Renungan Harian: 20 November 2021

Renungan Harian
Sabtu, 20 November 2021

Bacaan I:1Mak 6:1-13
Injil: Luk. 20: 27-40

Tidak Percaya

Dalam sebuah diskusi terbuka di Ruang FB, sekurangnya 2 pihak berdebat dengan sengit, prihal Ekaristi Kaum Muda, dimata mereka. Diskusi yg awalnya sebuah pertanyaan, berkembang menjadi ajang penghakiman, dari kedua belah pihak.

Yang berpegang pada TPE, dengan sangat yakin berkali-kali memperkarakan prihal proses perayaan yang sering dilanggar, dan kemudian menjadi sebuah keyakinan akan terjadinya pelanggaran dan penistaan.

Sementara yg lainnya, dengan yakin mengutarakan bahwa hal ini adalah sebuah upaya perbaikan, sebagaimana keprihatinan mereka akan permasalahan yg dihadapi OMK, terutama saat banyak OMK mulai meninggalkan gereja. Hal ini yg kemudian membuat mereka merasa perlu melakukan sesuatu, untuk memperbaiki situasi ini.

Pertentangan seolah tidak ada akhir, namun yang sangat mengejutkan adalah saat seseorang menyebut pihak lain sebagai pihak Sesat dan tidak percaya pada motivasi mereka, dan menyatakan bahwa yg mereka lakukan membawa OMK pada kesesatan yang lebih besar lagi.

Pertentangan ini banyak terjadi dimanapun, dan dalam beragam situasi, dan tema. Namun yg pasti, ada pihak yg merasa memegang aturan dan ketetapan, sehingga mudah menganggap pihak lain sesat dan tak layak.

Sungguhkah ini perlu terjadi? Menghakimi pihak lain, semata dari kebenaran yg dipahami sepihak. Saya mengikuti diskusi informal itu dengan rasa cemas, namun syukur, karena artinya OMK ini masih punya kepedulian.

Tampak jelas dalam benak saya, betapa ketidak percayaan adalah issue penting dalam diskusi tersebut. Kedua belah pihak tidak saling percaya. Argumen demi argumen mengalir seolah tidak ada jalan keluar. Semua karena diskusi sudah diawali dengan ketidakpercayaan. Nada diskusi adalah nada kebuntuan, bukan untuk kehidupan.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas,
“Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan…”
Para saduki sudah mengawali dengan ketidakpercayaan dan bertanya untuk menguji, bukan sungguh untuk sebuah kebaikan.
Maka Yesus menjawab dan mengingatkan kita semua, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan orang hidup, dan bukan Tuhan orang mati. Kita percaya akan kebangkitan, yang juga berarti percaya pada perbaikan bagi sesama. Kita tidak berhenti hanya pada tafsir Aturan, yang tidak sedikit mematikan sesama kita.

Percayakah kita pada Tuhan orang hidup? Percayakah kita pada kebangkitan? Percayakah kita, bahwa kita bisa hidup bersama, saat ada kerelaan untuk saling percaya?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.