Renungan Harian: 13 November 2021

Renungan Harian
Sabtu, 13 November 2021 

Bacaan I: Keb. 18: 14-16; 19: 6-9
Injil: Luk. 18: 1-8

Kecewa

Sudah beberapa saat saya tidak melihat anak muda yang sering datang ke gereja. Karena sudah hampir sebulan saya tidak melihat maka saya bertanya kepada teman-temannya kemana salah satu teman mereka itu. Namun teman-temannya menjawab bahwa mereka juga sudah lama tidak bertemu. Maka saya meminta teman-temannya untuk mencari tahu dengan menyapanya.
 
Anak muda ini salah satu aktivis di kelompok persekutuan doa. Dia tidak pernah absen setiap kali ada acara persekutuan doa, bahkan sudah beberapa kali terpilih menjadi koordinator pemusik. Anak muda ini memiliki bakat dan kemampuan bermusik dengan baik, sehingga persekutuan doa menjadi lebih meriah karena kehadirannya. Selain kemampuan bermusik anak muda ini juga punya kemampuan untuk memimpin teman-temannya dan juga untuk mengajak teman-temannya. Diantara teman-temannya, dia dikenal sebagai anak yang periang, mudah bergaul dan saleh. Menurut teman-temannya dan sejauh saya kenal anak ini memiliki hidup doa yang baik. Kelihatan sekali setiap kali doa nampak kesungguhan dan penuh penghayatan.
 
Beberapa minggu kemudian saya melihat anak muda itu keluar dari gereja sehabis misa. Saya menyapanya dan bertanya kabarnya serta kenapa sudah beberapa lama tidak kelihatan. Dia menjawab bahwa dia sehat, baik-baik hanya baru bosan dan jenuh. Kemudian saya mengajak bicara secara pribadi dan bertanya tentang kebosanan dan kejenuhannya. Dalam pembicaraan itu terungkap bahwa sebenarnya dia sedang kecewa dan marah dengan Tuhan. Selama ini dia aktif di persekutuan doa dan juga tekun dalam doa karena dia berharap mendapatkan jodoh yang seiman. Dia semakin bersemangat dalam persekutuan doa karena ada seorang gadis yang ditaksirnya. Menurutnya, gadis itu sudah akrab dan dekat dengan dirinya, bahkan setiap kali ada acara selalu pergi bersama. Dia bahagia bahwa gadis itu semakin dekat dengan dirinya dan selalu berdoa agar gadis itu sungguh-sungguh menjadi jodohnya. Namun ketika dia menyatakan cintanya ternyata gadis itu menolaknya.
 
Penolakan gadis itu membuat dirinya amat terpukul dan kecewa. Dia merasa bahwa apa yang telah dilakukan selama ini sia-sia. Dia aktif dalam persekutuan doa, dia tekun dalam doa tetapi ternyata Tuhan tidak mendengarkan doanya. Dia marah kenapa Tuhan tidak mendengarkan doanya padahal dia sudah berdoa dengan sungguh-sungguh dan seringkali disertai dengan puasa. Maka dia memutuskan untuk mundur dari semua kegiatan dan malas berdoa karena percuma saja.
 
Pengalaman anak muda tersebut seringkali terjadi pada banyak diantara kita. Berdoa dengan tekun, dengan berbagai cara berdoa, banyak berdevosi agar permohonannya dikabulkan tetapi ternyata hasilnya sebaliknya. Kecewa, marah dan menjadi tidak mau berdoa lagi karena merasa sia-sia. Kiranya cara pandang dan pemahaman bahwa saat berdoa permohonan harus dikabulkan menjadi pegangan yang menghasilkan kekecewaan. Lupa bahwa saat berdoa adalah mohon bukan memaksakan dan itu berarti Tuhan yang punya kehendak. Saat mohon, hati dan budi tertutup pada hal yang dimohonnya, lupa bahwa ada hal yang lebih besar dan lebih baik yang telah diterimanya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan menegaskan bahwa kalau mau berdoa dengan sungguh dan tekan, doanya akan didengarkan, akan tetapi harus disertai iman akan kemurahan Tuhan. “Aku berkata kepadamu, Ia akan segera menolong mereka. Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan Iman di bumi ini?”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana sikapku dalam hidup doa?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.