Renungan Harian: 9 November 2022

Renungan Harian
Rabu, 9 November 2022

Bacaan I: 1 Yeh 47:1-2,8-9,12
Injil: Yoh 2:13-22

Barter

Sekali waktu saya dan beberapa teman janji bertemu. Kami memutuskan hari minggu, walau kami tahu, hari minggu adalah hari keluarga. Tapi rasanya itu yang paling mungkin, karena hari biasa, adalah hari kerja, sisa waktu di malam hari terkadang terlalu sempit dan melelahkan.

Kami bersepakat untuk memilih sebuah cafe dengan konsep taman, di sekitar jalan Sulaksana, Bandung. Cafe yang nyaman, taman luas, ada area bermain buat anak dan makanan serta minuman yang cukup baik. Kami memang bersepakat bahwa sangat boleh membawa keluarga.

Saya datang pertama kali di tempat tersebut, lalu menyusul teman teman lain. Dari sana saya bisa melihat betapa serunya teman teman saya yang adalah orang tua muda mengkomando rombongan kecil keluarganya.

Menyenangkan akhirnya bisa meluangkan waktu bersama, dan ngobrol kesana kemari, dari nostalgia sampai hal hal kedepan. Ditengah obrolan obrolan yang muncul, beberapa anak teman saya datang, dan mengajak orang tuanya bermain atau sekedar berbuat gaduh mencari perhatian orang tuanya. Dinamika ini menjadi seru untuk dinikmati.

Saya melihat ada teman saya yang sudah siap dengan jajanan dan setiap kali anaknya rewel, dia memintanya diam dengan jajanan sebagai barter. Yang lain dengan santai menyuruh anaknya diam dengan barter HP dan menyuruhnya main. Semua punya trik nya masing masing.

Seorang teman agak berbeda, ketika anaknya tampak jenuh dan gaduh, dia memanggil dan berbisik pada anaknya, lalu si anak mengangguk angguk lalu pergi bermain di taman.

“Disogok apa nih, langsung nggak rewel dan pergi main?” Goda saya

“Nggak pake sogokan, anak gw dah diajar bersepakat dari kecil”jawab teman saya dengan tawa ringan

“Goe dan papi nya sepakat, bahwa di rumah kami semua disepakati bersama, jadi anak juga kami perlakukan sama. Ada bagian kami yang tentukan, tapi tetap dengan penjelasan, supaya anak dah kenal konsep bersepakat dari kecil.

Tadi dia kami suruh milih, mau ikut mami pertemuan dengan teman teman mami, atau di rumah dengan papi nya. Tapi kalau ikut mami bertemu banyak orang, artinya dia harus menjaga diri dan orang disekitar, nggak boleh buat gaduh dan mengganggu orang.

Goe jelasin apa saja yang akan mami lakukan dan berapa lama kira kira. Dan dia deal ikut goe, jadi tadi sepertinya dia liat temen temennya bosan, jadi ikut bosan, dan mulai rewel, jadi goe bisikin lagi tuh kesepakatan kami di rumah. Dan goe juga bilang tinggal 20 menit lagi kita pulang. Jadi dia mood lagi tuh kayaknya. Goe nggak mau pake konsep nyogok anak, takut makin tuman loh entar. Jadinya semua relasi serba transaksional, semua perlu di barter. Kalo bersepakat tuh lebih melatih dia buat liat kondisi dan aware sama sekitar. Papinya dan goe sepakat begitu.

Jadi ayo dilanjut pembicaraannya, tinggal 20menit nih waktu goe. Harus beri contoh baik dalam bersepakat.” Jawab teman saya sambil tertawa dan kami melanjutkan obrolan kami.

Saya rasa benar apa yang teman saya sampaikan. Dengan nyogok, kita malah memelihara potensi buruk yang mengarah pada pemerasan nantinya. Relasi orang tua anak pun menjadi relasi yang transaksional, orang tua beri apa, baru anak mau lakukan. Bila anak mau apa, dia tinggal rewel, dan dia tahu akan dapat sesuatu dari orang tuanya. Semua dengan konsep barter

Nampaknya itu juga yang Yesus ingin kita ingat terkait relasi kita dengan Bapa kita di surga. Bahwa korban hewan dan bakaran, bukan alat barter dan menyogok, namun selayaknya sebagai tanda kasih semata. Tidak di bisnis-kan, apa lagi dengan sengaja di nominalkan, dan membuat orang yang tidak mampu, menjadi terpinggirkan.

Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

Tuhan tidak ingin relasi kita menjadi relasi transaksional dan barter, atau memaksa berkat dengan doa dan persembahan. Relasi kasih yang tulus yang Tuhan pinta dari kita, dan soal berkat maupun surga, itu kuasa Allah untuk menentukan.

Semoga kita tidak terjebak dalam relasi barter dan transaksional dengan Tuhan, dan sungguh dengan Tulus mengasihi dan dikasihi Tuhan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan