Renungan Harian: 23 Juli 2021

Renungan Harian
Jum’at, 23 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 20: 1-17
Injil: Mat. 13: 18-23

Terbelit Mimpi

Beberapa waktu yang lalu ada seorang bapak datang dan berkeluh kesah tentang istrinya. Bapak itu bercerita panjang lebar, yang intinya dirinya merasa tidak didukung oleh sang istri untuk mengembangkan usaha.

Dia merasa bahwa dia selalu sukses dalam berusaha dan sekarang ada peluang bisnis besar yang amat menjanjikan. Ketika saya tanya bentuk dukungan apa yang diharapkan dari istrinya, bapak itu mengatakan bahwa dukungan yang diharapkan dari istrinya adalah modal. Saya agak bingung dengan cerita bapak itu maka saya bertanya:
“Bapak, kalau bapak sudah berhasil membangun bisnis mengapa sekarang  meributkan dukungan modal dari istri?”

Bapak itu menjawab bahwa semua usaha bisnisnya atas nama istrinya dan semua hasil dari bisnis yang sukses selalu diserahkan pada istri. Sehingga dirinya tidak memegang uang. Karena saya hanya mendengar sepihak maka saya meminta bapak itu datang mengajak istrinya untuk bicara bersama.
 
Pada hari yang dijanjikan kami bertemu bertiga. Saya menjelaskan pada istrinya bahwa beberapa waktu lalu suami datang dan berkeluh kesah berkaitan dengannya. Maka saya meminta datang untuk mendengarkannya.

Ibu itu berkata:
“Romo, maaf sebenarnya saya malu dan sudah bosan untuk bicara soal ini. Romo, apa yang dia ceritakan itu bohong. Semua itu tidak ada. Dia berkali-kali bilang minta modal untuk bisnis ini dan itu yang  katanya bisnis besar dan menjanjikan tapi tidak pernah ada hasil. Sudah banyak uang yang tidak jelas juntrungannya dan bentuk usahanya juga tidak ada kelihatan. Pernah suatu saat rumah dan kendaraan serta tabungan kami habis untuk mendukung usahanya, tetapi bangkai usahanya aja tidak bisa dilihat. Romo bisa tanya ke orangnya sekarang, dimana wujud usaha-usaha yang dia bangun. Romo juga bisa tanya ke dia apakah pernah dia memberi nafkah untuk kami, biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak. Sejak menikah dia hidup selalu dengan mimpi-mimpi membangun bisnis. Saya sudah berkali-kali bilang jangan mimpi yang tinggi-tinggi, yang aneh-aneh, sudah kerja apa saja yang bener. Tidak usah mikir keluarga, cukup untuk jajan dirinya aja saya sudah bersyukur romo.”
 
“Bapak sudah mendengar dari istri bapak sendiri. Menurut bapak yang dikatakan istri bapak benar? Atau ada yang ingin dikoreksi?” tanya saya kepada bapak itu.

“Semua betul romo, tetapi namanya usaha gagal itu biasa, kalau usaha berhasil kan untuk keluarga,” jawab bapak itu. 

“Bapak, menurut hemat saya, saran dan permintaan istri bapak itu amat baik. Bapak kerja dan tekuni pekerjaan itu. Bapak punya keluarga dan punya tanggung jawab besar, maka saatnya menjadi real,” kata saya.
 
Ternyata mimpi bisa membelit orang sehingga menjadikan seseorang lupa diri dan hidup dalam bayang-bayang. Orang tidak sadar dengan kemampuannya dan tidak mampu mempergunakan kemampuannya. Bahkan bukan hanya tidak mampu mempergunakan tetapi lebih dari itu dia telah menyianyiakan kemampuannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, orang semacam itu seperti benih yang jatuh di semak berduri.
“…Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan sehingga tidak berbuah.”
 
Bagaimana dengan aku? Tanah semacam apakah diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Juli 2021

Renungan Harian
Kamis, 22 Juli 2021
Pesta St. Maria Magdalena

Bacaan I: Kid. 3: 1-4a
Injil: Yoh. 20:1. 11-18

Aku Tidak Kehilangan

Suatu pagi saya mengunjungi seorang bapak yang meminta sakramen pengurapan orang sakit. Bapak itu sudah amat sepuh, tetapi masih nampak sehat segar. Beliau masih bisa berjalan sendiri meski perlahan dan memakai tongkat. Bicara masih jelas dan pendengarannya pun masih baik.
“Selamat pagi opa, opa sehat?” sapaku.

“Selamat pagi romo. Puji Tuhan sehat  romo, yaaa sehatnya orang tua,” jawabnya.

“Opa masih kelihatan segar. Maaf saya pikir opa sakit, sehingga meminta sakramen pengurapan orang sakit,” kata saya.

“Ooo, saya sehat romo. Maaf merepotkan, saya minta sakramen minyak suci karena saya merasa saya cukup, sudah menerima dan menemukan apa yang saya cari, dan kiranya kalau Tuhan memanggil saya siap.  Jadi ya untuk jaga-jaga saja, siapa tahu tidak sempat lagi menghubungi romo,” jawab opa itu.

“Opa, apa yang opa cari, kalau saya boleh tahu?” tanya saya.
 
“Romo, saya itu dibabtis sudah tua, waktu itu saya sudah umur 65 tahun. Sebelumnya saya bisa disebut tidak beragama. Dari kecil ya ikut agama orang tua, tetapi saya tidak pernah ikut acara-acara mereka. Saya mempelajari beberapa agama lewat buku-buku tetapi tidak ada yang membuat saya  tertarik. Kalau saya ditanya apakah saya percaya pada Allah, yaa… saya percaya tetapi tidak membuat saya harus menyembah atau bagaimana. Istri dan anak-anak saya semua jadi katolik, saya tidak keberatan, silahkan tetapi jangan paksa saya ikut.
Romo bagi saya tidak penting orang itu beragama apa, yang penting orang itu berbuat baik sama orang lain, jangan jahat  sama orang, dan jangan kikir. Orang kalau mau sukses yang harus mau berjuang dan menderita, bukan dengan doa-doa kesana kemari. Itu prisip saya dan itu saya hidupi bertahun tahun.
 
Suatu ketika anak perempuan saya satu-satunya dari 5 orang anak saya, setelah lulus kuliah bilang kalau dirinya mau masuk biara mau jadi suster. Wah, saya tidak setuju, pokoknya tidak. Jadi katolik saya tidak keberatan tetapi kalau jadi suster tidak. Saya tidak mau kehilangan anak perempuan saya. Dia nekat romo, melawan saya. Memang dia itu keras seperti saya. Karena dia nekat, ya terserah, pokoknya saya tidak mau tahu. Saya tidak pernah mau bicara sama dia. Ada acara kaul atau apa saya tidak pernah mau datang. Dia libur di rumah ya biasa saja tetapi saya tidak pernah tanya kalau dia menyapa ya saya jawab seperlunya.
 
2 tahun sebelum saya baptis, saya kena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Waktu itu saya langsung masuk ICU. Romo, ternyata anak saya yang jadi suster itu datang lebih dulu dibanding kakaknya, meskipun mereka lebih dekat; tetapi karena ada anak dan macam-macam mereka lebih lambat. Itu hal pertama yang saya temukan ternyata anak saya yang jadi suster tetap sayang pada saya meskipun saya tidak peduli dan ternyata saya tidak kehilangan dia.
 
Ketika dia menemani saya dia bilang:
“Papi berdoa, mohon kesembuhan dari Tuhan, dedek juga berdoa bareng papi.” Wah saya tidak pernah berdoa dan tidak ingin berdoa maka yang dikatakan ke dia bahwa saya tidak bisa berdoa.
Dia ngomong lagi: “Papi, tidak usah bicara, papi diam, dalam hati bilang ke Tuhan, Tuhan kasihanilah aku. Udah papi ngomong itu dalam hati berulang-ulang.” Saya iyakan saja tetapi saya tidak lakukan. Baru waktu malam saya susah tidur saya ingat apa yang dikatakan anak saya dan saya melakukan. Romo saat itu tiba-tiba saya merasa tenang dan damai. Saya yang awalnya takut mati tiba-tiba tidak takut lagi. Saya kemudian sadar: ” oh Tuhan telah saya temukan bukan lewat buku-buku tetapi lewat rasa tenang dan damai yang saya terima. Dan yang paling penting saya jadi tidak takut mati, karena pasti ada damai dan ketenangan.” Opa itu bercerita.
Sebagaimana pengalaman penulis Kidung Agung mencari kekasihnya dan menemukan kekasihnya sehingga tidak ingin melepaskan lagi. Demikian pula kiranya pengalaman pergulatan orang yang mencari dan menemukan Tuhan.
 
Bagaimana dengan aku? Pergulatan macam apa yang kualami untuk menemukan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Renungan Harian: 21 Juli 2021

Renungan Harian
Rabu, 21 Juli 2021

Bacaan I: Kel.16: 1-5. 9-15
Injil: Mat. 13: 1-9.

Cacing Tanah

Sejak masa pandemi mulai, saya dibantu dengan seorang karyawan mencoba bertanam sayuran dengan cara hidroponik dan di tanah. Mengingat tidak ada lahan tanah untuk bertanam maka kami memanfaatkan talang air bekas.  Talang air itu kami isi dengan tanah untuk bertanam. Kami  membeli tanah lembang yang terkenal kesuburannya. Jadilah setelah mengisi talang dengan tanah dan menambahkan pupuk kami menanam pakcoy; selain mudah ditanam juga enak untuk dimasak.
 
Tanaman tumbuh dengan subur dan sedap dipandang. Saat panen tiba maka kami membagi hasil panenan kepada umat yang membutuhkan. Setelah sayuran dipanen kami mulai menanam sayuran lagi. Kali ini kami menanam sayur pagoda. Pagoda kami tumbuh subur daun-daunnya mekar indah. Sebagaimana tanaman terdahulu, kali ini saat penen tiba kami juga membagi kepada umat yang membutuhkan.
 
Setelah panen seperti biasa kami mulai menanam sayuran lagi. Kali ini kami menanam sawi hijau. Namun ternyata sawi yang kami tanam tidak tumbuh dengan baik, bahkan dapat dikatakan kami gagal dalam bertanam. Saya agak bingung, kenapa di tempat yang sama dengan tanah yang subur, tanah sudah dipersiapkan dan diberi pupuk yang sama tetapi kali ini gagal. Karena ketidak tahuan saya maka saya bertanya kepada salah seorang umat yang ahli dalam bidang pertanian. Dia memberi saran, yang sungguh-sungguh tidak pernah saya pikirkan.
 
Beliau mengatakan: “Tanah yang tanamannya habis dipanen tidak bisa langsung ditanami lagi. Betul tanahnya subur, dan diolah dengan cara yang sama dengan pengalaman panen yang bagus sebelumnya.  Namun demikian tanah tidak ada waktu untuk “istirahat”. Tanah butuh “diistirahatkan” barang sejenak agar dapat  “bernafas”. Selain itu beliau menyarankan agar tanah diberi cacing tanah. Cacing tanah akan mengurai tanah agar tanah tidak menjadi padat karena disiram, sehingga tanah bisa “bernafas” dengan baik.” Saran itu kami ikuti dan ketika kami menanam lagi hasil sungguh luar biasa, karena lebih bagus dari sebelumnya.
 
Bertolak dari pengalaman bertanam tadi saya belajar bahwa tanah yang subur dan menghasilkan panen, membutuhkan waktu untuk “istirahat” untuk “bernafas”dan perlu ada cacing tanah yang mengurai tanah agar tidak padat.

Demikian juga dengan diriku. Andai diriku adalah tanah yang subur telah menghasilkan buah yang berlimpah, perlu untuk mengambil waktu untuk menghirup “nafas” pembaharuan diri. Di samping itu perlu “cacing tanah” dalam diriku yang membuat diri  selalu gelisah untuk memperbaharui diri, tidak menikmati kemapanan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Juli 2021

Renungan Harian
20 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 14: 21-15 :1
Injil: Mat. 12: 46-50

Orang Tuaku

Suatu sore, saya kedatangan tamu seorang anak muda. Dia bukan warga paroki di mana saya menjalani perutusan, dia adalah salah seorang yang sedang berziarah di tempat kami. Dalam perjumpaan itu ia langsung bertanya: “Romo, apakah yang disebut orang tua, bapak dan ibu saya itu karena adanya hubungan darah? Karena darah mereka mengalir dalam tubuh saya sehingga mereka disebut orang tua?”

Mendengar pertanyaan yang seperti itu disertai emosi saya agak hati-hati menjawab.

“Mas, kalau bisa cerita, sebenarnya ada apa sehingga bertanya seperti itu?” tanya saya.
 
“Romo, saya sekarang ini sedang jengkel dan marah dengan mereka yang menyebut sebagai orang tua saya, mereka menyebut bapak dan ibu saya. Mereka menyebut diri mereka orang tua saya, yang mengalirkan darahnya dalam diri saya hanya untuk merongrong saya. Setiap kali mereka meminta uang, yang untuk berobatlah, untuk memperbaiki rumahlah, untuk biaya sekolah mereka yang disebut adik-adik saya, pokoknya ada banyak alasan untuk meminta uang. Awalnya saya bantu dengan rela ya untuk amal saja, tetapi kok ke sini menjadi semakin sering dan seolah saya harus bertanggung jawab atas kehidupan mereka dengan alasan mereka orang tua saya dan adik-adik saya,” orang muda itu bicara dengan penuh emosi.

“Mas, sesungguhnya mereka ini siapa?” tanya saya.
 
“Romo, mereka sesungguhnya adalah orang tua kandung saya. Menurut orang tua angkat saya, waktu saya masih kecil, waktu itu saya masih bayi, saya dijual oleh orang tua saya. Benar-benar dijual romo, dan “dibeli” oleh orang tua angkat saya. Dulu mereka tinggal bersebelahan dengan orang tua angkat saya. Mereka dulu hidup berkecukupan tetapi karena mereka hobby berjudi, sehingga semua habis termasuk usahanya. Dalam situasi itu saya dijual untuk menutupi hutang judi mereka.
 
Saya baru tahu setelah saya dewasa romo. Setelah saya dewasa mereka datang ke rumah dan mengatakan bahwa mereka orang tua kandung saya dan atas nama itu menuntut saya untuk bertanggung jawab atas kehidupan mereka.
 
Romo, menurut saya mereka bukan orang tua saya, benar mereka yang menjadikan saya ada di dunia ini, tetapi mereka bukan orang yang pantas saya sebut sebagai orang tua. Mereka tidak pernah memberikan kasih sayang, tidak pernah mendampingi dan mendidik dalam tumbuh kembang saya. Bagi saya yang pantas disebut orang tua adalah orang tua angkat saya, karena mereka yang mencintai saya, mereka yang mendampingi dan mendidik saya sehingga menjadi orang,” anak muda itu menjelaskan.
 
“Romo, kalau mereka meminta bantuan, saya ikhlas, tetapi jangan menuntut dengan mengatasnamakan orang tua,” imbuhnya.
 
Sebuah pengalaman luka yang amat dalam. Bagi saya pribadi apa yang dikatakan anak muda itu ada benarnya bahwa mereka yang disebut orang tua bukan hanya karena hubungan darah, tetapi lebih dari itu adalah mereka yang mencintai, mendampingi dan mendidik.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus menekankan hubungan saudara bukan pertama-tama karena hubungan darah tetapi soal melaksanakan sabda Allah. “Ini ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surge, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”
 
Apakah pantas disebut sebagai saudara Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Juli 2021

Renungan Harian
Senin, 19 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 14: 5-18
Injil: Mat. 12: 38-42

T a n d a

Dalam pertemuan Komisi Kitab Suci Nasional yang membahas bahan Bulan Kitab Suci Nasional, pada saat sesi tanya jawab ada dua pertanyaan yang menarik bagi saya.
Satu orang bertanya: “Apakah pandemi virus covid 19 ini merupakan tanda akhir zaman?”

Sedang seorang lain bertanya: “Apakah virus covid 19 ini berasal dari Tuhan atau dari manusia?”

Pada saat itu ketika mendengar pertanyaan itu, saya merasa ini pertanyaan lucu, dan apakah penting ditanyakan pada saat pertemuan itu.
 
Ketika saya menimbang-nimbang  kedua pertanyaan itu, saya merasakan mungkin kedua saudara yang bertanya  mewakili sekian banyak orang yang mempunyai pertanyaan yang sama. Memang mungkin benar tidak penting dan tidak nyambung pada saat itu tetapi itu pertanyaan itu mewakili kegundahan banyak orang. Banyak orang dalam situasi sekarang ini sungguh-sungguh merasakan penderitaan yang cukup dalam. Orang berduka cita karena kehilangan orang-orang yang dicintainya; orang cemas dan khawatir karena dirinya atau anggota keluarganya sedang sakit terpapar covid 19; orang resah dan gundah karena tidak bisa mencari penghidupan. Dalam situasi seperti itu orang bertanya untuk mendapatkan penjelasan yang menentramkan dan orang mencari tanda yang membuat dirinya tahu dan yakin.
 
Kiranya tidak ada seorang pun dapat memberikan jawaban dan tanda. Dan kiranya juga tidak perlu sibuk bertanya dan mencari jawab. Sibuk bertanya dan mencari tanda pasti tidak akan mengubah situasi menjadi lebih baik. Sibuk mencari tanda hanya akan menghantar pada penolakan atas situasi ini terus menerus.
 
Dengan kita menerima situasi dan kenyataan yang ada, maka tanda itu akan ditemukan dengan sendirinya. Tanda itu adalah harapan. Harapan menjadi tanda yang pasti dan jelas bahwa situasi ini tidak menjadi akhir bagi diriku, meski aku harus mengalami begitu banyak kesulitan dan penderitaan. Harapan menjadikan aku tetap ada dan berani untuk berjuang. Karena dalam harapan aku menemukan Tuhan yang selalu hadir dan terlibat dalam hidupku.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus mengkritik  ahli Taurat dan orang Farisi yang meminta tanda bahwa Yesus sungguh-sungguh datang dari Allah, padahal mereka selalu melihat dan mengalami kuasa Yesus. Penolakan dan ketertutupan diri menjadikan mereka tidak dapat melihat dan merasakan tanda-tanda yang sudah ada. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku dapat melihat dan mengalami tanda-tanda kehadiran Allah dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Juli 2021

Renungan Harian
18 Juli 2021
Minggu Biasa XV

Bacaan I: Yer. 23: 1-6
Bacaan II: Ef. 2: 13-18
Injil: Mrk. 6: 30-34

Mendalami Pengalaman

Hari itu matahari sudah condong ke Barat, ketika saya dan fr. Puspo, memasuki halaman Novisiat Girisonta. Ada perasaan gembira, bahagia dan bangga, ketika saya menapaki jalan di halaman novisiat, karena dengan itu saya dan fr. Puspo menyelesaian 10 hari peregrinasi kami (berjalan dengan meminta-minta).

Ketika memasuki rumah novisiat, saat berjalan menuju kamar romo Magister, romo dan Bruder yang melihat kami memberi tepuk tangan. Wah, rasa gembira meluap dalam diri saya. Sebagaimana aturan novisiat saya hanya tersenyum dan jalan menunduk menuju kamar romo Magister.
 
Saat kami dipersilahkan masuk ke kamar romo Magister, romo Magister tersenyum dan memberi ucapan selamat, wah semakin bahagia, karena romo Magister amat jarang tersenyum. Pada saat itu beliau berpesan dengan sangat agar kami tidak menceritakan apapun juga pengalaman peregrinasi kepada teman-teman novis tetapi diminta untuk berefleksi atas pengalaman peregrinasi itu. Padahal dalam diriku ada begitu banyak cerita menarik, lucu dan mengharukan selain cerita kebanggaan saya  bisa menyelesaikan peregrinasi ini. Saya yang selalu dianggap lemah, sakit-sakitan dan gak akan mampu menyelesaikan ternyata bisa.
 
Saat makan malam, saya bertemu dengan teman-teman novis mereka memberi ucapan selamat dan bertanya banyak hal tentang pengalaman saya, tetapi saya menjawab seperlunya agar saya tidak terjebak untuk menceritakan pengalaman peregrinasi saya. Pada awalnya saya agak sediki kecewa karena saya ingin berbagi kebanggaan dan kebahagiaan dengan teman-teman novis.
 
Dalam perjalanan refleksi yang didamping romo Bass Sudibyo, pada permulaan saya diminta menceritakan semua pengalaman kegembiraan, syukur, kebahagiaan, kebanggaan dan semua yang ingin saya ceritakan. Tetapi kemudian diajak untuk melihat tujuan dari peregrinasi ini. Tujuan peregrinasi bukan menunjukkan bahwa saya mampu menjalani atau membuktikan bahwa saya hebat, tetapi untuk belajar bergantung pada penyelenggaraan ilahi. Saya diajak untuk melihat pengalamanku akan Tuhan selama menjalani peregrinasi ini.
 
Dengan refleksi aku menemukan bahwa ternyata aku bukan sehebat yang saya pikirkan, ternyata kebanggaanku itu tidak berguna. Aku menjadi sadar tanpa Tuhan aku pasti tidak akan mampu, dengan kondisi kesehatanku, dengan berbagai kelemahan dalam diriku pada saat itu sudah pasti tidak akan bisa menyelesaikan. Aku menyadari ternyata aku mengalami mukjizat besar selama peregrinasi yang pada saat itu tidak kusadari. Aku yang pada saat itu tidak bisa makan makanan yang keras dan pedas ternyata selama peregrinasi aku bisa makan apapun dan tidak mengalami masalah apapun. Dengan seluruh refleksi aku menemukan bahwa kalau aku sungguh mau mengandalkan penyelenggaraan ilahi, Tuhan tidak akan meninggalkan aku. Buah-buah refleksi itu yang kemudian kuendapkan agar menjadi bekal dalam perjalananku selanjutnya.
 
Aku bersyukur bahwa pada saat itu aku dilarang untuk menceritakan pengalamanku kepada teman-teman novis. Andai aku tidak dilarang sudah pasti saya tersesat dari tujuan peregrinasi yang kujalani. Aku akan terpukau dengan kegembiraan dan kebangganku, aku akan terjebak dengan kehebatanku sehinggal lupa peran Tuhan dalam perjalanan peregrinasiku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, para murid Yesus yang baru pulang menjalani perutusan diajak menyingkir ke tempat yang sunyi agar tidak terjebak dengan kebanggaan dan kegembiraan melihat hasil perutusan yang dijalaninya. “Marilah kita pergi ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku menyediakan waktu bagiku untuk merefleksikan dan mengendapkan pengalamanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Juli 2021

Renungan Harian
Sabtu, 17 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 12: 37-42
Injil: Mat. 12: 14-21

Hukum Jalanan

Pagi itu, saya pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter. Saya pergi dengan sepeda motor. Seperti biasa di Bandung, pagi  hari jalan cukup padat. Di sebuah persimpangan terjadi antrian yang cukup panjang, namun pada hari itu semua kendaraan teratur, dan nampaknya semua sabar tidak ada yang saling slonong dan membunyikan klakson.

Namun tidak diduga ketika lampu lalulintas hijau, situasi yang tertib itu menjadi gaduh karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang ada di paling kiri memotong jalur ke kanan. Sontak semua kendaraan yang di depan membunyikan klakson, mungkin semua terkejut. Karena situasi padat, dan mungkin kendaraan yang di kanan tidak mau memberi jalan, mobil itu justru berhenti di tengah dan mengakibatkan kemacetan lebih parah.
 
Aneh bin ajaib, pengemudi mobil itu bukannya minta maaf, justru marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar karena dirinya tidak diberi jalan. Dia keluar dari mobil menantang semua orang itu sambil teriak-teriak. Beberapa pengemudi sepeda motor turun dan meringkus orang itu, meskipun orang itu teriak dan mau memukul, untunglah para pengemudi motor itu tidak ada yang terpancing untuk memukul. Ada seorang polisi yang kemudian meminggirkan mobil orang itu.
 
Pemuda itu dibawa ke pinggir, dan seorang bapak dengan amat sopan dan halus, bertanya:
“Nak, kamu tahu gak kalau salah?”

“Salah dimananya? Ini jalanan umum, mereka aja yang tolol gak ngerti,” jawab orang itu.

Jawaban itu memancing emosi orang-orang di situ. Untung bapak itu bisa menenangkan sehingga tidak terjadi pemukulan.

“Nak, kamu yang lebih pintar, harusnya kamu memberitahu dengan memberi tanda pakai tanganmu (bapak itu sambil memberi contoh) pasti gak akan terjadi seperti ini. Nak, sebagai orang pintar, lain kali jangan marah-marah seperti itu, malu nak,” bapak itu melanjutkan.
 
Orang itu sontak bersujud minta maaf ke bapak itu dan minta maaf ke semua orang yang di situ. Saya kaget dan kagum dengan apa yang dilakukan bapak itu. Bapak itu mampu menghadapi orang yang kasar, orang yang merasa sok hebat dan kuat, dengan cara yang amat halus dan sopan. Bagi saya bapak itu mewartakan kasih pada orang itu. Dia telah mengalahkan hukum jalanan dengan hukum kasih. Mengalahkan tidak dengan menghancurkan tetapi memanusiakan dan mengembalikan martabatnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mengedepankan hukum kasih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Juli 2021

Renungan Harian
Jum’at, 16 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 11: 10-12: 14
Injil: Mat. 12: 1-8

Tuhan Jangan Lewat

“Romo, apakah saya boleh minta tanda atau benda apapun untuk rumah kami agar Tuhan tidak lagi mengambil salah satu anggota keluarga kami?” suara seorang ibu di saluran telepon di tengah malam beberapa hari yang lalu. Saya tidak kenal dengan ibu tersebut karena memang bukan dari tempat di mana saya bertugas.

“Maaf, ibu apa yang bisa saya bantu? Apa yang ibu maksud dengan tanda atau benda? Ibu membutuhkan salib atau rosario atau kedua-duanya?” tanya saya memperjelas karena saya tidak mengerti apa dimaksud.

“Apapun itu romo, pokoknya yang bisa menyelamatkan kami,” jawab ibu itu.

“Ibu, tenang ya, apa sebenarnya yang ibu harapkan?” tanya saya dalam bingung.

“Saya boleh cerita romo?” tanyanya.

“Boleh, silahkan ibu,” jawab saya.
 
“Romo, dalam dua minggu ini saya kehilangan 4 orang yang saya cintai. Kedua orang tua saya, adik saya satu-satunya dan suami saya. Romo, semua meninggal karena covid. Awalnya adik saya mengalami batuk pilek, dia tinggal dengan kedua orang tua  saya di rumah sebelah. Oleh ibu saya dikerok karena biasanya begitu dan sehat kembali. Dua hari tidak sembuh malah ibu dan ayah saya ikut batuk-batuk. Kami berpikir kena influenza (flu). Tetapi kemudian hari berikutnya mereka demam tinggi. Suami lapor ke puskesmas khawatir kalau mereka terpapar covid. Hari itu juga mereka dijemput ambulan dibawa ke rumah sakit, dan ternyata positif covid. Saya, suami dan 2 anak saya diperiksa dan puji Tuhan kami negatif.
 
Romo, ternyata keadaan orang tua dan adik saya cukup parah. Seminggu di rumah sakit, ibu dipanggil Tuhan. Belum juga kami bisa memberi tahu bapak, esoknya bapak dipanggil Tuhan. Romo, kami amat terpukul dengan semua itu. Saya begitu sedih dan takut. Saya sungguh-sungguh diam di rumah, beli sayur lewat tukang yang lewat di depan rumah. Saya juga minta suami saya untuk tidak usah pergi kerja dulu. Tetapi suami saya mengatakan kalau dia tidak bekerja kami semua justru mati kelaparan. Saya tidak tahu harus bagaimana jadi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Belum juga kami hilang sedih dan takut adik saya menyusul kedua orang tua kami.
 
Romo, kami berdoa sudah tidak tahu lagi mau bicara apa. Saya merasakan kengerian yang luar biasa. Saya tiap hari ribut dengan suami, karena dia masih juga kerja dan keluar cari tambahan. Saya sudah minta sudah-sudah tetapi tidak didengar. Dan hal yang tidak saya harapkan terjadi. Suami saya pulang kerja demam tinggi dan sesak nafas. Menurut dia sebenarnya sudah beberapa hari merasa tidak enak badan, tetapi tetap harus kerja agar kami bisa makan. Kami semua dites lagi dan kami semua positif. Suami dibawa ke rumah sakit karena cukup parah, sedang saya dan dua anak saya isolasi di rumah. Kebutuhan obat diberi dokter puskesmas sedang kebutuhan sehari-hari kami dikirim oleh tetangga. Romo, saya sudah tidak tahu lagi harus berdoa dengan cara apa. Dua minggu di rumah sakit suami dipanggil Tuhan. Dunia saya gelap, saya mau berteriak sudah tidak ada suara lagi, menangis sudah tidak ada air mata lagi.
 
Romo, sekarang saya masih isolasi dengan kedua anak kami. Saya tiap malam mendekap mereka jangan sampai mereka juga diambil. Itu romo, mengapa saya minta tanda atau benda apapun agar Tuhan tidak datang ke rumah kami dan mengambil salah seorang dari antara kami lagi,” ibu itu bercerita.
 
Saya tidak bisa berkata apa-apa, badan saya terasa lemas membayangkan apa yang dialami ibu itu. Terbayang kengerian hari-harinya berhadapan dengan maut. Saya bertanya pada diri sendiri: “Benarkah ini Tuhan lewat? Sehingga banyak yang dipanggil menghadapNya? Lalu tanda apakah yang harus dipasang di palang pintu rumah agar keluarga tidak diambil? Atau Tuhan butuh begitu banyak malaikat sehingga harus mengambil banyak umatNya di bumi untuk dijadikan malaikat?” Aku tidak tahu jawabnya. Aku bergumam lagu yang kudapat dari media sosial:

“Gusti, kulo nyuwun saras, sarasing sukma……. (Tuhan saya mohon kesembuhan, kesembuhan jiwa)”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Juli 2021

Renungan Harian
Kamis, 15 Juli 2021
PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Kel. 3: 13-20
Injil: Mat. 11: 28-30

P a n i k

Suatu siang sebuah keluarga menerima berita dari putranya yang ada di luar kota bahwa semalam dirinya baru saja kumpul-kumpul dengan teman-temannya, dan salah satu teman yang ikut kumpul itu ternyata positif covid. Berita itu membuat panik orang tuanya. Putranya mengatakan bahwa dirinya akan isoman di kota itu. Orang tuanya bingung karena kalau putranya kemudian ternyata tertular dan sakit, siapa yang akan mengurus di sana. Setelah mengadakan pertimbangan orang tuanya meminta putranya agar swab antigen, dan apabila negatif maka segera cari tiket untuk pulang ke rumah. Orang tuanya memesan hotel di kotanya untuk isolasi mandiri beberapa hari supaya jelas dahulu tidak bergejala baru kumpul di rumah.
 
Hasil tes menunjukkan bahwa anak itu negatif sehingga dia bisa pulang dan tinggal di hotel. Namun baru semalam di hotel, putranya merasa demam dan batuk. Orang tuanya panik lagi dan segera mengambil keputusan menyiapkan kamar terpisah di rumah untuk isolasi mandiri.
Bapaknya segera menghubungi dokter untuk minta saran berkaitan dengan yang terjadi pada putranya. Dokter memberi resep sejumlah obat yang harus diminum untuk penyembuhan.
Anak itu dijemput dari hotel dan diisolasi di kamar yang disediakan.
 
Beberapa waktu berjalan, putranya menunjukkan gejala yang semakin parah, ibunya bingung apa yang harus dilakukan, sementara suaminya mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja karena ada dalam pengawasan dokter. Setiap hari istrinya ribut karena ia membaca media sosial yang menyarankan harus beli ini dan itu, belum lagi mendengar dari teman-temannya yang pernah mengalami terpapar virus covid. Semua yang disarankan media sosial dan teman-temannya hendak dibeli. Suaminya mengatakan tidak perlu karena sudah dapat obat dari dokter, dan itu cukup. Tetapi istrinya mengatakan yang penting sedia dulu soal diminum atau tidak urusan nanti. Tiada hari tanpa keributan berkaitan bagaimana merawat dan menemani putranya. Belum lagi soal saturasi oksigen yang sering kali naik turun, lebih membuat panik. Istrinya minta agar cari tabung oksigen untuk berjaga-jaga. Kepanikan semakin dalam manakala mendengar berita bahwa salah satu temannya semakin turun kesehatannya.
 
Suaminya suatu hari menelpon saya dan menceritakan semua itu. Suaminya mengatakan kepada saya: “Romo, sejujurnya saya juga khawatir dan panik, bagaimanapun itu anak kami, tetapi kalau kami panik membuat anak kami juga menjadi resah sehingga memperlambat penyembuhannya. Saya berjuang untuk selalu tenang menghadapi istri saya, walaupun kadang-kadang jengkel. Dia tiba-tiba bilang ke saya: “Mas, aku sudah beli obat ini dan itu, sebaiknya diberikan nggak ya?.” Karena saya tidak setuju membeli obat ini itu atas saran media sosial dan teman-temannya maka dia diam-diam membeli.
 
Romo, kami selalu berdoa dan berdoa mohon untuk kesembuhan anak kami. Saya ingat Tuhan bersabda: “Datanglah kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.” Saya berdoa menyerahkan beban kami, dan kami “memaksa” Tuhan agar segera menyembuhkan anak kami. Semakin kami “memaksa” semakin kami menjadi resah, dan beban kami semakin berat. Romo mohon doa dan saran.”
 
“Bapak, sabda Tuhan yang bapak kutip dan yakini itu benar namun tidak lengkap. Tuhan bersabda: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajar dari padaKu, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.” Maka bukan hanya mohon dengan “memaksa” Tuhan tetapi belajar untuk memanggul beban itu.”
 
Sebagaimana pengalaman bapak itu, banyak diantaraku yang berpikir seperti bapak itu dan lupa bahwa Tuhan meminta agar aku memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari padaNya.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bersedia memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari padaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Juli 2021

Renungan Harian
Rabu, 14 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 3: 1-6. 9-12
Injil: Mat. 11: 25-27

Allah Menyertai

Beberapa tahun yang lalu, suatu siang saya pergi ke pusat perbelanjaan elektronik. Di pusat perbelanjaan itu terkenal sebagai tempat jual beli dan servis handphone. Ketika saya sedang berjalan mencari sebuah toko servis hp, saya dikejutkan dengan sapaan seorang bapak yang sedang berjalan dengan istrinya.
“Maaf, kamu Iwan ya?” sapa bapak itu.

“Iya benar, maaf, bapak siapa? Maaf saya lupa,” jawab saya.

Saya sama sekali tidak mengenali siapa bapak itu.

“Aku Pras, teman lama,” bapak itu memperkenalkan diri. 

“Waduh, maaf pras mana ya, maaf gak kebayang sama sekali,” jawab saya.

“Halah aku Genjik. Sekarang ingat?” jawabnya.

“Ha? Bener kamu Genjik?” jawabku tidak percaya. Dia mengangguk sambil tertawa. Kami bersalaman dan berpelukan. Sudah amat lama kami tidak bertemu.
 
“Sekarang kamu tinggal di sini? Kamu kerja di mana?” tanya teman saya ketika kami duduk di foodcourt.

“Iya, aku tinggal di sini, aku jadi romo,” jawabku.

“Wah elok, luar biasa tenan, kancaku jadi romo,” katanya.

“Kamu itu yang hebat, wah luar biasa lho. Genjik sekarang ganteng, parlente,” kata saya diikuti tertawa kami berdua.

“Wah bener Wan, ingatase Genjik, anakke tukang becak kok isa dadi uwong. (Betul Wan, seorang Genjik anak tukang becak kok bisa menjadi orang).” Jawabnya.

“Kamu kerja dimana? Dan sudah lama tinggal di sini?” tanya saya.

“Nggak, aku tinggal dan kerja di Jakarta di sini hanya main aja,” jawabnya.

“Wah hebat, luar biasa, keren,” kata saya.

“Yang hebat itu yang di atas,” jawabnya. “Ceritanya panjang Wan, dari ketulo-tulo tekan mukti iso mrajakke wong tua. (dari sengsara hingga mapan dan bisa mensejahterakan orang tua),” katanya.
 
“Wan, ketika aku masuk SMP, bapakku meninggal. Yah, kata orang dulu angin duduk, kalau sekarang sakit jantung mungkin. Bapak meninggal di becaknya. Itu membuat saya amat terpukul. Lebih-lebih, simbok memintaku untuk berhenti sekolah karena tidak sanggup membiayai. Tetapi karena aku ingin tetap sekolah aku “ngenger” (kerja) di rumah saudara jauh. Wan aku sekolah SMP- SMA seperti sambilan, pekerjaan pokokku jadi babu.
Puji Tuhan, aku diterima PMDK di Universitas Negeri yang terkenal itu, tetapi berpikir biaya jadi bingung. Simbok menjual perhiasan yang tidak seberapa tetapi cukup untuk membayar awal kuliah. Aku kuliah sambil kerja dan bersyukurnya aku boleh tinggal di tempat kerja. Jadi hemat tidak membayar kost. Aku bersyukur karena uang hasil kerjaku bukan hanya cukup untuk membayar kuliah dan makan ala kadarnya, tetapi bisa membantu uang sekolah adik-adikku.
 
Singkatnya aku lulus sarjana dan diterima ditempat kerja ini. Dan yang tidak kusangka-sangka aku mendapat kepercayaan dan berkat, sehingga menjadi seperti sekarang aku bisa jadi pimpinan perusahaan. Wan, kalau hanya mengandalkan diriku pasti gak mungkin, kamu sendiri tahu aku seperti apa. Tetapi ya itulah kalau Tuhan mau, Dia tidak akan kurang akal untuk menyempurnakan umatNya. Genjik yang anak tukang becak, babu, sekarang jadi pimpinan perusahaan. Aku sampai sekarang selalu kagum dan heran cara Tuhan menyertai dan menuntun hidupku,” temanku mengakhiri kisahnya yang panjang.
 
Allah memilih dan mengutus seseorang selalu menyertai dan melengkapi yang dibutuhkan dariku adalah kesediaan berjuang untuk dibentuk. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, Musa dipanggil untuk tugas besar, meski itu nampak mustahil bagi Musa, tetapi Tuhan menjanjikan untuk selalu menyertai. “ “Siapakah aku ini, maka aku harus menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
Lalu Tuhan bersabda: “Bukankah Aku akan menyertai Engkau?” “
 
Bagaimana dengan aku? Percayakah aku bahwa Tuhan akan selalu menyertai diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.