Renungan Harian : 3 Desember 2021

Renungan Harian
Jumat, 03 Desember 2021
Pesta St. Fransiskus Xaverius

Bacaan I: 1Kor. 9: 16-19. 22-23
Injil: Mrk. 16: 15-20

Kecewa

“Saya bukan orang yang aktif dalam kegiatan di gereja, saya hanya sekedar ikut perayaan ekaristi satu minggu sekali. Beberapa kali saya diundang untuk ikut pertemuan lingkungan saya malas, karena menurut saya pertemuan lingkungan yang hadir orang-orang tua. Jadi saya sebagai orang katolik hanya sebatas ikut misa seminggu sekali. Sampai suatu ketika ada teman dekat saya mengajak saya untuk ikut membantu dia dalam sebuah acara di gereja. Saya mau membantu karena saya melihat teman saya agak kerepotan dengan tugasnya. Sejak saat itulah saya terlibat dalam kegiatan di gereja.
 
Aku mulai terlibat aktif dalam kegiatan di gereja, bahkan aku ditunjuk untuk menjadi salah satu seksi di paroki. Saya menikmati kegiatan di paroki ini dan saya merasa nyaman dengan aktivitas di paroki. Namun ternyata apa yang saya rasakan ini tidak berlangsung lama. Semakin saya terlibat, saya merasakan ketidaknyamanan.

Saya melihat dan merasakan adanya intrik diantara beberapa orang pengurus. Mereka seperti bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang mereka perebutkan, apakah kedudukan atau pengaruh di paroki. Hal yang membuat saya semakin tidak nyaman dan kecewa, saya yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saya ditarik dalam lingkaran intrik itu. Saya dianggap salah satu orang yang menjadi pesaing diantara mereka.

Beberapa kali saya mengalami perlakuan tidak enak, serasa dijatuhkan dan dipermalukan di depan umat.
 
Pengalaman itu membuat saya kecewa dan sedih. Saya merasa mengapa aktivfis gereja atau aktifis paroki tetapi tidak menunjukkan semangat cinta kasih, tetapi malah mempertontonkan intrik-intrik seperti dalam dunia politik. Situasi ini membuat saya dengan bulat memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan gereja. Saya merasa lebih baik tidak perlu terlibat dalam kegiatan paroki daripada menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sejak saat itu saya kembali seperti semula hanya ke gereja seminggu sekali saja.
 
Suatu hari, ketua lingkungan menghubungi saya meminta tolong untuk memimpin doa rosario di lingkungan. Ketua lingkungan meminta saya karena anggota lingkungan sudah semakin sepuh jadi semakin sedikit yang bisa memimpin. Saya bersedia karena merasa tidak enak dengan ketua lingkungan. Saat saya memimpin doa rosario, saya merasa sedih dengan diri saya. Orang-orang sepuh mau datang pertemuan lingkungan sedangkan saya malas-malasan, disamping itu saat selesai pertemuan semua mengucapkan banyak terima kasih ke saya karena memimpin dengan jelas dan baik. Sejak saat itu saya selalu terlibat di lingkungan dan selalu mewakili lingkungan  dalam kegiatan paroki.
 
Saya menjadi semakin aktif terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan dan paroki. Beberapa teman heran bahwa saya mau terlibat lagi dalam kegiatan paroki dan bahkan lebih aktif dan banyak terlibat. Mereka selalu bertanya apa yang membuat saya mau terlibat lagi dan apa yang saya dapat dengan ikut kegiatan. Saya sendiri tidak tahu apa yang membuat saya seperti ini dan apa yang saya dapat. Satu hal yang saya rasakan adalah saya merasakan diri sebagai orang katolik. Saya merasakan inilah seorang katolik yang sesungguhnya. Dan bagi saya ini adalah hadiah besar dalam hidup saya sebagai orang katolik.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus yang pertama: “kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah: bahwa aku boleh memberitakan injil tanpa imbalan, dan bahwa aku tidak menuntut hakku sebagai pemberita injil.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.