Renungan Harian: 30 April 2022

Renungan Harian
Sabtu, 30 April 2022

Bacaan I: Kis. 6: 1-7
Injil: Yoh. 6: 16-21

Percaya Saja

“Romo, saya dan suami, dulu waktu mau menikah tidak ada pacar-pacaran seperti anak sekarang. Saya dulu dijodohkan oleh orang tua. Waktu itu bapak saya mengatakan bahwa teman bapak dari desa sebelah datang meminta saya untuk diambil menantu, dijodohkan dengan anak laki-lakinya. Saya tidak kenal sama sekali dengan calon suami saya dan saat itu saya masih berumur 14 tahun. Saya ingat persis malam itu saya sepanjang malam tidak bisa tidur dan menangis. Dalam hati saya tidak ingin menikah, masih ingin tinggal dengan bapak dan simbok saya. Tetapi untuk zaman itu, tidak mungkin saya berani menolak dan melawan kehendak orang tua. Menangis adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengungkapkan perasaan saya.
 
Simbok amat mengerti apa yang saya rasakan. Simbok mendatangi kamar saya dan mengusap-usap kepala saya dengan memberi nasehat:
“Nduk, uripe manungsa kuwi wis pinesthi, wis diatur karo sing kuwasa. Awake dhewe kuwi mung sak drema nglakoni. Bungah susahe wong urip kuwi gumantung karo sing nglakoni. Uripmu bakal bungah yen kowe ikhlas nglokoni manut marang kang nggawe urip. Senajan uripmu paribasan kesrakat lara lapa yen kowe ikhlas lan manut mesti sing Kuwasa bakal maringi dalan lan nguripi. Ora-orane yen kowe nganti ditinggal nglanthung amargo sing Kuwasa kuwi tresnane marang awake dhewe ngluwihi apa sing isa kok bayangke. Wis ya nduk sing ikhlas, Gusti kang murbeng dumadi bakal nuntun uripmu, pokoke percaya wae.”
(Nak, hidup manusia itu sudah ditentukan, sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Kita semua hanyalah sekedar menjalani. Suka duka orang hidup itu tergantung yang menjalani. Hidupmu akan bahagia kalau kamu ikhlas dan taat pada yang Maha Kuasa. Meskipun hidupmu itu nanti miskin dan menderita, kalau kamu ikhlas dan taat maka  yang Maha Kuasa pasti akanmemberi jalan dan menjamin hidupmu. Tidak akan mungkin kalau yang Maha Kuasa meninggalkan kamu begitu saja, karena cintaNya lebih besar dari apa yang dapat kamu bayangkan. Ikhlaslah nak, Allah pencipta semesta pasti akan menuntun hidupmu, percaya saja.)
 
Romo, tahun-tahun pertama sungguh-sungguh berat bagi saya. Saya malu dan takut kalau didekati suami saya. Kalau berjalan saya selalu dibelakang, tidak pernah saya mau jalan itu berdampingan. Belum lagi saya harus bertanggung jawab untuk rumah tangga. Saya harus melayani suami, membantu suami dan segalanya yang pada awal itu amat berat rasanya beban dalam pundak saya itu seperti memikul gunung anakan (bukit). Untunglah suami saya orangnya baik dan sabar. Dia membimbing saya untuk bisa menjadi istri yang baik. Tiap malam suami selalu mengajak saya berdoa. Kami tidak pernah mohon aneh-aneh kami selalu mohon agar kami bisa ikhlas menjalani hidup ini dan taat pada Allah.
 
Romo, dengan cara itu saya dapat menjalani hidup saya hingga saat ini. Kami bisa membesarkan dan mendidik anak-anak kami menjadi orang. Modalnya hanya percaya dan ikhlas untuk taat,” ibu tempat saya menjalani live in berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, gelapnya lautan dan gelora laut serta tiupan angin kencang berhenti karena kehadiran Tuhan. “Ini Aku, jangan takut!”.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Refleksi Sahabat CLC – “ BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang ”

Dalam rangka menyambut Bulan Maria dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Br. Norbert Mujiyana, S.J. atau yang biasa disapa dengan Br. Norbert, S.J. dengan judul tulisan “BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang”.

Br. Norbert, SJ saat ini bertugas sebagai pamong di Seminari Mertoyudan Magelang. Beliau menjadi Pendamping CLC di Magelang (Kelompok Maria Fatima).

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima lokal Magelang

Perutusan Maria : Bunda Allah dan Bunda Kita dalam Rahmat.

Maria: Bunda Allah dan Bunda kita dalam Rahmat “Dan di kaki Salib Yesus berdiri ibu-Nya… Dan ketika Yesus melihat Ibu-Nya dan murid yang dikasihiNya, berkatalah Ia pada Ibu-Nya: “Ibu inilah anakmu!” kemudian kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid terkasih menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19:25-27)

Keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, membiasakan, menanggapi Sabda Tuhan. Sebagai ujud nyata berupaya peduli terhadap sesama, kami beranggapan bahwa, yang terpanggil hidup selibat dalam komunitas Biarawan Biarawati dan berserah kaul TAAT, WADAT, MLARAT, mereka adalah pilihan  Allah.

Sebagai gambaran Sabda, Para Orang Tua Biarawan Biarawati, telah merelakan putra-putrinya untuk melayani Tuhan secara total sesuai dengan komunitas yang dipilihnya. Sudah selayaknyalah para Orang Tua Biarawan Biarawati (‘bagaikan Bunda Maria’) perlu diperhatikan. Kami sebagai keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, menyempatkan, memperhatikan, berkunjung sebagai bentuk sapaan kasih. Tindakan nyata, kami pernah berkunjung ke Orang Tua Rm Leo Agung Sardi, SJ; Orang Tua Rm TB. Gandhi Hartono,SJ; Orang Tua Br Norbert Mujiyana, SJ. Mereka semua juga sebagai Orang Tua kami. Mereka semua merelakan putranya kepada Allah untuk membahagiakan banyak orang, tepatlah kalau kami ikut berbahagia dan menghormati mereka.  Para Orang Tua Romo dan Bruder, pasti mereka  diberikan Rahmat tersendiri dibanding kami sebagai kaum awam oleh Allah. Para Orang Tua Biarawan Biarawati, terutama Ibu mereka adalah Ibu ILAHI, yang mengalir, meluap, terbuka, meluas dan dirasakan banyak orang. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang mengagendakan minimal satu tahun satu kali berkunjung, syukur bisa beberapa kali dalam setahun (minimal saat Paskah atau saat Natal).

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara banyak orang  dan berkata kepada-Nya, “ Berbahagialah Ibu yang mengandung Engkau” dan Susu yang menyusui Engkau” tetapi Ia berkata, yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan FIRMAN ALLAH dan yang memelihara-Nya. (Luk.11: 27-28).

Peristiwa Kalvari, jelas bahwa Maria membawa Kristus kepada dunia. Kristus dan Maria bukan hanya untuk orang Nasaret, tetapi untuk seluruh manusia yang bersatu dengan Kristus dan yang tidak melawan kita.

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, berbahagia diberi kesempatan Tuhan untuk berbagi kasih kepada para Ibu dari para Biarawan dan tidak lepas dari tuntunan Bunda Maria Ibu Yesus. Kami bersama belajar untuk bersyukur, lebih sabar, hidup sederhana, rendah hati, dan ikhlas ketika putera mereka melayani Tuhan. Secara Iman mendalam kami yakin para Orang Tua mereka dipenuhi Rahmat. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang dalam hidup sehari-hari ikut mendoakan Biarawan biarawati, secara khusus kami berdoa untuk para Romo yang mendampingi CLC. Tidak terlewatkan kami selalu mohon Rahmat dari Bunda Maria Ibu Yesus, yang secara optimal mengabulkan doa-doa permohonan kami. Kami juga berziarah Rohani ke beberapa tempat Goa Maria yang bisa kami jangkau. Prinsip Maria adalah Bunda perantara kami semua dan Bunda Penolong.

Dengan memahami Sabda Tuhan tersebut keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, peduli terhadap banyak orang tanpa membedakan agama, kami membantu mereka yang berkesesakan hidup, kaum papa yang membutuhkan uluran tangan kasih, dan kami berusaha untuk mengajak siapapun yang berkehendak baik untuk Memuliakan Tuhan lewat Sesama diabdi (AMDG). Kami saling merindukan untuk bisa bertemu, karena dalam perjumpaan itulah kami bisa saling menguatkan dan yakin Tuhan ada  ditengah-tengah kami semua. Hal yang rutin kami lakukan di rumah masing-masing adalah mendoakan banyak orang  terutama yang sakit dan yang mengalami kesulitan. Dalam pertemuan rutin setiap minggu ketiga kami berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran, dan dirasa sangatlah mengena, yang akan dibahas disampaikan dengan jelas, dipikirkan bersama, dirasakan bersama  dan diputuskan bersama, dan dilaksanakan bersama sehingga kami semua ringan, nyaman dalam kegiatan dan praktis, sehingga muncul rasa kerinduan untuk ingin bertemu. Kami selalu belajar menerapkan kasih, Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Untuk itu kami melakuakan kehendakNya dengan keterbatasan kami, dan kami semua bersyukur karena masih dipercaya Tuhan untuk diutus dan melayani-Nya. Kami berusaha seoptimal mungkin supaya hidup kami bisa menjadi Berkat bagi banyak orang.

Maria jelas Bunda kita, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut kehendakMu” (Lukas 1: 38). Maria Ibu Yesus yang sangat luar biasa, sangat memperhatikan setiap kata dan tindakan Yesus selembut apapun, Maria adalah murid-Nya, “ikutlah Aku”.

Bunda Maria sebagai Bunda Perantara, ketika pesta  dengan penggandaan lima roti dua ikan perjamuan di Kana (Yoh 2 : 1-12).

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, mengimani bahwa Maria adalah Ibu Spiritual, kami semua belajar, meneladan dengan tekun berdoa. Tekun dalam ekaristi, berdoa Rosario, pujian kepada Maria semua itu  merupakan santapan rohani harian bagi kami semua. Nama Maria Bunda Yesus selalu kami sebut dalam setiap peristiwa. Dalam kenyataaan sharing kelompok dalam pertemuan, doa mohon Rahmat dengan pertolongan Maria rata-rata ujub permohonan dikabulkan.

Dengan mendengarkan dan melakukan perintah sang Guru dipadukan dengan kehendak untuk menanggapi kasih keibuan Maria, kita dibentuk sebagaimana Sang Sabda sendiri dibentuk dalam Rahim Perawan dan menjelma menjadi Manusia Baru – Manusia Allah.

Syukur atas kepercayaan Tuhan kepada keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang untuk melayani Tuhan dengan kasih. Kami semua siap diutus Tuhan.  St. Ignatius Loyola doakanlah kami, Santo Santa Pelindung, doakanlah kami. Berkah Dalem Gusti.

Disarikan oleh Ibu Christiana E. Supriyati dan editor Br. Norbert, S.J.

Magelang,  Hari Raya Kerahiman April 2022

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan

.

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

BERZIARAH KE GUA MARIA & BERDOA ROSARIO BERSAMA

Setelah Rosario di Goa Maria Jatiningsih dg Br.. Norbert. SJ

.

Setelah selesai Rosario di Goa Sumur Arum Grabag dengan Br. Norbert, SJ dan Rm. Mario, SJ.

.

(searah jarum jam dari kiri atas) Setelah Rosario di Gereja Boro dengan Br. Norbert, SJ, Setelah selesai Rosario di Gereja Boro Yogyakarta, Ziarah ke Gereja Jago Ambarawa, Setelah selesai Rosario di Gereja Katedral Semarang.

.

Doa Rosario dipimpin Fr. Anes, SJ

MENGUNJUNGI ORANG TUA ASISTEN GEREJANI LOKAL & PENDAMPING CLC Maria Fatima Lokal Magelang

Kunjungan ke Ibu Hardi (Ibunda Rm. TB. Gandhi Hartono. SJ)

Mengunjungi ayahanda Rm Leo Agung Sardi, S.J.

Kunjungan ke ibunda Br. Norbert, S.J.

MENGUNJUNGI ANGGOTA CLC DI MAGELANG YANG SAKIT

Kunjungan Bu Ita (CLC) sakit jantung bocor.
Kunjungan Bpk Giyo (CLC) yang sedang sakit.

.

MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN

Beri bantuan unt Yoga (19 th di kursi dorong).
Ngantar Pakaian Pantas Pakai di Ngablak.

Memberikan bantuan tanaman Lerak di Stasi Tangkil Muntilan.

.

PERTEMUAN ONLINE (lewat zoom)

Minggu, 19 September 2021, pk. 18.00

.

PERTEMUAN OFFLINE (di rumah CLCers)

..

SHARING PERCAKAPAN ROHANI 3 PUTARAN

Pertemuan rutin setiap minggu ketiga: berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran

PERSIAPAN KEGIATAN OFFLINE

.

Br. Norbert, SJ, Frater Blasius OSCO dan tim CLC Magelang pesan tempat Retret untuk tgl 8, 9 Juni 2022.

Rm. E. Sapto Jati Nugroho, S.J. menyiapkan materi Retret 8,9 Juni 2022

Renungan Harian: 29 April 2022

Renungan Harian
Jumat, 29 April 2022
PW. St. Katarina dari Siena

Bacaan I: Kis. 5: 34-42
Injil: Yoh. 6: 1-15

Modal Dengkul

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti perayaan ulang tahun Keuskupan Bandung yang ke 90. Perayaan diselenggarakan di Gua Maria Sawer Rahmat, Cisantana, Kuningan, karena pada perayaan ini sekaligus penetapan paroki baru yaitu paroki Maria Putri Sejati Cisantana.
Upacara berlangsung meriah, perayaan ekaristi dipimpin bapak Uskup Bandung dan 40 imam konselebran dan sekitar 400 umat.
 
Gua Maria Sawer Rahmat berada di ketinggian 700 m dpl, sehingga untuk sampai kesana harus berjalan mendaki. Saya dan banyak pastor merasakan betapa berat perjalanan itu, keringat mengucur meski udara cukup dingin, dan nafas tersengal-sengal. Namun semua itu tidak terasa berat melihat antusiasme umat yang menyambut dan suasana perayaan yang luar biasa. Saya  dan beberapa romo sempat ngobrol betapa luar biasa panitia dan umat yang menyiapkan segalanya. Banyak peralatan dan banyak hal yang harus dibawa ke atas melewati jalanan yang kami lewati dengan tersengal-sengal. Ada tenda, seperangkat gamelan, bangku-bangku yang disediakan di atas belum termasuk sound system dan perangkat yang lain. Selain itu pasti sudah beberapa kali diadakan pembersihan agar tempat itu menjadi tempat yang pantas untuk perayaan.
 
Pada saat sambutan, ketua panitia menyampaikan bahwa mereka semua hanya punya waktu 7 hari untuk mempersiapkan segalanya, karena keputusan untuk perayaan di tempat itu baru 7 hari diberitahukan. Ketua panitia menyampaikan kami tidak mempunyai apa-apa dan juga kemampuan kami juga terbatas untuk menyelenggarakan perayaan ini; kami hanya modal dengkul yang kuat. Sambutan ini mengundang gelak tawa seluruh umat. Tentu ini ungkapan merendah tetapi sekaligus menggambarkan bagaimana beratnya mereka menyiapkan. Satu hal yang menarik bahwa panitia merasa bahagia dan bangga dipercaya untuk menyelenggarakan perayaan besar ini.
 
Sambutan ketua panitia memberikan inspirasi bahwa yang penting bukan soal kemampuan atau apa yang aku punya tetapi kerelaan untuk memberikan. Meski “modal dengkul” tetapi ketika rela untuk dipersembahkan maka menghasilkan karya yang luar biasa. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, meski hanya 5 roti dan 2 ikan yang dipersembahkan namun mampu memberi makan 5000 orang sampai kenyang bahkan sisa 12 bakul penuh. “Di sini ada seorang anak yang membawa lima roti jelai dan mempunyai dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 28 April 2022

Renungan Harian
Kamis, 28 April 2022

Bacaan I: Kis. 5: 27-33
Injil: Yoh: 3: 31-36

Pewarta

Beberapa tahun yang lalu saya diminta membantu untuk mengadakan pembekalan para bidan desa. Pada saat pertama kali bertemu, saya agak ragu benarkah mereka semua ini adalah bidan desa? Dari penampilannya dari sudut pandang saya kok sepertinya tidak menunjukkan bahwa mereka adalah para bidan. Keraguan saya semakin meningkat ketika dalam beberapa kegiatan para bidan itu sering kali tidak menangkap perintah, sehingga apa yang harus dikerjakan diberitahukan berulang-ulang. Berkali-kali terjadi mereka salah mengerti dengan apa yang harus dilakukan; seharusnya mengerjakan A tetapi yang dikerjakan Z.
 
Kejadian-kejadian itu membuat kami semua tertawa. Memang kami menertawakan peserta yang salah mengerti, namun demikian mereka sendiri juga menertawakan diri sendiri. Meski kami tertawa dengan berbagai kelucuan akibat salah mengerti namun tidak jarang kami kehabisan akal untuk menemukan cara menjelaskan kepada peserta. Kami sudah mengupayakan berbagai metode agar apa yang kami sampaikan dapat ditangkap tetapi tetap saja masih banyak yang salah mengerti.
 
Saya amat terkejut ketika para bidan itu diminta bercerita tentang pengalaman mereka dan menjelaskan apa yang mereka lakukan. Mereka bisa bercerita dengan amat menarik, amat hidup dan sungguh-sungguh luar biasa. Para bidan yang pada awal pertemuan terlihat sering tidak mengerti dan salah mengerti sekarang menunjukkan kemampuan diri yang luar biasa. Gambaran awal tentang para bidan desa yang meragukan kini sungguh-sungguh membuat saya yakin bahwa mereka adalah para bidan desa yang luar biasa.
 
Hal penting yang saya tangkap adalah bahwa ketika mereka bercerita atau menjelaskan berdasarkan pengalamannya maka mereka menjadi lebih hidup dan apa yang diceritakan menjadi lebih menarik. Kiranya hal itu yang amat dibutuhkan oleh para pewarta yaitu menyampaikan apa yang dialaminya. Menyampaikan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan menjadi jauh lebih menarik dan bukan pengajaran. Sudah barang tentu tidak menafikan anugerah kurnia Roh Kudus. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 April 2022

Renungan Harian
Rabu, 27 April 2022

Bacaan I: Kis. 5: 17-26
Injil: Yoh. 3: 16-21

Nekat

Suatu siang saya menerima tamu pasangan suami istri dan putrinya. Saat bertemu  dengan pasangan suami istri itu, saya melihat wajah bapak itu nampak seperti seorang yang menahan marah, sedang ibu itu  matanya sembab, sementara anak perempuan itu wajahnya nampak dingin. Saya menyapa mereka dengan senyum dan berusaha untuk mengusir ketegangan dalam diri saya.
 
“Romo, saya tidak tahu harus ngomong apa dengan anak saya ini, saya mohon nasehat romo untuk dia,” kata bapak itu dengan nada yang datar.

“Lho, ada apa mbak? Kok harus romo yang menasehati?” tanya saya dengan senyum.

“Sok (silahkan) kamu cerita sama romo,” bapak itu menyuruh anak perempuannya. Namun anak perempuan itu diam tetap dengan wajah yang dingin.
 
“Romo, saya bingung, sedih dan pengin marah, rasanya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba anaknya bilang kalau mau menikah. Kami berdua orang tua ini belum tahu siapa dan yang mana calonnya. Tidak ada pembicaraan apapun sebelumnya dan kemarin pulang langsung ngomong mau nikah. Saya tanya laki-laki ini orang mana, kerjanya apa, dia tidak mau menjawab. Saya minta laki-laki itu untuk datang lebih dahulu, katanya tidak perlu. Romo, kami orang tua ini jadi bingung, ini mau nikah model apa?” bapak itu menjelaskan.
 
Saya sendiri sungguh-sungguh bingung tidak mengerti harus berbuat apa, karena anak perempuan itu tidak mau menjawab sepatah katapun. Dia hanya diam dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Kemudian saya bicara berdua dengan orang tuanya, untuk mencari tahu lewat teman-temannya yang ada di kota tempat anak perempuan itu kuliah.
 
Sebulan kemudian bapak itu menemui saya kembali dan mengatakan bahwa anak perempuannya sekarang tinggal di rumah. Bapak itu bercerita bahwa anaknya masuk dalam sebuah kelompok atau aliran tertentu yang aneh  dan tidak jelas. Beberapa anak perempuan sudah menjadi “korban” menjadi istri dari anggota kelompok itu. Modusnya sama yaitu nekat, dan setiap ketemu orang tua hanya diam, tidak menjawab agar tidak ada banyak pertanyaan. Artinya pokoknya nikah dan tidak membutuhkan orang tuanya. Dan beberapa kejadian biasanya tidak lama perempuan itu akan diceraikan. Bapak itu bersyukur bahwa anaknya dapat “diselamatkan” meski untuk beberapa saat masih harus didampingi seorang psikolog.
 
Mendengar cerita bapak itu, saya merasakan sebuah kengerian yang mendalam. Saya tidak mengerti itu kelompok apa dan tujuannya apa tetapi menurut saya ada “kejahatan” yang dibuat. Modus diam seribu bahasa untuk memaksakan kemauannya menjadi cara menutupi ketidak jelasan akan banyak hal.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 26 April 2022

Renungan Harian
Selasa, 26 April 2022

Bacaan I: Kis. 4: 32-37
Injil: Yoh. 3: 7-15

Dialog

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang bapak, yang dengan menggebu-gebu bercerita tentang pengalamannya berdialog dengan teman-teman dari agama lain maupun yang tidak beragama. Dari ceritanya yang menggebu-gebu itu saya menangkap bahwa nampaknya yang terjadi bukan dialog tetapi “perdebatan” diantara mereka.
Bapak itu merasa harus membela iman katolik di depan teman-temannya yang menurut bapak itu bukan hanya mempertanyakan tetapi juga menyerang iman katolik.
 
“Romo, benarkan bahwa kita ini sebagai orang katolik, perjalanan hidup kita ini menuju surga? Bukankankah iman kita mengajarkan bahwa dengan kita mengimani Yesus Kristus dan dengan baptis yang kita terima kita diangkat menjadi anak-anak Allah? Dengan demikian kita menjadi ahli waris surga.
 
Romo, mereka itu tidak percaya dan bahkan menghina bahwa orang katolik itu dibodohi oleh para pastor. Teman saya yang atheis mengatakan bahwa surga itu tidak ada. Teman yang lain malah mengatakan: “Kalau benar dengan baptis orang katolik menjadi ahli waris surga kenapa mesti ke gereja dan berdoa, bukannya pasti masuk surga.” Romo, saya marah dan saya menjelaskan tetapi mereka tidak pernah mengerti. Saya jadi terpancing untuk menunjukkan kehebatan agama katolik dibanding agama lain,” bapak itu menjelaskan.
 
“Pak, dengan apa yang bapak lakukan hasilnya apa? Mereka menjadi katolik? Atau Mereka tidak mempertanyakan lagi? Atau malah bapak jadi bermusuhan dengan mereka? Pak, mereka tidak akan mengerti dengan apa yang bapak jelaskan karena mereka punya keyakinan dan pemahaman sendiri. Bapak membela  iman katolik dengan cara seperti itu tidak ada manfaatnya yang ada bapak dan teman-teman bapak itu bermusuhan dan bapak menjadi sakit hati.
 
Usul saya, kalau mereka bertanya, bapak menjelaskan soal mereka percaya atau tidak bukan hal penting tetapi bapak menjawab dan menjelaskan dengan baik. Kalau mereka bermaksud untuk menghina atau merendahkan abaikan saja; iman kita tidak akan pudar karena direndahkan. Kalau bapak mau menunjukkan bahwa bapak adalah seorang yang beriman katolik, tunjukkan lewat hidup bapak sehari-hari. Pergulatan bapak setiap hari jatuh bangun untuk berbuat baik dan hidup yang baik itu perwujudan iman. Misalnya bapak menolong seorang yang menderita; orang melihat bahwa tindakan bapak itu karena dorongan kemanusiaan saja. Anggapan orang itu betul dan tidak salah, tetapi bahwa bapak sebagai orang beriman melihat tindakan itu sebagai wujud kasih bapak pada Allah itu buah refleksi bapak sebagai orang beriman.
 
Orang mengatakan surga itu tidak ada ya biarkan saja. Bapak tidak perlu membuktikan surga itu seperti apa dan dimana. Keyakinan bapak bahwa surga itu ada dan bapak ingin masuk surga sehingga selalu mendorong bapak untuk berani bergulat untuk hidup baik dengan jatuh bangun itu jauh lebih penting.

Kiranya yang penting bukan berdebat dan mempertentangkan iman; yang penting adalah saling mengerti dan memahami adanya perbedaan keyakinan. Kedepankan perwujudan iman dalam hidup sehari-hari itu jauh lebih baik,” jawab saya.
 
Perdebatan, saling merendahkan keyakinan orang lain sering kali menjadi sumber permusuhan dan kebencian. Dialog iman bukan untuk berdebat, bukan pula untuk mencari siapa yang paling baik dan paling benar akan tetapi untuk lebih saling mengerti dan memahami sehingga dari situ akan muncul sikap saling menghormati satu dengan yang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, dialog Yesus dan Nikodemus menjadi dialog yang menyelamatkan karena ada kehendak untuk mengerti dan memahami.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 25 April 2022

Renungan Harian
Senin, 25 April 2022
Pesta St. Markus, Penulis Injil

Bacaan I: 1Ptr. 5: 6b-14
Injil: Mrk. 16: 15-20

Jujur

“Romo, sejak kecil ajaran orang tua yang keras dan selalu saya ingat sampai sekarang adalah jujur. Sejauh saya ingat, saat saya masih kecil rasanya tidak ada masalah dan tidak menjadi beban. Saya mulai merasakan bahwa jujur adalah sesuatu yang sulit dan menyakitkan saat saya sudah mulai SMP.
 
Saat saya mulai sekolah hal yang ditekankan orang tua sebagai wujud jujur adalah disiplin, dan di sekolah tidak boleh mencontek dan apapun dikerjakan sendiri. Nah, saat saya mulai SMP, banyak teman-teman yang mencontek atau berbagai jawaban. Hal itu seolah-olah menjadi pemandangan yang biasa di kelas. Seringkali terjadi bahwa nilai teman-teman saya yang mencontek itu tinggi, bisa 9 atau bahkan ada yang 10, sedang saya hanya dapat 8. Saat itu saya mulai merasa ini tidak adil. Teman-teman saya yang suka mencontek dan dapat nilai-nilai bagus selalu bercerita bahwa mereka tidak pernah belajar, bahkan banyak yang tidak tahu kalau besok ada ulangan. Disamping itu mereka tidak pernah mengerjakan PR di rumah, mereka selalu meminjam jawaban dari teman. Tidak jarang mereka memaksa untuk meminjam. Saya semakin merasakan ada yang tidak adil adalah teman-teman saya yang mencontek itu dipuji-puji oleh para Guru karena nilainya bagus dan seperti mendapatkan keistimewaan dari guru-guru. Teman-teman saya ini selalu dianggap sebagai siswa teladan, karena PR selalu bagus, dan ulangan-ulangan maupun ujian nilainya bagus.
 
Suatu  ketika saya pernah bercerita kepada orang tua tentang apa yang terjadi di sekolah. Tetapi orang tua selalu mengatakan, biarkan saja mereka yang penting saya selalu jujur. Romo, pada masa itu rasanya saya ingin menjadi seperti mereka. Tidak usah belajar tetapi mendapat nilai yang bagus. Romo, saya seringkali menjadi iri dengan teman-teman saya itu karena mereka selalu menjadi juara di kelas dan selalu mendapatkan penghargaan atas nilai-nilai mereka yang bagus.
 
Romo, apa yang saya alami sewaktu saya masih SMP, merasakan adanya ketidak adilan ternyata belum seberapa dibanding dengan saat saya mulai bekerja. Jujur bukanlah tindakan yang popular dan menguntungkan. Sikap jujur saya yang sudah tertanam sejak kecil membuat saya sering menghadapi banyak kesulitan dan tantangan yang tidak mudah. Sikap jujur sering kali membuat saya diajuhi oleh rekan-rekan kerja, membuat saya sering “dibuli” dengan sebutan orang sok suci dan macam-macam. Situasi itu membuat saya seringkali mempertanyakan untuk apa saya bersikap seperti ini. Saya merasa sikap jujur membuat hidup menjadi lebih susah.
 
Belum lagi bila bicara tentang uang. Saya  merasakan sikap jujur membuat saya jauh dari rezeki. Banyak teman-teman secara ekonomi lebih mapan karena keberanian mereka untuk tidak jujur. Sedangkan saya, karena mempertahankan kejujuran ekonominya senin –  kamis. Situasi-situasi itu sungguh-sungguh menjadi pergulatan yang luar biasa bagi hidup saya. Berkali-kali saya sudah membuat keputusan untuk ikut saja arus sebagaimana dihidupi oleh teman-teman saya. Puji Tuhan saya tidak punya keberanian untuk itu sehingga saya tidak jatuh dalam pilihan itu.
 
Romo, kalau saya sekarang melihat semua itu, saya bersyukur bahwa saya berani bertahan untuk selalu mengedepankan kejujuran, walaupun ada banyak hal yang tidak saya dapatkan dengan bersikap seperti itu. Namun hidup saya lebih damai dan tenteram. Romo, godaan itu ternyata selalu membayangi saya hingga saat ini. Meski sudah pensiun ternyata godaan untuk bersikap tidak jujur selalu menjadi bayangan yang mengikuti saya,” seorang bapak mensharingkan pengalamannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Petrus: “Lawanmu, si iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 April 2022

Renungan Harian
Minggu, 24 April 2022

Bacaan I: Kis. 5:12-16
Bacaan II: Why. 1:9-11a,12-13,17-19
Injil: Yoh. 20:19-31

Beriman

Dalam komunitas, kami merayakan kebersamaan dalam setiap peristiwa hidup. Pernikahan adalah salah satunya. Bukan sekali dua kali kami membantu penyelenggaraan Pernikahan anggota komunitas, dari persiapan Misa sampai Resepsi.

Sekali waktu kami membantu perayaan pernikahan salah satu rekan kami. Saat seperti itu adalah saat yg berbahagia buat kami, karena boleh ikut serta dalam sukacita keluarga.

Dari semua persiapan yang mempelai dan keluarga lakukan, kami membantu untuk mengkoordinir dibeberapa hal. Namun satu yg selalu membuat hati kami ciut. Pesta Kebun, dimusim hujan.

Mulai dari persiapan kami selalu bertanya, setengah mengingatkan tentang resikonya. Namun pasangan ini nampak yakin dengan keputusan mereka.
Maka jadilah misa di pagi hari dan resepsi kebun di malam hari.

Acara keluarga dan misa di pagi hari berjalan baik, namun ketika pulang dari Gereja, hujan mulai turun. Kami mulai cemas, terutama mengingat para undangan. Bagaimana kalau tidak ada yang datang? Atau datang lalu kehujanan? Betul bahwa masih ada sudut sudut untuk berteduh, tapi panggung pelaminan ada ditengah kebun tanpa tenda.

Sebagai tim pendahulu, kami sampai lebih awal di tempat resepsi. Diundangan tertulis resepsi dimulai pukul 18.00, sementara di pukul 15.00, hujan turun tampak tak ada rencana berhenti.

Pukul 16.00 mobil pengantin datang untuk bersiap touchup dan makeup mempelai. Masih dengan kecemasan yang sama, kami bertanya apa yg perlu dipersiapkan untuk antisipasi.

“Nanti juga reda” sahut pengantin perempuan sambil tersenyum tanpa beban.

Betul saja, hujan reda tak lama setelah rombongan pengantin dan makeup datang. Staf restoran tampak sigap membersihkan dan mengeringkan kursi meja. Tak lama setelahnya, soundsystem dan pemusik sudah tampak bersiap. Dan kami mulai merapikan meja penerima tamu, persiapan acara dll.

Acara malam itu, indah sekali. Walau bintang tak bersinar terang, tapi tak ada hujan sama sekali, tanah tidak becek, dan udara segar. Lampu lampu kebun dan hiasan jadi maksimal memberi kesan buat semua yg datang.

“Pake pawang loe Dew?” Canda kami disela-sela obrolan selepas acara selesai dan tamu-tamu sudah pulang.

“Novena aja hahahaha” jawabnya ringan sambil tertawa lepas

Kemudian kami tahu, bahwa tentunya semua kemungkinan sudah dipertimbangkan, dan keyakinan mempelai, bukan bahwa tidak akan turun hujan, tapi bahwa Tuhan akan berikan yg terbaik buat mereka. Baik itu dalam kondisi hujan, atau tidak. Mereka percaya, bahwa Tuhan akan berikan yang paling tepat.

Nampaknya beriman bukan sekedar soal fakta dan bukti riil, tapi soal keyakinan akan rencana Tuhan yang lebih besar pada diri kita. Bukan sekedar kebaikan dimata kita, tapi kebaikan yang lebih besar, kebaikan seturut restu Nya.

Ketika kita beriman padaNya, kita tahu kasihnya akan menuntun kita, kendati kita masih belum atau sukar melihatnya.
Seperti tertulis, dalam injil Yohanes, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-BANDUNG

Halo CLC’ers dan sobat Sr. Birgitta OSU

Apa kabar?
Semoga terus sehat dan bersemangat

Bersama dengan pesan ini, kami bermaksud mengundang Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, Suster, dan Romo pada:

Misa Peringatan 40 Hari Wafatnya Sr. Birgitta Brouwers, OSU
Hari /Tanggal : Jumat, 29 April 2022

Tempat :Kompleks Biara Ursulin. Jl. Supratman 1, Bandung
Agenda:
10.00 – 11.00 Misa 40 Hari wafatnya Sr. Birgitta
11.00 -12.30 Sekapur Sirih
12.30 Makan siang

Untuk kelancaran persiapan dan pertemuan, kami mohon agar saudara-saudari melakukan RSVP melalui link berikut ini, selambatnya Senin, 25 April 2022. https://forms.gle/vGskn9cXi2eKua5r6.

Terima Kasih

-Kolegium CLC di Bandung-

Renungan Harian: 23 April 2022

Renungan Harian
Sabtu, 23 April 2022

Bacaan I: Kis 4:13-21
Injil: Mrk 16:9-15

Belajar mendengarkan

“Tenang, tidak perlu parno (paranoid/cemas berlebih), saya sudah lulus TKK P3K Pramuka, masih bisa lah untuk sekedar pasang perban” gurau salah satu anggota Tim gabungan disambung gelak tawa beberapa rekan lain yang hadir di rapat persiapan itu.

“saya bantu, gini gini saya anggota PMR dulu” sambung yang lain.

Pernyataan mereka memberikan alasan, untuk pembatalan anggaran Paramedik, Obat obatan standar dan P3K. untuk kegiatan 2 minggu Kemah Kepemimpinan bagi 32 anak muda, yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Tempat yang aman, nyaman, dengan akses kendaraan yang baik; walau agak jauh dari Rumah sakit; menjadi salah satu alasan pembatalan anggaran tersebut. kami berangkat dengan kotak P3K standar, yang biasa kita jumpai di mobil.

Sebenarnya, usulan Paramedik dan perlengkapan pendukungnya, kami dari tim Fasilitator angkat, mengingat bahwa para peserta akan berkegiatan cukup intens dari pagi sampai malam, ditengah musim hujan di daerah megamendung puncak Bogor. Kegiatan mereka bukan sekedar duduk dengar diam, tapi juga lengkap dengan aktivitas outing dan praktek lapangan. Kondisi tidak fit dan sakit kami yakini akan mengganggu alur kegiatan, dan yang terutama membuat ketidaknyamanan pada peserta. Namun keputusan sudah diambil, dan berkegiatanlah kami, dengan tetap penuh antusias dan semangat.

Hari pertama dan ke-2 dilalui dengan semangat yang luar biasa, baik kami panitia dan peserta, semua begitu bersemangat, kendati mereka tampak lelah karena perjalanan dari tempat asal mereka masing-masing. Masuk hari ke-3, 2 orang peserta minta izin tidak berkegiatan hari itu karena merasa tidak enak badan. dan di hari ke-4 yang diliputi hujan dari subuh, beberapa peserta lainnya merasa pusing pusing, dan izin untuk kembali tidur selepas makan siang. Kondisi ditempat kegiatan mulai tidak nyaman, dan kecemasan tampak dari para mentor. karena mereka yang mendampingi adik adik peserta, dan mereka cemas melihat peserta mulai tumbang karena sakit, satu per satu.

Keputusan perlu diambil, dan kami mendatangkan paramedik dan dokter, untuk memeriksa dan memberi obat dan vitamin pada yang sakit. 2 orang panitia juga diminta untuk membeli beberapa vitamin dan suplemen pendukung bagi para peserta. setelah itu, situasi menjadi lebih membaik, dan beberapa orang diminta secara khusus memperhatikan kondisi kesehatan peserta dan memastikan bahwa mereka meminum vitamin, dan mengenakan baju hangat ketika cuaca kurang baik.

“Mas, kalau kita mempersiapkan diri dari awal dengan tim kesehatan, dan prosedur-prosedurnya, mungkin kita tidak perlu mengeluarkan biaya lebih besar dan kehilangan 2 hari kegiatan karena peserta sakit yah…” ucap seorang mentor saat kami sedang bersiap melakukan rapat evaluasi kegiatan siang hari itu.

“Yah kita belajarlah yah dari peristiwa ini, toh tidak ada yang mau itu terjadi. tugas kita memang untuk mempersiapakan berbagai hal yang dapat menunjang pencapaian target, dan prihal kesehatan memang menjadi perhatian kami, tim fasil, setiap mengadakan kegiatan Camp dengan durasi panjang dan dilingkungan yang baru bagi peserta. terutama saat kegiatan tidak hanya di dalam ruangan” jawab saya

“iya yah mas, sebenarnya mas sudah sampaikan potensi potensi gangguan karena kondisi kesehatan peserta, tapi sepertinya kami memang tidak mengenali dan memahami maksudnya, dan kita baru pertama kali bekerja bersama mas, jadi tampaknya kami abai memberi perhatian. maaf yah mas, kami perlu belajar lebih mendengarkan” ucapnya menutup evaluasi kecil diantara kami, sebelum kemudian di evaluasi resmi, hal ini diungkap dan menjadi pembelajaran bersama.

kita perlu belajar mendengar dari siapa saja, dan memberi ruang yang cukup luas untuk memahami pendapat, keprihatinan dan harapan mereka. kita bukan saja diharapkan membangun komunikasi, tapi lebih lanjut lagi membangun kepercayaan dengan sesama. sesama kita bisa jadi mereka yang dekat dengan kita dan sudah kita kenal, tapi sesama kita juga adalah mereka orang asing yang ada disekitar kita.

kita bisa belajar dari pengalaman para rasul. Maria Magdalena memberi tahu mereka akan kebangkitan Kristus, tapi mereka masih ragu. apakah karena seorang perempuan yang mengatakannya? Dua murid yang bertemu dengan Yesus dijalan, juga mengatakan hal yang sama, mereka masih juga ragu. Apakah karena yang mengatakan bukan dari bilangan mereka ber-11, sehingga dianggap orang luar?

Nampaknya Yesus sedang mempersiapkan para rasul untuk mau mendengar dengan baik dan percaya dengan tulus. Bisa saja Yesus langsung menghadirkan diri diantara mereka dari awal kebangkitannya, tapi akankah itu mengajaran para rasul untuk mendengar dan percaya pada sesama mereka, pada Yesus Tuhan yang hadir dalam keseharian dan lewat berbagai sosok yang akan mereka jumpai dalam perutusan mereka.

“Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya”

maukah saya, membuka hati untuk mendengar? mampukah kita belajar mendengar dengan hati yang terbuka akan kehadiran Tuhan lewat sesama? mampukah saya membangun kepercayaan pada sesama? mari mohon rahmat Tuhan untuk menemani kita belajar lagi.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.