Renungan Harian: 21 Juni 2020

Renungan Harian
Minggu, 21 Juni 2020

Hari Minggu Biasa XII
Bacaan I   : Yer. 20: 10-13`
Bacaan II  : Rom. 5: 12-15
Injil      : Mat.10: 26-33

Was-Was

Kebanyakan orang ketika akan memulai hal baru selalu dihinggapi perasaan khawatir, takut dan was-was. Apalagi bila hal baru itu menyangkut sesuatu yang penting bagi hidupnya.
 
Banyak orang tua merasakan was-was dan gelisah saat akan melepas anaknya ke jenjang perkawinan. Mereka was-was akan perjalanan hidup perkawinan anaknya. Apa yang sering muncul dalam pikirannya adalah jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu.
 
Seorang ibu yang melepas anak laki-lakinya, yang begitu ia sayang untuk menjalani hidup perkawinan amat gundah dengan rasa was-was yang menghinggapinya. Dalam nalarnya dia percaya bahwa anak laki-lakinya dapat menjalani hidup perkawinan dengan baik dan dia rela melepaskan; namun hati kecilnya masih belum sungguh-sungguh rela. Cintanya yang begitu besar menjadikan rasa was-was semakin besar.
 
Ia berjuang untuk mengatakan rasa was-wasnya dengan mengungkapkan perasaannya dan memberi pesan kepada anaknya dengan memutar lagu Mikki Viereck “My loving son” :
“And there’s one thing darling
I’d like to say
Be kind, be sweet, be a gentle man
Care and share, and always be fair
……….. you will always be my son. My loving son”
(satu hal yang ingin kupesankan padamu nak, jadilah laki-laki yang sejati, baik dan penyayang, penuh perhatian dan selalu berbagi. Ingatlah, kamu tetap menjadi anakku, anak yang kucintai)
 
Disamping mengungkapan dengan lagu ia juga mengungkapkan dengan kata-kata:
“Spread your wings and fly away with your loving wife
love is truly the greatest gift of life now that you have it never let it go
you will have great days together but you will have hard days as well
just remember to love each other no matter what
remember
there’s always a cup of coffee to share and a big warm hug from me
I love you both”
(bentangkan sayapmu dan terbanglah dengan istrimu tercinta
Cinta adalah anugerah terbesar dalam hidup, dan sekarang kamu mendapatkannya
Kamu akan mengalami hari-hari yang luar biasa bersamanya tetapi juga hari-hari yang penuh tantangan. Ingatlah untuk selalu saling mencintai apapun yang terjadi.
Ingat, selalu ada Mommy yang siap untuk mendengarkan dan berbagai cerita  serta selalu ada pelukan  hangat. )
 
Sebagaimana ibu itu meneguhkan putranya, Sabda Tuhan hari ini juga meneguhkanku dalam perjalanan panggilan dan perutusanku. Jangan was-was. Was-was berasal dari bahasa Arab yang berarti bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Jadi was-was itu rasa takut yang disebarkan oleh mereka yang tidak bermaksud baik, kekhawatiran yang menggoda terus menerus dan melemahkan. (A. Gianto SJ). “Janganlah kamu takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; tetapi takutlah pada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”
 
Akankah aku harus selalu was-was dalam perutusanku jika burung pipit yang dijual seduit dua ekor amat berharga di mata Allah, sedangkan aku lebih berharga dari pada burung pipit?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 20 Juni 2020

Renungan Harian
Sabtu, 20 Juni 2020

Hari Raya Hati Tersuci St. Perawan Maria
Bacaan I  : Yes. 61: 9-11
Injil     : Luk. 2: 41-51

Elok

Dalam sebuah pembicaraan dengan beberapa sesepuh, dengan nada bercanda salah satu sesepuh itu mengajukan pertanyaan sambil tertawa:
“Apa beda perempuan zaman dulu dan perempuan zaman sekarang?” Kami tidak ada yang berani menjawab.
Dalam hati, saya mau mengatakan bahwa banyak perbedaan. Apalagi setelah emansipasi ini.  

“Wanita jaman mbiyen kuwi ora ana suarane, ora ketok polahe ning mrantasi. Yen wanita jaman saiki, nggedhekke suara, kakehan polahe ning ora ana hasile.” Jawab simbah itu. (Perempuan zaman dulu itu tidak ada suaranya, tidak kelihatan geraknya tetapi menyelesaikan banyak hal. Sedang perempuan zaman sekarang keras suaranya, banyak tingkahnya tetapi tidak ada hasilnya).
 
“Modale wanita utama iku, ati sing jembar lan jero. Jembar welas asihe lan jero pangapurane” tambah simbah.

(Modal menjadi perempuan terhormat itu hati yang luas dan dalam. Luas kasih sayangnya dan dalam pengampunannya).

“Perempuan hebat dan pandai sejak zaman dulu sudah ada, bahkan perempuan-perempuan yang lebih hebat dan lebih perkasa dari laki-laki sejak dulu banyak. Namun demikian, mereka menjadi perempuan-perempuan terhormat, hebat dan perkasa bukan karena buah budinya dan bukan karena kekuatan fisiknya. Mereka terhormat dan hebat karena keelokan hatinya. Dengan hati yang elok itu menjadikan suami, anak-anak dan semua yang ada di hatinya menjadi terhormat dan hebat. Hati tadi mampu dengan ikhlas hancur lebur demi mendudukan suami, anak-anak dan semua yang di hatinya di tempat yang terhormat dan hebat.” Terang simbah dengan berapi-api.
 
“Oleh karena itu, hati perempuan utama itu bagai danau dengan air jernih nan segar. Semua yang di dekatnya bisa menemukan kesegaran, ketenangan dan kedamaian. Sebagaimana danau itu dasarnya banyak sampah dan batu serta belukar, begitupun hati perempuan. Di dasarnya ada begitu banyak sampah, duri dan segala hal, karena hati itu menyimpan segala perkara yang dihadapinya. Segala perkara dia simpan, dia olah, dia saring dan dia endapkan sehingga semua tersimpan jauh di tempat yang paling dalam. Apa yang nampak dan memacar adalah kesegaran, ketenangan dan kedamaian.” Lanjut simbah.
 
Ajaran simbah yang dimulai dengan guyon tadi membantu saya memahami sikap Bunda Maria yang dalam injil selalu dikatakan: “Maria menyimpan semua perkara di dalam hatinya.”
Dalam diam ia menghantar PutraNya hingga Sang Putra dimuliakan di kayu salib.
 
Di saat merayakan Hati Tersuci St. Perawan Maria, aku juga ingin merayakan dan mensyukuri keelokan hati ibuku, hati para ibu dan hati perempuan hebat lainnya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 19 Juni 2020
Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus

Bacaan I   : Ul. 7: 6-11
Bacaan II  : 1Yoh. 4: 7-16
Injil      : Mat. 11: 25-30

Ikhlas

 Sore itu aku berkunjung ke rumah salah satu umat di paroki di tempat aku bertugas. Bapak itu dikenal sebagai pedagang hasil bumi yang sukses. Di paroki, beliau menjadi salah satu donator tetap untuk berbagai kegiatan paroki.
 
Saat sampai ke rumahnya, bapak itu sedang memperhatikan karyawan-karyawannya yang sedang memuat hasil bumi ke dalam truk yang besar. Tampak ada 3 buah truk yang siap memuat hasil bumi dari gudang, yang berada di depan rumah. Melihat kedatangan saya, bapak itu dengan ramah mempersilakan saya untuk masuk.

“ wah banyak sekali ya yang dimuat hari ini. Wah hebat, pak.” Ujarku membuka pembicaraan.

“ Mo, mo, itu yang sekarang terlihat. Wah mo kalau ingat bagaimana saya memulai usaha, nangis darah rasanya. Ini semua  mukjizat bagi hidup saya, berkah yang luar biasa.”  : jawabnya.
 
Sambil mempersilakan saya minum dan makan singkong goreng yang dihidangkan, ia berkisah.
“ Mo, dulu saya hidup mapan di Jakarta. Sudah punya kedudukan baik di perusahaan, punya rumah baik, punya kendaraan. Istri saya juga punya kedudukan yang baik di perusahaannya. Rasanya mimpi kami ketika kuliah  sekarang terpenuhi.
 
Krismon tahun 1998 membuyarkan mimpi kami. Saya dan istri di rumahkan, perusahaan di mana kami bekerja tutup, bos besar pemilik perusahaan hilang entah kemana. Kami berdua berhenti tanpa pesangon seperser pun. Kami limbung, gak ngerti harus bagaimana. Untung, ya kami ngomong begitu, kami belum dikaruniai momongan.
 
Ketika kami bekeluh kesah ke bapak, beliau mengusulkan kami pulang dan cari usaha di kampung. Kami memutuskan menjual rumah dan kendaraan, waktu itu kami jual dengan harga murah banget. Dengan hasil penjualan itu kami pulang ke kampung.
 
Waduh Mo, hati ini sakit banget, tiap malam istri nangis gak tahan. Kami jadi omongan tetangga, kami dicibir macam-macamlah pokoknya. Bapak dan ibu selalu menasehati kami, yang ikhlas, semua harus dijalani dengan rela dan ikhlas lahir batin. Berjuang dan berjuang dengan ikhlas pasti ada jalan. Gusti ora sare. Tiap malam kami berdua berdoa, mohon dan mohon agar bisa ikhlas menjalani semua ini.
 
Saya mulai menggarap tanah bapak, awalnya seperti orang kampung lain saya menanam palawija bergantian dengan padi, tergantung musimnya. Seperti petani lain, kami selalu menjadi korban tengkulak, dan kami tidak bisa berbuat lain. Tetapi dari situ saya banyak belajar untuk ikhlas. Belajar mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kesombongan saya, berani merendahkan diri, dan tidak mengagung-agungkan harga diri. Itu semua saya jalanin hampir 3 tahun.
 
Suatu hari saat musim panen kacang tanah. entah angin dari mana seorang teman kerja di Jakarta, main ke rumah.  Dia setelah berhenti kerja meneruskan usaha orang tuanya jual beli hasil bumi. Dia menawari saya kerja sama. Saya mengumpulkan hasil bumi di sini dan mengirim ke dia. Sejak saat itu Mo, keadaan ekonomi kami berubah, hingga menjadi seperti ini.
 
Mo, sampai sekarang saya pegang nasehat orang tua kami, yaitu menjalani hidup dengan ikhlas lahir batin. Saat kami sudah bisa ikhlas, Tuhan mengirim malaekat ke kami dalam diri teman saya. Betul Mo, saya selalu merasa bahwa teman itu adalah malaekat yang diutus Tuhan untuk kami. “ bapak itu menutup kisahnya.
 
Kata ikhlas yang dihidupi bapak tadi membantu saya untuk mengerti sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “ Belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.”
 
Belajar dari pengalaman bapak tadi, betapa berat dan sulit untuk menjadi ikhlas. Akankah aku mampu menjalani hidupku dengan ikhlas?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 Juni 2020

Renungan Harian
Kamis, 18 Juni 2020

Bacaan I: Sir. 48: 1-4
Injil   : Mat. 6: 7-15

Penyembuhan

Ketika saya bertugas di sebuah paroki, ada seorang ibu yang selalu menyapa saya dan berbicara dengan saya menggunakan bahasa Jawa yang halus. Ibu itu yang kemudian saya sapa dengan sebutan eyang, selalu memancarkan wajah yang cerah, nampak selalu bahagia. Meski usia sudah sepuh namun kecantikannya tetap memancar. Setiap kali bertemu, eyang mengundang saya untuk main ke rumahnya: “ pun tengga romo rawuhipun wonten gubug kula. “ (romo ditunggu ya main ke rumah saya) itu kalimat yang selalu diucapkan.

Hari itu ketika bertemu aku matur (bilang) ke eyang: “ Eyang menawi longgar lan wonten dhanganing penggaling, mbejang sonten dalem badhe sowan.” (Eyang kalau longgar saya besok sore, saya mau ke rumah.” Eyang dengan wajah yang gembira mengatakan bahwa dia menunggu.

Sore itu aku  tiba di rumah eyang dan disambut dengan amat ramah. Di rumah eyang berkumpul pula keluarga putri satu-satunya dengan 3 orang anaknya. Rumah eyang tertata rapi dan asri, menampakkan kemampuan menata rumah dengan luar biasa. Beberapa foto keluarga terpajang dengan indah di dinding dan  di beberapa tempat. Ada foto seorang gadis jawa cantik berkebaya dan itu adalah foto eyang waktu masih muda.

Saat makan, kami berbincang dengan seluruh anggota keluarga. Saat itu saya tahu bahwa eyang tinggal sendirian ditemani asisten rumah tangga, sedangkan keluarga putrinya tinggal di rumah lain, tetapi tetap dalam kota yang sama. Perbincangan meriah, karena eyang cerita hal-hal lucu di masa lalu.

Sesaat kemudian saya bertanya tentang keanehan di rumah itu: “ Eyang, maaf kok saya lihat foto-foto di rumah ini tidak ada foto eyang kakung?” Putrinya tertawa dan eyang tersenyum mendengar pertanyaan saya. “ wis dhahar dhisik, mengko eyang ndongeng.”: jawabnya. (makan dulu nanti saya cerita)

Di teras belakang dengan taman yang indah eyang bercerita: “ Sewaktu kuliah, eyang berpacaran dengan seorang laki-laki yang ganteng dan baik. Kami merencanakan kalau sudah bekerja dan mapan kami akan menikah. Setelah lulus kuliah dan bekerja, karena kelalaian kami, eyang hamil sebelum kami menikah. Pada saat saya memberi tahu keadaan saya, dia minta saya menggugurkan, dengan alasan belum siap, menjaga harga diri serta martabat dia dan keluarga. Nanti kalau sudah siap kita pasti nikah kata dia meyakinkan saya.

Pada saat itu saya amat marah, sedih dan benci dengan dia. Saya berjanji dengan diri sendiri akan membesarkan anak ini dan tidak akan pernah menikah dengan dia. Memang beberapa hari kemudian, dia dan keluarganya datang untuk menikahkan kami, tetapi saya tidak mau, saya muak melihat dia.

Saya keluar dari pekerjaan sampai melahirkan. Hidup saya menjadi kacau karena saya dendam luar biasa dengannya. Beberapa kali saya bekerja di perusahaan, saya harus mengundurkan diri karena saya tidak bisa maksimal. Sampai suatu kali saya merenungkan hidup saya, hidup saya telah dirusak oleh dia, dan sekarang saya merusak hidup saya sendiri dengan dendam yang luar biasa. Sampai malam itu saat saya doa Bapa kami sampai pada kata-kata “ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami” saya bercucuran air mata. Saat itu saya mohon ampun pada Tuhan dan saya berjanji untuk mengampuni dia.

Mukjizat bagi saya, malam itu saya tidur dengan nyaman, belum pernah saya mengalami selama ini. Esok hari saya dapat panggilan kerja dan saya diterima. Entah karena apa, mulai saat itu saya begitu semangat menjalani hari-hariku, dan si kecil juga kelihatan ceria dan menyenangkan. Hidup saya menjadi berubah.

Beberapa hari kemudian mantan pacar ingin bertemu, dan entah mengapa saya tidak merasa benci dan mau untuk bertemu. Kemudian saya tahu bahwa hidupnya juga kacau. Dia meminta maaf dan saya dengan damai memberikan maaf itu.

Romo, mukjizat besar, sejak saya memutuskan untuk mengampuni, saya hidup damai dan bahagia sampai sekarang dan yang luar biasa sejak pertemuan itu, hidup mantan pacar juga baik dan damai dengan keluarganya.

Itu romo dongeng eyang, kenapa tidak ada foto eyang kakung di rumah ini.”

eyang mengakhiri ceritanya yang panjang.

Dari cerita eyang saya belajar tentang kekuatan daya pengampunan. Pengampunan bukan saja mengubah hidup orang yang diampuni tetapi juga mengubah hidup orang yang mengampuni. Daya pengampunan memberikan hidup baru dan kebahagiaan.

Rahmat dan kekuatan untuk mengampuni selalu tercurah dalam diriku, tetapi apakah aku mau dan mampu menggunakan rahmat itu?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 17 Juni 2020

Renungan Harian
Rabu, 17 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 2: 1.6-14
Injil   : Mat. 6: 1-6.16-18

Pencitraan

Hidup beragama dan penghayatan iman ada di ranah pribadi. Bagaimana seseorang menghayati imannya, menjalankan kewajiban agamanya adalah urusan pribadi seseorang; karena hal itu menyangkut hubungan seseorang dengan Allah yang diimaninya.

Iman harus diungkapkan dan diwujudkan. Doa-doa, peribadatan dan semacamnya adalah ungkapan iman; sedangkan buah-buah pengahayatan iman seperti cinta kasih, ketaatan pada tatanan moral dan hukum yang terungkap dalam perilaku hidup sehari-hari adalah perwujudan iman.

Penghayatan iman dengan ungkapan dan perwujudannya seharusnya dan selayaknya selalu ada pada ranah pribadi. Persoalannya sesuatu yang ada pada ranah pribadi adalah sesuatu yang tersembunyi tidak bisa dilihat dan dinilai oleh orang lain. Apa yang dapat dirasakan dan dinilai oleh orang lain, atau sesuatu yang nampak adalah buah-buah dari pengahayatan iman tersebut. Sebagaimana tanaman, untuk bisa menikmati buahnya membutuhkan waktu yang amat panjang.

Banyak orang seringkali terjebak untuk segera mendapatkan penilaian yang baik atas penghayatan iman, sehingga orang meletakkan penghayatan iman yang seharusnya dan selayaknya ada pada ranah pribadi, diletakan pada ranah publik. Sementara buah penghayatan iman itu belum ada. Apa yang harus dinilai?

Karena buah penghayatan iman belum ada, maka orang mempertontonkan penghayatan imannya. Orang mempertontonkan cara berpakaian yang agamis supaya nampak bahwa dengan pakaian itu ia adalah orang yang tekun dan setia dalam mengungkapkan imannya. Orang mempertontonkan tindakan-tindakan kesalehan agar nampak bahwa dirinya orang yang tekun dan setia dalam mewujudkan imannya.

Dengan semua itu orang membangun dan memoles citra diri, menjadi sosok beriman yang luar biasa. Dan sering kali terjadi orang terjebak menempatkan diri pada diri pencitraan tersebut. Tanpa sadar merasa dirinya sungguh-sungguh seperti diri yang dibangun dan dipoles itu.

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius mengkritik praktek penghayatan iman seperti itu: “ Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di depan orang, supaya dilihat.”

Adakah aku bagian dari orang-orang yang terjebak itu?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 16 Juni 2020

Renungan Harian
Selasa, 16 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 21: 17-29
Injil   : Mat. 5: 43-48

Sempurna

Beberapa tahun lalu ada berita kriminal yang mengejutkan, dimana seorang remaja putri dibunuh oleh sepasang remaja dan jenasah korban dibuang di pinggir jalan tol. Kemudian yang diketahui bahwa pria pembunuh itu adalah mantan pacar korban.

Korban adalah putri tunggal sebuah keluarga. Bisa dibayangkan betapa hancur orang tua korban, melihat putrinya harus meninggal dengan cara seperti itu. Tidak ada satu orang tuapun di dunia ini bermimpi anaknya mengalami hal seperti itu. Apalagi kemudian diketahui bahwa putri mereka disiksa terlebih dahulu sebelum kemudian dibunuh. Lebih menyakitkan bagi orang tua korban mengetahui bahwa salah satu pembunuhnya adalah orang yang mereka kenal dan dekat dengan putri mereka.

Pokok penting yang banyak diberitakan dalam peristiwa itu bukan hanya soal peristiwa pembunuhannya, akan tetapi sikap orang tua korban. Tidak seperti lazimnya orang yang mengalami peristiwa tragis seperti itu, menuntut pelakunya dihukum seberat mungkin, dan tidak jarang berusaha untuk membalas; orang tua korban justru bertindak sebaliknya memberikan pengampunan pada pembunuh putrinya. Bahkan dalam sidang pertama diberitakan orang tua korban memeluk pembunuh putrinya dan mengucapkan kata pengampunan.

Sikap yang ditunjukkan oleh orang tua korban menjadi kesaksian bagi dunia bagaimana seseorang bisa mengasihi musuhnya. Luka mendalam yang ditorehkan oleh pembunuh putrinya tidak menghambat dan mengurangi kasih yang memancar dari orang tua korban.

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menutup kisah panjang tentang bagaimana Yesus menggenapi hukum taurat dengan bersabda: “ Karena itu kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu sempurna adanya.” Kesempurnaan kasih yang digambarkan seperti matahari yang terbit baik bagi orang jahat maupun orang baik dan hujan yang turun baik bagi orang benar maupun tidak benar.

Kasih yang paling berat adalah mengasihi orang yang telah melukai ku, apalagi kalau orang itu adalah orang yang dekat dengan diriku.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 15 Juni 2020

Renungan Harian
Senin, 15 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 21: 1-16
Injil   : Mat. 5: 38-42

Dendam

Beberapa tahun silam, dalam rangka “ujian” kuliah tentang latihan rohani, saya diajak almarhum P. Tom Jacob untuk mendampingi retret suster-suster. Saya diminta menemani 3 orang Suster.

Dalam perjalanan retret ada 1 suster yang selalu kesulitan untuk berdoa. Bahan-bahan yang diberikan tidak bisa didoakan. Saya bicara dengan  P. Tom, beliau meminta agar saya meneliti apakah sikap doanya sudah baik, persiapannya sudah baik, pilihan waktunya baik dan seterusnya. Tetapi tetap tidak berhasil.

P. Tom, menganjurkan agar suster berpuasa dan saya juga ikut berpuasa. Namun tidak berhasil. Kemudian P. Tom meminta saya jangan memberi bahan apapun tetapi mengajak retretan untuk bicara.

Dalam pembicaraan dengan suster itu, kami temukan bahwa sumber masalah bukan pada bahan renungan yang ditawarkan tetapi sumber masalah justru pada doa penutup yang disarankan yaitu doa Bapa Kami. Setiap kali berdoa Bapa Kami, semua yang direnungkan menjadi hilang dan tidak bisa lagi merenungkan apapun.

Apa yang kemudian kami temukan adalah bahwa suster itu punya pengalaman kebencian yang mengarah pada dendam luar biasa kepada ayahnya. Ia ingin membalaskan sakit hati, penderitaan dirinya dan ibunya yang disebabkan oleh ayahnya. Tidak jarang muncul pikiran-pikiran ingin membunuh ayahnya agar menjadi damai.

Belajar dari pengalaman suster itu, memperlihatkan bagaimana pola mata ganti mata dan gigi ganti gigi masih hidup, dan “dihidupi” oleh banyak orang termasuk diriku. Ketika aku dilukai maka yang muncul adalah membalas dendam. Dan betapa semakin sakit hati mana kala melihat orang yang melukai diriku tampak damai-damai dan bahagia. Maka muncul keinginan untuk melampiaskan dendamku, membuat dirinya menderita dan aku bahagia kalau dia tidak ada lagi. (menghilangkan)

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, Tuhan mengajak untuk memutus mata rantai dendam. Dendam yang terlampiaskan akan memunculkan dendam baru pada diri orang lain dan pada gilirannya memunculkan dendam baru pada diriku.

Satu-satunya cara meretas rantai dendam adalah dengan mengasihi. Dalam kasih ada pengampunan. Oleh karenanya dengan kasih yang tulus, akan menghapus rantai dendam itu.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari betap sulit untuk mengampuni yang padanya aku mendendam. Apalagi kalau dendam yang bersumber pada luka batin itu, sudah sedemikian dalam.

Saya ingat apa yang dikatakan P. Tom Jacob, jangan berpikir mengampuni dan mengasihi lebih dahulu, tetapi belajar untuk mendoakan dia terlebih dahulu.

Adakah aku mampu mendoakan orang yang padanya aku mendendam?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Juni 2020

Renungan Harian

14 Juni 2020

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Bacaan I : Ul. 8: 2-3.14b-16a
Bacaan II: 1Kor. 10: 16-17
Injil    : Yoh. 6: 51-58

Bahagia

Beberapa tahun silam, ketika saya pertama mengunjungi sebuah stasi, di sebuah paroki, saya disambut seorang bapak dengan amat hormat dan ramah. Bapak itu memperkenalkan dirinya sebagai orang yang mengurus kapel stasi. Beliau membuatkan saya kopi dan menemani minum sambil ngobrol.

Ia cerita bahwa dirinya adalah transmigran mandiri di tempat itu. Maka sehari-hari dia adalah petani. Dia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak yang masih sekolah di Sekolah Dasar. Dia menawarkan diri untuk merawat kapel itu dengan cuma-cuma, sebagai bentuk pengabdiannya pada Tuhan. Tak berapa lama obralan kami terputus karena datang istri dan kedua anaknya.

Hal yang membuat saya heran adalah Kapel itu bersih, nampak dirawat dengan baik. Tidak seperti kebanyakan kapel di stasi. Saya melihat bagaimana bapak itu menyiapkan semua peralatan misa dan buku-buku misa dengan terampil. Sesuatu yang membuat saya kagum adalah sikap hormatnya dengan altar dan cara menyiapkan semua. Dan sebelum perayaan ekaristi, bapak tersebut melatih semua umat bernyanyi dan jawaban-jawaban dialog dalam ekaristi.

Saat perayaan ekaristi ternyata bapak itu tidak menyambut Tubuh Kristus. Saat setelah misa saya tanya, ia menjawab bahwa hari itu tidak siap. Saya agak tersentak dengan jawabannya itu, orang yang merawat kapel dengan baik dan menyiapkan ekaristi dengan luar bisa ternyata tidak berani menyambut Tubuh Tuhan karena tidak siap.

Bulan berikut, dalam kunjungan ke stasi itu, dalam ekaristi bapak itu tetap tidak menerima Tubuh Kristus, dan saya melihat mata bapak itu memerah menahan tangis. Setelah ekaristi dan semua umat pulang, saya mengajak bapak itu untuk bicara.

Bapak itu bercerita bahwa dirinya adalah mantan seorang imam dari tarekat. Karena sesuatu hal kemudian beliau memutuskan untuk meninggalkan imamatnya dan setelah beberapa tahun, ia hidup berkeluarga. Dia bahagia dengan hidupnya sekarang, namun ada satu yang kurang yaitu tidak bisa menyambut Tubuh Kristus. Sudah cukup lama ia mengurus agar dapat pembebasan dari imamatnya agar boleh menerima sakramen yang amat ia rindukan. Kerinduan itu ia ungkapan (“lampiaskan”) dengan mempersiapkan ekaristi sebaik mungkin, dan menyiapkan rumah Tuhan sebaik mungkin.

Menjelang akhir tugas saya di paroki tersebut, bapak itu datang dengan membawa surat yang menyatakan bahwa dirinya sudah dibebaskan dari imamatnya. Maka segera saya membantu pemberesan perkawinannya. Sebagai rasa syukur saya mengajak beliau merayakan ekaristi bersama keluarganya. Sepanjang perayaan ekaristi beliau bercucuran air mata dan menyambut Tubuh Tuhan dengan bercucuran air mata. Saya ikut menangis karena begitu terharu melihat kebahagiaan bapak itu. Saya melihat diriku sendiri rasanya belum pernah aku sepanjang ekaristi bercucuran air mata syukur, dan juga saat menyambut Tubuh Tuhan dengan hati yang penuh kerinduan.

Setelah bertahun-tahun saya pindah dari paroki tersebut, saya bertemu dengan pastor yang bertugas di paroki itu. Saat saya bertanya tentang kabar bapak itu, pastor bercerita dengan semangat betapa baiknya bapak itu. Bahkan pastor itu cerita bahwa dirinya amat terdukung pelayanannya karena teladan bapak itu dalam melayani stasi. Pastor itu cerita yang selalu membuat dirinya kagum adalah kala menyambut Tubuh Tuhan bapak itu begitu hormat dan wajahnya menyinarkan kerinduan dan kebahagiaan seperti orang yang berjumpa dengan kekasihnya.

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, menjadi saat yang amat baik untuk merenungkan dan merefleksikan Imanku akan Tubuh dan Darah Kristus, dan daya yang kuterima dalam persekutuan dengan yang kualami saat aku menyambut Tubuh dan Darah Kristus.

Pertanyaan reflektif sederhana bagiku: “kapan aku merasakan daya perjumpaan dan persekutuan dengan Tuhan, kala menyambut Tubuh dan Darah Kristus?”

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 13 Juni 2020

Renungan Harian
13 Juni 2020
PW. St. Antonius dari Padua

Bacaan I: 1Raj. 19:19-21
Injil: Mat. 5: 33-37

Jujur

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa, “esuk dhele sore tempe”. Terjemahan bebas bahasa Indonesia adalah pagi masih kedelai sore sudah jadi tempe. Ungkapan itu menunjuk orang yang plin plan, omongannya tidak bisa dipegang atau dipercaya.
 
Pada masa kampanye kita akan mendengarkan pidato yang berapi-api dan luar biasa. Dalam pidato itu selalu berisi janji-janji akan membela rakyat, akan mengabdi kepentingan rakyat, dan akan jujur. Bahkan muncul iklan-iklan di televisi soal penolakan terhadap segala bentuk korupsi.
 
Namun pada kenyataan, ketika mereka sudah terpilih maka sudah melupakan semua janji-janji. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang ditangkap karena korupsi.
 
Dari kejadian-kejadian seperti di atas, menjadikan rakyat tidak lagi percaya dengan mereka yang berkampanye, tidak jarang menjadikan orang apatis dengan segala kegiatan pemilu.
 
Bertolak dari pengalaman di atas, betapa penting  orang mengatakan kebenaran, orang konsekuen dengan apa yang diomongkan. Hal yang lebih mendasar adalah keberanian untuk berkata jujur.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius:
“Jika ya hendaklah kalian katakan: ya, jika tidak, hendaklah kalian katakan: tidak.”
 
Pada masa sekarang ini orang yang berkata jujur adalah “barang langka”. Akankah aku salah satu dari “barang langka” ?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 12 Juni 2020

Bacaan I: 1Raj. 19: 9a.11-16
Injil   : Mat. 5: 27-32

Niat

Pada waktu retret agung (retret 30 hari), ketika malam hari mempersiapkan doa untuk esok hari, hal yang selalu ditekankan pater magister adalah sebelum tidur hendaknya memikirkan bahan doa yang akan di doakan besok pagi, cara berdoa, pokok-pokok doa dan seterusnya. Demikian bila bangun tidur segera memikirkan bahan doa dan cara berdoa.
 
Sebagaimana dikatakan oleh St. Ignatius dalam latihan rohani, hal itu dimaksudkan agar peserta retret tetap fokus pada bahan yang sedang dan akan direnungkan; tidak diganggu dengan pikiran-pikiran lain.
 
Pengalaman menjalani retret agung, menjalankan hal di atas tidak selalu mudah. Kadang bisa dan kadang tidak bisa. Banyak hal yang muncul dalam bayangan ketika menjelang tidur. Pun sepanjang hari ketika sedang merenungkan. Godaan untuk memikirkan hal-hal lain begitu banyak dan begitu menarik untuk diikuti.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius : “ Barang siapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya.” Sabda yang amat keras dan jelas. Dosa bukan hanya ketika orang sudah menjalankan, akan tetapi ketika dalam niat dan bayangan pun sudah berdosa.
 
Pengalaman retret 30 hari dengan suasana dan tempat yang khusus pun, betapa mudah aku jatuh dalam godaan untuk memikirkan hal-hal yang di luar apa yang seharusnya dipikirkan. Apalagi dalam hidup sehari-hari di tengah hiruk pikuk dan tawaran dunia yang luar biasa.
Betapa sering aku jatuh dalam dosa dalam hati.
 
Examen Consientiae (pemeriksaan batin) kiranya menjadi sarana yang baik untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan diriku yang mengakibatkan dosa, meski dosa dalam hati. Dan yang lebih penting adalah menyadarkan aku, jangan-jangan aku merasa bahwa aku tidak berdosa sehingga menikmati dosa dalam hati itu.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.