Renungan Harian: 18 Mei 2022

Renungan Harian
Rabu, 18 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 15: 1-6
Injil: Yoh. 15: 1-8

Keropos

Di halaman gereja tempat saya menjalani perutusan ada pohon buah yang cukup besar dan sudah tua. Menurut cerita umat yang sudah lama paroki ini dan tahu tentang pohon buah itu, pohon itu pada masanya berbuat lebat dan buahnya amat lezat. Namun saat saya bertugas pohon itu tidak pernah menghasilkan buah. Pohon itu tinggi, besar dan rindang sehingga meski tidak memberikan buah tetap dipertahankan karena sebagai peneduh.
 
Atas saran beberapa orang yang ahli tentang tanaman buah, maka pohon itu disemprot dengan pupuk dan diberi pupuk di tanah sekitar pohon itu. Dan benar, setelah beberapa bulan pohon itu berbuah dan buahnya cukup banyak. Untuk pertama kalinya saya melihat pohon itu berbuah. Beberapa umat yang mengenal pohon itu juga senang bahwa pohon itu berbuah lebat seperti pada masa lalu.
 
Namun demikian ada keanehan pada pohon buah itu. Ada satu dahan yang sama sekali tidak ada buahnya sama sekali padahal kalau melihat daunnya yang rindang maka kelihatan bahwa dahan itu mendapatkan nutrisi yang sama. Hampir semua yang melihat pohon itu heran dengan salah satu dahan besar yang tidak menghasilkan buah.
 
Seorang teman mengusulkan agar dahan itu  dibor untuk disuntik nutrisi agar pada saatnya menghasilkan buah. Pada saat kami mengebor kami terkejut karena bagian yang kami bor ternyata dalamnya berongga. Kami mencoba bergeser agar mendapatkan bagian dari dahan itu yang tidak berongga. Namun hasilnya sama, kami mendapatkan bagian yang berongga. Kami menduga bahwa ada bagian dahan itu yang berongga sehingga kami mencoba memotong salah satu ranti untuk melihat keadaan dahan itu. Ternyata dahan itu berongga sehingga kami memutuskan untuk memotong dahan itu. Saat kami memotong kami melihat bahwa dahan itu sudah keropos di dalamnya; itulah mengapa menjadi berongga.
 
Kami menjadi mengerti mengapa dahan itu tidak menghasilkan buah sebagaimana dahan-dahan yang lain. Meskipun berdaun lebat nampak baik dan subur ternyata dalamnya keropos dan tidak menghasilkan buah. Meskipun nampaknya masih menempel pada batang pohon tetapi tidak mendapatkan nutrisi yang seharusnya.
 
Dahan yang keropos menjadi gambaran banyak orang yang terlihat luar biasa tetapi sesungguhnya tidak memberikan buah karena dalamnya keropos. Penampilan luar biasa tetapi sesungguhnya tidak ada sesuatu yang ditawarkan olehnya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Mei 2022

Renungan Harian
Minggu, 15 Mei 2022
Hari Minggu Paskah V

Bacaan I: Kis. 14: 21b-27
Bacaan II: Why. 21: 1-5a
Injil: Yoh. 13: 31-33a. 34-35

Pengganggu

Beberapa tahun yang lalu seorang teman bercerita tentang situasi perusahaannya. Dia merasa bahwa  suasana kerja di perusahaannya semakin hari semakin tidak nyaman. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya tetapi juga oleh semua karyawannya.

Dia sendiri bingung dengan suasana yang terjadi di perusahaannya. Dia mengatakan bahwa awalnya suasana kerja di perusahaannya amat menyenangkan, semua merasa menjadi saudara satu sama lain. Suasana kerja saling membantu amat terasa dan semua dengan rela dan bahagia membantu bagian lain. Tidak ada satu karyawan pun yang merasa bahwa pekerjaanku adalah pekerjaanku dan pekerjaanmu adalah pekerjaanmu. Apa yang terjadi sekarang sungguh-sungguh berubah. Semua karyawan seolah-olah bersaing satu sama lain. Mereka hanya berpikir tentang pekerjaannya sendiri, sehingga ketika diminta bantuan mereka bisa marah. Bahkan tidak jarang mereka saling menjatuhkan.
 
Teman saya sudah berusaha dengan berbagai cara untuk membangun suasana agar kembali seperti pada awal dulu. Beberapa kali dia mengundang trainer dan motivator untuk membantu, namun tidak membuahkan hasil. Bahkan pada saat training pun kelihatan bahwa mereka sulit untuk disatukan. Hal itu membuat teman saya sedikit frustasi. Dia sempat berpikir untuk mengganti semua karyawan sehingga ada suasana baru dan membangun budaya baru.
 
Sampai suatu ketika teman saya bertemu dengan seorang imam yang mempunyai kemampuan untuk “melihat”. Imam itu mengatakan bahwa ada seorang karyawan yang menjadi sumber “kekacauan” dalam perusahaannya. Karyawan itu diduga  bekerjasama dengan kuasa-kuasa gelap untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Tanpa disadari bahwa hal itu akan menghancurkan dirinya dan perusahaan tempat dia bekerja. Teman saya bingung, satu sisi dia percaya dengan apa yang dikatakan imam itu namun sulit untuk membuktikan.
 
Suatu ketika teman saya mengadakan acara mengundang imam itu. Entah kebetulan atau bagaimana karyawan yang dimaksud minta ijin ada acara keluarga. Dan apa yang terjadi dalam acara itu, semua karyawan bisa menikmati acara dan beberapa game kerjasama yang dibuat oleh imam itu dapat berjalan dengan baik. Semua karyawan dapat bekerja sama dengan baik; mereka saling membantu; saling mendukung; hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
 
Teman saya tetap sulit untuk membuat keputusan mengeluarkan karyawan yang diduga bekerja sama dengan kuasa gelap itu karena tidak ada alasan obyektif. Namun tidak berapa lama karyawan itu mengundurkan diri. Percaya atau tidak sejak karyawan itu mengundurkan diri suasana perusahaan berubah total. Suasana yang diharapkan oleh teman saya sekarang terjadi di perusahaannya. Dan suasana itu terjadi begitu saja begitu karyawan itu mengundurkan diri.
 
Saya tidak mengerti dunia semacam itu, namun saya percaya bahwa roh jahat bisa menggunakan manusia untuk menunjukkan kuasa gelapnya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Yudas yang sudah dikuasai roh jahat pergi untuk menjalankan rencananya tanpa mempedulikan guru dan teman-temannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Mei 2022

Renungan Harian
Sabtu 14 Mei 2022
Pesta St. Matias, Rasul

Bacaan I: Kis. 1: 15-17. 20-26
Injil: Yoh.15: 9-17

Pak Guru

Beberapa tahun yang lalu ketika saya dalam perjalan tugas ke pedalaman di luar Jawa, saya bertemu dengan seorang mantan frater adik kelas saya. Saya terkejut bahwa bertemu dengan dia di tempat yang amat jauh. Dia pun terkejut bertemu dengan saya; dia tidak menduga bahwa bertemu dengan saya.
 
“Mas, kok bisa tersesat di tempat ini?” tanya saya sambil bercanda. Meskipun dia adik kelas saya di seminari tetapi umurnya lebih tua.

“Melarikan diri mo,” jawabnya sambil tertawa.

“Wah hebat, berani sampai di tempat ini,” kata saya.

“Ah biasa saja mo, tidak ada yang istimewa,” jawabnya.

Pembicaraan kami tidak bisa lebih lama, karena acara harus segera mulai.
 
Ketika berlangsung acara, saya tahu apa yang menjadi pekerjaan dan karya teman saya itu. Dia seorang guru dan seorang tokoh dan penggerak masyarakat. Dari cerita romo dan beberapa tokoh mengatakan bahwa teman saya telah menjadi tokoh yang luar biasa. Banyak karya-karya besar telah dikerjakan bersama dengan masyarakat bukan hanya di lingkungan tempat tinggalnya tetapi telah meluas ke daerah-daerah lain. Bahkan seorang romo menyebut bahwa dia telah berperan seperti camat (bahkan bupati) dan lebih dari pastor paroki. Artinya dia berkarya dalam gereja dengan luar biasa demikian pula di tengah masyarakat.
 
Ketika acara hari itu sudah selesai, saya mencari waktu untuk ngobrol dengan teman saya itu.
“Mo, saya sampai disini sebenarnya saya menjauh dari lingkungan keluarga dan teman-teman. Setelah saya keluar dari seminari saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menjadi guru di tempat ini. Saya langsung menerima karena memang saya ingin “melarikan diri”. Sampai di tempat ini saya bahagia karena tidak ada yang mengenal saya dan latar belakang saya, kecuali bahwa saya guru.
 
Hal itu membuat saya menjadi lebih mudah bergerak, mudah bergaul dan kemudian diterima oleh masyarakat di sini. Oleh karena itu saya dapat melakukan banyak hal dan rasanya banyak ide saya bisa diterima dan dapat dikembangkan disini. Sehingga saya merasa amat berkembang di tempat ini. Sekarang ini saya merasa bahwa saya memang diutus di tempat ini. Betul bahwa awalnya saya “melarikan diri” namun tempat pelarian ini menjadi tempat saya berkembang dan merasa bahwa saya diutus.
 
Mo, saya ingat apa yang dikatakan pembimbing rohani saat saya memutuskan mundur dari seminari. Beliau mengatakan: “Untuk menjadi pelayan dan alat yang baik bagi Tuhan tidak harus menjadi Imam. Kiranya kamu diutus untuk menjadi garam dan terang di suatu tempat bukan sebagai imam. Di sana kamu akan lebih berkembang dan berbuah banyak.” Dan itu sekarang saya merasakan kebenarannya,” teman saya bercerita.
 
Kisah yang luar biasa yang disharingkan teman saya. Dan sungguh untuk memanggil dan mengutus setiap orang dengan cara yang luar biasa agar menghasilkan buah. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Mei 2022

Renungan Harian
Jumat, 13 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 13: 26-33
Injil: Yoh. 14: 1-6

Camping

Beberapa waktu yang lalu saya menemani anak-anak misdinar camping. Dalam pertemuan persiapan terakhir, diputuskan bahwa beberapa misdinar senior berangkat lebih dahulu untuk memasang tenda dan mempersiapkan beberapa hal yang nanti akan dibutuhkan di sana. Sedang peserta yang lain akan berangkat kemudian sambil menunggu beberapa anak yang pada hari itu masih sekolah hingga siang.
 
Saya dan peserta camping berangkat menggunakan truk. Kami meminjam dua buah truk militer untuk mengangkut peserta dan perbekalan. Waktu keberangkatan agak terlambat dari waktu yang telah ditentukan karena ada beberapa anak yang datang terlambat.  Sepanjang jalan kami bersuka cita, bernyanyi dan bercanda. Ketika sampai ke daerah dimana kami mau camping, hari sudah mulai gelap meski demikian tidak mengurangi kegembiraan kami. Tak berapa lama, kendaraan berhenti, pengemudi bertanya apakah benar ini jalan yang harus kami tempuh. Menurut pengemudi, semakin lama jalan semakin menyempit dan rasanya bukan seperti jalan yang biasa dilalui kendaraan. Saya yang tidak tahu jalan karena belum pernah ke area dimana kami akan camping, saya minta waktu untuk bertanya ke teman-teman yang sudah mendahului.
 
Dalam pembicaraan dengan teman-teman yang sudah mendahului, mereka meyakinkan bahwa itu jalan yang benar menuju area tempat dimana kami mengadakan camping. Teman-teman juga menginformasikan bahwa mereka telah mendirikan tenda dan menyiapkan keperluan untuk makan malam. Setelah mendapatkan informasi dari teman-teman, kami melanjutkan perjalanan. Namun tidak berapa lama berhenti kembali. Pengemudi tidak yakin dengan jalan yang kami lalui, menurutnya jalan ini berbahaya sehingga mereka ragu. Saya mencoba meyakinkan namun tidak berhasil. Dari pada berdebat saya meminta teman yang sudah sampai untuk menjemput kami agar pengemudi yakin dengan jalan yang kami lalui.
Akhirnya setelah dijemput pengemudi dengan yakin mengendarai truk dan menghantar kami sampai ke tujuan dengan selamat.
 
Dalam perjalanan imanku, seringkali seperti perjalanan menuju tempat camping. Aku  beriman akan Tuhan yang sudah mendahului, aku  tahu jalan yang harus  ku tempuh namun bila menemui hambatan menjadi ragu apakah benar jalan ini yang menghantar aku sampai ke tujuan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan injil Yohanes: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Mei 2022

Renungan Harian
Kamis, 12 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 13: 13-25
Injil: Yoh. 13: 16-20

Kecewa

“Romo, kami pindah ke kota ini sungguh-sungguh mulai dari nol. Kami mempunyai sedikit tabungan untuk memulai hidup di tempat ini. Meski semua serba sulit karena kami serba kekurangan namun di sini kami merasa lebih aman dan tenteram.
 
Romo, kami pindah dan merantau disini karena kami menjadi salah satu korban kerusuhan di kota kami. Kerusuhan yang menghabiskan semua yang telah kami usahakan dengan susah payah. Meski kami tetap bersyukur karena kami semua bisa tetap hidup. Romo, pengalaman itu sungguh-sungguh menjadi pengalaman traumatic bagi kami sekeluarga maka kami memutuskan untuk pindah dari kota kami. Awalnya kami tidak punya gambaran kemana harus pindah, syukurlah seorang teman membantu kami untuk pindah dan tinggal di kota ini.
 
Romo, kami tidak dendam dengan mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu. Saya tahu bahwa mereka hanyalah orang-orang yang diprovokasi. Tetapi kami menjadi terluka dengan salah satu karyawan kami. Dia itu ikut kami sejak masih SD. Orang tuanya sudah tidak ada, dia ikut dengan neneknya. Suatu saat ada kenalan kami di gereja yang cerita tentang anak itu lalu kami pikir baik kami menolong. Dia kami ambil dan kami perlakukan seperti anak sendiri. Kami tidak pernah membeda-bedakan antara dia dan anak kami. Kami selalu makan bersama di meja yang sama dan makanan yang sama. Dia sekolah dan tumbuh bersama dengan anak-anak kami.
 
Tetapi pada saat kerusuhan dia justru ikut memporak porandakan rumah bahkan dia yang memimpin orang-orang untuk masuk dan membakar rumah kami. Di saat kami semua ketakutan dia tidak peduli seolah tidak melihat dan tidak kenal dengan kami. Itu romo yang membuat kami terluka dan dendam sampai sekarang. Mengapa orang yang sudah kami anggap anak sendiri yang tumbuh bersama kami tetapi justru di saat seperti itu melawan dan menghancurkan kami,” pasangan suami istri itu berkisah.
 
Dalam banyak hal dalam hubunganku dengan Tuhan, aku juga sering berlaku seperti anak muda dalam keluarga itu. Aku mendapatkan banyak rahmat, banyak permohonanku dikabulkan tetapi sering aku mengingkari Tuhan untuk mencari kesenanganku sendiri. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.”
 
Iwan Roes

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 11 Mei 2022

Renungan Harian
Rabu, 11 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 12: 24-13: 5a
Injil: Yoh. 12: 44-50

Kesepian

Sore itu, saya menerimakan sakramen orang sakit kepada seorang bapak yang dirawat di sebuah rumah sakit. Bapak itu sudah sakit yang cukup parah meski usianya masih terbilang muda. Saat ibadat penerimaan sakramen orang sakit saya hanya ditemani suster perawat .tidak ada satu orangpun anggota keluarga yang menemani. Suster perawat itu mengatakan bahwa keluarganya sudah diberi tahu akan adanya ibadat ini tetapi semua sibuk sehingga tidak ada yang bisa datang.
 
Setelah ibadat pengurapan orang sakit, saya ngobrol dengan bapak yang sedang sakit itu.

“Romo, inilah keadaan saya sehari-hari yang sesungguhnya, saya selalu sendiri dan kesepian. Mereka semua sudah tidak peduli lagi dengan saya. Saya rasa kalau saya meninggal lebih baik dan membahagiakan mereka semua. Sesungguhnya saya heran dengan mereka, untuk apa saya diobati kalau kematian saya membuat mereka bahagia. Sering saya berpikir bahwa mereka mempertahankan hidup saya agar saya menderita lebih lama,” bapak itu bercerita.

Cerita bapak itu terputus karena kedatangan anak perempuannya yang membawa makanan untuk bapaknya.
Saya terkejut, saat anak perempuannya menyiapkan makanan yang dibawanya bapak itu marah dan membuang makanan itu di lantai sembari ngomel bahwa makan itu tidak layak untuk dirinya. Anak perempuan itu nampak tenang, diam tidak menjawab semua omelan bapaknya. Dia menghubungi suster agar membantu membersihkan lantai. Melihat situasi yang tidak menyenangkan itu, saya mohon pamit. Anak perempuan itu mengantar saya keluar.
 
“Maaf, romo dengan sikap bapak saya. Bapak itu  sejak sebelum sakit memang mudah marah. Kami, ibu dan adik-adik sudah kenyang dengan caci maki bapak yang tidak jarang disertai dengan sifat ringan tangannya. Sesungguhnya kami sudah tidak tahan dengan sikap bapak, tetapi ibu selalu mengatakan apapun itu beliau adalah bapak kami. Ibu selalu berharap bapak suatu saat berubah.
 
Saya heran dan kagum dengan ibu yang tetap mau bertahan dan melayani bapak meski diperlakukan amat tidak pantas. Bapak tidak bekerja setiap hari hanya berurusan dengan kesenangannya sendiri, sedang ibu yang membanting tulang untuk menopang kehidupan keluarga. Ibu yang sudah kerja keras luar biasa tetapi selalu mendapatkan luka batin dan fisik bila keinginan bapak tidak dipenuhi. Bahkan disaat bapak sakit beliau tetap saja bertindak yang menyakitkan bagi kami seperti yang romo lihat.
 
Tapi yang membuat kami sering menjadi lebih sakit, bapak selalu bercerita ke setiap orang bahwa kami tidak memberi perhatian kepada beliau. Beliau selalu bercerita bahwa dirinya seperti habis manis sepah dibuang seolah semua hal yang kami  dapatkan adalah hasil kerja keras bapak. Jadi sering kami menjadi malu  kalau teman-teman bapak menasehati kami agar memberi perhatian ke bapak agar tidak menjadi anak-anak yang durhaka. Untunglah semua keluarga bapak sudah tahu dengan “kelakuan” bapak,” anak perempuan itu bercerita.
 
Kesepian yang dialami bapak akibat dari perbuatannya sendiri. Dia memilih cara hidupnya yang demikian. Dia selalu merasa bahwa dirinya orang paling baik dan benar akibatnya dia tidak mampu melihat dan mendengar hal yang lebih baik dan lebih benar. Dalam rasa sebagai orang paling baik dan benar dia hidup dalam kegelapan rasanya sendiri.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu, jangan tinggal di dalam kegelapan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Mei 2022

Renungan Harian
Selasa, 10 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 11: 19-26
Injil: Yoh. 10: 22-30

Menutup Mata

Berita di media sosial berkaitan dengan situasi politik semakin marak dan semakin tajam. Sisa-sisa perpecahan kelompok akibat pemilu yang lalu meski sudah sekian tahun lalu masih ada bahkan dimunculkan lagi. Apa yang muncul dalam berita-berita itu menjadikan banyak hal kabur mana yang benar dan mana yang hoaks.
Berita-berita yang mewartakan data-data yang benar dianggap hoaks sedangkan data-data hoaks dianggap benar.
 
Kelompok yang sebut saja “anti” pemerintah selalu menyebut bahwa pemerintah telah gagal menjalankan tugasnya. Sehingga mereka menuntut agar presiden turun dan pemerintah diganti oleh kelompok mereka. Kelompok ini selalu mengomentari apapun yang dibuat oleh pemerintah dengan nada negatif. Apapun yang dibuat pemerintah sebagai sesuatu yang salah atau bahkan dianggap hanya sekedar pencitraan. Sementara itu kelompok yang sebut saja “pro” pemerintah memuji-muji bahwa pemerintah telah berhasil menjalankan tugasnya. Mereka menunjukkan data-data yang menunjukkan keberhasilan pemerintah. Semua kritik dan komentar kelompok “anti” pemerintah selalu dijawab atau dibuat berita yang menunjukkan bahwa kritik dan komentar itu salah. Apa yang terjadi adalah perang opini yang sering kali disertai data-data. Soal mana yang benar tentang data-data itu tidak tahu.
 
Situasi menunjukkan bahwa apapun yang dianggap sebagai bukti keberhasilan pemerintah tidak pernah akan dipercaya. Semua pertanyaan, pernyataan dan kritik yang dialamatkan kepada pemerintah dan menuntut pembuktian kinerja pemerintah, seolah sebuah pertanyaan, pernyataan atau kritik yang bersifat retoris saja karena tidak membutuhkan jawaban. Apapun jawaban dan bukti yang diberikan tidak akan dipercaya. Demikian pula kritik, pernyataan yang mungkin benar dari kelompok “anti” pemerintah juga dianggap sebagai “angin lalu”. Semua itu bersumber pada kepentingan yang berbeda. Kepentingan telah menyebabkan “mata tertutup”. Semua hal tidak berguna sejauh tidak memenuhi kepentingannya.
 
Situasi ini kiranya menggambarkan situasi pengalamanku dengan Tuhan. Aku sering kali mengeluh, bertanya dan bahkan marah dengan Tuhan karena kepentinganku tidak terpenuhi. Aku sering mencari bukti-bukti bahwa Tuhan mencintai aku, hadir dan terlibat dalam diriku. Namun apapun yang kuterima dan kualami tidak pernah menjadi bukti bahwa Tuhan sungguh-sungguh mencintai, hadir dan terlibat dalam hidupku karena tidak memenuhi kepentinganku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Aku telah mengatakannya kepada  kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Mei 2022

Renungan Harian
Senin, 09 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 11: 1-18
Injil: Yoh. 10: 1-10

Tidak Kenal

Dulu ketika saya bertugas di sebuah paroki di luar kota Bandung, saya bisa mengenal hampir semua umat. Dari segi jumlah umat memang tidak terlalu banyak dan juga mereka selalu datang ke gereja. Setelah beberapa tahun bertugas saya bisa mengenali beliau itu siapa, rumahnya dimana, pekerjaannya apa dan tidak sedikit yang sungguh saya mengenal dengan baik. Oleh karenanya kalau ada orang asing maksud saya orang yang baru pertama kali datang ke gereja, saya bisa mengenali bahwa orang itu adalah orang asing.

Biasanya saya menyapa dengan memperkenalkan diri saya dan mohon maaf bahwa saya belum mengenalnya. Beliau akan mengatakan bahwa dirinya baru pertama kali datang ikut misa di gereja ini. Disamping itu, karena perayaan ekaristi diadakan hanya satu kali sehingga dengan mudah saya tahu bahwa ada umat tertentu yang tidak ikut perayaan ekaristi. Sehingga minggu depan saya bisa menyapanya dan akan mendapatkan jawaban bahwa keluarga itu atau orang itu sedang bepergian atau sakit. Artinya saya bisa mengenal umat di paroki dengan lebih cepat dan lebih mudah.
 
Sekarang saat saya bertugas di paroki di kota Bandung, saya kesulitan untuk mengenal umat paroki. Kesulitan pertama adalah umat yang datang ikut misa sebagian besar bukan umat paroki sehingga kesan yang saya dapat umat yang datang selalu silih berganti. Kesulitan kedua banyak umat paroki yang hampir tidak pernah ikut perayaan ekaristi maupun kegiatan di paroki tetapi ikut perayaan ekaristi dan aktif di paroki lain. Kesulitan ketiga perayaan ekaristi di paroki diadakan 5 kali dan kami merayakan ekaristi bergantian.
 
Situasi itu membuat saya tidak mudah mengenal umat bahkan banyak umat yang tidak saya kenal dan juga umat tidak mengenal saya. Sering terjadi umat yang datang ke gereja pada hari biasa bertemu dengan saya bertanya: “Pak, kalau pastornya ada gak? Bisa ditemui gak?” Bahkan pernah terjadi saya dimarahi oleh umat yang mau bertemu dengan pastor. Dia bertanya: “Pak, saya mau bertemu dengan pastor.”

“maaf ibu, ibu mau bertemu dengan pastor siapa? Apakah ibu sudah membuat janji?” tanya  saya.

“Saya mau bertemu dengan pastor paroki dan kamu gak usah tanya-tanya saya sudah buat janji atau belum. Kamu pegawai itu tugasmu menyampaikan pada pastor bahwa saya sudah datang. Memang kalau saya buat janji dengan pastor harus lapor kamu?” jawab ibu itu dengan marah.

Peristiwa itu terjadi karena dia dan saya tidak saling mengenal. Ibu itu tidak kenal siapa pastor parokinya dan saya juga tidak kenal siapa ibu itu. Banyak umat yang datang saat membutuhkan tanda tangan pastor paroki, sebelum dan sesudah itu mungkin aktif di tempat lain atau memang tidak pernah ke gereja.
 
Tantangan besar bagi para imam di kota besar dimana paroki seolah-olah tidak lagi dibatasi oleh territorial tertentu. Butuh usaha dan kerja keras agar bisa mengenal umat baik umat paroki maupun umat yang datang dari tempat lain atau yang hanya sekali dua kali datang.
Gambaran gembala yang baik sebagaimana diwartakan dalam injil Yohanes masih jauh dari jangkauan. Masih membutuhkan cara-cara baru dan kreatifitas agar bisa sungguh mengenal umat di paroki seperti ini. “Gembala yang baik, memanggil domba-dombanya, masing-masing menurut namanya, dan menuntunnya ke luar.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 Mei 2022

Renungan Harian
Minggu, 08 Mei 2022
Hari Minggu Paskah IV

Bacaan I:  Kis. 13: 14. 43-52
Bacaan II: Why. 7: 9. 14b-17
Injil: Yoh. 10: 27-30

Khotbah

Dulu sewaktu saya belum menjadi imam, saat saya masih menjadi seorang karyawan, saya pergi ke gereja hanya 1 minggu sekali. Saya biasa pergi ke gereja bersama dengan beberapa orang teman dan pilihan gerejanya juga acak, tidak satu paroki yang sama.
 
Setiap kali pulang gereja, pembicaraan kami selalu sama yaitu mengenai khotbah pastor. Sering kali dalam pembicaraan itu kami merasa bahwa kami tidak tahu apa yang dikhotbahkan pastor. Kami tidak mengerti pastor itu khotbah apa, ngomong apa. Sering kali pula kami mengomentari bahwa pastor dalam berkhotbah tidak menarik, monoton, atau hanya membaca catatan yang telah dibuatnya. Ada pastor yang khotbah berapi-api tetapi tidak jelas ngomong apa, menerangkan kitab suci dengan bahasa-bahasa yang tidak kami mengerti bahkan ada teman yang mengatakan bahasa pastor itu lebih sulit dari  bahasa kitab suci. Ada pastor yang membacakan khotbahnya dengan amat monoton bikin mengantuk meski isinya menarik sehingga membuat tidak didengarkan pesannya.
 
Setelah menjadi imam, saya baru merasakan betapa sulit menyiapkan khotbah yang singkat padat, bahasa sederhana tetapi mendalam. Belum lagi harus berhadapan dengan bacaan yang berulang-ulang, sehingga untuk menemukan pesan yang berbeda menjadi tantangan tersendiri.
 
Pada masa sekarang di era media sosial tantangan untuk menyampaikan khotbah yang baik dan menarik menjadi lebih besar. Tantangan baru yang muncul adalah bagaimana imam memberikan khotbah yang menarik, singkat, benar dan mendalam. Khotbah bukan hanya soal membahas sabda Tuhan hari itu tetapi bagaimana memberikan refleksi atas sabda Tuhan dengan menarik dan mendalam. Di luar sana banyak khotbah-khotbah yang diberikan oleh banyak orang yang amat menarik meski sering kali kurang mendalam dan “menyeleweng” dari ajaran iman katolik. Para penikmat tidak lagi kritis soal benar salah tetapi cara pembawaan yang menarik membuat terpesona sehingga kalau tidak hati-hati menjadi tersesat.
 
Umat membutuhkan imam yang mampu berkhotbah menarik, mendalam dan singkat. Sehingga umat yang dibanjiri khotbah-khotbah yang bisa membawa umat tersesat tidak terpengaruh karena tahu ada imamnya yang berkhotbah dengan menarik. Tantangan yang tidak mudah minimal untuk saya sendiri.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Mei 2022

Renungan Harian
Sabtu, 07 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 9: 31-42
Injil: Yoh. 6: 60-69

Mundur

Seorang anak muda yang kuliah di sebuah perguruan tinggi teknik di Solo bercerita tentang pengalaman kuliahnya. Dia bercerita bahwa kuliah di kampus itu amat berat. Kampus itu menerapkan disiplin yang amat ketat, semua mahasiswa tidak boleh terlambat, kalau terlambat maka harus mengganti jam keterlambatan dengan bekerja di bengkel di kampus. Sehingga bisa terjadi karena beberapa kali terlambat mahasiswa punya hutang jam kerja yang cukup banyak. Mahasiswa punya hutang jam kerja bukan karena dia malas tidak mengganti jam kerja sebagai sanksi atas keterlambatan tetapi karena keterbatasan waktu.
 
Anak muda itu bercerita bahwa kuliah dari pagi sampai malam hari. Pagi sampai siang mereka menerima pelajaran teori sedangkan sore hingga malam mereka praktek kerja. Tugas praktek kerja sering kali harus dikerjakan dengan lembur sampai jam 10 malam. Anak muda itu memberi contoh praktek mengikir besi dari ukuran tertentu harus mencapai ukuran yang ditentukan. Semua harus dikerjakan dengan presisi sehingga membutuhkan ketelitian. Kalau terjadi mereka mengikir besi sedikit lebih tipis dari yang ditentukan maka mereka harus mengulang dari awal. Hal itu yang menyebabkan mereka sering kali harus bekerja hingga malam hari.
 
Pola pendidikan yang demikian disiplin, ketat dengan tujuan membentuk pribadi-pribadi yang tangguh dan mumpuni membuat banyak mahasiswa yang gagap. Dengan bimbingan para pengasuh mahasiswa dituntun dan dibimbing untuk berani keluar dari kebiasaan lama  dan mengatasi kegagapannya. Namun demikian banyak mahasiswa yang tidak mampu untuk mengikuti pola yang ada dan tidak mampu mengatasi kegagapannya sehingga mereka memilih untuk mengundurkan diri. Mereka tidak sanggup untuk mengikuti pola pendidikan yang diterapkan di kampus itu. Mereka menyerah karena tidak sanggup untuk bekerja keras dan menempa diri sedemikian.
 
Pengalaman mahasiswa yang mengundurkan diri ini kiranya seperti yang dialami banyak orang yang mengikuti Yesus. Mereka kagum dengan Yesus dan berharap mendapatkan banyak hal seperti yang mereka mimpikan. Akan tetapi ketika mendengarkan pengajaran dan syarat-syarat mengikuti Yesus mereka menjadi ragu dan merasa tidak sanggup bahkan mungkin berpikir bahwa yang mereka mimpikan tidak akan didapatkannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Yesus menantang mereka yang tetap mau mengikuti Dia: “Apakah kamu tidak akan pergi juga?”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.