Renungan Harian : 17 November 2021

Renungan Harian
Rabu, 17 November 2021
PW. St. Elisabeth dari Hongaria

Bacaan I: 2Mak. 7: 1.20-31
Injil: 19: 11-28

Ramah

Saya kagum dengan bapak berambut putih itu. Bapak itu meski rambutnya semua sudah putih namun kalau menilik usianya belum terlalu tua, beliau berusia 60 tahun. Bapak itu begitu ramah dengan semua orang; hormat menyapa semua orang. Sikap hormat dan ramahnya tidak hanya dilakukan untuk orang yang tua, tetapi juga untuk orang yang lebih muda, bahkan untuk anak muda dan remaja beliau selalu ramah dan menampakkan sikap hormatnya.
 
Dalam berbagai kegiatan bapak itu selalu bisa bekerja sama dengan siapapun juga dengan orang-orang yang kami kenal sebagai orang yang sulit. Anehnya orang-orang yang kami anggap sulit selalu merasa nyaman bekerjasama dengan bapak itu dan juga merasa nyaman untuk ngobrol dan berkeluh kesah dengannya.

Saya dan beberapa teman heran dengan bapak itu, karena beliau bisa bicara dan mendengarkan orang-orang yang kami anggap membosankan atau menjengkelkan.
 
Dalam sebuah kesempatan saya mengungkapkan kekaguman saya dan bertanya apa yang bapak itu lakukan.
“Wah, romo berlebihan memuji saya. Saya merasa biasa saja; saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Kalau romo bertanya bagaimana saya bisa ngobrol dan bekerjasama dengan orang-orang yang romo sebut sebagai orang sulit, mungkin karena saya sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang seperti itu.
 
Romo, pertama saya kerja, saya punya kepala bagian yang menurut kami semua sebagai orang yang aneh. Kepala bagian kami itu orang yang keras, mudah tersinggung, mudah marah dan kalau bicara, sungguh-sungguh tidak enak didengar. Beliau orang yang amat idealis tetapi beliau sendiri tidak bisa menjalankan ide-idenya. Beliau hampir tidak pernah menghargai bawahannya, semua hal selalu dikritik tetapi bagaimana memperbaiki beliau tidak tahu. Bahkan untuk pekerjaan beliau sendiri, beliau tidak mengerti apa yang harus dibuat. Belum lagi sikapnya yang seenaknya.
 
Kami semua tidak suka dengan beliau, maka banyak teman yang bekerja seenaknya dan ogah-ogahan dan bahkan banyak yang mengundurkan diri karena sikap kepala bagian seperti itu. Waktu itu saya sebenarnya protes dan sungguh benci dengan sikap beliau, tetapi mungkin karena saya takut, saya berjuang untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Pekerjaan-pekerjaan yang sulit saya kerjakan meskipun saya sering dimarahi dan dimaki. Saya berjuang untuk sabar dan bertahan. Beberapa kali saya terlibat perdebatan dengan beliau menyangkut pekerjaan, meski dengan resiko saya sakit hati.
 
Dengan apa yang saya lakukan itu, saya menjadi bisa melakukan banyak pekerjaan di kantor itu. Hal-hal yang sulit selalu membuat saya berdebat dengan pimpinan, karena tidak menemukan jalan keluar, saya diminta kursus ini dan itu. Dan anehnya lama kelamaan saya bisa menikmati punya pimpinan yang seperti itu. Akibatnya saya menjadi bermasalah dengan teman-teman kantor, tetapi saya selalu bersikap wajar sehingga lama kelamaan kami menjadi akrab. Mungkin karena itu ya romo,” bapak itu bercerita.
 
Sikap protes terhadap pimpinan yang tidak baik maupun terhadap situasi dengan melakukan hal-hal yang positif menjadikan bapak itu bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Protes tidak berarti lari dan melawan dengan cara negatif. Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam injil Lukas lewat sebuah perumpamaan mengajarkan bagaimana harus mengembangkan rahmat meski dalam situasi yang amat tidak baik dan menekan.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mampu mengembangkan diri dalam situasi yang kutolak?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.