Edu-Talk3: Strategi Komunikasi

Edu-Talk Strategi Komunikasi

Bagi kamu, yang punya impian dan gagasan yang mau dibagikan bagi orang lain !

Bagaimana ya, caranya …
agar ide sampai dan dapat dipahami orang lain?
agar ajakan, lebih menggugah untuk diikuti?
agar pesan yang dibawa, terus hidup dan bergulir?

Yuk, menimba inspirasi dari Kak Rius dan Kak Puspa di Edutalk3: “Strategi Komunikasi”.

Hari/Tanggal : Minggu, 15 November 2020
Waktu : 09:00-12:00

Sampai Jumpa!

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi Narahubung:
Marshiella +62 811-2257-757

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama Tim Fokus Pastoral bidang Formatio dengan Christian Life Community

Retret Nasional CLC di Indonesia 2020

Retret Nasional CLC di Indonesia 2020

“Hening di tengah keramaian Hati”

Sebagai pribadi yang hidup dalam komunitas dengan spiritualitas Ignatian, kita hidup di tengah keramaian. Di tengah hidup berkeluarga, di antara jadwal kerja dan aktivitas, di sela pelayanan dan kewajiban, di tengah pandemi dan keresahan, yang semuanya membuat kita bertanya, apakah saya sudah menjalani cara hidup CLC?

Kami mengundang semua anggota komunitas CLC di Indonesia, untuk Retret akhir tahun (tahunan), yang akan diselenggarakan serempak di Komunitas Nasional Indonesia.

Retret tahun ini, akan kita adakan secara online, dimulai pada tanggal 8 & 15 november, kemudian tanggal 23-27 November 2020.

Dinamika Retret Online:
8 Nov 2020; 15.30-17.00 wib
“Sharing & Refleksi”
Via ZOOM
Dibimbing: Rm. Rusbani Setiawan Pr.

15 Nov 2020; 15.30-17.00wib
“Refleksi & Examen”
Via ZOOM
Dibimbing: Rm.Rusbani Setiawan Pr.

23-26 Nov 2020
Cara Hidup CLC

via WAG
Dibimbing; Rm. Paul Suparno SJ.
<07.00 Panduan Pagi (mandiri; via WAG)
Dilanjut aktifitas harian masing-masing
12.00 Examen (pribadi)
Dilanjut aktifitas harian masing-masing
19.00 – 22.00 Sharing Refleksi (posting sharing via WAG)
…Doa malam Pribadi

27 Nov 2020
Cara Hidup CLC

Via WAG & ZOOM
Dibimbing Rm. Paul Suparno SJ.
<07.00 Panduan Pagi (mandiri; via WAG)
Dilanjut aktifitas harian masing-masing
12.00 Examen (pribadi)
Dilanjut aktifitas harian masing-masing
19.00-21.00 Sharing Refleksi Kelompok kecil ( via zoom)
Misa Penutup

Daftarkan diri Anda, untuk diundang dalam WAG Retret Online di http://bit.ly/Retret_Nasional_CLC

Informasi lebih lanjut:
Irvan 085720076081


Terima kasih untuk CLC yg sudah mendaftarkan diri, dan kami masih menunggu rekan-rekan yg belum untuk bergabung.

Beberapa pertanyaan yang belakangan sering disampaikan terkait acara ini :

“Kita wajib ikut retret ini?”
Retret ini? Tidak, kita tidak wajib mengikuti retret ini. TAPI kita sebagai CLC wajib menyediakan waktu untuk terus mengolah diri, dan karena itu sekurangnya sekali dalam setahun diharapkan dapat menjalani rekoleksi dan retret. (GN. Hidup & Kepengurusan komunitas; ayat 35-41).
Jadi ini adalah salah satu kesempatan menunaikan hak dan kewajiban saja.

“Acaranya panjang banget?”

Well, ya, kita menyiapkan diri dan hati menjelang akhir tahun, dan merefleksikan diri kita, apakah kita sudah menjalankan Cara Hidup kita. Dari tgl 8-27.

Ini proses pribadi, dan kita hanya 3 x 90mnt bertemu di Zoom (juga Youtube bagi yg kesulitan mengakses zoom), tgl 8,15 & 27 November 2020, maka sekitar 6 jam dipastikan berproses bersama, sisa yang lainnya akan dikelola pribadi dengan panduan harian nantinya.

Jadi panjang atau pendek akhirnya menjadi relatif 😅

“Kalau yang dulu anggota CLC, dan sekarang nggak aktif boleh diajak?” Senada dengan “Kalau yang bukan anggota CLC, boleh ikut retret inikah?”

Retret ini adalah retret CLC, dan kita akan merefleksikan kehidupan kita sebagai pribadi yg menjalani cara hidup CLC.

Maka selama cara hidup itu masih menjadi pilihan, dan atau masih simpati dan menjalankan nya, maka silakan diajak, dan silakan bergabung.
Demikian juga dengan simpatisan lain yg belum menjadi CLC, ruang terbuka, dengan kesepakatan diawal, bahwa sudah menyiapkan diri dan bersedia berproses dengan cara CLC.

“Wah, ada bagian yang saya tidak bisa datang, bagaimana yah? Boleh tidak ikut sebagian?”

Nah, untuk yang ini, kami sungguh menyerahkan pertimbangannya kepada setiap pribadi, karena seperti kita pahami, proses setiap orang berbeda, dan kami hanya bisa mengatakan bahwa setiap bagiannya punya pesan dan peran khusus, sehingga baik untuk diikuti. silakan berdiskresi.

Baik, sekali lagi terima kasih, dan selamat mempersiapkan diri.

Rius
An.
ExCo CLC di Indonesia

Carlo Acutis – Semangat Hidup Suci di Jaman Ini

CLC Lokal Yogyakarta telah mengadakan acara Mendalami Semangat Ignasian. Temanya yaitu Carlo Acutis – Semangat Hidup Suci di Jaman Ini. Acara tersebut sudah kami selenggarakan pada Hari Senin, 9 November 2020 jam 18:00 (6 sore).

Carlo Acutis – Beato yang masih remaja ini – mewakili generasi Millenial yang memiliki Semangat Magis terutama dalam hal mengikuti Ekaristi, rajin Rosario dan meluangkan waktu untuk Devosi.

Carlo Acutis menjadi sosok pahlawan bagi banyak anak muda yang sering galau, kehilangan arah dan kurang tertarik untuk mengikuti Ekaristi. Carlo Acutis ini justru memanfaatkan teknologi Internet untuk menjadi seorang “Influencer Yesus” bagi banyak orang muda yang tersesat dan ‘kecanduan’ dengan kegiatan/hiburan tidak sehat yang banyak terdapat di banyak sosial media dan beragam situs hiburan.

Acaranya santai. Ngobrol bareng. Untuk menfasilitasi acara ini, kami memberikan materi bacaan dan referensi tentang Carlo Acustis di bawah ini sebelum acara diselenggarakan. Tujuannya supaya kita memiliki porsi waktu yang lebih banyak untuk sharing dan meningkatkan budaya membaca sebelum sharing dan berpendapat.

CLC di Yogyakarta


MATERI BACAAN: CARLO ACUTIS

Foto Dokumentasi ANSA – Carlo Acutis

Siapakah Mas Carlo ini?

Mas Carlo ini punya nama lengkap Carlo Acutis. Dia terlahir di London pada 3 Mei 1991. Orangtuanya adalah Andrea Acutis dan Antonia Salzano.

Mas Carlo ini parokinya di mana?

Gereja Paroki asal Carlo Acutis adalah Gereja Santa Maria Segreta, Milan. Pada tanggal 18 Mei 1991, dia dibaptis di Gereja Our Lady of Dolours, London.

Kapan Mas Carlo menerima Komuni pertamanya?

Dia menerima Komuni Kudus untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Juni 1998 di Biara Pertapa Perego. Usianya 7 tahun saat itu. Usia yang terlalu dini untuk menerima Komuni.

Seperti apakah perjalanan hidup Mas Carlo?

TK pada usia 4 tahun pada tahun 1995. SD dan Sekolah Menengah di Instituto Tommaseo. Sekolah Menengah Atas Instituto Leone XIII (sebuah lembaga Yesuit).

Apa kegiatan sehari-harinya?

Mas Carlo ini punya hobi sepak bola. Dia seperti anak-anak lainnya juga suka bermain video game. Tidak berbeda dengan anak seumurnya, Carlo juga suka menonton Anime. Serial Anime favorit Carlo Acutis adalah Pokemon.

Mas Carlo ini memiliki ketertarikan khusus di dunia programming. Dia menggunakan keahliannya itu untuk membangun situs yang memuat katalog Mukjizat Ekaristi di seluruh dunia. Baginya kesempatan mengikuti Ekaristi itu sangatlah indah dan sungguh memberi kebahagiaan.

“The more Eucharist we receive, the more we will become like Jesus, so that on this earth we will have a foretaste of heaven”.

Carlo Acutis

Lebih kurang ucapannya berarti: “Makin sering kita mengikuti Ekaristi, kita akan menjadi lebih mirip dengan Yesus, sehingga di atas bumi terasa seperti di dalam surga.”

Dia meninggal karena apa?

Mas Carlo ini mendapati dirinya menderita Leukimia. Diagnosanya dia dapati tiga hari sebelum kematiannya. Mas Carlo tak pernah mengeluh tentang sakitnya. Dia menyerahkan hidupnya sepenuhnya untuk Yesus.

Mas Carlo meninggal dunia pada 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di pemakaman Santa Maria Maggiore, Asisi, Italia – sesuai permintaanya sebelum meninggal. Saat Mas Carlo meninggal, usianya terbilang masih sangat muda yaitu 15 tahun. Masih remaja.

Foto Dokumentasi Wikipedia – Carlo Acutis

Kapan dia mendapat gelar Beato?

Paus Fransiskus memberikan gelar Beato pada Carlo Acutis pada 10 Oktober 2020. 14 tahun setelah kematian Mas Carlo.

Foto Dokumentasi Vatican News – Beautifikasi Carlo Acutis

Nilai Nilai Rohani yang dihayati

Foto Dokumentasi Catholic News Agency – Carlo Acutis

Carlo Acutis memiliki cinta khusus kepada Tuhan dan Bunda Maria, melalui doa Rosario serta berdevosi.

Memiliki waktu hening/adorasi, mengaku dosa setiap minggu, rajin mengikuti Ekaristi setiap hari.

Setiap hari Carlo menghabiskan waktu beberapa menit untuk berdoa dengan tenang di hadapan Tabernakel.

Dia membaca buku tentang Api penyucian dan doa-doa yang dipersembahkan bagi jiwa-jiwa yang menderita di api penyucian.

Carlo berdevosi kepada para malaikat kudus.

Carlo mengumpulkan data lebih dari 136 Mukjizat Ekaristi.

Carlo menjadi seorang Katekis pada usia 11 tahun.

Carlo percaya bahwa cara yang paling efektif untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian adalah Misa Kudus.

Bersemangat untuk melakukan sesuatu untuk menarik jiwa kepada Yesus, Carlo muda mulai mengumpulkan data mukjizat Ekaristi. Dia diyakinkan bahwa orang-orang tidak mampu untuk menjauh dari Misa Kudus jika mereka tahu tentang mukjizat – mukjizat Ekaristi yang diakui.

Pada hari-hari terakhir Mas Carlo, Dia berkata kepada ibunya, “Kita selalu dinantikan di Surga.” Dan sesaat sebelum kematiannya, ia dengan gembira berkata kepada ibunya, “Saya bisa meninggal dengan bahagia, karena saya tidak mensia-siakan waktu hingga satu menit pun untuk hal-hal yang tidak menyenangkan Tuhan.”

Sebelum kematian Carlo, dia berkata kepada ibunya, “Mama, saya ingin meninggalkan rumah sakit ini, tetapi saya tahu saya tidak akan melakukannya dalam keadaan hidup, saya akan memberimu tanda-tanda, bahwa saya bersama Tuhan. Golgota untuk semua orang. Tidak seorangpun yang bisa melarikan diri dari Salib”.


Semangat yang ada dalam diri Carlo Acutis

Foto Dokumentasi dari Situs carloacutis.org – Carlo Acutis

1. Bersahabat dengan Malaikat Pelindung

2. Bersahabat dengan Yesus

3. Mencintai Ekaristi

4. Curhat pada Tuhan

5. Andalkan Tuhan

6. Utamakan surga

7. Tempatkan Yesus di hati

8. Selalu mendekatkan pada Yesus

9. Hindari yang fana

10. Hargai Tubuh Kristus

11. Mendengarkan bisikan Yesus

12. Tidak munafik

13. Cintai penderitaan

14. Cintai Bunda Maria

15. Cintai Tuhan setiap detik


Referensi Bacaan

Video Terkait

2020.10.10 Beatificazione Carlo Acutis
Remaja Katolik Carlo Acutis Diberi Gelar Beato oleh Paus Fransiskus

Pertanyaan untuk Sharing dan Refleksi

  1. Sejauh manakah kita memikirkan akan kematian atau kehidupan selanjutnya? Karena hidup tidak hanya saat ini tetapi bahwa masih ada kehidupan yang akan datang.
  2. Iman seperti apa yang dibutuhkan atau kesiapan seperti apa untuk berani menjawab panggilan Tuhan?
  3. Carlo mengalami perjumpaan secara mistik atau akrab secara pribadi dengan Tuhan, sehingga mampu menjawab dan penuh iman, tidak takut menghadapi kematian, dengan yakin bahwa dia masuk surga, karena tidak menyia-nyiakan waktu sedetik pun yang menjauhkan dari Tuhan. Apakah kita sudah mengalaminya? Bagaimana menjaga atau menghidupi pengalaman pribadi ini untuk lebih akrab dengan Tuhan?
  4. Perjumpaan secara pribadi atau bersatu secara pribadi sangat intim dengan Tuhan yaitu melalui Ekaristi, tetapi mengapa masih malas untuk mengikuti Ekaristi? Bagaimana cara membangun semangat untuk sesering mungkin merayakan ekaristi?

Peranan Bunda Maria Dalam Spiritualitas Ignasian

Peranan Bunda Maria dalam Spiritualitas Ignasian

Bunda Maria berperan penting dalam perjalanan Spiritualitas Ignasian, Serikat Jesus, dan CLC (yang pada awalnya bernama Kongregasi Maria). Santo Ignasius sendiri sangat menghayati peranan Bunda dan devosinya kepada Bunda Maria, sangat dalam.

CLC Jakarta telah menyelenggarakan acara tersebut pada Hari Minggu 25 Oktober 2020 secara online dengan didampingi oleh Romo A Sudiarja, SJ. Pembahasan dan catatan dari Romo bisa dibaca di bawah ini.

MARIA : DALAM SPIRITUALITAS IGNASIAN

1 Devosi Santa Perawan Maria dalam Gereja

Devosi Maria mempunyai tempat yang penting, sudah sejak lama dalam Gereja. Hal itu bisa kita lihat dalam peringatan-peringatan yang dirayakan. Devosi Maria memberi nuansa feminin dan keibuan, memberi kesegaran dalam iman, yang khas dalam kehidupan keagamaan.

Pesta-pesta untuk menghormati St. Maria dirayakan dengan meriah dalam liturgi Gereja katolik. Maria mempunyai banyak sebutan, sebagaimana tampak dalam doa Litani St. Maria, karena peran-perannya yang dikenang. Ada juga doa-doa khusus untuk Maria, selain “Salam Maria” (Ave Maria), yang sudah kita hafalkan, juga ada doa “Ratu Surga” (Regina Coeli), “Di bawah perlindunganmu” (Sub tuum Presidium), “Salam ya Ratu” (Salve Regina), “Magnificat”, juga dalam doa “Malaekat Tuhan” (Angelus Domini) yang didoakan setiap jam 7 pagi dan sore, serta jam 12 siang. Doa-doa ini didaraskan dalam doa-doa ofisi (formal) di biara-biara, tetapi juga oleh umat yang mempunyai devosi besar dengan Maria.

Perayaan Maria memberi suasana kegembiraan dan kehangatan dalam kehidupan iman, memberi dorongan dan semangat, memberi penghiburan bagi yang lesu dan mengalami pukulan, atau sedang jatuh. Dari antara doa-doa Maria, kita mengenal juga Litani St. Perawan Maria [lihat teks khusus: Litaniae Laurentanae].

Litani St. Perawan Maria sudah dimulai sejak abad ke 12 dan berkembang pesat pada abad 13 dan 14, dengan munculnya berbagai sebutan dan gelar-gelar Maria, terkumpul menjadi teks (tertulis). Teks “Litani St. Perawan Maria” formal dalam bahasa Latin diresmikan oleh Paus Sixtus V pada tahun 1587; dikenal sebagai Litani Loreto (Litaniae Lauretanae) konon karena diketahui asal-usulnya dari peziarahan St. Maria di Loreto (Italia). Litani tersebut mungkin sudah didaraskan sejak pertengahan abad 16. Bentuk teks cetakan paling awal, ditemukan di Dillingen (Jerman) pada tahun 1558, kemungkinan dicetak dan disebarkan oleh Petrus Canisius [Mesin cetak ditemukan pertama kali oleh Johanes Guttenberg, 1439]; sementara yang ditemukan di Itali paling kuno dari tahun 1576.

Sebutan dan gelar-gelar itu tersusun sbb (lihat box Litani) : (i) duabelas sebutan sebagai Ibu (Mater), (ii) enam sebutan sebagai Perawan (virgo), (iii) tigabelas gelar yang diambil dari Perjanjian Lama, (iv) empat sebutan sebagai penolong; (v) tigabelas sebutan Maria sebagai Ratu, Pada bulan Juni 2020, Sri Paus Fransiskus menambah tiga sebutan : Bunda Belaskasih (Mater Misericordiae), Bunda Pengharapan (Mater Spei) dan Penghibur Para Pengungsi (Solacium migrantium).

Di era Reformasi, Gereja-gereja Protestan mengeritik seolah-olah Gereja Katolik mengilahikan Maria dan menomor-duakan Yesus; Harus diakui, penghormatan kepada Bunda Maria memang bisa begitu meriah (khususnya di tempat-tempat peziarahan yang terkenal: Lourdes, Fatima, Loreto, Guadalupe, Medjugorje, Garabandal dsb. Di Indonesia ada beberapa tempat ziarah Maria) yang di bulan Mei banyak dikunjungi. Penghormatan pada bunda Maria yang begitu meriah ini, di masa lalu menimbulkan kontroversi. Ada pertanyaan atau bahkan gugatan /kecurigaan khususnya dari pihak orang Kristen yang lain, bahwa Gereja katolik menomor satukan Maria. Harus diakui, praktek perayaan kadang berbeda dari teologi Marian/ Mariologi yang diajarkan, sebab devosi rakyat kadang bisa berlebihan; meski pun demikian teologi resmi (Katolik) tak pernah menempatkan Maria sebagai Tuhan atau menggantikan peran Yesus.

Adalah St. John Eudes (1601-1680) orang kudus, yang dirayakan (setiap) 19 Agustus, yang mendirikan Kongregasi Yesus dan Maria pada tahun 1641. Santo ini saya anggap penting, karena memberikan pengetahuan dasar mengenai hubungan Maria dan Yesus, kesatuan ibu dan anak, yang begitu erat, yang menangkal penghormatan Maria yang terpisah dari peran Yesus. Devosi yang dikembangkan John Eudes, mengembangkan kesadaran umat mengenai hubungan erat antara Maria dan Yesus. Kita tahu sekarang, bahwa setiap perayaan Maria, senantiasa terkait erat dengan perayaan Yesus, Puteranya. Perayaan Maria tak pernah berdiri sendiri atau lepas dari peran atau pun karya Yesus. Devosi Maria memperlihatkan keterlibatan Maria pada perjalanan hidup Yesus secara penuh. Bunda Maria satu-satunya manusia, yang mengikuti kehidupan Yesus dari kelahiran hingga wafat-Nya, tak terkecuali juga penderitaan-Nya. Kesetiaan dan keterlibatannya yang penuh pada penebusan Yesus puteranya, membuat Bunda Maria dulu sering disebut sebagai co-redemptris; tetapi teologi ini dianggap mengaburkan ajaran mengenai Maria dan oleh Paus Fransiskus ditolak (dalam homili misa 12 Des 2019, ketika merayakan St. Maria dari Guadalupe).

Berikut skema tanggal-tanggal perayaan Maria dalam kalender liturgi Gereja:

TanggalHari Raya/Pesta PerayaanKeterangan
1 JanuariMaria Bunda Allah (Mater Dei) – terkait dengan kelahiran Yesus (Natal); Maria mendapat gelar Mater Dei (dogma Maria-1)ditetapkan oleh Pius XI pada 1931 dlm pera-yaan 15 abad Konsili Efesus (431);
11 FebruariSt.P. Maria dari Lourdes (fakul-tatif)Peringatan penampakan (pertama) ibu Maria di Lourdes – 11 Feb. 1858;
25 MaretMaria Annunciata (diberi kabar oleh malaikat Gabriel) mengandung dari Roh Kudus (Maria tetap perawan – dogma Maria -2)Ketika Bernadette menanyakan nama-nya (pada tanggal 25 Maret) St. Perawan Maria menjawab “Aku yang dikandung tanpa noda” (–lihat pesta 8 Desember).
13 MeiSt,P. Maria dari Fatima (fakul-tatif)Penampakan bunda Maria di Fatima (Portu-gal) 13 Mei 1917 kepada, Lucia, Yasinta dan Francesco, tiga orang anak gembala.
31 MeiMaria mengunjungi Elisabeth (yang sedang mengandung 6 bulan); Lk. 1,39-45ditetapkan oleh Urbanus VI pada 1389, mengakhiri skisma (perpecahan) Gereja; semula dirayakan 2 Juli; dipindah ke tanggal 31 Mei, mengakhiri bulan Maria dan meng-antisipasi kelahiran Yohanes, 24 Juni
15 AgustusMaria Assumpta; diangkat ke surga dengan mulia: – Paska Tuhan Kita Yesus Kristus (dogma Maria -3)ditetapkan oleh Pius XII, pada 1 November 1950
22 AgustusSt. Perawan Maria Ratu – cf. Kristus Raja (Minggu akhir kalender liturgi, sebelum Adven)ditetapkan oleh Pius XII, pada 11 Oktober 1954 dlm ensiklik “Ad Coeli Reginam”
8 SeptemberKelahiran Bunda Mariadlm tradisi pada abad 5, ada basilik St. Maria (di Yerusalem) di tempat konon Maria dila-hirkan. Sekarang basilik itu diberi nama St. Anna (ibu dari Maria) – nama ibu dari Maryam disebut dalam Alquran
15 SeptemberMaria di bawah Salib (Stabat Mater Dolorosa), Yesus me-nyerahkan ibunya kepada St. Yohanes (Yoh.19,26-27) cf. mengikuti Pesta Salib Suci yang dirayakan 14 SeptemberPada 28 Oktober 312 Kemenangan Kaisar Konstantin di jembatan Milvia, krn meng-gunakan panji-panji Salib (IHS); Pada 326 penemuan salib Yesus di Yerusalem oleh St. Helena; pada 614 (potongan) salib tsb. dibawa ke Persia oleh raja Persia; pd 629 direbut kembali dan dibawa ke Konstantino-pel oleh kaisar Heraclius
7 OktoberSt. Maria Ratu Rosario –Syukur atas kemenangan armada Austria di bawah Charles VI, pada 1716 mengalahkan pasukan Turki di Lepanto (dekat Beograd) berkat doa rosario; St. Pius V menetapkan pesta Maria Ratu Kemenangan. Gregorius XIII menggantikan nama perayaan itu menjadi ‘Maria Ratu Rosario’
8 DesemberMaria Immacolata Concepta (St. Perawan Maria dikandung tanpa dosa asal; (Dogma Maria- 4)Ditetapkan pada 8 desember 1854, oleh Pius IX, mengikuti apa yg ditulis dlm. Kej. 3, 15 “aku akan mengadakan permusuhan… antara keturunanmu dan keturunannya…” dan Lk.1,28, “Salam Maria penuh rahmat…”
…. JuniHati Tersuci St.P. MariaSabtu sesudah Jum’at ‘Hari Raya Hati Yesus YMK’ (Minggu Pesta Tubuh dan Darah Yesus); Sabtu sesudah Jum’at pertama (devosi Hati Yesus yang Mahakudus) selalu diikuti devosi Hati Maria tak bernoda, dan Sabtu imam

2 Devosi Ignasius pada Santa Perawan Maria

Devosi Maria merupakan hal yang sudah lazim di Spanyol, ketika Ignasius lahir 1491 di puri Loyola. Maria dilukiskan sangat dekat dengan puteranya dalam patung dan gambar-gambar suci, dan dengan pandangan menyapa; Peran Maria berperan sebagai ibu, pelindung, dan penolong begitu dirasakan. Ketika Ignasius lahir (anak ketigabelas) ibunya meninggal, ia kemudian diasuh oleh seorang inang, yang kebetulan bernama Maria juga. Berbagai peristiwa dalam devosi Marian dapat kita temukan dalam kisah biografinya yang ditulis oleh P. Luis Gonçalves de Camara.

Ketika ia dirawat di puri Loyola, oleh kakak iparnya, Magdalena (suami Martin, anak tertua) ia diberi buku Flos Sanctorum. Di kamar itu dipasang gambar Bunda Maria yang merupakan hadiah dari ratu Isabella untuk Magdalena waktu perkawinan; Gambar itu melukiskan bunda Maria, membopong puteranya. Waktu itu pikiran dan hasrat sia-sia di masa lalu pelan-pelan luntur, digantikan dengan pikiran dan Hasrat suci, khususnya setelah mendapatkan penampakan dari bunda Maria, yang membopong Yesus puteranya. Hatinya terhibur dan menyala; dengan penuh kebencian melihat hidup masa lalunya. Buku yang diberikan oleh kakak iparnya menunculkan keinginan-keinginan suci untuk meneladan St. Fransiskus, atau St. Dominikus, dan keinginan berziarah ke Yerusalem tanpa bekal. Itulah awal transformasi dirinya.

Sesudah sembuh ia berniat pergi ke Yerusalem, tetapi sebelum itu ia bermaksud mengambil piutang yang masih ada dari seorang bangsawan di Najera, dimana ia dulu bekerja. Diantar kakaknya, ia mampir ke tempat ziarah Ibu Maria di Arantzazu, dekat Onat, Guipozcoa tempat kakak-kakak ipar yang lain, Semalam ia berdoa di tempat itu dan paginya meninggalkan mereka. Sesudah mengambil uang, piutang itu, ia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang ia merasa berhutang budi. Tak lupa ia menyisihkan sebagian untuk perbaikan lukisan St. Perawan Maria, – mungkin yang dimaksudkan gambar yang diberikan ratu Isabella kepada kakak iparnya; gambar yang sangat memberi inspirasi baginya. Kemudian dia pergi sendirian ke Montserrat di Catalonia.

Dalam perjalanan ini perlu disebutkan peristiwa, ketika bertemu dengan seorang Moor (Sarasin), yang meragukan keperawanan bunda Maria: “While he journeyed on, a Saracen mounted on a horse came up with him. In the course of the conversation mention was made of the Blessed Virgin. The stranger remarked that though he admitted that the Mother of Christ had conceived without detriment to her virginal purity, yet he could not believe that after the conception of her divine Son she was still a virgin. He was so obstinate in holding this opinion, that no amount of reasoning on the part of Ignatius could force him to abandon it…”. Karena cinta dan hormatnya yang sangat besar pada Bunda Maria, ia menimbang-nimbang untuk mengejar orang itu dan membunuhnya.

Sesampai di Monserrat, dia mengakukan dosa-dosanya kepada rahib Benediktin, mengganti pakaiannya dengan pakaian peziarah dan melepas pedangnya dan kemudian semalam suntuk berjaga di hadapan Madonna Nera, tidak duduk atau berbaring, tetapi hanya berdiri atau berlutut.

Berikut ini kutipan dari autobiografi yang ditulis oleh Gonçalves de Camara: “… When he arrived at Montserrat, he passed a long time in prayer, and with the consent of his confessor he made in writing a general confession of his sins. Three whole days were employed in this undertaking. He begged and obtained leave of his confessor to give up his horse, and to hang up his sword and his dagger in the church, near the altar of the Blessed Virgin. This confessor was the first to whom he unfolded his interior, and disclosed his resolution of devoting himself to a spiritual life.” (Gonçalves de Camara, Autobiography). Malam menjelang tanggal 25 Maret 1522 itu, ia menetapkan keputusannya. Ia memberikan pakaian kebangsawanannya pada seorang pengemis, dan mengenakan pakaian peziarah, yang sudah dibelinya lebih dahulu. Itulah peristiwa yang mengubah hidupnya; mungkin bisa dikatakan pada saat inilah ia sampai pada titik balik yang menentukan (point of no return). Sesudah peristiwa ini, ia merasa mantap dalam perjalanan hidupnya.

Satu peristiwa lain, tentu saja selain penampakan (vision) bunda Maria di berbagai kesempatan, termasuk di Manresa, Barcelona atau Paris dsb. adalah peristiwa di La Storta. Waktu itu ia sudah berkeputusan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk misa pertamanya, dengan permohonan khusus kepada Bunda Maria, agar ditempatkan di dekat puteranya. Sesudah setahun dan dalam perjalanan menjelang Roma, di sebuah tempat yang Namanya La Storta, doanya dikabulkan. Ia masuk ke sebuah gereja dan sewaktu berdoa jiwanya merasa begitu digerakkan dan ia mendapat penglihatan bahwa Allah Bapa menempatkan dirinya dengan Yesus Kristus Puteranya. Segala detilnya ia ceriterakan kepada Laynez, yang bersamanya datang ke Roma. Laynez kemudian menceriterakan hal itu kepada Gonçalves de Camara yang menuliskan biografinya.

Sesudah Serikat berdiri, devosi dan peran Maria masih tetap dipertahankan oleh Serikat. Salah satunya, tercermin dalam lukisan “Maria della Strada” yang dipasang di kamar/kantor Serikat Yesus awal di via degli Astalli, yang terletak di samping gereja del Gesu. Di gereja itu sendiri, ada satu partisi berupa kapel itu Maria della Strada, yang dulu sering didatangi para yesuit yang berdoa khusuk sebelum mereka berangkat menjalankan misinya, dalam semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Maria dimohon dalam berbagai kesempatan misi, ke Inggris/Irlandia, yang dikuasai Henry VIII yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, Petrus Canisius yang berkarya di Jerman berhadapan dengan Gerakan Protestantisme dsb. Akhirnya, juga dalam rangka Gerakan kaum awam yang mengikuti Latihan Rohani, murid-murid Ignasius, semula menamai mereka “Persaudaraan Bunda Maria” (Sodality of Our Lady)

Jikalau bulan Oktober dijadikan bulan Rosario, karena berkat doa-doa rosario Eropa dapat menahan armada yang mau masuk kesana dalam perang masa lalu (Charles VI pada 1716), – maka sekarang ini kiranya makna doa rosario harus diartikan ulang, sebab bukan kemenangan perang atau politik duniawi, melainkan kesediaan Bunda Maria untuk membantu keselamatan siapa pun yang memohon dan datang kepadanya, khususnya lewat doa rosario. Doa rosario baik didoakan setiap hari, untuk mohon pedamaian dunia.

Sementara itu devosi Maria pada bulan Mei, menurut Frederick Holweck (1856-1927) sejarawan Amerika, dirintis oleh pater Latomia dari Collegium Romanum, untuk melawan kekafiran dan imoralitas mahasiswa ; Dia berkaul pada akhir abad 17 untuk untuk membaktikan bulan Mei sebagai bulan Maria. Dari Roma devosi ini berkembang ke kolese lain dan gereja-gereja katolik lainnya. Di Roma pada 1813 sudah ada 20 gereja yang membaktikan bulan Mei kepada Maria. Devosi Maria semakin semarak ketika Paus Pius XII pada tahun 1945 menyatakan tanggal 31 Mei sebagai perayaan Bunda Maria Ratu, tetapi dipindahkan kemudian pada tanggal 22 Agustus.

Selain itu Gereja juga mendasarkan perayaan bulan Mei sebagai bulan Maria, berkenaan dengan penampaan bunda Maria di Fatima, pada tanggal 13 Mei 1917. Pada tahun 1965 keluar ensiklik dari Paus Paulus VI Mense Maio, yang meresmikan bulan Mei sebagai bulan yang baik untuk menyatukan doa-doa bagi perdamaian dunia. Memang tidak ada aturan upacara khusus dalam penghormatan Maria, tetapi doa-doa atau pun ekaristi bisa dilakukan secara khusus, ziarah ke tempat-tempat peziarahan Maria dsb.

3 Christian Life Community berawal dari Konggregasi Maria

CLC (Christian Life Community) merupakan kelompok awam yang mengikuti hidup bersama sebagai komunitas berdasarkan spititualitas Ignasian. Konon kelompok awam ini dimulai tahun 1563 oleh seorang yesuit muda, John Leunis, Dia mengumpulkan anak-anak muda mahasiwa yang belajar di Collegium Romanum, membantu mereka dalam mengintegrasikan hidup, studi, kerja dan keluarga, relasi-relasi dan pergaulan mereka, dengan nilai-nilai Kristiani.

Yang menarik ialah bahwa Gerakan ini menggunakan nama ‘Persaudaraan (dalam) Bunda Maria’ (Sodality of Our Lady); sesuatu yang sejalan dengan devosi St. Ignasius kepada Bunda Maria. Kelompok ini dibentuk untuk memajukan kerohanian kaum awam. Sejak itu, timbullah berbagai perkumpulan sejenis yang pada umumnya dirintis oleh Yesuit dimana-mana. Dalam kisah Petrus Faber misalnya, kita mengenal adanya perkumpulan semacam ini di Parma, dengan nama Compagnia del Nome Santissimo di Gesu yang menurut Pater Orlandini, Boero, dan Cornelly disebut sebagai hasil karya Petrus Faber (To the Other Towns). Tokoh kelompok ini disebutkan namanya Rinaldo. Yang menarik ialah bahwa pada masa itu, sebagai seorang awam, dia sudah bisa dan diperkenankan berkotbah, oleh vikep Parma, Nicollo Bozzalli. Hal ini tercatat dalam sejarah Petrus Faber. Dia berkotbah pada tanggal 1 Januari 1541 di Gedung Disciplina San Paolo, suatu peluang yang tak pernah diberikan kepada awam pada waktu itu. Walaupun Petrus Faber tidak pernah menyusun struktur organisasi ini, namun ia dapat menyaksikan hasil karya kerasulannya. Gerakan ‘Persaudaraan Bunda Maria’ diresmikan nantinya oleh Paus Gregorius XIII pada 1584. sebagai gerakan awam yang menggunakan Latihan Rohani St. Ignasius, sebagai tuntunan, didorong untuk hidup mengikuti Injil, membantu orang miskin dan mengintegrasikan hidup aktif dan kontemplasi, seperti diajarkan St. Ignasius, yang mempunyai dimensi kerasulan.

Ketika Serikat Yesus dibubarkan pada pertengahan tahun 1700an, kelompok-kelompok ini surut, dan baru muncul kembali sesudah Konsili Vatikan II. Dalam biografi beato Rupert Mayer, kita pun mendapat informasi mengenai kerasulannya di München untuk mendampingi umat, melayani sakramen tobat/ pengakuan dosa, memimpin organisasi yang disebut ‘Kongregasi Maria’. Dia diangkat oleh pater jenderal sebagai ketua ‘Kongregasi Maria’ untuk kaum pria di München 28 November 1921 (mungkin pada waktu itu keanggotaannya masih terbatas untuk kaum pria?). Nama ‘Christian Life Community’ (CLC), yang digunakan sekarang ini sebetulnya baru dimulai pada tahun 1967. Prinsip-prinsip yang dianut diresmikan pada tahun 1971 dan direvisi 1990.

4 Maria dan Latihan Rohani

Semangat dan kerohanian Bunda Maria merupakan inspirasi yang kuat juga untuk Latihan Rohani. Kalau kita perhatikan kehidupan Bunda Maria, kita dapat meneladan beberapa hal ini :

1). Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel – dalam peristiwa ini, kita melihat sikap Bunda Maria yang ‘mendengarkan’ Sabda Allah (lewat malaekat), dan penuh perhatian, membuka hatinya untuk menerima/merenungkan/mendalami sabda itu, “bertanya dalam hatinya apa arti salam itu?” bdk. Lk. 1,29; bdk. Lk 2, 19 dan 2, 51 “Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya) —— bdk. LR.95-98: ‘Panggilan Raja’, ajakan untuk mengikuti Yesus/ Rencana ilahi; melakukan discernment (pertimbangan mendalam).

2). Lebih lanjut bunda Maria tidak berhenti hanya mendengarkan dan merenungkan, melainkan juga menjalankan dalam hidupnya, apa yang ia terima. dan menyatakan kesediaannya menjadi ibu Tuhan, “terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lk. 1,38); kita belajar dari sini, bahwa keterbukaan/kesediaan untuk menerima Sabda Allah, berlanjut dengan kesetiaan/menjalankan (Bdk. Mt.12, 48-49 ibuku dan saudara-saudaraku mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga…)

3). Maria sebagai bunda Yesus – mengikuti-Nya sepanjang hidupnya, dari kelahiran (Betlehem: penuh syukur dan kegembiraan) sampai kematian (di bawah salib, Mater dolorosa, La Pietà, yang berduka) ————- bdk. peristiwa La Storta, ajakan untuk memanggul salib mengikuti Yesus (Mat.16,24; Mrk.8,34; Lk.9,23); tetapi juga ikut kebangkitan-Nya (penampakan Yesus; pengangkatan ke surga).

(A. Sudiarja, SJ)

Aku Iso Opo?

CLC Yogyakarta telah mengadakan Sarasehan Online. Temanya Membantu Sesama di Masa Pandemi.

Acaranya santai. Guyub bareng. Ngobrol bareng dengan semua anggota CLC Lokal Yogyakarta. Kita akan berbagi tentang ‘apa yang bisa dilakukan untuk membantu sesama‘. Saling berbagi cerita, saling mendapatkan inspirasi.

Pandemi di tahun 2020 ini memang memberikan dampak luar biasa bagi hampir semua orang di dunia ini. Banyak keluarga yang kehilangan orang kesayangan karena coronavirus. Banyak orang kehilangan pendapatan atau pekerjaan. Ada sekian banyak pribadi yang kehilangan harapan.

Namun manusia pada dasarnya memiliki bela rasa. Keinginan untuk membantu sesamanya. Saling membantu. Langsung muncul pikiran ‘aku iso opo?‘ (apa yang bisa kulakukan) untuk meringankan keluarga, teman, tetangga yang membutuhkan. Meskipun kita tahu, di masa pandemi ini, semua orang juga ribet dan repot dengan dirinya masing-masing.

Men and women for and with others” adalah ungkapan yang digunakan oleh Jesuit; yang awalnya disampaikan oleh Fr. Pedro Arrupe. Hal yang paling penting dari ungkapan itu adalah langkah nyata, tak peduli besar atau kecil bantuan kita masing-masing ke sesama kita. Aku iso opo?

Salam hangat,

CLC Yogyakarta

Have Fun with Virtual Meeting & Training

Edu-Talk #IGNITE

Kegiatan ini telah diselenggarakan pada hari Minggu 11 Oktober 2020.

Zaman memanggil kita untuk kreatif dan dinamis merancang ruang belajar di media virtual. Tentunya bukan sekedar informasi teknologi yang kita pelukan, lebih dari itu, kita perlu menjadi siap dengan berbagai tantangan di zaman yang berubah. Mari belajar, berbagi dan menjawab panggilan zaman.

Cukup dengan investasikan waktu, perhatian dan sukacita, Anda bisa dapat pengetahuan, doorprize dan e-sertifikat.

Salam,

Edutalk – Tim Fokus Pastoral Keuskupan Bandung & Christian Life Community

Bernafas Bersama

Bersama dengan komunitas Ignatian sedunia, sama halnya dengan CLC Dunia, CLC Indonesia mendukung Gerakan Doa bersama.


Bernapas Bersama

CLC bergabung dengan Keluarga Ignatian untuk Malam Doa Ignatian Global #SeasonOfCreation2020 #BreathingTogether

Hari ini, di dunia kita yang terluka, kita berjuang untuk bernapas. Bergabung dengan keluarga Ignatian dalam doa Jumat depan, 25 September.

“Kirimkan Rohmu, ya Tuhan, dan perbarui wajah bumi!”

Vigil telah disiarkan pada jam 8 malam di Manila (jam 7 malam di Jakarta/WIB).

Christian Life Community Dunia

Menemukan Allah di Masa Pandemi

Kegiatan rekoleksi dengan tema Menemukan Allah di Masa Pandemi telah kami selenggarakan pada malam hari ini 26 September 2020. Kegiatan ini dibawakan oleh Rm. Herman Joseph S., SJ.

Pada kegiatan rekoleksi ini, terdapat 6 poin yang disampaikan oleh Romo Herman yaitu:

  1. Kita harus menghadapi pandemi ini dengan sikap sabar.
  2. Kita harus selalu menggunakan cara yang positif.
  3. Pandemi ini kita pandang sebagai bentuk syukur kepada alam yang sedang berbenah.
  4. Sebagai umat Allah, kita tetap kembali kepada Tuhan. Cara yang kita lakukan adalah dengan berdoa, doa ini bukan sbg mantra namun sebagai bentuk kepasrahan kita.
  5. Kita harus bergerak sbg manusia, artinya ada usaha yang kita lakukan sebagai manusia.
  6. Terakhir, kita harus berdamai dengan kondisi ini.

Kami ucapkan terimakasih atas partisipasi bapak, ibu, dan saudara sekalian. Sampai bertemu kembali pada acara berikutnya.

Berkah Dalem.

CLC Surabaya

Menimba Semangat dari Santo Fransiskus Xaverius

CLC Jakarta telah mengadakan Pertemuan Bulanan pada hari Minggu, 20 September 2020 secara online melalui Zoom.

Kami mengangkat tema “Menimba Semangat dari Santo Fransiskus Xaverius“. Romo Sudiardja S.J. akan menjadi pendamping acara ini. Setelah pertemuan, kami akan melanjutkannya dengan misa.

Kami ucapkan terima kasih untuk para sahabat CLC yang sudah ikut serta dalam pertemuan ini.

Lokakarya Kepekaan Gender

Lokakarya Kepekaan Gender sudah berhasil diselenggarakan pada tanggal 5 & 6 September 2020 secara Online. Silakan membaca artikel rangkuman acara tersebut di artikel dengan judul Tiga Lembaga Peduli Kesetaraan Gender pada laman Keuskupan Bandung.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada nara sumber, fasilitator dan tentunya para peserta dan sahabat-sahabat CLC yang sudah berproses bersama dalam lokakarya ini.


Mengurai kekerasan Seksual yang marak terungkap belakangan ini, mari pahami akar masalahnya dan kenali pola relasi yang ber’Keadilan dan Kesetaraan Gender, sebagai bentuk dasar solusinya.

Nara sumber & Fasilitator:
Elisabeth Dewi

Koordinator Divisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Bandung, Ketua Jurusan HI Unpar, Koordinator Komunitas Jaringan Mitra Perempuan Bandung, Konsultan Gender

Gregorius Tjaidjadi
Fasilitator Senior Biro Pengembangan SDM Humanize, Freelance Facilitator GPStrategies, CLC Asia Pacific Animating Team, Ketua Nasional CLC Indonesia.
Anggota Komunitas Jaringan Mitra Perempuan Bandung

Andriani Utami
Anggota Divisi Gender & Pemberdayaan Keuskupan Bandung, Anggota Komunitas Jaringan Mitra Perempuan Bandung

Antonius Sartono
Anggota Divisi Hukum & Advokasi Keuskupan Bandung
Anggota komunitas Jaringan Mitra Perempuan Bandung

Bersama Crew SGPP Bandung

Peserta adalah:
Anggota komunitas CLC
Orang Muda Katolik
Umat Paroki
Umum
Dapat mengakses App.Zoom (akan ada pengantar penggunaan fungsi aplikasi)

Kegiatan bersama:
CLC Bandung
SGPP Keuskupan Bandung
Komunitas JMP Bandung