Renungan Harian: 26 November 2022

Renungan Harian
Sabtu, 26 November 2022

Bacaan I: Why. 22:1-7
Injil: Luk. 21:34-36

Layak

Sekali waktu sepupu saya harus pindah kost, dan di kost yang baru dia tidak diperkenankan membawa hewan peliharaan, padahal dia baru saja mendapatkan anjing dari salah seorang muridnya. Alhasil, anjing ini dititipkan ke ibu saya, dengan janji saat sudah mendapatkan tempat yang lebih baik, anjing ini akan diambil kembali.

Dulu kami memelihara anjing, tapi karena sudah beberapa kali menguburkan mereka, dan tahu persis sedihnya kehilangan, maka kami tidak memelihara Anjing lagi. Tapi karena ini hanya untuk sementara, maka kami sepakat untuk mengasuhnya sementara waktu.

Setidaknya itu yang awalnya saya pikir. Dan hal itu berubah saat mam secara perlahan tapi pasti mulai membeli rantai anjing, lalu mangkok makannya, lalu mainan untuk dia gigit, dan sesekali saat belanja bulanan membeli makanan anjing. Disana saya tahu, anjing ini akan menetap.

Namanya Brownie, karena bulunya coklat. Betina dan berjenis Mongler. Nama yang teman saya bilang saat melihat foto brownie. Saya kira itu ras khusus, ternyata mongler yah Anjing kampung.

Dia tumbuh menjadi anjing penjaga yang sangat efektif, dimasa kecil dia masih sempat untuk dilatih ‘duduk’, ‘salam’, ‘rebah’, ‘guling’. Dia sadar dan tahu jam makannya. Dan dia BAB dan BAK di kebun depan.

Satu yang sulit dilatih dan menyebalkan saat terjadi, saat ditinggal di rumah, dia tidak mau BAK di kamar mandi. Sebenarnya karena dia tidak mau kena basah. Maka sasaran ya adalah keset kamar mandi.

Dia tahu saat dia berbuat salah. Dia akan menunduk saat bertemu kami dan setelah menunjukan diri sebentar, dia akan menjauh dan bersembunyi, sehingga kami tahu dia ‘ngompol’, begitu istilah kami. Selain ngompol, dia melakukan itu saat ketahuan melakukan kesalahan lainnya.

Saya percaya, rasa bersalah dan malu yang bisa dimiliki dan ditunjukan oleh seekor anjing, pastilah manusia miliki juga. Walau banyak hal bisa menyebabkan kita menutupi dan memalsukan rasa itu, tapi kita punya nurani yang mengenal rasa malu, rasa bersalah, perasaan tak layak dan sedih.

Dari bacaan hari ini, saya membayangkan, apa perasaan yang muncul dan akan seperti apa saya di hadapan Tuhan? Bila waktunya datang, apakah saya akan menunduk malu dan bersembunyi? Atau menatap lurus dengan senyum kebanggaan, bahwa saya berhasil menjalankan hidup yang dipercayakanNya dengan sebaik baiknya?

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Mari terus sadar diri, bawa dalam doa, agar kita mampu menjalankan peran kita di dunia dengan sebaik baiknya, hingga nanti kita dapat dengan yakin mempertanggungjawabkannya.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan