Renungan Harian: 18 November 2022

Renungan Harian
Jumat, 18 November 2022

Bacaan I: Why. 10:8-11
Injil: Luk. 19:45-48

Emosi

Sekali waktu saat saya menjadi relawan di komisi kepemudaan, saya ditugaskan membawa materi pada sebuah pelatihan bagi mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Di satu sesi, saya dibuat gugup saat keping VCD yang akan digunakan untuk memutar film tidak dapat berfungsi. Saat itu metode yang akan digunakan adalah Nonton dan diskusi film, dan karenanya saya berimprovisasi, saya membuat dinamika permainan dan sharing.

Setelah selesai, seperti biasa, para senior di Komkep mengevaluasi proses persiapan sampai eksekusi yang saya lakukan. Saya menjelaskan semua yang saya lakukan sampai dengan peserta paham dengan materi yang saya sampaikan.

“Tapi kamu sadar yang kamu lakukan akan berdampak buruk pada alur pemberian materi dan metode sesi yang lain?!”ujar seorang senior, yang selalu paling ditakuti dalam proses belajar dan tumbuh kembang kami saat itu.

“Kamu tuh sudah diingatkan untuk mempersiapkan dan memeriksa semua peralatan dan perlengkapan sebelum sesi kamu. Bukan hanya yakin semua ada, dan tidak di cek. kamu tuh ceroboh dan ngeyelan. Kamu ngerti nggak yang saya maksud?!”ujarnya dengan nada yang meninggi

“Iya mas, paham, tapi kalau VCD nya rusak, lalu saya mesti apa? Sesi kan harus terus berjalan, saya sudah coba semaksimal yang saya bisa dan apa yang saya lakukan cukup dipahami peserta kok”saya menjawab dengan nada tak kalah tinggi, karena merasa sudah cukup baik melakukan pekerjaan saya

“Nah, kan, ini yang saya maksud. Kamu nggak paham! Jangan jawab, kamu evaluasi sendiri apa yang kamu lakukan!”tegurnya cukup keras

sulit bagi saya melihat apa yang sebenarnya dimaksud saat itu, karena saya melihat senior saya sangat emosional, sehingga saya menanggapinya dengan emosional pula.
Setelahnya, saya paham bahwa sebenarnya dalam pelatihan ini, kami bukan hanya akan memberi satu sesi saja pada peserta, dan kami harus belajar melihat kesinambungan satu bagian ke bagian yang lain. Materi materi dibuat pendek dan berjenjang agar mempermudah peserta mengikuti dan memahami materi, kemudian menginternalisasi dengan lebih baik lagi.

Yang saya lakukan, menimbulkan repetisi, baik dalam paparan materi, mau pun metode. Dan sebenarnya, dalam evaluasi, sudah jelas, bahwa saya lalai untuk melakukan pemeriksaan dan kesiapan, berimprovisasi tanpa koordinasi, dan terlalu sombong dengan apa yang saya capai tanpa sadar yang saya lakukan akan berpotensi merepotkan orang lain, dan kerugian para peserta.

Dimalam harinya, kami evaluasi harian. Saya tidak punya daya untuk melawan, selain mengaku salah, meminta maaf dan benar benar belajar dari proses itu. Dan sungguh, masa masa kaderisasi itu mengajar saya tentang bagaimana emosi juga mengajar kita untuk berefleksi lebih dalam.

Perasaan kita akan lebih jelas tampak dalam bentuk emosi yang keluar dan teraktualisasi. Dan hanya dengan mengungkapkan, kita bisa dengan jelas menangkap apa yang sebenarnya terjadi, dan orang lain dapat merespon apa yang kita rasa dan tunjukan. Emosi yang dikelola dengan baik, akan memperjelas posisi kita dan bagaimana kita bersikap terhadap sesuatu.

Masa belajar dan kaderisasi saya rasanya akan hambar dan tak jelas, bila tidak ada turbolensi emosi yang menyertai kami para kader dan para pengkader. Bukan sekali dua kali kami tampak ada dalam pertengkaran, tapi dengan kepercayaan dan refleksi, proses itu menjadi pembelajaran yang luar biasa.

Yesus menunjukan perasaannya, lewat emosi marah yang Dia luapkan pada orang orang yang mengubah rumah Tuhan menjadi sarang penyamun. Dia dengan keras mengecam mereka dan menantang mereka, dengan tujuan mereka berubah dan tidak melakukannya lagi.

Yesus punya alasan dengan kemarahannya, Yesus punya harapan, akan refleksi mendalam dari para muridnya. Emosi yang muncul juga menunjukan, betapa manusiawi Yesus menanggapi prilaku buruk manusia, dan dia menunjukan dengan jelas, dimana posisinya dalam menanggapi kerusakan sosial yang terjadi saat itu.

kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Sudah jelaskah kita mengenali setiap rasa yang kita miliki? Apakah emosi yang muncul kita sadari betul? Adakah emosi yang kita tunjukan membantu kita menunjukan pernyataan diri dan posisi kita? Adakah perasaan marah terolah baik dalam emosi kita,yang menjadi bahan bakar kita dalam memberi pelayanan dan cinta kasih pada sesama?

Semoga kita mampu terus berefleksi, dari setiap perasaan dan emosi yang kita alami.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan