Renungan Harian: 15 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 15 November 2022

Bacaan I: Wah 3:1-6,14-22
Injil: Luk 19:1-10

Nasihat masa kecil

Karena akan ada pekerjaan di Jakarta yang dimulai pagi hari, saya memutuskan untuk pergi menggunakan travel di malam hari sebelumnya. Dimasa itu, travel menjadi pilihan yang paling praktis, dibanding kereta atau kendaraan kantor.

Selepas kerja, saya langsung menuju ke mall tempat travel berada. Saya sempatkan untuk makan malam lebih awal di salah satu fastfood yang tidak jauh dari shuttle travel saya.

Saat sedang makan, ada serombongan ibu beserta anak anak mereka datang, situasi menjadi riuh. Ibu ibu berdiskusi untuk memesan, sementara anak anak langsung bermain area bermain disudut ruang, tak jauh dari tempat saya duduk.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, seorang anak terjatuh dan menangis, sementara anak anak yang lain menyalahkan satu anak dan mulai adu mulut.

Ibu dari anak yang menangis segera datang, tampak cemas dan langsung menggendong anaknya, membawanya menjauh, dan menenangkan anaknya ditempat duduk dekat tempat saya makan.

Disudut sana masih terjadi saling ejekan
“Udah jauhin, jangan diajak main, mainnya kasar, jangan ditemenin lah”
Saya tersenyum mendengar anak anak yang bertengkar, dalam benak saya, yah besok juga dah lupa dan main bersama lagi.

Tapi saya tiba tiba terdiam dan mulai berpikir, saat saya mendengar ibu yang sedang menenangkan, seperti mengamini ucapan anak anak disudut ruang sana.

“Ibu kan udah bilang, jangan deket deket dan main sama yang nakal. Jauh jauh ajah, bertemen sama yang baik ajah yah. Biar kamu nggak celaka. Dah, jangan nangis, untung kuat yah. Udah kita makan yah, nggak usah main lagi, ambil sepatunya, kita makan”ucap ibu itu menenangkan anaknya.

Sekilas rasanya wajar dan normal, dan bukan kali pertama saya mendengar nasihat senada. tapi sebagai orang luar di peristiwa itu dan mendengar nasihat tadi, saya baru sadar, terbayang bagaimana sedari kecil saya sudah terlatih dan terdidik untuk tidak bermain dengan anak nakal dan yang buruk perlu dijauhi.

Ternyata, ekskomunikasi secara tidak sadar sudah kita kenali dan praktekan sedari kecil. Rasanya tak aneh saat saya menjadi ragu untuk mendekat pada orang yang katanya bermasalah, agak sulit membantu mereka yang ber’ulah, dan enggan menjadi teman mereka yang sudah dijauhi banyak orang karena satu dan lain hal.

Lalu pertanyaannya, dimana cinta kasih yang kita miliki dan yang juga menjadi pelajaran hidup kita sedari kecil? Jangan jangan kita perlu mengkaji ulang nasihat nasihat masa kecil kita, menjadi lebih jelas tentang berhati-hati dan mawas diri, ketimbang langsung membiasakan hukuman menjauhi dan pengucilan.

Mungkin Zakeus akan lebih cepat bertobat, saat orang orang mendekat dan menyapanya sebagai sahabat, ketimbang memperlakukannya sebagai musuh dan menjauhinya.

Yesus memilih mendekat dan menyapanya. Betul itu tidak mudah, apalagi seruan banyak orang membangun opininya sendiri

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa”

Semoga, kita terus disemangati dan ditemani oleh Tuhan, untuk mendekat dan menemani mereka yang berdosa, dan membantunya menemukan Tuhan. Kita juga perlu sadar, bahwa kita orang berdosa, yang pasti akan senang saat ada yang menyapa dan menemani sebagai sahabat.

Tuhan ampuni kami, Tuhan temani kami.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Iklan