Renungan Harian: 19 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 19 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 5: 12. 15b. 17-19. 20b-21
Injil: Luk. 12: 35-38

Penyesalan

“Setiap pulang kerja, sering aku melamun sambil melepas lelah sejenak.  Aku seorang pelayan toko; aku sudah bertahun-tahun kerja  sebagai pelayan toko. Sejak lulus SMA aku sudah bekerja sebagai pelayan toko.  Memang, aku telah beberapa kali berpindah tempat kerja, tetapi tetap sama sebagai pelayan toko. Aku melamun dan berandai-andai. Andai dulu aku tidak aneh-aneh mungkin hidupku tidak seperti sekarang ini. Aku melihat teman-teman kuliahku banyak yang sudah sukses, minimal mereka bekerja lebih baik tidak seperti aku seorang pelayan toko, dadaku terasa berdebar keras.
 
Aku sebetulnya bisa disebut anak yang beruntung. Setelah lulus SMA, orang tuaku tidak mampu membiayaiku kuliah karena memang kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Aku ditawari kerja jadi pelayan toko, dan aku juga ditawari kuliah sore hari. Aku bekerja dapat gaji untuk jajan dan keperluan sehari-hari sedang biaya kuliah ditanggung bos tempat aku bekerja. Namun karena kemalasanku dan ketidak sadaranku, aku sering begadang dengan teman-teman selepas kuliah. Akibatnya aku selalu terlambat kerja dan kerja juga tidak fokus. Akibatnya setelah satu tahun aku bekerja aku diberhentikan. Anehnya saat itu aku tidak merasa kecewa dan sedih. Aku berpikir tidak kuliah juga tidak apa-apa yang penting masih bisa main sama teman-temanku.
 
Selepas aku diberhentikan tidak sampai satu bulan aku dapat tawaran kerja sebagai pelayan toko. Dan aku beruntung karena bos tempat saya bekerja juga memberi kesempatan saya untuk kuliah. Namun lagi-lagi aku tidak sadar akan berkat ini. Aku tetap saja lebih banyak main di malam hari dan bahkan pergaulanku semakin tidak baik. Akibat dari semua itu aku harus menikah muda karena harus bertanggung jawab atas perbuatanku pada pacarku.
 
Aku harus menikah meski belum siap, dan harus mencari pekerjaan baru karena aku diberhentikan, sementara kuliahku banyak yang tidak lulus sehingga aku drop out. Jadilah aku seorang bapak dan seorang suami meski aku sebetulnya belum ingin. Sekarang aku bekerja dan harus bekerja karena harus menghidupi istri dan anak. Aku sekarang hidup pas-pasan cenderung berkekurangan. Itulah yang membuat aku sering melamun dan berandai-andai. Aku menyesali kehidupanku masa lalu tetapi hidupku tidak bisa diputar lagi,” seorang anak muda menceritakan kisahnya.
 
Kesempatan berahmat telah ia sia-siakan karena terlena dengan kesenangan-kesenangan pribadi. Kesetiaan dan ketekunan untuk menghidupi kesempatan berahmat hilang dari dirinya sehingga meninggalkan penyesalan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan pentingnya untuk selalu setia dan tekun dalam menjalani perutusan, apapun itu bentuknya. Ketekunan dan kesetiaan itu akan mendatangkan rahmat. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku tekun dan setia dalam menjalani perutusanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 18 Oktober 2021
Pesta St. Lukas, Penulis Injil

Bacaan I: 2Tim. 4: 10-17b
Injil: Luk. 10: 1-9

Tim Pendahulu

Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berceritera bahwa salah satu tugas yang di embannya adalah menjadi tim pendahulu. Dia menjelaskan bahwa apabila ada pejabat akan mengunjungi suatu tempat, maka dia dan timnya akan datang terlebih dahulu ke tempat itu. Tim ini memastikan kesiapan segala sesuatu di tempat itu, baik dari sisi keamanan, pengaturan tempat, agenda kunjungan dan sebagainya. Semua harus dipersiapkan dengan teliti. Apabila semua hal sudah diperiksa dengan teliti dan semua sudah siap, maka pejabat bisa kunjungan ke tempat itu. Apabila beberapa hal belum siap dan bisa dikejar sebelum hari kunjungan maka harus segera dibereskan sehingga kunjungan dapat terlaksana. Namun apabila ada masalah-masalah yang tidak beres dan tidak dapat diselesaikan pada hari kunjungan dan masalah itu amat penting bagi keselamatan pejabat yang akan berkunjung maka kunjungan akan dibatalkan.
 
Tim pendahulu tugasnya cukup berat dan resiko juga tidak kecil. Tanggung jawab “keberhasilan” kunjungan, keselamatan pejabat yang berkunjung ada pada pundaknya. Apalagi bila kunjungan pejabat utama dibatalkan maka kekecewaan daerah yang akan dikunjungi ditimpakan kepada tim ini. Teman saya mengatakan meski tugas dan tanggung jawabnya cukup berat namun dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas,  dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengutus 70 murid untuk mendahului ke tempat-tempat yang akan dikunjungiNya. Kiranya tugas para murid adalah mempersiapkan segala sesuatu agar kunjungan Yesus ke tempat itu memberikan buah bagi masyarakat di situ. Dengan kata lain para murid mempersiapkan jalan bagi Yesus. Para murid meskipun diberi kuasa namun bukan yang pertama dan utama untuk berkunjung, mereka adalah tim yang mempersiapkan. “Tuhan menunjuk tujuh puluh murid, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sebagai utusan telah mempersiapkan jalan untuk Tuhan dan bukan untuk diriku sendiri?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Oktober 2021

Renungan Harian
Minggu, 17 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXIX

Bacaan I: Yes. 53: 10-11
Bacaan II: Ibr. 4: 14-16
Injil: Mrk. 10: 35-36

Tumbal

Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih sebagai imam baru, saya menerima tamu sepasang suami istri. Sejak bertemu, ibu sudah berurai air mata; matanya sudah sembab nampaknya sudah banyak dia menangis. Sedang suami meski nampak kusut tetapi ada ketegaran dalam dirinya, dari sorot matanya menampakkan kekuatan dirinya. Saya menduga bahwa keduanya sedang menghadapi masalah berat.
 
“Romo, tolong nasehati istri saya, agar dia setuju dengan rencana yang kami tempuh untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami. Kami telah sepakat memilih jalan ini, tetapi kemudian istrinya keberatan dengan syarat yang harus kami jalani. Padahal syarat itu adalah syarat utama untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami.
 
Romo, kami selalu hidup dalam kesulitan; kami selalu kekurangan. Keperluan hidup sehari-hari kami selalu kesulitan, untuk makan harian kami serba kekurangan. Lalu kami mendapat saran dari seorang teman untuk bertemu dengan “orang pintar” yang bisa melihat permasalahan kami dan bisa memberikan jalan keluar. Teman kami ini dulu juga hidup seperti kami, dan sekarang sudah sukses dan hidupnya bahagia sejahtera.
 
Kami setuju dengan saran teman kami karena sudah melihat hasilnya sehingga kami berdua menemui “orang pintar” tersebut. Setelah bertemu beliau melihat bahwa keluarga kami ada “kutukan” sehingga harus dibebaskan dari “kutuk” itu. Kalau “kutuk” itu bisa hilang dari kami maka keluarga kami dan keturunan kami akan sejahtera. Beliau sanggup membebaskan “kutuk” itu dari keluarga kami dengan syarat kami rela mengorbankan anak bungsu kami. Anak bungsu kami ini akan menjadi korban pembebas “kutuk” bagi kami dan keturunan kami selanjutnya. Meskipun berat, saya setuju yang penting keluarga kami dan anak cucu kami kelak hidup bahagia dan sejahtera, namun istri saya tidak setuju. Dia tidak mau kehilangan anak kami; dia memilih tetap hidup seperti ini tetapi tidak kehilangan anak kami. Itulah romo, persoalan besar kami, maka kami mohon romo bisa menasehati istri saya. Korban ini sungguh-sungguh demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami,” bapak itu menjelaskan maksudnya.
 
Saya amat terkejut dan dicekam kengerian yang dalam. Sesuatu yang hanya saya lihat di film atau saya baca dari buku-buku cerita, sekarang saya hadapi. Saya menjelaskan kepada bapak itu bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang salah dan tidak baik. Sesuatu yang baik harus melalui proses yang baik, dengan cara-cara yang baik. Saya memberikan penjelasan cukup panjang untuk menyadarkan bapak itu. Namun bapak itu justru marah karena saya tidak mendukung dirinya. Bapak itu kemudian pergi dan mau mencari pastor lain, pastor senior yang bisa mendukung dirinya. Saya pastor muda dianggap tidak mengerti dan tidak punya pengalaman.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus mengajarkan agar para muridnya mau memberikan dirinya sepenuhnya untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain; bukan mengorbankan orang lain demi kebahagiaan dirinya. “Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sudah memberikan diriku untuk kebahagiaan orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 16 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 4: 13. 16-18
Injil: Luk. 12: 8-12

Selalu Tersenyum

Saya amat senang setiap kali mengunjungi ibu ini. Beliau selalu tersenyum dan selalu menampakkan wajah yang bahagia. Senyum kebahagiaannya memberikan kegembiraan bagi orang lain. Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh banyak orang yang bertemu dengan ibu itu.
 
Saya kenal dengan ibu itu saat saya diminta memberikan sakramen pengurapan orang sakit pada beliau. Saat pertama kali saya bertemu saya tidak menyangka bahwa ibu itu sedang sakit, kecuali bahwa beliau sedang berbaring di tempat tidur.

Beliau menyapa saya dengan ramah dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Beliau tahu persis tentang penyakit yang dideritanya tetapi menampakkan seolah-olah bukan suatu beban bagi hidupnya.
 
Suami ibu itu menjelaskan bahwa ibu itu menderita kanker JJtulang dengan stadium lanjut. Kanker itu bukan hanya menggerogoti raganya tetapi juga memberikan rasa sakit yang luar biasa. Dokter yang merawatnya tahu persis akan rasa sakit yang mepoleh ibu itu; maka dokter memberikan obat untuk mengurangi r0asa sakit. Namun ketika diberi penjelasan tentang obat itu, ibu itu menolak, beliau mau menanggungnya. Ketika rasa sakit itu menyerang ibu itu hanya diam dan tangannya mengatup ofuntuk menahan rasa sakit. Tetapi tidak ada satu kata keluhan yang keluar dari mulutnya. Bahkan bila bertemu dengan orang lain beliau selalu  tersenyum meski saat itu sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.
 
Banyak orang heran akan kekuatan dan ketabahan ibu itu. Suami dan anak-anaknya yang sedih karena melihat istri dan ibu mereka sedang sakit seringkali justru terhibur dan dikuatkan oleh sikap ibu itu. Beberapa kali ibu itu justru menghibur dan menguatkan suami dan anak-anaknya.
 
Di saat terakhir hidupnya, ketika saya memberikan komuni kudus, ibu itu menyambut dengan tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sudah disembuhkan. Beberapa jam setelah menyambut Tubuh Kristus, ibu itu menghadap Tuhan dengan tersenyum. Melihat jenazahnya seperti melihat seorang yang tidur nyenyak dan sedang bermimpi indah karena ada senyum menghiasi bibirnya.
 
Bagi saya, ibu itu dalam sakitnya justru memberikan kesaksian luar biasa tentang imannya. Kekuatan ibu itu menanggung rasa sakit yang luar biasa dan kerelaanya menerima sakitnya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan imannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku memberi kesaksian tentang imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat, 15 Oktober 2021
PW. S. Theresia dr Yesus

Bacaan I: Rom. 4: 1-8
Injil: Luk. 12: 1-7

Pergulatan

Saya sering mendengar kritik dari banyak teman berkaitan dengan khotbah para imam. Teman-teman mengkritik bahwa khotbah para imam terlalu ngawang-ngawang sehingga tidak banyak berguna bagi umat. Sementara kritik lain yang benar tetapi cukup pedas adalah bahwa para imam berkhotbah tetapi tidak bisa menjalankan apa yang dikhotbahkan. Para imam seperti kaum Farisi. Sering kali pembelaan yang muncul dari diri saya adalah bahwa tidak semua yang dikhotbahkan bisa dilakukan oleh imam. Tentu jawaban saya ini hanyalah rasionalisasi yang tidak penting. Saya menyadari betul bahwa kritik teman-teman itu adalah kritik yang membangun dan baik.
 
Saya sendiri amat sadar beban yang tidak mudah ketika mempersiapkan khotbah. Bebannya bukan soal tafsir Kitab Suci dan penerapannya tetapi lebih beban bahwa apa yang saya khotbahkan sering kali masih jauh dari perilaku saya pribadi.

Seorang teman rahib OCSO (pertapaan Rawaseneng) pernah sharing bahwa dirinya sebenarnya berat untuk menjadi imam di pertapaan. Beban beratnya ada pada harus berkhotbah. Seorang imam di pertapaan harus berkhotbah untuk saudara-saudara sekomunitas yang setiap hari hidup bersama dengannya dan pasti kenal persis kehidupannya setiap hari. Berat karena satu pihak harus berkhotbah dan pihak lain perilakunya masih jauh dari apa yang dikhotbahkan.
 
Bagi saya setiap kali berkhotbah adalah tantangan dan pergulatan. Pergulatan untuk selalu menyadari betapa diriku masih jauh dari apa yang ku khotbahkan. Aku sadar saat aku berkhotbah hal pertama dan penting adalah aku mengkhotbahi diriku sendiri.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan dan menegur betapa godaan untuk menutupi kelemahan diri dengan berkhotbah yang muluk-muluk dengan kata-kata indah selalu ada pada diri saya. “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”
 
Bagaimana dengan aku? Sudah selaraskah antar tuturan ku dan perilaku ku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 14 Oktober 2021

Renungan Harian
Rabu, 13 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 2: 1-11
Injil: Luk. 11: 42-46

A d i l

“Romo, mohon romo berkenan berbicara dan mengingatkan suami saya. Seperti romo ketahui, suami saya amat aktif dalam pelayanan di gereja. Untuk urusan gereja pasti menjadi nomor satu bagi suami saya bahkan dia rela untuk mengambil cuti untuk tugas pelayanan. Hidupnya selalu pelayanan dan pelayanan.
 
Selain itu juga mohon romo mengingatkan agar dia tidak mudah memberikan bantuan uang ke orang lain. Romo, dia itu orang entah terlalu baik atau bodoh, dia mudah sekali membantu orang tetapi juga muda ditipu karenanya. Sudah berkali-kali dia membantu orang dan ujung-ujungnya dia kena tipu.
 
Romo, saya tidak melarang suami saya aktif dalam kegiatan pelayanan di gereja, bahkan saya senang dan bangga. Saya juga tidak melarang suami saya untuk membantu orang; saya senang punya suami yang murah hati dan peduli dengan orang lain. Namun saya berharap dia bersikap adil antara keluarga dan pelayanan. Romo, dia itu sama sekali tidak pernah memperhatikan rumah. Semua urusan rumah harus saya. Dia kerja dan pelayanan itu saja kerjanya. Pekerjaan rumah tidak sedikitpun yang disentuh.
 
Dia sibuk kerja dan pelayanan saya bisa mengerti, saya mengalah. Namun sikapnya itu berbeda 180 derajat saat di gereja dan di rumah. Saat pelayanan dia dikenal sebagai orang yang ramah, murah hati selalu menolong. Sedang di rumah dia itu sering marah-marah, selalu minta dilayani. Apalagi dengan anak-anak, dia sama sekali tidak perhatian. Beberapa kali anaknya tanya ini itu atau minta jalan-jalan, dia menjawab sibuk dengan marah. Belum lagi soal keuangan, dia di rumah amat pelit romo. Uang belanja rumah selalu dijatah, cukup tidak cukup segitu, anak-anak minta dibelikan mainan sederhana selalu dijawab tidak ada uang. Kalau anaknya merengek, anaknya akan dimarahi. Itulah romo, persoalan dengan suami saya, sekali lagi romo mohon agar romo berkenan untuk menasehati suami saya,” seorang ibu bercerita.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik sikap orang Farisi yang menjalankan aturan-aturan agama dan adat istiadat dengan sempurna namun semua itu hanya demi dilihat orang. Sementara di baliknya banyak melakukan tindakan ketidak adilan. “ Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi! Sebab kalian membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kalian mengabaikan keadilan dan kasih Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Sudah adilkah aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 12 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 1: 16-25
Injil: Luk. 11: 37-41

Tertutup

Akhir-akhir ini masyarakat dipertontonkan seorang ilmuwan yang berpenampilan arogan. Ilmuwan ini menampilkan kesan sebagai orang yang luar bisa menguasai banyak bidang ilmu. Apapun persoalan bangsa ini beliau selalu tampil sebagai seorang analis dan hampir selalu memberikan kritik yang tajam, sarkas cenderung kasar. Bahkan dengan semua analisisnya apapun yang dilakukan pemerintah atau pemangku keputusan negeri ini salah. Tidak jarang beliau mengatakan bahwa semua pemangku keputusan negeri ini adalah orang dungu.
 
Sudah barang tentu pernyataan-pernyataan beliau sering menimbulkan kontroversi banyak yang beranggapan bahwa beliau asal bicara tidak mampu melihat sebuah persoalan dengan lebih utuh dan mendalam. Namun tidak sedikit pula yang mengatakan pernyataan-pernyataan beliau sebagai yang luar biasa hebat. Bahkan beberapa waktu yang lalu sekumpulan ilmuwan menolak bidang ilmunya disebut sebagai dasar analisis beliau.
 
Banyak orang yang mengenal beliau sebelum beliau banyak tampil di media agak terkejut dengan perubahan yang terjadi. Beliau sebelumnya dikenal sebagai orang yang bisa memberikan analisis cukup mendalam dan tajam. Beliau banyak memberikan inspirasi bagi orang muda untuk melihat persoalan dengan lebih dalam dan atmosfir yang lebih luas. Beliau mampu menghadirkan diskusi dan diskursus di kalangan anak muda mengenai persoalan yang tampaknya sederhana tetapi bisa diolah dengan mendalam. Lalu mengapa menjadi begitu berubah? Banyak orang muda yang mengagumi dan mengidolakan beliau menjadi bingung dengan perubahan ini.
 
Banyak orang berpendapat bahwa perubahan beliau karena keberpihakan beliau. Keberpihakan beliau menjadikan beliau tidak lagi obyektif dalam melihat fakta, data dan fenomena. Analisi beliau berdasar pada keberpihakan. Beliau pasti tahu sisi yang lain, beliau pasti sadar dengan adanya data, fakta dan fenomena yang berbeda namun karena sudah berpihak maka menjadi tertutup dengan sesuatu yang diluar frame keberpihakannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik keras sikap orang Farisi yang tertutup hati dan budinya. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka dan kelompok mereka sehingga hati dan budinya tertutup. “Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang-orang yang dikritik Yesus dengan keras?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 11 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 1: 1-7
Injil: Luk. 11: 29-32

Percaya

Seorang anak muda mengaku dirinya seorang scientist. Dia mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan Tuhan karena Tuhan tidak bisa diterangkan dan dipahami dengan nalarnya. Dia hanya percaya pada ilmu pengetahuan karena baginya itu bisa dinalar dan dia hanya percaya pada hal-hal yang bisa diterangkan dengan ilmu pengetahuan.
 
Di antara teman-teman dekatnya dia dianggap sebagai orang yang luar biasa dan pandai. Apa pun bisa dia terangkan dan membuat teman-temannya kagum. Dia bukan seorang ilmuwan tetapi dia selalu mencari tahu tentang apa saja lewat internet. Dia mengatakan sudah membaca banyak kitab suci dari berbagai agama tetapi bagi dia semua adalah omong kosong karena semua itu hanya fantasi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
 
Dalam sebuah percakapan dengan ibunya, saat ibunya menolak ketika dia akan mendidik anak-anaknya menjadi scientist, dia mengatakan bahwa dia akan percaya pada Tuhan seandainya malaikat Gabriel datang kepadanya dan memberikan pesan dari Allah. Mendengar pernyataan anaknya itu, ibu tidak menjadi marah tetapi ibunya tertawa dan menjawab: “Siapa kamu? Sehebat apakah dirimu dan seberapa besar pengaruhmu bagi dunia dan manusia sehingga Tuhan harus mengutus malaikatnya kepadamu? Dan lagi seandainya betul malaikat Gabriel datang menemui kamu membawa pesan dari Allah apakah kamu akan percaya bahwa itu malaikat Gabriel? Dan apakah kamu percaya dan yakin dia datang membawa pesan Allah?
 
Nak, jika kamu tidak percaya tanda apapun tidak akan membuat dirimu menjadi percaya. Akan tetapi jika kamu percaya maka kamu akan melihat dan mengalami banyak tanda yang dari Tuhan dalam hidupmu setiap hari,” jawab ibunya.
 
Seperti anak muda tersebut, banyak dari kita orang beriman pun seringkali meminta tanda dari Tuhan. Tidak jarang kita meminta tanda-tanda luar biasa, mukjizat dalam hidup. Seperti nasehat ibu itu bahwa kalau kita percaya maka Tuhan selalu hadir dan terlibat dalam hidupku setiap hari melalui banyak tanda dan sarana. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik orang-orang Yahudi yang selalu minta tanda. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku termasuk orang-orang yang sering meminta tanda dari Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Oktober 2021

enungan Harian
Minggu, 10 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXVIII

Bacaan I: Keb. 7: 7-11
Bacaan II: Ibr. 4: 12-13
Injil: Mrk. 10: 17-30

Frustasi

Beberapa tahun yang lalu saya menerima tamu pasangan suami istri yang baru 5 tahun menjalani hidup perkawinan. Mereka datang untuk ngobrol tentang hidup perkawinan mereka.
 
“Romo, kami berdua sekarang ini merasa jenuh dan seperti putus asa dengan hidup perkawinan kami. Kami seperti  dihadapkan dengan jalan buntu, dan tidak tahu bagaimana bisa menemukan jalan keluarnya. Beberapa hari ini kami berpikir bahwa mungkin pilihan kami untuk menikah ini salah, sehingga kami sepakat untuk berpisah.
 
Kami masih saling mencintai dan tidak ada masalah dengan orang lain ataupun masalah ekonomi. Kami amat sadar bahwa sumber permasalahan ada dalam diri kami masing-masing dan tidak ada titik temu. Sejak awal pacaran kami berdua mempunyai mimpi keluarga yang baik, bahagia dan sejahtera. Kami ingin punya rumah yang ramah dengan anak-anak, kami ingin menjadi  orang tua yang baik untuk anak-anak. Kami berdua sepakat untuk berjuang mewujudkan mimpi kami. Bahkan kalau sampai sekarang kami menunda untuk mendapatkan momongan karena itu bagian dari persiapan kami untuk mewujudkan mimpi kami.
 
Saat kami memutuskan untuk menikah, kami banyak belajar dari buku-buku tentang perkawinan; bagaimana menjadi suami yang baik, bagaimana menjadi istri yang baik, bagaimana menjadi orang tua yang baik, pengaturan ekonomi rumah tangga. Intinya memang kami sungguh-sungguh ingin membangun keluarga yang baik dan bahagia.
 
Namun dalam perjalanan hidup perkawinan, kami justru sering ribut, dan tidak jarang berkepanjangan. Saya maunya menjadi suami yang baik dengan cara seperti yang saya pahami. Namun apa yang ditangkap istri saya justru sebaliknya; saya menampilkan diri menjadi suami yang sok suci, sok mengatur dan membuat istri saya menderita, demikian sebaliknya romo. Kami jadi sering cekcok dan bertengkar, sungguh-sungguh bertengkar karena kami merasa melakukan yang terbaik tetapi apa yang ditangkap kok sebaliknya. Kami tidak terima bahwa kami disalahkan dan yang terjadi kami saling menyalahkan. Semakin hari semakin banyak pertengkaran sehingga kami berpikir bahwa keluarga yang kami mimpikan tidak akan terbangun. Dengan dasar itu untuk apa kami melanjutkan perkawinan ini, lebih baik kami berpisah,” bapak muda itu menjelaskan persoalan rumah tangganya. Istrinya mengamini dan sering menambahkan kisah kerunyaman keluarga itu.
 
“Mas, mbak, kalian berdua adalah orang-orang hebat; kalian berdua adalah pasangan yang luar biasa. Kalian berdua sadar betul akan tujuan hidup perkawinan dan mau berjuang untuk mewujudkannya. Semua itu hebat dan luar biasa. Menurut saya apa yang hilang adalah seperti yang dikatakan Paus Fransiskus adalah kesadaran bahwa kalian ini orang yang tidak sempurna. Mas adalah seorang pria yang tidak sempurna lahir dari keluarga yang tidak sempurna; Sementara mbak adalah seorang perempuan yang tidak sempurna lahir dari keluarga yang tidak sempurna pula. Nah sekarang kalian mau membangun keluarga yang sempurna dengan menuntut kesempurnaan pasangan kalian; serta ingin segera terwujud keluarga yang sempurna. Itu aneh dan menurut saya sinting. Maka sekarang sadari betul bahwa saya bukan orang sempurna yang menikah dengan orang yang tidak sempurna pula. Maka usaha membangun keluarga yang sempurna harus diperjuangkan dari kesadaran ketidak sempurnaan ini. Belajar untuk saling memahami kekurangan, belajar mengampuni kekurangan dan juga berani mengakui kekurangan. Itu yang kalian usahakan dan perjuangkan sedangkan kesempurnaan sendiri biarlah Allah yang akan menganugerahkan,” kata saya menenangkan mereka.
 
Betapa banyak orang yang ingin menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri dan seolah-olah dapat diraih dengan usaha sendiri dan dengan bayangan sendiri lupa bahwa kesempurnaan hanya terjadi dengan rahmat Allah.  Apa yang terjadi menjadi frustasi.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu mengandalkan kekuatan sendiri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 09 Oktober 2021

Bacaan I: Yl. 3: 12-21
Injil: Luk. 11: 27-28

Tidak Pernah Selesai

Dalam sebuah kunjungan keluarga, saya mengunjungi seorang ibu yang sudah sepuh. Ibu  itu meskipun sudah sepuh tetapi masih kelihatan segar dan sehat. Aku di terima di ruang tamu beliau yang cukup nyaman. Dinding ruang tamu itu penuh dengan foto-foto keluarga. Saat saya melihat-lihat foto-foto itu, ibu menjelaskan satu persatu putra putrinya. Ibu itu menjelaskan mulai dari putranya yang pertama sampai yang ke lima. Beliau detail menjelaskan satu persatu, putranya lulus kuliah dari mana, kerja di mana, menantunya berasal dari mana, cucu-cucunya sekolah dimana semua lengkap. Ada rona kebahagiaan dalam diri ibu itu ketika menjelaskan tentang putra-putrinya.
 
“Wah luar biasa ya ibu, semua putra-putrinya sudah sukses, sekarang ibu tinggal menikmati keberhasilan putra-putri dan mendampingi mereka,” kata saya membuka percakapan.

“Betul romo, saya sekarang setiap hari bersyukur untuk semua yang telah saya terima dan alami. Saya setiap hari masih juga berdoa untuk anak, mantu dan cucu saya agar mereka selalu dalam lindunganNya. Saya bangga dengan mereka, karena mereka semua itu anak-anak yang mau prihatin. Bapaknya dipanggil Tuhan saat mereka masih kecil-kecil yang paling besar baru SMA dan paling kecil masih TK kalau tidak salah. Mereka tidak pernah menyusahkan, mereka anak-anak yang “nrimo” (rela menerima apa adanya) tidak pernah menuntut dan bahkan mereka tidak malu untuk mengantar makanan yang kami jual,”ibu itu bercerita.
 
“Luar biasa ibu. Sekarang ibu sudah lega ya, semua sudah mentas, sudah mandiri, sudah sukses,” kata saya.

“Ya lega tidak lega romo. Satu sisi saya sudah lega mereka sudah mentas dan berhasil dalam hidup mereka. Tetapi sebagai ibu, tugas saya belum selesai, dan mungkin tidak pernah selesai. Meskipun mereka sudah dewasa tetapi sebagai ibu selalu ada rasa was-was penuh harapan, agar anak-anak, menantu dan cucu tetap hidup rukun, tenteram dan tidak kekurangan suatu apapun. Maka saya tidak pernah berhenti berdoa untuk mereka. Saya sudah tidak lagi bisa mengatakan ini atau itu seperti dulu waktu mereka masih tinggal bersama saya; maka dengan doa saya menemani dan menjaga mereka.
 
Saat mereka menelpon menyampaikan kabar semua baik-baik saja, bagi saya sudah suatu kebahagiaan dan syukur;  meski untuk itu amat jarang karena kesibukan mereka. Kadang saya mau menelpon mereka atau minta mereka pulang; tetapi tidak pernah saya lakukan karena mereka sudah punya keluarga dan kesibukan masing-masing. Maka ya itu romo hanya doa dan doa yang saya lakukan. Saya masih selalu memohon agar pada saat nanti saya dipanggil Tuhan tetap selalu menjaga dan melindungi anak-anak saya,” ibu itu menjelaskan.
 
“Itulah ibu,” kataku dalam hati. Sosok yang telah memberikan dirinya, memberikan cintanya sehabis-habisnya pada putra dan putrinya. Kehebatan seorang ibu bukan pertama-tama pada keberhasilan putra-putrinya tetapi pada kesetiaannya menerima panggilan dan perutusan sebagai ibu dengan sepenuh hati dan sepenuh dirinya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus memuji ibuNya karena kesetiaannya dalam panggilan dan perutusanNya sebagai ibu. “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.