Renungan Harian: 10 Januari 2022

Renungan Harian
Senin, 10 Januari 2022

Bacaan I: 1Sam. 1: 1-8
Injil: Mrk. 1: 14-20

Terluka

“Romo, kehidupan perkawinan kami selama 10 tahun ini baik-baik saja. Kami menjalani kehidupan bersama dengan  baik, selama ini tidak ada masalah berarti. Ada masalah-masalah kecil tetapi kami dapat mengatasi dengan baik. Kehidupan ekonomi kami juga baik, karir saya dan istri juga semakin baik. Sesungguhnya dalam kehidupan perkawinan kami baik dan saya pribadi merasa bersyukur dengan semua ini.
 
Namun persoalan akhir-akhir ini semakin lama semakin menjadi beban dalam kehidupan perkawinan kami. Sumbernya adalah belum adanya anak dalam kehidupan keluarga kami. Akhir-akhir ini istri selalu uring-uringan tanpa sebab, menjadi mudah tersinggung dan cepat menjadi marah. Kalau saya lagi “tenang-tenang” ya sudah, saya biarkan nanti dia menjadi tenang lagi, tetapi tidak jarang sikap istri saya membuat saya terpancing untuk menanggapi dan emosi. Sehingga keluarga kami yang tenang-tenang akhir-akhir ini menjadi sering ribut.
 
Saya sudah mengatakan kepada istri saya: “ya sudah, kalau memang kita tidak diberi momongan ya tidak apa-apa. Saya tetap mencintai kamu dan saya juga tidak menuntut untuk harus punya momongan. Ayo kita hadapi berdua.” Tetapi ternyata apa yang saya katakan itu justru membuat dia menjadi marah, dia mengatakan bahwa saya tidak mengerti dia. Saya sering kali mengatakan: “Saya tahu bahwa ada masalah dengan kesehatanmu, dan kita juga sudah berjuang untuk mengatasinya. Tetapi kalau sampai sekarang belum berhasil ya sudah, pasti ada kehendak Tuhan yang lebih baik untuk kita.”
 
Romo, pada intinya sebenarnya istri saya tidak tahan dengan omongan teman-temannya yang sering bertanya kapan punya anak. Tidak jarang teman-temannya menyarankan agar ini dan itu tetapi teman-temannya tidak tahu masalah yang sesungguhnya sehingga saran itu malah membuat dia tersinggung. Terlebih ketika kami kumpul keluarga pertanyaan itu menjadi semakin menyakiti dirinya. Mungkin karena dia semakin bertambah usia sehingga menjadi semakin sensi ya romo,” seorang bapak berkeluh kesah.
 
Mendengarkan keluh kesah bapak itu, saya mengundang bapak itu dan istrinya untuk bertemu bersama. Mengingat persoalan yang tidak mudah maka saya mengajak pasangan suami istri senior yang tidak memiliki anak tetapi hidupnya bahagia dan damai. Dari pembicaraan itu salah satu nasehat penting adalah berani jujur menerima keadaan diri. Tidak mempunyai anak bukanlah kutukan dan bukan pula akibat dosa. Tetapi hal penting adalah mau terbuka pada kehendak Tuhan kiranya Tuhan mempunyai rencana lebih indah bagi keluarga itu sebagaimana yang mereka alami. Pesan penting untuk bapak itu (suami) agar lebih sabar dan mengerti situasi istrinya. Ditemani, didengarkan tidak perlu dinasehati.
 
Pasangan itu menjadi lebih tenang dan nampak lega. Betapa rumit situasi terluka yang dihadapi ibu muda ini. Tentu nasehat bagus bisa menenangkan tetapi pergulatan tetap akan berlanjut.

Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kitab Samuel, pergulatan Hana yang tidak mudah karena mendapatkan ejekan dan tekanan tetapi dia selalu berdoa dan berdoa.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.