Renungan Harian: 13 Juli 2021

Renungan Harian
Selasa, 13 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 2: 1-15a
Injil: Mat. 11: 20-24

Penjudi

Suatu sore  saat saya diajak salah seorang teman untuk ngobrol di sebuah café, tak sengaja bertemu seorang teman lama kami. Kami sudah lama tidak pernah bertemu. Kami berdua tahu persis bahwa teman lama kami ini dulu seorang penjudi. Dia orang yang pandai dan punya banyak bakat, tetapi karena hobinya berjudi, dia tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah menengah. Dulu, kalau bertemu, dia selalu kelihatan lusuh, dan kurang tidur. Setiap kali bertemu dia akan selalu bilang pinjam uang untuk modal judi. Maka sering kali kami menghindari dia, karena tidak mau terlibat dalam pinjam meminjam uang dengan dia.
Kali ini penampilan dia jauh berbeda. Dia berpakaian rapi, dan kelihatan segar. Kami berdua senang melihat perubahan dalam dirinya. Kami berdua berpikir bahwa dia sekarang sudah bertobat dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
 
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba teman lama kami itu mengundang kami ke rumahnya, dan agak sedikit memaksa. Karena tidak enak dengannya maka kami memutuskan untuk singgah di rumahnya. Sampai di rumahnya kami agak terkejut dan bersyukur, melihat rumah dia. Rumah cukup besar, bagus dan indah, serta nampak perabot-perabot yang bagus. Kami ngobrol di ruang keluarga tempat dia biasa bersantai. Kami ngobrol kenangan akan dia di masa lalu yang selalu berpenampilan “gembel”.

“Wah, hebat kamu   sekarang, sudah mapan dan sudah bertobat. Begitu dong, hidup lebih baik jangan jadi penjudi aja,” kata teman saya.

Teman lama saya tertawa dan menjawab: “Kamu pikir semua ini hasil saya kerja apa? Ini semua hasil judi. Sekarang judi sudah menjadi pekerjaan saya. Tetapi bukan judi “gembel” lagi.”
 
Kami berdua terkejut mendengar jawabannya. “Jadi kamu sekarang masih judi kerjaannya, cuma sekarang naik kelas?” tanya saya.

“ya begitulah. Aku membuktikan pada semua, kalau judi itu bisa membuat orang hidup mapan,” jawabnya.

“Sik, sik (sebentar), kamu jangan begitu. Kalau sekarang kamu mendapat rezeki yang luar biasa dari judi seharusnya membuat kamu itu sadar, kalau Gusti itu sayang banget dengan dirimu. Dan ini menjadi peringatan agar kamu berhenti, Gusti sudah memberikan bekal untuk dirimu berhenti berjudi,” kata temanku.

Teman lama saya itu tertawa lepas sambil menjawab:
“Yen aku mertobat, teneh wit biyen-biyen jaman dadi kere. (andai saya bisa bertobat ya sudah dari dulu waktu saya  masih jadi kere).”
 
Obrolan kami terhenti karena asisten rumah tangganya menghidangkan jajan pasar kesukaan kami bertiga sejak dulu. Setelah kami ngobrol kesana kemari dan bercanda, kami berdua pamit pulang karena memang hari sudah malam.
 
Kurang lebih setahun kemudian sejak kami bertemu dengan teman lama kami, teman lama kami sekarang tinggal di kampung dalam keadaan sakit sedang hartanya sudah habis untuk judi. Sekarang untuk biaya pengobatan, dia dibantu oleh teman-teman. Dalam hati saya berkata: “andai dia mau mendengarkan apa yang dikatakan teman saya waktu itu, mungkin tidak akan begini.” Tetapi itu semua hanya berandai-andai karena kenyataannya beda.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus mengkritik orang-orang Betsaida, Khorazim yang meskipun melihat tanda yang menghantar pada pertobatan, mereka tidak pernah bertobat. “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”
 
Bagaimana dengan aku? Maukah  aku bertobat?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Juli 2021

Renungan Harian
Senin, 12 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 1: 8-14. 22
Injil: Mat. 10: 34-11: 1

Prinsip Hidup

Pada suatu sore, ketika saya sedang duduk ngopi dengan beberapa teman di halaman gereja, datang anak muda yang saya belum pernah melihat. Anak itu perawakannya kurus, tinggi, bersih meski pakaiannya agak lusuh. Melihat anak itu kumpul dengan teman-teman mudanya saya bertanya pada teman yang duduk bersama dengan saya: “Siapa itu anak muda yang baru datang, kok saya rasanya belum pernah lihat?”.

“Oh itu anak baru romo, dia baru pindah kerja di sini, jadi buruh pabrik,” jawab salah satu teman.

“Oh pantes kok saya  merasa belum pernah lihat,” kata saya.
 
“Romo, denger ceritanya saya kasihan. Waktu itu dia diantar salah satu anak OMK ke rumah untuk mendaftar sebagai warga. Dia asli dari kota besar. dia kabur dari rumah dan kerja di jadi buruh pabrik di kota sebelah, tetapi kemudian pindah ke sini,” kata teman yang juga menjadi ketua lingkungan.

“Waduh kabur, sudah diajak bicara kenapa dia kabur, dan bisa menghubungi keluarganya?” tanya saya.
 
“Sudah mo, saya sudah telepon orang tuanya dan mereka nitip tolong diawasi. Dia itu kabur dari rumah karena beda prinsip dengan orang tuanya. Orang tuanya itu seorang pengusaha, untuk memuluskan usahanya “nyogok sana, nyogok sini”. Suatu ketika anak ini tahu kalau bapaknya melakukan hal itu dan menurut anak itu mengambil keuntungan yang tidak semestinya, anak itu protes ke bapaknya. Dia di kampusnya salah satu aktivis anti korupsi, maka melihat bapaknya melakukan itu dia protes. Di protes, bapaknya tersinggung dan marah.  Bapaknya mengatakan bahwa selama ini dia hidup dengan uang itu, kalau gak mau yang silahkan pergi cari sendiri uang yang menurut dia halal. Jadi sejak itu dia kabur,” teman saya menjelaskan.
 
“Wah, gila luar biasa ya, dia berani meninggalkan segala fasilitas dan kenyamanan demi menghidupi kebenaran yang dia pilih. Hebat, hebat anak muda luar biasa. Saya gak kebayang kalau saya jadi dia apakah saya berani mengambil keputusan seperti dia,” kata saya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus datang tidak membawa damai melainkan pedang. Maksudnya adalah seseorang bisa berselisih karena pilihan hidup. “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
 
Bagaimana dengan aku? Beranikan aku menghidupi pilihan akan kebenaran dengan segala resikonya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 Juli 2021

Renungan Harian
Minggu, 11 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XV

Bacaan I: Am. 7: 12-15
Bacaan II: Ef. 1: 3-4
Injil: Mrk. 6: 7-13

Hartaku

Beberapa Minggu yang lalu, sebagian besar imam diosesan Keuskupan Bandung menerima Surat Keputusan tentang Perutusan baru. Hampir semua dari kami yang menerima perutusan baru berpindah tempat perutusan kecuali saya yang hanya bertukar tanggung jawab. Melihat rekan imam yang berpindah tempat, saya membayangkan kembali ketika saya mendapatkan perutusan di tempat yang baru. Saya mengingat kembali apa yang saya lakukan ketika menerima perutusan di tempat yang baru.
 
Saat saya mengingat-ingat apa yang menyita waktu dan tenaga saya ternyata bukan soal memahami perutusan baru yang saya terima tetapi packing barang-barang yang akan saya bawa pindah. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk membereskan barang-barang saya. Itu baru soal packing, belum lagi saya memikirkan bagaimana saya membawa barang-barang itu ke tempat yang baru.
 
Memang untuk menjalani perutusan di tempat baru, diberi waktu beberapa hari untuk membereskan barang-barang dan segala sesuatu berkaitan dengan perpindahan. Saya bertanya pada diriku sendiri: “Seandainya aku ditugaskan di tempat baru dan besok harus berangkat apa yang aku aku lakukan? Apakah aku berani untuk segera pergi tanpa berpikir harus membawa barang ini dan itu? Sebenarnya lebih tepat aku bertanya apakah aku merelakan untuk meninggalkan barang-barangku?” Dulu saya selalu ngomong kalau saya diminta pindah, saya hanya butuh waktu sehari untuk membereskan barang dan pergi. Ternyata itu belum pernah terjadi.
 
Saya melihat betapa memprihatinkan diriku berhadapan dengan perutusan baru. Aku selalu berpikir bahwa diriku menjadi orang yang taat, mudah dan terbuka untuk diutus kemanapun serta lepas bebas, bila menerima perutusan. Barang-barangku ternyata bisa menjadi hambatanku untuk lepas bebas menerima perutusan. Sampai saat  saya merenungkan hal ini, dalam hati saya masih berat dengan barang-barang untuk begitu saja dilepaskan meskipun saya sadar bahwa itu menghabatku untuk lepas bebas. Dalam hati aku masih berkata: “Suatu saat aku membutuhkan barang-barang itu.”
 
Sabda Tuhan hari ini menegur saya agar saya bersikap lepas bebas, dan sungguh-sungguh bergantung pada penyelenggaraan ilahi. Ketika menerima perutusan baru seharusnya sibuk menyiapkan diri dan berpantas diri untuk menjalankan perutusan baru, sedang hal-hal lain serahkan pada Dia yang telah memberikan perutusan. “Ia berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang; mereka boleh memakai alas kaki, tetapi tidak boleh  memakai dua baju.”
 
Tuhan bantulah orang yang telah Kau pilih ini. “Berilah Cinta dan rahmatMu cukup sudah itu bagiku.”
 
Iwan Roes RD.
Refleksi kecil atas 19 th. Imamat.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Juli 2021

Renungan Harian
Sabtu, 10 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 49: 29-32; 50: 15-26a
Injil: Mat. 10: 24-33

Menanamkan Kebiasaan

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi dengan keluarga seorang teman untuk sebuah acara. Dalam perjalanan itu, teman saya menyetir mobil, saya duduk di sebelahnya, sedang istri dan anak-anaknya ada di belakang. Dalam perjalanan anak-anak ramai bercerita dan berceloteh banyak hal. Kemudian teman saya mengingatkan anaknya untuk bertanya ke saya beberapa hal berkaitan dengan Kitab Suci yang anak-anaknya tanyakan kepada orang tuanya dan mereka tidak puas mendapatkan jawabnya. Maka dalam mobil terjadi percakapan tentang Kitab Suci, dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup mendalam. Saya agak kesulitan menjelaskan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh mereka.
 
Kira-kira setengah perjalanan, anak-anak mulai hening dan ketika saya menengok ke belakang ternyata mereka sudah tertidur. Maka kami berdua yang banyak ngobrol tentang keprihatinan terhadap Gereja. Menarik pembicaraan kami, karena teman saya tidak hanya menyampaikan keprihatinan tetapi juga mengusulkan solusi serta menyatakan kesediaannya untuk membantu. Tak berapa lama handphone saya bergetar alarm saatnya doa angelus tengah hari. Karena saya tidak ingin mengganggu teman saya maka saya berdoa sendiri dalam hati.
 
Selang beberapa saat salah satu anaknya kecil terbangun dan setengah terkejut berkata:
“Pa, kita belum doa angelus ya, aduh ketiduran, sekarang jam berapa?”

“Belum nak, sekarang sudah jam 12.15,” jawab bapaknya. “Bangun-bangun yuk kita doa, kita belum doa angelus,” anak itu membangunkan kakak dan adiknya. Kemudian anak itu memimpin kami doa angelus. Setelah doa anak itu tidur lagi.
 
“Wow,” kata saya dalam hati. Anak yang sedang tidur terbangun dan spontan bertanya soal doa angelus. Memang halnya sederhana soal doa angelus, kiranya kalaupun dia tetap tidur juga tidak menimbulkan dosa apapun. Namun apa yang terjadi bagi saya merupakan bentuk kesaksian luar biasa. Anak itu menunjukkan bahwa doa angelus sudah merupakan kebiasaan yang selalu dia jalankan bersama dengan keluarganya. Menurut saya, kiranya dimanapun anak itu menjalankan doa angelus.
 
Salah satu kebiasaan yang ditanamkan orang tua kepada anaknya menjadikan anaknya terbiasa melakukan apa yang baik. Apa yang dilakukan menjadi kesaksian akan apa yang selalu dilakukan. Bagi saya seseorang tidak mudah begitu saja memberi kesaksian akan imannya kalau tidak pernah ditanamkan dan dibiasakan. Pada awalnya tentu melalui hal-hal amat sederhana dalam memberi kesaksian. Namun pada saatnya hidupnya sendiri akan menjadi kesaksian iman bagi orang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini: “Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-KU yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga.”
 
Bagaimana dengan aku? Akan aku dengan mudah memberi kesaksian akan imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Juli 2021

Renungan Harian
Jum’at 09 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 46: 1-7. 28-30
Injil: Mat. 10: 16-23.

Bahagia Penuh Syukur

Suatu sore, ketika saya sedang liburan di rumah, saya ngobrol dengan bapak. Saat itu bapak duduk di kursi dan saya duduk di lantai sambil melihat televisi. Saya bertanya: “Bapak, kalau sekarang bapak melihat kami, anak-anak dan apa yang telah kita terima serta alami, apa yang bapak masih inginkan? Kalau masih ada yang bapak inginkan kiranya kami bisa memenuhinya.” (semua percakapan dengan bapak, saya lakukan dengan bahasa jawa kromo madyo). “Wah, bapak sekarang ini selalu bersyukur dan bersyukur. Bapak amat bahagia dengan apa yang bapak lihat dalam diri kalian dan apa yang sudah bapak alami. Bapak sudah tidak ingin apa-apa lagi, bapak sudah amat bahagia dan bersyukur dengan semua ini,” jawab bapak. “Bapak tidak ingin jalan-jalan atau membeli sesuatu atau apa?” tanyaku mendesak. “Tidak, semua sudah cukup, bapak sudah bersyukur dan bahagia dengan semua yang ada,” jawab bapak menegaskan. “Kalau masih boleh mohon bapak ingin nanti kalau bapak seda (meninggal) nunggu adik (adik paling kecil) sudah pensiun,” tambah bapak sambil menerawang.
 
Setelah lewat pembicaraan panjang diantara kami anak-anak, saya dengan kedua adik saya, akhirnya adik paling kecil memutuskan untuk pensiun dini agar bisa menemani bapak.

Saat adik sudah pensiun dan tinggal di rumah menemani bapak, bapak nampak jauh lebih segar dan bahagia. Suatu ketika saya mampir untuk menengok bapak, bapak berkata sambil berbisik:

“bapak sekarang sudah amat bahagia dan tidak menginginkan apa-apa lagi. Kalau sewaktu-waktu Tuhan memanggil, bapak sudah siap.”
 
Kira-kira dua bulan sejak adik pensiun, suatu pagi saya mendapat kabar dari adik kalau bapak tiba-tiba merasa dadanya sesak dan keringat dingin mengalir deras. Adik segera membawa bapak ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Mendengar berita itu saya segera pulang, dalam hati saya sempat terbersit mungkin ini saatnya bapak berpulang. Saat kami bertemu bapak di ICU rumah sakit bersama dengan adik-adik, bapak kelihatan segar meski harus memakai oksigen dan beberapa alat untuk memantau jantungnya.

Kami tertawa-tawa senang dan bahagia. Sampai kami ditegur dokter, dan diminta keluar karena bapak harus istirahat tidak boleh terlalu banyak tertawa.
 
Sebelum meninggalkan ruang ICU saya menawarkan memberi sakramen pengurapan orang sakit, bapak dengan senang hati dan siap untuk menerimanya. Kami mengadakan ibadat pengurapan orang sakit dan kami keluar. Dini hari kami dihubungi suster perawat bahwa bapak anfal dan kami berdoa bersama. Tak berapa lama baik membaik lagi. Saat saya sedang merayakan ekaristi pagi di biara, begitu selesai diminta segera ke rumah sakit. Dan ketika sampai di ICU saya melihat bahwa bapak sudah pergi. Adik bercerita bapak sesaat setelah saya pergi untuk misa, bapak anfal lagi dan adik berdoa rosario, dan menurut adik bapak masih bereaksi untuk ikut berdoa. Selesai berdoa rosario bapak menarik nafas panjang dan pergi.
 
Kami tentu sedih kehilangan bapak, tetapi kami bersyukur bisa menghantar bapak kembali kepada Allah dan Bapanya dalam suasana bahagia. Bapak sudah amat bahagia dan bersyukur sehingga bapak “pulang” dengan bahagia. Saya membayangkan betapa bahagia boleh “pulang” seperti itu.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, kebahagiaan dan syukur Yakub bertemu dengan Yusuf sehingga sudah tidak menginginkan apa-apa lagi dan siap bila Tuhan memanggilnya. “Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 Juli 2021

Renungan Harian
Kamis, 08 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 44: 18-21. 23b-29; 45:  1-5
Injil: Mat. 10: 7-15

Cara Tuhan Menuntun

Suatu sore, saya kedatangan tamu, seorang bapak yang ingin berkonsultasi. Bapak itu memperkenal diri bahwa dirinya berasal dari luar kota dan sebenarnya dirinya orang beragama katolik namun sudah hampir 30 tahun meninggalkan Gereja.

Setelah memperkenalkan dirinya dan berbasa-basi sejenak bapak itu mulai bercerita.
 
“Romo, saya lahir dan besar sebagai orang katolik dan bertumbuh dalam keluarga katolik. Sejak kecil saya sudah aktif dalam kehidupan menggereja; saya ikut menjadi misdinar, saya aktif di mudika. Saat itu kegiatan saya banyak di gereja. Demikian juga ketika saya kuliah saya aktif bahkan menjadi ketua KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Perjalanan saya menjadi berbelok ketika saya bekerja. Saya jatuh cinta dengan teman kerja yang beragama lain. Pada waktu itu keluarga sudah mengingatkan, tetapi saya merasa bahwa saya tidak akan meninggalkan iman saya.
 
Dalam perjalanan, ketika kami mulai serius akan melanjutkan hubungan kami ke jenjang perkawinan keluarga pacar saya menuntut agar saya ikut agama pacar saya. Romo, waktu itu saya tidak berpikir panjang, karena saya tidak mau kehilangan dia maka saya setuju. Maka terjadilah saya menikah menurut agama istri dan mengikuti keyakinannya. Keluarga amat marah dan tidak mau datang pada waktu perkawinan kami. Kira-kira setelah lahir anak ke dua keluarga baru bisa menerima kami.
 
Romo, hidup berkeluarga kami baik-baik dan bahagia, namun dalam hidup beragama saya sungguh mengalami kesulitan. Selama ini saya ikut ibadah berdoa dengan keyakinan baru saya, namun saya tidak menemukan rasanya, saya  selalu merasa tidak berdoa dan belum menemukan sesuatu yang saya cari. Saya selalu gelisah dan merasa bahwa bukan ini yang seharusnya aku jalani dalam hubungan saya dengan Tuhan. Romo, apakah masih mungkin bagi saya untuk kembali ke Gereja Katolik,” bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
“Bapak, Tuhan maha cinta dan maha rahim maka akan selalu terbuka untuk menerima. Nah, langkah yang harus ditempuh adalah membereskan perkawinan bapak dalam Gereja Katolik. Oleh karenanya bapak berbicara dengan istri apakah mengijinkan bapak untuk kembali ke Gereja Katolik, dan bersedia juga kalau perkawinannya dibereskan dalam Gereja,” saya menjelaskan.

“Baik romo, saya akan bicara dengan istri saya, mohon doa ya romo, agar istri saya merelakan,” bapak itu menjawab.
 
Dua minggu kemudian bapak itu datang lagi menyampaikan kabar gembira bahwa istri dan anak-anaknya setuju dan merelakan kalau bapak itu kembali menjadi katolik. Bahkan istrinya mau kalau perkawinannya dibereskan dalam Gereja Katolik, bahkan anak-anaknya mau datang untuk melihat saat perkawinannya dibereskan. “Romo, ini mukjizat besar bagi saya. Saya butuh cari waktu untuk bicara dengan istri, saya khawatir kalau pembicaraan ini menjadi sumber keretakan keluarga saya. Tetapi ternyata ketika saya bicara, istri saya bisa menerima dengan lapang dan bahkan mendukung. Romo, saya merasakan bagaimana cara Tuhan menuntun saya. Saya yang tidak tahu harus bagaimana  dan hanya bisa pasrah sembari berusaha semampu saya,” bapak itu mengungkapkan kegembiraannya.
 
Tuhan selalu punya cara untuk menyelamatkan umatnya, sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Kejadian, Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya menjadi sarana untuk menyelamat keluarga Israel dari bahaya kelaparan. “Tetapi sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kalian menjual aku ke sini, sebab demi keselamatan hidup kalianlah Allah menyuruh aku mendahului kalian ke Mesir.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku melihat pengalaman penderitaan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Juli 2021

Renungan Harian
Rabu, 07 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 41: 55-57; 42: 5-7a. 17-24a.
Injil: Mat. 10: 1-7

Komunitas Belarasa

Beberapa hari lalu di group whatsapp teman-teman alumni seminari Mertoyudan, ada yang menyampaikan berita bahwa ada seorang ibu dengan anak-anak yang terpapar covid 19 dan harus isolasi mandiri. Namun ibu itu belum dapat perhatian dari pemerintah setempat dan keadaannya cukup memprihatinkan.

Berita yang diunggah oleh seorang teman itu segera mendapatkan tanggapan dari teman-teman untuk membantu keluarga tersebut agar kebutuhannya selama isolasi mandiri dapat terpenuhi. Selain itu ada yang mengusahakan untuk melaporkan ke lingkungan setempat agar mendapatkan bantuan pemerintah. Beberapa saat kemudian teman mengunggah bahwa bantuan sudah disampaikan dan beberapa hari kemudian bantuan dari pemerintah didapatkannya.
 
Pengalaman lain terjadi juga di group whatsapp teman-teman paguyuban sesawi. Ketika ada keluarga yang mengalami kesulitan karena harus isolasi mandiri sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan harian, teman-teman segera menawarkan bentuk perhatian. Banyak teman yang dengan segera menyediakan diri untuk membantu, bahkan dibuatkan daftar agar setiap hari ada yang menyediakan bantuan. Ada teman yang menyediakan diri untuk menjadi penghubung dan juga ada yang selalu mengontak untuk memantau kondisi dan memberikan peneguhan.
 
Sungguh karya yang luar biasa. Bukan hanya soal bantuan tetapi lebih dari itu keterbukaan dan kemurahan hati yang mengalir sehingga menjadi mudah digerakkan oleh belas kasih. Kiranya dua komunitas yang saya sebut hanyalah sedikit dari banyak komunitas maupun pribadi yang melakukan hal yang sama atau lebih. Intinya adalah adanya gerak-gerakan belas kasih yang mengalir dan berlimpah. Apa yang dilakukan oleh teman-teman menjadi bentuk bunga harapan yang mekar di zaman yang penuh dengan memuja kepentingan sendiri. Di tengah banyak orang yang mencari keuntungan dari situasi yang sulit ini, karya-karya belas kasih menawarkan cahaya pada dunia yang mulai remang-remang.
 
Melihat semua karya-karya ini menyadarkan saya, inilah salah satu cara baru mewartakan Kerajaan Allah di masa-masa sulit ini. Membangun komunitas bela rasa agar banyak orang semakin terbantu sehingga mereka yang mengalami kesulitan tidak pernah kehilangan harapan. Mewartakan Kerajaan Allah adalah mewartakan harapan, dan situasi sekarang ini mewartakan harapan melalui komunitas bela rasa menjadi kebutuhan mendesak dan bentuk pewartaan konkrit.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini, sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus menunjuk 12 orang yang kemudian kita kenal sebagai 12 rasul untuk mewartakan Kerajaan Allah. “Pergilah dan wartakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mudah tergerak oleh belas kasih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Juli 2021

Renungan Harian
Selasa, 06 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 32: 22-32
Injil: Mat. 9: 32-38

Gamang dalam Pelayanan

Suatu sore saya mendapatkan telpon bahwa ada seorang umat yang meminta pemberkatan jenazah untuk kerabatnya. Saya bertanya: “dimana jenazah disemayamkan dan kapan rencana diadakan upacara pemberkatan jenazah.” Namun yang menghubungi saya belum bisa menjawab dan berjanji akan menghubungi kembali. Kemudian saya bertanya kepada beberapa orang yang mengenal almarhum soal sakit almarhum. Dari beberapa orang tidak jelas dengan sakit beliau, namun kemudian dapat konfirmasi bahwa beliau terpapar virus covid 19. Mendengar itu saya amat sedih, karena untuk kesekian kali umat di paroki tempat saya menjalani perutusan meninggal karena terpapar covid. Hal yang membuat lebih sedih karena saya tidak bisa melayani upacara pemberkatan jenazah, mengingat kelemahan tubuh saya dan pada saat itu sudah tidak tersedia APD lagi.
 
Belum selesai dengan umat yang meninggal ini, berturut-turut saya menerima telepon bahwa ada lagi umat yang meninggal karena terpapar virus covid 19. Sungguh ada perasaan sedih dan seram karena virus ini cepat sekali memakan korban. Saya termenung dan sedih karena sudah beberapa hari mencari APD belum menemukan, sementara permintaan untuk pelayanan sakramen maupun pemberkatan jenazah yang terpapar covid semakin banyak. Ada sementara orang yang mengatakan sebetulnya kalau jenazah sudah di dalam peti dan peti sudah dibungkus sudah tidak ada virus yang menularkan. Namun demikian prosedur kesehatan yang dituntut adalah pelayan tetap harus menggunakan APD yang lengkap.
 
Berhadapan dengan situasi itu, saya hanya bisa menawarkan untuk melayani perayaan ekaristi atau doa peringatan arwah, itupun melalui sarana zoom, karena pertemuan-pertemuan belum dimungkinkan.
 
Situasi yang amat memprihatinkan dan harus dihadapi. Umat sangat membutuhkan pelayanan tetapi sementara karena keterbatasan, saat ini belum mampu memberikan pelayanan dengan baik dan sepenuhnya. Kiranya situasi ini juga menimbulkan keprihatinan Yesus sebagaimana dalam sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam injil Matius. Yesus melihat banyak orang yang belum mendapatkan pelayanan yang baik. “Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”
 
Tuhan, ampunilah hambaMu yang belum dalam memberikan pelayanan yang baik dan sepenuhnya untuk domba-dombaMU.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Juli 2021

Renungan Harian
Senin, 05 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 28: 10-22a
Injil: Mat. 9: 18-26

Secercah Harapan

Pagi itu, saya punya janji untuk bertemu dengan seorang ibu muda. Saya sengaja ingin bertemu dengan ibu itu, mendengarkan kisah perjuangan hidupnya, dan berharap mendapatkan beberapa saran darinya.
 
Ketika saya tiba di tempatnya, seorang bapak menyambut saya dan memberitahu bahwa ibu yang hendak saya temui sedang di kebun belakang. Bapak itu meminta saya untuk menunggu sebentar, dan akan memanggil ibu itu. Namun saya minta kalau diperbolehkan menemui ibu itu di kebun. Setelah diizinkan saya menuju ke kebun belakang untuk menemui ibu itu.
 
Dari kejauhan saya melihat ibu itu sedang mengangkat air dari sumur untuk menyiram tanaman sayur yang ada di kebun itu. Saya agak heran dan kagum melihat ibu itu mengangkat air di tangan kanan dan kiri. Dari sebelum sampai di kebun itu saya sudah melihat ibu itu 3 kali bolak-balik ambil air dan menyiram tanaman sayur. Kiranya untuk menyiram semua tanaman sayur yang ada di kebun itu butuh berkali-kali bolak balik. Ibu itu tampak sehat dan kuat tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang penyintas HIV-AIDS.
 
“Pastor, saya tahu bahwa saya kena penyakit ini, setelah suami saya meninggal karena penyakit ini. Saya tertular akibat perilaku suami yang tidak sehat. Pastor saat saya tahu bahwa saya juga kena virus HIV dunia saya seakan runtuh. Saya harus keluar dari kampung karena semua orang kampung takut kalau saya menularkan virus ini. Saya tidak tahu harus kemana dan bagaimana melanjutkan hidup ini. Orang tua membuatkan saya gubuk di ladang di luar kampung. Saya tinggal menjadi orang yang terasing di situ. Orang melihat saya seperti melihat “anjing buduk” mereka tidak mau menyapa saya.
Pastor, saat itu saya benar-benar putus asa; untuk apa saya hidup seperti ini, bagi saya lebih baik saya mati sehingga tidak merepotkan orang tua dan tidak mengganggu banyak orang. Pikiran untuk bunuh diri amat sering muncul, tetapi belum tahu harus dengan cara apa.
 
Sampai suatu saat saya mendapat kunjungan dari ibu yang punya yayasan ini. Saya kaget dan heran karena ibu itu mau menemui saya, mau bersalaman dan bahkan mau memeluk saya. Pastor, bertemu dengan ibu itu, rasanya saya seperti bertemu dengan malaikat. Selama ini tidak ada seorang pun yang mau bertemu dengan saya, tetapi ibu ini bukan hanya menemui saya bahkan dia mau memeluk saya.
 
Pastor, tiba-tiba dunia saya yang selama ini gelap gulita, terasa ada cahaya, waktu ibu itu mengatakan bahwa saya akan bisa tetap sehat dan hidup baik meskipun saya tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala. Harapan hidup saya mulai muncul saat ibu itu menawarkan untuk tinggal di panti ini. Sejak saat itu saya merasakan bahwa ternyata harapan itu masih ada bagi saya. Tuhan telah mengirim malaikat untuk saya,” ibu itu mengakhiri kisahnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, perempuan yang sakit pendarahan menemukan harapan dalam diri Yesus. Penyakit yang dideritanya sudah tidak bisa sembuh dan karena penyakitnya harus diasingkan karena dianggap najis. Namun karena harapan yang kuat dan imannya akan Yesus maka dia mendapatkan kesembuhan. “Asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku selalu mampu berpegang pada harapan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Juli 2021

Renungan Harian
Minggu, 04 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XIV

Bacaan I: Yeh. 2: 2-5
Bacaan II: 2Kor. 12: 7-10
Injil: Mrk. 6: 1-6

Pengingkaran

Seorang teman, suaminya dalam 2 hari terakhir merasakan bahwa badannya tidak enak dan merasa sakit tenggorokan. Pada hari kedua suaminya merasakan demam agak tinggi. Dalam situasi merebaknya pandemi covid 19 ini, beberapa teman menyarankan agar periksa ke dokter dan tes antigen untuk mengetahui apakah suaminya terpapar virus covid 19 atau tidak. Namun saran teman-teman ini ditolak dengan alasan demam yang dialami akibat radang tenggorokan, dan lagi menurut teman saya mereka hampir selalu pergi berdua.
 
Empat hari kemudian karena suatu urusan yang mengharuskan tes antigen maka mereka melakukan tes antigen dan hasilnya suami terdeteksi positif covid 19 sedang dirinya negatif. Oleh karenanya suami diminta untuk tes PCR untuk mendapatkan kepastian dan keakuratan. Mengetahui hasil tes antigen itu teman saya langsung sewot dan mengatakan bahwa tidak mungkin kalau suaminya positif karena menurutnya suami kemana-mana selalu bersama dengan dirinya. Bahkan teman saya mulai mempertanyakan keabsahan dan kesahihan alat tes serta tempat tes antigen. Teman-teman menghibur agar tetap tenang sambil berharap bahwa hasil tes PCR negatif. Tetapi teman saya ini dengan keras mengatakan bahwa tidak mungkin suaminya positif.
 
Esok hari, hasil tes PCR suaminya menunjukkan bahwa suaminya positif terpapar covid 19, maka dia disarankan untuk tes PCR juga. Teman saya menolak bahwa suaminya positif, menurutnya ini tidak mungkin, dan berpikir untuk tes di tempat lain. Teman-teman menyarankan tidak perlu tes di tempat lain, yang penting suaminya harus isolasi mandiri dan dirinya menjalani tes PCR.  Ternyata hasil tes PCR dia juga positif. Dia amat marah dan sedih; marah dan sedih karena bagaimana mungkin mereka terpapar virus covid 19. Dia jarang ke luar rumah, dan kalaupun keluar rumah selalu mematuhi protokol kesehatan. Dalam kemarahan dan kesedihannya dia mulai menyalahkan suami sebagai biang keladi dirinya terpapar. Semua kemarahan dan kekesalan itu ditumpahkan ke suami dan segala sesuatu di luar dirinya. Ia merasa bahwa dirinya seharusnya tidak terpapar, dirinya tidak pantas menerima semua ini. Ada yang dia lupa, bahwa dia dan suami sering pergi makan di luar dan banyak jalan-jalan.
 
Pengalaman penolakan dan pengingkaran dialami oleh banyak orang manakala sesuatu yang tidak diharapkan dan dipikirkan menimpa dirinya. Dalam pengalaman menolak dan mengingkari hal yang paling sering muncul adalah menyalahkan orang lain atau sesuatu di luar dirinyal. Menyalahkan orang lain atau sesuatu di luar dirinya menjadi hiburan semu, karena semakin “mengkambing hitamkan” orang lain atau sesuatu akan membuat penolakan semakin dalam dan  menjadikan dirinya semakin tertekan. Namun demikian “pengkambing hitaman” banyak dipilih hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya bersih tidak bersalah meski tidak membantu menyelesaikan masalah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, orang-orang Nasaret tidak mendapatkan apa yang mereka harapan dari Yesus. Mereka merasa sebagai orang-orang sekampung akan mendapatkan apa yang mereka harapkan dan ternyata tidak mendapatkan. Sehingga mereka menolak Yesus dan mengusir Dia. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana keterbukaanku pada karya Allah dalam diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.