Renungan Harian: 14 Januari 2022

Renungan Harian
Jumat, 14 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 8: 4-7. 10-22a
Injil: Mrk. 2: 1-12

Ingin Bahagia

“ Romo, saat itu saya merasa hidup saya selalu menderita. Susah dan berat menjadi orang miskin. Saya merasa sudah bekerja keras tetapi tetap saja kehidupan saya tidak berubah. Hasil kerja hari ini hanya cukup untuk makan hari ini, maka untuk kepentingan lain saya harus berhutang ke sana kemari. Namun karena penghasilan yang amat minim, sulit bagi saya untuk membayar hutang-hutang.

Akibatnya hidup kami semakin sulit; tidak lagi orang yang mau memberi pinjaman, adanya orang-orang yang memaki dan menghina kami. Hampir tiap hari ada orang yang datang untuk menagih hutang, dan selalu diakhiri dengan makian dan hinaan karena kami tidak mampu membayar hutang. Saya sudah tidak tahan menjadi orang miskin seperti ini; kasihan istri dan anak-anak saya yang harus ikut menanggung derita. Saya ingin seperti orang-orang lain yang usahanya maju dan hidupnya mapan. Saya ingin mempunyai uang agar hidup kami bahagia, tidak dihina-hina orang, tetapi dihormati dan disegani orang.
 
Romo, suatu ketika ada seorang teman mengajak saya untuk mendatangi “orang pinter” yang bisa memberi jalan agar usaha kami maju dan kami bisa menjadi kaya dan bahagia. Saya tidak pikir panjang, saya mau mengikuti ajakan teman. Siapa yang tidak ingin kaya dan bahagia; apalagi saya sudah bosan menjadi orang miskin seperti ini.
 
Saat bertemu dengan “orang pinter” itu, dia memberikan banyak persyaratan dan aturan-aturan yang harus saya penuhi. Saya menyanggupi semua yang diajukan. Saya hanya berpikir apapun saya penuhi asal saya bisa keluar dari derita kemiskinan ini. Akhirnya setelah saya menyatakan sanggup maka saya membuat perjanjian dengan “orang pintar” yang mengatakan menjadi perantara.
 
Romo, entah bagaimana saya tidak tahu, usaha dari hari ke hari semakin maju. Padahal apa yang saya kerjakan tidak ada yang berubah, saya masih kerja seperti pada waktu sebelum ketemu “orang pintar” itu. Tidak sampai 1 tahun usaha sungguh-sunggu luar biasa, hidup kami berubah. Kami tidak lagi menjadi orang miskin yang dihina banyak orang. Sekarang kami menjadi orang yang mapan, bisa punya rumah bagus dan mobil bagus. Saya menikmati semua yang saya dapat. Namun saya pada waktu yang telah ditentukan harus menyediakan syarat-syarat yang harus saya penuhi dan tidak boleh melanggar aturan-aturan yang sudah saya sepakati.
 
Romo, dalam berjalannya waktu saya menyadari bahwa ternyata semua harta yang kami punya tidak membuat saya dan keluarga menjadi bahagia. Ada saja kejadian di keluarga kami yang membuat kami bertengkar atau membuat kami menjadi bingung. Istri dan anak-anak saya melihat saya sebagai orang yang aneh. Mereka tidak lagi merasakan kehadiran saya sebagai suami dan bapak. Mereka melihat saya seperti orang lain meski tinggal dalam satu rumah. Belum lagi mereka melihat saya seperti orang yang tidak punya waktu meski sekarang tidak bekerja keras lagi. Waktu saya habis untuk memenuhi syarat-syarat yang sudah saya  sepakati. Sampai titik tertentu saya sendiri menjadi sadar bahwa saya sudah kehilangan diri saya sendiri. Saya tidak lagi bisa menentukan hidup saya sendiri, saya seperti budak atau robot yang diatur.
 
Saya bicara dengan istri dan menceritakan semuanya. Istri dan anak-anak saya mendukung agar saya melepaskan diri dari “perjanjian” ini. Mereka sanggup dan lebih tenang menjadi miskin asal kami bisa hidup damai dan bahagia karena keluarga yang bersatu. Akhirnya saya melepaskan “perjanjian” itu dengan usaha yang luar biasa. Hidup kami menjadi lebih bahagia meski harus bekerja keras dengan hidup yang sederhana,” seorang bapak menceritakan kisahnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, umat Israel menolak Tuhan karena ingin sama dengan bangsa-bangsa lain meski dengan konsekuensi menjadi budak. “Mereka bersikeras: “Tidak, kami harus punya raja. Biar kami pun sama seperti segala bangsa lain!” “
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.