Refleksi Sahabat CLC – “DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan Penutupan Tahun Ignasian, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Dominico Savio Octariano, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Nico , dengan judul tulisan “Dianggap Gila Demi Kristus“.

Rm. Nico baru saja menyelesaikan studi spiritualitas di Comillas, Madrid, Spanyol. Sejak 21 Juli 2022 kembali ke Indonesia. Selanjutnya akan menjalani perutusan baru sebagai Socius Magister di Girisonta.

Selamat membaca dan berefleksi

Ad Maiorem Dei Gloriam.

.

“DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Selama setahun ini, di tahun Ignatian, kita pemerhati dan penghayat spiritualitas Ignatian mendapatkan kesempatan untuk mencecap-cecap banyak tema spiritualitas Ignatian lewat pertemuan-pertemuan di berbagai kelompok dan forum. Di dalam pertemuan itu, kita, sebagai peserta diperkaya, tidak hanya dengan paparan materi, diskusi atau tanya-jawab, namun juga lewat percakapan rohani, yakni sarana yang membuat tema-tema tersebut lebih membatin, karena daya-daya jiwa kita digerakkan.

St. Ignatius Loyola, dalam Latihan Rohani, menerangkan bahwa hidup kita itu digerakkan oleh 3 daya jiwa, yakni ingatan, pikiran dan kehendak (lih. LR 45, 50, 246). Bila dilihat dari sudut pandang pengolahan daya-daya jiwa, selama setahun ini, dalam berbagai forum diskusi dan pertemuan, kita lebih banyak melatihkan daya ingatan dan pikiran kita. Lalu bagaimana dengan daya kehendak? Daya kehendak pada diri kita dalam forum-forum itu juga sudah dilatihkan, namun baru sampai pada tahap dorongan atau keinginan internal saja.

Spiritualitas Ignatian bukanlah spiritualitas yang cukup puas atau berhenti pada transformasi batin atau internal saja. Spiritualitas Ignatian harus membawa seseorang sampai pada transformasi cara hidup. St. Ignatius dalam meditasi Tiga macam kerendahan hati, mengungkapkan bahwa kerendahan hati yang hendak dicapai atau cara hidup yang sempurna hendak dihayati adalah cara hidup yang meneladani dan menyerupai Yesus, yakni cara hidup dalam pengabdian, mau ikut memanggul salib Yesus di dunia dalam hidup keseharian kita (lih. LR 167).

Dalam nomer yang sama, LR 167, St. Ignatius bahkan menggunakan frase yang sangat khas: “Aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu”. Lalu apa artinya kerendahan hati tingkat 3 ini dalam spiritualitas Ignatian dan apa kaitannya dengan daya kehendak yang harus diaktualkan dalam hidup sehari-hari?

Sebagai peziarah Allah, St. Ignatius memberikan contoh lewat pengalaman personalnya. Autobiografi menceritakan pergulatan bagaimana Ignatius berjuang menghidupkan daya kehendaknya. Setidaknya ada 3 fase dalam hidup Ignatius, yang menunjukkan proses transformasi cara hidup atau cara dia mengaktualkan daya kehendaknya.

Hombre de Saco (manusia karung goni)

Pilihan Ignatius untuk membeli dan menggunakan pakaian yang berbahan karung goni (Autobiografi 18), bukanlah pilihan sesaat atau pilihan yang semata-mata demi pertobatannya, melainkan sebagai cara/bentuk hidup yang memang ia ingin jalani. Kehendak batinnya mengarah pada memilih cara hidup yang hina. St. Ignatius ingin benar-benar menghidupi cara hidup “gila demi Kristus” lewat penampilan fisik yang menyerupai orang gila.

Pada waktu itu, sangat jamak bahwa orang-orang yang ingin sungguh-sungguh berbakti kepada Allah, meninggalkan cinta dunia, dengan memilih hidup yang secara fisik memang kelihatan “meninggalkan dunia”. Cara hidup ini pada saat itu disebut sebagai cara hidup para “Santo gila” (el santo loco), yakni dengan meninggalkan keramaian, tinggal di hutan atau padang gurun, menggunakan pakaian seadanya, membiarkan penampilan fisik yang ala kadarnya, makan dari hasil hutan/alam, dan mengabdi Tuhan lewat doa dan puasa. Secara khusus, menurut Hieronimus Nadal, St. Ignatius, pada fase ini mencontoh cara hidup Santo Onofrius, seorang “santo gila” yang terkenal di gereja Barat. St. Ignatius mengatualkan daya kehendaknya dengan cara mengikuti hidup para “santo gila”.

Ayudar las animas (menolong jiwa-jiwa)

Kondisi fisik St. Ignatius yang seperti “santo gila” ini berlangsung cukup lama. Bahkan sepulang dari Yerusalem dan gagal tinggal di sana, dia masih mengenakan cara hidup demikian. Bahkan ketika dia melewati wilayah konflik, dan kemudian ditangkap oleh sejumlah prajurit karena dicurigai sebagai mata-mata, pada saat diinterogasi oleh komandan pasukan, sang komandan berkomentar “Orang ini gila, tidak punya pikiran, berikan barangnya dan suruh dia keluar” (Autobiografi 53).

Pasca Yerusalem, Ignatius sudah mulai menghidupi daya kehendaknya dalam fase yang berbeda. Dia melihat kegagalan tinggal di Yerusalem sebagai bagian dari kehendak Allah dalam hidupnya. Dalam refleksinya kemudian, adalah lebih baik cara hidup yang kemudian dia pilih adalah dengan membantu orang-orang dalam hidup imannya. Lalu dia mulai meninggalkan cara hidup “santo gila” dan memeluk cara hidup yang baru, yakni mengutamakan keselamatan jiwa-jiwa. Daya kehendaknya tidak lagi berhenti pada hanya keselamatan jiwanya sendiri, tetapi sekarang bekerja bersama Tuhan, dengan cara membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang lain.

Ad Maiorem Dei Gloriam (berakar dari pengalaman La Storta)

Pentingnya studi adalah bagian refleksi yang mendalam dari Ignatius, karena dengan bekal studi dan pengetahuan iman serta teologi yang memadai, maka “ayudar las animas” akan menjadi lebih mudah diterima. Studi di Barcelona, Alcala, Salamanca dan Paris menandai fase ini. Ignatius melewati proses jatuh-bangun dalam hal studi. Tetapi pengalaman studi ini benar-benar menjadi pondasi dasar bagi hidupnya. Daya kehendaknya yang menginginkan menyelamatkan jiwa-jiwa ditopang dengan modal studi yang sangat memadai pada zaman itu.

Selepas fase studi, Ignatius dan teman-temannya masih berketetapan untuk pergi ke Yerusalem. Tetapi karena keadaan pelayaran yang belum aman, mereka tidak mungkin ke sana. Lalu dalam perjalanan ke Roma, Ignatius singgah di kapel La Storta, dan di kapel itu, dia mengalami pengalaman peneguhan sekaligus mempertegas daya kehendaknya ke arah lebih spesifik lagi. Keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa diperteguh dengan penampakan La Storta dan Ignatius merefleksikan pengalaman itu sebagai gambaran cara hidup yang akan dia hadapi yakni memanggul salib bersama Yesus dan semua dikerjakan demi lebih besarnya kemuliaan Allah (AMDG). Fase yang ketiga ini adalah fase peneguhan cara hidup. Bagi Ignatius, ini adalah bentuk cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3. “Dianggap gila demi Kristus” dia hidupi dengan cara total dalam pengabdian pada Kristus, dengan menyelamatkan jiwa-jiwa.

Dari tema kecil tentang “Dianggap gila demi Kristus” ini, kita hendak belajar tentang bagaimana St. Ignatius mengaktualkan daya kehendaknya. Lalu, bagaimana dengan kita di akhir tahun pertobatan Ignatius ini, apakah tema-tema dari forum dan pertemuan yang sudah kita ikuti mengarah pada kemampuan mengaktualkan daya kehendak kita sampai ke cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3, sebagaimana diharapkan oleh St. Ignatius lewat Latihan Rohani? Semoga setelah tahun Ignatian ini, kita tidak lupa pada bagian yang penting ini. Spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas pengabdian. Semoga setelah ini, ketika kita kembali ke dalam realitas hidup dan pekerjaan kita, transformasi yang terjadi pada diri kita adalah tranformasi cara hidup yang semakin mengabdi Allah dan ikut memanggul salib bersama Yesus di dunia. AMDG.

Pesta St. Ignatius Loyola, 31 Juli 2022

Dominico Savio Octariano, SJ

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan:

KEGIATAN DENGAN CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Sentir y gustar internamente – Rekoleksi Penutupan Tahun Ignatian Bersama CLC di Jakarta : Minggu, 24 Juli 2022

.

KEGIATAN MENJADI NARASUMBER DALAM ANEKA WEBINAR …

.

.

Refleksi Sahabat CLC – “TATAPAN KONTEMPLATIF DAN KRISIS PENGUNGSI”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Martinus Dam Febrianto, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Dam, dengan judul tulisan “TATAPAN KONTEMPLATIF DAN KRISIS PENGUNGSI“.

Saat ini Rm Dam bertugas sebagai Project Director JRS Indonesia, berdomisili di Paroki Cililitan, Jakarta Timur.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

TATAPAN KONTEMPLATIF DAN KRISIS PENGUNGSI

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan” (Mat. 25:35). Sabda Tuhan ini menjadi penegasan bagi setiap pengikut Yesus, bahwa yang paling utama dalam mengikut Dia adalah bahwa kita mengasihi sesama kita, lebih-lebih mereka yang memerlukan, dalam tindakan, bukan sekadar kata-kata.

Martinus Dam Febrianto, SJ

Project Director JRS Indonesia

Tentu saja, ada banyak orang dalam bermacam situasi yang memerlukan perhatian dan tindakan kasih kita. Seperti disebutkan dalam sabda mengenai pengadilan terakhir, mereka yang membutuhkan bisa jadi orang lapar, haus, seorang asing, telanjang, sakit, atau dalam penjara. Dalam diri orang-orang demikianlah, Yesus lebih-lebih menyatakan diri-Nya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kita dipanggil memberikan perhatian konkret kepada orang-orang dalam situasi demikian.

Tatapan Kontemplatif

Pertanyaan yang barangkali muncul, “Siapakah sesamaku yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, atau dalam penjara yang saat ini juga memerlukan perhatianku? Untuk dapat menjawab pertanyaan itu, kita dapat merujuk pada undangan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium (2013), yakni agar kita memiliki suatu tatapan kontemplatif (a contemplative gaze) dalam memandang dunia sekitar kita (lih. EG no. 71). Tatapan kontemplatif ini merupakan pandangan iman yang melihat Tuhan berdiam di dalam dunia dan segala isinya yang kita jumpai, serta mengundang kita pada perhatian dan tindakan belas kasih. Di tengah realitas dunia saat ini yang tidak melulu memperlihatkan keindahan dan harmoni, melainkan juga kesengsaraan dan disharmoni sebagian dari makhluk ciptaan-Nya, tatapan kontemplatif berarti kesediaan untuk sungguh-sungguh melihat, mendengar, dan merasakan dalam cara Yesus melihat, mendengar, dan merasakan.

Tatapan kontemplatif tentu tidak berakhir dalam tataran pengetahuan dan kesadaran mengenai dunia di sekitar kita, melainkan menuju pada tindakan yang konkret belas kasih. Secara sederhana, dapat dirumuskan “cara bertindak” yang ditawarkan Paus Fransiskus sebagai “mengkontemplasikan-menimbang-mengajukan” (contemplate, discern, propose), yang mirip dengan metode “melihat-menilai-bertindak” (see-judge-act) dalam teologi-teologi pembebasan (Lih. Catatan Tambahan oleh Austen Ivereigh dalam Paus Fransiskus, Mari Bermimpi: Menuju Masa Depan yang Lebih Baik, Gramedia, 2021). Tatapan kontemplatif diperlukan agar orang dapat berdiskresi (mengenali kehendak Allah dalam situasi konkret) dan melakukan hal yang tepat sesuai kehendak-Nya. Dalam proses melihat, mendengar, merasakan, dan menimbang-nimbang ini, orang perlu mencari tahu situasinya secara lebih dalam. Dalam diri Paus, proses demikian membawa pada undangan untuk menaruh perhatian pada dunia yang dilanda ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan krisis migran dan pengungsi. Bagian berikut ini merupakan tawaran saya untuk mendalami satu dari tiga perhatian pokok Paus Fransiskus bagi kemanusiaan zaman ini, buah dari tatapan kontemplatifnya atas dunia.

Krisis Pengungsi

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), pada Mei 2022 ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada 100 juta orang yang mengungsi secara paksa di seluruh dunia (“UNHCR: A record 100 million people forcibly displaced worldwide,” https://news.un.org/en/story/2022/05/1118772). Peningkatan jumlah pengungsi terjadi karena gelombang baru konflik dan kekerasan di beberapa negara. Perang di Ukraina, misalnya, telah membuat 8 juta orang mengungsi di dalam negeri dan memaksa sekitar 6 juta orang meninggalkan negeri itu.

Tren global ini secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi situasi pengungsi yang tinggal sementara di Indonesia. Perhatian masyarakat internasional akan lebih difokuskan pada pengungsian baru dan krisis pengungsi. Selain itu, jumlah pengungsi dan pencari suaka di Indonesia juga relatif sedikit, yakni hanya 13,253 orang per Maret 2022, jika dibandingkan dengan jumlah pengungsi dan pencari suaka di negara tetangga, misalnya Thailand (96.331 orang) atau Malaysia (182.960 orang). Oleh karena itu, mudah bagi pengungsi dan pencari suaka yang tinggal sementara, di Indonesia untuk cenderung dilupakan. Atau, setidaknya para pengungsi sendiri merasa tidak diprioritaskan untuk mendapatkan perlindungan dan, terutama, untuk mendapatkan pemukiman di negara ketiga. Padahal, mereka sudah bertahun-tahun berada di Indonesia dan pemukiman kembali dianggap sebagai satu-satunya solusi yang komprehensif bagi kesulitan hidup dan ketidakpastian yang mereka alami.

Situasi di atas juga memperparah situasi pengungsi lintas di Indonesia yang sampai saat ini tidak diperbolehkan bekerja, kesulitan mengakses pendidikan, juga layanan kesehatan. Barangkali kita mendengar atau melihat di media massa mengenai demonstrasi para pengungsi. Mereka mengungkapkan kecemasan mereka dan kemendesakan untuk memperoleh penempatan di negara ketiga. Sementara itu, sebagai negara yang belum meratifikasi konvensi dan protokol pengungsi, pemerintah Indonesia tidak merasa bertanggung jawab atas situasi sulit yang dialami para pengungsi. Ditambah lagi Indonesia belum memiliki kerangka hukum yang komprehensif untuk penanganan pencari suaka dan pengungsi.

Meski Perpres no. 125/2016 telah memberikan kejelasan tentang penanganan darurat pengungsi yang mendarat di Indonesia, itu belum cukup memberikan kepastian atau kekuatan hukum untuk penanganan terhadap pengungsi dan pencari suaka yang tinggal lama di Indonesia. Oleh karena itu, komunitas-komunitas lokal, selain lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), memiliki peran penting dalam mendukung dan melindungi hak-hak dasar para pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Perlu ada layanan berkelanjutan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar, membantu dalam akses kesehatan dan mengusahakan agar pengugsi dapat mengakes pendidikan. Sejauh ini, sudah dilakukan beberapa upaya dengan kemajuan positif di bidang advokasi, yaitu hak atas pendidikan bagi anak-anak pengungsi.

Undangan untuk Bertindak

Akbar Anwari adalah pemuda 23 tahun asal Afghanistan yang pada 2015 hidup sebagai pengungsi di kawasan Cisarua, Bogor. Seperti para pengungsi dan pencari suaka lainnya, Akbar hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian di Indonesia. Namun, rupa-rupanya ia memilih untuk tidak kehilangan harapan. Bahkan, ia ingin menularkan bahwa harapan tetap ada untuk para pengungsi dan pencari suaka. Ketika masih di Helmand, suatu provinsi di Afghanistan bagian selatan, ia sudah menyandang sabuk hitam beladiri kung fu. Akbar memang sudah belajar kung fu sejak usia 7 tahun. Tiba di Indonesia, Akbar juga segera belajar Bahasa Indonesia dan Inggris di pusat belajar yang dikelola JRS. Tahun 2018, Akbar mulai mendirikan klub pelatihan kung fu bagi anak-anak pengungsi, tetapi juga bagi warga lokal yang tertarik untuk bergabung. Ia kemudian juga menjadi guru Bahasa Indonesia bagi teman-teman pengungsi di pusat belajar JRS dan pusat belajar yang didirikan komunitas pengungsi.

Ada banyak orang seperti Akbar di kalangan para pengungsi dan pencari suaka. Mereka mampu memberikan kontribusi positif bagi komunitas. Namun demikian, sering kali orang-orang ini memiliki hambatan yang cukup menyulitkan. Sementara mereka berkehendak untuk memberikan apa yang mereka miliki kepada komunitas, mereka juga harus berjuang untuk dapat mencukup kebutuhan hidup sehari-hari: makan, minum, tempat tinggal. Perhatian dari masyarakat, termasuk komunitas-komunitas rohani, diperlukan. Kita bisa mendukung orang-orang seperti Akbar, atau juga mereka yang berada dalam situasi lebih sulit lagi sehingga bahkan tidak mampu memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar. Dalam suatu seri TED Talk pada 2017, Paus Fransiskus menyatakan, “A single individual is enough for hope to exist, and that individual can be you.” Satu tindakan kasih kita dapat menjadi sesuatu yang amat berarti dirasakan oleh saudara-saudari kita yang paling lemah.

Lampiran-lampiran Tambahan:

.

TAHBISAN DIAKON : Senin, 10 Mei 2021

https://jesuits.id/tahbisan-diakon-sj-dan-kamu-harus-menjadi-saksi/

.

TAHBISAN IMAM : Kamis, 19 Agustus 2021

https://jesuits.id/kisah-kecil-tentang-sukacita/

Refleksi Sahabat CLC – “KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Drs. Y.I. Iswarahadi, M.A., S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Iswara atau Rm Is, dengan judul tulisan “KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA“.

Rm. Iswara telah berkarya di Studio Audio Visual (USD/Puskat) sejak 1985. Selain itu, ia juga mengampu matakuliah “Media Pembelajaran”, “Komunikasi dan Media”, dan “Public Speaking dan Teater” di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik – FKIP – Universitas Sanata Dharma; serta matakuliah “Komunikasi Sosial” di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA

Oleh Y.I. Iswarahadi SJ

        Sebagai seorang Jesuit, saya pernah menjalani Latihan Rohani (LR)  secara penuh (30 hari) sebanyak tiga kali: yakni dua kali di novisiat  dan satu kali selama masa tersiat. Setiap tahun saya juga menjalani Latihan Rohani selama 8 hari.  Selain itu, saya juga pernah membimbing “retret 8 hari” untuk kaum religius kurang lebih sebanyak 20 kali. Meskipun demikian, saya bukan seorang ahli Latihan Rohani.  Dalam rubrik yang terbatas ini saya  mencoba memaparkan aspek komunikasi dalam Latihan Rohani St Ignasius Loyola.  

        Doa pada dasarnya adalah sebuah komunikasi antarpribadi, yaitu antara pribadi manusia dan pribadi ilahi. Doa juga merupakan bagian penting dari Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Lalu apa itu Latihan Rohani? Latihan Rohani adalah retret (olah batin)  yang bertujuan  mengajak peserta (retretan)  untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan mengenai hidupnya. Dengan kata lain,  kegiatan retret itu menolongnya untuk mengikuti Kristus lebih dekat. Mencari dan menemukan kehendak Tuhan merupakan pengalaman hidup yang dasariah dan menentukan. Pengalaman ini diperoleh lewat doa, latihan-latihan olah batin dan pendampingan dari pembimbing retret. Ignasius sendiri sudah memperoleh pengalaman itu di Manresa, Spanyol. Lalu dalam tathun-tahun terakhir di Roma Ignasius menyempurnakannya, agar LR dapat berguna bagi orang lain. (Bdk. Darminta, J., SJ, “Pengantar”, Seri Ignasiana 5: Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993, hlm. 8).  

         Perlu diperhatikan bahwa Latihan Rohani dimulai dengan merenungkan kebenaran-kebenaran abadi, yaitu penciptaan, dosa, dan karya penyelamatan. Melalui pokok-pokok itu,  retretan diajak untuk berkonfrontasi (berkomunikasi) dengan dirinya sendiri. Kemudian ada kesempatan untuk memperdalam pengertian batin tentang Kristus, agar retretan semakin baik dalam mengikuti dan mengabdiNya. Untuk itu, para retretan mengkontemplasikan misteri-misteri hidup Kristus: pelayanan, penderitaan dan kebangkitanNya. Puncak Latihan Rohani adalah kontemplasi untuk mendapatkan Cinta.  Selain itu, Latihan Rohani dibagi dalam empat bagian yang disebut sebagai empat minggu. Pembagian empat minggu hanyalah untuk menunjukkan bahwa Latihan Rohani terdiri dari empat langkah besar sesuai dengan dinamika karya keselamatan. Lamanya  latihan tiap minggu tergantung sekali pada proses perjalanan rohani yang dialami oleh setiap retretan. (bdk. Darminta, J., SJ, 1993: 8 & 17).

         Berdasarkan pengalaman saya, aspek komunikasi pertama yang paling awal  terjadi adalah komunikasi antara retretan dan pembimbing. Komunikasi ini berlangsung secara periodik sesuai kebutuhan. Pembimbing memberikan bahan, memberikan rambu-rambu bagi peserta. Sebaliknya, retretan bisa membagikan pengalaman doa atau pertanyaan metodologis yang kemudian mendapatkan feedback dari pembimbing. Dalam proses pendampingan seorang pembimbing harus bersikap netral.  Aspek komunikasi kedua terjadi pada saat retretan memahami materi (misalnya cerita Kitab Suci) dan mencecap-cecap maknanya di dalam batin. Dalam arti tertentu retretan berkomunikasi dengan pengarang Kitab Suci yang diinspirasikan oleh pribadi ilahi ketiga, Roh Kudus. Dalam proses pengolahan internal itulah terjadi proses komunikasi di dalam batin.  Dalam arti tertentu,  pada setiap latihan  retretan mencoba menangkap pesan Kitab Suci  yang dapat mengubah hidupnya.

        Pada setiap latihan  retretan mengawali latihan dengan menyampaikan doa permohonan yang isinya disesuaikan dengan bahan dan dinamika retret. Memohon kepada Tuhan  merupakan aspek komunikasi yang ketiga. Doa permohonan ini mengawali  latihan-latihan dalam setiap minggu. Misalnya:  dalam latihan pertama dari Minggu I retretan menyampaikan permohonan kepada Tuhan agar semua maksud, perbuatan dan pekerjaan diarahkan melulu pada pengabdian dan pujian kepada Allah yang Mahaagung (LR 46). Isi permohonan selalu disesuaikan dengan bahan maupun dinamika retret yang sedang dijalani selama 4 minggu.

         Kemudian setiap kali mengakhiri setiap latihan, retretan melakukan percakapan dengan pribadi-pribadi ilahi. Misalnya: Allah Bapa, atau Kristus, atau Bunda Maria. Dalam LR 53, misalnya,  disebutkan bahwa peserta membayangkan Kristus hadir di hadapannya, tergantung di kayu salib. Retretan bertanya kepada Kristus dalam bentuk percakapan: bagaimana Dia sang Pencipta sendiri telah berkenan menjadi manusia, bersedia sengsara, wafat demi dosa-dosa manusia. Retretan bertanya kepada Kristus: “Apa yang telah kuperbuat bagi Kristus, apa yang sedang kuperbuat bagi Kristus, dan apa yang harus kuperbuat bagi Kristus?” Sambil memandang Kristus yang tersalib, retretan merasa-rasakan apa yang timbul di dalam hati.  Isi percakapan tergantung pada dinamika yang dialami retretan. Percakapan yang terjadi dalam setiap latihan selama 4 minggu ini merupakan aspek komunikasi yang keempat.

        Terkait aspek komunikasi yang kedua, apabila materinya berupa film, di sana pun ada komunikasi. Seperti kata Pater Pungente SJ dalam buku Finding God in the Dark (Ottawa: Novalis, 2004, hlm. 16-17),  pada saat kita nonton film, kita tidak hanya dihibur, tetapi kita sedang dibentuk. Kita berhadap-hadapan dengan cerita-cerita yang membentuk apa yang mungkin terjadi, dan kita menghayati kemungkinan-kemungkinan itu. Doa Ignasian menggunakan imajinasi untuk menghadirkan dunia kita, dan mengijinkan kita membuka diri terhadap kehadiran Tuhan yang dinamis di dalam dunia. Tuhan ingin secara penuh hadir di hadapan kita dan di dalam diri kita. Dan perjumpaan muka dengan muka antara kita dan Tuhan terjadi dalam kontemplasi kita. Oleh sebab itu, film sebagai media komunikasi merupakan cara kontemporer untuk masuk ke dalam pewahyuan timbal balik antara kita dan Tuhan.

         Demikianlah beberapa aspek komunikasi yang saya ketahui dan alami dalam Latihan Rohani St. Ignasius Loyola.  Aspek-aspek  komunikasi ini tidak bisa dilepaskan dari seluruh dinamika Latihan Rohani. AMDG.

***

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

DOKUMENTASI KEGIATAN LAIN-LAIN

Rama Iswara (nomor 2 dari kiri) saat berperan menjadi anggota DPR bersama rama Van Lith SJ dalam film “Betlekem Van Java”.

https://youtu.be/vBepsYnv5U0

Rama Iswara (baju kuning) bersama crew studio Audio Visual PUSKAT.

Sumber: https://www.wartakita.org/rama-iswarahadi-tugasnya-di-media-komunikasi-belum-pernah-ditugaskan-di-paroki/

.

https://www.youtube.com/watch?v=2zMUkBKYcaM

Refleksi Sahabat CLC – “ BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang ”

Dalam rangka menyambut Bulan Maria dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Br. Norbert Mujiyana, S.J. atau yang biasa disapa dengan Br. Norbert, S.J. dengan judul tulisan “BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang”.

Br. Norbert, SJ saat ini bertugas sebagai pamong di Seminari Mertoyudan Magelang. Beliau menjadi Pendamping CLC di Magelang (Kelompok Maria Fatima).

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima lokal Magelang

Perutusan Maria : Bunda Allah dan Bunda Kita dalam Rahmat.

Maria: Bunda Allah dan Bunda kita dalam Rahmat “Dan di kaki Salib Yesus berdiri ibu-Nya… Dan ketika Yesus melihat Ibu-Nya dan murid yang dikasihiNya, berkatalah Ia pada Ibu-Nya: “Ibu inilah anakmu!” kemudian kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid terkasih menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19:25-27)

Keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, membiasakan, menanggapi Sabda Tuhan. Sebagai ujud nyata berupaya peduli terhadap sesama, kami beranggapan bahwa, yang terpanggil hidup selibat dalam komunitas Biarawan Biarawati dan berserah kaul TAAT, WADAT, MLARAT, mereka adalah pilihan  Allah.

Sebagai gambaran Sabda, Para Orang Tua Biarawan Biarawati, telah merelakan putra-putrinya untuk melayani Tuhan secara total sesuai dengan komunitas yang dipilihnya. Sudah selayaknyalah para Orang Tua Biarawan Biarawati (‘bagaikan Bunda Maria’) perlu diperhatikan. Kami sebagai keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, menyempatkan, memperhatikan, berkunjung sebagai bentuk sapaan kasih. Tindakan nyata, kami pernah berkunjung ke Orang Tua Rm Leo Agung Sardi, SJ; Orang Tua Rm TB. Gandhi Hartono,SJ; Orang Tua Br Norbert Mujiyana, SJ. Mereka semua juga sebagai Orang Tua kami. Mereka semua merelakan putranya kepada Allah untuk membahagiakan banyak orang, tepatlah kalau kami ikut berbahagia dan menghormati mereka.  Para Orang Tua Romo dan Bruder, pasti mereka  diberikan Rahmat tersendiri dibanding kami sebagai kaum awam oleh Allah. Para Orang Tua Biarawan Biarawati, terutama Ibu mereka adalah Ibu ILAHI, yang mengalir, meluap, terbuka, meluas dan dirasakan banyak orang. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang mengagendakan minimal satu tahun satu kali berkunjung, syukur bisa beberapa kali dalam setahun (minimal saat Paskah atau saat Natal).

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara banyak orang  dan berkata kepada-Nya, “ Berbahagialah Ibu yang mengandung Engkau” dan Susu yang menyusui Engkau” tetapi Ia berkata, yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan FIRMAN ALLAH dan yang memelihara-Nya. (Luk.11: 27-28).

Peristiwa Kalvari, jelas bahwa Maria membawa Kristus kepada dunia. Kristus dan Maria bukan hanya untuk orang Nasaret, tetapi untuk seluruh manusia yang bersatu dengan Kristus dan yang tidak melawan kita.

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, berbahagia diberi kesempatan Tuhan untuk berbagi kasih kepada para Ibu dari para Biarawan dan tidak lepas dari tuntunan Bunda Maria Ibu Yesus. Kami bersama belajar untuk bersyukur, lebih sabar, hidup sederhana, rendah hati, dan ikhlas ketika putera mereka melayani Tuhan. Secara Iman mendalam kami yakin para Orang Tua mereka dipenuhi Rahmat. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang dalam hidup sehari-hari ikut mendoakan Biarawan biarawati, secara khusus kami berdoa untuk para Romo yang mendampingi CLC. Tidak terlewatkan kami selalu mohon Rahmat dari Bunda Maria Ibu Yesus, yang secara optimal mengabulkan doa-doa permohonan kami. Kami juga berziarah Rohani ke beberapa tempat Goa Maria yang bisa kami jangkau. Prinsip Maria adalah Bunda perantara kami semua dan Bunda Penolong.

Dengan memahami Sabda Tuhan tersebut keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, peduli terhadap banyak orang tanpa membedakan agama, kami membantu mereka yang berkesesakan hidup, kaum papa yang membutuhkan uluran tangan kasih, dan kami berusaha untuk mengajak siapapun yang berkehendak baik untuk Memuliakan Tuhan lewat Sesama diabdi (AMDG). Kami saling merindukan untuk bisa bertemu, karena dalam perjumpaan itulah kami bisa saling menguatkan dan yakin Tuhan ada  ditengah-tengah kami semua. Hal yang rutin kami lakukan di rumah masing-masing adalah mendoakan banyak orang  terutama yang sakit dan yang mengalami kesulitan. Dalam pertemuan rutin setiap minggu ketiga kami berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran, dan dirasa sangatlah mengena, yang akan dibahas disampaikan dengan jelas, dipikirkan bersama, dirasakan bersama  dan diputuskan bersama, dan dilaksanakan bersama sehingga kami semua ringan, nyaman dalam kegiatan dan praktis, sehingga muncul rasa kerinduan untuk ingin bertemu. Kami selalu belajar menerapkan kasih, Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Untuk itu kami melakuakan kehendakNya dengan keterbatasan kami, dan kami semua bersyukur karena masih dipercaya Tuhan untuk diutus dan melayani-Nya. Kami berusaha seoptimal mungkin supaya hidup kami bisa menjadi Berkat bagi banyak orang.

Maria jelas Bunda kita, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut kehendakMu” (Lukas 1: 38). Maria Ibu Yesus yang sangat luar biasa, sangat memperhatikan setiap kata dan tindakan Yesus selembut apapun, Maria adalah murid-Nya, “ikutlah Aku”.

Bunda Maria sebagai Bunda Perantara, ketika pesta  dengan penggandaan lima roti dua ikan perjamuan di Kana (Yoh 2 : 1-12).

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, mengimani bahwa Maria adalah Ibu Spiritual, kami semua belajar, meneladan dengan tekun berdoa. Tekun dalam ekaristi, berdoa Rosario, pujian kepada Maria semua itu  merupakan santapan rohani harian bagi kami semua. Nama Maria Bunda Yesus selalu kami sebut dalam setiap peristiwa. Dalam kenyataaan sharing kelompok dalam pertemuan, doa mohon Rahmat dengan pertolongan Maria rata-rata ujub permohonan dikabulkan.

Dengan mendengarkan dan melakukan perintah sang Guru dipadukan dengan kehendak untuk menanggapi kasih keibuan Maria, kita dibentuk sebagaimana Sang Sabda sendiri dibentuk dalam Rahim Perawan dan menjelma menjadi Manusia Baru – Manusia Allah.

Syukur atas kepercayaan Tuhan kepada keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang untuk melayani Tuhan dengan kasih. Kami semua siap diutus Tuhan.  St. Ignatius Loyola doakanlah kami, Santo Santa Pelindung, doakanlah kami. Berkah Dalem Gusti.

Disarikan oleh Ibu Christiana E. Supriyati dan editor Br. Norbert, S.J.

Magelang,  Hari Raya Kerahiman April 2022

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan

.

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

BERZIARAH KE GUA MARIA & BERDOA ROSARIO BERSAMA

Setelah Rosario di Goa Maria Jatiningsih dg Br.. Norbert. SJ

.

Setelah selesai Rosario di Goa Sumur Arum Grabag dengan Br. Norbert, SJ dan Rm. Mario, SJ.

.

(searah jarum jam dari kiri atas) Setelah Rosario di Gereja Boro dengan Br. Norbert, SJ, Setelah selesai Rosario di Gereja Boro Yogyakarta, Ziarah ke Gereja Jago Ambarawa, Setelah selesai Rosario di Gereja Katedral Semarang.

.

Doa Rosario dipimpin Fr. Anes, SJ

MENGUNJUNGI ORANG TUA ASISTEN GEREJANI LOKAL & PENDAMPING CLC Maria Fatima Lokal Magelang

Kunjungan ke Ibu Hardi (Ibunda Rm. TB. Gandhi Hartono. SJ)

Mengunjungi ayahanda Rm Leo Agung Sardi, S.J.

Kunjungan ke ibunda Br. Norbert, S.J.

MENGUNJUNGI ANGGOTA CLC DI MAGELANG YANG SAKIT

Kunjungan Bu Ita (CLC) sakit jantung bocor.
Kunjungan Bpk Giyo (CLC) yang sedang sakit.

.

MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN

Beri bantuan unt Yoga (19 th di kursi dorong).
Ngantar Pakaian Pantas Pakai di Ngablak.

Memberikan bantuan tanaman Lerak di Stasi Tangkil Muntilan.

.

PERTEMUAN ONLINE (lewat zoom)

Minggu, 19 September 2021, pk. 18.00

.

PERTEMUAN OFFLINE (di rumah CLCers)

..

SHARING PERCAKAPAN ROHANI 3 PUTARAN

Pertemuan rutin setiap minggu ketiga: berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran

PERSIAPAN KEGIATAN OFFLINE

.

Br. Norbert, SJ, Frater Blasius OSCO dan tim CLC Magelang pesan tempat Retret untuk tgl 8, 9 Juni 2022.

Rm. E. Sapto Jati Nugroho, S.J. menyiapkan materi Retret 8,9 Juni 2022

Refleksi Sahabat CLC – “ PEREMPUAN DAN SPIRITUALITAS IGNASIAN ”

Dalam rangka menyambut Hari Kartini dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Patrisius Mutiara Andalas, SJ., SS, STD atau yang biasa disapa dengan Rm. Andalas, S.J. dengan judul tulisan “Perempuan dan Spiritualitas Ignasian”.

Rm. Andalas, SJ saat ini bertugas sebagai dosen pengajar di Prodi Ilmu Keagamaan Katolik dan Kepala Pusat Studi Ignasian di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Beliau tinggal di Komunitas Bellarminus, Mrican, Yogyakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

PEREMPUAN DAN SPIRITUALITAS IGNASIAN

Oleh Mutiara Andalas, SJ, SS, STD

Sejujurnya saya pada awal kesulitan untuk menemukan status quaestionis dalam mengeksplorasi tema “Perempuan dan Spiritualitas Ignasian.” Dalam keterbatasan diri sebagai pegiat spiritualitas Ignasian, saya mengeksplorasi tema ini dengan meletakkannya pada konteks pewarisan  spiritualitas Gereja Katolik ini kepada khalayak lebih luas di hadapan tantangan, menyitir kosakata Paus Fransiskus, ‘keduniawian rohaniah,’ bahkan ‘pembusukan rohani’ (Gaudete et Exultate, No. 165). Eksplorasi tema bertujuan mendorong awam perempuan mengembangkan lebih lanjut ‘spiritual depth’ dalam spiritualitas Ignasian. Penggiatan spiritualitas Ignasian perlu kolaborasi yang semakin melibatkan subjek perempuan yang merengkuhnya.

Spiritualitas Awam

Apakah kehati-hatian Ignasius Loyola berikut nasehat kepada para Yesuit pertama dalam percakapan spiritual dan pendampingan latihan rohani bersama perempuan karena hoaks dari lawan-lawan berpengaruh terhadap hubungan perempuan dan spiritualitas Ignasian?  Kehati-hatian Ignasius Loyola dalam berelasi dengan perempuan, apalagi fakta bahwa Serikat Yesus merupakan tarekat religius laki-laki, dapat memberikan kesan salah terkait hubungannya dengan awam, terutama perempuan. Ignasius Loyola mengartikulasikan spiritualitas Ignasian dalam Latihan Rohani sebagai seorang awam Katolik. Spiritualitas Ignasian yang ia bagikan melalui percakapan rohani dan latihan rohani terbuka untuk semua orang, tanpa kecuali perempuan.

Kita perlu pembacaan kembali atas sumber-sumber spiritualitas Ignasian untuk mengembalikan intimitas perempuan dengan Ignasius Loyola, lebih lanjut dengan spiritualitas Ignasian.  Membaca Autobiografi Spiritual, Ignasius Loyola sebagai peziarah yang mencari kehendak Allah setelah ‘cannonball moment’ memiliki sikap hormat terhadap perempuan. Bahkan, ia membela mereka dari ancaman perendahan atas kemanusiaan. Ia menempatkan diri sebagai sahabat dalam peziarahan bersama ke Yerusalem. Seorang perempuan melihat tanda-tanda kesucian dalam Ignasius Loyola. Meminjam kosakata Paus Fransiskus, Ignasius Loyola menemukan dalam diri mereka “kesucian dari pintu sebelah kita” (Gaudete et Exultate, No. 7).

Hoaks lawan-lawan terhadap Ignasius Loyola dan sahabat pertama bahwa para Yesuit menjalin relasi seksual dengan perempuan-perempuan yang datang untuk percakapan spiritual dan latihan rohani menghadapkan primi patres pada persoalan reputasi di hadapan Gereja Katolik (Wasiat dan Petuah, No. 97). Alih-alih memutus hubungan dengan para perempuan tersebut, Ignasius Loyola menyampaikan nasehat kepada para Yesuit awal agar percakapan spiritual dan latihan rohani mengindahkan ‘boundary.’ Pembaca Autobiografi Spiritual menafsirkan kasus ini terlalu jauh ketika menyimpulkannya sebagai incompatibility perempuan dengan spiritualitas Ignasian yang berakibat pada eksklusi terhadap mereka.

Inklusi Perempuan

Just Call Me Lopez karya Margaret Silf, Praying with Ignatius of Loyola karya Jacqueline Bergan dan Marie Schwan, CSJ dan The Ignatian Guide to Forgiveness karya Marina Berzins McCoy merupakan beberapa contoh tulisan reflektif yang lahir dari kedalaman spiritual pegiat spiritualitas Ignasian perempuan. Publikasi karya pegiat spiritualitas Ignasian perempuan di rak perpustakaan Pusat Studi Ignasian Universitas Sanata Dharma sering kali menjadi referensi utama dalam mengeksplorasi tema-tema spesifik. Di Indonesia, Gereja menerima karunia berkelimpahan sejumlah besar perempuan yang merengkuh spiritualitas Ignasian. Publikasi atas refleksi-refleksi mereka menghayati spiritualitas Ignasian masih sangat terbatas.

Memiliki kemiripan dengan teologi, spiritualitas masih ilmu yang secara tradisional pakarnya pribadi-pribadi dalam tarekat hidup bakti, bahkan klerus. Di gereja Katolik Indonesia, pakar spiritualitas, tanpa kecuali Ignasian, kebanyakan masih klerus laki-laki. Alih-alih menjadi subjek kajian pusat studi Ingasian yang melibatkan kolaborasi dengan awam, tanpa mengecualikan perempuan di dalamnya, spiritualitas Ignasian masih banyak digali para pakar sebagai derivasi, turunan dari spiritualitas Yesuit. Inklusi semakin banyak perempuan yang mendalami spiritualitas Ignasian pantas mendapatkan showcasing, bahkan insentif. Gereja butuh lebih banyak perempuan yang mengembangkan kepakaran dalam spiritualitas Ignasian.

Andalas, SJ
.

.

Lampiran-lampiran Tambahan:

.

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

KOLABORASI PUSAT STUDI IGNASIAN (PSI) DAN CLC

Webinar One Session Course dengan tema “Love Comes First, and Last, and Always” : Minggu, 29 Agustus 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB, di zoom

.

.

.

Proyek Penulisan Buku dalam rangka ikut merayakan 500Tahun Pertobatan St. Ignatius Loyola -Tahun Ignasian (Mei 2021-Juli 2022)

.

.

WEBINAR PUSAT STUDI IGNASIAN (PSI) DAN BEBERAPA ANGGOTA CLC HADIR SEBAGAI PESERTA DAN SHARING

Spiritual Parenting pada Adaptasi Kebiasaan Baru: Sabtu, 25 Juli 2020, pk. 10.00-12.00 WIB, di zoom

Bp. F.X. Juarto dari CLC sedang sharing pengalaman
Bp. T. Adi Susila dari CLC sedang sharing pengalaman.
Hadir dalam zoom dari CLC a.l. Gregorius Tjai, Ibrahim Aryon, Bp. John Bako Baron, Bp Dani dari Australia, dll.

.

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Refleksi Sahabat CLC – “HARAPAN ADALAH BENIH KASIH YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Prof. Dr. Antonius Sudiarja, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Dipo, S.J. dengan judul tulisan “ Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang “.

Rm. Dipo, S.J. saat ini adalah Asisten Gerejani Lokal CLC di Jakarta. Beliau saat ini tinggal di Kolese Hermanum, Jakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang

(A. Sudiarja, SJ)

Dari mana mesti kumulai refleksi ini? Hingga saat ini isu pandemi Covid-19 masih belum juga surut, sejak diumumkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia pada bulan Maret 2020. Tentu saja bukan hanya di Indonesia; namanya juga ‘pandemi’ (penyakit yang menjalar cepat di wilayah seluruh dunia) bukan endemi atau epidemi. Isu yang beredar pun berubah-ubah dari waktu ke waktu.  Saya masih ingat di awal-awal merebaknya penyakit ini, berbagai berita lewat media sosial, mengenai korban-korban yang terpapar ( satu orang dari komunitas saya meninggal sesudah dirawat hampir selama sebulan), lukisan penyakit yang mengerikan, suasana yang mencekam, keluarga yang dipisahkan oleh karena penyakit ini, tidak bisa menengok pasien, banyaknya angka kematian, penanganan yang lambat karena kurangnya perlengkapan dan obat-obatan, bahkan banyak  dari antara tenaga medis yang terpapar; kemudian munculnya kontroversi tentang vaksin yang berbeda, perdebatan panas memasuki ranah politik, saling menyalahkan dan mencurigai pihak mana yang menciptakan pandemi ini; Di tanah air ada kelompok yang melanggar larangan kumpul-kumpul, atau menyalahkan pemerintah, hingga perdebatan soal baik-tidaknya menyelenggarakan pilkada di masa pandemi dan masih ratusan persoalan, belum lagi kejahatan dalam penyalahgunaan fasilitas, penipuan dan eksploitasi ekonomis untuk mencari keuntungan di tengah situasi yang sulit.

Dilema yang akut adalah antara pembatasan yang seketat mungkin untuk mencegah penularan, di lain pihak desakan perlunya pelonggaran untuk kegiatan ekonomi, agar kehidupan ekonomi jangan sampai mati sama sekali. Sungguh tidak mudah pemerintahan, tidak hanya di Indonesia tetapi di mana pun, menata kehidupan bersama di masa seperti ini, karena ada banyak kepentingan, pemikiran, pengetahuan dan pengalaman berbeda yang menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan sosial politik. Padahal, dalam ‘situasi darurat’, selalu berlaku prinsip ‘we are in the same boat’; kita berada dalam satu perahu, kalau tidak kompak, kita semua celaka.  

Di beberapa negara di Eropa muncul berbagai protes, dari kalangan masyarakat yang ingin melawan prinsip kebersamaan ini, karena merasa dikungkung oleh peraturan dan pengaturan prokes yang ketat. Maka mereka tidak mau memakai masker dan tidak mau disuruh tinggal di rumah, atau pun dilarang untuk berkumpul-kumpul, karena menganggap ‘pandemi’ sekedar mitos atau isu yang berbau politik-ekonomi, yang mengelabui. Mereka tidak merasa dalam ‘keadaan darurat’. Tentu saja sikap seperti ini berpengaruh pada penanganan pandemi. Saya tidak mau mempersoalkan data dari akibat kebijakan dan reaksi masyarakat ini, melainkan mau merenungkan peristiwa-peristiwa ini dalam rangka refleksi akhir tahun 2021 untuk merajut harapan untuk tahun 2022.

Dari peristiwa-peristiwa di atas, memang tampak bahwa sulit menyatukan pandangan dan kebijakan untuk mengatasi bersama pandemi covid-19. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin hari, individualisme dan pengelompokan semakin berkembang, karena perbedaan keinginan dan pemikiran. Akan tetapi bukankah hal ini juga memperlihatkan bahwa keunikan, perbedaan dan kebebasan manusia semakin dihargai? Masalahnya, apakah keunikan, perbedaan-perbedaan dan kebebasan ini akan mengembangkan kebersamaan sebagai manusia atau menghancurkannya? Hal ini tergantung pada keberanian untuk ‘saling percaya’ dan kerelaan untuk ‘berkorban’. Inilah ukuran dari mutu masyarakat dalam hidup bersama.

Kalau kita perhatikan, sebetulnya banyak juga rahmat kebaikan yang kita terima selama pandemi ini, semacam ‘blessing in disguise’ yang patut kita sadari dan syukuri. Kesetiaan dan kerelaan para tenaga kesehatan yang meresiko hidup mereka dalam tugas-tugas merupakan ‘pengorbanan’ yang luar biasa, di tengah penolakan mereka yang tidak percaya dan meremehkan bahaya pandemi ini; Demikian juga kesediaan membantu dan menyumbang dari berbagai orang, instansi, kelompok-kelompok relawan merupakan rahmat yang kita terima. Kerjasama yang semakin tumbuh dan lain sebagainya.

Ada pepatah Latin (seingat saya dari Kardinal Newman) yang mengatakan: “In necessariis unitas, in dubitas libertas, in omnibus caritas” (Dalam hal yang mendesak perlu kesatuan, dalam keraguan ada kebebasan, dari segala hal cinta kasih). Mudah untuk mengatakan perlunya ‘bersatu dalam keadaan darurat’, tetapi tidak mudah, atau setidaknya masih ada yang ragu-ragu, ‘apakah sekarang ini keadaan sudah (atau masih) begitu darurat’, sehingga mereka ada yang tidak percaya dan menuntut kebebasan. Akan tetapi dan inilah ukuran atau indikasi dari mutu sebuah masyarakat, yakni kalau mereka, atau masing-masing orang, dalam keadaan apa pun melakukan segalanya dalam cinta-kasih.

Kesulitan yang mencolok menyangkut ‘pembatasan kegiatan’ (PMKL), terutama dirasakan oleh orang-orang kecil yang tidak bisa tidak harus bergerak untuk, mencari nafkah kebutuhannya sehari-hari, kalau tidak mau mati; sebab meski lautan (pandemi) mengganas, namun mereka tidak merasa dalam kapal yang sama (‘we are not in the same boat’). Tiba-tiba saya diingatkan pada kisah Buddhis, mengenai burung berkepala dua yang terukir pada dinding candi Mendut. “Jangan mengeluh!”, kata kepala burung yang di atas, yang selalu dapat makanan, “bukankah makanan ku sampai di perut yang sama, untuk kita”. Akan tetapi kepala burung yang di bawah tidak merasa senang, karena tidak selalu mendapat peluang untuk makan. Maka karena sikap kepala burung yang di atas itu, akhirnya ia memutuskan untuk makan makanan yang beracun. Akibatnya burung berkepala dua itu mati.

‘Keadaan darurat’ tidak memberi peluang yang sama bagi setiap orang, ada yang beruntung karena ia kaya sehingga bisa menyimpan makanan, ada yang rugi karena tidak bisa mencukupi makanan sehari-hari. Ada tuntutan moral bagi yang berkecukupan, membantu yang berkekurangan, kalau mau meyakinkan mereka bahwa ‘we are in the same boat’ dan tidak boleh merasa tenang dan senang, seperti kepala burung yang di atas itu. Hal ini juga merupakan indikasi, sejauh mana mutu kehidupan sudah dihayati secara bersama (in the same boat).

Sejauh mana tahun depan 2022 akan memberikan harapan, tergantung sejauh mana tahun 2021 yang berlalu sudah memperlihatkan indikasi-indikasi mutu kehidupan bersama, seperti kesadaran akan rahmat Tuhan, kemampuan untuk bersyukur, kesadaran akan ‘keadaan darurat’ dan kerelaan untuk berbagi atau berkorban, kesediaan membantu mereka yang ada dalam kesulitan. Harapan bukanlah ilusi yang diciptakan dari kekosongan, hanya karena terdorong oleh keinginan, melainkan kasih yang tumbuh dan berkembang dari benih yang sudah ditanamkan, dan orang tetap setia memeliharanya. Semoga demikian.*** 

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

.

BERSAMA CLC di YOGYAKARTA

Natalan di Aula SMA De Britto – 2010

.

.

BERSAMA CLC di JAKARTA

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Divine Love”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Darkness and Light”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Juni 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Friendship with Jesus.” Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 19 September 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in The Service of God“. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 21 November 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN  

JURNAL PUSAT STUDI IGNASIAN – UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

.

.

SEKOLAH TINGGI FILSAFAR (STF) DRIYARKARA – JAKARTA

https://gagasmakna.wordpress.com/tag/stf-driyarkara/

.

.

Sabtu, 23 Januari 2021 — https://www.youtube.com/watch?v=LRa098FHvbk

.

.

Jumat, 6 Maret 2020 – https://youtu.be/5WazMHS1otE?t=450

Komunitas JumPer Daan Mogot – St. Paulus

https://www.facebook.com/103343051027713/posts/misa-jumper-6-maret-2020-oleh-rm-antonius-sudiarja-sj/217047676323916/

.

.

Buku digital yang ditulis oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/penulis/a-sudiarja-s-j

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menjadi-semakin-insani-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menemukan-tuhan-dalam-segala-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/masih-ada-orang-baik-di-sekitar-kita-remah-remah-rohani

.

.

Buku yang diberi pengantar oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://obormedia.com/product/guruku-malaikat-jiwaku/

.

.

https://opac.perpusnas.go.id/ResultListOpac.aspx?pDataItem=Antonius%20Sudiarja&pType=Author&pLembarkerja=-1&pPilihan=Author

.

http://cn.sakikokoide.xyz/author/a-sudiarja

,

.

https://www.kompasiana.com/jeremiasjena/5c1af197ab12ae66f42fa076/pergilah-ke-mana-hati-membawamu#google_vignette

.

.

Kumpulan Esai (tulisan rekan-rekan untuk memperingati Ultah Ke-65 Rm. A. Sudiarja, S.J.)

https://shopee.co.id/Buku-Meluhurkan-Kemanusiaan-A-Sudiarja-i.6970153.5364639134

.

.

https://gerai.kompas.id/belanja/buku/penerbit-buku-kompas/bayang-bayang-kebijaksanaan-dan-kemanusiaan/

Refleksi Sahabat CLC – “ADVEN DAN CONSIDERATIO STATUS”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Sapto, SJ dengan judul tulisan “ Adven dan Consideratio Status “.

Rm Sapto SJ yang belum lama ditahbiskan yaitu pada hari Kamis, 19 Agustus 2021 lalu itu mendapat tugas perutusan yang pertama yaitu sebagai Pembimbing Rohani Seminar Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
Di CLC, Rm. Sapto menjadi Asisten Gerejani Lokal CLC di Magelang.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

Adven dan Consideratio Status

Oleh Rm Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ

Setiap hari Sabtu sebelum bermain bola para novis SJ memiliki kesempatan untuk menuliskan consideratio status. Kita diajak untuk menimbang-nimbang apa yang menjadi perasaan, pikiran dan kerinduan yang dominan selama satu minggu terakhir dan juga merefleksikan satu pengalaman yang mengesan. Kita menuliskannya dalam selembar kertas A4. Dalam tahap formasi saya sebagai Yesuit, saya menyadari bahwa latihan-latihan menulis consideratio status merupakan cara yang sangat cocok untuk saya berkembang dalam relasi dengan Tuhan. Latihan ini sangat membantu untuk mengenal diri saya dan merasakan Tuhan yang terus hadir menemani dan mengembangkan saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pun mengajak tidak hanya para seminaris tetapi para guru seminari untuk belajar membuat consideratio status. Saya pun mencoba membaca-baca kembali autobiografi St. Ignatius Loyola untuk menemukan pendasarannya. Ketika saya mencoba membaca dengan cermat, saya menemukan adanya tiga kata yang terus ditimbang-timbang St. Ignatius saat ia sedang berbaring dalam pemulihaannya di Loyola. Tiga kata tersebut adalah pikiran, perasaan dan keinginan (kerinduan terdalam). Dalam autobiografi dituliskan bahwa Inigo membedakan antara pikiran, perasaan dan keinginan yang duniawi dan yang surgawi. Proses menimbang inilah yang kemudian membuatnya yakin untuk mengambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem. Di sinilah awal pertobatan Inigo.

Proses untuk mencermati perasaan, pikiran dan kerinduan ini adalah proses yang tidak mudah. Proses ini mengandaikan latihan-latihan yang cermat dan serius seperti yang dilakukan oleh Inigo saat di Loyola. Latihan-latihan tidak hanya menimbang-nimbang dan berefleksi tetapi apa yang telah menjadi refleksinya tersebut diuji kembali dalam aksi. Refleksi diikuti aksi dan dilakukan terus hingga menemukan kedalaman dan kesejatian yang ditandai dengan “matanya yang perlahan terbuka” dan akhirnya siap mengambil keputusan untuk mengikuti Allah.

Consideratio status mungkin bisa menjadi latihan rohani untuk mempersiapkan diri di masa adven ini. Masa adven menjadi kesempatan untuk melakukan latihan-latihan sehingga kita nanti siap menyambut kelahiran Yesus Kristus. Latihan-latihan dalam bentuk consideratio status menjadi latihan yang mengajak kita melibatkan diri dengan hati. Kita tidak sekadar terjebak pada natal sebagai perayaan kemeriahan tahunan tetapi kita diajak masuk juga menyiapkan hati. Kita menimbang-nimbang pengalaman hidup. Kita melakukan consideratio status. Harapannya, kita akan menjadi seperti inigo saat di Loyola. Berkat ketekunannya dan kecermatannya menimbang-nimbang perasaan, pikiran dan kerinduan terdalamnnya, matanya pun perlahan-lahan terbuka. Ia pun bisa melihat kehadiran Tuhan. Ia pun akhirnya berani mengambil keputusan iman untuk pergi ke Yerusalem.

Marilah kita masuk dalam latihan-latihan rohani terutama latihan menimbang-nimbang hidup kita di hadapan Allah dengan jujur. Kita membuat consideratio status di hadapan Allah sehingga pada hari Kelahiran Tuhan nanti kita betul-betul dapat melihat Tuhan yang berkarya dan menyelamatkan, bukan pertama-tama sebagai acara tahunan tetapi sebagai suatu peristiwa yang mengajak kita untuk sungguh-sungguh melakukan pertobatan untuk terus dekat dengan Tuhan dan terus menjadi manusia latihan rohani dan terus mampu dan mau mengambil keputusan iman.

saptosj

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Bulanan CLC di Magelang

Pertemuan Rutin Tiap Bulan CLC di Magelang dipimpin Ketua CLC di Magelang Ibu Elisabeth Supri :
Minggu, 29 September 2021, pk. 16.00 – 18.00 WIB, via zoom

.

Novena CLC di Indonesia dan Jesuit Insight

.

Pertemuan Asisten Gerejani Indonesa bersama para Asisten Gerejani Lokal dan ExCo CLC di Indonesia

Sabtu, 18 September 2021, pk. 19.00-21.00 WIB via zoom

Asisten Gerejani Indonesia : Rm Paul SJ
Bersama Asisten Gerejani Lokal : Rm Iwan (Bandung), Rm Dipo (Jakarta), Rm Jelantik (Surabaya), Rm Wir (Yogyakarta), Rm Sapto dan Br Norbert SJ (Magelang).

Memberi berkat di akhir acara

_

DOKUMENTASI TAHBISAN

Tahbisan Diakon

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf



Tahbisan Imam Jesuit

https://ytknews.id/2021/08/alumni-sekolah-ytk-ditahbiskan-menjadi-imam-serikat-jesus-sj-itu-bernama-romo-sapto-sj

http://katolikkeren.online/wp-content/uploads/2021/08/tahbisan_imam_sj_2021_katolikkeren.jpg

Refleksi Sahabat CLC – “ BULIR JAGUNG TERKECIL ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Antonius Sumarwan, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Marwan SJ dengan judul tulisan “Bulir Jagung Terkecil“.

Saat ini Rm Marwan menepuh studi S3 dalam bidang akuntansi di Queensland University of Technology (QUT), Brisbane, Australia.

Rm. Marwan pertama kali hadir dalam kegiatan CLC yaitu pada bulan Februari 2016 yang lalu dalam acara pengantar Latihan Rohani Pertama.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Bulir Jagung Terkecil

Oleh Antonius Sumarwan, SJ

Seandainya saat ini Tuhan datang menjumpai Anda, lalu meminta sesuatu dari Anda, kira-kira apa yang akan Anda berikan kepada-Nya?

Untuk memperjelas pertanyaan ini sekaligus memberikan kesempatan untuk berpikir, marilah kita ikuti puisi karya Rabindranath Tagore (1861 – 1941), sastrawan asal India yang memperoleh Hadiah Nobel di bidang sastra pada 1913. Puisi ini berjudul “The Least Grain of Corn,” suatu kisah seorang pengemis yang bertemu dengan Sang Raja yang dia kagumi.

I had gone a-begging from door to door in the village path, when Your Golden chariot appeared in the distance like a gorgeous dream, and wondered who was this King of all Kings! (Aku telah mengemis dari pintu ke pintu di jalan desa, ketika kereta Emas-Mu muncul di kejauhan seperti mimpi indah, dan bertanya-tanya siapa Raja dari segala Raja ini!)

My hopes rose high, and I thought my evil days were at an end. I stood waiting for alms to be given unasked and for wealth to be scattered on all side in the dust. (Harapanku naik tinggi, dan kupikir hari-hari burukku sudah berakhir. Aku berdiri menunggu sedekah diberikan tanpa diminta dan kekayaan tersebar di sepanjang jalan.)

The chariot stopped where I stood. Your glance fell on me, and You came down with a smile. I felt that the luck of my life had come at last. Then all of a sudden You held out your right hand, saying, “What have you to give me?”
(Kereta berhenti di tempat aku berdiri. Tatapan-Mu jatuh padaku, dan Engkau turun dengan senyuman. Aku merasa bahwa keberuntungan hidupku akhirnya datang. Lalu tiba-tiba Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu, berkata, “ Apa yang hendak engkau persembahkan kepada-Ku?”)

Ah, what a kingly jest was it to open Your palm to a beggar to beg! I was confused and stood undecided, and then from my wallet I slowly took out the least little grain of corn and gave it to You. (Ah, sungguh lelucon raja yang membuka telapak tangan-Mu untuk seorang pengemis untuk mengemis! Aku bingung dan berdiri ragu-ragu, kemudian, pelan-pelan aku mengambil dari kantong kecilku sebutir jagung terkecil dan memberikannya kepada-Mu.)

How great was my surprise when at the day’s end, I emptied my bag of the floor only to find a least little grain of gold among the poor heap! I bitterly wept and wish that I had the heart to give You my all. (Betapa terkejutnya aku ketika di penghujung hari, aku mengosongkan tasku dari lantai hanya untuk menemukan sebutir emas di antara tumpukan yang malang! Aku menangis dengan sedih dan berharap aku memiliki hati untuk memberikan semua milikku kepada-Mu.)

Kisah ini dapat dimaknai sebagai penggambaran berlakunya hukum “tabur tuai”: Barangsiapa menabur banyak, maka dia akan menuai banyak juga; barangsiapa siapa berkorban untuk sesuatu, kepadanya akan diberikan ganjaran. Ini berlaku baik dalam pekerjaan, studi, relasi, kehidupan keluarga maupun hal lain. Namun, lewat kisah ini, Tagore terutama ingin mengambarkan pola relasi kita dengan Tuhan.

Kalau kita menyadari keterbatasan – kemiskinan – kita di hadapan Tuhan yang maha segalanya, tidaklah sulit untuk menggambarkan diri sebagai seorang pengemis sementara Tuhan kita gambarkan sebagai Raja segala raja. Tidaklah aneh pula bahwa saat berjumpa dengan Tuhan, kita berharap Dia akan memberikan segala yang kita perlukan, melepaskan kita dari segala kesulitan, dan melimpahi kita dengan berkat dan kekayaan.

Namun ada kejutan dalam kisah ini. Sang Raja ternyata mendatangi pengemis itu bukan untuk memberikan derma, melainkan untuk meminta persembahan darinya: “Apa yang hendak engkau persembahkan kepada-Ku.” Si pengemis pun heran dan bingung. Tak mungkin menolak permintaan Sang Raja, “kemudian, pelan-pelan aku mengambil dari kantong kecilku sebutir jagung terkecil dan memberikannya kepada-Mu.” Kalimat ini menandakan keterpaksaan dan ketidakrelaan Si pengemis. Ia pun memberikan apa yang membuatnya paling sedikit berkorban, sesuatu yang baginya paling tidak berharga: sebulir jagung yang paling kecil!

Tiba di rumah si pengemis menghitung hasil pekerjaan hari itu. Dan betapa terkejut ia saat saat menemukan sebutir emas seukuran bulir jagung berada di antara tumpukan barang sedekah. Dia pun menyesal: “Aku menangis dan berandai memiliki hati yang rela untuk memberikan kepada-Mu segala yang kumiliki.”

Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan ternyata tidak hanya murah hati kepada kita, melainkan Dia juga hendak mengajari kita agar dapat seperti Dia murah hati. Tuhan Yesus bersabda: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:38).

Dan kembali ke pertanyaan pada awal tulisan ini, apa yang akan Anda berikan kepada Tuhan kalau saat ini Dia meminta sesuatu dari Anda?***

(Antonius Sumarwan, SJ)

Lampiran-lampiran Tambahan :

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

* LATIHAN ROHANI PEMULA DI CLC DI YOGYAKARTA

DOKUMENTASI KEGIATAN RM MARWAN SJ

Dosen di Fakultas Ekonomi dan MM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

https://www.usd.ac.id/fakultas/ekonomi/mmusd/daftar.php?id=berita&noid=139&offset=0

Aktif di Credit Union (CU) .. Pendiri CU Pelita Sejahtera / CUMI PS

https://kukangmerah76.wordpress.com/2014/11/13/antonius-sumarwan-sj-melayani-nasabah-kelas-bawah/

KOORDINATOR LATIHAN ROHANI PEMULA -LRP

Facebook LRP :
https://www.facebook.com/Latihan-Rohani-Pemula-580801972593426

10 April 2015 Rm Antonius Sumarwan SJ menyelesaikan pelatihan Latihan Rohani Pemula oleh Michael Hansen SJ di Canisius College, Pymble, Melbourne, Australia.


Webinar LRP di YouTube


LRP Season1 (11 Mei – 7 Juni 2020) : https://www.instagram.com/p/B_Y-Hn7AOMY/?utm_source=ig_web_copy_link

LRP Season2 (3 Agustus – 6 September 2020) : https://www.facebook.com/events/3441124645908445/?ref=newsfeed

LRP Season3 (11 Oktober – 22 November 2020) :

Webinar Pedoman Pembedaan Roh 1 berdasarkan Latihan Rohani St. Ignatius Loyola : https://www.youtube.com/watch?v=B5dd0jUmE4Q

Webinar Pedoman Pembedaan Roh 2 : https://www.youtube.com/watch?v=KkJoKgf7OIY&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z&index=3

#UAPSTORIES: Kejutan dari Allah [EPISODE 1] : https://www.youtube.com/watch?v=9QNL4FU4OYM

Buku Latihan Rohani Pemula : https://www.youtube.com/watch?v=pDMiRvQRXrE

LRP Season4 (22 Februari – 28 Maret 2021) :

Ngobrol Pembedaan Roh Ignasian (Seri I – LRP Season 4)L : https://www.youtube.com/watch?v=E2TT6LR_UJw&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z&index=2

Ngobrol Pembedaan Roh Ignasian (Seri II – LRP Season 4) : https://www.youtube.com/watch?v=_X850UaYE-g&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z

LRP Season5 (1 Agustus – 12 September 2021) :

LRP Season6 (1 November – 5 Desember 2021) :

https://qut.zoom.us/rec/share/d17WQVadusMKAVclJtnNGe7FFebMWGiwvVpGbUB3L0bNLRC1z3aClFKHxxkDoXOG.hb_iOjWJ4j-7ELHX passcode : Uu&MH=1k

PENGURUS DAN FASILITATOR LRP

WEBINAR ZOOM MEETING DI LRP – 4x


PERTEMUAN PERCAKAPAN ROHANI DALAM KELOMPOK KECIL DI LRP – TIAP MINGGU selama 5 minggu


Caminar con Inigo (Berjalan bersama Inigo) yang ada di YouTube (15 Mei – 29 Mei 2021) via zoom :


1. Caminar con Inigo – Pengantar Ziarah 1 (Sabtu, 15 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=TCvLY13ugvg

2. Caminar con Inigo – Pengantar Ziarah 2 (Minggu, 16 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=-Lz7lEz-FsM

3. Caminar con Inigo – Pengantar dan Puncta Umum – (Senin, 17 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=nuGuxy31uCI

4. Caminar con Inigo – Puncta 1 “Terluka di Pamplona” -(Senin, 17 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=blQNi7KDNe4

5. Caminar con Inigo -Puncta 2 “Bacaan Rohani: Kelahiran Kembali” (Rabu, 19 Mei 2021)
https://www.youtube.com/watch?v=MZJgjLgOl8k

6. Caminar con Inigo -Puncta 3 “Maria Aranzazu” (Jumat, 22 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=xxD1v80AkI4

7. Caminar con Inigo -Puncta 4 “Montserrat: Melepas Kuda, Pakaian, dan Pedang” (Minggu, 23 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=NMos_5YK4nI

8. Caminar con Inigo – Puncta 5 “Manresa: Del Hombre de Saco, Al Hombre Santo” (Selasa, 25 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=_azVxx3-lyo

9. Caminar con Inigo – Puncta 6 “Cardoner: Pencerahan di Tepi Sungai” (Kamis, 27 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=f5eiJUkFrkw

10. Caminar con Inigo – Puncta 7 “Barcelona: Berutang Kebaikan” (Sabtu, 29 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=QL-afpJg_FI


Catatan Perjalanan Ziarah Virtual: Caminar con Inigo (15-30 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=4VtaENJO5Ug

NARASUMBER DI IGNATIAN TALK …

https://www.youtube.com/watch?v=S55p_0UolVg&t=136s

BERKONTEMPLASI DENGAN FILM “:

Retret BERKONTEMPLASI DENGAN FILM -di Sangkalputung, Klaten .. 7-8 Maret 2020

https://www.youtube.com/watch?v=fyUasTFsh4A&t=47s

PENULISAN CERPEN DLL :

PENULISAN BUKU

https://www.sesawi.net/hati-kudus-yesus-dan-buku-spiritualitas-ignasian/

Diterjemahkan oleh Antonius Sumarwan SJ

https://www.tokopedia.com/stellamarisshop/berdoa-dengan-jujur-william-a-barry-sj-buku-kanisius

https://www.tokopedia.com/matlukman/menyeberangi-sungai-air-mata-by-antonius-sumarwan-sj

https://ebooks.gramedia.com/books/perempuan-dan-anak-anaknya