Renungan Harian: 22 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 22 November 2022

Peringatan Wajib St. Sesilia
Bacaan I: Why. 14:14-20
Injil: Luk. 21:5-11

Bencana

Kemarin kita dikejutkan oleh berita Gempa M 5,6 yang menggungcang Cianjur, dan getarannya sampai terasa di Bandung dan Jakarta. Kita bersedih dan berduka atas meninggalnya korban bencana, juga mereka yang masih butuh perawatan medis, namun belum dapat dilayani dengan segera karena keterbatasan fasilitas disana, pasca gempa.

Tidak perlu hitungan menit, media media nasional meliput dan memberitakan apa yang terjadi disana. Demikian juga dengan video video amatir, yg berseliweran di media sosial dan jaringan komunikasi. Kita tahu semua sedang panik dan tampak bahwa pertolongan perlu dilakukan.

Saya sendiri termasuk yang tidak menyadari guncangan yg sampai di bandung adalah gempa. Saya mengetahuinya dari info di jaringan komunikasi, dan setelah selesai mengajar saya melihat berita di TV.

Wawancara di TV agak membuat saya bingung, karena tampak sekali narasumber yang mewakili BNPB seolah berkali-kali perlu mengklarifikasi pernyataan dan informasinya ke pewawancaranya. Terutama saat beliau mengimbau saat hari masih terang, baik penduduk melakukan pemeriksaan pada rumah rumah mereka, yang tidak rusak struktur dihimbau kembali dan tidak perlu semua warga mengungsi, dengan tetap waspada dan membuat alat penditeksi manual. Sementara yang rusak struktur dapat mencari tempat aman untuk mengungsi.

Tapi pewawancara dengan sengit mempertanyakan apa waktu penanganan bisa lebih cepat, bagaimana dengan dampak psikologis, trauma, belum ada bantuan dari pemerintah, banyak rumah yang tidak dibangun dengan konsep tahan gempa, dll.

Sontak narasumber bertanya
“Itu datanya dari siapa mba? Kalau ‘media Anda’ punya data ilmiah kami akan pakai data Anda”tanya narasumber sekaligus tantangan pada pewawancara, yang jelas membuat pewawancara bingung sendiri karena dia tidak sadar menyampaikan sesuatu yang tidak dia pahami, dan berpotensi menggiring opini yang tidak tepat.

Pesan wakil dr BNPB sebenarnya jelas. Ini adalah bencana dan ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak. ini kerjabersama yang dimulai dengan pemberdayaan di lokasi, yang paling dekat dan paling memungkinkan. Tidak panik, dan mulai memeriksa dan memastikan kondisi, agar warga tetap aman, saling bantu dan bantuan yang datang nantinya menjadi tepat guna dan sasaran.

Simpang siur bahkan konflik bisa terjadi dalam kondisi apapun. Termasuk dimasa kritis seperti saat bencana, itu bisa dan akan terjadi. Namun penting untuk selalu ingat bahwa ada penghargaan terhadap martabat manusia dan nilai nilai kemanusiaan yang perlu kita jaga dan menjadi pegangan. Karena Tuhan sejatinya ada disana, pada setiap manusia, dan peristiwa.

Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Dia ingin kita tetap waspada dan berjaga, jaga diri, jaga sesama, dan jaga alam.

Doa kita untuk Cianjur 🙏

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan