Renungan Harian: 27 September 2021

Renungan Harian
Senin, 27 September 2021
PW. St. Vincentius a Paulo

Bacaan I: Za. 8: 1-8
Injil: Luk. 9: 46-50

Manajer

Beberapa waktu yang lalu di sebuah paroki ada pengantin yang akan memancarkan perayaaan ekaristi saling menerimakan sakramen perkawinan melalui live streaming. Hal itu dilakukan mengingat situasi pandemi covid 19 masih belum aman, sehingga jumlah umat yang boleh hadir di gereja amat terbatas.

Sebagaimana biasa di paroki, permintaan live streaming selalu dilayani oleh petugas yang dengan sukarela melayani. Mengingat koor akan diiringi dengan live music maka petugas meminta agar ada cek suara apakah dengan sarana yang ada di gereja memadai untuk kepentingan pengantin tersebut, seandainya tidak memadai akan dibantu mencarikan jalan keluar.
 
Melalui keluarga pengantin disepakati bahwa pada malam hari itu akan ada cek suara dan melihat sarana yang tersedia di gereja. Para petugas gereja yang siap melayani sudah hadir, pengantin sudah hadir tetapi dari kelompok koor yang akan diwakili manajernya tidak datang. Manajernya mengatakan tidak bisa datang karena hujan, dan sakit. Dia mengatakan membutuhkan 10 mic, nanti kalau ada masalah supaya minta telpon dirinya. Saat diajak bicara melalui telpon dan diberitahukan bahwa di gereja hanya tersedia 4 mic, dengan ringan mengatakan bahwa itu aja cukup dan minta petugas datang aja lagi besok waktu nya akan dia tentukan.
 
Pastornya tidak enak karena para petugas ini adalah petugas sukarela dan orang-orang yang punya kesibukan. Maka pastornya menelpon manajernya dan menjelaskan apa yang diharapkan oleh para petugas. Para petugas berharap dapat melayani pengantin dengan baik karena ini peristiwa sekali seumur hidup. Ketika dijelaskan manajer tetap mengatakan:
“saya tidak bisa datang karena kehujanan, petugasnya suruh datang lagi.”
Dan dia juga mengatakan bahwa sudah bicara dengan keluarga pengantin kalau ada masalah supaya menghubungi dia.

Pastor itu mengatakan kepada manajer bahwa para petugas itu bukan karyawan gereja, mereka adalah orang yang sukarela melayani dan lagi mereka itu adalah para pemilik perusahaan dan pimpinan perusahaan jadi tidak bisa seenaknya seperti maunya manajer.
 
Peristiwa di atas menunjukkan betapa sering orang menganggap dirinya orang penting dan entah sadar atau tidak meremehkan orang lain. Godaan terbesar manusia adalah ingin dihargai, ingin menjadi yang terhormat sehingga mudah untuk meremehkan orang lain. Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan pentingnya menghargai orang lain, bahwa dengan ekstrem Yesus mengatakan dia yang bisa menghargai orang yang tidak penting dialah yang terbersar. “Siapa yang terkecil diantara kalian, dialah yang terbesar.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mudah untuk menghargai dan menghormati orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 September 2021

Renungan Harian
Minggu, 26 September 2021
Hari Minggu Biasa XXVI

Bacaan I: Bil. 11: 25-29
Bacaan II: Yak. 5: 1-6
Injil: Mrk. 9: 38-43. 45. 47-48

Pindah

“Saya sudah lama pindah dari kota dan tinggal di desa ini, kurang lebih sudah 15 tahun. Saya bersyukur atas apa yang kami alami selama tinggal di desa ini, meski awalnya tidak mudah. Saya memutuskan pindah ke desa ini saat anak saya yang paling besar lulus SD. Sebenarnya tidak terlintas dalam pikiran saya untuk pindah ke desa. Aku merasa sudah hidup mapan, karir di perusahaan tempat saya bekerja juga baik maka saya berpikir saya akan menghabiskan hidup saya di kota ini.
 
Pikiran pindah dari kota mulai muncul saat aku ribut dengan istri gara-gara anak saya minta dibelikan sepeda motor. Aku sama sekali tidak setuju karena anak kami belum saatnya untuk mengendarai sepeda motor. Bagi saya dengan membelikan sepeda motor berarti saya akan mencelakakan anak kami. Istri saya, tidak terima dengan alasan saya, dan menganggap saya tidak sayang dengan anak. Istri saya beralasan hampir semua tetangga dan teman-teman anak saya sudah bisa mengendarai sepeda motor dan punya sepeda motor. Tetapi saya tetap pada pendirian saya dan hal itu menjadikan sumber keributan setiap hari.
 
Suatu saat ketika saya pulang kerja, saya melihat anak saya yang baru mau mulai masuk SMP terlihat kumpul dengan teman-temannya. Saya terkejut karena melihat anak saya sedang merokok dan terlihat ada botol minuman keras. Sampai rumah saya bicara dengan istri saya tentang apa yang saya lihat, tetapi istri saya tidak percaya. Kami menunggu anak kami pulang dan saat sampai di rumah tercium aroma rokok dan minuman keras. Istri saya amat terkejut karena tidak menyangka anak yang di rumah tampak baik-baik ternyata saat kumpul dengan teman-temannya melakukan yang sebaliknya.
 
Dengan pertimbangan masa depan anak-anak kami menjadi lebih penting, dan tampaknya kami akan kesulitan mendidik anak-anak kami di kota besar dengan segala godaannya, maka kami memutuskan untuk pindah ke desa ini. Pergulatan yang amat berat bagi keluarga kami untuk memutuskan pindah ke desa ini dan memulai hidup yang baru. Satu pihak istri saya tidak setuju, tetapi melihat ke depan, dia khawatir untuk tinggal di desa. Anak kami terutama yang besar protes keras, tetapi kami menegaskan bahwa ini pilihan yang terbaik untuk keluarga kita.
 
Dan setelah 15 tahun kami tinggal di desa kami mengalami pertumbuhan, keluarga kami menjadi baik, anak-anak kami telah sukses dengan pilihan hidup mereka. Mereka telah mendapatkan bekal pendidikan yang baik untuk masa depan mereka. Tidak terbayangkan andai kami tidak pernah pindah ke desa ini,” Seorang bapak menceritakan pengalamannya.
 
Keputusan keluarga untuk pindah adalah keputusan yang berat dan luar biasa tantangannya. Sebuah pilihan yang luar biasa demi kebaikan dan keutuhan keluarga. Berani melepaskan kemapanan dan kenyamanannya untuk kehidupan keluarga yang lebih baik. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengajarkan untuk menjadi muridNya harus berani melepaskan hal-hal yang merintangi untuk dekat denganNya. “Dan jika tangamu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam hidup daripada dengan utuh kedua belah tangan dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku berani melepaskan hal-hal yang merintangi aku dekat dengan Tuhan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 September 2021

Renungan Harian
Sabtu, 25 September 2021

Bacaan I: Za. 2: 1-5. 10-11a
Injil: Luk. 9: 43b-45

Salah Mengerti

Suatu siang, saat akan makan siang kami agak bingung dengan makanan yang tersedia di meja makan saat itu. Awalnya dengan melihat apa yang tersaji, kami mengira bahwa menu makan siang hari itu adalah gado-gado. Kami melihat ada sambal gado-gado dan emping yang menjadi lauk untuk gado-gado. Tetapi kami bingung kenapa tidak ada sayuran sebagaimana menu gado-gado; yang tersedia justru ada daging cincang dan tahu cincang. Saya sempat bertanya:
“Lho ini namanya masakan apa dan bagaimana cara memakannya.”

Rekan imam menjawab seharusnya daging cincang dan tahu cincang ini untuk bakmoy, tetapi kenapa tidak ada kuah dan yang tersedia adalah sambal gado-gado.
 
Setelah kami membuka semua tempat sayur, kami semakin terkejut karena ada satu tempat sayur isinya menurut saya sop sayuran. Tempat sayur itu berisi kol, buncis, wortel, kentang dan kuah. Tidak lama kemudian kami baru sadar, bahwa menu sesungguhnya adalah gado-gado dan bakmoy; namun karena karyawan tidak tahu bagaimana menyajikannya maka yang terjadi adalah sayuran untuk gado-gado dimasukkan ke dalam kuah yang seharusnya untuk bakmoy. Kami menjadi tertawa terbahak ketika sadar bahwa bakmoy diberi sambal gado-gado dan sayuran gado-gado dimasukkan ke dalam kuah bakmoy.
 
Ketidaktahuan karyawan yang menyajikan dan dia juga tidak berusaha mencari tahu dengan bertanya maka terjadilah kesalahan itu. Saat ditanya jawabnya sederhana:
“maaf saya pikir seharusnya begitu.”

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, para murid tidak mengerti tentang sabda Yesus karena mereka punya pandangan dan pemikiran sendiri serta takut untuk bertanya. Akibatnya mereka tidak mengerti bahkan ketika hal itu terjadi. “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani bertanya dalam ketidak mengertianku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 September 2021

Renungan Harian
Jumat, 24 September 2021

Bacaan I: Hag. 2: 1b-10
Injil: Luk. 9: 19-22

Mendarat

“Aku sejujurnya amat terkejut saat anakku sepulang dari liburan ke luar negeri mengatakan bahwa dia bersama keluarganya akan pindah ke kota tempat dia liburan. Bagi dia, kota itu menyenangkan, amat menantang hidup dan sudah menjadi kota yang teratur dan baik. Dia merasa sudah tidak nyaman tinggal di sini. Perasaan yang muncul pertama kali saat dia mengatakan itu, aku merasa sedih dan sedikit kecewa; karena dengan dia tinggal di luar negeri berarti jauh dari kami dan saya juga harus berpisah dengan anak dan cucu. Suamiku pun amat tidak setuju dengan keputusannya. Namun, aku menyadari bahwa anakku punya hak atas hidup dan masa depannya sendiri. Istilahku dia memang punya hak untuk “terbang tinggi”. Maka aku dan suami memutuskan untuk menyetujui serta mencoba mendengarkan dan mengerti rencana hidupnya.
 
Anakku mengatakan bahwa dia akan menjual rumah, bisnis dan aset-asetnya untuk modal memulai hidup di luar negeri. Dengan hasil penjualan semua itu, menurutnya akan cukup untuk memulai hidup di luar negeri, di kota yang diimpikan. Kami, saya dan suami mengatakan “iya” dan silahkan untuk dipikirkan. Namun demikian saya mengajak anak saya untuk berpikir lebih luas dan dalam.
 
Pertama, selama ini dia di kota itu hanya sebagai turis, sehingga bisa menikmati kota dengan segala fasilitas dan kenyamanannya. Dia tidak harus bekerja tidak harus memikirkan bagaimana harus menghasilkan uang untuk hidup.

Kedua saya meminta dia untuk menghitung dengan jelas, berapa kebutuhan sebulan untuk hidup dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup tersebut.

Ketiga, saya meminta agar dia memikirkan bagaimana dia dan istri mengurus rumah tangganya. Selama ini mereka berdua mengasuh anak sering mengalami kerepotan dan sering kelelahan, itupun soal urusan kebersihan rumah dan lain-lain ada asisten rumah tangga.
Dan lagi selama ini dia kerja dari rumah, mengendalikan bisnisnya dari rumah. Bagaimana nanti di luar negeri  bisa mengatur semua itu.

Keempat yang tidak kalah penting bagaimana dia bisa mendapatkan izin tinggal dan izin berusaha di negara itu yang terkenal tidak mudah untuk memberikan izin. Dan yang terakhir, pikirkan baik-baik, kalau di sana gagal, dan kembali ke sini, dia sudah tidak punya apa-apa lagi dan harus mulai dari nol.
 
Suami saya agak tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan karena dianggap mematahkan semangat anak kami dan semua itu membuat ribet. Namun bagi saya itu penting untuk dipikirkan agar anak kami “mendarat” tidak hanya bermimpi di awang-awang. Saya mengajak anak saya untuk melihat realitas yang akan dihadapi menimbang dengan teliti agar tidak salah langkah dan menyesal di kemudian hari,” seorang ibu berkisah tentang anaknya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, saat Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Kristus (mesias)  dari Allah, Yesus memberitahukan bahwa Anak Manusia (DiriNya) harus menderita, dibunuh dan dibangkitkan. Yesus menegaskan bahwa diriNya bukan Mesias yang dibayangkan oleh para murid, tetapi adalah Mesias yang adalah Anak Manusia yang menderita. Semua itu disampaikan agar para murid tidak tergoncang dan menjadi kecewa bila saat itu tiba.
 
Bagaimana dengan Aku? Adakah aku mempunyai pengenalan yang benar akan Yesus?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 September 2021

Renungan Harian
Kamis, 23 September 2021
PW. St. Padre Pio

Bacaan I: Hag. 1: 1-8
Injil: Luk. 9: 7-9

L a r i

Suatu pagi, sepasang suami istri datang untuk meminta saya mendoakan putrinya. Menurut cerita bapak dan ibu itu, putrinya mendapatkan gangguan “setan”. Putrinya setiap kali mendengar suara kucing selalu histeris teriak-teriak dan melakukan gerakan seperti mengusir kucing yang datang; bahkan sering kali menutup mukanya dengan bantal. Sebetulnya dia tidak takut dengan kucing, tetapi yang menakutkan bagi dia adalah ketika kucing itu mulai mengeong. Saya mengatakan bahwa saya tidak punya kemampuan untuk melihat “setan” dan juga tidak punya kemampuan untuk menjadi pengusir setan. Namun saya menjanjikan akan datang ke rumah keluarga itu untuk mendoakan putrinya.
 
Pada hari yang telah kami sepakati, saya datang ke rumah keluarga itu. Saat saya bertemu dengan putrinya, saya tidak melihat suatu keanehan apapun dari putrinya. Dia ngobrol dengan kami biasa, bisa menceritakan tentang kuliahnya dengan baik. Dalam pandangan saya, tidak ada sesuatu yang menunjukkan keanehan dari perilakunya. Sebelum berdoa bersama saya meminta waktu untuk bicara berdua dengan putri itu.
 
Kami berdua ngobrol rileks. Saya bertanya apa yang mengganggunya, bentuknya seperti apa dan semacamnya. Saya juga bertanya sejak kapan takut dengan kucing, suara kucing seperti apa dan seterusnya. Dalam pembicaraan itu saya menangkap bahwa putri itu takut dengan suara kucing yang dalam bayangan atau imajinasinya adalah suara bayi yang menangis. Saya mencoba menelusuri mengapa takut dengan suara bayi yang menangis.
 
Dalam pembicaraan yang panjang, putri itu bercerita bahwa sesungguhnya yang muncul dalam bayangan dia adalah bayi menangis itu seolah-olah meminta dikasihani dan minta digendong. Dia menolak hal itu sehingga merasa dikejar dan menjadikan dia histeris. Dalam pembicaraan yang mulai cair putri itu mengaku bahwa sesungguhnya dia pernah menggugurkan kandungan, buah hubungan dengan pacarnya. Peristiwa itu terjadi beberapa bulan yang lalu dan tidak ada anggota keluarganya yang tahu.
 
Apa yang terjadi dengan putri itu sebetulnya adalah dia dikejar-kejar rasa bersalah yang amat dalam. Dia mencoba lari dari rasa bersalahnya, mencoba melupakan rasa bersalahnya namun dia tidak mampu lari dan melupakan karena terpicu oleh suara kucing yang dalam bayangan dia seperti suara bayi.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Herodes ingin bertemu dengan Yesus bukan karena dia ingin bertemu dengan Yesus, tetapi lebih untuk menenangkan dirinya yang dikejar-kejar rasa bersalah. Kiranya jika bertemu dengan Yesus kalau Yesus masih menjadi pemicu munculnya rasa bersalah dengan kekuasaannya bisa menyingkirkan Yesus demi rasa aman dan nyaman sembunyi dari rasa bersalah. “Tetapi Herodes berkata: “ Yohanes kan telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku lebih senang melarikan diri dari persoalan-persoalan yang membayangiku atau aku berani memeluk dan menyelesaikannya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 September 2021

Renungan Harian
Rabu, 22 September 2021

Bacaan I: Ezr. 9: 5-9
Injil: Luk. 9: 1-6

Pesan Simbok

“Setiap anak pasti punya cita-cita yang tinggi, ingin jadi dokter, jadi tentara, jadi pilot dan semacamnya. Itulah yang dulu selalu aku dengar di sekolah kalau ditanya pak guru. Diantara teman-temanku, mungkin aku dianggap aneh, karena kalau ditanya apa cita-citaku, aku selalu menjawab bahwa aku ingin kerja. Aku sadar diri, siapa aku dan kemampuan orang tuaku.
 
Bapak dan simbokku hanyalah seorang buruh tani atau lebih tepatnya kerja serabutan. Di desaku yang tandus, yang mengandalkan tadah hujan itupun amat sedikit, maka menjadi buruh tani seperti orang tuaku tidak memberi banyak penghasilan, maka apapun yang mendatangkan rezeki pasi diambilnya. Itulah mengapa apa yang ada dalam benakku aku hanya ingin kerja biar bisa membantu orang tuaku.
 
Setelah lulus SMP aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolahku, meski pada waktu itu aku menjadi lulusan terbaik. Tidak ada biaya, itu alasannya. Aku tidak sedih pun tidak menyesal. Aku harus bekerja agar meringankan beban orang tua yang menanggung aku dan 3 orang adikku. Untung tidak lama aku lulus, ada tetanggaku yang menawari pekerjaan menjadi pembantu di kota. Kerjanya bebersih dan mengurus taman. Tanpa banyak pertimbangan aku menerima tawaran itu.
 
“ Le, (panggilan anak laki-laki), kalau kamu kerja ikut orang, kerja yang tekun, sungguh-sungguh. Kamu harus tahu diri, harus banyak ngalah, jangan sok-sokan , dan yang penting selalu berserah dan berpegang pada Tuhan,” pesan simbok saat aku berangkat. Pesan simbok itu selalu kupegang, dan tidak pernah aku lupakan. Apapun pekerjaan di rumah majikanku aku kerjakan dengan sungguh-sungguh; aku tidak pernah mengeluh semua kukerjakan dengan senang. Saat datang perasaan bosan, malas maka aku selalu teringat dengan pesan simbok.
 
Aku termasuk beruntung, karena majikanku baik dan perhatian. Aku disuruh kalau sore sekolah persamaan hingga aku lulus SMA. Setelah lulus SMA aku dikursuskan setir mobil, dan dijadikan sopir keluarga majikanku. Aku amat bersyukur menjadi sopir, karena bagiku itu sudah kenaikan pangkat luar biasa. Sekali lagi aku mendapat keberuntungan, karena aku diminta kuliah kelas karyawan sore hari. Aku jalani semua itu dengan senang hati. Pagi sampai sore aku jadi sopir, selepas itu aku kuliah sampai malam.
 
Saat kuliah aku ketemu banyak teman yang senasib, yang membuatku lebih bersemangat. Meski teman-teman senasibku kadang-kadang mengajak untuk nongkrong sekedar melepas penat, atau bahkan mengajak membolos, aku tidak pernah mau. Pesan simbok selalu terngiang meski dengan itu kadang membuat aku bergulat antara keinginan kumpul dengan teman-teman ( yang menurutku tidak ada salahnya) dan tetap berpegang pada pesan simbok.
 
Syukur pada Allah, setelah lulus kuliah aku diterima menjadi karyawan di perusahaan majikanku. Kalau aku melihat perjalanan hidupku, tidak ada kata lain selain aku bersyukur. Aku bisa membiayai adik-adikku sampai lulus kuliah juga dan bisa ikut mensejahterakan orang tuaku yang sebelumnya buruh tani dan serabutan sekarang mempunyai tanah sendiri dan ternak yang lumayan. Kalau aku ditanya apa yang menjadikanku seperti ini, maka dengan mantap aku menjawab semua itu karena pesan simbok. Kerja tekun, tahu diri, dan selalu berserah pada Allah, itulah pesan yang selalu kuingat dan kujalankan. Banyak godaan, banyak tantangan dan penderitaan, tetapi aku ikhlas menjalankan sehingga semua menjadi berkat,” seorang bapak berkisah tentang keberhasilan hidupnya.
 
Pesan simbok bapak itu telah menjadi kekuatan dan daya untuk melawan godaan dan mengatasi kelemahan-kelemahan bapak itu. Ada banyak kesulitan dan penderitaan yang dialami tetapi kepasrahan kepada Tuhan membuat dirinya ikhlas menjalani semua. Kiranya pengalaman bapak itu berpegang pada pesan simboknya seperti para murid yang berpegang pada nasihat Yesus, sebagaimana diwartakan dalam injil Lukas. Mendapat kekuatan untuk melawan godaan; mendapatkan daya untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pribadi dan selalu mengandalkan Allah. “Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang kuandalkan dalam peziarahan hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 September 2021

Renungan Harian
Selasa, 21 September 2021

Bacaan I: Ef. 4: 1-7. 11-13
Injil: Mat. 9: 9-13

I d o l a

Beberapa waktu yang lalu ada berita yang cukup heboh berkaitan adanya antrian panjang di gerai-gerai McDonald. Antrian panjang itu dikarenakan adanya penjualan makanan produk McDonald yang kemasannya ada simbol dan tulisan BTS. BTS adalah kelompok boyband terkenal asal Korea. Artinya antrian panjang itu bukan untuk mendapatkan makanan produk McDonald akan tetapi ingin mendapatkan kemasannya.

Sudah barang tentu siapa yang rela antri atau berjuang untuk membeli adalah mereka yang mengidolakan BTS. Beberapa waktu kemudian sebuah online shop juga diserbu pembeli karena menjual sticker BTS. Banyak orang rela berjuang agar mendapatkan sticker itu.
 
Peristiwa di atas menunjukkan betapa banyak orang yang mengidolakan boyband tersebut. Ada banyak alasan mengapa mengidolakan boyband itu. Ada yang tertarik oleh ketampanan parasnya; ada yang tertarik dengan lagu-lagunya, ada yang tertarik dengan tarian dan sebagainya. Dari sekian banyak orang yang mengidolakan boyband tersebut ada golongan pengidola fanatik, ada pula pengidola yang biasa-biasa saja atau sekedar ikut trend.
 
Pertanyaan yang muncul dalam diri saya melihat fenomena itu adalah: “Apa yang disentuh dalam diri para pengidola itu sehingga membuat mereka dengan fanatik mengidolakannya.” Pertanyaan ini muncul karena mereka yang mengidolakan orang atau kelompok tertentu, yang awalnya dari satu bagian berkembang menjadi pengidola fanatik yang rela mengubah penampilan diri dan perilakunya untuk menjadi semirip mungkin dengan idolanya. Untuk mendapatkan jawabnya butuh belajar banyak dari buku-buku hasil penelitian berkaitan  dengan hal itu.
 
Pertanyaan yang sama membawa pada permenungan tentang Matius. Sejauh diwartakan dalam injil Matius, Matius yang sedang bekerja sebagai pemungut cukai saat diajak Yesus untuk ikut segera ikut. Apa yang disentuh Yesus sehingga Matius mau segera ikut. Adakah sisi ruang kosong dalam diri Matius sehingga  mudah terpesona. Keterbukaan hati dan diri macam apa yang dimiliki Matius sehingga mudah digerakkan. Pertanyaan-pertanyaan itu masih dapat dilanjutkan. Pertanyaan pada diriku sendiri justru dengan nada negatif, ada apa dalam diriku sehingga aku tidak mudah disentuh, tidak mudah terpesona dan tidak mudah digerakkan oleh Yesus. Sementara aku menyatakan mengimani Dia.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 September 2021

Renungan Harian
Senin, 20 September 2021
PW. S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang Martir Korea

Bacaan I: Ezr. 1: 1-6
Injil: Luk. 8: 16-18

R e d u p

“Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi pada diriku. Rasanya aku seperti orang yang membawa cahaya besar dalam gelap, tetapi tidak ada satupun yang melihat cahayaku. Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk memancarkan sinar yang paling terang, tetapi kenapa tidak ada orang melihat terang itu. Rasanya aku telah melompat dari tempat gelap yang satu ke tempat gelap yang lain untuk memancarkan terangku, tetapi di tempat-tempat gelap itu tidak ada orang melihat terangku. Aku merasa di tempat-tempat itu aku tidak ditolak, bahkan aku merasa bahwa mereka membutuhkan cahayaku tetapi mengapa mereka tidak melihat terang itu. Aku tidak tahu, apakah mata mereka yang tertutup sesuatu sehingga tidak dapat melihat cahayaku, atau aku yang sudah tidak memancarkan sinar lagi.
 
Aku mempunyai daya luar biasa yang mampu memancarkan cahaya terang. Aku diasah dan didorong agar memancarkan sinar itu agar menjadi cahaya yang menerangi. Dengan kesadaran penuh dan kerelaan untuk berbagi cahaya, aku memancarkan sinarku. Pada masa itu semua orang senang dengan cahayaku yang menerangi mereka dan bahkan bukan hanya sekedar menjadi penerang, cahayaku mampu menghangatkan mereka. Pengalaman itu membuatku terdorong untuk terus memacarkan sinarku. Aku telah melompat dari tempat yang satu ke tempat yang lain, bahkan aku mulai yakin untuk melompat ke tempat-tempat yang lebih luas, sehingga sinarku semakin memberikan cahaya kepada banyak orang, bahkan aku diantara cahaya-cahaya yang lain, aku memberikan daya yang lebih besar. Untuk itu aku rela meninggalkan tempat-tempat kecil yang membutuhkan cahayaku agar dayaku terkonsentrasi untuk di tempat-tempat yang besar.
 
Namun kini orang tidak lagi melihat cahayaku meski aku sudah sekuat tenaga menguras dayaku. Di tempat-tempat yang kecil pun sekarang orang tidak lagi melihat cahayaku. Saat aku menawarkan cahayaku, orang justru mencari terang, karena mereka tidak merasakan cahayaku. Betapa sedih dan berontak diriku saat ada seseorang yang mengatakan bahwa aku sudah tidak memancarkan cahaya lagi. Aku menolak pernyataannya karena aku yakin bahwa aku masih memancarkan sinar yang menerangi dan menghangatkan. Orang lain lagi mengatakan agar aku diam, jangan memancarkan sinar dulu, membiarkan diriku menemukan dayaku lagi. Aku selalu berontak karena aku tidak kehilangan cahaya.
 
Kini aku terpukul, aku depresi; bagaimana mungkin aku yang mempunyai daya luar biasa untuk memancarkan cahaya yang bukan saja menerangi tetapi juga menghangatkan banyak orang, sekarang tidak ada sumber daya lagi. Jangan-jangan benar kata temanku, aku terpukau memancarkan cahaya sehingga tertutup pada daya yang baru dan segar. Ketertutupanku membuat dayaku yang luar biasa habis sementara tidak ada daya yang baru dan segar mengalir dalam diriku,” seorang bapak mensharingkan pengalamannya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, mengingatkan kita akan keterbukaan diri untuk selalu dibaharui. Satu pihak tidak menutup diri untuk memancarkan sinar tetapi di pihak lain tidak menutup diri untuk selalu menyerap daya baru dan segar. “Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar”.
 
Bagaimana dengan aku? Sejauh mana aku selalu terbuka untuk memperbaharui diri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 September 2021

Renungan Harian
Minggu, 19 September 2021
Hari Minggu Biasa XXV

Bacaan I: Keb. 2: 12. 17-20
Bacaan II: Yak. 3: 14-4: 3
Injil: Mrk. 9: 30-37

Gagal Paham

Dalam sebuah pertemuan dengan para karyawan gereja, sebagaimana biasa kami mengadakan evaluasi atas tugas masing-masing karyawan. Para karyawan akan melaporkan kesulitan, tantangan atau pun beberapa hal yang kurang berkaitan dengan sarana dan prasarana gereja.

Saat membicarakan keamanan, saya mengucapkan terima kasih kepada para karyawan keamanan, yang telah menjalankan tugas dengan baik dan selalu menyampaikan laporan tentang situasi keamanan gereja setiap kali kontrol keliling.
 
Saat laporan masing-masing petugas keamanan, salah satu karyawan keamanan melaporkan mempertanyakan kenapa salah satu gerbang (di depan gerbang itu ada beberapa penjual yang sering kali keluar masuk lewat gerbang untuk ambil air atau ke toilet) itu tidak dikunci. Menurut dia, gerbang itu seharusnya dikunci. Sebagai orang baru saya bertanya tentang kebiasaan selama ini bagaimana, dan seharusnya bagaimana. Menurut para karyawan keamanan itu gerbang itu dari pagi sampai sore saat para pedagang itu masih berjualan maka gerbang tidak digembok. Maka terjadilah perdebatan soal harus digembok atau tidak. Akhirnya saya mengambil keputusan gerbang itu tidak digembok untuk memberi kesempatan kepada pedagang bisa melalui gerbang itu untuk mengambil air atau ke toilet sehingga tidak harus memutar jauh. Karyawan keamanan yang mempersoalkan gerbang itu tetap tidak puas dan tetap berharap gerbang itu digembok.
 
Setelah pertemuan selesai, saya mencoba mencari tahu tentang persoalan itu. Ketika ditelusuri ternyata, awal mula gerbang itu tidak digembok karena permintaan dan keputusan karyawan keamanan yang mempersoalkan itu, karena salah satu penjual adalah saudaranya. Sekarang ini dia ngotot untuk digembok ternyata karena dia sakit hati dengan saudaranya itu. Mengetahui hal itu spontan saya jengkel karena kami telah menghabiskan energi untuk berdebat (dengan menahan emosi), dan mencoba mencari tahu tentang berbagai keuntungan dan kerugian soal gerbang digembok atau tidak demi keamanan, ternyata sumbernya adalah kepentingan pribadi dia untuk membalas sakit hati.
 
Dalam peristiwa sehari-hari hal seperti itu sering terjadi. Hal pokoknya tidak dipahami karena hanya berkutat dengan pikiran sendiri atau kepentingan sendiri. Sebagaimana yang dialami para murid Yesus yang gagal paham dengan pewartaanNya sejauh diwartakan dalam Injil Markus. Yesus menyampaikan pewartaan tentang penderitaan dan kebangkitan tetapi para murid justru berdebat tentang siapa yang terbesar diantara mereka.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah kelekatan-kelekatan dalam diriku yang sering kali membuat saya gagal memilih mana yang utama dan mana yang kemudian?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 September 2021

Renungan Harian
18 September 2021

Bacaan I: 1Tim. 6: 13-16
Injil: Luk. 8: 4-15

Belajar Mendengarkan

Beberapa hari ini di media sosial ramai soal berita tentang adanya santri yang menutup telinga saat mendengar lagu “profan” (lagu duniawi, pop, dangdut dan semacamnya). Banyak komentar berkaitan dengan sikap santri tersebut, ada yang mendukung, ada pula yang menolak. Beberapa yang menolak berpendapat bahwa apa yang dilakukan santri itu tidak semestinya bahkan ada yang menganggap mereka adalah kelompok radikal.

Sementara yang mendukung berpendapat bahwa itu soal pilihan pribadi dan atau adanya keinginan luhur yang dihayatinya.
 
Seorang teman, Indro Suprobo yang banyak bergelut dengan dunia santri (biasa saya panggil Kang Indro) memberi penjelasan bagaimana memahami sikap santri tersebut agar tidak mudah memberikan label radikal. Dia menjelaskan bahwa ada kelompok santri penghafal alquran yang menghindari mendengarkan musik-musik profan agar tidak terganggu konsentrasinya. Mereka fokus untuk menghafal alquran sehingga menghindari hal-hal yang mengganggunya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa ada musik-musik tertentu misalnya musik klasik yang mereka dengarkan karena membantu konsentrasi untuk menghafal. Intinya mereka akan memilih hal-hal yang membantu untuk menghayati pilihan hidup mereka dan meninggalkan hal-hal yang mengganggu. Pada sisi ini mereka bisa disebut radikal tetapi dalam arti positif.
 
Pada masa sekarang ini menggejala diantara sebagian besar orang muda yang hampir semua kegiatannya dibarengi dengan mendengarkan lagu. Sebuah pemandangan biasa melihat orang yang telinganya terselip earphone sebagai sarana untuk mendengarkan lagu. Dari obrolan dengan rekan-rekan muda, terungkap mengapa mereka selalu mendengarkan lagu dalam hampir semua aktivitas mereka karena untuk membunuh sepi. Entah mereka takut dengan sepi atau tidak mau mengalami kesepian. Dengan demikian mereka telah memilih hidupnya ramai, meriah penuh dengan music. Tentu perlu didalami apakah dengan mendengarkan musik ini sebagai pilihan demi kualitas hidup lebih baik atau hanya sekedar ketakutan atau ketidak senangan dengan sepi.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, mengajak untuk merefleksikan tentang kemampuan mendengarkan. Sebenarnya lebih tepat refleksi tentang diskresi (kemampuan menimbang dan memilih) apa yang didengarkan. Sejauh mana aku mampu berdiskresi untuk memilih mendengarkan diriku, suara hatiku dan dorongan-dorongan roh baik sehingga membawaku semakin dekat dengan Tuhan. “Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah mendengar”.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.