Renungan Harian: 12 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 12 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 19: 9a.11-16
Injil   : Mat. 5: 27-32

Niat

Pada waktu retret agung (retret 30 hari), ketika malam hari mempersiapkan doa untuk esok hari, hal yang selalu ditekankan pater magister adalah sebelum tidur hendaknya memikirkan bahan doa yang akan di doakan besok pagi, cara berdoa, pokok-pokok doa dan seterusnya. Demikian bila bangun tidur segera memikirkan bahan doa dan cara berdoa.
 
Sebagaimana dikatakan oleh St. Ignatius dalam latihan rohani, hal itu dimaksudkan agar peserta retret tetap fokus pada bahan yang sedang dan akan direnungkan; tidak diganggu dengan pikiran-pikiran lain.
 
Pengalaman menjalani retret agung, menjalankan hal di atas tidak selalu mudah. Kadang bisa dan kadang tidak bisa. Banyak hal yang muncul dalam bayangan ketika menjelang tidur. Pun sepanjang hari ketika sedang merenungkan. Godaan untuk memikirkan hal-hal lain begitu banyak dan begitu menarik untuk diikuti.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius : “ Barang siapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya.” Sabda yang amat keras dan jelas. Dosa bukan hanya ketika orang sudah menjalankan, akan tetapi ketika dalam niat dan bayangan pun sudah berdosa.
 
Pengalaman retret 30 hari dengan suasana dan tempat yang khusus pun, betapa mudah aku jatuh dalam godaan untuk memikirkan hal-hal yang di luar apa yang seharusnya dipikirkan. Apalagi dalam hidup sehari-hari di tengah hiruk pikuk dan tawaran dunia yang luar biasa.
Betapa sering aku jatuh dalam dosa dalam hati.
 
Examen Consientiae (pemeriksaan batin) kiranya menjadi sarana yang baik untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan diriku yang mengakibatkan dosa, meski dosa dalam hati. Dan yang lebih penting adalah menyadarkan aku, jangan-jangan aku merasa bahwa aku tidak berdosa sehingga menikmati dosa dalam hati itu.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 11 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 11 Juni 2020
PW. St. Barnabas Rasul

Bacaan I: Kis. 11: 21b-26; 13: 1-3
Injil   : Mat. 10: 7-13

S A L A M
 
Pada waktu retret frater-frater skolastik, saya didampingi oleh Rm. Alex Dirjo, SJ. Dalam kesempatan wawancara saya bicara tentang kesombongan saya. Betapa sulit untuk berubah dan betapa sulit bagi saya untuk sedikit saja mengurangi. Saya sudah berdoa mohon kerendahan hati, tetapi kok tidak berubah.
 
Romo Alex dengan tenang dan tersenyum memberikan nasehat. Nasehat beliau dalam bentuk cerita pengalaman beliau waktu ikut kursus P. Anthony de Mello di India.  Waktu kursus, ketika ditanya soal mohon kerendahan hati, P. Anthony de Mello menjawab:
“ Jangan mohon kerendahan hati. Tetapi mohonlah kemampuan untuk menghormati orang lain, maka pada waktunya kerendahan hati akan menjadi anugerah dengan sendirinya.”
 
Dalam kenyataannya, menghormati orang lain juga bukan perkara mudah. Menghormati orang yang aku kagumi dan padanya aku segan maka akan mudah dilakukan. Akan tetapi menghormati orang-orang yang menurut aku biasa-biasa, sederhana dan kecil, betapa sulitnya.
 
Ketika di kesempatan lain saya bertemu dengan Romo Alex, saya membicarakan kesulitan itu. Beliau memberikan saran yang amat sederhana. Beliau mengatakan mulailah dengan memberi salam terlebih dahulu. Belajar menyapa dan memberi salam lebih dahulu adalah bentuk penghormatan kepada orang lain.
 
Dengan memberi salam dan sapaan maka aku menempatkan orang lain sejajar dengan diriku, aku memanusiakan orang lain. Salam dan sapaanku kepada orang lain, akan menjadi berkat bagi mereka yang menerimanya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “ Apabila kamu masuk ke rumah orang berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya salammu itu turun ke atasnya. Jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”
 
Memberi salam, berarti aku menunjukkan sikap hormatku, menghormati keberadaanya, dan memberikan damai. Sesungguhnya hal yang amat sederhana, tetapi seringkali menjadi sulit untuk dilakukan. Lebih sering terjebak dengan salam basa basi dari pada salam penuh ketulusan hati.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 10 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 10 Juni 2020
PW. St. Yustinus Martir

Bacaan I: 1Raj. 18: 20-39
Injil   : Mat. 5: 17-19 

K A S I H
 
Beberapa waktu yang lalu ada berita tentang seorang hakim yang bertindak mengherankan. Hakim itu mengadili seorang nenek yang dituduh melakukan pencurian di area milik sebuah perusahaan. Nenek itu mengambil kayu yang akan digunakan untuk kebutuhan di rumahnya. Memang sudah sejak dulu nenek itu mengumpulkan kayu yang bisa digunakan untuk kayu bakar.  Naas, hari itu nenek itu ditangkap petugas perusahaan dan dilaporkan dengan tuduhan pencurian.
 
Dalam proses pengadilan hakim memutuskan bahwa nenek dinyatakan bersalah karena mengambil sesuatu di area yang bukan menjadi haknya. Namun hakim tidak menjatuhkan hukuman kurungan akan tetapi menghukum nenek itu untuk membayar biaya perkara.
 
Hal yang mengejutkan terjadi, setelah menutup sidang, hakim tersebut mengajak semua yang hadir di ruang pengadilan untuk “saweran” (mengumpulkan uang) yang kemudian diserahkan kepada nenek yang dihukum tersebut. Sebuah tindakan yang diluar kebiasaan para aparat hukum kita.
 
Tindakan hakim tersebut bagi saya adalah tindakan penyempurnaan hukum. Hukum harus ditegakkan, agar keadilan dapat dinikmati oleh setiap orang. Akan tetapi dasar yang paling dalam dari hukum adalah kasih dan pemuliaan kemanusiaan. Manakala hukum telah kehilangan roh kasih dan pemuliaan kemanusiaan, maka hukum bisa jadi amat subyektif tergantung pada penafsirnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, menegaskan bahwa Yesus bukan mengganti hukum taurat tetapi menggenapi. Ia meletakkan hukum seturut tujuan hukum itu dibuat, yaitu agar umat semakin mencintai Tuhan Allah dan sesama manusia.
 
Pada skala yang lebih kecil aku juga sering kali membuat aturan-aturan yang mengikat orang lain dan dalam penerapannya lupa akan kasih dan pemuliaan kemanusiaan.
Bahkan tidak jarang menjadikan diriku sebagai hukum.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 09 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 09 Juni 2020
PW. Hati Tersuci SP Maria

Bacaan I: 1Raj. 17: 7-16
Injil   : Mat. 5: 13-16

KOMITMEN
 
Ketika saya bertugas di sebuah paroki, muncul keluhan dari anak-anak muda kalau perayaan ekaristi di gereja gak menarik, “garing”. Mereka bertanya apakah perayaan ekaristi di gereja nyanyian tidak boleh diiringi alat musik lain selain  organ. Saya dengan segera menjawab boleh.
“sok ayo, kalian bikin koor yang diiringi gitar dan yang lain” Ajak saya pada mereka.

Mereka menyanggupi dan menyebut beberapa teman yang bisa bermain musik. Kemudian mereka membuat kesepakatan untuk berlatih.
 
Tetapi apa lacur? Latihan tidak pernah terjadi, ada saja alasan dari mereka yang main musik. Ada yang lupa, ada yang ketiduran. Bahkan saat perayaan ekaristi mereka tetap diharapkan datang, ternyata tidak datang, juga dengan alasan telat bangun dan datangnya terlambat.
 
Teman-teman muda ini mempunyai kemampuan yang bagus, akan tetapi kemampuan itu tidak kelihatan dan “tidak berguna” karena tidak ada komitmen. Saat sedang merencanakan semua kelihatan luar biasa dan akan menjadi luar biasa.
 
Bercermin dari sikap orang-orang muda itu, betapa banyak diantara kita, termasuk saya, sering kali kehilangan identitas diri karena kelemahan dalam komitmen. Identitasku sebagai Imam dan gembala sering kali hilang karena sambalewa dan mencari kesenangan sendiri.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius mengingatkanku untuk sadar akan identitasku dan bertindak sesuai dengan identitasku. “ Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diijak orang.”
 
Akankah aku akan hanya menjadi sesuatu yang dibuang dan diinjak orang?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 08 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 08 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 17: 1-6
Injil   : Mat. 5: 1-12

P A S R A H
 
Pada waktu saya masih novis, salah satu latihan yang harus dijalani oleh setiap novis adalah peregrinasi. Peregrinasi adalah berjalan sejauh 450 Km dengan rute yang telah ditentukan. Selama dalam perjalanan kami tidak membawa bekal; untuk makan kami meminta-minta. Dengan peregrinasi kami dilatih untuk bergantung pada penyelenggaraan ilahi.
 
Pengalaman waktu mau menjalankan peregrinasi muncul banyak kekhawatiran dan ketakutan, apakah nanti saya kuat berjalan, nanti bagaimana cara untuk meminta makan, dan sebagainya.
 
Pada misa pagi sebelum berangkat diingatkan oleh Pater Magister agar tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri dan sungguh-sungguh belajar mengandalkan penyelenggaraan ilahi. Dalam pelaksanaan ada banyak tantangan dan kesulitan namun semua dapat dilalui dengan baik. Dan kami merasakan betapa Tuhan begitu baik dan memungkinkan semua dapat terjadi.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan Allah”. Kiranya miskin di hadapan Allah adalah orang-orang yang berani menggantungkan hidupnya pada Allah.
 
Kelemahan dalam hidupku, adalah sering terjebak untuk mengandalkan diri sendiri. Sehingga sering dihinggapi ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir karena menurut perhitunganku, aku tidak mampu. Akibat yang lain dari seringnya aku mengandalkan diri sendiri, adalah betapa mudah aku menyombongkan diri dengan hasil yang telah aku capai.
 
Betapa sulit berserah dan bergantung pada penyelenggaraan Ilahi, manakala aku merasa mampu dan kuat. Sering kali berserah hanyalah slogan bagiku.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 07 Juni 2020

Renungan Harian
Minggu, 07 Juni 2020
Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus

Bacaan I : Kel. 34: 4b-6.8-9
Bacaan II: 2Kor. 13: 11-13
Injil    : Yoh. 3:16-18

KESELAMATAN
 
Pagi itu, Bagong dengan bibir komat-kamit datang menemui Semar, bapaknya yang sedang duduk minum kopi dengan kedua saudaranya. Melihat Bagong datang dengan bibir komat-kamit Petruk langsung menegur

Petruk:
“Gong, kamu ngapain kok bibir Komat-kamit seperti orang sinting.”

Bagong:
“lho itu omongan orang kafir yang gak ngerti. Aku ini sedang berdoa, kalau kamu mau tau”

Petruk:
“ Kalau kamu berdoa itu masuk ke senthongmu (kamar) sana bukan komat-kamit sepanjang jalan”

Bagong:
“ wah ini, orang yang kurang imannya. Aku beritahu ya Truk, berdoa itu harus dilakukan dimana saja bukan hanya di senthong.”
 
Gareng tampak sebal melihat Bagong, langsung menyela.

Gareng:
“ Bagong itu sekarang keterlaluan, sudah kehilangan rasa kemanusiaannya.”

Petruk:
“ lho, memang ada apa?

Gareng:
“ 2 kali saya pernah ngetok rumah Bagong mau minta tolong membantu tetangganya. pertama sebelah rumahnya yang meninggal mendadak, dan lain hari tetangga belakang rumahnya sakit keras, Bagong sama sekali tidak mau. Bahkan menjawabpun tidak. “

Bagong:
“ Kang Gareng, aku itu disiplin soal doa dan ibadah. Kalau aku sedang doa dan ibadah saya diganggu, sori bro saya gak bisa.”

Gareng: 
“ wooo orang sinthing. Yang penting itu menyelamatkan orang, bertindak atas nama kemanusiaan bukan doa dan ibadah.”

Bagong:
“ Sori Bro, aku ini kan berjuang agar aku selamat dan masuk surga. Aku harus berjuang, lho ini aku bela-belain dengan mati raga luar biasa je.”
 
Semar yang dari tadi diam mendengarkan perdebatan anak-anaknya mencoba menengahi
 
Semar:
“ Heeeeh anak-anakku ngger, masuk surga, masuk Kerajaan Allah, menerima hidup kekal adalah kerinduan dan tujuan akhir dari setiap orang beriman; dan memang hanya orang yang beriman yang akan sampai ke sana.
Tapi ya ngger tolong diperhatikan. Pertama untuk sampai ke sana tidak cukup kalau kamu mengandalkan usahamu sendiri. Seolah-olah dengan doa-doamu yang banyak dan panjang dengan mati raga yang bikin kamu setengah mati lalu bisa membawamu sampai ke sana. Kita tetap membutuhkan tuntunan Roh Kudus agar tidak tersesat. Maka sikap berserah pada tuntunan Roh Kudus itu penting.
Kedua ya ngger, iman itu harus diwujudkan, nah perwujudan iman itu dengan mengamalkan ajaran dari Guru dan Tuhan kita. Mengamalkan cinta kasih.”

Bagong:
“ wah aku salah ya Pak.”

Semar:
“ Salah juga tidak tetapi belum benar. Hidup kita sebagai orang beriman itu harus menampakkan wajah Allah yang penuh belas kasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya. Semua itu dengan cara mencintai sesamamu ngger.
Nah dengan cara itu seperti ajaran para pandita, kita ikut mewujudkan kerajaan Allah.”

Petruk:
“ Wah aku jadi pusing Pak, nggak dong”

Semar:
“ heeeh bocah sableng. Intinya, begini. Iman itu yang menyelamatkan. Namun iman itu harus juga diwujudkan dalam perilaku hidup kita sehari-hari. Selanjutnya untuk mencapai keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan usaha kita sendiri, butuh tuntunan Roh Kudus. Maka kita harus bisa berserah pada tuntunan itu.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 06 Juni 2020

Renungan Harian
Sabtu, 06 Juni 2020

Bacaan I:  2Tim. 4: 1-8
Injil   :  Mrk. 12: 38-44

SHOPPING
 
Di suatu senja, di desa Karang Kadempel tempat tinggal Semar Bodronoyo tampak meriah. Ki Lurah Semar sedang menerima tamu ke tiga anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong. Setelah saling berkabar satu sama lain, Semar bertanya kepada Bagong yang akhir-akhir ini sering kali menghilang tidak ketahuan rimbanya. Belum sempat Bagong menjawab, Petruk sudah menyeletuk:
Petruk:
“ Pak, sekarang Bagong luar biasa, pengetahuannya tentang kehidupan amat luas. Pengetahuan tentang Kitab Suci hebat, Pengetahuan tentang spiritualitas keren, pengetahuan tentang olah batin dan olah rasa mantap, pengetahuan tentang ajaran-ajaran leluhur joss.”

Semar:
“ Heeeeh elok tenan. Apakah itu sebabnya kamu sering menghilang ngger?”

Bagong dengan sikap malu-malu pongah menjawab.

Bagong:
“ Betul Pak. Saya meguru, saya ikut kumpulan-kumpulan. Saya banyak mendengarkan khotbah-khobah dan pengajaran para pandita yang hebat dan menarik. Saya banyak belajar dari guru-guru spiritual yang mumpuni. Saya ikut seminar-seminar tentang olah batin dan olah rasa dari guru-guru meditasi yang hebat. Pokoknya mereka keren-keren dan menarik”

Semar:
“Weh, weh, weh kok ya hebat tenan kamu ngger. Berapa lama kamu ikut orang-orang hebat itu?”

Bagong:
“wah ya tergantung Pak. Kalau menurut saya menarik ya lama, tapi kalau tidak menarik ya saya tinggal dan pindah ke tempat lain.”

Semar:
“ Heeeeh begitu. Terus yang kamu jadikan ukuran menarik dan tidaknya apa ngger?”

Bagong:
“ ya yang memenuhi keinginan saya, yang menghibur saya, yang membuat saya gembira.”

Semar:
“ dengan semua itu mengubah hidupmu tidak ngger?”

Bagong:
“ehmmmmm……”
Bagong garuk-garuk kepala

Semar:
“Wah, wah ngger, kamu ini sekarang tersesat dalam pusaran ngelmu. Ilmu kehidupan itu bukan perkara menarik, menyenangkan dan menghibur. Ilmu itu berguna untuk menerangi hidup agar hidupmu tidak tersesat. Ilmu harus menuntunmu mengarahkan hidup pada Yang Maha Kuasa dan menjadikan kamu semakin welas asih ke sesamamu. jangan bangga dengan banyaknya guru, dan seminar yang kamu ikuti, dan juga jangan bangga dengan lamanya kamu belajar. Yang penting mendalamnya ilmu itu kamu pelajari dan daya ubah dari ilmu itu untuk hidupmu. Kamu itu ibarat orang yang mengumpulkan banyak gaman (senjata) tetapi semua gaman itu tumpul jadi tidak berguna atau gamannya hebat tetapi kamu tidak bisa menggunakan. Ketika saat berperang kamu mati ditumpukan senjata yang heba-hebat itu ngger.”
 
Dalam kehidupan nyata banyak Bagong-Bagong yang bangga dengan pengetahuan hanya untuk kepuasan diri. Seperti kata St. Paulus kepada Timotus: “ sebab akan datang waktunya, orang tidak dapat  lagi menerima ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran.”
 
Jangan-jangan selama ini aku bersikap seperti Bagong, memuaskan diri dengan banyak ilmu dan spritualitas untuk lari dari kebenaran diri.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 05 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 05 Juni 2020
PW. St. Bonifacius, Uskup dan Martir

Bacaan I: 2Tim. 3: 10-17
Injil   : Mrk. 12: 35-37

PILIHAN
 
Dalam adegan goro-goro di sebuah lakon wayang kulit, ada dialog antara Semar dan anak-anaknya. Dialog ini aslinya dalam bahasa Jawa yang saya terjemahkan bebas.
 
Bagong:
“ Pak, apakah hidup sebagai orang baik dan benar itu harus menderita”

Semar:
“Heeeeh anakku kenapa kamu tanya begitu?”

Bagong:
“itu buktinya, bendoro-bendoro kita Pandawa, hidupnya benar dan baik, tetapi selalu mengalami penderitaan yang seolah tanpa henti. Apakah memang takdir dan kodratnya orang baik dan benar itu menjadi orang menderita.”

Semar:
“ anakku, orang baik  dan benar menjadi orang yang menderita itu bukan takdir dan kodrat ya nak ya “

Bagong:
“ lho nyata di dunia itu begitu kok Pak.”

Semar:
“ Heeeeh anakku jangan mencampur aduk. Harus dipilah-pilah. Pertama hidup menjadi orang baik dan benar itu adalah pilihan. Jadi kamu boleh memilih mau jadi orang baik atau tidak , benar atau tidak. Tidak ada yang bisa memaksakan. Setiap orang punya kebebasan ngger (nak) untuk memilih.”

Bagong:
“Terus hubunganya dengan menderita?”

Semar:
“ Heeeh orang kok gak sabaran. Penderitaan itu konsekuensi dari pilihan untuk menjadi orang baik dan benar. Ketika tatanan masyarakatnya amburadul cenderung tidak baik dan tidak benar maka orang yang memilih menjadi baik dan benar itu menjadi terasing ngger. Keterasingan itu yang menyebabkan penderitaan.
Orang baik dan benar yang hidup dalam tantanan yang amburadul, penderitaan itu seperti bayangan. Selama orang itu ada di tempat yang terang bayangannya selalu ada dan mengikuti, tetapi kalau dia dalam gelap ya gak ada bayangannya lagi. Paham ngger?”

Bagong:
“ he………he”
 
Mengikuti Yesus adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi menderita. Seperti kata St. Paulus kepada Timotius: “Setiap orang yang mau hidup saleh dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.
 
Pilihan hidup mengikuti Kristus tidak harus menderita dan juga belum tentu menderita. Akan tetapi bila penderitaan itu hadir sebagai konsekuensi mengikutiNya, apakah aku siap dan sanggup? Pilihan ada dalam kebebasanku.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 04 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 04 Juni 2020

Bacaan I: 2Tim. 2: 8-15
Injil   : Mrk. 12: 28b-34

SUNYI
 
Ada ungkapan dalam bahasa Jawa
“dadi uwong kuwi aja gumunan lan aja kagetan”.
Ungkapan tersebut secara bebas berarti, Manusia sebaiknya tidak mudah kagum atau terpukau dan juga tidak mudah terkejut.
 
Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar ungkapan itu dipakai untuk bercandaan. Namun sebenarnya ungkapan itu memiliki makna yang amat dalam. Ungkapan tersebut adalah ajakan agar orang berani masuk ke kedalam batin dan berani untuk mengolah rasa. Dengan kemampuan yang terasah  di kedalaman batin dan olah rasa, maka seseorang akan mampu menguasai diri. Dengan penguasaan diri yang mendalam, maka seseorang tidak akan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang lahiriah, hal-hal yang nampak, yang perifer.
 
Hal-hal yang lahiriah, yang nampak, mudah menipu dan menyesatkan. Orang bisa memanipulasi apa yang tampak, demi sebuah kepuasan diri atau usaha membangun citra diri. Apa yang dibangun secara manipulatif, seringkali  sesuatu yang luar biasa, sehingga membuat orang tercengang dan terkejut karena kekagumannya.
 
Orang yang mampu sampai pada penguasaan diri yang mendalam, selalu memancarkan kedalaman batinnya; sehingga yang nampak merupakan buah-buah pengolahan yang mendalam. Dalam diri orang-orang ini amat jelas dalam hidupnya mana tujuan, mana sarana; mana yang utama, mana yang kemudian. Dan dalam hidupnya dengan jelas dan tepat, memilih sarana-sarana terbaik untuk mencapai tujuan.
 
Kiranya ahli taurat yang dipuji Yesus sebagai orang yang bijaksana, karena kemampuannya melihat hal yang utama dalam perintah Allah, dan tidak terjebak dengan ritus-ritus atau tindakan-tindakan yang nampak.
 
Bagaimana dengan diriku? Betapa sering aku masih lebih mementingkan apa yang kelihatan, sehingga kerapkali memanipulasi tindakan. Betapa sering aku menyibukkan diri dengan ritus-ritus dan lupa tujuan dari ritus-ritus itu.
 
Semua itu masih terjadi, kiranya karena aku masing kurang berani masuk ke kedalaman batin, yang berarti aku takut masuk dalam kesunyian.
 
Iwan Roes RD.
 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 03 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 03 Juni 2020
Pw. St. Karolus Lwanga dan kawan-kawan

Bacaan I: 2Tim. 1: 1-3.6-12
Injil   : Mrk. 12: 18-27

TURNING POINT
 
Beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang menggelitik dari seorang teman. Pertanyaannya adalah: “ apakah Inigo akan menjadi Ignatius seandainya tidak ada peristiwa Pamplona?”

Sebagaimana kita ketahui, Inigo seorang perwira dengan ambisi “duniawi” yang luar biasa, kemudian harus terkapar karena kakinya tertembak ketika mempertahankan benteng Pamplona.
Sejak peristiwa itu, dia berbalik dari keinginan “duniawi”, selanjutnya mengarahkan hidupnya sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Kemudian hari Ia dan kawan-kawanya mendirikan tarekat yang diberi nama Serikat Jesus.
 
Pertanyaan teman tersebut mengajak saya untuk merefleksikan bagaimana Allah menuntun seseorang untuk dijadikan alatnya yang luar biasa. Allah mempunyai cara-cara yang unik dan luar biasa untuk membuat orang menjadi sadar dan menemukan titik balik bagi hidupnya. Allah memilih seseorang tidak melihat bagaimana “kelakuan” orang tersebut sebelumnya, tetapi semua bergantung pada kehendakNya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan seperti yang tertulis dalam Surat Paulus kepada Timotius yang kedua:
“Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri.”
 
Kisah Inigo yang kemudian menjadi St. Ignatius dan banyak kisah orang kudus yang lain menunjukkan bahwa Allah memilih seseorang bukan karena kesucian dan kehebatan seseorang. Oleh karenanya St. Ignatius dengan jelas menyebut kelompoknya adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Tuhan.
 
Belajar dari pengalaman Ignatius dari Loyola dan banyak orang kudus lain, titik balik bisa terjadi dalam hidup, manakala seseorang berani membiarkan hidupnya untuk dibentuk dan dituntun Tuhan. Dibentuk dan dituntun Tuhan tidak jarang dirasa seperti dibenturkan pada karang yang keras.
 
Bagaimana dengan Aku? Bagian mana dalam sejarah hidupku yang merupakan titik balik? Dan Bagaimana cara Allah menuntunku, dan membentukku? Adakah aku membiarkan Tuhan untuk membentuk dan menuntunku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.