Renungan Harian: 20 Juni 2021

Renungan Harian
Minggu, 20 Juni 2021
Hari Minggu Biasa XII

Bacaan I: Ayb. 38: 1. 8-11
Bacaan II: 2Kor. 5: 14-17
Injil: Mrk. 4: 35-40

Hanya Tuhan Yang Mampu

Suatu ketika saya bertemu dengan istri kawan saya, dalam sebuah acara gereja. Karena dia datang sendirian sementara biasanya selalu berdua dengan suaminya, saya bertanya
”Tumben datang sendiri, suami kemana? Biasanya selalu berdua seperti truk gandeng.”

“Nanti setelah acara selesai aku cerita. Ceritanya panjang,” jawabnya.

“Tetapi kalian baik-baik aja kan, gak sedang ribut?” tanya saya penasaran.

“Nggak, nggak, kami rukun dan baik-baik,” jawabnya meyakinkan saya.
 
Pada saat makan malam, setelah acara selesai istri teman saya itu mengajak saya bicara. Setelah agak menyingkir dari keramaian dia mulai bercerita:

“Wan, sesungguhnya suami sedang di dalam penjara. Kamu kaget kan? Apalagi saya. Bulan lalu kantornya diaudit, nah hasil audit itu ketahuan bahwa ada sejumlah uang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Jumlahnya besar banget, mendengar jumlahnya saja aku sampai gemeteran. Menurut suamiku, dia dan teman-teman di keuangan tidak pernah tahu soal penggunaan uang itu dan bagaimana uang itu dicairkan. Suami dan 2 orang teman di kantor hanya mencatat pengeluaran dan mengeluarkan uang berdasarkan perintah, dan uang keluar tercatat dengan rapi. Kuasa mengeluarkan uang ada di tangan si Bos.
 
Beberapa kali suami dan teman-temannya diperiksa polisi dan semua menunjukkan bukti-bukti yang ada. Tetapi yang tidak dimengerti adalah setelah pemeriksaan yang ke 3, suami dan 2 temannya ditahan, sementara si Bos tidak tersentuh, jangankan ditahan diperiksa saja tidak. Wan, bisa dibayangkan betapa hancurnya kami mengalami hal itu. Belum lagi di saat seperti itu banyak yang menawarkan bantuan agar suami dibebaskan tetapi minta imbalan yang tidak mampu kami penuhi. Saya selalu bilang ke suami, coba cari bukti-bukti lain yang menguatkan pernyataan kalian. Tetapi suami selalu bilang, bahwa semua bukti sudah diserahkan, dan tidak berguna. Ada kekuatan besar yang dihadapi suami dan teman-temannya. Suami selalu bilang bahwa yang bisa mengalahkan kekuatan itu hanya Tuhan. Maka dia selalu mengajak saya untuk berdoa dan berdoa.”
 
Satu bulan kemudian, teman saya menelpon saya: “Wan, terima kasih ya dukungan doa-doamu. Aku sudah keluar dan dinyatakan tidak bersalah. Wan, ini mukjizat luar biasa dalam hidup kami. Saya sudah pasrah, dan hanya bisa berdoa, karena yang saya dan teman-teman hadapi adalah tembok kekuasan besar. Tuhan, tidak pernah tidur, dan tidak pernah meninggalkan serta membiarkan umatNya hancur. Selalu ada pertolongan luar biasa, meski untuk sampai pada saatnya itu butuh perjuangan dan kepasrahan luar biasa.”
“Syukur pada Allah, selamat ya, semoga pengalaman ini menjadi berkat,” jawab saya ikut bersyukur.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda, dan danau pun menjadi teduh sekali.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu berpegang pada Allah saat ada badai dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 Juni 2021

Renungan Harian
Sabtu, 19 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 12: 1-10
Injil: Mat. 6: 24-34

Siapa Dia?

Di sebuah paroki, ketua dewan paroki selalu dijabat oleh 2 orang yang sama; kalau satu menjadi ketua, yang satu menjadi wakil, demikian sebaliknya. Saya tidak tahu persis mengapa terjadi begitu, menurut dugaan saya kedua orang itu merupakan tokoh dan sesepuh di paroki itu sehingga entah pastor parokinya tidak berani mengganti dengan orang baru, atau karena orang-orang yang diminta menggantikan tidak berani.
 
Karena ketua dan wakil ketua orangnya sama hanya berganti peran maka seluruh pengurus dewan paroki orangnya juga itu-itu saja, hampir tidak ada yang berganti kecuali karena sudah tidak mampu menjalankan karena sakit atau meninggal. Dapat dibayangkan bahwa regenerasi hampir tidak ada. Sudah barang tentu paroki tetap jalan meski tidak ada pembaharuan-pembaharuan.
 
Suatu ketika terjadi pergantian pastor paroki. Pada saat pergantian dewan paroki, pastor paroki yang baru menunjuk seorang bapak yang sederhana. Beliau tidak pernah menonjol di paroki namun beliau dikenal sebagai seorang bapak yang baik dan hubungan dengan umat yang lain amat baik. Beliau orang yang rendah hati, sopan dan hormat dengan orang lain. Penunjukkan bapak ini tentu saja menghebohkan umat dan “melukai” kedua bapak yang sudah selalu menjadi ketua dan wakil ketua. Sempat terlontar ucapan dari bapak ketua dewan paroki yang akan digantikan: “Siapa dia? Paroki mau hancur memilih orang seperti itu?”
 
Pada saat pelantikan beliau mengatakan: “Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, sebagaimana bapak ibu dan saudara-saudari pikirkan demikianpun yang saya rasakan bahwa saya tidak layak dan tidak pantas untuk menjadi ketua dewan paroki. Ketika saya diminta oleh pastor paroki rasanya saya seperti diberi batu besar dipunggung saya untuk saya angkat. Siapa saya? Dan apa kemampuan saya? Maka saya langsung menolak, karena saya tidak mampu. Namun pastor mendesak saya dan meyakinkan saya untuk menerima tanggung jawab ini. Kata-kata pastor amat menyentuh yang membuat saya tidak bisa untuk menolaknya. Beliau mengatakan bahwa kelemahan dan kekurangan yang saya miliki adalah keterbukaan saya agar Tuhan semakin terlibat dalam hidup saya.”
 
Dalam perjalanan ternyata bapak itu dapat menjalankan tugas sebagai ketua dewan paroki yang luar biasa.  Banyak inovasi yang dibuat dan yang lebih penting beliau amat dicintai oleh umat. Orang yang awalnya diremehkan dan dipandang sebelah mata ternyata mampu menjalankan tugas yang luar biasa. Sebagaimana yang beliau sampaikan sumber keberhasilannya adalah kelemahan dan kekurangan dirinya yang menjadi sarana Allah semakin terlibat dalam dirinya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku melihat kelemahan dan kekuranganku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Juni 2021

Renungan Harian
Jum’at, 18 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 11: 18. 21b-30
Injil: Mat. 6: 19-23

Mata Curiga

Beberapa waktu yang lalu ketika saya tinggal di Pastoran Unio Kramat VII Jakarta, suatu sore saya ingin membeli kabel data ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senin, Jakarta. Saya pergi ke tempat itu dengan menumpang mikrolet. Saya menghentikan Mikrolet yang tidak penuh dengan penumpang. Di dalam mikrolet itu ada 4 orang penumpang semua ibu-ibu. Ketika saya masuk ke dalam mikrolet, dan duduk, saya melihat semua ibu-ibu dengan cepat mendekap erat-erat tas bawaan mereka sembari melihat saya dengan mata yang curiga.

Dalam hati saya berkata: “Waduh, mereka pikir saya ini copet yang hendak beraksi.”
 
Di depan saya, duduk seorang perempuan muda, dugaan saya seorang yang pulang dari kantor. Ketika saya duduk di depannya, di segera menarik-narik rok pendeknya agar bisa menutupi paha dan lututnya. Sebenarnya saya tidak memperhatikan dia, tetapi karena dia sibuk justru membuat saya melihat apa yang sedang dilakukan. Dia melakukan itu sembari matanya tajam melihat saya seolah-olah saya ini penjahat yang hendak menelan dia.
 
Tentu apa yang dilakukan orang-orang di dalam mikrolet yang melihat saya tidak bisa disalahkan mengingat ada banyak kejahatan di sekitar mereka, atau bahkan mereka sudah punya pengalaman tidak menyenangkan berkaitan dengan situasi di kendaraan umum. Di samping adanya banyak berita yang mewartakan adanya banyak kejahatan baik dalam bentuk pencopetan, kekerasan maupun bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan.
 
Mengingat peristiwa tersebut, saya sadar betapa pada masa sekarang ini amat sulit menemukan mata yang ramah, mata yang tidak curiga terhadap orang lain. Jangankan di kendaraan umum rentan dengan kejahatan, bahkan di dalam gereja pun menemukan mata yang ramah, yang memandang orang lain sebagai sesama sudah langka. Pengalaman hidup dan sikap hidup seseorang mempengaruhi cara seseorang melihat orang lain dan sebaliknya cara seseorang melihat sesuatu mempengaruhi cara seseorang bersikap dan bertindak.
 
Betapa menyenangkan dan membuat diri aman serta nyaman manakala bertemu dengan orang-orang yang matanya melihat dengan ramah dan sejuk. Namun lingkungan dan situasi membentuk seseorang sulit menemukan mata yang ramah dan sejuk itu.

Benarlah sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai mata yang selalu ramah dan sejuk  memandang orang lain?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Juni 2021

Renungan Harian
Kamis, 17 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 11: 1-11
Injil: Mat. 6: 7-15

Doa Dengan Hati

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan seorang dokter di facebook yang berisi sebuah himbauan kepada khalayak untuk menjaga diri karena akhir-akhir semakin banyak orang yang terpapar virus covid 19. Saya mengutip lengkap tulisan  yang dibuat dr. Teguh:
“Kami mohon kerjasamanya.
Ketika akhir april pasien covid mulai berkurang, kami mulai optimis. Sayangnya saat ini jumlah pasien covid kembali meningkat tinggi. Jumlah kamar di RS kembali terisi penuh dan tidak mampu menampung semua pasien. Kami juga capai dan tertekan dengan kondisi ini. Kadang kami juga putus asa tanpa kejelasan kapan semua ini berakhir.
Kami tak mampu mengerti mengapa masih banyak orang yang tidak disiplin memakai masker dan abai dengan protokol kesehatan. Mengapa ada orang-orang yang justru bangga dan pamer ketika mampu melanggar larangan mudik dan berkerumun. Bahkan marah-marah ketika diingatkan untuk mematuhi semua upaya yang dibuat untuk mencegah penyebaran covid. Dan ketika mereka atau keluarganya terpapar dan sakit, menuntut kami harus mampu menyembuhkan mereka.
Tetapi percayalah, kami tetap bekerja, tetap berjuang dengan sisa tenaga dan kekuatan kami untuk merawat dan menolong pasien-pasien kami.
Marilah kita bekerjasama, masyarakat tertib mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti arahan pemerintah. Kami terus berjuang melakukan tugas pelayanan kami.”
 
Harapan dan keluhan yang disertai niat dan semangat luhur untuk terus berjuang menyelamatkan sesamanya yang ditulis oleh dr. Teguh kiranya merupakan ungkapan hati seluruh tenaga kesehatan. Bukan sekedar mengeluh, marah dan terserah, tetapi sebuah ajakan untuk bersama-sama. Ungkapan yang amat menyentuh dan “miris” keluar dari kedalaman hati para pejuang kehidupan.
 
Apa yang diungkapkan itu bagi saya bukan hanya ajakan untuk masyarakat, tetapi lebih dari itu merupakan doa yang setiap hari didaraskan oleh para tenaga kesehatan. Betapa indah doa yang menunjukkan ungkapan kedalam hati yang amat personal kepada Dia yang diimaninya sebagai sumber pengharapan. Saya membayangkan kalimat-kalimat itu diungkapkan dalam doa kepada Tuhan Bapa yang maha kasih. Bukan kata-kata indah yang dirangkai dan didaraskan tetapi untaian ungkapan hati yang paling dalam. Dan itulah doa yang sesungguhnya. Doa yang menunjukkan intimitas dengan Tuhan dan Bapanya sebagai sumber kekuatan dan harapan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus bersabda, doa yang baik bukan karena panjangnya dan indahnya kata-kata, tetapi doa yang keluar dari hati dan yang mengungkapkan iman serta intimitasnya dengan Allah. “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku berdoa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Juni 2021

Renungan Harian
Rabu, 16 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 9: 6-11
Injil: Mat. 6: 1-6. 16-18

Tuhan Yang Membalas

Selesai misa siang terakhir ada sepasang suami istri menemui saya ingin berbicara secara pribadi, maka saya minta mereka untuk menunggu di ruang tamu. Setelah saya selesai menyapa umat yang pulang misa, saya menemui bapak ibu tadi di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sejenak, bapak itu mulai bercerita:
“Romo, akhir-akhir ini kami hampir setiap hari ribut dan sering kali menjadikan kami seharian tidak berbicara. Kami mohon nasehat romo agar suasana rumah kami menjadi damai kembali.”
 
“Bapak, ibu, menurut bapak ibu apa yang menjadi sumber keributan?” tanya saya.

“Romo, ini lho, bapaknya yang selalu bikin jengkel, dan tidak pernah sadar. Dia itu sudah amat sering dibohongi orang. Teman-temannya pinjam uang, tetapi tidak ada yang kembali, begitu juga saudara-saudaranya selalu ngandel, setiap kali kekurangan selalu minta bantuan dan selalu langsung diberi. Dia tidak pernah berpikir bahwa keluarga kami sendiri juga banyak kebutuhan. Setiap kali saya minta dia berpikir dan agar tidak begitu saja memberi bantuan atau pinjaman, dia malah ngomel-ngomel,” ibu itu menjelaskan.
 
“Romo, saya selalu ngomong sama dia, kalau ada orang pinjam atau minta bantuan itu pasti karena sedang kekurangan dan amat butuh. Maka kita kalau bisa wajib membantu. Betul keluarga kami tidak berlebihan tetapi dengan membantu orang lain juga tidak menjadi kekurangan banget, hanya beberapa kebutuhan yang harus direm atau ditunda. Soal ada yang pinjam tidak mengembalikan menurut saya karena mereka tidak mampu mengembalikan dan saya percaya Tuhan yang akan selalu memberikan rahmat kepada keluarga kami. Romo, saya belajar dari orang tua saya, kita itu harus selalu menabur kebaikan dalam bentuk apapun. Tugasnya menabur dan menabur, jangan berpikir kapan panen, percaya pada penyelenggaraan ilahi, Tuhan akan selalu mencukupkan,” bapak itu memberikan alasan.
 
Saya bisa mengerti kejengkelan ibu itu, berhadapan dengan sikap suaminya, namun demikian saya amat kagum dengan kemurahan dan kepasrahan bapak itu. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus:

“Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit pula. Sebaliknya orang yang menabur banyak akan menuai banyak pula. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku murah hati untuk menabur kebaikan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Juni 2021

Renungan Harian
Selasa, 15 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 8: 1-9
Injil: Mat. 5: 43-48

Peduli

Sebagaimana kita ketahui bersama, sektor ekonomi  menjadi salah satu yang mengalami dampak terbesar dari pandemi covid 19. Dampak pandemi covid 19 pada sektor ekonomi menyebabkan banyak orang berkurang pendapatannya baik karena dikurangi oleh perusahan maupun karena mengalami penurunan pendapatan karena usaha turun; banyak orang kehilangan pekerjaan; orang-orang yang mencari pekerjaan semakin sulit dan masih banyak lagi. Sementara itu kebutuhan hidup justru meningkat. Orang harus membeli masker yang tidak bisa dikatakan murah, membeli pembersih tangan, membeli kuota internet untuk keperluan sekolah bahkan harus membeli perangkat agar dapat mengikuti sekolah secara daring.
 
Dengan situasi yang semacam itu dapat dimengerti dan dirasakan bahwa banyak orang mengalami kesulitan dan beban berat untuk memenuhi kebutuhan hidup hariannya. Hal itu dirasakan oleh banyak orang, termasuk umat di paroki tempat saya diutus. Namun demikian, situasi yang amat berat dirasakan oleh umat, tidak menjadikan umat berkurang atau kehilangan kasih dan kepedulian terhadap sesamanya.
 
Kepedulian dan kasih umat kepada sesamanya kami rasakan dalam beberapa hal. Pertama, bagaimana umat saling memberi perhatian kepada saudara-saudara selingkungan dan warga sekitar. Umat memberikan informasi ke paroki bahwa ada saudara-saudaranya yang sungguh membutuhkan bantuan dan mereka mau mengambilkan bantuan sembako dan atau bantuan lain untuk saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Hal kedua, ketika kemampuan keuangan paroki mulai menipis  untuk menyediakan bantuan bagi umat dan warga yang berkekurangan, bantuan dari umat untuk tersedianya bahan-bahan bantuan luar biasa. Sungguh dalam jumlah yang tidak terbayangkan mengingat situasi yang amat sulit.
 
Dari dua hal di atas 8
artinya umat sudah memberi dengan segala kekurangannya. Dalam kekurangan dan kesulitan umat justru menjadi terbuka pada dorongan kasih dan kepedulian. Bahkan menurut saya pribadi adanya pandemi covid memberikan rahmat di balik bencana. Rahmat yang tidak terduga tetapi memberikan rahmat kemajuan rohani dan pribadi bagi umat. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Selagi dicoba dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap, dan meskipun sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku selalu terdorong gerakan kasih untuk peduli pada sesamaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 14 Juni 2021

Renungan Harian
Senin, 14 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 6: 1-10
Injil: Mat. 5: 38-42

Meretas Rantai Dendam

Beberapa tahun yang lalu ketika saya menjalani perutusan di sebuah SMU suatu kali saya dihadapkan pada kejadian dimana dua kelompok murid saling mengejek dan saling menantang untuk berkelahi. Saya tidak tahu persis apa persoalannya tetapi mereka selalu saling mengejek. Awalnya saya pikir itu guyon dan masalah anak-anak yang akan segera berlalu. Namun ternyata tidak demikian, mereka selalu saling ejek bahkan hal itu terjadi di luar sekolah. Oleh karenanya saya mengumpulkan kedua kelompok itu untuk mengetahui duduk persoalannya dan mendamaikan mereka.
 
Dalam pertemuan yang amat seru itu mereka saling menuduh satu sama lain sebagai biang keributan. Saya mengajak semua untuk mendudukkan persoalan dengan tenang, dan mengajak mereka untuk berdamai. Akhirnya mereka mau berdamai satu sama lain, dan berjanji untuk tidak lagi memancing-mancing keributan lagi.
 
Namun ternyata perdamaian itu tidak berlangsung lama, keributan dan saling ejek itu terjadi lagi. Entah siapa yang lebih dahulu memancing keributan tetapi keributan yang terjadi lebih tajam dari yang sebelumnya. Kedua kelompok itu selalu saling menantang untuk berantem. Karena keributan itu mengganggu teman-teman yang lain maka suatu hari saya meminta kedua kelompok itu untuk bertemu dengan saya setelah pelajaran selesai.
 
Setelah pelajaran selesai dan semua murid yang lain sudah pulang saya menemui kedua kelompok itu di lapangan basket sekolah. Saya bertanya kepada mereka apa sebenarnya yang mereka mau. Mereka menjawab bahwa mereka mau memenuhi tantangan untuk berantem. Ketika saya tanya apakah mereka sungguh-sungguh ingin berantem dan berani, mereka mengatakan semua berani. Maka saya minta pimpinan kelompoknya untuk maju dan saya mengatakan bahwa sekarang mereka akan berantem satu lawan satu, yang kalah harus mengakui kalah dan berjanji tidak boleh dendam. Mereka semua sepakat.
 
Maka pimpinan kelompok maju untuk saling berhadapan satu sama lain. Setelah saling berhadapan saya tanya sekali lagi, apakah mereka sungguh berani berantem, ternyata mereka berdua tidak berani. Kemudian saya tanya kepada anggota kelompok siapa yang berani untuk berantem supaya maju, ternyata tidak ada seorangpun yang maju. Karena tidak ada yang berani maka saya memberikan hukuman kepada mereka dan memberikan nasehat kepada mereka pentingnya untuk rendah hati, berani mengukur kemampuan diri sendiri.
 
Sejak saat itu dua kelompok menjadi berdamai. Dendam akan terus melahirkan dendam, itu yang selalu terjadi, tidak jarang dendam menjadi turun temurun. Kerendahan hati, dan kasih menjadi modal dasar untuk meretas rantai dendam. Sebagaimana diajarkan Yesus sejauh diwartakan dalam injil Matius untuk memberikan pipi kiri bila pipi kanan ditampar. Tentu maksudnya bukan seperti yang tertulis melainkan mengajak untuk rendah hati dan mengasihi. “Janganlah kalian melawan orang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani meretas rantai dendam dalam diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Juni 2021

Renungan Harian
Minggu, 13 Juni 2021
Hari Minggu Biasa XI

Bacaan I: Yeh. 17: 22-24
Bacaan II: 2Kor. 5: 6-10
Injil: Mrk. 4: 26-34

Ingin Suci

Beberapa waktu yang lalu saya menerima tamu sepasang suami istri. Bapak ibu itu meminta saya untuk menasehati putrinya yang paling besar. Bapak ibu itu merasa khawatir dengan perilaku putrinya itu. Menurut mereka, putrinya sering kali menyiksa diri, dengan memukul badannya dan sering kali puasa tidak makan. Sekarang ini putrinya sedang sakit, tetapi tetap berpuasa dan menyiksa diri.
 
Malam harinya saya mengunjungi rumah keluarga itu dan mencoba bertemu dengan putrinya. Saat diberitahu bahwa romo ingin bertemu, dia bersedia untuk bertemu. Saya diantar ke kamar anak itu. Anak itu kelihat pucat dan lemas, sehingga ketika berusaha untuk duduk saya meminta agar tetap berbaring saja. Ketika saya tanya apakah dia sakit, dia menjawab bahwa dirinya tidak sakit, memang badannya lemas, tetapi ini semua untuk menaklukan badan. Ketika saya tanya mengapa dia berbuat seperti itu dia menjawab: “Romo, menurut bapak (dia menyebut sebuah nama) bahwa kita sulit untuk menjadi suci dan dekat dengan Tuhan karena roh kita terbelenggu oleh badan ini, maka badan harus dikalahkan. Romo, kalau saya melakukan ini semua adalah cara saya mengalahkan badan saya. Saya ingin menjadi orang suci, dan caranya dengan menyiksa badan agar dengan demikian saya bisa menguasai badan saya, dan roh saya menuju pada Tuhan.”
 
Saya amat prihatin dengan pemahaman anak ini. Saya tidak tahu apa yang diajarkan kepadanya sehingga dia melakukan praktek seperti ini. Saya cukup lama mendengarkan dia menceritakan usahanya untuk menjadi orang suci sesuai dengan ajaran yang dia terima. Kemudian saya mengajak dia melihat bahwa tubuh adalah anugerah Tuhan, supaya jangan dirusak. Kedua yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan mengalahkan tubuh, bukan dengan menyiksa diri seperti itu. Dengan berbagai cara saya menjelaskan agar dia paham. Akhirnya saat saya menawari makan bubur dia mau makan dan berjanji tidak akan menyiksa tubuhnya lagi.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Sebab itu, kami berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepadanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku berjuang untuk semakin dekat dengan Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Juni 2021

Renungan Harian
Sabtu, 12 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 5: 14-21
Injil: Mat. 5: 33-37

Kesetiaan

Suatu sore, saya menerima tamu seorang ibu. Ibu itu datang minta didoakan dan berkat agar kuat. Saya bertanya pada ibu itu apa maksud agar kuat, apakah sedang sakit atau karena apa.
Ibu itu menjawab dengan pendek bahwa ia mohon agar kuat menjalani hidupnya. Saya menjawab bahwa saya dengan senang hati berdoa dan memohonkan berkat agar ibu kuat menjalani hidup. Ketika saya mengajak hening sebentar untuk berdoa, ibu itu mulai menangis, maka saya diam dulu membiarkan ibu itu menangis.

“Romo, sebelum doa, apakah romo punya waktu untuk mendengarkan cerita saya?” tanya ibu itu.

“Silahkan ibu, saya akan mendengarkan,” jawab saya.
 
“Romo, beban hidup saya amat berat. Saya tidak mengerti, apakah saya ini tertipu atau bodoh. Teman-teman dan keluarga saya mengatakan bahwa saya ini bodoh.
Romo, ketika kami masih pacaran, saya kenal suami saya sebagai seorang pria yang baik, sabar, pekerja keras meski tidak romantis dan agak cuek. Setelah 6 bulan pacaran kami menikah. Keluarga setuju kami menikah, mengingat bahwa pacar saya kelihatan baik dan menurut orang tua bibit, bobot dan bebetnya baik.
 
Romo, kami menjalani hidup perkawinan dengan baik, kami berdua kerja sehingga ekonomi kami cukup baik. Kami bisa beli rumah dan punya mobil. Sampai suatu sore rumah kami didatangi polisi dengan surat perintah penggeledahan rumah kami. Saya shock ketika tahu bahwa ini semua karena suami saya ditangkap atas penggunaan narkoba. Rumah kami “diacak-acak” tetapi tidak ditemukan apapun berkaitan dengan narkoba. Saya ditanya dan memang saya tidak pernah tahu kalau suami saya pemakai.
 
Romo, mobil kami jual, agar suami bisa pulang. Suami minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Saya menerima dan percaya dengan janjinya. Akibat kasus itu, suami saya diberhentikan dari tempat kerjanya. Maka sekarang saya menjadi tulang punggung keluarga, sembari menunggu suami mendapatkan pekerjaan baru. Ternyata romo, kejadian itu bukan yang terakhir, belum juga 6 bulan suami ditangkap dengan kasus yang sama. Suami minta agar saya merelakan rumah untuk biaya dia keluar dan direhab. Saya turuti romo, karena saya kasihan kalau suami harus dihukum. Kami sekarang sewa rumah kecil. Selesai direhab suami kembali ke rumah dan kami hidup biasa lagi. Tetapi 3 bulan kemudian ditangkap lagi. Dan kali ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Saya harus merelakan suami saya dihukum.
 
Suami marah-marah, menuduh saya tidak cinta lagi, dan senang kalau dirinya dihukum. Saya hanya diam, mendengarkan semua tuduhan itu. Saya beberapa kali bilang ke dia, bahwa sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Romo, belum juga saya bisa menerima semua peristiwa itu, ada orang yang menagih hutang, karena ternyata suami saya punya hutang yang cukup besar. Untung, masih untung romo, hutang bisa diangsur, sehingga saya mengangsur hutangnya. Romo, karena beban keuangan yang cukup berat, saya tinggal dengan orang tua saya.
 
Romo, orang tua, saudara-saudara dan teman-teman saya menyarankan agar saya meninggalkan suami saya. Mereka berpendapat bahwa orang seperti suami saya tidak layak untuk diperjuangkan; dia sudah tidak akan bisa sembuh lagi. Saya menolak saran-saran itu, saya masih berharap bahwa entah kapan suami saya akan sadar kembali hidup sebagai manusia normal. Itulah mengapa saya selalu dikatakan bodoh oleh keluarga dan teman-teman. Romo, saya berpegang pada doa-doa saya, agar saya diberi kekuatan untuk menjalani ini semua dan suami saya menjadi sadar. Saya berharap dengan cinta dan doa-doa suami saya bisa bertobat,” ibu itu bercerita.
“Wow, gila, luar biasa ibu ini,” kata saya dalam hati.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan surat Paulus kepada jemaat di Korintus:
“Maka dalam  Kristus kami meminta kepada kalian: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, agar dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku selalu berjuang untuk berdamai dengan Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Undangan Acara CLC
Senin Kedua

Kami undang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Romo Angga Indraswara, SJ. (Romo Angga) untuk berdiskusi tentang “Discerment Ignasian dan Hiruk-Pikuk Politik: Berimajinasi bersama St. Ignasius”.

Acara kami selenggarakan pada:
Hari Senin, 14 Juni 2021
Pukul 7 malam (19:00) WIB

Link Zoom
https://zoom.us/j/6358985886?pwd=OHpDMEZOWE1ZeXl5bFMwcEJpNTI3QT09

Meeting ID: 635 898 5886
Passcode: clc

CP: Putri (CLC Yogyakarta)

Berkah Dalem
CLC di Yogyakarta

PS. Jika Anda berkenan, mohon bantu kami untuk mengedarkan undangan ini ke kelompok CLC Anda atau teman-teman simpatisan CLC/yang tertarik dengan Ignatian yang Anda kenal. Terima kasih.