Renungan Harian: 21 Januari 2022

Renungan Harian
Jumat, 21 Januari 2022
PW. St. Agnes, Perawan Martir

Bacaan I: 1Sam. 24: 3-21
Injil: Mrk. 3: 13-19

Bapakku

Suatu malam, saya menerima telepon dari seorang teman. Teman itu meminta saya untuk mendoakan bapaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Mendengar bahwa bapaknya sakit di rumah sakit saya agak terkejut karena sehari sebelumnya saya bertemu dengan bapak itu di rumah teman saya, dan masih kelihatan segar bugar. Saya segera berangkat ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan sakramen pengurapan orang sakit.
 
Sesampai di rumah sakit teman saya sudah menunggu di lobby dan kami segera menuju kamar tempat bapaknya di rawat. Sambil jalan saya bertanya apakah bapaknya masih sadar dan masih bisa terima komuni, teman saya memandang saya sejenak lalu mengatakan: “Mo, yang sakit bapak saya, bukan bapak mertua saya.”

Saya terkejut mendengar jawaban teman saya; karena selama ini sejauh saya tahu, bapaknya sudah meninggal sewaktu dia masih SMP. Sejauh saya mengenal dia, dia dan adiknya dibesarkan oleh ibunya. Teman saya menangkap keterkejutan saya.

“Mo, bapak saya mungkin sudah tidak katolik lagi, jadi tolong didoakan saja. Nanti aku cerita, ceritanya panjang dan rumit.”

Saya tidak menjawab. Segera setelah sampai di kamar bapak itu kami semua berdoa, saya, teman saya dan istri, adiknya dan suami, serta ibunya.
 
Setelah doa selesai teman saya mengajak saya minum kopi di sebuah café di dekat rumah sakit.

“Mo, sesungguhnya bapak kandung saya belum meninggal, tetapi dia pergi meninggalkan kami dan hidup dengan perempuan lain. Seperti yang romo tahu ibu membesarkan kami berdua dengan berjualan di pasar.

Saya bertahun-tahun menyimpan dendam pada bapak saya, karena dia telah menelantarkan kami sehingga ibu menderita luar biasa. Saya sejak dulu selalu berharap bahwa suatu saat saya bisa membalaskan sakit hati ibu dan penderitaan kami.

Harapan saya sejak dulu, suatu saat saya bisa bertemu dengan bapak dan membalas dendam; karena hanya dengan itu saya bisa tenang.
 
Mo, seminggu yang lalu, ibu mendapatkan telepon dari temannya yang memberitahu bahwa bapak sakit cukup parah dan tinggal sendirian di rumah kontrakan. Mendengar berita itu, ibu mengajak saya untuk melihat bapak. Mo, saat itu saya senang bahwa saya akan bertemu dengan bapak sehingga ada kesempatan untuk membalas dendam. Saat bertemu, bapak mau memeluk saya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah bapak saya. Saya tidak bergerak dan tidak ingin dipeluk serta berontak bahwa orang itu menyebut dirinya bapak saya. Saat itu bapak meminta maaf pada ibu dan saya. Saya tahu ibu telah memaafkan bapak meski tidak mengatakan apapun. Ibu meminta saya untuk membawa bapak ke rumah sakit.
 
Mo, saat itu saya sejujurnya tidak mau membawa bapak ke rumah sakit, saya ingin membiarkan bapak tetap sakit di rumah yang kumuh itu. Saya ingin melihat bapak menderita dan saya senang serta tenang. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ibu membisiki aku: “bagaimanapun juga dia bapakmu le.” Kata-kata ibu itu membuat saya berpikir dan bergulat.

Apakah mungkin saya memaafkan orang telah sekian tahun membuat saya menderita. Namun di sisi lain muncul pikiran bahwa kalau tidak ada orang jahat ini, tidak akan ada saya. Dan lagi seandainya orang itu tidak meninggalkan kami, mungkin saya tidak menjadi seperti sekarang ini.

Saya bisa menjadi seperti ini karena dididik oleh keadaan yang sulit dan menderita itu. Mo, dalam beberapa hari pikiran itu terus berkelindan dalam benak saya. Sampai suatu saat ketika sedang doa malam saya disadarkan bahwa penderitaan yang kami alami merupakan rahmat besar dalam hidup kami. Dengan cara seperti ini Tuhan mengangkat kami. Kesadaran itu membuat saya bisa menerima bapak dan saya meminta maaf untuk perilaku saya dalam beberapa hari ini. Ternyata dengan aku menerima bapak, saya merasakan seperti terbebas dari beban berat dan terasa lebih tenang.

Bukan melampiaskan dendamku yang membuat aku tenang tetapi dengan menerima bapak. Betul kata ibu bahwa bagaimanapun juga dia bapak saya,” teman saya menjelaskan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, Daud tidak melampiaskan dendamnya kepada Saul meski mendapatkan kesempatan karena Daud menyadari bahwa Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku kepada orang yang diurapi Tuhan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Januari 2022

Renungan Harian
Kamis, 20 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 18: 6-9; 19: 1-7
Injil: Mrk. 3: 7-12

Gelap Mata

Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah kunjungan ke Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) seorang anak muda menghampiri saya. Dia memperkenalkan diri dan bicara bahwa dirinya selalu dihantui rasa bersalah. Dia mengatakan bahwa dirinya tahu bahwa apa yang dilakukan itu salah; dia menyesal tetapi selalu dihantui rasa bersalah.
 
“Pastor, saya tahu bahwa saya itu salah, saya itu berdosa, saya sungguh-sungguh menyesal dengan apa yang telah saya perbuat. Saya tahu bahwa apa yang saya perbuat itu membuat keluarga saya menderita. Kalau malam menjelang tidur, saya selalu terbayang-bayang dengan apa yang telah saya lakukan. Saya sedih ingat peristiwa itu dan saya juga tidak mengerti kenapa saya berani melakukan itu. Tetapi kadang muncul perasaan lega bahwa saya pernah melakukan itu.
 
Pastor, semua itu terjadi karena saya jengkel dan marah sama orang tua. Saya sering diperlakukan tidak adil oleh mereka. Apapun yang saya lakukan selalu salah, bahkan saya tidak melakukan apapun tetap disalahkan. Sejujurnya saya iri dengan adik saya, dan itu membuat saya benci dengan dia. Sesungguhnya dia bukan adik kandung saya tetapi dia adalah anak angkat orang tua saya. Saya tidak tahu kenapa orang tua saya selalu memanjakan dia. Apapun yang dia lakukan selalu benar dan saya yang selalu salah. Saat jelas-jelas dia yang bersalah, tetap saja saya disalahkan. Misalkan adik saya pergi pakai sepeda motor lalu jatuh, saya dimarahi karena saya membiarkan adik saya pergi dengan sepeda motor. Padahal saat kejadian saya tidak ada di rumah. Saya beralasan bahwa saya tidak di rumah tetap disalahkan karena menaruh kunci motor sembarangan, padahal setiap kali kunci motor diletakkan di situ. Belum lagi kalau minta barang; adik selalu diberi dan saya tidak pernah diberi.
 
Pastor, semua itu membuat saya semakin benci, kenapa saya yang adalah anak kandung justru diperlakukan seperti anak tiri? Sementara adik yang adalah anak angkat justru diperlakukan seperti anak kandung. Semakin hari semakin membuat saya marah dan jengkel sampai kejadian hari itu. Hari itu orang tua saya pergi dengan adik saya, dan saya disuruh jaga rumah. Saya marah, karena hari itu jadwal saya main bola; tetapi saya malah dimarahin disuruh jaga rumah. Pastor, entah pikiran dari mana, sore itu saya sengaja membakar kamar orang tua dan kamar adik. Saya tidak berpikir bahwa dengan itu membuat seluruh rumah dan beberapa rumah tetangga terbakar habis. Itulah pastor kejadiannya dan sampai sekarang masih terus terbayang-bayang setiap malam,” anak muda itu mengakhiri kisahnya.
 
Satu sisi saya kasihan dengan anak muda ini, tetapi juga ngeri membayangkan apa yang terjadi. Iri hati yang luar biasa membuat dirinya menjadi gelap mata, membuat keputusan yang menjadikan dirinya harus mendekam di Lapas. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, iri hati Saul membuat dirinya membenci Daud dan berusaha untuk membunuhnya. “Maka Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 Januari 2022

Renungan Harian
Rabu, 19 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 17: 32-33. 37. 40-51
Injil: Mrk. 3: 1-6

Pengalaman

Beberapa tahun yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan para pensiunan guru. Dalam perbincangan itu muncul keprihatinan tentang beberapa guru muda PNS yang mendapatkan tugas di pedalaman.

Keprihatinannya adalah beberapa guru muda PNS sering kali meninggalkan tempat tugasnya berbulan-bulan bukan untuk suatu kepentingan berkaitan dengan tugasnya, tetapi sekedar tinggal di kota. Sebagai akibat banyak sekolah-sekolah negeri yang hampir tidak ada gurunya. Bahkan ada seorang pastor dengan nada satir mengatakan bahwa sekolah negeri di tempatnya bertugas adalah sekolah baris berbaris; karena hampir setiap hari kegiatan sekolah itu adalah baris berbaris.
 
Para pensiunan guru itu merasa sedih karena beberapa guru muda PNS itu dengan mudah meninggalkan anak didiknya. Para pensiunan guru itu amat mengerti bahwa tinggal dan mengajar di pedalaman bukan sesuatu yang enak dan menyenangkan; karena di tempat itu tidak ada hiburan, tidak bisa menikmati jajanan dan berbagai fasilitas seperti di kota.

Namun demikian menurut beliau-beliau situasi di pedalaman pada masa sekarang jauh lebih baik dan lebih enak dibanding pada saat beliau-beliau itu berkarya. Saat saya bertanya menurut beliau-beliau itu apa yang menjadi penyebabnya hampir semua menjawab bahwa beberapa guru muda PNS itu kurang ditempa oleh pengalaman.
 
Para pensiunan guru itu bercerita bahwa sejak kecil beliau-beliau itu sudah ditempa dengan pengalaman yang berat. Dari sisi ekonomi umumnya beliau-beliau itu dari keluarga sederhana, sehingga di rumah sudah dididik untuk mandiri. Keluarga tidak membedakan apakah anak laki-laki atau anak perempuan semua harus bisa memasak, membereskan rumah dan mengurus keperluan pribadi. Di samping itu banyak diantara para pensiunan guru itu sejak kecil harus berjalan jauh untuk sekolah. Pengalaman masa lalu itu dirasakan sebagai pengalaman yang berat namun pengalaman yang berat itu disadari mendidik beliau-beliau itu menjadi pribadi yang tangguh. Sehingga beliau-beliau tidak mudah menyerah mana kala menghadapi kesulitan dan tantangan. Bahkan para pensiunan guru itu menyatakan bersyukur atas semua pengalaman masa kecilnya yang berat dan tidak mudah. Beberapa mengungkapkan pengalaman iman bahwa kesulitan dan tempaan di masa kecil  itu adalah cara Tuhan mendidiknya melalui orang tua dan lingkungan.
 
Menarik mendengarkan obrolan dengan para pensiunan guru itu; terlebih beliau-beliau mampu memaknai pengalaman hidupnya sebagai pengalaman iman. Pengalaman yang sudah terlewati sebagai sumber kekuatan dalam peziarahan hidup; bukan hanya sekedar rentetan peristiwa masa lalu. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, pengalaman Daud akan Tuhan yang selalu menyelamatkan dirinya dari binatang buas selama menjadi gembala menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi musuh yang mengerikan. “Tuhan telah melepaskan daku dari cakar singa dan dari cakar beruang. Dia pun akan melepaskan daku dari tangan orang Filistin itu.”
 
Iwan Roes RD.

*Terima kasih sudah ikut menyebarkan dan membagikan renungan ini, dengan tetap menyematkan nama penulis dan link CLC, Tuhan Berkati.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 18 Januari 2022

Renungan Harian
Selasa, 18 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 16: 1-13
Injil: Mrk. 2: 23-28

Menantu

Sekian tahun yang lalu, saya diundang sebuah keluarga untuk dimintai pendapat berkaitan dengan putranya. Anak laki-laki keluarga ini meminta restu  kepada kedua orang tuanya untuk menikah dengan gadis pilihannya, namun orang tua dan keluarga besarnya menolak. Akan tetapi putranya tetap pada pendiriannya dan pilihannya, sehingga keluarga ini menjadi tegang.
 
“Romo, coba romo lihat dua foto ini, kelihatan kan bedanya? Yang satu kelihatan bahwa anak ini orang yang terpelajar, pinter, bersih dan cantik; sedangkan yang satu ini tidak ada aura baiknya, kelihatan bodoh dan tidak terurus. Dari apa yang kelihatan saja romo bisa menilai. Saya tidak mengerti dan tidak habis pikir kenapa dia memilih anak itu. Anak saya ini lulusan S2 di luar negeri; sekarang sudah bekerja mapan, perawakannya bagus dan jelek-jelek kami ini masih keluarga keraton.
 
Romo, anak itu orang desa, hanya lulusan SMA di desanya sana; orang tuanya buruh tani apa yang mau diharapkan dari anak ini. Ngomong bahasa jawa, maunya bahasa halus tetapi malah bikin telinga kami ini sakit. Dari cara bicaranya saja sudah jauh dengan kami. Anak desa “kluthuk” (desa pedalaman) tidak sederajat dengan kami. Pokoknya gak ada yang bisa diharapkan dari anak ini; anak desa “kluthuk” kok mau jadi menantu kami. Romo tahu jambu “kluthuk”, (jambu biji) itu jambu banyak bijinya tidak enak dimakan; sama “gedhang kluthuk” (pisang batu) gak pantes dihidangkan untuk buah.

Amat berbeda dengan yang ini, dia gadis berpendidikan, keturunan “priyayi” (bangsawan). Gadis pinter, bahasanya halus runtut, tata kramanya komplit, bibit, bobot dan bebetnya bagus, wah pokoknya menantu pilihan,” bapak itu menjelaskan mewakili keluarga. Sementara anak laki-lakinya diam menyimak.
 
“Bapak, ibu jangan hanya melihat dari luarnya, jangan terpesona dengan apa yang bapak ibu lihat sekilas. Bapak, ibu belum kenal betul dengan pilihan saya. Bapak, ibu maaf, saya tidak melihat penampilan, bahasa dan kebangsawanan tetapi saya melihat hatinya dan perilakunya,” anak laki-laki itu mengutarakan pendapatnya.
 
“Bapak, ibu mohon maaf saya tidak bisa menilai karena saya tidak kenal dua-duanya. Saya mengerti bahwa bapak, ibu mengharapkan yang terbaik untuk putranya. Namun menurut hemat saya, yang terbaik menurut bapak ibu belum tentu terbaik untuk putra bapak, ibu. Kiranya putra bapak ibu punya penilaian yang lain, yang lebih mendalam daripada apa yang bisa kita lihat; karena dia yang lebih mengenal, seperti yang tadi telah diungkapkan.
 
Bapak, ibu tidak berarti orang desa “kluthuk” itu pasti bodoh dan tidak bisa diharapkan; sebagaimana jambu “kluthuk” dan “gedhang kluthuk” banyak manfaatnya meski banyak bijinya. Mungkin bahasa dan tata kramanya aneh bagi keluarga bapak ibu, tetapi bukan berarti dia tidak sopan dan tidak bertata krama, hanya berbeda saja. Sebagaimana ada ungkapan “desa mawa cara, kutha mawa tata” (desa dan kota punya adat kebiasaan sendiri-sendiri) jadi tidak bisa disamakan. Usul saya bapak, ibu dan keluarga besar mengenal dulu pilihan putra bapak ibu. Jangan terpukau dulu dengan yang nampak tetapi mengenal dengan kaca mata putra bapak ibu mengenal calonnya,” jawab saya.
 
Seringkali kita terpukau dengan apa yang nampak dan lupa dengan yang dibalik dari apa yang nampak. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel:  “Janganlah terpancang pada paras atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Januari 2022

Renungan Harian
Senin, 17 Januari 2022
PW. St. Antonius, Abas

Bacaan I: 1Sam. 15: 16-23
Injil: Mrk. 2: 18-22

Niat Baik

Suatu  sore, saya menerima tamu pasangan suami istri, yang sedang menghadapi persoalan.
“Romo,  saya ingin berpisah dengan suami saya; saya sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan perkawinan kami. Saya tidak akan menuntut apa-apa dari suami saya. Saya akan kembali ke rumah orang tua saya dengan membawa kedua anak kami.

Saya lebih baik sendiri mengasuh kedua anak kami; saya sanggup untuk menjalani ini. Sampai sekarang ini yang terjadi juga sudah seperti ini, saya bekerja dan mengasuh kedua anak kami. Kiranya ini pilihan terbaik saya, demi kebaikan kami dan suami.

Romo, saya ingin pisah dengan suami bukan karena saya tidak mencintai suami. Saya amat mencintai suami, tetapi rasanya dalam perjalanan perkawinan ini, kehidupan berumah tangga seperti menghambat suami untuk berkembang dan semakin dekat dengan Tuhan,” ibu itu menceritakan persoalannya.
 
“Maaf ibu, sebenarnya apa yang sesungguhnya menjadi persoalan sehingga ibu memutuskan untuk berpisah? Apakah sudah tidak ada jalan lain?” tanya saya. 

“Romo, persoalan pokok menurut saya adalah suami tidak nyaman dengan hidup perkawinan, dan hidup perkawinan seperti pilihan yang salah bagi dia. Suami saya sejak dulu orang yang aktif dalam pelayanan. Sejak menikah dia tetap aktif dalam pelayanan tetapi semakin lama fokusnya pada pelayanan bukan pada keluarga. Dia memutuskan untuk mundur dari tempatnya bekerja dan berusaha bekerja dari rumah agar mempunyai banyak waktu untuk pelayanan. Namun ujung-ujungnya dia tidak menghasilkan apapun. Saya tidak mempermasalahkan dia tidak bekerja, kehidupan ekonomi keluarga tidak terganggu karena saya masih bekerja, tetapi saya berharap dia mau berbagi tugas mengurus rumah dan anak-anak.
 
Kami sudah berkali-kali berkonsultasi berkaitan dengan permasalahan keluarga. Beberapa pastor dan konselor menyarankan agar suami lebih konsentrasi ke keluarga dan berani meninggalkan aktivitasnya di luar rumah karena prioritas utama adalah keluarga. Suami mengerti dan berusaha untuk fokus pada keluarga.

Tetapi beberapa kali dia mengatakan kepada saya bahwa saran para pastor dan konselor yang kemudian dia ikuti, dia rasakan sebagai godaan dari roh jahat agar dia menjauh dari pelayanan dan menjauh dari Tuhan. Dia mengatakan bahwa pelayanan adalah bentuk mengutamakan Tuhan artinya prioritas utama dia adalah Tuhan. Sehingga kalau diminta memberi prioritas utama pada keluarga bagi dia itu adalah godaan roh jahat yang tampil seperti malaikat.

Saya jadi bingung, kalau begitu seolah-olah kami, saya dan anak-anak itu bagian dari godaan itu karena berharap dia lebih fokus pada kami,” ibu itu menjelaskan.
 
“Bapak, maaf dahulu waktu memutuskan menikah apakah itu pilihan bapak sendiri dengan bebas dan bahagia atau karena tekanan dari luar?” Tanya saya kepada bapak itu.

“Itu pilihan bebas saya romo. Saya sadar dengan keputusan saya bahwa lewat hidup perkawinan saya akan semakin memuji, menghormati dan memuliakan Allah,” jawab bapak itu.

“Pak, itu semua benar maka prioritas utama bapak adalah keluarga. Karena bapak telah memilih dengan sadar, bebas dan bahagia bahwa lewat hidup berkeluarga bapak akan semakin memuji, menghormati dan memuliakan Allah. Sekali lagi tekanannya pada lewat pilihan hidup berkeluarga. Artinya kalau bapak melakukan sesuatu meski tampaknya suci dan mulia tetapi tidak dalam kerangka hidup berkeluarga itu pasti dari roh jahat. Kalau semua kegiatan bapak yang menurut bapak adalah pelayanan bagi Tuhan tetapi menghancurkan keluarga bapak, maka itu pasti dorongan dari roh jahat. Sekarang ini godaan terbesar dari roh jahat adalah bapak lewat karya-karya baik dan suci dibawa semakin menjauh dari keluarga yang pada akhirnya menghancurkan keluarga.
Hati-hati dengan niat baik dan suci harus selalu dicek agar tidak tersesat,” jawab saya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, niat baik dan suci dari Saul justru membuat dirinya jauh dari Tuhan karena dia lupa akan apa yang menjadi sabdaNya. “Mengamalkan sabda lebih baik daripada korban sembelihan, menuruti firman lebih baik daripada lemak domba jantan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Januari 2022

Renungan Harian
Minggu, 16 Januari 2022
Hari Minggu Biasa II

Bacaan I: Yes. 62: 1-5
Bacaan II: 1Kor. 12: 4-11
Injil: Yoh. 2: 1-11

Happy

Selama  2 hari  kami Dewan Pastoral Paroki Salib Suci, Bandung mengadakan pertemuan untuk mengadakan refleksi dan membuat rencana kerja 1 tahun pelayanan mendatang. Dalam pertemuan ini, sengaja tidak membuat acara laporan kerja dan mengevaluasi apa yang telah kami kerjakan tetapi kami mengisi dengan sharing kegembiraan, duka atau kekecewaan serta harapan sebagai pelayan. Hari pertama kami sharing tentang kegembiraan, duka dan kekecewaan.
 
Dalam sharing masing-masing bercerita bagaimana awal mula mereka terlibat dalam karya pelayanan ini. Hampir semua menceritakan bahwa mereka terlibat dalam pelayanan ini merasa “diceburkan”. Mereka dalam ketidak tahuan tentang karya pelayanan ini langsung dilibatkan bahkan menjadi orang yang memegang tanggung jawab. Sudah barang tentu awalnya bingung, merasa tidak mampu dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Namun dalam perjalanan waktu lewat berbagai benturan, karena disalah-salahkan, bahkan dimarahi hingga dibenci oleh satu dua orang umat yang kecewa mulai menemukan irama dalam karya pelayanan ini. Benturan dan pergulatan semakin tidak mudah ketika berhadapan dengan pastornya mana kala pastor yang satu dengan lainnya berbeda pendapat atau berbeda cara pendekatannya.
 
Meskipun mengalami pergulatan yang tidak mudah namun mereka merasakan kebahagiaan dan kegembiraan dalam pelayanan. Kegembiraan dan kebahagiaan ini didapatkan karena dalam karya pelayanan merasakan rahmat Tuhan yang luar biasa. Dalam berbagai kesulitan dan tantangan, kehadiran Tuhan yang menuntun dan membantu untuk menyelesaikan berbagai kesulitan dan tantangan. Pengalaman “diceburkan” dan pengalaman berbagai benturan dirasakan sebagai cara Tuhan membentuk mereka sebagai orang beriman dan pribadi yang mengalami Tuhan. Bahkan saat sebelum terlibat dalam pelayanan tidak mengerti bagaimana cara Tuhan berbicara pada dirinya, saat mulai terlibat dalam pelayanan semakin mengerti bagaimana cara Tuhan menyapa dirinya.
 
Kata kunci yang muncul dalam sharing ini adalah kegembiraan dan kebahagiaan atau sering kata lain yaitu happy. Kegembiraan dan kebahagiaan yang dialami berkat pengalaman akan Tuhan yang menuntun dan membentuk dirinya. Inilah mukzijat yang terjadi dan dialami oleh anggota Dewan Pastoral Paroki. Kegembiraan dan kebahagiaan adalah tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, kegembiraan dan kemeriahan pesta perkawinan yang berlangsung terus berkat kehadiran Yesus adalah mukzijat yang terjadi. “Hal ini dibuat Yesus di Kana yang di Galilea dan merupakan yang pertama dari tanda-tandaNya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Januari 2022

Renungan Harian
Sabtu, 15 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 9: 1-4. 17-19; 10: 1a
Injil: Mrk. 2: 13-17

Check Up

Beberapa waktu yang lalu saya menengok seorang teman yang dirawat di rumah sakit. Saya sendiri belum tahu sakit apa yang diderita teman saya, karena berita dari beberapa teman tidak begitu jelas. Ada teman yang mengatakan bahwa dia terkena stroke, ada teman lain yang mengatakan bahwa dia kena serangan jantung.

Sesungguhnya kami teman-temannya cukup terkejut bahwa dia dirawat di rumah sakit. Teman itu kami kenal sebagai orang yang amat sehat, badan atletis dan amat rajin berolahraga. Setiap kali bertemu dia selalu menyarankan agar kami berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
 
Saat bertemu dia langsung mengatakan: “Wan, kamu harus check up, general check up  penting ini.”

“Lho bukannya seperti kamu sering bilang, gak usah check up, karena kalau check up malah ketahuan banyak penyakit. Olah raga saja untuk menjaga kesehatan,” jawab saya sambil bergurau.

“Serius ini Wan, lebih baik kita tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di tubuh kita sehingga kita tahu apa yang mesti kita perbuat.
 
Kamu tahu sendiri, saya selama ini selalu sehat, masuk angin atau flu belum tentu setahun sekali saya kena. Saya merasa badan saya bugar dan sehat; saya tidak pernah merasakan adanya keluhan apapun. Tiga hari yang lalu, saat bangun pagi tiba-tiba saya merasa lemas, kaki sulit digerakkan dan lidah rasanya kaku. Untung waktu itu istri saya segera membawa saya ke rumah sakit sehingga cepat ditangani kalau tidak bisa fatal. Kata dokter saya terkena stroke ringan. Penyebabnya tekanan darah saya tiba-tiba tinggi, sebabnya belum tahu bisa karena stress akibat pekerjaan bisa juga salah makan. Dan dari pemeriksaan ditemukan adanya penyumbatan di jantung saya.

Wah serem pokoknya, saya jadi mikir betapa selama ini saya bodoh merasa sehat dan bugar tetapi ternyata badan saya tidak sesehat yang saya duga. Udahlah Wan, percaya saya yang sudah mengalami ini, check up yang benar sehingga bisa mengatur hidup lebih baik. Kita harus berjuang hidup lebih lama agar bisa lebih banyak berkarya,” teman saya memberikan nasehat.
 
Mendengar nasehat teman itu, saya merasakan kebenaran nasehatnya. Betapa penting untuk menjaga kesehatan, untuk berjuang hidup lebih baik agar semakin banyak berkarya. Check up menjadi sarana yang baik agar tahu keadaan badan sendiri dan cara bertindak yang baik untuk mengatur hidup
 
Kiranya hal yang sama berkaitan hidup rohani, sering saya merasa baik-baik saja tidak pernah dengan sungguh-sungguh merefleksikan perjalanan hidup sehingga tidak tahu apakah semua sungguh baik-baik saja. Sebagaimana check up menjadi sarana yang baik untuk melihat keadaan tubuh, refleksi yang teliti dan mendalam menjadi sarana yang baik untuk melihat perjalanan hidupku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 14 Januari 2022

Renungan Harian
Jumat, 14 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 8: 4-7. 10-22a
Injil: Mrk. 2: 1-12

Ingin Bahagia

“ Romo, saat itu saya merasa hidup saya selalu menderita. Susah dan berat menjadi orang miskin. Saya merasa sudah bekerja keras tetapi tetap saja kehidupan saya tidak berubah. Hasil kerja hari ini hanya cukup untuk makan hari ini, maka untuk kepentingan lain saya harus berhutang ke sana kemari. Namun karena penghasilan yang amat minim, sulit bagi saya untuk membayar hutang-hutang.

Akibatnya hidup kami semakin sulit; tidak lagi orang yang mau memberi pinjaman, adanya orang-orang yang memaki dan menghina kami. Hampir tiap hari ada orang yang datang untuk menagih hutang, dan selalu diakhiri dengan makian dan hinaan karena kami tidak mampu membayar hutang. Saya sudah tidak tahan menjadi orang miskin seperti ini; kasihan istri dan anak-anak saya yang harus ikut menanggung derita. Saya ingin seperti orang-orang lain yang usahanya maju dan hidupnya mapan. Saya ingin mempunyai uang agar hidup kami bahagia, tidak dihina-hina orang, tetapi dihormati dan disegani orang.
 
Romo, suatu ketika ada seorang teman mengajak saya untuk mendatangi “orang pinter” yang bisa memberi jalan agar usaha kami maju dan kami bisa menjadi kaya dan bahagia. Saya tidak pikir panjang, saya mau mengikuti ajakan teman. Siapa yang tidak ingin kaya dan bahagia; apalagi saya sudah bosan menjadi orang miskin seperti ini.
 
Saat bertemu dengan “orang pinter” itu, dia memberikan banyak persyaratan dan aturan-aturan yang harus saya penuhi. Saya menyanggupi semua yang diajukan. Saya hanya berpikir apapun saya penuhi asal saya bisa keluar dari derita kemiskinan ini. Akhirnya setelah saya menyatakan sanggup maka saya membuat perjanjian dengan “orang pintar” yang mengatakan menjadi perantara.
 
Romo, entah bagaimana saya tidak tahu, usaha dari hari ke hari semakin maju. Padahal apa yang saya kerjakan tidak ada yang berubah, saya masih kerja seperti pada waktu sebelum ketemu “orang pintar” itu. Tidak sampai 1 tahun usaha sungguh-sunggu luar biasa, hidup kami berubah. Kami tidak lagi menjadi orang miskin yang dihina banyak orang. Sekarang kami menjadi orang yang mapan, bisa punya rumah bagus dan mobil bagus. Saya menikmati semua yang saya dapat. Namun saya pada waktu yang telah ditentukan harus menyediakan syarat-syarat yang harus saya penuhi dan tidak boleh melanggar aturan-aturan yang sudah saya sepakati.
 
Romo, dalam berjalannya waktu saya menyadari bahwa ternyata semua harta yang kami punya tidak membuat saya dan keluarga menjadi bahagia. Ada saja kejadian di keluarga kami yang membuat kami bertengkar atau membuat kami menjadi bingung. Istri dan anak-anak saya melihat saya sebagai orang yang aneh. Mereka tidak lagi merasakan kehadiran saya sebagai suami dan bapak. Mereka melihat saya seperti orang lain meski tinggal dalam satu rumah. Belum lagi mereka melihat saya seperti orang yang tidak punya waktu meski sekarang tidak bekerja keras lagi. Waktu saya habis untuk memenuhi syarat-syarat yang sudah saya  sepakati. Sampai titik tertentu saya sendiri menjadi sadar bahwa saya sudah kehilangan diri saya sendiri. Saya tidak lagi bisa menentukan hidup saya sendiri, saya seperti budak atau robot yang diatur.
 
Saya bicara dengan istri dan menceritakan semuanya. Istri dan anak-anak saya mendukung agar saya melepaskan diri dari “perjanjian” ini. Mereka sanggup dan lebih tenang menjadi miskin asal kami bisa hidup damai dan bahagia karena keluarga yang bersatu. Akhirnya saya melepaskan “perjanjian” itu dengan usaha yang luar biasa. Hidup kami menjadi lebih bahagia meski harus bekerja keras dengan hidup yang sederhana,” seorang bapak menceritakan kisahnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, umat Israel menolak Tuhan karena ingin sama dengan bangsa-bangsa lain meski dengan konsekuensi menjadi budak. “Mereka bersikeras: “Tidak, kami harus punya raja. Biar kami pun sama seperti segala bangsa lain!” “
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Januari 2022

Renungan Harian
Kamis, 13 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 4: 1-11
Injil: Mrk. 1: 40-45

Kehilangan Tuhan

“Romo, beberapa tahun lalu saya merasakan bahwa hidup saya penuh berkat. Saya  dan istri bekerja di sebuah perusahaan swasta. Kami mempunyai karir yang baik dan penghasilan kami juga amat baik seiring dengan perkembangan karir kami. Pada masa itu kami sudah mempunyai rumah dan di saat banyak orang belum mempunyai mobil, kami sudah memiliki mobil yang dalam arti tertentu menunjukkan status kami.
 
Di sela-sela kesibukan kami bekerja, Kami aktif di kegiatan gereja, baik di lingkungan maupun di paroki. Dalam banyak kegiatan paroki kami selalu terlibat dan tidak jarang saya atau istri ditunjuk menjadi ketua panitia. Romo, saat itu kami sungguh-sungguh merasakan sebagai keluarga yang terberkati. Kami merasakan bahwa semakin kami aktif dalam pelayanan di gereja, karir kami semakin baik.
 
Pada saat itu kami mulai berpikir untuk berwiraswasta untuk mempersiapkan masa depan kami agar kami tidak selamanya bekerja dengan orang tetapi mempunyai usaha sendiri.

Usaha yang kami rintis pelan-pelan mulai berkembang dan semakin maju. Di saat itu kami menjadi semakin sibuk namun demikian kami tidak pernah kehilangan waktu untuk tetapi aktif di gereja. Dengan perkembangan usaha kami, saya memutuskan untuk mundur dari pekerjaan untuk konsentrasi mengurus usaha kami dan yang lebih penting supaya tidak kehilangan waktu untuk pelayanan. Kami yakin semua yang kami dapat adalah berkat Tuhan dan itu  semua karena kami aktif dalam pelayanan di gereja. Kami tidak pernah malu untuk memberi kesaksian bahwa keberhasilan kami karena kami aktif dalam pelayanan.
 
Romo, usaha kami sungguh berkembang pesat, sehingga untuk semakin mengembangkan istri memutuskan untuk mundur dan kami berdua mengurus usaha kami. Romo, pada saat itu rasanya berkat selalu mengalir dengan berlimpah. Kami yakin bahwa semua berkat itu karena kami aktif di gereja, maka kami semakin menyediakan diri untuk pelayanan. Romo, entah bagaimana di saat kami berdua sungguh-sungguh aktif di gereja usaha kami hancur. Saat itu kami harus menjual rumah, kendaraan dan apa saja yang kami miliki untuk membayar hutang-hutang yang ada. Kami yang sebelumnya mempunyai rumah besar sekarang harus tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Saya dan istri membuka warung makan sederhana untuk menunjang kehidupan kami. Banyak orang terkejut melihat kami berjualan semua bertanya kenapa bisa. Kami sekarang kemana-mana harus naik angkot dan berdesak-desakan.
 
Romo, pada saat itu, kami bertanya:
“mengapa justru saat kami semakin memberikan diri untuk pelayanan, usaha kami hancur. Apakah berkat Tuhan tertutup untuk kami, padahal kami yakin kami penuh berkat berkat pelayanan kami. Mengapa di saat saya membawa Tuhan dalam hidup kami, justru Tuhan menutup berkat bagi kami.” Banyak pertanyaan yang bergolak dalam diri kami. Sampai kami memutuskan untuk tidak bertanya tetapi menikmati hidup ini apa adanya. Kami singkirkan rasa malu, kami singkirkan gengsi kami kami jalani hidup yang sekarang kami alami.
 
Romo, di saat kami mulai menikmati hidup, dan sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan kami; kami menjadi sadar betapa selama ini kami salah jalan. Kami merasa yakin bahwa semua adalah berkat Tuhan yang membuat kami luar biasa karena kami aktif di gereja. Kami selalu “membawa” Tuhan kemana-mana dan berani bersaksi. Namun ternyata kami sesungguhnya tidak mengalami Tuhan. Kami bicara tentang berkat Tuhan dan karya Tuhan, tetapi sesungguhnya kami tidak merasakan kehadiran Tuhan dan “membutuhkan” Tuhan. Kami terjebak dengan keberhasilan kami, kami terjebak dengan pemikiran kami akan Tuhan, tetapi tidak mengalami Tuhan,” seorang bapak menceritakan pengalaman rohaninya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, umat Israel membawa Tuhan yang hadir dalam tabutNya yang kudus, tetapi mereka tidak mengalami kehadiran Tuhan dan mengandalkan Tuhan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Januari 2022

Renungan Harian
Rabu, 12 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam 3: 1-10. 19-20
Injil: Mrk. 1: 29-39

Tidak Bisa Menghindar

“Saya menjadi katolik dan dibaptis ketika masih bayi. Sejak kecil dalam keluarga kami suasana katolik amat kental. Setiap malam kami mengadakan doa bersama, dan kami anak-anak selalu mendapat berkat dari orang tua setiap kali kami mau pergi sekolah dan mau tidur. Kami anak-anak harus ikut kegiatan di gereja, baik itu menjadi misdinar, lektor maupun mudika. Kami anak-anak akan mendapatkan marah dan hukuman apabila kami tidak pergi ke gereja atau melewatkan kegiatan gereja yang seharusnya kami ikuti. Semua itu kami jalani hingga kami besar.
 
Sejak saya bekerja, saya hampir tidak pernah mengikuti kegiatan gereja kecuali ikut misa pada hari Minggu. Selain itu saya sibuk dengan pekerjaan atau waktu lain saya gunakan untuk istirahat. Kebiasaan yang sudah saya jalani sejak kecil seperti tidak ada bekasnya lagi. Setelah menikah dan punya anak, kebiasaan tidak mengikuti kegiatan gereja tetap berlanjut. Beberapa kali orang tua mengingatkan saya agar ikut dalam kegiatan gereja, minimal mau ikut pertemuan lingkungan. Namun dengan alasan pekerjaan saya menolak saran orang tua.
 
Ketika anak saya mau menerima komuni pertama, saya datang ke ketua lingkungan untuk minta surat pengantar. Saat saya minta surat pengantar ketua lingkungan meminta saya untuk datang di pertemuan lingkungan yang diadakan malam itu. Karena rasa tidak enak sehabis minta surat, malam itu saya ikut pertemuan lingkungan. Saat saya datang bertepatan dengan pemilihan pengurus lingkungan. Saya langsung ditawari untuk menjadi pengurus, saya menolak dengan halus dengan mengatakan bahwa saya mau terlibat dalam periode berikutnya. Seminggu kemudian, ketua lingkungan yang baru menemui saya dan meminta saya agar bersedia dicalonkan menjadi prodiakon paroki. Saya tetap  menolak dengan halus dengan alasan belum siap.
 
Suatu ketika, ketua lingkungan meminta saya untuk menemani prodiakon mengirim komuni untuk warga kami; saat itu ketua lingkungan sedang berada di luar kota. Dengan setengah terpaksa saya menerima tugas itu. Saat saya bertemu dengan prodiakon yang mau mengantar komuni, saya agak terkejut karena bapak prodiakon itu sudah sepuh dan berjalan pun seperti sudah tidak kekar. Dalam perjalanan kami terlibat obrolan dan bapak itu mengatakan bahwa sesungguhnya beliau sudah tidak sekuat dulu lagi namun sampai sekarang belum ada yang bersedia dan punya waktu untuk mengirim komuni ke warga yang sakit. Namun begitu beliau merasa senang dan bangga bahwa dirinya dipakai Tuhan menjadi sarana Tuhan bertemu dengan umatNya. Itulah yang membuat beliau bersemangat dan tetap berusaha kuat mengantar komuni. Tiba-tiba beliau bertanya:
“Mas tidak ingin to, menjadi sarana Tuhan menjumpai umatNya? Entah karena bingung atau karena kaget saya menjawab:
“Pak, kalau saya dipilih dan dianggap pantas saya siap.”
 
Malam hari, bapak itu dan pastor paroki datang dan meminta saya untuk menjadi prodiakon.
Saya sungguh-sungguh terkejut dengan permintaan itu. Rasanya jawaban saya tadi pagi karena keterkejutan dan kebingungan saya. Saya minta waktu untuk bicara dengan istri. Saat saya bertanya pada istri, dia menjawab:
“Mas, jangan-jangan Tuhan bersabda melalui bapak itu. Mas berani menolak?”

Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan tawaran itu. Benarkah itu Tuhan yang bersabda? Beranikah aku menolak? Aku tertidur lelap dan esok pagi saya mengatakan pada istri bahwa saya akan menjawab bahwa saya mau,” seorang bapak prodiakon bersharing.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, saat Tuhan memanggil tidak ada pilihan lain selain membiarkan Dia bersabda. “Bersabdalah, ya Tuhan, hambaMu mendengarkan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.