Refleksi Sahabat CLC – “MENEMUKAN TUHAN MELALUI PROFESI GURU”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus. Untuk itu kami sajikan tulisan refleksi dari Ibu Dra. Magdalena Indria Dewi.

Ibu Magda lahir di Padang tanggal 24 April 1964.
Masuk CLC tahun 1983 kelompok Metanoia.
Menjadi Pendamping Kelompok Kecil CLC yaitu Kelompok Fidelis, Kelompok IFO, Kelompok Pierre Favre, dan Kelompok Francis Xave.
Dalam Kepengurusan CLC :
Bendahara Lokal Yogyakarta ( Waktu CLC muda sekitar tahun 1984)
Bendahara Yogyakarta ( CLC tua )
Bendahara CLC Nasional,
Ketua CLC Yogyakarta.

Profesi saat ini adalah Guru SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

MENEMUKAN TUHAN DALAM PROFESI SEBAGAI GURU

Oleh Magdalena Indria Dewi

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional, membuat saya melihat 35 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang guru.

Pada mulanya sebagai orang muda penuh dengan keidealisan ingin mencerdaskan anak bangsa, merasa cukup ilmu untuk terjun ke sekolah . Surat lamaran kebeberapa sekolah yang punya nama di Yogyakarta, tetapi  tidak  mendapat balasan. Mungkin karena saya belum lulus dari IKIP Sanata Dharma.

Kemudian saya mendapat informasi SMA St Thomas membutuhkan tenaga pengajar Matematika, saya diterima dengan tangan terbuka. Dengan semangat saya mempersiapkan untuk mengajar, ternyata situasinya sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, materi Matematika yang saya kuasai rasanya  sia-sia, anak-anak  tidak memperhatikan pelajaran saya,

Suatu ketika pada saat saya merasa gagal sebagai seorang guru, saya masuk ke kelas memberi pekerjaan ke anak-anak, kemudian saya berkeliling, bukan untuk menanyakan soal yang mereka kerjakan, tetapi ngobrol secara pribadi dengan mereka satu persatu, tentang asalnya ( karena kebanyakan mereka bukan  dari  Yogyakarta ), keluarganya. Ternyata setelah itu sikap mereka berubah, mereka mulai memperhatikan ketika saya mengajar. Waktu istirahat hanya saya habiskan bersama mereka, relasi saya dengan anak-anak semakin akrab, saya semakin tahu latar belakang keluarga mereka, sehingga saya makin memahami mereka.

Keidealisan saya untuk membuat mereka menguasai pelajaran Matematika berubah  mereka menyukai pelajaran Matematika. Saya semakin menghayati profesi saya sebagai guru, saya melihat keindahan menjadi seorang guru, bukan hanya untuk mentransfer ilmu saja  tapi bagaimana menghargai setiap pribadi anak didik dengan segala keunikannya. Beruntung saya di CLC dilatih untuk sharing, mendengarkan, memahami, menghargai setiap pribadi .

Anak-anak SMA St Thomas sudah kenyang dengan nasehat-nasehat, mereka lebih senang mendengarkan, sharing-sharing saya.

Saya berterima kasih dengan SMA St Thomas, karena di situlah saya ditempa sebagai seorang guru yang sesungguhnya. Dan memantapkan panggilan hidup saya sebagai seorang guru.

Ketika saya ditempatkan disekolah negeri saya tidak mengalami kesulitan lagi dalam hal pendekatan dengan anak-anak. Tantangan yang dihadapi berbeda, di tengah kelompok mayoritas bukan Katolik, saya belajar menjadi pribadi yang kokoh, tidak terbawa arus kebiasaan yang kurang baik, saya semakin menghayati tugas orang Kristiani itu menjadi garam, bukan hal besar yang dilakukan tetapi mewarnai.

Di masa pandemi mendidik anak lebih sulit, karena tidak berhadapan langsung dengan anak-anak, memang terasa ada yang sangat berbeda, soal materi mereka lebih canggih untuk eksplore di internet.

Tetapi pendidikan karakter tidak bisa maksimal tanpa ada komunikasi langsung, saya hanya  menjadi akrab dengan anak-anak yang sering bertanya lewat WA.

Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi, masih menjadi PR buat saya bagaimana  dalam situasi yang sangat terbatas, tetapi dapat menjalin relasi hati dengan anak-anak.

Yang menarik buat saya ketika studi banding untuk pembelajaran tatap muka ke SMA negeri lain yang sudah uji coba tatap muka. Mereka mengatakan “ target kami tidak pada penguasaan  kompetensi, tetapi bagaimana membentuk karakter  anak didik “

Tiga tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun, melihat perjalanan hidup saya sebagai seorang guru, membuat saya terkagum-kagum akan peran Tuhan yang mendidik saya secara personal. Tidak selalu mudah untuk memahami waktu itu, bahkan harus mengeluarkan airmata, merasa gagal.

Setiap saya merasa sudah tahu, tantangan baru muncul lagi. Ya mungkin seumur hidup saya harus belajar

Lepas bebas, cura personalis, magis yang dulu jauh dalam pikiran saya, semakin dapat saya pahami setelah merefleksikan setiap peristiwa yang saya alami. Spiritualitas Ignatian sangat membantu dalam menemukan Tuhan dalam peristiwa hidup saya

Dokumentasi kebersamaan yang penuh kegembiraan bersama para siswa SMAN Depok Sleman Yogyakarta

Refleksi Sahabat CLC – “MODEL PEMBELAJARAN PASCA PANDEMI”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus.

Dalam edisi ini kami sajikan tulisan dari Bp.
Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

Pak Eka lahir di Sukoharjo, 20/10/63. Gabung CLC 1985, pernah jadi ktua CLC lokal yogya, wakil keyua dan ketua nasional serta pernah jadi anggota CLC di Manila 1992 sd 1993. Sekarang dosen Informatika USD.

Model Pembelajaran Pasca Pandemi

Oleh Johanes Eka Priyatma

Kita memetik pelajaran berharga dari pembelajaran daring selama pandemi ini. Ternyata,
meskipun sudah menggunakan teknologi internet dan multimedia yang canggih, pembelajaran
daring tetap terasa garing. Suasana belajar garing ini membuat gairah belajar menurun. Bukan
hanya mahasiswa tetapi dosen juga merasakan suasana garing ini. Sejalan dengan harapan pandemi
akan segera berakhir lewat program vaksinasi, apakah pembelajaran pasca pandemi sebaiknya
kembali sepenuhnya ke luring ?
Sejatinya, garingnya pembelajaran daring bukan karena tiadanya tatap muka di kelas
melainkan hilangnya sebagian besar interaksi sosial yang menyertainya. Peristiwa belajar hanya
akan berlangsung efektif dan bermakna bila menjadi bagian dari interaksi sosial yang otentik.
Mahasiswa akan bergairah belajar bila itu berlangsung di antara berbagai kegiatan sosial seperti
ngobrol di luar kelas, menikmati camilan di kantin rame-rame, ataupun sibuk dengan berbagai
kegiatan kemahasiswaan.
Pembelajaran daring telah memberikan pengalaman mendalam bahwa belajar bukan
semata perkara teknis menyangkut ketersediaan bahan ajar, sarana komunikasi, serta sistem
evaluasi yang tepat. Belajar selalu tidak sederhana karena menyangkut berbagai faktor sosial yang
berelasi secara kompleks. Relasi sosial ini akhirnya akan memengaruhi sikap dan semangat
belajar. Dengan kata lain, belajar adalah peristiwa sosial dan bukan semata individual.
Sementara itu, pembelajaran daring sebenarnya menawarkan berbagai nilai tambah seperti
efisiensi, fleksibilitas, perluasan jangkauan, serta kemandirian. Sayangnya, berbagai nilai tambah
ini tidak berpengaruh positif terhadap gairah belajar bila pembelajaran berlangsung sepenuhnya
daring. Dari survey yang melibatkan 8500 mahasiswa dan 275 dosen di sebuah PTS di Yogyakarta,
93 % mahasiswa dan 85 % dosen merasa lebih bersemangat belajar dan mengajar bila dapat
bertatap muka kembali.
Setelah pandemi berlalu dan interaksi sosial fisik kembali normal, saya kuatir kita akan
kembali memakai model pembelajaran yang sepenuhnya luring. Bila ini yang terjadi, kita akan
sangat merugi. Pengalaman masif menjalani pembelajaran daring selama setahun tidak mengubah
secara signifikan pembelajaran tradisional yang sudah lama mendapat banyak kritik jauh sebelum
pandemi terjadi. Kehadiran teknologi e-learning selama 25 tahun terakhir yang tidak mengubah
signifikan model pembelajaran tradisional menjadi fakta mencolok betapa kekuatiran ini sangat
relevan.
Idealnya, pengalaman setahun ini menjadi bekal bernilai dan konkrit untuk
mentransformasi pembelajaran tradisional kita menjadi lebih berkualitas. Kita tentu berharap
pandemi segera berlalu tetapi selayaknya sedih bila pandemi tidak mengubah pembelajaran
menjadi lebih berkualitas.
Secara umum ada dua hal pokok yang sebaiknya kita lakukan. Pertama, pembelajaran
sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan seluas-luasnya sumber belajar di internet. Kedua,
internet dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan relasi yang efisien, fleksibel, serta
memperluas jangkauan akses belajar.
Dua langkah transformatif ini, secara konseptual mengarah kepada model pembelajaran
terbalik (flipped). Memakai model ini, kelas fisik tetap berlangsung tetapi orientasi dan jenis
aktifitas utamanya bukan untuk ceramah. Interaksi di kelas diubah supaya mahasiswa lebih aktif
terlibat dalam perbincangan lewat diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, debat, maupun
seminar.
Dalam pembelajaran terbalik, mahasiswa dituntut belajar mandiri terlebih dahulu sebelum
mengikuti kuliah. Mahasiswa belajar mandiri memakai bahan yang disediakan dosen di laman
belajar (Learning Management System /LMS). LMS berisi sumber belajar yang kaya bentuk seperti
teks, gambar, multimedia, maupun tautan ke berbagai alamat di internet. Pada LMS ini dosen perlu
memandu mahasiswa menjalani dinamika belajar mandiri yang efektif sekaligus menantang.
Dosen harus memastikan mahasiswa menjalani dinamika belajar tersebut, misalnya dengan
mewajibkan mengumpulkan tugas sebelum mengikuti kuliah.
Ketika kegiatan kuliah di kampus berubah menjadi interaksi dialogis yang intensif antara
dosen, mahasiswa, dan antar mahasiswa maka kualitas belajar akan meningkat drastis. Lewat
diskusi, tanya-jawab, serta debat yang konstruktif, kedalaman dan perluasan pengetahuan akan
terjadi secara alami dan otentik. Dinamika belajar ini akan membuka kesempatan yang luas bagi
perbincangan keilmuan yang kontekstual dengan berbagai persoalan sosial terkait. Model interaksi
di kelas ini akan menyemai kemandirian berpikir dan bersikap mahasiswa. Kemandirian itu sangat
lemah selama ini karena model pembelajaran kita yang cenderung monolog dan informatif semata
sehingga miskin dialog yang transformatif.
Dalam perspektif yang lebih luas, pembelajaran modern yang kontekstual sebaiknya
dilangsungkan bukan hanya dalam bentuk campuran antara daring dan luring tetapi menggunakan
gagasan ruang sibernetik (cybernetics space). Mitra dan Schwartz (2001) mengusulkan cara
pandang sibernetika (cybernetics) dalam melihat realitas saat ini. Ini adalah cara pandang integratif
yang tidak memisah-misahkan antar komponen. Memakai cara pandang ini, ruang siber/maya
(cyberspace) dan ruang fisik (physical space) dipahami sebagai satu kesatuan dan menjadi ruang
hibrida baru cybernetic space (ruang sibernetik).
Gagasan ruang sibernetika dapat menjadi paradigma untuk menata ulang praksis pendidikan
kita. Kerangka ini memberi panduan setidaknya dalam empat wilayah besar pembelajaran yakni
identitas dosen dan mahasiswa, relasi antara keduanya, pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi
kepentingan kedua belah pihak, serta ‘ruang’ di mana relasi tersebut berlangsung.
Karena pengetahuan tersedia melimpah di jagad maya maka identitas dan relasi dosenmahasiswa sebagai yang ‘mahatahu’ dan yang ‘kurang tahu’, semakin sumir. Perubahan identitas
dan relasi ini juga mencakup perubahan cara, waktu dan tempat relasi. Kerangka sibernetik akan
memaksa dosen dan mahasiswa menyiapkan diri sebagai warga sibernetik dengan tata relasi yang
baru. Di alam baru ini, eksistensi dan kehadiran harus mewujud baik di ruang fisik maupun maya.
Kegiatan memberi informasi sebaiknya diganti menjadi mengkritisinya. Ruang kerja dosen akan
sama penting dengan akun media sosial. Komunikasi visual dan verbal serta formal dan informal
akan menjadi sama penting.
Karena kurang siap, kita mungkin memaksa mahasiswa sepenuhnya belajar di ruang fisik. Ini
merugikan karena pendidikan akan kehilangan kesempatan menegosiasikan ruang fisiknya
menjadi bagian penting ruang sibernetik. Padahal, ruang fisik memiliki nilai tersendiri dibanding
ruang maya, seperti otentisitas, kepastian, kehangatan otentik serta kepermanenan. Sementara itu,
bagi mahasiswa ruang fisik haruslah semudah dan senyaman ruang maya. Konsekuensinya, kelas,
laboratorium, perpustakaan, dan kantin perlu ditata ulang menjadi bagian ruang sibernetik dalam
arti ketersediaan dan kualitas sarana fisikal sama penting dengan sarana digital.
Pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi hal paling pokok dalam pembelajaran memang
menjadi hal yang paling sulit untuk digagas ulang dalam ruang sibernetik ini. Perkara ini menjadi
semakin pelik manakala pengetahuan dan nilai-nilai kita pahami lebih sebagai perkara otoritas
yakni menjadi hak milik, bersumber pada, atau kewenangan dari pendidik. Internet telah lama
menegasikan hal ini karena informasi dan pengetahuan telah bersifat terbuka, demokratis,
melimpah, dan murah. Perbincangan yang jujur dan reflektif dapat menjadi salah satu solusi dalam
perkara ini.
Akhirnya, internet bukan hanya sarana untuk memasuki ruang maya tetapi lebih pas kita
dudukkan sebagai sarana untuk hidup dalam ruang sibernetik. Cara pandang ini membawa
konsekeunsi bahwa sejatinya e-learning tidak dapat serta merta menggantikan traditional
learning. Ini juga memperjelas mengapa keberhasilan e-learning meningkatkan kualitas hasil
belajar masih belum signifikan (Sun dkk., 2008). Untuk itu sistem-sistem pembelajaran berbasis
internet perlu dikembangkan dalam perspektif sibernetik, terutama dalam mempertimbangkan
aspek-aspek non-virtualnya. Kuncinya terletak pada terintegrasinya aspek-aspek penting dalam
belajar yang justru banyak terkait dengan persoalan di ruang non-virtual seperti motivasi,
penerimaan, dukungan dan kebersamaan.

Referensi


Mitra, A., & Schwartz, R.L. (2001). Rethinking the Relationship between Real and Virtual Spaces
Journal of Computer-Mediated Communication. http://www.ascusc.org/

Sun, P.C., Tsai, R.J., Finger, G., Chen, Y.Y. & Yeh, D. (2008). What drives a successful eLearning? An empirical investigation of the critical factors influencing learner satisfaction.
Computer & Education, 50 (4), 1183–1202.

Biodata Penulis:

  1. Penulis adalah Rektor Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia
  2. Pendidikan terakhir S3 Sistem Informasi Universiti Putra Malaysia
  3. Pekerjaan tetap : Dosen pada Jurusan Teknik Informatika Sanata Dharma

Bersama para Wakil Rektor Universitas Sanata Dharma

Bersama para mahasiswa

Bersama CLC dan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam acara CLC di Yogyakarta

Bersama keluarga tercinta

Refleksi Sahabat CLC – “HIDUP BARU KARENA MARIA”

Pada bulan Mei bulan Maria ini kami sajikan tulisan refleksi dari Bp. Drs. T. Adi Susila, MM. dengan judul tulisan “Hidup Baru Karena Maria”.

HIDUP BARU KARENA MARIA

Oleh: Tarcisius Adi Susila

Mei adalah bulan Maria. Seorang imam Yesuit, Gerard Manley Hopkins, yang me­ning­gal pada usia 44 tahun di Dublin, meninggalkan sebuah kenang-kenangan be­rupa puisi berjudul “Magnificat Mei”. Tradisi yang terkait dengan Mei bulan Maria, bukanlah berasal dari Gerard Manley Hopkins SJ, tetapi dari para imam Yesuit yang tinggal di Kolese Roma (Collegium Romanum, sekarang Universitas Gregoriana), yang kini sudah berumur lebih dari 450 tahun, yang memperkenalkan kebiasaan mem­per­­sembahkan bulan Mei untuk menghormati Bunda Maria.

Pada tahun 1563, tujuh tahun setelah Ignatius wafat, seorang imam Ye­suit, Jean Leunis SJ, diutus Serikat Yesus untuk menjadi pamong bagi para maha­siswa yang tinggal dan belajar di Ko­lese Roma. Sebagai pendidik, dia memben­tuk sebuah komunitas Kaum Muda yang diberi nama Prima Primaria (cikal bakal dari Kongre­gasi Maria, Sodality of Our Lady, atau di kelak kemudian hari menjadi Chris­tian Life Com­munity), sebuah komunitas pembinaan kaum muda yang ber­lindung pada Bunda Maria. Bisa dipahami bahwa pada abad 15-16, telah ber­kembang dengan subur devosi kepada Bunda Maria karena pengaruh dari sekolah spiritu­alitas Pe­rancis. Jean Leunis, waktu itu masih frater skolatistik, memperke­nal­kan prak­tek-praktek hidup rohani yang mem­bantu kaum muda bertumbuh dalam iman, seperti: devosi kepada Trinitas, adorasi Ekaristi, devosi kepada Hati Kudus, dan devosi kepada Bunda Maria.

Ignatius Loyola adalah pendiri Serikat Yesus (1540). Dia memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bagi Ignatius, semua bulan dipersembahkan untuk Bun­da Maria. Maria mempunyai peranan yang penting dalam panggilan Ig­na­tius. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi imam (sebelum mendirikan Serikat Yesus), dia telah mengembangkan afeksi yang mendalam kepada Bunda Maria. Terutama, karena visi yang telah mengubah hidupnya, yaitu bahwa dia mempunyai Maria Bunda Al­lah. Bunda Maria itulah yang membantu Ignatius hingga akhirnya menda­patkan ka­runia indulgensi penuh bagi hidup masa lampaunya. Pengalaman rohani ini men­jadi titik puncak pertobatan Ignatius sekaligus awal dari hidupnya yang baru.

Ignatius, yang lahir tahun 1491 dalam keluarga bangsawan Basque Spanyol, adalah anak termuda dari 13 bersaudara. Ibunya sendiri sudah meninggal dunia, tidak lama sesudah melahirkan Ignatius. Ignatius dibesarkan oleh seorang ibu ang­kat, yang secara kebetulan bernama Maria. Ketika umur 7 tahun, kakaknya yang tertua, Martin, yang mewarisi keluarga kerajaan, menikah dengan Magdalena Ara­oz, yakni perempuan yang menantikan diri bisa menjadi pengganti ratu Spanyol, Isabella. Ferdinand, suami Isabella, adalah pendukung finansial untuk kegiatan eks­plorasi Christophorus Columbus, yang mengadakan penjelajahan ke dunia baru. Columbus yang melakukan penjelajahan dunia baru itu, berumur sebaya dengan Ignatius, bahkan hanya selisih 1 tahun lebih tua. Menarik bahwa kapal yang dipakai oleh Columbus untuk penjelajahan dunia baru itu adalah kapal yang dengan nama Santa Maria.

Martin, kakak Ignatius, dan pasangan barunya mendapatkan hadiah berupa lukisan yang menggambarkan kabar sukacita malaikat Tuhan kepada Maria (Annun­ciation), sebuah hadiah perkawinan dari Ratu Isabella. Lukisan yang sungguh mem­punyai arti bagi hidup mereka itu ditaruh di dalam sebuah kapel yang dibangun di dalam puri Loyola. Sejak masih berumur 7 tahun, Ignatius sudah melihat lukisan itu. Di puri Loyola itu pun juga Ignatius pernah melihat sebuah patung Bunda Maria Risang Sungkawa (Sorrowful Mother).

Semua ingatan akan Bunda Maria tidaklah secara ajaib membuat Ignatius men­­jadi seorang Santo. Pada kenyataannya, Ignatius bertumbuh sebagai pribadi duniawi, yang terobsesi oleh hal-hal duniawi, kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dunia, bermimpi menjadi prajurit kerajaan dan secara intens meniti karir hingga punya nama besar. Pertobatan yang dialami Ignatius adalah karena intervensi dari Bunda Maria. Karena itu, Ignatius bersyukur bahwa dirinya tergerak untuk bergeser dari ambisinya menjadi pengabdi Ratu duniawi menjadi pengabdi Ratu surgawi, yakni Santa Perawan Maria. Fokus perhatian di dalam hidupnya tertuju pada Yesus Kristus, Anak Maria itu.

Ketika Ignatius terluka dalam perang di Pamplona pada tahun 1521, karena terkena bom pada kakinya persis pada bulan Mei, dia diantar pulang oleh tentara Perancis ke puri Loyola, dan dirawat oleh Magdalena, kakak iparnya, yang mera­watnya hingga pulih kembali sehat. Ignatius pernah meminta kepada Magdalena supaya bisa menyediakan buku-buku bacaan yang menyajikan cerita kepahlawanan dan kisah-kisah percintaan. Tetapi kakak yang baik itu justru memberikan buku-buku devosi, antara lain: Kisah hidup Yesus Kristus (Vita Christi), yang ditulis oleh Ludolph Sa­xony, seo­rang biarawan Kartusian, dan buku tentang hidup para Santo (Flos Sanctorum), yang ditulis oleh Jacobus Voragine, seorang biarawan Dominikan.

Buku-buku itu memiliki peran pen­ting dalam pertobatan Ignatius. Ignatius sa­ngat terkesan dengan buku bacaan ten­tang hidup Yesus Kristus yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Karena sangat mengesankan, Ignatius menggaris-bawahi kata-kata Yesus dengan tinta me­rah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Seba­gaimana Ignatius berpikir ten­tang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dan Maria, demikian juga ia me­renungkan hidup para santo, suatu kehausan rohani yang tumbuh di dalam batin Ignatius.

Pada suatu malam, ketika terbangun dari tidur, Ignatius mendapatkan pe­nam­pakan dari Bunda Maria yang menggendong Yesus. Penampakan itu meme­nuhi hati Ignatius dengan perasaan damai yang mendalam. Pada saat yang sama, ia merasa jijik yang mendalam dengan hidup masa lampaunya. Ignatius menyadari bahwa kehausan seksual telah membawa dirinya kepada kehampaan. Karena itu, mulailah ia meninggalkannya dan menggantikannya dengan kasih. Ia merindukan seluruh hidupnya untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

Melalui penampakan Maria dan Yesus, pikiran-pikiran yang mengganggu Ig­natius hingga kehilangan pegangan dalam hidup, digantikan dengan kebijak­sanaan dan kedamaian. Sejak saat itu, Ignatius mengalami karunia pertobatan, perubahan batin, transformasi diri. Sampai pada akhir hidupnya, Ignatius dapat mengarahkan dirinya untuk hidup murni tanpa menyesal, karena ia telah belajar mengatur ulang kehendaknya dalam hal keintiman dan kebersatuannya dengan Allah.

Meskipun Ignatius tahu bahwa Maria adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang sama seperti manusia lain pada umumnya, ia juga menyadari bahwa Maria te­lah menerima rahmat yang istimewa. Itulah mengapa Ignatius tetap menjaga kedekatannya dengan Maria dalam seluruh hidupnya. Pada gilirannya, Maria mem­bantu untuk membentuk diri Ignatius menjadi imam dan guru rohani.

Paus Fransiskus adalah imam Yesuit dan putra Ignatius. Selama berkunjung ke Naples Perancis pada Maret 2015, ia menekankan betapa pentingnya peran Maria dalam menggerakkan panggilan imam dan religius, yakni: makin mendekatkan me­reka dengan Yesus. Paus Fransiskus mengatakan: “Bagaimana saya bisa meyakin­kan bahwa sa­ya mengikuti Yesus? Bunda-Nya membimbing kita menuju Yesus. Imam, religius entah lelaki atau perempuan, (sia­pa saja) yang tidak mencintai Bun­da Maria, yang tidak berdoa kepada Bunda Maria, atau yang tidak berdoa Rosario, … Jika tidak menginginkan Bunda-Nya, maka Bunda-Nya juga tidak akan memberi­kan kepada mereka Putra-Nya.”

Refleksi Sahabat CLC – “MARIA MAGDALENA SEBAGAI RASUL PERTAMA”

Rm. Dr. Ignatius Loyola Madya Utama, SJ atau yang lebih dikenal dengan Rm. Madya, SJ bergabung di CLC tahun 1982.

Saat ini beliau berkarya sebagai Dosen Teologi pada Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Bertepatan dengan perayaan Hari Kartini berikut kami sajikan tulisan Rm. Madya, SJ dengan judul “Maria Magdalena sebagai Rasul Pertama dan Peran Perempuan dalam Gereja”.

Semoga dapat menginspirasi setiap pembaca. Ad Maiorem Dei Gloriam.

MARIA MAGDALENA SEBAGAI RASUL PERTAMA DAN PERAN PEREMPUAN DALAM GEREJA

Ignatius L. Madya Utama, S.J.

Tidak sedikit orang Katolik bila mendengar kata “Rasul” pikirannya langsung melayang ke 12 murid laki-laki yang pertama dipanggil oleh Yesus serta dididik secara cermat dan intensif agar dapat menjadi pewarta karya keselamatan Allah yang sudah Ia mulai dalam seluruh hidup-Nya. Tugas mereka nantinya dilanjutkan oleh para Uskup dalam Gereja sekarang. Pemikiran seperti ini tentu saja tidak salah, namun juga tidak seutuhnya benar.

            Menurut Luis Antonio G. Kardinal Tagle peristiwa kebangkitan Yesus bukan hanya membingungkan baik bagi para murid Yesus maupun para penguasa yang membunuh-Nya, melainkan juga mengguncang landasan dunia dan keberadaan manusia. Tatanan sosial baru diciptakan oleh peristiwa kebangkitan Yesus. Para anggota masyarakat kelas dua (= kaum perempuan) dipilih oleh kuasa Allah menjadi perantara (intermediaries) terwujudnya iman kaum laki-laki (Mat 28:5-7 dan 10; Mrk 18:6-7; Luk 23:5-10; Yoh 20:17-18), orang-orang yang oleh dunia telah diberi kuasa.

            Dalam tradisi Gereja Maria Magdalena disebut “rasul [perempuan] bagi para rasul [laki-laki].” Maria Magdalena adalah orang pertama yang menjadi pewarta inti dan pusat iman Kristiani, yakni Yesus yang telah bangkit dari kematian. Ia menjadi bagian sejarah yang indah dari para perempuan yang berakar pada peristiwa kebangkitan Yesus. Para rasul laki-laki diinjili (were evangelized) oleh para perempuan, yang telah menerima Kabar Gembira (Injil) dari para malaikat. Pembalikan tatanan sosial menjadi lengkap karena melalui para perempuanlah Kabar Gembira diwartakan.

            Lebih lanjut Kardinal Tagle mengatakan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus tidak hanya menjungkirbalikkan tatanan sosial, melainkan juga merupakan sebuah belati yang diarahkan pada struktur Gereja. Penampakan pertama dari Tuhan yang telah bangkit tidak dilakukan kepada mereka yang menduduki fungsi kepemimpinan, yang disebut para rasul dan kedudukannya digantikan oleh para uskup. Peristiwa ini mestinya membuat kaum laki-laki yang menduduki fungsi kepemimpinan dalam Gereja menjadi rendah hati, dan mengakui bahwa kaum perempuan telah dianugerahi tempat yang pantas dalam kehidupan jemaat oleh Yesus yang telah bangkit.

            Sayangnya, para pemimpin Gereja cepat menjadi lupa. Tindakan Yesus menempatkan para perempuan menjadi anggota yang memiliki kesetaraan dengan kaum laki-laki dalam komunitas yang dibangun-Nya (Mat 23:8b)—yang kemudian menjadi praktik kehidupan jemaat Gereja Perdana (Gal 3:26-28)—dan bahkan menjadikan mereka rasul pertama untuk mewartakan kebangkitan-Nya kepada para rasul laki-laki segera dilupakan. Pengaruh budaya patriarkal yang menempatkan kaum perempuan sebagai warga kelas dua, yang dihidupi dalam masyarakat Yahudi, Yunani, dan Romawi segera menjadi praktik dalam kehidupan Gereja. Tidak sampai satu abad setelah peristiwa kebangkitan Kristus, para anggota jemaat perempuan segera tersingkir dari peran-peran penting dalam kehidupan jemaat, dan disubordinasikan oleh kaum laki-laki dalam jemaat. Hal ini terjadi sampai sekarang. Akibatnya, aspek feminin Gereja cenderung hilang, sehingga pengelolaan Gereja lebih mengedepankan logika akal budi daripada logika hati, lebih mengutamakan hokum dan peraturan daripada kerahiman dan bela-rasa-suka-duka (compassion). Akibatnya, pelayanan Gereja kerapkali lebih berupa urusan administratif daripada pelayanan pastoral.

            Dunia sudah begitu maju, demikian pula sudah begitu banyak perempuan yang memiliki keahlian dan kemampuan yang sangat luar biasa di bidang mereka masing-masing. Di dalam masyarakat mereka sudah menempati banyak kedudukan dan peran sangat penting, yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Apa yang perlu dilakukan oleh Gereja agar para anggotanya, kaum perempuan, dapat menjadi anggota penuh Gereja dan dapat memberikan sumbangan maskimal bagi kehidupan dan pelayanan Gereja?

            Lepas dari belum dimungkinkannya bagi kaum perempuan untuk menerima tahbisan dalam Gereja Katolik, para perempuan anggota Gereja dapat menduduki posisi-posisi penting dalam kehidupan Gereja yang tidak menuntut tahbisan. Mereka, antara lain, dapat (1) menduduki fungsi kepemimpinan Gereja (anggota Dewan Pastoral Paroki, anggota Dewan Pastoral Keuskupan, anggota Kongregasi dalam Kuria di Vatikan); (2) menjadi anggota tribunal Keuskupan; (3) menjadi dosen Filsafat atau Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi atau Fakultas Teologi; (3) menjadi anggota Staf di Seminari Tinggi;  dan (4)  terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan Gereja, termasuk memberikan penilaian terhadap para calon imam sebelum mereka diperbolehkan untuk menerima tahbisan, serta pemilihan para calon Uskup untuk keuskupan mereka masing-masing. Kaum perempuan juga (5) dapat memperoleh “gelar pelayanan pastoral tertinggi” sebagai seorang kardinal, karena gelar kardinal tidak menuntut tahbisan.

            Semoga para pemimpin Gereja mau belajar dari Yesus dan peristiwa kebangkitan-Nya agar kehadiran Gereja di tengah masyarakat menjadi semakin relevan dan signifikan, sehingga kehadiran Gereja di tengah masyarakat benar-benar dapat menjadi “sakramen kehadiran Kerajaan Allah.” Dengan demikian, masyarakat tidak lagi dibangun berdasarkan status sosial para warganya, melainkan berdasarkan kasih, solidaritas, kesetaraan, kepeduliaan terhadap orang-orang kecil, keadilan, perwujudan HAM bagi setiap warganya, rasa hormat terhadap keberagaman, dan kepedulian merawat bumi sebagai tempat tinggal Allah dan rumah kita bersama.

Daftar Pustaka

King, Geoffrey.  “Decision-Making in the Church: Beyond Clergy/Laity Distinctions.” East Asian Pastoral Review (1989): 387-396.

D’Mello, John.  “Paradigms for a Feminization of the Church.”  In FABC Papers, no. 92c, pp. 18-20.

Paus Fransiskus. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium: Sukacita Injil. Diterjemahkan oleh: F.X. Adisusanto, SJ dan Bernadeta Harini Tri Prasasti. Cetakan pertama. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014.

Rademacher, William J.  Lay Ministry: A Theological, Spiritual & Pastoral Handbook. New York: Crossroad, 1991.

Saldhana, Virginia. “The Church in the New Millennium: Learning to be in Solidarity and Dialogue with Women.” In FABC Papers, no. 92c.

Snyder, Mary Hembrow. Spiritual Questions for the Twenty-First Century. Essays in Honor of Joan D. Chittister. Second printing. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2001.

Tagle, Luis Antonio G. An Easter People: Our Christian Vocation to be Messengers of Hope. Quezon City: Jesuit Communications Foundation, Inc., 2003.

Thurston, Anne.  Because of Her Terstimony: The Word in Female Experience.  New York: Crossroad, 1995.

Refleksi Sahabat CLC – “KARTINI DALAM GEREJA”

Melengkapi tulisan refleksi dari Rm. Madya, SJ tentang Maria Magdalena, maka refleksi berikutnya adalah Maria Magdalena dari CLC yang juga menghidupi semangat Kartini .. Beliau adalah Ibu Maria Magdalena Nancy K. Suhut yang biasa dipanggil dengan Ibu Nancy.

Ibu Nancy bergabung dengan CLC di Bandung tahun 1974 dan kemudian aktif sebagai Ketua CLC Indonesia dan ikut aktif mewakili CLC Indonesia ke Sidang CLC Dunia.
Saat ini Ibu Nancy adalah Konsultor 1 ExCo CLC di Indonesia.

Mempunyai 2 orang anak yang telah menikah dan mempunyai 2 orang cucu. Suami meninggal tahun 2007, sama2 aktif di CLC dan Paroki.

Pernah menjadi guru SMA di Bandung 1976-1978, bekerja di CSIS Jakarta sejak 1078-1989, 1989-1998 bekerja di bank dan 1999 kembali ke CSIS sampai pensiun tahun 2017.

KARTINI DALAM GEREJA

Oleh MM Nancy K. Suhut

Ketika diminta untuk membagikan pengalaman mengenai “Kartini dalam Gereja” terus terang saya sangat bingung, apa yang harus saya sampaikan. Saya mencoba memahaminya sebagai peran seorang wanita dengan segala keterbatasan dan kelebihannya di lingkungan gereja dan komunitas kegerejaan. Saya melihat Kartini sebagai seorang wanita yang tidak ingin melawan kodratnya sebagai seorang wanita, tetapi ingin mengangkat harkat kaumnya, sedangkan gereja saya artikan secara luas sebagai lingkungan keagamaan, apapun bentuknya.

Saya mulai dengan perjalanan saya di CLC sejak mahasiswa dulu, juga rupanya terpengaruh oleh kodrat saya sebagai seorang wanita, seorang ibu. Setelah berkeluarga, saya mengurangi aktivitas di CLC karena kesibukan saya sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja, sehingga sebagian besar waktu saya tersita untuk pekerjaan di kantor dan di rumah. Saya tidak dapat aktif dalam kepengurusan sampai anak-anak sudah besar dan tidak terlalu membutuhkan perhatian khusus. Ini salah satu bukti saya tidak dapat menghindari kodrat saya sebagai seorang ibu yang mempunyai tanggung jawab untuk mengurus keluarganya. Ketika suami saya sudah berpulang, dan anak-anak sudah besar, saya merasa mempunyai lebih banyak waktu untuk melanjutkan keterlibatan di CLC dan di lingkungan gereja. Namun demikian saya tidak pernah merasa bahwa karya pelayanan saya untuk gereja sempat terhenti ketika saya disibukkan dengan urusan keluarga. Bentuknya mungkin berbeda, karena saya percaya bahwa keluarga adalah lingkungan gereja yang paling kecil dan setelah itu dilanjutkan dengan karya pelayanan yang lebih besar dan terbuka. Namun demikian, saya menjalani semua ini dengan senang hati dan penuh rasa syukur, karena Tuhan telah memberikan kesempatan pada saya untuk selalu melayaninya dimanapun saya berada. Bagi saya melayani Tuhan bukan karena jabatan atau kedudukan saya, tetapi karena ketulusan dan kegembiraan yang saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya bisa merangkul mereka dan membuat mereka juga mengalami seperti saya, penuh sukacita. Sebagai contoh, ketika saya diberi kepercayaan sebagai ketua pengurus nasional CLC Indonesia, saya usahakan untuk bisa hadir di komunitas-komunitas lokal dan mengenal mereka secara mendalam, sehingga kami dapat merasa sebagai saudara satu bagi yang lainnya.Walau perjalanannya tidak selalu mudah, tetapi tapi ada kegembiraan yang muncul ketika bisa bertemu dan saling berbagi.Saya sungguh merasakan kehadiran Tuhan diantara kami pada saat bertemu. Begitu banyak pengalaman yang saya alami, yang membuat saya semakin yakin saya tidak pernah sendirian. Begitu banyak saudara sekomunitas yang menyayangi saya seperti juga saya menyayangi mereka.

Hal yang sama juga saya rasakan di lingkungan gereja. Menjadi pengurus gereja cukup menyita waktu, tetapi itu semua terasa bagaikan anugerah karena dapat berbuat sesuatu bagi kepentingan gereja dan banyak orang yang dilayani. Di masa pandemi ini semua terasa lebih berarti. Kita diminta untuk tetap bisa berkarya walaupun tidak saling bertatap muka. Usia bukan halangan untuk terus berkarya. Bagi Tuhan tidak ada yang sia-sia, setiap kebaikan yang kita taburkan pasti akan berbuah kebaikan yang lebih banyak lagi.

Ad maiorem Dei gloriam! Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar!

Jakarta, 19 April 2021

  • Ibu Nancy Bersama Keluarga

Ibu Nancy berulang tahun Desember 2020 bersama anak, menantu, dan cucu.

  • Ibu Nancy Bersama Anggota CLC

Kenangan Formation Course (FC) pertama di Girisonta tahun 1976 bersama Pater J. Vossen Waskita, SJ.

Acara penyegaran spiritualitas ignatian di girisonta tahun 2009.

Sidang Umum Nasional Tahun 2010 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  • Ibu Nancy dalam kegiatan CLC Asia Pasific dan Dunia

Sidang Umum Asia Pasific (AP Assembly) di Taipei tahun 2015

Di Lebanon.

Sidang Umum Dunia di Fatima, Portugal

  • Ibu Nancy dalam karya profesional

Bersama rekan kerja di perayaan ulang tahun CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Ke-40.*

Kegiatan Rapat Dewan Paroki Danau Sunter gereja St. Yohanes Bosco tahun 2020.

team ME (Marriage Encounter) Paroki.