Refleksi Sahabat CLC – “BELAJAR MEREFLEKSIKAN KETERLIBATAN ALLAH DALAM HIDUPKU SEHARI-HARI”

Dalam merayakan Pesta Hari St. Ignasius dan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Kitab Suci Nasional, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC yaitu Pater RD Rusbani Setyawan dengan judul tulisan “Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari”.

Rm Iwan adalah Pendamping CLC di Bandung. Sebagai pastor, Rm Iwan bertugas sebagai Pastor Paroki Salib Suci Kamuning Bandung dan sebagai Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Bandung.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam. IgnatiuS00

Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari

Oleh RD Rusbani Setyawan

Dalam sebuah pertemuan para penggiat Kitab Suci, saat itu sedang dibahas sebuah teks Kitab Suci. Para ahli Kitab Suci menyampaikan pendapatnya dengan didasarkan analisis-analisis kata dan kalimat berdasarkan bahasa-bahasa asli. Amat menarik mengikuti diskusi yang terjadi karena berbagai pendapat dan adanya saling mengkritisi satu sama lain. Bahkan pada saat itu terjadi sedikit perdebatan berkaitan dengan penafsiran huruf tertentu yang mempengaruhi arti.

Di tengah diskusi yang hebat itu, tiba-tiba ada seorang bapak yang adalah sopir dari salah seorang romo, berkata: “Para romo, kalau Sabda Tuhan begitu sulit dan rumit, maka kami orang yang bodoh ini tidak akan mengenal Tuhan dan tidak bisa masuk surga.” Perkataan bapak itu membuat semua yang sedang berdiskusi menjadi diam dan merenung. Perkataan bapak itu amat kuat bergema dalam diri saya. Setiap kali saya mempersiapkan renungan untuk homili selalu berusaha untuk menawarkan sesuatu yang menurut saya sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari.

Ketika menulis renungan harian, saya belajar untuk melihat pesan teks Kitab Suci dalam pengalaman hidup sehari-hari. Sudah pasti tidak mudah bagi saya yang amat terbatas. Tantangan besar adalah bagaimana membuat renungan yang sederhana dan sungguh-sungguh menampilkan pergulatan hidup sehari-hari.

Dalam perjalanan menulis renungan, saya mendapatkan banyak tanggapan berupa sharing-sharing dari para pembaca. Berdasarkan tanggapan-tanggapan itu, saya merasakan dan semakin yakin bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci itu begitu dekat dengan hidup keseharian kita semua. Dari situlah saya menemukan kesadaran bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci adalah bentuk keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Allah yang bertindak untuk manusia dan bersama manusia.

Dengan demikian menuliskan renungan bukan hanya soal merefleksikan Sabda Tuhan tetapi lebih dari itu adalah merefleksikan keterlibatan Allah dalam hidup sehari-hari. Merefleksikan karya Allah dalam kehidupan umatnya.

Iwan Roes RD.

Tulisan Renungan Harian oleh Rm Iwan yang diunggah di website CLC Indonesia : https://clcindonesia.wordpress.com/category/renungan/

DOKUMENTASI

Tahun 1984. Seminari Mertoyudan
Tahun 1986. Seminari Mertoyudan
Ulang Tahun Imamat : 10 Juli 2015


KEGIATAN BERSAMA UMAT/MASYARAKAT/KOMUNITAS

TOUR KE HOLY LAND .. Oktober 2009
(video) https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436879977273/
https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436023310692/

DI GEREJA/PAROKI

Tahun 2010
Tahun 2010 : Juli

Tahun 2011: Oktober
Tahun 2011: November

Tahun 2011: Di Gereja Katedral St Petrus Bandung

Tahun 2012

Tahun 2013

Memberi Sakramen Perkawinan

Berfoto Bersama Umat

Tahun 2014 : Bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo

Tahun 2015 – di Subang
Bersama Uskup Bandung: Mrg Anton

Tahun 2016: 17 Agustus


BERSAMA CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Tahun 2009
Bersama Ibra dkk.

Bersama Rius dkk.


DALAM KEGIATAN CLCL NASIONAL INDONESIA …

Menjadi Pembimbing Refleksi dll –
Gua Maria Tritis Wonosari – Journey to The South –
31 Agustus – 4 September 2018


Acara Permainan untuk bahan refleksi peserta :

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322103018410/

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322105218465/

Refleksi Sahabat CLC – “MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN”

Dalam merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Internasional) yaitu pada tanggal 5 Juni 2021, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC Rm Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ, M.Sc. atau Rm. Wir, SJ.

Rm. Wir SJ berkenan berbagi/ sharing refleksi tulisan yang menyangkut kedua hal di atas berjudul “Menjalani Pertobatan Ekologis Secara Ignasian”.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.


MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN

P. Wiryono Priyotamtama, SJ

Suatu hari seorang teman dosen mentraktir penulis untuk bisa menikmati bakmi kesukaannya : bakmi Jamur Vegan Vegetarian. Sambil menikmati bakmi, dia cerita tentang mengapa dia sejak lima tahun yang lalu memutuskan untuk menjalani pola makan kaum vegetarian. Ia sedang menjalani sebuah pertobatan ekologis. Bertobat dari kebiasaan makan dengan lauk serba daging, ke kebiasaan makan dengan lauk non daging. Demi menjaga kesehatan, demikian alasan yang disampaikan.

Kembali dari makan bakmi traktiran teman, penulis tergerak untuk ikut berpikir  tentang perlunya merawat kesehatan dirinya. “Demi menjaga kesehatanku mengapa aku tidak tertarik dengan pola makan vegetarian? Ah, bukan tidak tertarik tetapi tidak mungkin ! Sebagai seorang yesuit aku hanya bisa makan menurut apa yang disajikan oleh komunitasku di meja makan. Pertobatan ekologisku harus memilih cara lain!” Demikian gerak batin penulis memberikan pembenaran. Dasar pembenaran ini bisa kita kaitkan dengan faham Ignatius tentang siapakah kita ini sebagai manusia,  untuk apa manusia diciptakan, dan bagaimana cara hidup ekologis selayaknya selalu menjadi pilihan kita? Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa diperoleh dengan mengikuti pencerahan yang dihasilkan oleh gerak batin kita. .

Siapakah kita ini sebagai manusia? Pertama, kita ini makhluk ciptaan. Sebagai ciptaan,  kelangsungan hidup kita tergantung pada Sang Pencipta. Tergantung pada rencana ilahi yang ditetapkan untuk setiap barang atau makhluk hidup yang Ia ciptakan. Segala sesuatu yang tercipta memiliki nilai khusus di mata Sang Pencipta. Kedua, manusia sebagai ciptaan diberi keistimewaan yakni diciptakan menurut citra Sang Pencipta. Citra utama Sang Pencipta adalah penuh kasih. Manusia diciptakan dengan citra utama ini yakni mampu dikasihi dan mampu mengkasihi. Bahkan lebih jauh kemanusiaan kita sebenarnya merupakan sebuah ekosistem afektif Allah kita.  Relasi kita sebagai manusia dengan Sang Pencipta bisa sangat intim bahkan menyatu sebagaimana kita temukan dalam diri Yesus Kristus.

Untuk apa manusia diciptakan?  Latihan Rohani St. Ignatius mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Pertanyaan yang perlu dilontarkan di sini adalah bagaimana kita memahami dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain agar benar-benar bisa menjadi penolong bagi kita? Dengan cara mengeksploitasi? Pasti tidak. Dengan cara apa? Di sinilah relevansi pertobatan ekologis  kita yakni untuk berubah dari cara eksploitatif  atau menguasai ke cara lain yakni merawat, melestarikan, dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain seperti Sang Pencipta memperlakukan. Manusia yang diciptakan menurut citra Sang Pencipta harus selalu belajar dari Sang Pencipta dalam memperlakukan segala sesuatu yang tercipta di muka bumi.

Bagaimana mengusahakan agar gerak batin kita selalu mengarah ke pilihan pertobatan ekologis? Pertama, yang dimaksudkan dengan gerak batin seperti diajarkan dalam Latihan Rohani St. Ignatius adalah gerak roh dalam kedalaman hati kita. Gerak roh ini bisa membawa keinginan atau hasrat, pikiran, dan perasaan  kita ke arah hal-hal baik atau hal-hal kurang baik atau jahat. Kedua, kita usahakan agar gerak batin kita selalu mengarah kepada kebaikan dan bukan kejahatan. Untuk ini kita bisa selalu melakukan pemeriksaan batin terkait ke arah mana hasrat, pikiran, dan perasaan kita digerakkan dan roh macam apa telah menggerakkan. Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Ignatius Loyola sebagai pemeriksaan batin harian. Praktek pemeriksaan batin ini sangat membantu dalam usaha kita menjalani pertobatan ekologis yang arahnya selalu mengedepankan kebaikan-kebaikan bersama.

Apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam kategori kebaikan-kebaikan bersama? Semua saja yang bisa kita kaitkan dengan pemeliharaan relasi afektif yang sehat  dengan diri kita sendiri, lingkungan, sesama, dan Allah yang masing-masing ataupun keseluruhan merupakan ekosistem afektif Allah sendiri.  Segala-sesuatu dipersatukan dalam ekosistem afektif Allah ini. Kitapun bisa menemukan Allah di dalam segala sesuatu. Di dalam pilihan temanku menjadi seorang vegetarian, aku bisa menemukan bagaimana Allah telah menggerakkan hatinya untuk memilih pola hidup yang terbaik bagi dirinya di usia menjelang 60 tahun. Dengan menjadi vegetarian kerja sistem pencernaan tubuhnya menjadi lebih ringan, gangguan obesitas menghilang, kolesterol menjadi normal, dan keluhan tekanan darah tinggi tak lagi terdengar. Pendek kata kesehatan tubuhnya menjadi lebih terpelihara. Hidupnya menjadi lebih ceria. Dalam refleksi kita bisa menyatakan bahwa dalam tubuh  yang sehat kita jumpai jiwa yang sehat. Relasi-relasi  afektif yang dibangun oleh jiwa yang sehat pastilah menciptakan pertumbuhan ekosistem tubuh, keluarga, komunitas, tempat kerja, masyarakat, dan Gereja yang sehat.

            Ada tiga rahmat yang bisa kita harapkan dari Tuhan lewat pertobatan ekologis kita seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si.  Ketiga rahmat tersebut adalah : 1) perdamaian diri kita dengan seluruh alam ciptaan (LS 218), 2) tumbuhnya semangat murah hati (LS 220), dan 3) terciptanya daya kreativitas dan antusiasme lebih besar dalam usaha memecahkan masalah-masalah dunia saat ini (LS 220). Tergerak hati penulis untuk selalu memohon rahmat-rahmat ini di saat-saat sedang menjalani pertobatan ekologisnya. Apa bentuk kongkritnya? Bisa disebutkan di sini : senam pagi 30 menit dengan gerakan-gerakan Taichi, jalan kaki 60 menit di sekitar rumah, menyelesaikan penyusunan buku ajar  mata kuliah lintas program studi Healing Earth  di Universitas Sanata Dharma, dan mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul. Inilah bentuk pertobatan ekologis yang dipilih penulis. Intensi pertobatan ekologis penulis adalah kombinasi antara kesehatan ekosistem afektif diri sendiri dan pembentukan  ekosistem afektif mahasiswa dan masyarakat yang sedang penulis dampingi saat ini.

                                                                              Girisonta, 30 Mei 2021

Mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul

Kelompok olah raga Taichi USD yang diikuti oleh Rm Wir

MENJADI SAHABAT CLC

Acara Awal Tahun Baru 2019 di Pastoran Paingan (Pradnya Laksita) Yogyakarta

Tentang Rm. Wir SJ (2020)

(sumber : https://books.google.co.id/books/about/Buku_Ajar_Pendekatan_Ilmiah_Lanjut.html?id=UWruDwAAQBAJ&redir_esc=y )

P. Wiryono Priyotamtama SJ, lahir di Madiun pada tanggal 8 September 1947. Mata pelajaran Biologi menjadi mata pelajaran paling disukai sejak menjadi siswa di SMP dan SMA Seminari Menengah Mertoyudan Magelang. Menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan berbagai kegiatan penelitian bidang Morfologi Tanaman dan Mikrobiologi, diantaranya praktek pengelolaan perkebunan di Perusahaan Perkebunan di Siluwok Sawangan Batang, dan penelitian lapangan di calon waduk Gadjah Mungkur, Wonorigi, pemukiman transmigran di Sitiung Sumatra Barat, dan Way Abung di Lampung, dan di tempat-tempat lain.

Gelar Educational Doctor (Ed.D) (1986) dari Oklahoma State University Stilwater, Oklahoma, USA, dalam bidang Pendidikan Pertanian. Sejak saat itu seluruh hidupnya diabdikan sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi yakni sebagai dosen tetap di Universitas Timor Timur di Dili, Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang, dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Mata kuliah yang paling sering diampu adalah Metode Penelitian, Pendekatan Ilmiah Dasar, Pendekatan Ilmiah Lanjut, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Budidaya Taman dan Hewan, Botani Ekoomi, dan mata kuliah Ilmu Lingkungan yangdiberi nama Healing Earth.

Dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1986 sampai dengan Maret 2020. Sejumlah pengalaman pengabdian yang pernah dijalani antara lain: menjadi Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993), Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996), Pimpinan Serikat Yesus Provinsi Indonesia di Semarang (1996- 2002), Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003), Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005), Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014), dan Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

Beliau saat ini berdomisili di Jesuit Residence, Wisma Pradnya Laksita, Pedukuhan Paingan, Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

HIDUP DAN KARYA SEBAGAI JESUIT

  • TAHBISAN sebagai JESUIT
  • PERAYAAN 50 TAHUN BERZIARAH DALAM ORDO SERIKAT JESUS

Perayaan bersama anggota CLC di Yogyakarta : Minggu, 21 Januari 2018, Di Ruang Seminar LPPM – Kampus II USD, Mrican

Perayaan di Universitas Sanata Dharma (Ruang Koenjono, lt 4 Gedung Pusat, Kampus II) : 27 Januari 2018

  • PERUTUSAN MENJADI PROVINSIAL JESUIT (1996 – 2002)
Source :
  • https://www.hidupkatolik.com/2014/10/12/19197/menabur-benih-iman-di-tanah-suai.php
  • Setia melayani: Romo Dewanto saat ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Mgr Ignatius Suharyo, Rm Wir sebagai Provinsial dan Rm Paul Suparno SJ sbg Rektor Kolsani.

    • PERUTUSAN MENJADI PIMPINAN PERGURUAN TINGGI (Rektor) dan aneka jabatan pimpinan yang lain

    Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993)

    Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996)

    Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003)

    Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

    Fasilitator Program Tersiat Serikat Yesus di Giri Sonta (dari 2016 sampai dengan saat ini)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Source : https://usd.ac.id/biro/personalia/daftar.php?id=berita&noid=74&offset=30

    https://www.viva.co.id/berita/politik/469383-jokowi-megawati-dan-pohon-beringin-yang-ditanam-soekarno?page=all&utm_medium=all-page

    • Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Indonesia menyelenggarakan 1st International Conference yang mengangkat  isu kemiskinan dan lingkungan yang dibuka pada Jumat (21/9) lalu di Auditorium Kampus 3 Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). 

    Hari Studi APTIK 2018 : Mengukuhkan Kebangsaan dalam Kebhinekaan, 10-12 Oktober 2018, Bertempat di Hotel IBIS, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) gelar Hari Studi di kota Pontianak (11-12/10/ 2018). Untuk kegiatan ini, Yayasan Widya Dharma Pontianak dipercayakan menjadi tuan rumah. Tercatat 19 Yayasan Perguruan Tinggi Katolik yang menjadi anggota APTIK, didampingi oleh para Rektor Perguruan Tinggi anggota APTIK  hadir dalam Hari Studi kali ini. Total jumlah peserta 105 orang.

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menyelenggarakan Kongres APTIK XXXVI tahun 2019 pada tanggal 8-9 Maret 2019. Pembukaan Kongres dilaksanakan pada Jumat, 08 Maret 2019 di Ballroom Hotel Harper Mangkubumi Yogyakarta. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus APTIK, Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ sekaligus menandai dibukanya Kongres APTIK.

    FASILITATOR TERTIAT JESUIT PROVINSI INDONESIA

    Tersiaris Provindo 2017 (belakang: Rm Seno, Rm Bambang, Rm Andalas, Rm Nico. Depan: Rm Yuniko, Rm Putranto, Rm Priyo, Rm Wiryono, Rm IJ (PHI) dan Rm Jason (PHI)

    Tersiaris Provindo 2019 (Rm Wiryono, Rm Priyo, Rm Fristian, Br Marsono, Rm Mario, Rm Eko, Rm Agam, Rm Ochang (KOR), Rm Putranto

    Source : https://jesuits.id/tertiat-provinsi-indonesia/

    BERSAMA KELUARGA JESUIT, dan lain-lain

    Refleksi Sahabat CLC – “KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN”

    Ketua CLC di Indonesia, Gregorius Tjaidjadi atau yang biasa dipanggil dengan Ko Rius ikut memperingati Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan juga merayakan dan merefleksikan (Pembukaan) Tahun Igantian, 20 Mei 2021 ini dengan menulis refleksi dengan judul tulisanKISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.

    KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN

    Oleh Gregorius Tjaidjadi

    Tahun Peringatan 500 tahun pertobahan Ignatius di Hari Kebangkitan Nasional

    Berhenti sejenak di hari ini, melihat garis sejarah yang bersilangan membawa banyak kisah dan cerita yang beberapa dasawarsa ini dibaca, didengar, dan coba dipahami. Dua kisah yang hari ini bersilangan di tengah refleksi pagi, sebelum saya memulai kerja di hari ini. Dua kisah itu adalah Kisah Dr. Soetomo yang organisasi Boedi Oetomo-nya (Budi Utomo; BU) kemudian melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, Peringatan Nasional di setiap tanggal 20 Mei. Satunya lagi, kisah Santo Ignatius Loyola, yang secara khusus tahun ini kita peringati, 500 tahun pertobatannya.

    Di awal berdirinya, BU muncul sebagai kumpulan orang orang terdidik yang memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat bangsa. Sebuah cita-cita luhur, yang mereka usung lewat berbagai upaya sosial, ekonomi, dan terutama budaya. Sebagai organisasi anak bangsa, yang lahir di era penjajahan Belanda, organisasi ini tidak mengawali kiprahnya dengan membangun narasi besar untuk mengubah status kemerdekaan bangsa, tapi  justru melalui narasi- narasi kecil tentang membangun integritas diri lewat pendidikan dan kebudayaan bangsa. Tidak ada issue politik yang digadang saat awal BU mengawali gerakan mereka, namun niat baik ini kemudian menggelombang, dan mendorong gerakan bangsa untuk bangkit dan menjadi utuh sebagai Bangsa dan Negara yang merdeka.

    Demikian juga dengan Ignatius, gelombang besar cara hidup spiritualitas Ignatian yang tersebar dimana-mana saat ini, tidaklah berawal dari cita-citanya untuk mengubah dunia, namun gelombang itu dimulai dari riak kecil pertobatan pribadi, setelah nyaris kehilangan jati diri dihantam peluru meriam yang membekas dalam. Ignatius menemukan titik terendah dalam hidupnya saat itu, kejayaan diri sebagai ksatria, membuatnya hilang arah, ketika mendekam dalam kamar pemulihan tanpa kejelasan masa depan. Titik terendah, berubah menjadi titik balik, saat dia menemukan cita- cita baru, sebuah pertobatan pribadi, dari ksatria yang gemar berbagai kenikmatan duniawi, menjadi peziarah, dengan niat pertobatan lewat mati raga dan mendera diri.

    Mendidik diri, mengasah gergaji

    Kisah BU dan Santo Ignatius memaparkan sebuah fakta, bahwa proses belajar, dan pendidikan adalah langkah awal yang menjadi bahan bakar perubahan dalam diri dan dalam orang orang yang didampingi. BU tidak serta merta memberikan pendidikan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar tempatnya hidup, namun mengawalinya lewat pengorganisasian dan pengembangan anggota, yang kemudian berdaya, dan mampu berbagi kepada sesama.

    Jauh sebelum masa BU, Santo Ignatius sudah mengalami tahap menempa diri yang menghadapkannya dengan kenyataan untuk belajar. Relasinya dengan Tuhan berawal dari kenaifan diri yang melihat hukuman dan pertobatan adalah bentuk relasi dengan Tuhan. Namun Tuhan mengajar Ignatius dengan cara-Nya, sehingga ia menemukan proses pengolahan, pembentukan dan penerimaan diri, sebagai pribadi yang utuh. Tuhan mendidik layaknya seorang guru, yang memberikan pengajaran lewat berbagai peristiwa hidup, dan terutama, lewat perjumpaan Ignatius dengan dirinya sendiri.

    Maka tidaklah berlebihan, bila refleksi saya hari ini, menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa sebuah gerakan perubahan besar, selalu berawal dari kesediaan diri untuk belajar, menempa diri dan terus mengasah gergaji*. Hanya dengan kesadaran diri seutuhnya, kita dapat membuat gelombang dan gerakan yang konsisten untuk berubah kearah yang lebih baik. Perubahan besar tentunya tidak selalu berkisah tentang narasi besar dalam hidup, tapi justru dari narasi narasi kecil yang utuh. Apakah saya sadar hari ini? apakah saya hendak memulai hari lebih pagi? Apakah saya akan meluangkan waktu untuk berdoa bersama? Apakah saya mau memperbaiki kesalahan saat bekerja? Apakah saya konsisten berkomunitas? Apakah saya menyadari sungguh setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak-Nya? Apakah saya mampu berbuat lebih baik? Semua hanya dapat dijawab ketika saya mau belajar dan mengembangkan diri.

    Berbagi hati, membentuk empati

                    Pribadi yang selalu mau untuk belajar, bisa kita kenal lewat para penikmat budaya refleksi. Mereka yang tak jemu, untuk melihat kisah hidup, sebagai guru dan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu kita memahami berbagai peristiwa hidup, dengan kacamata yang baru. Proses ini, membantu keselarasan pola  berpikir, merasa, dan bertindak.

    Dalam CLC, kita tahu bahwa budaya refleksi adalah budaya dasar yang selalu disandingkan dengan budaya berbagi. Kita meyakini, bahwa dengan berbagi isi hati, kita dapat terus mempertajam kemampuan kita merasa. Kemampuan mengenali dan mengelola perasaan akan membuat kita lebih jernih melihat peristiwa hidup, baik lewat peristiwa hidup pribadi, maupun mereka yang berbagi dalam kelompok. Bila kita sungguh mengenali rasa dalam diri, dan kemudian dengan pengetahuan yang selalu kita tambah, kita akan mempu mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan, dengan sadar dan utuh.

    Keinginan kita untuk selalu belajar lewat refleksi diri, akan menggiring kita untuk menemukan rasa dan empati. Berempati berarti mengubah rasa menjadi tindakan, memperkuat niat dengan keutuhan diri, yang kemudian memunculkan konsistensi dalam bertindak. Sebuah riak kecil yang menciptakan gelombang yang membesar, hanya akan terjadi, ketika riak kecil terus terjadi, terpelihara dan konsisten.

    Komunitas dan kisah perubahan

                    Saya mengenali CLC sebagai keluarga besar, yang menyediakan ruang dan penghuni, yang konsisten menjadi cermin bagi diri dan sesama untuk berefleksi. Dan dari setiap perjumpaan, proses belajar terjadi. Dari berbagai kisah hidup, berbagai proses pembelajaran dan perubahan dilakukan. Kita melihat betapa spiritualitas Ignatian dan semangat kebangkitan BU, terpatri dalam proses ini. kita menempa diri dengan terus belajar lewat refleksi, kemudian mendorong perubahan lewat empati yang sungguh diyakini. Maka kebangkitan diri adalah konsekuensi yang akan kita terima, saat kita terus belajar mengembangkan diri dan tak ragu mengaktualisasikan empati kita. Maju sebagai pembawa perubahan akan menjadi tantangan yang ada di depan kita. Maka mari kita bertanya pada diri kita sebagai CLC, sudahkan saya berkomunitas untuk bangkit bersama? sudahkah saya berani menjadi pembawa perubahan?

    Maka kisah Kebangkitan Nasional, sama seperti napas Siritualitas Ignatian, sebuah kisah mendidik diri lewat refleksi, yang mendorong perubahan perubahan kecil dan besar dalam hidup, sampai akhirnya di suatu titik, kita sungguh dapat berkisah tentang perubahan baik yang dapat kita lakukan, sendiri, maupun bersama. Kisah kebangkitan diri akan terpampang jelas saat Kisah Perubahan terjadi. Beranikah kita untuk berubah? Beranikah kita membawa perubahan? Hari ini? Selamat Hari Kebangkitan Nasional, selamat merefleksikan Tahun Ignatian.

    Curriculum Vitae

    Foto-foto Rius bersama anggota CLC di Bandung

    Foto-foto Rius bersama tim Asia Pasific CLC

    Refleksi Sahabat CLC – “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS”

    Memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan sekaligus ikut merayakan pembukaan Tahun Ignasius Loyola bersama para Jesuit, kami sajikan tulisan dari Profesor Dr. Paul Suparno, SJ, M.S.T. yang biasa kami panggil dengan Rm. Paul.

    Rm. Paul menyelesaikan karya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada akhir tahun 2020. Saat ini beliau tinggal di Kolese St Ignasius Kotabaru Yogyakarta.
    Beliau adalah Asisten Gerejani CLC di Indonesia. Dan juga sebagai pastor pendamping CLC di Yogyakarta.

    Berikut kami sajikan tulisan beliau dengan judul tulisan “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS“.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.


    HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS

    Oleh Paul Suparno, S.J.

    Hari Kebangkitan Nasional

                Pada tanggal 20 Mei 2021 ini, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Apa yang kita peringati dan bagaimana kita akan memperingatinya?

                Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita ingat gerakan Budi Utomo, yang didirikan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dokter Soetomo serta teman-temnnya. Dokter Wahidin, dokter Jawa yang sangat murah hati untuk membantu orang lain agar maju. Setelah pension dari dokter, ia menjual banyak hartanya dan digunakan untuk membantu pendidikan orang lain. Ia keliling Jawa mencari dana untuk membeayai pelajar-pelajar yang miskin tetapi pandai. Ia giat membantu pendidikan.

    Ia mengumpulkan beberapa mahasiswa kedokteran STOVIA Jakarta seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusuma,  dan Suraji untuk mendiskusikan pembentukan suatu badan, yang nantinya disebut Budi Utomo (20 Mei 1908).  Awalnya perkumpulan ini lebih bergerak membantu dalam dunia pendidikan, tetapi kemudian dikembangkan dalam bidang politik membantu gerakan kesatuan bangsa dan kemerdekaan.  Gerakan ini kemudian memancing timbulnya banyak gerakan pemuda di Indonesia ini, yang nantinya mengerucut dalam gerakan pemuda Indonesia dan gerakan menuju kemerdekaan.

    Peringatan pertobatan St. Ignatius

    Hari ini Jesuit memperingati 500 tahun bertobatnya St. Ignatius Loyola pendiri Serikat Jesus. Suatu pengalaman mendalam pribadi, yang akhirnya menjadi awal dari gerakan perubahan hidup orang sampai dengan munculnya Serikat Jesus.

    Ignatius, yang sering disebut Inigo, awalnya adalah seorang tentara yang begitu punya ambisi kuat untuk mengabdi raja dan nantinya dapat mempunyai kehormatan seperti raja. Namun setelah peristiwa Pamplona, dimana ia mengalami patah kakinya dalam peperangan di Pamplona; ia tidak mungkin lagi menjadi seorang militer yang hebat. Ia mengalami frustrasi berat karena kakinya cacat, panjang sebelah.

    Dalam kekeringan yang berat dan kefrustrasian itu, ia disentuh Tuhan lewat bacaan buku santo-santa yang mengkisahkan kehidupan Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus mengikuti Yesus.  Sebenarnya yang ia cari adalah buku-buku kepahlawanan atau roman, tetapi yang ada di rumahnya waktu itu hanya buku riwayat santo-santa. Dalam pergulatan besar, ia merasakan bahwa setiap kali ia memikirkan untuk menjadi satria hebat mengabdi raja dan memikirkan mempunyai istri cantik, hatinya menjadi senang, namun lama kelamaan perasaan itu hilang dan yang tinggal adalah malah kekeringan, kesepian, desolasi. Sedangkan, kalau ia memikirkan untuk mengikuti teladan  Santo Fransiskus yaitu mengabdi Yesus, itu terasa berat pada awalnya, tetapi setelah lama ia merasa damai, merasa gembira, mengalami konsolasi. Akhirnya ia mengubah hidupnya. Ia yang tadinya ingin menjadi seorang satria yang terhormat dengan kekuasaan dan isteri yang cantik, berubah menjadi kesatria Yesus, yaitu ingin mengikuti Yesus seperti dialami oleh Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus.

    Pertobatan pribadi ini, teryata menggerakkan dia untuk membagikan pengalamannya  kepada orang-orang lain dalam latihan rohani yang ia berikan dan tawarkan kepada orang-orang yang dijumpai dan ia pandang mampu. Dalam perjalanan, ternyata banyak orang yang cocok dibimbing dan mengalami pertobatan hidup seperti dia sendiri.

    Pengalaman pertobatan itu dengan seluruh prosesnya ditulis dalam Latihan Rohani  yang dapat digunakan orang untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya dan menemukan panggilan Tuhan bagi hidupnya. Lewat pengalaman itu pulalah akhirnya Ignatius memilih beberapa teman yang menjadi awal dari Serikat Jesus. Lewat pengalaman pribadinya itulah, ia menawarkan sentuhan Tuhan kepada banyak orang untuk dapat juga menemukan Tuhan dalam hidupnya dan hidup bahagia bersama Tuhan.  

    Kesamaan menjadi penggerak awal

    Bagi saya yang menarik merefleksikan tentang Wahidin dengan gerakan kebangkitan nasional Budi Utomo dan Pertobatan Ignatius, adalah bahwa keduanya menjadi awal, menjadi pemacu, menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan baru dan kehidupan yang baru.

    Budi Utomo akhirnya memunculkan gerakan nasional yang lain di Indonesia ini.  Gerakan ini akhirnya menyadarkan kepada banyak pemuda akan pentingya persatuan bangsa, pentingnya bekerjasama sebagai warga, dan akhirnya memacu munculkan gerakan kearah kemerdekaan Indonesia. Semangat Budi Utomo menggerakkan anggotanya dan memberikan inspirasi kepada kelompok lain untuk lebih ikut terlibat memikirkan kebutuhan bangsa Indonesia.

    Pertobatan Ignatius, mengubah Ignatius menjadi sahabat Tuhan, dan ingin menyerahkan seluruh hidupnya pada Yesus. Semangat ini  tidak dinikmati sendiri, tetapi selalu ditawarkan kepada orang lain sehingga orang lain juga mengalami semangat itu dan dapat hidup sebagai sahabat Yesus yang sejati.  Pertobatannya membantu banyak orang mengalami pertobatan, perjumpaan dengan Tuhan, dan bersemangat untuk menyebarkan semangat itu kepada orang lain. Semangatnya menjadi pemicu untuk gerakan batin dalam Tuhan bagi orang lain.

    Apa artinya bagi kita

    Ada dua hal yang bagi saya dapat diambil dan dikembangkan dengan merefleksikan dua peristiwa itu.

    1. Saya dapat lebih menangkap semangat yang dikembangkan oleh Wahidin lewat gerakan Budi Utomo-nya dan menangkap semangat Ignatius yang mempengaruhi banyak orang.  Dengan demikian saya akan lebih tahu dan lebih dapat digerakkan sendiri oleh semangat itu.
    2. Semangat yang aku punyai, harus saya tularkan kepada orang lain dan kelompok lain. Lewat hidup dan semangat kita, kita ikut menawarkan semangat kebangkitan nasional itu dan pertobatan Ignatius itu. Caranya misalnya :
      • Aku mulai berpikir bukan hanya diriku, tetapi kebutuhan bangsa ini, kebutuhan orang lain;
      • Aku lebih mau kerjasama dengan orang lain dalam membangun bangsa ini sebagai satu saudara;
      • Aku tidak menikmati semangat itu sendirian tetapi rela berbagi pada yang lain.

    Selamat merayakan hari kebangkitan nasional dan selamat meresapi kehidupan dan semangat Ignatius untuk dapat lebih memajukan kehidupan bangsa kita dan dunia kita.

    Refleksi Sahabat CLC – “MENEMUKAN TUHAN MELALUI PROFESI GURU”

    Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus. Untuk itu kami sajikan tulisan refleksi dari Ibu Dra. Magdalena Indria Dewi.

    Ibu Magda lahir di Padang tanggal 24 April 1964.
    Masuk CLC tahun 1983 kelompok Metanoia.
    Menjadi Pendamping Kelompok Kecil CLC yaitu Kelompok Fidelis, Kelompok IFO, Kelompok Pierre Favre, dan Kelompok Francis Xave.
    Dalam Kepengurusan CLC :
    Bendahara Lokal Yogyakarta ( Waktu CLC muda sekitar tahun 1984)
    Bendahara Yogyakarta ( CLC tua )
    Bendahara CLC Nasional,
    Ketua CLC Yogyakarta.

    Profesi saat ini adalah Guru SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

    MENEMUKAN TUHAN DALAM PROFESI SEBAGAI GURU

    Oleh Magdalena Indria Dewi

    Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional, membuat saya melihat 35 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang guru.

    Pada mulanya sebagai orang muda penuh dengan keidealisan ingin mencerdaskan anak bangsa, merasa cukup ilmu untuk terjun ke sekolah . Surat lamaran kebeberapa sekolah yang punya nama di Yogyakarta, tetapi  tidak  mendapat balasan. Mungkin karena saya belum lulus dari IKIP Sanata Dharma.

    Kemudian saya mendapat informasi SMA St Thomas membutuhkan tenaga pengajar Matematika, saya diterima dengan tangan terbuka. Dengan semangat saya mempersiapkan untuk mengajar, ternyata situasinya sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, materi Matematika yang saya kuasai rasanya  sia-sia, anak-anak  tidak memperhatikan pelajaran saya,

    Suatu ketika pada saat saya merasa gagal sebagai seorang guru, saya masuk ke kelas memberi pekerjaan ke anak-anak, kemudian saya berkeliling, bukan untuk menanyakan soal yang mereka kerjakan, tetapi ngobrol secara pribadi dengan mereka satu persatu, tentang asalnya ( karena kebanyakan mereka bukan  dari  Yogyakarta ), keluarganya. Ternyata setelah itu sikap mereka berubah, mereka mulai memperhatikan ketika saya mengajar. Waktu istirahat hanya saya habiskan bersama mereka, relasi saya dengan anak-anak semakin akrab, saya semakin tahu latar belakang keluarga mereka, sehingga saya makin memahami mereka.

    Keidealisan saya untuk membuat mereka menguasai pelajaran Matematika berubah  mereka menyukai pelajaran Matematika. Saya semakin menghayati profesi saya sebagai guru, saya melihat keindahan menjadi seorang guru, bukan hanya untuk mentransfer ilmu saja  tapi bagaimana menghargai setiap pribadi anak didik dengan segala keunikannya. Beruntung saya di CLC dilatih untuk sharing, mendengarkan, memahami, menghargai setiap pribadi .

    Anak-anak SMA St Thomas sudah kenyang dengan nasehat-nasehat, mereka lebih senang mendengarkan, sharing-sharing saya.

    Saya berterima kasih dengan SMA St Thomas, karena di situlah saya ditempa sebagai seorang guru yang sesungguhnya. Dan memantapkan panggilan hidup saya sebagai seorang guru.

    Ketika saya ditempatkan disekolah negeri saya tidak mengalami kesulitan lagi dalam hal pendekatan dengan anak-anak. Tantangan yang dihadapi berbeda, di tengah kelompok mayoritas bukan Katolik, saya belajar menjadi pribadi yang kokoh, tidak terbawa arus kebiasaan yang kurang baik, saya semakin menghayati tugas orang Kristiani itu menjadi garam, bukan hal besar yang dilakukan tetapi mewarnai.

    Di masa pandemi mendidik anak lebih sulit, karena tidak berhadapan langsung dengan anak-anak, memang terasa ada yang sangat berbeda, soal materi mereka lebih canggih untuk eksplore di internet.

    Tetapi pendidikan karakter tidak bisa maksimal tanpa ada komunikasi langsung, saya hanya  menjadi akrab dengan anak-anak yang sering bertanya lewat WA.

    Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi, masih menjadi PR buat saya bagaimana  dalam situasi yang sangat terbatas, tetapi dapat menjalin relasi hati dengan anak-anak.

    Yang menarik buat saya ketika studi banding untuk pembelajaran tatap muka ke SMA negeri lain yang sudah uji coba tatap muka. Mereka mengatakan “ target kami tidak pada penguasaan  kompetensi, tetapi bagaimana membentuk karakter  anak didik “

    Tiga tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun, melihat perjalanan hidup saya sebagai seorang guru, membuat saya terkagum-kagum akan peran Tuhan yang mendidik saya secara personal. Tidak selalu mudah untuk memahami waktu itu, bahkan harus mengeluarkan airmata, merasa gagal.

    Setiap saya merasa sudah tahu, tantangan baru muncul lagi. Ya mungkin seumur hidup saya harus belajar

    Lepas bebas, cura personalis, magis yang dulu jauh dalam pikiran saya, semakin dapat saya pahami setelah merefleksikan setiap peristiwa yang saya alami. Spiritualitas Ignatian sangat membantu dalam menemukan Tuhan dalam peristiwa hidup saya

    Dokumentasi kebersamaan yang penuh kegembiraan bersama para siswa SMAN Depok Sleman Yogyakarta

    Refleksi Sahabat CLC – “MODEL PEMBELAJARAN PASCA PANDEMI”

    Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus.

    Dalam edisi ini kami sajikan tulisan dari Bp.
    Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

    Pak Eka lahir di Sukoharjo, 20/10/63. Gabung CLC 1985, pernah jadi ktua CLC lokal yogya, wakil keyua dan ketua nasional serta pernah jadi anggota CLC di Manila 1992 sd 1993. Sekarang dosen Informatika USD.

    Model Pembelajaran Pasca Pandemi

    Oleh Johanes Eka Priyatma

    Kita memetik pelajaran berharga dari pembelajaran daring selama pandemi ini. Ternyata,
    meskipun sudah menggunakan teknologi internet dan multimedia yang canggih, pembelajaran
    daring tetap terasa garing. Suasana belajar garing ini membuat gairah belajar menurun. Bukan
    hanya mahasiswa tetapi dosen juga merasakan suasana garing ini. Sejalan dengan harapan pandemi
    akan segera berakhir lewat program vaksinasi, apakah pembelajaran pasca pandemi sebaiknya
    kembali sepenuhnya ke luring ?
    Sejatinya, garingnya pembelajaran daring bukan karena tiadanya tatap muka di kelas
    melainkan hilangnya sebagian besar interaksi sosial yang menyertainya. Peristiwa belajar hanya
    akan berlangsung efektif dan bermakna bila menjadi bagian dari interaksi sosial yang otentik.
    Mahasiswa akan bergairah belajar bila itu berlangsung di antara berbagai kegiatan sosial seperti
    ngobrol di luar kelas, menikmati camilan di kantin rame-rame, ataupun sibuk dengan berbagai
    kegiatan kemahasiswaan.
    Pembelajaran daring telah memberikan pengalaman mendalam bahwa belajar bukan
    semata perkara teknis menyangkut ketersediaan bahan ajar, sarana komunikasi, serta sistem
    evaluasi yang tepat. Belajar selalu tidak sederhana karena menyangkut berbagai faktor sosial yang
    berelasi secara kompleks. Relasi sosial ini akhirnya akan memengaruhi sikap dan semangat
    belajar. Dengan kata lain, belajar adalah peristiwa sosial dan bukan semata individual.
    Sementara itu, pembelajaran daring sebenarnya menawarkan berbagai nilai tambah seperti
    efisiensi, fleksibilitas, perluasan jangkauan, serta kemandirian. Sayangnya, berbagai nilai tambah
    ini tidak berpengaruh positif terhadap gairah belajar bila pembelajaran berlangsung sepenuhnya
    daring. Dari survey yang melibatkan 8500 mahasiswa dan 275 dosen di sebuah PTS di Yogyakarta,
    93 % mahasiswa dan 85 % dosen merasa lebih bersemangat belajar dan mengajar bila dapat
    bertatap muka kembali.
    Setelah pandemi berlalu dan interaksi sosial fisik kembali normal, saya kuatir kita akan
    kembali memakai model pembelajaran yang sepenuhnya luring. Bila ini yang terjadi, kita akan
    sangat merugi. Pengalaman masif menjalani pembelajaran daring selama setahun tidak mengubah
    secara signifikan pembelajaran tradisional yang sudah lama mendapat banyak kritik jauh sebelum
    pandemi terjadi. Kehadiran teknologi e-learning selama 25 tahun terakhir yang tidak mengubah
    signifikan model pembelajaran tradisional menjadi fakta mencolok betapa kekuatiran ini sangat
    relevan.
    Idealnya, pengalaman setahun ini menjadi bekal bernilai dan konkrit untuk
    mentransformasi pembelajaran tradisional kita menjadi lebih berkualitas. Kita tentu berharap
    pandemi segera berlalu tetapi selayaknya sedih bila pandemi tidak mengubah pembelajaran
    menjadi lebih berkualitas.
    Secara umum ada dua hal pokok yang sebaiknya kita lakukan. Pertama, pembelajaran
    sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan seluas-luasnya sumber belajar di internet. Kedua,
    internet dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan relasi yang efisien, fleksibel, serta
    memperluas jangkauan akses belajar.
    Dua langkah transformatif ini, secara konseptual mengarah kepada model pembelajaran
    terbalik (flipped). Memakai model ini, kelas fisik tetap berlangsung tetapi orientasi dan jenis
    aktifitas utamanya bukan untuk ceramah. Interaksi di kelas diubah supaya mahasiswa lebih aktif
    terlibat dalam perbincangan lewat diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, debat, maupun
    seminar.
    Dalam pembelajaran terbalik, mahasiswa dituntut belajar mandiri terlebih dahulu sebelum
    mengikuti kuliah. Mahasiswa belajar mandiri memakai bahan yang disediakan dosen di laman
    belajar (Learning Management System /LMS). LMS berisi sumber belajar yang kaya bentuk seperti
    teks, gambar, multimedia, maupun tautan ke berbagai alamat di internet. Pada LMS ini dosen perlu
    memandu mahasiswa menjalani dinamika belajar mandiri yang efektif sekaligus menantang.
    Dosen harus memastikan mahasiswa menjalani dinamika belajar tersebut, misalnya dengan
    mewajibkan mengumpulkan tugas sebelum mengikuti kuliah.
    Ketika kegiatan kuliah di kampus berubah menjadi interaksi dialogis yang intensif antara
    dosen, mahasiswa, dan antar mahasiswa maka kualitas belajar akan meningkat drastis. Lewat
    diskusi, tanya-jawab, serta debat yang konstruktif, kedalaman dan perluasan pengetahuan akan
    terjadi secara alami dan otentik. Dinamika belajar ini akan membuka kesempatan yang luas bagi
    perbincangan keilmuan yang kontekstual dengan berbagai persoalan sosial terkait. Model interaksi
    di kelas ini akan menyemai kemandirian berpikir dan bersikap mahasiswa. Kemandirian itu sangat
    lemah selama ini karena model pembelajaran kita yang cenderung monolog dan informatif semata
    sehingga miskin dialog yang transformatif.
    Dalam perspektif yang lebih luas, pembelajaran modern yang kontekstual sebaiknya
    dilangsungkan bukan hanya dalam bentuk campuran antara daring dan luring tetapi menggunakan
    gagasan ruang sibernetik (cybernetics space). Mitra dan Schwartz (2001) mengusulkan cara
    pandang sibernetika (cybernetics) dalam melihat realitas saat ini. Ini adalah cara pandang integratif
    yang tidak memisah-misahkan antar komponen. Memakai cara pandang ini, ruang siber/maya
    (cyberspace) dan ruang fisik (physical space) dipahami sebagai satu kesatuan dan menjadi ruang
    hibrida baru cybernetic space (ruang sibernetik).
    Gagasan ruang sibernetika dapat menjadi paradigma untuk menata ulang praksis pendidikan
    kita. Kerangka ini memberi panduan setidaknya dalam empat wilayah besar pembelajaran yakni
    identitas dosen dan mahasiswa, relasi antara keduanya, pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi
    kepentingan kedua belah pihak, serta ‘ruang’ di mana relasi tersebut berlangsung.
    Karena pengetahuan tersedia melimpah di jagad maya maka identitas dan relasi dosenmahasiswa sebagai yang ‘mahatahu’ dan yang ‘kurang tahu’, semakin sumir. Perubahan identitas
    dan relasi ini juga mencakup perubahan cara, waktu dan tempat relasi. Kerangka sibernetik akan
    memaksa dosen dan mahasiswa menyiapkan diri sebagai warga sibernetik dengan tata relasi yang
    baru. Di alam baru ini, eksistensi dan kehadiran harus mewujud baik di ruang fisik maupun maya.
    Kegiatan memberi informasi sebaiknya diganti menjadi mengkritisinya. Ruang kerja dosen akan
    sama penting dengan akun media sosial. Komunikasi visual dan verbal serta formal dan informal
    akan menjadi sama penting.
    Karena kurang siap, kita mungkin memaksa mahasiswa sepenuhnya belajar di ruang fisik. Ini
    merugikan karena pendidikan akan kehilangan kesempatan menegosiasikan ruang fisiknya
    menjadi bagian penting ruang sibernetik. Padahal, ruang fisik memiliki nilai tersendiri dibanding
    ruang maya, seperti otentisitas, kepastian, kehangatan otentik serta kepermanenan. Sementara itu,
    bagi mahasiswa ruang fisik haruslah semudah dan senyaman ruang maya. Konsekuensinya, kelas,
    laboratorium, perpustakaan, dan kantin perlu ditata ulang menjadi bagian ruang sibernetik dalam
    arti ketersediaan dan kualitas sarana fisikal sama penting dengan sarana digital.
    Pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi hal paling pokok dalam pembelajaran memang
    menjadi hal yang paling sulit untuk digagas ulang dalam ruang sibernetik ini. Perkara ini menjadi
    semakin pelik manakala pengetahuan dan nilai-nilai kita pahami lebih sebagai perkara otoritas
    yakni menjadi hak milik, bersumber pada, atau kewenangan dari pendidik. Internet telah lama
    menegasikan hal ini karena informasi dan pengetahuan telah bersifat terbuka, demokratis,
    melimpah, dan murah. Perbincangan yang jujur dan reflektif dapat menjadi salah satu solusi dalam
    perkara ini.
    Akhirnya, internet bukan hanya sarana untuk memasuki ruang maya tetapi lebih pas kita
    dudukkan sebagai sarana untuk hidup dalam ruang sibernetik. Cara pandang ini membawa
    konsekeunsi bahwa sejatinya e-learning tidak dapat serta merta menggantikan traditional
    learning. Ini juga memperjelas mengapa keberhasilan e-learning meningkatkan kualitas hasil
    belajar masih belum signifikan (Sun dkk., 2008). Untuk itu sistem-sistem pembelajaran berbasis
    internet perlu dikembangkan dalam perspektif sibernetik, terutama dalam mempertimbangkan
    aspek-aspek non-virtualnya. Kuncinya terletak pada terintegrasinya aspek-aspek penting dalam
    belajar yang justru banyak terkait dengan persoalan di ruang non-virtual seperti motivasi,
    penerimaan, dukungan dan kebersamaan.

    Referensi


    Mitra, A., & Schwartz, R.L. (2001). Rethinking the Relationship between Real and Virtual Spaces
    Journal of Computer-Mediated Communication. http://www.ascusc.org/

    Sun, P.C., Tsai, R.J., Finger, G., Chen, Y.Y. & Yeh, D. (2008). What drives a successful eLearning? An empirical investigation of the critical factors influencing learner satisfaction.
    Computer & Education, 50 (4), 1183–1202.

    Biodata Penulis:

    1. Penulis adalah Rektor Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia
    2. Pendidikan terakhir S3 Sistem Informasi Universiti Putra Malaysia
    3. Pekerjaan tetap : Dosen pada Jurusan Teknik Informatika Sanata Dharma

    Bersama para Wakil Rektor Universitas Sanata Dharma

    Bersama para mahasiswa

    Bersama CLC dan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam acara CLC di Yogyakarta

    Bersama keluarga tercinta

    Refleksi Sahabat CLC – “HIDUP BARU KARENA MARIA”

    Pada bulan Mei bulan Maria ini kami sajikan tulisan refleksi dari Bp. Drs. T. Adi Susila, MM. dengan judul tulisan “Hidup Baru Karena Maria”.

    HIDUP BARU KARENA MARIA

    Oleh: Tarcisius Adi Susila

    Mei adalah bulan Maria. Seorang imam Yesuit, Gerard Manley Hopkins, yang me­ning­gal pada usia 44 tahun di Dublin, meninggalkan sebuah kenang-kenangan be­rupa puisi berjudul “Magnificat Mei”. Tradisi yang terkait dengan Mei bulan Maria, bukanlah berasal dari Gerard Manley Hopkins SJ, tetapi dari para imam Yesuit yang tinggal di Kolese Roma (Collegium Romanum, sekarang Universitas Gregoriana), yang kini sudah berumur lebih dari 450 tahun, yang memperkenalkan kebiasaan mem­per­­sembahkan bulan Mei untuk menghormati Bunda Maria.

    Pada tahun 1563, tujuh tahun setelah Ignatius wafat, seorang imam Ye­suit, Jean Leunis SJ, diutus Serikat Yesus untuk menjadi pamong bagi para maha­siswa yang tinggal dan belajar di Ko­lese Roma. Sebagai pendidik, dia memben­tuk sebuah komunitas Kaum Muda yang diberi nama Prima Primaria (cikal bakal dari Kongre­gasi Maria, Sodality of Our Lady, atau di kelak kemudian hari menjadi Chris­tian Life Com­munity), sebuah komunitas pembinaan kaum muda yang ber­lindung pada Bunda Maria. Bisa dipahami bahwa pada abad 15-16, telah ber­kembang dengan subur devosi kepada Bunda Maria karena pengaruh dari sekolah spiritu­alitas Pe­rancis. Jean Leunis, waktu itu masih frater skolatistik, memperke­nal­kan prak­tek-praktek hidup rohani yang mem­bantu kaum muda bertumbuh dalam iman, seperti: devosi kepada Trinitas, adorasi Ekaristi, devosi kepada Hati Kudus, dan devosi kepada Bunda Maria.

    Ignatius Loyola adalah pendiri Serikat Yesus (1540). Dia memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bagi Ignatius, semua bulan dipersembahkan untuk Bun­da Maria. Maria mempunyai peranan yang penting dalam panggilan Ig­na­tius. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi imam (sebelum mendirikan Serikat Yesus), dia telah mengembangkan afeksi yang mendalam kepada Bunda Maria. Terutama, karena visi yang telah mengubah hidupnya, yaitu bahwa dia mempunyai Maria Bunda Al­lah. Bunda Maria itulah yang membantu Ignatius hingga akhirnya menda­patkan ka­runia indulgensi penuh bagi hidup masa lampaunya. Pengalaman rohani ini men­jadi titik puncak pertobatan Ignatius sekaligus awal dari hidupnya yang baru.

    Ignatius, yang lahir tahun 1491 dalam keluarga bangsawan Basque Spanyol, adalah anak termuda dari 13 bersaudara. Ibunya sendiri sudah meninggal dunia, tidak lama sesudah melahirkan Ignatius. Ignatius dibesarkan oleh seorang ibu ang­kat, yang secara kebetulan bernama Maria. Ketika umur 7 tahun, kakaknya yang tertua, Martin, yang mewarisi keluarga kerajaan, menikah dengan Magdalena Ara­oz, yakni perempuan yang menantikan diri bisa menjadi pengganti ratu Spanyol, Isabella. Ferdinand, suami Isabella, adalah pendukung finansial untuk kegiatan eks­plorasi Christophorus Columbus, yang mengadakan penjelajahan ke dunia baru. Columbus yang melakukan penjelajahan dunia baru itu, berumur sebaya dengan Ignatius, bahkan hanya selisih 1 tahun lebih tua. Menarik bahwa kapal yang dipakai oleh Columbus untuk penjelajahan dunia baru itu adalah kapal yang dengan nama Santa Maria.

    Martin, kakak Ignatius, dan pasangan barunya mendapatkan hadiah berupa lukisan yang menggambarkan kabar sukacita malaikat Tuhan kepada Maria (Annun­ciation), sebuah hadiah perkawinan dari Ratu Isabella. Lukisan yang sungguh mem­punyai arti bagi hidup mereka itu ditaruh di dalam sebuah kapel yang dibangun di dalam puri Loyola. Sejak masih berumur 7 tahun, Ignatius sudah melihat lukisan itu. Di puri Loyola itu pun juga Ignatius pernah melihat sebuah patung Bunda Maria Risang Sungkawa (Sorrowful Mother).

    Semua ingatan akan Bunda Maria tidaklah secara ajaib membuat Ignatius men­­jadi seorang Santo. Pada kenyataannya, Ignatius bertumbuh sebagai pribadi duniawi, yang terobsesi oleh hal-hal duniawi, kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dunia, bermimpi menjadi prajurit kerajaan dan secara intens meniti karir hingga punya nama besar. Pertobatan yang dialami Ignatius adalah karena intervensi dari Bunda Maria. Karena itu, Ignatius bersyukur bahwa dirinya tergerak untuk bergeser dari ambisinya menjadi pengabdi Ratu duniawi menjadi pengabdi Ratu surgawi, yakni Santa Perawan Maria. Fokus perhatian di dalam hidupnya tertuju pada Yesus Kristus, Anak Maria itu.

    Ketika Ignatius terluka dalam perang di Pamplona pada tahun 1521, karena terkena bom pada kakinya persis pada bulan Mei, dia diantar pulang oleh tentara Perancis ke puri Loyola, dan dirawat oleh Magdalena, kakak iparnya, yang mera­watnya hingga pulih kembali sehat. Ignatius pernah meminta kepada Magdalena supaya bisa menyediakan buku-buku bacaan yang menyajikan cerita kepahlawanan dan kisah-kisah percintaan. Tetapi kakak yang baik itu justru memberikan buku-buku devosi, antara lain: Kisah hidup Yesus Kristus (Vita Christi), yang ditulis oleh Ludolph Sa­xony, seo­rang biarawan Kartusian, dan buku tentang hidup para Santo (Flos Sanctorum), yang ditulis oleh Jacobus Voragine, seorang biarawan Dominikan.

    Buku-buku itu memiliki peran pen­ting dalam pertobatan Ignatius. Ignatius sa­ngat terkesan dengan buku bacaan ten­tang hidup Yesus Kristus yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Karena sangat mengesankan, Ignatius menggaris-bawahi kata-kata Yesus dengan tinta me­rah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Seba­gaimana Ignatius berpikir ten­tang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dan Maria, demikian juga ia me­renungkan hidup para santo, suatu kehausan rohani yang tumbuh di dalam batin Ignatius.

    Pada suatu malam, ketika terbangun dari tidur, Ignatius mendapatkan pe­nam­pakan dari Bunda Maria yang menggendong Yesus. Penampakan itu meme­nuhi hati Ignatius dengan perasaan damai yang mendalam. Pada saat yang sama, ia merasa jijik yang mendalam dengan hidup masa lampaunya. Ignatius menyadari bahwa kehausan seksual telah membawa dirinya kepada kehampaan. Karena itu, mulailah ia meninggalkannya dan menggantikannya dengan kasih. Ia merindukan seluruh hidupnya untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

    Melalui penampakan Maria dan Yesus, pikiran-pikiran yang mengganggu Ig­natius hingga kehilangan pegangan dalam hidup, digantikan dengan kebijak­sanaan dan kedamaian. Sejak saat itu, Ignatius mengalami karunia pertobatan, perubahan batin, transformasi diri. Sampai pada akhir hidupnya, Ignatius dapat mengarahkan dirinya untuk hidup murni tanpa menyesal, karena ia telah belajar mengatur ulang kehendaknya dalam hal keintiman dan kebersatuannya dengan Allah.

    Meskipun Ignatius tahu bahwa Maria adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang sama seperti manusia lain pada umumnya, ia juga menyadari bahwa Maria te­lah menerima rahmat yang istimewa. Itulah mengapa Ignatius tetap menjaga kedekatannya dengan Maria dalam seluruh hidupnya. Pada gilirannya, Maria mem­bantu untuk membentuk diri Ignatius menjadi imam dan guru rohani.

    Paus Fransiskus adalah imam Yesuit dan putra Ignatius. Selama berkunjung ke Naples Perancis pada Maret 2015, ia menekankan betapa pentingnya peran Maria dalam menggerakkan panggilan imam dan religius, yakni: makin mendekatkan me­reka dengan Yesus. Paus Fransiskus mengatakan: “Bagaimana saya bisa meyakin­kan bahwa sa­ya mengikuti Yesus? Bunda-Nya membimbing kita menuju Yesus. Imam, religius entah lelaki atau perempuan, (sia­pa saja) yang tidak mencintai Bun­da Maria, yang tidak berdoa kepada Bunda Maria, atau yang tidak berdoa Rosario, … Jika tidak menginginkan Bunda-Nya, maka Bunda-Nya juga tidak akan memberi­kan kepada mereka Putra-Nya.”

    Refleksi Sahabat CLC – “MARIA MAGDALENA SEBAGAI RASUL PERTAMA”

    Rm. Dr. Ignatius Loyola Madya Utama, SJ atau yang lebih dikenal dengan Rm. Madya, SJ bergabung di CLC tahun 1982.

    Saat ini beliau berkarya sebagai Dosen Teologi pada Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

    Bertepatan dengan perayaan Hari Kartini berikut kami sajikan tulisan Rm. Madya, SJ dengan judul “Maria Magdalena sebagai Rasul Pertama dan Peran Perempuan dalam Gereja”.

    Semoga dapat menginspirasi setiap pembaca. Ad Maiorem Dei Gloriam.

    MARIA MAGDALENA SEBAGAI RASUL PERTAMA DAN PERAN PEREMPUAN DALAM GEREJA

    Ignatius L. Madya Utama, S.J.

    Tidak sedikit orang Katolik bila mendengar kata “Rasul” pikirannya langsung melayang ke 12 murid laki-laki yang pertama dipanggil oleh Yesus serta dididik secara cermat dan intensif agar dapat menjadi pewarta karya keselamatan Allah yang sudah Ia mulai dalam seluruh hidup-Nya. Tugas mereka nantinya dilanjutkan oleh para Uskup dalam Gereja sekarang. Pemikiran seperti ini tentu saja tidak salah, namun juga tidak seutuhnya benar.

                Menurut Luis Antonio G. Kardinal Tagle peristiwa kebangkitan Yesus bukan hanya membingungkan baik bagi para murid Yesus maupun para penguasa yang membunuh-Nya, melainkan juga mengguncang landasan dunia dan keberadaan manusia. Tatanan sosial baru diciptakan oleh peristiwa kebangkitan Yesus. Para anggota masyarakat kelas dua (= kaum perempuan) dipilih oleh kuasa Allah menjadi perantara (intermediaries) terwujudnya iman kaum laki-laki (Mat 28:5-7 dan 10; Mrk 18:6-7; Luk 23:5-10; Yoh 20:17-18), orang-orang yang oleh dunia telah diberi kuasa.

                Dalam tradisi Gereja Maria Magdalena disebut “rasul [perempuan] bagi para rasul [laki-laki].” Maria Magdalena adalah orang pertama yang menjadi pewarta inti dan pusat iman Kristiani, yakni Yesus yang telah bangkit dari kematian. Ia menjadi bagian sejarah yang indah dari para perempuan yang berakar pada peristiwa kebangkitan Yesus. Para rasul laki-laki diinjili (were evangelized) oleh para perempuan, yang telah menerima Kabar Gembira (Injil) dari para malaikat. Pembalikan tatanan sosial menjadi lengkap karena melalui para perempuanlah Kabar Gembira diwartakan.

                Lebih lanjut Kardinal Tagle mengatakan bahwa peristiwa kebangkitan Yesus tidak hanya menjungkirbalikkan tatanan sosial, melainkan juga merupakan sebuah belati yang diarahkan pada struktur Gereja. Penampakan pertama dari Tuhan yang telah bangkit tidak dilakukan kepada mereka yang menduduki fungsi kepemimpinan, yang disebut para rasul dan kedudukannya digantikan oleh para uskup. Peristiwa ini mestinya membuat kaum laki-laki yang menduduki fungsi kepemimpinan dalam Gereja menjadi rendah hati, dan mengakui bahwa kaum perempuan telah dianugerahi tempat yang pantas dalam kehidupan jemaat oleh Yesus yang telah bangkit.

                Sayangnya, para pemimpin Gereja cepat menjadi lupa. Tindakan Yesus menempatkan para perempuan menjadi anggota yang memiliki kesetaraan dengan kaum laki-laki dalam komunitas yang dibangun-Nya (Mat 23:8b)—yang kemudian menjadi praktik kehidupan jemaat Gereja Perdana (Gal 3:26-28)—dan bahkan menjadikan mereka rasul pertama untuk mewartakan kebangkitan-Nya kepada para rasul laki-laki segera dilupakan. Pengaruh budaya patriarkal yang menempatkan kaum perempuan sebagai warga kelas dua, yang dihidupi dalam masyarakat Yahudi, Yunani, dan Romawi segera menjadi praktik dalam kehidupan Gereja. Tidak sampai satu abad setelah peristiwa kebangkitan Kristus, para anggota jemaat perempuan segera tersingkir dari peran-peran penting dalam kehidupan jemaat, dan disubordinasikan oleh kaum laki-laki dalam jemaat. Hal ini terjadi sampai sekarang. Akibatnya, aspek feminin Gereja cenderung hilang, sehingga pengelolaan Gereja lebih mengedepankan logika akal budi daripada logika hati, lebih mengutamakan hokum dan peraturan daripada kerahiman dan bela-rasa-suka-duka (compassion). Akibatnya, pelayanan Gereja kerapkali lebih berupa urusan administratif daripada pelayanan pastoral.

                Dunia sudah begitu maju, demikian pula sudah begitu banyak perempuan yang memiliki keahlian dan kemampuan yang sangat luar biasa di bidang mereka masing-masing. Di dalam masyarakat mereka sudah menempati banyak kedudukan dan peran sangat penting, yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Apa yang perlu dilakukan oleh Gereja agar para anggotanya, kaum perempuan, dapat menjadi anggota penuh Gereja dan dapat memberikan sumbangan maskimal bagi kehidupan dan pelayanan Gereja?

                Lepas dari belum dimungkinkannya bagi kaum perempuan untuk menerima tahbisan dalam Gereja Katolik, para perempuan anggota Gereja dapat menduduki posisi-posisi penting dalam kehidupan Gereja yang tidak menuntut tahbisan. Mereka, antara lain, dapat (1) menduduki fungsi kepemimpinan Gereja (anggota Dewan Pastoral Paroki, anggota Dewan Pastoral Keuskupan, anggota Kongregasi dalam Kuria di Vatikan); (2) menjadi anggota tribunal Keuskupan; (3) menjadi dosen Filsafat atau Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi atau Fakultas Teologi; (3) menjadi anggota Staf di Seminari Tinggi;  dan (4)  terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan Gereja, termasuk memberikan penilaian terhadap para calon imam sebelum mereka diperbolehkan untuk menerima tahbisan, serta pemilihan para calon Uskup untuk keuskupan mereka masing-masing. Kaum perempuan juga (5) dapat memperoleh “gelar pelayanan pastoral tertinggi” sebagai seorang kardinal, karena gelar kardinal tidak menuntut tahbisan.

                Semoga para pemimpin Gereja mau belajar dari Yesus dan peristiwa kebangkitan-Nya agar kehadiran Gereja di tengah masyarakat menjadi semakin relevan dan signifikan, sehingga kehadiran Gereja di tengah masyarakat benar-benar dapat menjadi “sakramen kehadiran Kerajaan Allah.” Dengan demikian, masyarakat tidak lagi dibangun berdasarkan status sosial para warganya, melainkan berdasarkan kasih, solidaritas, kesetaraan, kepeduliaan terhadap orang-orang kecil, keadilan, perwujudan HAM bagi setiap warganya, rasa hormat terhadap keberagaman, dan kepedulian merawat bumi sebagai tempat tinggal Allah dan rumah kita bersama.

    Daftar Pustaka

    King, Geoffrey.  “Decision-Making in the Church: Beyond Clergy/Laity Distinctions.” East Asian Pastoral Review (1989): 387-396.

    D’Mello, John.  “Paradigms for a Feminization of the Church.”  In FABC Papers, no. 92c, pp. 18-20.

    Paus Fransiskus. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium: Sukacita Injil. Diterjemahkan oleh: F.X. Adisusanto, SJ dan Bernadeta Harini Tri Prasasti. Cetakan pertama. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014.

    Rademacher, William J.  Lay Ministry: A Theological, Spiritual & Pastoral Handbook. New York: Crossroad, 1991.

    Saldhana, Virginia. “The Church in the New Millennium: Learning to be in Solidarity and Dialogue with Women.” In FABC Papers, no. 92c.

    Snyder, Mary Hembrow. Spiritual Questions for the Twenty-First Century. Essays in Honor of Joan D. Chittister. Second printing. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2001.

    Tagle, Luis Antonio G. An Easter People: Our Christian Vocation to be Messengers of Hope. Quezon City: Jesuit Communications Foundation, Inc., 2003.

    Thurston, Anne.  Because of Her Terstimony: The Word in Female Experience.  New York: Crossroad, 1995.

    Refleksi Sahabat CLC – “KARTINI DALAM GEREJA”

    Melengkapi tulisan refleksi dari Rm. Madya, SJ tentang Maria Magdalena, maka refleksi berikutnya adalah Maria Magdalena dari CLC yang juga menghidupi semangat Kartini .. Beliau adalah Ibu Maria Magdalena Nancy K. Suhut yang biasa dipanggil dengan Ibu Nancy.

    Ibu Nancy bergabung dengan CLC di Bandung tahun 1974 dan kemudian aktif sebagai Ketua CLC Indonesia dan ikut aktif mewakili CLC Indonesia ke Sidang CLC Dunia.
    Saat ini Ibu Nancy adalah Konsultor 1 ExCo CLC di Indonesia.

    Mempunyai 2 orang anak yang telah menikah dan mempunyai 2 orang cucu. Suami meninggal tahun 2007, sama2 aktif di CLC dan Paroki.

    Pernah menjadi guru SMA di Bandung 1976-1978, bekerja di CSIS Jakarta sejak 1078-1989, 1989-1998 bekerja di bank dan 1999 kembali ke CSIS sampai pensiun tahun 2017.

    KARTINI DALAM GEREJA

    Oleh MM Nancy K. Suhut

    Ketika diminta untuk membagikan pengalaman mengenai “Kartini dalam Gereja” terus terang saya sangat bingung, apa yang harus saya sampaikan. Saya mencoba memahaminya sebagai peran seorang wanita dengan segala keterbatasan dan kelebihannya di lingkungan gereja dan komunitas kegerejaan. Saya melihat Kartini sebagai seorang wanita yang tidak ingin melawan kodratnya sebagai seorang wanita, tetapi ingin mengangkat harkat kaumnya, sedangkan gereja saya artikan secara luas sebagai lingkungan keagamaan, apapun bentuknya.

    Saya mulai dengan perjalanan saya di CLC sejak mahasiswa dulu, juga rupanya terpengaruh oleh kodrat saya sebagai seorang wanita, seorang ibu. Setelah berkeluarga, saya mengurangi aktivitas di CLC karena kesibukan saya sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja, sehingga sebagian besar waktu saya tersita untuk pekerjaan di kantor dan di rumah. Saya tidak dapat aktif dalam kepengurusan sampai anak-anak sudah besar dan tidak terlalu membutuhkan perhatian khusus. Ini salah satu bukti saya tidak dapat menghindari kodrat saya sebagai seorang ibu yang mempunyai tanggung jawab untuk mengurus keluarganya. Ketika suami saya sudah berpulang, dan anak-anak sudah besar, saya merasa mempunyai lebih banyak waktu untuk melanjutkan keterlibatan di CLC dan di lingkungan gereja. Namun demikian saya tidak pernah merasa bahwa karya pelayanan saya untuk gereja sempat terhenti ketika saya disibukkan dengan urusan keluarga. Bentuknya mungkin berbeda, karena saya percaya bahwa keluarga adalah lingkungan gereja yang paling kecil dan setelah itu dilanjutkan dengan karya pelayanan yang lebih besar dan terbuka. Namun demikian, saya menjalani semua ini dengan senang hati dan penuh rasa syukur, karena Tuhan telah memberikan kesempatan pada saya untuk selalu melayaninya dimanapun saya berada. Bagi saya melayani Tuhan bukan karena jabatan atau kedudukan saya, tetapi karena ketulusan dan kegembiraan yang saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya bisa merangkul mereka dan membuat mereka juga mengalami seperti saya, penuh sukacita. Sebagai contoh, ketika saya diberi kepercayaan sebagai ketua pengurus nasional CLC Indonesia, saya usahakan untuk bisa hadir di komunitas-komunitas lokal dan mengenal mereka secara mendalam, sehingga kami dapat merasa sebagai saudara satu bagi yang lainnya.Walau perjalanannya tidak selalu mudah, tetapi tapi ada kegembiraan yang muncul ketika bisa bertemu dan saling berbagi.Saya sungguh merasakan kehadiran Tuhan diantara kami pada saat bertemu. Begitu banyak pengalaman yang saya alami, yang membuat saya semakin yakin saya tidak pernah sendirian. Begitu banyak saudara sekomunitas yang menyayangi saya seperti juga saya menyayangi mereka.

    Hal yang sama juga saya rasakan di lingkungan gereja. Menjadi pengurus gereja cukup menyita waktu, tetapi itu semua terasa bagaikan anugerah karena dapat berbuat sesuatu bagi kepentingan gereja dan banyak orang yang dilayani. Di masa pandemi ini semua terasa lebih berarti. Kita diminta untuk tetap bisa berkarya walaupun tidak saling bertatap muka. Usia bukan halangan untuk terus berkarya. Bagi Tuhan tidak ada yang sia-sia, setiap kebaikan yang kita taburkan pasti akan berbuah kebaikan yang lebih banyak lagi.

    Ad maiorem Dei gloriam! Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar!

    Jakarta, 19 April 2021

    • Ibu Nancy Bersama Keluarga

    Ibu Nancy berulang tahun Desember 2020 bersama anak, menantu, dan cucu.

    • Ibu Nancy Bersama Anggota CLC

    Kenangan Formation Course (FC) pertama di Girisonta tahun 1976 bersama Pater J. Vossen Waskita, SJ.

    Acara penyegaran spiritualitas ignatian di girisonta tahun 2009.

    Sidang Umum Nasional Tahun 2010 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    • Ibu Nancy dalam kegiatan CLC Asia Pasific dan Dunia

    Sidang Umum Asia Pasific (AP Assembly) di Taipei tahun 2015

    Di Lebanon.

    Sidang Umum Dunia di Fatima, Portugal

    • Ibu Nancy dalam karya profesional

    Bersama rekan kerja di perayaan ulang tahun CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Ke-40.*

    Kegiatan Rapat Dewan Paroki Danau Sunter gereja St. Yohanes Bosco tahun 2020.

    team ME (Marriage Encounter) Paroki.