Renungan Harian: 10 Oktober 2021

enungan Harian
Minggu, 10 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXVIII

Bacaan I: Keb. 7: 7-11
Bacaan II: Ibr. 4: 12-13
Injil: Mrk. 10: 17-30

Frustasi

Beberapa tahun yang lalu saya menerima tamu pasangan suami istri yang baru 5 tahun menjalani hidup perkawinan. Mereka datang untuk ngobrol tentang hidup perkawinan mereka.
 
“Romo, kami berdua sekarang ini merasa jenuh dan seperti putus asa dengan hidup perkawinan kami. Kami seperti  dihadapkan dengan jalan buntu, dan tidak tahu bagaimana bisa menemukan jalan keluarnya. Beberapa hari ini kami berpikir bahwa mungkin pilihan kami untuk menikah ini salah, sehingga kami sepakat untuk berpisah.
 
Kami masih saling mencintai dan tidak ada masalah dengan orang lain ataupun masalah ekonomi. Kami amat sadar bahwa sumber permasalahan ada dalam diri kami masing-masing dan tidak ada titik temu. Sejak awal pacaran kami berdua mempunyai mimpi keluarga yang baik, bahagia dan sejahtera. Kami ingin punya rumah yang ramah dengan anak-anak, kami ingin menjadi  orang tua yang baik untuk anak-anak. Kami berdua sepakat untuk berjuang mewujudkan mimpi kami. Bahkan kalau sampai sekarang kami menunda untuk mendapatkan momongan karena itu bagian dari persiapan kami untuk mewujudkan mimpi kami.
 
Saat kami memutuskan untuk menikah, kami banyak belajar dari buku-buku tentang perkawinan; bagaimana menjadi suami yang baik, bagaimana menjadi istri yang baik, bagaimana menjadi orang tua yang baik, pengaturan ekonomi rumah tangga. Intinya memang kami sungguh-sungguh ingin membangun keluarga yang baik dan bahagia.
 
Namun dalam perjalanan hidup perkawinan, kami justru sering ribut, dan tidak jarang berkepanjangan. Saya maunya menjadi suami yang baik dengan cara seperti yang saya pahami. Namun apa yang ditangkap istri saya justru sebaliknya; saya menampilkan diri menjadi suami yang sok suci, sok mengatur dan membuat istri saya menderita, demikian sebaliknya romo. Kami jadi sering cekcok dan bertengkar, sungguh-sungguh bertengkar karena kami merasa melakukan yang terbaik tetapi apa yang ditangkap kok sebaliknya. Kami tidak terima bahwa kami disalahkan dan yang terjadi kami saling menyalahkan. Semakin hari semakin banyak pertengkaran sehingga kami berpikir bahwa keluarga yang kami mimpikan tidak akan terbangun. Dengan dasar itu untuk apa kami melanjutkan perkawinan ini, lebih baik kami berpisah,” bapak muda itu menjelaskan persoalan rumah tangganya. Istrinya mengamini dan sering menambahkan kisah kerunyaman keluarga itu.
 
“Mas, mbak, kalian berdua adalah orang-orang hebat; kalian berdua adalah pasangan yang luar biasa. Kalian berdua sadar betul akan tujuan hidup perkawinan dan mau berjuang untuk mewujudkannya. Semua itu hebat dan luar biasa. Menurut saya apa yang hilang adalah seperti yang dikatakan Paus Fransiskus adalah kesadaran bahwa kalian ini orang yang tidak sempurna. Mas adalah seorang pria yang tidak sempurna lahir dari keluarga yang tidak sempurna; Sementara mbak adalah seorang perempuan yang tidak sempurna lahir dari keluarga yang tidak sempurna pula. Nah sekarang kalian mau membangun keluarga yang sempurna dengan menuntut kesempurnaan pasangan kalian; serta ingin segera terwujud keluarga yang sempurna. Itu aneh dan menurut saya sinting. Maka sekarang sadari betul bahwa saya bukan orang sempurna yang menikah dengan orang yang tidak sempurna pula. Maka usaha membangun keluarga yang sempurna harus diperjuangkan dari kesadaran ketidak sempurnaan ini. Belajar untuk saling memahami kekurangan, belajar mengampuni kekurangan dan juga berani mengakui kekurangan. Itu yang kalian usahakan dan perjuangkan sedangkan kesempurnaan sendiri biarlah Allah yang akan menganugerahkan,” kata saya menenangkan mereka.
 
Betapa banyak orang yang ingin menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri dan seolah-olah dapat diraih dengan usaha sendiri dan dengan bayangan sendiri lupa bahwa kesempurnaan hanya terjadi dengan rahmat Allah.  Apa yang terjadi menjadi frustasi.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu mengandalkan kekuatan sendiri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 9 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 09 Oktober 2021

Bacaan I: Yl. 3: 12-21
Injil: Luk. 11: 27-28

Tidak Pernah Selesai

Dalam sebuah kunjungan keluarga, saya mengunjungi seorang ibu yang sudah sepuh. Ibu  itu meskipun sudah sepuh tetapi masih kelihatan segar dan sehat. Aku di terima di ruang tamu beliau yang cukup nyaman. Dinding ruang tamu itu penuh dengan foto-foto keluarga. Saat saya melihat-lihat foto-foto itu, ibu menjelaskan satu persatu putra putrinya. Ibu itu menjelaskan mulai dari putranya yang pertama sampai yang ke lima. Beliau detail menjelaskan satu persatu, putranya lulus kuliah dari mana, kerja di mana, menantunya berasal dari mana, cucu-cucunya sekolah dimana semua lengkap. Ada rona kebahagiaan dalam diri ibu itu ketika menjelaskan tentang putra-putrinya.
 
“Wah luar biasa ya ibu, semua putra-putrinya sudah sukses, sekarang ibu tinggal menikmati keberhasilan putra-putri dan mendampingi mereka,” kata saya membuka percakapan.

“Betul romo, saya sekarang setiap hari bersyukur untuk semua yang telah saya terima dan alami. Saya setiap hari masih juga berdoa untuk anak, mantu dan cucu saya agar mereka selalu dalam lindunganNya. Saya bangga dengan mereka, karena mereka semua itu anak-anak yang mau prihatin. Bapaknya dipanggil Tuhan saat mereka masih kecil-kecil yang paling besar baru SMA dan paling kecil masih TK kalau tidak salah. Mereka tidak pernah menyusahkan, mereka anak-anak yang “nrimo” (rela menerima apa adanya) tidak pernah menuntut dan bahkan mereka tidak malu untuk mengantar makanan yang kami jual,”ibu itu bercerita.
 
“Luar biasa ibu. Sekarang ibu sudah lega ya, semua sudah mentas, sudah mandiri, sudah sukses,” kata saya.

“Ya lega tidak lega romo. Satu sisi saya sudah lega mereka sudah mentas dan berhasil dalam hidup mereka. Tetapi sebagai ibu, tugas saya belum selesai, dan mungkin tidak pernah selesai. Meskipun mereka sudah dewasa tetapi sebagai ibu selalu ada rasa was-was penuh harapan, agar anak-anak, menantu dan cucu tetap hidup rukun, tenteram dan tidak kekurangan suatu apapun. Maka saya tidak pernah berhenti berdoa untuk mereka. Saya sudah tidak lagi bisa mengatakan ini atau itu seperti dulu waktu mereka masih tinggal bersama saya; maka dengan doa saya menemani dan menjaga mereka.
 
Saat mereka menelpon menyampaikan kabar semua baik-baik saja, bagi saya sudah suatu kebahagiaan dan syukur;  meski untuk itu amat jarang karena kesibukan mereka. Kadang saya mau menelpon mereka atau minta mereka pulang; tetapi tidak pernah saya lakukan karena mereka sudah punya keluarga dan kesibukan masing-masing. Maka ya itu romo hanya doa dan doa yang saya lakukan. Saya masih selalu memohon agar pada saat nanti saya dipanggil Tuhan tetap selalu menjaga dan melindungi anak-anak saya,” ibu itu menjelaskan.
 
“Itulah ibu,” kataku dalam hati. Sosok yang telah memberikan dirinya, memberikan cintanya sehabis-habisnya pada putra dan putrinya. Kehebatan seorang ibu bukan pertama-tama pada keberhasilan putra-putrinya tetapi pada kesetiaannya menerima panggilan dan perutusan sebagai ibu dengan sepenuh hati dan sepenuh dirinya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus memuji ibuNya karena kesetiaannya dalam panggilan dan perutusanNya sebagai ibu. “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Acara Senin Kedua

Kami mengundang Anda untuk bersama-sama mendengarkan Romo Peter B. Devantara S.J. yang ingin Berbagi Pengalaman Karya JRS (Jesuit Refugee Service) di Indonesia. Ada banyak kisah pilu para pengungsi. Tentu juga ada karya-karya yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaan mereka. Kita juga bisa bertanya ‘apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu para pengungsi’?

Acara ini kami selenggarakan pada:
Hari Senin
11 Oktober 2021
Pukul 7 malam (19:00 WIB)

Acara ini sifatnya terbuka untuk semua sahabat CLC, komunitas-komunitas Ignasian, atau siapa saja yang berminat untuk mengenal cara hidup Ignasian. Oleh karena itu, kami mohon bantuannya untuk menyebarkan undangan ini ke kelompok CLC atau teman Anda.

Tautan Zoom
https://us02web.zoom.us/j/81896102022?pwd=MVk0alNtNklIUUJJN1Z5MS9kU21oQT09
Meeting ID: 818 9610 2022
Passcode: clc

Berkah Dalem. AMDG

CLC Yogyakarta

Renungan Harian: 8 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat,08 Oktober 2021

Bacaan I: Yl. 1: 13-15; 2: 1-2
Injil: Luk. 11: 15-26

Menjual Setan

Beberapa tahun yang lalu saya diminta oleh sebuah keluarga untuk memberkati rumahnya. Saya dengan senang hati melayani dan meminta agar mengundang warga di lingkungannya. Harapan saya agar keluarga ini kenal dengan warga lingkungannya, karena saya menduga bahwa pemberkatan ini untuk rumah baru.
 
Pada hari yang ditentukan saya datang ke rumah keluarga tersebut. Pada saat saya sedang mempersiapkan peralatan misa, tuan rumah menghampiri saya dan menyampaikan bahwa tahun lalu rumah ini sudah diberkati seorang imam.  Saya agak terkejut dan bertanya mengapa mesti ada pemberkatan lagi, kalau tahun lalu sudah pernah diberkati. Bapa itu mengatakan bahwa rumahnya ada “penunggunya” yang kembali lagi. Pada saat pemberkatan rumah tahun lalu dilakukan acara pengusiran “penunggu” tetapi sekarang keluarga itu merasa bahwa penunggunya kembali lagi.
“Bapak pernah melihat dan mengenali “penunggu” rumah ini?” tanya saya.

“Belum pernah romo, tetapi saya bisa merasakan bahwa penunggu itu kembali lagi,” jawabnya.

“Bagaimana bapak tahu bahwa rumah ini ada “penunggunya” ?”, tanya saya.

“Wah ceritanya panjang romo,” jawab bapak itu.
 
“Romo 20 tahun lalu kami mulai menempati rumah ini. Kami bersyukur bisa membeli rumah ini, setelah sekian lama kami menjadi “kontraktor”. Tahun lalu saat seorang romo mengunjungi rumah kami, romo itu mengatakan bahwa rumah kami ada “penunggunya” berdiam di bawah tangga itu. Menurut romo itu, penunggu itu memberi hawa panas yang negatif, kalau dibiarkan akan menimbulkan perpecahan dalam keluarga. Saya jadi tersadar mengapa selama ini saya mudah emosi dan sering cekcok dengan istri, ternyata karena “penunggu” itu. Kemudian romo itu mengusulkan agar rumah kami diberkati lagi dengan beberapa syarat yang diminta. Jadi tahun lalu rumah kami diberkati,” bapak itu menjelaskan.
 
“Apakah sebelum menempati rumah ini, bapak tidak pernah emosi dan cekcok?” tanya saya penasaran.

“Ya emosi, namanya juga manusia ya romo. Dan namanya hidup berkeluarga cekcok menurut saya lumrah,” jawab bapak itu.

“Terus setelah “penunggu” itu diusir, bapak tidak emosi lagi?” tanya saya.

“Masih romo, tetapi yaaa berkurang. Tetapi akhir-akhir ini menjadi sering dan mudah emosi,” jawab bapak itu.
 
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya menjadi gundah, kegundahan saya adalah apa pentingnya seseorang mengatakan bahwa rumah ini atau tempat itu ada penunggunya.

Saya menghargai adanya orang-orang tertentu mempunyai karunia tertentu tetapi dengan mengatakan ada “penunggu” bukannya membuat keluarga yang awalnya biasa-biasa menjadi resah. Dan lebih lagi membuat mereka semakin lebih percaya dan merasakan kehadiran “penunggu” daripada kehadiran Allah? Kalau itu dikatakan pada umat bukankah akan membuat iman umat semakin “kacau” dari pada semakin diteguhkan.  Tidak usah dikatakan pun umat lebih senang dan lebih mudah bicara tentang “penunggu” daripada bicara tentang imannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus berhadapan dengan umat yang lebih percaya pada kuasa-kuasa “setan” daripada kuasa-kuasa Allah.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku lebih percaya dan lebih mengalami kehadiran Allah atau kehadiran “setan”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 7 Oktober 2021

Renungan Harian
Rabu, 07 Oktober 2021
PW. SP. Maria Ratu Rosario

Bacaan I: Mal. 3: 14-4: 2a
Injil: Luk. 11: 5-13

Mengetuk Pintu Tuhan

“Saat anak-anak sudah tidur, aku ngajak ngobrol istriku. Aku menyampaikan niatku untuk gabung ke ojol (ojek online). Istriku spontan tidak setuju karena dia malu dengan tetangga dan teman-temannya. Aku menjelaskan bahwa ini adalah pilihan yang bisa kita tempuh agar dapur kita tetap ngebul. Kalau memikirkan malu maka keluarga tidak akan makan lagi. Memang kami masih punya sedikit tabungan, tetapi pasti akan habis. Istriku mengatakan bahwa kami harus memperbanyak doa agar situasi segera pulih dan aku dapat bekerja. Doa yang sungguh-sungguh  pasti Tuhan akan memberi jalan. Aku mengatakan bahwa dengan bekerja adalah salah satu cara untuk menemukan jalan itu. Setelah pembicaraan yang amat panjang, istriku setuju meski aku tahu pilihan ini berat bagi dia.
 
Jadilah aku seorang driver ojol. Sehari aku pulang membawa uang kadang seratus ribu, kadang lima puluh ribu, ada kalanya dapat tiga ratus ribu bahkan kadang tidak dapat sama sekali. Aku bersyukur dengan apa yang kuterima meski sedikit tetapi bisa untuk makan sehari-hari. Suatu malam istriku mengatakan bahwa dirinya akan jualan kopi, gorengan dan masakan untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Aku terkejut dengan niatnya, maka aku menegaskan apakah dirinya tidak malu. Dia mengatakan bahwa ini cara untuk mengetuk-ngetuk pintu agar dibukakan jalan. Aku bersyukur dengan niat istriku. Istriku mengatakan mungkin dengan jualan seperti itu tidak akan memberi keuntungan banyak banyak tetapi minimal kami bisa ikut makan.
 
Puji Tuhan, seiring berjalannya waktu warung kopi istriku semakin ramai bahkan sering mendapatkan pesanan nasi bungkus. Karena semakin sibuk maka istriku memintaku untuk berhenti jadi driver ojol dan membantunya berjualan. Aku setuju membantu istriku sehingga kami berdua mengelola warung. Ternyata inilah jalan yang diberikan Tuhan untuk keluarga kami. Warung kami yang kecil sekarang sudah menjadi besar, banyak pelanggan sehingga hampir setiap hari selalu ada pesanan. Untuk memenuhi kebutuhan warung maka kami mempekerjakan 2 orang untuk membantu.
 
“Syukur kepada Allah ya mas, akhirnya Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Tidak henti-hentinya kita mengetuk-ngetuk pintu Tuhan dengan doa dan kerja keras kita. Ternyata mengetuk pintu harus dengan keringat dan air mata ya mas,” kata istriku.
Aku tidak bisa berkata-kata selain aku hanya memeluk istriku dan mengucap syukur,” seorang bapak membagikan kisahnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan selalu menyediakan rahmat dan berkatNya bagi mereka yang meminta kepadaNya. “Aku berkata kepadamu, mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku meminta kepada Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 6 Oktober 2021

Renungan Harian
06 Oktober 2021

Bacaan I: Yun. 4: 1-11
Injil: Luk. 11: 1-4

Berubah

“Hari itu rasanya menjadi hari yang melelahkan. Ada banyak pekerjaan kantor dan berbagai masalah di kantor yang harus saya selesaikan. Kurang lebih jam 10 malam aku baru masuk rumah. Aku lihat anak-anakku sudah tidur, sedang istriku menungguku sambil terkantuk-kantuk. Istriku menyapaku dan meminta saya untuk segera mandi agar aku bisa segera istirahat. Saat sudah berbaring dan mulai mau tidur tiba-tiba handphone ku berdering, aku mengabaikan karena aku sudah amat penat. Istriku yang melihat dan mengatakan bahwa itu ibu yang menelpon. Aku agak terkejut karena tidak biasanya ibu menelpon malam-malam begini. Di seberang sana kudengar suara ibu yang menangis, aku semakin gundah dan bertanya ada apa. Aku khawatir ada apa-apa di rumah, ada apa dengan bapak.
 
Setelah beberapa saat ibu menjelaskan bahwa bapak baik-baik dan ibu juga baik-baik. Kata-kata ibu membuat aku bernafas lega. Ibu meminta tolong aku agar aku menebus adikku yang ditangkap polisi karena kasus narkoba. Saya agak jengkel mendengar berita itu dan permintaan ibu. Saya mengatakan agar ibu tenang-tenang dan tidak usah lagi berpikir untuk menebus adik. Ini sudah kali ketiga adikku ditangkap dan menurutku saatnya adikku harus menanggung resiko dari perbuatannya. Sebelumnya adikku selalu ditebus dan meski adik berjanji tidak akan mengulangi lagi tetapi tetap saja tidak pernah berubah. Orang tuaku sudah habis-habisan membantu adik belum lagi banyak barang ibu yang hilang diambil adik untuk membeli narkoba.
 
Ibu tetap bersikeras agar aku menolong adik. Ibu tidak rela dan tidak mau adik menderita dalam penjara. Ibu selalu berharap bahwa dengan ditebus adik menjadi sadar dan berubah. Aku tidak setuju dengan pendapat ibu. Adik akan berubah kalau adik mengalami beratnya hidup di penjara. Adik harus mengalami sesuatu yang berat agar dia menjadi sadar. Kalau setiap kali ditangkap dan ditebus adik akan keenakan dan tidak akan pernah sadar. Ibu jengkel dan marah dengan sikapku, dan ibu mengatakan kalau tidak mau menolong ya sudah, tetapi tidak usah mengajari ibu. Saya agak terkejut dengan jawaban ibu seperti itu. Ibu kemudian mengatakan bahwa kalau saya tidak bisa membantu ibu akan menjual rumah agar bisa menebus adik.
 
Saya jengkel dengan semua ini. Sebenarnya saya amat marah dengan adik saya karena selalu merepotkan orang tua, dan tidak pernah mau mengerti tentang itu. Aku jengkel dengan ibu karena terlalu memanjakan adik sehingga dia tidak mau berubah.

“Mas, ibu melakukan ini semua karena ibu mencintai anak-anak ibu. Mungkin ibu salah tetapi ibu yakin bahwa adikmu hanya bisa berubah kalau dia dicintai bukan dihukum,” ibu menjelaskan.

“Tetapi sampai kapan ibu akan melakukan semua ini?” tanyaku.

“Ibu tidak tahu sampai kapan, yang pasti selama ibu masih hidup ibu akan melakukan semua ini,” jawab ibu.

“Mas, kalau kamu benci dengan adik, itu hakmu, tetapi ingatlah dia adikmu. Mas tidak mau menolong dengan semua alasan mas, ibu mengerti, amat mengerti malah. Tetapi ibu mohon, tolong cintai dia,” tambah ibu. Aku jadi lemas tidak berdaya mendengar kata-kata ibu.
 
Aku segera bangun dan pergi mengurus adik. Menjelang pagi, semua urusan bisa selesai dan aku membawa adik pulang. Di jalan adik minta maaf sudah merepotkan dan mengatakan banyak hal yang bagi saya sudah tidak penting lagi. Meskipun aku marah dan jengkel tetapi aku mengatakan bahwa  aku tidak apa-apa dan aku melakukan ini karena sayang sama dia. Adik memelukku sambil menangis dan berjanji untuk tidak lagi. Dia minta tolong untuk dibawa ke tempat rehabilitasi, dia sungguh mau berubah,” seorang teman berkisah.
 
Cinta seorang ibu yang luar biasa, yang seringkali tidak masuk akal dan seringkali bisa dikatakan salah. Namun cinta ibu adalah cinta yang luar biasa, cinta yang memberi hidup dan menghidupkan. Sebagaimana sabda Tuhan hari sejauh diwartakan dalam kitab Yunus, cinta Allah yang begitu besar pada umat Niniwe menjadikan Ia menyelamatkan dan melepaskan dari hukuman. “Layakkah engkau marah?”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai cinta yang memberi hidup dan menghidupkan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 5 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 05 Oktober 2021

Bacaan I: Yun. 3: 1-10
Injil: Luk. 10: 38-42

Pengakuan

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan tamu seorang anak muda yang ingin ngobrol. Dalam pembicaraan, anak muda itu bercerita bahwa dirinya baru saja mengundurkan diri dari tempatnya bekerja; dan menurutnya ini sudah yang ketiga kali dirinya mengundurkan diri dari tempat kerja. Saya bertanya untuk memastikan dan menegaskan apakah anak muda ini mengundurkan diri atau “dipaksa” untuk mengundurkan diri. Anak muda itu menegaskan bahwa dirinya sungguh-sungguh mengundurkan diri. Dia mengatakan alasan mengundurkan diri karena dia sulit sekali untuk konsentrasi dalam bekerja, sulit untuk bekerjasama dengan rekan kerja sehingga banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Dia merasa gagal untuk mewujudkan idealismenya dalam  bekerja.
 
Dalam pembicaraan terungkap kalau mengerjakan suatu hal, dia punya idealisme bahwa pekerjaan ini seharusnya dilakukan dengan cara demikian.  Banyak hal yang ada dalam pikirannya adalah seharusnya begini, seharusnya begitu; akibatnya menjadi tidak fokus pada hal yang sedang dihadapi. Rekan-rekan kerjanya amat sulit memahami cara berpikir dan cara kerjanya, meskipun mereka mengakui bahwa apa yang dipikirkan baik. Dampaknya banyak rekan kerja menyerahkan seluruh tanggung jawab ada pada dirinya, dan rekan kerja mendukung sekedarnya. Hal seperti itu membuat dirinya terbebani dan merasa sulit bekerja sama dengan rekan-rekannya karena merasa tidak didukung oleh rekan-rekannya. Sementara rekan-rekan kerjanya merasa bahwa anak muda ini terlalu banyak tuntutan yang menurut mereka aneh. Hal sederhana menjadi rumit, hal yang seharusnya bisa dikerjakan cepat menjadi lebih lama.
 
Setelah berbicara panjang lebar dengan anak muda ini sudah tentu bukan bermaksud menghakiminya, saya saya menangkap bahwa anak muda ini butuh pengakuan dalam banyak hal. Dia anak yang pandai, hal itu dibuktikan dengan hasil studi sejak sekolah dasar hingga lulus kuliah S2. Namun apa yang telah dicapainya seolah tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dia merasa sudah berjuang maksimal untuk memberikan hasil yang terbaik tetapi dia merasa tidak ada yang menghargai dan mengakui apa yang telah dicapainya. Demikian juga ketika masuk dunia kerja, dia ingin membuktikan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kerja kerasnya untuk mendapatkan pengakuan (yang tidak disadarinya) membuat dirinya sering kali kehilangan fokus dan prioritas atas apa yang sedang dikerjakan. Dia sibuk dengan idealismenya dan seharusnya- seharusnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan akan pentingnya menentukan mana prioritas utama mana yang kemudian. Marta ditegur Yesus bukan karena kerja kerasnya tetapi karena tidak mampu memilih prioritas utama. Marta melakukan untuk karena membutuhkan pengakuan akan apa yang telah dikerjakan. “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku telah mampu memilih bagian yang terbaik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 4 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 04 Oktober 2021
PW. St. Fransiskus Assisi

Bacaan I: Yun. 1: 1-17; 2: 10
Injil: Luk. 10: 25-37

Terkotak-kotak

“Sebagaimana telah menjadi kebiasaan keluarga kami setiap menjelang hari natal kami sibuk membantu ibu. Sejak seminggu sebelum natal, ibu selalu menyiapkan kue-kue kering dan kacang bawang untuk menyambut tetangga-tetangga yang datang mengucapkan selamat natal. Sehari sebelum natal ibu membuat kue bolu untuk hantaran bagi tetangga-tetangga. Itulah kebiasaan di kampung kami. Setiap natal tetangga-tetangga datang ke rumah kami untuk mengucapkan selamat natal, dan ibu akan mengantarkan kue bolu ke tetangga. Demikian juga saat lebaran idul fitri, rumah kami kebanjiran ketupat opor sambal goreng dari tetangga yang merayakan idul fitri. Setiap selesai solat idul fitri kami sekeluarga akan berkunjung ke tetangga untuk mengucapkan selamat idul fitri dan bermaaf-maafan.
 
Natal tahun ini terasa amat berbeda, dan membuat ibu amat bersedih. Beberapa kue bolu yang dihantar ke tetangga banyak yang ditolak disertai permohonan maaf yang besar. Ibu bukan hanya sedih tetapi juga bingung dengan peristiwa ini. Ibu merasa hari-hari ini, juga selama ini, tidak ada masalah dengan tetangga-tetangga yang menolak kue bolu hantaran keluarga kami. Bahkan tadi pagi beberapa dari mereka bersama-sama ibu ke pasar dan tidak ada masalah apapun. Ibu semakin terkejut dan sedih karena beberapa tetangga mengatakan mohon maaf bahwa mereka tidak bisa datang berkunjung ke rumah kami dan mengucapkan selamat natal karena dilarang.
 
Ibu duduk terdiam di ruang tamu, matanya basah oleh air mata. Ibu bertanya kepada bapak berkaitan dengan kejadian natal tahun ini. Ibu terkejut dan sedih dengan perubahan yang seolah datang tiba-tiba di kampung kami. Kampung yang sejak dulu guyup rukun; semua seperti saudara sekarang terasa ada sekat-sekat yang membatasi. Meski dalam keseharian tidak terlihat sekat-sekat itu tetapi saat perayaan keagamaan terutama idul fitri dan natal terasa sekat itu.
“Ibu tidak usah berpikir yang berat-berat. Jangan terlalu diambil hati. Apa yang penting adalah kita jangan berubah. Kita mau mengantar bolu, ya mengantar bolu, kalau ditolak ya sudah. Nanti kalau lebaran kita seperti biasa berkunjung kalau ditolak ya tidak apa-apa. Sebenarnya mereka, tetangga-tetangga itu kasihan, karena mereka bertindak demikian karena takut,” kata bapak menenangkan ibu. Ibu tidak menjawab tetapi sepertinya kata-kata bapak cukup menghibur dan menguatkan ibu,” seorang anak muda berkisah tentang perubahan di kampungnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengajarkan agar kita membongkar sekat-sekat yang memisahkan persaudaraan antar manusia. “Dan siapakah sesamaku manusia?”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani membangun jembatan yang menghubungkan persaudaraan antar manusia?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 3 Oktober 2021

Renungan Harian
Minggu, 03 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXVII

Bacaan I: Kej. 2: 18-24
Bacaan II: Ibr. 2: 9-11
Injil: Mrk. 10: 2-16

Bahasa Cinta

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang liburan di pantai, saya tertarik memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain pasir. Mereka dengan cara dan minatnya bermain pasir dengan gembira. Beberapa dari mereka membuat semacam bangunan; beberapa membuat semacam kolam dan entah apalagi yang tidak bisa saya identifikasi bentuknya.

Dari banyak anak-anak yang sedang bermain itu, mata saya tertuju pada 3 orang anak kecil yang sedang bermain pasir. Dari perawakan kelihatan bahwa 2 orang anak adalah orang asing sedangkan satu anak adalah orang Indonesia.
 
Menarik menyaksikan ketiga anak kecil dari 2 bangsa yang berbeda bermain dan tertawa bersama. Saya menduga bahwa 2 anak yang sebut sebagai orang asing orang tuanya sudah lama tinggal di Indonesia sehingga anak-anak mereka sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia.

Saya terkejut ketika saya tahu bahwa ternyata ketiga anak itu tidak menggunakan bahasa Indonesia. Sejauh saya tahu satu anak berbahasa Inggris, satu anak berbahasa Perancis dan satu anak berbahasa Indonesia. Mereka masing-masing menggunakan bahasanya sendiri-sendiri dalam berkomunikasi. Saya sungguh-sungguh takjub dengan pemandangan itu. Tiga orang anak kecil dengan 3 bahasa yang berbeda bisa main bersama dan tertawa bersama. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa saling mengerti bahasa satu sama lain, karena sejauh pengamatan saya mereka seolah bisa saling mengerti apa yang dikatakan satu dengan yang lain.
 
Hal yang lebih mengherankan adalah ketika mereka dipanggil orang tua masing-masing diberi minum dan makanan, anak-anak itu kembali berkumpul dan dengan bahasa masing-masing saling menawarkan makanan yang mereka punya. Entah bagaimana mereka bisa saling berbagi dan makan dengan riang. Saya tidak habis pikir apa yang membuat mereka bisa tertawa bersama, bahkan sampai terkekeh-kekeh. Saya iseng bertanya pada orang tua anak kecil yang dari Indonesia apakah mereka sudah pernah bertemu dan saling mengenal. Ternyata menurut orang tua salah seorang anak kecil yang saya tanya, anak-anak itu baru bertemu di pantai itu. “Luar biasa”, kataku dalam hati. Bagi anak-anak itu tidak butuh berkenalan dan mengerti bahasa masing-masing untuk bisa bermain bersama dan berbagi. Mereka menunjukkan bahasa yang saya sebut sebagai bahasa cinta. Mereka bisa saling menerima, saling menghargai dan lewat ketulusan hati, mereka mampu berkomunikasi dengan baik meski terhalang oleh  perbedaan bahasa.
 
Kiranya itulah salah satu sikap dan sifat anak kecil yang disebut Yesus sebagai sikap orang yang empunya Kerajaan Allah. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai bahasa cinta untuk sesamaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 2 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 02 Oktober 2021
PW. Para Malaikat Pelindung

Bacaan I: Bar. 4: 5-12. 27-29
Injil: Luk. 10: 17-24

Selalu Ada Rahmat

Beberapa waktu yang lalu paroki kami mengadakan acara vaksinasi Covid untuk masyarakat umum bekerja sama dengan Caritas Keuskupan dan Kodam III Siliwangi. Dengan segala kerumitan di awal namun akhirnya kami dapat menyelenggarakan acara vaksinasi ini dengan lancar dan baik. Tentu hasil ini membuat kami senang dan bersyukur.
 
Beberapa waktu kemudian kami Dewan Pastoral Paroki Harian mengadakan refleksi bersama atas penyelenggaraan vaksinasi. Beberapa hal yang muncul dalam refleksi ini antara lain:
Seorang ibu yang sudah cukup senior mengatakan:
“Saya senang dan bersyukur ikut terlibat dalam penyelenggaraan ini. Hal menyenangkan dan saya syukuri bahwa saya menjadi kenal dengan anak-anak muda yang terlibat dan bisa dengan mudah bekerjasama dengan mereka. Seolah tidak ada jarak dalam kerjasama meski mereka semua usianya di bawah anak-anak saya. Awalnya tidak terbayangkan bagi saya bisa kenal dan bekerjasama dengan mereka. Di samping itu peristiwa seperti ini membuat kita menjadi ada kesatuan hati dan budi  dalam berkarya dan pelayanan.”

Ibu yang lain mengatakan:
“Ternyata di paroki kita ada banyak OMK (orang muda katolik) yang mau terlibat dengan kemampuan mereka yang luar biasa. Selama ini kita selalu kesulitan mengumpulkan orang muda, dan selalu merasa hampir tidak ada orang muda di paroki kita yang mau terlibat. Ternyata ketika diberi kesempatan dan sarana, mereka mau terlibat dengan luar biasa. Ini menjadi awal untuk selalu melibatkan mereka dan memberi kesempatan kepada mereka.”

Seorang bapak mengatakan:
“Saat pembicaraan awal kita selalu dibayangi dengan berbagai kesulitan. Kesulitan dana, kesulitan akses mendapatkan vaksin, kesulitan sarana dan prasarana. Saat membayangkan untuk administrasi membutuhkan minimal 10 laptop sudah terbayang kesulitannya belum tenaganya. Ternyata semua bisa teratasi tanpa kesulitan yang berarti; bahkan sarana dan prasarana bisa berlebih.”

Pastor senior mengatakan:
“Peristiwa ini menjadi sarana yang baik untuk mewartakan wajah belas kasih Gereja kepada banyak orang.”
 
Dari semua sharing refleksi berkaitan dengan penyelenggaraan vaksinasi, ternyata yang pertama dan utama bukan soal keberhasilan, dan kehebatan kami dalam menyelenggarakan. Pengalaman syukur dan kegembiraan bukan sebuah kesombongan akan keberhasilan melain pengalaman akan rahmat yang dialami. Pada akhirnya kami menemukan kalau ada kemauan, ada kehendak baik pasti selalu ada rahmat yang mengiringinya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, para murid bangga pulang dari perutusan namun diingatkan Yesus, bahwa mereka telah mendapatkan rahmat dan yang paling penting bukan kebanggaan akan keberhasilan tetapi arti dari perutusan mereka. “Namun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa arti dari kebanggaan dan syukurku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.