Renungan Harian: 6 Januari 2022

Renungan Harian
Kamis, 06 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 4:19 - 5:4
Injil: Luk 4:14-22a

Menggenapi

“Apa yang membuat kalian tertarik untuk membangun komunitas CLC di Singapur?” Saya bertanya pada rekan baru, dari Singapur, di pertemuan komunitas kami, yang saat itu diadakan di Taiwan.

Sambil berjalan santai menuju rumah makan, tempat kami semua diajak makan siang, dia menjawab
” Saya tidak tahu pasti, tapi buat saya pribadi, saat Calvin pindah dr Hong kong ke Singapur dan memperkenalkan cara hidup ber-CLC, rasanya……”
Ada jeda cukup panjang yg membuat saya menoleh dan melihat raut wajahnya. Raut wajah yang selalu santai dan tenang dari awal kami berjumpa, berubah serius dan tampak berpikir keras.

“…tampak menyeramkan.” Katanya melanjutkan

“Apa?! Maksudnya bagaimana? Menyeramkan seperti apa? Serius menyeramkan? Seperti bukan alasan yg tepat buat melanjutkan bukan?” Tanya saya menyelidik, sambil tertawa kecil.

” Nah disitu uniknya. Saat dijelaskan tentang CLC, kamu tahukan apa yang tertulis di Prinsip dan Norma Umum kita? Itu menyeramkan, terutama bagian Cara Hidup. Indah, tapi menyeramkan. Ada gambaran komunitas katolik yang ideal disana. Bersama dengan komunitas terus melanjutkan perkembangan Diri, mawas pada lingkungan sosial, baik spiritual maupun kemanusiaan, ekaristi dan hidup sakramental yang aktif, demikian juga dengan praktek doa dan latihan rohani, menyiapkan diri terlibat dan menjadi utusan, hidup sederhana. Tidak kah ini menyeramkan? Ya, ini semua indah didengar, tapi sangat menyeramkan, bagi saya setidaknya.” Dia tertawa, tampaknya karena melihat ekspresi saya yang bingung.

“Tapi saya rasa, kami melihatnya sebagai sebuah cita cita dan misi, dan karenanya kami ingin terus menghidupi komunitas kita. Tapi buat saya pribadi, saya masih tetap merasakan kegelisahan dan ketakutan, apakah saya sungguh bisa? Dan lebih parah lagi, dibeberapa titik saya merasa ditampar karena ada hal hal yg saya tidak kerjakan, dengan sadar menolak, dan seperti disudutkan.
Kalau saya tidak melihatnya sebagai proses pengolahan diri, maka saat itu juga, saya pasti keluar. Tapi karena ini adalah proses, saya rasa sangat layak untuk dicoba dan dilanjutkan. Tapi bukan hanya untuk kebaikan kita, ini juga untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar bukan?”
Jawabnya sambil tersenyum.

Saya hanya tertawa, dan tidak memberi respon apapun, karena kami sudah sampai di rumah makan, dan orang orang riuh mencari tempat dan mulai mempersiapkan jamuan makan siang.

Tapi obrolan singkat itu cukup berbekas. Setidaknya setelah acara makan siang hari itu, pernyataannya masih menggema dibenak saya. Sungguh tidak mudah menjalankan apa yang indah indah yang ada di GP/GN itu. Menyeramkan bila membayangkan cara hidup saya berseberangan dengan apa yang ditulis disana, tapi saya dengan lancang menyatakan diri hidup dalam Cara Hidup itu. Saya menyadari dengan kedalaman baru, mengapa Menyeramkan, mengapa hal itu jadi tidak mudah.

Mungkin demikian pula yang menghentak umat umat yang hadir di rumah ibadat, saat Yesus membacakan Kitab Nabi Yesaya. Ada pesan pesan indah, dan baik. Namun saat Yesus menyematkan kata kata
“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”
Ada kegembiraan dan sukacita akan penggenapan nas ini. Namun ada juga yg merasa tertampar, takut dan cemas akan kebenaran, yang disampaikan Yesus.

Membaca dokumen dan pernyataan pernyataan indah, beserta janji dan berbagai rencana, kadang membuat kita bahagia, namun menggenapi dokumen dan pernyataan pernyataan indah itu, butuh lebih dari sekedar kata Amin.
Ada usaha yang harus dilakukan, komitmen untuk mengerjakan, kesetiaan pada misi, dan terutama tindakan nyata.

Maka penggenapan adalah sebuah tantangan, sebuah upaya merealisasikan keindahan yang sebelumnya berbentuk kata, menjadi aksi nyata.
Menyeramkan? Bisa jadi.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.