Renungan Harian: 2 Januari 2022

Renungan Harian
Minggu, 02 Januari 2022
HR. Penampakan Tuhan; Hari Anak Misioner Sedunia

Bacaan I: Yes: 60:1-6
Bacaan II: Ef.3:2-3a,5-6
Injil: Mat.2:1-12

Menjadi terang

“Mas, kayaknya harus ada yang bilang ke Tius deh, untuk tidak perlu terlalu excited dan share kemana-mana soal peran dia sebagai Lead Facilitator di project kemarin.” seorang rekan menyampaikan sebuah keluhan ditempat kerja kami.

“Loh emangnya kenapa?” Tanya saya bingung

“Iya itu mas, dia tulis dan share di profil dia, disemua aplikasi, belum lagi jadi obrolan di komunitas. Dia cerita pengalaman, dan hasil kerjanya, dan ini udah mulai ada omongan omongan miring nih mas tentang dia. Ada yg bilang sok’banget, sombong, lebay dan mulai bertanya pada saya soal kebenarannya” paparnya.

“Saya juga lihat sih soal postingan Tius, tapi sejauh yang saya baca, itu adalah sebuah kebanggaan dan pencapaian sih. Tidak terlalu berlebihanlah, apalagi itu memang pencapaian yg luar biasa loh.

Dan itu kerja keras yg luar biasa juga. Saat kegiatan, nggak sehari dua hari loh aku liat dia kerja sampai larut malam, dan ada yg sampai tidur pagi, untuk memastikan rancangan selama setahun ini dapat dieksekusi dengan sebaiknya. Dan klient puas, itu yg saya tahu pasti.

Memang godaan menjadi sombong sangat mungkin terjadi, dan baik bila kita saling mengingatkan, tapi ini saya rasa belum ‘de, bahkan saya ingin kalian semua merasa bangga pada hasil kerja kalian, tidak perlu menutup nutupi karena merasa takut dibilang sombong, wong itu pencapaian yg layak diapresiasi.

Ini bisa jadi inspirasi dan di contoh olah banyak rekan lainnya. Banyak pelajaran baru dari project itu de.

Soal peran kalian, Kalian boleh kok menuliskan itu di CV dan biosketch kalian, seperti yang Tius lakukan, karena memang layak.” Saya menjelaskan

Apa yang kita rasakan saat kita melihat sebuah keberhasilan dan pencapaian yang diperoleh orang lain? Mereka yang berhasil, banyak memberi contoh dan pembelajaran, dan dari upaya serta kerja keras mereka, kita layak memberi apresiasi. Bukan gosip, caci dan kritik, karena itu berpotensi membuat kepercayaan diri mati.

Kita dapat belajar dari kepahitan usaha, dan manisnya pencapaian mereka. Mereka membawa terang, untuk banyak orang setelah mereka. Karena dari terang yang mereka bawa, muncul target baru dan pencapaian pencapaian baik lainnya.
Kadang terang terlalu menyilaukan dan mengganggu saat diumbar berlebih, atau sesederhana mengganggu mereka yg terlalu lama ada dalam gelap, maka bijaklah menjadi terang dan menerima terang. Bersyukurlah, bersukacitalah dalam Tuhan.

Seperti tertulis dalam Injil Matius, “ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka”. Mari bersukacita melihat dan menerima Sang Terang.

Akankah kita silau dan menghindar melihat Terang Tuhan? Atau menerimanya, dan menjadi bagian dari terangNya?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.