Renungan Harian : 3 Desember 2021

Renungan Harian
Jumat, 03 Desember 2021
Pesta St. Fransiskus Xaverius

Bacaan I: 1Kor. 9: 16-19. 22-23
Injil: Mrk. 16: 15-20

Kecewa

“Saya bukan orang yang aktif dalam kegiatan di gereja, saya hanya sekedar ikut perayaan ekaristi satu minggu sekali. Beberapa kali saya diundang untuk ikut pertemuan lingkungan saya malas, karena menurut saya pertemuan lingkungan yang hadir orang-orang tua. Jadi saya sebagai orang katolik hanya sebatas ikut misa seminggu sekali. Sampai suatu ketika ada teman dekat saya mengajak saya untuk ikut membantu dia dalam sebuah acara di gereja. Saya mau membantu karena saya melihat teman saya agak kerepotan dengan tugasnya. Sejak saat itulah saya terlibat dalam kegiatan di gereja.
 
Aku mulai terlibat aktif dalam kegiatan di gereja, bahkan aku ditunjuk untuk menjadi salah satu seksi di paroki. Saya menikmati kegiatan di paroki ini dan saya merasa nyaman dengan aktivitas di paroki. Namun ternyata apa yang saya rasakan ini tidak berlangsung lama. Semakin saya terlibat, saya merasakan ketidaknyamanan.

Saya melihat dan merasakan adanya intrik diantara beberapa orang pengurus. Mereka seperti bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang mereka perebutkan, apakah kedudukan atau pengaruh di paroki. Hal yang membuat saya semakin tidak nyaman dan kecewa, saya yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saya ditarik dalam lingkaran intrik itu. Saya dianggap salah satu orang yang menjadi pesaing diantara mereka.

Beberapa kali saya mengalami perlakuan tidak enak, serasa dijatuhkan dan dipermalukan di depan umat.
 
Pengalaman itu membuat saya kecewa dan sedih. Saya merasa mengapa aktivfis gereja atau aktifis paroki tetapi tidak menunjukkan semangat cinta kasih, tetapi malah mempertontonkan intrik-intrik seperti dalam dunia politik. Situasi ini membuat saya dengan bulat memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan gereja. Saya merasa lebih baik tidak perlu terlibat dalam kegiatan paroki daripada menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sejak saat itu saya kembali seperti semula hanya ke gereja seminggu sekali saja.
 
Suatu hari, ketua lingkungan menghubungi saya meminta tolong untuk memimpin doa rosario di lingkungan. Ketua lingkungan meminta saya karena anggota lingkungan sudah semakin sepuh jadi semakin sedikit yang bisa memimpin. Saya bersedia karena merasa tidak enak dengan ketua lingkungan. Saat saya memimpin doa rosario, saya merasa sedih dengan diri saya. Orang-orang sepuh mau datang pertemuan lingkungan sedangkan saya malas-malasan, disamping itu saat selesai pertemuan semua mengucapkan banyak terima kasih ke saya karena memimpin dengan jelas dan baik. Sejak saat itu saya selalu terlibat di lingkungan dan selalu mewakili lingkungan  dalam kegiatan paroki.
 
Saya menjadi semakin aktif terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan dan paroki. Beberapa teman heran bahwa saya mau terlibat lagi dalam kegiatan paroki dan bahkan lebih aktif dan banyak terlibat. Mereka selalu bertanya apa yang membuat saya mau terlibat lagi dan apa yang saya dapat dengan ikut kegiatan. Saya sendiri tidak tahu apa yang membuat saya seperti ini dan apa yang saya dapat. Satu hal yang saya rasakan adalah saya merasakan diri sebagai orang katolik. Saya merasakan inilah seorang katolik yang sesungguhnya. Dan bagi saya ini adalah hadiah besar dalam hidup saya sebagai orang katolik.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus yang pertama: “kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah: bahwa aku boleh memberitakan injil tanpa imbalan, dan bahwa aku tidak menuntut hakku sebagai pemberita injil.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Desember 2021

Renungan Harian
Kamis, 02 Desember 2021

Bacaan I: Yes. 26: 1-6
Injil: Mat. 7: 21. 24-27

Mengerti

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah pertemuan lingkungan ada seorang bapak muda yang meminta waktu untuk bicara dengan umat. Saya sesungguhnya agak bingung dengan permintaan bapak itu untuk bicara, karena saya tidak kenal dengan bapak muda itu, dan ketua lingkungan juga tidak kenal. Pertanyaan dalam diri saya, sebenarnya bapak muda ini siapa dan apa yang akan dibicarakan, sementara selama doa lingkungan, bapak itu tidak ikut berdoa melainkan sibuk dengan gadgetnya.

Tetapi karena bapak muda itu memaksa untuk bicara maka saya mempersilahkan untuk berbicara.
“Pastor, bapak dan ibu, siapa yang sudah selesai membaca kitab suci dari awal sampai akhir? Siapa yang bisa menjelaskan tentang Allah Tritunggal? Siapa yang tahu tentang adanya aliran-aliran gnostisisme, arianisme dll?” tanya bapak itu.

Kami semua diam tidak ada menjawab. Dengan senyum agak sinis bapak itu melanjutkan:
“Tidak ada kan? Ternyata pastor pun tidak. Saya sudah 3 kali khatam membaca kitab suci dan saya sudah banyak membaca buku-buku tentang semua itu. Saya mengerti semua, dan saya bisa mengajar pastor dan para bapak, ibu.
 
Sekarang bapak, ibu semua untuk apa doa dan ke gereja tetapi tidak pernah selesai membaca kitab suci, dan tidak tahu tentang pengetahuan semua itu.  Apa yang bapak ibu lakukan tidak ada gunanya. Saya mau tanya untuk apa bapak ibu berdoa kalau tidak tahu semua itu?”

“Pak, saya memang tidak sehebat bapak tahu semua, tetapi kami berdoa dan ke gereja untuk bersyukur, untuk mohon ampun dan mohon kekuatan. Saya sadar hidup saya sulit untuk mengikuti Tuhan, saya jatuh bangun untuk bisa ikut Tuhan. Saya berjuang agar hidup saya semakin baik, walau sering kali tidak menjadi lebih baik. Maka doa dan ke gereja menjadi penting bagi saya,” seorang bapak menjawab dan diamini yang lain.
 
“Mas, maaf saya mau bertanya. Dengan mas sudah tahu semua isi kitab suci dan teologi, apakah membuat mas menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan memberikan diri kepada Tuhan? Apakah mas bisa membagikan ke kami bagaimana dengan semua pengetahuan itu membantu mas untuk menghayati iman dalam hidup sehari-hari,” pertanyaan dan permintaan saya.

Bapak muda itu tampaknya tersinggung dengan pertanyaan dan permintaan saya. Dia pergi meninggalkan pertemuan dengan mengumpat lirih tetapi didengar beberapa orang.
 
Pengetahuan iman tentu amat penting akan tetapi menghidupi iman jauh lebih penting. Umat lingkungan yang sederhana pasti dari sisi pengetahuan iman tidak hebat tetapi dalam pergulatan menghidupi iman luar biasa. Mereka jatuh bangun menghidupi imannya dan sungguh mempercayakan hidupnya kepada Allah yang diimaninya.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus menunjukkan pentingnya orang bergulat dalam menghidupi imannya. “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, Tuhan, Tuhan akan masuk Kerajaan Surga melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 1 Desember 2021

Renungan Harian
Rabu, 01 Desember 2021
PW. Beato Dionisius dan Redemptus Martir

Bacaan I: Yes. 25: 6-10a
Injil: Mat. 15: 29-37

Berbeda

Suatu sore, koster dan ibu rumah tangga pastoran memberi tahu kalau ada 2 orang anak muda peziarah minta ijin untuk menginap di kompleks tempat peziarahan. Saya minta agar mereka ditanya terlebih dahulu, dari mana dan mau kemana. Saya meminta agar koster dan ibu itu berhati-hati karena beberapa waktu sebelumnya ada peziarah yang kehilangan alat musik dan suatu barang karena ada yang juga mengaku sebagai peziarah tetapi memanfaatkan keadaan. Ibu itu mengatakan bahwa kedua anak muda ini berbeda. Mereka berdua amat sopan, dan waktu berdoa kelihatan bahwa mereka sungguh-sungguh dan amat kusyuk. Pakaian mereka kumal, dan tampaknya baru dari perjalanan jauh serta kotor belum mandi. Namun wajah mereka kelihatan polos dan saleh.
 
Meskipun ibu dan koster itu meyakinkan saya bahwa kedua anak muda itu baik dan saleh, saya tetap meminta agar mereka ditanya dan kita hati-hati. Kalau sungguh-sungguh mereka mau menginap tolong dilihat KTP mereka. Koster dan ibu menyanggupi, dan mengatakan akan bertanya setelah kedua anak muda itu mandi, karena kedua anak muda itu minta ijin mandi.
 
Tidak lama berselang, ibu rumah tangga itu datang lagi menemui saya dengan mata menahan air mata dan minta ijin untuk mencarikan makan malam bagi kedua peziarah itu. Ibu itu mengatakan bahwa kedua anak muda peziarah itu bicara minta makan karena dari siang belum makan. Kedua anak muda itu mau disuruh bebersih gua Maria atau menyapu halaman asal bisa mendapatkan makan. Hal itu yang membuat ibu itu terharu dan iba. Mendengar cerita ibu rumah tangga pastoran dan koster, Saya curiga jangan-jangan kedua peziarah ini adalah frater novis yang sedang menjalani peregrinasi (berjalan berziarah dengan meminta-minta).
Maka saya minta ibu itu untuk menyiapkan makan malam di pastoran dan makan bersama dengan saya.
 
Saat makan malam kedua anak muda itu nampak agak canggung dan gelisah. Saat saya tanya tujuan mereka mau kemana, mereka menjawab  asal, seperti menutupi sesuatu. Semakin banyak saya tanya mereka semakin gelisah seolah ingin menyembunyikan identitas mereka.

“Mas, kalian dari Karang Jati?” tanya saya.

Mendengar pertanyaan saya, mereka terkejut bahkan salah satu dari mereka sampai tersedak. Melihat sikap mereka dan jawaban mereka
“iya”, dengan penuh keraguan membuat saya yakin bahwa mereka adalah para frater novis.

“Malam ini kalian mau tidur di pastoran atau mau berjaga di depan gua Maria? Anggap saja kalian di gua Manresa,” kata saya setelah kami selesai makan.

Mereka tampak terkejut dan memandang saya dengan curiga. “Sudah tidak apa-apa, jangan takut, Saya kenal dengan P. Magister kalian, sampaikan salam saya untuk beliau,” kata saya.

“Bagaimana romo tahu kalau kami novis?” tanya salah seorang dari mereka.

“Saya tahu dari cerita ibu rumah tangga pastoran dan koster tentang kalian. Saya pernah seperti kalian, jadi saya tahu,” jawab saya.
 
Saya bisa mengenali mereka karena ada kekhasan dalam diri mereka. Dari cerita yang menggambarkan siapa mereka, membuat saya menjadi yakin siapa mereka, terlebih dalam pembicaraan makan malam semakin meyakinkan saya.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, karya Yesus sesungguhnya menunjukkan “ciri-ciri” bahwa Dia adalah Mesias, akan tetapi tidak dikenali oleh kebanyakan orang Yahudi, karena mereka punya gambaran berbeda. Sering dalam hidupku aku tidak menyadari kehadiran Tuhan justru karena aku terpukau dengan gambaranku sendiri tentang Tuhan.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Refleksi Sahabat CLC – “ADVEN DAN CONSIDERATIO STATUS”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Sapto, SJ dengan judul tulisan “ Adven dan Consideratio Status “.

Rm Sapto SJ yang belum lama ditahbiskan yaitu pada hari Kamis, 19 Agustus 2021 lalu itu mendapat tugas perutusan yang pertama yaitu sebagai Pembimbing Rohani Seminar Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
Di CLC, Rm. Sapto menjadi Asisten Gerejani Lokal CLC di Magelang.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

Adven dan Consideratio Status

Oleh Rm Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ

Setiap hari Sabtu sebelum bermain bola para novis SJ memiliki kesempatan untuk menuliskan consideratio status. Kita diajak untuk menimbang-nimbang apa yang menjadi perasaan, pikiran dan kerinduan yang dominan selama satu minggu terakhir dan juga merefleksikan satu pengalaman yang mengesan. Kita menuliskannya dalam selembar kertas A4. Dalam tahap formasi saya sebagai Yesuit, saya menyadari bahwa latihan-latihan menulis consideratio status merupakan cara yang sangat cocok untuk saya berkembang dalam relasi dengan Tuhan. Latihan ini sangat membantu untuk mengenal diri saya dan merasakan Tuhan yang terus hadir menemani dan mengembangkan saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pun mengajak tidak hanya para seminaris tetapi para guru seminari untuk belajar membuat consideratio status. Saya pun mencoba membaca-baca kembali autobiografi St. Ignatius Loyola untuk menemukan pendasarannya. Ketika saya mencoba membaca dengan cermat, saya menemukan adanya tiga kata yang terus ditimbang-timbang St. Ignatius saat ia sedang berbaring dalam pemulihaannya di Loyola. Tiga kata tersebut adalah pikiran, perasaan dan keinginan (kerinduan terdalam). Dalam autobiografi dituliskan bahwa Inigo membedakan antara pikiran, perasaan dan keinginan yang duniawi dan yang surgawi. Proses menimbang inilah yang kemudian membuatnya yakin untuk mengambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem. Di sinilah awal pertobatan Inigo.

Proses untuk mencermati perasaan, pikiran dan kerinduan ini adalah proses yang tidak mudah. Proses ini mengandaikan latihan-latihan yang cermat dan serius seperti yang dilakukan oleh Inigo saat di Loyola. Latihan-latihan tidak hanya menimbang-nimbang dan berefleksi tetapi apa yang telah menjadi refleksinya tersebut diuji kembali dalam aksi. Refleksi diikuti aksi dan dilakukan terus hingga menemukan kedalaman dan kesejatian yang ditandai dengan “matanya yang perlahan terbuka” dan akhirnya siap mengambil keputusan untuk mengikuti Allah.

Consideratio status mungkin bisa menjadi latihan rohani untuk mempersiapkan diri di masa adven ini. Masa adven menjadi kesempatan untuk melakukan latihan-latihan sehingga kita nanti siap menyambut kelahiran Yesus Kristus. Latihan-latihan dalam bentuk consideratio status menjadi latihan yang mengajak kita melibatkan diri dengan hati. Kita tidak sekadar terjebak pada natal sebagai perayaan kemeriahan tahunan tetapi kita diajak masuk juga menyiapkan hati. Kita menimbang-nimbang pengalaman hidup. Kita melakukan consideratio status. Harapannya, kita akan menjadi seperti inigo saat di Loyola. Berkat ketekunannya dan kecermatannya menimbang-nimbang perasaan, pikiran dan kerinduan terdalamnnya, matanya pun perlahan-lahan terbuka. Ia pun bisa melihat kehadiran Tuhan. Ia pun akhirnya berani mengambil keputusan iman untuk pergi ke Yerusalem.

Marilah kita masuk dalam latihan-latihan rohani terutama latihan menimbang-nimbang hidup kita di hadapan Allah dengan jujur. Kita membuat consideratio status di hadapan Allah sehingga pada hari Kelahiran Tuhan nanti kita betul-betul dapat melihat Tuhan yang berkarya dan menyelamatkan, bukan pertama-tama sebagai acara tahunan tetapi sebagai suatu peristiwa yang mengajak kita untuk sungguh-sungguh melakukan pertobatan untuk terus dekat dengan Tuhan dan terus menjadi manusia latihan rohani dan terus mampu dan mau mengambil keputusan iman.

saptosj

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Bulanan CLC di Magelang

Pertemuan Rutin Tiap Bulan CLC di Magelang dipimpin Ketua CLC di Magelang Ibu Elisabeth Supri :
Minggu, 29 September 2021, pk. 16.00 – 18.00 WIB, via zoom

.

Novena CLC di Indonesia dan Jesuit Insight

.

Pertemuan Asisten Gerejani Indonesa bersama para Asisten Gerejani Lokal dan ExCo CLC di Indonesia

Sabtu, 18 September 2021, pk. 19.00-21.00 WIB via zoom

Asisten Gerejani Indonesia : Rm Paul SJ
Bersama Asisten Gerejani Lokal : Rm Iwan (Bandung), Rm Dipo (Jakarta), Rm Jelantik (Surabaya), Rm Wir (Yogyakarta), Rm Sapto dan Br Norbert SJ (Magelang).

Memberi berkat di akhir acara

_

DOKUMENTASI TAHBISAN

Tahbisan Diakon

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf

https://jesuits.id/wp-content/uploads/2020/11/Internos-November-2020.pdf



Tahbisan Imam Jesuit

https://ytknews.id/2021/08/alumni-sekolah-ytk-ditahbiskan-menjadi-imam-serikat-jesus-sj-itu-bernama-romo-sapto-sj

http://katolikkeren.online/wp-content/uploads/2021/08/tahbisan_imam_sj_2021_katolikkeren.jpg

Renungan Harian: 30 November 2021

Renungan Harian
Selasa, 30 November 2021

Bacaan I: Rom. 10: 9-18
Injil: Mat. 4: 18-22

Ketinggian

Pada suatu kesempatan, saat saya masih frater dan sedang live in di sebuah desa, kami ngobrol dengan bapak-bapak di desa itu setelah acara doa.

Ada seorang  bapak yang bertanya:
“Frater, belajar kitab suci itu sulit ya? Harus belajar banyak bahasa?”

“Pak, kalau untuk menjadi ahli kitab suci tentu sulit dan harus belajar banyak bahasa. Tetapi kalau kami tidak mempelajari sampai harus belajar banyak bahasa. Karena apa yang kami pelajari sudah diterjemahkan dan dipermudah oleh para dosen,” jawab saya.

“Kalau teologi itu belajar bahasa Tuhan?” tanya bapak yang lain.

“Bukan belajar bahasa Tuhan Pak, tetapi kami belajar tentang bagaimana iman pada Tuhan dijelaskan menurut para Ahli,” jawab saya.

“Wah hebat ya, nanti para romo dan frater pasti masuk surga, karena bisa mengerti sabda Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan mau. Kalau seperti kami-kami ini pasti sulit karena kami tidak bisa mengerti sabda Tuhan dan tidak mengerti apa yang Tuhan mau,” bapak lain menanggapi.
 
“Bapak-bapak, kita ini sama-sama berjuang jadi semua tergantung bagaimana kita menjalani. Soal mengerti sabda Tuhan dan kehendak Tuhan, para romo pasti menjelaskan lewat pengajaran maupun khotbah-khotbahnya,” jawab saya.

“Wah frater, kami ini orang desa, orang-orang bodho, sekolah tidak tinggi, tahunya hanya macul (mencangkul) dan ngarit (mencari rumput) susah mengerti. Romo-romo itu kalau khotbah bahasanya ketinggian, kami tidak mengerti. Romo ngendiko (bicara) apa kami tidak mengerti, otak kami ini tidak sampai. Kami bisa mengerti kalau romo-romo itu khotbahnya sulit, kami mengerti karena yang dibicarakan itu tentang Tuhan dan kitab suci yang sulit dan tinggi,” kata seorang bapak.

“Frater, apakah tentang Tuhan dan kitab suci tidak bisa dibicarakan dengan bahasa kami orang desa ini? Maaf frater ini hanya sekedar bertanya,” seorang bapak bertanya lagi.

“Frater, jelasnya adalah apakah Tuhan tidak bisa bicara dalam bahasa kami orang desa ini?” bapak lain menegaskan.
 
Saya terdiam, merasa tertampar dan merenungkan pertanyaan bapak tadi:
“apakah Tuhan tidak bisa bicara dalam bahasa kami orang desa ini?”

Dengan bahasa apa Tuhan menyapa manusia? bukankah Tuhan menyapa manusia dengan bahasa manusia? Dan jangan-jangan justru para imam yang membuat bahasa Tuhan menjadi bukan bahasa manusia, bahasa yang terlalu tinggi.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Tuhan menyapa dan memanggil muridNya dalam keseharian muridNya dan dalam bahasa keseharian mereka.
“Mari ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 29 November 2021

Renungan Harian
Senin, 29 November 2021

Bacaan I: Yes. 2: 1-5
Injil: Mat. 8: 5-11

Kerbau

Pada suatu kesempatan, ada seorang bapak bertanya:
“Romo, apakah kalau saya mengaku dosa Tuhan masih mau mengampuni saya? Apakah Tuhan tidak lelah untuk mengampuni saya? Saya ini seperti kebo (kerbau) romo.”

“Tuhan pasti mengampuni, karena Tuhan mencintai kita, dan Tuhan juga tidak akan pernah lelah untuk mengampuni. Dari Kitab Suci kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lelah menanti dan mencari dombaNya yang hilang,” jawab saya.

“Maaf Pak, kalau  boleh tahu apa hubungannya dengan kerbau?” tanya saya.
 
“Romo, saya ini orang desa, tukang “angon kebo” (penggembala kerbau) romo. Bapak saya punya 4 ekor kerbau yang digunakan untuk membajak sawah. Selain untuk membajak sawah kami, kerbau-kerbau itu juga untuk buruh membajak sawah orang lain. Kalau urusan membajak sawah itu pekerjaan bapak, sedangkan tugas saya adalah angon. Setiap hari pulang sekolah saya selalu angon kebo. Salah satu tugas angon selain membawa kebo ke lapangan yang banyak rumput adalah memandikan kerbau di sungai. Tugas yang paling berat dan menjengkelkan adalah memandikan kerbau.
 
Romo, pasti tahu bahwa kerbau itu kebiasaannya adalah “njerom” (berkubang) di lumpur bahkan kalau di kandang pasti juga “njerom” sehingga penuh dengan kotorannya sendiri. Kerbau-kerbau kami tidak pernah menjadi bersih. Setiap kali habis dimandikan sampai bersih, besok di bawa angon pasti sudah kotor. Saya sering kali mengeluh ke bapak: “untuk apa saya memandikan kerbau setiap hari, toh tidak memberi dampak apa-apa. Setelah dimandikan, dimasukkan ke kandang yang sudah dibersihkan tidak lama kemudian pasti sudah kotor dengan kotorannya sendiri yang menempel di tubuhnya.” Bapak saya selalu mengatakan: “ Tugasmu itu angon jadi memandikan dan membersihkan kandang itu sudah menjadi tugasmu. Soal kerbau habis dimandikan dan kotor lagi, ya tidak apa-apa tetapi minimal pernah bersih.”
 
Romo, sering kalau bapak saya pergi maka saya tidak memandikan kerbau dan membersihkan kandangnya, saya bosan dan lelah. Itulah pengalaman saya waktu kecil. Sekarang ini saya merasa seperti kerbau itu romo. Saya suka berkubang dalam lumpur dosa. Baru saja saya merasa diampuni sudah belepotan lagi. Nah Tuhan seperti saya tidak ya romo, bosan dan lelah melihat saya?” bapak itu menjelaskan.
 
Bagi saya pengalaman iman bapak ini sebuah pengalaman iman yang hidup. Pengalaman yang bertumbuh dan berkembang dalam pengalaman.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, pengalaman iman perwira ini berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari.
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 November 2021

Renungan Harian
Minggu, 28 November 2021
Hari Minggu Advent I

Bacaan I: Yer. 33: 14-16
Bacaan II: 1Tes. 3: 12-4: 2
Injil: Luk. 21: 25-28. 34-36

Tanah Terjanji

“Romo, perjalanan kami sampai di tempat ini, hingga bisa seperti ini sungguh-sungguh perjuangan yang luar biasa. Kalau tidak ada rahmat dan belas kasih Tuhan kami pasti tidak kuat. Saat saya memutuskan untuk ikut transmigrasi istri dan seluruh keluarga besar saya tidak ada yang setuju. Semua mengatakan bahwa saya ikut transmigrasi itu sebuah keputusan yang konyol bahkan beberapa orang keluarga mengatakan bahwa saya itu seperti “mburu uceng kelangan deleg” (mencari sesuatu yang kecil dan kehilangan sesuatu yang besar). Mereka tidak salah, karena pada saat itu saya sudah menjadi guru, dan dalam batas tertentu penghasilan menjadi guru cukup untuk menghidupi keluarga. Namun saya berpikir untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, untuk mengubah nasib maka saya memutuskan untuk ikut.
 
Pada saat kami berangkat  anak saya yang besar kelas 4 SD sedang yang kecil baru kelas 1 SD. Kami berangkat dengan naik kapal laut. Berhari-hari kami di kapal dan anak kami selalu bertanya: “kita sudah sampai mana? Masih berapa lama?” Pertanyaan yang biasa dan sederhana dari anak-anak tetapi di telinga saya terasa berat dan menghujam hati. Setiap kali saya hanya bisa menjawab bahwa sudah dekat, sebentar lagi, padahal saya sendiri juga gelisah bukan main. Saya belum pernah terbayang seperti apa tempatnya dan bagaimana kami harus hidup di sana. Satu hal yang saya pegang adalah harapan bahwa Tuhan pasti menolong.
 
Romo, setelah sampai di sana dan mendapatkan pembagian rumah dan tanah, istri saya menangis setiap hari melihat kondisi rumah dan keadaan. Kami seperti tinggal di tengah hutan yang baru dibabat memang sudah ada lahan pekarangan yang sudah disiapkan dan siap untuk ditanami tetapi selebihnya masih semak belukar. Istri saya hampir setiap malam mengajak pulang ke kampung, dia sungguh-sungguh tidak tahan. Saya selalu meyakinkan bahwa ini adalah tempat harapan untuk masa depan kami, meskipun sesungguhnya saya sendiri agak ragu. Saya berjuang untuk memegang harapan akan rahmat Tuhan dan saya wujudkan dengan mulai bekerja keras, menanam dan membersihkan ladang. Meskipun saya lahir dari keluarga petani dan sudah kecil bekerja di sawah dan ladang tetapi menghadapi situasi yang ada sungguh-sungguh membuat badan terasa hancur.
 
Romo, puji Tuhan, setelah beberapa bulan mulai kelihatan cahaya  harapan itu, tanam di pekarangan mulai menghasilkan dan ladang yang berserakan mulai kelihatan terang dan siap ditanami. Melihat semua itu membuat kami bersemangat; istri yang awalnya selalu merengek minta pulang sekarang sudah berani ikut kerja keras dan ikut bersyukur melihat cahaya harapan itu. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi ragu akan rahmat dan harapan akan belas kasih Tuhan. Ada banyak kesulitan dan penderitaan tetapi kami tidak pernah lagi kehilangan harapan itu. Sehingga kalau sekarang kami bisa menikmati hasil yang luar biasa, semua ini karena rahmat belas kasih Tuhan. Harapan itu tidak pernah membohongi orang yang percaya, cahaya belas kasih Tuhan itu pasti terbit bagi orang yang mengimani,” bapak trans itu berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yeremia: “Sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 November 2021

Renungan Harian
27 November 2021

Bacaan I: Dan. 7: 15-27
Injil: Luk. 21: 34-36

Kemenangan

“Romo, saya punya pengalaman pahit yang memalukan dan tidak akan pernah lupa seumur hidup saya. Namun pengalaman itu memberikan pelajaran penting yang amat berguna sepanjang hidup saya.
 
Saat itu saya masih SMA, saya menjadi kapten team sepak bola di sekolah. Team sepak bola sekolah kami juara di tingkat kecamatan, maka kami berhak mewakili kecamatan untuk bertanding di tingkat kabupaten. Pada saat itu kami semua begitu bangga terlebih diri saya, karena saya sebagai kapten team, apalagi sekolah kami untuk pertama kalinya ikut pertandingan di kabupaten.
 
Romo, semangat kami yang luar biasa dan kekompakan team kami yang hebat menjadikan team kami team yang solid. Pertandingan demi pertandingan dapat kami lewati dengan baik. Kami banyak meraih kemenangan hanya sekali kalah dan sekali seri. Dari hasil itu membawa kami ke final. Romo, kami bisa maju ke final rasanya seperti sudah menjadi juara. Kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi dada kami. Kami sekolah di kecamatan kecil jauh dari kota kabupaten bisa masuk final, bisa mengalahkan sekolah-sekolah favorit di kota-kota kecamatan lain yang lebih terkenal. Kami anak-anak kampung tiba-tiba bisa masuk final, rasanya luar biasa, dada ini seperti mau  pecah dan mungkin kepala kami menjadi jauh lebih besar. Sekolah kami menorehkan sejarah untuk kampung kami, karena untuk pertama kali ada dari kecamatan kami bisa masuk final dalam pertandingan tingkat kabupaten.
 
Hari yang kami tunggu untuk pertandingan babak final tiba. Kami dengan semangat yang luar biasa bertanding. Kami bertanding seolah tidak ada rasa takut dan lelah. Kemanapun bola selalu kami kejar, kemanapun lawan kami selalu mengawal oleh karenanya meskipun secara kualitas kami kalah tetapi kami menang dalam semangat bertanding sehingga kami dapat memenangkan pertandingan. Kami juara tingkat kabupaten, wow luar biasa, kami berpelukan dan menangis luar biasa. Pelatih, guru-guru dan bahkan bapak camat ikut terharu bersama dengan kami. Hari itu  juga kami langsung pulang ke kampung dengan penuh kebanggaan bak pahlawan pulang dari medan perang.
 
Hari itu kami semua menginap di sekolah, tidak boleh langsung pulang ke rumah karena esok hari akan ada upacara penyambutan di kantor kecamatan. Bapak guru meminta kami untuk segera istirahat karena besok pagi akan ada acara besar untuk kami. Tetapi entah kenapa pada malam itu bapak guru dan pelatih tidak ada yang menginap di sekolah, sehingga hanya kami yang menginap di sekolah. Kami merayakan kemenangan dengan berpesta sampai pagi. Romo pesta ini bukan hanya makan dan minum biasa tetapi kami rayakan dengan minum tuak akibatnya kami semua mabuk dan kami tertidur saat matahari mulai terbit.
Romo, akibatnya kami semua team sepak bola tidak ada yang bisa bangun pada saat acara penyambutan di kantor kecamatan.
 
Romo, hari yang membahagiakan, dimana diadakan acara khusus untuk kami yang juara menjadi hari yang menyedihkan. Akibat kami tidak bisa bangun sehingga tidak bisa ikut acara penyambutan di kantor kecamatan, kami ketahuan bahwa kami semua mabuk minum tuak. Hari itu kami semua dibangunkan dengan di siram air dan dibawa ke kantor polisi. Kami disana diberi pelajaran mencabut rumput dan membersihkan selokan di depan kantor kecamatan. Banyak orang melihat kami dan menertawakan.
 
Romo pengalaman itu sungguh-sungguh menjadi pengalaman amat pahit bagi kami. Kami yang seharusnya disambut dan dipuji-puji di kantor kecamatan, sekarang harus cabut rumput dan membersihkan selokan di depan kantor kecamatan. Sejak saat itu saya sudah berjanji tidak akan menyentuh minuman keras lagi. Mabuk karena kemenangan menjadikan kami yang seharusnya pahlawan menjadi tidak berarti,” seorang bapak menceritakan pengalamannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan Yesus mengingatkan agar selalu waspada, tidak terjerumus dalam kemabukan yang mengakibatkan lupa diri. “Jagalah dirimu, jangan sampai hatimu sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi, dan jangan sampai hari Tuhan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 November 2021

Renungan Harian
Jumat, 26 November 2021

Bacaan I: Dan. 7: 2-14
Injil: Luk. 21: 29-33

Berkat Tuhan Pasti Ada

“Romo, rumah kecil ini adalah rumah yang amat berarti dalam hidup saya. Rumah saya ini meskipun kecil tetapi memberikan kenyamanan dan selalu memberikan kekuatan bagi hidup saya. Saat saya merasa terpuruk, tidak berdaya, melihat dan menikmati rumah ini saya merasakan kekuatan baru untuk bangkit dan terus berjuang.
 
Romo, saat awal bekerja sebagai buruh di pabrik itu, saya tinggal di rumah petak kecil bersama dengan 4 orang teman. Kami sengaja tinggal berempat agak berhimpitan supaya bisa menghemat dengan begitu gaji buruh yang kecil itu tetap ada yang bisa saya sisihkan. Saya menjalani hidup dengan prihatin dan sebenarnya bukan hal yang aneh karena saya memang sejak kecil hidup selalu prihatin mengingat situasi keluarga. Dengan hidup prihatin, saya bisa menyisihkan gaji saya untuk orang tua dan sedikit untuk saya tabung.
 
Setelah 2 tahun saya kerja dan tinggal di rumah petak bersama dengan 4 orang teman, ada tawaran untuk membeli rumah dengan cara kredit. Waktu itu ada keinginan saya untuk memiliki rumah tapi kalau menghitung penghasilan maka amat berat.  Berhari-hari saya berpikir dan merenung apakah saya mau membeli rumah atau tidak. Untuk uang muka yang ringan waktu itu bisa saya bayar tetapi untuk cicilan rumah menjadi amat berat, karena kalau harus membayar cicilan rumah maka untuk makan sehari-hari tidak cukup. Tetapi kalau saya tidak berani membeli rumah, rasanya sampai kapan pun saya tidak akan mampu. Saat itu, saya hanya ingat pesan orang tua, kalau mau berjuang berkat itu pasti ada. Berkat tidak hanya dimohon tetapi juga harus diperjuangkan. Dengan berbekal itu saya memberanikan diri untuk membeli rumah. Teman-teman serumah kaget dan menganggap saya bodoh dengan keputusan itu. Mereka selalu mengatakan nanti kamu makan apa? Kenapa tidak berpikir panjang dan lain sebagainya. Apa yang dikatakan teman-teman saya dengarkan, saya renungkan sebagai saran, tetapi saya tetap bulat dengan keputusan saya.
 
Setiap kali sehabis gajian, saya membeli beras untuk sebulan, soal sayur atau lauk saya tidak memikirkan, karena minimal sudah ada beras sehingga saya tidak kelaparan. Saat itu saya pikir semua bisa saya jalani. Kebutuhan makan saya rasanya tidak masalah, karena sudah ada beras, pagi tidak harus makan, makan siang dapat dari pabrik, untuk makan malam cukuplah kalau nasi dengan garam. Namun syukur pada Allah pada waktu itu banyak lemburan di pabrik, sehingga selain saya mendapatkan tambahan penghasilan, saya mendapat makan malam yang cukup bergizi. Seiring dengan berjalannya waktu rumah menjadi milik saya meski masih harus mengangsur tetapi kebutuhan hidup saya menjadi tercukupi. Maka rumah ini sungguh-sungguh menjadi bukti bahwa berkat Tuhan itu pasti kalau mau berjuang. Itu lah romo mengapa rumah ini menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan hidup saya,” seorang bapak menceritakan pengalamannya.
 
Pengalaman bapak itu menegaskan bagi saya, dalam banyak kebingungan, keraguan dan ketidak pastian ada satu yang pasti yaitu keyakinan bahwa Berkat Tuhan selalu ada dan tersedia bagi kita. Berkat Tuhan selalu tersedia, berkat yang selalu dapat dimohon dan harus diperjuangkan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku takkan berlalu.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-SURABAYA

Salam sehat dan Damai Sejahtera selalu. CLC Lokal Surabaya akan menyelenggarakan Rekoleksi Virtual pada:

Tema: Mewujudkan Keadilan Gender dalam Gereja dan Masyarakat.
📅: 29 Nopember 2021
⏰: 19.00 WIB
📍: Zoom Meeting

Pembimbing Rekoleksi: Rm. I.L Madya Utama, SJ
Pemantik Diskusi: Ayu Gayatri K.
Moderator: Erlyn Erawan.

Mari kita bergabung dalam penyelenggaraan acara tsb. 🙏🏼

AMDG