Renungan Harian: 30 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 30 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 18: 1-6
Injil   : Mat. 13: 47-53

O j e k

Pagi itu saya akan mengikuti sebuah acara di suatu institusi di kawasan Senayan, Jakarta. Kemarinnya saya sudah bertanya ke sopir yang akan mengantar, dibutuhkan waktu berapa lama dari Wisma Unio Kramat VII sampai ke senayan. Menurut Mas sopir butuh waktu satu setengah jam biar aman. Maka kami memutuskan berangkat dari Wisma Unio jam 8 pagi karena pertemuan akan dilaksanakan jam 10 pagi.
 
Jam 8 pagi saya berangkat ke Senayan diantar sopir. Sepanjang perjalanan arus lalulintas lancar walau agak ramai. Namun tiba di daerah Menteng, lalulintas menjadi lambat karena macet. Saya tenang-tenang di mobil karena waktu masih cukup luang. Namun tak berapa lama perjalan sungguh-sungguh terhenti. Semua kendaraan tidak bisa bergerak, tanpa kami tahu apa sebabnya. Saya masih tenang-tenang karena memang inilah Jakarta.
 
Ternyata sesudah menunggu sekian lama, kemacetan tidak terurai dan kendaraan belum bergerak sedikitpun. Ketika melihat jam ternyata sudah jam 9.15. dengan agak panik saya memutuskan untuk turun dan mencari ojek. Setelah berjalan sebentar, di ujung gang ada pangkalan ojek.  Saya minta salah satu abang ojek untuk mengantar ke Senayan. Abang ojek meminta ongkos Rp. 50.000,- saya tidak pikir panjang menyetujui asal bisa cepat sampai. Abang ojek mengatakan hanya butuh waktu 20 menit.
 
Ojek dikemudikan dengan amat cepat lewat gang-gang sempit dan beberapa kali melawan arus. Wow, perjalanan yang begitu mengerikan. Sejujurnya saya amat takut, karena abang ojek mengemudikan begitu berbahaya, seolah-olah tidak sedang membawa penumpang. Dalam hati sempat menyesal naik ojek tetapi tidak ada pilihan lain. Saya berpikir seolah-olah nyawa ini dipertaruhkan. Saat saya minta agar hati-hati, abang ojek mengatakan supaya saya tenang dan percaya saja. Aduh saya harus mempercayakan hidup saya pada abang ojek yang tidak saya kenal ini. Akan tetapi tidak ada pilihan lain selain pasrah.
 
Dan benar tidak berapa lama saya sudah sampai di depan kantor dimana saya akan mengadakan pertemuan. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit abang ojek mengantar saya. Saya lega turun dari ojek. Lega karena saya selamat dan lega karena saya tidak terlambat untuk mengikuti pertemuan di kantor itu.
 
Pengalaman naik ojek membuat aku merenungkan hubunganku dengan Tuhan. Aku berani dengan rela mempercayakan nyawa dan hidup saya kepada abang ojek yang tidak saya kenal bahkan saya dengan rela membayarnya. Bagaimana aku dengan Tuhan? Tuhan yang selalu menjamin hidupku dan memberiku dengan cuma-cuma. Kenapa aku sulit untuk mempercayakan hidupku padaNya?
 
Hidupku di hadapan Tuhan seperti tanah liat di tangan tukang periuk; Tuhan dengan mudah untuk membentuk atau menghilangkan saya. Namun kenyataannya Tuhan membentukku dan menjamin kelangsungan hidupku.
 
Apa yang menghalangi aku untuk mempercayakan hidupku padaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 29 Juli 2020

Pw. St. Marta
Bacaan I: 1Yoh. 4: 7-16
Injil   : Yoh. 11: 19-27

Mengalah

Suatu pagi, ibu ngomel-ngomel ke bapak karena menurut ibu, bapak tidak mau mendengarkan ibu dan tidak mau menurut. Bapak hanya diam selama ibu ngomel. Masalahnya sederhana, di kebun belakang rumah ada pohon pisang kepok yang sudah tua. Biasanya pisang itu akan dipanen ketika sudah “suluh” (ada yang nampak sudah menguning).
 
Entah bagaimana, ibu melihat bahwa pisang kapok itu sudah “suluh” dan meminta bapak untuk menebang. Tetapi menurut bapak belum, memang sudah tua tetapi belum suluh. Bapak sudah mengatakan ke ibu bahwa itu belum “suluh”, tetapi ibu tetap bersikeras bahwa pisang itu sudah “suluh”.
 
Saat bapak mau menebang pohon pisang kepok itu, beberapa tetangga mengatakan jangan dulu, sayang, tunggu “suluh”, dan menurut saya memang belum “suluh”. Akhirnya bapak memutuskan untuk tidak menebang. Karena hal itu ibu ngomel-ngomel ke bapak.
 
Sore itu meski bapak sudah mandi, bapak ke kebun belakang dan menebang pohon pisang. Setelah pisang dipanen dan ditunjukkan pada ibu bahwa belum suluh, ibu bukannya berhenti ngomel tetapi tetap menyalahkan bapak kenapa bapak tidak memberitahu ibu bahwa pisangnya belum “suluh”. Bapak dengan tenang menjawab: “ya wis diimbu wae mengko sedino rong dina lak wis mateng kabeh.” (ya udah diperam saja, nanti satu atau dua hari pasti sudah matang semua.)
 
Saya bertanya kepada bapak, kenapa bapak hanya diam dan tidak menunjukkan bahwa ibu yang salah. Bapak menjawab:
“Bapak mengalah kepada ibu, karena bapak mencintai dan menghormati ibu. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah itu sikap orang yang dewasa, orang yang bisa mengendalikan diri dan yang jernih melihat pokok persoalan.
 
Ada banyak persoalan yang akan selesai dengan sendirinya ketika kita diam, contohnya dengan ibu. Kalau bapak menyalahkan ibu, masalah tambah besar, tetapi ketika bapak diam masalah selesai. Bapak tidak harus mempermalukan ibu, dengan menunjukkan bahwa ibu salah, tetapi ibu akan tahu bahwa dirinya yang salah. Dan setelahnya ibu damai, bapak damai, bapak dan ibu damai.
 
Mengalah itu artinya mengalahkan diri sendiri, dan itu berarti kita menang, menang melawan ego dan nafsu kepuasan diri. Mengalah, seolah-olah kita kalah tetapi sesungguhnya kitalah pemenangnya. “menang tanpo ngasorake” (menang tanpa merendahkan dan mempermalukan.
 
Le, (panggilan sayang untuk anak laki-laki) mengalah itu bisa terjadi kalau kita punya kasih dan hormat kepada orang lain. Karena dengan mengalah kita  memanusiakan orang lain. Semua orang butuh dihormati, butuh disanjung dan butuh ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi. Maka banyak orang akan menjadi lebih tenang dan damai, ketika lagi emosi dan marah, kita “nylondhohi” (merendahkan diri) dan mengalah.
 
Kehebatan dan kekuatan seorang laki-laki dalam mencintai itu terletak pada kemampuannya “ngemong” (mengasuh dan menjaga dengan penuh cinta). Dalam ngemong termuat kemampuan mengalah dan “nylondhohi”. “
 
“Wah sulit pak….” kataku.

Bapak menjawab:
“Yen gampang donya wis tentrem wingi-wingi.” (kalau mudah dunia sudah damai dari dulu).
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 Juli 2020

Renungan Harian
Selasa, 28 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 14: 17-22
Injil   : Mat. 13: 36-43

K e r i n g

Dalam sebuah kesempatan mendampingi retret anak-anak SMU, pagi itu saya meminta peserta untuk mencari barang-barang yang ada di sekitar mereka yang melambangkan siapa diri mereka. Semua peserta mencari barang, ada yang membawa bunga, pensil, air dan lain-lain. Setelah semua mendapatkan barang yang menjadi simbol dirinya, mereka sharing tentang simbolnya.
 
Ada satu simbol yang dibawa peserta seketika menyedot perhatian saya. Dia membawa sebuah pot dengan tanaman yang sudah kering, tinggal batang sudah tidak ada daunnya lagi. Tanah dalam pot kering kerontang, kiranya pot dan tanaman itu memang sudah dibuang tidak dipelihara lagi.
 
Ketika giliran anak itu sharing, dia hanya mengatakan ini simbol saya, dan kemudian diam tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia diam terpaku, tatapan wajah kosong. Sesaat saya menunggu kalau-kalau dia akan melanjutkan sharingnya. Selama kurang lebih 10 menit dia tetap diam terpaku, semua peserta hening menunggu. Ketika saya sapa dia, apakah sudah cukup, dia mengangguk dan kembali ke tempat duduk.
 
Saat istirahat siang, saya ajak anak itu untuk ngobrol. Saya mulai dengan tanya tentang kesehatan, tentang harapannya ikut retret ini. Kemudian saya bertanya tetang simbol dirinya. Mengapa dia memilih simbol itu. Dia menangis, bibir bergetar tetapi tidak mengeluarkan satu katapun. Saya diam menemani. Setelah menjadi tenang, dia mulai bercerita.
 
“Romo, simbol itu melambangkan diri saya sesungguhnya. Saya seperti tanaman yang kering karena tanahnya gersang tidak ada air. Saya ini seperti tanaman itu yang sudah dibuang, dan tidak diurus lagi. Pot itu saya temukan diantara tumpukan sampah dan brangkal di belakang sana. Sudah dibuang dan tidak dibutuhkan lagi.
 
Romo,  sejak kelas 5 SD saya tinggal dengan nenek. Papa dan mama sudah bercerai. Papa sudah punya istri lagi dan punya 2 anak; mama juga sudah punya suami lagi dan punya 3 anak. Papa dan mama masih membiayai hidup saya, bahkan apapun yang saya minta pasti akan diberi. Tetapi seringkali saya merasa bukan itu yang saya butuhkan. Saya gak tahu ya mo, sering saya merasa pengin dipeluk papa, dipeluk mama, bahkan saya pengin dimarahi oleh mereka, tapi itu tidak pernah terjadi.
 
Romo, saya sering iri dengan anak-anak papa dan anak-anak mama, mereka punya papa dan mama, mereka bisa pergi bareng, foto-foto bareng, sedangkan saya? Saya memang ada nenek tetapi saya kasihan dengan nenek. Nenek dari jam 6.30 sudah buka toko grosir sampai nanti jam 5 sore. Saya tahu nenek pasti capek.
 
Romo, sering saya merasa sebagai anak yang paling menderita, saya sering bertanya kenapa tidak ada orang yang mencintai saya, kenapa saya seperti disingkirkan? Kadang saya merasa kenapa saya tidak mati saja?” Saya terpaku mendengar ceritanya. Penderitaan yang luar biasa yang dirasakan anak ini.
 
Pengalaman itu menyadarkan saya, penderitaan terbesar manusia adalah ketiadaan cinta. Orang yang paling menderita adalah orang yang tidak mengalami cinta.
 
Nabi Yeremia melukiskan umat Israel yang kehilangan cinta Allah dengan amat baik. Gambaran penderitaan akibat kehilangan cinta Allah.
 
Pertanyaan besar bagiku apakah aku merasa menderita karena kehilangan cinta Allah?
Jangan-jangan aku tidak merasakan apa-apa, kehilangan cinta Allah karena aku tidak pernah menyadari dan merasakan cinta Allah.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia.
 Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 27 Juli 2020

Renungan Harian
Senin, 27 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 13: 1-11
Injil   : Mat. 13: 31-35

G i l a

Lelaki itu setiap hari berjalan menyusuri jalan raya desa itu. Sepanjang jalan dia selalu ngomong sendiri dan tersenyum-senyum. Tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang diomongkan dan juga tidak tahu apa yang membuat dia tersenyum. Pakaiannya kumal, rambutnya gimbal karena nampaknya tidak pernah mandi.
 
Kendati kami mengenalnya sebagai orang gila, tetapi semua orang yang lewat jalan itu tidak ada yang takut atau terganggu karena dia tidak pernah mengganggu orang lain. Dia kelihatan hidup dalam dunianya sendiri.
 
Ada pemandangan yang menarik yaitu setiap siang hari ada mobil minibus bagus yang menghampirinya dan memberi dia nasi bungkus, serta sebotol air mineral. Orang yang turun dari mobil memberikan nasi bungkus kelihatan tidak takut dengan orang gila itu, meski yang turun terkandang perempuan atau anak remaja.Tidak banyak orang yang tahu siapa orang gila itu dan siapa yang setiap siang memberi makan orang gila itu.
 
Suatu ketika, saat saya sedang memperhatikan orang yang turun memberi nasi bungkus, ada seorang bapak yang berkata: “Itu keluarganya.” Saya terkejut dan agak malu karena ketahuan sedang memperhatikan orang gila itu. Bapak itu mengatakan kenal dengan orang gila itu dan keluarganya.
 
Bapak itu bercerita: “Orang muda itu menjadi gila setelah gagal menjadi kepala desa. Dia anak mantan kepala desa. Keluarganya adalah keluarga terhormat dan terpandang di desanya. Meski sudah lama tidak menjabat sebagai kepala desa, orang tuanya tetap dipanggil pak Lurah, dan dihormati semua warga desanya. Pak Lurah dianggap sebagai orang yang berjasa besar memajukan desanya. Pak Lurah mempunyai 3 orang anak laki-laki dan 1 orang perempuan. Keempat anaknya semua telah lulus sebagai sarjana. Semua telah sukses dengan pekerjaannya, 3 orang tinggal di kota besar sedang 1 anak laki-laki tinggal di desa mengurus sawah dan membuka penggilingan padi.
 
Orang gila ini anak tertua pak Lurah, dan telah hidup sukses di kota besar. Atas bujukan beberapa orang, dia mencalonkan diri untuk menjadi kepala desa. Orang tua dan semua keluarga tidak setuju, karena dia sudah lama meninggalkan desanya sehingga tidak banyak lagi  warga desa yang mengenal dia selain bahwa dia adalah anak pak Lurah.
 
Orang tua dan keluarganya menyarankan kalau mau jadi kepala desa nanti periode berikut, sedangkan masa sekarang tinggalah di desa dan buka usaha di desa agar dikenal oleh warga.
Namun nampaknya dia lebih percaya pada beberapa orang yang mendukungnya. Pak Lurah selalu mengingatkan bahwa yang mencalonkan dirinya bukan orang baik, mereka hanya memanfaatkan dirinya untuk memperoleh keuntungan.
 
Anak ini malah marah dan menganggap keluarganya tidak sayang dengannya. Padahal keluarganya “ngeman” (menyayangi) dan ingin dia menjadi hebat dan terhormat.
 
Dalam beberapa kesempatan dia mengatakan bahwa dirinya sudah bukan lagi bagian dari keluarga pak Lurah, dia lebih baik tidak dianggap anak dan saudara. Dia beranggapan bahwa mereka yang mendukung inilah yang menjadi saudaranya.
 
Dalam pemilihan dia kalah telak dengan calon yang terpilih, sementara hartanya sudah habis. Istrinyapun sudah meninggalkan dia karena sudah ditalak tiga olehnya.
Dan karena hal itu dia menjadi gila seperti sekarang.”
 
Hubunganku dengan Tuhan seringkali seperti orang gila ini dengan keluarganya. Allah begitu mencintai aku, dan menuntunku untuk sampai pada keluhuranku sebagai manusia. Akan tetapi sering kali aku lebih memilih ilah-ilah lain atau menuruti hawa nafsuku sendiri manakala keinginan, doa dan harapanku tidak dikabulkan. Aku sering kali tidak melihat bahwa apa yang kumohon tidak dikabulkan karena Tuhan “ngeman” diriku.
 
Akibatnya aku sering kali sungguh-sungguh menjadi tidak berguna, kehilangan semua rahmat dan keadaan berahmat. Bukan karena aku dibenci Tuhan tetapi karena aku meninggalkan Tuhan.
 
Sebagaimana keluhan Tuhan terhadap Israel yang disampaikan nabi Yeremia: ”Bangsa yang jahat ini akan menjadi seperti ikat pinggang yang tidak berguna untuk apapun.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Juli 2020

Renungan Harian
Sabtu: 25 Juli 2020

Pesta St. Yakobus, Rasul
Bacaan I: 2Kor. 4: 7-15
Injil   : Mat. 20: 20-28

Padhasan

Suatu hari ibu membeli padhasan*. Ibu meminta bapak menyiapkan dudukan untuk meletakkan padhasan. Ibu meminta agar nanti padhasan diletakkan di sudut kanan rumah kami, dengan tujuan agar kami, dapat mencuci tangan dan kaki setelah bepergian.
 
Setelah menyiapkan dudukan untuk padhasan, bapak mengecat seluruh permukaan padhasan dengan semen. Padhasan di cat dengan semen dengan tujuan agar padhasan lebih kuat dan tidak ada air yang merembes keluar. Setelah padhasan selesai dicat, bapak meletakkan padhasan itu di dudukan yang telah tersedia. Meskipun demikian padhasan itu belum diisi air, karena catnya belum kering.
 
Ketika melihat padhasan dicat dengan semen, ibu marah ke bapak, karena tidak setuju padhasan itu dicat dengan semen. Menurut ibu, dengan dicat membuat warna gerabahnya jadi hilang dan tidak indah. Sedang menurut bapak kalau tidak dicat air akan merembes ke luar dan padhasan tidak kuat. Maka pilihannya adalah padhasan kuat atau padhasan indah.
Ibu tetap memilih padhasan tidak dicat, dan agar tidak pecah diisi air setengah saja.
 
Akhirnya ibu membeli padhasan baru dengan pesan bahwa padhasan baru itu hanya boleh diisi air setengah. Akibatnya padhasan itu harus sering diisi air karena selain sering digunakan nampaknya ada air yang merembes ke luar. Tetapi bagi ibu hal tersebut tidak menjadi masalah karena padhasan itu tetap kelihatan indah.
 
Pada suatu ketika,  Budhe (kakaknya bapak) yang sedang bertamu melihat air di padhasan tinggal sedikit, meminta mbak Tutik (pengasuh kami) untuk mengisi padhasan sampai penuh. Dan terjadilah kekhawatiran bapak, padhasan itu pecah karena tidak kuat menahan tekanan volume air.
 
Merenungkan surat Paulus  yang kedua kepada Umat Korintus: ”Harta pelayanan sebagai rasul kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah.” mengingatkan saya pada pengalaman di atas.
Ada 2 pilihan apakah aku memilih penampilan diriku yang indah dan megah dengan konsekuensi hanya bisa menampung  sedikit rahmat dan ada kemungkinan merembes dan hilang. Atau aku memilih penampilan yang tidak indah tetapi bisa menampung banyak rahmat dan tidak merembes.
 
Dalam kenyataan seringkali aku lebih mementingkan penampilan yang indah, yang mudah dilihat dan dipuji, dari pada mementingkan isinya. Rahmat Tuhan sering aku abaikan karena mengejar indahnya penampilanku.
 
Iwan Roes RD.
 
*padhasan: bejana dari gerabah (tanah liat) bagian bawah ada lobang kecil untuk keluarnya air. Lobang itu biasanya ditutup bambu atau kayu bila air tidak dialirkan.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 24 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 3: 14-17
Injil   : Mat. 13: 18-23

G a g a l

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima tamu sepasang suami istri yang sudah sepuh. Saya mengenal bapaknya karena beliau cukup dikenal; beliau adalah Guru Besar di sebuah Perguruan Tinggi yang terkenal. Dalam perjumpaan itu mereka berdua kelihatan begitu sedih. Setelah berbasa basi sebentar, bapak memulai pembicaraan.
 
“Romo, mohon jangan melihat saya sebagai seorang professor, tetapi lihatlah saya sebagai salah satu umat romo. Romo, saya ingin konsultasi berkaitan dengan hidup kami sebagai orang tua. Kami merasa gagal romo.” Bapak itu mulai bicara.

Tentu saya amat terkejut dengan pernyataan awal beliau. Karena sejauh saya tahu keluarganya cukup sukses, putra-putrinya punya kedudukan bahkan beberapa cucunya juga telah sukses. Namun saya tidak bertanya saya diam mendengarkan.
 
“Romo, kami merasa sudah mendidik anak-anak kami dengan baik, membekali mereka dengan pedidikan dan ilmu yang menurut kami amat baik. Tetapi kenapa di ujung usia kami, kami melihat kegagalan dalam pendidikan kami untuk anak-anak.
 
Saya tidak tahu bagaimana awal mulanya, karena selama ini kami merasa anak-anak kami sudah mapan, hidup keluarganya baik, anak-anak mereka juga baik. Beberapa hari lalu kami baru tahu dan mendengar langsung dari mereka bahwa hidup keluarga mereka sudah berantakan. Mereka ternyata sudah hidup masing-masing meski kelihatannya satu rumah.
 
Kami, saya dan ibunya anak-anak, beberapa hari ini sulit tidur, kami “metani” (meneliti) dimana salah kami sehingga dua anak kami hidup keluarganya berantakan. Mekaten romo, uneg-uneg kami. (demikian romo uneg-uneg kami).” Bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
Saya bingung mau bicara apa, karena menurut saya beliau-beliau ini sudah amat matang dan tidak membutuhkan nasehat saya.
 
Mengingat pengalaman perjumpaan dengan bapak ibu sepuh ini, menurut hemat saya seperti keluhan Allah terhadap umat Israel sebagaimana diwartakan Nabi Yeremia. Allah telah menempatkan gembala-gembala terbaik untuk menuntun umat Israel tetapi mereka tetap mencari jalannya sendiri. Apakah Allah gagal? Apakah para gembala yang dipilih Allah gagal?
 
Kegagalan bukan dari pihak Allah pun pula bukan dari pihak para gembala, akan tetapi kegagalan ada pada umat Israel dalam menggunakan kebebasannya.
 
Bagaimana aku menggunakan kebebasanku? Akankah dengan kebebasanku aku telah memilih sarana-sarana terbaik untuk keselamatan jiwaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 23 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 2: 1-3.7-8.12-13
Injil   : Mat. 13: 10-17

Magersari

Ada sepasang suami istri merantau ke desa tetangga. Mereka merantau karena desa tetangga ada pasar yang menjadi pusat jual beli sembako dan hasil bumi. Sehingga di desa tetangga itu lebih banyak peluang bagi mereka untuk bekerja. Suami istri ini bekerja sebagai buruh serabutan di pasar.
 
Di tempat yang baru mereka tidak punya rumah, sehingga mereka selalu tidur di lapak-lapak yang kosong di pasar itu. Mereka tidur di situ karena mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah.
 
Melihat keadaan suami istri itu, ada pedagang pasar yang menawarkan rumah kosong miliknya untuk ditempati. Suami istri itu begitu bersyukur bahwa mereka boleh menempati rumah kosong milik pedagang itu. Rumah kosong itu letaknya di halaman belakang rumah pedagang itu. Pedagang itu tidak meminta uang sewa, bahkan ia memberi uang kepada mereka untuk membeli tempat tidur dan perlengkapan rumah tangga.
 
Jadilah suami istri itu tinggal di rumah kosong pedagang pasar itu. Dalam khasanah Jawa suami istri itu magersari di tempat pedagang. Bertahun tahun suami istri itu magersari di tempat pedagang itu. Keempat anaknya lahir dan besar di tempat itu. Bahkan anak pertamanya sesudah menikah diijinkan oleh pedagang itu untuk membuat kamar tambahan di samping rumah orang tuanya.
 
Entah bagaimana kisahnya, pada suatu hari pedagang itu yang sudah sepuh didatangi orang yang merasa telah membeli rumahnya. Pedagang itu diminta untuk segera mengosongkan rumahnya. Betapa terkejut pedagang itu, karena mereka merasa tidak pernah menjual rumahnya.
 
Setelah ditelusuri ternyata suami istri yang magersari itu yang menjual tanah dan rumah pedagang itu. Semua tetangga heran dengan kelakuan suami istri itu. Sudah ditolong tetapi malah mencelakakan yang menolong. Orang-orang di desa itu menyebut suami istri itu “Dikek’i ati malah ngrogoh rempela” (diberi hati akan tetapi malahan mengambil jantung).
 
Sikap dan perilaku suami istri yang magersari itu seringkali menggambarkan sikapku pada Tuhan. Aku sering kali bersikap tidak tahu terima kasih dan bahkan durhaka pada Tuhan. Kritik nabi Yeremia terhadap umat Israel adalah kritik bagi sikap dan perilakuku. “UmatKu berbuat kejahatan ganda; mereka meninggalkan Daku, sumber air yang hidup, dan menggali sendiri kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 22 Juli 2020

Pesta S. Maria Magdalena
Bacaan I: Kid. 3: 1-4a
Injil   : Yoh. 20: 1.11-18

Penantian

Nenek tua itu setiap hari selalu duduk di teras rumahnya dari subuh hingga magrib. Mbah
Cokro, kami biasa menyebutnya, tetapi entah siapa sebenarnya namanya. Semua tetangga tahu kebiasaan mbah Cokro karena apa yang dilakukan setiap hari selalu sama. Ia membuka pintu dan jendela rumahnya, mematikan lampu teras, lalu menyapu halaman. Tidak berapa lama ia akan duduk di teras rumahnya.
 
Di rumah itu mbah Cokro tinggal sendirian, sedang seorang anak perempuannya, yang sudah berkeluarga tinggal tidak jauh dari rumah mbah Cokro. Anak perempuan inilah yang selalu mengirim makanan untuk mbah Cokro.
 
Salah satu kebiasaan mbah Cokro adalah berjalan keluar halaman rumah dan melihat ke jalan raya, setelah beberapa saat sambil geleng-geleng dan ngomong sendiri kembali duduk. Hal itu selalu dilakukan berulang-ulang. Karena tindakan mbak Cokro yang seperti itu, maka kami beranggapan bahwa mbah Cokro orang yang sakit jiwa. “kurang sak setrip”.
 
Menurut cerita orang-orang, apa yang dilakukan mbah Cokro itu menantikan anak laki-laki nya pulang. Ia selalu mengharapkan anaknya pulang, meski telah berpuluh tahun anaknya tidak pulang, dan mungkin tidak akan pernah pulang.
 
Kata orang anak mbah Cokro “diciduk” pada zaman ”Gestok” (gerakan satu Oktober). Anak mbah Cokro dianggap bagian dari partai PKI, karena anaknya menjadi anggota  drumband PKI.
 
Nampaknya kerinduan mbah Cokro akan anaknya itulah yang menyebabkan dia berperilaku seperti itu, dan bahkan kami menyebut beliau orang yang “kurang sak strip”.
Kerinduan yang bersumber dari cinta yang luar biasa.
 
Kerinduan yang bersumber dari cinta yang luar biasa dilukiskan amat indah oleh penulis Kidung Agung:
“Pada malam hari, di atas peraduanku, kucari jantung hatiku. Kucari dia, tapi tak kutemukan…..”
 
Aku bertanya pada diriku sendiri: “Seberapa besar kerinduanku akan Tuhan?”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Juli 2020

Renungan Harian
Selasa, 21 Juli 2020

Bacaan I: Mi.7: 14-15.18-20
Injil   : Mat. 12: 46-50

Saudara

Beberapa tahun yang lalu saat saya bertugas di sebuah paroki, ada seorang bapak, umat di paroki kami meninggal dunia mendadak. Menurut dokter beliau meninggal karena serangan jantung. Bapak itu, meninggalkan seorang istri dan 2 orang putra.
 
Bapak itu, tinggal di kota dimana saya bertugas hanya dengan keluarganya, sedang sanak saudaranya, baik dari beliau maupun dari istrinya, semua di luar kota. Oleh karenanya bisa dibayangkan bagaimana kesulitan istri dan anak-anak mengalami peristiwa yang mendadak itu. Untunglah begitu mendengar berita tentang meninggalnya bapak itu, segera beberapa umat bergerak. Beberapa menuju rumah sakit untuk membantu pengurusan jenazah, beberapa langsung ke rumah duka untuk membereskan rumahnya dan memasang tenda, beberapa menyiapkan rangkaian bunga dan bunga tabur. Maka begitu jenazah tiba di rumah segala hal yang diperlukan untuk persemayaman sudah lengkap.
 
Hal yang mengherankan adalah sanak family dari almarhum, datang seperti tamu, tidak satupun yang menempatkan diri menjadi bagian dari keluarga. Beberapa umat paroki yang justru bertindak sebagai tuan rumah, termasuk menjamu sanak family yang datang.
 
Setelah upacara pemakaman selesai, saat saya minta pamit, ibu itu berkata:
“Romo, terima kasih banyak, ternyata yang menjadi saudara, sanak family saya adalah teman-teman di paroki.”
 
Apa yang diungkapkan ibu tersebut menunjukkan bahwa yang disebut saudara pertama-tama bukan soal hubungan darah, akan tetapi adalah mereka yang punya kepedulian dan mau terlibat dalam hidupku.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menegaskan hal itu: “Sebab, siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu, dialah saudariKu, dialah ibuKu.”
Yesus menegaskan ukuran saudara bagi Yesus bukan perkara hubungan darah, melainkan apa yang telah dilakukan oleh orang itu.
 
Apakah aku bisa, layak dan pantas disebut saudara Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Juli 2020

Renungan Harian
Senin, 20 Juli 2020

Bacaan I: Mi. 6: 1-4.6-8
Injil   : Mat. 12: 38-42

Kesetiaan

Ketika saya mengikuti sebuah kursus di Yogya, di hari terakhir kursus kami diajak rekreasi. Salah satu tempat tujuan rekreasi kami adalah Kraton Yogyakarta. Sesampai di Kraton kami berkeliling melihat bangunan, melihat peninggalan-peninggalan dan lain-lain.
Selain melihat berkeliling, saya sempat ngobrol cukup lama dengan salah satu abdi Dalem. Abdi Dalem yang saya temui ini, sudah lebih dari 30 tahun mengabdi di Kraton. Beliau mengabdi sejak masih remaja. Awalnya Beliau ikut bapaknya yang juga abdi Dalem.
Pada saat pertama kali menjadi abdi Dalem tugasnya adalah membersihkan halaman. Bertahun-tahun beliau menjalani tugas itu. Sejak 10 tahun terakhir tugasnya tidak lagi membersihkan halaman, tetapi menjadi penjaga regol (penjaga pintu).
Dalam pembicaraan, beliau amat bangga menjadi abdi Dalem. Baginya, menjadi abdi Dalem adalah anugerah bagi dirinya dan keluarga. Kalau dilihat dari sisi materi, maksudnya jumlah rupiah yang beliau terima tidak seberapa tetapi bukan itu yang dicari sebagai abdi Dalem. Menjadi abdi Dalem adalah wujud “bekti” (hormat dan pengabdian) pada Sinuwun (Raja). Keuntungan menjadi abdi bisa selalu “ngalap” dan “nglorot” (mendapatkan) berkah dari Sinuwun.
Secara materi hampir tidak ada yang diterima, tetapi berkah yang diterima luar biasa. Keluarga “ayem tentrem” (damai), usaha dagang kecil-kecilan istri selalu laris sehingga mencukupi kebutuhan keluarga, dan bisa menyekolahkan 2 anaknya hingga perguruan tinggi.
Maka beliau akan tetap menjadi abdi sampai dirinya sungguh-sungguh tidak kuat.

“Walaupun saya ditawari gaji yang besar, sejak dulu saya tidak mau dan tidak akan pernah mau. Hidup saya sudah saya persembahkan pada Sinuwun.”ungkap beliau dengan mantap.

Wow, mengagumkan, sebuah pengabdian dan kesetiaan yang luar biasa. Andai aku punya sikap seperti itu pada Tuhan, betapa luar biasanya aku. Mengabdi Tuhan sepenuhnya dengan penuh kesetiaan. Bukankah hanya itu yang Tuhan minta dariku? menurut nabi Mikha: “Apa yang dituntut Tuhan daripadamu? Tak lain dan tak bukan ialah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.