Mendalami Semangat Ignasian: AMDG

AMDG

Acara Mendalami Semangat Ignasian sudah diselenggarakan pada hari Minggu 12 Juni 2020 melalui Google Meet. Terima kasih untuk kehadiran saudara dan saudari sahabat CLC. Terima kasih sudah saling menyapa, bertukar kata, berbagi pengalaman terkait topik kali ini yaitu AMDG. Kami senang dengan sambutan hangat dan keikutsertaan dari sahabat-sahabat CLC dari kota-kota lainnya.


Salam hangat bagi semua sahabat CLC.

Ad Maiorem Dei Gloriam. Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar. Santo Ignatius selalu menekankan AMDG dalam perjalanan hidupnya. Semua karya dan ajaran yang dihasilkan oleh Ignatius berdasarkan pada AMDG, terutama Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola.

Bagaimana dengan kita sendiri? Apa makna AMDG bagi kita sendiri? Apakah kita sudah berbuat sesuatu dalam kehidupan sehari-hari yang memang layak kita persembahkan demi kemuliaan Allah? Pertanyaan yang sering muncul yaitu ‘saya bukan rohaniwan atau imam, saya hanya orang biasa saja yang berdosa, apa yang bisa saya perbuat demi kemuliaan Allah?


Usai acara Mendalami Semangat Ignasian, kami memiliki tradisi untuk meringkas butir-butir refleksi yang kami saling bagikan dalam acara tersebut. Dengan begitu sahabat-sahabat CLC yang tidak bisa mengikutinya secara online tetap bisa tetap belajar tentang hidup yang dilandasi Ajaran Ignasian. Berikut ini adalah beberapa poin refleksi.

Keselamatan Manusia

Allah sudah mulia, Maha Mulia. Kita sebagai umat-Nya melakukan perbuatan yang baik bagi kemuliaan Allah yang besar. Kita melakukan perbuatan baik untuk keselamatan kita dan keselamatan sesama. Kita mengabdi kepada Allah maka Allah akan menyelamatkan jiwa kita.

Hidupku milik Allah.

Allah memberikan manusia kehidupan. Kehidupan adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Oleh karena itu, hendaklah hidup ini menjadi berkat bagi sesama. Hidup menjadi sarana mengabdi kepada Allah. Dan karena kehidupan ini adalah hadiah yang diberikan oleh Allah pada kita. Allah juga yang berhak mengambilnya. Kita sungguh percaya dan memiliki harapan bahwa Allah menyelamatkan kita.

Man and Woman for Others

Orang melihat Allah yang mulia dari perbuatan baik yang kita lakukan. Kehadiran Allah dirasakan oleh sesama kita saat kita membagikan kasih sayang. Saat kita menyayangi mereka yang memerlukan kasih sayang, mereka akan menyadari cinta kasih Allah melalui orang-orang di sekitarnya yang hadir. Kita menjadi saluran kasih sayang Allah.

Begitu pula saat kita bekerja. Bukan hanya untuk sekedar mendapatkan uang, gaji, atau promosi jabatan; namun berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi kebaikan banyak orang, untuk diriku sendiri dan Allah.

Disamping itu, kita memang harus bertanggungjawab dengan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Karena yang kita lakukan bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga pertama-tama karena demi Kemuliaan Allah.

Orang melihat Allah yang mulia dari karya yang kita lakukan dengan sebaik-baiknya, tak peduli besar atau kecil karya tersebut. Selain itu kita hendaknya juga memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar, institusi di tempat kita berkerja, dan komunitas.

Rendah Hati

Tidak bisa dipungkiri bahwa bisa muncul perasaan bangga diri tatkala melakukan sebuah karya. Bisa jadi kita terlena dengan diri sendiri menjadi sombong. Bisa jadi kita bertindak baik untuk sesama karena menikmati puji-pujian; tidak didasarkan demi kemuliaan Allah.

Oleh sebab itu kita harus berefleksi apakah yang sedang dan sudah kukerjakan ini demi Kemuliaan Allah atau untuk kepentingan diriku sendiri? Bila kita memang tulus melakukannya demi Kemuliaan Allah, ada sikap lepas bebas dalam tindakan kita. Dengan demikian kita bisa melakukan perbuatan baik tersebut dengan ringan dan ikhlas.

Kita bekerja dengan rendah hati karena yang kita lakukan demi Allah. Dengan begitu hendaknya kita tidak kecewa bila kita sudah berbuat hal yang baik dengan ikhlas dan lurus namun justru mendapati hal-hal yang menyakitkan atau tidak diterima oleh orang lain.

Perbuatan Yang Nyata

Untuk memuliakan Allah, kita tidak perlu memikirkan untuk melakukan perbuatan yang besar. Kita bisa melakukan perbuatan baik yang kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memulai dari perbuatan-perbuatan yang kecil, ke depannya kita akan dimampukan untuk karya-karya yang lebih besar. Menyadari bahwa saat ini kita masih dalam proses bertumbuh. Makin kita bertumbuh besar, makin besar pula perbuatan baik yang bisa kita lakukan demi sesama.

Hal yang paling penting adalah kita melakukan perbuatan yang nyata, yang secara riil memberikan dampak positif bagi sesama kita. Ada yang bercocok tanam. Memberi pendampingan bagi siswa/i bermasalah. Memberi penghiburan bagi mahasiswa/i yang mengalami kegagalan. Memberi kasih sayang pada mereka yang diabaikan dan kurang dicintai. Memfasilitasi para pengungsi. Memberi pelatihan kerja. Membantu mereka yang terdampak wabah.

Perbuatan nyata yang didasari Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar membuat orang lain sungguh merasakan bahwa Allah mencintai umat-Nya. Allah menyelamatkan manusia.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Sampai bertemu lagi di acara Mendalami Semangat Ignasian berikutnya di bulan Agustus.

Berkah Dalem Gusti

Mendalami Semangat Ignasian, Minggu 12 Juli 2020

Sarasehan Online: Corona dan Cura Personalis

Corona dan Cura Personalis

Sarasehan Online sudah diselenggarakan pada hari Senin 29 Juni 2020 melalui Google Meet. Terima kasih untuk kehadiran Romo, ibu, bapak, mbak, mas sahabat-sahabat CLC. Terima kasih sudah saling menyapa, bertukar kata, berbagi pengalaman terkait topik kali ini yaitu Corona dan Cura Personalis. Kami juga senang dengan sambutan hangat dan keikutsertaan dari sahabat-sahabat CLC dari kota-kota lainnya.


“Memperhatikan diri sendiri dengan seksama” adalah inti dari Cura Personalis. Pribadi yang mau memberi perhatian pada diri sendiri dengan baik dan tepat akan mampu memperhatikan orang lain dengan baik pula.

Memperhatikan sendiri sendiri bukan hanya yang bersifat kesehatan fisik saja. Namun termasuk kesehatan mental seseorang; untuk pribadinya sendiri dan relasi dengan pribadi-pribadi di sekitarnya.

Cura Personalis menjadi poin penting dalam hidup Santo Ignatius. Awalnya bangsawan yang gagah perkasa. Kemudian menjadi pertapa miskin yang raganya tak terurus hingga sakit parah dan nyaris meninggal saat melakukan perjalanan ke Manresa. Hingga akhirnya Santo Ignatius memahami bahwa kondisi fisik dan mental yang sehat akan mendukung misinya untuk menjadi manusia yang migunani dan AMDG.

Saat ini virus corona membuat kita – mau tak mau – lebih memperhatikan kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Terutama memperhatikan kesehatan fisik (supaya tidak tertular virus Covid-19) dan kesehatan mental (yang terdampak dari perubahan hidup sehari-hari secara ekstrim).


Usai acara Sarasehan Online, kami memiliki tradisi untuk meringkas butir-butir refleksi yang kami saling bagikan dalam acara tersebut. Dengan begitu sahabat-sahabat CLC yang tidak bisa mengikutinya secara online tetap bisa tetap belajar tentang hidup yang dilandasi ajaran Ignatian. Berikut ini adalah beberapa poin refleksi.

Memperhatikan Diri Sendiri
Pandemi membuat kita lebih perhatian pada diri sendiri. Timbul sikap kehati-hatian supaya terhindar dari virus corona; bukan karena ketakutan dan kepanikan. Melakukan saran protokol kesehatan seperti memakai masker, membawa hand sanitizer, mencuci tangan, dan mandi secara rutin. Ada yang memberi saran untuk berjalan kaki setiap pagi supaya meningkatkan kesehatan tubuh. Ada sahabat CLC yang tadinya jarang masak hingga berubah menjadi rajin masak di rumah; menjadi hobi baru yang mengasyikkan. Pandemi mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam memperhatikan diri sendiri.

Memperhatikan Keluarga
Pandemi ternyata memberikan perubahan yaitu kondisi di mana lebih banyak anggota keluarga berkumpul di rumah untuk waktu yang lebih banyak. Anak-anak yang belajar di rumah dan mereka yang bekerja dari rumah (Work From Home). Kesempatan ini membuat anggota keluarga menjadi lebih perhatian pada anggota keluarga yang lain. Termasuk memasak untuk keluarga, mengingatkan anggota keluarga yang rentan kesehatannya, dan membuatkan makanan/minuman sehat. Hasilnya adalah relasi keluarga yang lebih hangat dari waktu sebelum pandemi.

Kelelahan Rohani
Mengalami kelelahan secara fisik karena dampak pandemi adalah hal lumrah. Namun ada juga kelelahan rohani yang dirasakan saat membantu sesama. Oleh sebab itu, stamina harus dijaga supaya tetap bisa optimal dalam membantu sesama.

Mensyukuri Kebaikan Tuhan
Covid-19 membuat segala aspek kehidupan berubah. Apakah ada yang ingin disampaikan oleh Tuhan? Apakah ini cara Tuhan untuk memurnikan kita? Namun satu hal yang jelas terlihat adalah Tuhan tetap mencintai kita umat-Nya dengan segala kebaikan-kebaikan yang Tuhan tetap berikan. Kita masih bisa berucap syukur karena kita masih dilindungi dari resiko tertular Covid-19. Bersyukur karena masih bisa bekerja dan mendapatkan pendapatan. Masih memiliki teman-teman yang saling mendukung. Masih bisa bersyukur bahwa banyak orang yang tergerak untuk membantu satu sama lain di tengah kesusahan ekonomi. Pandemi ini memberi kita cara pandang yang baru dalam menyikapi kehidupan.

Cura Personalis adalah ajaran yang penting dan relevan dari Santo Ignatius guna menghadapi pandemi ini. Kami berdoa supaya kita semua bisa melewati masa yang penuh perubahan dan tantangan ini dengan baik.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Sampai bertemu lagi di Sarasehan Online berikutnya.
Berkah Dalem Gusti

Sarasehan Online Juni 2020

Senin Kedua: Konsolasi dan Desolasi pada Masa Pandemi

Acara Senin Kedua dengan topik Konsolasi dan Desolasi pada Masa Pandemi sudah diselenggarakan pada Senin Sore, 8 Juni 2020 melalui Google meet.

Senin Kedua 8 Juni 2020 melalui Google Meet

Terima kasih untuk teman-teman CLC yang sudah meluangkan waktu untuk sejenak bersua melalui Google Meet. Bertukar suara, bertukar kabar, dan sharing mengenai “Konsolasi dan Desolasi pada masa pandemi”. Meskipun hanya bisa bertemu secara online, sudah bisa kangen-kangenan.

Di bawah ini kami ringkaskan butir-butir refleksi yang kami dapatkan dari acara Senin Kedua tersebut.

Desolasi

Kesepian rohani (desolasi) memang sangat terasa di kehidupan sehari-hari. Ada rasa was-was karena penyebaran virus. Belum lagi yang tinggal di zona merah. Wajar bila ada rasa takut. Ditambah dengan rasa khawatir dan perasaan aneh dengan kehidupan sehari-hari. Ada protokoler yang ketat di tempat bekerja, saat bepergian, dan di rumah. Pun tidak bisa mengikuti misa di gereja seperti biasanya.

Konsolasi

Namun begitu, justru sebagian besar dari teman-teman CLC yang sharing sore ini, lebih merasakan hiburan rohani (konsolasi) daripada desolasi. Ada quality time karena memiliki waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Bisa mengikuti misa harian online (yang biasanya tak bisa karena terhambat waktu). Misa online yang tadinya terasa tak biasa, akhirnya menjadi hal yang biasa. Beberapa dari teman-teman CLC justru bisa melakukan rosario secara penuh bersama keluarga. Berdoa menjadi lebih intens.

Konsolasi yang lebih terasa dibandingkan desolasi di masa yang tak menentu ini adalah salah satu buah dari nilai-nilai yang telah diberikan dan diajarkan oleh Santo Ignatius untuk kita.

Semoga kita semua bisa bertahan dan melewati masa pandemi ini dengan baik.

Santo Ignatius, doakanlah kami.

Semoga kita bisa bertemu lagi di acara Senin Kedua berikutnya.

Berkah Dalem Gusti