Renungan Harian: 4 Maret 2021

Renungan Harian
Kamis, 04 Maret 2021

Bacaan I: Yer. 17: 5-10
Injil: Luk. 16: 19-31

Merana

Ketika saya mengetuk rumah itu, tidak segera ada jawaban dari pemilik rumah. Setelah berkali-kali mengetok barulah ada jawaban dari dalam rumah, yang diikuti suara sandal diseret. “Selamat sore pak,” sapaku ketika bapak itu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.
 
Bapak itu, berperawakan tinggi, kurus dan dari wajahnya nampak bahwa dirinya bukan orang sehat. Bapak itu tinggal sendirian di rumah itu. Saya sore itu mengunjungi bapak itu, karena bapak itu sudah lama sakit dan menurut beberapa umat yang mengenal beliau, beliau kesulitan untuk berobat sementara beliau tinggal sendirian.
 
Dari cerita beberapa umat yang mengenal bapak itu, bapak itu dulunya orang yang berkelimpahan. Namun karena berkelimpahan itu, menjadikan dirinya seperti lupa diri. Beliau tidak mau bergaul dengan tetangganya, memang dia hampir tidak pernah di rumah. Hal yang  memprihatinkan adalah meski dia berkelimpahan akan tetapi beliau menelantarkan istri dan anak-anaknya.
 
Dengan hartanya yang melimpah itu dia meninggalkan istri dan anak-anaknya hidup dengan perempuan lain, bahkan sering berganti-ganti. Puncaknya bapak itu menceraikan istrinya dan pergi dengan perempuan lain.
 
Setelah usahanya bangkrut bapak itu kembali ke rumahnya dan tinggal sendirian, sementara istri dan anak-anaknya sudah pindah ke kota lain. Tak berapa lama tinggal di rumahnya, rumah itu dijual dan bapak itu sekarang tinggal di rumah kontrakan yang di sewa oleh anaknya.
 
Dalam pembicaraan dengan beliau, beliau mengeluh panjang lebar bahwa dirinya sekarang kesepian. Beliau sedikit emosi ketika membicarakan anak-anaknya yang tidak pernah mau menengok dirinya. Beliau merindukan bertemu dengan anak-anak dan cucu-cucunya, tetapi tidak pernah terwujud. Beliau juga mengeluh tentang tetangga-tetangganya yang acuh tak acuh dengan dirinya. Beliau marah dengan beberapa teman dekatnya yang sekarang semua seolah tidak mengenal dirinya.
 
Sepulang dari rumah bapak itu saya menghubungi salah satu anaknya dan menyampaikan kerinduan bapaknya. “Romo, kami sebenarnya tidak keberatan untuk mengunjungi bapak, tetapi sikap bapak tidak menyenangkan. Setiap kali kami datang, bapak selalu marah-marah mengatakan kami anak durhaka, tidak berbakti kepada bapak. Bapak akan memberi nasehat panjang lebar yang intinya harus berbakti pada orang tua. Bapak selalu menyalahkan orang lain yang tidak peduli dengan dirinya. Bapak tidak pernah menyadari bahwa semua itu karena perbuatan dia. Bapak tidak sadar bahwa pada waktu beliau masih jaya, seolah-oleh semua bisa dibeli, sehingga tega mengusir kami dan ibu keluar dari rumah. Bapa selalu meremehkan orang-orang di sekitar sini. Maka kami jadi malas untuk mengunjungi bapak, lebih baik kami tidak pernah bertemu dengan bapak dari pada bikin emosi,” kata anak itu.
 
Bapak tua itu sekarang menderita amat sangat karena kesepian yang berkepanjangan. Bapak itu menuai apa yang telah ditaburnya selama ini. Saat sedang jaya dan hebat seolah-olah tidak membutuhkan orang lain; beliau merasa dengan hartanya bisa mendapatkan segalanya. Sekarang ketika masa jayanya sudah berakhir dia mengalami hidup yang kering dan tidak mempunyai daya apapun. Sebagaimana yang dikatakannya, beliau merasa sudah mati meski kenyataannya masih hidup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan nabi Yeremia: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan. Ia seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak mengalami datangnya hari baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asin yang tidak berpenduduk.”
 
 Bagaimana dengan aku? Siapa yang kuandalkan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC DI YOGYAKARTA

Undangan Acara CLC

Kami mengundang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Romo A. Sudiarja, SJ (Romo Dipo) yang akan membahas tentang POLITIK KERAJAAN ALLAH, dengan ilustrasi hidup Beato Rupert Mayer.

Acara kami selenggarakan pada:
Senin, 8 Maret 2021
Pukul 6 sore (18:00)

Link Zoom akan dibagikan sebelum acara.
CP: Putri (CLC Yogyakarta)

Berkah Dalem
CLC di Yogyakarta

Renungan Harian: 3 Maret 2021

Renungan Harian
Rabu, 03 Maret 2021

Bacaan I: Yer. 18: 18-20
Injil: Mat. 20: 17-28

Klerikalisme

Ada beberapa umat mengeluh sulitnya mendapatkan pelayanan dari seorang imam. Umat mengeluh ada beberapa imam yang menerapkan aturan prosedur yang kaku untuk mendapatkan pelayanan. Di paroki tertentu, untuk bisa bertemu dengan pastor parokinya, harus sesuai dengan jam tertentu yang disediakan di luar jam itu, pastor tidak bisa ditemui; pun untuk bertemu dengan pastor harus membuat janji terlebih dahulu tidak bisa nyelonong begitu saja.
 
Disamping itu, untuk mendapatkan pelayanan dari pastor harus sesuai dengan prosedur, melalui ketua lingkungan terlebih dahulu, kalau tidak melalui ketua lingkungan tidak dilayani. Prosedur yang kaku itu bahkan diterapkan pula untuk keadaan darurat seperti pelayanan sakramen pengurapan orang sakit.  Beberapa umat merasa prihatin dengan prosedur kaku yang diterapkan.
 
Keprihatinan umat menjadi kritik bagi para imam karena umat kehilangan sosok imam sebagai gembala dan pelayan umat yang mengayomi. Banyak umat yang membandingan sosok imam zaman sekarang dengan imam pada zaman dahulu. Pada masa lalu imamnya sedikit tetapi lebih mudah dijumpai dan lebih mudah melayani; sementara zaman sekarang imamnya banyak tetapi lebih sulit dijumpai dan sulit melayani.
 
Keprihatinan dan kritik umat juga menjadi kritik Sri Paus Fransiskus terhadap para imamnya: “Gereja tanpa kenabian dapat jatuh dalam perangkap “klerikalisme”.
Klerikalisme secara sederhana berarti sikap-sikap menyalah gunakan kekuasaan (martabat) karena statusnya sebagai klerus (tertahbis). Menurut Sri Paus dengan adanya klerikalisme diantara para imam maka wajah belas kasih Gereja yang mencerminkan wajah belas kasih Allah ditutupi
wajah birokrasi. Imam terjebak dari gembala menjadi administrator, dari pelayan menjadi pengawas.
 
Kiranya sabda Tuhan sejauh  diwartakan dalam injil Matius juga merupakan kritik pada klerikalisme dan sekaligus menegaskan sikap yang benar bagi  seorang imam sebagai gembala dan pemimpin. “Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
 
Bagaimana dengan aku? Tanpa bermaksud membela diri, imam yang jatuh pada klerikalisme sering kali karena sikap umat yang terlalu berlebihan menempatkan imamnya. Bukan menempatkan imamnya sebagai rekan sepeziarahan tetapi sebagai manusia setengah dewa.
Bagaimana aku menempatkan imamku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Maret 2021

Renungan Harian
Selasa, 02 Maret 2021

Bacaan I: Yes. I: 10. 16-20
Injil: Mat. 23: 1-12

Gajah Diblangkoni

Dalam sebuah perayaan ekaristi, seorang imam berkhotbah tentang cinta kasih. Beliau menyampaikan penting orang saling mengasihi, berani menerima satu dengan yang lain. Terlebih dalam hidup berkeluarga, yang paling utama dalam menunjukkan kasih adalah kerelaan saling mengampuni. Masih dalam khotbahnya imam itu mengatakan setiap hubungan antar pribadi pasti ada persoalan, oleh karenanya harus berani untuk duduk bersama membicarakan  persoalan yang ada dengan semangat cinta kasih.
 
Umat yang mendengarkan khotbah imam itu tanpa ada yang mengomando serentak tersenyum bahkan ada yang tertawa tertahan.  Hal itu terjadi karena hampir semua umat tahu bahwa imam yang sedang berkhotbah itu dengan rekan imamnya tidak rukun, bahkan umat juga tahu bahwa untuk makan beliau-beliau ini saling intip, kalau imam yang satu sedang makan maka yang lain menunggu demikian sebaliknya dan tidak jarang meminta agar makanan diantar ke kamar. Oleh karenanya umat yang mendengar khotbah itu mengatakan bahwa imam itu “gajah diblangkoni, iso khotbah ora isa nglakoni” (bisa berkhotbah tetapi tidak bisa menjalankannya.)
 
Apa yang terjadi dengan imam tersebut kiranya banyak terjadi diantara kami para imam. Sudah pasti harapan para umat, imam dapat menjadi teladan hidup sebagaimana dikhotbahkan. Apa yang diharapkan umat ini menjadi tantangan dan pergulatan besar bagi kami para imam. Satu  pihak, para imam “harus” berkhotbah dan di pihak lain tidak semua apa yang dikhotbahkan sudah dilaksanakan apalagi dihidupi.
 
Sudah pasti para imam lebih banyak tidak berkhotbah seandainya apa yang dikhotbahkan sudah dilaksanakan dan dihidupi. Para imam adalah bagian dari umat yang berziarah, yang bergulat dengan berbagai kelemahan dan dosa. Berjuang dari hari ke hari untuk menjadi lebih baik dengan jatuh bangun. Maka ketika berkhotbah bukan untuk menggurui, bukan karena sudah hebat, tetapi mengajak bersama berjuang, minimal khotbah itu ditujukan untuk diri sendiri.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius yang berisi kritik Yesus terhadap ahli taurat dan orang farisi berkaitan jurang antara apa yang diajarkan dengan yang dijalankan merupakan kritik pula bagi kami para imam. Kritik yang mendorong untuk berjuang dengan lebih agar jurang antara khobah dan perbuatan semakin pendek. “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya.”
 
Doakan kami para imam yang lemah dan berdosa ini
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 1 Maret 2021

Renungan Harian
Senin, 01 Maret 2021

Bacaan I: Dan. 9: 4b-10
Injil: Luk. 6: 36-38

Kesadaran

“Wah, ini putrinya mirip banget ya dengan mamanya,” sapaan saya spontan ketika  bertemu dengan seorang ibu dan putrinya.
“Banyak orang mengatakan demikian romo, bahkan beberapa orang mengatakan bahwa putri saya ini, saya versi muda,” jawab ibu itu dengan tertawa.
“Oh, jadi bukan hanya wajahnya saja yang mirip tetapi sifat-sifatnya juga mirip ya,” jawab saya. “Betul romo,” kata ibu itu.
 
“Romo, sebenarnya dulu menurut saya, dia itu beda banget dengan saya. Mungkin wajah mirip tetapi sifat-sifatnya amat beda. Sejak kecil anak ini selalu menjengkelkan, banyak hal yang tidak cocok dengan saya. Saya sering marah dengan dia, karena menurut saya selalu aneh-aneh, amat moody, dan sering kali melakukan hal-hal yang tak terduga.
 
Beberapa orang teman dan saudara selalu mengatakan bahwa dia mirip saya; saya selalu menolak karena menurut saya gak ada miripnya. Saya merasa sifatnya dengan sifat dia bertolak belakang.
 
Baru, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa dia sungguh-sungguh mirip saya, bahkan menurut saya banyak sifat saya yang ada dalam dirinya “diperbaharui” menjadi lebih baik. Setelah saya renung-renungkan ternyata dulu itu saya banyak marah ke dia sebenarnya karena saya membenci sifat-sifat jelek yang ada pada diri saya. Saya melihat sikap dan tindakan dia itu menunjukkan sifat yang saya benci dalam dirinya. Saya kasihan dengan dia, karena dia menjadi korban dari kebencian pada sifat saya yang tidak saya sadari.
 
Sejak saya menyadari itu, hubungan kami jadi amat baik, dia menjadi teman baik saya romo,” ibu itu menjelaskan.
 
Apa yang dialami oleh ibu itu, amat sering terjadi pada diri banyak orang. Orang mudah menghakimi dan menghukum orang lain sering kali bukan pertama-tama karena orang lain itu salah atau jahat, tetapi orang itu tidak senang bahwa sifat dalam dirinya yang tidak disukai ada pada orang itu. Sehingga orang membenci orang lain karena sebenarnya membenci dirinya. Orang tidak mudah untuk mengampuni orang lain, karena dia juga tidak bisa mengampuni diri sendiri.
 
Betapa penting adanya kesadaran diri, seperti yang dialami oleh ibu itu. Kesadaran akan siapa diriku dan berjuang untuk menerima diri sendiri dengan baik, sehingga tidak menciptakan ukuran ideal diri pada diri orang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan pentingnya kemurahan hati. Dengan kemurahan hati, menjadikan orang lebih terbuka untuk menerima diri sendiri dan orang lain sehingga tidak dengan mudah mengadili orang lain. “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.”
 
Bagaimana dengan aku? Murah hatikah aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 Februari 2021

Renungan Harian
Minggu, 28 Februari 2021
Minggu Prapaskah II

Bacaan I: Kej. 22: 1-2. 9a. 10-13. 15-18
Bacaan II: Rom. 8: 31b-34
Injil: Mrk. 9: 2-10

Khawatir

Senja itu sepulang dari sawah, saya dan bapak petani yang saya ikuti, ngobrol di balai-balai teras rumahnya.
“Frater, padi-padi di sawah tadi, sudah berisi semua dan “mentes-mentes” (bulirnya penuh dan bagus). Kalau tidak ada halangan musim tanam kali ini hasilnya bagus. Kalau benar maka hasil panen nanti, kami bisa membayar hutang pupuk dan obat-obatan,” bapak itu bercerita dengan bahagia penuh harap. “Amin, pak, semoga nanti panennya bagus,” jawabku.
 
“Semoga hujan yang akan turun tidak terlalu deras dan tidak dengan angin. Di langit mendungnya sudah menggelayut mau tumpah,” bapak itu berharap.
“Kalau hujan bikin tanaman jadi busuk pak?” tanyaku.
“Kalau hujan deras dengan angin, padi-padi itu bisa roboh dan gak bisa dipanen frater,” jawab bapak itu. Jawaban bapak itu membuatku ikut khawatir.
 
Saat kami berangkat tidur, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Beberapa kali terdengar bunyi petir yang menggelegar seperti bersaut-sautan. Bapak itu, membuka pintu dan melihat keluar. Saat pintu dibuka terdengar suara pepohonan yang bergoyang-goyang diterpa angin. Aku ikut bangun dan menemani bapak itu diteras. Kami diam tidak bicara apapun, tetapi saya melihat ada rona kekhawatiran di wajahnya.
 
Kira-kira jam 3 dini hari saya dibangunkan diajak ke sawah untuk melihat tanaman padi yang sudah mulai berbulir. Kekhawatiran bapak itu menjadi kenyataan, sebagian besar dari tanaman padi itu roboh dan terendam air. Bapak itu mencangkul pematang sawah membuat jalan bagi air agar tidak menggenangi sawah. Setelah selesai beliau mengajak saya pulang. “Frater, kita pulang dulu, nanti kita babat padi-padi yang roboh,” kata bapak itu. “Wah, sayang tinggal menunggu panen tetapi banyak yang roboh,” kata saya menanggapi.
“Tidak apa-apa frater, nanti bisa untuk makanan sapi, sehingga untuk beberapa hari tidak perlu “ngarit” (mencari rumput),” jawab bapak itu.
 
Sore hari, setelah seharian babat tanaman padi yang roboh, kami duduk di balai-balai teras rumah.
“Wah pak, kali ini gagal panen. Bagaimana dengan hutang pupuk dan obat-obatan?” tanyaku.
“Yaaa itulah frater, sering kita itu berangan-angan semua akan baik dan luar biasa, tetapi pada saatnya tidak seperti yang diharapkan. Kalau dibilang cemas dan khawatir bagaimana nanti, pasti cemas dan khawatir itu ada. Tetapi dalam situasi seperti ini cemas dan khawatir tidak perlu, “Gusti ora sare” Gusti Allah pasti mencukupkan. Kenyataannya bapak sekeluarga sampai sekarang tetap bisa hidup meski tidak berlebihan. Setiap musim tanam masih selalu bertanam; hutang sering nunggak tetapi pelan-pelan terbayar. Pengalaman mendidik saya untuk semakin pasrah, tidak hidup dengan kecemasan dan kekhawatiran,” bapak itu menjelaskan.
 
“Wow, iman yang luar biasa,” batinku. Aku merasakan betapa pengalaman jatuh bangun bapak itu mendidiknya untuk mempunyai iman yang luar biasa. Sebagaimana yang sering dikatakan dalam pembicaraan: “Segala sesuatu yang baik itu harus melalui proses, bukan tiba-tiba. Seperti kata orang-orang tua dulu, “ngelmu itu kelakoni kanthi laku” (Ilmu itu diperoleh dengan perjuangan). Saya disebut petani, karena setiap hari bergumul dengan tanah dan senjatanya pacul.” Dengan ceritanya, saya mengerti bahwa pengalaman hidup mendidiknya untuk bisa pasrah dan mempunyai iman yang besar. Iman bertumbuh dalam pergulatan hidupnya.
 
Sebagaimana pengalaman Abraham sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian. Abraham dengan rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, yang telah ditunggu begitu lama karena pengalaman hubungan dengan Tuhan, telah mendidiknya menjadi pasrah penuh pada Tuhan. “Kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah imanku bertumbuh dalam pergulatan hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 Februari 2021

Renungan Harian
Sabtu, 27 Februari 2021

Bacaan I: Ul. 26: 16-19
Injil: Mat. 5: 43-48

Sempurna

“Romo, saya orang katolik dan selama ini saya berjuang untuk hidup sebagai orang katolik yang baik. Tetapi kalau sekarang saya dianggap orang katolik yang tidak baik, sebagai orang berdosa, tidak boleh terima komuni bahkan saya dikeluarkan dari Gereja katolik, saya akan terima. Saya akan ikut misa dari luar pagar gereja pun saya ikhlas,” seorang ibu muda datang langsung nyerocos penuh emosi.
 
“Maaf ibu, sebenarnya ada apa?” tanya saya dengan heran.

“Romo, saya sudah menikah sudah hampir 15 tahun dan kami dikaruniai seorang anak. Setelah menikah saya baru tahu kalau suami saya pernah hidup bersama dengan perempuan lain. Saya tahu karena perempuan itu melabrak saya di rumah. Masalah itu bisa kami selesaikan baik-baik, saya mau menerima suami dan suami juga berjanji untuk setia dengan perkawinan kami. Ternyata dalam perjalanan suami berkali-kali selingkuh dan alasannya adalah karena saya belum bisa memberi keturunan; dan yang paling menyakitkan adalah ibu mertua ikut menyalahkan saya.
 
Setelah 1 tahun perkawinan saya hamil romo, dan saya pikir suami menjadi insaf, ternyata tidak. Sejak saya hamil, suami tetap dengan perilaku yang sama, selingkuh sana sini. Sejak 2 tahun belakang ini, suami saya sudah punya istri lagi dan punya anak dengan istri barunya. Berkali-kali saya minta pisah, toh kenyataannya suami tidak pernah tinggal di rumah, dan saya yang menghidupi keluarga.
 
Setiap kali saya meminta pisah, ibu mertua selalu mengatakan bahwa perkawinan katolik tidak boleh cerai, sebagai istri saya harus sabar dan mendoakan. Menurut ibu mertua suami saya itu orang baik, dan sekarang ini baru kena godaan setan, maka saya harus lebih rajin berdoa. Sebagai orang katolik saya harus bisa mengampuni, seperti Tuhan Yesus yang telah mengampuni kita. Romo, saya muak sebenarnya dengan nasehat itu, tetapi saya berjuang untuk hidup sebagai orang katolik yang baik.
 
Romo, sekarang saya sudah tidak tahan lagi. Rumah tempat saya dan anak saya tinggal, yang saya beli dari hasil jerih payah saya, dijual dengan seluruh perabotnya. Saya tidak pernah tahu kalau rumah itu dijual, tahu-tahu ada orang yang datang mengaku sebagai orang yang membeli rumah dan meminta saya pergi, dengan diberi waktu 1 minggu.
 
Dalam situasi seperti itu, ibu mertua saya tetap dengan nasehat yang suci. Saya diminta mengiklaskan, dan saya diminta tinggal dengan orang tua saya dulu, nanti Tuhan pasti memberi ganti yang lebih baik. Saya tetap diminta memaafkan dan mengerti suami yang sedang terkena godaan setan.
 
Romo, saya bukan Tuhan Yesus, saya sudah tidak bisa lagi menerima diperlakukan seperti ini. Sekarang saatnya saya melawan, saya sudah memutuskan untuk meninggalkan suami saya, dan saya memulai hidup yang baru dengan anak saya.
 
Romo, itu sudah keputusan saya, romo akan menghukum saya apapun saya terima. Saya tidak akan pernah mengampuni suami dan ibu mertua saya, pun saya juga tidak mau lagi mendoakan,” ibu itu menjelaskan dengan marah.
 
Betapa mudah membicarakan tentang pengampunan, mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Betapa mudah mengatakan mengampuni dengan memandang Yesus yang tersalib. Namun dalam kenyataan sehari-hari betapa amat sulit dan rasanya mustahil. Seperti ibu yang mengalami peristiwa seperti itu, betapa kata-kata pengampunan sudah tidak masuk dalam hidupnya. Adakah kata-kata bijak yang dapat diterima oleh ibu itu dalam situasi seperti itu?
 
“Ibu, Gereja tidak menghukum ibu, ibu tetap boleh ke gereja, jangan pernah merasa Gereja akan memberikan hukuman. Gereja amat mengerti akan penderitaan ibu dalam hidup berkeluarga. Saya bisa mengerti dan menghormati keputusan ibu, dan saya akan membantu untuk mencarikan jalan keluar atas masalah perkawinan ibu, agar ibu dapat hidup dengan putra ibu dengan lebih damai,” jawab saya, dengan penuh harap dapat diterima dan berguna untuknya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Tuhan menegaskan penting menjalankan hukum kasih, bahkan dengan cara yang radikal. Tetapi kiranya Yesus amat mengerti betapa sulit yang radikal itu dapat dilaksanakan, maka yang dituntut adalah perjuangan terus menerus. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku di jalan perjuangan untuk menjadi sempurna?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 Februari 2021

Renungan Harian
Jumat, 26 Februari 2021

Bacaan I: Yeh. 18: 21-28
Injil: Mat. 5: 20-26

T a r i f

Suatu ketika saya mendapat pertanyaan dari seorang umat yang bagi saya menjadi tamparan yang cukup keras. Beliau menyampaikan kepada saya dengan amat halus dan hati-hati:
“Romo, apakah mungkin saya mendapatkan keringanan biaya untuk pemberkatan perkawinan anak saya di gereja?”

Saya amat terkejut dengan pertanyaan itu, karena menurut saya tidak ada biaya apapun untuk pemberkatan perkawinan.
 
“maaf pak, apa yang bapak maksud dengan biaya pemberkatan perkawinan?” tanya saya.

“Maaf romo, sekali lagi saya mohon maaf. Anak saya akan menikah dan pemberkatan perkawinan akan dilangsungkan di paroki calon istrinya. Di sana sudah ada tarifnya romo, untuk bunga, untuk sekretariat, untuk pastor dan yang lain. Untuk kami yang kurang mampu ini amat berat.”

“Pak, biasanya bunga yang mahal, maka gak usah pakai bunga kan juga tidak apa-apa kan?” tanya saya.

“Betul romo, walau tidak memakai bunga tetap kena biaya minimal, dan biaya-biaya lain cukup besar. Itulah romo mengapa saya mohon keringanan.”
 
Setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan bapak itu, tetapi apa yang dikatakan bapak itu sebuah tamparan yang bikin nyesek. Betapa mengerikan ketika pelayanan gereja menjadi “komersial” dan ditarifkan. Kalau benar itu terjadi maka akan banyak orang sederhana yang akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan bahkan pelayanan yang seharusnya menjadi hak setiap umat beriman.
 
Kiranya itu yang dikritik oleh Yesus sebagaimana dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh St. Matius. Orang Farisi sebagai penjaga agama dan penafsir hukum, sering kali membuat aturan-aturan yang menguntungkan diri sendiri dan tanpa sadar menjauhkan umat dari Tuhan.
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku menggunakan agama untuk mencari keuntungan pribadi?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Februari 2021

Renungan Harian
Kamis, 25 Februari 2021

Bacaan I: Tambahan Ester 4: 10a. 10c-12. 17-19
Injil: Mat. 7: 7-12

A n e h

Ibu itu selalu memancarkan keramahan kepada  setiap orang. Ia selalu menyapa orang-orang yang ditemuinya. Bahkan ketika ia tidak mengenal orang yang ditemuinya ia selalu memberikan senyum. Di antara teman-temannya ibu itu dikenal orang yang ringan untuk membantu dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Setiap kali ada kegiatan dan ia diundang, dan dengan senang hati ia akan terlibat dan membantu.
 
Ibu itu bukanlah orang menonjol, dia seorang ibu yang biasa, sederhana, tetapi karena keramahannya dia menjadi menonjol di antara yang lain. Ia selalu memancarkan energi positif bagi orang lain yang bertemu dengannya. Maka tidak heran bahwa banyak orang mengatakan bahwa dia itu orang baik dan menyenangkan.
 
Teman-teman yang mengenal dia dengan dekat, amat heran dengan dirinya, bahkan melihat sesuatu yang aneh (dalam arti positif). Orang-orang yang dekat dengan dia tahu persis bahwa sesungguhnya beban hidupnya amat berat. Dia menjadi single parent dan harus menghidupi dua orang anaknya. Suaminya pergi dengan perempuan lain meninggalkan dia serta anak-anaknya begitu saja.
 
Ibu itu harus bekerja keras setiap hari agar dirinya dan anak-anaknya dapat terus menjalani kehidupannya. Teman-temannya tahu persis bagaimana perjuangan dia untuk menghidupi keluarganya. Kalau ditanya tentang suaminya, dia dengan jujur mengatakan bahwa suaminya pergi meninggalkan dirinya; namun ketika membicarakan suaminya dia tidak menampakkan kebencian dan dendam dengan suaminya.
 
Suatu saat dalam sebuah pertemuan, teman-teman dekatnya meminta dia untuk sharing tentang perjuangan hidupnya, khususnya bagaimana dia menghadapi prahara rumah tangganya. Dia mengatakan:
“Aku punya Tuhan yang luar biasa, Dia yang membuat aku mampu untuk menghadapi semua ini. Aku pasrahkan hidupku di tanganNya, aku yakin Tuhan akan mencukupkan segalanya; dan aku mengalami dan merasakan Ia telah melakukannya. Kalau hanya mengandalkan diriku, pasti aku sudah tidak kuat.”
 
Luar biasa! Hidupnya sungguh-sungguh mewartakan keagungan dan belas kasih Allah. Hidup yang selalu memancarkan energi positif bagi setiap orang yang dijumpainya memancarkan kepasrahannya kepada Allah. Keyakinannya bahwa Allahlah sumber kekuatan dan penolong menjadikan dia mampu memancarkan kebahagiaan di balik luka, dan derita yang ditanggungnya. Penderitaan luar biasa yang ditanggungnya tidak mengurangi kebahagiaannya karena keyakinannya akan belas kasih Allah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Ester, dalam penderitaan yang mencekam dan seolah tidak ada jalan keluar, namun keyakinan akan Allah yang hidup, yang pasti akan menolong, menjadikan Ester tidak kehilangan harapan. Ia berani menghadapi dan memeluk tantangan dan derita yang dialaminya. “Tuhanku, Raja kami, Engkaulah yang tunggal. Tolonglah aku yang seorang diri ini. Padaku tidak ada seorang penolong selain Engkau, sebab bahaya maut mendekati diriku.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mengandalkan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Februari 2021

Renungan Harian
Rabu, 24 Februari 2021

Bacaan I: Yun. 3: 1-10
Injil: Luk. 11: 29-32

Bingung

Seringkali saya berhadapan dengan tamu yang menyampaikan berbagai macam kesulitan yang dialami dalam hidupnya. Mereka akan berbagi pengalaman pergulatan dalam menghadapi kesulitan yang dialami. Tidak jarang mereka sungguh-sungguh tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
 
Di saat mereka mengalami pergulatan hidup yang luar biasa itu, mereka telah mengusahakan berbagai macam cara, berjuang dengan daya-daya sekuat kemampuan yang ada pada mereka; mereka juga tidak kurang dalam doa bahkan bermati raga, tetapi cahaya yang menuntun keluar  dari kegelapan itu belum juga tampak.
 
Pertanyaan yang diajukan adalah apa tandanya bahwa Tuhan itu mendengarkan doa-doanya dan apa tandanya bahwa Tuhan itu hadir dalam kegelapan hidupnya serta menuntun keluar dari kegelapan hidupnya.
 
Pertanyaan yang amat sulit untuk dijawab dan membuat saya sendiri juga terdiam dalam kebingungan. Tentu ada jawaban teologis spiritual yang bisa disampaikan berkaitan dengan pengalam akan Tuhan dan kehadiran Tuhan; akan tetapi jawaban itu amat mudah “dimentahkan” karena mereka punya segudang pengalaman kesulitan menemukan Tuhan.
 
Suatu saat ketika saya bersama seorang bapak mendampingi sebuah keluarga yang dalam kesulitan amat sangat, saya mengatakan bahwa seharusnya keluarga itu lebih berjuang dan semakin pasrah. Bapak itu mengatakan kepada saya: “Romo, dalam situasi yang gelap seperti itu, semua pintu dan cara tertutup. Seluruh daya yang ada sudah habis untuk menemukan jalan keluar, serta bangun dari “kepentok-pentok.” Kata-kata bapak itu amat membekas dalam diriku.
 
Pada saat saya berhadapan dengan umat dengan siatuasi yang amat rumit saya hanya bisa berdoa: “Tuhan berilah tanda belas kasihMu kepadanya.” “Kenapa aku terjebak untuk meminta tanda juga?” tanya saya dalam hati. Saya sering menjadi bingung sendiri, apakah salah saya meminta tanda, ketika saya dihadapkan dengan orang-orang yang meminta tanda, dan saya diminta menghantar mereka mengenali dan mengerti tanda itu.
 
Berhadapan dengan situasi seperti itu, saya hanya bisa menjawab bahwa apa yang telah diusahakan dan dilakukan itu luar biasa. Saya yakin (meski selalu berjuang untuk semakin yakin) Tuhan pasti menolong dan memberi jalan keluar. Saya akan menemani berdoa dan tetap percaya pada harapan akan belas kasih Tuhan.
 
Ajaib, itu yang saya alami. Dalam banyak pengalaman, mereka yang datang akhirnya bisa berbagi pengalaman bagaimana mereka menemukan jalan keluar, mereka merasakan bagaimana Allah hadir dan menolong meski tidak tahu tandanya seperti apa dan bagaimana, yang pasti mereka merasakan dituntun untuk keluar dari kegelapan hidup. Mereka merasakan bagaimana Allah dengan caranya mengirim “malaekat” bagi mereka.
 
Pengalaman mereka semakin meneguhkan saya, bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk menuntun seseorang. Tuhan menuntun seseorang dengan amat khas dan personal bagi setiap orang; seringkali bagaimana tuntunan itu tidak disadari pada saat bergulat, dan baru disadari ketika sudah keluar dari kegelapan. Ternyata bukan tanda yang dibutuhkan tetapi kerelaan untuk dituntun.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik orang Yahudi yang selalu meminta tanda akan kuasa Allah. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda, selain tanda nabi Yunus.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku terjebak untuk meminta tanda kuasa Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.