Refleksi Sahabat CLC – “ADVEN DAN CONSIDERATIO STATUS”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Sapto, SJ dengan judul tulisan “ Adven dan Consideratio Status “.

Rm Sapto SJ yang belum lama ditahbiskan yaitu pada hari Kamis, 19 Agustus 2021 lalu itu mendapat tugas perutusan yang pertama yaitu sebagai Pembimbing Rohani Seminar Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
Di CLC, Rm. Sapto menjadi Asisten Gerejani Lokal CLC di Magelang.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

Adven dan Consideratio Status

Oleh Rm Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ

Setiap hari Sabtu sebelum bermain bola para novis SJ memiliki kesempatan untuk menuliskan consideratio status. Kita diajak untuk menimbang-nimbang apa yang menjadi perasaan, pikiran dan kerinduan yang dominan selama satu minggu terakhir dan juga merefleksikan satu pengalaman yang mengesan. Kita menuliskannya dalam selembar kertas A4. Dalam tahap formasi saya sebagai Yesuit, saya menyadari bahwa latihan-latihan menulis consideratio status merupakan cara yang sangat cocok untuk saya berkembang dalam relasi dengan Tuhan. Latihan ini sangat membantu untuk mengenal diri saya dan merasakan Tuhan yang terus hadir menemani dan mengembangkan saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pun mengajak tidak hanya para seminaris tetapi para guru seminari untuk belajar membuat consideratio status. Saya pun mencoba membaca-baca kembali autobiografi St. Ignatius Loyola untuk menemukan pendasarannya. Ketika saya mencoba membaca dengan cermat, saya menemukan adanya tiga kata yang terus ditimbang-timbang St. Ignatius saat ia sedang berbaring dalam pemulihaannya di Loyola. Tiga kata tersebut adalah pikiran, perasaan dan keinginan (kerinduan terdalam). Dalam autobiografi dituliskan bahwa Inigo membedakan antara pikiran, perasaan dan keinginan yang duniawi dan yang surgawi. Proses menimbang inilah yang kemudian membuatnya yakin untuk mengambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem. Di sinilah awal pertobatan Inigo.

Proses untuk mencermati perasaan, pikiran dan kerinduan ini adalah proses yang tidak mudah. Proses ini mengandaikan latihan-latihan yang cermat dan serius seperti yang dilakukan oleh Inigo saat di Loyola. Latihan-latihan tidak hanya menimbang-nimbang dan berefleksi tetapi apa yang telah menjadi refleksinya tersebut diuji kembali dalam aksi. Refleksi diikuti aksi dan dilakukan terus hingga menemukan kedalaman dan kesejatian yang ditandai dengan “matanya yang perlahan terbuka” dan akhirnya siap mengambil keputusan untuk mengikuti Allah.

Consideratio status mungkin bisa menjadi latihan rohani untuk mempersiapkan diri di masa adven ini. Masa adven menjadi kesempatan untuk melakukan latihan-latihan sehingga kita nanti siap menyambut kelahiran Yesus Kristus. Latihan-latihan dalam bentuk consideratio status menjadi latihan yang mengajak kita melibatkan diri dengan hati. Kita tidak sekadar terjebak pada natal sebagai perayaan kemeriahan tahunan tetapi kita diajak masuk juga menyiapkan hati. Kita menimbang-nimbang pengalaman hidup. Kita melakukan consideratio status. Harapannya, kita akan menjadi seperti inigo saat di Loyola. Berkat ketekunannya dan kecermatannya menimbang-nimbang perasaan, pikiran dan kerinduan terdalamnnya, matanya pun perlahan-lahan terbuka. Ia pun bisa melihat kehadiran Tuhan. Ia pun akhirnya berani mengambil keputusan iman untuk pergi ke Yerusalem.

Marilah kita masuk dalam latihan-latihan rohani terutama latihan menimbang-nimbang hidup kita di hadapan Allah dengan jujur. Kita membuat consideratio status di hadapan Allah sehingga pada hari Kelahiran Tuhan nanti kita betul-betul dapat melihat Tuhan yang berkarya dan menyelamatkan, bukan pertama-tama sebagai acara tahunan tetapi sebagai suatu peristiwa yang mengajak kita untuk sungguh-sungguh melakukan pertobatan untuk terus dekat dengan Tuhan dan terus menjadi manusia latihan rohani dan terus mampu dan mau mengambil keputusan iman.

saptosj

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Bulanan CLC di Magelang

Pertemuan Rutin Tiap Bulan CLC di Magelang dipimpin Ketua CLC di Magelang Ibu Elisabeth Supri :
Minggu, 29 September 2021, pk. 16.00 – 18.00 WIB, via zoom

.

Novena CLC di Indonesia dan Jesuit Insight

.

Pertemuan Asisten Gerejani Indonesa bersama para Asisten Gerejani Lokal dan ExCo CLC di Indonesia

Sabtu, 18 September 2021, pk. 19.00-21.00 WIB via zoom

Asisten Gerejani Indonesia : Rm Paul SJ
Bersama Asisten Gerejani Lokal : Rm Iwan (Bandung), Rm Dipo (Jakarta), Rm Jelantik (Surabaya), Rm Wir (Yogyakarta), Rm Sapto dan Br Norbert SJ (Magelang).

Memberi berkat di akhir acara

_

DOKUMENTASI TAHBISAN

Tahbisan Diakon

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf



Tahbisan Imam Jesuit

https://ytknews.id/2021/08/alumni-sekolah-ytk-ditahbiskan-menjadi-imam-serikat-jesus-sj-itu-bernama-romo-sapto-sj

http://katolikkeren.online/wp-content/uploads/2021/08/tahbisan_imam_sj_2021_katolikkeren.jpg

Refleksi Sahabat CLC – “ BULIR JAGUNG TERKECIL ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Antonius Sumarwan, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Marwan SJ dengan judul tulisan “Bulir Jagung Terkecil“.

Saat ini Rm Marwan menepuh studi S3 dalam bidang akuntansi di Queensland University of Technology (QUT), Brisbane, Australia.

Rm. Marwan pertama kali hadir dalam kegiatan CLC yaitu pada bulan Februari 2016 yang lalu dalam acara pengantar Latihan Rohani Pertama.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Bulir Jagung Terkecil

Oleh Antonius Sumarwan, SJ

Seandainya saat ini Tuhan datang menjumpai Anda, lalu meminta sesuatu dari Anda, kira-kira apa yang akan Anda berikan kepada-Nya?

Untuk memperjelas pertanyaan ini sekaligus memberikan kesempatan untuk berpikir, marilah kita ikuti puisi karya Rabindranath Tagore (1861 – 1941), sastrawan asal India yang memperoleh Hadiah Nobel di bidang sastra pada 1913. Puisi ini berjudul “The Least Grain of Corn,” suatu kisah seorang pengemis yang bertemu dengan Sang Raja yang dia kagumi.

I had gone a-begging from door to door in the village path, when Your Golden chariot appeared in the distance like a gorgeous dream, and wondered who was this King of all Kings! (Aku telah mengemis dari pintu ke pintu di jalan desa, ketika kereta Emas-Mu muncul di kejauhan seperti mimpi indah, dan bertanya-tanya siapa Raja dari segala Raja ini!)

My hopes rose high, and I thought my evil days were at an end. I stood waiting for alms to be given unasked and for wealth to be scattered on all side in the dust. (Harapanku naik tinggi, dan kupikir hari-hari burukku sudah berakhir. Aku berdiri menunggu sedekah diberikan tanpa diminta dan kekayaan tersebar di sepanjang jalan.)

The chariot stopped where I stood. Your glance fell on me, and You came down with a smile. I felt that the luck of my life had come at last. Then all of a sudden You held out your right hand, saying, “What have you to give me?”
(Kereta berhenti di tempat aku berdiri. Tatapan-Mu jatuh padaku, dan Engkau turun dengan senyuman. Aku merasa bahwa keberuntungan hidupku akhirnya datang. Lalu tiba-tiba Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu, berkata, “ Apa yang hendak engkau persembahkan kepada-Ku?”)

Ah, what a kingly jest was it to open Your palm to a beggar to beg! I was confused and stood undecided, and then from my wallet I slowly took out the least little grain of corn and gave it to You. (Ah, sungguh lelucon raja yang membuka telapak tangan-Mu untuk seorang pengemis untuk mengemis! Aku bingung dan berdiri ragu-ragu, kemudian, pelan-pelan aku mengambil dari kantong kecilku sebutir jagung terkecil dan memberikannya kepada-Mu.)

How great was my surprise when at the day’s end, I emptied my bag of the floor only to find a least little grain of gold among the poor heap! I bitterly wept and wish that I had the heart to give You my all. (Betapa terkejutnya aku ketika di penghujung hari, aku mengosongkan tasku dari lantai hanya untuk menemukan sebutir emas di antara tumpukan yang malang! Aku menangis dengan sedih dan berharap aku memiliki hati untuk memberikan semua milikku kepada-Mu.)

Kisah ini dapat dimaknai sebagai penggambaran berlakunya hukum “tabur tuai”: Barangsiapa menabur banyak, maka dia akan menuai banyak juga; barangsiapa siapa berkorban untuk sesuatu, kepadanya akan diberikan ganjaran. Ini berlaku baik dalam pekerjaan, studi, relasi, kehidupan keluarga maupun hal lain. Namun, lewat kisah ini, Tagore terutama ingin mengambarkan pola relasi kita dengan Tuhan.

Kalau kita menyadari keterbatasan – kemiskinan – kita di hadapan Tuhan yang maha segalanya, tidaklah sulit untuk menggambarkan diri sebagai seorang pengemis sementara Tuhan kita gambarkan sebagai Raja segala raja. Tidaklah aneh pula bahwa saat berjumpa dengan Tuhan, kita berharap Dia akan memberikan segala yang kita perlukan, melepaskan kita dari segala kesulitan, dan melimpahi kita dengan berkat dan kekayaan.

Namun ada kejutan dalam kisah ini. Sang Raja ternyata mendatangi pengemis itu bukan untuk memberikan derma, melainkan untuk meminta persembahan darinya: “Apa yang hendak engkau persembahkan kepada-Ku.” Si pengemis pun heran dan bingung. Tak mungkin menolak permintaan Sang Raja, “kemudian, pelan-pelan aku mengambil dari kantong kecilku sebutir jagung terkecil dan memberikannya kepada-Mu.” Kalimat ini menandakan keterpaksaan dan ketidakrelaan Si pengemis. Ia pun memberikan apa yang membuatnya paling sedikit berkorban, sesuatu yang baginya paling tidak berharga: sebulir jagung yang paling kecil!

Tiba di rumah si pengemis menghitung hasil pekerjaan hari itu. Dan betapa terkejut ia saat saat menemukan sebutir emas seukuran bulir jagung berada di antara tumpukan barang sedekah. Dia pun menyesal: “Aku menangis dan berandai memiliki hati yang rela untuk memberikan kepada-Mu segala yang kumiliki.”

Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan ternyata tidak hanya murah hati kepada kita, melainkan Dia juga hendak mengajari kita agar dapat seperti Dia murah hati. Tuhan Yesus bersabda: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:38).

Dan kembali ke pertanyaan pada awal tulisan ini, apa yang akan Anda berikan kepada Tuhan kalau saat ini Dia meminta sesuatu dari Anda?***

(Antonius Sumarwan, SJ)

Lampiran-lampiran Tambahan :

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

* LATIHAN ROHANI PEMULA DI CLC DI YOGYAKARTA

DOKUMENTASI KEGIATAN RM MARWAN SJ

Dosen di Fakultas Ekonomi dan MM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

https://www.usd.ac.id/fakultas/ekonomi/mmusd/daftar.php?id=berita&noid=139&offset=0

Aktif di Credit Union (CU) .. Pendiri CU Pelita Sejahtera / CUMI PS

https://kukangmerah76.wordpress.com/2014/11/13/antonius-sumarwan-sj-melayani-nasabah-kelas-bawah/

KOORDINATOR LATIHAN ROHANI PEMULA -LRP

Facebook LRP :
https://www.facebook.com/Latihan-Rohani-Pemula-580801972593426

10 April 2015 Rm Antonius Sumarwan SJ menyelesaikan pelatihan Latihan Rohani Pemula oleh Michael Hansen SJ di Canisius College, Pymble, Melbourne, Australia.


Webinar LRP di YouTube


LRP Season1 (11 Mei – 7 Juni 2020) : https://www.instagram.com/p/B_Y-Hn7AOMY/?utm_source=ig_web_copy_link

LRP Season2 (3 Agustus – 6 September 2020) : https://www.facebook.com/events/3441124645908445/?ref=newsfeed

LRP Season3 (11 Oktober – 22 November 2020) :

Webinar Pedoman Pembedaan Roh 1 berdasarkan Latihan Rohani St. Ignatius Loyola : https://www.youtube.com/watch?v=B5dd0jUmE4Q

Webinar Pedoman Pembedaan Roh 2 : https://www.youtube.com/watch?v=KkJoKgf7OIY&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z&index=3

#UAPSTORIES: Kejutan dari Allah [EPISODE 1] : https://www.youtube.com/watch?v=9QNL4FU4OYM

Buku Latihan Rohani Pemula : https://www.youtube.com/watch?v=pDMiRvQRXrE

LRP Season4 (22 Februari – 28 Maret 2021) :

Ngobrol Pembedaan Roh Ignasian (Seri I – LRP Season 4)L : https://www.youtube.com/watch?v=E2TT6LR_UJw&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z&index=2

Ngobrol Pembedaan Roh Ignasian (Seri II – LRP Season 4) : https://www.youtube.com/watch?v=_X850UaYE-g&list=PLcqDIBhbd-quOqDgKtmKSl9rHSfIuWB-z

LRP Season5 (1 Agustus – 12 September 2021) :

LRP Season6 (1 November – 5 Desember 2021) :

https://qut.zoom.us/rec/share/d17WQVadusMKAVclJtnNGe7FFebMWGiwvVpGbUB3L0bNLRC1z3aClFKHxxkDoXOG.hb_iOjWJ4j-7ELHX passcode : Uu&MH=1k

PENGURUS DAN FASILITATOR LRP

WEBINAR ZOOM MEETING DI LRP – 4x


PERTEMUAN PERCAKAPAN ROHANI DALAM KELOMPOK KECIL DI LRP – TIAP MINGGU selama 5 minggu


Caminar con Inigo (Berjalan bersama Inigo) yang ada di YouTube (15 Mei – 29 Mei 2021) via zoom :


1. Caminar con Inigo – Pengantar Ziarah 1 (Sabtu, 15 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=TCvLY13ugvg

2. Caminar con Inigo – Pengantar Ziarah 2 (Minggu, 16 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=-Lz7lEz-FsM

3. Caminar con Inigo – Pengantar dan Puncta Umum – (Senin, 17 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=nuGuxy31uCI

4. Caminar con Inigo – Puncta 1 “Terluka di Pamplona” -(Senin, 17 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=blQNi7KDNe4

5. Caminar con Inigo -Puncta 2 “Bacaan Rohani: Kelahiran Kembali” (Rabu, 19 Mei 2021)
https://www.youtube.com/watch?v=MZJgjLgOl8k

6. Caminar con Inigo -Puncta 3 “Maria Aranzazu” (Jumat, 22 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=xxD1v80AkI4

7. Caminar con Inigo -Puncta 4 “Montserrat: Melepas Kuda, Pakaian, dan Pedang” (Minggu, 23 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=NMos_5YK4nI

8. Caminar con Inigo – Puncta 5 “Manresa: Del Hombre de Saco, Al Hombre Santo” (Selasa, 25 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=_azVxx3-lyo

9. Caminar con Inigo – Puncta 6 “Cardoner: Pencerahan di Tepi Sungai” (Kamis, 27 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=f5eiJUkFrkw

10. Caminar con Inigo – Puncta 7 “Barcelona: Berutang Kebaikan” (Sabtu, 29 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=QL-afpJg_FI


Catatan Perjalanan Ziarah Virtual: Caminar con Inigo (15-30 Mei 2021) https://www.youtube.com/watch?v=4VtaENJO5Ug

NARASUMBER DI IGNATIAN TALK …

https://www.youtube.com/watch?v=S55p_0UolVg&t=136s

BERKONTEMPLASI DENGAN FILM “:

Retret BERKONTEMPLASI DENGAN FILM -di Sangkalputung, Klaten .. 7-8 Maret 2020

https://www.youtube.com/watch?v=fyUasTFsh4A&t=47s

PENULISAN CERPEN DLL :

PENULISAN BUKU

https://www.sesawi.net/hati-kudus-yesus-dan-buku-spiritualitas-ignasian/

Diterjemahkan oleh Antonius Sumarwan SJ

https://www.tokopedia.com/stellamarisshop/berdoa-dengan-jujur-william-a-barry-sj-buku-kanisius

https://www.tokopedia.com/matlukman/menyeberangi-sungai-air-mata-by-antonius-sumarwan-sj

https://ebooks.gramedia.com/books/perempuan-dan-anak-anaknya

Refleksi Sahabat CLC – “ DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Rosario, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Nano SJ dengan judul tulisan “Devosi Itu Dialog; Bukan Monolog”.

Rm. Nano yang setelah selama 11 tahun menjadi Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta, sejak 2 Agustus 2021 menjalani perutusan baru yaitu bertugas sebagai Koordinator Formasi Awam Sahabat Ignatius, tinggal di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG

P. Agustinus Setyodarmono, SJ

Saya bukan pendoa rosario yang baik. Rasanya garing kalau berdoa rosario. Pendoa setia doa Malaikat Tuhan setiap jam 12.00 dan 18.00? Tidak juga. Saya juga bukan penghayat doa novena Salam Maria. Kering rasanya. Monolog.

Ada 2 cara yang saya nikmati sebagai cara berelasi dengan Bunda Maria. Cara 1 berakar pada pengalaman masa kecil jalan kaki ke Sendangsono mulai dari pinggir jalan raya Slanden pada tahun 1980-an. Mobil parkir di tepi jalan. Orangnya berjalan. Di bulan Mei biasanya musim hujan. Kondisi jalan masih dari tanah. Belum diaspal. Akibatnya jalanan becek, berlumpur dan licin. Peziarah terpeleset jatuh karena jalan licin adalah pemandangan biasa. Di kanan kiri jalan ada cukup banyak penjual tongkat bambu. Ada deretan pengemis meminta sedekah dari peziarah yang berjibaku dengan kondisi jalan yang licin. Ada penjual bengkoang, timun, kesemek (atau kledung, atau apel genit).

Berjalan kaki penuh perjuangan dari Slanden ke Gereja Paroki Promasan adalah etape 1. Etape 2 adalah mengikuti jalan salib Tuhan Yesus mulai dari Gereja Paroki Promasan ke Sendangsono. Rasanya lebih real mengikuti jalan salib itu karena kondisi jalan: becek, berlumpur dan licin. Saya belajar yang namanya ziarah itu adalah berlelah-lelah jalan kaki, sambil ndremimil doa Salam Maria, plus merenungkan jalan salib Tuhan Yesus.

Sampai di Sendangsono, istirahat. Ekaristi. Makan bekal yang dibawa dari rumah: arem-arem, teh manis, telur rebus. Perjalanan kembali ke mobil di bawah tetap sama: becek, berlumpur dan licin. Inilah miniatur hidup: becek, berlumpur dan licin. Dengan restu dan doa dari Bunda Maria, insyaallah tidak jatuh. Kalaupun jatuh, ada banyak teman seperjalanan yang murah hati membantu bangun lagi.

Cara kedua adalah membaca kisah-kisah Bunda Maria yang dituliskan oleh para penginjil. Matius dan Lukas menuliskan kisah awal Bunda Maria menerima kabar gembira, melahirkan di Betlehem, mengungsi ke Mesir, kembali ke Palestina sampai kisah-kisah di bawah salib Tuhan Yesus.

Cara 1 membaca: membayangkan hadir dalam peristiwa-peristiwa yang dikisahkan membuat saya merasakan yang dialami Bunda Maria. Cara ini membuat saya merasa dekat dengannya.

Cara 2 membaca: menggunakan kisah-kisah yang dialami Bunda Maria terjadi dalam hidup pribadi saya atau orang lain yang dekat dengan saya. Cara ini membantu saya untuk merasakan bahwa Bunda Maria menyertai perjalanan hidup saya.

2 cara ini membantu saya merasakan yang namanya: dialog dan bukan monolog.

Jakarta, 27 September 2021

nanosj


Lampiran :

MATERI ppt tentang Devosi Bunda Maria

MENG-IMITASI MARIA – Sebuah Cara Berdevosi

Lampiran Tambahan :

KEGIATAN-KEGIATAN DALAM KAITAN TUGAS PERUTUSAN SEBAGAI KOORDINATOR FORMASI AWAM SAHABAT IGNATIUS, sejak 2 Agustus 2021.

KEGIATAN BERSAMA KOMUNITAS SAHABAT IGNATIUS :
SCHOOLED BY THE SPIRIT (SBS),
CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC),
LATIHAN ROHANI PEMULA (LRP),
MITRA IGNASIAN,
IGNATIAN TALK -YAYASAN SESAWI,
SAV PUSKAT -BINCANG MoTv,
dll.

SOON
(YouTube) (BERSAMA SBS) Schooled By The Spirit (SBS) -THE SHADOW / Angk.IV – 24 Oktober – 12 Desember 2021, via zoom

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara Pertemuan Pengurus, dll CLC Lokal Yogyakarta -“Mengenal lebih jauh CLC”, Senin, 20 September 2021, via zoom.

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara CLC Lokal Jakarta -“KETERPURUKAN YANG MEMBANGKITKAN”, Minggu, 18 Juli 2021, via zoom

(YouTube) Latihan Rohani Pemula (LRP) -Ngobrol tentang Pengambilan Keputusan Secara Ignatian Bersama Rm. Nano SJ -9 September 2021, via zoom

( Latihan Rohani Pemula / LRP ) Memberikan Peneguhan pada acara Pleno Penutupan Latihan Rohani Pemula Season5 , Minggu, 12 September 2021, via zoom.

KEGIATAN PROMPANG (PROMOSI PANGGILAN) SJ

(YouTube) PROMPANG SJ -Rangkaian Kegiatan AYOK (A Joyful Vocation Week 2021; Tim Promosi Panggilan dari Lembaga Hidup Bakti (Ordo Religius, Tarekat, Kongregasi) dan Diosesan, 2021, via zoom

30 Jui 2021

22 April 2021

15 Juni 2021

(YouTube) Mitra Ignatian HSPMTB -Peran Bunda Maria dalam Hidup Yesus: Minggu, 23 Mei 2021 via zoom.



(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Spiritualitas Hati : 10 April 2021, via zoom.

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part2) : 7 November 2020, via zoom.
Link : https://www.youtube.com/watch?v=vzPmTyvjFpo

Mistik Santo Ignatius Loyola (part2) 7 November 2020

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part1) : 3 Oktober 2020, via zoom.

3 Oktober 2020

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part2) : 5 September 2020.

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part1) : 29 Agustus 2020.

(YouTube) Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo – Stasi Maria Assumpta Glodogan, Paroki Girisonta, Ajakan untuk Berbagi, 28 Agustus 2020, via zoom.

Sumber : https://www.facebook.com/LatihanDoaDanHidupRohani/photos/a.1760328837392961/4285102308248922/

Refleksi Sahabat CLC – “BELAJAR MEREFLEKSIKAN KETERLIBATAN ALLAH DALAM HIDUPKU SEHARI-HARI”

Dalam merayakan Pesta Hari St. Ignasius dan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Kitab Suci Nasional, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC yaitu Pater RD Rusbani Setyawan dengan judul tulisan “Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari”.

Rm Iwan adalah Pendamping CLC di Bandung. Sebagai pastor, Rm Iwan bertugas sebagai Pastor Paroki Salib Suci Kamuning Bandung dan sebagai Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Bandung.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam. IgnatiuS00

Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari

Oleh RD Rusbani Setyawan

Dalam sebuah pertemuan para penggiat Kitab Suci, saat itu sedang dibahas sebuah teks Kitab Suci. Para ahli Kitab Suci menyampaikan pendapatnya dengan didasarkan analisis-analisis kata dan kalimat berdasarkan bahasa-bahasa asli. Amat menarik mengikuti diskusi yang terjadi karena berbagai pendapat dan adanya saling mengkritisi satu sama lain. Bahkan pada saat itu terjadi sedikit perdebatan berkaitan dengan penafsiran huruf tertentu yang mempengaruhi arti.

Di tengah diskusi yang hebat itu, tiba-tiba ada seorang bapak yang adalah sopir dari salah seorang romo, berkata: “Para romo, kalau Sabda Tuhan begitu sulit dan rumit, maka kami orang yang bodoh ini tidak akan mengenal Tuhan dan tidak bisa masuk surga.” Perkataan bapak itu membuat semua yang sedang berdiskusi menjadi diam dan merenung. Perkataan bapak itu amat kuat bergema dalam diri saya. Setiap kali saya mempersiapkan renungan untuk homili selalu berusaha untuk menawarkan sesuatu yang menurut saya sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari.

Ketika menulis renungan harian, saya belajar untuk melihat pesan teks Kitab Suci dalam pengalaman hidup sehari-hari. Sudah pasti tidak mudah bagi saya yang amat terbatas. Tantangan besar adalah bagaimana membuat renungan yang sederhana dan sungguh-sungguh menampilkan pergulatan hidup sehari-hari.

Dalam perjalanan menulis renungan, saya mendapatkan banyak tanggapan berupa sharing-sharing dari para pembaca. Berdasarkan tanggapan-tanggapan itu, saya merasakan dan semakin yakin bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci itu begitu dekat dengan hidup keseharian kita semua. Dari situlah saya menemukan kesadaran bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci adalah bentuk keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Allah yang bertindak untuk manusia dan bersama manusia.

Dengan demikian menuliskan renungan bukan hanya soal merefleksikan Sabda Tuhan tetapi lebih dari itu adalah merefleksikan keterlibatan Allah dalam hidup sehari-hari. Merefleksikan karya Allah dalam kehidupan umatnya.

Iwan Roes RD.

Tulisan Renungan Harian oleh Rm Iwan yang diunggah di website CLC Indonesia : https://clcindonesia.wordpress.com/category/renungan/

DOKUMENTASI

Tahun 1984. Seminari Mertoyudan
Tahun 1986. Seminari Mertoyudan
Ulang Tahun Imamat : 10 Juli 2015


KEGIATAN BERSAMA UMAT/MASYARAKAT/KOMUNITAS

TOUR KE HOLY LAND .. Oktober 2009
(video) https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436879977273/
https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436023310692/

DI GEREJA/PAROKI

Tahun 2010
Tahun 2010 : Juli

Tahun 2011: Oktober
Tahun 2011: November

Tahun 2011: Di Gereja Katedral St Petrus Bandung

Tahun 2012

Tahun 2013

Memberi Sakramen Perkawinan

Berfoto Bersama Umat

Tahun 2014 : Bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo

Tahun 2015 – di Subang
Bersama Uskup Bandung: Mrg Anton

Tahun 2016: 17 Agustus


BERSAMA CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Tahun 2009
Bersama Ibra dkk.

Bersama Rius dkk.


DALAM KEGIATAN CLCL NASIONAL INDONESIA …

Menjadi Pembimbing Refleksi dll –
Gua Maria Tritis Wonosari – Journey to The South –
31 Agustus – 4 September 2018


Acara Permainan untuk bahan refleksi peserta :

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322103018410/

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322105218465/

Refleksi Sahabat CLC – “MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN”

Dalam merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Internasional) yaitu pada tanggal 5 Juni 2021, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC Rm Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ, M.Sc. atau Rm. Wir, SJ.

Rm. Wir SJ berkenan berbagi/ sharing refleksi tulisan yang menyangkut kedua hal di atas berjudul “Menjalani Pertobatan Ekologis Secara Ignasian”.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.


MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN

P. Wiryono Priyotamtama, SJ

Suatu hari seorang teman dosen mentraktir penulis untuk bisa menikmati bakmi kesukaannya : bakmi Jamur Vegan Vegetarian. Sambil menikmati bakmi, dia cerita tentang mengapa dia sejak lima tahun yang lalu memutuskan untuk menjalani pola makan kaum vegetarian. Ia sedang menjalani sebuah pertobatan ekologis. Bertobat dari kebiasaan makan dengan lauk serba daging, ke kebiasaan makan dengan lauk non daging. Demi menjaga kesehatan, demikian alasan yang disampaikan.

Kembali dari makan bakmi traktiran teman, penulis tergerak untuk ikut berpikir  tentang perlunya merawat kesehatan dirinya. “Demi menjaga kesehatanku mengapa aku tidak tertarik dengan pola makan vegetarian? Ah, bukan tidak tertarik tetapi tidak mungkin ! Sebagai seorang yesuit aku hanya bisa makan menurut apa yang disajikan oleh komunitasku di meja makan. Pertobatan ekologisku harus memilih cara lain!” Demikian gerak batin penulis memberikan pembenaran. Dasar pembenaran ini bisa kita kaitkan dengan faham Ignatius tentang siapakah kita ini sebagai manusia,  untuk apa manusia diciptakan, dan bagaimana cara hidup ekologis selayaknya selalu menjadi pilihan kita? Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa diperoleh dengan mengikuti pencerahan yang dihasilkan oleh gerak batin kita. .

Siapakah kita ini sebagai manusia? Pertama, kita ini makhluk ciptaan. Sebagai ciptaan,  kelangsungan hidup kita tergantung pada Sang Pencipta. Tergantung pada rencana ilahi yang ditetapkan untuk setiap barang atau makhluk hidup yang Ia ciptakan. Segala sesuatu yang tercipta memiliki nilai khusus di mata Sang Pencipta. Kedua, manusia sebagai ciptaan diberi keistimewaan yakni diciptakan menurut citra Sang Pencipta. Citra utama Sang Pencipta adalah penuh kasih. Manusia diciptakan dengan citra utama ini yakni mampu dikasihi dan mampu mengkasihi. Bahkan lebih jauh kemanusiaan kita sebenarnya merupakan sebuah ekosistem afektif Allah kita.  Relasi kita sebagai manusia dengan Sang Pencipta bisa sangat intim bahkan menyatu sebagaimana kita temukan dalam diri Yesus Kristus.

Untuk apa manusia diciptakan?  Latihan Rohani St. Ignatius mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Pertanyaan yang perlu dilontarkan di sini adalah bagaimana kita memahami dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain agar benar-benar bisa menjadi penolong bagi kita? Dengan cara mengeksploitasi? Pasti tidak. Dengan cara apa? Di sinilah relevansi pertobatan ekologis  kita yakni untuk berubah dari cara eksploitatif  atau menguasai ke cara lain yakni merawat, melestarikan, dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain seperti Sang Pencipta memperlakukan. Manusia yang diciptakan menurut citra Sang Pencipta harus selalu belajar dari Sang Pencipta dalam memperlakukan segala sesuatu yang tercipta di muka bumi.

Bagaimana mengusahakan agar gerak batin kita selalu mengarah ke pilihan pertobatan ekologis? Pertama, yang dimaksudkan dengan gerak batin seperti diajarkan dalam Latihan Rohani St. Ignatius adalah gerak roh dalam kedalaman hati kita. Gerak roh ini bisa membawa keinginan atau hasrat, pikiran, dan perasaan  kita ke arah hal-hal baik atau hal-hal kurang baik atau jahat. Kedua, kita usahakan agar gerak batin kita selalu mengarah kepada kebaikan dan bukan kejahatan. Untuk ini kita bisa selalu melakukan pemeriksaan batin terkait ke arah mana hasrat, pikiran, dan perasaan kita digerakkan dan roh macam apa telah menggerakkan. Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Ignatius Loyola sebagai pemeriksaan batin harian. Praktek pemeriksaan batin ini sangat membantu dalam usaha kita menjalani pertobatan ekologis yang arahnya selalu mengedepankan kebaikan-kebaikan bersama.

Apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam kategori kebaikan-kebaikan bersama? Semua saja yang bisa kita kaitkan dengan pemeliharaan relasi afektif yang sehat  dengan diri kita sendiri, lingkungan, sesama, dan Allah yang masing-masing ataupun keseluruhan merupakan ekosistem afektif Allah sendiri.  Segala-sesuatu dipersatukan dalam ekosistem afektif Allah ini. Kitapun bisa menemukan Allah di dalam segala sesuatu. Di dalam pilihan temanku menjadi seorang vegetarian, aku bisa menemukan bagaimana Allah telah menggerakkan hatinya untuk memilih pola hidup yang terbaik bagi dirinya di usia menjelang 60 tahun. Dengan menjadi vegetarian kerja sistem pencernaan tubuhnya menjadi lebih ringan, gangguan obesitas menghilang, kolesterol menjadi normal, dan keluhan tekanan darah tinggi tak lagi terdengar. Pendek kata kesehatan tubuhnya menjadi lebih terpelihara. Hidupnya menjadi lebih ceria. Dalam refleksi kita bisa menyatakan bahwa dalam tubuh  yang sehat kita jumpai jiwa yang sehat. Relasi-relasi  afektif yang dibangun oleh jiwa yang sehat pastilah menciptakan pertumbuhan ekosistem tubuh, keluarga, komunitas, tempat kerja, masyarakat, dan Gereja yang sehat.

            Ada tiga rahmat yang bisa kita harapkan dari Tuhan lewat pertobatan ekologis kita seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si.  Ketiga rahmat tersebut adalah : 1) perdamaian diri kita dengan seluruh alam ciptaan (LS 218), 2) tumbuhnya semangat murah hati (LS 220), dan 3) terciptanya daya kreativitas dan antusiasme lebih besar dalam usaha memecahkan masalah-masalah dunia saat ini (LS 220). Tergerak hati penulis untuk selalu memohon rahmat-rahmat ini di saat-saat sedang menjalani pertobatan ekologisnya. Apa bentuk kongkritnya? Bisa disebutkan di sini : senam pagi 30 menit dengan gerakan-gerakan Taichi, jalan kaki 60 menit di sekitar rumah, menyelesaikan penyusunan buku ajar  mata kuliah lintas program studi Healing Earth  di Universitas Sanata Dharma, dan mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul. Inilah bentuk pertobatan ekologis yang dipilih penulis. Intensi pertobatan ekologis penulis adalah kombinasi antara kesehatan ekosistem afektif diri sendiri dan pembentukan  ekosistem afektif mahasiswa dan masyarakat yang sedang penulis dampingi saat ini.

                                                                              Girisonta, 30 Mei 2021

Mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul

Kelompok olah raga Taichi USD yang diikuti oleh Rm Wir

MENJADI SAHABAT CLC

Acara Awal Tahun Baru 2019 di Pastoran Paingan (Pradnya Laksita) Yogyakarta

Tentang Rm. Wir SJ (2020)

(sumber : https://books.google.co.id/books/about/Buku_Ajar_Pendekatan_Ilmiah_Lanjut.html?id=UWruDwAAQBAJ&redir_esc=y )

P. Wiryono Priyotamtama SJ, lahir di Madiun pada tanggal 8 September 1947. Mata pelajaran Biologi menjadi mata pelajaran paling disukai sejak menjadi siswa di SMP dan SMA Seminari Menengah Mertoyudan Magelang. Menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan berbagai kegiatan penelitian bidang Morfologi Tanaman dan Mikrobiologi, diantaranya praktek pengelolaan perkebunan di Perusahaan Perkebunan di Siluwok Sawangan Batang, dan penelitian lapangan di calon waduk Gadjah Mungkur, Wonorigi, pemukiman transmigran di Sitiung Sumatra Barat, dan Way Abung di Lampung, dan di tempat-tempat lain.

Gelar Educational Doctor (Ed.D) (1986) dari Oklahoma State University Stilwater, Oklahoma, USA, dalam bidang Pendidikan Pertanian. Sejak saat itu seluruh hidupnya diabdikan sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi yakni sebagai dosen tetap di Universitas Timor Timur di Dili, Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang, dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Mata kuliah yang paling sering diampu adalah Metode Penelitian, Pendekatan Ilmiah Dasar, Pendekatan Ilmiah Lanjut, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Budidaya Taman dan Hewan, Botani Ekoomi, dan mata kuliah Ilmu Lingkungan yangdiberi nama Healing Earth.

Dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1986 sampai dengan Maret 2020. Sejumlah pengalaman pengabdian yang pernah dijalani antara lain: menjadi Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993), Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996), Pimpinan Serikat Yesus Provinsi Indonesia di Semarang (1996- 2002), Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003), Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005), Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014), dan Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

Beliau saat ini berdomisili di Jesuit Residence, Wisma Pradnya Laksita, Pedukuhan Paingan, Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

HIDUP DAN KARYA SEBAGAI JESUIT

  • TAHBISAN sebagai JESUIT
  • PERAYAAN 50 TAHUN BERZIARAH DALAM ORDO SERIKAT JESUS

Perayaan bersama anggota CLC di Yogyakarta : Minggu, 21 Januari 2018, Di Ruang Seminar LPPM – Kampus II USD, Mrican

Perayaan di Universitas Sanata Dharma (Ruang Koenjono, lt 4 Gedung Pusat, Kampus II) : 27 Januari 2018

  • PERUTUSAN MENJADI PROVINSIAL JESUIT (1996 – 2002)
Source :
  • https://www.hidupkatolik.com/2014/10/12/19197/menabur-benih-iman-di-tanah-suai.php
  • Setia melayani: Romo Dewanto saat ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Mgr Ignatius Suharyo, Rm Wir sebagai Provinsial dan Rm Paul Suparno SJ sbg Rektor Kolsani.

    • PERUTUSAN MENJADI PIMPINAN PERGURUAN TINGGI (Rektor) dan aneka jabatan pimpinan yang lain

    Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993)

    Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996)

    Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003)

    Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

    Fasilitator Program Tersiat Serikat Yesus di Giri Sonta (dari 2016 sampai dengan saat ini)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Source : https://usd.ac.id/biro/personalia/daftar.php?id=berita&noid=74&offset=30

    https://www.viva.co.id/berita/politik/469383-jokowi-megawati-dan-pohon-beringin-yang-ditanam-soekarno?page=all&utm_medium=all-page

    • Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Indonesia menyelenggarakan 1st International Conference yang mengangkat  isu kemiskinan dan lingkungan yang dibuka pada Jumat (21/9) lalu di Auditorium Kampus 3 Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). 

    Hari Studi APTIK 2018 : Mengukuhkan Kebangsaan dalam Kebhinekaan, 10-12 Oktober 2018, Bertempat di Hotel IBIS, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) gelar Hari Studi di kota Pontianak (11-12/10/ 2018). Untuk kegiatan ini, Yayasan Widya Dharma Pontianak dipercayakan menjadi tuan rumah. Tercatat 19 Yayasan Perguruan Tinggi Katolik yang menjadi anggota APTIK, didampingi oleh para Rektor Perguruan Tinggi anggota APTIK  hadir dalam Hari Studi kali ini. Total jumlah peserta 105 orang.

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menyelenggarakan Kongres APTIK XXXVI tahun 2019 pada tanggal 8-9 Maret 2019. Pembukaan Kongres dilaksanakan pada Jumat, 08 Maret 2019 di Ballroom Hotel Harper Mangkubumi Yogyakarta. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus APTIK, Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ sekaligus menandai dibukanya Kongres APTIK.

    FASILITATOR TERTIAT JESUIT PROVINSI INDONESIA

    Tersiaris Provindo 2017 (belakang: Rm Seno, Rm Bambang, Rm Andalas, Rm Nico. Depan: Rm Yuniko, Rm Putranto, Rm Priyo, Rm Wiryono, Rm IJ (PHI) dan Rm Jason (PHI)

    Tersiaris Provindo 2019 (Rm Wiryono, Rm Priyo, Rm Fristian, Br Marsono, Rm Mario, Rm Eko, Rm Agam, Rm Ochang (KOR), Rm Putranto

    Source : https://jesuits.id/tertiat-provinsi-indonesia/

    BERSAMA KELUARGA JESUIT, dan lain-lain

    Refleksi Sahabat CLC – “KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN”

    Ketua CLC di Indonesia, Gregorius Tjaidjadi atau yang biasa dipanggil dengan Ko Rius ikut memperingati Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan juga merayakan dan merefleksikan (Pembukaan) Tahun Igantian, 20 Mei 2021 ini dengan menulis refleksi dengan judul tulisanKISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.

    KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN

    Oleh Gregorius Tjaidjadi

    Tahun Peringatan 500 tahun pertobahan Ignatius di Hari Kebangkitan Nasional

    Berhenti sejenak di hari ini, melihat garis sejarah yang bersilangan membawa banyak kisah dan cerita yang beberapa dasawarsa ini dibaca, didengar, dan coba dipahami. Dua kisah yang hari ini bersilangan di tengah refleksi pagi, sebelum saya memulai kerja di hari ini. Dua kisah itu adalah Kisah Dr. Soetomo yang organisasi Boedi Oetomo-nya (Budi Utomo; BU) kemudian melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, Peringatan Nasional di setiap tanggal 20 Mei. Satunya lagi, kisah Santo Ignatius Loyola, yang secara khusus tahun ini kita peringati, 500 tahun pertobatannya.

    Di awal berdirinya, BU muncul sebagai kumpulan orang orang terdidik yang memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat bangsa. Sebuah cita-cita luhur, yang mereka usung lewat berbagai upaya sosial, ekonomi, dan terutama budaya. Sebagai organisasi anak bangsa, yang lahir di era penjajahan Belanda, organisasi ini tidak mengawali kiprahnya dengan membangun narasi besar untuk mengubah status kemerdekaan bangsa, tapi  justru melalui narasi- narasi kecil tentang membangun integritas diri lewat pendidikan dan kebudayaan bangsa. Tidak ada issue politik yang digadang saat awal BU mengawali gerakan mereka, namun niat baik ini kemudian menggelombang, dan mendorong gerakan bangsa untuk bangkit dan menjadi utuh sebagai Bangsa dan Negara yang merdeka.

    Demikian juga dengan Ignatius, gelombang besar cara hidup spiritualitas Ignatian yang tersebar dimana-mana saat ini, tidaklah berawal dari cita-citanya untuk mengubah dunia, namun gelombang itu dimulai dari riak kecil pertobatan pribadi, setelah nyaris kehilangan jati diri dihantam peluru meriam yang membekas dalam. Ignatius menemukan titik terendah dalam hidupnya saat itu, kejayaan diri sebagai ksatria, membuatnya hilang arah, ketika mendekam dalam kamar pemulihan tanpa kejelasan masa depan. Titik terendah, berubah menjadi titik balik, saat dia menemukan cita- cita baru, sebuah pertobatan pribadi, dari ksatria yang gemar berbagai kenikmatan duniawi, menjadi peziarah, dengan niat pertobatan lewat mati raga dan mendera diri.

    Mendidik diri, mengasah gergaji

    Kisah BU dan Santo Ignatius memaparkan sebuah fakta, bahwa proses belajar, dan pendidikan adalah langkah awal yang menjadi bahan bakar perubahan dalam diri dan dalam orang orang yang didampingi. BU tidak serta merta memberikan pendidikan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar tempatnya hidup, namun mengawalinya lewat pengorganisasian dan pengembangan anggota, yang kemudian berdaya, dan mampu berbagi kepada sesama.

    Jauh sebelum masa BU, Santo Ignatius sudah mengalami tahap menempa diri yang menghadapkannya dengan kenyataan untuk belajar. Relasinya dengan Tuhan berawal dari kenaifan diri yang melihat hukuman dan pertobatan adalah bentuk relasi dengan Tuhan. Namun Tuhan mengajar Ignatius dengan cara-Nya, sehingga ia menemukan proses pengolahan, pembentukan dan penerimaan diri, sebagai pribadi yang utuh. Tuhan mendidik layaknya seorang guru, yang memberikan pengajaran lewat berbagai peristiwa hidup, dan terutama, lewat perjumpaan Ignatius dengan dirinya sendiri.

    Maka tidaklah berlebihan, bila refleksi saya hari ini, menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa sebuah gerakan perubahan besar, selalu berawal dari kesediaan diri untuk belajar, menempa diri dan terus mengasah gergaji*. Hanya dengan kesadaran diri seutuhnya, kita dapat membuat gelombang dan gerakan yang konsisten untuk berubah kearah yang lebih baik. Perubahan besar tentunya tidak selalu berkisah tentang narasi besar dalam hidup, tapi justru dari narasi narasi kecil yang utuh. Apakah saya sadar hari ini? apakah saya hendak memulai hari lebih pagi? Apakah saya akan meluangkan waktu untuk berdoa bersama? Apakah saya mau memperbaiki kesalahan saat bekerja? Apakah saya konsisten berkomunitas? Apakah saya menyadari sungguh setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak-Nya? Apakah saya mampu berbuat lebih baik? Semua hanya dapat dijawab ketika saya mau belajar dan mengembangkan diri.

    Berbagi hati, membentuk empati

                    Pribadi yang selalu mau untuk belajar, bisa kita kenal lewat para penikmat budaya refleksi. Mereka yang tak jemu, untuk melihat kisah hidup, sebagai guru dan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu kita memahami berbagai peristiwa hidup, dengan kacamata yang baru. Proses ini, membantu keselarasan pola  berpikir, merasa, dan bertindak.

    Dalam CLC, kita tahu bahwa budaya refleksi adalah budaya dasar yang selalu disandingkan dengan budaya berbagi. Kita meyakini, bahwa dengan berbagi isi hati, kita dapat terus mempertajam kemampuan kita merasa. Kemampuan mengenali dan mengelola perasaan akan membuat kita lebih jernih melihat peristiwa hidup, baik lewat peristiwa hidup pribadi, maupun mereka yang berbagi dalam kelompok. Bila kita sungguh mengenali rasa dalam diri, dan kemudian dengan pengetahuan yang selalu kita tambah, kita akan mempu mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan, dengan sadar dan utuh.

    Keinginan kita untuk selalu belajar lewat refleksi diri, akan menggiring kita untuk menemukan rasa dan empati. Berempati berarti mengubah rasa menjadi tindakan, memperkuat niat dengan keutuhan diri, yang kemudian memunculkan konsistensi dalam bertindak. Sebuah riak kecil yang menciptakan gelombang yang membesar, hanya akan terjadi, ketika riak kecil terus terjadi, terpelihara dan konsisten.

    Komunitas dan kisah perubahan

                    Saya mengenali CLC sebagai keluarga besar, yang menyediakan ruang dan penghuni, yang konsisten menjadi cermin bagi diri dan sesama untuk berefleksi. Dan dari setiap perjumpaan, proses belajar terjadi. Dari berbagai kisah hidup, berbagai proses pembelajaran dan perubahan dilakukan. Kita melihat betapa spiritualitas Ignatian dan semangat kebangkitan BU, terpatri dalam proses ini. kita menempa diri dengan terus belajar lewat refleksi, kemudian mendorong perubahan lewat empati yang sungguh diyakini. Maka kebangkitan diri adalah konsekuensi yang akan kita terima, saat kita terus belajar mengembangkan diri dan tak ragu mengaktualisasikan empati kita. Maju sebagai pembawa perubahan akan menjadi tantangan yang ada di depan kita. Maka mari kita bertanya pada diri kita sebagai CLC, sudahkan saya berkomunitas untuk bangkit bersama? sudahkah saya berani menjadi pembawa perubahan?

    Maka kisah Kebangkitan Nasional, sama seperti napas Siritualitas Ignatian, sebuah kisah mendidik diri lewat refleksi, yang mendorong perubahan perubahan kecil dan besar dalam hidup, sampai akhirnya di suatu titik, kita sungguh dapat berkisah tentang perubahan baik yang dapat kita lakukan, sendiri, maupun bersama. Kisah kebangkitan diri akan terpampang jelas saat Kisah Perubahan terjadi. Beranikah kita untuk berubah? Beranikah kita membawa perubahan? Hari ini? Selamat Hari Kebangkitan Nasional, selamat merefleksikan Tahun Ignatian.

    Curriculum Vitae

    Foto-foto Rius bersama anggota CLC di Bandung

    Foto-foto Rius bersama tim Asia Pasific CLC

    Refleksi Sahabat CLC – “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS”

    Memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan sekaligus ikut merayakan pembukaan Tahun Ignasius Loyola bersama para Jesuit, kami sajikan tulisan dari Profesor Dr. Paul Suparno, SJ, M.S.T. yang biasa kami panggil dengan Rm. Paul.

    Rm. Paul menyelesaikan karya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada akhir tahun 2020. Saat ini beliau tinggal di Kolese St Ignasius Kotabaru Yogyakarta.
    Beliau adalah Asisten Gerejani CLC di Indonesia. Dan juga sebagai pastor pendamping CLC di Yogyakarta.

    Berikut kami sajikan tulisan beliau dengan judul tulisan “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS“.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.


    HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS

    Oleh Paul Suparno, S.J.

    Hari Kebangkitan Nasional

                Pada tanggal 20 Mei 2021 ini, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Apa yang kita peringati dan bagaimana kita akan memperingatinya?

                Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita ingat gerakan Budi Utomo, yang didirikan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dokter Soetomo serta teman-temnnya. Dokter Wahidin, dokter Jawa yang sangat murah hati untuk membantu orang lain agar maju. Setelah pension dari dokter, ia menjual banyak hartanya dan digunakan untuk membantu pendidikan orang lain. Ia keliling Jawa mencari dana untuk membeayai pelajar-pelajar yang miskin tetapi pandai. Ia giat membantu pendidikan.

    Ia mengumpulkan beberapa mahasiswa kedokteran STOVIA Jakarta seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusuma,  dan Suraji untuk mendiskusikan pembentukan suatu badan, yang nantinya disebut Budi Utomo (20 Mei 1908).  Awalnya perkumpulan ini lebih bergerak membantu dalam dunia pendidikan, tetapi kemudian dikembangkan dalam bidang politik membantu gerakan kesatuan bangsa dan kemerdekaan.  Gerakan ini kemudian memancing timbulnya banyak gerakan pemuda di Indonesia ini, yang nantinya mengerucut dalam gerakan pemuda Indonesia dan gerakan menuju kemerdekaan.

    Peringatan pertobatan St. Ignatius

    Hari ini Jesuit memperingati 500 tahun bertobatnya St. Ignatius Loyola pendiri Serikat Jesus. Suatu pengalaman mendalam pribadi, yang akhirnya menjadi awal dari gerakan perubahan hidup orang sampai dengan munculnya Serikat Jesus.

    Ignatius, yang sering disebut Inigo, awalnya adalah seorang tentara yang begitu punya ambisi kuat untuk mengabdi raja dan nantinya dapat mempunyai kehormatan seperti raja. Namun setelah peristiwa Pamplona, dimana ia mengalami patah kakinya dalam peperangan di Pamplona; ia tidak mungkin lagi menjadi seorang militer yang hebat. Ia mengalami frustrasi berat karena kakinya cacat, panjang sebelah.

    Dalam kekeringan yang berat dan kefrustrasian itu, ia disentuh Tuhan lewat bacaan buku santo-santa yang mengkisahkan kehidupan Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus mengikuti Yesus.  Sebenarnya yang ia cari adalah buku-buku kepahlawanan atau roman, tetapi yang ada di rumahnya waktu itu hanya buku riwayat santo-santa. Dalam pergulatan besar, ia merasakan bahwa setiap kali ia memikirkan untuk menjadi satria hebat mengabdi raja dan memikirkan mempunyai istri cantik, hatinya menjadi senang, namun lama kelamaan perasaan itu hilang dan yang tinggal adalah malah kekeringan, kesepian, desolasi. Sedangkan, kalau ia memikirkan untuk mengikuti teladan  Santo Fransiskus yaitu mengabdi Yesus, itu terasa berat pada awalnya, tetapi setelah lama ia merasa damai, merasa gembira, mengalami konsolasi. Akhirnya ia mengubah hidupnya. Ia yang tadinya ingin menjadi seorang satria yang terhormat dengan kekuasaan dan isteri yang cantik, berubah menjadi kesatria Yesus, yaitu ingin mengikuti Yesus seperti dialami oleh Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus.

    Pertobatan pribadi ini, teryata menggerakkan dia untuk membagikan pengalamannya  kepada orang-orang lain dalam latihan rohani yang ia berikan dan tawarkan kepada orang-orang yang dijumpai dan ia pandang mampu. Dalam perjalanan, ternyata banyak orang yang cocok dibimbing dan mengalami pertobatan hidup seperti dia sendiri.

    Pengalaman pertobatan itu dengan seluruh prosesnya ditulis dalam Latihan Rohani  yang dapat digunakan orang untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya dan menemukan panggilan Tuhan bagi hidupnya. Lewat pengalaman itu pulalah akhirnya Ignatius memilih beberapa teman yang menjadi awal dari Serikat Jesus. Lewat pengalaman pribadinya itulah, ia menawarkan sentuhan Tuhan kepada banyak orang untuk dapat juga menemukan Tuhan dalam hidupnya dan hidup bahagia bersama Tuhan.  

    Kesamaan menjadi penggerak awal

    Bagi saya yang menarik merefleksikan tentang Wahidin dengan gerakan kebangkitan nasional Budi Utomo dan Pertobatan Ignatius, adalah bahwa keduanya menjadi awal, menjadi pemacu, menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan baru dan kehidupan yang baru.

    Budi Utomo akhirnya memunculkan gerakan nasional yang lain di Indonesia ini.  Gerakan ini akhirnya menyadarkan kepada banyak pemuda akan pentingya persatuan bangsa, pentingnya bekerjasama sebagai warga, dan akhirnya memacu munculkan gerakan kearah kemerdekaan Indonesia. Semangat Budi Utomo menggerakkan anggotanya dan memberikan inspirasi kepada kelompok lain untuk lebih ikut terlibat memikirkan kebutuhan bangsa Indonesia.

    Pertobatan Ignatius, mengubah Ignatius menjadi sahabat Tuhan, dan ingin menyerahkan seluruh hidupnya pada Yesus. Semangat ini  tidak dinikmati sendiri, tetapi selalu ditawarkan kepada orang lain sehingga orang lain juga mengalami semangat itu dan dapat hidup sebagai sahabat Yesus yang sejati.  Pertobatannya membantu banyak orang mengalami pertobatan, perjumpaan dengan Tuhan, dan bersemangat untuk menyebarkan semangat itu kepada orang lain. Semangatnya menjadi pemicu untuk gerakan batin dalam Tuhan bagi orang lain.

    Apa artinya bagi kita

    Ada dua hal yang bagi saya dapat diambil dan dikembangkan dengan merefleksikan dua peristiwa itu.

    1. Saya dapat lebih menangkap semangat yang dikembangkan oleh Wahidin lewat gerakan Budi Utomo-nya dan menangkap semangat Ignatius yang mempengaruhi banyak orang.  Dengan demikian saya akan lebih tahu dan lebih dapat digerakkan sendiri oleh semangat itu.
    2. Semangat yang aku punyai, harus saya tularkan kepada orang lain dan kelompok lain. Lewat hidup dan semangat kita, kita ikut menawarkan semangat kebangkitan nasional itu dan pertobatan Ignatius itu. Caranya misalnya :
      • Aku mulai berpikir bukan hanya diriku, tetapi kebutuhan bangsa ini, kebutuhan orang lain;
      • Aku lebih mau kerjasama dengan orang lain dalam membangun bangsa ini sebagai satu saudara;
      • Aku tidak menikmati semangat itu sendirian tetapi rela berbagi pada yang lain.

    Selamat merayakan hari kebangkitan nasional dan selamat meresapi kehidupan dan semangat Ignatius untuk dapat lebih memajukan kehidupan bangsa kita dan dunia kita.

    Refleksi Sahabat CLC – “MENEMUKAN TUHAN MELALUI PROFESI GURU”

    Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus. Untuk itu kami sajikan tulisan refleksi dari Ibu Dra. Magdalena Indria Dewi.

    Ibu Magda lahir di Padang tanggal 24 April 1964.
    Masuk CLC tahun 1983 kelompok Metanoia.
    Menjadi Pendamping Kelompok Kecil CLC yaitu Kelompok Fidelis, Kelompok IFO, Kelompok Pierre Favre, dan Kelompok Francis Xave.
    Dalam Kepengurusan CLC :
    Bendahara Lokal Yogyakarta ( Waktu CLC muda sekitar tahun 1984)
    Bendahara Yogyakarta ( CLC tua )
    Bendahara CLC Nasional,
    Ketua CLC Yogyakarta.

    Profesi saat ini adalah Guru SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

    MENEMUKAN TUHAN DALAM PROFESI SEBAGAI GURU

    Oleh Magdalena Indria Dewi

    Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional, membuat saya melihat 35 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang guru.

    Pada mulanya sebagai orang muda penuh dengan keidealisan ingin mencerdaskan anak bangsa, merasa cukup ilmu untuk terjun ke sekolah . Surat lamaran kebeberapa sekolah yang punya nama di Yogyakarta, tetapi  tidak  mendapat balasan. Mungkin karena saya belum lulus dari IKIP Sanata Dharma.

    Kemudian saya mendapat informasi SMA St Thomas membutuhkan tenaga pengajar Matematika, saya diterima dengan tangan terbuka. Dengan semangat saya mempersiapkan untuk mengajar, ternyata situasinya sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, materi Matematika yang saya kuasai rasanya  sia-sia, anak-anak  tidak memperhatikan pelajaran saya,

    Suatu ketika pada saat saya merasa gagal sebagai seorang guru, saya masuk ke kelas memberi pekerjaan ke anak-anak, kemudian saya berkeliling, bukan untuk menanyakan soal yang mereka kerjakan, tetapi ngobrol secara pribadi dengan mereka satu persatu, tentang asalnya ( karena kebanyakan mereka bukan  dari  Yogyakarta ), keluarganya. Ternyata setelah itu sikap mereka berubah, mereka mulai memperhatikan ketika saya mengajar. Waktu istirahat hanya saya habiskan bersama mereka, relasi saya dengan anak-anak semakin akrab, saya semakin tahu latar belakang keluarga mereka, sehingga saya makin memahami mereka.

    Keidealisan saya untuk membuat mereka menguasai pelajaran Matematika berubah  mereka menyukai pelajaran Matematika. Saya semakin menghayati profesi saya sebagai guru, saya melihat keindahan menjadi seorang guru, bukan hanya untuk mentransfer ilmu saja  tapi bagaimana menghargai setiap pribadi anak didik dengan segala keunikannya. Beruntung saya di CLC dilatih untuk sharing, mendengarkan, memahami, menghargai setiap pribadi .

    Anak-anak SMA St Thomas sudah kenyang dengan nasehat-nasehat, mereka lebih senang mendengarkan, sharing-sharing saya.

    Saya berterima kasih dengan SMA St Thomas, karena di situlah saya ditempa sebagai seorang guru yang sesungguhnya. Dan memantapkan panggilan hidup saya sebagai seorang guru.

    Ketika saya ditempatkan disekolah negeri saya tidak mengalami kesulitan lagi dalam hal pendekatan dengan anak-anak. Tantangan yang dihadapi berbeda, di tengah kelompok mayoritas bukan Katolik, saya belajar menjadi pribadi yang kokoh, tidak terbawa arus kebiasaan yang kurang baik, saya semakin menghayati tugas orang Kristiani itu menjadi garam, bukan hal besar yang dilakukan tetapi mewarnai.

    Di masa pandemi mendidik anak lebih sulit, karena tidak berhadapan langsung dengan anak-anak, memang terasa ada yang sangat berbeda, soal materi mereka lebih canggih untuk eksplore di internet.

    Tetapi pendidikan karakter tidak bisa maksimal tanpa ada komunikasi langsung, saya hanya  menjadi akrab dengan anak-anak yang sering bertanya lewat WA.

    Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi, masih menjadi PR buat saya bagaimana  dalam situasi yang sangat terbatas, tetapi dapat menjalin relasi hati dengan anak-anak.

    Yang menarik buat saya ketika studi banding untuk pembelajaran tatap muka ke SMA negeri lain yang sudah uji coba tatap muka. Mereka mengatakan “ target kami tidak pada penguasaan  kompetensi, tetapi bagaimana membentuk karakter  anak didik “

    Tiga tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun, melihat perjalanan hidup saya sebagai seorang guru, membuat saya terkagum-kagum akan peran Tuhan yang mendidik saya secara personal. Tidak selalu mudah untuk memahami waktu itu, bahkan harus mengeluarkan airmata, merasa gagal.

    Setiap saya merasa sudah tahu, tantangan baru muncul lagi. Ya mungkin seumur hidup saya harus belajar

    Lepas bebas, cura personalis, magis yang dulu jauh dalam pikiran saya, semakin dapat saya pahami setelah merefleksikan setiap peristiwa yang saya alami. Spiritualitas Ignatian sangat membantu dalam menemukan Tuhan dalam peristiwa hidup saya

    Dokumentasi kebersamaan yang penuh kegembiraan bersama para siswa SMAN Depok Sleman Yogyakarta

    Refleksi Sahabat CLC – “MODEL PEMBELAJARAN PASCA PANDEMI”

    Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus.

    Dalam edisi ini kami sajikan tulisan dari Bp.
    Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

    Pak Eka lahir di Sukoharjo, 20/10/63. Gabung CLC 1985, pernah jadi ktua CLC lokal yogya, wakil keyua dan ketua nasional serta pernah jadi anggota CLC di Manila 1992 sd 1993. Sekarang dosen Informatika USD.

    Model Pembelajaran Pasca Pandemi

    Oleh Johanes Eka Priyatma

    Kita memetik pelajaran berharga dari pembelajaran daring selama pandemi ini. Ternyata,
    meskipun sudah menggunakan teknologi internet dan multimedia yang canggih, pembelajaran
    daring tetap terasa garing. Suasana belajar garing ini membuat gairah belajar menurun. Bukan
    hanya mahasiswa tetapi dosen juga merasakan suasana garing ini. Sejalan dengan harapan pandemi
    akan segera berakhir lewat program vaksinasi, apakah pembelajaran pasca pandemi sebaiknya
    kembali sepenuhnya ke luring ?
    Sejatinya, garingnya pembelajaran daring bukan karena tiadanya tatap muka di kelas
    melainkan hilangnya sebagian besar interaksi sosial yang menyertainya. Peristiwa belajar hanya
    akan berlangsung efektif dan bermakna bila menjadi bagian dari interaksi sosial yang otentik.
    Mahasiswa akan bergairah belajar bila itu berlangsung di antara berbagai kegiatan sosial seperti
    ngobrol di luar kelas, menikmati camilan di kantin rame-rame, ataupun sibuk dengan berbagai
    kegiatan kemahasiswaan.
    Pembelajaran daring telah memberikan pengalaman mendalam bahwa belajar bukan
    semata perkara teknis menyangkut ketersediaan bahan ajar, sarana komunikasi, serta sistem
    evaluasi yang tepat. Belajar selalu tidak sederhana karena menyangkut berbagai faktor sosial yang
    berelasi secara kompleks. Relasi sosial ini akhirnya akan memengaruhi sikap dan semangat
    belajar. Dengan kata lain, belajar adalah peristiwa sosial dan bukan semata individual.
    Sementara itu, pembelajaran daring sebenarnya menawarkan berbagai nilai tambah seperti
    efisiensi, fleksibilitas, perluasan jangkauan, serta kemandirian. Sayangnya, berbagai nilai tambah
    ini tidak berpengaruh positif terhadap gairah belajar bila pembelajaran berlangsung sepenuhnya
    daring. Dari survey yang melibatkan 8500 mahasiswa dan 275 dosen di sebuah PTS di Yogyakarta,
    93 % mahasiswa dan 85 % dosen merasa lebih bersemangat belajar dan mengajar bila dapat
    bertatap muka kembali.
    Setelah pandemi berlalu dan interaksi sosial fisik kembali normal, saya kuatir kita akan
    kembali memakai model pembelajaran yang sepenuhnya luring. Bila ini yang terjadi, kita akan
    sangat merugi. Pengalaman masif menjalani pembelajaran daring selama setahun tidak mengubah
    secara signifikan pembelajaran tradisional yang sudah lama mendapat banyak kritik jauh sebelum
    pandemi terjadi. Kehadiran teknologi e-learning selama 25 tahun terakhir yang tidak mengubah
    signifikan model pembelajaran tradisional menjadi fakta mencolok betapa kekuatiran ini sangat
    relevan.
    Idealnya, pengalaman setahun ini menjadi bekal bernilai dan konkrit untuk
    mentransformasi pembelajaran tradisional kita menjadi lebih berkualitas. Kita tentu berharap
    pandemi segera berlalu tetapi selayaknya sedih bila pandemi tidak mengubah pembelajaran
    menjadi lebih berkualitas.
    Secara umum ada dua hal pokok yang sebaiknya kita lakukan. Pertama, pembelajaran
    sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan seluas-luasnya sumber belajar di internet. Kedua,
    internet dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan relasi yang efisien, fleksibel, serta
    memperluas jangkauan akses belajar.
    Dua langkah transformatif ini, secara konseptual mengarah kepada model pembelajaran
    terbalik (flipped). Memakai model ini, kelas fisik tetap berlangsung tetapi orientasi dan jenis
    aktifitas utamanya bukan untuk ceramah. Interaksi di kelas diubah supaya mahasiswa lebih aktif
    terlibat dalam perbincangan lewat diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, debat, maupun
    seminar.
    Dalam pembelajaran terbalik, mahasiswa dituntut belajar mandiri terlebih dahulu sebelum
    mengikuti kuliah. Mahasiswa belajar mandiri memakai bahan yang disediakan dosen di laman
    belajar (Learning Management System /LMS). LMS berisi sumber belajar yang kaya bentuk seperti
    teks, gambar, multimedia, maupun tautan ke berbagai alamat di internet. Pada LMS ini dosen perlu
    memandu mahasiswa menjalani dinamika belajar mandiri yang efektif sekaligus menantang.
    Dosen harus memastikan mahasiswa menjalani dinamika belajar tersebut, misalnya dengan
    mewajibkan mengumpulkan tugas sebelum mengikuti kuliah.
    Ketika kegiatan kuliah di kampus berubah menjadi interaksi dialogis yang intensif antara
    dosen, mahasiswa, dan antar mahasiswa maka kualitas belajar akan meningkat drastis. Lewat
    diskusi, tanya-jawab, serta debat yang konstruktif, kedalaman dan perluasan pengetahuan akan
    terjadi secara alami dan otentik. Dinamika belajar ini akan membuka kesempatan yang luas bagi
    perbincangan keilmuan yang kontekstual dengan berbagai persoalan sosial terkait. Model interaksi
    di kelas ini akan menyemai kemandirian berpikir dan bersikap mahasiswa. Kemandirian itu sangat
    lemah selama ini karena model pembelajaran kita yang cenderung monolog dan informatif semata
    sehingga miskin dialog yang transformatif.
    Dalam perspektif yang lebih luas, pembelajaran modern yang kontekstual sebaiknya
    dilangsungkan bukan hanya dalam bentuk campuran antara daring dan luring tetapi menggunakan
    gagasan ruang sibernetik (cybernetics space). Mitra dan Schwartz (2001) mengusulkan cara
    pandang sibernetika (cybernetics) dalam melihat realitas saat ini. Ini adalah cara pandang integratif
    yang tidak memisah-misahkan antar komponen. Memakai cara pandang ini, ruang siber/maya
    (cyberspace) dan ruang fisik (physical space) dipahami sebagai satu kesatuan dan menjadi ruang
    hibrida baru cybernetic space (ruang sibernetik).
    Gagasan ruang sibernetika dapat menjadi paradigma untuk menata ulang praksis pendidikan
    kita. Kerangka ini memberi panduan setidaknya dalam empat wilayah besar pembelajaran yakni
    identitas dosen dan mahasiswa, relasi antara keduanya, pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi
    kepentingan kedua belah pihak, serta ‘ruang’ di mana relasi tersebut berlangsung.
    Karena pengetahuan tersedia melimpah di jagad maya maka identitas dan relasi dosenmahasiswa sebagai yang ‘mahatahu’ dan yang ‘kurang tahu’, semakin sumir. Perubahan identitas
    dan relasi ini juga mencakup perubahan cara, waktu dan tempat relasi. Kerangka sibernetik akan
    memaksa dosen dan mahasiswa menyiapkan diri sebagai warga sibernetik dengan tata relasi yang
    baru. Di alam baru ini, eksistensi dan kehadiran harus mewujud baik di ruang fisik maupun maya.
    Kegiatan memberi informasi sebaiknya diganti menjadi mengkritisinya. Ruang kerja dosen akan
    sama penting dengan akun media sosial. Komunikasi visual dan verbal serta formal dan informal
    akan menjadi sama penting.
    Karena kurang siap, kita mungkin memaksa mahasiswa sepenuhnya belajar di ruang fisik. Ini
    merugikan karena pendidikan akan kehilangan kesempatan menegosiasikan ruang fisiknya
    menjadi bagian penting ruang sibernetik. Padahal, ruang fisik memiliki nilai tersendiri dibanding
    ruang maya, seperti otentisitas, kepastian, kehangatan otentik serta kepermanenan. Sementara itu,
    bagi mahasiswa ruang fisik haruslah semudah dan senyaman ruang maya. Konsekuensinya, kelas,
    laboratorium, perpustakaan, dan kantin perlu ditata ulang menjadi bagian ruang sibernetik dalam
    arti ketersediaan dan kualitas sarana fisikal sama penting dengan sarana digital.
    Pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi hal paling pokok dalam pembelajaran memang
    menjadi hal yang paling sulit untuk digagas ulang dalam ruang sibernetik ini. Perkara ini menjadi
    semakin pelik manakala pengetahuan dan nilai-nilai kita pahami lebih sebagai perkara otoritas
    yakni menjadi hak milik, bersumber pada, atau kewenangan dari pendidik. Internet telah lama
    menegasikan hal ini karena informasi dan pengetahuan telah bersifat terbuka, demokratis,
    melimpah, dan murah. Perbincangan yang jujur dan reflektif dapat menjadi salah satu solusi dalam
    perkara ini.
    Akhirnya, internet bukan hanya sarana untuk memasuki ruang maya tetapi lebih pas kita
    dudukkan sebagai sarana untuk hidup dalam ruang sibernetik. Cara pandang ini membawa
    konsekeunsi bahwa sejatinya e-learning tidak dapat serta merta menggantikan traditional
    learning. Ini juga memperjelas mengapa keberhasilan e-learning meningkatkan kualitas hasil
    belajar masih belum signifikan (Sun dkk., 2008). Untuk itu sistem-sistem pembelajaran berbasis
    internet perlu dikembangkan dalam perspektif sibernetik, terutama dalam mempertimbangkan
    aspek-aspek non-virtualnya. Kuncinya terletak pada terintegrasinya aspek-aspek penting dalam
    belajar yang justru banyak terkait dengan persoalan di ruang non-virtual seperti motivasi,
    penerimaan, dukungan dan kebersamaan.

    Referensi


    Mitra, A., & Schwartz, R.L. (2001). Rethinking the Relationship between Real and Virtual Spaces
    Journal of Computer-Mediated Communication. http://www.ascusc.org/

    Sun, P.C., Tsai, R.J., Finger, G., Chen, Y.Y. & Yeh, D. (2008). What drives a successful eLearning? An empirical investigation of the critical factors influencing learner satisfaction.
    Computer & Education, 50 (4), 1183–1202.

    Biodata Penulis:

    1. Penulis adalah Rektor Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia
    2. Pendidikan terakhir S3 Sistem Informasi Universiti Putra Malaysia
    3. Pekerjaan tetap : Dosen pada Jurusan Teknik Informatika Sanata Dharma

    Bersama para Wakil Rektor Universitas Sanata Dharma

    Bersama para mahasiswa

    Bersama CLC dan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam acara CLC di Yogyakarta

    Bersama keluarga tercinta

    Refleksi Sahabat CLC – “HIDUP BARU KARENA MARIA”

    Pada bulan Mei bulan Maria ini kami sajikan tulisan refleksi dari Bp. Drs. T. Adi Susila, MM. dengan judul tulisan “Hidup Baru Karena Maria”.

    HIDUP BARU KARENA MARIA

    Oleh: Tarcisius Adi Susila

    Mei adalah bulan Maria. Seorang imam Yesuit, Gerard Manley Hopkins, yang me­ning­gal pada usia 44 tahun di Dublin, meninggalkan sebuah kenang-kenangan be­rupa puisi berjudul “Magnificat Mei”. Tradisi yang terkait dengan Mei bulan Maria, bukanlah berasal dari Gerard Manley Hopkins SJ, tetapi dari para imam Yesuit yang tinggal di Kolese Roma (Collegium Romanum, sekarang Universitas Gregoriana), yang kini sudah berumur lebih dari 450 tahun, yang memperkenalkan kebiasaan mem­per­­sembahkan bulan Mei untuk menghormati Bunda Maria.

    Pada tahun 1563, tujuh tahun setelah Ignatius wafat, seorang imam Ye­suit, Jean Leunis SJ, diutus Serikat Yesus untuk menjadi pamong bagi para maha­siswa yang tinggal dan belajar di Ko­lese Roma. Sebagai pendidik, dia memben­tuk sebuah komunitas Kaum Muda yang diberi nama Prima Primaria (cikal bakal dari Kongre­gasi Maria, Sodality of Our Lady, atau di kelak kemudian hari menjadi Chris­tian Life Com­munity), sebuah komunitas pembinaan kaum muda yang ber­lindung pada Bunda Maria. Bisa dipahami bahwa pada abad 15-16, telah ber­kembang dengan subur devosi kepada Bunda Maria karena pengaruh dari sekolah spiritu­alitas Pe­rancis. Jean Leunis, waktu itu masih frater skolatistik, memperke­nal­kan prak­tek-praktek hidup rohani yang mem­bantu kaum muda bertumbuh dalam iman, seperti: devosi kepada Trinitas, adorasi Ekaristi, devosi kepada Hati Kudus, dan devosi kepada Bunda Maria.

    Ignatius Loyola adalah pendiri Serikat Yesus (1540). Dia memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bagi Ignatius, semua bulan dipersembahkan untuk Bun­da Maria. Maria mempunyai peranan yang penting dalam panggilan Ig­na­tius. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi imam (sebelum mendirikan Serikat Yesus), dia telah mengembangkan afeksi yang mendalam kepada Bunda Maria. Terutama, karena visi yang telah mengubah hidupnya, yaitu bahwa dia mempunyai Maria Bunda Al­lah. Bunda Maria itulah yang membantu Ignatius hingga akhirnya menda­patkan ka­runia indulgensi penuh bagi hidup masa lampaunya. Pengalaman rohani ini men­jadi titik puncak pertobatan Ignatius sekaligus awal dari hidupnya yang baru.

    Ignatius, yang lahir tahun 1491 dalam keluarga bangsawan Basque Spanyol, adalah anak termuda dari 13 bersaudara. Ibunya sendiri sudah meninggal dunia, tidak lama sesudah melahirkan Ignatius. Ignatius dibesarkan oleh seorang ibu ang­kat, yang secara kebetulan bernama Maria. Ketika umur 7 tahun, kakaknya yang tertua, Martin, yang mewarisi keluarga kerajaan, menikah dengan Magdalena Ara­oz, yakni perempuan yang menantikan diri bisa menjadi pengganti ratu Spanyol, Isabella. Ferdinand, suami Isabella, adalah pendukung finansial untuk kegiatan eks­plorasi Christophorus Columbus, yang mengadakan penjelajahan ke dunia baru. Columbus yang melakukan penjelajahan dunia baru itu, berumur sebaya dengan Ignatius, bahkan hanya selisih 1 tahun lebih tua. Menarik bahwa kapal yang dipakai oleh Columbus untuk penjelajahan dunia baru itu adalah kapal yang dengan nama Santa Maria.

    Martin, kakak Ignatius, dan pasangan barunya mendapatkan hadiah berupa lukisan yang menggambarkan kabar sukacita malaikat Tuhan kepada Maria (Annun­ciation), sebuah hadiah perkawinan dari Ratu Isabella. Lukisan yang sungguh mem­punyai arti bagi hidup mereka itu ditaruh di dalam sebuah kapel yang dibangun di dalam puri Loyola. Sejak masih berumur 7 tahun, Ignatius sudah melihat lukisan itu. Di puri Loyola itu pun juga Ignatius pernah melihat sebuah patung Bunda Maria Risang Sungkawa (Sorrowful Mother).

    Semua ingatan akan Bunda Maria tidaklah secara ajaib membuat Ignatius men­­jadi seorang Santo. Pada kenyataannya, Ignatius bertumbuh sebagai pribadi duniawi, yang terobsesi oleh hal-hal duniawi, kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dunia, bermimpi menjadi prajurit kerajaan dan secara intens meniti karir hingga punya nama besar. Pertobatan yang dialami Ignatius adalah karena intervensi dari Bunda Maria. Karena itu, Ignatius bersyukur bahwa dirinya tergerak untuk bergeser dari ambisinya menjadi pengabdi Ratu duniawi menjadi pengabdi Ratu surgawi, yakni Santa Perawan Maria. Fokus perhatian di dalam hidupnya tertuju pada Yesus Kristus, Anak Maria itu.

    Ketika Ignatius terluka dalam perang di Pamplona pada tahun 1521, karena terkena bom pada kakinya persis pada bulan Mei, dia diantar pulang oleh tentara Perancis ke puri Loyola, dan dirawat oleh Magdalena, kakak iparnya, yang mera­watnya hingga pulih kembali sehat. Ignatius pernah meminta kepada Magdalena supaya bisa menyediakan buku-buku bacaan yang menyajikan cerita kepahlawanan dan kisah-kisah percintaan. Tetapi kakak yang baik itu justru memberikan buku-buku devosi, antara lain: Kisah hidup Yesus Kristus (Vita Christi), yang ditulis oleh Ludolph Sa­xony, seo­rang biarawan Kartusian, dan buku tentang hidup para Santo (Flos Sanctorum), yang ditulis oleh Jacobus Voragine, seorang biarawan Dominikan.

    Buku-buku itu memiliki peran pen­ting dalam pertobatan Ignatius. Ignatius sa­ngat terkesan dengan buku bacaan ten­tang hidup Yesus Kristus yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Karena sangat mengesankan, Ignatius menggaris-bawahi kata-kata Yesus dengan tinta me­rah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Seba­gaimana Ignatius berpikir ten­tang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dan Maria, demikian juga ia me­renungkan hidup para santo, suatu kehausan rohani yang tumbuh di dalam batin Ignatius.

    Pada suatu malam, ketika terbangun dari tidur, Ignatius mendapatkan pe­nam­pakan dari Bunda Maria yang menggendong Yesus. Penampakan itu meme­nuhi hati Ignatius dengan perasaan damai yang mendalam. Pada saat yang sama, ia merasa jijik yang mendalam dengan hidup masa lampaunya. Ignatius menyadari bahwa kehausan seksual telah membawa dirinya kepada kehampaan. Karena itu, mulailah ia meninggalkannya dan menggantikannya dengan kasih. Ia merindukan seluruh hidupnya untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

    Melalui penampakan Maria dan Yesus, pikiran-pikiran yang mengganggu Ig­natius hingga kehilangan pegangan dalam hidup, digantikan dengan kebijak­sanaan dan kedamaian. Sejak saat itu, Ignatius mengalami karunia pertobatan, perubahan batin, transformasi diri. Sampai pada akhir hidupnya, Ignatius dapat mengarahkan dirinya untuk hidup murni tanpa menyesal, karena ia telah belajar mengatur ulang kehendaknya dalam hal keintiman dan kebersatuannya dengan Allah.

    Meskipun Ignatius tahu bahwa Maria adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang sama seperti manusia lain pada umumnya, ia juga menyadari bahwa Maria te­lah menerima rahmat yang istimewa. Itulah mengapa Ignatius tetap menjaga kedekatannya dengan Maria dalam seluruh hidupnya. Pada gilirannya, Maria mem­bantu untuk membentuk diri Ignatius menjadi imam dan guru rohani.

    Paus Fransiskus adalah imam Yesuit dan putra Ignatius. Selama berkunjung ke Naples Perancis pada Maret 2015, ia menekankan betapa pentingnya peran Maria dalam menggerakkan panggilan imam dan religius, yakni: makin mendekatkan me­reka dengan Yesus. Paus Fransiskus mengatakan: “Bagaimana saya bisa meyakin­kan bahwa sa­ya mengikuti Yesus? Bunda-Nya membimbing kita menuju Yesus. Imam, religius entah lelaki atau perempuan, (sia­pa saja) yang tidak mencintai Bun­da Maria, yang tidak berdoa kepada Bunda Maria, atau yang tidak berdoa Rosario, … Jika tidak menginginkan Bunda-Nya, maka Bunda-Nya juga tidak akan memberi­kan kepada mereka Putra-Nya.”