Renungan Harian : 11 Januari 2022

Renungan Harian
Selasa, 11 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam 1: 9-20
Injil: Mrk. 1: 21b-28

Harapan

“Romo, saya ini bisa disebut “nyowo balen” (nyawa yang kembali) karena seharusnya saya sudah mati sekian tahun lalu. Waktu itu awalnya saya merasa masuk angin, badan meriang dan rasanya lemes. Semakin lama nafsu makan saya semakin hilang. Saya tidak merasa lapar, dan melihat makanan menjadi mual. Saya sudah dikerok dan minum obat yang saya beli di warung tetapi tidak berkurang. Maka saya periksa ke klinik pengobatan; saya diberi obat dan vitamin. Namun sampai obat habis saya tidak merasa menjadi sembuh tetapi semakin lemas meski rasa pusing dan yang lain-lain tidak saya rasakan.
 
Saya dirujuk ke dokter spesialis di rumah sakit. Saya diminta periksa laboratorium lengkap, saya di USG dan beberapa pemeriksaan, kemudian saya diberi obat dan diminta 3 hari lagi kontrol. Setelah berulang kali kontrol tetapi saya merasa tidak ada perubahan. Saya semakin lama semakin kurus dan lemas sehingga saya hanya bisa berbaring dan duduk di tempat tidur. Kalau saya harus berjemur di halaman rumah, saya duduk di kursi roda, karena saya sudah tidak mampu untuk berdiri sendiri. Dokter belum menemukan apa sesungguhnya yang menyerang tubuh saya.
 
Romo, selain saya berobat ke dokter saya juga berobat alternatif. Saya diberi ramuan herbal yang harus saya minum. Namun sekian lama saya berobat alternatif tidak juga kunjung memberi kesembuhan. Romo, saat itu saya sudah putus asa sudah tidak mau lagi ke dokter dan minum obat maupun ramuan herbal. Saya berpikir kalau memang penyakit saya tidak diketahui dan tidak ada obatnya, ya sudah saya mati lebih cepat tidak apa-apa daripada saya merepotkan keluarga dan saya sendiri juga menderita. Setiap hari saya berdoa agar Tuhan segera memanggil saya.
 
Suatu sore, ada teman menjenguk dan menganjurkan saya berobat ke seorang dokter. Saya sudah tidak mau lagi. Saya sudah pergi ke berbagai dokter ahli tetapi sampai sekarang saya tidak kunjung sembuh; apalagi dokter yang teman saya sebut adalah dokter umum yang masih muda. Tetapi teman saya itu membujuk saya agar mau, dia mengatakan bahwa tidak ada salahnya mencoba. Karena bujukan teman itu saya mau.
 
Saya periksa ke dokter muda itu. Dokter itu mengatakan pada saya: “Ibu, saya juga tidak tahu persis penyakit ibu apa, saya juga bukan ahli namun saya akan berjuang untuk membantu ibu. Hal yang paling utama dan penting, mari kita bersama-sama berdoa pada Tuhan, karena Dia adalah penyembuh Agung dan Utama. Ibu berdoa mohon kesembuhan dan mendoakan saya agar saya yang lemah ini diperkenankan menjadi perantara penyembuhan bagi ibu. Saya juga akan berdoa untuk kesembuhan ibu dan mohon agar apa yang saya lakukan diberkati dan saya diperkenankan menjadi perantaraa penyembuhan bagi ibu.”
 
Romo, saya tidak tahu apa yang terjadi dalam diri saya, tetapi saya pulang rasanya lega dan bahagia. Saya yakin bahwa saya akan sembuh, dan dokter ini memang dipilih Tuhan untuk menyembuhkan saya. Sampai di rumah, setelah minum obat yang diberikan dokter, saya merasa lapar dan mau makan. Aneh romo, sejak saat itu saya bisa makan enak, dan tidur nyenyak sehingga berangsur-angsur saya sembuh. Luar biasa romo, dokter muda itu telah membuat saya sembuh, tetapi yang paling penting saya rasakan bahwa dokter itu telah membuat saya penuh harapan dan percaya pada kekuatan doa,” seorang ibu berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, iman Hana akan kekuatan doa dan harapan menjadikan dia mendapatkan apa yang selama ini diharapkannya. “Pergilah dengan selamat, dan semoga Allah Israel memberikan kepadamu apa yang engkau mohon dari padaNya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Januari 2022

Renungan Harian
Senin, 10 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 1: 1-8
Injil: Mrk. 1: 14-20

Terluka

“Romo, kehidupan perkawinan kami selama 10 tahun ini baik-baik saja. Kami menjalani kehidupan bersama dengan  baik, selama ini tidak ada masalah berarti. Ada masalah-masalah kecil tetapi kami dapat mengatasi dengan baik. Kehidupan ekonomi kami juga baik, karir saya dan istri juga semakin baik. Sesungguhnya dalam kehidupan perkawinan kami baik dan saya pribadi merasa bersyukur dengan semua ini.
 
Namun persoalan akhir-akhir ini semakin lama semakin menjadi beban dalam kehidupan perkawinan kami. Sumbernya adalah belum adanya anak dalam kehidupan keluarga kami. Akhir-akhir ini istri selalu uring-uringan tanpa sebab, menjadi mudah tersinggung dan cepat menjadi marah. Kalau saya lagi “tenang-tenang” ya sudah, saya biarkan nanti dia menjadi tenang lagi, tetapi tidak jarang sikap istri saya membuat saya terpancing untuk menanggapi dan emosi. Sehingga keluarga kami yang tenang-tenang akhir-akhir ini menjadi sering ribut.
 
Saya sudah mengatakan kepada istri saya: “ya sudah, kalau memang kita tidak diberi momongan ya tidak apa-apa. Saya tetap mencintai kamu dan saya juga tidak menuntut untuk harus punya momongan. Ayo kita hadapi berdua.” Tetapi ternyata apa yang saya katakan itu justru membuat dia menjadi marah, dia mengatakan bahwa saya tidak mengerti dia. Saya sering kali mengatakan: “Saya tahu bahwa ada masalah dengan kesehatanmu, dan kita juga sudah berjuang untuk mengatasinya. Tetapi kalau sampai sekarang belum berhasil ya sudah, pasti ada kehendak Tuhan yang lebih baik untuk kita.”
 
Romo, pada intinya sebenarnya istri saya tidak tahan dengan omongan teman-temannya yang sering bertanya kapan punya anak. Tidak jarang teman-temannya menyarankan agar ini dan itu tetapi teman-temannya tidak tahu masalah yang sesungguhnya sehingga saran itu malah membuat dia tersinggung. Terlebih ketika kami kumpul keluarga pertanyaan itu menjadi semakin menyakiti dirinya. Mungkin karena dia semakin bertambah usia sehingga menjadi semakin sensi ya romo,” seorang bapak berkeluh kesah.
 
Mendengarkan keluh kesah bapak itu, saya mengundang bapak itu dan istrinya untuk bertemu bersama. Mengingat persoalan yang tidak mudah maka saya mengajak pasangan suami istri senior yang tidak memiliki anak tetapi hidupnya bahagia dan damai. Dari pembicaraan itu salah satu nasehat penting adalah berani jujur menerima keadaan diri. Tidak mempunyai anak bukanlah kutukan dan bukan pula akibat dosa. Tetapi hal penting adalah mau terbuka pada kehendak Tuhan kiranya Tuhan mempunyai rencana lebih indah bagi keluarga itu sebagaimana yang mereka alami. Pesan penting untuk bapak itu (suami) agar lebih sabar dan mengerti situasi istrinya. Ditemani, didengarkan tidak perlu dinasehati.
 
Pasangan itu menjadi lebih tenang dan nampak lega. Betapa rumit situasi terluka yang dihadapi ibu muda ini. Tentu nasehat bagus bisa menenangkan tetapi pergulatan tetap akan berlanjut.

Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, pergulatan Hana yang tidak mudah karena mendapatkan ejekan dan tekanan tetapi dia selalu berdoa dan berdoa.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Januari 2022

Renungan Harian
Minggu, 09 Januari 2022
Pesta Pembaptisan Tuhan

Bacaan I: Yes. 40: 1-5. 9-11
Bacaan II: Tit. 2: 11-14; 3: 4-7
Injil: Luk. 3: 15-16. 21-22

Rekonsiliasi

Ketika saya mengunjungi seorang bapak yang sedang sakit untuk memberikan sakramen orang sakit, saya mengatakan:
“Bapak, semangat ya, bapak harus semangat untuk sembuh. Ini, ibu dan putra-putri dan cucu semua ikut berdoa dan memohon agar bapak cepat sembuh. Mereka sungguh-sungguh mengharapkan bapak segera pulih seperti sedia kala.”

Bapak itu mengatakan: “Romo, terima kasih banyak.  Sesungguhnya ada satu hal yang masih mengganjal dalam diri saya. Anak perempuan saya, sudah sejak 5 tahun lalu sampai sekarang tidak pernah mau pulang untuk menengok kami. Dia telah memilih jalannya sendiri dan memilih meninggalkan kami.”

“Bapak dan ibu tidak punya kontaknya?” tanya saya.

“Dia beberapa kali masih telpon mamanya tetapi tidak pernah mau pulang.” Kata bapak itu.
 
“Romo, kalau mau dikatakan itu salah saya, memang salah saya. Tetapi sesungguhnya saya melakukan itu semua karena saya mencintai dia. Dia pacaran dengan anak laki-laki yang menurut kami tidak jelas. Anak laki-laki itu pernah ke sini, tetapi kami tidak suka. Penampilannya awut-awutan, badannya penuh tato, tidak tahu sopan santun, tidak sekolah dan tidak punya pekerjaan tetap. Saya melarang anak saya bergaul dengan laki-laki itu. Tetapi aneh bagi saya, dia justru membela mati-matian laki-laki itu dan bahkan rela meninggalkan kami. Karena dia sudah meninggalkan kami, saya hanya mengatakan ya sudah, hiduplah dengan pilihanmu. Kamu kalau pulang tetap bapak terima sebagai anak bapak, tetapi bapak tidak mau terima laki-laki itu. Dan sejak itu, anak saya tidak pernah  kembali.
 
Saya hanya tahu kabar dia lewat mamanya, dan saya tahu bahwa hidupnya susah. Saya sedih dan prihatin tetapi saya tidak tahu harus bagaimana. Saya selalu meminta mamanya untuk mengirim uang sekedarnya agar minimal dia tetapi bisa makan, tetapi saya tetap berat untuk menerima laki-laki itu,” bapak itu menjelaskan.

“Bapak, sekarang apa yang bapak harapkan?” tanya saya.

“Saya berharap anak saya mau kembali romo,” jawab bapak itu.

“Bapak, maaf, saya usul bapak mengalah, bapak terima laki-laki itu, toh sudah sekian lama mereka hidup bersama dan putri bapak amat mencintai laki-laki itu. Kiranya kalau bapak menerima mereka, bapak justru bisa mendapatkan putri bapak dan dapat memperbaiki laki-laki itu agar menjadi pantas untuk putri bapak,” kata saya.
 
Bapak itu menerima usul saya dan meminta saya untuk menghubungi putrinya. Pada hari yang kami sepakati putri bapak itu dan suaminya datang ke pastoran. Saya menjelaskan kepada mereka agar mereka mau dengan rendah hati meminta ampun karena bapaknya telah mengalahkan dirinya untuk mengampuni mereka. Mereka sungguh-sungguh menyesal dan selama ini mereka  menderita karena jauh dari keluarga. Saya mengantar mereka ke rumah keluarga mereka dan sungguh apa yang terjadi amat mengharukan. Hanya butuh waktu yang singkat keluarga itu nampak bahagia dan seolah tidak ada persoalan yang sekian lama terpendam. Bapak dan keluarga sungguh-sungguh mengampuni dan menerima putri serta suaminya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yesaya, pengampunan Allah memberi hidup dan harapan baru serta kebahagiaan bagi umat Israel. “Ia menggembalakan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya. Anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 Januari 2022

Renungan Harian
Sabtu, 08 Januari 2022

Bacaan I: 1 Yoh. 5: 14-21
Injil: Yoh. 3: 22-30

Rivalitas

Semua aktivis di paroki tahu bahwa dua orang bapak itu diam-diam selalu bersaing, padahal mereka berdua adalah teman baik. Tidak ada yang tahu persis apa yang membuat mereka berdua harus selalu bersaing. Beberapa orang yang telah mengenal mereka sejak mereka masih muda, merasa tidak aneh bahwa kedua orang itu selalu bersaing; karena sejak masih SMP mereka selalu bersaing.
 
Menurut mereka yang mengenal awalnya mereka selalu bersaing soal nilai dan aktivitas di sekolah. Kalau yang satu ikut kegiatan tertentu maka yang satu juga ikut kegiatan itu, kalau yang satu menjadi ketua salah satu kegiatan maka yang lain menjadi ketua kegiatan yang lainnya. Tentu semua bentuk persaingan itu dilihat oleh para guru sebagai hal yang positif, karena memacu mereka untuk selalu memberi yang terbaik. Nampaknya apa yang telah terjadi sejak mereka sekolah terbawa hingga saat ini.
 
Pada awalnya persaingan mereka tidak menjadi permasalahan, karena sebagaimana para guru sekolah mereka, umat melihat bahwa mereka ingin selalu terlibat. Dan dalam perjumpaan sehari-hari mereka tidak menunjukkan sikap yang saling berlawanan, mereka tetap bisa bekerja bareng dan juga dapat bercanda. Artinya meskipun mereka bersaing tetapi tidak menjadi permusuhan.
 
Akan tetapi tidak demikian dengan peristiwa pemilihan wakil ketua DPP. Ketika paroki mengadakan pemilihan wakil ketua DPP, sebagaimana biasa terjadi, panitia pemilihan meminta umat melalui lingkungan mengusulkan nama-nama yang dianggap mampu dan layak menjadi wakil ketua DPP. Dari nama-nama yang diusulkan oleh umat mengerucut pada ke dua nama bapak yang bersaing itu. Dari dua nama itu terpilih salah satu dari mereka.
 
Saat mengetahui bahwa dirinya tidak terpilih, bapak ini menjadi “ngambek” dan tidak mau lagi terlibat dalam kegiatan paroki. Dia hanya datang untuk ikut misa hari minggu dan selebihnya tidak. Dia merasa bahwa dirinya lebih pantas daripada temannya itu. Memang agak aneh dan kekanak-kanakan.
 
Ketika saya berkunjung ke rumahnya untuk menyapa, bapak itu mengungkapkan kekesalannya. Dia merasa diabaikan, merasa tidak dihargai perjuangan dan pengabdiannya selama ini dan masih banyak hal. Saya mengajak bapak itu untuk melihat sisi yang berbeda. Menjadi wakil ketua DPP bukan ukuran bahwa seseorang itu lebih hebat, karena semua itu adalah bentuk pelayanan. Ada banyak bidang pelayanan yang membutuhkan tenaganya dan kemampuannya. Dan kesuksesan bukan diukur dengan dirinya sebagai apa tetapi seberapa besar pemberian dirinya pada pelayanan. Dan yang penting adalah apakah dengan pelayanan yang dijalankan membuat dirinya semakin mengalami Tuhan atau tidak. Nampaknya apa yang saya katakan membuat dirinya menjadi sadar.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Yohanes Pembaptis memberikan teladan dalam hal pelayanan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Januari 2022

Renungan Harian
Jumat, 07 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 5: 5-13
Injil: Luk. 5: 12-16

Berlebihan

Beberapa tahun terakhir, sampai pendemi covid 19 melanda, setiap acara kelulusan Sekolah Menengah selalu ditandai dengan acara corat-coret baju dan konvoi sepeda motor oleh anak-anak sekolah yang dinyatakan lulus.
Mereka melakukan itu semua sebagai ungkapan kegembiraan setelah dinyatakan lulus.

Peristiwa seperti itu selalu menjadi berita yang mewarnai setiap acara kelulusan. Kegembiraan dengan melakukan aksi corat-coret dan konvoi yang dilakukan para siswa itu tidak jarang berakibat adanya aksi tawuran dan berbagai aksi negatif yang lain. Beberapa kali dihimbau bahkan dinyatakan dilarang oleh pemerintah, akan tetapi aksi itu tidak pernah surut, bahkan seolah menjadi tradisi sebuah acara kelulusan.
 
Sudah barang tentu mengungkapkan kegembiraan atas keberhasilan adalah hal yang baik dan sah. Akan tetapi kegiatan yang mungkin awalnya terjadi spontan dan sederhana akan tetapi lama kelamaan menjadi kegiatan yang dipersiapkan dan cenderung tidak terkontrol. Ungkapan kegembiraan yang sedianya sebagai ungkapan syukur dan ungkapan rasa bangga akan keberhasilan menjadi kehilangan makna syukur dan kebanggaannya. Kegiatan itu jatuh pada sebuah euphoria yang kiranya menjadi kehilangan makna syukur dan kegembiraannya.
 
Dalam peristiwa yang berbeda seringkali orang mengungkapkan kegembiraan dan syukurnya dengan cara yang berlebihan sehingga menghilangkan makna syukur dan kegembiraannya. Cara-cara yang digunakan sering kali membuat orang hanya sampai pada pengalaman kegembiraan sesaat dan tidak menemukan arti dari pengalaman syukur yang menghasilkan kegembiraan itu. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, kegembiraan orang kusta yang disembuhkan menjadikan dia lupa hal utama yang harus dilakukan sebagaimana perintah  menjadikan dia lupa hal utama yang harus dilakukan sebagaimana perintah Yesus. “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, dan persembahkanlah untuk pentahiran-mu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi Mereka.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Januari 2022

Renungan Harian
Kamis, 06 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 4:19 - 5:4
Injil: Luk 4:14-22a

Menggenapi

“Apa yang membuat kalian tertarik untuk membangun komunitas CLC di Singapur?” Saya bertanya pada rekan baru, dari Singapur, di pertemuan komunitas kami, yang saat itu diadakan di Taiwan.

Sambil berjalan santai menuju rumah makan, tempat kami semua diajak makan siang, dia menjawab
” Saya tidak tahu pasti, tapi buat saya pribadi, saat Calvin pindah dr Hong kong ke Singapur dan memperkenalkan cara hidup ber-CLC, rasanya……”
Ada jeda cukup panjang yg membuat saya menoleh dan melihat raut wajahnya. Raut wajah yang selalu santai dan tenang dari awal kami berjumpa, berubah serius dan tampak berpikir keras.

“…tampak menyeramkan.” Katanya melanjutkan

“Apa?! Maksudnya bagaimana? Menyeramkan seperti apa? Serius menyeramkan? Seperti bukan alasan yg tepat buat melanjutkan bukan?” Tanya saya menyelidik, sambil tertawa kecil.

” Nah disitu uniknya. Saat dijelaskan tentang CLC, kamu tahukan apa yang tertulis di Prinsip dan Norma Umum kita? Itu menyeramkan, terutama bagian Cara Hidup. Indah, tapi menyeramkan. Ada gambaran komunitas katolik yang ideal disana. Bersama dengan komunitas terus melanjutkan perkembangan Diri, mawas pada lingkungan sosial, baik spiritual maupun kemanusiaan, ekaristi dan hidup sakramental yang aktif, demikian juga dengan praktek doa dan latihan rohani, menyiapkan diri terlibat dan menjadi utusan, hidup sederhana. Tidak kah ini menyeramkan? Ya, ini semua indah didengar, tapi sangat menyeramkan, bagi saya setidaknya.” Dia tertawa, tampaknya karena melihat ekspresi saya yang bingung.

“Tapi saya rasa, kami melihatnya sebagai sebuah cita cita dan misi, dan karenanya kami ingin terus menghidupi komunitas kita. Tapi buat saya pribadi, saya masih tetap merasakan kegelisahan dan ketakutan, apakah saya sungguh bisa? Dan lebih parah lagi, dibeberapa titik saya merasa ditampar karena ada hal hal yg saya tidak kerjakan, dengan sadar menolak, dan seperti disudutkan.
Kalau saya tidak melihatnya sebagai proses pengolahan diri, maka saat itu juga, saya pasti keluar. Tapi karena ini adalah proses, saya rasa sangat layak untuk dicoba dan dilanjutkan. Tapi bukan hanya untuk kebaikan kita, ini juga untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar bukan?”
Jawabnya sambil tersenyum.

Saya hanya tertawa, dan tidak memberi respon apapun, karena kami sudah sampai di rumah makan, dan orang orang riuh mencari tempat dan mulai mempersiapkan jamuan makan siang.

Tapi obrolan singkat itu cukup berbekas. Setidaknya setelah acara makan siang hari itu, pernyataannya masih menggema dibenak saya. Sungguh tidak mudah menjalankan apa yang indah indah yang ada di GP/GN itu. Menyeramkan bila membayangkan cara hidup saya berseberangan dengan apa yang ditulis disana, tapi saya dengan lancang menyatakan diri hidup dalam Cara Hidup itu. Saya menyadari dengan kedalaman baru, mengapa Menyeramkan, mengapa hal itu jadi tidak mudah.

Mungkin demikian pula yang menghentak umat umat yang hadir di rumah ibadat, saat Yesus membacakan Kitab Nabi Yesaya. Ada pesan pesan indah, dan baik. Namun saat Yesus menyematkan kata kata
“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”
Ada kegembiraan dan sukacita akan penggenapan nas ini. Namun ada juga yg merasa tertampar, takut dan cemas akan kebenaran, yang disampaikan Yesus.

Membaca dokumen dan pernyataan pernyataan indah, beserta janji dan berbagai rencana, kadang membuat kita bahagia, namun menggenapi dokumen dan pernyataan pernyataan indah itu, butuh lebih dari sekedar kata Amin.
Ada usaha yang harus dilakukan, komitmen untuk mengerjakan, kesetiaan pada misi, dan terutama tindakan nyata.

Maka penggenapan adalah sebuah tantangan, sebuah upaya merealisasikan keindahan yang sebelumnya berbentuk kata, menjadi aksi nyata.
Menyeramkan? Bisa jadi.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Januari 2022

Renungan Harian
Rabu, 05 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 4:11-18
Injil: Mark. 6:45-52

Ma.ga.but

“Nggak ada orang yang gue pengen liat magabut (makan gaji buta), dan duduk manis, sambil tebar pesona, selain Lukman………” Seru seorang teman ditengah area outbound selepas semua aktifitas lapangan, dan disambut dengan gelak tawa kami; tim Fasilitator yang menemani proses Pelatihan yang menempatkan kegiatan outbound ditengahnya.

Lukman tersenyum dan melambai kepada semua anggota Tim dan peserta, disambut dengan tepuk tangan dan tawa geli peserta yang hadir. Kegiatan selama 3 hari itu membuat kami akrab dengan para peserta, dan guyonan seperti itu mudah dikenali dan diterima oleh semua.

Kami senang bila Lukman magabut, tidak mengerjakan apapun. Bukan berarti dia tidak bekerja, tapi karena akan lebih baik bila keahlian dan spesialisasinya tidak perlu diterapkan didalam kegiatan. Firman seorang Paramedis, dia hadir sebagai bagian dari tim, untuk menemani dan mengawasi para peserta dan tim, serta segera memberikan pertolongan bila ada yang cidera, sakit atau kecelakaan.
Kami sadar betul, bahwa kehadirannya penting, dan menjadi persyaratan, terutama tiap kali kegiatan pelatihan melibatkan aktifitas outbound.

Disisi lain, sebagai bagian dari fungsi fasilitasi, kami sadar bahwa rasa aman dan tidak khawatir, menjadi bagian penting yang perlu kami kendalikan dari para peserta, agar mereka bisa mengikuti kegiatan dengan baik, dan gembira. Kami sering mendapati, peserta menjadi lebih tenang dan yakin untuk mengikuti kegiatan, ketika mereka tahu, ada Paramedis bersama dengan mereka.

Bila ditelaah lebih dalam, Lukman tidak pernah benar benar magabut. Kehadiran dan kesiap siagaannya dirasakan dan memberi pengaruh yang besar pada semua anggota tim, dan peserta. Dia memberi tanda, mengingatkan, dan mengarahkan orang orang agar tetap mawas diri dan sekitar, saat sedang berkegiatan. Hal hal tersebut menanamkan rasa percaya dan aman pada para peserta.

Dalam hidup, kita tahu bahwa tidak mudah menghilangkan rasa takut dan menanamkan rasa aman, serta percaya dalam diri kita. Hanya saat kita sungguh kenal dan yakin sajalah, baru rasa aman dan percaya hadir. Dalam keseharian kita, kita tahu bahwa rasa aman dan percaya hanya ada saat kita sungguh mengenali kehadiran dan pemeliharaan-Nya.

Yang menjadi tantangan dan pertanyaan bagi kita adalah, apakah kita mampu mengenali, merasakan dan menemukan Tuhan yang hadir dalam setiap langkah kita? kehadiran yang memberikan rasa aman, dan Iman yang teguh? Atau kita termasuk yang bebal dan perlu berulang kali diberi tanda untuk merasakan kehadiranNya?

Seperti tertulis dalam injil hari ini, walau Tuhan sudah memberi banyak tanda, para murid masih juga perlu diingatkan “tenanglah! aku ini, jangan takut”.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Januari 2022

Renungan Harian
Selasa, 04 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 4:7-10
Injil: Mark. 6:34-44

K a s i h

Seolah ada manual khusus yang menentukan, bahwa Natal identik dengan perayaan dan pesta. Tak terkecuali di Lingkungan tempat saya tinggal dulu. Selepas hari Natal, pengurus lingkungan akan bergegas mencari waktu terdekat, untuk menyelenggarakan acara Natalan.

Ini jadi moment yang banyak ditunggu. Walau acara dan agendanya dari tahun ke tahun tidak banyak berubah, namun selalu ada kerinduan untuk menyelenggarakannya. Misa lingkungan, makan bersama, tukar kado dan ngobrol-ngobrol, “hang-out” sampai puas.

Untuk acara makan, umat lingkungan diajak untuk Boltram (potluck), membawa sajian untuk disantap bersama saat acara makan. Tak ada ketentuan, semua bersifat sukarela.

Ketika umat datang dan bersiap untuk misa, mereka biasanya mengumpulkan makanan-makanan pada panitia atau tuan rumah, dan tuan rumah menata dan menyajikan di meja panjang, tempat semua makanan, minuman dan kue berkumpul. Semua makanan disajikan, dan tidak jarang kami jadi bingung menyantapnya, karena menu terlalu beragam.

Tapi ditengah keragaman itu, ada beberapa menu yang jadi favorit dan ditunggu, umat tahu ada menu-menu andalan dari orang tertentu yang sungguh nikmat dan akan muncul di saat-saat perayaan. Tentunya menu tersebut berpotensi habis lebih dulu dari yang lain, karenanya, tuan rumah dan panitia akan mengatur distribusi menu menu tersebut, bahkan menyimpan sebagian untuk menghindari umat yg berinisiatif membungkus menu tersebut sebelum semua umat yang hadir terbagi, dan acara selesai.
Selalu bersyukur saat acara selesai dengan semua sajian habis dan semua orang senang.

Acara Boltram’an sejatinya bukan soal kompetisi kecakapan memasak, bukan juga soal kuantitas makanan yang dibawa. Boltram adalah sebuah ajakan untuk berbagi dan menerima. Kerelaan untuk berbagi dan menerima hanya ada saat orang orang yang terlibat memiliki kasih, kepercayaan dan kebersamaan.

Tentunya dalam acara boltram, sering juga kita mendapati orang-orang yang enggan terlibat, dan hanya mengambil tanpa memberi. Apakah itu membuat kita kesal? Tentu saja bisa, tapi dengan bekal kasih, kepercayaan dan kebersamaan, hal tersebut hanyalah masalah waktu, menanti sampai setiap dari mereka terlibat dan mampu untuk memberi, bukan sekedar menerima. Disini kita dapat memahami bahwa proses boltram, adalah proses membina kasih, kepercayaan dan kebersamaan kita.

Bila Boltram adalah kehidupan, sudah menjadi orang seperti apakah kita? Yang tidak mau terlibat? Yang terlibat namun seadanya? Yang terlibat dan secara khusus mempersiapkan menu sebaik mungkin? Yang terlibat dengan perhitungan untung rugi, dan siap dengan plastik untuk bungkus habis? Atau kita pernah menjadi semua itu?

Seperti tertulis dalam Injil hari ini, kerumunan orang dan keterbatasan diri adalah ujian bagi para rasul, masihkah ada kesediaan untuk berbagi pada sesama? Dan keajaiban hadir, saat ada yang memulai untuk berbagi, memberi, kasih.

Greg Tjai

Renungan Harian : 3 Januari 2022

Renungan Harian
Senin 03 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 3: 22-4: 6
Injil: Mat. 4: 12-17. 23-25

M a r a h

“Romo, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Teman-teman saya selalu menganggap bahwa saya ini tukang marah dan selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak. Saya marah itu bukan tanpa sebab, tetapi saya marah karena ada hal-hal yang menurut saya tidak pada tempatnya. Saya mengeluarkan kata-kata yang tidak enak karena saya berusaha jujur, mengungkapkan kebenaran; saya tidak mau basa-basi.

Saya tahu romo, bahwa saat saya marah atau mengeluarkan kata-kata yang tidak enak itu melukai orang lain; dan saya menyesal sesudahnya. Beberapa kali saya mencoba untuk diam dalam pertemuan atau perjumpaan dengan teman-teman, agar saya tidak marah atau mengeluarkan kata-kata yang tidak enak. Tetapi sikap saya ini malah dianggap aneh oleh teman-teman saya, maka saya jadi bingung, saya harus bagaimana,” seorang bapak berkeluh kesah.
 
“Bapak, kiranya baik kalau Bapak mengecek dan meneliti apakah benar dorongan saya untuk marah sungguh-sungguh karena ada ketidak beresan? Atau ada dorongan lain. Demikian juga ketika Bapak melontarkan kata-kata yang tidak enak apakah sungguh-sungguh karena kejujuran atau ada dorongan lain?

Misalnya ada dorongan berdasar ketidak sukaan Bapak dengan orang tertentu atau ada keinginan untuk menjatuhkan seseorang. Bapak tidak harus menjawab sekarang tetapi Bapak perlu mengambil waktu untuk meneliti ini,” jawab saya.
 
Beberapa minggu kemudian bapak itu datang lagi.
“Romo, saya sadar bahwa saya ini orang yang perfeksionis dan dalam diri saya ada dorongan bahwa saya harus menjadi yang utama. Saya tidak senang atau lebih tepatnya tidak nyaman kalau ada orang lain yang menjadi lebih utama dari pada saya.

Saya melakukan banyak hal, pertama-tama bukan demi orang lain tetapi agar saya mendapat pengakuan bahwa saya baik, saya hebat. Apakah karena ini Romo, sehingga saya menjadi seperti ini?” cerita bapak itu.

“Bapak, saya tidak dapat memastikan bahwa benar karena ini atau itu. Justru kesadaran yang ada ini diuji lagi, diteliti lagi apakah semua hal yang Bapak sadari itu yang memunculkan hal-hal yang Bapak tidak sukai dalam diri Bapak. Ambilah waktu barang 15 menit sebelum tidur untuk memeriksa batin. Untuk meneliti dorongan-dorongan yang ada, untuk meneliti keputusan-keputusan yang diambil dan untuk meneliti akibat dari keputusan itu. Dengan demikian kita akan semakin menyadari mana dorongan dari roh baik dan mana dorongan dari roh jahat. Semua diuji dan diteliti dalam pengalaman,” jawab saya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Yohanes: “Janganlah setiap roh kamu percayai, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Januari 2022

Renungan Harian
Minggu, 02 Januari 2022
HR. Penampakan Tuhan; Hari Anak Misioner Sedunia

Bacaan I: Yes: 60:1-6
Bacaan II: Ef.3:2-3a,5-6
Injil: Mat.2:1-12

Menjadi terang

“Mas, kayaknya harus ada yang bilang ke Tius deh, untuk tidak perlu terlalu excited dan share kemana-mana soal peran dia sebagai Lead Facilitator di project kemarin.” seorang rekan menyampaikan sebuah keluhan ditempat kerja kami.

“Loh emangnya kenapa?” Tanya saya bingung

“Iya itu mas, dia tulis dan share di profil dia, disemua aplikasi, belum lagi jadi obrolan di komunitas. Dia cerita pengalaman, dan hasil kerjanya, dan ini udah mulai ada omongan omongan miring nih mas tentang dia. Ada yg bilang sok’banget, sombong, lebay dan mulai bertanya pada saya soal kebenarannya” paparnya.

“Saya juga lihat sih soal postingan Tius, tapi sejauh yang saya baca, itu adalah sebuah kebanggaan dan pencapaian sih. Tidak terlalu berlebihanlah, apalagi itu memang pencapaian yg luar biasa loh.

Dan itu kerja keras yg luar biasa juga. Saat kegiatan, nggak sehari dua hari loh aku liat dia kerja sampai larut malam, dan ada yg sampai tidur pagi, untuk memastikan rancangan selama setahun ini dapat dieksekusi dengan sebaiknya. Dan klient puas, itu yg saya tahu pasti.

Memang godaan menjadi sombong sangat mungkin terjadi, dan baik bila kita saling mengingatkan, tapi ini saya rasa belum ‘de, bahkan saya ingin kalian semua merasa bangga pada hasil kerja kalian, tidak perlu menutup nutupi karena merasa takut dibilang sombong, wong itu pencapaian yg layak diapresiasi.

Ini bisa jadi inspirasi dan di contoh olah banyak rekan lainnya. Banyak pelajaran baru dari project itu de.

Soal peran kalian, Kalian boleh kok menuliskan itu di CV dan biosketch kalian, seperti yang Tius lakukan, karena memang layak.” Saya menjelaskan

Apa yang kita rasakan saat kita melihat sebuah keberhasilan dan pencapaian yang diperoleh orang lain? Mereka yang berhasil, banyak memberi contoh dan pembelajaran, dan dari upaya serta kerja keras mereka, kita layak memberi apresiasi. Bukan gosip, caci dan kritik, karena itu berpotensi membuat kepercayaan diri mati.

Kita dapat belajar dari kepahitan usaha, dan manisnya pencapaian mereka. Mereka membawa terang, untuk banyak orang setelah mereka. Karena dari terang yang mereka bawa, muncul target baru dan pencapaian pencapaian baik lainnya.
Kadang terang terlalu menyilaukan dan mengganggu saat diumbar berlebih, atau sesederhana mengganggu mereka yg terlalu lama ada dalam gelap, maka bijaklah menjadi terang dan menerima terang. Bersyukurlah, bersukacitalah dalam Tuhan.

Seperti tertulis dalam Injil Matius, “ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka”. Mari bersukacita melihat dan menerima Sang Terang.

Akankah kita silau dan menghindar melihat Terang Tuhan? Atau menerimanya, dan menjadi bagian dari terangNya?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.