Renungan Harian: 8 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat,08 Oktober 2021

Bacaan I: Yl. 1: 13-15; 2: 1-2
Injil: Luk. 11: 15-26

Menjual Setan

Beberapa tahun yang lalu saya diminta oleh sebuah keluarga untuk memberkati rumahnya. Saya dengan senang hati melayani dan meminta agar mengundang warga di lingkungannya. Harapan saya agar keluarga ini kenal dengan warga lingkungannya, karena saya menduga bahwa pemberkatan ini untuk rumah baru.
 
Pada hari yang ditentukan saya datang ke rumah keluarga tersebut. Pada saat saya sedang mempersiapkan peralatan misa, tuan rumah menghampiri saya dan menyampaikan bahwa tahun lalu rumah ini sudah diberkati seorang imam.  Saya agak terkejut dan bertanya mengapa mesti ada pemberkatan lagi, kalau tahun lalu sudah pernah diberkati. Bapa itu mengatakan bahwa rumahnya ada “penunggunya” yang kembali lagi. Pada saat pemberkatan rumah tahun lalu dilakukan acara pengusiran “penunggu” tetapi sekarang keluarga itu merasa bahwa penunggunya kembali lagi.
“Bapak pernah melihat dan mengenali “penunggu” rumah ini?” tanya saya.

“Belum pernah romo, tetapi saya bisa merasakan bahwa penunggu itu kembali lagi,” jawabnya.

“Bagaimana bapak tahu bahwa rumah ini ada “penunggunya” ?”, tanya saya.

“Wah ceritanya panjang romo,” jawab bapak itu.
 
“Romo 20 tahun lalu kami mulai menempati rumah ini. Kami bersyukur bisa membeli rumah ini, setelah sekian lama kami menjadi “kontraktor”. Tahun lalu saat seorang romo mengunjungi rumah kami, romo itu mengatakan bahwa rumah kami ada “penunggunya” berdiam di bawah tangga itu. Menurut romo itu, penunggu itu memberi hawa panas yang negatif, kalau dibiarkan akan menimbulkan perpecahan dalam keluarga. Saya jadi tersadar mengapa selama ini saya mudah emosi dan sering cekcok dengan istri, ternyata karena “penunggu” itu. Kemudian romo itu mengusulkan agar rumah kami diberkati lagi dengan beberapa syarat yang diminta. Jadi tahun lalu rumah kami diberkati,” bapak itu menjelaskan.
 
“Apakah sebelum menempati rumah ini, bapak tidak pernah emosi dan cekcok?” tanya saya penasaran.

“Ya emosi, namanya juga manusia ya romo. Dan namanya hidup berkeluarga cekcok menurut saya lumrah,” jawab bapak itu.

“Terus setelah “penunggu” itu diusir, bapak tidak emosi lagi?” tanya saya.

“Masih romo, tetapi yaaa berkurang. Tetapi akhir-akhir ini menjadi sering dan mudah emosi,” jawab bapak itu.
 
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya menjadi gundah, kegundahan saya adalah apa pentingnya seseorang mengatakan bahwa rumah ini atau tempat itu ada penunggunya.

Saya menghargai adanya orang-orang tertentu mempunyai karunia tertentu tetapi dengan mengatakan ada “penunggu” bukannya membuat keluarga yang awalnya biasa-biasa menjadi resah. Dan lebih lagi membuat mereka semakin lebih percaya dan merasakan kehadiran “penunggu” daripada kehadiran Allah? Kalau itu dikatakan pada umat bukankah akan membuat iman umat semakin “kacau” dari pada semakin diteguhkan.  Tidak usah dikatakan pun umat lebih senang dan lebih mudah bicara tentang “penunggu” daripada bicara tentang imannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus berhadapan dengan umat yang lebih percaya pada kuasa-kuasa “setan” daripada kuasa-kuasa Allah.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku lebih percaya dan lebih mengalami kehadiran Allah atau kehadiran “setan”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Oktober 2021

Renungan Harian
Rabu, 07 Oktober 2021
PW. SP. Maria Ratu Rosario

Bacaan I: Mal. 3: 14-4: 2a
Injil: Luk. 11: 5-13

Mengetuk Pintu Tuhan

“Saat anak-anak sudah tidur, aku ngajak ngobrol istriku. Aku menyampaikan niatku untuk gabung ke ojol (ojek online). Istriku spontan tidak setuju karena dia malu dengan tetangga dan teman-temannya. Aku menjelaskan bahwa ini adalah pilihan yang bisa kita tempuh agar dapur kita tetap ngebul. Kalau memikirkan malu maka keluarga tidak akan makan lagi. Memang kami masih punya sedikit tabungan, tetapi pasti akan habis. Istriku mengatakan bahwa kami harus memperbanyak doa agar situasi segera pulih dan aku dapat bekerja. Doa yang sungguh-sungguh  pasti Tuhan akan memberi jalan. Aku mengatakan bahwa dengan bekerja adalah salah satu cara untuk menemukan jalan itu. Setelah pembicaraan yang amat panjang, istriku setuju meski aku tahu pilihan ini berat bagi dia.
 
Jadilah aku seorang driver ojol. Sehari aku pulang membawa uang kadang seratus ribu, kadang lima puluh ribu, ada kalanya dapat tiga ratus ribu bahkan kadang tidak dapat sama sekali. Aku bersyukur dengan apa yang kuterima meski sedikit tetapi bisa untuk makan sehari-hari. Suatu malam istriku mengatakan bahwa dirinya akan jualan kopi, gorengan dan masakan untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Aku terkejut dengan niatnya, maka aku menegaskan apakah dirinya tidak malu. Dia mengatakan bahwa ini cara untuk mengetuk-ngetuk pintu agar dibukakan jalan. Aku bersyukur dengan niat istriku. Istriku mengatakan mungkin dengan jualan seperti itu tidak akan memberi keuntungan banyak banyak tetapi minimal kami bisa ikut makan.
 
Puji Tuhan, seiring berjalannya waktu warung kopi istriku semakin ramai bahkan sering mendapatkan pesanan nasi bungkus. Karena semakin sibuk maka istriku memintaku untuk berhenti jadi driver ojol dan membantunya berjualan. Aku setuju membantu istriku sehingga kami berdua mengelola warung. Ternyata inilah jalan yang diberikan Tuhan untuk keluarga kami. Warung kami yang kecil sekarang sudah menjadi besar, banyak pelanggan sehingga hampir setiap hari selalu ada pesanan. Untuk memenuhi kebutuhan warung maka kami mempekerjakan 2 orang untuk membantu.
 
“Syukur kepada Allah ya mas, akhirnya Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Tidak henti-hentinya kita mengetuk-ngetuk pintu Tuhan dengan doa dan kerja keras kita. Ternyata mengetuk pintu harus dengan keringat dan air mata ya mas,” kata istriku.
Aku tidak bisa berkata-kata selain aku hanya memeluk istriku dan mengucap syukur,” seorang bapak membagikan kisahnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan selalu menyediakan rahmat dan berkatNya bagi mereka yang meminta kepadaNya. “Aku berkata kepadamu, mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku meminta kepada Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Oktober 2021

Renungan Harian
06 Oktober 2021

Bacaan I: Yun. 4: 1-11
Injil: Luk. 11: 1-4

Berubah

“Hari itu rasanya menjadi hari yang melelahkan. Ada banyak pekerjaan kantor dan berbagai masalah di kantor yang harus saya selesaikan. Kurang lebih jam 10 malam aku baru masuk rumah. Aku lihat anak-anakku sudah tidur, sedang istriku menungguku sambil terkantuk-kantuk. Istriku menyapaku dan meminta saya untuk segera mandi agar aku bisa segera istirahat. Saat sudah berbaring dan mulai mau tidur tiba-tiba handphone ku berdering, aku mengabaikan karena aku sudah amat penat. Istriku yang melihat dan mengatakan bahwa itu ibu yang menelpon. Aku agak terkejut karena tidak biasanya ibu menelpon malam-malam begini. Di seberang sana kudengar suara ibu yang menangis, aku semakin gundah dan bertanya ada apa. Aku khawatir ada apa-apa di rumah, ada apa dengan bapak.
 
Setelah beberapa saat ibu menjelaskan bahwa bapak baik-baik dan ibu juga baik-baik. Kata-kata ibu membuat aku bernafas lega. Ibu meminta tolong aku agar aku menebus adikku yang ditangkap polisi karena kasus narkoba. Saya agak jengkel mendengar berita itu dan permintaan ibu. Saya mengatakan agar ibu tenang-tenang dan tidak usah lagi berpikir untuk menebus adik. Ini sudah kali ketiga adikku ditangkap dan menurutku saatnya adikku harus menanggung resiko dari perbuatannya. Sebelumnya adikku selalu ditebus dan meski adik berjanji tidak akan mengulangi lagi tetapi tetap saja tidak pernah berubah. Orang tuaku sudah habis-habisan membantu adik belum lagi banyak barang ibu yang hilang diambil adik untuk membeli narkoba.
 
Ibu tetap bersikeras agar aku menolong adik. Ibu tidak rela dan tidak mau adik menderita dalam penjara. Ibu selalu berharap bahwa dengan ditebus adik menjadi sadar dan berubah. Aku tidak setuju dengan pendapat ibu. Adik akan berubah kalau adik mengalami beratnya hidup di penjara. Adik harus mengalami sesuatu yang berat agar dia menjadi sadar. Kalau setiap kali ditangkap dan ditebus adik akan keenakan dan tidak akan pernah sadar. Ibu jengkel dan marah dengan sikapku, dan ibu mengatakan kalau tidak mau menolong ya sudah, tetapi tidak usah mengajari ibu. Saya agak terkejut dengan jawaban ibu seperti itu. Ibu kemudian mengatakan bahwa kalau saya tidak bisa membantu ibu akan menjual rumah agar bisa menebus adik.
 
Saya jengkel dengan semua ini. Sebenarnya saya amat marah dengan adik saya karena selalu merepotkan orang tua, dan tidak pernah mau mengerti tentang itu. Aku jengkel dengan ibu karena terlalu memanjakan adik sehingga dia tidak mau berubah.

“Mas, ibu melakukan ini semua karena ibu mencintai anak-anak ibu. Mungkin ibu salah tetapi ibu yakin bahwa adikmu hanya bisa berubah kalau dia dicintai bukan dihukum,” ibu menjelaskan.

“Tetapi sampai kapan ibu akan melakukan semua ini?” tanyaku.

“Ibu tidak tahu sampai kapan, yang pasti selama ibu masih hidup ibu akan melakukan semua ini,” jawab ibu.

“Mas, kalau kamu benci dengan adik, itu hakmu, tetapi ingatlah dia adikmu. Mas tidak mau menolong dengan semua alasan mas, ibu mengerti, amat mengerti malah. Tetapi ibu mohon, tolong cintai dia,” tambah ibu. Aku jadi lemas tidak berdaya mendengar kata-kata ibu.
 
Aku segera bangun dan pergi mengurus adik. Menjelang pagi, semua urusan bisa selesai dan aku membawa adik pulang. Di jalan adik minta maaf sudah merepotkan dan mengatakan banyak hal yang bagi saya sudah tidak penting lagi. Meskipun aku marah dan jengkel tetapi aku mengatakan bahwa  aku tidak apa-apa dan aku melakukan ini karena sayang sama dia. Adik memelukku sambil menangis dan berjanji untuk tidak lagi. Dia minta tolong untuk dibawa ke tempat rehabilitasi, dia sungguh mau berubah,” seorang teman berkisah.
 
Cinta seorang ibu yang luar biasa, yang seringkali tidak masuk akal dan seringkali bisa dikatakan salah. Namun cinta ibu adalah cinta yang luar biasa, cinta yang memberi hidup dan menghidupkan. Sebagaimana sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam kitab Yunus, cinta Allah yang begitu besar pada umat Niniwe menjadikan Ia menyelamatkan dan melepaskan dari hukuman. “Layakkah engkau marah?”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai cinta yang memberi hidup dan menghidupkan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 05 Oktober 2021

Bacaan I: Yun. 3: 1-10
Injil: Luk. 10: 38-42

Pengakuan

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan tamu seorang anak muda yang ingin ngobrol. Dalam pembicaraan, anak muda itu bercerita bahwa dirinya baru saja mengundurkan diri dari tempatnya bekerja; dan menurutnya ini sudah yang ketiga kali dirinya mengundurkan diri dari tempat kerja. Saya bertanya untuk memastikan dan menegaskan apakah anak muda ini mengundurkan diri atau “dipaksa” untuk mengundurkan diri. Anak muda itu menegaskan bahwa dirinya sungguh-sungguh mengundurkan diri. Dia mengatakan alasan mengundurkan diri karena dia sulit sekali untuk konsentrasi dalam bekerja, sulit untuk bekerjasama dengan rekan kerja sehingga banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Dia merasa gagal untuk mewujudkan idealismenya dalam  bekerja.
 
Dalam pembicaraan terungkap kalau mengerjakan suatu hal, dia punya idealisme bahwa pekerjaan ini seharusnya dilakukan dengan cara demikian.  Banyak hal yang ada dalam pikirannya adalah seharusnya begini, seharusnya begitu; akibatnya menjadi tidak fokus pada hal yang sedang dihadapi. Rekan-rekan kerjanya amat sulit memahami cara berpikir dan cara kerjanya, meskipun mereka mengakui bahwa apa yang dipikirkan baik. Dampaknya banyak rekan kerja menyerahkan seluruh tanggung jawab ada pada dirinya, dan rekan kerja mendukung sekedarnya. Hal seperti itu membuat dirinya terbebani dan merasa sulit bekerja sama dengan rekan-rekannya karena merasa tidak didukung oleh rekan-rekannya. Sementara rekan-rekan kerjanya merasa bahwa anak muda ini terlalu banyak tuntutan yang menurut mereka aneh. Hal sederhana menjadi rumit, hal yang seharusnya bisa dikerjakan cepat menjadi lebih lama.
 
Setelah berbicara panjang lebar dengan anak muda ini sudah tentu bukan bermaksud menghakiminya, saya saya menangkap bahwa anak muda ini butuh pengakuan dalam banyak hal. Dia anak yang pandai, hal itu dibuktikan dengan hasil studi sejak sekolah dasar hingga lulus kuliah S2. Namun apa yang telah dicapainya seolah tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dia merasa sudah berjuang maksimal untuk memberikan hasil yang terbaik tetapi dia merasa tidak ada yang menghargai dan mengakui apa yang telah dicapainya. Demikian juga ketika masuk dunia kerja, dia ingin membuktikan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kerja kerasnya untuk mendapatkan pengakuan (yang tidak disadarinya) membuat dirinya sering kali kehilangan fokus dan prioritas atas apa yang sedang dikerjakan. Dia sibuk dengan idealismenya dan seharusnya- seharusnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan akan pentingnya menentukan mana prioritas utama mana yang kemudian. Marta ditegur Yesus bukan karena kerja kerasnya tetapi karena tidak mampu memilih prioritas utama. Marta melakukan untuk karena membutuhkan pengakuan akan apa yang telah dikerjakan. “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku telah mampu memilih bagian yang terbaik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 04 Oktober 2021
PW. St. Fransiskus Assisi

Bacaan I: Yun. 1: 1-17; 2: 10
Injil: Luk. 10: 25-37

Terkotak-kotak

“Sebagaimana telah menjadi kebiasaan keluarga kami setiap menjelang hari natal kami sibuk membantu ibu. Sejak seminggu sebelum natal, ibu selalu menyiapkan kue-kue kering dan kacang bawang untuk menyambut tetangga-tetangga yang datang mengucapkan selamat natal. Sehari sebelum natal ibu membuat kue bolu untuk hantaran bagi tetangga-tetangga. Itulah kebiasaan di kampung kami. Setiap natal tetangga-tetangga datang ke rumah kami untuk mengucapkan selamat natal, dan ibu akan mengantarkan kue bolu ke tetangga. Demikian juga saat lebaran idul fitri, rumah kami kebanjiran ketupat opor sambal goreng dari tetangga yang merayakan idul fitri. Setiap selesai solat idul fitri kami sekeluarga akan berkunjung ke tetangga untuk mengucapkan selamat idul fitri dan bermaaf-maafan.
 
Natal tahun ini terasa amat berbeda, dan membuat ibu amat bersedih. Beberapa kue bolu yang dihantar ke tetangga banyak yang ditolak disertai permohonan maaf yang besar. Ibu bukan hanya sedih tetapi juga bingung dengan peristiwa ini. Ibu merasa hari-hari ini, juga selama ini, tidak ada masalah dengan tetangga-tetangga yang menolak kue bolu hantaran keluarga kami. Bahkan tadi pagi beberapa dari mereka bersama-sama ibu ke pasar dan tidak ada masalah apapun. Ibu semakin terkejut dan sedih karena beberapa tetangga mengatakan mohon maaf bahwa mereka tidak bisa datang berkunjung ke rumah kami dan mengucapkan selamat natal karena dilarang.
 
Ibu duduk terdiam di ruang tamu, matanya basah oleh air mata. Ibu bertanya kepada bapak berkaitan dengan kejadian natal tahun ini. Ibu terkejut dan sedih dengan perubahan yang seolah datang tiba-tiba di kampung kami. Kampung yang sejak dulu guyup rukun; semua seperti saudara sekarang terasa ada sekat-sekat yang membatasi. Meski dalam keseharian tidak terlihat sekat-sekat itu tetapi saat perayaan keagamaan terutama idul fitri dan natal terasa sekat itu.
“Ibu tidak usah berpikir yang berat-berat. Jangan terlalu diambil hati. Apa yang penting adalah kita jangan berubah. Kita mau mengantar bolu, ya mengantar bolu, kalau ditolak ya sudah. Nanti kalau lebaran kita seperti biasa berkunjung kalau ditolak ya tidak apa-apa. Sebenarnya mereka, tetangga-tetangga itu kasihan, karena mereka bertindak demikian karena takut,” kata bapak menenangkan ibu. Ibu tidak menjawab tetapi sepertinya kata-kata bapak cukup menghibur dan menguatkan ibu,” seorang anak muda berkisah tentang perubahan di kampungnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengajarkan agar kita membongkar sekat-sekat yang memisahkan persaudaraan antar manusia. “Dan siapakah sesamaku manusia?”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani membangun jembatan yang menghubungkan persaudaraan antar manusia?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 Oktober 2021

Renungan Harian
Minggu, 03 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXVII

Bacaan I: Kej. 2: 18-24
Bacaan II: Ibr. 2: 9-11
Injil: Mrk. 10: 2-16

Bahasa Cinta

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang liburan di pantai, saya tertarik memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain pasir. Mereka dengan cara dan minatnya bermain pasir dengan gembira. Beberapa dari mereka membuat semacam bangunan; beberapa membuat semacam kolam dan entah apalagi yang tidak bisa saya identifikasi bentuknya.

Dari banyak anak-anak yang sedang bermain itu, mata saya tertuju pada 3 orang anak kecil yang sedang bermain pasir. Dari perawakan kelihatan bahwa 2 orang anak adalah orang asing sedangkan satu anak adalah orang Indonesia.
 
Menarik menyaksikan ketiga anak kecil dari 2 bangsa yang berbeda bermain dan tertawa bersama. Saya menduga bahwa 2 anak yang sebut sebagai orang asing orang tuanya sudah lama tinggal di Indonesia sehingga anak-anak mereka sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia.

Saya terkejut ketika saya tahu bahwa ternyata ketiga anak itu tidak menggunakan bahasa Indonesia. Sejauh saya tahu satu anak berbahasa Inggris, satu anak berbahasa Perancis dan satu anak berbahasa Indonesia. Mereka masing-masing menggunakan bahasanya sendiri-sendiri dalam berkomunikasi. Saya sungguh-sungguh takjub dengan pemandangan itu. Tiga orang anak kecil dengan 3 bahasa yang berbeda bisa main bersama dan tertawa bersama. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa saling mengerti bahasa satu sama lain, karena sejauh pengamatan saya mereka seolah bisa saling mengerti apa yang dikatakan satu dengan yang lain.
 
Hal yang lebih mengherankan adalah ketika mereka dipanggil orang tua masing-masing diberi minum dan makanan, anak-anak itu kembali berkumpul dan dengan bahasa masing-masing saling menawarkan makanan yang mereka punya. Entah bagaimana mereka bisa saling berbagi dan makan dengan riang. Saya tidak habis pikir apa yang membuat mereka bisa tertawa bersama, bahkan sampai terkekeh-kekeh. Saya iseng bertanya pada orang tua anak kecil yang dari Indonesia apakah mereka sudah pernah bertemu dan saling mengenal. Ternyata menurut orang tua salah seorang anak kecil yang saya tanya, anak-anak itu baru bertemu di pantai itu. “Luar biasa”, kataku dalam hati. Bagi anak-anak itu tidak butuh berkenalan dan mengerti bahasa masing-masing untuk bisa bermain bersama dan berbagi. Mereka menunjukkan bahasa yang saya sebut sebagai bahasa cinta. Mereka bisa saling menerima, saling menghargai dan lewat ketulusan hati, mereka mampu berkomunikasi dengan baik meski terhalang oleh  perbedaan bahasa.
 
Kiranya itulah salah satu sikap dan sifat anak kecil yang disebut Yesus sebagai sikap orang yang empunya Kerajaan Allah. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai bahasa cinta untuk sesamaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 2 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 02 Oktober 2021
PW. Para Malaikat Pelindung

Bacaan I: Bar. 4: 5-12. 27-29
Injil: Luk. 10: 17-24

Selalu Ada Rahmat

Beberapa waktu yang lalu paroki kami mengadakan acara vaksinasi Covid untuk masyarakat umum bekerja sama dengan Caritas Keuskupan dan Kodam III Siliwangi. Dengan segala kerumitan di awal namun akhirnya kami dapat menyelenggarakan acara vaksinasi ini dengan lancar dan baik. Tentu hasil ini membuat kami senang dan bersyukur.
 
Beberapa waktu kemudian kami Dewan Pastoral Paroki Harian mengadakan refleksi bersama atas penyelenggaraan vaksinasi. Beberapa hal yang muncul dalam refleksi ini antara lain:
Seorang ibu yang sudah cukup senior mengatakan:
“Saya senang dan bersyukur ikut terlibat dalam penyelenggaraan ini. Hal menyenangkan dan saya syukuri bahwa saya menjadi kenal dengan anak-anak muda yang terlibat dan bisa dengan mudah bekerjasama dengan mereka. Seolah tidak ada jarak dalam kerjasama meski mereka semua usianya di bawah anak-anak saya. Awalnya tidak terbayangkan bagi saya bisa kenal dan bekerjasama dengan mereka. Di samping itu peristiwa seperti ini membuat kita menjadi ada kesatuan hati dan budi  dalam berkarya dan pelayanan.”

Ibu yang lain mengatakan:
“Ternyata di paroki kita ada banyak OMK (orang muda katolik) yang mau terlibat dengan kemampuan mereka yang luar biasa. Selama ini kita selalu kesulitan mengumpulkan orang muda, dan selalu merasa hampir tidak ada orang muda di paroki kita yang mau terlibat. Ternyata ketika diberi kesempatan dan sarana, mereka mau terlibat dengan luar biasa. Ini menjadi awal untuk selalu melibatkan mereka dan memberi kesempatan kepada mereka.”

Seorang bapak mengatakan:
“Saat pembicaraan awal kita selalu dibayangi dengan berbagai kesulitan. Kesulitan dana, kesulitan akses mendapatkan vaksin, kesulitan sarana dan prasarana. Saat membayangkan untuk administrasi membutuhkan minimal 10 laptop sudah terbayang kesulitannya belum tenaganya. Ternyata semua bisa teratasi tanpa kesulitan yang berarti; bahkan sarana dan prasarana bisa berlebih.”

Pastor senior mengatakan:
“Peristiwa ini menjadi sarana yang baik untuk mewartakan wajah belas kasih Gereja kepada banyak orang.”
 
Dari semua sharing refleksi berkaitan dengan penyelenggaraan vaksinasi, ternyata yang pertama dan utama bukan soal keberhasilan, dan kehebatan kami dalam menyelenggarakan. Pengalaman syukur dan kegembiraan bukan sebuah kesombongan akan keberhasilan melain pengalaman akan rahmat yang dialami. Pada akhirnya kami menemukan kalau ada kemauan, ada kehendak baik pasti selalu ada rahmat yang mengiringinya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, para murid bangga pulang dari perutusan namun diingatkan Yesus, bahwa mereka telah mendapatkan rahmat dan yang paling penting bukan kebanggaan akan keberhasilan tetapi arti dari perutusan mereka. “Namun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa arti dari kebanggaan dan syukurku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 1 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat, 01 Oktober 2021
Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus

Bacaan I: Yes. 66: 10-14b
Injil: Mat. 18: 1-5

H o r m a t

Pada suatu kali saya ikut dalam kendaraan sebuah keluarga untuk sebuah acara. Hal yang menarik adalah setiap kali ada peminta-minta atau pengamen keluarga itu selalu memberi uang dan tidak jarang memberi uang yang cukup besar bila melihat peminta-minta itu kelihatan tua dan memang butuh dikasihani. Putra-putri mereka spontan mengatakan itu kasihan, mereka butuh makan lho.
 
Saya sempat mengatakan, bahwa tidak perlu juga semua pengamen dan peminta-minta itu sungguh-sungguh harus diberi, karena banyak juga peminta-minta sebenarnya punya rumah yang bagus. Salah satu putranya menjawab dengan bertanya bagaimana bisa membedakan peminta-minta yang sungguh-sungguh membutuhkan dan yang sudah punya rumah bagus. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Lalu terjadilah pembicaraan tentang memberi atau tidak. Ibu itu mengatakankan pada anak-anaknya: “Kalau kita punya uang dan mau memberi, ya memberi saja. Kita bersyukur diberi banyak rahmat, diberi pekerjaan, diberi kesempatan untuk mendapatkan usaha. Jadi memberi mereka itu sebagai salah satu bentuk syukur kita.” Jawaban seorang ibu yang luar biasa.
 
Di sebuah perhentian lampu lalu lintas, ada seorang ibu peminta-minta yang hanya bisa duduk dan tidak bisa berjalan. Melihat ada seorang peminta-minta dengan keadaan tubuh yang demikian anak perempuan keluarga itu meminta uang untuk diberikan pada ibu peminta-minta itu. Anak perempuan itu membuka jendela untuk memberikan uang , tetapi karena jarak agak jauh, ibu peminta-minta itu mengatakan agar uangnya dilemparkan saja. Anak perempuan itu ragu lalu bertanya apakah benar uang harus dilemparkan. Bapaknya mengatakan bahwa dia tidak boleh melemparkan uang itu, dan diminta menunggu sebentar. Setelah lampu lalu lintas hijau bapak itu menjalankan mobilnya beberapa meter lalu berhenti. Dia minta anak perempuannya turun memberikan uangnya. Bapaknya berpesan agar anak perempuan itu sopan.
 
Setelah putrinya kembali, bapak itu mengatakan: “Siapapun orang itu, kita harus hormat. Jangan pernah merasa kita lebih dari orang lain karena kita bisa memberi. Kalian akan menjadi orang yang terhormat kalau kalian bisa menghormati orang lain, apalagi dengan orang-orang yang menurut kita di bawah kita. Seperti ibu peminta-minta tadi meskipun uangnya dilempar ibu tidak tersinggung karena memang biasanya begitu, tetapi dengan turun dan memberi jauh lebih berharga daripada uang yang kita berikan.”
 
“Wow,” kata saya dalam hati. Saya bisa mengerti kenapa anak-anak mereka sungguh-sungguh hormat dengan orang lain, mengapa ketika memberi pengamen atau peminta-minta juga dengan sopan. Ternyata pendidikan yang ditanamkan orang tua mereka adalah hormat pada orang lain, siapapun dia.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu ia menyambut Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku selalu hormat pada orang lain ?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 30 September 2021

Renungan Harian
Kamis, 30 September 2021
PW. St. Hieronimus

Bacaan I: Neh. 8: 1-4a. 5-6. 7b-12
Injil: Luk. 10: 1-12

F o k u s

Pada waktu kami di novisiat, ada aturan yang berlaku bagi para novis apabila berjalan di gang lorong-lorong novisiat. Di Novisiat banyak gang atau lorong-lorong yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Aturan yang berlaku adalah kalau berjalan mata harus lurus melihat dua meter ke depan, tidak boleh tengok kanan dan tengok kiri, tidak boleh menyapa apalagi berbicara sambil berjalan di gang.
 
Bagi kami para novis peraturan itu sungguh tidak mudah karena bukan menjadi kebiasaan kami. Maka tidak heran bahwa banyak dari kami yang sering mendapatkan penentensi (hukuman/denda) karena pelanggaran yang kami buat. Banyak hal yang kami lakukan sebagai bentuk penenten, misalnya membersihkan jendela, mengepel sampai bentuk-bentuk yang aneh dan lucu, seperti mengumpulkan rumput tapak liman di lapangan, mengumpulkan kotoran anjing yang ada di lapangan sampai mencuci batu-batu kecil yang menghias teras (tritisan).
 
Dalam berbagai kesempatan, romo Magister (pembimbing novis) mengingatkan pentingnya mematuhi peraturan itu. Peraturan itu dibuat untuk membiasakan kami para novis agar fokus dalam menjalankan segala sesuatu.  Dengan berjalan memandang lurus ke depan dimaksudkan agar sungguh-sungguh hanya berjalan ke tempat yang dituju tidak tergoda untuk melihat kanan kiri yang menarik. Demikian juga dengan tidak menyapa dan berbicara agar cepat sampai di tempat tujuan tidak tergoda untuk membuang waktu dengan hal-hal yang bukan menjadi tujuan.
 
Latihan yang kami alami di novisiat itu amat penting dalam perjalanan hidup kami selanjutnya. Bertindak selalu fokus dengan tujuan dan berjuang untuk tidak tergoda dengan hal-hal lain. Meskipun dalam perjalanan juga tidak mudah untuk sungguh-sungguh fokus. Sering kali perutusan utama banyak dilewatkan dengan hal-hal lain yang menjadi minat pribadi. Meskipun minat pribadi itu baik, suci dan berguna bagi banyak orang tetapi itu bukanlah perutusan yang utama. Belajar fokus tetap menjadi pergulatan sepanjang perjalanan menjalani perutusan hingga saat ini.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus melarang para murid untuk memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan dalam menjalani perutusan. Kiranya hal itu agar para murid fokus dengan perutusan yang sedang dijalaninya. “Janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mudah fokus dengan tugas utamaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 29 September 2021

Renungan Harian
Rabu, 29 September 2021
Pesta St. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung

Bacaan I: Dan. 7: 9-10. 13-14
Injil: Yoh. 1: 47-51

Bergulat Dengan Kejujuran

“Kami sudah berpacaran hampir 7 tahun. Kami teman satu sekolah, dan kami berdua aktif dalam kegiatan sekolah. Lewat berbagai kegiatan sekolah itulah kami sering bertemu dan saling jatuh cinta, sehingga saat kelas 3 SMA kami mulai berpacaran. Selama kami berpacaran hubungan kami amat baik, mesra dan hampir tidak ada masalah berarti.
 
Dengan berjalannya waktu kami semakin dekat, dan bukan hanya kami saja, kedua keluarga kami juga sudah dekat. Saya sudah diterima di keluarga cewek saya, dan dia juga sudah diterima dan dekat dengan keluarga saya. Bahkan keluarga kami sering ada acara bersama yang semakin mendekatkan kami dan antar keluarga. Maka tidak mengherankan kalau keluarga sering mendesak kami untuk segera meresmikan hubungan kami dalam pernikahan. Karena desakan keluarga; secara ekonomi kami sudah siap dan hubungan kami juga sudah cukup lama maka kami memutuskan untuk meresmikan hubungan kami.
 
Keluarga kami amat bahagia mendengar keputusan kami. Maka keluarga segera memutuskan tanggal pernikahan dan segala persiapan berkaitan dengan pesta dan pemberkatan perkawinan. Kami amat bersyukur karena keputusan kami dan rencana kami untuk menikah sangat didukung oleh keluarga. Kami memutuskan untuk mengikuti kursus persiapan perkawinan sebagai salah satu syarat untuk dapat saling menerimakan sakramen perkawinan dan pemberkatan.
 
Pada saat ikut kursus, kami berdua sungguh-sungguh mengikuti semua tahapan dan tugas-tugas yang diberikan kepada kami. Kami diajak untuk saling membuka diri, sharing berdua dan mengolah tentang tujuan kami membangun hidup berkeluarga. Dalam perjalanan kursus itu kami berdua terkejut, seolah-olah seperti yang dibangunkan dari mimpi. Ternyata selama ini banyak hal yang belum sungguh kami kenal dalam diri kami dan pasangan kami. Ada banyak hal yang membuat kami berbeda pandangan, berbeda mimpi. Kami mencoba terus untuk menggali perbedaan itu, agar kami bisa saling menerima dan syukur-syukur menyelaraskan. Namun ternyata amat sulit dan hampir tidak bisa.
 
Sampai pada suatu titik tertentu kami sungguh-sungguh menyadari bahwa kami bisa berteman dan bersahabat dengan baik, tetapi tidak bila itu dalam sebuah perkawinan. Artinya kami cocok sebagai teman dan sahabat tetapi tidak cocok sebagai suami istri. Kami berdua amat sedih menyadari hal ini. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami dalam pernikahan tetapi kami tetap menjadi teman dan sahabat.  Lebih baik sekarang kami sakit sekali dari pada sepanjang hidup dalam perkawinan kami saling menyakiti,” pasangan calon pengantin mengisahkan pergulatannya untuk memutuskan membatalkan perkawinan.
 
Saya bisa merasakan betapa berat pergulatan mereka untuk berani jujur dan dengan jujur pula membuat sebuah keputusan. Keputusan yang luar biasa dan amat tidak mudah. Namun dengan itu mereka berdua menemukan rahmat luar biasa dalam hidup mereka. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, kejujuran Natanael membuahkan rahmat besar dalam hidupnya. “Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka, dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani jujur dengan diriku sendiri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.