Renungan Harian: 4 Mei 2021

Renungan Harian
Selasa, 04 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 14: 19-28
Injil: Yoh. 14: 27-31a.

Keblinger

Suatu sore, saya kedatangan tamu 3 orang bapak. Bapak-bapak itu ternyata kakak beradik; mereka datang untuk minta saya memberikan doa dan berkat bagi adiknya, yang sekarang sedang sakit. Ketika saya tanya tentang adiknya sakit apa, bapak-bapak itu menjawab bahwa adiknya sakit karena terlalu banyak bermatiraga. Saya agak terkejut mendengar bahwa adiknya sakit karena terlalu banyak bermatiraga. Lalu saya minta penjelasan apa yang telah dilakukan oleh adiknya yang sakit itu.
 
Seorang bapak yang paling tua bercerita: “Romo, adik saya itu secara ekonomi berkekurangan, sehingga kami kakak-kakaknya selalu menopang ekonomi keluarga adik ini. Berkali-kali menjalankan usaha selalu gagal, kami sendiri tidak tahu persis mengapa selalu gagal. Adik  bercerita bahwa setiap kali berusaha selalu ada yang tidak suka, sehingga dibuat gagal. Karena hal itu, entah dengar dari siapa adik saya lalu banyak pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan “wahyu” agar dapat mengalahkan hal-hal yang mengganggu usahanya. Dia selalu berpuasa macam-macam, kadang hanya makan umbi-umbian, kadang hanya makan buah-buah, kadang hanya minum saja. Semua dilakukan agar mendapatkan “wahyu” untuk usaha yang cocok, dan tidak mendapat gangguan.”
 
Kemudia saya bersama dengan bapak-bapak itu pergi ke rumah sakit tempat adiknya dirawat. Saya terkejut melihat keadaan bapak yang sakit. Badannya amat kurus, matanya cekung sungguh-sungguh memprihatinkan. Saat saya menyapa, dia masih bisa menjawab dengan jelas meski amat perlahan dan lirih. Bapak itu mengatakan bahwa dirinya gagal. Saya bertanya apa yang dimaksud dengan gagal itu.
 
“Romo, saya gagal mendapatkan “wahyu”. Saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga, saya sudah mati raga luar biasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Saya hanya ingin keluarga saya sejahtera romo, dan saya yakin hanya dengan “wahyu” itu keluarga saya sejahtera,” bapak itu menjelaskan.

“Mengapa bapak melakukan semua ini, dapat nasehat dari siapa?” tanya saya.

“Romo, saya tidak dapat nasehat dari siapa-siapa tetapi saya mengerti sendiri. Dalam kitab suci dikatakan untuk menjadi murid Kristus harus berani menderita, tidak sayang dengan nyawanya sendiri. Dalam ajaran leluhur juga dikatakan segala sesuatu itu bisa dicapai dengan “laku” (berjuang dengan askese),” bapak itu menjawab.
 
“Waduh, bapak ini keblinger (gagal paham),” kata saya dalam hati.

“Bapak, menjadi murid Kristus harus menderita itu betul dikatakan dalam Kitab Suci, dan bahwa untuk meraih segala sesuatu itu harus dengan “laku” juga  betul. Tetapi penderitaan tidak harus dicari-cari dan dibuat-buat. Apa yang bapak lakukan ini namanya mencari-cari penderitaan dan menyiksa diri. Bukan itu yang dimaksud dalam Kitab Suci maupun ajaran leluhur.
 
Tujuan bapak adalah menyejahterakan keluarga, maka yang harus bapak lakukan adalah kerja keras, membangun usaha, menekuni usaha dan mengembangkan usaha. Kerja keras bapak dalam berusaha, ketekunan bapak dalam berusaha, kesediaan bapak untuk jatuh bangun membangun usaha itulah keikut sertaan bapak dalam penderitaan Kristus dan juga laku bapak sebagai kepala keluarga. Ketekunan bapak dalam menjalankan usaha yang sering gagal tetapi berani bangkit lagi, tidak takut jatuh dan gagal pun tidak malu karena gagal itulah wujud bapak mengalahkan diri sendiri.
Jadi, sekarang bapak harus berjuang untuk sembuh, berjuang untuk makan dan tekun menuruti nasehat dokter agar bapak dapat berjuang, menderita  dan laku untuk kesejahteraan keluarga dengan cara kerja keras, bukan dengan mencari “wahyu”,” kata saya meneguhkan bapak yang sedang sakit.
 
Penderitaan dalam mengikuti Kristus tidak harus dicari-cari dan dibuat-buat tetapi hal yang penting adalah kesiap sediaan kita bila hal itu terjadi saya berani menanggungnya dengan rela. Sebagaimana nasehat Paulus dan Barnabas sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul: “Di tempat itu, mereka menguatkan hati murid-murid, dan menasehati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman. Mereka pun mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus mengalami banyak sengsara.”
 
Bagaimana dengan aku? Sejauh mana aku memahami dan memaknai penderitaan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 Mei 2021

Renungan Harian
Senin, 03 Mei 2021
Pesta S. Filipus dan Yakobus Rasul

Bacaan I: 1Kor 15: 1-8
Injil: Yoh. 14: 6-14

Pekerjaan

Beberapa waktu yang lalu berita politik Indonesia heboh dengan berita kunjungan Presiden Joko Widodo ke proyek Hambalang. Sebagaimana diketahui bersama bahwa proyek Hambalang, digagas dan mulai dilaksanakan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek itu menjadi mangkrak karena diduga uang untuk proyek sudah habis dikorupsi. Bahkan Korupsi proyek itu menyeret nama-nama penting dalam pemerintahan pada waktu itu dan para petinggi partai Demokrat.
 
Kunjungan Presiden Jokowi ke Hambalang ditafsirkan macam-macam, baik yang menafsirkan sebagai tindakan simbolik, ada juga yang menafsirkan bahwa ada usaha untuk menghidupkan kembali proyek itu. Pada intinya umumnya menafsirkan kunjungan itu sebagai bagian “perang” politik.
 
Lepas dari tafsiran para pengamat politik dan juga tidak ingin masuk dalam wilayah itu, mangkraknya  proyek Hambalang dilihat sebagai noda hitam dalam pemerintahan SBY. Keberhasilan sebuah pemerintahan diukur dari hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah pada masa pemerintahannya. Semakin banyak pekerjaan yang berguna bagi bangsa dan rakyat maka semakin berhasil pemerintah yang berkuasa.
 
Kiranya penilaian seperti itu tidaklah aneh, karena seorang pribadi pun akan dinilai berdasarkan apa yang sudah dikerjakan. Semakin banyak hasil karya seseorang yang berguna dan dapat dinikmati orang lain maka semakin hebat seseorang dinilai oleh orang lain. Dengan kata lain pekerjaan seseorang sering kali menjadi ukuran kualitas pribadi seseorang.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes ukuran seseorang sebagai orang yang percaya pada Yesus adalah pekerjaannya. Sejauh mana seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Tuhan. “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”
 
Bagaiman dengan aku? Pekerjaan apa yang telah aku kerjakan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Mei 2021

Renungan Harian
Minggu, 02 Mei 2021
Hari Minggu Paskah V

Bacaan I:  Kis. 9: 26-31
Bacaan II: 1Yoh. 3: 18-24
Injil: Yoh. 15: 1-8

Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

Dalam sebuah retret, saya mengatakan bahwa retret ini saat masing-masing dari kita untuk melihat diri sendiri dan merefleksikan pengalaman perjalanan hidup masing-masing. Keberhasilan retret bukan tergantung dari saya tetapi tergantung dari keterbukaan dan kesediaan masing-masing dari kita untuk melihat dan merefleksikan hidup.
 
Pada malam pertama ada seorang bapak guru yang meminta waktu untuk berbicara. Dia masih muda, guru baru, dan baru lulus sarjana keguruan. Dia bercerita bahwa dia dan adik perempuannya mempunyai luka yang amat dalam dengan orang tuanya. Mereka berdua merasa sebagai anak yang dibuang oleh kedua orang tuanya, karena sejak kecil dititipkan ke nenek mereka. Sedang orang tuanya tidak tahu kemana, baru akhir-akhir ini mereka tahu bahwa kedua orang tuanya menjadi TKI di Malaysia.
 
Saya bertanya selama tinggal dengan nenek siapa yang membiayai hidup mereka. Sejak kecil mereka tahu bahwa mereka hidup dari hasil sawah nenek yang digarap oleh parang penggarap, karena neneknya  sudah tidak kuat lagi untuk menggarap sawah. Masih menurut bapak guru itu, bahwa semua biaya hidup dan pendidikan hingga lulus kuliah dan adiknya masih kuliah berasal dari sawah neneknya yang cukup luas.
 
Baru  akhir-akhir ini mereka tahu bahwa orang tuanya selalu mengirim uang ke neneknya dan kemudian dibelikan sawah untuk membiayai hidup mereka. Bapak guru itu dan adiknya satu pihak tahu bahwa mereka hidup dari hasil keringat kedua orang tuanya, tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa mereka sejak kecil tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Perasaan dibuang itu lebih dominan dan itu amat menyakitkan.
 
Saya mengajak untuk mengolah rasa sakit itu dengan melihat dan merenungkan kenyataan yang dihadapi orang tuanya. Kedua orang tuanya pergi menjadi TKI dan menitipkan kedua anaknya ke nenek mereka tentu dengan harapan anak-anaknya dapat hidup lebih layak, dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Kiranya orang tua tidak akan mudah meninggalkan anak-anak mereka, pasti ada luka yang mendalam tetapi pilihan itu diambil demi kebahagiaan anak-anaknya.
 
Benar bahwa bapak guru itu dan adiknya tidak mendapatkan kasih sayang orang tua sebagaimana teman-teman lain, benar bahwa anak-anak butuh kasih sayang kedua orang tua bukan hanya soal materi tetapi cinta yang besar pada anak-anaknya membuat kedua orang tua mengambil keputusan yang amat berat.
 
Pada akhir retret, bapak guru itu menangis dan merasa berdosa dengan kedua orang  karena selama ini telah membencinya. Selama retret ia mengalami dan merasakan betapa cinta orang tuanya yang begitu besar terhadap dirinya dan adiknya. Pengorbanan yang luar biasa telah dibuat orang tuanya. Dia sadar, tidak pernah ada kata cinta dan belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya, tetapi keputusan orang tuanya menunjukkan kasih sayang yang luar biasa bagi dirinya dan adiknya.
 
“Syukur pada Allah, bapak bisa melihat pengalaman luka yang amat dalam menjadi pengalaman cinta. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi besar untuk menjalani perjalanan hidup yang lebih baik, membanggakan kedua orang tua” kata saya menutup perjumpaan malam itu.
 
Sudah barang tentu perjuangan yang luar biasa bagi bapak guru itu untuk bisa mengolah pengalaman hidupnya. Dia bisa mengalami cinta orang tuanya yang selama ini baginya adalah kebencian karena menelantarkan. Cinta bukan soal kata-kata dan belaian semata tetapi pemberian hidup dan kebahagiaan bagi yang dicintainya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Yohanes yang pertama: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah mencintai dengan perbuatan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 1 Mei 2021

Renungan Harian
Sabtu, 01 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 13: 44-52
Injil: Yoh. 14: 7-14

Menghasut

Beberapa hari ini viral berita di media sosial tentang seorang ibu rumah tangga yang karena iri terhadap tetangganya yang secara ekonomi lebih baik, mengunggah video yang menyatakan bahwa tetangganya menjalani ritual pesugihan babi ngepet.
 
Dalam potongan video, ibu itu mengatakan:
“Dari kemarin saya sudah pantau, Pak, orang ini. Ini dia berumah tangga, dia nganggur tapi uangnya banyak. Saya sudah lewat rumahnya, udah saya lemparin sesuatu di depan rumah biar ketahuan.”
Unggahan video ini menyebabkan banyak warga mendatangi rumah ibu itu dan kemudian ibu membuat klarifikasi permohonan maaf atas tuduhan kepada tetangganya.
 
Namun warga di kampung itu geram dengan perilaku ibu itu dan mengusir ibu itu keluar dari kampung itu. Akhirnya ibu itu harus menerima kenyataan harus pindah dari rumahnya.
 
Kejadian seperti di atas sering muncul di media sosial orang mengunggah video yang berisi tuduhan dan hasutan kepada seseorang atau kelompok tertentu. Motivasi mengunggah video seperti itu kemudian diketahui karena iri hati. Tidak jarang bahwa banyak orang yang termakan oleh hasutan itu sehingga orang yang tidak bersalah menjadi korban.
 
Dalam peristiwa sehari-hari, tidak jarang dari mulutku keluar hasutan-hasutan yang bersumber dari iri hati. Mungkin sudah ada atau banyak yang menjadi korban dari hasutan-hasutan yang keluar dari mulutku. Apalagi di zaman media sosial sekarang ini, betapa mudah untuk membuat hasutan-hasutan dan tuduhan-tuduhan terhadap orang lain.
 
Sebagaimana dialami oleh Paulus dan Barnabas sejauh diwartakan dalam kisah Para Rasul, karena iri hati beberapa orang Yahudi dan hasutan-hasutannya kepada perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di Antiokhia, menimbulkan penganiayaan dan pengusiran.
“Begitulah mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas, dan mengusir mereka dari daerah itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah yang keluar dari mulutku adalah hasutan atau pencerahan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 30 April 2021

Renungan Harian Jumat, 30 April 2021

Bacaan I: Kis. 13: 26-33
Injil: Yoh. 14: 1-6

Menenangkan

Dulu, saya pernah diajak untuk terjun payung tandem. Saya tahu bahwa instruktur terjun itu sudah amat berpengalaman dan selama ini aman. Saat esok hari mau terjun, malam hari saya amat gelisah, yang membuat saya hampir tidak dapat memejamkan mata barang sekejap. Beberapa kali harus ke kamar mandi meskipun tidak ada yang dibuang.
 
Pagi hari ketika saya menuju landasan perasaan semakin tidak menentu. Hal buruk selalu menghantui, bagaimana seandainya payung tidak mengembang, bagaimana nanti saya memposisikan kaki pada saat mendarat, banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Semua pikiran itu membuat semakin gelisah.
 
Sampai di tempat berkumpul, saya diajak instruktur untuk memeriksa payung dan memastikan bahwa payung sudah terlipat dengan baik. Setelah itu memastikan helm dan pakaian yang saya kenakan, sudah baik.
 
Saat naik ke pesawat perasaan semakin tidak menentu, seandainya bisa dibatalkan saya ingin membatalkan. Instruktur nampaknya tahu dan mengerti kegelisahan saya. “Tenang, pokoknya ikuti instruksi saya, ikut dan pasrah semua akan baik-baik dan kita akan menari di angkasa,” kata instruktur itu dengan tersenyum. “Rasa takut dan khawatir itu baik agar kita menjadi lebih hati-hati dan teliti,” imbuhnya.
 
Ada perasaan sedikit tenang, mendengar kata-kata instruktur, apalagi beberapa kali instruktur menepuk pundak dan mengajak bercanda. Keyakinan akan kemampuan instruktur dan adanya kepasrahan kepada kemampuannya membuat saya menjadi lebih tenang, sehingga bisa menikmati terjun dengan damai dan selamat.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.”
Kalau dengan manusia saja aku bisa mempercayakan hidupku dan membuat aku tenang, apalagi dengan Allah.
 
Bagaimana dengan aku? Beranikah aku mempercayakan hidupku kepada Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 29 April 2021

Renungan Harian
Kamis, 29 April 2021
PW. St. Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Kis. 13: 13-25
Injil: Yoh. 13: 16-20

Tidak Tahu Diri

Dulu, sewaktu saya masih frater, saya bertemu dengan seorang ibu yang aktif dalam berbagai karya sosial. Salah satu karya sosialnya adalah mendampingi para perempuan pekerja seks komersial (PSK). Ibu dan teman-temannya memberikan berbagai pelatihan keterampilan kepada para PSK dengan harapan bisa sebagai bekal hidup, dan harapan yang lebih besar, para PSK itu bisa keluar dari situasinya saat ini.
 
Ibu itu bercerita bahwa banyak perempuan yang “terpaksa” dan “terjebak” menjadi PSK karena masalah ekonomi. Mereka tidak punya kemampuan untuk menyambung hidup sehingga menjadi PSK. Oleh karena itu dengan usaha memberi ketrampilan bisa menjadi bekal para PSK untuk keluar dari situasinya.
 
Ada satu PSK yang amat rajin mengikuti kegiatan itu dan menurut ibu itu amat berbakat dalam menjahit dan membordir. Sehingga ia menjadi lebih cepat maju dibanding dengan teman-temannya. Ibu itu mempunyai usaha menjahit, maka sering ibu meminta jasanya untuk menjahit dan membordir. Karena pekerjaannya halus dan rajin, ibu itu menawarkan agar dia keluar dari lokalisasi itu. Perempuan itu mengatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh ingin bertobat, dan ingin memulai hidup baru.
 
Melihat kesungguhan niatnya, ibu itu menawarkan untuk ikut bekerja dengan ibu itu dan tinggal di rumahnya. Perempuan itu menerima tawaran dengan senang hati. Dan kemudian perempuan itu bekerja dengan ibu itu dan tinggal di rumahnya.
 
Perempuan itu bekerja dengan baik, dan bersikap amat baik di rumah  ibu itu. Sehingga dengan cepat dapat berbaur dengan pegawai lain dan tetangga-tetangga di tempat ibu itu tinggal. Bagi ibu itu, perempuan itu sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya.
 
Setelah 6 bulan perempuan itu tinggal di rumah itu, petaka menimpa keluarga ibu itu. Tanpa diketahui dan disadari oleh ibu itu, perempuan itu menjalin hubungan asmara dengan suaminya. Dan entah bagaimana suaminya pergi dari rumah dengan perempuan itu. Ibu itu amat terpukul dan amat sedih. Orang yang ditolong dan bahkan diangkat menjadi saudara tetapi malah menghancurkan keluarganya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Bukankah bila aku mengingkari Tuhan berarti aku mengangkat tumitku terhadap Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 April 2021

Renungan Harian
Rabu, 28 April 2021

Bacaan I: Kis. 12: 24-13:5a
Injil: Yoh. 12: 44-50

Representasi

Ketika awal-awal menjalani tahun orientasi kerasulan, saya diberi tahu romo rektor, kalau suster-suster dan beberapa umat yang kenal mengatakan bahwa frater seringkali kalau pergi pakai t-shirt, menurut mereka itu tidak pantas. Dan hal yang kedua yang menurut mereka tidak pantas, beberapa kali frater terlihat duduk di pinggir pantai.
 
Mendengar teguran itu saya tidak senang, karena menurut saya tidak ada yang salah dan tidak ada yang saya langgar dengan cara saya berpakaian. Saya lebih senang memakai t-shirt karena di Dili udaranya amat panas, sehingga lebih nyaman menggunakan t-shirt. Hal kedua apa salahnya saya menikmati keindahan pantai di sore hari. Pantai di Dili amat bagus, apalagi sore hari.
 
Romo rektor, mengingatkan saya bagaimanapun juga bahwa saya adalah frater, maka penampilan dan tingkah laku saya harus menampilkan citra seorang religious yang baik dan terhormat. Apalagi bagi umat di Timor Timur (Timor Leste) kaum religius dianggap manusia setengah dewa. Bagi umat di Timor-Timur para religious harus menampilkan sosok Kristus.
Sejak saat itu kalau keluar rumah, saya harus pakai kemeja yang rapi dan menghindari hal-hal yang dianggap umat tidak pantas.
 
Pengalaman awal-awal masa tahun orientasi itu menjadi bekal bagi saya  dan selalu terngiang hingga kini. Setelah menjadi imam, tuntutan umat akan perilaku sebagai imam semakin tinggi. Ada banyak hal yang bagi saya hal biasa tetapi bagi umat dianggap tidak pantas dan menjadi sandungan. Oleh karenanya hal ini sering menjadi tegangan dalam diri saya. Sering saya mengatakan dalam hati: “Imam kan juga manusia.” Atau sering saya membuat rasionalisasi: “Itu kan pendapat orang-orang tua yang punya pandangan kuno.”
 
Apapun alasan saya, satu hal yang harus saya sadari, bahwa saya sebagai imam, yang berarti sebagai utusan harus merepresentasikan Dia yang mengutus aku. Bahkan sering kali imam disebut sebagai “alter Kristus” (menampakkan Kristus). Belajar untuk selalu sadar dan menyadari perilaku agar lewat hidupku semakin hari semakin merepresentasikan Dia yang telah memanggil dan mengutus aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Barang siapa percaya kepadaKu, ia percaya kepada Dia yang telah mengutus Aku; dan barang siapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah dalam panggilan dan perutusanku masing-masing, aku telah merepresentasikan Dia yang memanggil dan mengutus aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 April 2021

Renungan Harian
Selasa, 27 April 2021

Bacaan I: Kis. 11: 19-26
Injil: Yoh. 10: 22-30

Seandainya

Suatu sore saya berkunjung ke rumah salah satu umat di paroki tempat saya bertugas. Keluarga itu mempunyai toko grosir barang-barang kelontong yang cukup besar. Selain menjual di tokonya, Mereka juga mempunyai beberapa karyawan yang menjual barang-barang itu ke toko-toko atau warung-warung di pasar.
 
Ketika kami ngobrol, bapak itu bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga sampai di tempat ini.
“Romo, saya itu selalu bersyukur dengan peristiwa pahit yang dialami oleh keluarga saya. Bukan maksud saya mensyukuri kegagalannya, tetapi saya bersyukur karena dengan peristiwa itu membuat saya dan adik-adik jadi hidup lebih baik.
 
Romo, saya tiga bersaudara, saya sulung dan mempunyai 2 adik, satu laki-laki dan satu perempuan. Bapak adalah pengusaha sukses untuk ukuran kampung kami. Bapak punya toko yang jual pupuk dan bibit, punya penggilingan padi dan punya sawah yang cukup luas. Bapak juga mempunyai 3 buah truk yang mengangkut hasil bumi dari kampung untuk dijual ke kota. Dengan semua itu kami hidup lebih cukup, bahkan untuk ukuran kampung kami, keluarga kami bisa disebut sebagai keluarga yang berada.
 
Di saat teman-teman pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, kami sudah naik sepeda atau diantar dengan sepeda motor. Saya diberi bekal uang yang lebih dari cukup, sehingga sering saya mengajak teman-teman untuk jajan. Saya selalu berbagi dengan teman-teman. Kami mempunyai halaman yang luas, sehingga saya dan teman-teman sering bermain bola atau main apa saja di halaman rumah. Dan yang paling menyenangkan adalah ibu selalu menyediakan makanan untuk saya dan teman-teman.
 
Saat saya kelas tiga SMP, bapak bangkrut karena ditipu oleh teman dekatnya yang sejak semula sudah dianggap adik oleh bapak. Semua habis romo, syukur pada Allah masih menyisakan sepetak sawah yang kemudian digarap oleh bapak untuk menyambung hidup kami. Situasi membuat kami sungguh-sungguh menderita. Kami semula selalu berlebih sekarang serba kekurangan, bahkan untuk makan pun kami sering kesulitan.
 
Peristiwa itu membuat saya setelah lulus SMP merantau bersama dengan adik  saya yang baru kelas 1 SMP. Kami berdua berpikir dengan kami merantau kami mengurangi beban orang tua di rumah. Kami berdua kerja apa saja untuk makan. Kami jadi kuli di pasar, jadi pembantu di warung, pernah jadi kernet angkot apa saja romo kami kerjakan. Sampai kami kemudian diterima kerja di sebuah toko kelontong. Saya dan adik bekerja sebagai tukang angkut barang dan mengantar barang ke konsumen.
 
Dengan kerja seperti itu saya mulai kenal dengan sales-sales yang datang ke toko kelontong tempat kami bekerja. Dari perkenalan itu, beberapa sales sambil bergurau ngomong, kalau kami punya toko, akan dipasok barang-barang dan bisa bayar dengan tempo 2 minggu. Saya tertawa aja karena bagaimana saya bisa punya toko.
 
Romo, Tuhan itu selalu punya cara untuk memberikan anugerah. Tidak ada angin, tidak ada hujan, bos saya bilang ke saya, kalau dia punya toko di pasar yang tidak pernah dipakai. Saya ditawari mau pakai dan jualan di sana tidak? Barang-barang boleh ambil dari sini lebih dahulu nanti baru bayar.
 
Romo, sejak saat itu hidup kami, saya dan adik mulai berubah. Toko kami menjadi maju, kami punya banyak langganan sehingga kami bisa bantu adik yang perempuan sekolah hingga lulus kuliah, dan bisa bantu-bantu untuk bapak dan ibu di kampung.
 
Kemudian, saya memutuskan untuk buka toko di tempat ini, dan adik tetap di toko kami yang awal. Romo, sampai sekarang saya selalu berpikir seandainya bapak dahulu tidak bangkrut mungkin saya tidak bisa jadi orang seperti ini. Mungkin saya hanya jadi anak yang mengandalkan harta orang tua. Saya selalu bersyukur bahwa dibalik kehancuran dan penderitaan yang luar biasa ternyata itu cara Tuhan mendidik dan menuntun saya menjadi orang,”  bapak itu mengakhiri kisahnya.
 
Tuhan sungguh luar biasa seperti yang bapak itu katakan. Tuhan punya cara yang sering kali tidak masuk akal untuk menuntun dan membibing umatNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kisah para Rasul, peristiwa penganiayaan pengikut Kristus setelah Stefanus dibunuh, menjadikan kabar gembira tentang Yesus Kristus menjadi tersebar kemana-mana keluar dari Yerusalem. Seandainya tidak ada penganiayaan mungkin hanya terbatas di sekitar Yerusalem saja. “Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku menemukan rahmat dibalik peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan – CLC-DI-YOGYAKARTA

Acara Bersama
CLC Yogyakarta & Realino SPM

Kami mengundang para sahabat CLC untuk mendengarkan pengalaman dan kisah yang akan disampaikan langsung oleh Fr. Diakon Pieter Dolle, S.J. dalam “Berjalan Bersama yang Tersingkirkan”.

Harapan kami, ada sahabat-sahabat CLC yang ikut tergerak untuk mendukung dan/atau menjadi sukarelawan. Di sisi lain, Realino SPM bisa menjadi sarana bagi orang-orang yang sungguh ingin terlibat dalam karya nyata bagi mereka yang tersingkirkan.

Kami mengadakan acara pada:
Senin, 26 April 2021
Pukul 18.00 s/d 19.00 WIB
Link Zoom akan kami bagikan beberapa jam sebelum acara.

AMDG
Berkah Dalem

CLC Yogyakarta & Realino SPM

Link Zoom untuk acara
CLC Yogyakarta & Realino SPM

Berjalan Bersama yang Tersingkirkan
26 April 2021
18:00 (6 sore) WIB

Meeting ID: 635 898 5886
Passcode: clc

Link Zoom
https://zoom.us/j/6358985886?pwd=OHpDMEZOWE1ZeXl5bFMwcEJpNTI3QT09

AMDG
Berkah Dalem

—————————

PELAKSANAAN ACARA

  • Selamat datang dalam zoom

Doa Pembukaan dan Pengantar (Mas Heri)

MC memperkenalkan narasumber dan memberikan waktu untuk presentasi (Mb Lia)

Presentasi materi oleh Narasumber (Fr. Diakon Pieter Dolle, SJ)

Tanya jawab/tanggapan/sharing peserta atas presentasi materi ..

BAHAN/MATERI PRESENTASI

TERIMA KASIH … AD MAIOREM DEI GLORIAM

Renungan Harian: 26 April 2021

Renungan Harian
Senin, 26 April 2021

Bacaan I: Kis. 11: 1-18
Injil: Yoh. 10: 1-10

Aku  Bukan Pemilik

Pada suatu kesempatan, seorang Uskup menegur seorang Imam yang tidak mengikuti  pertemuan para imam. Beberapa waktu sebelumnya bapak Uskup sudah menegaskan penting pertemuan para imam, karena pertemuan ini adalah bagian bina lanjut (on going formation) bagi para imam. Saat ditegur bapak Uskup, imam itu menjawab bahwa pada hari itu ada acara pertemuan penting di parokinya. Mendengar jawaban imam tersebut bapak Uskup mengatakan:
“Romo, Gereja tidak akan bubar karena romo tinggalkan ikut pertemuan imam.”
 
Saya ingat sebuah kisah. Ada seorang penggembala kambing, yang sedang menggembalakan kambingnya di sebuah padang rumput. Kambing yang digembalakan amat banyak sehingga dia selalu membawanya di padang yang cukup luas.
 
Ketika sedang menggembalakan ada seorang bapak yang menyapanya: “Pak, ada berapa jumlah kambing bapak?”
“Maaf, semua ini bukan kambing-kambing saya, saya hanyalah penggembalanya saja. Saya tidak tahu berapa jumlah kambing-kambing itu,” jawab si gembala.
“Kalau tuanmu apakah tahu berapa jumlah kambing-kambing itu?” tanya bapak itu.
“Tuanku pasti tidak tahu jumlah kambing-kambing itu karena saya yang selalu menggembalakan dan mengurusnya.” Jawab si gembala.
“Saya beli kambing 1, saya hargai 500 ribu ya?” kata bapak itu.
“Maaf pak, kalau soal jual beli silahkan langsung menghubungi tuan saya,” kata si gembala.
“Tuanmu kan tidak tahu berapa jumlah kambingnya, kamu pun tidak tahu. Jadi kalau saya ambil satu tidak ada yang tahu, dan uangnya untuk kamu” desak bapak itu.
“Pak, saya bukan pemilik, saya hanya gembala, jadi saya tidak berhak untuk menjual kambing itu. Meskipun tuan saya dan saya tidak tahu berapa jumlah kambing itu, tetapi saya tahu bahwa kambing itu berkurang satu kalau bapak beli,” jawab si gembala.
 
Berdasarkan kejadian dan kisah di atas, saya diingatkan bahwa saat saya menjalani perutusan, saya bukan pemilih karya itu. Saya adalah utusan yang mengerjakan karya itu. Maka ketika saya merasa sukses dengan sebuah karya, tidaklah pantas saya mengaku bahwa itu adalah karya saya, sehingga ketika saya dipindah tugaskan untuk karya yang baru, saya menjadi kesal dan marah.
 
Ada kecenderungan besar dalam diri saya untuk merasa bahwa karya ini adalah milik saya dan saya menyombongkan diri bahwa kalau tidak ada saya karya ini tidak akan berhasil. Kalau saya bertindak seperti itu maka saya bagai pencuri di kandang domba. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku merasa karya ini sebagai karyaku dan milikku atau aku sadar sebagai seorang utusan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.