Renungan Harian: 4 Januari 2022

Renungan Harian
Selasa, 04 Januari 2022

Bacaan I: 1Yoh. 4:7-10
Injil: Mark. 6:34-44

K a s i h

Seolah ada manual khusus yang menentukan, bahwa Natal identik dengan perayaan dan pesta. Tak terkecuali di Lingkungan tempat saya tinggal dulu. Selepas hari Natal, pengurus lingkungan akan bergegas mencari waktu terdekat, untuk menyelenggarakan acara Natalan.

Ini jadi moment yang banyak ditunggu. Walau acara dan agendanya dari tahun ke tahun tidak banyak berubah, namun selalu ada kerinduan untuk menyelenggarakannya. Misa lingkungan, makan bersama, tukar kado dan ngobrol-ngobrol, “hang-out” sampai puas.

Untuk acara makan, umat lingkungan diajak untuk Boltram (potluck), membawa sajian untuk disantap bersama saat acara makan. Tak ada ketentuan, semua bersifat sukarela.

Ketika umat datang dan bersiap untuk misa, mereka biasanya mengumpulkan makanan-makanan pada panitia atau tuan rumah, dan tuan rumah menata dan menyajikan di meja panjang, tempat semua makanan, minuman dan kue berkumpul. Semua makanan disajikan, dan tidak jarang kami jadi bingung menyantapnya, karena menu terlalu beragam.

Tapi ditengah keragaman itu, ada beberapa menu yang jadi favorit dan ditunggu, umat tahu ada menu-menu andalan dari orang tertentu yang sungguh nikmat dan akan muncul di saat-saat perayaan. Tentunya menu tersebut berpotensi habis lebih dulu dari yang lain, karenanya, tuan rumah dan panitia akan mengatur distribusi menu menu tersebut, bahkan menyimpan sebagian untuk menghindari umat yg berinisiatif membungkus menu tersebut sebelum semua umat yang hadir terbagi, dan acara selesai.
Selalu bersyukur saat acara selesai dengan semua sajian habis dan semua orang senang.

Acara Boltram’an sejatinya bukan soal kompetisi kecakapan memasak, bukan juga soal kuantitas makanan yang dibawa. Boltram adalah sebuah ajakan untuk berbagi dan menerima. Kerelaan untuk berbagi dan menerima hanya ada saat orang orang yang terlibat memiliki kasih, kepercayaan dan kebersamaan.

Tentunya dalam acara boltram, sering juga kita mendapati orang-orang yang enggan terlibat, dan hanya mengambil tanpa memberi. Apakah itu membuat kita kesal? Tentu saja bisa, tapi dengan bekal kasih, kepercayaan dan kebersamaan, hal tersebut hanyalah masalah waktu, menanti sampai setiap dari mereka terlibat dan mampu untuk memberi, bukan sekedar menerima. Disini kita dapat memahami bahwa proses boltram, adalah proses membina kasih, kepercayaan dan kebersamaan kita.

Bila Boltram adalah kehidupan, sudah menjadi orang seperti apakah kita? Yang tidak mau terlibat? Yang terlibat namun seadanya? Yang terlibat dan secara khusus mempersiapkan menu sebaik mungkin? Yang terlibat dengan perhitungan untung rugi, dan siap dengan plastik untuk bungkus habis? Atau kita pernah menjadi semua itu?

Seperti tertulis dalam Injil hari ini, kerumunan orang dan keterbatasan diri adalah ujian bagi para rasul, masihkah ada kesediaan untuk berbagi pada sesama? Dan keajaiban hadir, saat ada yang memulai untuk berbagi, memberi, kasih.

Greg Tjai