Renungan Harian: 28 November 2021

Renungan Harian
Minggu, 28 November 2021
Hari Minggu Advent I

Bacaan I: Yer. 33: 14-16
Bacaan II: 1Tes. 3: 12-4: 2
Injil: Luk. 21: 25-28. 34-36

Tanah Terjanji

“Romo, perjalanan kami sampai di tempat ini, hingga bisa seperti ini sungguh-sungguh perjuangan yang luar biasa. Kalau tidak ada rahmat dan belas kasih Tuhan kami pasti tidak kuat. Saat saya memutuskan untuk ikut transmigrasi istri dan seluruh keluarga besar saya tidak ada yang setuju. Semua mengatakan bahwa saya ikut transmigrasi itu sebuah keputusan yang konyol bahkan beberapa orang keluarga mengatakan bahwa saya itu seperti “mburu uceng kelangan deleg” (mencari sesuatu yang kecil dan kehilangan sesuatu yang besar). Mereka tidak salah, karena pada saat itu saya sudah menjadi guru, dan dalam batas tertentu penghasilan menjadi guru cukup untuk menghidupi keluarga. Namun saya berpikir untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, untuk mengubah nasib maka saya memutuskan untuk ikut.
 
Pada saat kami berangkat  anak saya yang besar kelas 4 SD sedang yang kecil baru kelas 1 SD. Kami berangkat dengan naik kapal laut. Berhari-hari kami di kapal dan anak kami selalu bertanya: “kita sudah sampai mana? Masih berapa lama?” Pertanyaan yang biasa dan sederhana dari anak-anak tetapi di telinga saya terasa berat dan menghujam hati. Setiap kali saya hanya bisa menjawab bahwa sudah dekat, sebentar lagi, padahal saya sendiri juga gelisah bukan main. Saya belum pernah terbayang seperti apa tempatnya dan bagaimana kami harus hidup di sana. Satu hal yang saya pegang adalah harapan bahwa Tuhan pasti menolong.
 
Romo, setelah sampai di sana dan mendapatkan pembagian rumah dan tanah, istri saya menangis setiap hari melihat kondisi rumah dan keadaan. Kami seperti tinggal di tengah hutan yang baru dibabat memang sudah ada lahan pekarangan yang sudah disiapkan dan siap untuk ditanami tetapi selebihnya masih semak belukar. Istri saya hampir setiap malam mengajak pulang ke kampung, dia sungguh-sungguh tidak tahan. Saya selalu meyakinkan bahwa ini adalah tempat harapan untuk masa depan kami, meskipun sesungguhnya saya sendiri agak ragu. Saya berjuang untuk memegang harapan akan rahmat Tuhan dan saya wujudkan dengan mulai bekerja keras, menanam dan membersihkan ladang. Meskipun saya lahir dari keluarga petani dan sudah kecil bekerja di sawah dan ladang tetapi menghadapi situasi yang ada sungguh-sungguh membuat badan terasa hancur.
 
Romo, puji Tuhan, setelah beberapa bulan mulai kelihatan cahaya  harapan itu, tanam di pekarangan mulai menghasilkan dan ladang yang berserakan mulai kelihatan terang dan siap ditanami. Melihat semua itu membuat kami bersemangat; istri yang awalnya selalu merengek minta pulang sekarang sudah berani ikut kerja keras dan ikut bersyukur melihat cahaya harapan itu. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi ragu akan rahmat dan harapan akan belas kasih Tuhan. Ada banyak kesulitan dan penderitaan tetapi kami tidak pernah lagi kehilangan harapan itu. Sehingga kalau sekarang kami bisa menikmati hasil yang luar biasa, semua ini karena rahmat belas kasih Tuhan. Harapan itu tidak pernah membohongi orang yang percaya, cahaya belas kasih Tuhan itu pasti terbit bagi orang yang mengimani,” bapak trans itu berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yeremia: “Sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.