Renungan Harian: 26 Mei 2020

Renungan Harian
Selasa, 26 Mei 2020
PW. St. Filipus Neri

Bacaan I: Kis. 20: 17-27
Injil   : Yoh. 17: 1-11a.

Merdeka

Beberapa tahun yang lalu, khususnya pada masa Orde Baru, istilah ABS (Asal Bapak Senang) amat popular. Popular bukan hanya karena sering disebut, akan tetapi banyak perilaku yang menunjukkan sikap ABS.
 
Sikap ABS adalah perilaku dimana orang mau melakukan apa saja, bahkan kalau itu harus memanipulasi, termasuk memanipulasi diri, dengan tujuan menyenangkan atasannya. Singkatnya orang tidak lagi berpikir benar atau salah, baik atau tidak, pokoknya yang penting atasannya senang.
 
Sikap ABS membuat orang tidak bebas, tidak otonom.
Persoalan besar adalah mana kala masyarakat menganggap dan menerima ABS sebagai kebenaran baru, sehingga menjadi “budaya” baru dalam hidup bermasyarakat. Dalam situasi itu orang bersikap ABS merasa telah memilih tindakan yang benar dan sah. Lebih dalam lagi, orang tidak lagi merasa tertekan tetapi merasa senang melakukannya.
 
Entah disadari atau tidak, sikap beriman kita senada dengan sikap ABS.
Sejak kecil aku dididik dengan baik, sebagai orang beriman katolik. Maka, ke gereja, doa dan ikut aktif dalam hidup menggereja adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Dulu ketika masih kecil, kalau hal-hal itu tidak dilakukan akan mendapatkan marah atau ada ancaman menjadi orang yang berdosa. Tanpa sadar semua itu tertanam dalam diriku.
 
Tanpa sadar aku sampai sekarang menjalankan hal-hal itu karena kewajiban. Aku akan merasa lega bila itu sudah dijalankan; tetapi akan merasa resah dan merasa ada sesuatu yang aneh dalam hidupku, bila hal itu belum dijalankan.
 
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mematangkan batin dalam hidup beriman. Kita diajak untuk beriman dengan batin yang merdeka, diri yang otonom. Tuhan bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau Utus.”
 
Sabda Tuhan itu menegaskan bahwa hidup kekal timbul dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusanNya. Kemauan, menunjuk kebebasan batin untuk memilih.
 
Orang diajak untuk berani mengenali siapa saya sesungguhnya dengan segala praktek hidup berimannya. Melepaskan diri dari segala hal yang muncul dalam diri, sebagai sebuah keharusan (imperatif afirmatif). Dengan melepaskan segala keterikatan itu, aku menjadi orang yang “bebas untuk”.
 
Kehendakku yang menjadi keputusanku, dan pada gilirannya menjadi hasratku. Hasrat memilih mengimani Allah muncul dari kebebasan batinku. Aku beriman bukan karena takut pada orang tua yang telah mendidikku, pun pula bukan karena takut dosa, dan masuk neraka. Entah ada dosa atau tidak, entah ada neraka atau tidak, bahkan entah ada surga atau tidak, aku tetap memilih untuk mengimani Allah.
 
Aku telah mengalami cintaNya yang besar dalam hidupku. Pengalaman cinta itulah yang mendorongku untuk mencintaiNya dan mengejar cintaNya.
 
Persoalan bagiku adalah, apakah aku bisa melepaskan segala sesuatu itu dan berani mengenali diriku yang sesungguhnya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 Mei 2020

Renungan Harian
Senin, 25 Mei 2020

Bacaan I: Kis. 19: 1-8
Injil   : Yoh. 16: 29-33

Restu

Dalam perayaan upacara perkawinan, baik dalam perayaan ekaristi maupun ibadat sabda, sejauh yang saya alami, saat yang paling mengharukan adalah saat sungkeman (mohon restu kepada orang tua). Memang benar saat mengucapkan janji perkawinan juga mengharukan, tetapi tidak banyak terjadi.
 
Mohon restu bukan hanya soal mohon ijin dari orang tua, tetapi lebih dari itu, mohon berkat dan doa dari orang tua. Dari satu sisi, pengantin tahu dan sadar bahwa perjalanan hidup perkawinan tidak selamanya mudah dan indah; maka doa dan berkat dari orang tua amat dibutuhkan sebagai pegangan dan kekuatan.

Di sisi lain, orang tua sudah mengalami bahwa perjalanan perkawinan sungguh tidak semudah dan seindah yang dibayangkan; maka mereka memberikan doa dan berkat. Sebagaimana selalu terucap dari para orang tua:
”Perjalanan hidup perkawinan tidak mudah, banyak suka duka dan tidak jarang menderita, tetapi jangan takut, doa dan berkat bapak ibu menyertai kalian”
 
Dari doa dan berkat yang terucap dari orang tua, terungkap penegasan dari mereka bahwa perjalanan perkawinan yang berat dan rumit, serumit dan seberat apapun, pasti akan bisa dilalui, karena mereka sudah dan sedang menjalaninya.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini yang merupakan penutup dari “pesan perpisahan” Yesus kepada murid-muridNya, sejauh diwartakan Yohanes 16: 1-33, memberikan peneguhan kepada para murid. “ Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
 
Yesus menegaskan kepada para murid, penderitaan pasti akan dialami, tetapi jangan takut Aku selalu menyertai dan menguatkan kalian. Aku telah mengalami dan telah melewati penderitaan itu, maka kalian pun pasti akan mampu.
 
Dengan kata lain Yesus mau menegaskan dan memberi jaminan kepada para murid ”jangan takut dan khawatir, tidak ada penderitan yang tidak akan tertanggungkan. Jangan gentar dan ragu. Aku selalu menyertai.”
 
Kalau demikian apa yang membuat aku takut, khawatir, gentar dan ragu, saat berhadapan dengan penderitaan dalam peziarahanku mengikuti Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 Mei 2020

Renungan Harian
24 Mei 2020
Minggu Paskah VII

Bacaan I : Kis. 1: 12-14
Bacaan II: 1Ptr. 4: 13-16
Injil    : Yoh. 17: 1-11a.

Berjuang

Seorang Bapak yang sekarang sudah sepuh, berbagi pengalaman tentang pergulatan hidupnya. Dia mengisahkan, di awal karirnya, ia bekerja disebuah perusahaan swasta yang besar. Salah satu tugasnya adalah menjumpai klien-klien di luar negeri.
 
Dalam perjumpaan dengan klien di luar negeri, acara yang tidak pernah dilewatkan adalah dijamu oleh para klien, dan tentu saja dengan pembicaraan bisnis. Apa yang ia temui dalam perjamuan itu adalah selalu disediakan 2 perempuan cantik menemani dan melayani. Perempuan-perempuan cantik itu bukan hanya melayani perjamuan, tetapi juga menggoda yang menjurus ke arah hubungan badan. Bahkan kliennya dengan terus terang mengatakan bahwa perempuan-perempuan cantik boleh dibawa ke tempatnya menginap.
 
“Bukannya saya tidak tertarik dan tidak terdorong untuk mengikuti ajakan perempuan-perempuan cantik itu. Saya seorang laki-laki muda dan tulen.” Lanjut bapak itu.
“Namun saya selalu ingat akan spiritualitas yang saya hayati dan perjuangkan. Saya mengatakan tidak. Saya tetap fokus untuk pekerjaan saya.”
 
Setiap kali berdoa, dia selalu mohon agar dihindarkan dari pencobaan. Namun dirinya amat sadar dan tahu bahwa kalau dia berjumpa dengan klien-klien, hal itu seringkali terjadi. Maka pilihannya adalah tidak mau menjalankan pekerjaan itu supaya dirinya jauh dari pencobaan, atau dia tetap menjalankan tugas itu dan berjuang untuk setia pada kehidupan rohani yang dirinya perjuangkan, dengan resiko kehilangan klien-klien.
 
Ternyata dalam perjalanan waktu, para klien justru menghargainya dan menaruh hormat. Hormat karena dia selalu berani menolak tawaran dan godaan itu. Baginya hal kecil itu (walaupun dengan perjuangan luar biasa) menjadi pewartaan bagi klien-kliennya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes, dalam doanya Yesus berkata: ”Bapa, telah tiba saatnya: permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau.”
Kata memuliakan dalam hal itu berhubungan dengan sengsara dan wafatNya. Yesus dengan jelas dan tegas tidak mohon agar dihindarkan dari sengsara dan wafat akibat penolakan manusia. Justru dengan kerelaannya untuk tetap menderita, menunjukan (mewartakan) betapa cinta Allah kepada manusia. Allah yang berpihak pada manusia, meski manusia menolaknya. Allah tetap setia, untuk mengembalikan manusia; yang lebih memilih kegelapan; menuju terang.
 
Belajar dari pengalaman di atas, kita selalu berdoa

“…hindarkan kami dari pencobaan…”

,Itu bukan berarti Allah menghilangkan pencobaan atau aku melarikan diri dari pencobaan. Tetapi justru aku dipanggil untuk berjuang di dalam pencobaan itu dan tetap berpegang pada ajaranNya.
 
Pencobaan bukan untuk dicari dan didekati, tetapi bila pencobaan itu datang, atau aku dihadapkan, atau dimasukkan dalam pencobaan, aku tidak lari atau menyerah (menikmati) pada pencobaan. Aku tetap tekun dan setia berjuang di dalamnya.
 
Persoalannya adalah, apabila aku ada dalam pencobaan, dapatkah aku tekun dan setia berjuang berpegang pada belas kasihNya, sehingga pada akhirnya aku keluar, tetap dengan terang yang kupunya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.