Renungan Harian: 8 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 8 November 2022

Bacaan I: Tit 2:1-8,11-14
Injil: Luk. 17:7-10

Tidak ada

Sekali waktu setelah selesai menjadi tuan rumah dan pendamping sebuah perhelatan Retret Internasional, teman saya menunjukan kumpulan foto kegiatan yang berlangsung hampir 6 hari, dengan persiapan yang berbulan bulan.

Foto foto yang menarik, kegiatan dibeberapa tempat, dari check point di seminari, sampai di area Gua Maria. Semua tampak menyenangkan untuk dilihat dan dikenang.
Ada banyak rasa yang tiba tiba muncul, senang, bahagia, terharu, bangga, dan sedih.

Teman saya memperhatikan perubahan yang saya alami, lalu bertanya

“Kamu kenapa? Kok kayak sedih gituh, mikirin apaan? Terharu yah”tanya nya melihat saya jadi terdiam melihat foto foto itu.

Awalnya saya menghindar, dan mengatakan tidak ada apa apa. Dan saya berusaha untuk mencari tahu juga kenapa dengan saya dan berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa saat saya baru mengaku.

“Nggak ada foto saya”saya menjawab dengan tertawa, yang rasanya agak kecut.

“Hah?! Masa?!”lalu dia melihat ulang foto foto yang ada.

Sebenarnya, dan selayaknya, saya tidak perlu aneh. Saya menjadi 1 dari 2 orang awal yg mengkomandoi kegiatan di tempat kami tersebut. Sebagai bagian dari kegiatan internasional, banyak hal yg perlu kami kerjakan dan persiapkan. Saya bersama beberapa teman ada di bagian persiapan, dan mengurusi serta mempersiapkan hal hal teknis diawal, dan lebih dulu dari peserta dan panitia yang lain.

Kami selalu lebih awal mempersiapkan tempat, sesi dan koordinasi pendamping. Memastikan peserta ada ditempatnya, lalu pergi lagi untuk mempersiapkan tahap selanjutnya, lebih awal. Jadi tak aneh, bila saya dan beberapa teman, tidak ada dalam frame foto dibagian kegiatan manapun. Saat itu kamera handphone belum secanggih sekarang, dan tim dokumentasi masih terbatas pula.

“Tapi kamu nggak mengukur nilai pelayanan yang kita beri dari tampil atau tidaknya kamu di foto foto ini kan?”tanyanya sambil tampak masih melihat foto foto itu

“Nggak sih, cuma jujur tadi agak sedih karena, saya seperti tidak ada. Padahal saya merasa, saya berbuat banyak. Mungkin ini ego sedang berbicara. Ada rasa tidak diapresiasi jadinya. Konyol yah”saya geli dan tertawa sendiri menyadari apa yang saya rasa dan pikir.

” Sedari kamu mengajak kami gabung di kepanitiaan, dan mulai bekerja mempersiapkan semuanya, sampai jatuh bangun, keringat air mata, masa iya kamu sedih karena foto?

Nggak lah, jangan, kita sudah menyediakan diri sebagai relawan. Kita dengan sadar memilih kerelaan dan panggilan pelayanan dalam kegiatan ini. Sepertinya tidak perlu mengharap pengakuan, pujian, dan bayaran dalam bentuk apapun, selain kebahagiaan karena nilai dan pelayanan kita bisa berjalan dengan baik.

Wajah siapa pun yang muncul, dan dilihat orang, itu tidak menjadi bukti pencapaian kita. Yah wajar sih kalau kita masih mengharap pengakuan akan keberadaan kita. Tapi rasanya kita perlu terus melatih diri, bahwa ini pilihan dan tugas kita, jadi tidak perlu mengharap lebih, selain semua tugas pelayanan berjalan dengan baik, dan berbuah untuk banyak orang”jawabnya meneguhkan.

Moment itu adalah masa pembelajaran saya. Semakin dewasa, saya semakin paham dengan sharing dimasa itu. Bahwa mereka yang telah kita pilih untuk layani, adalah yang utama. Kita sebagai pelayan, perlu berbahagia, dan berbangga, saat pelayanan kita bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Cukup, tak perlu yang lain. Kalau pun ada, itu bukan upah, tapi bonus, yang bisa jadi tak ada, dan bila ada, kita syukuri dengan bahagia.

Seperti sabda Tuhan hari ini, bagaimana Dia memberi perumpamaan tentang totalitas pelayanan, yang tidak pamrih, dan mengharap balas.

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.

Tuhan, selalu temani kami, agar dalam setiap hal yang kami lakukan, kami bisa menjadi pelayanMu yang sungguh.

Ad Maiorem Dei Gloriam

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 
Iklan