Renungan Harian: 19 November 2022

Renungan Harian
Sabtu, 19 November 2022

Bacaan I: Why. 11:4-12
Injil: Luk. 20:27-40

Hidup bersama

Sore itu saya sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi seorang adik dampingan. Dia sudah pernah pamit pada kami. Keputusan penghentian Beasiswa nya membuat dia tidak lagi mendapat support keuangan, bukan hanya untuk kuliah, tapi juga untuk biaya hidup.

Saat pamit, dia memutuskan untuk mencoba kesempatan mendaftar ke jalur militer. Katanya ada saudara jauhnya yang akan membantu. Memang konsekuensinya dia perlu mendaftar dengan sejumlah uang admin dan ongkos menuju ke lokasi.
Teman teman satu kelompok berinisiatif membantu meminjamkan sejumlah dana dari pengumpulan di kelompok kami. Tapi seperti kecurigaan kami, dia yang sangat yakin pada saudaranya itu, sungguh ditipu.

Dengan pahit hati, dia kembali ke bandung dan nebeng di kost temannya. Stress berlanjut, dan tanda tanda depresi menyertai.

“Kak, mohon maaf yah kak, jadi menyusahkan kakak dan teman teman” katanya sambil menangis, saat saya mengunjungi dia di kost temannya.

“Sudah, kami paham kesusahanmu, kamu harus coba untuk tenang”saya menjawab sekenanya, sambil mencoba mengenali bagaimana kondisinya saat ini.

Saya tanya secara perlahan, bagaimana pristiwa yg terjadi. Dia mulai bercerita lebih detail, disertai kemarahan dan air mata yang terus mengucur.
Saya sediakan telinga dan hati saya hari itu, hanya buat menemani dan mendengar serta menenangkan.

“Kak, kemarin lusa, saat teman teman kuliah, saya sendirian. Rasanya kosong dan nggak ada guna hidup ini kak. Saya pergi ke lembah di belakang sana. Awalnya mau menenangkan diri. Tapi lalu terpikir mau bunuh diri saja kak.”katanya perlahan

“Apa?!” Saya terkejut dan mencondongkan telinga, khawatir salah mendengar

“Iya kak, bunuh diri.”jawabnya lagi

Saat itu, saya dan beberapa teman memaksakan diri menemani mereka di setiap Jumat siang, bertaruh waktu istirahat siang dan hari libur, karena issue kesehatan mental sudah terjadi ditempat itu. Saya tahu ini bisa terjadi, tapi saya tidak menyangka sore itu saya akan mendengarnya mengatakan itu.

“Seperti tidak ada jalan lain, dan tidak ada guna hidup saya kak.

Tapi trus saya mikir, ini motor yang saya pinjam, siapa yang akan kembalikan ke kost. Trus saya berpikir, bagaimana saya mempertanggungjawabkan hidup saya ke Tuhan nanti? Saya akan bertemu lagi atau tidak dengan keluarga dan teman teman saya? Mereka sangat mencintai dan mempercayai saya.

Saya jadi ketakutan dan pulang. Malamnya, saat kumpul dengan teman teman, mereka masih bersedia menanggung makan, tempat tinggal dan tidak menyoalkan pinjaman saya. Disitu saya menangis kak. Tapi tidak tahu bagaimana mengatakan apa yg saya rasa.” Katanya menjelaskan.

Karena kejadian itu teman teman yang menyayanginya khawatir, dan mengundang saya menemani, walau saya juga tidak tahu persis apa yg bisa saya lakukan, selain menemani.

Gambaran tentang hidup setelah mati punya berbagai gambaran dan tafsir. Namun yang pasti, hidup kita saat ini bersama Kristus, membantu kita memahami, bahwa yang hidup dalam Kristus, akan bangkit bersama. Adakah saya hidup bersama Kristus? Tampaknya ini yang menyelamatkan adik dampingan, yang masih sempat mempertanyakan kerinduannya untuk hidup kekal bersama Kristus, yang lalu membatalkan tindakan pendek pikirnya.

Adakah kita menjalani hidup saat ini sebagai, hidup dalam Kristus, sehingga akan ada kerinduan kita, untuk bangkit bersama nanti dan hidup kekal bersamaNya?

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan