Renungan Harian: 21 Januari 2022

Renungan Harian
Jumat, 21 Januari 2022
PW. St. Agnes, Perawan Martir

Bacaan I: 1Sam. 24: 3-21
Injil: Mrk. 3: 13-19

Bapakku

Suatu malam, saya menerima telepon dari seorang teman. Teman itu meminta saya untuk mendoakan bapaknya yang sedang sakit di rumah sakit. Mendengar bahwa bapaknya sakit di rumah sakit saya agak terkejut karena sehari sebelumnya saya bertemu dengan bapak itu di rumah teman saya, dan masih kelihatan segar bugar. Saya segera berangkat ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan sakramen pengurapan orang sakit.
 
Sesampai di rumah sakit teman saya sudah menunggu di lobby dan kami segera menuju kamar tempat bapaknya di rawat. Sambil jalan saya bertanya apakah bapaknya masih sadar dan masih bisa terima komuni, teman saya memandang saya sejenak lalu mengatakan: “Mo, yang sakit bapak saya, bukan bapak mertua saya.”

Saya terkejut mendengar jawaban teman saya; karena selama ini sejauh saya tahu, bapaknya sudah meninggal sewaktu dia masih SMP. Sejauh saya mengenal dia, dia dan adiknya dibesarkan oleh ibunya. Teman saya menangkap keterkejutan saya.

“Mo, bapak saya mungkin sudah tidak katolik lagi, jadi tolong didoakan saja. Nanti aku cerita, ceritanya panjang dan rumit.”

Saya tidak menjawab. Segera setelah sampai di kamar bapak itu kami semua berdoa, saya, teman saya dan istri, adiknya dan suami, serta ibunya.
 
Setelah doa selesai teman saya mengajak saya minum kopi di sebuah café di dekat rumah sakit.

“Mo, sesungguhnya bapak kandung saya belum meninggal, tetapi dia pergi meninggalkan kami dan hidup dengan perempuan lain. Seperti yang romo tahu ibu membesarkan kami berdua dengan berjualan di pasar.

Saya bertahun-tahun menyimpan dendam pada bapak saya, karena dia telah menelantarkan kami sehingga ibu menderita luar biasa. Saya sejak dulu selalu berharap bahwa suatu saat saya bisa membalaskan sakit hati ibu dan penderitaan kami.

Harapan saya sejak dulu, suatu saat saya bisa bertemu dengan bapak dan membalas dendam; karena hanya dengan itu saya bisa tenang.
 
Mo, seminggu yang lalu, ibu mendapatkan telepon dari temannya yang memberitahu bahwa bapak sakit cukup parah dan tinggal sendirian di rumah kontrakan. Mendengar berita itu, ibu mengajak saya untuk melihat bapak. Mo, saat itu saya senang bahwa saya akan bertemu dengan bapak sehingga ada kesempatan untuk membalas dendam. Saat bertemu, bapak mau memeluk saya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah bapak saya. Saya tidak bergerak dan tidak ingin dipeluk serta berontak bahwa orang itu menyebut dirinya bapak saya. Saat itu bapak meminta maaf pada ibu dan saya. Saya tahu ibu telah memaafkan bapak meski tidak mengatakan apapun. Ibu meminta saya untuk membawa bapak ke rumah sakit.
 
Mo, saat itu saya sejujurnya tidak mau membawa bapak ke rumah sakit, saya ingin membiarkan bapak tetap sakit di rumah yang kumuh itu. Saya ingin melihat bapak menderita dan saya senang serta tenang. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ibu membisiki aku: “bagaimanapun juga dia bapakmu le.” Kata-kata ibu itu membuat saya berpikir dan bergulat.

Apakah mungkin saya memaafkan orang telah sekian tahun membuat saya menderita. Namun di sisi lain muncul pikiran bahwa kalau tidak ada orang jahat ini, tidak akan ada saya. Dan lagi seandainya orang itu tidak meninggalkan kami, mungkin saya tidak menjadi seperti sekarang ini.

Saya bisa menjadi seperti ini karena dididik oleh keadaan yang sulit dan menderita itu. Mo, dalam beberapa hari pikiran itu terus berkelindan dalam benak saya. Sampai suatu saat ketika sedang doa malam saya disadarkan bahwa penderitaan yang kami alami merupakan rahmat besar dalam hidup kami. Dengan cara seperti ini Tuhan mengangkat kami. Kesadaran itu membuat saya bisa menerima bapak dan saya meminta maaf untuk perilaku saya dalam beberapa hari ini. Ternyata dengan aku menerima bapak, saya merasakan seperti terbebas dari beban berat dan terasa lebih tenang.

Bukan melampiaskan dendamku yang membuat aku tenang tetapi dengan menerima bapak. Betul kata ibu bahwa bagaimanapun juga dia bapak saya,” teman saya menjelaskan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, Daud tidak melampiaskan dendamnya kepada Saul meski mendapatkan kesempatan karena Daud menyadari bahwa Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku kepada orang yang diurapi Tuhan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.