Renungan Harian: 14 November 2022

Renungan Harian
Senin, 14 November 2022

Bacaan I: Wah 1:1-4, 2:1-5a
Injil: Luk 18:35-43

Saksi

Sore itu selepas bekerja di gudang tempat kami menyiapkan peralatan dan perlengkapapan kegiatan, kami berniat makan bersama untuk makan siang yang terlambat kami lakukan.

Karena letak gudang di jalan besar yang berseberangan dengan Ayam goreng cepat saji milik Sang kolonel, kami sangat sering menyebrang dan makan disana. Dan karena terlalu sering, kami sampai bosan. Pesan makan online pun sudah tertebak makanan yang ada disana dan juga sudah bosan.

“Kak, masa kecil dan remaja loe dulu di sekitar sini kan? Apa lagi yang enak disekitar sini?” Tanya salah seorang teman

“Udah pernah makan mie kocok di stadion Persib belum? Enak loh, kuahnya nggak terlalu berlemak, ada tulang muda dan iga” saya mengusulkan

“Hah? Mie kocok pake iga, serius loe? Kikil atuh mie kocok mah”seru yg lain

“Ya ada, kikil toge mah wajib, tapi ini khas. Makanya coba deh, goe sih cocok yah, kuah nya lekoh, tulang mudanya buat ketagihan”saya menambahkan

Tampanya mereka ragu, tapi karena ada seorang yang penasaran, maka kami bersepakat untuk membeli. Karena tidak ada di layanan online, seorang teman pergi membeli. Karena tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit kami sudah siap makan.

Semua tampak terkesima dengan perbandingan harga dengan apa yang tampil di meja makan. Saya mulai meracik dengan sambal dan jeruk limo, demikian juga dengan yang lain dan reaksi mereka beragam dengan arah senada, kepuasan dan kekaguman akan rasa yang tersaji.

“Gile ini di mangkokin cantik dikit dah jadi makanan mewah di restoran ini mah” kata yang satu

“Iya gila ini enak banget, cocok goe” sahut yang lain

“Kak, loe mah aneh, berbulan bulan kita kerja disini, berujung makan fastfood dan junkfood, loe baru bilang sekarang ada makanan se enak ini di dekat sini. Ini mah tiap kali kita gawe disini makannya ini, gw nggak nolak. Punya tempat makan enak di share donk kak, jangan di monopoli” ucap yang lain.

Kami makan dengan perasaan senang, ngobrol dan merasa siap untuk melanjutkan lagi pekerjaan kami disore itu dengan semangat.

Dari keraguan dan ketidak tahuan, teman teman menemukan jawabnya dari apa yang mereka alami, rasakan dan nikmati. Apa yang saya sampaikan membuat mereka tahu dan mengalami mie kocok yang enak. Kalau saya diam saat ditanya dan tidak berbagi pengalaman saya, maka tidak ada para pelanggan baru mie kocok itu dan orang orang puas sore itu.

Dari peristiwa berbagi sore itu, kita dapat belajar tentang peran berbagi dan bersaksi. Tampaknya kesaksian dan pengalaman diri kita, bisa membantu banyak orang merasakan bahkan mengalami berkat yang Tuhan beri. Disini kita sadar, bahwa menjadi saksi iman itu baik dan penting. Bisa jadi ada dari mereka yang tidak merasakan atau paham dengan kesaksian kita, tapi setidaknya, akan ada orang orang yang punya pengalaman yang sama, yang tersentuh dan menjadi semakin diteguhkan imannya, oleh kesaksian kesaksian yang ada.

Bagaimana dengan hidup kita? Adakah berkat Tuhan penyentuh dan kita rasakan sungguh? Adakah kita membagikannya pada orang lain? Adakah kesaksian akan besarnya kasih Tuhan kita wujudkan lewat cara hidup kita? dengan kesaksian kita, banyak orang akan ikut memuji dan memuliakan Tuhan.

Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau! t ” Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah

Semoga kita dapat menjadi saksi Tuhan lewat cara hidup kita.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.
Iklan