Renungan Harian: 3 Februari 2023

Renungan Harian
Jumat, 03 Februari 2022

Bacaan I: Ibr. 13: 1-8
Injil: Mrk. 6: 14-29

Prasangka

Sebuah perikop dalam injil Lukas, yaitu Lukas 15: 11-32 dimana dalam alkitab tertulis judul: “Perumpamaan Anak Yang Hilang” sering kali dimengerti bahwa isi perikop itu adalah tentang anak yang hilang. Hampir setiap kali perjumpaan dan bertemu dengan perikop itu kalau ditanya isi perikop itu maka jawaban yang muncul adalah anak yang hilang. Bahkan ketika diminta untuk membaca dengan teliti jawaban yang muncul tetap sama bahwa isi perikop itu tentang anak yang hilang. Padahal kalau dicermati dan dibaca dengan teliti maka isi perikop itu tentang Bapa yang baik.

Jawaban-jawaban itu muncul mungkin karena orang membaca judul sehingga menyimpulkan dengan cepat bahwa isi sama dengan judul; mungkin juga karena orang mendengar penjelasan-penjelasan teks itu lebih menekankan tentang anak yang hilang sehingga apa yang terekam adalah anak yang hilang. Apa yang didengar, apa yang dilihat dengan sepintas dan direkam menjadikan jawaban-jawaban berdasarkan apa yang direkamnya tidak penting apakah yang direkam itu benar atau salah.

Apa yang terjadi itu adalah sebuah prasangka. Orang belum sungguh-sungguh membaca dengan benar, mengerti dengan benar tetapi sudah membuat kesimpulan. Simpulan dibuat dengan cepat karena sudah ada rekaman yang dipunya dan rekaman itu menutupi kenyataan yang sesungguhnya dihadapi.

Dalam hubungan dengan sesama, prasangka menimbulkan salah paham yang berujung pada penilaian tentang sesama. Sayangnya prasangka yang muncul seringkali adalah prasangka yang kurang baik atau tidak baik akibatnya prasangka menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada ketidak serasian hubungan dengan sesama. Adanya prasangka menyebabkan kasih dengan sesama menjadi sulit terwujud karena prasangka itu dianggap sebagai kebenaran dan sulit untuk diubah.

Prasangka bisa dihilangkan manakala aku mampu membuka diri terhadap sesamaku dengan membiarkan sesamaku menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Salah bentuk keterbukaan diriku yang paling dasar adalah keberanianku untuk mendengarkan sesamaku sampai aku mengerti dan memahami apa yang disampaikan tanpa kesibukan berpikir. Dengan demikian aku bisa mengasihi sesamaku apabila aku mampu membuka diri untuk sesamaku. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Ibrani ajakan untuk mengasihi sesama dengan kerelaan untuk membuka diri pada sesama.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 2 Februari 2023

Renungan Harian
Kamis, 02 Februari 2023
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Bacaan I: Mal. 3: 1-4
Bacaan II: Ibr. 2: 14-18
Injil: Luk. 2: 22-40

Menunggu

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk saya jawab ketika diajukan:
“Orang yang sudah sepuh itu apa yang ditunggu?”.

Saat masih muda punya begitu banyak mimpi yang diperjuangkan; saat mulai bercucu menunggu saat-saat bertemu dan bercengkerama dengan cucu-cucu. Ketika semakin sepuh dan tinggal sendiri karena suami atau istrinya sudah mendahului, anak-anak sudah sibuk dengan cucu-cucu mereka, dan cucu-cucu sudah sibuk dengan keluarga masing-masing, Ia tinggal sendirian adakah yang masih ditunggu?

Banyak dari mereka yang sudah sepuh tidak mau meninggalkan rumahnya, karena ada banyak ikatan rasa di dalamnya. Mereka memilih hidup sendiri di rumahnya. Mungkin juga ada banyak perasaan tidak enak kalau dirinya merepotkan orang lain. Ia sadar bahwa dirinya sudah mengalami banyak kerepotan untuk mengurus dirinya sendiri, maka tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Ketika masih banyak teman sebaya, maka ada hiburan ketikaketemu teman-temannya yang adalah juga tetangganya. Namun ketika banyak teman yang sudah semakin sepuh dan dirinya juga menjadi sepuh sehingga sulit untuk bertemu dan berkegiatan. Ia hanya akan tinggal di rumah sendirian, apa yang dinantikan?

Mungkin ia menanti kedatangan anak, menantu, cucu atau buyutnya yang akan memberikan penghiburan. Meski menanti dan berharap ia tidak berani untuk mengungkapkan hal itu kepada mereka karena takut menjadi beban bagi mereka. Mungkin juga menanti untuk dijemput dan diajak jalan-jalan oleh anak, menantu, atau cucunya, tetapi tidak juga berani mengungkapkan karena khawatir merepotkan. Haruskan ia menantikan hal itu?

Semakin sepuh, semakin sedikit waktu untuk tidur, dan sering kali mengalami kesulitan untuk tidur. Tidak jarang dini hari terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Apa yang berkecamuk dalam dirinya? Hampir semua orang tua selalu menjawab bahwa sebagaian besar waktunya digunakan untuk berdoa.

Berdoa bagi anak, menantu, cucu dan buyut. Saat tidak bisa tidur, saat terbangun yang dilakukan adalah berdoa. Tentu mereka tidak menunggu dan menanti datangnya saat dirinya dipanggil tetapi lewat doa-doa yang dipanjatkan sekaligus menyiapkan diri untuk itu.

Mereka menyiapkan diri sedemikian, membuat dirinya damai dan menikmati hari tuanya sehingga bila saatnya tiba bisa mengidungkan doa Simeon:
“Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu.”

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 26 Januari 2023

Renungan Harian
Kamis, 26 Januari 2023
Peringatan Wajib St. Timotius dan Titus

Bacaan I: 2Tim. 1:1-8
Injil: Luk. 10:1-9

Disiapkan

Menjelang Pertemuan Nasional OMK 2005, saya bersama 2 orang lainnya dikumpulkan dan dipersiapkan untuk menjadi utusan Keuskupan, menemani ketua Komisi Kepemudaan di Keuskupan mengikuti perhelatan nasional ini.

Pertemuan Nasional dimasanya adalah ajang pertemuan yang tidak sekedar Perayaan, namun lebih menyerupai Sidang, yang sangat dinamis dan penuh buah buah rohani.

Sebelum pergi, kami dipersiapkan dan disegarkan pada informasi dan kebijakan kebijakan Reksa Pastoral Kepemudaan dimasa itu, termasuk informasi kondisi OMK di keuskupan Bandung. Pengalaman kami dalam proses pelayanan di teritorial dan kategorial pun menjadi hal yang kami persiapkan untuk kami bagikan nantinya.

Saat Pernas, kami berkumpul dengan teman teman utusan dari keuskupan lainnya. Di Cibubur kami berproses, mulai dari Misa pembukaan, misa harian, sidang, keakraban, diskusi sengit, sampai membuat rekomendasi OMK untuk Sidang Agung Katolik Indonesia (SAGKI) 2005.

Saat pulang dari pernas, ada banyak buah buah rohani yang saya bawa. Terutama pada issue kerusakan lingkungan, korupsi dan lemahnya pendidikan nilai.
Tapi jujur, rasanya berat sekali membawa amanat seruan Pernas ini. Dikepala sudah khawatir, apakah saya bisa melakukannya? Apakah sungguh perutusan kembali kami ke keuskupan dan kelompok kategorial selepas pernas, bisa menjadi tindakan nyata, dan bukan sekedar jargon yang lenyap dalam hitungan bulan. Saya khawatir.

Ketua komisi kepemudaan saya saat itu sering menggoda saya dengan bilang ‘khawatir’ adalah kata favorit saya. Mungkin karena dia tahu bahwa saya sudah dipersiapkan sedemikian rupa, tapi masih meragu dalam banyak hal. Saya meragu tentang dari mana saya memulainya, dengan siapa saya menjalankannya, mengapa sulit mengajak orang peduli, mengapa banyak yang juga tidak mendukung, dan banyak lagi kekhawatiran yg muncul.

Disaat saat itu, Bacaan hari ini, adalah bacaan yang kemudian menguatkan saya untuk belajar lebih tenang berjalan bersamaNya dalam pelayanan.

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala

Ada janji bahwa Tuhan akan selalu menemani kita, terutama disaat kita merasa harus berjalan sendiri, dan Tuhan akan mengirimkan bantuan lewat sesama, saat itu sungguh sesuai dengan kehendakNya.

Ada pengingat, bahwa semua itu bukan hal yang mudah, akan sulit, dan karenanya Dia menguatkan hati kita dan memberi kita petunjuk praktis dalam kerasulan pada sesama.

Jangan terganggu oleh sarana, fokus pada tujuan.
Terus berbuat baik, entah diterima atau tidak. Cukupkan dirimu dengan hal hal yang dibutuhkan dan bukan yang hanya ada karena dorongan hasrat keinginan semata. Setia, dan bawa damai dan kesembuhan, bukan sebaliknya.

Semoga sungguh kita bisa terus menjadi utusan, jangan menanti sempurna untuk diutus, karena walau Tuhan meminta kita selalu berjaga dan bersiap, Tuhan tak meminta kita sungguh sempurna, untuk mulai melayaniNya.

Tuhan ampuni kami orang yang banyak khawatir ini

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Januari 2023

Renungan Harian
Rabu, 25 Januari 2023
Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul

Bacaan I: Kis. 22:3-16
Injil: Mrk. 16:15-18

Penyembuh

Beberapa hari yang lalu seorang teman yang sedang bekerja bersama kami secara online, pamit untuk berhenti, karena ada hal mendesak dan mendadak. Kami tetap lanjut tugas memfasilitasi kegiatan online, tapi cukup penasaran apa yg terjadi, sampai dia meninggalkan ‘pos’ nya.

Dia masuk bergabung kembali, dan saat acara selesai, kami bertanya apa yang terjadi.

“Ada mahasiswa dampingan yang depresi kena serangan panik, dan mau melakukan hal yang buruk pada diri sendiri” katanya dengan tenang, namun sontak membuat kami panik.

“Siapa itu? Maksudnya boleh tahu nama atau anak mana gitu? Jadi khawatir pada beberapa keponakan” Seorang teman bertanya khawatir

“Dia ngapain? Sekarang sudah aman? Baik baik saja?”tanya yang lain

Dengan tenang dia bercerita singkat seperlunya, untuk lebih menjelaskan pilihannya meninggalkan pos pekerjaannya di online kali itu untuk hal yang jelas lebih penting, soal hidup seseorang. Kami tahu selanjutnya bahwa dia dan beberapa teman menemani dan memantau yang bersangkutan sampai pukul 2 dini hari selanjutnya, menunggu orang tua si mahasiswa datang.

Teman kami, dan beberapa rekan banyak berurusan dengan mahasiswa dan anak anak muda. Tampak sederhana, konseling dan training. Tapi prakteknya, banyak orang yang tidak hanya butuh konseling pendidikan dan pelatihan pengembangan diri, anak anak itu membutuhkan telinga mereka, butuh ditemani saat sedang panik, butuh masukan yang berupa pertanyaan reflektif, butuh teman, dan semua ini bahkan menguras tenaga, perhatian dan waktu, diluar jam kerja kantor mereka.

Anak anak mencari mereka, entah mereka sadari atau tidak, mereka mengusahakan kesembuhan, sekurangnya pereda sakit dan kecemasan yang anak anak ini miliki entah dari kapan. Teman teman saya bukan tidak punya kehidupan dan beban hidupnya sendiri, tapi mereka mendedikasikan diri untuk integritas dan panggilan hidup yang mereka pilih, menemani dengan tulus dan membantu yang membutuhkan.

Kehendak Tuhan adalah agar kita mau menyiapkan diri dan berproses untuk menjadi orang percaya, orang yang mampu menjadi saksi, pembawa kesembuhan bagi banyak orang.

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Dalam Bacaan Injil tertulis perutusan Tuhan untuk kita, dan dalam kisah pertobatan Paulus, Ananias menyapa dan menyembuhkannya secara fisik dan rohani.

Adakah kita menyiapkan diri, untuk mampu menjadi penyembuh dan pembawa damai, dan bukan sebaliknya?

Tuhan ampuni kami orang berdosa

*Tabik, dan hormat saya pada kalian, yang menyediakan diri dengan tulus menemani jiwa jiwa yang butuh kesembuhan, tanpa semata mata dibatasi dan diukur oleh rupiah, jam kerja, jabatan, serta nama besar.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Januari 2023

Renungan Harian
Selasa, 24 Januari 2023
Peringatan Wajib St. Fransiskus dr Sales

Bacaan I: Ibr. 10:1-10
Injil: Mrk. 3:31-35

Termasuk

“Aku tuh bingung, kenapa harus pakai istilah OMK sih? Bukannya sama saja dengan mudika?” Tanya seorang muda dalam pertemuan di tingkat paroki, sekitar tahun 2005.

Di tahun 2004, saya mulai mengenal istilah OMK. Sepertinya demikian juga dengan banyak orang tahun itu. Sampai beberapa tahun kemudian, istilah ini masih sering menjadi bahan pembicaraan, apa dan siapa itu OMK?

“Apa nya yang buat bingung?” Tanya saya sambil tertawa saat itu. Saya tertawa karena saya juga pernah sempat bingung dengan istilah baru ini.

“Iya kan Muda mudi katolik adalah Orang Muda Katolik, dan sebaliknya kan? Untuk apa dimunculkan istilah baru ini? Jadi malah buat perpecahan nggak nanti?”tanyanya serius

“Gini deh, kamu anggota OSIS bukan di SMA dulu?” Tanya saya

“Bukan, nggak seaktif itu saya. Cuma saya anak Basket yang pasti” jawabnya

“Nah itu. Istilah ‘Anak Basket’ dan terutama ‘anak OSIS’ kan seperti menunjuk pada kelompok tertentu dan seolah ada hal-hal yg membuatnya khas dan berbeda. Kalau anak Basket sudah jelas, anak anak yang ikut ekskul Basket. Nah kalau anak OSIS atau anggota OSIS, kan ini jadi salah kaprah.

Kalau kamu sekolah di SMA formil, yang setiap hari pakai baju dengan batch OSIS disaku kiri, yah kamu anggota OSIS, semua siswa yah anggota OSIS. Cuma yang dirimu maksud, dirimu bukan Pengurus OSIS kan? Kamu yang anggota jadi merasa bukan, karena tidak aktif mengurusi organisasi nya.

Nah demikian juga dengan Mudika dan OMK. Pelayanan Gereja untuk orang muda, yah semua anak direntang usia 13-35 dan belum menikah. Tidak soal dia aktif atau tidak, dia berhak dan wajib terlibat dan dilibatkan dalam pelayanan Gereja, terutama tentang kaum muda.

Ada kondisi seperti pemahaman ‘anggota OSIS’ tadi saat kita bilang Mudika, saat banyak anak muda tidak merasa menjadi bagian dari Mudika, dan ketika diajak berkegiatan, mereka menolak karena merasa bukan mudika. Atau mereka yang merasa aktifis mudika menolak melayani mereka yang tidak aktif.

Maka untuk merangkul, kita perlu membahasakan ulang dan mengembalikan makna awal, bahwa semua orang katolik direntang 13-35, dan belum menikah, adalah Orang Muda Katolik. OMK adalah pengkategorian rentang usia, bukan kelompok kategorial tertentu, otomatis kamu OMK begitu memenuhi syarat yang ada, nggak perlu daftar dan diseleksi. Sudah otomatis dapat hak dan kewajiban sebagai bagian dari Gereja”saya mencoba menjelaskan

“Oh, jadi semua OMK yah bukan cuma yang ngurus di Paroki?”tanyanya lagi untuk memastikan

Dan pertanyaan serupa masih berlanjut dibanyak tempat dan tahun.

Dalam hal ini, kita dapat melihat, bahwa ada kesenjangan saat itu, saat kita menyebut Mudika, yang selayaknya memberi gambaran untuk keseluruhan, jadi hanya ke sekelompok kecil. Orang menjadi merasa bukan bagian dari kelompok tertentu. Tidak ada keterikatan dan tidak merasa masuk menjadi bagian dari kelompok. Ada keintiman yang lalu disekat sekat, dan memisahkan.

Bacaan hari ini, Yesus mendobrak sekat sekat yang ada, dan membuka pintu keintiman lain bagi semua pengikutnya. Semua saudara dan ibu, tidak tersekat oleh darah, namun terikat karena iman

Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”
Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku, barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Semua menjadi anggota gereja, bukan sekedar mereka yang bertalian darah, tapi semua yang melakukan kehendak Allah.

Apakah Maria tersinggung saat Yesus mempertanyakan siapa saudara dan ibu Nya? Saya rasa tidak, karena dari semua yang hadir disana, Maria saya yakini sebagai yang paling total dalam melakukan kehendak Allah, Maria sudah barang tentu adalah Saudara dan Ibu Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah bagian dari Gereja? Adakah keintiman muncul, hingga kita dengan yakin menjawab, YA?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Januari 2023

Renungan Harian
Senin, 23 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 9: 15,24-28
Injil: Mrk. 3:22-30

Fitnah

Sekali waktu untuk keperluan pengukuran awal sebelum proses pendampingan sebuah lembaga kami lakukan, kami melakukan observasi dan probing terhadap semua bagian terkait, terutama bagian Keuangan dan akuntansi, atas permintaan komisaris lembaga tersebut.

Di hari-hari awal, kami menemukan banyak keganjilan, dan semua mengarah pada satu titik, yaitu bagian accounting. Beberapa wawancara bahkan secara terbuka mengatakan bahwa kepala bagian akunting tidak cakap dalam menjalankan tugasnya, sampai banyak ketidakjelasan yang terjadi.

Tapi kami semakin terkejut, saat kami mewawancarai kepala akunting, dia sedemikian terbuka, dan setiap pertanyaan dijawab. Sampai akhirnya kami menanyakan keganjilan keganjilan yang kami curigai.

“Bapak bapak, saya tahu, waktu ini akan tiba. Saya selalu aneh, setiap kali ada revisi dan permintaan double, atau instruksi pembatalan dan penambahan anggaran dari manager dan kepala yang lain, bahkan bapak direktur.

Saya ini akuntan, tidak pegang akses uang secara langsung, kalau saya dibuat seolah saya melakukan perbuatan curang, cukup ikuti arah uang. Saya yakin itu tidak diawali di saya, atau berakhir di saya.

Kalau saya dijadikan alasan keuangan lembaga tidak berjalan baik, saya malah aneh, karena kerjaan saya justru selalu berbenah dan menambal sana sini.

Tapi karena saya tahu ini akan terjadi, silakan bandingkan sendiri, ini laporan yang saya yakin bapak sudah dapat dari manager dan bapak direktur. Dan ini pak, satunya, laporan keuangan yang saya yakini sebagai laporan yang sebenarnya.

Saya lengkapi dengan informasi bukti bukti transaksi hasil foto copy, yang dapat dicek ke suplyer, karena yang aslinya selalu ditarik secara berkala dan entah disimpan dimana. Tapi karena saya mulai curiga, saya rekap semua sendiri pak.

Saya tahu kebenaran hanya bisa dipastikan saat ada klarifikasi dan bukti. Saya hanya bisa berharap, ini cukup untuk memberi awalan pemeriksaan. Selebihnya, saya pasrah kalau saya di fitnah sebagai sumber kekacauan dan ketidakpastian di lembaga selama ini.” ibu itu jawabnya tenang, walau terlihat air mata menetes deras sepanjang dia menjelaskan dan memberi bukti bukti.

Tentunya hal ini membuat kami berpikir panjang. Tapi diakhir kami menemukan, bagaimana beberapa pihak bersekutu untuk melimpahkan tanggungjawab hanya pada satu orang ini.

Menimbang hal tersebut, kami serahkan temuan dan meminta komisaris selaku pemilik untuk memperhatikan dan melakukan kajian serta pemeriksaan yang layak dr Audit dan KAP sebelum kami melakukan pendampingan, mengingat ada perselisihan didalam lembaganya.

Beberapa waktu berselang, kami mendapat kabar, bahwa benar ibu kepala akunting di fitnah untuk kesalahan dan kecurangan yang terjadi. Dan setelah di periksa, betul bahwa kecurangan secara sistematis sudah terjadi di beberapa tingkat management.

Andai kami hanya mendengar berita yang disebarkan dan digaungkan oleh beberapa orang penting disana, mungkin kami bisa ambil jalan pintas untuk percaya dan mengusulkan penggantian kepala akunting. Dan lalu seolah semua akan baik dan beres.

Namun kita tahu, bahwa kebenaran sejati, harus lengkap dengan bukti, dan motivasi kerja serta prilakunya, teruji oleh waktu.

Saat kita mendengar sebuah berita, tanpa memahami bukti dan menyilangnya dengan fakta yang ada, kita sangat berpotensi jatuh dalam fitnah.

Dalam bacaan hari ini, Yesus difitnah.
ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”

Dengan pengaruh dan jabatan sosial dimasyarakat, mereka berusaha membunuh karakter Yesus dengan fitnah. Namun dengan bukti dan ketulusan motivasi kerajaan Allah, Yesus bertahan dan terus melakukan perbuatan kasih. Tuhan tidak berkenan dan membenci mereka yang melakukan fitnah, apa lagi menyebarnya.

Kita diajak untuk menjadi bijak, agar tak jatuh pada jurang fitnah, atau tanpa sadar, menjadi penyebar fitnah.

Tuhan ampuni kami orang berdosa ini.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 22 Januari 2023

Renungan Harian
Minggu, 22 Januari 2023

Bacaan I: Yes. 8:23b-9:3
Injil: Mat. 4:12-23

Pengalaman di cinta

Saat beberapa kali menemani Retret yang di bimbing Romo Paul Suparno SJ., Saya mengalami kesan yang mendalam, saat beliau memimpin doa penyembuhan ditahap menjelang akhir.

Dalam prosesnya peserta disiapkan untuk mengenali diri mereka dan memohon pada Tuhan, akan penyembuhan yang mereka butuhkan.

Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami, dari dosa sembuhkanlah kami, Tuhan Yesus.

Alunan lagu yang mengajak kita lebih dalam melihat hidup, yang butuh disembuhkan.

Dalam proses saya memahami bahwa, kedalaman Doa Penyembuhan, akan semakin dalam mengena dan membantu, saat dalam proses retret, peserta mengingat dan menemukan pengalaman dicinta oleh Tuhan dan dengan rendah hati mencari Tuhan, mencari kesembuhan yang sejati, yaitu hidup didalam, dan bersama Tuhan.

Untuk mukjizat kesembuhan, kita perlu mengikuti dan bersama dengan Yesus. Sudahkah kita, bersediakah kita?

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

KEGIATAN CLC-DI-YOGYAKARTA: Minggu, 22 Januari 2023

Acara CLC Yogyakarta
Hari Minggu, 22 Januari 2023
Pukul 10.00~12.00 WIB
Di Gedung Pusat Pastoral Mahasiswa DIY, (Marga Siswa) Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo (seberang Timur RS Bethesda)

Pertemuan Awal Tahun CLC

Bersama Romo Azismardopo, S.J.

Acara : Nostalgia dan bercerita bagaimana pengalaman lucu dan berkesan selama ber CLC. Selanjutnya diteguhkan oleh Romo Azis dengan ” kembali ke Prinsip prinsip Umum CLC. ( bernostalgia dan penyegaran). Seperti biasanya, ditutup dengan makan siang bersama . AMDG ❤️

Renungan Harian: 21 Januari 2023

Renungan Harian
Sabtu, 21 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 9:2-3,11-14
Injil: Mrk. 3:20-21

Aneh

Saat itu saya baru dua tahun lulus kuliah dan bekerja. Demikian juga dengan kebanyakan teman teman seangkatan saya.

Tapi ada satu diantara teman teman saya, yang tampak lebih menonjol. Lulus kuliah dia langsung bergabung dengan satu perusahaan terkemuka di kota kami, bahkan sangat dikenal di Indonesia.

Kami sama sama sarjana akuntansi, tapi saat saya masih berkutat mencatat laporan di buku tulis panjang dengan banyak tabel, dia sudah berkisah diterbangkan perusahaannya keliling Indonesia, untuk melakukan audit.

Jangankan soal biaya perjalanan dinas dan fasilitas yang bisa dia dapat, mendengar kisah naik pesawat saja sudah membuat kami kagum dan iri.

Disatu hari minggu, kami janjian kumpul di rumah saya. Seperti biasa, kami kumpul sambil makan siang bersama. Saat kami sudah asik ngobrol sambil makan, tiba tiba kami mendengar berita mengejutkan

“Per bulan depan gue dah nggak gawe lagi, gue mengundurkan diri dan bikin warung didepan rumah”katanya simpel

“Apa!! Ngapain sih?! Gila lue yah. Emang kenapa? Ada masalah di kantor?

Sayang tahu, udah enak tempat loe kerja tuh, ngapain pake keluar” respon seorang teman menanggapi dengan serius

Yang lain tak kalah terkejutnya, memandang dengan aneh dan terdiam. Teman kami itu satu satunya orang yang tertawa melihat reaksi kami

“Duh kalian ini, tidak ada apa apa kok. Hanya ada satu orang yang suka memasak, ingin mengaktualisasi diri. Kebetulan tukang beras yang sewa kios di depan sudah tidak lanjut, jadi sepertinya waktu yang tepat buat memulai pekerjaan yang gw suka.

Kan kalian tahu gue suka masak. Kalau pun nggak berhasil nggak soal lah, kita masih muda ini, coba lagi aja, atau yah cari kerjaan lagi” jawabnya tenang

“Lue tuh yah, orang aneh”kata seorang teman disambung tawa kami saat itu.

Usahanya tidak langsung berhasil, ada jatuh dan bangun, tapi dia tampak bahagia dan dari waktu ke waktu tampak mapan dengan pilihannya.

Kadang saat kita melakukan apa yang kita sukai, tidak semua orang paham dan nyaman melihatnya. Orang orang dekat, akan dengan mudah memberi peringatan dan teguran, bahkan larangan. Ketidaktahuan, dan prilaku yang tidak umum, sering kali membuat orang orang cemas dan khawatir.

Nampaknya itu yang dirasakan sanak keluarga Yesus. Ketidak tahuan mereka membuat mereka khawatir dan cemas melihat Yesus, bahkan mungking saja melihatnya sebagai orang aneh.

Kita sering terjebak pada asumsi negatif untuk segala hal yang tidak umum dan aneh. Dari bacaan hari ini, kita belajar betapa kita perlu memberi waktu dan ruang untuk mengenal dan memahami hal lebih dalam. Tidak terjebak pada kesimpulan yang melompat, atau asumsi negatif.

Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Semoga kita, lebih arif melihat perbedaan, dan menyediakan ruang dan waktu untuk mengenal sebelum menyimpulkan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Januari 2023

Renungan Harian
Jumat, 20 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 8: 6-13
Injil: Mrk. 3:13-19

Bercermin

“Mas sepertinya bisa sendirian saja yah mendampingi kelompok yang tidak terlalu besar?”
Tanya seorang rekan muda saat menemani proses pelatihan

“Kalau dengan metode kita, yah tidak bisa”saya menjawabnya

Itu dia tanyakan hal diawal kegiatan, dan tampaknya dia mengamati proses pendampingan, dan tampak lebih bingung. Dihari ke dua, saat istirahat makan siang dia bertanya lagi.

“Mas, melihat prosesnya, sepertinya ke handle (bisa dipegang) deh oleh mas sendiri. Kenapa lalu mas selalu mengingatkan bahwa fasilitasi perlu tim? Jadi berasa nggak punya kerjaan”tanyanya

Kehadirannya di pelatihan itu memang sebagai anggota tom yang ditugaskan untuk belajar, dan melakukan observasi.

“Bagus, berarti kamu mengamati yah”saya jawab sambil tertawa

“Memang kalau mau dilihat dari pekerjaan, sepertinya bisa dilakukan sendiri. Tapi dalam kerja kita, perlu orang lain yang membantu lewat menemani, mengamati, memberi feedbacks, masukan dan tempat bercermin akan apa yang kita lakukan. Dengan seperti itu, saya bisa tetap dijalurnya, dan kalau melebar atau menyimpang, ada yang mengingatkan.

Bukan hanya diam saat menemani, tapi justru menjadi cermin yang jujur, sehingga kita bisa memberi yang terbaik pada klient”papar saya.

Obrolan siang itu menambah keyakinan saya, bahwa saat bekerja dalam tim dan bersama-sama, proses belajar dan mengajar bisa terjadi secara formil dan informil.

Kadang kita lupa, bahwa dengan kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan mereka, kita saling belajar, menjaga dan mendukung. Kehadiran mereka, membantu kita melihat dengan berbagai cara, bercermin lebih jernih saat melihat semua.

Kita butuh teman, yang bukan hanya dapat menjaga, membantu dan menemani kita, tapi lebih dari itu, menjadi cermin yang jujur dalam setiap langkah hidup kita.

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.

Semoga seperti Tuhan memanggil para murid, dia memberkati kita dengan teman teman yang baik, yang mau dan mampu menjadi cermin, media kita merefleksikan hidup.

Mari bersyukur, atas para sahabat yang disediakan Tuhan sebagai sarana kita bercermin.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.