Renungan Harian: 3 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 03 Juli 2020

Pesta St. Thomas Rasul
Bacaan I : Ef.2: 19-22
Injil    : Yoh. 20:24-29

Mbah Putri

Mbah Putri, begitulah aku biasa memanggil ibu dari ibuku. Mbah Putri ini orang desa, dan tidak pernah bersekolah, karenanya ia tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi kalau menghitung, kali, bagi, tambah dan kurang luar biasa pandai, asal berkaitan dengan uang.

Saya tidak tahu persis mbah putri agamanya apa, tetapi Mbah Putri tidak pernah menjalankan ritual agama apa pun.

Kendati Mbah Putri “tidak beragama”, namun ia selalu mengingatkan kami untuk selalu berdoa agar mendapatkan berkat. Sering kali Mbah Putri meminta kami untuk berdoa secara khusus untuk ujub khusus.

Suatu ketika, aku melihat Mbah Putri duduk bersimpuh di kebun, bagiku nampak sedang berdoa. Aku tidak berani mengganggu maupun bertanya.

Namun ketika lain waktu aku melihat Mbah Putri sedang bersimpuh lagi, esok harinya aku memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang Mbah Putri lakukan.

Mbah Putri menjawab bahwa ia sedang berdoa. Ia mohon keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan untuk anak, mantu, dan cucu-cucu.

Aku bertanya:
“Mbah Putri berdoa kepada siapa? Ke penunggu pohon jambu?” (karena simbah bersimpuh di bawah pohon jambu).

“Hush, gak boleh ngomong begitu, Mbah Putri berdoa pada Gusti,” jawabnya.

“Lha Gusti-nya Mbah Putri itu siapa atau yang mana?” tanyaku.

“Embuh le, Mbah Putri gak tahu, pokoknya Mbah Putri berdoa kepada yang membuat dan memberi hidup” jawabnya.

Ketika di lain waktu aku tanya lagi tentang Gusti-nya Mbah Putri, saat ia menemaniku tidur, Mbah Putri menjawab:

“Le, Mbah Putri itu orang bodo, orang buta huruf. Kalau ditanya siapa Gusti-nya, Mbah Putri tidak tahu. Mbah Putri gak punya agama dan gak ngerti agama. Tetapi Mbah Putri percaya pada Gusti. Mbah Putri percaya Gusti yang membuat dan memberi hidup.

Le, Mbah Putri gak bisa menerangkan bagaimana-bagaimananya, Mbah Putri hanya bisa merasakan bahwa Gusti menjadi sumber berkah dan memberi berkah. Mbah Putri hanya merasakan bahwa Gusti menjamin hidup kita. Maka, Mbah Putri selalu manembah lan ngabekti (bersujud dan memuji).

Mbah Putri pasrah bongkokan karo sing nggawe urip, lan sakdremo nglakoni urip. (Mbah Putri berserah penuh dengan yang membuat hidup, dan menjalani hidup sesuai dengan berkatnya).”

Bagiku Mbah Putri dan kiranya banyak orang lain yang menghayati hubungan dengan Tuhan seperti itu adalah orang-orang yang disebut bahagia oleh Yesus: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Sedangkan aku yang berpikir rumit tentang Allah jadi kehilangan Allah, karena Allah tidak kurasakan dan hidupku.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 02 Juli 2020

Bacaan I: Am. 7: 10-17
Injil   : Mat. 9: 1-8

Pertolongan

Beberapa tahun yang lalu  saat saya sedang mengunjungi salah satu umat yang sedang sakit di rumah sakit, datang beberapa orang yang ingin mendoakan. Mereka datang memperkenalkan diri dari sebuah gereja, walaupun berbeda denominasi tetapi sama-sama murid Kristus. Keluarga tidak keberatan dan mempersilakan mereka untuk mendoakan.
 
Hal pertama yang dikatakan oleh pemimpin kelompok itu adalah: “Saudaraku, saudara harus bertobat, minta ampun pada Tuhan. Sakit yang saudara alami ini karena dosa. Bertobatlah saudaraku.” Saya melihat wajah si penderita sakit menunjukkan ketidaksukaannya dan agak menahan amarah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam.
 
Mulailah mereka  bernyanyi dengan iringan gitar. Lagu yang bagus dan suara yang bagus. Nyanyian ini memberi penghiburan kepada si sakit. Wajahnya mulai tenang dan mulutnya nampak ikut bernyanyi meski tidak keluar suara. Sesaat kemudian mulai berdoa. Doa dengan ekspresif dan penuh semangat. Saya tidak ingat persis apa isi doanya, karena begitu panjang. Namun yang saya ingat persis sepotong doanya: “Tuhan, lembutkanlah hati saudaraku, hancurkanlah kedegilan hatinya, agar mau bertobat. Sadarkanlah  saudaraku agar kembali kepadaMu dan menjadi sembuh.” 
 
Doa belum selesai si penderita sakit dengan terengah-engah menahan marah, mengusir kelompok doa ini: “Terima kasih, silakah ke luar, saya mau tidur.” Ketika mereka tetap meneruskan doanya, si penderita sakit teriak, mengusir mereka.
 
Saat itu saya berpikir kalau saya menjadi orang yang sakit dan didoakan seperti itu pasti saya akan marah. Saya marah bukan karena didoakan dan bukan pula karena saya orang yang tidak berdosa yang tidak membutuhkan pertobatan; akan tetapi marah karena saya merasa sudah diadili sebagai orang yang berdosa sehingga jatuh sakit.
 
Dalam perjalanan pulang saya berpikir apa yang salah dengan doa mereka. Mereka mendoakan agar si pederita sakit bertobat. Bukankah dalam banyak kisah penyembuhan Yesus bersabda : “Dosamu sudah diampuni”.  Bukankah mereka yang berdoa itu seperti orang-orang yang membawa orang lumpuh kepada Yesus. 
 
Yesus dalam kisah penyembuhan mengatakan dosamu diampuni, karena Yesus mengerti dengan baik bahwa kebutuhan orang itu bukan hanya pemulihan fisik tetapi pemulihan manusia yang seutuhnya. Yesus tidak mengadili orang yang disembuhkan sebagai pendosa dan juga tidak mengadili bahwa penyakitnya akibat dosa.
 
Bertolak dari hal itu saya mengerti dimana salahnya mereka yang mendoakan. (kalau mau disebut salah karena membuat marah yang didoakan). Mereka tidak mengerti kebutuhan si penderita sakit.
Betapa penting belajar untuk mengerti dan memahami agar bisa memberi pertolongan yang baik.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 1 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 01 Juli 2020

Bacaan I : Am. 5: 14-15.21-24
Injil    : Mat. 8: 28-34

Altar dan Pasar

Mgr. Alexander Djajasiswaja, Uskup Keuskupan Bandung almarhum dalam banyak kesempatan mengatakan agar  umat beriman, termasuk para imamnya tidak hanya berkutat di seputar altar saja tetapi juga ke pasar. Pasar yang dimaksud bukan pasar tempat bertemunya  penjual dan pembeli, akan tetapi masyarakat. Mgr. Alex mengajak seluruh umat beriman untuk aktif terlibat dalam dinamika masyarakat.
 
Senada dengan hal itu Komisi Kerawam Konferensi Wali Gereja Indonesia, mengajak seluruh umat beriman semakin terlibat dalam dinamika berbangsa dan bernegara. Agar kecemasan dan harapan masyarakat menjadi kecemasan dan harapan Gereja.
 
Lebih jauh Komisi Kerawam mengajak agar umat tidak terjebak menjadi penikmat kemeriahan liturgi dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin, umat beriman dapat berdoa dengan khusyuk, menikmati liturgi yang megah dan meriah, sementara di luar sana ketidak adilan, pemiskinan dan perusakan lingkungan merajalela.”
 
Syukur pada Allah, di masa bencana covid 19 ini Gereja menampakkan jati diri yang sesungguhnya. Di saat tidak ada kemeriahan liturgy, di saat semua umat beriman merayakan ekaristi di rumah masing-masing, di saat umat beriman ada dalam keprihatinan dalam mengungkapkan imannya secara khusus dalam sakramen ekaristi, Gereja hadir dan terlibat di tengah masyarakat. Umat beriman dengan caranya masing, memberikan hati bagi masyarakat tanpa memandang bulu. Umat beriman amat mudah digerakkan untuk ikut dalam keprihatinan masyarakat.
 
Itulah jati diri Gereja, hadir dengan hati bagi masyarakat. Bagi Gereja tidak ada pewartaan iman tanpa penegakan keadilan. Pewartaan iman dan penegakkan keadilan bagi dua sisi dalam sekeping mata uang.
 
Sebagaimana diwartakan nabi Amos, Allah bersabda: “Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyianmu. Aku tidak mau mendengar lagu gambusmu. Tetapi hendaknya keadilan dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 30 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 30 Juni 2020

Bacaan I : Am. 3: 1-8; 4:11-12
Injil    : Mat. 8: 23-27

Rasa Aman

Beberapa tahun yang lalu, keluarga kami diterpa masalah yang luar biasa. Bapak saya dituduh melakukan pelecehan sexual kepada salah satu ibu. Ibu tersebut dan keluarga amat dekat dengan kami, kalau bertemu selalu memeluk dan mencium kami. Peristiwa yang menjadi sumber masalah itu,0 terjadi di gereja, ketika sudah lama tidak bertemu, ibu itu bertemu bapak dan memeluk bapak. Sebenarnya Peristiwa itu tejadi di depan ibu saya dan suami ibu itu. Sebenarnya kejadian itu sesuatu yang selama ini terjadi dan biasa.
 
Nampaknya ada yang tidak suka dengan keluarga kami, sehingga peristiwa itu diwartakan sebagai bentuk pelecehan sexual oleh bapak. Ada “petisi” yang ditanda tangani oleh beberapa umat termasuk beberapa tokoh, agar bapak di berhentikan sebagai prodiakon. Bahkan keluarga kami kemudian harus ikut lingkungan (kring) lain, karena dibuat tidak nyaman dengan lingkungan kami.
 
Pada saat peristiwa itu menjadi ramai, kami 3 orang anaknya dipanggil pulang oleh bapak. Bapak menceritakan peristiwa itu. Bapak nampak tenang dalam bercerita; tetapi tidak dengan ibu, ibu amat emosional  dan marah kepada orang-orang yang menandatangani maupun dari keluarga ibu yang dianggap dilecehkan. Ibu sakit hati, karena selama ini hubungan dengan keluarga itu sudah demikian dekat.
 
Bapak menenangkan ibu dan kami semua. Bapak mengatakan: “Sekarang kita baru diterpa badai, tetapi tidak usah takut, tidak usah cemas, tidak usah marah-marah. Becik ketitik ala ketara, Gusti ora sare. (Yang benar akan terlihat dan yang jahat anak nampak, Tuhan tidak tidur). Rasa aman kita tidak tergantung dengan mereka-mereka itu, dan jangan pernah meletakkan rasa aman kita pada orang. Rasa aman kita letakkan pada Tuhan yang selalu melindungi kita. Maka rasa aman juga tergantung pada kita sendiri; kalau kita yakin bahwa Gusti ora sare maka kita akan selalu merasa aman meski ada badai.”
 
Kami sekeluarga menghadapai badai itu dengan tenang dan damai. Semua kami percayakan pada Tuhan, dan meletakkan rasa aman kami pada Tuhan. Dan benarlah apa yang dikatakan bapak: “Becik ketitik, ala ketara”.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, para murid takut dan cemas karena kapal terhempas oleh badai. Para murid tahu bahwa Yesus bersama mereka, tetapi mereka lupa dengan pengalaman-pengalaman melihat karya Yesus.
 
Aku pun sering kali mengalami seperti para Murid, mudah takut dan cemas. Tahu dan sadar bahwa Tuhan menyertai tetapi pengalaman kasih Tuhan seringkali tidak mengendap sehingga tidak membekas dalam diriku. Maka aku lebih sering mengandalkan diriku sendiri.
 
Rasa amanku bergantung dimana aku meletakkan rasa amanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 29 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 29 Juni 2020

Hari Raya St. Petrus dan Paulus
Bacaan I  : Kis. 12: 1-11
Bacaan II : 2Tim. 4: 6-8.17-18
Injil     : Mat. 16: 13-19

Bagiku

Beberapa tahun yang lalu, seorang kerabat menikahkan anak perempuannya (mantu). Acara pernikahan ini menggunakan tata cara adat jawa yang lengkap. Mulai sejak memasang tenda, mencari air tujuh sumber untuk siraman, acara midodareni (malam sebelum hari perkawinan) dan pada saat resepsi, semua menggunakan tatacara adat jawa yang lengkap termasuk memakai gamelan lengkap.
 
Saya yang mengikuti semua rangkaian acara itu kagum dengan berbagai simbol yang ditampilkan dengan makna yang luar biasa mendalam. Acara terasa meriah dan agung bagi saya, walaupun  memang kelihatan dan terasa begitu rumit dan ribet.
 
Saya melihat pengantin menjalani semua rangkaian acara itu seperti anak kecil yang harus selalu dituntun dengan segala kebingungannya. Bahkan beberapa kali saya perhatikan pengantin agak kurang sungguh-sungguh dalam menjalankan beberapa rangkaian acara itu.
 
Esok hari ketika kami sedang ngobrol-ngobrol, saya bertanya kepada kerabat saya, mengapa memilih dengan tatacara adat jawa yang lengkap dengan segala kerumitannya? Saudara saya menjawab, karena ingin ikut melestarikan budaya jawa. Kemudian saya bertanya kepada mempelai pria yang ikut ngobrol pagi itu:

“Kenapa kamu memilih adat jawa yang rumit begini?”

Dia menjawab:
“Saya sih ikut gimana orang tua aja Om.”

“Terus kamu ngerti kenapa harus melakukan ini dan itu ?”, tanya saya lebih lanjut.

“Ngerti sedikit sih Om, bapak sempat cerita sedikit.” jawabnya.

“Waktu kamu menjalankan rasanya gimana?” tanyaku.

“Gak ada rasa apa-apa Om, ikutin aja apa yang diminta. Semakin cepat semakin baik.”: jawabnya sambil tertawa.
 
Saya bisa mengerti dan merasakan apa yang dialami oleh pengantin, dalam menjalani seluruh rangkaian tatacara,yang hanya sekedar mengikuti dan tidak ada rasa apa-apa. Dia tidak mengerti berbagai simbol yang ditampilkan dan yang harus dijalankan. Terlebih lagi seluruh rangkaian tatacara itu bukan pilihan mereka. Maka tidak mengherankan bahwa mereka nampak seperti wayang yang digerakkan oleh dalang. Tanpa penghayatan dan tanpa jiwa.
 
Bukankah sering kali dalam menjalani hidup imanku, aku seperti pengantin itu? Menjalankan segala sesuatu tanpa penghayatan dan tanpa jiwa. Aku menyebut diri pengikut dan murid Yesus dan memang benar karena aku mengimani Yesus. Apakah aku mengenal Dia? Aku pasti mengenalNya, lewat pengajaran maupun lewat bacaan-bacaan yang kubaca. Sejauh mana aku mengenal Dia? Kiranya sejauh yang kudengar dan kubaca.
 
Kalau aku ditanya lebih lanjut, siapakah Yesus menurut aku? Artinya aku harus menghilangkan pengetahuanku tentang Yesus menurut orang lain, menurut para ahli dan menurut buku-buku yang kubaca, apakah aku bisa menjawab?
Jawaban yang bersumber dari pergulatan peziarahan hidupku bersama dengan Dia, menjadi sulit bagiku. Jangan-jangan sebenarnya aku tidak mengenal dia yang hidup dalam diriku, atau aku mengenal dia sejauh dalam pengetahuan dan tidak hidup dalam pengalaman pergulatan peziarahan hidupku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 Juni 2020

Renungan Harian
Minggu, 28 Juni 2020

Minggu Biasa XIII
Bacaan I  : 2Raj. 4: 8-11.14-16a
Bacaan II : Rom. 6: 3-4.8-11
Injil     : Mat. 10: 37-42

Pilihan

Beberapa tahun yang lalu ketika saya selesai merayakan ekaristi, ada seorang bapak muda bersama istrinya ingin bicara dengan saya. Bapak itu mohon doa agar keluarga orang tuanya diberi kedamaian dan dapat saling mengasihi satu sama lain.
 
Melihat keheranan saya ia bercerita. Bapak muda ini empat bersaudara, dia anak bungsu, mempunyai satu kakak laki-laki yang paling besar dan dua kakak perempuan. Keluarganya adalah keluarga katolik yang baik dan aktif. Keluarganya mempunyai toko dan bengkel mobil.
 
Toko dan bengkel mobilnya amat laris dan berkembang baik, akan tetapi kemudian mulai menurun seiring banyaknya pesaing. Keadaan ini sudah barang tentu meresahkan orang tuanya apalagi masih ada 3 orang yang masih kuliah termasuk dirinya. Melihat keadaan toko dan bengkelnya yang demikian, entah mendapat bujukan dari mana, orang tuanya memutuskan untuk mencari “penglaris” ke Gunung Kawi. Dia dan kakak perempuan diatasnya tidak setuju dengan keputusan orang tuanya. Sementara kedua kakak yang lain setuju. Sebagai akibat ketidak setujuannya, mereka berdua diusir dari rumah.
 
Dia dan kakaknya kemudian tinggal di rumah kakeknya, dan untuk membiayai kuliah, mereka memberi les. Sampai dia dan kakaknya ini selesai kuliah, bekerja dan menikah mereka berdua tetap tidak diterima oleh keluarganya.
 
Akhir-akhir ini ketika orang tua mereka mulai tua dan sakit-sakitan, kedua kakaknya mulai ribut soal warisan. Keluarga ini jadi saling bermusuhan bahkan dengan orang tua mereka pun terjadi permusuhan. Semua bersumber soal harta.
 
Karena alasan itulah Bapak muda ini datang minta doa untuk keluarganya.
 
Apa yang dilakukan oleh bapak muda ini dan kakak perempuannya menolak keputusan orang tuanya untuk mencari “penglaris” ke Gunung Kawi yang berakibat diusir oleh orang tuanya adalah sebuah resiko dari pilihan mereka. Mereka memperjuangkan agar keluarganya tetap hidup sesuai dengan iman mereka. Apa yang mereka lakukan dianggap sebagi tindakan durhaka. Tetapi keyakinan bapak muda dan kakaknya untuk tetapi setia pada imannya menunjukkan bagaimana sikap seorang beriman pada Kristus.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh Matius: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, tidak layak bagiku.” Pilihan untuk setia pada Kristus sebagaimana dialami dua orang kakak beradik itu seringkali harus menanggung resiko yang tidak mudah. Resiko yang ditanggung membuat mereka dianggap layak menjadi murid Tuhan.
 
Maka pertanyaan besar bagiku apakah aku bisa disebut orang yang layak bagi Tuhan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 Juni 2020

Renungan Harian
Sabtu, 27 Juni 2020

Bacaan I : Rat. 2: 2.10-14.18-19
Injil    : Mat. 8: 5-17

Tidak Pantas

Sudah lebih dari tiga bulan umat katolik menjalani perayaan ekaristi dengan cara live streaming. Dengan begitu umat menyambut Tubuh Kristus “hanya” dengan menyambut secara rohani, atau yang lebih dikenal dengan komuni batin.
 
Di paroki kami, Paroki Salib Suci, Bandung, pada saat komuni diputarkan lagu “Komuni Spiritual” doa dari St. Alphonsus de Ligouri yang lagunya disusun oleh ibu Damian Alma. Diputarkan lagu tersebut dengan maksud agar umat yang menyambut komuni batin dapat terbantu untuk menghayatinya dan merasakan kehadiran Tuhan.
 
Bagi ku pribadi yang selalu merayakan ekaristi tidak menghayati kata-kata dalam lagu itu, kecuali bahwa aku merasa bahwa lagu itu bagus dan indah. Sampai beberapa saat yang lalu ketika tidak merayakan ekaristi dan ikut misa live streaming, aku merasakan lagu itu sungguh membantuku untuk menghayati menerima komuni secara rohani.
 
Hal yang paling kuat muncul dalam perasaan ku saat mendengarkan lagu itu, aku dituntun untuk mengalami betapa aku tidak pantas untuk menyambutNya. Rasa ketidak pantasan itu menumbuhkan kerinduan besar agar aku boleh menyambutNya. Dalam pengalaman ketidak pantasan dan kerinduan yang besar mohon agar sekurang-kurangnya Tuhan hadir secara rohani dalam hatiku.
 
Setiap kali aku berdoa mengutip kata-kata perwira,  dalam Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “Tuhan, aku tidak pantas Tuhan datang kepadaku, tetapi bersabdalah saja maka aku akan sembuh.” Namun setiap kali pula aku hanya sampai pada mulutku tidak sampai sungguh-sungguh mengalami ketidak pantasan.
 
Syukur pada Allah aku diingatkan untuk semakin menghayati menyambut Tubuh Tuhan dengan rasa justru saat aku mengalami misa live streaming dan mendengarkan lagu “komuni batin”
 
Aku menjadi sadar betul, komuni batin selama ini yang diiringi dengan lagu doa “komuni spritiual” mendorong umat untuk semakin meneguhkan imannya akan Tubuh Kristus. Semakin merasakan ketidak pantasan, semakin rindu akan Tuhan, semakin meneguhkan iman akan kehadiran Tuhan dalam Tubuh Kristus.
 
“Datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku. Karena Engkau hadir di sini, aku memelukMu, dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepadaMu. Jangan biarkan aku terpisah dari padaMU.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 26 Juni 2020

Bacaan I : 2Raj. 25: 1-12
Injil    : Mat. 8: 1-4

R a p u h

Ada seorang anak muda, perilaku dan tutur katanya santun . Dia melamar kerja di perusahaan seorang teman. Perusahaan teman saya sebenarnya tidak membutuhkan karyawan, tetapi karena melihat perilaku anak muda itu, maka ia ditawari untuk bantu-bantu di rumahnya. Anak muda itu mau.
 
Dugaan teman saya tidak salah; anak muda itu santun, rajin dan jujur. Selama bekerja di rumah teman saya, ia diminta melanjutkan sekolah paket, hingga menamatkan setingkat SMA. Kemudian diminta kuliah dan ternyata anak muda ini bukan hanya santun, jujur dan rajin akan tetapi juga cukup cerdas. Singkat cerita ia bisa menyelesaikan sarjana ekonomi.
 
Setelah ia menyelesaikan tingkat sarjana, dia diangkat menjadi staf di perusahaan. Di perusahaan dia juga menunjukkan kinerja yang luar biasa. Hingga akhirnya diangkat menjadi pimpinan di sebuah perusahaan yang baru didirikan oleh teman saya. Dalam bekerja dia selalu didampingi oleh teman saya, dan anak itu rendah hati sehingga selalu bertanya dan bertanya.
 
Memasuki tahun ketiga sebagai pimpinan perusahaan, dia sudah hidup layak, punya rumah dan mendapat fasilitas mobil. Namun entah mengapa dia tidak disukai oleh semua karyawan. Ternyata dia sekarang menjadi anak muda yang angkuh, dan semena-mena dengan karyawan. Karena merasa menjadi orang kepercayaan si empunya perusahaan, dia dengan mudah memberhentikan karyawan yang tidak dia sukai walaupun karyawan itu baik. Bahkan di antara karyawan dia sering mengatakan bahwa si empunya perusahaan tidak akan memecat dia, karena perusahaan ini tidak akan jalan tanpa dirinya.
 
Akhirnya teman saya tahu persis bahwa anak muda yang baik ini telah berubah. Ketika ditegur dia berani menantang  teman saya dengan mengatakan: “Pecat saja saya, saya gak akan minta pesangon apapun. Banyak perusahaan yang akan menerima saya.” Teman saya memutuskan untuk memberhentikan dia.
 
Enam bulan kemudian dia datang lagi ke teman saya, mohon maaf dan minta untuk diterima lagi. Ternyata setelah keluar dari perusahaan teman saya, dia sudah tiga kali diberhentikan dari perusahaan tempat dia bekerja, karena kinerja dan sikap yang tidak baik. Dia menjadi pengangguran sekarang. Teman saya tidak bisa menerima dia lagi.
 
Mendengar cerita teman saya, membantu saya untuk memahami pesan Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius yang kita dengar hari ini. (maaf, ini tafsir jauh). Orang yang sakit kusta itu mohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.” Si kusta amat tergantung dengan kemurahan hati Tuhan, dirinya hanya bisa memohon. Kalau Tuhan mau dia akan sembuh kalau tidak dia tetap akan menjadi penderita kusta.
 
Hubunganku dengan Tuhan sering kali seperti anak muda itu. Aku sering merasa hebat, aku sering merasa mampu dan seolah-olah semua bisa karena diriku sendiri tanpa Tuhan. Aku lupa betapa aku amat rapuh. Dalam seluruh hidupku hanya bergantung pada belas kasih Tuhan. Dalam banyak hal, aku seperti penderita kusta itu yang hanya bisa memohon, tidak punya daya apapun tanpa belas kasihNya.
 
Aku tidak bisa membayangkan seandainya Tuhan mengatakan padaku: “Aku tidak mau.” Bukankah aku tidak bisa apa-apa? Aku bertanya pada diriku sendiri:
“ Untuk apa aku menyombongkan diri padahal kenyataannya aku sungguh amat tergantung pada belas kasihNya? Adakah aku bisa menyombongkan diri ketika tidak ada belas kasih Allah?”
 
Persoalan besar dalam hidupku adalah aku sering lupa bahwa segala yang ada padaku hanya karena belas kasihNya. Ia yang selalu mengatakan: “Aku mau.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 25 Juni 2020

Bacaan I : 2Raj. 24: 8-17
Injil    : Mat. 7: 21-29

T e k u n

Pada waktu saya menjalani TOK (Tahun Orintasi Kerasulan) di Timor-Timur (Timor Leste), saya ikut seorang teman yang berprofesi sebagai pemborong ke Baucau. Di sana ia akan membangun Biara Suster. Lokasi di mana akan didirikan biara itu lapisan  tanahnya tipis sedang di bawahnya adalah karang.
 
Menurut teman pemborong, untuk membuat pondasi di karang membutuhkan kerja keras yang luar biasa. Menggali dengan ukuran untuk membuat pondasi butuh berhari-hari. Sering kali terjadi sudah bekerja seharian tidak kelihatan hasilnya.  Bekerja dari hari ke hari, kemajuan yang dirasakan sering tidak dirasakan sebagai sesuatu yang berarti.
 
Setelah penggalian selesai harus dilakukan pembakaran, karena kalau tidak dibakar maka karang itu masih bisa tumbuh ke atas sehingga akan merusak pondasi dan seluruh bangunan.
 
Selain kesulitan dalam menggali, kesulitan yang harus dihadapi adalah cuaca panas yang menyengat. Tempat di mana banyak karang adalah tempat yang panas luar biasa. Dengan demikian untuk membuat fondasi rumah di karang butuh kerja keras yang luar biasa dan waktu yang cukup lama.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menganalogikan orang yang mendengarkan SabdaNya dan melakukannya, dengan orang membangun rumah di atas karang.  Bertolak dari pengalaman di atas untuk bisa melaksanakan perintahnya membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang luar biasa.
 
Persoalannya adalah apakah aku mau untuk bekerja keras dan punya ketekunan yang luar biasa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 24 Juni 2020

Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Bacaan I  : Yes. 49: 1-6
Bacaan II : Kis. 13: 22-26
Injil     : Luk. 1: 57-66.80

Panggilan

Beberapa waktu lalu beredar berita tentang suster dari suatu tarekat  yang mengucapkan kaul pertama. Beritanya bukan berapa jumlah suster yang mengucapkan kaul tetapi tentang salah satu suster yang mengucapkan kaul. Diberitakan suster itu hebat dan luar biasa karena sudah bekerja mapan, lulusan sekolah di Perancis dan sekarang mengucapkan kaul.
 
Banyak orang mengamini berita itu dan banyak orang kemudian dibuat kagum dengan suster yang diberitakan itu.
 
Tanpa bermaksud mengecilkan kehebatan suster yang diberitakan dan tujuan mulia di balik penulisan berita itu; membaca berita itu, saya termenung dan bertanya dalam hati  bukankah ada 6 atau 7 suster yang mengucapkan kaul pada saat yang sama? Apakah enam atau tujuh yang lain tidak hebat? Apakah kalau perempuan dari desa putri seorang petani sederhana “hanya” lulusan SMA di kampung sana kemudian mengucapkan kaul jadi hal yang lumrah sehingga tidak hebat?
 
Pertanyaan yang masih tertinggal dalam diriku: “Apa sih hebatnya?” Mencoba mencari jawab atas pertanyaan ini, saya teringat apa yang dikatakan Pater Markus Wanandi SJ, saat memberi pesan ketika saya memutuskan untuk masuk seminari lagi. Beliau mengatakan: “Wan, you jangan merasa lebih hebat kalau menjadi imam, dibanding hidupmu sekarang ini sebagai awam. Artinya apakah you tetap sebagai awam atau nanti menjadi imam itu sama hebatnya.
 
Kehebatannya bukan sebagai apa you hidup, tetapi terletak pada, pertama, kemampuan mendengaran panggilan itu, jujur dengan panggilan itu dan menghidupi panggilan itu sepenuh hati. Jangan pernah setengah-setengah. Oleh karena itu yang kedua adalah kerelaan untuk memperjuangkan panggilan itu. You tahu apa yang you tinggalkan dengan pilihan ini maka perjuangkan itu semaksimal mungkin jangan pernah menyerah.
 
Yang terakhir yang paling penting, panggilan you yang sesungguhnya adalah untuk menjadi bukan siapa-siapa, agar Dia, yang memanggil you menjadi luar biasa karena you. Jadi kalau you menjadi hebat dan luar biasa dan menikmati itu berarti you gagal dalam panggilan.”
 
Dari pesan Pater Markus, saya sadar kehebatan orang yang dipanggil adalah keberanian berjuang untuk menjadi hebat dalam hidup panggilannya dan pada saat yang sama berani berjuang untuk semakin menjadi bukan siapa-siapa.
 
St. Yohanes Pembabtis yang kita rayakan hari ini menjadi teladan luar biasa bagi orang yang dipanggil. Dia yang hebat, yang punya banyak murid, yang terkenal dalam hidupnya memperjuangkan apa yang dikatakan kepada para muridnya: “ Dia harus menjadi semakin besar dan aku harus menjadi semakin kecil.”
 
Godaan terbesar dalam menghidupi panggilan, terutama aku sebagai imam adalah berjuang  dan berjuang untuk menjadi hebat dan terkenal dan menikmati keuntungan darinya; lupa berjuang untuk semakin menjadi bukan siapa-siapa.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.