Renungan Harian: 7 November 2022

Renungan Harian
Senin, 7 November 2022

Bacaan I: 1 Tit 1:1-9
Injil: Luk. 17:1-6

Menyesal

“Jadi belum baikan nih kak?belum termaafkan?” Tanya seorang adik sambil melirik pada seorang rekan yang pada beberapa kali kegiatan, membuat beberapa orang, dan saya salah satunya, kesal dan marah.

“Hah? Maksudnya gimana?” Tanya saya sambil tersenyum, tentu saya tahu apa yang dia maksud, tapi saya ingin dia menperjelas yang dia maksud

“Ya dari beberapa kali evaluasi dan kegiatan, dia membuat kalian kesal dan marah. Dan sudah jelas juga dia melakukan kesalahan yang berpotensi membahayakan peserta dan kita. Dan anehnya dibuat lagi dan lagi” jelasnya

“Nah, itu tahu” jawab saya sambil tertawa

“Kalau soal maaf, bisa diaturlah, manusia mana yang nggak punya salah sih. Cuma kalau yang kamu maksud kemudian kepercayaan dan delegasi tanggung jawab, itu beda lagi ceritanya de. Walau sering sulit menerima keadaan dan memberi maaf, tapi aku sudah memberi maaf kok, tapi ini sudah bukan soal memberi maaf, tapi ini soal Penyesalan.

Aku pribadi sering merasa permohonan maaf saja susah dia utarakan, ditambah lagi, susah sekali melihat dia sungguh menyesal. Jadi bagaimana aku yakin kalau dia sadar dengan kesalahannya dan tidak akan berbuat kecerobohan dan pelanggaran itu lagi?

Meminta maaf itu aku rasa bukan soal diutarakan. Harus diawali dulu dari kesadaran, tahu persis apa yang menjadi kesalahan, benar benar mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan dan punya rasa menyesal dengan sungguh, dan yang terpenting dan sering jadi patokan ku pribadi nih, dia menunjukan perubahan dalam berprilaku, nah baru aku yakin dia sungguh menyesal dan meminta maaf.

Karena artinya dia sungguh sungguh. Jadi bukan tugasku sekarang untuk mengobral maaf dan memberinya kepercayaan begitu saja. Aku rasa sekarang tugas dia untuk sungguh menyesal dan berubah. Aku rasa dari sana kita jadi bisa sungguh dengan tulus juga memberi maaf dan paham akan penyesalan yang dia beri. Kalau belum ada tanda tanda itu, yah tidak perlu ada amarah dan kecewa lagi sih, tapi yah rasanya manusiawi yah kalau lalu aku belum bisa mempercayakan delegasi dan tanggung jawab. Yah aku juga masih perlu banyak belajar dan bertobat lah kalau soal memaafkan”jelas saya

Rasanya kita sering terjebak dalam “lingkaran setan memaafkan”. maaf dan diulangi lagi, dan maaf lagi dan diulangi lagi. Bahkan terkadang sampai bosan dan kosong rasa percaya kita. Perlahan tapi pasti, kita jadi tersakiti lagi dan lagi, bahkan potensi ‘kerusakan pada banyak orang’ jadi hal yang sangat mungkin terjadi.

Seringkali desakan “harus memaafkan” membuat kita buta akan urutan proses yang semustinya kita pahami sebagai proses meminta dan memberi maaf. Apa yang perlu dimaafkan? Apa sungguh ada yang meminta maaf? Apa sungguh kita memberi maaf karena ada yang meminta maaf? Atau kita hanya butuh sebuah proses penerimaan diri kita pribadi, akan apa yang terjadi?

Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia

Seseorang harus tahu apa kesalahan yg terjadi, sungguh merasa menyesal, dan mengubah prilaku buruknya.

Meminta maaf dan memberi maaf adalah proses timbal balik, bila tak ada penyesalan dan perubahan, lalu apa arti maaf yang kita beri?

Semoga Tuhan memberi kita hati yang damai, yang memampukan kita menerima situasi yang terjadi, memberi maaf dengan sungguh, dan atau meminta maaf dengan sadar saat kita berbuat salah.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.
Iklan