Renungan Harian: 17 November 2022

Renungan Harian
Kamis, 17 November 2022

Bacaan I: Why 5:1-10
Injil: Luk 19:41-44

Perasaan

Sekali waktu saya bertanya pada seorang teman relawan, yang bersedia menghabiskan cuti kantor nya untuk ikut mendampingi pelatihan, apa yang membuatnya bersedia melakukan hal ini
“Dulu saat SMP pernah ikut kegiatan gini, dan rasanya senang banget. Jadi yakin deh kalo buat gini, bawa nostalgia dan rasanya lebih senang lagi” jawabnya

Dilain waktu saya bertanya pada seorang teman, yang sedari menjadi ayah, meninggalkan semua kegemarannya dengan video games dan ‘nga-fe, dan tinggal di rumah. apa yang membuatnya bersedia melakukan hal ini
” Yah anak, anak goe tuh nyenengin banget, tiap pulang gendong, rasanya nyaman banget. Tenang, senang, mudah ketawa-ketawa dan kerepotan yang terjadi tuh semodel tantangan video games, yg kalau terselesaikan tuh puasnya luar biasa”

Lain lagi saat seorang teman pendamping anak-anak muda yang punya issue kesehatan mental, saya tanya, apa yang membuatnya mau mendampingi dan mengerjakan issue yg tidak populer dan rumit ini
“Saya pernah kehilangan teman yang bunuh diri kak. Saat itu rasa yang muncul menyesakan dada, kerongkongan tercekak, dan rasanya pundak mengeras tegang, air mata mengalir tanpa suara apapun.Itu menyedihkan sekali. Dan saya merasakan hal yang sama saat ada yang menelpon dan mulai bercerita akan kerentanan mereka, dan niat bunuh diri. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya berusaha agar hal pahit dulu tidak terjadi lagi”jawabnya

Setiap orang yang saya tanya tentang alasan mereka melakukan hal hal yang menurut saya hebat ini, saya melihat bahwa mereka mengenal dan punya perasaan yang kuat yang melatarbelakangi pilihan dan tindakan mereka. Semua berasal dari rasa, dan kehendak untuk membuat perubahan, menjadi lebih baik.

Kita sering tidak sadar, betapa besar pengaruh rasa,dan empati, mendorong kita untuk bisa bertindak jauh, tanpa kehabisan amunisi. Kadang kegembiraan, dan keinginan untuk mengulangnya, tapi kadang rasa sedih yang mendalam, yg lalu mengupayakan agar hal sedih dapat berubah senang, atau sekurangnya dapat dilakui dengan penerimaan yang mendalam.

Yesus mengenali rasa yang muncul, dan dia mengungkapkannya dengan menangisi Yerusalem. Dia menunjukan keterikatannya pada umat manusia, dan upaya penyelamatan yang hendak dilakukannya.

Adakah kita mengenali dan terus menjaga rasa yang kita miliki, agar kita dapat terus berempati dan melakukan perubahan baik dalam hidup.

Ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”

Apa perasaan dominan mu hari ini, yang membuatmu mau berkarya, hari ini…….?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan