Renungan Harian: 24 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 24 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 14-20
Injil    : Luk. 21: 5-11

S e x y

Sudah amat sering dalam berbagai kesempatan maupun di pelbagai tempat diadakan seminar atau pengajaran tentang akhir zaman. Pelbagai judul seminar yang memikat ditampilkan untuk menarik orang mengikuti acara tersebut. Judul itu misalnya: “Mengintip zaman akhir”, “Sekarang tanda-tanda akhir zaman mulai nampak “ dan lain sebagainya.
 
Dengan pelbagai judul dan warta itu banyak orang terpikat untuk mengikutinya; karena mereka berprasangka bahwa para pembicara itu tahu kapan akhir zaman akan terjadi. Sehingga para pengikut seminar atau pengajaran itu punya harapan besar bahwa setelah ikut seminar atau pengajaran, mereka akan tahu kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Saya tidak tahu persis apa isi seminar atau pengajaran tersebut, karena belum pernah mengikuti, dan tanpa bermaksud menghakimi para narasumbernya, tapi dapat diduga bahwa yang dibicarakan adalah hal-hal yang tertulis dalam kitab Wahyu, kitab Daniel atau dari Injil yang bicara tentang akhir zaman. Saya menduga demikian karena saya yakin bahwa para narasumber tidak tahu pasti kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Pertanyaan muncul, mengapa tema-tema akhir zaman menjadi tema yang sexy untuk “dijual”? Akhir zaman adalah misteri besar dalam hidup manusia maka bila ada yang bisa menguak misteri itu pasti menjadi menarik. Sering kali mereka yang ikut seminar dan pengajaran tersebut lebih ingin memuaskan pengetahuan mereka  daripada ingin mempersiapkan diri lebih baik sehingga bila saatnya tiba mereka selamat.
 
Banyak orang, termasuk saya sering kali merasa puas dan senang ketika menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang luar biasa. Namun rasa puas dan senang itu seringkali menjebak saya untuk berhenti pada rasa itu. Saya lupa untuk mengolah, mengunyah dan mencecap-cecap pengetahuan itu sehingga tidak memunculkan gerakkan batin, tidak memunculkan kehendak, apalagi sebuah keputusan untuk bertindak.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini mengingatkan, agar tidak terjebak dengan pengetahuan semata, tetapi yang lebih penting adalah bertindak, menata diri, mempersiapkan diri dari waktu ke waktu agar bila saatnya tiba, aku dianggap pantas. Sabda Tuhan sejauh diwartakan St. Lukas dengan tegas mengingatkan agar waspada: “Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Orang yang menyesatkan atau disesatkan? Orang yang puas dengan pengetahuan atau orang yang berani mengolah apa yang kuterima?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 23 November 2020

Renungan Harian
Senin, 23 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 1-3. 4b-5
Injil    : Luk. 21: 1-4

Orang Kaya

Malam itu kami mengadakan rapat pembangunan. Rapat ini adalah rapat rutin setiap akhir bulan untuk membicarakan berbagai hal berkaitan dengan pembangunan pastoran. Sebagaimana biasa dalam rapat kami mendengarkan laporan tentang perkembangan  pembangunan, laporan berbagai macam kendala yang harus diselesaikan dan yang paling terakhir adalah laporan tentang dana.
 
Setiap kali kami mendapatkan sumbangan dalam jumlah besar, kami selalu bersyukur dan kagum dengan orang-orang yang menyumbang dalam jumlah besar. Malam itu salah satu tim dana menyampaikan bahwa ada amplop sumbangan dari seorang ibu. Kami mengenal ibu yang memberi sumbangan itu adalah seorang janda yang hidup amat sederhana, dan untuk kehidupan sehari-hari selain berjualan, beliau selalu mendapatkan bantuan dari seksi sosial paroki.
 
Amplop itu belum dibuka karena tim dana tidak berani membuka dan berpikir sumbangan itu lebih baik dikembalikan mengingat keadaan beliau. Kami memutuskan untuk membuka amplop sumbangan beliau dan ternyata jumlah uang dalam amplop itu 2 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar bahkan amat besar untuk ibu itu. Setelah ditimbang-timbang kami memutuskan untuk mengembalikan sumbangan itu karena menurut kami akan lebih berguna untuk kehidupan ibu itu.
 
Ketika saya bertemu dengan ibu itu untuk mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan sumbangannya dan bermaksud untuk mengembalikannya, ibu itu berkata:

“Romo, mohon agar berkenan menerima sumbangan Oma, meskipun amat sedikit. Ketika romo mengumumkan pembangunan pastoran dan mengumpulkan dana, oma sedih karena oma tidak punya apa-apa. Ingin ikut andil tetapi untuk hidup sehari-hari saja oma dibantu paroki.
 
Romo, karena oma ingin sekali ikut andil, maka oma memutuskan menyisihkan sedikit uang oma. Oma pikir, cukup bisa makan sekali sehari dan sisanya oma kumpulkan. Mungkin hanya sekali oma bisa memberikan sumbangan tetapi oma bahagia bisa ikut andil dalam pembangunan pastoran. Maka oma berharap dengan sangat agar romo berkenan menerima sumbangan oma.”
 
Saya pulang ke pastoran tanpa terasa air mata saya berlinang. Saya telah bertemu dengan orang yang luar biasa; orang yang secara materi memang miskin tetapi beliau bagi saya adalah orang yang kaya; dan yang lebih membuat hati saya sedih, pastoran yang bagus itu dibangun dari uang orang yang rela makan sekali sehari.
 
Bagi saya, oma itu adalah janda miskin yang dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh St. Lukas. Orang yang memberikan persembahan amat besar. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 22 November 2020

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan I  : Yeh. 34: 11-12. 15-17
Bacaan II : 1Kor. 15: 20-26a. 28
Injil     : Mat. 25: 31-46

Nasi Bungkus

Dalam pertemuan seksi sosial paroki, para pengurus mengusulkan agar paroki mengadakan aksi sosial membagi nasi bungkus satu kali dalam seminggu untuk saudara-saudara yang  berkekurangan. Idenya bukan hanya agar  saudara-saudara yang berkekurangan mendapatkan makan tetapi juga agar mereka mendapatkan makanan yang sedikit lebih baik. Akhirnya diputuskan untuk dijalankan.
 
Sesuai dengan kesepakatan dalam rapat pada hari itu mulai pagi beberapa ibu dan beberapa bapak mulai memasak untuk menyiapkan nasi bungkus. Hari itu kami menyediakan 250 nasi bungkus untuk dibagikan. Setelah selesai membungkus maka para bapak dan ibu itu berbagi tugas untuk berkeliling membagikan nasi bungkus.
 
Dalam perjalanan waktu, kami kesulitan untuk menentukan menu, karena bahan dasar selalu telur, daging ayam dan tahu tempe. Kami selalu bicara tidak masalah dengan bahan dasar tetapi yang penting cara mengolahnya selalu berganti dan selalu diusahakan agar nasi harus baik.
 
Pada suatu saat harga ayam begitu mahal, sehingga kami memutuskan untuk beberapa kali menyediakan masakan berbahan dasar telur. Keputusan itu dibuat karena kemampuan kami terbatas. Dalam bulan itu hanya satu kali menu berbahan dasar daging ayam.
 
Suatu hari, beberapa ibu sepulang membagi nasi bungkus, tampak sedih dan marah. Beliau bercerita bahwa ada dua orang yang menerima nasi bungkus ketika melihat menunya berbahan telur ngomel-ngomel dan langsung membuang nasi bungkus itu ke tempat sampah. Mendengar cerita ibu-ibu itu, saya mengatakan untuk tidak berkecil hati. Hal yang paling penting adalah usaha kita untuk berbagi. Niat baik disertai usaha yang baik dan kerja yang baik untuk saudara-saudara kita, menurut saya itu sudah luar biasa. Soal ada yang menerima dengan senang hati atau ada yang menolak bahkan mencemooh jangan menjadikan risau dan surut. Tugas kita adalah berbagi kasih.
 
Dalam pembicaraan pada waktu evaluasi beberapa dari bapak dan ibu itu bercerita bahwa pengalaman kebahagiaan saat berbagi lebih besar dari pada dukanya. Kelelahan dan kesulitan dalam menyiapkan nasi bungkus terbayar melihat kebahagiaan saudara-saudara yang menerima. Bahwa ada yang menolak tidak menjadi persoalan karena hati ini diajarkan, dilatih untuk peka dengan saudara-saudara yang berkekurangan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menegaskan bahwa betapa penting kepekaan hati pada saudara-saudara yang berkekurangan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.”
 
Apakah aku mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri saudaraku yang hina dan berkekurangan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 21 November 2020

Renungan Harian
Sabtu, 21 November 2020

PW. St. Maria dipersembahkan kepada Allah
Bacaan I : Why. 11: 4-12
Injil    : Luk. 20: 27-40

Memperalat

Suatu pagi, saya kedatangan tamu, yang memperkenalkan diri sebagai seorang penginjil. Pada waktu itu pastoran tempat saya tinggal adalah rumah sederhana berada di tengah perkampungan penduduk terpisah dari gereja. Sehingga penginjil itu tidak tahu kalau saya seorang pastor.
 
Setelah memperkenal dirinya, dan saya juga memperkenalkan diri sebagai pastor Gereja katolik, beliau berkata bahwa saya harus bertobat, karena kalau tidak bertobat saya akan masuk neraka. Kemudian beliau menambahkan bahwa baptisan yang telah saya terima tidak sah karena tidak ditenggelamkan dalam air dan hidup selibat itu juga tidak benar. Untuk mendukung pendapatnya itu beliau membacakan ayat-ayat kitab suci dari berbagai surat dan kitab.
 
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sudah mengimani Kristus dengan cara yang diajarkan Gereja Katolik, jadi saya tidak akan meninggalkan apa yang sudah saya yakini. Dan kemudian beliau pergi.
 
Saya menjadi aneh dengan penginjil itu mengapa saya yang sudah memperkenalkan diri sebagai pastor tetap dikotbahi untuk berpindah keyakinan. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya, beliau sudah menyiapkan ayat-ayat dari kitab suci yang menurut saya dipaksakan untuk mendukung pernyataannya. Ayat-ayat kitab suci  telah diperalat untuk kepentingannya.
 
Saya ingat Sri Paus pernah menegaskan agar para imam tidak menggunakan mimbar untuk marah-marah atau memarahi umat. Bukankah ketika menggunakan mimbar untuk marah-marah berarti juga telah memperalat sabda Tuhan untuk kepentingan pribadi?
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas mengisahkan orang-orang Saduki yang menggunakan ajaran Musa untuk mendukung kepentingan pribadi bukan untuk melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Guru, Musa menuliskan untuk kita perintah ini……”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah memanipulasi hal-hal yang rohani dan baik hanya demi kepentingan pribadiku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 20 November 2020

Renungan Harian
Jumat, 20 November 2020

Bacaan I : Why. 10: 8-11
Injil    : Luk. 19: 45-48

Pamrih

Beberapa tahun yang lalu setelah makan malam, saya menemui tamu seorang bapak. Saya mengenal bapak tersebut sebagai salah satu orang yang aktif dalam berbagai kegiatan di paroki, dan bukan hanya saja aktif bapak tersebut juga beberapa kali memberi sumbangan untuk acara-acara di paroki.
 
Bapak tersebut sebenarnya aktif ikut kegiatan di gereja baru kurang lebih selama 6 bulan ini. Sebelumnya saya tidak mengenal bapak itu meski saya sudah beberapa tahun bertugas di paroki ini karena memang bapak tersebut tidak pernah muncul di gereja.
 
Malam itu, bapak tersebut menyampaikan bahwa dirinya akan maju menjadi anggota parlemen, beliau minta restu dan dukungan. Mendengar permintaan tersebut, saya menjawab bahwa saya dengan senang hati mendoakan dan mendukung niat baik bapak tersebut. Kemudian beliau meminta dukungan konkret dari saya. Bentuk dukungan konkret yang beliau minta adalah sebuah surat pernyataan dan himbauan dari pastor bahwa pastor mendukung bapak tersebut dan meminta umat untuk memilih dia, itu yang pertama. Dukungan berikut adalah bapak itu minta dalam beberapa kesempatan mengisi khotbah dalam perayaan ekaristi untuk menyampaikan visi misi serta meminta dukungan umat untuk memilih beliau.
 
Atas permintaan bapak tersebut saya menjawab: “Bapak, mohon maaf permintaan bapak untuk dua bentuk dukungan konkret tidak bisa saya penuhi. Bahwa saya mendukung bapak untuk maju menjadi anggota parlemen, tidak berarti saya bisa menerbitkan surat tersebut karena hal itu akan menyeret Gereja ke dalam politik praktis, dan lagi pasti ada umat lain yang mau maju atau punya calon yang lain.
 
Permintaan kedua sudah pasti tidak bisa dipenuhi karena dalam peribadatan jangan dicampur adukan dengan politik praktis, jangan menjadikan Gereja dan ekaristi sebagai sarana untuk kampanye. Saya akan memberi ruang dan kesempatan tetapi tidak dalam ekaristi.”
 
Mendengar jawaban saya, bapak tersebut menjadi kecewa dan marah. Beliau dengan keras mengatakan bahwa dirinya sia-sia selama ini aktif di gereja mengorbankan waktu, tenaga dan materi kalau tidak bisa mendapatkan dukungan. Beliau menyatakan bahwa saya tidak punya rasa terimakasih dan tidak tahu balas budi. Di ujung kemarahannya bapak itu mengatakan bahwa dirinya tidak akan terlibat di gereja lagi.
 
Saya diam mendengarkan kemarahan bapak tersebut. Hampir selama 1 jam bapak itu marah dan menceramahi saya pentingnya balas budi dan rasa terima kasih atas pengorbanan beliau.
Tidak ada satu katapun keluar dari mulut saya menjawab kemarahan bapak itu, sampai kemudian beliau pergi tanpa pamit.
 
Saya sedih mengalami peristiwa tersebut. Sedih bukan karena dimarahi dan dicela, tetapi sedih karena ada orang yang mengungkapkan dan mewujudkan imannya hanya demi kepentingan pribadi sesaat, demi sebuah ambisi dan pencitraan.
 
Kiranya hal ini yang dikritik Tuhan dengan dengan bersabda: “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikan sarang penyamun” sebagaimana diwartakan St. Lukas.
 
Bagaimana dengan aku? Untuk apa aku ikut dalam peribadatan dan aktif dalam kegiatan gereja?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 November 2020

Renungan Harian
Kamis, 19 November 2020

Bacaan I : Why. 5: 1-10
Injil : Luk. 19: 41-44

G r a n t e s

Hari itu jam 02.00 dini hari, saya pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah, untuk memberi sakramen perminyakan. Di halaman Rumah Sakit paman dari pasien itu telah menunggu, kemudian mengantar saya ke IGD tempat pasien mendapat perawatan.
 
Pasien itu adalah anak muda kelas 3 SMU. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas, motor yang dikendarainya bertabrakan dengan motor pengguna jalan lain. Sesampai di tempat anak itu dirawat, saya melihat luka yang cukup parah. Saya segera mengajak keluarga untuk berdoa. Selama berdoa, ibu dari anak itu tidak berhenti menangis dan meratap.
 
Setelah selesai berdoa, kami menunggu di ruang tunggu karena anak itu sedang mendapatkan perawatan. Saya duduk di sebelah ibu itu untuk menenangkan. Sambil terus berurai air mata dan terisak, ibu itu bercerita. “Pastor, ini semua salah saya, seandainya saya tidak membelikan motor pasti tidak ada kejadian seperti ini. Pastor, dia sudah sejak masuk SMU ribut minta dibelikan motor, karena dia ingin seperti teman-temannya. Saya tidak pernah menuruti permintaannya karena saya khawatir kalau dia celaka.
 
Sebulan yang lalu dia minta dengan marah-marah; saya menjelaskan banyak hal kenapa tidak menuruti permintaannya, tetapi dia tidak mau dengar. Saya amat khawatir pastor, karena saya dengar teman-temannya seneng balap-balapan. Dia marah dan tidak mau sekolah, pokoknya kalau tidak dibelikan motor dia tidak mau sekolah. Saya tetap tidak menuruti. Tetapi saya kemudian dipanggil ke sekolah karena anak saya sudah 1 minggu tidak sekolah.
 
Saya bingung pastor, saya berharap anak saya berhasil, punya masa depan yang baik, saya sebagai orang tua hanya bisa membekali dengan ilmu untuk masa depan dia. Tetapi gara-gara motor, anak saya lalu menjadi tidak jelas. Akhirnya saya mengalah dan membelikan motor. Apa yang saya khawatirkan terjadi, sekarang saya harus melihat anak saya seperti itu. Pastor, manah kula grantes. (Pastor, hati saya menangis sedih),” Ibu mengakhiri ceritanya.
 
“Ngger, saumpama kowe ngerti yen ibu orang nuruti kuwi merga ibu tresna lan ngeman kowe, kedadian iki mesthi ora ana.” Ibu itu berguman lirih.
(Nak, seandainya kamu mengerti kalau ibu tidak mau membelikan motor itu, karena ibu mencintai dan sayang denganmu, kejadian ini pasti tidak ada.)
 
Hubungan anak dengan ibunya itu seperti aku dengan Tuhan. Aku sering mencari keinginanku sendiri dan tidak peduli dengan Tuhan. Aku sering protes dengan Tuhan tanpa mengerti betapa Tuhan mencintai aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas, Yesus bersedih akan kedegilan hati umat yang dicintaiNya: “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
 
Sadarkah aku, akan cinta Tuhan yg sedemikian besar, lewat setiap peristiwa hidup yang kualami?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 November 2020

Renungan Harian
Rabu,18 November 2020

Bacaan I : Why. 4: 1-11
Injil    : Luk. 19: 11-28

Bengkel

Bengkel mobil itu selalu penuh dengan mobil-mobil yang mengantri untuk diperbaiki, meski bengkel itu tidak ada papan namanya. Bengkel ini lebih banyak diisi dengan mobil-mobil yang mengalami kerusakan yang umumnya cukup parah. Maka tidak heran yang mengantri di bengkel itu bukan mobil-mobil mewah dan bagus tetapi mobil-mobil niaga, seperti angkot, truk dan bus-bus.
 
Mbah bengkel, begitu saya biasa memanggilnya. Setiap hari mbah bengkel, yang sudah sepuh itu, selalu berlumuran dengan oli dan kotoran dari kerjaannya memperbaiki mobil. Beliau selalu dibantu oleh dua orang karyawan. Mbah bengkel amat dikenal sebagai montir yang ahli memperbaiki semua jenis kendaraan. Jadi tidak heran kalau banyak kendaraan yang selalu mengantri untuk mendapatkan sentuhan tangannya.
 
Mbah Bengkel pernah berkisah, bahwa dirinya bukanlah anak sekolahan, apalagi lulusan sekolah teknik. Zaman dulu, begitu beliau berkisah, karena keadaan, beliau tidak mungkin untuk sekolah. Ia bekerja menjadi kernet truk di sebuah perusahaan angkutan. Di tempat kerjanya truk-truk yang tua selalu dihindari oleh kernet-kernet yang ada, karena truk-truk itu banyak “rewelnya”. Dan entah bagaimana truk yang paling jelek dan banyak rewel selalu diserahkan ke mbah Bengkel untuk menjadi kernetnya.
 
Alih-alih marah dan sedih, mbah Bengkel senang mendapatkan truk tua yang sering rewel. Beliau berpandangan kalau mendapatkan truk-truk yang sering rewel maka dirinya akan banyak belajar tentang mesin-mesin kendaraan. Dan itu yang terjadi, semakin hari mbah Bengkel semakin mahir memperbaiki kendaraan hingga kemudian mendapat julukan dukun mesin, karena kendaraan-kendaraan yang “bobrok” mesinnya, ditangani mbah Bengkel akan menjadi baik kembali.
 
Mbah Bengkel menuturkan banyak teman sesama kernet zaman dahulu menyesal mengapa tidak bersikap seperti beliau dengan gembira menjadi kernet truk-truk yang banyak rewel sehingga bisa menjadi “dukun” mesin.
 
Sikap yang ditunjukkan mbah Bengkel, melihat beban sebagai kesempatan untuk belajar menjadikan beliau mendapatkan anugerah besar sebagai “dukun” mesin. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas sikap hamba-hamba yang menerima mina, dan memandang sebagai kepercayaan dari Tuannya maka mereka mengembangkan dan menghasilkan buah. Mereka memandang Tuannya sebagai sosok yang mempercayai dan memberi kesempatan, bukan sebagai sosok yang mengancam dan menakutkan. “Aku berkata kepadamu, setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”
 
Bagaimana aku memandang beban dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 17 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 17 November 2020

PW. St. Elisabeth dari Hungaria, Biarawati
Bacaan I : Why. 3: 1-6. 14-22
Injil    : Luk. 19: 1-10

Naik Kelas

Setelah misa Sabtu sore, ada pasangan suami istri yang masih muda meminta waktu untuk berbicara. Saya meminta mereka untuk sebentar menunggu di ruang tamu, karena saya masih ingin menyapa umat yang lain. Setelah halaman gereja mulai kosong, saya segera ke ruang tamu untuk bertemu dengan pasangan suami istri yang sudah menunggu.
 
Setelah saya menyapa mereka, istri berkata: “Pastor, kami mau minta berkat untuk cincin ini; cincin ini untuk mengganti cincin perkawinan kami.” “Oh, baik. Cincin yang lama kenapa? Hilang atau sudah tidak muat lagi?” tanya saya. Mendengar pertanyaan saya, mereka tiba-tiba terdiam dan saling berpandangan. “Emmm, cincin yang lama masih ada sih, pastor; cuma….  Gimana ya pastor, ceritanya agak panjang. Pastor punya waktu mendengarkan kami bercerita?” suami menjawab.
 
“Pastor, sebenarnya kami minta berkat cincin ini untuk memperbaharui perkawinan kami. Selama hampir setahun ini  kami sudah pisah ranjang. Kami masih tinggal satu rumah, tetapi hampir tidak pernah bertegur sapa. Kami bicara seperlunya saja; bahkan kami cenderung pulang selarut mungkin supaya tinggal tidur tidak harus ketemu apalagi bicara.
 
Awal persoalan rumah tangga kami adalah perselingkuhan istri. Saya mendapati istri selingkuh dengan teman kantornya. Mulanya dia tidak mengakui, sehingga hal itu menimbulkan pertengkaran hampir tiap hari. Saya menjadi tidak percaya dengan istri dan saya jadi sering marah-marah.  Sampai kemudian dia mengakui dan minta maaf. Tetapi saya sulit memaafkan dan saya balas dendam. Jadi kemudian yang terjadi dalam rumah tangga kami tidak karuan. Istri selingkuh dan saya juga selingkuh untuk balas dendam.
 
Akhirnya kami lelah dengan situasi ini. Kira-kira sebulan yang lalu pastor, istri saya ngajak ngobrol. Kami berdua ngobrol di rumah. Istri tanya ke saya, rumah tangga ini mau diapakan, kalau begini terus apakah tidak lebih baik kita pisah saja. Istri saya mengatakan bahwa sebenarnya sejak ketahuan dan mengaku itu sudah tidak berhubungan lagi dengan teman kantornya itu. Dia sungguh-sungguh sudah bertobat. Saya sendiri sebenarnya selingkuh juga tidak sampai satu bulan, karena hanya ingin balas dendam.
 
Istri saya mengatakan bahwa dia amat mencintai saya, dan berharap bisa memulai lagi dari awal hidup perkawinan ini. Saya juga sadar kalau saya juga amat mencintai istri saya dan hanya karena sakit hati sehingga saya berbuat seperti itu.
 
Selama sebulan pastor, kami tiap malam ngobrol bareng membuka diri dan jujur satu sama lain. Akhirnya kami menyadari bahwa selama ini kami terlalu sibuk mengejar ambisi kami masing-masing sehingga lupa untuk saling memperhatikan dan menyayangi sehingga terjadi perselingkuhan itu. Istri saya salah karena selingkuh dan saya juga salah karena kurang memberikan cinta sehingga menyebabkan istri selingkuh. Kami selama ini hidup rumah tangga tetapi cinta kami kurang mendalam dan rasanya seolah-olah saja.
 
Akhirnya kami sepakat memulai dari awal lagi rumah tangga kami. Persoalan rumah tangga ini kami anggap sebagai sekolah hidup, dan kami sekarang sudah naik kelas. Cinta kami lebih mendalam dan berjuang untuk semakin mendalam bukan biasa-biasa. Itulah pastor kenapa kami minta berkat cincin perkawinan lagi.” Suami menutup kisahnya.
 
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali aku terjebak dengan sesuatu yang rutin dan biasa-biasa, jelek sih tidak, tetapi baik juga tidak. Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan agar tidak suam-suam kuku: “Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas. Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan dikau dari mulutKu.”
 
Bagaimana dengan aku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 November 2020

Renungan Harian
Senin, 16 November 2020

Bacaan I : Why. 1: 1-4; 2: 1-5a
Injil    : Luk. 18: 35-43

Mengadili

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa umat yang lagi berkumpul di halaman gereja. Topik obrolan kami adalah adanya beberapa ustad yang mengaku bekas
imam. Sebetulnya pembicaraan bermula dari adanya berita seorang pendeta yang mengomentari berita tentang pendapat Sri Paus berkaitan dengan LGBT.
 
Pembicaraan menjadi seru karena kami masing-masing memberikan pendapat yang cenderung emosional. Pembicaraan cenderung emosional karena merasa bahwa gereja sudah dilecehkan oleh orang-orang itu. Ada kejengkelan dan kemarahan karena merasa orang-orang itu dibiarkan begitu saja memberitakan kebohongan. Pertanyaan yang dimunculkan adalah kenapa tidak ada upaya hukum melawan orang-orang itu.
 
Kami berpendapat bahwa orang-orang itu seharusnya mendapatkan hukuman yang berat agar menjadi efek jera. Kami membandingkan dengan orang-orang yang menghina agama tertentu dan dihukum berat. Dengan adanya hukuman yang memberi efek jera di kemudian hari tidak ada orang yang dengan mudah menyampaikan pendapat yang menghina Gereja.
 
Kami membubarkan diri dengan memegang pendapat dan harapan agar orang-orang itu dihukum berat. Kami berpikir andai punya kuasa untuk menjatuhkan hukuman pasti orang-orang itu sudah kami hukum seberat-beratnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Wahyu mengingatkan bahwa apa yang telah kami pikirkan adalah salah. Pemikiran dan pendapat emosional yang mengadili orang-orang yang kami anggap melecehkan Gereja tidak sepantasnya terjadi. Memang kami tidak berbuat sesuatu akan tetapi niat kami telah salah karena kehilangan kasih.
 
Sebagaimana umat di Efesus ditegur oleh Allah karena mereka membela Gereja di Efesus tetapi melupakan kasih. “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh. Bertobatlah dan lakukanlah apa yang kau lakukan semula.”
 
Betapa dalam kehidupanku sehari, ketika aku merasa benar, aku merasa berhak menghukum dia yang bersalah seturut kemauanku dan melupakan kasih.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 15 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 15 November 2020

Minggu Biasa XXXIII
 
Bacaan I  : Ams. 31: 10-13. 19-20. 30-31
Bacaan II : 1Tes. 5: 1-6
Injil     : Mat. 25: 14-30

Berkembang

Di sebuah paroki, ada anak berkebutuhan khusus yang sering datang untuk bermain di halaman gereja. Awalnya anak ini kami anggap sebagai pengganggu, karena sering kali membuat takut anak-anak misdinar yang baru kumpul atau anak-anak OMK yang sedang kumpul-kumpul. Beberapa kali anak ini ditegur dan bahkan agak dimarahi karena dianggap mengganggu. Beberapa ibu menegur dengan keras bahwa gereja bukan tempat main.
 
Namun, entah mengapa anak ini tetap saja selalu datang untuk bermain. Lama kelamaan, kami mulai mengenal anak ini, bahwa dia berkebutuhan khusus. Dia ikut duduk-duduk ngumpul dengan beberapa orang yang ada di gereja. Nampaknya dia nyaman ada di lingkungan gereja, meski dia bukan katolik.
 
Hal yang menarik adalah karyawan kebun kami mulai mengajak untuk ikut bantu-bantu dan anak ini merasa nyaman dan bisa bicara dengan karyawan kebun kami. Dan ternyata dia bisa ikut membantu karyawan kebun menyapu halaman, menyiram tanaman. Anak ini meski berkebutuhan khusus tetapi rajin dan punya rasa tanggung jawab.
 
Akhirnya anak ini kami beri tugas untuk membantu karyawan kebun dan kami beri uang saku. Saat dia diterima dan diberi kepercayaan ternyata luar biasa. Pagi-pagi dia sudah menyapu halaman gereja dengan bersih. Sering kali jam 05.30 halaman gereja sudah bersih dan dia sudah menyiram tanaman. Bagi saya anak ini luar biasa, dari yang kami anggap pengganggu sekarang banyak membantu.
 
Satu hal yang dia butuhkan adalah diterima dan dipercaya, selebihnya dengan segala keterbatasannya, dia memberikan hal yang luar biasa.
 
Pengalaman perjumpaan dengan anak ini membantu saya untuk memahami sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius. Allah telah mempercayakan “harta” yang besar kepadaku. Allah mengenal diriku dan Ia mempercayakan “hartaNya” seturut kemampuanku. Allah percaya dengan kemampuanku, aku dapat mengembangkan “harta” itu menjadi berlipat-lipat. Apa yang kubutuhkan adalah setia memikul tanggung jawab itu, sehingga dapat melipat gandakan “harta” itu. “Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”
 
Persoalannya adakah aku menyadari bahwa Allah mengenal aku dan mempercayakan “hartaNya” seturut kemampuanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.