Renungan Harian: 25 November 2022

Renungan Harian
Jumat, 25 November 2022

Bacaan I: Why. 20:1-4,11 - 21:2
Injil: Luk. 21:29-33

Piramida kartu

Dalam Gladi Kepribadian untuk mahasiswa sebuah universitas, kami menggunakan metode Misi pribadi, untuk mengajak peserta mengalami tantangan pribadi yang biasa mereka alami. Tiap orang memiliki tugas yang berbeda, yang ditentukan berdasarkan hasil Psikotes, observasi dan wawancara kecil sebelum acara gladi/pelatihan dilakukan.

Banyak tantangan yang tampak konyol dan menggelikan, layaknya permainan tantangan dimasa kecil. Ada tugas menyapu lantai, menyusun kembali kendi pecah, mengurai benang kusut, menyusun puzzel, mengajak orang ngobrol saat mereka bertugas, dan lain sebagainya.

Sekali waktu seorang mahasiswi menanggapi Misi Pribadi ini dengan sangat mendalam. Tugasnya membuat piramida kartu di atas meja yang diletakan ditengah lapangan. Kartu tidak boleh ditekuk, harus digunakan semuanya, dan tidak ada alat bantu apapun.

Diawal proses dia tampak biasa dan masih tertawa melihat pekerjaan temannya yg lain, yang tampak lebih konyol dari misinya. Tapi proses tidak mulus juga untuk tantangannya. Berkali kali setelah sampai ke tumpukan ketiga, piramida runtuh. Ketika dia mulai serius, angin datang dan meruntuhkan piramida, beberapa kali kartu kartu tinggal bersisa 2 untuk ditumpuk, tapi sedikit goyangan tangan membuatnya runtuh.

Hampir 30 menit, saat peserta lain sudah mulai beres, dia masih harus menyusun dari awal. Kami perhatikan setiap peserta dalam proses mereka, dan kami melihat bagaimana dia menyusun piramida sambil menangis dalam diam.

Saat waktu sharing pengalaman, peserta diminta bercerita pada teman temannya, apa tugas mereka dan bagaimana pengalaman mereka. Banyak hal lucu dan membuat peserta tak habis pikir. Kemudian kami meminta sharing, apa pembelajaran mereka. Banyak yang mulai menebak mengapa mereka diberi tugas itu, banyak yang salah, tapi tidak sedikit yang tepat.

“Membangun piramida kartu sebenarnya bukan tugas utama saya. Saya tahu, tugas utama saya dalam misi pribadi saya adalah tidak frustasi, tidak takut dan anti terhadap perubahan dan kenyataan diri untuk berani memulai lagi, walau dari nol.

Saya memang sering mudah menyerah dan berhenti entah sampai kapan bila bertemu hambatan, apa lagi yang membuat saya jatuh. Butuh waktu lama, sampai saya tidak ada pilihan lain, baru saya memulai. Padahal jatuh dan bangun seharusnya jadi sandingan, saat jatuh, ya bangun. Tapi saya biasa diam dan membiarkan diri saya mengasihani diri sedemikian berlebihnya, sampai tampak berhenti dan siap mati.

Kalau saya tampak masih aktif, seringkali itu hanya pelarian untuk tidak mau menantang diri untuk memulai membangun kejatuhan saya, tapi pelarian agar tampak punya alasan, dan bisa menghindar dari tantangan saya yang sebenarnya.

Tadi di lapangan itu saya pikir panas yang bakal jadi gangguan, tapi melihat kartu jatuh itu menyeramkan dan menjadi gangguan terbesar saya. Saya tahu kalau runtuh harus dibangun lagi. Saya tahu itu tugas saya” paparnya dalam tangis yang tidak henti. Dalam gladi itu, peserta ini mendapatkan kesempatan untuk berefleksi dalam untuk dirinya.

Bukankah banyak dari kita mengalami hal yang sama? Walau sudah tahu, bahwa bila jatuh baiknya kita bangun, tapi kita takut dan khawatir, atau terlalu nyaman melantai, hingga tak mengumpulkan daya dan fokus untuk berdiri? Tidakah kita sadar bahwa keberanian untuk memulai lagi dari awal tidak selalu berarti kita memulai dari Nol. Kita tumbuh dari tunggul dan pohon yang sudah ada, melanjutkan proses kejatuhan kita, menjadi tunas baru yang penuh harapan.

Beranikah kita menjadi Tunas yang tumbuh saat satu siklus musim berlalu, entah dengan hasil baik, atau tak baik? Tapi yang pasti, dia berhasil terus hidup dan tumbuh, menuju musim baru.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.

Semoga Tuhan terus menemani kita, agar kita selalu berani untuk melepas musim yang lalu dan memulai lagi perjuangan yang baru. Untuk memaknai jatuh, sebagai awal proses bangun.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan