Renungan Harian: 11 April 2021

Renungan Harian
Minggu 11 April 2021
Minggu Paskah II (Kerahiman Ilahi)

Bacaan I: Kis. 4: 32-35Beb
Bacaan II: 1Yoh. 5: 1-6
Injil: Yoh. 20: 19-31

K r i t i s

Beberapa tahun yang lalu ada seorang ibu yang bercerita tentang pengalaman akan gangguan “roh halus”. Ibu itu bercerita bahwa di rumahnya sering ada kejadian-kejadian yang aneh dan sulit untuk dinalar. Salah satu hal yang paling menonjol adalah televisi di rumah sering nyala sendiri. Artinya di rumah itu tidak satu orang pun yang menyentuh televisi itu.  Karena merasa terganggu dengan kejadian itu maka atas saran teman-temannya mengundang orang “pinter” untuk mengusir makhluk pengganggu itu.
 
Ada beberapa orang “pinter” menegaskan bahwa di rumah itu ada makhluk halus yang mengganggu. Atas saran orang “pinter” itu beberapa barang seperti guci, beberapa hiasan disingkirkan, karena barang-barang itu yang menyebabkan makhluk halus itu datang dan betah di rumah itu. Maka ibu itu menyingkirkan benda-benda yang dimaksud. Namun gangguan itu tetap ada, televisi masih sering menyala sendiri. Orang “pinter” lain menegaskan juga adanya gangguan makhluk halus, maka beberapa barang yang ditunjuk supaya disingkirkan, namun tidak ada hasilnya.
 
Atas saran teman yang lain, ibu itu diminta mengundang seorang imam yang dikenal mempunyai kemampuan untuk mengusir makhluk halus. Imam itu datang dan berdoa di tempat ibu itu. Imam itu mengatakan bahwa tidak ada makhluk halus yang mengganggu. Imam itu menyarankan agar memanggil tukang servis televisi.  Lewat tukang servis itu diketahui bahwa timer di televisi itu diatur sedemikian sehingga akan menyala sendiri pada jam-jam tertentu.
 
Betapa penting sikap kritis berhadapan dengan sebuah peristiwa, tidak serta merta langsung mempercayai. Kristis tidak berarti selalu meragukan segala hal atau selalu hanya mengandalkan akal budi, akan tetapi kristis yang membawa pada sikap diskretif, sehingga tidak mudah terperosok.
 
Demikian pula dengan hidup beriman. Sikap kritis dan penggunaan akal budi amat penting sehingga hidup beriman menjadi semakin dewasa. Pengalaman-pengalaman rohani perlu untuk selalu dikritisi, ditimbang-timbang agar tidak mudah dijerumuskan pada pengalaman-pengalaman kegembiraan rohani semu.
 
Dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Thomas ditegur oleh Yesus karena sikap ketidakpercayaan akan kebangkitan Tuhan. Namun meskipun demikian sikap kritis Thomas, yang tidak begitu saja percaya menjadikan ia mengalami pengalaman iman yang mendalam sehingga sampai pada pengalaman  pengakuan “ya Tuhanku dan Allahku”. “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKU dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku beriman dengan kritis dan bijak?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 April 2021

Renungan Harian
Sabtu, 10 April 2021

Bacaan I: Kis. 4: 13-21
Injil: Mrk. 16: 9-15

Berdampak

Beberapa tahun yang lalu saya kedatangan tamu seorang ibu. Ibu itu meminta agar diizinkan untuk memberi kesaksian pada saat perayaan ekaristi hari Minggu. Ibu itu mau memberi kesaksian tentang pengalamannya mendapatkan penampakan Bunda Maria dan akan menyampaikan pesan bunda Maria kepada seluruh umat. Ibu itu diutus bunda Maria agar menemui saya  yang disebut putranya yang terkasih. Masih menurut ibu itu, sesuai pesan bunda Maria, saya pasti akan membantu.
 
Saya keberatan dan saya tidak mengijinkan ibu itu untuk memberi kesaksian dalam perayaan ekaristi, dan juga saya meminta agar pengalamannya tidak disebarkan di antara umat, secara khusus umat di paroki saya. “Ibu, saya ikut bersyukur bahwa ibu mendapatkan pengalaman penampakan bunda Maria. Namun demikian hendaknya ibu endapkan dan ibu olah terlebih dahulu jangan cepat-cepat disebarkan. Penting untuk dicek, benarkah itu penampakan bunda Maria? Karena setan juga bisa berpura-pura menjadi sesuatu yang baik. Dicek juga apakah itu sungguh-sungguh penampakan atau halusinasi atau ilusi,” saya menjelaskan alasan saya.
 
Ibu itu menjadi marah. “Romo, itu menghalang-halangi rahmat yang disampaikan melalui saya. Romo tidak punya iman dan penuh dosa sehingga tidak bisa menangkap dan mengerti mukjizat yang saya alami. Apalagi saya harus mengecek apakah benar bunda Maria atau roh jahat itu melecehkan bunda Maria. Romo telah menjadi orang terkutuk karena tidak mempercayai penampakan bunda Maria yang saya alami. Romo, saya melihat dan mengalami sendiri, jadi tidak ada yang bisa melarang saya. Saya tetap akan menyebarkan bahwa saya telah dipilih untuk menyampaikan pesan bunda Maria melalui penampakan kepada saya,” ibu itu ngomel dengan penuh emosi.
 
“Ibu mau menyebarkan silahkan tetapi tidak di paroki saya. Dengan ibu marah-marah dan mengutuk saya menjadi yakin bahwa ada sesuatu yang salah dengan pengalaman penampakan itu. Kalau benar ibu mengalami penampakan bunda Maria, pasti punya dampak terhadap kehidupan pribadi ibu. Ibu menjadi lebih rendah hati, lebih damai dan lebih welas asih kepada siapapun. Dan lagi, tadi ibu mengatakan bahwa bunda Maria menyebut saya sebagai putranya yang terkasih, sekarang ibu mengutuk saya,” jawab saya.
 
Ibu itu semakin marah dengan mengeluarkan sumpah serapah lalu pergi.
 
Sebuah pengalaman, artinya seseorang merasakan, mendengar, melihat dan mengalami sendiri sudah pasti tidak akan bisa diambil dari dirinya. Bahkan dalam tekanan pun pengalaman itu tidak bisa dihilangkan. Pengalaman rohani, pengalaman perjumpaan dengan Allah adalah pengalaman yang amat berharga bagi setiap orang beriman. Namun demikian seseorang perlu bijak menyikapi setiap pengalaman rohaninya. Perlu untuk didiskresikan dan direfleksikan terlebih dahulu jangan mudah untuk segera dibagikan atau disebarkan.
 
Salah satu hal penting dan mendasar adalah kalau benar itu pengalaman perjumpaan dengan Tuhan atau orang-orang kudus, pasti menghasilkan dampak yang positif bagi dirinya dan orang lain. Kalau tidak ada dampak positifnya  pantas untuk diragukan.
 
Sebagaimana pengalaman para murid sejauh diwartakan dalam Kisah Para Rasul, para murid tidak dapat dibendung walau diancam sekalipun untuk mewartakan pengalaman akan Yesus. Dan yang paling penting adalah pengalaman akan Yesus yang diwartakan berdampak positif bagi orang-orang yang mendengarnya. “Mana yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah kemampuanku untuk berdiskresi dan berefleksi?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 April 2021

Renungan Harian
Jumat, 09 April 2021

Bacaan I: Kis. 4: 1-12
Injil: Yoh. 21: 1-14

Peneguhan

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan berita bencana banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur. Bencana yang memporak porandakan daerah di Adonara dan Lembata. Banyak rumah yang hancur dan tertimbun material, pun pula ada banyak korban jiwa, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih dalam pencarian.
 
Berita yang menyedihkan, dan pasti memberikan duka yang mendalam bagi keluarga-keluarga yang terdampak. Tak terbayang duka yang dialami oleh saudara-saudara yang tertimpa bencana. Mereka kehilangan saudara, tempat tinggal, sumber penghasilan dan harus hidup dalam pengungsian. Mereka hari-hari ini belum tahu bagaimana harus menghadapi hari-hari selanjutnya.
 
Di balik berita-berita yang menyedihkan di Nusa Tenggara Timur itu, di media sosial beredar berita bahwa di salah satu Gereja, yang terdampak oleh bencana, meski di dalam gedung gereja porak poranda, tetapi patung Yesus, Bunda Maria dan Salib Yesus tetap berdiri tegak. Kejadian itu dianggap oleh umat di sana sebagai mukjizat.  Ada sebuah video yang menunjukkan bagaimana seorang umat yang menangis bersyukur melihat peristiwa itu.
 
Peristiwa  adanya “mukjizat” yang dialami oleh umat di situ sudah barang tentu tidak menghilangkan kenyataan adanya bencana, tidak pula membuat keadaan masyarakat di sana menjadi lebih baik. Keadaan mereka sebagai korban bencana dengan segala duka dan penderitaannya tetap ada. Namun demikian peristiwa itu memberikan peneguhan iman dan harapan bagi umat yang mengalaminya. Di balik duka dan derita mereka masih bisa mengalami syukur dan kebahagiaan dengan adanya peristiwa itu. Sehingga kiranya pengalaman itu menjadi kekuatan dan penghiburan untuk menjalani hari-hari yang amat berat di depan.
 
Tuhan punya caraNya sendiri untuk meneguhkan umatNya agar tidak menjadi kehilangan harapan dan putus asa. Cara Tuhan hadir dan meneguhkan lewat peristiwa ke seharian yang mungkin bagi banyak orang kelihatan biasa dan remeh, tetapi bagi yang peka menjadi mukjizat dalam hidup. Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, para murid diteguhkan dengan kehadiran Yesus dalam peristiwa kehidupan mereka sehari-hari. “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah kemampuan untuk mengalami dan merasakan sentuhan Tuhan dalam hidupku sehari-hari?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 8 April 2021

Renungan Harian
Kamis, 08 April 2021

Bacaan I: Kis.3: 11-26
Injil: Luk. 24: 35-48

Yang Terbuang, Yang Menghidupkan

Suatu siang, saya menerima tamu sepasang suami istri yang belum saya kenal. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah 2 kali datang ikut perayaan ekaristi di paroki tempat saya menjalani perutusan. Setelah sedikit berbasa basi mereka memperkenalkan diri bahwa bapak itu adalah putra dari keluarga salah satu umat di paroki kami.
 
Mendengar bapak itu memperkenalkan diri, saya amat terkejut. Saya kenal keluarga bapak itu, tetapi saya dan bahkan umat di sini tidak tahu kalau keluarga itu memiliki anak yang sekarang sudah hidup mapan. Keluarga itu selalu dibantu oleh paroki, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun bila harus berobat. Kedua orang tua itu sudah sepuh dan hidup serba kekurangan. Sejauh kami tahu mereka punya 3 orang anak yang sudah menikah tetapi kehidupan keluarganya juga amat sederhana.
 
Bapak itu nampaknya menangkap keterkejutan saya, sehingga beliau bercerita: “Romo saya tahu romo pasti terkejut mendengar bahwa saya putra dari keluarga itu. Mungkin juga romo menyalahkan saya kenapa saya seolah diam tidak mengurus orang tua dan saudara-saudara saya.
 
Romo, menurut cerita orang tua angkat saya, yang selama ini saya kenal sebagai orang tua kandung saya, saya adalah bayi yang dibuang oleh ibu saya. Saya dibuang di tempat sampah, dan kemudian ditemukan oleh warga. Berita yang heboh waktu itu di kampung. Kemudian, saya diambil oleh tua angkat saya yang memang tidak punya anak. Kemudian karena papa pindah tugas, maka saya dibawa ke tempat tugas yang baru.
 
Orang tua angkat saya tahu siapa orang tua kandung saya karena waktu itu ibu kandung saya ditangkap polisi, dan orang tua angkat saya mencatat identitas beliau. Romo, saya tahu siapa orang tua kandung saya belum lama dan sebenarnya waktu saya diberi tahu ada perasaan marah dan tidak peduli dengan orang tua kandung saya karena sudah membuang saya. Tetapi karena nasehat orang tua angkat saya dan dorongan istri saya agar saya mengampuni dan mencari orang tua kandung saya.
 
Romo, sekarang ini saya mau memberitahu romo, bahwa orang tua kandung saya akan saya ajak tinggal di rumah saya, agar mendapatkan perawatan dan perhatian yang lebih baik. Sekarang saya sudah tidak marah dan dendam lagi romo, saya menghormati dan mencintai mereka. Saya bercanda dengan orang tua angkat dan istri saya,: “untung saya dibuang, kalau tidak dibuang saya tidak seperti ini.” Demikian romo, maksud kedatangan saya.”
 
Sebuah pengalaman tidak mudah yang dialami bapak itu. Namun pengampunan dan cinta yang diberikan kepada orang tua kandungnya menjadikan kehidupan orang tua kandungnya lebih sejahtera. Pengalaman membuang bayi kiranya juga menjadi luka batin amat  dalam bagi ibu kandungnya yang selama ini tersimpan rapat. Sehingga pengampunan dari anak yang dibuang menjadikan hidupnya lebih damai, lukanya menjadi tersembuhkan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengutus para murid untuk mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa, karena dengannya manusia menjadi hidup dan dikembalikan kepada martabat luhur sebagai manusia. “Dan lagi, dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mudah untuk memberikan pengampunan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 April 2021

Renungan Harian
Rabu, 07 April 2021

Bacaan I: Kis. 3: 1-10
Injil: Luk. 24: 13-35

Frustasi

Setelah merayakan ekaristi di penjara, kami makan siang bersama dengan warga binaan di situ. Saat makan saya ngobrol dengan salah satu warga binaan. Dia masih muda, usianya 20-an. Penampilannya sopan, berpakaian rapi dan bicara juga sopan. Apa yang saya lihat dan rasakan tidak seperti apa yang telah dilakukannya.
 
Dia dipenjara karena kasus penjambretan dengan kekerasan. Dia bercerita bahwa ini bukan pertama kali dipenjara, sudah berulang kali keluar masuk penjara dengan kasus yang sama. Dengan amat hati-hati saya bertanya apakah dia tidak kapok berkali-kali di penjara. Dengan enteng anak muda itu menjawab bahwa tidak ada pilihan bagi dia selain hidup seperti ini.
 
Dia mengatakan bahwa dia merasa “nyaman” hidup seperti ini, karena dia diterima oleh teman-temannya. Meski dia hidup dengan cara demikian tetapi dia merasakan adanya solidaritas yang luar biasa dengan teman-temannya. Bahkan selama di penjara, dia selalu mendapatkan kiriman uang dari teman-teman yang ada di luar sana.
 
Dia pernah berusaha untuk mengubah hidupnya dan pulang ke kampung halamannya. Tetapi di keluarganya dia ditolak, dan di antara orang-orang sekampungnya juga “tidak diterima” karena semua tahu bahwa dia adalah mantan narapidana yang baru keluar dari penjara. Dia telah berjuang untuk bertahan di rumah dan kampungnya tetapi tidak tahan dengan perlakuan orang-orang di rumahnya. Bahkan sering kali dia menjadi kambing hitam untuk kesalahan-kesalahan yang ada di rumah dan kampungnya meski dia tidak berbuat apapun yang salah.
 
Pengalaman ditolak oleh keluarga dan orang-orang di kampungnya membuat dia memutuskan untuk kembali ke tengah-tengah teman-temannya. Dia tahu dan sadar bahwa teman-temannya itu penjahat tetapi justru mereka yang jahat itu bisa menerima dia, dan dia merasakan dimanusiakan oleh mereka.
 
Sebuah pengalaman yang menyedihkan dari seorang anak muda ini. Seolah tidak ada kesempatan dan ruang untuk memperbaiki hidupnya. Dia membutuhkan ruang untuk diterima dan dicintai agar bisa berubah. Dia selalu kembali ke dunia gelapnya karena dia merasa menemukan cinta di dunia semacam itu, sementara dunia yang lebih “terang” telah menolaknya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, mengisahkan 2 orang murid yang pergi ke Emaus. Mereka adalah murid yang sudah frustasi, kehilangan harapan dan akan kembali ke kehidupan yang lama. Namun kemudian tidak jadi karena menemukan kembali pengalaman cinta Tuhan. Mereka mengalami kembali cinta Tuhan yang hilang saat mereka melihat Yesus memecahkan roti. Pengalaman itu membuka kembali pengalaman cinta yang hampir punah itu, bahkan mereka menyadari betapa hati mereka berkobar-kobar saat mendengarkan Yesus. Bisa jadi 2 murid yang pergi ke Emaus itu akan kembali menjadi manusia lamanya lagi andai tidak menemukan cinta Tuhan. “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
 
Bagaimana dengan aku? Pengalaman khas apa yang kualami berkaitan dengan cinta Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 April 2021

Renungan Harian
Selasa, 06 April 2021

Bacaan I: Kis. 2: 36-41
Injil: Yoh. 20: 11-18

Tuhan ada di mana?

Siang itu, saya menerima kabar duka, ada seorang ibu yang meninggal. Saya mengenal baik ibu itu, beliau tinggal dengan suaminya dan tidak memiliki putra. Maka saya segera ke rumah almarhum untuk menemui suaminya. Bapak yang amat saya kenal karena kami sering ngobrol dan beliau sering memberi masukan berkaitan dengan khotbah-khotbah saya.
 
Bapak itu duduk di ruang tamu, nampak amat berduka meski tidak menangis. Sementara warga lingkungan berdatangan membereskan rumah agar dapat menerima warga yang mau melayat. Ketika saya menyampaikan duka cita, beliau menjawab:
“Romo, saya amat kehilangan ibu. Sekarang bagi saya semua gelap. Romo tolong bantu mengurus ibu sebaik mungkin, saya pasrah ke romo, saya tidak bisa mikir.”
 
Saya menawarkan untuk mengantar dan menemani bapak itu ke rumah sakit untuk melihat istrinya dan beliau setuju. Saya mengantar ke rumah sakit, dan bapak itu menangis melihat jenazah istrinya. “Selamat jalan ya djeng, sebentar lagi saya nyusul”, bapak itu berbisik.
 
Setelah selesai upacara pemakaman, sore hari saya berkunjung ke rumah bapak itu untuk ikut doa bersama dengan umat lingkungan. Selesai doa bapak itu bertanya:
“Romo, Tuhan ada dimana ya? Saya mau minta agar saya boleh ikut istri saya.” Saya hanya diam, amat menyedihkan mendengar beliau mengatakan hal itu.
 
Ketika merayakan ekaristi mengenang 40 hari ibu itu dipanggil Tuhan, bapak itu bercerita:
“Romo, saya sudah bertemu dengan Tuhan, dan saya sekarang sudah tenang. Saya sudah mengikhlaskan dia pergi mendahului saya, dan pada saatnya nanti saya akan menyusul dia. Saya merasakan disapa Tuhan, saat saya berdoa rosario, yang sebenarnya sebagai pengantar tidur saya. Saya seperti mendengar suara bapak saya memanggil saya dan membuat saya tersadar, bahwa saya telah tenggelam dalam kesedihan yang justru membuat perjalanan istri saya tersendat, dan saya ditegur seperti orang yang tidak beriman. Saya diingatkan dengan percakapan kami berdua, tentang bagaimana nanti seandainya salah satu dari kami dipanggil terlebih dahulu. Kami telah berjanji tidak akan tenggelam dalam kesedihan karena cinta kami tidak terpisahkan juga oleh kematian.
 
Saya sadar romo, dia sudah bahagia, saya tahu dia dimana, hanya untuk menghubunginya saya belum menemukan kode areanya. (istilah kode area no telepon). Saya yakin suatu saat saya akan menemukan kode area itu.
 
Sejak saat itu saya melihat bapak itu lebih segar, kelihatan sudah kembali ke kesibukannya dan selalu misa pagi lagi sendirian. Sekarang beliau ke gereja selalu naik sepeda, karena sekarang sendirian.
 
Sebagaimana pengalaman Maria Magdalena  tidak mengenali Yesus meski Yesus berdiri di dekatnya. Kesedihan dan duka yang mendalam menjadikannya tidak mampu mengenali Yesus. Namun saat Yesus memanggil namanya Ia langsung mengenalnya. “Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepadaNya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya “Guru.”
 
Bagaimana dengan aku? Pengalaman personal macam apa yang membuat aku mudah menemukan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 April 2021

Renungan Harian
Senin, 05 April 2021

Bacaan I: Kis. 2: 14. 22-32
Injil: Mat. 28: 8-15

Rendez Vous

Beberapa waktu lalu saya kedatangan tamu pasangan suami istri yang mengalami masalah dalam keluarga. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya diantara mereka tidak ada keributan dan tidak juga ada persoalan besar namun mereka merasa kok jenuh dan bosan. Mereka berpikir apakah tidak baik kalau mereka berpisah untuk sementara waktu, hidup sendiri-sendiri lalu nanti entah kapan mereka bersatu lagi.
 
Saya agak terkejut dengan permintaan mereka, meskipun saya bisa mengerti bahwa dalam perjalanan perkawinan, mereka bisa mengalami rasa jenuh dan bosan. Saya menyampaikan berpisah tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru akan menjadi tidak baik. Hal yang terbaik adalah mencoba bersama-sama mencari kenapa mereka menjadi jenuh dan bosan.
 
Saya mengusulkan supaya mereka pergi jalan-jalan ke tempat-tempat dimana dahulu mereka sering melewatkan, waktu ketika masih pacaran, atau mengunjungi tempat yang memberi kesan mendalam bagi perjalanan cinta mereka.
 
Dua bulan kemudian mereka datang lagi dan dengan berbinar menceritakan bahwa mereka tidak akan pisah. Mereka sekarang menemukan cinta mereka lagi yang lebih semarak dan menyala. Mereka bercerita bahwa ketika mereka mengunjungi tempat-tempat dimana mereka sering melewatkan waktu pacaran mereka, mereka mengalami kembali kemesraan, dan seperti dinyalakan lagi gairah cinta mereka. Bahkan mereka mengunjungi tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan saling tertarik.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, para murid diminta untuk kembali ke Galilea tempat mereka berjumpa dan mengalami hidup bersama Yesus. Para murid yang kehilangan Yesus dan harapannya diajak kembali untuk mengenang perjalanan perjumpaan sehingga mereka diingatkan lagi akan Sabda-SabdaNya dan diteguhkan. “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku menemukan “Galilea” ku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 April 2021

Renungan Harian
Minggu, 4 April 2021
Hari Raya Paskah

Bacaan I: Kis. 10: 34a. 37-43
Bacaan II: Kol. 3: 1-4
Injil: Yoh. 20: 1-9

Mengolah Kesepian

Pengalaman yang paling berat dalam perjalanan hidup manusia adalah pengalaman kesepian. Kesepian tidak berarti karena hidup sendiri atau terisolir, akan tetapi pengalaman ketika merasakan hati yang kosong dan merasa sendiri. Bisa terjadi bahwa dirinya ada di antara banyak teman dan saudara, bisa juga dirinya hidup dalam keramaian, akan tetapi hati merasa kosong, hampa dan sendiri. Kesepian bisa menghinggapi siapa saja dan kesepian paling mencekam manakala seseorang merasa kehilangan cinta dalam dirinya.
 
Bagaimana seseorang menghadapi kesepian hidupnya, ada banyak cara. Ada orang yang melarikan diri dengan berbagai cara untuk melupakan kesepiannya, baik menempuh jalan yang positif maupun menempuh jalan yang negatif. Tidak jarang orang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu menghadapi kesepian.
 
Kemampuan menghadapi dan mengolah kesepian sering kali dijadikan ukuran kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang. Mereka yang “melarikan” diri dari kesepian dengan mengisi hidupnya dengan kegiatan-kegiatan positif  akan disebut lebih dewasa dan lebih bijak dibandingkan dengan mereka yang “melarikan” diri dengan melakukan hal-hal yang negatif.
 
Berapa banyak orang yang mampu mengolah kesepian tidak dengan melarikan diri, tetapi berani menikmati kesepiannya dan tetap berpegang teguh pada harapan, serta berani berjuang menemukan kepenuhan dirinya?
 
Makna kebangkitan bagi saya adalah ketika aku menemukan kepenuhan diriku setelah aku berani menatap dan menikmati kesepianku tidak dengan “melarikan” diri. Mungkin tidak terhitung air mata atau “keringat darah” yang tertumpah untuk berani bertahan menatap dan menikmati kesepian. Kebangkitan berarti kemenangan melawan godaan untuk “lari” dan berani menikmati kesepian sembari tetap bertahan dalam pengharapan.
 
Bagaimana dengan aku? Apa makna kebangkitan bagiku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 April 2021

Renungan Harian
Sabtu 03 April 2021
Hari Sabtu Suci (Vigili Paskah)

Bacaan I: Kej. 1: 1-2: 1
Epistola: Rom. 6: 3-11
Injil: Mrk. 16: 1-8

Manusia Bebas

St. Ignatius Loyala dalam buku latihan rohani memberikan bahan Contemplasi yang tidak bersumber dari Kitab Suci, yaitu Contemplasi Penampakaan pertama Yesus sesudah bangkit kepada Bunda Santa Perawan Maria. Dalam latihan rohani dikatakan: “Dia menampakkan diri kepada Perawan Maria, meskipun tak tersebut dalam kitab, kiranya orang tahu, karena disebutkan bahwa Dia telah menampakkan diri kepada begitu banyak orang lain. Kitab suci menganggap kita punya budi seperti  tertulis: tiada berbudikah kamu?” (LR. 299).
 
Saya membayangkan bunda Maria, yang amat sedih dalam kesendirian, masih terbayang bagimana Putra yang dikasihinya dihujat, dihina, disiksa dan disalibkan. Masih terbayang bagaimana dirinya, memakamkan Putranya dibantu saudara dan sahabat. Duka yang amat mendalam menjadi derita yang luar biasa yang harus dialami.
 
Sebagaimana selalu digambarkan, bunda Maria menyimpan segala perkara dalam hatinya, kiranya bunda Maria juga sedang menegaskan apa yang menjadi kehendak Allah dengan segala peristiwa ini. Entah apakah ia menemukan jawabnya atau tidak.
 
Dalam suasana seperti itu, Yesus menampakkan diri kepadanya. Bukan hanya seorang Putra yang menampakkan diri kepada ibunya tetapi lebih dari itu Allah yang menampakkan diri pada umat yang setia kepadaNya.
 
Bunda Maria mengalami kebahagiaan yang luar biasa namun dia tidak berteriak sorak-sorai tetapi menyimpan pengalaman syukur yang amat dalam, karena dia mengerti bahwa janji Tuhan terlaksana. Ia mengerti akan makna seluruh penderitaan yang ditanggungnya karena di balik semua penderitaan itu ada pengalaman kebahagiaan yang luar bisa, bahwa Tuhan tidak pernah lupa akan janjiNya. Pengalaman bunda Maria, berjumpa dengan Putranya yang sudah bangkit memberi makna mendalam akan arti duka dan derita karena setia pada janji Tuhan.
 
Pengalaman kebahagiaan dan syukur yang mendalam itu membebaskan bunda Maria dari belenggu duka. Bunda Maria tidak lagi terikat pada pilihan duka, derita atau bahagia, gembira, tidak juga terikat pada pilihan hidup atau mati, kaya atau miskin akan tetapi pilihannya adalah setia pada Tuhan.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah pengalaman kebangkitan Tuhan menjadikan aku sebagai orang bebas?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 2 April 2021

Renungan Harian
Jum’at 2 April 2021
Hari Jum’at Agung

Bacaan I: Yes. 52: 13-53: 12
Bacaan II: Ibr. 4: 14-16. 15: 7-9
Injil: Yoh. 18: 1-19: 42

M a r i a

Kesetiaan bunda Maria, menemani Yesus dalam perjalanan derita sengsara hingga di bawah kayu salib adalah teladan kesetiaan orang beriman. Sudah tentu ada pilihan bagi bunda Maria untuk lari meninggalkan Yesus dan menyelamatkan diri sebagaimana terjadi pada para murid. Namun bunda Maria memilih untuk setia dengan segala resiko; ia tidak menolak untuk mengakui bahwa ia adalah ibu dan muridNya.
 
Yesus bersabda bahwa apapun yang orang lakukan untuk orang yang miskin, menderita dan tersingkir berarti dilakukan untuk DiriNya. Oleh karena itu kesetiaan Maria adalah juga wujud kesetiaan Gereja bagi mereka yang lemah, miskin, menderita dan tersingkir.
 
Pada hari ini kita merenungkan sengsara dan wafat Tuhan. Salah satu hal yang layak untuk direnungkan adalah soal kesetiaan imanku. Apakah aku mampu setia berpegang teguh pada imanku manakala aku ada dalam pilihan untuk lari meninggalkan imanku menyelamatkan diri demi “kenyamananku” ataukah aku berani memilih untuk setia dengan imanku. Pun kalau kehadiran Tuhan kurasakan pada diri orang yang lemah, miskin dan tersingkir?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.