir, saat kebenaran terungkap.

Tapi bukankan ini juga salah satu sifat manusia? Ngeyel dan tidak peduli.

Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.

Kita dihadapankan dengan situasi menantang, saat kabar baik tidak digubris dan teladan baik hanya jadi iklan sambil lalu.

Apakah kita akan berhenti berbuat baik dan menanti waktu berkata ‘saya bilang juga apa’ saat mereka mendapat celaka? Atau tetap ulet dan setia menyebar kabar baik, menjadi tindakan dan meluaskan karya baik?

Semoga Tuhan membantu kita untuk tetap bisa setia menyebar karya baik, dan menyabarkan hati kita untuk tidak berpaling sambil menanti saat berkata
“Saya bilang juga apa!”

Greg Tjai

Renungan Harian : 29 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 29 November 2022

Bacaan I: Yes. 11:1-10
Injil: Luk. 10:21-24

Bangga dalam syukur

Seorang adik memimpin sebuah kegiatan pelatihan. Kami memperhatikan dari belakang ruangan, ada berbagai rasa dihati saya, tapi bersiaga adalah yang paling terasa. Itu perhelatan pertama bagi adik kami ini untuk membawakan acara sendirian didepan peserta peserta senior.

Bersiaga sepanjang acara untuk turun membantu bila terjadi hal hal tak diinginkan, dan nyatanya, sampai selesai, saya bangga karena hanya perlu bersiaga, tanpa cemas dan lega melihat proses berjalan lancar. Saya dan beberapa teman senior senang dengan proses yang terjadi, dan sebelum kami sempat mengatakan banyak, beberapa peserta, termasuk yang senior menghampiri dan mengucapkan terima kasih dan memuji proses yang disajikan, termasuk untuk Tim dan Fasilitator utama yang fresh dan membantu proses belajar.

Saya bahagia karena merasa aman dan akan lancarnya kegiatan. Juga karena melihat adik kami yang berhasil menjalankan perannya, serta bahagia karena jerih payahnya belajar dan membekali diri terbayar lunas dalam proses.

Senang melihatnya bahagia dan menikmati perannya, serta menerima pujian dari orang orang dengan rendah hati.

“Syukur pada Tuhan bila sungguh membantu, terima kasih ibu….”jawabnya berkali kali menanggapi ucapan selamat dan terima kasih

Selepas acara, dalam evaluasi kegiatan, sang fasilitator utama mengatakan
“Mas terima kasih sudah melatih dan mendampingi proses belajar selama ini. 2 hari ini jadi pembuktian juga buat saya. Jujur masih agak deg deg an, apalagi saat agak lupa dan mas mba ada dibelakang, jadi panik. Tapi liat kalian senyum senyum tenang, buat PD naik dan terpacu. Dan saat butuh bantuan semua siap backup, itu jadi berasa jago banget lah”paparnya dengan senyum yang terus terpasang dibibirnya.

Sangat terbayang bahagianya Yesus, saat para murid yang diutus berdua dua, kembali membawa kabar bahagia akan Tugas mereka yang berjalan luar biasa. Saya rasa para orang tua akan merasakannya juga saat anaknya memberi rasa bangga. Guru merasakan hal yang sama pada kesuksesan murid murid nya, dan masih banyak lagi yang bisa merasakan ini. Mereka yang berproses bersama, setia, lalu melihat hasil yang membanggakan.

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Semoga kita boleh dipercaya menemani proses tumbuh kembang yang membawa kebahagiaan. Semoga kita bisa menjadi kebanggaan dan yang membuat Tuhan bahagia serta bersyukur.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 November 2022

Renungan Harian
Senin, 28 November 2022

Bacaan I: Yes. 2:1-5
Injil: Mat. 8:5-11

Saya tidak pantas

Sedari mengenal Ekaristi, dan mengikuti misa dengan sadar, saya merasa doa saat bagian Imam mengangkat hosti dan piala sebagai bagian yang sangat khusuk.

“Ya Tuhan, saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”

Ada rasa berserah yang dalam. Yang tak jarang membangun keyakinan yang kuat akan kuasa Tuhan dalam menyembuhkan kita, apapun sakitnya.

Bacaan hari ini mengingatkan kita akan asal muasal doa dalam Ekaristi ini. Bacaan hari ini juga mengingatkan kita bahwa perkataan ini bukan hanya soal Tuhan yang maha kuasa dan maha penyembuh, tapi juga soal seberapa besar dan kuat iman kita, yang percaya akan Tuhan yang ada dalam hati kita. Sungguhkah iman kita dapat sedemikian peka dan perhatian serta percaya, sedalam iman sang Perwira? Iman yang menembus banyak batas dan sekat.

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Semoga, iman kita sungguh terus bertumbuh, dan membawa kita pada kesembuhan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 November 2022

Renungan Harian
Minggu, 27 November 2022

Bacaan I: Yes. 2:1-5
Bacaan II: Rm. 13:11-14a
Injil: Mat. 24:37-44

Menikmati dengan sadar

Pertama kali saya menempuh perjalanan dari Tahura Djuanda ke Maribaya adalah saat saya SD dalam salah satu kegiatan Pramuka. Saat itu saya bersama regu kami berkumpul di Tahura, dan memulai perjalanan menembus Gua Belanda.

Saya rasa saya hanya menikmati perjalanan dari titik kumpul sampai Gua Belanda. Setelah itu, jalur menanjak dan hutan yang cukup basah membuat perjalanan menjadi terlalu menantang. Saya ingat saat sampai di titik akhir, kami berkegiatan disana. Lalu saat akan pulang kami harus mendaki lagi menuju pintu keluar Jalan besar Maribaya.

Saat ditanya orang tua saya di rumah, saya tidak punya banyak cerita, selain sepatu yang kotor dan rasa lelah. Saat itu, tantangan dan ketakutan akan rute, serta target mencapai puncak dengan cepat, membuat saya tidak sadar dengan apa yang ada disekitar, dan tidak menikmati proses yang terjadi.

Tapi berbeda dengan perjalanan perjalanan selanjutnya. Saya tidak dibutakan oleh ketakutan, target dan kecepatan. Saya menjadi sadar akan berbagai tumbuhan dalam hutan, keunikan beberapa tanaman, sungai yang mengalir dibawah rute perjalanan, penangkaran rusa, bahkan belakangan dengan munculnya beberapa kios, saya dan teman teman sampai paham kios mana yang menyajikan pisang bakar terbaik, gorengan ternikmat, dan posisi duduk yang nyaman untuk berkumpul.

Kita sering dibutakan banyak hal, yang membuat kita tidak sadar dan tidak dapat menikmati akan apa saja yang ada dihidup kita. Kita sibuk dengan rutinitas, tapi tidak menyadari apa yang sebenarnya kita lakukan. Kita bekerja, tapi tidak sadar untuk apa, dan sebagai Kristiani, kita tidak sadar, dimana Tuhan di hari hari kita.

Memasuki masa Adven ini, Tuhan mengingatkan kita untuk selalu sadar dan berjaga, agar setiap langkah hidup kita, menjadi berkat dan kita selalu siap menyambut Tuhan.

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Memaknai hidup dengan sadar, berjaga dan menanti Tuhan dengan sabar, bersiaga, dan berjaga

Selamat Tahun Baru Kalender Liturgi

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 November 2022

Renungan Harian
Sabtu, 26 November 2022

Bacaan I: Why. 22:1-7
Injil: Luk. 21:34-36

Layak

Sekali waktu sepupu saya harus pindah kost, dan di kost yang baru dia tidak diperkenankan membawa hewan peliharaan, padahal dia baru saja mendapatkan anjing dari salah seorang muridnya. Alhasil, anjing ini dititipkan ke ibu saya, dengan janji saat sudah mendapatkan tempat yang lebih baik, anjing ini akan diambil kembali.

Dulu kami memelihara anjing, tapi karena sudah beberapa kali menguburkan mereka, dan tahu persis sedihnya kehilangan, maka kami tidak memelihara Anjing lagi. Tapi karena ini hanya untuk sementara, maka kami sepakat untuk mengasuhnya sementara waktu.

Setidaknya itu yang awalnya saya pikir. Dan hal itu berubah saat mam secara perlahan tapi pasti mulai membeli rantai anjing, lalu mangkok makannya, lalu mainan untuk dia gigit, dan sesekali saat belanja bulanan membeli makanan anjing. Disana saya tahu, anjing ini akan menetap.

Namanya Brownie, karena bulunya coklat. Betina dan berjenis Mongler. Nama yang teman saya bilang saat melihat foto brownie. Saya kira itu ras khusus, ternyata mongler yah Anjing kampung.

Dia tumbuh menjadi anjing penjaga yang sangat efektif, dimasa kecil dia masih sempat untuk dilatih ‘duduk’, ‘salam’, ‘rebah’, ‘guling’. Dia sadar dan tahu jam makannya. Dan dia BAB dan BAK di kebun depan.

Satu yang sulit dilatih dan menyebalkan saat terjadi, saat ditinggal di rumah, dia tidak mau BAK di kamar mandi. Sebenarnya karena dia tidak mau kena basah. Maka sasaran ya adalah keset kamar mandi.

Dia tahu saat dia berbuat salah. Dia akan menunduk saat bertemu kami dan setelah menunjukan diri sebentar, dia akan menjauh dan bersembunyi, sehingga kami tahu dia ‘ngompol’, begitu istilah kami. Selain ngompol, dia melakukan itu saat ketahuan melakukan kesalahan lainnya.

Saya percaya, rasa bersalah dan malu yang bisa dimiliki dan ditunjukan oleh seekor anjing, pastilah manusia miliki juga. Walau banyak hal bisa menyebabkan kita menutupi dan memalsukan rasa itu, tapi kita punya nurani yang mengenal rasa malu, rasa bersalah, perasaan tak layak dan sedih.

Dari bacaan hari ini, saya membayangkan, apa perasaan yang muncul dan akan seperti apa saya di hadapan Tuhan? Bila waktunya datang, apakah saya akan menunduk malu dan bersembunyi? Atau menatap lurus dengan senyum kebanggaan, bahwa saya berhasil menjalankan hidup yang dipercayakanNya dengan sebaik baiknya?

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Mari terus sadar diri, bawa dalam doa, agar kita mampu menjalankan peran kita di dunia dengan sebaik baiknya, hingga nanti kita dapat dengan yakin mempertanggungjawabkannya.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 November 2022

Renungan Harian
Jumat, 25 November 2022

Bacaan I: Why. 20:1-4,11 - 21:2
Injil: Luk. 21:29-33

Piramida kartu

Dalam Gladi Kepribadian untuk mahasiswa sebuah universitas, kami menggunakan metode Misi pribadi, untuk mengajak peserta mengalami tantangan pribadi yang biasa mereka alami. Tiap orang memiliki tugas yang berbeda, yang ditentukan berdasarkan hasil Psikotes, observasi dan wawancara kecil sebelum acara gladi/pelatihan dilakukan.

Banyak tantangan yang tampak konyol dan menggelikan, layaknya permainan tantangan dimasa kecil. Ada tugas menyapu lantai, menyusun kembali kendi pecah, mengurai benang kusut, menyusun puzzel, mengajak orang ngobrol saat mereka bertugas, dan lain sebagainya.

Sekali waktu seorang mahasiswi menanggapi Misi Pribadi ini dengan sangat mendalam. Tugasnya membuat piramida kartu di atas meja yang diletakan ditengah lapangan. Kartu tidak boleh ditekuk, harus digunakan semuanya, dan tidak ada alat bantu apapun.

Diawal proses dia tampak biasa dan masih tertawa melihat pekerjaan temannya yg lain, yang tampak lebih konyol dari misinya. Tapi proses tidak mulus juga untuk tantangannya. Berkali kali setelah sampai ke tumpukan ketiga, piramida runtuh. Ketika dia mulai serius, angin datang dan meruntuhkan piramida, beberapa kali kartu kartu tinggal bersisa 2 untuk ditumpuk, tapi sedikit goyangan tangan membuatnya runtuh.

Hampir 30 menit, saat peserta lain sudah mulai beres, dia masih harus menyusun dari awal. Kami perhatikan setiap peserta dalam proses mereka, dan kami melihat bagaimana dia menyusun piramida sambil menangis dalam diam.

Saat waktu sharing pengalaman, peserta diminta bercerita pada teman temannya, apa tugas mereka dan bagaimana pengalaman mereka. Banyak hal lucu dan membuat peserta tak habis pikir. Kemudian kami meminta sharing, apa pembelajaran mereka. Banyak yang mulai menebak mengapa mereka diberi tugas itu, banyak yang salah, tapi tidak sedikit yang tepat.

“Membangun piramida kartu sebenarnya bukan tugas utama saya. Saya tahu, tugas utama saya dalam misi pribadi saya adalah tidak frustasi, tidak takut dan anti terhadap perubahan dan kenyataan diri untuk berani memulai lagi, walau dari nol.

Saya memang sering mudah menyerah dan berhenti entah sampai kapan bila bertemu hambatan, apa lagi yang membuat saya jatuh. Butuh waktu lama, sampai saya tidak ada pilihan lain, baru saya memulai. Padahal jatuh dan bangun seharusnya jadi sandingan, saat jatuh, ya bangun. Tapi saya biasa diam dan membiarkan diri saya mengasihani diri sedemikian berlebihnya, sampai tampak berhenti dan siap mati.

Kalau saya tampak masih aktif, seringkali itu hanya pelarian untuk tidak mau menantang diri untuk memulai membangun kejatuhan saya, tapi pelarian agar tampak punya alasan, dan bisa menghindar dari tantangan saya yang sebenarnya.

Tadi di lapangan itu saya pikir panas yang bakal jadi gangguan, tapi melihat kartu jatuh itu menyeramkan dan menjadi gangguan terbesar saya. Saya tahu kalau runtuh harus dibangun lagi. Saya tahu itu tugas saya” paparnya dalam tangis yang tidak henti. Dalam gladi itu, peserta ini mendapatkan kesempatan untuk berefleksi dalam untuk dirinya.

Bukankah banyak dari kita mengalami hal yang sama? Walau sudah tahu, bahwa bila jatuh baiknya kita bangun, tapi kita takut dan khawatir, atau terlalu nyaman melantai, hingga tak mengumpulkan daya dan fokus untuk berdiri? Tidakah kita sadar bahwa keberanian untuk memulai lagi dari awal tidak selalu berarti kita memulai dari Nol. Kita tumbuh dari tunggul dan pohon yang sudah ada, melanjutkan proses kejatuhan kita, menjadi tunas baru yang penuh harapan.

Beranikah kita menjadi Tunas yang tumbuh saat satu siklus musim berlalu, entah dengan hasil baik, atau tak baik? Tapi yang pasti, dia berhasil terus hidup dan tumbuh, menuju musim baru.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.

Semoga Tuhan terus menemani kita, agar kita selalu berani untuk melepas musim yang lalu dan memulai lagi perjuangan yang baru. Untuk memaknai jatuh, sebagai awal proses bangun.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.