Renungan Harian: 24 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 24 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 14-20
Injil    : Luk. 21: 5-11

S e x y

Sudah amat sering dalam berbagai kesempatan maupun di pelbagai tempat diadakan seminar atau pengajaran tentang akhir zaman. Pelbagai judul seminar yang memikat ditampilkan untuk menarik orang mengikuti acara tersebut. Judul itu misalnya: “Mengintip zaman akhir”, “Sekarang tanda-tanda akhir zaman mulai nampak “ dan lain sebagainya.
 
Dengan pelbagai judul dan warta itu banyak orang terpikat untuk mengikutinya; karena mereka berprasangka bahwa para pembicara itu tahu kapan akhir zaman akan terjadi. Sehingga para pengikut seminar atau pengajaran itu punya harapan besar bahwa setelah ikut seminar atau pengajaran, mereka akan tahu kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Saya tidak tahu persis apa isi seminar atau pengajaran tersebut, karena belum pernah mengikuti, dan tanpa bermaksud menghakimi para narasumbernya, tapi dapat diduga bahwa yang dibicarakan adalah hal-hal yang tertulis dalam kitab Wahyu, kitab Daniel atau dari Injil yang bicara tentang akhir zaman. Saya menduga demikian karena saya yakin bahwa para narasumber tidak tahu pasti kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Pertanyaan muncul, mengapa tema-tema akhir zaman menjadi tema yang sexy untuk “dijual”? Akhir zaman adalah misteri besar dalam hidup manusia maka bila ada yang bisa menguak misteri itu pasti menjadi menarik. Sering kali mereka yang ikut seminar dan pengajaran tersebut lebih ingin memuaskan pengetahuan mereka  daripada ingin mempersiapkan diri lebih baik sehingga bila saatnya tiba mereka selamat.
 
Banyak orang, termasuk saya sering kali merasa puas dan senang ketika menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang luar biasa. Namun rasa puas dan senang itu seringkali menjebak saya untuk berhenti pada rasa itu. Saya lupa untuk mengolah, mengunyah dan mencecap-cecap pengetahuan itu sehingga tidak memunculkan gerakkan batin, tidak memunculkan kehendak, apalagi sebuah keputusan untuk bertindak.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini mengingatkan, agar tidak terjebak dengan pengetahuan semata, tetapi yang lebih penting adalah bertindak, menata diri, mempersiapkan diri dari waktu ke waktu agar bila saatnya tiba, aku dianggap pantas. Sabda Tuhan sejauh diwartakan St. Lukas dengan tegas mengingatkan agar waspada: “Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Orang yang menyesatkan atau disesatkan? Orang yang puas dengan pengetahuan atau orang yang berani mengolah apa yang kuterima?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 23 November 2020

Renungan Harian
Senin, 23 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 1-3. 4b-5
Injil    : Luk. 21: 1-4

Orang Kaya

Malam itu kami mengadakan rapat pembangunan. Rapat ini adalah rapat rutin setiap akhir bulan untuk membicarakan berbagai hal berkaitan dengan pembangunan pastoran. Sebagaimana biasa dalam rapat kami mendengarkan laporan tentang perkembangan  pembangunan, laporan berbagai macam kendala yang harus diselesaikan dan yang paling terakhir adalah laporan tentang dana.
 
Setiap kali kami mendapatkan sumbangan dalam jumlah besar, kami selalu bersyukur dan kagum dengan orang-orang yang menyumbang dalam jumlah besar. Malam itu salah satu tim dana menyampaikan bahwa ada amplop sumbangan dari seorang ibu. Kami mengenal ibu yang memberi sumbangan itu adalah seorang janda yang hidup amat sederhana, dan untuk kehidupan sehari-hari selain berjualan, beliau selalu mendapatkan bantuan dari seksi sosial paroki.
 
Amplop itu belum dibuka karena tim dana tidak berani membuka dan berpikir sumbangan itu lebih baik dikembalikan mengingat keadaan beliau. Kami memutuskan untuk membuka amplop sumbangan beliau dan ternyata jumlah uang dalam amplop itu 2 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar bahkan amat besar untuk ibu itu. Setelah ditimbang-timbang kami memutuskan untuk mengembalikan sumbangan itu karena menurut kami akan lebih berguna untuk kehidupan ibu itu.
 
Ketika saya bertemu dengan ibu itu untuk mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan sumbangannya dan bermaksud untuk mengembalikannya, ibu itu berkata:

“Romo, mohon agar berkenan menerima sumbangan Oma, meskipun amat sedikit. Ketika romo mengumumkan pembangunan pastoran dan mengumpulkan dana, oma sedih karena oma tidak punya apa-apa. Ingin ikut andil tetapi untuk hidup sehari-hari saja oma dibantu paroki.
 
Romo, karena oma ingin sekali ikut andil, maka oma memutuskan menyisihkan sedikit uang oma. Oma pikir, cukup bisa makan sekali sehari dan sisanya oma kumpulkan. Mungkin hanya sekali oma bisa memberikan sumbangan tetapi oma bahagia bisa ikut andil dalam pembangunan pastoran. Maka oma berharap dengan sangat agar romo berkenan menerima sumbangan oma.”
 
Saya pulang ke pastoran tanpa terasa air mata saya berlinang. Saya telah bertemu dengan orang yang luar biasa; orang yang secara materi memang miskin tetapi beliau bagi saya adalah orang yang kaya; dan yang lebih membuat hati saya sedih, pastoran yang bagus itu dibangun dari uang orang yang rela makan sekali sehari.
 
Bagi saya, oma itu adalah janda miskin yang dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh St. Lukas. Orang yang memberikan persembahan amat besar. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 22 November 2020

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan I  : Yeh. 34: 11-12. 15-17
Bacaan II : 1Kor. 15: 20-26a. 28
Injil     : Mat. 25: 31-46

Nasi Bungkus

Dalam pertemuan seksi sosial paroki, para pengurus mengusulkan agar paroki mengadakan aksi sosial membagi nasi bungkus satu kali dalam seminggu untuk saudara-saudara yang  berkekurangan. Idenya bukan hanya agar  saudara-saudara yang berkekurangan mendapatkan makan tetapi juga agar mereka mendapatkan makanan yang sedikit lebih baik. Akhirnya diputuskan untuk dijalankan.
 
Sesuai dengan kesepakatan dalam rapat pada hari itu mulai pagi beberapa ibu dan beberapa bapak mulai memasak untuk menyiapkan nasi bungkus. Hari itu kami menyediakan 250 nasi bungkus untuk dibagikan. Setelah selesai membungkus maka para bapak dan ibu itu berbagi tugas untuk berkeliling membagikan nasi bungkus.
 
Dalam perjalanan waktu, kami kesulitan untuk menentukan menu, karena bahan dasar selalu telur, daging ayam dan tahu tempe. Kami selalu bicara tidak masalah dengan bahan dasar tetapi yang penting cara mengolahnya selalu berganti dan selalu diusahakan agar nasi harus baik.
 
Pada suatu saat harga ayam begitu mahal, sehingga kami memutuskan untuk beberapa kali menyediakan masakan berbahan dasar telur. Keputusan itu dibuat karena kemampuan kami terbatas. Dalam bulan itu hanya satu kali menu berbahan dasar daging ayam.
 
Suatu hari, beberapa ibu sepulang membagi nasi bungkus, tampak sedih dan marah. Beliau bercerita bahwa ada dua orang yang menerima nasi bungkus ketika melihat menunya berbahan telur ngomel-ngomel dan langsung membuang nasi bungkus itu ke tempat sampah. Mendengar cerita ibu-ibu itu, saya mengatakan untuk tidak berkecil hati. Hal yang paling penting adalah usaha kita untuk berbagi. Niat baik disertai usaha yang baik dan kerja yang baik untuk saudara-saudara kita, menurut saya itu sudah luar biasa. Soal ada yang menerima dengan senang hati atau ada yang menolak bahkan mencemooh jangan menjadikan risau dan surut. Tugas kita adalah berbagi kasih.
 
Dalam pembicaraan pada waktu evaluasi beberapa dari bapak dan ibu itu bercerita bahwa pengalaman kebahagiaan saat berbagi lebih besar dari pada dukanya. Kelelahan dan kesulitan dalam menyiapkan nasi bungkus terbayar melihat kebahagiaan saudara-saudara yang menerima. Bahwa ada yang menolak tidak menjadi persoalan karena hati ini diajarkan, dilatih untuk peka dengan saudara-saudara yang berkekurangan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menegaskan bahwa betapa penting kepekaan hati pada saudara-saudara yang berkekurangan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.”
 
Apakah aku mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri saudaraku yang hina dan berkekurangan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 21 November 2020

Renungan Harian
Sabtu, 21 November 2020

PW. St. Maria dipersembahkan kepada Allah
Bacaan I : Why. 11: 4-12
Injil    : Luk. 20: 27-40

Memperalat

Suatu pagi, saya kedatangan tamu, yang memperkenalkan diri sebagai seorang penginjil. Pada waktu itu pastoran tempat saya tinggal adalah rumah sederhana berada di tengah perkampungan penduduk terpisah dari gereja. Sehingga penginjil itu tidak tahu kalau saya seorang pastor.
 
Setelah memperkenal dirinya, dan saya juga memperkenalkan diri sebagai pastor Gereja katolik, beliau berkata bahwa saya harus bertobat, karena kalau tidak bertobat saya akan masuk neraka. Kemudian beliau menambahkan bahwa baptisan yang telah saya terima tidak sah karena tidak ditenggelamkan dalam air dan hidup selibat itu juga tidak benar. Untuk mendukung pendapatnya itu beliau membacakan ayat-ayat kitab suci dari berbagai surat dan kitab.
 
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sudah mengimani Kristus dengan cara yang diajarkan Gereja Katolik, jadi saya tidak akan meninggalkan apa yang sudah saya yakini. Dan kemudian beliau pergi.
 
Saya menjadi aneh dengan penginjil itu mengapa saya yang sudah memperkenalkan diri sebagai pastor tetap dikotbahi untuk berpindah keyakinan. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya, beliau sudah menyiapkan ayat-ayat dari kitab suci yang menurut saya dipaksakan untuk mendukung pernyataannya. Ayat-ayat kitab suci  telah diperalat untuk kepentingannya.
 
Saya ingat Sri Paus pernah menegaskan agar para imam tidak menggunakan mimbar untuk marah-marah atau memarahi umat. Bukankah ketika menggunakan mimbar untuk marah-marah berarti juga telah memperalat sabda Tuhan untuk kepentingan pribadi?
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas mengisahkan orang-orang Saduki yang menggunakan ajaran Musa untuk mendukung kepentingan pribadi bukan untuk melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Guru, Musa menuliskan untuk kita perintah ini……”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah memanipulasi hal-hal yang rohani dan baik hanya demi kepentingan pribadiku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 20 November 2020

Renungan Harian
Jumat, 20 November 2020

Bacaan I : Why. 10: 8-11
Injil    : Luk. 19: 45-48

Pamrih

Beberapa tahun yang lalu setelah makan malam, saya menemui tamu seorang bapak. Saya mengenal bapak tersebut sebagai salah satu orang yang aktif dalam berbagai kegiatan di paroki, dan bukan hanya saja aktif bapak tersebut juga beberapa kali memberi sumbangan untuk acara-acara di paroki.
 
Bapak tersebut sebenarnya aktif ikut kegiatan di gereja baru kurang lebih selama 6 bulan ini. Sebelumnya saya tidak mengenal bapak itu meski saya sudah beberapa tahun bertugas di paroki ini karena memang bapak tersebut tidak pernah muncul di gereja.
 
Malam itu, bapak tersebut menyampaikan bahwa dirinya akan maju menjadi anggota parlemen, beliau minta restu dan dukungan. Mendengar permintaan tersebut, saya menjawab bahwa saya dengan senang hati mendoakan dan mendukung niat baik bapak tersebut. Kemudian beliau meminta dukungan konkret dari saya. Bentuk dukungan konkret yang beliau minta adalah sebuah surat pernyataan dan himbauan dari pastor bahwa pastor mendukung bapak tersebut dan meminta umat untuk memilih dia, itu yang pertama. Dukungan berikut adalah bapak itu minta dalam beberapa kesempatan mengisi khotbah dalam perayaan ekaristi untuk menyampaikan visi misi serta meminta dukungan umat untuk memilih beliau.
 
Atas permintaan bapak tersebut saya menjawab: “Bapak, mohon maaf permintaan bapak untuk dua bentuk dukungan konkret tidak bisa saya penuhi. Bahwa saya mendukung bapak untuk maju menjadi anggota parlemen, tidak berarti saya bisa menerbitkan surat tersebut karena hal itu akan menyeret Gereja ke dalam politik praktis, dan lagi pasti ada umat lain yang mau maju atau punya calon yang lain.
 
Permintaan kedua sudah pasti tidak bisa dipenuhi karena dalam peribadatan jangan dicampur adukan dengan politik praktis, jangan menjadikan Gereja dan ekaristi sebagai sarana untuk kampanye. Saya akan memberi ruang dan kesempatan tetapi tidak dalam ekaristi.”
 
Mendengar jawaban saya, bapak tersebut menjadi kecewa dan marah. Beliau dengan keras mengatakan bahwa dirinya sia-sia selama ini aktif di gereja mengorbankan waktu, tenaga dan materi kalau tidak bisa mendapatkan dukungan. Beliau menyatakan bahwa saya tidak punya rasa terimakasih dan tidak tahu balas budi. Di ujung kemarahannya bapak itu mengatakan bahwa dirinya tidak akan terlibat di gereja lagi.
 
Saya diam mendengarkan kemarahan bapak tersebut. Hampir selama 1 jam bapak itu marah dan menceramahi saya pentingnya balas budi dan rasa terima kasih atas pengorbanan beliau.
Tidak ada satu katapun keluar dari mulut saya menjawab kemarahan bapak itu, sampai kemudian beliau pergi tanpa pamit.
 
Saya sedih mengalami peristiwa tersebut. Sedih bukan karena dimarahi dan dicela, tetapi sedih karena ada orang yang mengungkapkan dan mewujudkan imannya hanya demi kepentingan pribadi sesaat, demi sebuah ambisi dan pencitraan.
 
Kiranya hal ini yang dikritik Tuhan dengan dengan bersabda: “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikan sarang penyamun” sebagaimana diwartakan St. Lukas.
 
Bagaimana dengan aku? Untuk apa aku ikut dalam peribadatan dan aktif dalam kegiatan gereja?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

ST IGNATIUS LOYOLA

Awal Mulanya

Inigo de Loyola dilahirkan pada tahun 1491 di Azpeitia di provinsi Guipuzcoa di wilayah Basque di sebelah utara Spanyol. Dia adalah anak bungsu dari tigabelas bersaudara. Pada usia enam belas tahun dia dikirim untuk bekerja sebagai pesuruh bagi Juan Velazquez, bendaharawan kerajaan Castile. Sebagai anggota rumah tangga Velazquez, dia seringkali tampil di balai sidang dan mengembangkan cita rasa terhadap segala hal mengenainya, terutama urusan perempuan. Dia sangat suka berjudi, suka bertengkar, dan terlibat dalam adu pedang. Bahkan dalam suatu perselisihan antara keluarga Loyola dan keluarga lainnya, Ignatius dan saudara lelakinya dengan disertai beberapa sanak famili pada suatu malam menyerang beberapa kaum religius anggota keluarga lain tersebut. Ignatius harus melarikan diri ke luar kota. Ketika akhirnya dibawa ke pengadilan, dia membela dirinya dengan menyatakan “imunitas religius” karena telah “dicukur gundul” (seperti layaknya rambut kaum biarawan pada waktu itu) sewaktu masih sebagai seorang anak laki-laki, dan oleh karenanya bebas dari pengadilan sipil. Ini adalah pembelaan diri yang semu karena selama bertahun-tahun dia telah berpakaian sebagai ksatria berpedang, mengenakan baju besi, dan membawa-bawa pedang termasuk senjata-senjata lainnya. Jelas ini bukan baju yang biasanya dikenakan oleh kaum religius. Kasus ini berlarut-larut sampai beberapa minggu tetapi keluarga Loyola tampaknya sangat berpengaruh. Mungkin melalui pengaruh kaum petinggi, kasus terhadap Ignatius akhirnya ditutup.

Pada usianya yang ke-30 di bulan May 1521, Ignatius adalah salah seorang tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis, yang menyatakan wilayah tersebut sebagai wilayah mereka dan berperang dengan Spanyol. Orang-orang Spanyol kalah jauh dari segi jumlah dan komandan pasukan Spanyol ingin menyerahkan diri, tetapi Ignatius meyakinkannya untuk bertempur demi kehormatan Spanyol kalau bukan demi kemenangan. Pada waktu pertempuran sebuah bom kanon mengenai Ignatius, melukai salah satu kakinya dan mematahkan kaki yang satu lagi. Karena mereka mengagumi keberaniannya, tentara-tentara Perancis tidak menjebloskannya ke penjara, melainkan mengusungnya kembali ke rumahnya untuk berobat, di puri Loyola. Kakinya sembuh tetapi tidak sempurna, sehingga perlu untuk mematahkannya kembali dan meluruskannya, semua ini dilakukan tanpa pembiusan. Kondisi Ignatius memburuk dan akhirnya para tabib memberitahukan supaya ia bersiap-siap untuk mati. 

Pada hari raya Santo Petrus dan Paulus tanggal 29 Juni, kondisinya secara tak terduga membaik. Kakinya sembuh, tetapi meski demikian tulangnya menonjol dibawah tempurung lututnya dan kakinya pendek sebelah. Ignatius tidak dapat menerima hal ini dan menganggapnya sebagai nasib buruk yang lebih buruk daripada kematian karena tidak bisa lagi memakai sepatu boot tinggi yang ketat dan celana ketat yang biasa dipakai oleh kaum ksatria kerajaan. Oleh karenanya dia menyuruh para tabib untuk memotong benjolan tulang yang menonjol dan memanjangkan tulang kakinya dengan merenggangkan secara sistematis. Lagi-lagi hal ini semua dilakukan tanpa anestesia. Sungguh malang, segala usaha ini tidak berhasil. Sepanjang hidupnya dia berjalan pincang karena salah satu kaki lebih pendek dari yang lainnya.

Pertobatan Ignatius

Selama minggu-minggu panjang pengobatannya, dia merasa sangat bosan dan meminta disediakan cerita-cerita roman percintaan untuk menghabiskan waktunya. Untungnya di kastil Loyola tidak ada buku demikian, tetapi ada buku tentang hidup Kristus dan sebuah buku tentang para kudus. Karena terdesak, Ignatius mulai membacanya. Semakin banyak dia membaca, semakin dia beranggapkan bahwa kisah para kudus tersebut patut untuk ditiru. Akan tetapi, pada saat yang sama dia juga masih memiliki mimpi-mimpi indah tentang ketenaran dan kemuliaan, termasuk fantasi-fantasi memenangkan cinta gadis bangsawan tertentu. Identitas wanita ini tidak pernah diketahui tetapi agaknya dia dari keturunan bangsawan. Akan tetapi dia mendapatkan bahwa setelah membaca dan merenungkan kisah para kudus dan Kristus dia berada dalam kedamaian dan merasa puas lahir-batin. Tetapi waktu dia berfantasi tentang gadis bangsawan tersebut, hatinya merasa tidak tenang dan tak terpuaskan. Pengalaman ini tidak hanya merupakan awal dari pertobatannya, tetapi juga awal dari pertimbangan spiritual, atau pertimbangan roh, yang diasosiasikan dengan Ignatius dan seperti dijelaskan dalam Latihan Rohani-nya.

Latihan tersebut menyatakan bahwa tidak hanya segi intelektual tapi juga emosi dan perasaan bisa membantu kita untuk memahami kerja Roh dalam hidup kita. Akhirnya, bertobat sepenuhnya dari segala keinginan-keinginan dan rencana romans dan kemenangan duniawi, dan sembuh dari luka-lukanya sehingga dia bisa bepergian, pada bulan Maret 1522 dia meninggalkan puri tempat tinggalnya.

Dia telah memutuskan untuk pergi ke Yerusalem untuk tinggal di tempat dimana Tuhan kita menjalani hidup-Nya di dunia. Sebagai langkah pertama dia memulai perjalanannya ke Barcelona, Spanyol. Meskipun dia telah bertobat dari cara-cara hidup yang lama, dia masih sangat kurang memiliki semangat kerendah-hatian dan penghayatan hidup Kristiani, seperti bisa digambarkan dari pengalamannya bertemu dengan orang Moor (penganut Muslim) dalam perjalanannya. Orang Moor tersebut bertemu dengannya di tengah jalan, mereka sama-sama menunggang keledai, dan mereka mulai mendebatkan topik-topik religius. Orang Moor itu mengatakan bahwa Santa Perawan Maria tidak lagi merupakan seorang perawan setelah melahirkan Kristus. Ignatius menganggap hal ini sebagai suatu penghinaan besar dan dia menimbang-nimbang tentang apa yang akan dilakukannya. Merekapun sampai ke persimpangan jalan, dan Ignatius memutuskan bahwa dia akan melihat apa yang akan terjadi untuk memutuskan tindakan yang akan dilakukannya. Orang Moor itu meneruskan ke satu arah. Ignatius melepaskan tali kekang keledainya dan membiarkan keledainya memilih arah di persimpangan tersebut. Kalau keledainya mengikuti arah yang diambil oleh orang Moor tersebut, dia akan membunuh orang itu. Kalau sang keledai mengambil arah yang satu lagi, dia tidak akan menyerang orang Moor itu. Untungnya bagi si orang Moor, keledai Ignatius lebih bermurah hati daripada penunggangnya dan mengambil jurusan yang berlawanan dengan orang Moor tersebut.

Dia meneruskan ke tempat ziarah Bunda Maria dari Montserrat yang diasuh oleh kaum Benediktin, menerimakan pengakuan dosa umum, dan berlutut sepanjang malam di depan altar Bunda Maria, mengikuti tata-cara kebiasaan para ksatria. Dia menanggalkan pedang dan pisaunya di altar, berjalan keluar dan memberikan semua baju-bajunya yang indah kepada seorang miskin, dan mendandani dirinya dengan pakaian kain kasar dengan sendal dan tongkat.

Pengalaman di Manresa

Dia meneruskan perjalanannya ke Barcelona tetapi berhenti sepanjang sungai Cardoner di kota yang disebut Manresa. Dia tinggal di sebuah gua diluar kota dan bermaksud untuk tinggal hanya beberapa hari, tetapi ternyata dia tinggal selama sepuluh bulan. Dia menghabiskan berjam-jam setiap harinya dalam doa dan juga bekerja di suatu balai perawatan. Disalanah ide-ide yang sekarang dikenal sebagai Latihan Rohani mulai terbentuk. Juga di pinggiran lekuk sungai inilah dia mendapatkan penglihatan yang dianggap sebagai yang paling menonjol selama hidupnya. Penglihatan itu lebih merupakan suatu pencerahan, yang mana dia nantinya mengatakan bahwa dia belajar lebih banyak dalam satu kesempatan itu daripada seumur hidupnya. Ignatius tidak pernah menjelaskan apa tepatnya penglihatan yang dialaminya tersebut, tetapi agaknya merupakan peristiwa penglihatan Ilahi dengan kemuliaan-Nya sehingga semua ciptaan tampak dalam sudut pandang yang baaru dan dia mendapat makna yang baru dan relevansi, suatu pengalaman yang memungkinkan Ignatius untuk melihat kehadiran Allah dalam segala hal. Karunia ini, yaitu menemukan Allah dalam segala hal, adalah satu satu karakteristik utama dari spiritualitas Yesuit.

Ignatius sendiri tidak pernah menulis dalam aturan-aturan Yesuit bahwa mesti ada jam-jam tertentu untuk berdoa. Sesungguhnya, dengan menemukan Allah dalam segala hal, setiap waktu adalah waktu untuk berdoa. Tentunya, dia tidak menghapuskan doa-doa formal, tetapi dia berbeda dengan berbagai pendiri tarekat religius lainnya menyangkut penentuan saat-saat tertentu untuk berdoa maupun lamanya waktu berdoa. Salah satu alasan mengapa sebagian kalangan menentang pembentukan formasi Serikat Yesus adalah karena Ignatius mengusulkan untuk menghapuskan nyanyian doa-doa Brevir dalam koor. Ini adalah perubahan yang radikal dari kebiasaan pada waktu itu, karena sampai saat itu, setiap tarekat religius diharuskan untuk mengucapkan doa-doa liturgi harian yang sama (doa Brevir). Bagi Ignatius, pengucapan seperti itu berarti model aktivitas yang dibayangkan dalam Serikat Yesus tidak dapat terlaksanakan. Beberapa saat setelah wafatnya Ignatius, seorang Paus begitu jengkelnya mengenai hal ini sehingga dia mengharuskan pengucapan doa Brevir kepada kaum Yesuit. Untungnya, Paus berikutnya lebih pengertian dan membolehkan kaum Yesuit untuk kembali pada praktek spiritualisme mereka.

Pada periode yang sama di Manresa, sewaktu dia masih kurang memahami kebijakan yang sejati menyangkut kekudusan, dia melakukan banyak penitensi yang ekstrim, karena keinginan untuk melebihi apa-apa yang dilakukan oleh para kudus lewat buku yang dibacanya tentang mereka. Mungkin, beberapa dari penitensi ini, terutama puasanya, melemahkan pencernaannya, yang terus menggangunya sepanjang hidupnya. Dia masih belum belajar sikap tidak berlebihan dan spiritualisme yang sejati. Mungkin ini juga sebabnya kongregasi yang nantinya didirikan olehnya tidak memiliki aturan-aturan penitensi yang telah ditentukan, seperti layaknya dimiliki oleh tarekat-tarekat religius lainnya.

Dia akhirnya tiba di Barcelona, berlayar ke Italia, dan tiba di Roma dimana dia bertemu dengan Paus Adrianus VI dan meminta ijin untuk melakukan perjalanan ziarah ke Tanah Suci, Yerusalem. Setibanya dia di Tanah Suci dia ingin tinggal, tetapi diperintahkan oleh atasan Fransiskan yang memiliki otoritas terhadap seluruh umat Katolik disana, bahwa situasinya terlalu berbahaya. Ingat bahwa orang Turki adalah penguasa Tanah Suci. Atasan tersebut memerintahkan Ignatius untuk pergi tetapi Ignatius menolak. Tetapi ketika diancam dengan eks-komunikasi (pengucilan) Ignatius barulah menurut.

Kembali ke Sekolah

Pada saat ini dia telah berusia 33 tahun dan memutuskan untuk masuk seminari. Akan tetapi, dia telah melalaikan belajar bahasa Latin, suatu syarat penting untuk belajar di universitas pada masa itu. Sehingga dia harus kembali ke sekolah untuk belajar tata-bahasa Latin bersama-sama dengan anak-anak kecil di suatu sekolah di Barcelona. Disana dia meminta-minta untuk makan dan tempat berteduh. Setelah dua tahun dia meneruskan ke Universitas Alcala. Disanalah semangatnya yang menggebu-gebu membawanya pada kesulitan, masalah yang terus menghantuinya sepanjang hidupnya. Dia mengumpulkan anak-anak sekolah maupun orang dewasa dan mengajarkan Injil kepada mereka dan mengajarkan mereka cara berdoa. Kerja kerasnya mengundang perhatian pihak Inkuisisi dan diapun dimasukkan ke penjara selama 42 hari. Ketika dia dibebaskan dia diminta untuk tidak kembali mengajar. Inkuisisi Spanyol agak sedikit paranoid dan siapapun yang belum ditahbiskan sebagai imam bisa dicurigai (termasuk juga mereka yang sudah ditahbiskan.)

Karena dia tidak bisa menahan dorongan semangatnya untuk menolong, Ignatius pindah ke Universitas Salamanca. Disana, dalam waktu dua minggu, kaum Dominikan kembali menjebloskan dia ke penjara. Meskipun mereka tidak dapat menemukan penyelewengan iman dari apa yang Ignatius ajarkan, dia hanya dibolehkan untuk mengajar anak-anak kecil dan itupun hanya semata-mata kebenaran iman yang sederhana. Sekali lagi dia melakukan perjalanan kali ini menuju Paris.

Di Universitas Paris dia meneruskan pelajarannya, belajar tata-bahasa Latin dan literatur, filosofi, dan teologi. Dia menghabiskan waktu beberapa bulan setiap musim panas untuk meminta-minta di Flanders demi uang yang digunakannya untuk menghidupi dirinya sendiri dan membiayai pelajarannya sepanjang tahun itu. Di Paris dia bertemu dan tinggal bersama Franciscus Xaverius dan Peter Faber. Dia juga sangat mempengaruhi beberapa orang lainnya sesama seminarian dan memberi pengarahan kepada mereka semua dari waktu ke waktu selama tiga puluh hari, yang mana hal ini nantinya dikenal sebagai Latihan Rohani. Franciscus Xaverius adalah yang paling sulit menerima bimbingan karena pikirannya dipenuhi oleh kesuksesan dan kemuliaan duniawi. Akhirnya Ignatius dan enam lainnya memutuskan untuk mengambil kaul selibat dan kemiskinan dan pergi ke Tanah Suci. Kalau tidak mungkin melakukan perjalanan ke Tanah Suci, mareka akan pergi ke Roma dan menyerahkan tugas pelayanan mereka sesuai kehendak Sri Paus. Mereka tidak melakukan semua hal ini sebagai suatu tarekat religius atau kongregasi, tetapi sebagai imam-imam secara individual. Selama setahun mereka menunggu, akan tetapi tidak ada satupun kapal yang bisa mengangkut mereka ke Tanah Suci karena pertikaian antara umat Kristen dan Muslim. Sementara menunggu mereka menghabiskan waktu dengan bekerja di rumah sakit dan mengajarkan katekisme di berbagai kota di wilayah utara Italia. Selama masa inilah Ignatius ditahbiskan menjadi imam, meskipun dia tidak memimpin Misa Kudus sampai setahun berikutnya. Dipercaya bahwa dia ingin merayakan Misa pertamanya di Yerusalem, di tempat dimana Yesus sendiri pernah hidup.

Serikat Yesus

Ignatius bersama-sama dua pendampingnya, Peter Faber dan James Lainez, memutuskan untuk pergi ke Roma dan menyerahkan misi mereka sesuai kehendak Sri Paus. Beberapa kilometer diluar kota Ignatius kembali mendapat pengalaman mistik. Di suatu kapel di La Storta dimana mereka pernah berhenti untuk berdoa, Allah Bapa memberitahukan kepada Ignatius, “Aku menyukai engkau tinggal di Roma” dan bahwa Dia akan menempatkan Ignatius bersama Putera-Nya. Ignatius tidak mengerti makna dari pengalaman mistis tersebut, karena bisa saja berarti penindasan maupun keberhasilan karena Yesus mengalami keduanya. Tetapi hatinya merasa tenang karena seperti dikatakan oleh Santo Paulus, “berada bersama Yesus meski dalam penindasan adalah suatu keberhasilan.” Ketika mereka bertemu dengan Sri Paus, dia dengan gembira menugaskan mereka untuk mengajar Kitab Suci, teologi dan pewartaan. Disinilah pada pagi hari Natal 1538 Ignatius merayakan Misanya yang pertama di gereja Santa Maria Mayor di Kapel Palungan. Kapel ini dipercaya memiliki palungan yang asli dari Betlehem, jadi, jika Ignatius tidak bisa merayakan Misanya yang pertama di tempat kelahiran Yesus di Tanah Suci, maka ini adalah alternatif yang terbaik.

Selama masa pra-Paskah berikutnya, tahun 1539, Ignatius meminta semua kawan-kawannya untuk datang ke Roma untuk mendiskusikan masa depan mereka. Mereka tidak pernah berpikir untuk mendirikan tarekat religius sebelumnya, tetapi sekarang melihat kenyataan bahwa mereka tidak mungkin pergi ke Yerusalem, mereka harus memikirkan masa depan mereka. Apakah mereka akan menghabiskan waktu mereka bersama-sama. Setelah berminggu-minggu dalam doa dan diskusi, mereka memutuskan untuk membentuk suatu komunitas, dengan persetujuan Sri Paus, dimana mereka akan mengucapkan kaul kepatuhan kepada seorang pejabat superior yang menduduki jabatan itu seumur hidupnya. Mereka juga menyerahkan diri mereka sesuai kehendak Bapa Suci untuk pergi kemanapun dia menyuruh mereka dan untuk tugas apapun. Kaul ini ditambahkan atas kaul-kaul lainnya yang umum seperti kaul kemiskinan, kaul selibat, dan kaul kepatuhan. Persetujuan resmi atas tarekat terbaru ini diberikan oleh Paus Paulus III pada tahun berikutnya, tanggal 27 September 1540. Karena mereka merujuk pada dirinya sendiri sebagai Perkumpulan Yesus (dalam bahasa Latin disebut Societatis Jesu), dalam bahasa Indonesia tarekat mereka dikenal sebagai Serikat Yesus. Ignatius terpilih pada voting yang pertama sebagai superior jendral, tetapi dia memohon dengan sangat agar mereka untuk mempertimbangkan kembali, berdoa dan memilih ulang beberapa hari sesudahnya. Pada pemungutan suarata yang kedua kalinya, kembali Ignatius terpilih dengan suara bulat, kecuali pilihan Ignatius sendiri tentunya. Dia masih saja enggan untuk menerima jabatan ini, tetapi pembimbing spiritualnya, seorang anggota tarekat Fransiskan mengatakan kepadanya bahwa ini adalah kehendak Allah, oleh karena itu Ignatius menurut. Pada hari Jumat, minggu perayaan Paskah, 22 April 1541, di Gereja Santo Paulus-diluar-Dinding, para sahabat tersebut mengucapkan kaul-kaul mereka dalam tarekat yang baru saja terbentuk.

Tahun-tahun Terakhir

Kecintaan Ignatius adalah untuk secara aktif terlibat mengajar katekisme kepada kanak-kanak, mengarahkan orang dewasa dalam Latihan Rohani, dan bekerja diantara orang-orang miskin di rumah sakit. Namun dia mengorbankan kecintaan ini selama lima belas tahun berikutnya, yaitu sampai wafatnya, dengan bekerja dari dua ruang kecil, kamar tidurnya dan disebelahnya adalah ruang kerjanya. Dari sinilah dia memberi pengarahan kepada serikat yang baru ini di seluruh dunia. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun menuliskan Konstitusi Serikat dan menuliskan ribuan surat-surat ke segala penjuru dunia kepada sesama kaum Yesuit yang menyangkut segala hal-hal yang berhubungan dengan Serikat Yesus dan juga memberi pengarahan spiritual kepada kaum awam pria dan wanita. Dari tempat tinggalnya yang kecil di Roma, dia akan melihat semasa hidupnya perkembangan Serikat Yesus dari delapan anggota menjadi seribu anggota, dengan universitas dan rumah-rumah spiritual yang tersebar di segala penjuru Eropa sampai Brazilia dan Jepang. Beberapa dari sesama pendiri Serikat nantinya menjadi teolog-teolog asisten Sri Paus di Konsili Trente, suatu peristiwa yang merupakan tonggak penting dalam Gerakan Katolik Kontra-Reformasi.

Pada mulanya, Ignatius menulis sendiri surat-suratnya, tetapi setelah Serikat Yesus berkembang menjadi besar dan tersebar ke seluruh dunia, nyaris tidak mungkin baginya untuk berkomunikasi dengan setiap orang dan masih punya waktu untuk mengurus Serikat yang baru ini. Oleh karenanya father Polanco diangkat menjadi sekretaris pada tahun 1547 untuk membantu Ignatius dalam hal korespondensi surat-surat. Ignatius menulis nyaris 7000 surat sepanjang hidupnya, dan sebagian besar ditulis setelah dia diangkat menjadi pejabat superior jendral Yesuit. Ignatius menganggap bahwa korespondensi antara para anggota Yesuit sebagai elemen yang paling penting dalam membina persatuan. Perpisahan antara Yesuit di seluruh dunia adalah salah satu bahaya terbesar bagi perkembangannya, kerasulan maupun persatuan Serikat Yesus. Oleh karenanya dia tidak hanya menulis kepada semua rumah-rumah spiritual tarekat tersebut, tetapi dia juga memerintahkan supaya setiap superior lokal di seluruh dunia menulis surat secara teratur ke Roma, dan menginformasikan kepadanya tentang hal-hal yang terjadi. Informasi ini lantas bisa diteruskan ke pusat-pusat Yesuit dimanapun.

Dalam surat-suratnya kepada anggota-anggota Serikat, dia memperlakukan mereka masing-masing secara individual. Dia sangat bermurah hati dan lembut terhadap mereka yang paling memberinya kesulitan. Di lain pihak, terhadap mereka yang paling saleh dan rendah hati, dia tampak kadangkala terlalu keras, tentunya karena dia tahu bahwa mereka bisa menerima koreksinya tanpa protes, karena menyadari bahwa Ignatius mengasihi mereka dan semata-mata ingin yang terbaik bagi kehidupan spiritual mereka. Father James Lainez, salah satu pendamping Ignatius sejak awalnya, adalah pejabat superior provinsi di Italia Utara. Dia telah melakukan beberapa hal yang membuat Ignatius menjadi sorotan publik, termasuk membuat beberapa komitmen yang tidak dapat dipenuhi oleh Ignatius. Ditambah lagi, Lainez pernah menyatakan ketidak-setujuannya kepada yang lain-lainnya tentang suatu pergantian personel yang dibuat oleh Ignatius.

Ignatius menulis kepada Lainez melalui sekretarisnya, father Polanco: Dia (Ignatius) meminta saya untuk menulis kepadamu dan mengatakan kepadamu untuk mengurus wilayahmu sendiri, yang mana jika engkau lakukan dengan baik, engkau telah melakukan lebih daripada biasanya. Jangan engkau memusingkan diri dengan memberikan pendapatmu terhadap urusan-urusannya, karena dia tidak menghendaki pendapat darimu kecuali kalau dia memintanya, dan malah lebih tidak lagi sekarang ini setelah engkau menduduki jabatanmu, karena administrasi provinsimu belum berbuat banyak untuk menambah kredibilitasmu dimatanya. Periksalah kesalahanmu di hadapan Allah Tuhan kita, dan selama tiga hari sempatkan waktumu untuk berdoa bagi hal ini. Orang-orang kudus itu tidak hanya semata-mata orang yang baik hati.

Lainez menerima kritikan tajam ini dengan kerendahan hati dan meminta untuk diberikan beberapa tugas berat sebagai penitensi, seperti misalnya diturunkan dari jabatannya dan diberikan tugas yang paling keras dalam Serikat Yesus. Ignatius bahkan tidak pernah lagi menyinggung insiden tersebut, dan membiarkan Lainez menjalankan tugasnya seperti sebelumnya. Lainez nantinya akan menggantikan Ignatius sebagai Superior Jendral Yesuit yang kedua.

Meski penuh semangat untuk membawa orang-orang kepada Allah dan menolong mereka secara spiritual, Ignatius tetap merupakan seorang yang praktis dan masuk akal. Seorang anggota Yesuit pernah mengeluh karena mendapat kesulitan dari sekelompok umat yang sangat taat yang memonopoli semua waktunya tanpa alasan yang kuat. Melalui father Polanco, Ignatius memberi petunjuk kepadanya bagaimana menangangi dengan secara rendah hati, orang-orang yang demikian, tanpa membuat mereka merasa tersinggung. Ignatius juga pernah menyatakan bagaimana untuk membebaskan diri kita dari orang yang sudah tidak bisa diharapan. Dia menyarankan untuk berbicara kepada orang itu dengan tegas mengenai neraka, penghakiman dan hal-hal demikian. Dengan demikian dia tidak akan kembali terus mengganggu, dan jikapun dia kembali, ada kemungkinan dia bisa tersentuh oleh Tuhan.

Ada seorang uskup yang punya rasa permusuhan yang besar terhadap Serikat Yesus. Dia menolak untuk membolehkan tarekat ini di wilayah keuskupannya, dan dia mengucilkan siapapun yang menjalakan Latihan Rohani. Dia dikenal sebagai uskup “Cilicio” oleh para Yesuit. (“Cilicio” adalah pakaian dari kain kasar yang biasa dipakai sebagai tanda penitensi.) Ignatius mengatakan kepada para Yesuit yang cemas terhadap sikap uskup ini untuk relaks “uskup Cilicio adalah seorang yang sudah tua. Serikat Yesus masih muda. Kita bisa menunggu.”

Yesuit dan Dunia Pendidikan

Mungkin karya pelayanan Serikat Yesus yang dimulai oleh Ignatius yang paling terkenal adalah dalam dunia pendidikan. Akan tetapi sungguh menarik kenyataan bahwa dia tidak bermaksud untuk menyertakan pengajaran ditanara karya pelayanan Yesuit pada mulanya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tujuan para anggota-anggota yang pertama adalah menyerahkan diri kepada kehendak Sri Paus untuk pergi kemanapun mereka dibutuhkan. Sebelum tahun 1548, Ignatius telah membuka sekolah-sekolah di Italia, Portugis, Belanda, Spanyol, Jerman dan India, tetapi sekolah-sekolah ini terutama dimaksudkan untuk mendidik calon-calon Yesuit yang masih muda. Sepuluh akademi serupa didirikan dalam enam tahun yang menunjukkan perkembangan yang pesat dari Yesuit. Tetapi di tahun 1548 atas permintaan magistrat Messina di Sicilia, Ignatius mengirim lima orang untuk membuka sekolah bagi kaum awam maupun murid-murid Yesuit. Segera sesudahnya menjadi nyata atas permintaan berbagai penguasa, uskup, dan berbagai kota bahwa karya pelayanan ini adalah cara yang paling efektif untuk mengkoreksi korupsi dan penyelewengan diantara kaum religius dan awam, untuk menghentikan kemunduran Gereja di tengah-tengah Reformasi, dan untuk memenuhi moto Serikat Yesus, “Ad Maiorem Dei Gloriam,” artinya, demi kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.

Ignatius menyebutkan hal ini dalam suratnya kepada father Araoz: “Kebaikan yang lebih universal adalah kebaikan yang lebih Ilahi. Oleh karena itu sebaiknya berikan preferensi kepada orang-orang dan tempat-tempat yang melalui pertumbuhannya, menjadi sumber penyebaran kepada orang-orang lain yang mencari bimbingan daripadanya. Atas alasan yang sama, preferensi sebaiknya diberikan kepada universitas-universitas yang pada umumnya dihadiri oleh sejumlah besar orang yang mendapat pertolongan daripadanya dan pada gilirannya bisa menjadi pekerja untuk menolong yang lain-lainnya.”

Ini sesuai dengan salah satu prinsip utama Ignatius dalam memilih kerasulan: segala hal sifatnya setara, pilih diantara kerasulan tersebut yang akan mempengaruhi mereka yang paling berpengaruh terhadap orang lain. Mungkin pernyataan yang terbaik dari ide ini adalah surat yang ditulisnya tentang pendirian sebuah universitas di bulan Desember 1551: Dari antara mereka yang sekarang ini cuma sebagai murid, pada waktunya sebagian akan memegang berbagai peran, seseorang untuk mewartakan iman dan membimbing jiwa-jiwa, yang lainnya kepada bidang pemerintahan dan kehakiman, yang lain-lainnya kepada panggilan-panggilan lainnya. Akhirnya, karena anak-anak muda akan menjadi pria dewasa, pendidikan yang baik dalam doktrin iman dan kehidupan mereka, akan bermanfaat bagi banyak orang lainnya, dengan buahnya terus tumbuh lebat setiap harinya. Sejak saat itu, Ignatius membantu mendirikan sekolah-sekolah Yesuit dan universitas-universitas di seluruh Eropa dan dunia.

Ignatius sebagai Seorang Manusia

Mungkin benar gambaran tentang Ignatius yang dimiliki orang-orang yaitu sebagai seorang prajurit: kokoh, bersemangat baja, praktis, kurang menunjukkan emosi – jelas bukan suatu karakter yang menarik dan hangat. Akan tetapi jika ini adalah gambaran yang tepat, sulit untuk dicerna bahwa dia bisa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap mereka yang mengenalnya. Luis Goncalves de Camara, salah satu sahabatnya yang terdekat menulis: “Dia (Ignatius) selalu cenderung kepada kasih; bahkan, dia seluruhnya adalah kasih, dan karena itu dia secara universal dikasihi oleh semua orang. Tidak seorangpun dalam Serikat Yesus yang tidak memiliki kasih yang besar terhadapnya dan tidak menganggap dirinya juga sama dikasihi olehnya.”

Kadangkala dia menangis keras pada waktu Misa Kudus sehingga dia tidak dapat meneruskan, bahkan tidak dapat berbicara untuk beberapa waktu, dan dia khawatir bahwa karunia airmatanya bisa membuatnya kehilangan penglihatannya. Goncalves de Camara mengatakan, “Kalau dia tidak menangis tiga kali selama Misa Kudus, dia menganggap dirinya kehilangan rasa penghiburan.” Kita menganggap banyak orang kudus sebagai mistik yang agung, tetapi tidak pernah berpikir bahwa Ignatius adalah salah satu diantaranya. Kita telah menyebutkan sedikit dari banyak penglihatan dan pengalaman mistik yang dialami selama hidupnya. Akan tetapi, kekudusannya tidak didasarkan atas hal demikian, melainkan dalam kasih yang besar yang mengarahkan jalan hidupnya untuk melakukan segala hal AMDG, untuk kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.

Saat-saat Ajal

Sejak masih sebagai pelajar di Paris, Ignatius telah menderita berbagai penyakit pencernaan dan keadaan ini memburuk setelah ia pindah ke Roma. Pada musim panas 1556 kesehatannya memburuk, tetapi dokter yang merawatnya berpendapat dia bisa selamat seperti sebelum-sebelumnya. Akan tetapi Ignatius merasa ajalnya sudah dekat. Pada sore hari tanggal 30 Juli, dia meminta father Polanco untuk pergi menemui Sri Paus dan meminta berkat darinya bagi Ignatius, dan menyiratkan kepada father Polanco bahwa ia menjelang ajal. Akan tetapi father Polanco lebih percaya pada kata-kata dokter daripada Ignatius dan menjawab bahwa ia harus menulis banyak surat dan mengirimkannya pada hari itu. Dia akan pergi meminta berkat Sri Paus besok harinya. Meskipun Ignatius menyatakan bahwa dia lebih suka kalau father Polanco pergi sore itu namun dia tidak memaksakan. Segera setelah lewat tengah malam, keadaan Ignatius memburuk. Father Polanco bergegas ke Vatikan untuk meminta berkat Sri Paus, tetapi sayang sudah terlambat. Mantan ksatria duniawi yang telah terlibat dalam medan peperangan yang berbeda itu, telah menyerahkan nyawanya ke tangan Tuhan. Ignatius dibeatifikasi pada tanggal 27 Juli 1609 dan dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622, bersama-sama dengan Santo Franciscus Xaverius. Pesta peringatan Santo Ignatius dirayakan oleh Gereja secara universal pada tanggal 31 Juli, yaitu pada hari wafatnya.

Sumber: flyer dari paroki St.John of God, San Francisco. Diterjemahkan oleh: Jeffry Komala

Sumber : https://jesuits.id/santo-ignatius-loyola-2/

Apa Itu Latihan Rohani (LR)

Latihan Rohani (LR) merupakan sintesis pengalaman rohani transformatif St. Ignatius. LR membentuk kerohanian St. Ignatius dan selanjutnya menjadi kekayaan rohani untuk sesama serta merupakan cara reksa jiwa-jiwa. LR berisi kumpulan bahan dan petunjuk meditasi atau kontemplasi yang tersusun dalam sebuah dinamika sebagaimana termuat di dalamnya (built in). Sebagian dari dinamika LR tersebut tampak pada pengelompokan isi meditasi dalam empat minggu. Pengelompokan isi ini dilengkapi dengan pelbagai catatan, aturan tambahan serta patokan yang membantu proses menjalankanlatihan rohani.

Sumber : https://jesuits.id/latihan-rohani/

Latihan Rohani Pertama:“Pisang Goreng” untuk Banyak Orang

Saat mengambil buku ini, Anda yang mengetahui – entah sedikit
maupun banyak – tentang Latihan Rohani St. Ignasius, mungkin
bertanya: Apa itu Latihan Rohani Pertama? Mengapa disebut
sebagai Latihan Rohani Pertama? Apa bedanya dengan Latihan
Rohani yang selama ini saya kenal?
Belum lama ini saya mendampingi anggota Magis – kelompok
orang muda yang mendalami Spiritualitas Ignasian – melaksanakan
Latihan Rohani Pertama. Guna memperdalam pengalaman yang
telah mereka peroleh sekaligus untuk memperkenalkan Latihan
Rohani Pertama kepada para Novis Serikat Yesus, Romo John
Nugroho (Pendamping Magis) dan Romo Setyodarmono (Magister
Novis) merancang refleksi akhir Latihan Rohani Pertama di
Novisiat Girisonta. Dalam refleksi akhir ini anggota Magis berbagi
pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani Pertama sementara
para Novis berbagi pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani
yang dilaksanakan sebagai retret selama 30 hari.
Dalam kesempatan sharing tersebut, Romo Nano – panggilan
akrab Romo Setyodarmono – mengibaratkan Latihan Rohani
Pertama sebagai “pisang goreng” sementara Latihan Rohani 30 hari
sebagai “nasi goreng”. Dengan ekspresi yang gokil dia mengatakan,
“Hai para Magiser, kalian jangan puas telah menjalani Latihan
Rohani Pertama. Latihan Rohani Pertama itu, hanyalah “pisang
goreng”, snack atau menu pencuci mulut saja. Kalian mesti punya
impian suatu saat nanti dapat menikmati juga menu utamanya:
Latihan Rohani 30 hari.” Sebaliknya, kepada para Novis Romo
Magister berseru, “Hai kalian para Novis, jangan puas dan bangga
telah menjalani Latihan Rohani 30 hari. Kalian boleh bersyukur
telah memperoleh banyak anugerah dalam Latihan Rohani. Namun
ingatlah, banyak orang tidak mampu atau tidak punya kesempatan
mencicipi “nasi goreng” Latihan Rohani seperti kalian. Karena

itu, penting juga bagi kalian mengetahui dan mempelajari “pisang
goreng” Latihan Rohani Pertama ini. Dengan demikian, kalian
punya keterampilan untuk membagikan pengalaman yang telah
kaliah peroleh dalam Latihan Rohani 30 hari.”
Saya selalu tersenyum geli kalau ingat penjelasan Romo Nano
tersebut. Semoga tidak ada pengagum dan ahli Spritualitas
Ignasian yang marah atau tersinggung karena Latihan Rohani
dibaratkan sebagai “pisang goreng” dan “nasi goreng”. Namanya
saja pengibaratan, di dalamnya selalu ada penyederhanaan. Namun
justru dalam kesederhanaan itulah kita dapat menemukan inti
makna atau paling tidak semangat yang ingin dikomunikasikan.
Dibandingkan dengan Latihan Rohani 30 hari, Latihan Rohani
Pertama memang lebih ringan dan mudah. Ia sekadar snack ringan
saja. Namun karena mudah dan ringannya inilah, Latihan Rohani
Pertama lebih terjangkau oleh banyak orang. Dan inilah keunggulan
Latihan Rohani Pertama. Ia dapat menjadi pilihan bagi mereka yang
ingin memperdalam relasi dengan Allah lewat Latihan Rohani,
namun belum memiliki kesempatan atau kemampuan yang cukup
untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari. Setelah mencicipi Latihan
Rohani Pertama ini, semoga nantinya ada kesempatan bagi mereka
(atau muncul dorongan kuat dalam diri mereka sehingga sanggup
menciptakan kesempatan) untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari.
Pada sisi lain, bagi mereka yang sudah menjalani Latihan Rohani
30 hari – para Yesuit, imam praja maupun imam serta suster dan
bruder dari tarekat tertentu, serta beberapa awam terpilih – dan
bersyukur atas anugerah Latihan Rohani, namun masih bingung
bagaimana cara mengantar orang untuk mengalami anugerah yang
sama, Latihan Rohani Pertama merupakan sarana yang mudah dan
efektif. Bahan, langkah dan struktur doa Latihan Rohani Pertama
sangat mudah dipahami dan diikuti oleh mereka yang sudah
menjalankan Latihan Rohani 30 hari sehingga pasti tidak ada
kesulitan juga bagi mereka untuk menjelaskannya kepada peserta
yang akan didampingi.

Latihan Rohani Anotasi 18
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan sekilas perbedaan
Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani 30 hari. Lalu apa
beda Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani Anotasi 19?
Dalam buku Latihan Rohani St. Ignasius menjelaskan bahwa Latihan
Rohani dapat diberikan dalam tiga bentuk. Hal ini dijelaskan dalam
“Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20, ke-19 dan ke-18.”
Dalam “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20” disampaikan
bahwa Latihan Rohani Penuh – penuh artinya seluruh latihan yang
terdapat dalam buku Latihan Rohani dapat diberikan selama 30
hari di mana orang menyepi atau mudur dari aktivitas sehari-hari.
Kemudian, “Catatan Pendahuluan ke-19” menyebutkan, “… orang
yang terpelajar dan berbakat, namun terhalang oleh kepentingan
umum atau pekerjaan-pekerjaan yang penting,” dapat menjalankan
Latihan Rohani Penuh selama 30 minggu sambil tetap menjalankan
aktivitas sehari-hari. Inilah yang selama ini dikenal sebagai Latihan
Rohani Anotasi 19. Bahan Latihan Rohani Anotasi 19 sama dengan
Latihan Rohani 30 Hari, namun pelaksanaannya lebih panjang dan
peserta tidak perlu mundur dari aktivitas sehari-hari. Baik Latihan
Rohani dalam bentuk retret 30 hari maupun Latihan Rohani
Anotasi 19 inilah yang dalam uraian sebelumnya oleh Romo Nano
diistilahkan sebagai “nasi goreng”.
Sementara itu, “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-18”
menyebutkan Latihan Rohani harus disesuaikan dengan keadaan
orang yang hendak melakukannya. Mereka yang mempunyai
keterbatasan tertentu entah “umur, pendidikan, dan bakatkemampuan” maupun waktu dan keterbatan lain dapat diberikan
sebagian Latihan Rohani asal mereka mempunyai keinginan atau
dambaan untuk mencapai “sampai ke tingkat tertentu kedamaian
jiwa.” Latihan Rohani Pertama tidak lain merupakan pelaksanaan
Anotasi ke-18 sehingga dapat disebut juga sebagai Latihan Rohani
Anotasi 18. Latihan Rohani Pertama memberikan sebagian bahan
dari buku Latihan Rohani sesuai dengan kondisi orang yang tidak

atau belum mampu menjalankan Latihan Rohani Penuh. Seperti
Latihan Rohani Anotasi 19, Latihan Rohani Pertama dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari, namun durasinya lebih pendek, yaitu
cukup sebulan saja.

Latihan Rohani Pertama

Sampai di sini perlu ditegaskan bahwa Latihan Rohani Pertama
bukanlah hasil tulisan St. Ignasius sendiri, melainkan pengolahan
Michael Hansen, SJ – seorang Yesuit dari Australia – atas Anotasi
ke-18 Latihan Rohani St Ignasius. Lewat penelitian atas tulisan serta
surat-surat St Ignasius dan kesaksian orang-orang tentang apa yang
dilakukan St Ignasius, Hansen menyusun Latihan Rohani Pertama.
Hansen bertolak dengan merekonstruksi “percakapan rohani” yang
dilakukan oleh Ignasius sejak ia mengalami betapa Allah telah
mencintainya dan mendidiknya seperti seorang guru mendidik
muridnya. Percakapan rohani ini dimulai ketika Ignasius berada
di Loyola dan Manresa dan terus dilakukan setelah ia kembali
dari peziarahan di Yerusalem dan selama ia studi di Barcelona,
Alcala dan Salamanca. Bahan percakapan dan cara bercakap-cakap
Ignasius dengan orang yang bimbing inilah yang menjadi cikal
bakal buku Latihan Rohani, yakni buku panduan melaksanakan
dan memberikan retret tigapuluh hari. Inipula yang menjadi dasar
bagi Hansen menyusun bahan doa dan langkah percakapan dalam
Latihan Rohani Pertama.
Mengapa Latihan Rohani Anotasi ke-18 ini disebut sebagai
Latihan Rohani Pertama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
saya menggunakan penjelasan dari Michael Hansensendiri. (bdk.
The First Spiritual Exercise (Notre Dame: Ave Maria Press, 2013)),
hlm. 15) Latihan ini disebut sebagai Latihan Rohani Pertama
karena, pertama, inilah perziarahan rohani pertama. Inilah latihan
rohani pertama yang dipelajari dan dilaksanakan oleh Ignasius, Si
Peziarah, dalam mencari kehendak Tuhan.

Inilah pula latihan rohani pertama yang diberikan oleh Ignasius
kepada orang lain. Dan mungkin inilah pula latihan rohani pertama
yang akan kita berikan kepada orang yang ingin maju dalam
kehidupan rohani saat ini.
Kedua, latihan ini pertama dari sudut isi. Dalam Latihan Rohani
Pertama banyak diberikan latihan “pertama”: Prinsip pertama
tentang kebebasan Kristiani, doa-doa Kristiani pertama, keutamankeutaman pertama, gagasan yang perlu dibangun pertama kali
ketika kita bangun pagi, penciptaan pertama, dosa pertama, metode
doa serta buah-buah roh pertama, langkah pertama pembedaan
roh, dst.
Ketiga, latihan-latihan yang diberikan berada pada urutan
pertama dan menjadi bagian dinamika pertama dalam Latihan
Rohani. Salah satu modul Latihan Rohani Pertama berisi seluruh
bahan dalam Minggu Pertama Latihan Rohani Penuh. Bahan ini
dilakukan sebelum orang melanjutkan latihan yang lain.
Keempat, latihan-latihan ini pertama digunakan. Mereka adalah
bentuk pertama Latihan Rohani yang dapat diberikan. Tidak
seperti Latihan Rohani Penuh, mereka dapat langsung diberikan
kepada siapa saja. Mereka merupakan bentuk lengkap dari Latihan
Rohani pada dirinya sendiri. Dalam spiritualitas Ignasian, latihan
ini tidak hanya merupakan cara awal yang paling tepat untuk mulai,
melainkan juga satu-satunya cara untuk mulai.

Empat Retret Latihan Rohani Pertama

Latihan Rohani Penuh, baik yang dilaksanakan dengan menyepi
maupun dalam kehidupan sehari-hari, dilaksanakan dalam bentuk
satu retret. Sementara itu Latihan Rohani Pertama lebih fleksibel;
mereka dibuat dalam bentuk empat retret yang dapat dipilih
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing orang.
Setiap retret menjawab dambaan terdalam akan kedamaian sejati
dan dambaan akan pengalaman cinta, pelayanan, pengampunan,
penyembuhan, kebebasan dan persahabatan dengan yang Ilahi.
Inilah dambaan terdalam yang ada dalam lubuk hati semua orang.
Empat Retret tersebuat adalah:

  1. Damai Sejati dalam Cinta Ilahi
    (Inner Peace in Divine Love)
  2. Damai Sejati dalam Kegelapan dan Terang
    (Inner Peace in Darkness and Light)
  3. Damai Sejati dalam Persahabatan dengan Yesus
    (Inner Peace in Friendship with Jesus)
  4. Damai Sejati dalam Pelayanan kepada Allah
    (Inner Peace in the Service of God).
    Buku yang ada di tangan Anda ini baru menyajikan terjemahan
    untuk retret “Damai Sejati dalam Cinta Ilahi.” Semoga dalam waktu
    yang tidak terlalu lama, terjemahan tiga retret yang lain dapat
    segera tersedia. Bagian Pertama dari buku ini berisi Penjelasan
    Umum tentang Latihan Rohani Pertama. Bagian Kedua merupakan
    kumpulan Panduan Praktis untuk melaksanakan Latihan Rohani
    Pertama. Panduan Praktis ini menjelaskan berbagai langkah
    yang akan dilakukan, baik pribadi maupun kelompok, selama
    menjalankan Latihan Rohani Pertama. Di dalamnya dijelaskan
    struktur serta dinamika doa dan percakapan rohani, cara menuliskan
    pengalaman doa dan percakapan, serta pedomaan pembedaan roh.
    Bagian Ketiga berisi Bahan Doa Harian dari retret “Damai Sejati
    dalam Cinta Ilahi.”

Perlu ditegaskan di sini bahwa seperti buku Latihan Rohani
yang ditulis oleh St. Ignasius, panduan Latihan Rohani Pertama
ini bukanlah buku atau renungan untuk dibaca. Kita perlu
menggunakan buku ini seperti cara kita menggunakan buku
panduan berenang atau buku resep masakan. Kita tidak akan dapat
berenang atau merasakan masakan yang lezat dengan sekadar
membaca buku panduan. Supaya dapat berenang, kita harus
menceburkan diri ke kolam renang; untuk menikmati masakan
dan kegembiraan memasak, kita harus pergi ke dapur, memasak
dan mencicipi hasilnya. Demikian pula Latihan Rohani Pertama
akan membuahkan pengalaman akan kasih Allah kalau dilakukan:
kita berdoa, membuat catatan tentang doa, melakukan pembedaan
rohdan berbagi pengalaman dalam doa lewat percakapan rohani.
Penerbitan buku Latihan Rohani Pertama ini dilaksanakan
dalam kerjasama dengan Magis. Magis pula yang akan menjadi
ujung tombak untuk memperkenalkan Latihan Rohani Pertama
di Indonesia. Jika Anda atau Komunitas Anda (kelompok orang
muda, paroki, lingkungan, kelompok kategorial maupun kelompok
lain) berencana untuk melakukan Latihan Rohani Pertama
dan memerlukan penjelasan atau bimbingan silakan kontak ke
lrpertama@gmail.com.
Mengakhiri Pengantar ini baik kiranya kita mendengarkan apa
pandangan St. Ignasius sendiri tentang Latihan Rohani. Sembilan
tahun setelah diperiksa dan bebas dari penjara di Alcalá, Ignatius
menulis kepada seorang teman:

Biarkan aku mengulang sekali lagi, dua kali dan bahkan berulangkali sepanjang aku mampu: Aku memohon kepadamu – permohonan
yang lahir dari keinginan untuk melayani Allah Tuhan kita – agar
engkau melaksanakan apa yang telah kukatakan kepadamu sejak dulu
hingga sekarang.
Semoga Allah yang Mahamulia tidak akan bertanya kepadaku
pada suatu saat nanti mengapa aku tidak meminta dan mendesakmu
dengan sekuat tenaga.
Latihan Rohani adalah hal terbaik dari semua yang dapat
kupikirkan, kualami dan kupahami dalam hidup ini. Latihan Rohani
dapat membantu seseorang untuk merealisasikan diri terbaiknya,
sekaligus memampukan orang untuk memberikan manfaat,
membantu dan berguna bagi banyak orang. Bahkan, jika engkau tidak
merasa memerlukan bantuan untuk yang pertama [merealisasikan
diri terbaikmu], engkau akan melihat bahwa manfaat Latihan Rohani
untuk hal kedua [membantumu menolong orang lain] lebih besar dari
yang engkau bayangkan.

Ignasius kepada M. Minoa, 16 November 1536

Dengan kata lain, bahkan ketika engkau tidak merasa
membutuhkan Latihan Rohani bagi dirimu sendiri, paling tidak
engkau membutuhkannya supaya engkau dapat menolong orang
lain dengan lebih baik. Bagi Ignasius Latihan Rohani tidak lain
adalah sarana terbaik untuk menolong orang lain.

Yogyakarta, 16 April 2016
Antonius Sumarwan, SJ

(Power Point) Latihan Rohani Pemula oleh Rm Antonius Sumarwan, SJ