Refleksi Sahabat CLC – “HARAPAN ADALAH BENIH KASIH YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Prof. Dr. Antonius Sudiarja, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Dipo, S.J. dengan judul tulisan “ Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang “.

Rm. Dipo, S.J. saat ini adalah Asisten Gerejani Lokal CLC di Jakarta. Beliau saat ini tinggal di Kolese Hermanum, Jakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang

(A. Sudiarja, SJ)

Dari mana mesti kumulai refleksi ini? Hingga saat ini isu pandemi Covid-19 masih belum juga surut, sejak diumumkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia pada bulan Maret 2020. Tentu saja bukan hanya di Indonesia; namanya juga ‘pandemi’ (penyakit yang menjalar cepat di wilayah seluruh dunia) bukan endemi atau epidemi. Isu yang beredar pun berubah-ubah dari waktu ke waktu.  Saya masih ingat di awal-awal merebaknya penyakit ini, berbagai berita lewat media sosial, mengenai korban-korban yang terpapar ( satu orang dari komunitas saya meninggal sesudah dirawat hampir selama sebulan), lukisan penyakit yang mengerikan, suasana yang mencekam, keluarga yang dipisahkan oleh karena penyakit ini, tidak bisa menengok pasien, banyaknya angka kematian, penanganan yang lambat karena kurangnya perlengkapan dan obat-obatan, bahkan banyak  dari antara tenaga medis yang terpapar; kemudian munculnya kontroversi tentang vaksin yang berbeda, perdebatan panas memasuki ranah politik, saling menyalahkan dan mencurigai pihak mana yang menciptakan pandemi ini; Di tanah air ada kelompok yang melanggar larangan kumpul-kumpul, atau menyalahkan pemerintah, hingga perdebatan soal baik-tidaknya menyelenggarakan pilkada di masa pandemi dan masih ratusan persoalan, belum lagi kejahatan dalam penyalahgunaan fasilitas, penipuan dan eksploitasi ekonomis untuk mencari keuntungan di tengah situasi yang sulit.

Dilema yang akut adalah antara pembatasan yang seketat mungkin untuk mencegah penularan, di lain pihak desakan perlunya pelonggaran untuk kegiatan ekonomi, agar kehidupan ekonomi jangan sampai mati sama sekali. Sungguh tidak mudah pemerintahan, tidak hanya di Indonesia tetapi di mana pun, menata kehidupan bersama di masa seperti ini, karena ada banyak kepentingan, pemikiran, pengetahuan dan pengalaman berbeda yang menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan sosial politik. Padahal, dalam ‘situasi darurat’, selalu berlaku prinsip ‘we are in the same boat’; kita berada dalam satu perahu, kalau tidak kompak, kita semua celaka.  

Di beberapa negara di Eropa muncul berbagai protes, dari kalangan masyarakat yang ingin melawan prinsip kebersamaan ini, karena merasa dikungkung oleh peraturan dan pengaturan prokes yang ketat. Maka mereka tidak mau memakai masker dan tidak mau disuruh tinggal di rumah, atau pun dilarang untuk berkumpul-kumpul, karena menganggap ‘pandemi’ sekedar mitos atau isu yang berbau politik-ekonomi, yang mengelabui. Mereka tidak merasa dalam ‘keadaan darurat’. Tentu saja sikap seperti ini berpengaruh pada penanganan pandemi. Saya tidak mau mempersoalkan data dari akibat kebijakan dan reaksi masyarakat ini, melainkan mau merenungkan peristiwa-peristiwa ini dalam rangka refleksi akhir tahun 2021 untuk merajut harapan untuk tahun 2022.

Dari peristiwa-peristiwa di atas, memang tampak bahwa sulit menyatukan pandangan dan kebijakan untuk mengatasi bersama pandemi covid-19. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin hari, individualisme dan pengelompokan semakin berkembang, karena perbedaan keinginan dan pemikiran. Akan tetapi bukankah hal ini juga memperlihatkan bahwa keunikan, perbedaan dan kebebasan manusia semakin dihargai? Masalahnya, apakah keunikan, perbedaan-perbedaan dan kebebasan ini akan mengembangkan kebersamaan sebagai manusia atau menghancurkannya? Hal ini tergantung pada keberanian untuk ‘saling percaya’ dan kerelaan untuk ‘berkorban’. Inilah ukuran dari mutu masyarakat dalam hidup bersama.

Kalau kita perhatikan, sebetulnya banyak juga rahmat kebaikan yang kita terima selama pandemi ini, semacam ‘blessing in disguise’ yang patut kita sadari dan syukuri. Kesetiaan dan kerelaan para tenaga kesehatan yang meresiko hidup mereka dalam tugas-tugas merupakan ‘pengorbanan’ yang luar biasa, di tengah penolakan mereka yang tidak percaya dan meremehkan bahaya pandemi ini; Demikian juga kesediaan membantu dan menyumbang dari berbagai orang, instansi, kelompok-kelompok relawan merupakan rahmat yang kita terima. Kerjasama yang semakin tumbuh dan lain sebagainya.

Ada pepatah Latin (seingat saya dari Kardinal Newman) yang mengatakan: “In necessariis unitas, in dubitas libertas, in omnibus caritas” (Dalam hal yang mendesak perlu kesatuan, dalam keraguan ada kebebasan, dari segala hal cinta kasih). Mudah untuk mengatakan perlunya ‘bersatu dalam keadaan darurat’, tetapi tidak mudah, atau setidaknya masih ada yang ragu-ragu, ‘apakah sekarang ini keadaan sudah (atau masih) begitu darurat’, sehingga mereka ada yang tidak percaya dan menuntut kebebasan. Akan tetapi dan inilah ukuran atau indikasi dari mutu sebuah masyarakat, yakni kalau mereka, atau masing-masing orang, dalam keadaan apa pun melakukan segalanya dalam cinta-kasih.

Kesulitan yang mencolok menyangkut ‘pembatasan kegiatan’ (PMKL), terutama dirasakan oleh orang-orang kecil yang tidak bisa tidak harus bergerak untuk, mencari nafkah kebutuhannya sehari-hari, kalau tidak mau mati; sebab meski lautan (pandemi) mengganas, namun mereka tidak merasa dalam kapal yang sama (‘we are not in the same boat’). Tiba-tiba saya diingatkan pada kisah Buddhis, mengenai burung berkepala dua yang terukir pada dinding candi Mendut. “Jangan mengeluh!”, kata kepala burung yang di atas, yang selalu dapat makanan, “bukankah makanan ku sampai di perut yang sama, untuk kita”. Akan tetapi kepala burung yang di bawah tidak merasa senang, karena tidak selalu mendapat peluang untuk makan. Maka karena sikap kepala burung yang di atas itu, akhirnya ia memutuskan untuk makan makanan yang beracun. Akibatnya burung berkepala dua itu mati.

‘Keadaan darurat’ tidak memberi peluang yang sama bagi setiap orang, ada yang beruntung karena ia kaya sehingga bisa menyimpan makanan, ada yang rugi karena tidak bisa mencukupi makanan sehari-hari. Ada tuntutan moral bagi yang berkecukupan, membantu yang berkekurangan, kalau mau meyakinkan mereka bahwa ‘we are in the same boat’ dan tidak boleh merasa tenang dan senang, seperti kepala burung yang di atas itu. Hal ini juga merupakan indikasi, sejauh mana mutu kehidupan sudah dihayati secara bersama (in the same boat).

Sejauh mana tahun depan 2022 akan memberikan harapan, tergantung sejauh mana tahun 2021 yang berlalu sudah memperlihatkan indikasi-indikasi mutu kehidupan bersama, seperti kesadaran akan rahmat Tuhan, kemampuan untuk bersyukur, kesadaran akan ‘keadaan darurat’ dan kerelaan untuk berbagi atau berkorban, kesediaan membantu mereka yang ada dalam kesulitan. Harapan bukanlah ilusi yang diciptakan dari kekosongan, hanya karena terdorong oleh keinginan, melainkan kasih yang tumbuh dan berkembang dari benih yang sudah ditanamkan, dan orang tetap setia memeliharanya. Semoga demikian.*** 

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

.

BERSAMA CLC di YOGYAKARTA

Natalan di Aula SMA De Britto – 2010

.

.

BERSAMA CLC di JAKARTA

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Divine Love”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Darkness and Light”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Juni 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Friendship with Jesus.” Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 19 September 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in The Service of God“. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 21 November 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN  

JURNAL PUSAT STUDI IGNASIAN – UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

.

.

SEKOLAH TINGGI FILSAFAR (STF) DRIYARKARA – JAKARTA

https://gagasmakna.wordpress.com/tag/stf-driyarkara/

.

.

Sabtu, 23 Januari 2021 — https://www.youtube.com/watch?v=LRa098FHvbk

.

.

Jumat, 6 Maret 2020 – https://youtu.be/5WazMHS1otE?t=450

Komunitas JumPer Daan Mogot – St. Paulus

https://www.facebook.com/103343051027713/posts/misa-jumper-6-maret-2020-oleh-rm-antonius-sudiarja-sj/217047676323916/

.

.

Buku digital yang ditulis oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/penulis/a-sudiarja-s-j

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menjadi-semakin-insani-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menemukan-tuhan-dalam-segala-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/masih-ada-orang-baik-di-sekitar-kita-remah-remah-rohani

.

.

Buku yang diberi pengantar oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://obormedia.com/product/guruku-malaikat-jiwaku/

.

.

https://opac.perpusnas.go.id/ResultListOpac.aspx?pDataItem=Antonius%20Sudiarja&pType=Author&pLembarkerja=-1&pPilihan=Author

.

http://cn.sakikokoide.xyz/author/a-sudiarja

,

.

https://www.kompasiana.com/jeremiasjena/5c1af197ab12ae66f42fa076/pergilah-ke-mana-hati-membawamu#google_vignette

.

.

Kumpulan Esai (tulisan rekan-rekan untuk memperingati Ultah Ke-65 Rm. A. Sudiarja, S.J.)

https://shopee.co.id/Buku-Meluhurkan-Kemanusiaan-A-Sudiarja-i.6970153.5364639134

.

.

https://gerai.kompas.id/belanja/buku/penerbit-buku-kompas/bayang-bayang-kebijaksanaan-dan-kemanusiaan/